Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menjadi penyebab utama
kebutaan di dunia. World Health Organization (WHO) pada tahun 2010
menunjukkan bahwa katarak bertanggung jawab terhadap 51% dari kebutaan yang
terjadi di dunia.1 Katarak menjadi salah satu penyebab kebutaan yang terbanyak
selain gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, dan glaukoma.2
Indonesia yang merupakan negara berkembang juga mengalami masalah
kebutaan. Dalam catatan WHO, Indonesia merupakan urutan ketiga terbanyak
dalam masalah kebutaan dunia dan merupakan urutan pertama kebutaan di seluruh
asia tenggara.2 Penduduk Indonesia juga memiliki kecenderungan menderita
katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk di daerah subtropis, sekitar
16 - 22% penderita katarak yang dioperasi berusia di bawah 55 tahun.3 Sedangkan
prevalensi katarak di Provinsi Riau sebesar 1,9%.4
Walaupun sebagian besar kasus katarak disebabkan oleh proses penuaan,
katarak juga dapat ditemukan pada anak-anak yang lahir dengan kondisi tersebut,
atau katarak dapat terjadi setelah adanya cedera pada mata, inflamasi, maupun
penyakit mata lainnya.1 Kasus katarak berkaitan dengan penambahan usia,
sehingga kebutaan akibat katarak ditemukan semakin meningkat dengan
bertambahnya usia, yaitu 20/1000 kasus pada kelompok usia 45-59 tahun dan
50/1000 kasus pada kelompok usia >60 tahun. Pada tahun 2025 jumlah penduduk
yang berusia >55 tahun diperkirakan akan meningkat menjadi 61 juta, yaitu
sekitar seperempat dari keseluruhan penduduk di Indonesia. Peningkatan angka
harapan hidup tersebut diikuti dengan kekhawatiran terhadap peningkatan kasus
katarak yang apabila tidak ditangani juga akan sangat berpengaruh terhadap
prevalensi kebutaan.5

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Lensa


2.1.1 Anatomi Lensa
Lensa adalah suatu struktrur bikonveks, avaskular tak berwarna dan
transparan. Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan pada lensplate. Tebal
sekitar 4 mm dan diameter 9 mm. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula
zinnii yang menghubungkan dengan korpus siliare. Disebelah anterior lensa
terdapat humor aquos dan disebelah posterior terdapat vitreus. Kapsul lensa
adalah suatu membran semipermiabel yang dapat dilewati air dan elektrolit.
Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus lensa lebih keras
daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar
subepitel terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastik.6

2.1.2 Fisiologi Lensa


Fungsi utama lensa adalah memfokuskan cahaya ke retina. Untuk
memfokuskan cahaya yang datang jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan
serat zonula zinii dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai
ukurannya terkecil, dalam posisi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas
cahaya paralel akan terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda
dekat, otot siliaris akan berkontraksi sehingga tegangan zonula zinii akan
berkurang. Kapsul lensa yang elastik, kemudian mempengaruhi lensa, sehingga
menjadi lebih sferis diiringi oleh daya biasnya. Kerjasama fisiologik antara korpus
siliaris, zonula zinii dan lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal
sebagai akomodasi.7
2.1.3 Metabolisme Lensa Normal
Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation
(sodium dan kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous.
Kadar kalium di bagian anterior lensa lebih tinggi dibandingkan posterior. Dan

2
kadar natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior
dan keluar ke aqueous humour, dari luar ion Na masuk secara difusi dan bergerak
ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif Na-
K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh Ca-
ATPase. Metabolisme lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt
(5%). Jalur HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan
ribose, juga untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose
reduktase adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sarbitol dirubah menjadi
fruktosa oleh enzim dehidrogen.7,8

2.2 Katarak Senilis


2.2.1 Definisi
Katarak senilis merupakan semua kekeruhan pada lensa yang terdapat
pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun.6
2.2.2 Etiologi
Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi, yang
menyebabkan lensa mata menjadi keras dan keruh. Pengeruhan lensa dapat
diperberat oleh faktor risiko seperti bahan toksik khusus (kimia dan fisik),
keracunan beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan katarak seperti
kortikosteroid, egot dan antikolinesterase topikal, serta kelainan sistemik atau
metabolik seperti diabetes melitus, hipertensi.6

2.2.4 Klasifikasi
Klasifikasi katarak senilis secara klinik dibagi dalam 4 stadium, yaitu:6,7
1. Katarak insipien
Merupakan tahap dimana kekeruhan lensa dapat terdeteksi dengan adanya
area yang jernih diantaranya. Kekeruhan dapat dimulai dari ekuator ke
arah sentral (kuneiform) atau dapat dimulai dari sentral (kupuliform).
2. Katarak imatur
Kekeruhan pada katarak imatur belum mengenai seluruh bagian lensa.
Volume lensa dapat bertambah akibat meningkatnya tekana osmotik,
bahan lensa yang degenerative pada keadaan lensa mencembung akan

3
dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga dapat terjadi glaukoma
sekunder.
3. Katarak matur
Kekeruhan pada katarak matur sudah mengenai bagian lensa. Deposisi ion
Ca dapat menyebabkan kekeruhan menyeluruh pada derajat maturasi ini.
Bila katarak ini tidak dikeluarkan maka akan mengakibatkan kalsifikasi
lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak
terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh sehingga uji bayangan iris
negatif.
4. Katarak hipermatur
Pada stadium ini katarak mengalami proses degenerasi lanjt, dapatmenjadi
keras atau lembek dan mencair. Cairan keluar dari kapsul dan
menyebabkan lensa menjadi kecil, berwarna kuning dan kering.

Tabel 1 Perbedaan stadium katarak senil.6


Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Terdorong Normal Berkurang
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata Normal Dangkal Normal Dalam
depan
Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka
Shadow test - + - Pseudops
Penyulit - Glaukoma - Uveitis+ Glaukoma

4
Gambar 1. Katarak imatur, matur dan hipermatur. 9

2.2.5 Patofisiologi
Pengaruh usia terhadap lensa meningkatkan massa dan ketebalan serta
penurunan kekuatan akomodasi.10 Lensa terdiri dari protein khusus yang disebut
crystallin. Crystallin dapat berfungsi mengabsorpsi energi radiasi (cahaya tampak
gelombang pendek, ultraviolet dan infrared) dari waktu ke waktu tanpa mengubah
kualitas optikal umumnya. Ini memberikan fungsi pelindung yang cukup besar
untuk aktivitas berbagai enzim metabolisme karbohidrat. Pada penuaan, terjadi
stres oksidatif yang mencerminkan ketidakseimbangan antara manifestasi sistemik
oksigen reaktif dan kemampuan sistem biologi untuk detoksifikasi reaktif
intermediet atau untuk memperbaiki kerusakan yang dihasilkan. Hal ini secara
luas diakui bahwa stres oksidatif adalah faktor yang signifikan dalam genesis
katarak senilis. Proses oksidatif meningkat dengan pertambahan usia di lensa
manusia, dan konsentrasi protein yang ditemukan secara signifikan lebih tinggi di

5
lensa yang buram. Hal ini menyebabkan pemecahan dan agregasi protein, dan
berpuncak pada kerusakan membran sel serat. 11 Perubahan kimia dan pemecahan
protein crystallin menghasilkan pembentukan agregat protein. Agregat dapat
semakin membesar dan menyebabkan fluktuasi di indeks refraktif lokal pada lensa
yang dengan demikian cahaya menyebar dan penurunan transparansi. Perubahan
kimia inti protein lensa juga meningkatkan opasitas lensa, lensa menjadi kuning
atau coklat dengan pertambahan usia.10

2.2.6 Manisfestasi Klinis

Manifestasi klinis dari gejala yang dirasakan oleh pasien penderita katarak terjadi
secara progresif dan merupakan proses yang kronis. Gangguan penglihatan
bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak yang diderita pasien. Manifestasi
klinis katarak adalah sebagai berikut:6,10

a. Penurunan ketajaman visus secara perlahan : gangguan visus jarak dekat


(katarak subkapsular posterior), gangguan ketajaman warna (katarak
unilateral atau asimetris)
b. Penglihatan seperti berasap
c. Peningkatan sensitivitas terhadap cahaya dan kontras
d. Perubahan miopik: akibat peningkatan kekuatan dioptri lensa
e. Diplopia monokular atau poliopia, akibat timbulnya perubahan nukleus yang
terbatas pada lapisan dalam lensa nukleus dan menciptakan beberapa area
refraktil pada pusat lensa
f. Penurunan fungsi penglihatan, penilaian dilakukan menggunakan Skala
Penglihatan Aktivitas Harian (ADVS), Indeks Fungsi Penglihatan (VF-14),
Kuesioner Fungsi Penglihatan Institut Mata Nasional (NEI-FVQ) dan
Penilaian Disabilitas Visual (VDA).

2.2.7 Diagnosis
Diagnosis katarak dapat ditegakkan berdasarkan:12
a. Anamnesis

6
1) Keluhan pasien biasanya datang dengan penglihatan yang menurun
secara perlahan seperti tertutup asap atau kabut.
2) Keluhan juga disertai ukuran kacamata semakin bertambah
3) Silau dan sulit membaca.
4) Terdapat faktor-faktor resiko seperti usia lebih dari 40 tahun,
riwayat penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, riwayat
pemakaian obat tetes mata steroid secara rutin serta kebiasaan
merokok dan pajanan sinar matahari.

b. Pemeriksaan fisik :

1) Penurunan visus yang tidak membaik dengan pemberian pinhole


2) Pemeriksaan shadow tes (+)
3) Terdapat kekeruhan lensa yang dapat dilihat jelas pada
pemeriksaan oftalmoskop sehingga didapatkan media yang keruh
pada pupil

c. Pemeriksaan penunjang :
Tidak diperlukan

2.2.6 Penatalaksanaan2,6,8
a. Indikasi
Indikasi penatalaksanaan bedah katarak meliputi perbaikan visus, medis
dan kosmetik.16

1. Perbaikan visus merupakan indikasi paling umum untuk ekstraksi katarak,


indikasi ini berbedar-beda pada tiap individu.
2. Indikasi medis ialah dimana adanya katarak yang mengganggu penglihatan
pasien, seperti glaukoma dan perawatan retinopati diabetik yang terhambat
oleh katarak.
3. Indikasi kosmetik dimana katarak matur dilakukan ekstraksi untuk
mengembalikan visus.
b. Lensa intraokular

7
Lensa intraokular memiliki banyak jenis, sebagian besar desain
terdiri atas sebuah optik bikonveks di sentral dan dua buah kaki atau
haptik untuk mempertahankan optik diposisinya. Posisi yang optimal
adalah didalam kantung kapsular setelah dilakukannya prosedur
ekstrakapsular, hal ini berhubungan dengan rendahnya insiden komplikasi
pasca operasi seperti keratopati bulosa psedofakik, glaukoma, kerusakan
iris, hifema dan desentasi lensa. Lensa bilik mata belakang terbuat dari
bahan yang lentur seperti silikon dan polimer akrilik, sehingga ukuran
insisi dapat dibuat kecil. Desain lensa yang menggabungkan optik
multifokal bertujuan untuk memberikan penglihatan dekat maupun jauh
yang baik. Setelah pembedahan intrakapsular, lensa intraokular dapat
ditempatkan dibilik mata depan atau bisa difiksasi di sulkus siliaris.
Apabila lensa intraokular tidak dapat ditempatkan dengan aman atau
dikontraindikasikan, koreksi refraksi pascaoperasi umumnya memerlukan
sebuah lensa kontak atau kacamata afakia.17
c. Teknik Bedah
Metode operasi yang umum dipilih untuk katarak dewasa atau
anak-remaja adalah meninggalkan bagian posterior kapsul lensa dikenal
sebagai ekstarksi katarak ekstrakapsular. Bagian dari prosedur ini adalah
dengan menanam lensa intraokular. Insisi dibuat pada limbus superior,
bagian anterior kapsul dipotong dan diangkat lalu bagian nukleus
diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari mata dengan irigasi atau tanpa
aspirasi sehingga menyisakan kapsul posterior (gambar 2), sedangkan
ekstraksi katarak intrakapsular merupakan suatu tindakan mengangkat
lensa berikut kapsulnya (in toto) melalui insisi limbus superior 140 hingga
160 derajat. Tindakan ini jarang dilakukan.17,18

8
Gambar 2. Ekstraksi katarak ekstrakapsular16

Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstraksi katarak ekstrakapsular


yang paling sering digunakan. Teknik ini menggunakan vibrator ultrasonik
untuk menghancurkan nukleus yang keras hingga substansi nukleus dan
korteks dapat diaspirasi melalui suatu insisi berukuran 3 mm untuk
memasukkan lensa intraokular yang dilipat (foldable intraocular lens),
jika digunakan lensa yang kaku insisi dilebarkan menjadi 5 mm.
Keuntungan dari tindakan bedah insisi bedah kecil ialah kondisi
intraoperasi lebih terkendali, menghindari penjahitan, perbaikan luka lebih
cepat dengan derajat distorsi kornea lebih rendah dan mengurangi
peradangan intraokular pasca operasi. Teknik fakoemulsifikasi
menimbulkan risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya pergeseran
materi nukleus ke posterior melalui suatu robekan kapsul posterior, hal ini
membutuhkan tindakan bedah vitreoretina yang kompleks. Setelah
tindakan bedah katarak ekstrakapsular, dapat terjadi kekeruhan sekunder
pada kapsul posteriordan memerlukan disisi dengan menggunakan laser
YAG:neodymium. Ekstraksi lensa melalui pars plana selama prosedur
vitrektomi posterior yang disebut lensektomi pars plana atau

9
fakofragmentasi. Metode ini dilakukan bersamaan dengan pengangkatan
vitreus yang opak atau berparut (Gambar 3).17

Gambar 3. Fakoemulsifikasi16
d. Perawatan pascaoperasi
Masa penyembuhan pascaoperasi pada teknik insisi kecil biasanya
lebih pendek, umumnya pasien boleh pulang pada hari operasi, tetapi
dianjurkan untuk berhati-hati dalam melakukan aktivitas selama satu
bulan, perlindungan mata saat malam hari dapat menggunakan pelindung
logam hingga beberapa hari pascaoperasi. Kacamata sementara dapat
digunakan beberapa hari setelah pascaoperasi tetapi kebanyakan pasien
dapat melihat cukup baik melalui lensa intraokular sambil menunggu
kacamata permanen, biasanya disediakan 4-8 minggu setelah operasi.17

10
RAHASIA

STATUS BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. FY Pendidikan : SD


Umur : 70 tahun Agama : Islam
Jenis kelamin : Perempuan Status : Janda
Alamat : Kampar MRS : 17-05-2018
Pekerjaan : IRT MR : 97 74 80

Keluhan Utama :
Kedua mata kabur perlahan tanpa mata merah sejak dua tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang :
- Sejak dua tahun yang lalu, Pandangan pada kedua mata mulai terasa kabur
perlahan. pandangan seperti melihat asap, semakin lama pandangan menjadi
bertambah kabur. Pasien juga mengeluh silau jika melihat cahaya terang.
Kedua mata tidak disertai merah, gatal, nyeri, pandangan ganda, kotoran dan
air mata berlebih.
- Sejak sepuluh tahun yang lalu sudah memakai kacamata baca namun tidak
mengetahui secara pasti berapa ukuran kacamata. Namun sekarang dengan
menggunakan kacamata baca pandangan masih terasa kabur.

Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat mata merah sebelumnya (-)


- Riwayat trauma pada mata (-)
- Riwayat operasi mata sebelumnya (-)
- Riwayat Diabetes Melitus (+) sejak 5 tahun yang lalu, rutin minum obat
- Riwayat Hipertensi (-)

11
- Riwayat Asma (-)

Riwayat Pengobatan :
Pasien mengkonsumsi obat glimepiride 1x2 mg dan metformin 2x500 mg sejak 5
tahun yang lalu.
Riwayat konsumsi kortikosteroid (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


Katarak (+) pada kakak kandung pasien.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Komposmentis, kooperatif
Vital sign : TD : 130/80 mmHg
HR : 78 x/m
RR : 20 x/m
T : 36,5 0C
Pembesaran KGB preauriculer : Tidak ada

STATUS OPTHALMOLOGI
OD OS
4/60 Visus tanpa koreksi 4/60
20/60 Visus dengan koreksi 20/60
Orthoforia Posisi bola mata Orthoforia
Bebas kesegala arah Gerakan bola mata Bebas kesegala arah
14 Tekanan bola mata 16
Tenang Palpebra Tenang
Tenang Konjungtiva Tenang
Jernih Kornea Jernih
Tenang Sklera Tenang
Dangkal COA Dangkal
Pupil bulat, sentral, Pupil bulat, sentral, regular,

12
regular Iris/Pupil Ø = 3 mm
Ø = 3 mm Refleks cahaya langsung
Refleks cahaya langsung (+)
(+) Refleks cahaya tidak
Refleks cahaya tidak langsung (+)
langsung (+)
Keruh, shadow test (+) Lensa Keruh, shadow test (+)
Refleks fundus (+) Fundus Refleks fundus (+)

Slit lamp

Funduskopi

Refleks (-) Refleks Refleks (-)

Tidak dapat dinilai Vitreus Tidak dapat dinilai


Tidak dapat dinilai Papil Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai Retina Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai Makula Tidak dapat dinilai

KESIMPULAN/RESUME :
Ny FY 70 tahun datang ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dengan keluhan
pandangan kabur perlahan ODS (+), seperti melihat asap (+).Riwayat Diabetes
Melitus (+) sejak 5 tahun yang lalu, rutin minum obat glimepiride 1x2 mg dan
metformin 2x500 mg. Riwayat konsumsi kortikosteroid (-). Pada pemeriksaan
opthalmologi didapatkan visus pada OD: 4/60 OS: 4/60, lensa ODS: keruh,
shadow test (+)

DIAGNOSIS KERJA :
Katarak senilis matur ODS dengan Diabetes Melitus tipe 2 terkontrol

13
DIAGNOSIS BANDING :
Retinopati Diabetikum

ANJURAN PEMERIKSAAN :
- Keratometri / Biometri
- Darah rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit, PT, APTT)
- Kadar gula darah sewaktu, puasa, dan 2 jam post prandial
- Fungsi hepar (AST, ALT) dan fungsi ginjal (ureum, kreatinin)
- Profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida)
- Foto toraks

TERAPI :
Anjuran operasi phakoemulsifikasi dan pemasangan Intra Ocular Lens (IOL)

PROGNOSIS :
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Dubia at bonam
Quo ad komestikum : Bonam

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Manalu R. Mass Cataract Surgery Among Barabai Community At


Damanhuri Hospital, South Kalimantan. IOA The 11th Congress In
Jakarta, 2006. 127-131
2. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Oftalmologi umum. Jakarta: Widya
Medika, 2000. 10-11, 175-183
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2006. 200-211
4. Yorston D. Monitoring Cataract Surgical Outcomes: Computerised
Systems. Avaiblabel at http://www. Journal of Community Eye
Health.com [diakses 15 September 2015]
5. Scalon VC, Sanders T. Indra. In : Komalasari R, Subekti NB, Hani A,
editors. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi. 3rd ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC;2007.
6. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mhasiswa
Kedokteran. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit Sagung Seto;2002. 143-157,
231-232.
7. Ocompo VVD. Cataract, Senile. Avaiblabel at http://www.e-
medicine.com [diakses 15 September 2015]
8. Chylack Leo, T. Jr. Manual Ocular Diagnosis and Theraphy, 1st edition.
Little Brown and Company. Boston; 1982. 119-132.
9. Anonim. Extracapsular Cataract Extraction.
www.surgeryencyclopedia.com. [diakses 15 September 2015]
10. Anonim. Phacoemulsification. www. visitech.org. [diakses 15 September
2015]

Daftar Pustaka
1. World Health Organization. 2010. Prevention of Blindness and Visual
Impairment [online]. Tersedia pada URL:
http://www.who.int/blindness/causes/priority/en/index1.html. (diakses
pada 19 Mei 2018).
2. World Health Organization 2013.Blindness: Vision 2020- the global

15
initiative for the elimination of avoidable blindness. Available at
http://www.who.int/mediacentre/fact sheet/fs213/en/. [Diakses pada 19
Mei 2018].
3. Riskesdas. 2013. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Situasi
gangguan penglihatan dan kebutaan. Jakarta: Badan penelitian dan
pengembangan kesehatan Departermen Kesehatan Republik Indonesia.
4. Riskesdas. 2013. Laporan hasil Riskesdas Prov. Riau 2013.
http://www.pusat2.litbang. depkes.go.id/2015/02/Pokok-Pokok-Hasil-
Riskesdas- Prov-Riau. [Diakses pada 19 Mei 2018]
5. Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Buku Pedoman
Penyelenggaraan Bakti Sosial Operasi Katarak Seksi Penanggulangan
Buta Katarak. 2013; h. 1-3.
6. Ilyas, S. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam: Ilyas, S., Yulianti, R. S.,
penyunting. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI. 2015; h. 9
7. Shock JP, Harper RA. Lensa In: Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P.
Oftalmologi Umum Edisi XIV. Jakarta: Widya Medika, 2000. P.175-83.
8. Lang GK. Ophthalmology a short textbook. New York: Thieme;
2000.p.170-89
9. Ocompo VVD. Cataract, Senile. Tersedia dari URL: http://www.e-
medicine.com [diakses pada 19 Mei 2018]
10. Cantor LB, Rapuano CJ, Cioffi GA. Lens and cataract. Basic and clinical
science course. American academy of ophtalmology. San Francisco:2016-
2017.
11. Nartey A. The Pathophysiology of cataract and major interventions to
retarding its progression: a mini review. Adv Ophthalmol Vis Syst 2017,
6(3): 00178.
12. Ikatan Dokter Indonesia. Katarak pada dewasa. Buku panduan praktis
klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Edisi revisi
tahun 2014: Jakarta : IDI ; 2014. Hal.184-6.
13.

16

Anda mungkin juga menyukai