Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

Polip nasi merupakan masalah medis dan masalah sosial karena dapat mempengaruhi
kualitas hidup penderita baik pendidikan, pekerjaan, aktivitas harian dan kenyamanan. Polip
nasi merupakan mukosa hidung yang mengalami inflamasi dan menimbulkan prolaps mukosa di
dalam rongga hidung. Polip nasi ini dapat dilihat melalui pemeriksaan rinoskopi dengan atau
tanpa bantuan endoskopi.

Prevalensi penderita polip nasi belum diketahui pasti karena hanya sedikit laporan dari
hasil studi epidemiologi serta tergantung pada pemilihan populasi penelitian dan metode
diagnostik yang digunakan. Prevalensi polip nasi dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa
dan 4,3% di Finlandia. Dengan perbandingan pria dan wanita 2- 4:1. Di Amerika Serikat
prevalensi polip nasi diperkirakan antara 1-4 %. Pada anak-anak sangat jarang ditemukan dan
dilaporkan hanya sekitar 0,1%. Penelitian Larsen dan Tos di Denmark memperkirakan insidensi
polip nasi sebesar 0,627 per 1000 orang per tahun (Bateman 2003, Ferguson et al.2006).

Etiologi dan patogenesis dari polip nasi belum diketahui secara pasti. Sampai saat ini, polip
nasi masih banyak menimbulkan perbedaan pendapat. Dengan patogenesis dan etiologi yang
masih belum ada kesesuaian, maka sangatlah penting untuk dapat mengenali gejala dan tanda
polip nasi untuk mendapatkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 1
BAB 2
PEMBAHASAN

3.1 Polip Hidung


3.2.1 Defenesi
Polip hidung ialah masa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung
berwarna putih, keabu-abuan yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Umumnya sebagian besar
polip ini berasal dari celah kompleks osteomeatal (KOM) yang kemudian tumbuh ke arah
rongga hidung.

Gambar 2.1 Polip Nasi

3.2.2 Epidemologi

Prevalensi penderita polip nasi belum diketahui pasti karena hanya sedikit laporan dari
hasil studi epidemiologi serta tergantung pada pemilihan populasi penelitian dan metode
diagnostik yang digunakan. Prevalensi polip nasi dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa
dan 4,3% di Finlandia. Dengan perbandingan pria dan wanita 2- 4:1. Di Amerika Serikat
prevalensi polip nasi diperkirakan antara 1-4 %. Pada anak-anak sangat jarang ditemukan dan
dilaporkan hanya sekitar 0,1%. Penelitian Larsen dan Tos di Denmark memperkirakan insidensi
polip nasi sebesar 0,627 per 1000 orang per tahun (Bateman 2003, Ferguson et al.2006). Di
Indonesia studi epidemiologi menunjukkan bahwa perbandingan pria dan wanita 2-3 : 1 dengan
prevalensi 0,2%-4,3%.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 2
3.2.3 Etiopatogenesis

Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom, serta
predisposisi genetik. Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan
atau aliran udara yang berturbulensi, terutama di daerah sempit di kompleks ostiomeatal. Terjadi
prolapsus mukosa diikuti oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi
peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga
terbentuk polip.

Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf vasomotor terjadi peningkatan


permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema
dan lama-kelamaan menjadi polip. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin
membesar menjadi polip dan kemudian akan turun ke rongga hidung dengan membentuk tangkai.

Makroskopis

Secara maksroskopis polip merupakan masa bertangkai dengan permukaan licin, berbentuk
bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan, agak bening, lobular, dapat tunggal atau multiple
dan tidaksensitif (bila ditekan atau ditusuk tidak terasa sakit). Warna polip yang pucat disebabkan
karena banyak mengandung cairan dan sedikitnya liran darah ke polip. Bila terjadi iritasi kronis
atau proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerah-merahan dan polip yang
sudah menahun warnanyadapat menjadi kekuning-kuningan karena banyak mengandung jaringan
ikat.

Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari kompleks osteomeatal di meatus medius dan
sinus etmoid. Ada polip yang tumbuh kea rah belakang dan membesar di nasofaring, disebut polip
koana. Polip koana kebanyakan berasal dari sinus maksila dan disebut juga polip antro-koana. Ada
juga sebagian kecil polip koana yang berasal dari sinus etmoid.

Mikroskopis

Secara mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal yaitu
epitel bertingkat semu bersilia dengan submukosa yang sembab. Sel-selnya terdiri dari limfosit,
sel plasma, eosinophil, neutrofil, dan makrofag. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Pembuluh
darah, saraf, dan kelenjar sangat sedikit. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 3
karena sering terkena aliran udara, menjadi epitel transisional kubik atau gepeng berlapis tanpa
keratinisasi.

Sel Eosinofil merupakan sel yang paling sering ditemukan yaitu sekitar 80-90% pada
inflamasi polip hidung. Eosinofil, yang ditemukan dalam polip hidung pada pasien dengan asma
bronkial dan alergi, terdiri dari granula dan produk toksin (misalnya, leukotriena, eosinofilic
cationic protein, major basofilic protein, platelet-activating factor, eosinophilic peroxidases, other
vasoactive substances dan chemotactic factors). Faktor-faktor toksin ini bertanggung jawab atas
terjadinya lisis epitel, kerusakan saraf, dan ciliostasis. Granula Protein spesifik, leukotriena A4,
dan platelet-activating factor mungkin bertanggung jawab atas terjadinya edema mukosa dan
hiperresponsivitas.

Sel inflamasi neutrofil ditemukan 7% dari kasus polip hidung. Terjadinya polip jenis ini
berhubungan dengan Cystik Fibrotik, primary ciliary dyskinesia syndrome, atau Young Sindrom.
Polip ini tidak berespon terhadap kortikosteroid akibat kekurangan kortikosteroid corticosteroid-
sensitive eosinophils. Ditemukan degranulasi sel mast. Terjadinya degranulasi mungkin dimediasi
oleh suatu non-imunoglobulin E (IgE)-mediated. Peningkatan jumlah sel plasma, limfosit, dan
myofibroblasts juga ditemukan.

Gambar 2.2 Gambaran mikroskopis polip nasi 1) Polip nasi 2) Polip nasi yang mengalami
peradangan 3) Polip nasi yang mengandung jaringan ikat 4) dan 5) Polip antro-koana

3.2.4 Manifestasi Klinis

Polip hidung dapat menyebabkan hidung tersumbat, yang selanjutnya dapat menginduksi
rasa penuh atau tekanan pada hidung dan rongga sinus. Kemudian dirasakan hidung yang
berair (rinorea) mulai dari yang jernih sampai purulen, hiposmia atau anosmia serta dapat
juga dirasakan nyeri kepala daerah frontal. Gejala lain yang dapat timbul tergantung dari

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 4
penyertanya, pada infeksi bakteri dapat disertai pula dengan post nasal drip serta rinorea
purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui mulut, suara sengau,
halitosis, gangguan tidur, dan gannguan kualitas hidup.

Dapat juga menyebababkan gejala pada saluran nafas bawah, berupa batuk kronik dan
mengi, terutama pada penderita polip hidung dengan asma.5 Selain itu harus dicari riwayat
penyakit lain seperti alergi, asma, intoleransi aspirin.

3.2.5 Diagnosis

Anamnesis

Dari anamnesis didapatkan keluhan-keluhan berupa hidung tersumbat, rinorea,


hiposmia atau anosmia. Dapat pula didapatkan gejala skunder seperti bernafas melalui mulut,
suara sengau, halitosis, gangguan tidur dan gangguan aktifitas.

Pemeriksaan Fisik

Polip nasi masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak
mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan masa
pucat yang berasal dari meatus media dan mudah digerakkan.

Pembagian stadium polip menurut MacKay dan Lund : Stadium 1 : polip masih
terbatas pada meatus media, Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus media, tampak pada
rongga hidung tertapi belum memenuhi rongga hidung, Stadium 3: polip masif.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 5
Gambar 2.3 Stadium Polip Nasi menurut MacKay dan Lund

Pemeriksaan Penunjang
 Naso-endoskopi
Polip pada stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat dari rinoskopi anterior,
akan tetapi dengan naso endoskopi dapat terlihat dengan jelas. Pada kasus polip
koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius
sinus maksila.
 Pemeriksaan Radiologi
Foto polos sinus paranasal (Posisi waters, AP, Caldwell dan latera) dapat
memperlihatkan adanya penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di dalam
sinus, tetapi kurang bermanfaat untuk polip hidung. Pemeriksaan CT scan sangat
bermanfaat untuk melihat secara jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal
apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks
osteomeatal (KOM). CT scan harus diindikasikan pada kasus polip yang gagal
diobati dengan terapi medikamnetosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada
perencanaan tindakan bedah endoskopi.

3.2.6 Diagnosis Banding


1. Konka polipoid
Pada pemeriksaan fisik pasien didapatkan konka polipoid tidak berangkai, sukar
digerakkan, nyeri bila ditekan dengan pinset, mudah berdarah, dapat mengecil pada pemakaian
vasokonstriktor (kapas adrenalin). Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk
membedakan polip dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga
harus hati – hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa
menyebabkan vasokonstriksi sistemik, meningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada
pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.

2. Angiofibroma Nasofaring Juvenil

Etiologi dari tumor ini belum diketahui. Menurut teori, jaringan asal tumor ini mempunyai
tempat perlekatan spesifik di dinding posterolateral atap rongga hidung. Dari anamnesis diperoleh
adanya keluhan sumbatan pada hidung dan epistaksis berulang yang masif. Terjadi obstruksi

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 6
hidung sehingga timbul rhinorhea kronis yang diikuti gangguan penciuman. Oklusi pada tuba
Eustachius akan menimbulkan ketulian atau otalgia. Jika ada keluhan sefalgia menandakan adanya
perluasan tumor ke intrakranial.

Pada pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi posterior terlihat adanya massa tumor yang
konsistensinya kenyal, warna bervariasi dari abu-abu sampai merah muda, diliputi oleh selaput
lendir keunguan. Mukosa mengalami hipervaskularisasi dan tidak jarang ditemukan ulcerasi.

Pada pemeriksaan penunjang radiologik konvensional akan terlihat gambaran klasik


disebut sebagai tanda Holman Miller yaitu pendorongan prosesus Pterigoideus ke belakang. Pada
pemeriksaan CT scan dengan zat kontras akan tampak perluasan tumor dan destruksi tulang
sekitarnya.

Pemeriksaan arteriografi arteri karotis interna akan memperlihatkan vaskularisasi tumor.


Pemeriksaan PA tidak dilakukan karena merupakan kontraindikasi karena bisa terjadi perdarahan.
Angiofibroma Nasofaring Juvenil banyak terjadi pada anak atau remaja laki-laki

3. Keganasan pada hidung

Etiologi belum diketahui, diduga karena adanya zat-zat kimia seperti nikel, debu kayu,
formaldehid, kromium, dan lain-lain. Paling sering terjadi pada laki-laki. Gejala klinis berupa
obstruksi hidung, rhinorhea, epistaksis, diplopia, proptosis, gangguan visus, penonjolan pada
palatum, nyeri pada pipi, sakit kepala hebat dan dapat disertai likuorhea. Pemeriksaan CT scan
memperlihatkan adanya pendesakan dari massa tumor. Pemeriksaan PA didapatkan 85% tumor
termasuk selsquamous berkeratin

3.2.7 Penatalaksanaan

Tujuan dari tatalaksana polip hidung yaitu:


- Memperbaikai keluhan pernafasan pada hidung
- Meminimalisir gelaja
- Meningkatkan kemampuan penghidu
- Menatalaksanai penyakit penyerta
- Meningkatkan kulitas hidup

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 7
- Mencegah komplikasi.
Secara umum penatalaksanaan dari polip hidung yaitu melalui penatalksanaan
medis dan operatif.
 Tatalaksana Medis
Polip Hidung merupakan kelainan yang dapat ditatalaksanai secara medis. Walaupun
pada beberapa kasus memerlukan penanganan operatif, serta tatalaksana agresif sebelum
dan sesudah operatif juga diperlukan.
1. Antibiotik
Polip hidung dapat menyebabkan terjadinya obstruksi sinus, yang selanjutnya
menimbulkan infeksi. Tatalaksana dengan antibiotik dapat mencegah pertumbuhan dari
polip dan mengurangi perdarahan selama operasi. Antibiotik yang diberkan harus
langsung dapat memberikan efek langsung terhadap spesies Staphylococcus,
Streptococcus, dan bakteri anaerob, yang merupakan mikroorganisme pada sinusitis
kronis.
2. Corticosteroid
Topikal Korticosteroid
Intranasal/topikal kortikosteroid merupakan pilihan pertama untuk polip hidung. Selain
itu penggunaan topikal kortikosteroid ini juga berguna pada pasien post-operatif polip
hidung, dimana pemberiannya dapat mengurangi angka kekambuhan. Pemberian dari
kortikosteroid topikal ini dapat dicoba selama 4-6 minggu dengan fluticasone
propionate nasal drop 400 ug 2x/hari memiliki kemampuan besar dalam mengatasi
polip hidung ringan-sedang (derajat 1-2), diamana dapat mengurangi ukuran dari polip
hidung dan keluhan hidung tersumbat.

Sitemik Kortikosteroid
Penggunaan dari kortikosteroid sistemik/oral tunggal masih belum banyak diteliti.
Penggunaanya umumnya berupa kombinasi dengan terapi kortikosteroid intranasal.
Penggunaan fluocortolone dengan total dosis 560 mg selama 12 hari atau 715 mg
selama 20 hari dengan pengurangan dosis perhari disertai pemberian budesonide spray
0,2 mg dapat mengurangi gejala yang timbul serta memperbaiki keluhan sinus dan
mengurangi ukuran polip.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 8
Akan tetapi dari penelitian lain, penggunaan kortikosteroid sistemik tunggal yaitu
methylprednisolone 32 mg selama 5 hari, 16 mg selama 5 hari, dan 8 mg selama 10
hari ternyata dapat memberikan efek yang signifikan dalam mengurangi ukuran polip
hidung serta gejala nasal selain itu juga meningkatkan kemampuan penghidu.
3. Terapi lainnya
Penggunaan antihistamin dan dekongestan dapat memberikan efek simtomatik akan
tetapi tidak merubah perjalanan penyakitnya. Imunoterapi menunjukkan adanya
keuntungan pada pasien dengan sinusitis fungal dan dapat berguna pada pasien dengan
polip berulang. Antagonis leukotrient dapat diberikan pada pasien dengan intoleransi
aspirin.

 Terapi Pembedahan
Indikasi untuk terapi pembedahan antara lain dapat dilakukan pada pasien yang tidak
memberikan respon adekuat dengan terapi medikal, pasien dengan infeksi berulang, serta
pasien dengan komplikasi sinusitis, selain itu pasien polip hidung disertai riwayat asma
juga perlu dipertimbangkan untuk dilakukan pembedahan guna patensi jalan nafas.
Tindakan yang dilakukan yaitu berupa ekstraksi polip (polipektomi), etmoidektomi untuk
polip etmoid, operasi Caldwell-luc untuk sinus maxila. Untuk pengembangan terbaru yaitu
menggunakan operasi endoskopik dengan navigasi komputer dan instrumentasi power.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 9
Keluhan

Sumbatan hidung dengan 1/> gejala

Massa polip hidung Curiga keganasan

Tentukan stadium Permukaan berbenjol, mudah


berdarah

Jika mungkin : biopsy untuk


tentukan tipe polip dan lakukan
polipektomi reduksi Biopsy tatalaksana sesuai

Keterangan menentukan
stadium
Stad 2&3 Stad I & 2
1. Polip dalam MM (NE)
Terapi bedah Terapi 2. Polip keluar dari MM
medik 3. Polip memenuhi
rongga hidung

Persiapan pra
bedah
Terapi medik :

1. steroid topical dan atau


2. polipektomi medikamentosa dengan cara :
 deksametason 12 mg (3 Hr) 8 mg (3 Hr)4 mgt (3 Hr)
 Methylprednisolon 64 mg 10 mg (10 Hr)
 Prednisone 1 mg/ kgbb (10 Hr)

Terapi bedah Tidak ada perbaikan Perbaikan Perbaikan

mengecil hilang

Tindak lanjut dengan steroid topical sembuh

Pemeriksaan berkala sebaiknya dengan NE

Polip rekuren :

 Cari faktor alergi


 Steroid topical
 Steroid oral tidak lebih 3-4x/ tahun
 Kaustik
 Operasi ulang

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 10
3.2.8 Prognosis
Umumnya setelah penatalaksanaan yang dipilih prognosis polip hidung ini baik (dubia
et bonam) dan gejala-gejala nasal dapat teratasi. Akan tetapi kekambuhan pasca operasi atau
pasca pemberian kortikosteroid masih sering terjadi. Untuk itu follow-up pasca operatif
merupakan pencegahan dini yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya
sinekia dan obstruksi ostia pasca operasi, bagaimana patensi jalan nafas setelah tindakan serta
keadaan sinus, pencegahan inflamasi persisten, infeksi, dan pertumbuhan polip kembali, serta
stimulasi pertumbuhan mukosa normal. Untuk itu sangat penting dilakukan pemeriksaan
endoskopi post operatif. Penatalaksanaan lanjutan dengan intra nasal kortikosteroid diduga
dapat mengurangi angka kekambuhan polip hidung.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 11
BAB 3

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Nn. BS

TTL/Umur : 1 Januari 2007 / 11 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Nirang Kliung

Agama : katolik

Pekerjaan : Pelajar

No RM / Register : 221795 / 494831

3.2 Riwayat Perjalanan Penyakit

Keluhan Utama

Benjolan di hidung sejak 3 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang

Benjolan di hidung kanan nampak sejak 3 hari yang lalu sehingga hidung terasa
tersumbat.Benjolan di hidung kanan tidak terasa nyeri. Hidung sebelah kiri tidak terasa tersumbat.
Hidung tidak berbau. Pasien mengalami batuk pilek sejak 3 hari yang lalu. Ingus berwarna putih
bening dan kental. Keluar darah dari hidung pada saat ingin megeluarkan ingus.

Riwayat penyakit terdahulu : Pasien mengeluh pilek yang hilang timbul sejak 1 tahun yang lalu.

Riwayat penyakit keluarga/social : -

Riwayat pengobatan : -

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 12
Riwayat alergi

Pasien tidak memiliki alergi terhadap obat atau makanan tertentu.

Anamnesis Umum THT

Telinga Hidung Tenggorok Laring


Gatal :-/- Rinorre :+/- Sukar menelan :- Suara parau :-
Korek :-/- Buntu :+/- Sakit menelan :- Afonia :-
Nyeri :-/- Bersin :- Trismus :- Sesak nafas :-
Bengkak : - / - Dingin/lembab : Ptyalismus :- Rasa sakit :-
Otore :-/- Debu rumah : Rasa mengganjal : - Rasa mengganjal : -
Tuli :-/- Berbau :- Rasa berlendir :-
Tinitus :- Mimisan :+ Rasa kering :-
Vertigo : - Nyeri hidung :-
Mual :- Suara sengau :+
Muntah : -

3.3 Pemeriksaan Fisik

Status Generalis

Kesadaran : compos mentis Sianosi : -


Tensi : tidak diukur Stridor inspirasi : -
Nadi : 84x/menit Retraksi suprasternal : -
Respiratory rate : 16x/menit Retraksi intercostal : -
Suhu : afebris Epigastrial : -
Anemi : conjungtiva anemis (-)

Status Lokalis THT

Telinga Hidung Tenggorok

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 13
Pembengkakan -/- Deformitas -/- Palatum molle paralisis -/-
Fluktuasi -/- Hematoma -/- Uvula deviasi -/-
Fistel auris kongen -/- Krepitasi -/- Tonsil : T1 / T1
Infiltrat/abses -/- Nyeri -/- Hiperemi -/-
Nyeri tekan -/- Rinoskopi anterior : Detritus -/-
MAE : Vestibulum edema -/-, Kripta melebar -/-
Hiperemi -/- discharge -/-, ulserasi -/- Arkus ant -
Edema -/- Kavum nasi : Arkus post -
Penyempitan -/- menyempit +/- Faring
Furunkel -/- Mukosa hiperemi +/- Edema -
Fistel -/- Konka media Massa +/- Hiperemi -
Sekret -/- Sekret +/+ (mukoserous) Granula -
Granulasi -/- Konka edema tidak dapat Lendir -
Polip -/- dilihat/- pucat -/-
Kolesteatoma -/- Hiperemi -/- Gb.
Foetor -/- Septum deviasi -
Membran timpani : Gb.
Keadaan T1 T1
normal/normal Hiperemi -
Granulae -
Gb.

Hyperemia +/-
Edema -/- Laringoskopi indirek
sekret +/+ Tidak diperiksa

massa +/- Regio colli : normal


MAE hiperemi -/-
Edema -/- Rinoskopi posterior
Septum nasi
MT intak/intak
Kauda konka Sulit
Meatus nasi dieva-
Muara tuba eus luasi

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 14
Fossa rosenmuller
Atap nasofaring
Tes transluminasi : tidak
dilakukan

3.4 Pemeriksaan Penunjang

Radiologi

Foto rontgen posisi waters

Kesan :

- Sinusitis maxilaris bilateral terutama dextra


- Hipertropi concha nasalis bilateral terutama dextra
- Septum tidak deviasi
- Tulang intak
- Sinus frontalis normal

Diagnosis

Polip multiple cavum nasi dextra stadium 2

Diagnosis Banding

Penatalaksanaan :

1. Methylprednisolon 3 x 2 mg
2. Loratadin 1 x 10 mg
3. Polypektomi untuk mengangkat massa pada hidung

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 15
BAB 4

PEMBAHASAN

Wanita 11 tahun datang ke poli THT dengan keluhan benjolan di hidung sejak 3 hari yang lalu.
Benjolan keluar dari hidung sebelah kanan sehingga hidung terasa tersumbat. Pasien batuk pilek
sejak 3 hari yang lalu. Ingus berwarna putih bening dan kental. Pada saat ingin mengeluarkan ingus
keluar darah bersama ingus. Pasien sudah mengalami pilek yang hilang timbul sejak 1 tahun yang
lalu.

Teori Kasus
Anamnesis Keluhan utama penderita ialah Pasien dating dengan keluhan
hidung terasa tersumbat, keluar benjolan dari hidung
rinore yang jernih sampai kanan sehingga hidung terasa
purulent. Bila disertai infeksi tersumbat. Ingus yang keluar
sekunder didapati post nasal jernih dan kental. Pasien juga
drip dan rinore purulen. mengeluhkan suara menjadi
Gejala sekunder ialah benafas sengau.
dari mulut, suara sengau, dan
halitosisi
Pemeriksaan Fisik RA: massa dari meatus RA: tampak massa berwarna
medius berwarna pucat dan keabu-abuan yang licin dan
mudah digerakan dan tidak mudah digerakan serta tidak
gampang berdarah. Stadium 1 gampang berdarah. Massa
: polip di meatus medius, sudah keluar dari meatus
Stadium 2 : polip sudah keluar medius.
dari meatus medius, stadium 3
: polip yang massif

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 16
Pemeriksaan Penunjang Foto polos sinus paranasal Foto polos sinus paranasal
posisi waters : Sinusitis
(posisi waters, AP, Caldwell,
maxilaris bilateral terutama
dan lateral), CT scan dextra, hipertropi concha nasalis
bilateral terutama dextra
- Septum tidak
deviasi
- Tulang intak
- Sinus frontalis
normal

Penatalaksanaan Pemberian kortikosteroid methylprednisolon 3x2 mg


secara topical atau sistemik loratadin 1x10 mg
untuk menghilangkan polip.
Polip yang tidak membaik
dengan medikamentosa dan
polip massif dipertimbangkan
untuk terapi bedah.
Obat simptomatik untuk
meredakan gejala hidung
tersumbat,

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 17
BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Telah dilaporkan kasus Nn. BS usia 11 tahun dengan keluhan benjolan yang keluar dari
hidung kanan. Dari pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang telah
ditegakkan polip nasi. Penatalaksanaan yang diberikan adalah metilprednisolon 3x2 mg dan
Loratadin 1x10 mg. Pasien disuruh untuk dating control 5 hari kemudian.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 18
DAFTAR PUSTAKA
1. Probst, R., Grevers, G., dan Iro, H. Anatomy, Physiology, and Immunology of the Nose,
Paranasal Sinuses, and Face. Dalam: Basic Otorhinolaryngology. New York: Thieme, 2006, h.
2 – 13
2. Soetjipto, D. dan Mangunkusumo, E. Hidung. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar
ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001, h. 88
– 95
3. Ahmad Maymane Jahroni. The Epidemological & Clinical aspect of Nasal Polyps that
Require Surgery. Iranian Journal Of Otorhynolaryngology.2012 : 2 (4) : 72-75
4. Bachort C.Management of Nasal Polyps. Rhinology. 2005 : 18: 1-87

5. Kirtsreesatul Virat. Update on Nasal Polyps : Etiopatogenesis. J Med Assoc Thai. 2005 :
88 (12) :1966-72
6. Assanasen paraya MD. Medical & Surgical Management of Nasal Polyps. Current Option
in Otolaryngology & Head and Neck Surgery. 2001. 9 : 27-36
7. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia.
2007. Hal 25.
8. Wood AJ, et al. Pathogenesis and treatment of chronic rhinosinusitis. Postgraduate Medical
Journal. 2010;86:359.
9. Adams GL, Boies LR, Higler PH. Buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : EGC, 1997, h
173-94.
10. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III jilid I. Jakarta : Media Aesculapius FK-UI, 2000, h. 113-
114.

SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 19
SMF/Bagian THT-KL RSUD T.C Hillers Laporan Kasus Polip Nasi Page 20