Anda di halaman 1dari 13

Telaah Jurnal

KEPADATAN PENDUDUK DAN KEJADIAN DEMAM


BERDARAH DENGUE (DBD)

Disusun oleh:

Kelompok 2

1. Suci Larasati 7. Achmad Syaukat


2. Nurfitria Rahman 8. Wahyu Arfina Juwita
3. Gabby Alvionita 9. Rebeka Anastasia Marpaung
4. Divorian Adwiditanra 10. Rudi Thenggono
5. Galih Cahya Wijayanti 11. Reijefki Irlastua
6. Renita Agustina 12. Nikodemus S.P.L Tobing

Pembimbing:

Mariana SKM., M,Kes

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
KASUS
a. Secara spasial selama 5 tahun terlihat kejadian DBD secara konsisten
banyak menyerang Kota bagian Seberang Ilir (Pusat Kota hingga Utara
Kota) (peta 1).
b. Untuk kepadatan pendunduk menunjukkan pola yang tidak jelas dengan
kejadian DBD(terlihat pada peta 2). Akan tetapi, rata-rata kejadian DBD
berada diwilayah kerja puskesmas yang memiliki kepadatan penduduk
sedang.
c. Sedangkan wilayah kerja puskesmas dengan kategori rumah sehat yang
tinggi justru menunjukkan kejadian DBD yang tinggi(terlihat pada peta
3).
d. Hal ini juga sama pada kekumuhan wilayah, kejadian DBD justru banyak
menyerang didaerah kumuh sedang dibandingkan dengan kumuh
berat(terlihat pada peta 4)
TELAAH JURNAL

Hasil penelitian : Secara spasial selama 5 tahun terlihat kejadian DBD secara
konsisten banyak menyerang Kota bagian Seberang Ilir (Pusat
Kota hingga Utara Kota). Untuk kepadatan pendunduk
menunjukkan pola yang tidak jelas dengan kejadian DBD.
Akan tetapi, rata-rata kejadian DBD berada diwilayah kerja
puskesmas yang memiliki kepadatan penduduk sedang.
Sedangkan wilayah kerja puskesmas dengan kategori rumah
sehat yang tinggi justru menunjukkan kejadian DBD yang
tinggi. Hal ini juga sama pada kekumuhan wilayah, kejadian
DBD justru banyak menyerang didaerah kumuh sedang
dibandingkan dengan kumuh berat
Penelitian terdahulu Penelitian di Vietnam:
- Risiko demam berdarah lebih tinggi pada daerah rural
dibanding urban (n=42,004. Crude rate=2.9. cl 95%=1.59-
1.92)
- Puncak penyebaran DBD terjadi di daerah dengan
kepadatan yang agak rendah, yakni sekitar 110 orang/100
m2 (3.550 orang/km2). (n=16,493 crude rate=3,2 CI
95%=0,9-1.31)
Penelitian di Thailand:
- Insiden DBD pada area rural (102.2/100.000) lebih tinggi
dibanding urban (95.4/100.000)
Penelitian di Bondowoso:
- Penyebaran penyakit DBD lebih intensif di wilayah
perkotaan daripada wilayah pedesaan
- Terdapat hubungan yng erat dan positif antara angka
kejadian DBD dan kepadatan penduduk.
Penelitian di India:
Dikatakan bahwa daerah kumuh berpengaruh terhadap
kejadian DBD akibat adopsi tindakan pencegahan oleh warga
yang tinggal di daerah tersebut masih kurang
Program pada Program DBD di Vietnam
penelitian terdahulu 1. Pengendalian vektor dilakukan dengan pertama kalinya
/pedoman melepaskan nyamuk Wolbachia di pulau Tri Nguyen.
penanggulangan Dalam pantauannya, 62% nyamuk Aedes Aegypti
dari dari negara lain membawa Wolbachia sehingga mengurangi risiko
atau daerah lain penularan demam berdarah.
2. Program pengendalian vektor berbasis masyarakat - seperti
penggunaan Mesocyclops (copepod crustacean) dalam
program pengendalian biologis berbasis masyarakat.
Mesocyclops dimasukkan ke dalam wadah air untuk
memakan larva.
3. Strategi pengendalian yang paling umum digunakan saat
ini adalah melakukan inspeksi dari rumah ke rumah,
penyemprotan insektisida, menghilangkan tempat kosong
yang dapat menampung air dimana menjadi tempat
nyamuk berkembang biak, dan meningkatkan pendidikan
masyarakat.

Program DBD di Thailand


1. Program penelitian dalam mengembangkan vaksin dengue.
2. Pengendalian nyamuk dalam program demam berdarah
umumnya terdiri dari:
a) Kontrol vektor dan pengawasn
Dalam pengendalian vektor, penerapan insektisida
sering digunakan secara luas untuk mengurangi dan
membunuh populasi nyamuk yang terinfeksi setiap kali ada
kasus yang dilaporkan. Penerapan insektisida terutama
piretroid ini dilakukan melalui aplikasi ruang angkasa berupa
fogging dingin atau termal. Tujuan utama penyemprotan
ruang adalah membunuh nyamuk yang terinfeksi sehingga
mengganggu siklus transmisi & menghentikan siklus
penyakit, sehingga menghentikan penyebaran dan terjadinya
demam berdarah.
b) Partisipasi masyarakat dan penegakan hukum.
Melakukan survei larva rumah-ke-rumah, dan mengajak
masyarakat berparstisipasi dalam hal ini. Hasilnya digunakan
untuk merumuskan beberapa indikator, paling umum Indeks
Rumah dan Indeks Breteau. Indeks ini digunakan untuk
menunjukkan area risiko

Program dari Kebijakan Nasional untuk pengendalian DBD sesuai


pemerintah KEPMENKES No.581/MENKES/SK/VII/1992 tentang
Indonesia Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue, adalah
sebagai berikut:
1. Meningkatkan perilaku dalam hidup sehat dan kemandirian
terhadap pengendalian DBD
2. Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat
terhadap penyakit DBD
3. Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program
pengendalian DBD
4. Memantapkan kerjasama lintas 3 vector/ lintas program
5. Pembangunan berwawasan lingkungan
Upaya pemberantasan penyakit demam berdarah dengue
dilaksanakan secara tepat guna oleh pemerintah dengan peran
serta masyarakat yang meliputi : (1) pencegahan, (2)
penemuan, pertolongan dan pelaporan , (3) penyelidikan
epidemiologi dan pengamatan penyakit demam berdarah
dengue, (4) penanggulangan seperlunya, (5) penanggulangan
lain dan (6) penyuluhan.
1. Pencegahan
Pencegahan dilaksanakan oleh masyarakat di rumah dan
tempat umum dengan melaksanakan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) yang meliputi:
a. Menguras tempat penampungan air sekurang-
kurangnya seminggu sekali atau menutup rapat-rapat.
b. Mengubur barang bekas yang dapat menampung air
c. Menaburkan racun dan pembasmi jentik (abatisasi)
d. Memelihara ikan
e. Cara-cara lain membasmi jentik
2. Penemuan, pertolongan dan pelaporan
Penemuan, pertolongan dan pelaporan penderita penyakit
demam berdarah dengue dilaksanakan oleh petugas
kesehatan dan masyarakat dengan cara-cara sbb:
a. Keluarga yang anggotanta menunjukkan gejala
penyakit demam berdarah dengue memberikan
pertolongan pertama (memberi minum banyak,
kompres dingin, dan obat penurun panas yang tidak
mengandung asam salisilat) dan dianjurkan segera
memeriksakan kepada dokter atau unit pelayanan
kesehatan
b. Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan, penentuan
diagnose dan pengobatan/perawatan sesuai keadaan
penderita dan wajib melaporkan kepada puskesmas.
c. Kepala keluarga diwajibkan segera melaporkan kepada
lurah/kepala desa melalui kader, ketua RT/RW, ketua
lingkungan/kepala dusun.
d. Kepala asrama, ketua RT/RW, ketua lingkungan,
kepala dusun yang mengetahui adanya
penderita/tersangka diwajibkan untuk melapor kepada
puskesmas atau melalui lurah/kepala desa.
e. Lurah/Kepala Desa yang menerima laporan, segera
meneruskannya kepada puskesmas.
f. Puskesmas yang menerima laporan wajib melakukan
penyelidikan epidemiologi dan pengamatan penyakit.
3. Pengamatan penyakit dan penyelidikan epidemiologi
a. Pengamatan penyakit dilaksanakan oleh puskesmas
yang menemukan atau menerima laporan penderita
tersangka untuk:
1) Memantau situasi penyakit demam berdarah dengue
secara teratur ssehingga kejadian luar biasa dapat
diketahui sedini mungkin
2) Menentukkan adanya desa rawan penyakit demam
berdarah dengue
b. Penyelidikan epidemiologi dilaksanakan oleh petugas
kesehatan dibantu oleh masyarakat, untuk mengetahui
luasnya penyebaran penyakit dan langkah-langkah
untuk membatasi penyebaran penyakit sebagai berikut:
1) Petugas Puskesmas melakukan peneylidikan
epidemiologi.
2) Keluarga penderita dan keluarga lain disekitarnya
membantu kelancaran pelaksanaan penyelidikan.
3) Kader, ketua RT/RW, Ketua lingkungan, Kepala
Dusun, LKMD, membantu petugas kesehatan
dengan menunjukkan rumah penderita/tersangka
dan mendampingi petugas kesehatan dalam
pelaksanaan penyelidikan epidemiologi
c. Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan
epidemiologi dan adanya kejadian luar biasa kepada
camat dan Dinas Kesehatan Dati II, disertai rencana
penanggulangan seperlunya.
4. Penanggulangan seperlunya
a. Penanggulangan seperlunya dilakukan oleh petugas
kesehatan dibantu oleh masyarakat untuk membatasi
penyebaran penyakit .
b. Jenis kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan
hasil penyelidikan epidemiologi sebagai berikut:
1. Bila:
- Ditemukan penderita/tersangka demam berdarah
dengue lainnya atau
- Ditemukan 3 atau lebih penderita panas tanpa sebab
yang jelas dan ditemukan jentik dilakukan
penyemprotan insektisida (2 siklus interval 1
minggu) disertai penyuluhan di rumah
penderita/tersangka dan sekitarnya dalam radius 200
meter dan sekolah yang bersangkutan bila
penderita/tersangka adalah anak sekolah.
2. Bila terjadi Kejadian Luar Biasa atau wabah,
dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus
dengan interval 1 minggu) dan penyuluhan di
seluruh wilayah yang terjangkit .
3. Bila tidak ditemukan keadaan seperti diatas,
dilakukan penyuluhan di RW/Dusun yang
bersangkutan.

Program DBD di Jawa Timur (Bondowoso)


1. Mengintensifkan sosialisasi ke media massa dalam rangka
kewaspadaan dan pencegahan DBD serta masyarakat pun
dianjurkan untuk aktif melakukan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) di lingkungan tempat tinggalnya dengan
kegiatan 3M Plus. 3M Plus adalah menutup tempat
penampungan air, menguras tempat penampungan air
minimal satu minggu sekali, mengubur atau
memanfaatkan barang bekas, serta menggunakan bubut
obat pembunuh jentik pada penampung air terbuka dan
mencegah gigitan nyamuk dengan kelambu atau anti
nyamuk berupa bakar, oles, maupun semprot.
2. Merencanakan program gerakan satu juta juru pemantau
jentik (jumantik) yang artinya dalam setiap satu rumah,
yang menjadi juru pemantau jentik adalah anggota
keluarga itu sendiri.

Program DBD di kota Palembang


1. Program gerakan serentak pemberantasan nyamuk DBD
dengan melakukan fogging secara bersamaan di seluruh
kecamatan
2. Mengoptimalkan penyelidikan epidemiologi dan
pemeriksaan jentik berkala (PJB) di masing-masing
wilayah Puskesmas. Pemberantasan jentik berkala berupa
pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk
Aedes aegypti secara teratur oleh petugas kesehatan atau
kader atau petugas pemantau jentik (Jumantik). Angka
Bebas Jentik (ABJ) kemudian menjadi indikator
keberhasilan program pengendalian DBD di suatu daerah
3. Tiga jenis pemberantasan nyamuk:
a) Kimiawi: memasukan bubuk larvasida:abate
b) Biologis: memelihara ikan Tempalo dalam bak air
c) Mekanik: 3M
4. Memotivasi keluarga/masyarakat dalam pelaksanaan PSN
DBD. Karena penerapan PSN bukan hanya Pemerintah
kota dan Dinkes Palembang, namun semuanya termasuk
camat, lurah, ketua RT, RW dan warga harus berperan
aktif
5. Kunjungan berulang disertai penyuluhan PSN DBD secara
teratur dan terus menerus
Pembahasan  Penelitian di Vietnam dan Thailand menunjukkan kejadian
sinkronisasi teori, DBD di daerah perdesaan lebih tinggi dibandingkan daerah
penelitian terdahulu, kota. Hasil ini berbanding terbalik dengan kasus DBD di
program pemerintah Palembang dan Bondowoso yang menunjukkan daerah
dan kenyataan perkotaan lebih tinggi.
dilapangan  Dalam hal kepadatan penduduk, puncak penyebaran DBD
di Vietnam dan Palembang sama, yaitu terjadi di daerah
dengan kepadatan yang agak rendah. Namun hal ini
berbanding terbalik dengan hasil penelitian di Bondowoso
dimana terdapat hubungan yng erat dan positif antara
angka kejadian DBD dan kepadatan penduduk.
 Wilayah yang kumuh juga berpengaruh terhadap
penyebaran DBD. Secara umum wilayah kumuh dapat
mempengaruhi sanitisasi serta berkaitan dengan kepadatan
penduduk yang memperbesar peluang terjadinya DBD.
Menurut penelitian yang dilakukan di India, dikatakan
bahwa daerah kumuh berpengaruh terhadap kejadian DBD
akibat adopsi tindakan pencegahan oleh warga yang
tinggal di daerah tersebut masih kurang. Hal ini sejalan
dengan pernyataan mengenai daerah kumuh juga
berpengaruh terhadap kejadian DBD.
 Penyebab insiden di perkotaan dengan kepadatan
penduduk tinggi lebih tiggi insiden DBD adalah karena:
- Menurut Bhandari et al. (2008), lingkungan
permukiman di perkotaan lebih rapat menyebabkan
penularan DBD di daerah perkotaan lebih efisien
mengingat jarak terbang nyamuk Aedes yang hanya 50-
100 m dan kebiasaan nyamuk berganti-ganti gigitan
sebelum kenyang darah.
- Kemungkinan faktor lain adalah mobilitas penduduk
perkotaan yang tinggi. Menurut Setiadi et al., (2006)
salah satu ciri masyarakat perkotaan adalah mobilitas
penduduk yang tinggi.10 Tingginya mobilitas penduduk
akan meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit
DBD, baik dari virus yang terbawa maupun dari
vektornya. Hal ini yang kemungkinan menyebabkan
tingginya kejadian penyakit DBD di daerah perkotaan
- Program pemerintah kota Palembang dan Bondowoso
lebih menekankan terhadap 3M plus, pemeriksan jentik
berkala, fogging, dan partisipasi masyarakat dalam
memberantas vector penyebab DBD. Sedangkan, di
Thailand dan Vietnam lebih menekankan terhadap
penelitian akan perkembangan vaksin dengue, dan
penyebaran nyamuk Wolbachia dalam mengurangi
risiko penularan demam berdarah
Argumentasi anda Dari program yang dibuat pemerintah, sudah baik karena sudah
mencakup semua aspek. Untuk kejadian DBD dalam 5 tahun
terakhir sudah mengalami penurunan, namun penurunan nya
tidak signifkan dan masih banyaknya penduduk di Kota
Palembang yang menderita DBD. Berdasarkan ulasan diatas
peneliti dapat menyimpulkan beberapa saran untuk pemerintah
untuk melengkapi dan menjalankan program pembasmian
DBD yang sudag baik yaitu dengan beberapa kegiatan berikut:
1. Melaksanakan sidak rutin untuk melihat program
pencegahan yang dilakukan oleh warga setempat. Dapat
dilaksanakan setiap bulan atau setiap tiga bulan
2. Pembagian racun pembasmi jentik untuk setiap
rumah/keluarga.
3. Memberdayakan atau melakukan pelatihan untuk kader-
kader cilik pembasmi jentik dan pencegahan.
4. Melakukkan rencana penelitian nyamuk Wolbachria
seperti yang telah dilakukan di Negara Vietnam, Australia,
dan Asia Pasifik lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Prasetyowati, Irma. 2015. Kepadatan Penduduk dan insiden Rate


Demam Berdarah Dengue (DBD) Kabupaten Bondowoso, Jawa
Timur. The Indonesian Journal of Health Science. Fakultas Kesehatan
Masyarakat , Universitas Jember.
2. Guha-Sapir Debarati dan Barbara Schimer. 2005. Dengue Fever: New
Paradigms for a changing epidemiology. Emerging Themes in
Epidemiology. Doi:10.1186/1742-7622-2-1.
3. Schmidt WP, Suzuki M, Dinh TV, et al. 2011. Population Density,
Water Supply, and The Risk of Dengue Fever in Vietnam: Cohort
Study and spatial analysis. Plos med 8(8):e1001082.
DOI:10.1371/journal.pmed.1001082.
4. Jogdand Keerti S, Yerpude Pravin N. 2012. The Community
Knowledge dan Practices Regarding Dengue Fever in an Urban Slum
Area of South India. People’s Journal of Scientific Research. Vol6(1)
5. Menteri Kesehatan RI. 1994. Pemberantasan Penyakit Demam
Berdarah Dengue. Dalam KEPMENKES
No.581/MENKES/SK/VII/1992.