Anda di halaman 1dari 3

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PPOK EKSASERBASI AKUTPendahuluan

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan penyebab utama kesakitan dankematian
di dunia. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2002PPOK
menempati urutan kelima sebagai penyebab utama kematian di dunia dan diperkirakan pada
tahun 2030 akan menjadi penyebab kematian ketiga di seluruh dunia. Menurut
perkiraanWHO, terdapat 80 juta orang menderita PPOK derajat sedang-berat. Lebih dari 3
jutameninggal karena PPOK pada tahun 2005, sekitar 5% dari jumlah semua kematian
secaraglobal.
1
Menurut WHO yang dituangkan dalam
Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD)
tahun 2001 dan di-
update
tahun 2005

Chronic Obstructive PulmonaryDisease (COPD) atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik


(PPOK) adalah penyakit paru kronik yang dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan
aliran udara di saluran nafas yang bersifat progeresif dan persisten non reversibel atau
reversibel parsial, akibat respon inflamasikronik pada jalan nafas dan parenkim paru yang
disebabkan gas atau partikel beracun. Gejalautamanya adalah sesak napas memberat saat
aktivitas, batuk, dan produksi sputum.
1
. Penyakit paru obstruktif kronik di Indonesia juga akan meningkat akibat faktor pendukung
yakni kebiasaan merokok masih merupakan perilaku yang sulit di hentikandisamping polusi
udara dan lingkungan yang belum dapat dikendalikan dengan baik sertah pertambahan usia
harapan hidup masyarakat Indonesia, hal ini mau tidak mau PPOK merupakan salah satu
penyakit yang menjadi tantangan dimasa yang akan datang.
1
Angka mortalitas yang tinggi pada PPOK eksaserbasi akut merupakan masalah yangsedang
dihadapi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Kebanyakan pasien PPOK mempunyai
prognosis yang buruk karena menurunnya fungsi fisiologis tubuh. Groenewegendkk. (2003)
menjelaskan bahwa pasien yang dirawat inap karena PPOK eksaserbasi akutmempunyai
prognosis yang jelek.
1
Salah satu karakteristik PPOK adalah kencenderngannya untuk eksaserbasi.
Definisieksaserbasi PPOK adalah kondisi perburukan yang bersifat akut dari kondisi
sebelumnyayang stabil dan dengan variasi harian normal dan mengharuskan perubahan
dalam pengobatan yang biasa diberikan pada pasien PPOK (Riyanto, 2006). Eksaserbasi
dapatdisebabkan infeksi atau faktor lainnya seperti polusi udara, kelelahan atau
timbulnyakomplikasi. Kriteria PPOK eksaserbasi akut ditandai oleh meningkatnya jumlah
konsistensisputum dan bertambahnya gejala sesak nafas. Eksaserbasi dapat menurunkan
fungsi paru dankualitas hidup pasien, oleh sebab itu harus ditangani dan di cegah
kekambuhannya secaramaksimal. Gejala eksaserbasi sering diikuti batuk dan
demam. Semakin sering terjadieksaserbasi akut akan semakin berat kerusakan paru dan
semakin memperburuk fungsinya.
1
Berbagai faktor berperan dalam perjalanan penyakit ini, antara lain faktor resiko yaitufaktor
yang menimbulkan atau memperburuk penyakit seperti kebiasaan merokok, polusiudara,
polusi lingkungan, infeksi, genetic, dan perubahan cuaca. Derajat obstruksisalran nafasyang
terjadi, dan indentifikasi komponen yang memungkinkan adanya reversibilitas.
Tahap perjalanan penyakit dan penyakit lain diluar paru seperti sinusitis dan faringitis kronik,
yang pada akhirnya faktor

faktor tersebut membuat perburukan makin lebih cepat terjadi. Untuk penatalaksaan PPOK
perlu diperhatikan faktor

faktor tersebut, sehingga pengobatan PPOK menjadi lebih baik.
1

2.1 Anatomi dan Fisiologi dari Paru- paruANATOMISaluran pernafasan terdiri dari rongga
hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea,dan paru. Laring membagi saluran pernafasan
menjadi 2 bagian, yakni saluran pernafasanatas dan saluran pernafasan bawah. Pada
pernafasan melalui paru-paru atau pernafasan
external,
oksigen di pungut melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernafas, oksigen masuk melalui
trakea dan pipa bronchial ke alveoli dan dapat erat hubungan dengan darah didalamkapiler
pulmunaris.
4
Hanya satu lapis membran yaitu membran alveoli, memisahkan oksigen dan darahoksigen
menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawake
jantung. Dari sini dipompa didalam arteri kesemua bagian tubuh. Darah meninggalkan paru-
paru pada tekanan oksigen 100 mm hg dan tingkat ini hemoglobinnya 95%. Di dalam paru-
paru, karbon dioksida, salah satu hasil buangan. Metabolisme menembus membranalveoli,
kapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronchial, trakea,dinafaskan
keluar melalui hidung dan mulut.
4
Gambar : 2.1.1 Anatomi ParuSumber
4
FISIOLOGIUdara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan yang
terdapatantara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Seperti yang telah
diketahui,dinding toraks berfungsi sebagai penembus. Selama inspirasi, volume toraks
bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa
otot yaitusternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas dan otot seratus, skalenus
daninterkostalis eksternus mengangkat iga-iga
4
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat elastisitasdinding dada
dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis eksternus relaksasi, dinding dadaturun dan
lengkung diafragma naik ke atas ke dalam rongga toraks, menyebabkan volume

toraks berkurang. Pengurangan volume toraks ini meningkatkan tekanan intrapleura


maupuntekanan intrapulmonal. Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir menjadi
terbalik,sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru sampai udara dan tekanan atmosfir
menjadisama kembali pada akhir ekspirasi.
4
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi
membrane alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 μm). Kekuatan pendorong
untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas.
Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir pada permukaan laut besarnya sekitar 149 mmHg.
Pada waktuoksigen diinspirasi dan sampai di alveolus maka tekanan parsial ini akan
mengalami penurunan sampai sekiktar 103 mmHg. Penurunan tekanan parsial ini terjadi
berdasarkanfakta bahwa udara inspirasi tercampur dengan udara dalam ruangan sepi
anatomic saluranudara dan dengan uap air. Perbedaan tekanan karbondioksida antara darah
dan alveolus yang jauh lebih rendah menyebabkan karbondioksida berdifusi kedalam
alveolus. Karbondioksidaini kemudian dikeluarkan ke atmosfir.
4
Proses terjadinya pernapasan terbagi 2 yaitu :1.

Inspirasi (menarik napas)Inspirasi adalah proses yang aktif, proses ini terjadi bila tekanan
intra pulmonal (intraalveol) lebih rendah dari tekanan udara luar. Pada tekanan biasa, tekanan
ini berkisar antara -1 mmHg sampai dengan -3 mmHg. Pada inspirasi dalam tekanan
intra alveolidapat mencapai -30 mmHg. Menurunnya tekanan intra pulmonal pada waktu
inspirasidisebabkan oleh mengembangnya rongga toraks akibat kontraksi otot-
otot inspirasi.2. Ekspirasi (menghembus napas)Ekspirasi adalah proses yang pasif, proses ini
berlangsung bila tekanan intra pulmonallebih tinggi dari pada tekanan udara luar sehingga
udara bergerak keluar paru. Meningkatnyatekanan di dalam rongga paru terjadi bila volume
rongga paru mengecil akibat proses penguncupan yang disebabkan oleh daya elastis jaringan
paru. Penguncupan paru terjadi bilaotot-otot inspirasi mulai relaksasi.
4
SISTEM PERTAHANAN PARUParu-paru mempunyai pertahanan khusus dalam
mengatasi berbagai kemungkinanterjadinya kontak dengan aerogen dalam mempertahankan
tubuh. Sebagaimana mekanismetubuh pada umumnya, maka paru-paru mempunyai
pertahanan seluler dan humoral. Beberapamekanisme pertahanan tubuh yang penting pada
paru-paru dibagi atas :1. Filtrasi udaraPartikel debu yang masuk melalui organ hidung akan :-
Yang berdiameter 5-7
μ akan tertahan di orofaring.
- Yang berdiameter 0,5-
5 μ akan masuk sampai ke paru
-paru-
Yang berdiameter 0,5 μ dapat masuk sampai ke alveoli, akan tetapi dapat pula di keluarkan
bersama sekresi.
4,6
2. MukosiliaBaik mucus maupun partikel yang terbungkus di dalam mucus akan digerakkan
oleh siliakeluar menuju laring. Keberhasilan dalam mengeluarkan mucus ini tergantung
padakekentalan mucus, luas permukaan bronkus dan aktivitas silia yang mungkin terganggu
olehiritasi, baik oleh asap rokok, hipoksemia maupun hiperkapnia.
4,6
3. Sekresi Humoral Lokalzat-zat yang melapisi permukaan bronkus antara lain, terdiri dari :-
Lisozim, dimana dapat melisis bakteri- Laktoferon, suatu zat yang dapat mengikat ferrum dan
bersifat bakteriostatik - Interferon, protein dengan berat molekul rendah mempunyai
kemampuan dalam membunuhvirus.