Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MEKANISME REAKSI ANORGANIK

SENYAWA ORGANOLOGAM, REAKSI DAN APLIKASINYA


SEBAGAI KATALIS

Disusun oleh:

Yulia Nur Isnaini


16/403657/PPA/05174

PROGRAM STUDI ILMU KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kimia organologam yang merupakan yang mengandung ikatan logam-karbon telah
berkembang sangat pesat pada senyawa kimia pertengahan abad ke 21 ini. Hal ini mencakup
berbagai macam senyawa dan reaksi kimia termasuk ligan yang berinteraksi dengan ikatan
sigma dan pi dengan atom logam dan ion, senyawa kluster, senyawa yang mengandung
ikatan logam-logam, dan molekul yang strukturnya tidak diketahui di ilmu kimia organic.
Beberapa reaksi senyawa organologam hamper sama dengan reaksi organic, tapi pada kasus
lain sama sekali berbeda. Senyawa organologam juga dapat menjadi katalis yang berguna
dalam dunia industry.
Senyawa organologam dalam industry juga sangat diminati untuk mengatasi masalah
dasar industry yaitu merubah bahan dasar (seperti batu bara, petroleum dan air) menjadi
senyawa yang lebih memiliki nilai komersil. Untuk itu, mereka membutuhkan katalis agar
produksi menjadi lebih efektif. Katalis organologam merupakan katalis homogen yag mudah
dimodifikasi dan bersifat spesifik untuk reaksi tertentu. Hal ini lah yang menjadikan katalis
orgabologam menjadi perhatian industry.
Dalam makalah ini, akan dijelaskan tentang senyawa organologam, reaksi-reaksi dan
mekanisme nya serta bagaimana aplikasi senyawa organologam sebagai katalis.
1.2. Rumusan Masalah
1. apa yang disebut dengan senyawa organologam?
2. reaksi apa sajakah yang dapat terjadi pada senyawa organologam?
3. bagaimana aplikasi senyawa organologam sebagai katalis?
BAB II
PEMBAHASAN

Cabang ilmu kimia yang mempelajari tentang ikatan antara senyawa organik
(mengandung atom karbon) dan anorganik (logam) yaitu organologam. Senyawa
organologam merupakan senyawa yang terbentuk dari atom logam dan gugus organik dimana
atom-atom karbon dari gugus organiknya terikat pada atom logam. Reaksi yang terjadi pada
senyawa organologam bisa dibilang sangat kompleks Karena melibatkan reaksi-reaksi ligan
organik dan bagaimana ligan tersebut berikatan dengan atom logam. Aplikasi senyawa
organologam yang mungkin paling menonjol adalah sebagai katalis. Pada makalah ini, akan
dijelaskan tentang reaksi-reaksi yang mungkin terjadi pada senyawa organologam serta
aplikasinya dalam dunia katalis. Sebagai contoh apabila kita memiliki senyawa organik A
dan B, dimana kita berkeinginan untuk menggabungkan rantai karbon milik A dan B. Agar
kedua senyawa tersebut dapat bergabung maka dibutuhkanlah suatu katalis organologam
dimana dia akan melakukan berbagai macam reaksi sampai senyawa A dan B bisa bergabung
dan katalis itu sendiri akan melepaskan diri

Reaksi Melalui Penambahan atau Pengurangan Ligan

Terdapat berbagai macam reaksi senyawa organologam yang melibatkan perubahan


bilangan koordinasi logam dengan penambahan atau pengurangan ligan. Jika bilangan
oksidasi logam tetap, disebut dengan reaksi adisi atau disosiasi, jika bilangan oksidasi
bertambah atau berkurang, maka dinamakan reaksi adisi oksidatif atau eliminasi reduktif.

Perubahan bilangan Perubahan bilangan oksidasi


Tipe reaksi
koordinasi logam
Adisi Naik -
Disosiasi Turun -
Adisi oksidatif Naik Naik
Eliminasi reduktif Turun Turun

1. Subtitusi dan disosiasi ligan


Substitusi ligan CO
Substitusi dari ligan CO oleh donor 2-elektron lain (misalnya PR3) dapat terjadi dengan
aktivasi fotokimia atau pemanasan, baik dengan reaksi langsung dari karbonil logam dan
ligan yang masuk, atau dengan mengganti CO terlebih dahulu oleh ligan yang lebih labil
seperti THF atau MeCN. Contohnya adalah pembentukan Mo(CO)5(PPh3) yang paling
efektif dilakukan dengan terlebih dahulu membuat THF:

Mekanisme substitusi diatas merupakan mekanisme dissosiatif. Ligan yang keluar,


menghasilkan ion pusat 16-elektron yang secara koordinatif tidak jenuh (bilangan
koordinasinya belum 6). Masuknya ligan baru mengembalikannya menjadi 18-elektron.
Persaingan antar ligan yang dapat masuk ke pusat logam 16-elektron dapat dilawan
dengan menambah konsentrasi ligan yang diinginkan masuk menjadi berlebih:

Pada reaksi (a) ligan yang akan masuk menyediakan 4 elektron dan menggantikan 2
ligan CO. reaksi (b) merupakan contoh dari reaksi substitusi ganda.

…. (a)

….. (b)
Reaksi fotolisis Fe(CO)5 dengan [Et4N]CN menghasilkan reaksi substitusi (c ) dan
menghasilkan produk dengan ligan CN pada posisi aksial (d)

…. (c )

…… (d)
Reaksi substitusi dengan ligan CO biasanya menghasilkan ikatan dengan karakteristik
yang berbeda. Pada kasus Mn(CO)5Br, penelitian menunjukkan bahwa hanya 4 ligan CO
14
yang mengalami pertukaran ligan dengan CO dan keempat ligan CO yang mengalami
pertukaran ligan berada pada posisi planar (horizontal). Hal ini mengindikasikan bahwa
efek trans CO ke Br lebih kuat karena Br tidak berkompetisi untuk mendapatkan electron
 dari Mn
Terdapat kaidah yang harus dipahami pada substitusi ligan CO
a. Laju reaksi tidak tergantung ligan masukan, yang berarti mekanismenya merupakan
mekanisme Disosiatif (sebagian besar)
b. Beberapa substitusi organologam memperlihatkan hokum laju reaksi orde dua
c. Logam yang lebih besar menunjukkan mekanisme Asosiatif, logam lebih kecil
umumnya Disosiatif
d. Ligan dengan nukleofilik tinggi cenderung meningkatkan mekanisme Asosiatif
Disosiasi ligan CO dapat disebabkan oleh pemanasan
Reaksi ini merupakan reaksi dimana CO lepas dari ligan akibat pemanasan atau
penyinaran fotokimia

Sebagian besar reaksi termal yang melibatkan pertukaran ligan CO dengan ligan L
memiliki orde reaksi 1 yang tidak terpengaruh pada konsentrasi ligan L. Perilaku ini
sama dengan mekanisme disosiatif (yang biasa, bukan organologam), yang lambat
kehilangan CO namun cepat saat ligan L masuk.

keluarnya ligan CO dari kompleks 18-elektron

penambahan ligan L pada intermediet 16-elektron


Maka penentu laju adalah lepasnya CO, dengan hukum laju

Disosiasi Fosfin
a. Ligan fosfin merupakan ligan yang memiliki bentuk seperti kerucut dengan electron
pendonornya dari atom P. berikut ini adalah berbagai macam bentuk ligan fosfin dan
sudut kerucutnya
b. Berdasarkan penelitian dibawah ini, dapat dilihat bahwa semakin besar sudut kerucut
fosfin, laju reaksi disosiasi semakin besar. hal ini disebbakan semakin besar sudut
kerucut dari ligan fosfin, maka tolakan sterik dari ligan tersebut terhadap logam
semakin besar, sehingga kemungkinan untuk mengalami disosiasi ligan juga lebih
tinggi.

2. Adisi Oksidatif
Reaksi adisi oksidatif terjadi ketika molekul X-Y ditambahkan ke atom logam
membentuk ikatan baru M-X dan M-Y dengan pemutusan ikatan X-Y. Reaksi ini
menyebabkan meningkatnya bilangan oksidasi sebesar 2 tingkat, meningkatnya bilangan
kordinasi sebesar 2, serta meningkatnya jumlah electron sebesar 2 pula. Kebalikan dari
adisi oksidatif adalah reduksi eliminative yang memiliki ciri-ciri berkebalikan dari adisi
oksidatif. Persamaan reaksi umum adisi oksidatif adalah:

Contoh reaksi:

Untuk mengilustrasikan reaksi ini, dapat dijelaskan menggunakan kompleks trans-


Ir(CO)Cl(Pet3)2 dimana kompleks ini merupakan kompleks d8

Dari gambar diatas, bilangan oksidasi iridium meningkat dari (I) ke III) dan bilangan
kordinasi meningkat dari 4 ke 6. Ligan masukan yang ditambhakan dapat masuk dengan
posisi cis atau trans. Secara umum, penambahan sembarang molekul X-Y ke atom logam
dimana X dan Y lebih elektronegatif daripada logam, dapat diklasifikasikan sebagai
reaksi adisi oksidatif. Jadi, reaksi logam dengan asam, missal HCl juga merupakan
reaksi adisi oksidatif. Reaksi adisi oksidatif tidak hanya untuk logam blok d, tapi reaksi
magnesium pada reagen Grignard juga merupakan reaksi adisi oksidatif.
Beberapa reaksi adisi oksidatif bukan reaksi serempak, jadi lebih tepat disebut sebagai
reaksi SN2. Pada reaksi adisi oksidatif SN2 pasangan electron bebas pada logam
menyerang molekul X-Y yang kemudian berikatan dengan logam
Siklometalasi
Reaksi ini merupakan reaksi penggabungan logam ke dalam cincin organic.

3. Eliminasi Reduktif
Kebalikan dari reaksi adisi oksidatif, reaksi eliminasi reduktif ini mengalami penurunan
bilangan koordinasi, bilangan oksidasi dan jumlah elektronnya.

Reaksi eliminasi reduktif seringkali menghasilkan priduk seperti R-H, R-R’, R-X dan H-
H. contohnya adalah

4. Metatesis Ikatan 
Reaksi metatesis ikatan  merupakan proses serempak yang biasanya muncul ketika
adisi oksidatif tidak dapat terjadi. Reaksi ini merupakan rangkaian reaksi yang muncul
sebagai adisi oksidatif dan kemudian diikuti eliminasi reduktif. Reaksi metatesis
biasanya terjadi pada kompleks logam blok d yang tidak memiliki cukup electron untuk
mengalami reaksi adisi oksidatif. Misalnya, senyawa [ZrHMe(Cp)2] (16-elektron) tidak
dapat bereaksi dengan H2 menghasilkan trihidrida karena semua elektronnya terlibat
dalam ikatan dengan ligan yang ada. Sehingga terdapat keadaan transisi untuk
menggambarkannya.

5. Penggantian Nukleofilik
 Ligan nukleofilik digantikan dengan ligan lain (reaksi substitusi)
 Kompleks nukleofil bereaksi dengan elektrofil

Reaksi Melalui Modifikasi Ligan

1. Reaksi Insersi
Reaksi insersi migrasi 1,1
Ciri dari reaksi ini adalah terbentuk dua ikatan baru pada atom yang sama pada gugus
yang diinsersi. Dapat dilihat dari reaksi dibawah ini yang merupakan contoh reaksi
insersi:
Reaksi insersi yang paling sering digunaan untuk mempelajari reaksi ini adalah insersi
karbonil, yaitu reaksi CO dengan kompleks alkil membentuk produk asil [-C(=O)R].
contohnya adalah reaksi dari CH3Mn(CO)5 dengan CO

Dari persamaan diatas, kita berharap bahwa CO langsung menginsersi ke ikatan Mn-CH3.
Walaupun begitu, terdapat mekanisme lain yang bias mendapatkan hasil seperti itu.
Untuk reaksi diatas ini, terdapat tiga kemungkinan mekanisme yang terjadi

Kemungkinan mekanisme tersebut adalah:


 Insersi CO yaitu, ligan masukan CO langsung menginsersi kedalam ikatan Mn dan
CH3
 Migrasi ligan CO untuk menghasilkan insersi CO secara intramolekuler. yaitu
ligan masukan CO berikatan dengan Mn, lalu ligan CO yang berasan dari Mn
yang menginsersi CH3
 Migrasi alkil yaitu, alkil yang mengalami migrasi untuk berikatan dengan CO
yang telah berikatan dengan Mn

Mekanisme diatas dapat dideskripsikan secara skematik pada gambar dibawah ini:
Untuk dapat mengetahui manakah mekanisme reaksi yang benar, maka dilakukan
penelitian dengan hasil sebagai berikut:

 Reaksi CH3Mn(CO)5 dengan 13


CO (menggunakan isotope C) menghasilkan
13 13
produk dengan CO berada pada ligan karbonil dan tidak ditemukan CO pada
gugus asil
 Reaksi kebalikannya yang dilakukan dengan pemanasan:

13
Ketika reaksi diatas dilakukan dengan meletakkan C pada posisi asil, produk
CH3Mn(CO)5 yang dihasilkan memiliki 13CO pada posisi cis terhadap CH3.
Tidak ada 13CO yang lepas selama reaksi
 Pada reaksi kebalikan, ketika 13CO diletakkan pada posisi cis terhadap gugus asil,
produk yang dihasilkan memberikan rasio cis : trans 2:1 (maksud cis dan trans
13 13
disini adalah posisi CO terhadap CH3 pada produk) dan ditemukan pula CO
yang terdisosiaso (lepas)

Dari bukti eksperimen diatas, kita dapat mengevaluasi bahwa mekanisme pertama
ternyata tidak sesuai dengan eksperimen pertama yang telah diakukan. Insersi langsung
13
CO harusnya menghasilkan produk 13C pada ligan asil. Namun eksperimen berkata lain.
Sedangkan mekanisme 2 dan 3 masih selaras dengan bukti penelitian yang dilakukan.
Berarti kita dapat mencoret mekanisme satu, dan focus ke mekanisme dua dan tiga

Prinsip reversibilitas mikroskopik mensyaratkan bahwa setiap reaksi reversibel harus


memiliki jalur yang sama, baik untuk reaksi maju ataupun mundur. Jika reaksi maju
adalah migrasi karbonil (mekanisme 2), reaksi balik harus dilanjutkan dengan hilangnya
ligan CO, diikuti oleh migrasi CO dari ligan asil ke situs kosong. Karena migrasi ini tidak
mungkin terjadi pada posisi trans, semua produk harus cis. Jika mekanisme tersebut
adalah migrasi alkil (mekanisme 3), reaksi balik harus dilanjutkan dengan hilangnya ligan
CO, diikuti oleh migrasi metil dari ligan asil ke situs kosong. Sekali lagi, semua produk
13
harus cis. Mekanisme 2 dan 3 mentransfer CO dalam gugus asil ke posisi cis dan oleh
karena itu kedua mekanisme tersebut konsisten dengan data eksperimen untuk
eksperimen kedua.

Experimen ketiga membedakan mekanisme 2 dan 3. Pada mekanisme 2 dengan posisi


13
CO adalah cis terhadap ligan asil, mekanismenya adalah migrasi CO yang berada di asil
13
ke situs kosong, sehingga produk yang dihasilkan adalah 25% tidak ada CO dan 75%
13
ada CO dengan posisi cis terhadap alkil (lihat gambar diatas). Disisi lain, migrasi alkil
13 13
(mekanisme 3) harus menghasilkan 25% tanpa C, 50% dengan C dengan posisi cis
13
terhadap alkil dan 25% dengan C dengan posisi trans terhadap alkil. Dan karena bukti
mengatakan bahwa rasio produknya bersesuaian dengan mekanisem 3, maka mekanisme
3 menjadi jalur reaksi yang diterima.
CO

2. Reaksi Insersi 1,2


Reaksi insersi 1,2 biasanya diamati dengan ligan 2 seperti ligan alkena atau alkuna.
Reaksi ini dinamakan reaksi insersi 1,2 karena ligan X yang awalnya terikat pada atom
pusat, setelah reaksi akan terikat pada atom yang jaraknya 2 ikatan dari atom pusat seperti
yang tergambarkan pada gambar dibawah ini.

Biasanya, X ini merupakan gugus hidrida, alkil atau aril dimana produknya akan
menghasilkan gugus alkil. Seperti halnya reaksi insersi 1,1, reaksi ini menurunkan jumlah
electron sebesar 2, dan tidak ada perubahan bilangan oksidasi.
Jika pada reaksi diatas direaksikan dengan X=H, molekul etena lainnya akan
berkoordinasi. Gugus etil yang dihasilkan dapat bermigrasi menghasilkan gugus butyl.
Pengulangan dari proses diatas akan menghasilkan polietena

Reaksi kebalikan dari insersi 1,2 dapat terjadi tetapi jarang. Reaksi kebalikan tersebut
disebut dengan reaksi eliminasi -hidrida

Bukti penelitian menunjukkan bahwa reaksi insersi 1,2 dan reaksi eliminasi -hidrida
memiliki mekanisme yang didalamnya teradpat intermediet syn (siklik)
3. Eliminasi Hydrida
Reaksi eliiminasi hidrida merupakan reaksi kebalikan dari reaksi insersi 1,2. Reaksi ini
memiliki ciri-ciri adanya transfer atom hydrogen dari ligan ke logam dan hasilnya
terbentuk ikatan rangkap pada gugus alkil. Tipe eliminasi hidrida yang paling umum
adalah -eliminasi (walaupun ada juga eliminasi  dan  namun tidak populer), dengan
proton pada posisi  pada ligan alkil dipidahkan ke logam dengan cara melewati
intermediet dimana logam, karbon  dan , dan hidrida berposisi koplanar (intermediet
siklik seperti yang dijelaskan pada insersi 1,2). Contoh dari reaksi -eliminasi adalah
sebagai berikut:

Karena hanya kompleks yang memiliki  hydrogen yang dapat mengalami reaksi ini,
maka kompleks alkil yang tidak memiliki hidrogen lebih stabil daripada yang memiliki
hidrogen. Lebih lanjut, kompleks yang sudah jenuh secara koordinasi (kompleks yang
semua koordinasinya telah terisi) yang mengandung hidrogen secara umum juga lebih
stabil daripada kompleks yang masih memiliki ruang ksosng.

Eliminasi  juga bertanggung jawab untuk dekomposisi beberapa kompleks logam


alkil seperti reaksi diatas, tetapi reaksi tersebut mungin terhalang atau dicegah oleh:
 Efek sterik
 Memiliki pusat logam yang terkoordinasi sperti dalam (h5-C5H5)Fe(CO)2Et
 Kompleks memiliki ligan turunan alkil yang tidak memliki atomhidrogen

Contoh dari gugus alkil yang tidak dapat mengalami eliminasi karena kekurangan
hidrogen adalah Me, CH2CMe3, CH2SiMe3 dan CH2Ph. Jadi turunan metil tidak dapat
terdekomposisi dengan eliminasi dan biasanya lebih stabil daripada etil. Tetapi ini tidak
berarti turunan alkil selalu stabil. TiMe4 terdekomposisi pada 233 K tetapi stablitasnya
dapat meningkat dengan pembentukan kompleks koordinasi 6 seperti Ti(bpy)Me4 dan
Ti(Me2PCH2CH2PMe2)Me4.
4. Eliminasi hidrida -, -, - dan siklometalasi
Eliminasi hidrida  biasanya ditemukan pada kompleks yang tidak memiliki hydrogen 
dan reaksi tersebut menghasilkan yang lebih reaktif

Eliminasi hidrida dan  lebih sering terjadi karena produk yang terbentuk mengandung
metalosiklik yaitu struktur siklik yang menggabungkan atom logam. Reaksi ini juga biasa
disebut sebagai siklometalasi.

Reaksi siklometalasi sering juga dianggap sebagai reaksi adisi oksidatif ke ikata C-H
yang berdekatan. Baik eliminasi  maupun juga dianggap sebagai reaksi siklometalasi.
5. Abstraksi
Reaksi abstraksi merupakan reaksi yang tidak merubah bilangan koordinasi logam.
Umumnya melibatkan hilangnya substituent dari ligan dengan adanya reagen dari luar
seperti asam lewis. Contoh reaksi abstraksi  dan  ditunjukkan pada gambar dibawah.
Reaksi tersebut menghilangkan subtituen dari posisi  dan .

Kompleks logam blok d yang mengandung 1 atau 2 atom hydrogen  dapat mengalami
abstraksi hydrogen yang menghasilkan kompleks karbena (alkilidin) atau karbuna
(alkilidun).
Aplikasi Senyawa Organologam sebagai Katalis

1. Katalis Reaksi Deuterasi


Jika gas deuterium di alirkan ke larutan benzene yang dicampur dengan (5-
C5H5)2TaH3 pada temperature tertentu, atom hydrogen dari benzene akan digantikan oleh
deuterium menjadi C6D6 yang merupakan pelarut untuk NMR. Penggantian hydrogen
oleh deuterium terjadi dengan tahap eliminasi reduktif kemudian adisi oksidatif.

Tahap awal adalah reaksi eliminasi reduktif H2 dari (5-C5H5)2TaH3 (18-elektron)


menjadi (5-C5H5)2TaH (16-elektron). Tahap kedua, (5-C5H5)2TaH bereaksi dengan
benzene (adisi oksidatif) menghasilkan spesies 18-elektron yang mengandung gugus fenil
yang terikat ke logam. Spesies ini kemudian kehilangan H2 lagi sehingga menghasilkan
(5-C5H5)2Ta-C6H5. (5-C5H5)2Ta-C6H5 kemudian ditambah D2 (mengalami adisi
oksidatif lagi) untuk membentuk spesies 18-elektron (tahap 4). Kemudian pada tahp
terakhir mengeliminasi C6H5D. pengulangan dari tahap-tahap diatas dengan keberadaan
D2 berlebih akan menghasilkan molekul C6D6. Pada setiap siklus, katalis (5-C5H5)2TaD
terregenerasi.
2. Hidroformilasi
Proses hidroformilasi, atau okso diperkenalkan pada tahun 1938 dan merupakan
proses katalitik homogen tertua untuk kepentingan komersial. Proses ini digunakan untuk
mengubah alkena terminal menjadi aldehida dan produk organik lainnya. Konversi alkena
dengan rumus R2C = CH2 ke aldehida R2CH-CH2-CHO dijelaskan pada gambar di bawah
Setiap tahap dari siklus hidrofolmilasi dapat dikategorikan menurut jenis
karakteristiknya dari reaksi organologam. Intermediet yang mengandung cobalt dalam
siklus ini dapat menjadi spesies 18 atau 16-elektron. Spesies 18-elektron dapat
mengurangi jumlah elektron dengan cara disosiasi ligan, insersi 1,2 alkena terkoordinasi,
migrasi alkil, atau eliminasi reduktif, sedangkan spesies 16-elektron dapat meningkatkan
jumlah elektron dengan koordinasi alkena atau CO atau dengan adisi oksidatif. Aktivitas
katalitik dapat dilihat dari kemampuan logam untuk bereaksi melalui berbagai intermediet
antara 18 dan 16 elektron.
Hal ini merupakan masalah bahwa tahap pertama (disosiasi CO dari HCo(CO)4)
dihambat oleh tekanan CO yang tinggi, namun langkah keempat membutuhkan CO;
kontrol yang hati-hati terhadap tekanan ini diperlukan untuk hasil dan laju yang optimal.
Tahap kedua merupakan tahap penentu laju (orde satu terhadap alkene). Pada tahap 3,
produknya memiliki gugus CH2 (bukan CR2) yang terikat pada logam.
Tahap 6 merupakan reaksi adisi oksidatif H2, namun tekanan H2 yang tinggi dapat
menyebabkan terjadinya adisi H2 ke intermediet pada tahap 3, yang kemudian dapat
mengeliminasi alkane. Oleh karean itu, dibutuhkan control komdisi untuk
memaksimalkan hasil produk yang diperoleh.
3. Proses Wacker (Smidt)
Proses Wacker atau Smidt, digunakan untuk mensintesis asetaldehid dari etilena,
melibatkan siklus katalitik menggunakan PdCl42-. Gambar merupakan siklus yang
diusulkan oleh Wacker dan Smidt. langkah keempat lebih kompleks daripada yang
ditunjukkan dan melibatkan oksidasi spesies organik dan reduksi pusat Pd. Regenerasi
katalis membutuhkan oksidasi stoikiometrik (oleh CuCl2).
Yang menarik dari proses ini adalah bahwa proses ini menggunakan kemampuan
palladium untuk membentuk kompleks dengan etilen. Palladium menyetel perilaku kimia
etilena untuk memungkinkan reaksi terjadi, yang tidak mungkin dilakukan apabila
etilennya bebas (tanpa katalis).
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Senyawa organologam merupakan senyawa yang terbentuk karena adanya ikatan
antara atom logam dengan karbon. Senyawa ini sangan penting karena reaksi-reaksinya
yang unik dan aplikasinya yang luas dalam industry terutama sebagai katalis. Reaksi
senyawa organologam dibagi menjadi dua bagian besar yaitu reaksi melalui penambahan
atau pengurangan ligan, dan reaksi melalui modifikasi ligan:
 Reaksi melalui penambahan atau pengurangan ligan
- Reaksi substitusi dan disosiasi ligan
- Reaksi adisi oksidatif
- Reaksi eliminasi reduktif
- Metatesis Ikatan 
- Penggantian nukleofilik
 Reaksi melalui modifikasi ligan
- Reaksi insersi 1,1 dan 1,2
- Eliminasi hidrida  dan siklometalasi
- Abstraksi

Sedangkan untuk aplikasi senyawa organologam sebagai katalis terdapat berbagai


macam reaksi, beberapa diantaranya adalah
 Katalis reaksi deuterasi
 Hidroformilasi
 Proses Wacker (Smidt)
3.2. Saran
Selain yang telah saya uraikan disini, masih terdapat banyak sekali reaksi dan
aplikasi dari senyawa organologam. Oleh karena itu, kita masih bias mengeksplorasi dari
berbagai sumber tentang reaksi dan aplikasi senyawa organologam untuk memperkaya
pengetahuan tentang senyawa organologam
DAFTAR PUSTAKA

Housecroft, Catherine E., Sharpe, Alan G.. 2012. Inorganic Chemistry: Fourth Edition.
London: Pearson Education Limited.

House, James E. 2008. Inorganic Chemistry. Canada: British Library Cataloguing-in-


Publication Data

Shriver, Atkins, Peter. 2010. Inorganic Chemistry: Fifth Edition. New York: W. H. Freeman
and Company

Miessler, Gary L. Fischer, Paul J., Tarr, Donald A. 2014. Inorganic Chemistry: Fifth Edition.
USA: Pearson Education Limit

Anda mungkin juga menyukai