Anda di halaman 1dari 7

PAPER PERAWATAN LUKA MODERN DRESSING

Disusun Oleh :

1. Moch danny susanto (15010076)


2015 B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN dr. SOEBANDI JEMBER


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2017/2018

Jl. dr. Soebandi No. 99 Jember, Telp/Fax. (0331) 483536


E_mail : jstikesdr.soebandi@yahoo.com,web:http://www.stikesdrsoeband
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kami
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas dari mata kuliah Keperawatan Anak. Dalam makalah ini kami membahas tentang “Konsep
Askep Obesitas pada Anak” . Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis
membuka diri untuk menerima berbagai masukan dan kritikan dari semua pihak. Penulis berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca khususnya.

Jember, 03 januari 2018

Penulis
PERAWATAN LUKA MODERN DRESSING

BAB I perawatan luka yang berkembang pada saat ini


lebih ditekankan pada intervensi yang melihat
PENDAHULUAN
sisi klien dari berbagai dimensi, yaitu dimensi
fisik, psikis, ekonomi, dan sosial.

1. LATAR BELAKANG
Pada saat ini, perawatan luka telah mengalami 1. PENGERTIAN LUKA
perkembangan yang sangat pesat terutama
Secara definisi suatu luka adalah terputusnya
dalam dua dekade terakhir ini. Teknologi dalam
kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya
bidang kesehatan juga memberikan kontribusi
cedera atau pembedahan. Luka ini bisa
yang sangat untuk menunjang praktek
diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis,
perawatan luka ini. Disamping itu pula, isu
sifat, proses penyembuhan dan lama
terkini yang berkait dengan manajemen
penyembuhan. Adapun berdasarkan sifat yaitu
perawatan luka ini berkaitan dengan perubahan
: abrasi, kontusio, insisi, laserasi, terbuka,
profil pasien, dimana pasien dengan kondisi
penetrasi, puncture, sepsis, dll. Sedangkan
penyakit degeneratif dan kelainan metabolic
klasifikasi berdasarkan struktur lapisan kulit
semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut
meliputi: superfisial, yang melibatkan lapisan
biasanya sering menyertai kekompleksan suatu
epidermis; partial thickness, yang melibatkan
luka dimana perawatan yang tepat diperlukan
lapisan epidermis dan dermis; dan full thickness
agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan
yang melibatkan epidermis, dermis, lapisan
optimal.
lemak, fascia dan bahkan sampai ke tulang.
Dengan demikian, perawat dituntut untuk
Berdasarkan proses penyembuhan, dapat
mempunyai pengetahuan dan keterampilan
dikategorikan menjadi tiga, yaitu:
yang adekuat terkait dengan proses perawatan
luka yang dimulai dari pengkajian yang a) Healing by primary intention
komprehensif, perencanaan intervensi yang
Tepi luka bisa menyatu kembali, permukan
tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil
bersih, biasanya terjadi karena suatu insisi,
yang ditemukan selama perawatan serta
tidak ada jaringan yang hilang. Penyembuhan
dokumentasi hasil yang sistematis. Isu yang
luka berlangsung dari bagian internal ke
lain yang harus dipahami oleh perawat adalah
ekseternal.
berkaitan dengan cost effectiveness.
Manajemen perawatan luka modern sangat b) Healing by secondary intention
mengedepankan isu tersebut. Hal ini ditunjang
dengan semakin banyaknya inovasi terbaru Terdapat sebagian jaringan yang hilang, proses
dalam perkembangan produk-produk yang bisa penyembuhan akan berlangsung mulai dari
dipakai dalam merawat luka. Dalam hal ini, pembentukan jaringan granulasi pada dasar
perawat dituntut untuk memahami produk- luka dan sekitarnya.
produk tersebut dengan baik sebagai bagian c) Delayed primary healing (tertiary healing)
dari proses pengambilan keputusan yang sesuai
dengan kebutuhan pasien. Pada dasarnya, Penyembuhan luka berlangsung lambat,
pemilihan produk yang tepat harus berdasarkan biasanya sering disertai dengan infeksi,
pertimbangan biaya (cost), kenyamanan diperlukan penutupan luka secara manual.
(comfort), keamanan (safety). Secara umum,
Berdasarkan klasifikasi berdasarkan lama 4) Epitelisasi terjadi pada 24 jam pertama
penyembuhan bisa dibedakan menjadi dua ditandai dengan penebalan lapisan epidermis
yaitu: akut dan kronis. Luka dikatakan akut jika pada tepian luka
penyembuhan yang terjadi dalam jangka waktu
5) Epitelisasi terjadi pada 48 jam pertama
2-3 minggu. Sedangkan luka kronis adalah
pada luka insisi
segala jenis luka yang tidak tanda-tanda untuk
sembuh dalam jangka lebih dari 4-6 minggu. c) Fase maturasi atau remodelling
Luka insisi bisa dikategorikan luka akut jika
proses penyembuhan berlangsung sesuai 1) Berlangsung dari beberapa minggu s.d 2
dengan kaidah penyembuhan normal tetapi bisa tahun
juga dikatakan luka kronis jika mengalami 2) Terbentuknya kolagen yang baru yang
keterlambatan penyembuhan (delayed healing) mengubah bentuk luka serta peningkatan
atau jika menunjukkan tanda-tanda infeksi. kekuatan jaringan (tensile strength)
2. PROSES PENYEMBUHAN LUKA 3) Terbentuk jaringan parut (scar tissue) 50-
1. Luka akan sembuh sesuai dengan tahapan 80% sama kuatnya dengan jaringan
yang spesifik dimana bisa terjadi tumpang sebelumnyaà
tindih (overlap) 4) Terdapat pengurangan secara bertahap pada
2. Proses penyembuhan luka tergantung pada aktivitas selular and vaskularisasi jaringan yang
jenis jaringan yang rusak serta penyebab luka mengalami perbaikan
tersebut
3. Fase penyembuhan luka : 3. Faktor yang mempengaruhi proses
a) Fase inflamasi : penyembuhan luka

1) Hari ke 0-5 a. Status Imunologi

2) Respon segera setelah terjadi b. Kadar gula darah (impaired white cell
injuri pembekuaàn darah untuk mencegah function)
kehilangan darahà c. Hidrasi (slows metabolism)
3) Karakteristik : tumor, rubor, dolor, color, d. Nutritisi
functio laesa
e. Kadar albumin darah (‘building blocks’ for
4) Fase awal terjadi haemostasis repair, colloid osmotic pressure – oedema)
5) Fase akhir terjadi fagositosis f. Suplai oksigen dan vaskularisasi
6) Lama fase ini bisa singkat jika tidak terjadi g. Nyeri (causes vasoconstriction)
infeksi
h. Corticosteroids (depress immune function)
b) Fase proliferasi or epitelisasi
1) Hari 3 – 14
4. Cara Perawatan Luka dengan Modern
2) Disebut juga dengan fase granulasi o.k Dressing
adanya pembentukan jaringan granulasi pada
luka luka nampak merah segar, mengkilatà Perkembangan perawatan luka (wound care )
berkembang dengan sangat pesat di dunia
3) Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi : kesehatan. Metode perawatan luka yang
Fibroblasts, sel inflamasi, pembuluh darah yang berkembang saat ini adalah perawatan luka
baru, fibronectin and hyularonic acid dengan menggunakan prinsip moisture balance,
dimana disebutkan dalam beberapa literature
lebih efektif untuk proses penyembuhan luka
bila dibandingkan dengan metode Balutan luka (wound dressings) secara khusus
konvensional. telah mengalami perkembangan yang sangat
pesat selama hampir dua dekade ini. Revolusi
Perawatan luka dengan menggunakan prinsip
dalam perawatan luka ini dimulai dengan
moisture balance ini dikenal sebagai metode
adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh
modern dressing dan memakai alat ganti balut
Professor G.D Winter pada tahun 1962 yang
yang lebih modern. Metode tersebut belum
dipublikasikan dalam jurnal Nature tentang
begitu familiar bagi perawat di Indonesia
keadaan lingkungan yang optimal untuk
Biasanya, tidak banyak yang dilakukan untuk penyembuhan luka. Menurut Gitarja (2002),
merawat luka. Apalagi jika hanya luka ringan. adapun alasan dari teori perawatan luka dengan
Langkah pertama yang diambil adalah suasana lembab ini antara lain:
membersihkannya kemudian langsung diberi
a. Mempercepat fibrinolisis. Fibrin yang
obat luka atau yang lebih dikenal dengan obat
terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan
merah. Sementara pada luka berat, setidaknya
lebih cepat oleh netrofil dan sel endotel dalam
langkah yang diambil tidak jauh dari
suasana lembab.
membersihkannya dahulu, setelah itu diberi
obat. Sering orang tidak memperhatikan b. Mempercepat angiogenesis. Dalam
perlukah luka tersebut dibalut atau tidak. keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup
akan merangsang lebih pembentukan pembuluh
5. Pengkajian Luka
darah dengan lebih cepat.
1) Kondisi luka
c. Menurunkan resiko infeksi
a) Warna dasar luka
d. Kejadian infeksi ternyata relatif lebih
Dasar pengkajian berdasarkan warna yang rendah jika dibandingkan dengan perawatan
meliputi : slough (yellow), necrotic tissue kering.
(black), infected tissue (green), granulating
e. Mempercepat pembentukan Growth factor.
tissue (red), epithelialising (pink).
Growth factor berperan pada proses
b) Lokasi ukuran dan kedalaman luka penyembuhan luka untuk membentuk stratum
corneum dan angiogenesis, dimana produksi
c) Eksudat dan bau komponen tersebut lebih cepat terbentuk dalam
d) Tanda-tanda infeksi lingkungan yang lembab.

e) Keadaan kulit sekitar luka : warna dan f. Mempercepat terjadinya pembentukan sel
kelembaban aktif. Pada keadaan lembab, invasi netrofil yang
diikuti oleh makrofag, monosit dan limfosit ke
f) Hasil pemeriksaan laboratorium yang daerah luka berfungsi lebih dini.
mendukung
Pada dasarnya prinsip pemilihan balutan yang
2) Status nutrisi klien : BMI, kadar albumin akan digunakan untuk membalut luka harus
memenuhi kaidah-kaidah berikut ini:
3) Status vascular : Hb, TcO2
a. Kapasitas balutan untuk dapat menyerap
4) Status imunitas: terapi kortikosteroid atau
cairan yang dikeluarkan oleh luka (absorbing)
obat-obatan immunosupresan yang lain
b. Kemampuan balutan untuk mengangkat
5) Penyakit yang mendasari : diabetes atau
jaringan nekrotik dan mengurangi resiko
kelainan vaskularisasi lainnya
terjadinya kontaminasi mikroorganisme (non
viable tissue removal)

6. Perencanaan c. Meningkatkan kemampuan rehidrasi luka


(wound rehydration)
1) Pemilihan Balutan Luka
d. Melindungi dari kehilangan panas tubuh 3. Occlusive –> hypoxic environment untuk
akibat penguapan mensupport angiogenesis
e. Kemampuan atau potensi sebagai sarana 4. Waterproof
pengangkut atau pendistribusian antibiotic ke
5. Indikasi : luka dengan epitelisasi, eksudat
seluruh bagian luka (Hartmann, 1999;
minimal
Ovington, 1999)
6. Kontraindikasi : luka yang terinfeksi atau
luka grade III-IV
Dasar pemilihan terapi harus berdasarkan
7. Contoh: Duoderm extra thin, Hydrocoll,
pada :
Comfeel
1. Apakah suplai telah tersedia?
c. Alginate
2. Bagaimana cara memilih terapi yang tepat?
1. Terbuat dari rumput laut
3. Bagaimana dengan keterlibatan pasien
2. Membentuk gel diatas permukaan luka
untuk memilih?
3. Mudah diangkat dan dibersihkan
4. Bagaimana dengan pertimbangan biaya?
4. Bisa menyebabkan nyeri
5. Apakah sesuai dengan SOP yang berlaku?
5. Membantu untuk mengangkat jaringan
6. Bagaimana cara mengevaluasi?
mati
6. Tersedia dalam bentuk lembaran dan pita
2) Jenis-jenis balutan dan terapi alternative
7. Indikasi : luka dengan eksudat sedang s.d
lainnya
berat
a. Film Dressing
8. Kontraindikasi : luka dengan jaringan
1. Semi-permeable primary atau secondary nekrotik dan kering
dressings
9. Contoh : Kaltostat, Sorbalgon, Sorbsan
2. Clear polyurethane yang disertai perekat
d. Foam Dressings
adhesive
1. Polyurethane
3. Conformable, anti robek atau tergores
2. Non-adherent wound contact layer
4. Tidak menyerap eksudat
3. Highly absorptive
5. Indikasi : luka dgn epitelisasi, low exudate,
luka insisi 4. Semi-permeable
6. Kontraindikasi : luka terinfeksi, eksudat 5. Jenis bervariasi
banyak
6. Adhesive dan non-adhesive
7. Contoh: Tegaderm, Op-site, Mefilm
7. Indikasi : eksudat sedang s.d berat
b. Hydrocolloid
8. Kontraindikasi : luka dengan eksudat
1. Pectin, gelatin, carboxymethylcellulose minimal, jaringan nekrotik hitam
dan elastomers
9. Contoh : Cutinova, Lyofoam, Tielle,
2. Support autolysis untuk mengangkat Allevyn, Versiva
jaringan nekrotik atau slough
e. Terapi alternatif
1. Zinc Oxide (ZnO cream) 4) Luka Granulasi
2. Madu (Honey) a. Bertujuan untuk meningkatkan proses
granulasi, melindungi jaringan yang baru, jaga
3. Sugar paste (gula)
kelembaban luka
4. Larvae therapy/Maggot Therapy
b. Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat
5. Vacuum Assisted Closure
c. Moist wound surface – non-adherent
6. Hyperbaric Oxygen dressing
d. Treatment overgranulasi

7. Implementasi e. Hydrocolloids, foams, alginates

1) Luka dengan eksudat & jaringan nekrotik 5) Luka epitelisasi


(sloughy wound)
a. Bertujuan untuk menciptakan lingkungan
a. Bertujuan untuk melunakkan dan yang kondusif untuk “re-surfacing”
mengangkat jaringan mati (slough tissue)
b. Transparent films, hydrocolloids
b. Sel-sel mati terakumulasi dalam eksudat
c. Balutan tidak terlalu sering diganti
c. Untuk merangsang granulasi
6) Balutan kombinasi
d. Mengkaji kedalaman luka dan jumlah
a. Untuk hidrasi luka : hydrogel + film atau
eksudat
hanya hydrocolloid
e. Balutan yang dipakai antara lain:
b. Untuk debridement (deslough) : hydrogel +
hydrogels, hydrocolloids, alginates dan
film/foam atau hanya hydrocolloid atau
hydrofibre dressings
alginate + film/foam atau hydrofibre +
2) Luka Nekrotik film/foam

a. Bertujuan untuk melunakan dan c. Untuk memanage eksudat sedang s.d berat
mengangkat jaringan nekrotik (eschar) : extra absorbent foam atau extra absorbent
alginate + foam atau hydrofibre + foam atau
b. Berikan lingkungan yg kondusif u/autolisis cavity filler plus foam
c. Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat
d. Hydrogels, hydrocolloid dressing
3) Luka terinfeksi
a. Bertujuan untuk mengurangi eksudat, bau BAB III
dan mempercepat penyembuhan luka
PENUTUP
b. Identifikasi tanda-tanda klinis dari infeksi
pada luka
c. Wound culture – systemic antibiotics 1. KESIMPULAN

d. Kontrol eksudat dan bau a. Penggunaan ilmu dan teknologi serta


inovasi produk perawatan luka dapat
e. Ganti balutan tiap hari memberikan nilai optimal jika digunakan
f. Hydrogel, hydrofibre, alginate, secara tepat
metronidazole gel (0,75%), carbon dressings, b. Prinsip utama dalam manajemen
silver dressings perawatan luka adalah pengkajian luka yang
komprehensif agar dapat menentukan c. Peningkatan pengetahuan dan
keputusan klinis yang sesuai dengan kebutuhan keterampilan klinis diperlukan untuk
pasien menunjang perawatan luka yang berkualitas
2. SARAN
a. Pergunakanlah makalah ini sebagai
pedoman dalam pembelajaran perawatan luka
modern
b. Jadilah calon perawat yang berkompeten
dan berdaya saing.