Anda di halaman 1dari 23

PEDOMAN INTERNAL

PENYELENGGARAAN PROGRAM

KIA-KB
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya Pedoman Internal Pelayanan

Program KIA-KB UPTD Puskesmas Nyalindung tahun 2018. Pedoman ini merupakan pedoman

pelaksanaan berbagai kegiatan KIA bagi masyarakat yang ada di wilayah kerja UPTD

Puskesmas Nyalindung. Tentunya amat penting keberadaan pedoman ini agar pemberian

pelayanan kesehatan bagi masyarakat akan lebih efesien, efektif, proporsional, rasional,

komprehensif dengan harapan agar lebih berhasil guna dan berdaya guna.

Dalam kesempatan ini tidak lupa saya sampaikan terima kasih kepada teman-teman yang

telah membantu penyusunan pedoman ini. Tentunya dalam penyusunan pedoman ini masih

ditemukan banyak kekurangan, untuk itu adanya kritik dan masukan yang bersifat membangun

dari semua fihak sangat kami harapkan agar dalam penyusunan Pedoman di waktu mendatang

dapat lebih sempurna lagi.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Puskesmas sebagai organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat


pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat dan
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat.
Melalui program dan kegiatannya, puskesmas berperan serta mewujudkan
keberhasilan pembangunan kesehatan Indonesia, khususnya di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok.
Program KIA-KB termasuk satu dari enam program pokok (basic six) Puskesmas
dan merupakan salah satu prioritas utama pembangunan kesehatan di Indonesia.
pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga
berencana, neonatus, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita. Keberhasilan
program KIA menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) menjadi salah satu prioritas utama pembangunan kesehatan di Indonesia.
Pelayanan kesehatan ibu dan anak diatur dalam Undang-undang No.36 Tahun 2009
Tentang kesehatan dimana disebutkan pada pasal 126 (1) Upaya kesehatan ibu harus
ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat
dan berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu. (2) Upaya kesehatan ibu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif. (3) Pemerintah menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas, alat dan obat dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu secara aman, bermutu, dan terjangkau. (4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan kesehatan ibu diatur dengan Peraturan
Pemerintah. Dan pada pasal 131 bahwa (1) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak
harus ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan
berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak. (2) Upaya
pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak anak masih dalam kandungan, dilahirkan,
setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18 (delapan belas) tahun. (3) Upaya pemeliharaan
kesehatan bayi dan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menjadi
tanggung jawab dan kewajiban bersama bagi orang tua, keluarga, masyarakat, dan
Pemerintah, dan pemerintah daerah.

Sedangkan pelayanan keluarga berencana diatur dalam undang-undang No.10


Tahun 1992 pada pasal 16: (1)Untuk mewujudkan pembangunan keluarga sejahtera,
Pemerintah menetapkan kebijaksanaan upaya penyelenggaraan keluarga berencana.
(2)Kebijaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan upaya
peningkatan keterpaduan dan peran serta masyarakat, pembinaan keluarga dan
pengaturan kelahiran dengan memperhatikan nilai-nilai agama, keserasian, keselarasan,
dan keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung dan daya tampung
lingkungan, kondisi perkembangan sosial ekonomi dan sosial budaya serta tata nilai yang
hidup dalam masyarakat. (3)Kebijaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
berhubungan dengan penetapan mengenai jumlah ideal anak, jarak kelahiran anak, usia
ideal perkawinan, dan usia ideal intuk melahirkan. (4)Penetapan kebijaksanaan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) ditetapkan dari waktu ke waktu berdasarkan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).
Keberhasilan program KIA dan KB tidak dapat dicapai tanpa peran serta lintas
program, lintas sektor serta pemberdayaan masyarakat yang efektif untuk meningkatkan
wawasan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak serta
keluarga berencana untuk meningkatkan derajat kesehatan serta kesejahteraan
masyarakat.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup sehat
melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk
atau mempercepat pencapaian target pembangunan Kesehatan Indonesia , serta
meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang
optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.
2. Tujuan Khusus
Meningktakan kemampuan ibu ( pengetahuan, sikap dan perilaku ) dalam
mengatasi kesehatan diri dan keluarganya
- Meningkatkan upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara
mandiri di lingkungan keluarga , Posyandu
- Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan bayi , anak balita , ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui
- Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bayi , anak balita , ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui
- Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat , keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah,
terutama melalui peningkatan peran ibu dan keluarganya;
- Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang
bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian
pertumbuhan penduduk Indonesia,
- Terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pedoman ini meliputi pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu, anak dan
keluarga berencana serta peran pemangku kepentingan terkait dalam pelaksanaan
pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana baik pelayanan dalam gedung
maupun pelayanan luar gedung di wilayah kerja Puskesmas Nyalindung.

D. Batasan Operasional
Program Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA) merupakan salah satu dari enam program
pokok Puskesmas yang bertujuan untuk memantapkan dan meningkatkan jangkauan
serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien meliputi pelayanan :
 Pelayanan Antenatal
Pelayanan kesehatan ibu hamil, setiap ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal
sesuai standar baik mendapatkan pelayanan dalam gedung di poli KIA maupun di luar
gedung yaitu di posyandu

 Pertolongan Persalinan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang
aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten, dengan standar pelayanan
APN ( Asuhan Persalinan Normal ), yang dberikan di dalam gedung yaitu d PONED
maupun diluar gedung baik di Polindes, Pustu, maupum d BPS.
 Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu
mulai 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga kesehatan sesuai dengan standar
pelayanan baik didalam gedung yaitu d poli KIA maupun di luar gedung di posyandu dan
kunjungan rumah.
 Pelayanan Kesehatan Neonatus
Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang
diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonatus sedikitnya 3 kali, selama
periode 0 sampai dengan 28 hari setelah lahir, baik di fasilitas kesehatan maupun melalui
kunjungan rumah.
 Deteksi dini factor risiko dan komplikasi kebidanan dan neonates oleh tenaga
kesehatan maupun masyarakat.
Deteksi dini kehamilan dengan faktor resiko adalah kegiatan yang dilakukan untuk
menemukan ibu hamil yang mempunyai faktor risiko dan komplikasi kebidanan.
Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi tetap mempunyai risiko
untuk terjadi komplikasi.
 Penanganan Komplikasi Kebidanan
Penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayan kepada ibu dengan komplikasi
kebidanan untuk mendapatkan penanganan definitive sesuai standar oleh tenaga
kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan,
 Pelayanan neonatus dengan komplikasi
Pelayanan Neonatus dengan komplikasi adalah penanganan neonatus dengan penyakit
dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian oleh
dokter,bidan, perawat terlatih di polindes, puskesmas PONED, rumah bersalin , dan BPS
 Pelayanan Kesehatan Bayi
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan
oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai
dengan 11 bulan setelah lahir. Pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi dapat didalam
gedung yaitu di poli KIA, dan luar gedung yaitu di posyandu
 Pelayanan kesehatan anak balita
Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan intelektual berkembang
pesat. Masa ini merupakan masa keemasan atau golden period dimana terbentuk dasar
dasar kemampan keindraan, berfikir, berbicara, serta pertumbuhan mental intelektual
yang intensif dan awal pertumbuhan moral. Pada masa ini stimulasi sangat penting untuk
mengoptimalkan fungsi organ tubuh dan rangsangan perkembangan otak. Pelaksanaan
pelayanan kesehatan anak balita dapat dilakukan di dalam gedung yaitu yaitu dpoli KIA
maupun diluar gedung yiatu d posyandu.
 Pelayanan KB berkualitas
Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB sesuai standar dengan menghormati
hak individu dalam merencanakan kehamilan sehingga diharapkan dapat berkontribusi
dalan menurunkan angka kematian ibu dan menurunkan tingkat fertilitas ( kesuburan )
bagi pasangan yang telah cukup memiliki anak ( 2 anak Lebih baik) serta meningkatkan
fertilitas bagi pasangan yang ingin memiliki anak.
Program Keluarga Berencana menurut UU No 10 tahun 1992 (tentang perkembangan
kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan
kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP),
pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Program KB adalah bagian yang terpadu (integral) dalam program pembangunan
nasional dan bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial
budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan
kemampuan produksi nasional.

E. Landasan Hukum
a. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
b. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan
Masyarakat.
c. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2014 tentang standar pelayanan
minimal bidang kesehatan
d. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan
Masa Sebelum Hamil, Masa Nifas, Persalinan dan Masa sesudah Melahirkan
Penyelenggaraan Pelayanan Konntrasepsi serta Pelayanan Kesehatan Seksual.
e. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 tahun 2016 tentang pedoman
penyelenggaraan program indonesia sehat dengan pendekatan keluarga
f. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014 tentang upaya kesehatan anak
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Semua karyawan puskesmas wajib berpartisipasi dalam kegiatan pemberdayaan


masyarakat mulai di Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKP, Penanggung jawab
UKM, dan seluruh karyawan.
Berikut standar tenaga khusus tenaga ahli gizi untuk puskesmas

PERSYARATAN HASIL ANALISA KETERANGAN


YA TIDAK
a. Pendidikan Minimal D3 V
Kebidanan
b. Memiliki STR V
c. Memiliki SIP V
d. Mempunyai Sertifikat pelatihan, V
Diklat maupun Seminar yang
menunjang kegiatan pelayanan
kesehatan ibu dan anak/ keluarga
berencana
e. Mampu dan terampil dalam V
pelaksanaan klinis profesi bidan
dan manajemen program
kesehatan ibu, anak dan keluarga
berencana (perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan
evaluasi)
f. Dapat bekerja dalam tim
V

B. Distribusi Ketenagaan
Pengaturan dan penjadwalan kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak di bagi
menjadi dua kegiatan yaitu kegiatan UKP (Upaya Kesehatan Perorangan ) yang dilakukan
di dalam gedung dan kegiatan UKM ( Usaha Kesehatan Masyarakat) :
 Ketenagaan UKP
- Penanggungjawab medis : Dokter
- Penanggung jawab KIA : Bidan Koordinator
- Pelaksana KIA-KB : Bidan Puskesmas
Bidan PONED
 Ketenagaan UKM
- Penanggungjawab medis : Dokter
- Penanggungjawab KIA : Bidan Koordinator
- Pelaksana KIA-KB : Bidan Desa

C. Jadwal Kegiatan KIA

 Jadwal Pelayanan Poly KIA (UKP)


Hari Pelayanan
Senin Pelayanan KIA, pelayanan Iva test
Selasa Pelayanan KIA, Pelayanan Imunisasi
Rabu Pelayanan KIA, pelayanan SDIDTK
Kamis Pelayanan KIA,
Jumat Pelayanan KIA
Sabtu Pelayanan KIA
Keterangan, pelayanan KIA : Pelayanan ANC , Pelayanan ibu nifas, MTBM, MTBS dan
Pelayanan KB.
 Jadwal Kegiatan Program KIA (UKM)

Jan Februari Maret April Mei Juni Juli Agt Sept Okt November Des
No. Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1. Peningkatan
kapasitas
petugas tentng
pencatatan dan
pelaporan

2 Peningkatan
kapasitas kader
dalam

3 Pelaksanaan
kelas ibu hamil
di desa

4 Pembinaan
kemitraan
dukun paraji

5 Sweeping ibu
hamil DO
posyandu

6 Penyeliaan
faskes

7 Kunjungan
rumah PUS DO
kluarga
berencan

8 Pemantauan
kesehatan bayi
beresiko

9 Pelaksanaan
kegiatan di
posyandu

10 Supervisi
pelayanan
posyandu

11 AMP Internal
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang Pelayanan KIA

B. STANDAR FASILITAS
Fasilitas yang dipakai pada pelayanan Program KIA adalah ANC kit, INC kit,
PNC kit dan Kunjungan Neonatus kit
1. ANC Kit
- Timbangan BB
- Metelin
- Ukur LILA
- Protein urin tes
- HB sahli
- funandoskop
- Tensi meter dan stetoskop
- Kertas lakmus
- APD
2. INC Kit
- Partus set
- Infus set dan abocat
- Cairan infus
- Spuit 3 ml, kapas, kasa
- Jarum heting dan benang
- Lidokain, alcohol, betadine
- Obat emergency : MgSO4, Ca Glukonas, epinefrin, dexa
- Oksigen
- Dower kateter dan kateter foley
- APD
3. PNC Kit
- APD
- Betadine
- Tensimeter dan stetoskop
- Senter
4. Kunjungan Neonatus Kit
- Timbangan BB Bayi
- Metelin
- Penghisap lender deele
- Oksigen
- Senter
- APD
BAB IV

TATALAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup Kegiatan Pelayanan KIA di UKP

 Pemantauan Kesehatan Ibu diantaranya :

Pelayanan Kesehatan bagi Bumil sesuai standart, untuk kunjungan lengkap (K4)
adalah cakupan Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling
sedikit empat kali kunjungan dengan ketentuan 1 kali kunjungan d trimester 1, 1 kali
kunjungan ditrimester 2 dan 2 kali kunjungan di trimester 3 dan mendapatkan
pelayanan 10 T :

1. Timbang Berat Badan dan Ukur Tinggi Badan

Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.Penambahan berat badan
kurang dari 9 kg selama kehamilan atau kurang dari 1 kg setiap bulannya
menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin.

Pengukuran tinggi badan pada pertama kali kunjungan dilakukan untuk


menapis adanya faktor resiko pada bumil.Tinggi badan bumil kurang dari 145
cm meningkatkan resiko untuk terjadinya CPD ( Cepalo Pelvic Disproportion)

2. Ukur Tekanan Darah

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan


untuk mendeteksi adanya hipertensi ( tekanan darah > 140/90 mmHg ) pada
kehamilan dan preeklamsia ( hipertensi disertai edema wajah dan atau tungkai
bawah;dan atau proteinuria) .

3. Nilai status Gizi ( Ukur lingkar lengan atas / LILA)

Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama oleh tenaga kesehatan
di Trimester I untuk skrining ibu hamil beresiko kurang energi kronis
(KEK),disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah
berlangsung lama ( beberapa bulan/tahun) dimana LILA kurang dari 23,5
cm.Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir rendah (
BBLR )

4. Ukur Tinggi Fundus Uteri

Pengukuran tinggi fundus uteri pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan
untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur
kehamilan.Jika tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan umur
kehamilan,kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin.Standart pengukuran
menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu.
5. Tentukan Presentasi Janin dan Denyut Jantung Janin

Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan selanjutnya


setiap kali kunjungan antenatal.Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk
mengetahui letak janin .Jika pada Trimester III bagian bawah janin bukan
kepala atau kepala janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan
letak,panggul sempit atau ada masalah lain.

Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali
kunjungan antenatal.DJJ lambat kurang dari 120 kali/menit atau DJJ cepat lebih
dari 160 kali / menit menunjukkan adanya gawat janin.

6. Skrening Status Imunisasi Tetanus dan berika imunisasi Tetanus Toxoid ( TT )


bila diperlukan Untuk mencegah terjadinya tetanus neonaturum ,ibu hamill
harus mendapat imunisasi TT.Pada saat kontak pertama,ibu hamil diskrining
status imunisasi T-nya.Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil,disesuaikan
dengan status imunisasi T ibu saat ini.Ibu hamil minimal memiliki status
imunisasi T2 agar mendapatkan perlindungan terhadap infeksi tetanus.Ibu
hamil dengan status imunisasi T5 ( TT Long Life ) tidak perlu diberikan
imunisasi TT lagi.

7. Beri Tablet Tambah Darah

Untuk mencegah anemia gizi besi,setiap ibu hamil harus mendapatkan tablet
tambah darah (tablet zat besi) dan Asam folat minimal 90 tablet selama
kehamilan yang diberikan sejak kontak pertama.

8. Periksa Laboratorium ( rutin dan khusus )

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan


laboratorium rutin dan khusus.Pemeriksaan laboratorium rutin adalah
pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu
golongan darah,hemoglobin dan pemeriksaan spesifik daerah endemis
(malaria,HIV,dll).Sementara pemeriksaan laboratorium khusus adalah
pemeriksaan laboratorium lain yang dilakukan atas indikasi pada ibu hamil
yang melakukan kunjungan antenatal.

Pemeriksaan laboratorim dilakukan pada saat antenatal tersebut meliputi:

a.Pemeriksaan Golongan darah


b.Pemeriksaan kadar Hb
c.Pemeriksaan protein dalam urin
d.Pemeriksaan kadar gula darah
e.Pemeriksaan darah malaria
f.Pemeriksaan tes sifilis
g.Pemeriksaan HIV
h.Pemeriksaan BTA
9. Tatalaksana / penanganan kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal diatas dan hasil pemeriksaan
laboratorium,setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani
sesuai dengan standart dan kewenangan tenaga kesehatan.Kasus kasus yang
tidak dapat ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
10. Temu Wicara (konseling)
Temu wicara (konseling) dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang
meliputi:
a. Kesehatan ibu
b. Perilaku hidup bersih dan sehat
c. Peran suami dan keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan
d. Tanda bahaya pada kehamilan,persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasi
e. Asupan gizi seimbang
f. Gejala penyakit menular dan tidak menular
g. Penawaran untuk melakukan testing dan konseling HIV di daerah
terkonsentrasi HIV / bumil resiko tinggi terinfeksi HIV
h. Inisiasi menyusui dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif
i. KB pasca salin
j. Imunisasi
k. Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan ( Brain Boster)

 Pertolongan Persalinan
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang
aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Pada kenyataannya
dilapangan, masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan. Oleh
karena itu secara bertahap seluruh persaliana akan ditolong oleh tenaga kesehatan
kompeten dan diarahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Pada prinsipnya, penolong persalinan harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Metode pertolongan persalinan yang sesuai standar ( APN )
2. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ke tingkat pelayanan yang lebih
tinggi.
3. Melaksanakan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
4. Memberikan Injeksi Vit K1 dan salep mata pada bayi baru lahir.

 Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas


Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibunifas mulai 6
jam sampai 42 hari pasca bersalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini
komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas
dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan waktu:
1. Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari setelah
persalinan
2. Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2 minggu setelah persalinan (8-14 hari)
3. Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6 minggu setelah persalinan (36-42 hari )
Pelayanan yang diberikan adalah
 Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu
 Pemeriksaan tinggi fundus uteri ( involusi )
 Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya
 Pemeriksaan payudara dan anjurkan ASI eksklusif 6 bulan
 Pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak du kali pertama segerA
setelah melahirkan, kedua diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul
Vitamin A pertama
 Pelayanan KB pasca salin

 Pelayanan kesehatan neonatus


Pelayayan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang
diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonatus sedikitnya 3 kali
selama periode 0-28 hari setelah lahir bayi, baik difasilitas kesehatan maupun melalui
kunjungan rumah. Pelaksanaan pelayanan neonatus
 Kunjungan Neonatal ke-1 (KN1) dilakukan pada kurun waktu 6-48 jam
setelah lahir.
 Kunjungan Neonatal ke-2 (KN2) dilakukan pada kurun waktu hari ke 3
sampai dengan hari ke 7 setelah lahir.
 Kunjungan Neonatal ke-3 (KN3) dilakukan pada kurun waktu hari ke 8
sampai dengan hari ke 28 setelah lahir
Pelayanan Kesehatan Neonatas dasar dilakukan secara komprehensif dengan
melakukan pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dan pemeriksaaanmenggunakan
pendekatan manajementerpadu bayi muda (MTBM) untuk memastikan bayi dalam
keadaan sehat yang meliputi :
 Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir
- Perawatan tali pusat
- Melaksanakan ASI Eklusif
- Memastikan bayi telah diberi injeksi VIT K1
- Memastikan bayi telah diberikan salep mata antibiotik
- Pemberian imunisasi Hepatitis B-0
 Pemeriksaan menggunakan pendekatan MTBM pemeriksaan tanda
bahay seperti kemungkinan infeksibakteri ikterus, diare, berat badan
rendah dan masalah pemberian ASI.
- Pemberian imunisasi Hepatitis B0 bila belum diberikan pada
waktu perawatan bayi baru lahir
- Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan ASI
eksklusif, pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan
bayi baru lahir dirumah dengan menggunakan buku KIA
- Penanganan dan rujukan kasus bila diperlukan.

 Pelayanan maternal dan neonatal risti/komplikasi yang ditangani


Pelayanan maternal risti/ komplikasi adalah pelayanan kepada ibu dengan
komplikasi kebidanan untuk mendapatkan penanganan definitif sesuai standar oleh
tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan, diperkirakan
sekitar 15-20 % ibu hamil akan mengalami komplikasi kebidanan. Pelayanan medis
yang dapat dilakukan d Puskesmas mampu PONED meliputi:
1. Pelayanan obstetri
 Penanganan perdarahan pada kehamilan, persalinan dan nifas
 Pencegahan dan penanganan Hipertensi dalam kehamilan ( pre-eklamsi
dan eklamsi)
 Pencegahan dan penanganan infeksi
 Penanganan partus lama/macet
 Penanganan abortus
 Stabilisasi komplikasi untuk dirujuk dan transportasi rujukan
2. Pelayanan neonatus
 Pencegahan dan penanganan asfiksi
 Pencegahan dan penanganan hipotermi
 Penanganan bayi berat lahir rendah (BBLR)
 Pencegahan dan penanganan infeksi neonatus, kejang neonatus,
icterus, ringan-sedang.
 Pencegahan dan penanganan gangguan minum
 Stabilisasi komplikasi neonatusnuntuk dirujuk dan transportasi
rujukan.

 Pemantauan Kesehatan Bayi

- Pelayanan Neonatal resti/komplikasi yang ditangani adalah jumlah resiko


tinggi/komplikasi yang ditangani sesuai standart yang menyebabkan
kesakitan/
- Pelayanan Neonatal sesuai standar ( KN lengkap ) adalah jumlah kontak
neonatal dengan petugas minimal 3 kali untuk mendapatkan pelayanan
kesehatn neonatal sesuai standart dengan syarat minimal 1-3 hari sebanyak
1x, umur 4-7 hari sebanyak 1 kali dan umur 8-42 hari sebanyak 1 kali
- Pelayanan Bayi paripurna adalah Jumlah bayi yang memperoleh pelayanan
kesehatan sesuai standart oleh petugas kesehatan minimal 4 kali setelah
mendapat pelayanan neonatal (KN2) dengan distribusi pelayanan minimal
umur 1-3 bulan 1x, umur 4-6 bulan 1x, umur 7-9 bulan 1x dan umur 1-12
bulan 1x. Pelayanan kesehatan meliputi pemberian imunisasi dasar, vit A,
DDTK, MTBM (bagi petugas kesehatan yang sudah dilatih MTBM),
vit.K1 injeksi, cakupan BBLR ditangani adalah jumlah BBLR yang
ditangani.
 Upaya Kesehatan Balita dan Anak Prasekolah

- Pelayanan kesehatan anak balita adalah anak balita (12-59 bulan) yang
memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8x setahun,
pemantauan perkembangan minimal 2x setahun, pemberian vitamin A 2x
setahun.

- Pelayanan kesehatan Anak Prasekolah adalah anak pra sekolah (60-72


bulan) yang memperoleh pelaynan pemantauan pertumbuhan minimal 8x
setahun dan pemantauan perkembangan minimal 2x setahun.

B. Lingkup Kegiatan Pelayanan KIA di UKM


1. ANC Terpadu
Pelayanan ANC Terpadu merupakan pelayanan antenatal komprehensif
dan terpadu, mencakup upaya promotif, preventif sekaligus kuratif dan
rehabilitative yang meliputi pelayanan KIA, gizi, pengendalian penyakit
menular & imunisasi, HIV &AIDS,malaria, PMS, penanganan penyakit tidak
menular serta beberapa program lokal dan spesifik lainnya sesuai dengan
kebutuhan program.
Dalam ANC Terpadu, tenaga kesehatan harus dapat memastikan bahwa
kehamilan berlangsung normal, mampu mendeteksi dini masalah dan penyakit
yang dialami ibu hamil, melakukan intervensi secara adekuat sehingga ibu
hamil siap untuk menjalani persalinan normal. Berkenaan dengan hal tersebut
maka pelayanan antenatal terpadu dianggap perlu untuk dilaksanakan kepada
seluruh ibu hamil di wilayah kerja UPT. Puskesmas Kalisat.
2. Pemantauan Bumil Resti
Pemantauan Bumil Resti adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan dalam mendampingi dan memantau kondisi kehamilan ibu hamil
resiko tinggi dengan harapan dapat mendeteksi secara dini kegawatdaruratan
yang akan terjadi sehingga bisa dilakukan upaya pencegahan dan penanganan
yang tepat dan cepat.
3. Kelas Ibu Hamil
Kehamilan merupakan suatu proses reproduksi yang perlu perawatan
khusus agar dapat berlangsung dengan baik. Kehamilan berkaitan dengan
kehidupan ibu dan janin. Resiko kehamilan ini bersifat dinamis, karena itu ibu
yang pada mulanya normal, secara tiba-tiba dapat menjadi beresiko tinggi.
Untuk itu dalam masa ini perlu untuk memperdalam pengetahuan
tentang kehamilan dan selalu melakukan pemantauan atau
pemeriksaan kehamilan. Kelas ibu hamil merupakan tempat bagi ibu
hamil untuk mendapatkan pengetahuan, baik tentang kehamilan, persalinan
dan nifas serta mendapatkan konseling seputar masalah yang dihadapi ibu
hamil.
4. Kelas Ibu Balita
Kegiatan kelas ibu balita merupakan sarana untuk belajar kelompok yang
dilakukan oleh ibu yang mempunyai anak usia 0 sampai dengan 5 tahun
tentang kesehatan balita. Kegiatan ini dilakukan dengan cara berdiskusi, tukar
pendapat, tukar pengalaman akan pemenuhan pelayanan kesehatan, gizi dan
stimulasi pertumbuhan dan perkembangan yang di bimbing oleh fasilisator
dengan menggunakan Buku KIA.
5. Kemitraan Bidan Dukun
Kemitraan Bidan Dukun adalah suatu pembinaan yang di berikan kepada
dukun bayi oleh tenaga kesehatan yang menitik beratkan pada peningkatan
pengetahuan dukun terutama dalam hal hygiene sanitasi, yaitu mengenai
perawatan bayi baru lahir, perawatan ibu nifas, resiko tinggi pada ibu dan bayi,
dan KB.
6. AMP Internal
Pelayanan Audit Maternal Perinatal adalah kegiatan penelusuran sebab
kematian atau kesakitan maternal, perinatal, dan neonatal guna mencegah
kesakitan dan atau kematian serupa di masa yang akan datang. Diharapkan
dengan adanya kegiatan audit, petugas bisa mengambil pelajaran untuk kasus
yang sama dan mencegah adanya keterlambatan dalam mengambil keputusan
untuk bertindak, merujuk dan mengambil keputusan

C. LANGKAH LANGKAH KEGIATAN

1. Perencanaan
- Dilakukan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat yang berasal
dari survey, kotak saran dan keluhan, temu wicara dan umpan balik
- Dari saran dan harapan masyarakat dituangkan dalam Rencana Usulan
Kegiatan (RUK). Selain dari masyarakat RUK juga berasal dari rencana
lima tahunan puskesmas, Standar Pencapaian Minimal dan Indikator
Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP).
- Setelah ada pendanaan maka RUK diubah menjadi RPK, yang kemudian
di lengakapi dengan matrik kegiatan dan jadwal selama setahun
2. Pencatatan
Pencatatan Hasil kegiatan Pelayanan KIA di UPTD. Puskesmas Nyalindung
secara umum di kelompokkan menjadi
 Buku KIA
 Kartu Ibu/ Anak
 Form MTBM/MTBS
 Form DDTK
 Regester Kohort (Ibu hamil, bayi, balita dan Apras)
 Form Asuhan Kebidanan
 Lembar Observasi
 Partograf
3. Pengolahan Data
Setiap bulan bidan desa menjumlah hasil kegiatan pelayanan KIA di
kohort sesuai indikator program KIA. Dari kumulatif indikator tersebut diolah
dalam bentuk PWS (Pemantauan Wilayah Setempat) sehingga dapat dianalisa
hasil pencapaian bulan lalu dibanding bulan ini, hasil capaian kumulatif total
sampai dengan bulan ini, selisih capaian dengan target, pencapaian tertinggi,
pencapaian terendah ontinuum of care pelayanan KIA.

BAB V
PENUTUP

Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dan lintas sektor terkait
dalam pelaksanaan dan pembinaan upaya kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana
dengan tetap memperhatikan prinsip proses pembelajaran dan manfaat.
Keberhasilan kegiatan upaya kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana
tergantung pada komitmen yang kuat dari semua pihak terkait dalam upaya meningkatkan
kemandirian masyarakat dan peran serta aktif masyarakat dalam bidang kesehatan.