Anda di halaman 1dari 66

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA PERINEUM EPISIOTOMI PADA IBU

POST PARTUM BERHUBUNGAN DENGAN MOBILITAS FISIK

DI RSUD SYEKH YUSUF KABUPATEN GOWA

SARTIKA

14.1033

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN (STIKPER)


GUNUNG SARI MAKASSAR
2017

i
KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA PERINEUM EPISIOTOMI


PADA IBU POST PARTUM BERHUBUNGAN DENGAN
MOBILITAS FISIK DI RSUD SYEKH YUSUF
KABUPATEN GOWA

Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk
menyelasaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan dan memperoleh
gelar Ahli Madya Keperawatan
(Amd.Kep)

SARTIKA
14.1033

STIKPER GUNUNG SARI MAKASSAR


DIII KEPERAWATAN
2017

ii
BIODATA DIRI

A. Data Pribadi
Nama : Sartika
Tanggal Kelahiran : Pandang-Pandang, 24 November 1996
Alamat : Jeneponto
Nomor Telepon : 085233470913
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Pernikahan : Belum Menikah
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam

B. Data Orang Tua


Nama Ayah : Baharuddin
Pekerjaan : Wiraswasta
Nama Ibu : Hasbiah
Pekerjaan : IRT
C. Riwayat Pendidikan
Jenjang Pendidikan

Periode Asal Sekolah Jurusan Jenjang


SD Inpres 24 Pandang-Pandang
2002-2007 SD
Bantaeng
2007-20010 MTS Al-Hikam SMP
2010-2014 MAN Al-Hikam IPS SMA
Sementara dalam proses menyelesaikan pendidikan DIII
2014-Sekarang Keperawatan di STIKPER Gunung Sari Makassar Tahun
2017

vi
KATA PENGANTAR

Dengan ucapan Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

atas berkat nikmat dan hidaya berupa nikmat kesempatan, nikmat kesehatan dan

nikmat umur, yang diberikan pada penulis, sehinggah dapat menyelesaikan Karya

Tulis Ilmiah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN LUKA PERINEUM

EPISIOTOMI PADA IBU POST PARTUM BERHUBUNGAN DENGAN

MOBILITAS FISIK DI RSUD SYEKH YUSUF KABUPATEN GOWA”.

Penulis menyadari bahwa isi karya tulis ilmiah ini masih jauh dari

kesempurnaan, dan masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi materi

maupun dari segi penyusunan. Oleh karena itu kritik dan saran serta sumbangan

pikiran dari pembaca guna memperbaiki kekurangan tersebut dan menjadi bahan

masukan yang sangat berharga bagi penulis demi kesempurnaan tugas dimasa

yang akan datang.

Terwujudnya karya tulis ilmiah ini tentu tidak lepas dari bantuan dan

partisipasi dari berbagai pihak, oleh sebab itu dengan penuh kerendahan hati

penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya dan

penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:

1. Bapak H. Syamsu Alam, BA selaku Ketua Yayasan STIKPER Gunung Sari

Makassar yang telah memberikan kesempatan dan Fasilitas dalam mengikuti

pendidikan.

2. Kepala Badan Pengelola RSUD Syech Yusuf Gowa Makassar yang telah

memberi izin untuk pengambilan data awal studi kasus di RSUD Syech Yusuf

Gowa Makassar.

vii
3. Bapak Dr. Pius Nalang, M.Kes selaku Ketua STIKPER Gunung Sari

Makassar.

4. Ibu Sitti Badria Asikin, S.Kep, Ns selaku Prodi D3 Keperawatan dan selaku

pula penasehat akademik penulis yang telah memberikan nasehat-nasehat dan

membimbing penulis selama mengikuti pendidikan.

5. Bapak Drs.Basri Abdi,M.Pd,M.Kes selaku dosen pembimbing I yang telah

banyak meluangkan waktu, tenaga, pikiran dalam membimbing dan

memotivasi penulis selama penyusunan karya tulis ilmiah ini.

6. Sitti Hasmawati,S.Kep,Ns selaku dosen pembimbing II yang telah banyak

meluangkan waktu, tenaga, pikiran dalam membimbing dan memotivasi

penulis selama penyusunan karya tulis ilmiah ini.

7. Kepada penguji I yang telah memberikan masukan kritik, saran dan dorongan

serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran.

8. Kepada penguji II yang telah memberikan masukan kritik, saran dan dorongan

serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran.

9. Kepada penguji III yang telah memberikan masukan kritik, saran dan

dorongan serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran.

10. Segenap dosen dan staf pengajar di STIKPER Gunung Sari Makassar yang

telah turut membantu penulis terutama selama penulis mengikuti pendidikan.

11. Teristimewa kepada Ayah dan Ibunda tercinta, Bapak Baharuddin dan Ibunda

Hasbiah, serta segenap keluarga yang senantiasa mengiringi doa buat penulis,

memberikan perhatian, cinta dan kasih sayang dan berbagai bantuan baik

material maupun moril yang penulis dapatkan selama mengikuti pendidikan

vii
sampai pada penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

12. Sahabat seperjuangan mahasiswa/i D3 Keperawatan STIKPER Gunung Sari

Makassar yang telah turut mendukung penulis selama menuntut ilmu sampai

selesai.

13. Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis cantumkan namanya satu

persatu yang telah banyak penulis dalam penyusunan.

Akhir kata semoga penyusunan karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi

peningkatan mutu pelayanan keperawatan khususnya bagi tenaga keperawatan.

Semoga segala kebaikan dan bantuan yang diberikan dapat bernilai ibadah dan

mendapat imbalan yang setimpal dari Yang Maha Kuasa Amin.

Makassar,06 september 2017

Penulis

vii
ABSTRAK

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA PERINEUM EPISIOTOMI PADA IBU

POST PARTUM BERHUBUNGAN DENGAN MOBILITAS FISIK DI

RUMAH SAKIT SYEKH YUSUF GOWA

MAKASSAR 2017

SARTIKA

Program Studi DIII Keperawatan

STIKPER Gunung Sari Makassar.

Dibimbing oleh:

Drs.Basri Abdi,M,Pd.M.Kes Siti Hasmawati, S.Kep,Ns

Kata Kumci: Kata Kunci : Perawatan Luka Perineum Episiotomi

Latar Belakang : Luka Perineum akibat episiotomy merupakan tindakan yang di

sengaja oleh penolong persalinan yang bertujuan untuk mempermudah proses

persalinan. Luka dengan tindakan episiotomy harus terjaga kebersihan yang

mendukung proses penyembuhan . oleh karena itu membutuhkan tindakan seperti

memperhatikan kebersihan genetalia dengan cara merawat luka. Tujuan : tujuan

meneliti agar asuhan keperawatan perawatan luka perineum bisa tercapai seperti

pengetahuan kondisi kesehatan luka perineum setelah mendapatkan perawatan di

rumah sakit/saat pasien pulang ,dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara

perawatan luka perineum. Metode : metode dalam penelitian ini menggunakan

metode wawancara dan observasi sesuai dengan pengkajian perawatan luka

perineum episiotomy. Hasil : Penelitian ini pada dua subjek di lakukan setiap ±10

menit dengan perawatan luka perineum di ruangan Nifas RSUD syekh Yusuf

viii
Gowa. Kesimpulan : berdasarkan penelitian yang di lakukan di RSUD Syekh

Yusuf Gowa di ruangan perawatan Nifas maka di harapkan bagi ibu post partum

untuk melakukan perawatan luka perineum dengan benar agar luka dapat sembuh

dengan cepat , dan mempercepat pemulihan pasien untuk mengatasi terjadinya

resiko infeksi pada ibu perawatan luka perineum.

viii
ABSTRACT

ASSEMBLY NURSING PERE-EPISIOTOMY PERINEUM IN POST POST MOTHER

IN CONNECTION WITH PHYSICAL MOBILITY IN SYAHH HOSPITAL YUSUF

GOWA

MAKASSAR 2017

DIII Study Program of Nursing

STIKPER Gunung Sari Makassar

SARTIKA

Keywords : nursing care, wound episiotomy injury

Bockground: Perineal wound due to episitomy is a deliberate act by birth attendants that aim to

facilitate labor. Wound with episiotomy should be kept clean which support the healing process.

Objectives: apply nursing care with wound health condition after receiving treatment on day one,

seven and postpartum knowledge about perineal wound care. Method: the method of this

research used interview and observation method in accordance with the assessment of perineal

wound care episiotomy, where the action I did was by sitting soaking using betadine feminine

hygiene eight ml±ten-fifteen minutes. Results: after three days of nursing care, signs of infection

were lost, pain was reduced, and patient mobility is met without any help. Conclusion: based on

the research done in postpartum care room, it is suggested for post partum mother to carry out

regular wound care so that it can accelerate the wound healing process on post episiotomy and

perineum.

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN ...................................................................................i

HALAMAN SAMPUL DALAM ……………………………………………..............ii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN..............................................iii

HALAMAN PERSETUJUAN......................................................................................iv

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................................v

RIWAYAT HIDUP PENULIS …………………………………………………..….. vi

KATA PENGANTAR...................................................................................................vii

ABSTRAK ……………………………………………………………………………viii

HALAMAN DAFTAR ISI............................................................................................. x

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………xi

DAFTAR SINGKATAN ……………………………………………………………xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang ......................................................................................................1

B. Rumusan masalah .................................................................................................3

C. Tujuan studi kasus ................................................................................................3

D. Manfaat studi kasus ..............................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

x
A. Asuhan keperawatan luka perineum episiotomi ...................................................5

1. Pengertian keperawatan ............................................................................5

2. Diagnosa ...................................................................................................7

3. Perencana ..................................................................................................8

4. Implementasi ............................................................................................9

5. Evaluasi ....................................................................................................9

B. Luka perineum episiotomi ....................................................................................9

1. Pengertian luka perineum ...............................................................................9

2. Pengertian episotomi .,....................................................................................9

3. Tujuan tindakan episotomi pada perinium ...................................................10

4. Tingkat luka perineum .................................................................................10

5. Prosedur luka perineum ...............................................................................10.

6. Pengertian penyembuhan luka ......................................................................13

7. Kriteria penyembuhan luka ..........................................................................13

8. Proses penyembuhan luka ............................................................................13

9. Faktor-faktor internal yang mempengaruhi penyembuhan luka....................14

10. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi penyembuhan luka.................15

11. Penghambat keberhasilan penyembuhan luka ..............................................16

BAB III METODE STUDI KASUS

A. Jenis dan desain penelitian .................................................................................18

B. Subjek studi kasus ..............................................................................................18

C. Fokus studi kasus ................................................................................................18

D. Definisi operasional studi kasus .........................................................................18

E. Instrumen studi kasus .........................................................................................19

x
F. Metode pengumpulan data .................................................................................19

G. Lokasi dan waktu studi kasus .............................................................................20

H. Analisis data dan penyajian data ........................................................................20

I. Etika studi kasus .................................................................................................21

BAB IV HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Studi Kasus ………………………………………………………………22

B. Pembahasan ……………………………………………………………………36

C. Keterbatasan Studi Kasus ……………………………………………………...38

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan …………………………………………………………………….39

B. Saran …………………………………………………………………………...40

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat pengambilan data awal

Lampiran 2 Surat izin penelitian

Lampiran 3 Surat Selesai Penelitian

Lampiran 4 Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah

Lampiran 5 Foto Pasien


SINGKATAN

WHO : World Health Organization

DEPKES : Depertemen Kesehatan Dasar

AKI : Angka Kematian Ibu

TTV : Tanda-Tanda Vital

BAB : Buang Air Besar

BAK : Buang Air Kecil

RL : Ringer Laktat

BB : Berat Badan

PB : Panjang Badan

xii
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Luka perineum akibat tindakan episiotomi merupakan tindakan yang

disengaja oleh penolong persalinan yang bertujuan untuk mempermudah

proses persalinan. (Adelina dan Betty, 2014).

Kasus infeksi ini disebabkan karena infeksi jalan lahir atau episiotomi.

(WHO dikutip oleh Dewi, 2013).

Angka Kematian Ibu (AKI) akibat kehamilan di indonesia masih tertinggi

di Negara ASEAN. Penyebab langsung kematian di indonesia dan negara

lainnya di dunia hampir sama yaitu akibat perdarahan (28%) dan infeksi

(11%). Angka Kematian Ibu (AKI) negara ASEAN disebabkan karena infeksi

dengan proporsi 20-30% (Hanifa dikutip oleh Dewi, 2013). Berdasarkan profil

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2013 jumlah ibu nifas

sebanyak 3000 orang ibu dengan angka kematian ibu (AKI) yang dilaporkan

menjadi 160 orang atau 110,26 per 100.000 kelahiran hidup, terdiri dari

kematian ibu hamil 45 orang (28,1%), kematian ibu bersalin 60 orang (40%),

kematian ibu nifas 55 orang (30%), 24,034 kelahiran hidup yang disebabkan

karena perdarahan, didapatkan jumlah kelahiran hidup 26,129 sehingga angka

kematian ibu (AKI) sebesar 11,6 per 100.000 kelahiran hidup.

Berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD Syekh Yusuf Gowa

Makassar Kamis, 15 Juni 2017, jumlah yang mengalami episiotomy 3 tahun

2017 dapat di lihat pada table di bawah ini.

11
2

Tabel 1.1
Angka Ibu Yang Mengalami Episiotomi
Ibu Yang Mengalami
No Tahun Ibu Bersalin
Episotomi
1 2014 398 83
2 2015 528 70
3 2016 540 69
4 Jan-April 2017 132 25
Sumber data dari: Rumah Sakit Syech Yusuf Gowa

Penelitian Siswin di Puskesmas Cukir Jimbang pada tahun 2014,

didapatkan hasil 10 orang ibu nifas terdapat 4 orang (40%) yang megalami

keterlambatan penyembuhan luka perineum dalam jangka waktu 6-7 hari

oedema, kemerahan, dan terdapat pus (nanah) serta 6 (60%) orang ibu yang

tidak mengalami keterlambatan penyembuhan luka perineum waktu 6 - 7 hari

luka sudah kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi.

Luka dengan tindakan episiotomi tidak mudah dan terjaga dari kebersihan

yang mendukung proses penyembuhan. Oleh karena itu, membutuhkan

tindakan seperti memperhatikan kebersihan genetalia dengan cara merawat

luka (vulva hygiene). Upaya yang dilakukan bertujuan untuk mempercepat

pembentukan jaringan parut, sehingga luka dapat sembuh dalam waktu cepat

(6-7 hari). (Adelina dan Betty, 2014).

Tindakan membersihkan genetalia dapat memberi kesempatan pada

petugas kesehatan atau perawat untuk melakukan inspeksi secara seksama

daerah perineum.

Perawatan perineum penting karena dapat mengakibatkan kondisi

perineum yang terkena lokhia dan lembab menjadi wadah. Perkembangan


3

bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum. Infeksi

tidak hanya menyebabkan kerusakan pada sel jaringan dan sel penunjang,

tetapi menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun

kedalaman luka pada perineum. (Yeye dan Lia, 2010).

Faktor risiko infeksi genetalia bagi ibu adalah kurang memperhatikan

kebersihan perineumnya. Faktor karena ekonomi, pengetahuan yang kurang

sehingga mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum tersebut.

Berdasarkan kejadian tersebut, maka peneliti tertarik mengangkat tentang

Asuhan Keperawatan Luka Perineum Episiotomi Pada Ibu Post Partum

berhubungan dengan mobilitas fisik di RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah gambaran perawatan luka perineum akibat episiotomi pada

ibu post partum di RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

C. Tujuan Studi Kasus

1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman nyata serta menambah

pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan

pada ibu post partum tentang luka perineum episiotomi di RSUD Syekh

Yusuf Kabupaten Gowa.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui kondisi kesehatan luka perineum setelah

mendapatkan perawatan pada hari1,3 dan 7 di RSUD Syekh Yusuf

Kabupaten Gowa.
4

b. Untuk meningkatkan pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka

perineum akibat tindakan episiotomiRSUD Syekh Yusuf Kabupaten

Gowa.

c. Untuk meningkatkan keterampilan dalam memberikan perawatan luka

perineum episiotomi

D. Manfaat Studi Kasus

1. Masyarakat

Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengatasi resiko infeksi

luka perineum akibat dari tindakan episiotomi.

2. Pengembangan ilmu dan teknologi keperawatan

Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan pada bidang keperawatan

dalam mengatasi resiko terjadinya infeksi luka perineum akibat dari

tindakan episiotomi.

3. Penulis

Sebagai syarat kelulusan dan untuk memperoleh pengalaman dalam

mengimplementasikan prosedur tindakan perawatan luka perineum akibat

tindakan episiotomi.
5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuhan Keperawatan Luka Perineum Episiotomi

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas

Nama, jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal

pengkajian, nomor rekam medis, diagnosa medis

b. Keluhan utama

c. Riwayat keluhan utama

d. Genogram

e. Riwayat kehamilan dan persalinan

1) HPHT

2) Umur kehamilan

3) Jenis persalinan

4) Penolong

f. Riwayat kehamilan saat ini

1) Berapa kali periksakan kehamilan?

2) Masalah kehamilan

g. Riwayat menstruasi

h. Riwayat kesehatan ibu

1) Riwayat masuk rumah sakit

2) Riwayat kesehatan yang lalu

5
6

3) Riwayat kesehatan keluarga

i. Riwayat kontrasepsi

j. Data kebiasaan sehari-hari

1) Pola nutrisi

2) Pola eliminasi

3) Pola aktivitas

4) Pola seksual

5) Pola istirahat

k. Data spiritual

l. Data umum kesehatan saat ini

1) Keadaan umum

2) BB/TB

3) Tanda-tanda vital

a) Tekanan darah

b) Nadi

c) Suhu

d) Pernapasan

m. Pemeriksaan fisik

1) Kepala

a) Mata

b) Hidung

c) Mulut

d) Telinga

2) Leher
7

3) Dada

4) Abdomen

5) Genetalia

6) Estremitas

7) Eliminasi

a) Urine

(1) Kebiasaan BAK

(2) BAK saat ini

b) Feses

(1) Kebiasaan BAB

(2) BAB saat ini

8) Pola tidur

a) Kebiasaan

(1) Siang

(2) Malam

b) Saat ini

2. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko infeksi yang berhubungan dengan trauma jaringan dan

kerusakan kulit.

Tujuan : infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil :

1) Luka episiotomy sembuh dengan sempurna dan tidak ada tanda-

tanda infeksi ( kolor, tumot, dolor dan fungsi olaesa)

2) Pasien mampu mendemostrasikan teknik-teknik untuk


8

meningkatkan penyembuhan

3) Tanda-tanda vital dalam batas 36-37ºc

4) Nutrisis terpenuhix

b. Gangguan nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan sekunder

terhadap luka episiotomy

Tujuan : mencegah atau meminimalkan rasa nyeri

Kriteria hasil :

1) Nyeri berkurang atau hilang

2) Ekspresi wajah rileks

3) Pasien mampu melakukan tindakan dan mengungkapkan intervensi

untuk mengatasi nyeri dengancepat

4) Tanda-tanda vital normal ( tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 80-

88x/menit)

3. Perencanaan

a. Pantau tanda-tanda vital dengan rutin dan sesuai dengan indikasi, dan

catat tanda-tanda menggigil, anoreksia atau malaise.

Rasional : Peningkatan suhu sampai 38,3°C dalam 24 jam pertama

sangat menandakan infeksi.

b. Anjurkan teknik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut

yang kotor dengan tepat.

Rasional : Membantu mencegah dan menghalangi penyebaran

infeksi.

c. Perawatan luka episiotomi

Rasional : untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan


9

mencegah terjadinya infeksi.

d. Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian antibiotik

Rasional : Mencegah infeksi dari penyebaran kejaringan sekitar atau

aliran darah.

4. Implementasi

Implementasi mencakup pelaksanaan intervensi keperawatan yang

ditujukan untuk mengatasi diagnosa keperawatan dan masalah-masalah

kolaboratif pasien serta memenuhi kebutuhan pasien.

5. Evaluasi

Evaluasi adalah penentuan respon pasien terhadap intervensi

keperawatan dan sejauh mana tujuan sudah dicapai. Evaluasi dilakukan

selama tiga hari untuk melihat keberhasilan implementasi dilihat

berdasarkan kriteria hasil.

B. Luka Perineum dan Episiotomi

1. Pengertian Luka Perineum

Menurut Mochtar dikutip oleh Moudy Lombogia (2017), Luka

perineum adalah perlukaan yang terjadi pada saat persalinan dibagian

perineum.

2. Pengertian Episiotomi

Menurut Jones Derek kutip oleh Moudy Lombogia (2017), Episiotomi

adalah suatu irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara

vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi. Episiotomi

suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang
10

dalam meregang. Tindakan episiotomi adalah pencegahan kerusakan yang

lebih hebat pada jaringan lunak akibat daya regang yang melebihi

kapasitas adaptasi atau elastisitas jaringan tersebut.

3. Tujuan Tindakan Episiotomi Pada Perineum

Menurut Jones Derek dalam Lia Yulianti (2012), Tindakan dilakukan

jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus

dilakukan infiltrasi perineum dengan anastesi lokal, kecuali bila pasien

diberi anastesi epidemal. Insisi episiotomi dilakukan digaris tengah atau

medio lateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak

banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah

diperbaiki.

4. Tingkatan Luka Perineum

Perlukaan perineum dapat dibagi dalam beberapa tingkat, yaitu :

a. Tingkat I, jika perlukaan perineum hanya terbatas pada mukosa vagina

atau kulit perineum

b. Tingkat II, Jika perlukaan yang lebih dalam dan luas ke vagina dan

perineum dengan melukai fasia serta otot-otot diafragma urogenital

c. Tingkat III, Perlukaan yang lebih luas dan lebih dalam yang

menyebabkan musculus spingter ani eksternum

d. Tingkat IV, Perlukaan yang lebih luas dan lebih dalam yang

menyebabkan musculus spingter ani eksternum sampai kedinding

rectum anterior

5. Prosedur Perawatan perineum

Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan


11

daerah antar paha yang dibatasi genetalia dan anus pada ibu yang dalam

masa antara kelahiran plasenta sampai dengan kembalinya organ-organ

genetik seperti pada waktu sebelum hamil.

Menjaga kebersihan pada masa nifas untuk menghindari infeksi, baik

pada luka jahitan atau kulit (Anggraeni, 2010) :

a. Kebersihan alat genetalia

Setelah melahirkan biasanya perineum menjadi bengkak/memar dan

mungkin ada luka jahitan bekas robekan atau episiotomi.

Anjuran :

1) Menjaga alat genetalia dengan mencuci menggunakan sabun dan

air, kemudian daerah vulva sampai anus harus kering sebelum

memakai pembalut wanita, setiap kali selesai buang air kecil atau

buang air besar pembalut diganti minimal 3 kali sehari

2) Cuci tangan dan sabun dengan air yang mengalir sebelum dan

sesudah membersihkan daerah genetalia

3) Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara

membersihkan daerah disekitar genetalia terlebih dahulu dari

depan kebelakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar

anus. Bersihkan genetalia setiap buang air besar atau buang air

kecil

4) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut

setidaknya 3 kali sehari. Kain dapat digunakan ulang-ulang jika

dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah matahari atau

disetrika.
12

5) Jika mempunyai luka episiotomi, hindari untuk menyentuh daerah

luka ini yang kadang kurang diperhatikan oleh pasien dan tenaga

kesehatan. Karena rasa ingin tahunya, tidak jarang pasien ini

menyentuh luka bekas jahitan diperineum tanpa memperhatikan

efek yang bisa ditimbulkan dari tindakan ini. Apalagi pasien

kurang memperhatikan kebersihan tangannya sehingga tidak jarang

terjadi infeksi.

b. Menjaga kebersihan vagina

Menurut Anggraeni (2010), langkah-langkah untuk menjaga

kebersihan vagina yang benar :

1) Siram mulut vagina hingga bersih dengan air setiap kali habis

buang air kecil dan buang air besar. Air yang digunakan tidak perlu

matang asalkan bersih. Basuh dari arah depan kebelakang hingga

tidak ada sisa-sisa kotoran yang menempel didaerah vagina, baik

itu dari air seni maupun feses yang mengandung kuman yang bisa

mengakibatkan infeksi pada luka jahitan.

2) Vagina boleh dicuci menggunakan sabun maupun cairan antiseptik

karena dapat berfungsi sebagai penghilang yang terpenting, jangan

takut memegang daerah tersebut dengan seksama.

3) Bila ibu benar-benar takut menyentuh luka jahitan, upaya menjaga

kebersihan vagina dapat dilakukan dengan cara duduk berendam

dalam cairan antiseptik selama 10 menit. Lakukan setelah buang

air besar dan buang air kecil.

4) kadang terlupakan, setelah vagina dibersihkan pembalutnya tidak


13

diganti. Bila seperti itu caranya, maka akan percuma saja.

Bukankah pembalut tersebut sudah dinodai darah dan

kotoran.Berarti bila pembalut tidak diganti, maka vagina akan tetap

lembab dan kotor.

5) Setelah dibasuh, keringkan perineum dengan handuk yang lembut

lalu kenakan pembalut yang baru. Ingat, pembalut harus diganti

setiap buang air besar atau buang air kecil minimal 3 jam sekali

atau bila dirasa sudah tidak nyaman.

6) Setelah semua langkah tadi dilakukan, perineum dapat diolesi salep

antibiotik yang diresepkan oleh dokter.

6. Pengertian penyembuhan luka

Menurut Boyle dikutip oleh Moudy Lombogia (2017), penyembuhan

luka adalah proses penggantian dan perbaikan fungsi jaringan yang

rusak.Penyembuhan luka perineum akan mulai membaik jika luka

perineum terbentuk jaringan baru yang menutupi luka perineum dalam

jangka waktu 6-7 hari post partum.

7. Kriteria Penyembuhan Luka

a. Baik, jika luka kering,perineum menutup dan tidak ada tanda infeksi

(merah, bengkak, panas, nyeri).

b. Sedang, jika luka basah, perineum menutup,tidak ada tanda-tanda

infeksi (merah, bengkak, panas, nyeri).

c. Buruk, jika luka basah, perineum menutup/membuka dan ada tanda-

tanda infeksi merah, bengkak, panas, nyeri). (Mas’adah,2010).

8. Proses Penyembuhan Luka


14

Menurut Boyle dikutip oleh Moudy Lombogia (2017), Luka dapat

sembuh melalui proses utama (primary intention) yang terjadi ketika tepi

luka disatukan (approximated) dengan menjahitnya. Jika luka dijahit,

terjadi penutupan jaringan yang disatukan dan tidak ada ruang yang

kosong. Oleh karena itu, dibutuhkan jaringan granulasi yang minimal dan

kontraksi sedikit berperan. Penyembuhan kedua yaitu proses sekunder

(secondary intention) terdapat defisit jaringan yang membutuhkan waktu

yang lebih lama.

9. Faktor-Faktor Internal Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

Menurut Smeltzer dikutip oleh Moudy Lombogia (2017) :

a. Usia

Penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia muda daripada

orangtua. Orang yang sudah lanjut usianya tidak dapat mentolerir stres

seperti trauma jaringan atau infeksi.

b. Penanganan jaringan

Penanganan yang kasar menyebabkan cedera dan memperlambat

penyembuhan.

c. Personal hygieni

Personal hygiene (kebersihan diri) dapat memperlambat penyembuhan,

hal ini dapat menyebabkan adanya benda asing seperti debu dan

kuman.

d. Over aktivitas

Menghambat perapatan luka dan menganggu penyembuhan yang

diinginkan.
15

10. Faktor-Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

Menurut Smeltzer dikutip oleh Moudy Lombogia (2017) :

a. Lingkungan

Dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan selalu merasa

mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasehat-nasehat

khususnya orangtua merawat kebersihan pasca persalinan

b. Tradisi

Di indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan

pasca persalinan masih banyak digunakan, meskipun oleh kalangan

masyarakat modern. Misalnya untuk perawatan kebersihan genetalia,

masyarakat tradisional menggunakan daun sirih yang direbus dengan

air kemudian dipakai untuk cebok

c. Pengetahuan

Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangat

menentukan lama penyembuhan luka perineum. Apabila pengetahuan

ibu kurang, terlebih masalah kebersihan maka penyembuhan luka pun

akan berlangsung lama.

d. Sosial ekonomi

Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyembuhan

perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan

aktivitas sehari-hari pasca persalinan, jika ibu memiliki tingkat sosial

ekonomi yang rendah, bisa jadi penyembuhan luka perineum

berlangsung lama karena timbulnya rasa malas dalam merawat diri.


16

e. Penanganan petugas

Pada saat persalinan, pembersihannya harus dilakukan dengan tepat

oleh penanganan petugas kesehatan, hal ini merupakan salah satu

penyebab yang dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum

f. Kondisi ibu

Kondisi kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental dapat

menyebabkan lama penyembuhan. Jika kondisi ibu sehat, maka ibu

dapat merawat diri dengan baik.

g. Gizi

Makanan yang berigizi dan sesuai dengan porsi akan menyebabkan ibu

dalam keadaan sehat dan segar, juga mempercepat masa penyembuhan

luka perineum.

11. Penghambat Keberhasilan Penyembuhan Luka

Menurut Boyle dikutip oleh Moudy Lombogia (2017) :

a. Malnutrisi

Malnutrisi secara umum dapat mengakibatkan berkurangnya kekuatan

luka, meningkatkan difisiensi luka, meningkatkan kerentanan terhadap

infeksi dan parut dengan kualitas yang buruk. Defisien nutrisi (sekresi

insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah

meningkat) tertentu dapat berpengaruh pada penyembuhan.

b. Merokok

Nikotin dan karbon monoksida diketahui memiliki pengaruh dapat

merusak penyembuhan luka, bahkan merokok yang dibatasi pun dapat


17

mengurangi darah perifer. Merokok juga mengurangi kadar vitamin C

yang sangat penting untuk penyembuhan.

c. Kurang tidur

Gangguan tidur dapat menghambat penyembuhan luka, karena tidur

meningkatkan anabolisme dan penyembuhan luka termasuk kedalam

proses anabolisme.

d. Stress

Ansietas dan stress dapat mempengaruhi sistem imun sehingga

menghambat penyembuhan luka.

e. Lingkungan optimal untuk penyembuhan luka

Lingkungan yang paling efektif untuk keberhasilan penyembuhan luka

adalah lembab dan hangat.


18

BAB III

METODE STUDI KASUS

A. Jenis dan Desain Penelitian

Karya tulis ilmiah adalah studi kasus dengan menggunakan metode

deskriptif. Desain yang digunakan dalam penelitian adalah observasi dan

wawancara dengan menggunakan ceklist. Tujuan dari desain yang digunakan

adalah menelaah secara mendalam mengenai kegiatan studi kasus perawatan

luka perineum yang bersifat septik dan aseptik dalam meminimalkan risiko

infeksi pada pasien dengan tindakan episiotomi.

B. Subjek Studi Kasus

Subjek dalam studi kasus ini adalah pasien yang mendapatkan tindakan

episiotomi di ruang perawatan inap RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa,

dengan kriteria sebagai berikut :

1. Kriteria inklusi : Pasien luka perineum episiotomi yang sedang dirawat

baik primipara maupun multipara diRSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

2. Kriteria ekslusi : Pasien yang tidak bersedia/berpartisipasi dalam kegiatan

C. Fokus Studi Kasus

Fokus studi kasus yaitu penerapan prosedur perawatan luka perineum

episiotomi pada pasien ibu post partum yang sedang dirawat di ruang

perawatan RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

D. Definisi operasional studi kasus

18
19

Dalam karya tulis ilmiah ini memiliki definisi operasional yaitu ;

Perawatan luka perineum post episiotomi adalah tindakan keperawatan pada

luka post episiotomi dengan menggunakan tindakan anti septik (seperti

betadine dan semacamnya) minimal 2 kali sehari atau melakukan perendaman

perineum dengan air hangat, daerah antar paha yang dibatasi genetalia dan

anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran plasenta sampai dengan

kembalinya organ-organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.

E. Instrumen Studi Kasus

Dalam karya tulis ilmiah ini peneliti menggunakan seperti :

1. Lembar data isian demografi

2. Lembar informed consent

3. Lembar observasi/ceklist yang terdiri dari pernyataan terbuka dan ceklist

yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan prosedur tindakan perawatan

luka episiotomi

4. Foto atau video sebagai bukti dokumentasi

F. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode

pengumpulan data yaitu :

1. Data primer

a. Wawancara yaitu menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan

data apa yang akan dikumpulkan. Dalam pelaksanaannya

pewawancara tidak membawa pedoman apa yang akan ditanyakan.

Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar


20

permasalahan yang akan ditanyakan.

b. Observasi/ceklist, peneliti yang dibantu asisten mengobservasi proses

penyembuhan luka ketika dilakukan tindakan perawatan luka perineum

episiotomy yang dimulai pada hari pertama setelah dilakukan tindakan

episiotomi.

c. Intervensi/tindakan yang dilakukan yaitu tindakan perawatan luka

episiotomy dengan menjaga kebersihan alat genetalia dengan mencuci

menggunakan sabun dan air hangat.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang didapatkan dari institusi tempat peneliti

seperti Rekam medic.

G. Lokasi dan Waktu Studi Kasus

Lokasi yang dipilih peneliti diruang perawatan Maternitas RSUD Syekh

Yusuf Kabupaten Gowa dengan waktu pelaksanaan sekitar bulan Agustus-

September 2017.

H. Analisis Data dan Penyajian Data

Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan untuk mengorganisir data-

data yang diperoleh didalam wawancara, observasi, dokumentasi, dan yang

lain sehingga dihasilkan sesuatu yang bermakna. Teknik analisis yang

digunakan adalah deskriptif dimana data dianalisis sesuai dengan tujuan studi

yang sudah ditentukan sesuai prosedur tindakan hingga tujuan tindakan selesai

dilakukan. Mengenai penyajian dilakukan secara tekstular/narasi dari subjek

studi kasus.
21

I. Etika Studi Kasus

Dalam melakukan penelitian, peneliti berusaha untuk memperhatikan

etika yang harus dipatuhi dalam pelaksanaannya, mengingat penelitian ini

berhubungan dengan manusia. Adapun etika dalam penelitian meliputi :

1. Informed consent (informasi untuk responden)

Merupakan persetujuan antara peneliti dengan partisipan dengan

memberikan lembar persetujuan untuk menjadi partisipan sebelum

penelitian dilaksanakan. Jika partisipan bersedia, maka harus

menandatangani lembar persetujuan. Tetapi, jika partisipan menolak maka

penelitian tidak boleh dilaksanakan dan menghormati hak pasien. Tujuan

informed consent adalah agar pertisipan mengerti maksud dan tujuan

penelitian, serta mengetahui dampaknya.

2. Anonimity (kerahasiaan)

Peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar kuesioner tetapi

memberikan inisial.

3. Confidentiality (kerahasiaan informasi)

Merupakan masalah etika degan menjamin kerahasiaan dari hasil

penelitian baik informasi atau masalah-masalah lainnya

4. Veracity (Kejujuran)

Yaitu kejujuran untuk menyampaikan kebenaran pada klien agar mudah

mengerti.
22

BAB IV

HASIL STUDI KHASUS DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Studi Kasus

1. Data Yang Diperoleh Dengan Merujuk Masalah atau Tujuan

Pada bab ini di bahas hasil penelitian setelah melalui proses

pengelohan data yang di lakulan di ruang nifas RSUD Syech Yusuf Gowa.

Dalam rumah sakit ini terdapat ruang-ruangan yang memiliki peran dan

fungsi. Khusus di ruangan Post Natal Care (PNC). Ruang perawatan ini

terbagi atas nama dan kelasnya masing-masing yaitu Kelas 3 A, kelas 3 B ,

Kelas I, Kelas II. secara fisik cukup bersih, Suasana dan situasi terkadang

ribut karena suara tangisan anak-anak yang lain.

2. Data Yang Diperoleh Kemudian Dinarasikan

Penulis menggunakan metode Asuhan Keperawatan yang meliputi

pengkajian, Diagnosa keperawatan, Intervensi, Implementasi dan evaluasi.

a. Pengkajian

Pengkajian di laukan dengan metode anamnesa atau pengkajian yang

dilakukan dengan metode wawancara langsung kepada klien dan

keluarga serta melihat data dalam status klien.

1) Identitas pasien : Ny.”N”

Inisial responden : 22 tahun

Umur : Makassar

Suku : DIII keperawatan

22
23

Pendidikan : IRT

Agama : Islam

Alamat : Jl.limbung

Jaminan kesehatan : BPJS

Tanggal di lakukan episiotomi : 03 Sep 2017

Status Obstetri : G1P0A0

Alasan tindakan episiotomi : Karena ibu sulit mengedan, bayi

besar (ukuran janin) dan perineum

kaku

2) Identitas penanggung jawab

Inisial : Tn”A”

Umur : 27 tahun

Suku : Makassar

Pekerjaan : TNI

Agama : Islam

Alamat : JL.Limbung

Hubungan dengan klien : Suami-istri

Pengkajian di lakukan secara langsung terhadap subjek penelitian,

keluarga dan status pasien.


24

b. Genogram

? ? ? ?

? ? ?
27 22

Keterangan :

: Laki-Laki

: Perempuan

: Garis Perkawinan

: Garis Keturunan

: Klien

: Tinggal Serumah

? : Tidak diketahui

G1 : Mertua klien masih sehat sampai sekarang

G2 : Klien anak pertama dari 2 bersaudara

G3 : anak pertama dari klien

(Sumber : dari askep dan materi kuliah dokumentasi keperawatan)


25

c. Riwayat keluhan sekarang

Pasien ingin masuk rumah skit dengan keluhan nyeri perut tembus

kebelakang disertai pelepasan darah dan lendir dirasakan sejak kemarin

siang 13:30 WITA. Tanggal 5 juni 2017 .kemudian keluarga membawa

pasien ke rumah sakit Syech yusuf gowa pada tanggal 4 juni 2017

pukul 09.50 WITA. Pasien datang dengan gravib 39 minggu belum

inpartu dan diberikan infus 28 tpm serta keadaan umum baik,tanda-

tanda Vital : Tekanan Darah :110/80 Mmgh, Nadi :80/menit

Pernapasan: 22x/menit ,Suhu : 36,8˚C .

d. Riwayat Kesehatan Masa lalu klien

Pasien tidak ada riwayat tindakan episotomi yang menyertai dan

tidak ada penyakit keturunan/genetik

e. Riwayat Persalinan

Pasien baru pertama kali melahirkan dengan jenis kelamin

perempuan, berat badan 2.900 gr, Panjang Badan 48 cm.Masalah

persalinan lama sehingga dilakukan tindakan episiotomi.

f. Hasil pemeriksaan fisik

Keadaan umum baik dengan tanda-tanda vital tekanan

darah;110/80MmHg, Nadi 82x/menit, Pernapasan 24x/menit, Suhu

36˚C. Tinggi Badan : 154 cm, Berat badan : 48 kg

1) Kepala

Bentuk kepala normal tanpa benjolan, rambut panjang, kulit kepala

bersih, dan nyeri tekan


26

2) Telinga

Pendengaran normal, tidak ada nyeri, dan tidak ada cairan, tidak

menggunakan alat bantu pendengaran.

3) Mata

Penglihatan normal, simetris kiri dan kanan, tidak ada nyeri, dan

tidak menggunakan alat bantu penglihatan baik kacamata dan lensa

kontak.

4) Hidung

Tidak ada udem dan nyeri tekan, fungsi penciuman baik.

5) Mulut

Gigi dan mulut bersih, tidak ada dalam mengunyah dan menelan,

bicara normal, fungsi pengecapan baik.

6) Leher

Tidak ada pembesaran tiroid dan kelenjar limfa, arteri karotis

teraba.

7) Abdomen

Warna kulit kuning langsat.

8) Perkemihan

Ada nyeri saat berkemih, pengeluaran urine lancar.

9) Kulit

Turgor kulit baik, warna kuning langsat tidak ada lesi.

10) Ekstremitas

a) Atas : Mampu digerakkan tidak ada keluhan

b) Bawah : Tidak mampu digerakkan secara sempurna


27

Pola aktivitas klien seperti eliminasa selama dirawat, pasien sudah

buang air kecil, klien mengatakan belum pernah buang air besar

selama klien dirawat di rumah sakit. Pola istirahat klien baik. Pasien

istirahat disiang hari mulai pukul 14.00 - 16.00 WITA, dan istirahat

malam hari pukul 21.00 - 06.00 WITA, tetapi klien biasa bangun

ketika bayinya menangis. Pola nutrisi selama dirawat di rumah sakit

dengan frekuensi 3x/sehari dengan lauk pauk dan sayur serta

komsumsi air frekuensi 5-7 gelas/hari.

Pola nilai dan kepercayaan, klien menganut Agama Islam. Pada

saat dirawat klien sangat bersyukur terhadap tuhan atas anugerah-Nya

berupa bayi yang sangat didambakannya. Klien tidak pernah

melahirkan dengan dukun karena percaya dokter/medis. Klien selalu

berdoa agar cepat sembuh dan segera pulang membawa anaknya.

Pada pengkajiannya perubahan psikososial ibu merasa senang

dengan kelahiran bayinya dan lahir dengan sehat. Ibu dan ayah saling

meperhatikan anaknya. Ibu mencurahkan kasih sayang pada bayinya

dan terlihat bahagia. Pada adaptasi perubahan ibu mengatakan senang,

bahagia dan sudah bisa menerima perannya sebagai ibu.

f. Pemeriksaan penunjang

Hasil pemeriksaan menunjukkan pada tanggal 01 juni 2017 hasil

laboratorium

WBC 21.4x103/ µL, RBC 4.14x106/µL, HGB 12.9 g/Dl, HCT 35.8%,

GDS 134mg/DI.
28

g. Terapi Medis

Injeksi : Cefotaxime 1 gr/12 jam IV

Obat oral : asama mafenamat 3x1

h. Data fokus
No Data Subyektif Data Objektif
1 1. Klien mengatakan masih keluar 1. terdapat luka
darah dari jalan lahir seperti episiotomy, keadaan
menstruasi vulva kotor, keluar
rubra ±40cc

2. klien mengatakan nyeri pada 2. klien tampak kesakitan


premium akibat episiotomy
skala 8 ketika bergerak nyerinya
seperti cekit-cekit dan perih

3. Analisa Data
No Data Problem Etiologi
1 S : Klien mengatakan masih Resiko infeksi Trauma jaringan
keluar darah dari jalan kerusakan
lahir seperti menstruasi jaringan fisik
O : Adanya kemerahan dan
nyeri tekan pada premium
: Terdapat luka episiotomy
keadaan vulva kotor,
keluar louchea rubra, ±
40cc, cairan berwarna
merah, hb: 11,80gr%,
suhu 36,5ºc
2 S : Klien mengatakan nyeri Gangguan rasa Terputusnya
pada premium akibat nyeri jaringan sekunder
episiotomy skala 8 ketika terhadap luka
29

bergerak nyerinya seperti episiotomy


cekit-cekit dan perih
O : Klien tampak meringis
kesakitan

4. Diagnosa Keperawatan

Dari hasil pengkajian dan observasi penulis melakukan analisi data,

kemudian membuat prioritas diagnosa keperawatan sesuai dengan data

yang terkumpul. Adapun prioritas masalahnya yaitu :

a. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kerusakan kulit

di tandai dengan klien mengatakan masih keluar darah dari jalan lahir

sepertih menstruasi , adanya kemerahan dan nyeri tekan pada perineum

, terdapat luka eoisiotomi , keadaan vulva kotor , keluar lochea rubra

±40cc .

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya

jaringan sekunder terhadap luka episiotomy yang ditandai dengan klien

mengatakan nyeri pada perineum akibat episiotomy, skala 8 ketika

bergerak nyerinya cekit-cekit dan perih, klien tampak meringis

kesakitan

5. Intervensi

No Diagnosa Tujuan intervensi Rasional


1 Resiko infeksi b/d Infeksi tidak a. Kaji adanya a. Peningkatan suhu
trauma terjadi perubahan suhu sampai 38,3ºC
jaringan/kerusakan b. Observasi kondisi b. Dapat menunjuk
kulit ditandai episiotomy seperti trauma berlebihan
dengan klien adanya pada jaringan perinial
mengatakan masih kemerahan, nyeri atau terjadi
30

No Diagnosa Tujuan intervensi Rasional


keluar darah dari tekan yang komplikasi yang
jalan lahir seperti berlebih. memerlukan evaluasi
menstruasi, adanya c. Anjurkan pada intervensi lebih
kemerahan dan pasien untuk lanjut.
nyeri tekan pada mencuci tangan c. Membantu mencegah
perineum . sebelum dan penyebaran infeksi
sesudah d. Lochea normal
menyentuh mempunyai bau
genital. amis, lochea yang
d. Catat jumlah dan purulen dan bau
bau lochea atau busuk menunjukkan
perubahan yang adanya infeksi.
abnormal. e. Membantu mencegah
e. Anjurkan pada kontaminasi rektal
pasien untuk memasuki vagina
mencuci perineum atau uretra.
dengan f. Meningkatkan
menggunakan pengetahuan klien
sabun dari depan tentang perawatan
kebelakang dan vulva//perineum.
untuk mengganti g. Mencegah infeksi
pembalut dan penyebaran
sedikitnya setiap 4 kejaringan sekitar.
jam atau jika
pembalut basah
f. Ajarkan pada klien
tentang cara
perawatan luka
perineum.
g. kolaborasi untuk
31

No Diagnosa Tujuan intervensi Rasional


pemberian anti
biotik.
2 Gangguan rasa Mencegah a. Tentukan lokasi a. Mengidentifikasi
nyaman nyeri b/d atau dan sifat nyeri. kebutuhan-kebutuhan
terputusnya meminimalk b. Inspeksi perbaiki khusus dan intervensi
jaringan sekunder an rasa nyeri perineum dan yang tepat.
terhadap luka episiotomy. b. Dapat menunjukkan
episiotomy ditandai c. Anjurkan klien trauma berlebihan
dengan klien untuk duduk pada jaringan perinial
mengatakan nyeri dengan atau terjadinya
pada perineum mengkontraksikan komplikasi yang
akibat episiptomi, otot gluteal. memerlukan evaluasi
skala 8 ketika d. Berikan informasi atau intervensi lebih
bergerak nyerinya tentang berbagi lanjut.
cekit-cekit perih, strategi untuk c. Penggunaan
klien tampak menurunkan nyeri, pengencangan gluteal
meringis kesakitan. misalnya teknik saat duduk
relaksasi dan menurunkan stress
distraksi. dan tekanan langsung
e. Kolaborasi dengan pad perineum.
dokter untuk d. Membantu
pemberian menurunkan/member
analgetik. ikan rasa nyaman.
e. Memberikan
kenyamanan
sehingga klien dapat
memfokuskan pada
perawatan sendiri dan
bayinya.
32

6. Implementasi
No DX Waktu Implementasi Respon klien
1 Senin, 1. Mengkaji keluhan pasien S : Klien mengatakan
04 Sep 2017
dapat mengkontrol
jam 19:00
nyerinya.
O : Pasien tampak
tenang, rileks,
ekspresi wajah
tidak tegang
II 19:25 2. Melakukan vulva hygiene S :-
dan mengobservasi luka O : vulva sudah
episiotomi bersih, tidak ada
oedem pada
perineum, tidak
ada kemerahan,
tidak ada bintik
kebiruan pada
perineum, nyari
tekan perineum
masih ada, lochea
rubra ±30cc.
II 20:00 3. Menganjurkan pasien S : Pasien
untuk mencuci tangan mengatakan
sebelum dan sesudah memegang
memang genitalia genetalia jika mau
BAK saja.
O : Pasien menjawab
akan selalu
mencuci tangan
baik
sebelum/sesudah
33

No DX Waktu Implementasi Respon klien


memegang
genetalianya.
III 20:25 4. Mengkaji pengetahuan S : Klien mengatakan
klien tentang perawatan paham tentang
payudara perawatan
payudara
O : Klien tampak
mengerti
III 20:35 5. Melakukan breast care S : Klien mengatakan
pada klien. lebih nyaman,
enak setelah
dilakukan breast
care.
O : Pasien tampak
senang, payudara
tidak bengkak.
I Selasa, 1. Mengkaji keluhan pasien S : Pasien
05 Sep 2017
mengatakan nyeri
Jam 09:00
pada daerah luka
jahitan terutama
saat bergerak,
skala nyeri 8.
O : Pasien tampak
meringis menahan
nyeri saat klien
menggerakan
badannyaa untuk
duduk.
I 09:12 2. Memberikan penjelasan S :-
kepada klien bahwa rasa O : Klien lebih tenang
34

No DX Waktu Implementasi Respon klien


nyeri hal yang wajar dan cemas
berkurang
II 09:23 3. Melakukan vulva hygiene S : Pasien
dan mengobservasi luka mengatakan lebih
episiotomi nyaman setelah di
bersihkan daerah
vulvanya
O : Pasien tampak
bersih, lochea
rubra±40cc,taka
da odeom, tak ada
kemerahan, tak
ada bintik-bintik
kebiruan pada
perineum, tidak
ada nyeri tekan
pada perineum.
III 09:30 4. Menganjurkan pasien S : Pasien
untuk relaksasi tarik napas mengatakan nyeri
panjang dalam berkurang dan
merasa nyaman.
skala nyeri 4-5
setelah melakukan
nafas panjang
dalam.
O : Pasien tampak
rileks dan
tenang,ekspresi
wajah tenang tidak
tegang.
35

No DX Waktu Implementasi Respon klien


III 09:35 5. Mengukur tanda-tanda S :-
vital O : TD:110/80 mmhg
ND:80x/Menit
Suhu:36,8ºC
P:22x/menit
6. Menganjurkan pasien S : klien mengatakan
untuk duduk dengan dapat mengontrol
mengontraksikan otot nyerinya secara
gluteal minimal.
O : Klien tampak
rileks dan
menjawab akan
mengkontrasikan
otot gluteal saat
buang air besar.
7. Memberikan obat peroral S :-
1 table amoxilin dan 1 O : Obat yang di
table vitamin BC minum pasien
melalui oral, tidak
ada mual muntah.

8. Menciptakan lingkungan S :-
yang tenang dan nyaman. O : Suasana ruangan
tampak terang,
pasien tampak
rileks dan tiduran
di atas tempat
tidur.
36

7. Evaluasi
No. Dx Waktu Evaluasi
1 Selasa, S :-
05 Sep 2017 O : - tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka
Jam : 01.00 jahitan pada perineum
- TD : 110/80mmhg N:82x/meni
P :24x/menit S:36ºC
- Tidak ada kemerahan, tidak ada oedem,
tidak ada pendarahan/nanah pada luka
jahitan.
A : Masalah teratasi
P : Lanjutkan intervensi
2 01.25 S : Klien mengatakan skala nyeri berkurang yaitu
2.
O : Klien terlihat rileks dan tidak lemas
TD : 110/80 N:82x/menit P:24x/menit
S:36ºC
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
3 01.40

B. Pembahasan

Pada pembahasan sesuai dengan tujuan dari studi kasus yaitu “Asuhan

keperawatan luka perineum episitomi pada ibu post partum berhubungan

dengan mobilitas fisik di RSUD Syech Yusuf Gowa “Pada penelitian ini

melibatkan satu respon post partum dengan tindakan episiotomi, indikasi

dilakukannya tindakan episiotomi, meski memiliki perbedaan indikasi sulit

mengedan, perineum kaku, belum pernah melakukan tindakan episiotomy

sebelumnya. Sedangkan pada pasien kedua atas indikasi ketuban pecah ini
37

(KPD) dan belum pernah mendapatkan tindakan episiotmi.

(Ny. N) dengan tindakan episiotomi yang pertama dengan hasil yang di

dapatkan melalui observasi yang di lakukan pada hari terakhir pasien sudah

tidak ada pembengkakan, kemerahan , tidak gatal , sudah tidak terasa nyeri, dan

tidak terdapat pus serta luka sudah tampak kering. Maka penatalaksanaan diet

nutrisi tinggi protein, kalori, vitamin C dan mengkonsumsi buah-buahan guna

keperluan metabolism tubuh. (Siti Nunung, 2013). Menurut Smelzer, 2009 hal

ini di perkuat bahwa penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia muda

daripada orangtua, orang yang sudah lanjut usianya tidak dapat mentolerin

stress seperti trauma jaringan atau infeksi (Smelzer, 2009), lama penyembuhan

luka perineum adalah mulai membaiknya luka perineum dengan keadaan luka

kering, jahitan menutup , tidak terasa nyeri serta tidak ada tanda-tanda infeksi

(Mas’dah, 2010 ).

Menurut teori Kneale dan Davis (2011) berendam dengan menggunakan

air dingin lebih efektif dibandingkan dengan air hangat, dan kenapa air dingin

lebih efektif karena dapat mengurangi derajat kerusakan, mengurangi

pembengkakan, dan nyeri serta mengurangi pendarahan sedangkan menurut

Hasmita, Roeshadi & Tala, 2011 mengatakan bahwa rendam air hangat

memberikan efek proses pengacauan pada system saraf karena mengakibatkan

rasa nyeri terhambat oleh sensasi suhu yang diterima sehingga memberikan

efek penekanan atau pengurangan rasa nyeri.


38

C. Keterbatasan studi kasus

Penulis akan membahas hal-hal yang mempengaruhi hasil studi kasus atau

keterbatasan dalam pengumpulan data dan keterbatasan dalam melakukan

tindakan perawatan luka perineum episiotomi tersebut dimana awalnya

penulis terlebih dahulu mencari informasi tentang data-data episiotomi pada 2

tahun terakhir. Didapatkan data pada tahun 2016 sebanyak 50 kasus dibanding

pada tahun 2015 sebanyak 124 kasus.

Dalam perawatan luka episiotomi tidak terdapat keterbatasan karena

kedua subjek penelitian bersedia menjadi subjek penelitian dan bersedia

diberikan bimbingan tindakan perawatan luka perineum episiotomi.


39

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan asuhan keperawatan luka perineum episiotomy pada pasien

post partum yang telah dilakukan selama 2 kali pertemuan, maka penulis dapat

menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat beberapa cara untuk mengatasi agar tidak terjadinya infeksi

perineum ibu akibat episiotomi seperti memberikan Health Education pada

ibu dengan cara duduk berendam dengan menggunakan betadine, dan

terapi farmakologi.

2. Melakukan perawatan luka perineum pada ibu dan melakukan observasi

tanda-tanda infeksi.

B. Saran

1. Bagi Masyarakat

Diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang perawatan

luka perineum episiotomi agar menjaga kebersihan genetalia, istirahat

yang cukup dan mengkomsumsi makanan yang tinggi protein dan vitamin.

2. Bagi Perawat

Bagi tenaga kesehatan yang memberikan Asuhan Keperawatan pada

pasien perawatan luka perineum episiotomi harus memperhatikan

kebersihan genetalia pasien apakah terjadi tanda-tanda adanya infeksi.


40

Selain itu, tenaga kesehatan yang ada di Rumah Sakit harus melakukan

terapi pada klien untuk mempercepat proses penyembuhan.

3. Bagi Rumah Sakit

Rumah Sakit sebaiknya menyediakan atau membersihkan fasilitas alat-alat

yang cukup memadai untuk memudahkan pelaksanaan tindakan

keperawatan pada pasien.

4. Bagi Penulis

Dapat memperoleh pengetahuan yang nyata mengenai perawatan luka

perineum episiotomi, selain itu dapat memberikan kesempatan kepada

penulis dalam memberikan Asuhan Keperawatan secara langsung pada

pasien luka perineum episiotomi.


41

DAFTAR PUSTAKA

Dewi Ratna. 2012. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin Patologi. Nuhamedika:
Yogyakarta

http://www.dinkesprovinsisulsel.go.id. 2010. Angka Kematian Ibu Akibat


Kehamilan. Diakses tanggal 30 Maret 2017 pukul 20.00 Wita

https://www.scribd.com/mobile/document/341360781/BAB-I-KTI-jadi. Diakses
tanggal 10 Mei 2017 pukul 15.00 Wita

Indrayani. 2013. Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Trans Info Media :
Jakarta

Lombogia Moudy. 2017. Buku Ajar Keperawatan Maternitas (Konsep, Teori,


dan Modul Praktikum). Indomedia Pustaka : Yogyakarta

Yulianti Lia, Dkk. 2012. Asuhan Kebidanan Patologi. Trans Info Media : Jakarta

Yeni Pratiwi. 2010. Hubungan Perawatan Luka Perineum Pada Ibu Nifas
Dengan Lama Penyembuhan Luka Jahitan Perineum Ibu Nifas
Diruang Lingkup BPM Sanadah Mojokerto (Online)
(http://Stikesbinasehatppnimojekerto.com. Diakses pada tanggal 28 Maret
2017 pukul 22.00 Wita)

Siti Nunung. 2013. Perawatan Luka Perinium Pada Ibu Bersalin. (Online)
(http://Journalkeperawatanibubersalin.com) Diakses tanggal 28 Maret
2017 pukul 15.00 Wita)

Suryani. 2015. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Ruptur Perineum


Pada Persalinan Normal di Rumah Sakit Bersalin Atiah (Online)
(http://Journalkeperawatanibubersalin.com) Diakses tanggal 28 Maret
2017 pukul 22.00 Wita)