Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istirahat dan tidur merupakan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang. Untuk dapat
berfungsi secara normal, maka setiap orang memerlukan istirahat dan tidur yang cukup. Pada
kondisi istirahat dan tidur, tubuh melakukan proses pemulihan untuk mengembalikan stamina
tubuh hingga berada dalam kondisi yang optimal.
Setiap individu mempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Pola istirahat dan
tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan. Namun dalam
keadaan sakit, pola tidur seseorang biasanya terganggu, sehingga perawat perlu berupaya
untuk membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur klien.
Istirahat dan tidur sangat penting bagi kesehatan. Orang yang sakit sering kali memerlukan
istirahat dan tidur lebih banyak dibandingkan biasanya. Sering kali, orang yang lemah karena
sakit menghabiskan sejumlah besar energi untuk kembali sehat atau melaksanakan aktivitas
kehidupan sehari-hari. Akibatnya, orang tersebut mengalami keletihan yang meningkat dan
sering serta membutuhkan istirahat dan tidur tambahan. Istirahat memulihkan energi
seseorang, yang memungkinkan orang tersebut untuk menjalankan fungsi dengan optimal.
Apabila waktu istirahat seseorang berkurang, orang tersebut sering kali mudah marah,
depresi, dan lelah, serta memiliki kontrol emosi yang buruk. Menyediakan lingkungan yang
tenang untuk klien merupakan fungsi penting perawat.
Setiap orang membutuhkan istirahat dan tidur agar mempertahankan status, kesehatan
pada tingkat yang optimal. Selain itu proses tidur dapat memperbaiki berbagai sel dalam
tubuh. Pemenuh kebutuhan istirahat dan tidur terutama sangat penting bagi orang yang sedang
sakit agar lebih cepat sembuh memperbaiki kerusakan pada sel. Apabila kebutuhan istirahat
dan tidur tersebut cukup maka jumlah energi yang di harapkan dapat memulihkan status
kesehatan dan mempertahankan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari terpenuhi. Selain
itu,orang yang mengalami kelelahan juga memerlukan istirahat dan tidur lebih dari biasanya.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Bagaimana pengertian istirahat dan tidur?
1.2.2 Bagaimana maksud dari fisiologi tidur?
1.2.3 Bagaimana pembagian dari jenis-jenis tidur ?
1.2.4 Bagaimana kebutuhan istirahat tidur menurut usia ?
1.2.5 Bagaimana fungsi dan tujuan tidur ?

Page 1
1.2.6 Berapa banyak waktu yang Dibutuhkan Untuk Tidur?
1.2.7 Bagaimana Faktor Yang Mempengaruhi Tidur?
1.2.8 Bagaimana Macam Gangguan Tidur?
1.2.9 Bagaimana manfaat dari tidur?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Makalah ini bertujuan agar pembaca memahami seberapa pentingnya mengenai
istirahat dan tidur.
1.3.2 Tujuan Khusus

a. Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai konsep kebutuhan istirahat


dan tidur.
b. Pembaca dapat melakukan tindakan keperawatan yang tepat sesuai dengan
prosedur yang berlaku.
c. Pembaca dapat menambah kopetensi terkait dengan pemenuhan kebutuhan
istirahat dan tidur klien.

1.4 Manfaat

a. Memberikan pemahaman tentang perbedaan antara tidur dan istirahat


b. Memberikan pemahaman tentang fisiologi tidur
c. Memberikan pemahaman tentang fungsi tidur
d. Memberikan pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
e. Memberikan pemahaman tentang macam-macam gangguan tidur

Page 2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Istirahat dan Tidur

2.1.1 Istirahat

Suatu kondisi yang tenang, rileks tanpa ada stres emosional, bebas dari
kecemasan. Namun tidak berarti tidak melakukan aktivitas apa pun, duduk santai di
kursi empuk atau berbaring di atas tempat tidur juga merupakan bentuk istirahat.
Sebagai pembanding, klien/orang sakit tidak beraktifitas tapi mereka sulit
mendapatkan istirahat begitu pula dengan mahasiswa yang selesai ujian merasa
melakukan istirahat dengan jalan-jalan. Oleh karena itu perawat dalam hal ini
berperan dalam menyiapkan lingkungan atau suasana yang nyaman untuk
beristirahat bagi klien/pasien. Menurut Narrow (1645-1967) terdapat enam kondisi
seseorang dapat beristirahat.

a. Merasa segala sesuatu berjalan normal


b. Merasa diterima
c. Merasa diri mengerti apa yang sedang berlangsung
d. Bebas dari perlukaan dan ketidaknyamanan
e. Merasa puas telah melakukan aktifitas-aktifitas yang berguna
f. Mengetahui bahwa mereka akan mendapat pertolongan bila membutuhkannya.

2.1.2 Tidur

Tidur merupakan suatu keadaan perilaku individu yang relatif tenang disertai
peningkatan ambang rangsangan yang tinggi terhadap stimulus dari luar. Keadaan
ini bersifat teratur, silih berganti dengan keadaan terjaga(bangun), dan mudah
dibangunkan, (Hartman). Pendapat lain juga menyebutkan bahwa tidur merupakan
suatu keadaan istirahat yang terjadi dalam suatu waktu tertentu, berkurangnya
kesadaran membantu memperbaiki sistem tubuh/memulihkan energi. Juga tidur
sebagai fenomena di mana terdapat periode tidak sadar yang disertai perilaku fisik
psikis yang berbeda dengan keadaan terjaga.

2.2 Fisiologi Tidur

Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak, yaitu : Reticular
Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region(BSR).

Page 3
RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat
mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran; memberi Stimulus
visual,pendengaran,nyeri,dan sensori raba;serta emosi dan proses berfikir. Pada saat sadar,
RAS melepaskan katekolamin, sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin
dari BSR. (Hidayat, 2008).

2.2.1 Ritme Sirkadian

Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Pada
manusia, bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan faktor lingkungan
(misalnya: cahaya, kegelapan, gravitasi dan stimulus elektromagnetik). Bentuk
bioritme yang paling umum adalah ritme sirkadian-yang melengkapi siklus selama
24 jam. Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung,tekanan darah, temperature, sekresi
hormon, metabolisme dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme
sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks.
Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang
mengikuti jam biologisnya: individu akan bangun pada saat ritme fisiologis paling
tinggi atau paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah.

2.2.2 Tahapan Tidur

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan bantuan alat elektro ensefalo


gram (EEG), elektro-okulo gram (EOG), dan elektrokiogram (EMG), diketahui ada
dua tahapan tidur, yaitu non-rapid eye movement(NREM) dan rapid eye movement
(REM). (Asmadi, 2008).

a. Tidur NREM
Tidur NREM disebut juga sebagai tidur gelombang-pendek karena
gelombang otak yang ditunjukkan oleh orang yang tidur lebih pendek daripada
gelombang alfa dan beta yang ditunjukkan orang yang sadar. Pada tidur NREM
terjadi penurunan sejumlah fungsi fisiologi tubuh. Di samping itu,semua proses
metabolic termasuk tanda-tanda vital, metabolism, dan kerja otot melambat. Tidur
NREM sendiri terbagi atas 4 tahap (I-IV). Tahap I-II disebut sebagai tidur ringan
(light sleep) dan tahap III-IV disebut sebagai tidur dalam (deep sleep atau delta
sleep).
b. Tidur REM
Tidur REM biasanya terjadi setiap 90 menit dan berlangsung selama 5-30
menit\.Tidur REM tidak senyenyak tidur NREM, dan sebagian besar mimpi
terjadi pada tahap ini. Selama tidur REM,otak cenderung aktif dan
metabolismenya meninggkat hingga 20%. Pada tahap individu menjadi sulit untuk
dibangunkan atau justru dapat bangun dengan tiba-tiba, tonus otot
terdepresi,sekresi lambung meningkat,dan frekuensi

Page 4
jantung dan pernapasan sering kali tidak teratur.Selama tidur , individu melewati
tahap tidur NREM dan REM.Siklus tidur yang komplet normalnya berlangsung
selama 1,5 jam, dan setiap orang biasanya melalui empat hingga lima siklus
selama 7-8 jam tidur.Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke
tahap REM. Tahap NREM I-III berlangsung selama 30 menit, kemudian
diteruskan ke tahap IV selama ± 20 menit. Setelah itu, individu kembali melalui
tahap III dan II selama 20 menit. Tahap REM muncul sesudahnya dan
berlangsung selama 10 menit.

2.3 Jenis-jenis Tidur

Sejak adanya alat EEG (Elektro Encephalo Graph), maka aktivitas-aktivitas di


dalam otak dapat direkam dalam suatu garafik . Alat ini juga dapat memperlihatkan
fluktuasi energi (gelombang otak) pada kertas grafik. Penelitian mengenai mekanisme
tidur mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir, dan bahkan
sekarang para ahli telah berhasil menemukan adanya 2 (dua) pola/macam/tahapan tidur,
yaitu :

2.3.1 Pola tidur


a. Pola tidur biasa atau NREM
Pola / tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement
= Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang
nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama
NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang
sadar atau tidak dalam keadaan tidur. Tanda-tanda tidur NREM adalah :
a. Mimpi berkurang
b. Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)
c. Tekanan darah turun
d. Kecepatan pernafasan turun

Page 5
e. Metabolisme turun
f. Gerakan mata lambat

Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini
biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga
dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya. Tidur NREM ini
mempunyai 4 (empat) tahap yang masing-masing-masing tahap di tandai
dengan pola gelombang otak.

Tahap I
Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana
seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan
relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan
turun secara jelas. Gelombang alpha sewaktu seseorang masih sadar diganti
dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap
I dapat di bangunkan dengan mudah. Ketika bangun seseorang merasa seperti
telah melamun.

Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun.
Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan
jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai
dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek. Tahap II berlangsung
pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit. Pada tahap ini
merupakan periodetidur bersuara, kemajuan relaksasi, untuk bangun relatif
mudah.

Tahap III
Pada tahap ini meliputi awal dari tidur dalam. Otot –otot dalam keadaan
santai penuh, kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut
mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang
menjadi lebih sulit dibangunkan dan jarang bergerak. Gelombang otak
menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat.
Tahap ini berlangsung 15-30 menit.

Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi
gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun.
Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan.
(mengenai gambar grafik gelombang dapat dilihat dalam gambar). Siklus

Page 6
tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM.
Tahap ini berlangsung 15-30 menit.

b. Pola Tidur Paradoksikal atau REM

Pola / tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement =
Gerakan mata cepat). Tidur tipe ini disebut “Paradoksikal” karena hal ini
bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas
otaknya nyata. Ringkasnya, tidur REM / Paradoks ini merupakan pola/tipe
tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak
tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap
keadaan sekelilingnya kemudian terbangun. Pola / tipe tidur ini, ditandai
dengan :Mimpi yang bermacam-macam
Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan
tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM
dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya
tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi
dalam ingatan.

1. Mengigau atau bahkan mendengkur (Jw. : ngorok)

2. Otot-otot kendor (relaksasi total)

3. Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat

4. Perubahan tekanan darah

5. Gerakan otot tidak teratur

6. Gerakan mata cepat

7. Pembebasan steroid

8. Sekresi lambung meningkat

9. Ereksi penis pada pria

Syaraf-syaraf simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM


diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang digunakan
sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori (Hayter, 1980:458). Fase
tidur REM (fase tidur nyenyak) ini berlangsung selama ± 20 menit. Dalam
tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8 jam, kedua pola tidur tersebut
(REM dan NREM) terjadi secara bergantian sebanyak 4 – 6 siklus.

Page 7
2.3.2Tanda dan Gejala:

NREM

a. Mimpi berkurang

b. Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)

c. Tekanan darah turun

d. Kecepatan pernafasan turun

e. Metabolisme turun

f. Gerakan mata lambat

REM

a. Mengigau atau bahkan mendengkur (Jw. : ngorok)

b. Otot-otot kendor (relaksasi total)

c. Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat

d. Perubahan tekanan darah

e. Gerakan otot tidak teratur

f. Gerakan mata cepat

g. Pembebasan steroid

h. Sekresi lambung meningkat

i. Ereksi penis pada pria

Page 8
2.3.3 Siklus tidur

2.4 Kebutuhan Istirahat Tidur menurut Usia

a. 0 bulan –1 bulan Masa neonatus 14-18 jam/hari

b. 1 bulan – 18 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari

c. 18 bulan – 3 tahun Masa anak 11-12 jam/hari

d. 3 tahun – 6 tahun Masa pra sekolah 11 jam/hari

e. 6 tahun – 12 tahun Masa sekolah 10 jam/hari

f. 12 tahun – 18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari

g. 18 tahun – 40 tahun Masa dewasa muda 7 jam/hari

h. 40 tahun – 60 tahun Masa paruh baya 7 jam/ hari

i. 60 tahun ke atas Masa dewasa tua 6 jam/ hari

2.5 Fungsi dan Tujuan Tidur

Fungsi dan tujuan tidur antara lain:

1. Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru.

2. Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.

Page 9
3. Memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh.

4. Memelihara fungsi jantung.

5. Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian.

6. Menyimpan energi.

7. Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit.

8. Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.

2.6 Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Tidur

Kebutuhan Tidur Rata-Rata Per Hari

a. Bayi baru lahir : Lama tidur 14-18 jam/hari dengan 50% REM dan 1 siklus tidur rata-rata
45-60 menit.

b. Bayi(s/d 1 thn) : 1 siklus tidur rata2 12-14 jam/hari dengan 20-30% REM dan tidur
sepanjang malam.

c. Todler(1-3 thn) : Lama tidur 11-12 jam/hari dengan 25% REM dan Tidur sepanjang
malam + tidur siang.

d. Pra sekolah : ± 11 jam/hari dengan 20% REM

e. Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM

f. Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM

g. Adolescent : ± 8,5 jam/hari dengan 20% REM

h. Dewasa muda : 7-8 jam/hari dengan 20-25% REM

i. Dewasa menengah : ± 7 jam/hari dengan 20% REM dan sering sulit tidur

j. Dewasa tua : ± 6 jam/hari dengan 20-25% REM dan sering sulit tidur

Page
10
2.7 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tidur
2.7.1 Penyakit
Seseorang yang sedang sakit dapat menjadikan orang itu kurang tidur atau bahkan
tidak bisa tidur karena penyakitnya itu.
2.7.2 Stres Psikologis
Seseorang yang memiliki masalah psikologis akan mengalami kegelisahan
sehingga sulit untuk tidur.
2.7.3 Obat-obatan
Obat golongan diuretik dapat mempengaruhi proses tidur (insomnia), antidepresan
dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan
kesulitan tidur.
2.7.4 Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur.
Sebaliknya kebutuhan nutrisi yang kurang akan menyebabkan sulit tidur.
2.7.5 Lingkungan
Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk tidur . Pada
lingkungan yang tenang memungkinkan seseorang dapat seseorang dapat tidur dengan
nyeyak dan sebaliknya.

2.7.6 Motivasi
Motivasi dapat mempengaruhi dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap
bangun dan menahan tidak tidur sehingga dapat meanimbulkan gangguan proses tidur.
2.7.7 Aktivitas
Kurang beraktivitas dan atau melakukan aktivitas yang berlebihan justru akan
menyebabkan kesulitan untuk memulai tidur.

2.8 Macam-Macam Gangguan Tidur

2.8.1 Insomnia

Pengertian insomnia mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa kesulitan


untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tidur, bahkan seseoranng yang terbangun dari
tidur tapi merasa belum cukup tidur dapat di sebut mengalami insomnia (japardi
2002). Jadi insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur
baik secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia bukan berarti seseorang tidak dapat
tidur/kurang tidur karena orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lebih lama
dari yang mereka pikirkan, tetapi kualitasnya berkurang.Jenis insomnia yaitu :

a. Insomnia insial adalah ketidak mampuan seseorang untuk dapat memulai tidur

Page
11
b. Insomnia intermiten adalah ketidak mampuan seseorang untuk dapat
mempertahankan tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur.
c. insomnia terminal adalah bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi.

Beberapa factor yang menyebabkan seseorang mengalami insomnia yaitu rasa


nyeri, kecemasan,ketakutan, tekanan jiwa kondisi, dan kondisi yang tidak menunjang
untuk tidur.

2.8.2 Somnambulisme

Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya


otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk di tempat
tidur, menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan
dalam beberapa menit dankembali tidur (Japardi 2002). Lebih banyak terjadi pada
anak-anak, penderita mempunyai resikoterjadinya cidera.

2.8.3 Enuresis

Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada anak-
anak, remaja dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum jelas,
namun ada bebrapa factor yang menyebabkan Enuresis seperti gangguan pada
bladder, stres, dan toilet training yang kaku.

2.8.4 Narkolepsi

Merupakan suatu kondisi yang di cirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk
tidur, dapat dikatakan pula bahwa Narkolepsi serangan mengantuk yang mendadak
sehingga ia dapat tertidur pada setiap saat di mana serangn mengantuk tersebut
datang. Penyebabnya secara pasti belum jelas, tetapi di duga terjadi akibat kerusakan
genetika sistem saraf pusat di mana periode REM tidak dapat di kendalikan. Serangan
narkolepsi dapat menimbulkan bahaya bila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan,
pekerja yang bekerja pada alat-alat yang berputar-putar atau berada di tepi jurang.

2.8.5 Mendengkur

Disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut.
Amandel yang membengkak dan Adenoid dapat menjadi faktor yang turut
menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran nafas pada lansia.
Otot-otot dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar bila dilewati udara
pernafasan.

Page
12
2.9 Manfaat Tidur

2.9.1 Hidup Lebih Sehat dan Awet Muda

Menurut Lawrence Epstein MD, penulis buku “The Harvard medical school
guide to a good night sleep”, semakin lama semakin terlihat adanya hubungan erat
antara tidur dan kesehatan tubuh. Ternyata saat kita tidur, tekanan darah dan detak
jantung biasanya berada di titik terendah. Bila kurang tidur, tekanan darah kita akan
cenderung naik. Hubungan antara hipertensi dan lama tidur seseorang dapat
menjelaskan hasil penelitian lain yang mengaitkan kurang tidur dengan risiko terkena
serangan jantung, diabetes, naiknya berat badan dan penyakit penyakit lain. Kurang
tidur juga terbukti dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
2.9.2 Memperindah wajah dan tubuh
Kurang tidur akan merubah metabolisme tubuh dan mempercepat proses
penuaan. Anda semua yang merasa kurang tidur pasti merasakannya, kalau kurang
tidur pasti wajah nampak lebih kusut dan sebaliknya ketika anda tidur dengan rileks
maka akan memperindah wajah dan tubuh anda.

2.9.3 Menjauhi Stress


Tak dipungkiri lagi, ketika anda tidur maka masalah-masalah yang anda pikirkan
sejenak menghilang. Sedangkan orang yang mengalami insomnia memproduksi
hormon stress yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

2.9.4 Mencerdaskan Otak


Kurang tidur menimbulkan efek kognitif dan fisik mirip dengan orang yang
minum alkohol. Kondisi orang yang tidak tidur terus-menerus selama 17jam sama
seperti orang yang kadar alkohol dalam darahnya 0,05%, ini sama dengan minum
dua gelas alkohol dalam satu jam. Orang yang sulit tidur biasanya telat bangun, ritme
ini akan membuat masalah dengan proses kognitif seseorang, seperti menjadi pelupa
dan sulit berkonsentrasi. Artinya anda akan menjadi sedikit lebih bodoh setiap kali
kurang tidur.
2.9.5 Tubuh menjadi Ideal
Bagi anda yang sedang diet, tidur menjadi point penting untuk mendukung
program diet anda. Kurang tidur akan menurunkan metabolisme tubuh sehingga
nafsu makan meningkat.Manfaat diatas diperoleh untuk tidur yang cukup sedangkan
apabila kebanyakan tidur dapat menurunkan produktifitas hormon pertumbuhan.
Oleh karena itu, supaya hidup sehat marilah kita biasakan tidur dengan proporsi yang
cukup.

Page
13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang di butuhkan semua orang. Setiap
individumempunyai kebutuhan istirahat dan tidur yang berbeda. Dengan pola istirahat dan
tidur yang baik, benar, dan teratur akan memberikan efek yang baik terhadap kesehatan,
yaitu efek fisiologis terhadap sistem syaraf yang di perkirakan dapat memulihkan kepekaan
normal dan keseimbangan diantara susunan saraf, serta berefek terhadap struktur tubuh
dengan memulihkankesegaran dan fungsi organ tubuh.

3.2 Saran

Setiap individu harus menjaga kecukupan kebutuhan istirahat dan tidurnya sesuai
kebutuhannya.Dengan kondisi jiwa dan fisik yang sehat maka dapat melakukan berbagai
kegiatan dengan baik.Perawat perlu berupaya membantu pemenuhan kebutuhan istirahat dan
tidur klien sesuai dengandengan prosedur yang benar sehingga perawat harus mempunyai,
kopetensi yang baik terkaitdengan kebutuhan istirahat dan tidur sehingga pelayanan terhadap
klien dapat berjalan dengan baik dan benar.

Page
14
DAFTAR PUSTAKA

Alimul H, A Aziz. 2006. Pengantar KDM Aplikasi Konsep & Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.

Asmadi . 2008. Prosedural Keperawatan, Konsep dan Aplikasi KD. Jakarta: Salemba Medika.

Doengos.E.Maryln,dkk. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Uliyah, Musrifatul dan A. Azis Alimul Hidayat. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk
Kebidanan. Surabaya: Salemba Medika.

Wartonah, Tartowo. 2006. KDM dan Proses keperawatan Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika

Page
15