Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

“DEMENSIA”
A. KONSEP MEDIK
1. Definisi
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi
atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak,
penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat
terganggu.
Demensia merupakan
sindrom yang ditandai oleh
berbagai gangguan fungsi
kognitif antara lain
intelegensi, belajar dan daya
ingat, bahasa, pemecahan
masalah, orientasi, persepsi,
perhatian dan konsentrasi, penyesuaian dan kemampuan bersosialisasi
(Corwin, 2009).
2. Etiologi
Penyebab demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan
menjadi 3 golongan besar yaitu :
a. Sindroma demensia dengan penyakit yang etiologi dasarnya tidak
dikenal kelainan yaitu : terdapat pada tingkat subseluler atau secara
biokimiawi pada system enzim, atau pada metabolism
b. Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum dapat
diobati, penyebab utama dalam golongan ini diantaranya :
1. Penyakit degenerasi spino - serebelar
2. Subakut leuko-esefalitis sklerotik fan bogaert
3. Khorea Hungtington
c. Sindrome demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati,
dalam golongan ini diantranya :
1. Penyakit cerrebro kardiovaskuler
2. penyakit

Asuhan Keperawatan Demensia 1


3. Klasifikasi
Klasifikasi demensia antara lain :
1. Demensia karena kerusakan struktur otak
Demensia ini ditandai dengan gejala :
1. Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif,
2. Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia,
agnosia, gangguan fungsi eksekutif.
3. Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
4. Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
5. Kehilangan inisiatif.
2. Demensia Vascular
Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di
otak dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat
terjadinya demensia. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di
otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi dapat
diduga sebagai demensia vascular.
Tanda-tanda neurologis fokal seperti :
1. Peningkatan reflek tendon dalam
2. Kelainan gaya berjalan
3. Kelemahan anggota gerak
3. Demensia menurut umur:
1. Demensia senilis ( usia > 65 tahun)
2. Demensia prasenilis (usia < 65 tahun)
4. Demensia menurut perjalanan penyakit :
1. Reversibel (mengalami perbaikan)
2. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma,
vit.B, Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb)
Pada demensia tipe ini terdapat pembesaran vertrikel dengan
meningkatnya cairan serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya
:
1. Gangguan gaya jalan (tidak stabil, menyeret).
2. Inkontinensia urin

Asuhan Keperawatan Demensia 2


3. Demensia.
5. Menurut menurut sifat klinis:
1. Demensia proprius
2. Pseudo-demensia
4. Patofisiologi
Proses menua tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya
demensia. Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan anatomi dan
biokimiawi di susunan saraf pusat yaitu berat otak akan menurun sebanyak
sekitar 10 % pada penuaan antara umur 30 sampai 70 tahun. Berbagai faktor
etiologi yang telah disebutkan di atas merupakan kondisi-kondisi yang dapat
mempengaruhi sel-sel neuron korteks serebri.
Penyakit degeneratif pada otak, gangguan vaskular dan penyakit
lainnya, serta gangguan nutrisi, metabolik dan toksisitas secara langsung
maupun tak langsung dapat menyebabkan sel neuron mengalami kerusakan
melalui mekanisme iskemia, infark, inflamasi, deposisi protein abnormal
sehingga jumlah neuron menurun dan mengganggu fungsi dari area kortikal
ataupun subkortikal.
Di samping itu, kadar neurotransmiter di otak yang diperlukan untuk
proses konduksi saraf juga akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan
gangguan fungsi kognitif (daya ingat, daya pikir dan belajar), gangguan
sensorium (perhatian, kesadaran), persepsi, isi pikir, emosi dan mood.
Fungsi yang mengalami gangguan tergantung lokasi area yang terkena
(kortikal atau subkortikal) atau penyebabnya, karena manifestasinya dapat
berbeda. Keadaan patologis dari hal tersebut akan memicu keadaan konfusio
akut demensia (Boedhi-Darmojo, 2009).
5. Menifestasi Klinik
Gejala klinis demensia berlangsung lama dan bertahap sehingga
pasien dengan keluarga tidak menyadari secara pasti kapan timbulnya
penyakit. Gejala klinik dari dEmensia Nugroho (2009) menyatakan
jika dilihat secara umum tanda dan gejala demensia adalah :
1. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, lupa
menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.

Asuhan Keperawatan Demensia 3


2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu,
bulan, tahun, tempat penderita demensia berada.
3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang
benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi,
mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali.
4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat
sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan
orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia
kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
5. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan
gelisah.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien dengan demensia antara lain
sebagai berikut :
1. Farmakoterapi
Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.
a. Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan
antikoliesterase seperti Donepezil , Rivastigmine , Galantamine ,
Memantine
b. Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet seperti
Aspirin , Ticlopidine , Clopidogrel untuk melancarkan aliran darah
ke otak sehingga memperbaiki gangguan kognitif.
c. Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati,
tetapi perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan
dengan mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang
berhubungan dengan stroke.
d. Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat
anti-depresi seperti Sertraline dan Citalopram.
e. Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak,
yang bisa menyertai demensia stadium lanjut, sering
digunakanobat anti-psikotik (misalnya Haloperidol , Quetiapine
dan Risperidone)

Asuhan Keperawatan Demensia 4


2. Dukungan atau Peran Keluarga
Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita
tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam
dinding dengan angka-angka yang
3. Terapi Simtomatik
Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi simtomatik,
meliputi :
a. Diet
b. Latihan fisik yang sesuai
c. Terapi rekreasional dan aktifitas
d. Penanganan terhadap masalah-masalah
4. Pencegahan dan perawatan demensia
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya
demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan
senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak
seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.
2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya
dilakukan setiap hari.
3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan
aktif : Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
4. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman
yang memiliki persamaan minat atau hobi
5. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks
dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.
7. Pemeriksaan Diagnostik
Beberapa pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada pasien dengan
demensia antara lain :
1. Pemeriksaan laboratorium rutin
2. Imaging : Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic
Resonance Imaging)
3. Pemeriksaan EEG

Asuhan Keperawatan Demensia 5


4. Pemeriksaan cairan otak
5. Pemeriksaan genetika
6. Pemeriksaan neuropsikologis
8. Komplikasi
Kushariyadi (2010) menyatakan koplikasi yang sering terjadi pada
demensia adalah:
1) Peningkatan resiko infeksi di seluruh bagian tubuh.
a) Ulkus diabetikus
b) Infeksi saluran kencing
c) Pneumonia
2) Thromboemboli, infarkmiokardium
3) Kejang
4) Kontraktur sendi
5) Kehilangan kemampuan untuk merawat diri
6) Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan dan kesulitan
menggunakan peralatan.

Asuhan Keperawatan Demensia 6


B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian Data
subyektif :
1. Pasien mengatakan mudah lupa akan peristiwa yang baru saja
terjadi.
2. Pasien mengatakan tidak mampu mengenali orang, tempat dan
waktu
. Data obyektif :
1. Pasien kehilangan kemampuannya untuk mengenali wajah, tempat
dan objek yang sudah dikenalnya dan kehilangan suasana
kekeluargaannya.
2. Pasien sering mengulang-ngulang cerita yang sama karena lupa
telah menceritakannya.
3. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara; penderita
menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-
kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang
tepat.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan Memori (00131)
2. Resiko Jatuh (00155)
3. Defisit Perawatan Diri
4. Hambatan Komunikasi Verbal ( 00051)

Asuhan Keperawatan Demensia 7


3. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteri Hasil (NOC) Intervensi (NIC)

1. Kerusakan Memori (00131) NOC NIC


Domain 5 ; Persepsi/Kognisi 1. Orientasi Kognitif Memori Taining (Pelatihan Memori)
1. Stimulasi memory dengan
Kelas 4 ; Kognisi Kriteria Hasil; mengulangi pembicaraan secara
Setelah dilakukan tindakan jelas di akhir pertemuan dengan
Definisi : keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien.
Ketidakmampuan mengingat beberapa kesadaran klien terhadap identitas 2. Mengenang pengalaman masa
personal, waktu dan tempat lalu dengan pasien.
informasi atau keterampilan perilaku.
meningkat/baik, dengan indikator/kriteria 3. Menyediakan gambar untuk
Batasan Karakteristik : hasil : mengenal ingatannya kembali
- Ketidakmampuan melakukan 1. Mengenal kapan klien lahir 4. Monitor perilaku pasien selama
2. Mengenal orang atau hal penting terapi
keterampilan yang telah dipelajari 3. Mengenal hari, bulan, dan tahun 5. Monitor daya ingat klien.
sebelumnya dengan benar 6. Kaji kemampuan klien dalam
- Ketidakmampuan mempelajari 4. Klien mampu memperhatikan dan mengingat sesuatu.
informasi baru mendengarkan dengan baik 7. Ingatkan kembali pengalaman
- Ketidakmampuan mempelajari 5. Klien mampu melaksanakan masa lalu klien
keterampilan baru instruksi sederhana yang 8. Implementasikan teknik
- Ketidakmampuan mengingat diberikan. mengingat dengan cara yang tepat
informasi aktual 6. Klien dapat menjawab pertanyaan 9. Latih orientasi klien
- Keidakmampuan mengingat yang diberikan dengan tepat. 10. Beri kesempatan kepada klien
perilaku tertentu yang pernah 7. Klien mampu mengenal identitas untuk melatih, konsentrasinya
dilakukan dirinya dengan baik. Stimulasi Kognitif (Cognitive
- Ketidakmampuan mengingat 8. Klien mengenal identitas orang Stimulation)
peristiwa disekitarnya dengan tepat/baik. 1. Monitor interpretasi klien
- Ketidakmampuan menyimpan 9. Klien mampu terhadap lingkungan

Asuhan Keperawatan Demensia 8


informasi baru mengidentifikasikan tempat 2. Tempatkan objek/hal-hal yang
- Lupa melakukan perilaku pada dengan benar. familiar di lingkungan/di kamar
waktu yang telah dijadwalkan 10. Klien mampu mengidentifikasi klien
- Mudah lupa waktu dengan benar. 3. Observasi kemampuan klien
Faktor Yang Berhubungan ; berkonsentrasi.
- Anemia 4. Kaji kemampuan klien memahami
- Distraksi lingkungan dan memproses informasi
- Gangguan neurologis 5. Berikan instruksi setelah klien
- Hipoksia menunjukkan kesiapan untuk
- Gangguan volume cairan belajar atau menerima informasi.
- Ketidakseimbangan elektrolit 6. Atur instruksi sesuai tingkat
- Penurunan curah jantung pemahaman klien
7. Gunakan bahasa yang familiar
dan mudah dipahami
8. Dorong klien menjawab
pertanyaan dengan singkat dan
jelas.
9. Koreksi interpretasi yang salah
10. Beri reinforcement pada setiap
kemajuan klien
2. Resiko Jatuh (00055) NOC NIC
Domain : 11 Kemanan 1. Trauma risk for 1. Mengidentifikasi defisit kognitif

Kelas : 2 Cedera Fisik 2. Injury risk for atau fisik yang dapat
meningkatkan potensi jatuh dalam
Definisi Kriteria hasil : lingkungan tertentu
2. Mengidentifikasi perilaku dan
Peningkatan kerentanan untuk jatuh yang Setelah dilakukan tindakan keperawatan faktor yang mempengaruhi resiko
dapat menyebabkan bahaya fisik selama 3x 24 jam di harapkan klien jatuh

Asuhan Keperawatan Demensia 9


Faktor Resiko mampu untuk : 3. Mengidentifikasi karakteristik
1. Dewasa 1. Keseimbangan: kemampuan lingkungan yang dapat
 meningkatkan potensi untuk jatuh
Usia 65 tahun atau lebih untuk mempertahankan ( misalnya : lantai yang licin dan
 ekuilibrium
Riwayat jatuh tangga terbuka )
 2. Gerakan terkoordinasi :
Tinggal sendiri 4. Mendorong pasien untuk
 kemampuan otot untuk bekerja
Prosthesis eksremitas bawah menggunakan tongkat atau alat
 sama secara volunter untuk
Penggunaan alat bantu pembantu berjalan
( misalnya : walker,tongkat ) melakukan gerakan yang
 5. Kunci roda dari kursi roda,tempat
Penggunaan kursi roda bertujuan
tidur,atau brankar selama transfer
1. Anak 3. Perilaku pencegahan jatuh : pasien
 tindakan individu atau pemberi
Usia dua tahun atau kurang 6. Tempat artikel mudah dijangkau
 asuhan untuk meminimalkan
Tempat tidur yang terletak dari pasien
didekat jendela faktor resiko yang dapat memicu 7. Ajarkan pasien bagaimana jatuh
 penahan / jatuh dilingkungan individu
Kurangnya untuk meminimalkan cedera
pengekang kereta dorong 4. Kejadian jatuh : tidak ada 8. Menyediakan toilet ditinggikan
 pagar kejadian jatuh
Kurangnya/longgarnya untuk memudahkan transfer
pada tangga 5. Pengetahuan : pemahaman 9. Membantu ke toilet
 penghalang atau pencegahan jatuh pengetahuan :
Kurangnya seringkali,interval dijadwalkan
tali pada jendela keselamatan anak fisik, 10. Sarankan alas kaki yang aman
 6. Pengetahuan : keamanan pribadi
Kurang pengawasan orang tua 11. Mengembangkancarauntuk
 7. Pelanggaran perlindungan tingkat
Jenis kelamin laki-laki yang pasien untuk berpartisipasi
berusia < 1 tahun kebingungan akut keselamatan dalam kegiatan
 saat 8. Tingkat agitasi
Bayi yang tidak diawasi rekreasi
berada dipermukaan yang 9. Komunitas pengendalian resiko : 12. Lembaga program latihan rutin
tinggi ( misalnya: tempat 10. Gerakan terkoordinasi
fisik yang meliputi berjalan
tidur/meja)
13. Tanda-tanda posting untuk
2. Kognitif mengingatkan staf bahwa pasien
 yang beresiko tinggi untuk jatuh
Penurunan status mental

Asuhan Keperawatan Demensia 10


3. Lingkungan
 Lingkungan yang tidak
terorganisasi
Ruang yang memiliki
pencahayaan yang redup
 Tidak ada meteri yang antislip
di tempat mandi pancuran
 Pengekangan
 Karpet yang tidak rata/terlipat
 Ruang yang tidak di kenal
 Kondisi cuaca ( misalnya :
lantai basah,es)
4. Medifikasi
 Penggunaan alcohol
 Inhibitor enzyme pengubah
angiotensin
 Agen anti ansietas
 Agen anti hipertensi
 Deuretik
 Hipnotik
 Narkotik/opiate
 Obat penenang
 Antidepresan trisiklik
5. Fisiologis
 Sakit akut
 Anemia
 Arthritis
 Penurunan kekuatan
ekstremitas bawah

Asuhan Keperawatan Demensia 11



Diare

Kesulitan gaya berjalan

Vertigo saat mengekstensikan
leher

Masaalah kaki

Kesulitan mendengar

Gangguan keseimbangan

Gangguan mobilitas fisik

Inkontinensia
 misalnya :
Neoplasma (
letih,mobilitas terbatas )

Neuropati

Hipotensi ortostatisk

Kondisi postoperative
 gula darah
Perubahan
postprandial

Deficit proprioseptif

Ngantuk

Berkemih yang mendesak

Penyakit vaskuler

Kesulitan melihat
3. Defisit Perawatan Diri NOC : NIC
Domain : 4 : Aktivitas/Istrahat 1. Self care : Activity of Daily Self Care assistane : ADLs

Kelas : Kelas 5 Perawatan Diri 2. Living (ADLs) 1. Monitor kemempuan klien untuk

Definisi Kriteria Hasil : perawatan diri yang mandiri.


2. Monitor kebutuhan klien untuk
Hambatan kemampuan untuk melakukan Setelah dilakukan tindakan keperawatan alat-alat bantu untuk kebersihan
diri, berpakaian, berhias, toileting

Asuhan Keperawatan Demensia 12


atvitas atau menyelesaikan aktivitas selama 3 x 24 jam Defisit perawatan diri dan makan.
berpakaian sendiri, eliminasi sendiri teratas dengan kriteria hasil: 3. Sediakan bantuan sampai klien
dan makan sedndiri mampu secara utuh untuk
- Klien dapat berdandan eliminasi melakukan self-care.
Batasan Kharateristik dan makan dengan mandiri 4. Dorong klien untuk melakukan
- Menyatakan kenyamanan aktivitas sehari-hari yang normal
- Ketidakmampuan mengacingkan terhadap kemampuan
pakaian sesuai kemampuan yang dimiliki.
untuk melakukan ADLs
- Hambatan mengambil pakaian 5. Dorong untuk melakukan secara
- Dapat melakukan ADLS dengan mandiri, tapi beri bantuan
- Hambatan mengenakan pakaian bantuan
- Ketidakmampuan menggunakan ketika klien tidak mampu
higene eliminasi tepat melakukannya.
- Ketidakmampuan naik toilet 6. Ajarkan klien/ keluarga untuk
- Ketidakmampuan memanipulasi Mendorong kemandirian, untuk
pakaian untuk eliminasi. Memberikan bantuan hanya
- Ketidakmampuan untuk berdiri jika pasien tidak mampu untuk
dan duduk di toilet melakukannya.
- Ketidakmampuan mengambil 7. Berikan aktivitas rutin sehari-
makanan dan memasukannya ke hari sesuai kemampuan.
mulut 8. Pertimbangkan usia klien jika
- Ketidakmampuan mengunyah mendorong pelaksanaan aktivitas
makanan sehari-hari.
- Ketidakmampuan menghabiskan
makanan
- Ketidakmampuan makan
makanan dalam jumlah memadai
- Ketidakmampuan memanipulasi
makanan dalam mulut
- Ketidakmampuan menyapakna
makanan untuk di makan

Asuhan Keperawatan Demensia 13


- Ketidakmampuan untuk menelan

Faktor Yang Berhubungan

- Gangguan kognitif
- Penurunan motivasi
- Ketidaknyamanan
- Kendala lingkungan
- Keletihan
- Gangguan musculoskeletal
- Gangguan neuromuscular
- Nyeri
- Gangguan persepsi
- Ansietas berat

4. Hambatan Komunikasi Verbal (00051) NOC NIC


Domain : 5 Persepsi Kognisi 1. Ansiety Communication Enhancement :

Kelas : 5 Komunikasi 2. Coping Speech Deficit

Definisi 1. Gunakan penerjemah jika


3. Sensori Funtion : hearing dan diperlukan
Penurunan, keterlambatan atau ketiadaan vision 2. Beri satu kalimat simple setiap
kemampuan untuk menerima proses bertemu jika di perlukan
mengirim dan atau menggunaka sistem 4. Fear self control 3. Konsultasikan dengan dokter
symbol Kriteria Hasil kebutuhan terapi wicara
4. Dorong pasien untuk
Batasan Kharateristik Setelah dilakukan tindakan keperawatan berkomunikasi secara perlahan
- Tidak ada Kontak Mata selama 3 x 24 jam klien mampu : dan untuk mengulangi permintaan
5. Dengarkan dengan penuh
- Tidak Dapat Bicara
1. Berkomunikasi : penerimaan perhatian berdiri di depan pasien

Asuhan Keperawatan Demensia 14


- Kesulitan mengekspresikan interpretasi dan ekspresi pesan ketika berbicara.
fikiran secara verbal 2. Lisan, tulisan dan non verbal 6. Gunakan kertu baca, kertas,
- Kesulitan menyusn kalinat meningkat. pensil, bahasa tubuh, gambar,
- Kesulitan menyusun kata-kata 3. Komunikasi ekspresif : (kesulitan daftar kosa kata, bahasa asing,
- Kesuliatan memahami pola berbicara ekspresi pesan verbal computer, dan lain-lain. Untuk
komunikasi yang biasa atau non verbal yang bermakna) memfasilitasi komunikasi dua
- Kesulitan dalam kehadiran 4. Komunikasi reseptif (kesulitan arah yang optimal
tertentu mendengar) : penerimaan 7. Ajarkan bicara dari esophagus
- Kesulitan menggunakan ekspresi komunikasi dan interprestasi jika diperlukan
wajah pesan verbal atau non verbal 8. Beri anjuran kepada pasien dan
- Disorientasi orang, ruang dan 5. Gerakan terkoordinasi : mampu keluarga tentang penggunaan alat
waktu. mengkoordinasi gerakan dalam bantu bicara misalnya prostesi,
- Tidak bicara menggunakan isyarat. trakheoesofagus dan laring buatan
- Dismpena ketidakmampuan 6. Pengolahan informasi : klien 9. Berikan pujian positif jika
dalam bahasa pemberi asuhan mampu untuk memperoleh, diperlukan
- Ketidakmampuan menggunakan mengatur, dan menggunakan 10. Anjurkan pada pertemuan
ekspresi tubuh informasi kelompok
- Ketidak mampuan menggunakan 7. Mampu mengontrol respon 11. Anjurkan kunjungan keluarga
ekspresi wajah ketakutan dan kecemasan secara teratur untuk member
- Ketidaktepatan verbalisasi terhadap ketidak mampuan stimulus komunikasi.
- Defisit visual parsial berbicara 12. Anjurkan ekspresi diri dengan
- Pello 8. Mampu memanajemen cara lain dalam menyampaikna
- Sulit bicara kemampuan fisik yang di miliki informasi misalnya bahasa
- Gagap 9. Mampu mengkomunikasikan isyarat.
- Defisit penglihatan total kebutuhan dengan lingkungan
- Bicara dengan kesulitan sosial
- Menolak bicara

Asuhan Keperawatan Demensia 15


Faktor Yang Berhubungan

- Ketiadaan Orang terdekat


- Perubahan Konsep Diri
- Perubahan sistem syaraf pusat
- Defek anatomis
- Tumor otak
- HDR kronik
- Perubahan harga diri
- Perbedaan Budaya
- Penurunan Sirkulasi ke otak
- Perbedaan yang berhubungan
dengan usia perkembangan
- Gangguan emosi
- Kurang informasi
- Hambatan fisik
- Kondisi psikologi
- HDR situasional
- Stress kendala lingkungan
- Efek samping obat jelemahan
sistem musculoskeletal

Asuhan Keperawatan Demensia 16


PATHWAY “DEMENSIA”

Faktor predisposisi : virus lambat, proses autoimun, keracunan alumunium dan genetic

Penurunan metabolism dan alran darah di korteks parietalis superior

Degenerasi neuron kolinergik

Kesulitan neurofibrilar Hilangnya serat saraf kolinergik di


yang difus korteks serebrum

Terjadi plak senilis Kelainan neurotransmiter Penurunan sel neuron kolinergik


yang berproyeksi ke hipokampus
dan amigdala

Asetilkolin menurun pada otak

DEMENSIA

Perubahan kemampuan merawat Kehilangan kemampuan Tingkah laku aneh dan kacau
diri sendiri menyelesaikan masalah dan cenderung mengembara

defisit perawatan diri Perubahan mengawasi keadaan


kompleks dan berfikir abstrak

Emosi, labil, pelupa, apatis

Loos deep memory

Perubahan proses fikir

Asuhan Keperawatan Demensia 17


DAFTAR PUSTAKA

Boedhi – Darmojo. 2009. Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Edisi 4. Jakarta:
FKUI.
Elizabeth.J.Corwin. 2009. Buku Saku : Patofisiologi. Ed.3. Jakarta : EGC

Kushariyadi.2010. Askep pada Klien Lanjut Usia. Jakarta : Salemba Medika

Nugroho, W.2009. Keperawatan Gerontik & Geriatric Edisi 3.Jakarta : EGC

Asuhan Keperawatan Demensia 18