Anda di halaman 1dari 17

Disusun Oleh :

Riyanto

(A210140134)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan


Universitas Muhammadiyah Surakarta
2014
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin, banyak


nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk
Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada
terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Hukum Perdata
Perkawinan dan Hukum Perdata Keluarga di Indonesia”. Dalam penyusunannya, penulis
memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis.

Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,
namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bisa bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

Surakarta, Oktober 2014

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………...…...…ii

BAB I PENDAHULUAN……….......................................................................................1

1.1 Latar Belakang………………………………………………………....................1


1.2 Perumusan Masalah...............................................................................…….........1
1.3 Maksud dan tujuan……………………………………………..............................1

BABII PEMBAHASAN……………….............................................................................3

2.1. Pengertian…...........................................................................................................3
2.1.1. Pengertian Hukum perkawinan…................................................................3
2.1.2. Pengertian Hukum Keluarga………………................................................3
2.2. Sumber dan Asas Hukum…....................................................................................4
2.2.1. Hukum Perkawinan…...................................................................................4
2.2.2 Hukum Keluarga……...................................................................................6
2.3 Ruang Lingkup…...................................................................................................7
2.3.1 Hukum Perkawinan…...................................................................................7
3.3.2. Hukum Keluarga……..................................................................................10
BAB III PENUTUP…………….........................................................................................12
3.1. Kesimpulan….........................................................................................................12
3.2. Saran……...............................................................................................................12
Daftar Pustaka……………..................................................................................................13
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang prempuan
untuk waktu yang lama sedangkan keluarga adalah pertalian beberapa orang yang
memiliki keluhuran yang sama atau pertalian kekeluargaan karena terjadi perkawinan.
Sumber-sumber hukum perdata di Indonesia mengenai hukum keluarga dan hukum
perkawinan dimulai dari jaman Hindia Belanda dimana hukum perdata Indonesia di
atur dalam Burgelijk Wetboek (atau kitab undang-undang hukum perdata belanda).
Kemudian terus berkembang hingga disahkan beberapa Undang-undang baru yang
secara khusus mengatur tentang perkawinan dan hukum keluarga.
Dalam hukum keluarga sendiri terdiri dari beberapa definisi dan menurut beberapa
ahli salah satu definisi keluarga adalah perkawinan.Hukum perkawinan di Indonesia
bersifat pluralism atau menggunakan beberapa dasar hukum.
Pada hakekatnya hukum keluarga dan hukum perkawinan dalam beberapa hal
saling berterikatan.
1.2 Perumusan Masalah
Dari pembahasan di atas dapat di uraikan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah pengertian dari hukum perkawinan dan hukum keluarga ?
2. Sumber dan asas hukum apa saja yang menjadi dasar hukum perkawinan dan
hukum keluarga di Indoneia ?
3. Apakah ruang lingkup hukum perdata keluarga dan hukum perdata
perkawinan ?

1.3 Maksud dan Tujuan


Maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
Pengantar Hukum Perdata dan Dagang serta untuk memberikan informasi dan
menambah pengetahuan serta wawasan tentang hukum perdata keluarga dan hukum
perdata perkawinan.

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :


1. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian hukum perdata tentang
keluarga dan perkawinan.
2. Untuk menjelaskan sumber dan asas hukum yang menjadi dasar hukum
perdata di Indonesia tentang perkawinan dan keluarga.
3. Untuk menjelaskan ruang lingkup dari hukum perdata tentang hukum
keluarga dan hukum perkawinan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
2.1.1 Pengertian Hukum Perkawinan
Hukum perkawinan sebagai bagian dari hukum perdata adalah peraturan
peraturan hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan hukum serta akibat-akibatnya
antara dua pihak, yaitu seorang laki-laki dan seorang wanita dengan maksud hidup
bersama untuk waktu yang lama menurut peraturan-peraturan tang ditetapkan dalam
undang-undang.
Sedangkan perkawinan sendiri meiliki pengertian pertalian yang sah antara
seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama.
Menurut para ahli tentang pengertian perkawinan :
a. Perkawinan adalah persekutuan hidup antara seorang pria dan wanita yang
dikukuhkan secara formal dengan undang-undang (yuridis) dan kebanyakan
religious. (Soetopo Prawirohamidjojo).
b. Perkawinan adalah akad antara calon suami istri untuk memenuhi hajat jenisnya
menurut yang di atur oleh syariah (Kaelany H.D)

2.1.2 Pengertian Hukum Keluarga


Hukum keluarga adalah keseluruhan ketentuan yang mengenai hubungan hukum
yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah, dan kekeluargaan karena perkawinan
(perkawinan, kekuasaan orang tua, perwalian pengampuan, keadaan tak hadir).
Sedangkan pengertian hukum keluarga menurut para ahli adalah :
a. Hukum keluarga mengatur hubungan yang berkaitan dengan kekeluargaan
sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan(Ali Afandi).
b. Hukum keluarga sebagai prinsip-prinsip hukum yang diterapkan berdasarkan
ketaatan beragama berkaitan dengan hal-hal yang secara umum diyakini memiliki
aspek religious menyangkut peraturan keluarga, perkawinan, perceraian,
hubungan dalam keluarga, kewajiban dalam rumah tangga, warisan, pemberian
mas kawin, perwalian dan lain-lain(Tahrir Mahmud).
c. Hukum keluarga merupakan keseluruhan kaidah-kaidah hukum (baik hukum
tertulis maupun tidak tertulis) yang mengatur hubungan hukum mengenai
perkawinan, kekuasaan orang tua, pengampuan, dan perwalian(Salim H.S).

2.2 Sumber dan Asas Hukum


2.2.1 Hukum Perkawinan
Di Indonesia pelaksanaan hukum perkawinan masih pluarisme, artinya di
Indonesia berlaku tiga macam sistem hukum perkawinan, yaitu :
1. Hukum Perkawinan menurut Hukum Perdata Barat (BW), diperuntukan bagi WNI
keturunan asing atau yang beragama Kristen.
2. Hukum Perkawinan menurut Hukum Islam, diperuntukan bagi WNI keturunan
atau pribumi yang beragama Islam.
3. Hukum Perkawinan menurut Hukum Adat, diperuntukan bagi masyarakat pribumi
yang masih memegang teguh hukum adat.

Sifat prulalistis dalam hukum perkawinan sudah terjadi sejak zaman Hindia
Belanda. Berbagai peraturan perundang-undangan yang menunjukan sifat pluralistis
tersebut, antara lain :

1. Burgelijk Wetboek, Stb. 1847 Nomor 23 ; yang di peruntukan bagi golongan


Eropa atau yang dipersamakan dengan itu.
2. Regeling Op De Gemengde Inlanders,Stb. 1898 Nomor 158.
3. Huwelijk Ordonanntie Christen Inlanders,Stb. 1933 Nomor 74; yang
diperuntukkan bagi Bumi Putra yang beragama Kristen di Jawa, Madura
Minahasa, dan Ambonia,Saparua dan bekas kerisedenan Manado yang sejak
tahun 1975 dengan Intruksi Menteri Dalam Negeri dinyatakan berlaku untuk
seluruh Wilayah Indonesia.
4. Huwelijksordinnantie, Stb. 1929 Nomor 348 (Peraturan tentang Perkawinan dan
Perceraian bagi orang-orang Islam di Jawa dan Madura).
5. Vornstenlandse Huwelijksordonnantie, Stb. 1933 Nomor 98 jo Stv.1941 Nomor
320 (Peraturan tentang Perkawinan dan Talak/Perceraian bagi orang-orang Islam
di Guibernemen Surakarta dan Yogyakarta.

Keadaan tersebut terus berlanjut hingga awal kemerdekaan dan terus berlanjut
hingga dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun1946 Tentang Pencatatan
Nikah.

Dalam Hukum Perdata Barat tidak ditemukan definisi dari perkawinan (huwelijk)
sendiri dalam Hukum Perdata Barat digunakan dalam dua arti, yakni :

1. Sebagai suatu perbuatan, yaitu perbuatan “melasungkan perkawinan” (pasal 104


BW). Selain itu juga dalam arti “setelah perkawinan” (pasal 209 sub 3 BW).
Dengan demikian maka perkawinanadalah suatu perbuatan hukum yang dilakukan
pada saat tertentu.
2. Sebagai “suatu keadaan hukum” yaitu keadaan bahwa seorang pria dan seorang
wanita terikat oleh suatu hubungan perkawinan.

Perkawinan dalam hukum Islam disebut “Nikah” ialah melakukan suatu aqad atau
perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan wanita untuk
menghalalkan hubungan kelamin antara dua belah pihak untuk mewujudkan suatu
kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan
cara yang di ridhoi Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 24 :

“Dan dihalalkan kepada kamu mengawini perempuan-perempuan selain dari yang


tersebut itu, jika kamu menghendaki mereka dengan mas kawin untuk perkawinan dan
bukan untuk perbuatan jahat”.(Q.S An Nisa :24)
Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
menyatakan :

“Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

Perkawinan dalam masyarakat adat pada umumnya didahului dengan lamaran,


tetapi ada juga perkawinan tanpa lamaran.

Perkawinan adat di Indonesia terbagi atas tiga kelompok : pertama , perkawinan


adat berdasarkan masyarakat kebapakan (Patrilial), kedua, perkawinan adat berdasarkan
masyarakat keibuan (matrilial), ketiga, perkawinan adat berdasarkan masyarakat keibu
bapakan (panrental).

2.2.2 Hukum Keluarga

Pada dasarnya sumber hukum keluarga dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu : sumber hukum perdata keluarga tertulis dan sumber hukum perdata keluarga tidak
tertulis.

Sumber hukum keluarga tidak tertulis umumnya berasal dari norma-norma hukum
yang tumbuh dan berkembang serta di taati oleh sebagian besar masyarakat atau suku
bangsa yang hidup di wilayah Indonesia

Sedangkan hukum perdata keluarga tertulis berasal dari berbagai peraturan


perundang-undangan, yurisprudensi, dan perjanjian (traktat).

Sumber hukum tertulis yang menjadi rujukan di Indoneia meliputi :

1. Kitab Undang-Undang Hukum perdata (Burgerlijk Wetboek).


2. Peraturan Perkawinan Campuran(Regelijk op de Gemengdebuwelijk), Stb 1898 –
158.
3. OrdonansiPerkawinan Indonesia Kristen Jawa, Minahasa, dan Ambon (Huwelijke
Ordonnantie Christen Indonesiers), Stb. 1933 – 74.
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan
Rujuk (beragam Islam)
5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 45
Thun 1990 tentang izin perkawinan dan Perceraian bagi PNS.
8. Intruksi Presiden Tahun 1991 tentang Komplikasi Hukum Islam di Indonesia
yang Berlaku bagi orang-orang yang beragama Islam.

2.3 Ruang Lingkup


2.3.1 Hukum Perkawinan
a. Syarat-syarat untuk dapat syahnya perkawinan :
1. Kedua pihak harus mencapai umur yang ditetapkan dalam undang-undang,
yaitu untuk seorang lelaki 18 tahun dan untuk seorang prempuan 15 tahun.
2. Harus ada persetujuan bebas antara kedua pihak.
3. Untuk seorang prempuan yang pernah kawin harus lewat 300 hari dahulu
sesudahnya putusan perkawinan pertama.
4. Tidak ada larangan dalam undang-undang bagi kedua pihak.
5. Untuk pihak yang masih dibawah umur, harus ada izin dari orang tua atau
walinya.

Tentang hal larangan untuk kawin dapat diterangkan bahwa seorang tidak
diperbolehkan kawin dengan saudaranya, meski dengan saudara tiri, seorang tidak
diperbolehkan kawin dengan iparnya, seorang paman dilarang kawin dengan
keponakannya dan sebagainya.
Tentang hal izin dapat diterangkan bahwa kedua orang tua harus
memberikan izin, atau ada kata sepakat antara ayah dan ibu masing-masing
pihak,. Jika ada wali, wali inipun harus memberikan izin.

b. Hak dan Kewajiban suami istri


Suami istri harus setia satu sama lain, bantu membantu, berdiam bersama-
sama, saling memberikan nafkah dan bersama-sama mendidik anak.
Dalam undang-undang suami ditetapkan menjadi kepala atau pengurusnya.
Suami pengurus kekayaan mereka bersama juga mengurus kekayaan si istri,
menentukan tempat kediaman bersama, melakukan kekuasaan orang tua dan
selanjutnya memberikan bantuan hukum kepada siistri dalam melakukan
perbuatan-perbuatan hukum.
c. Percampuran kekayaan

Percampuran kekayaan adalah mengenai seluruh active dan pasiva baik


yang dibawa oleh masing-masing pihak ke dalam perkawinan maupun yang akan
diperoleh di kemudian hari selama perkawinan. Kekayaan bersama itu oleh
undang-undang di sebut “gemeenschap”.

Sejak perkawinan terjadi, percampuran kekayaan suami dan kekayaan istri


telah terjadi selama tidak ada perjanjian apa-apa keadaaan ini terus terjadi selama
perkawinan.

Pasal 140 ayat 3, mengizinkan untuk memperjanjikan didalam perjanjian


perkawinan, bahwa suami tidak diperbolehkan menjual atau menggadaikan
benda-benda yang jatuh dalam gameenschap dari pihak si istri dengan tiada izin si
istri.

d. Perjanjian Perkawinan
Perjanjian ini menurut undang-undang harus diadaka sebelum pernikahan
dan harus diletakkan dalam suatu akta notaris.
Mengenai bentuk da nisi perjanjian tersebut sebagaimana halnya dengan
perjanjian-perjanjian lain pada umumnya, kepada kedua belah pihak diberikan
kemerdekaan seluas-luasnya, kecuali satu dua larangan yang termuat dalam
undang-undang dan tidak melanggar ketertiban umum atau kesusilaan.
Pertama-tama ada larangan untuk membuat suatu perjanjian yang
menghapuskan suami sebagai kepala didalam perkawinan atau kekuasaanya
sebagai ayah atau akan menghilangkan hak-hak seorang suami atau istri yang
ditinggal mati. Selanjutnya ada larangan untuk membuat suatu perjanjian bahwa
sisuami akan memikul suatu bagian yang lebih besar dalam active daripada
bagiannya dalam passive. Maksudnya larangan ini, agar jangan sampai suami istri
itu menguntungkan diri untuk kerugian pihak-pihak ketiga.
e. Perceraian
Perceraian ialah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim, atau
tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu.
Perkawinan dikatakan bercerai apabila salah satu pihak meninggal, jikalau
satu pihak kawin lagi setelah mendapat ijin hakim, bilamana salah satu pihak
pergi tanpa kabar selama sepuluh tahun tanpa ada kabar.
Undang-undang tidak memperbolehkan perceraian dengan permufakatan
saja antara suami dan istri, tetapi harus ada alas an yang sah. Alasan-alasan ini
yaitu :
1. Zina
2. Ditinggalkan dengan sengaja
3. Penghukuman yang melebihi 5 tahun karena dipersalahkan
melakukan suatu kejahatan
4. Penganiyayaan berat atau membahayakan jiwa.

Undang undang perkawinan menambahkan dua alasan

1. Salah satu pihak mendapatkan cacat badan/penyakit dengan akibat


tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.
2. Antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan/ pertengkaran
dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
f. Pemisahan Kekayaan
Untuk melindungi istri terhadap kekuasaan si suami yang sangat luas itu atas
kekayaan bersama serta kekayaan pribadi si istri, undang-undang memberikan
pada si istri suatu hak untuk meminta pada si hakimsupaya di adakan pemisahan
kekayaan dengan tetap berlangsungnya perkawinan.
Pemisahan itu dapat diminta oleh sang istri :
1. Apabila sisuami dengan kelakuan yang nyata-nyata tidak baik,
mengorbankan kekayaan bersama dan membahayakan keselamatan
keluarga.
2. Apabila sisuami melakukan pengurusan yang buruk terhadap
kekayaan siistri, hingga ada kekhawatiran kekayaan ini akan menjadi
habis.
3. Apabila si suami mengobralkan kekayaannya sendiri, hingga si
istri akan kehilangan tanggungan yang oleh undang-undang diberikan
padanya atas kekayaan tersebut karena pengurusan yang dilakukan oleh
suami terhadap kekayaan istrinya.
Gugatan untuk mendapatkan pemisahan kekayaan, harus diumumkan
dahulu sebelum diperiksa dan diputuskan oleh hakim, sedangkan putusan hakim
ini pun harus diumumkan. Ini untuk menjaga kepentingan-kepentingan orang
ketiga.

2.3.2 Hukum Keluarga


a. Keturunan
Seorang anak sah(wettig kind) ialah anak yang di anggap lahir dari
perkawinan yang sah antara ayah dan ibunya.
Pembuktian keturunan harus dilakukan dengan surat kelahiran yang
diberikan oleh pegawai pencatatan sipil. Jika tidak mungkin didapatkan surat
kelahiran, hakim dapat memakai bukti-bukti lain asal saja keadaan yang Nampak
keluar, menunjukan adanya hubungan seperti antara anak dengan orang tuanya.
Anak yang lahir diluar perkawinan, dinamakan “natuurlijk kind” ia dapat di
akui atau tidak diakui oleh ayah atau ibunya.
b. Kekuasaan orang tua
Seorang anak yang sah sampai pada waktu ia mencapai usia dewasa atau
kawin, berada dibawah kekuasaan orang tuanya (ouderlijke macht) selama kedua
orang tua itu terikat dalam hubungan perkawinan. Dengan demikian, kekuasaan
orang tua itu mulai berlaku sejak lahirnya anak atau sejak hari pengesahannya dan
berakhir pada waktu anak itu menjadi dewasa atau kawin, atau pada waktu
perkawinan orang tuannya dihapuskan.
Kekuasaan orang tua terutama berisi kewajiban untuk mendidik dan
memelihara anaknya. Pemeliharaan meliputi pemberian nafkah, pakaian, dan
perumahan.
Kekuasaan orang tua tidak saja meliputi diri si anak tetapi juga meliputi
benda atau kekayaaan si anak itu.
c. Hubungan Anak dengan Orang Tua
Pada umumnya seorang anak lahir dari sepasang suami istri dalam suatu
ikatan perkawinan sehingga merupakan anak sah dan sekaligus sebagai anak
kandung namun ada juga kasus yang menyimpang yaitu ada anak yang lahir
namun tidak anak sah tetapi sebagai anak yang tidak sah, anak tiri atau anak
angkat,. Pada asasnya sejak lahir maka anak-anak tersebut mempunyai hubungan
hukum dengan orang tuanya.
d. Perwalian
Perwalian adalah pengawasan terhadap anak yang dibawah umur, yang tidak
berada dibawah kekuasaan orang tua serta pengurusan benda atau kekayaan anak
tersebt diatur dalam undang-undang.
Dalam hukum adat perwalian dapat terjadi jika suatu keluarga, orang
tuanya tinggal seorang atau dua-duannya meninggal dunia. Perwalian akan ada
dengan sendirinya(otomatis). Artinya tidak melalui proses dengan mengajukan
permohonan melalui pengadilan.
Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 perwalian terjadi
karena seorang anak ditinggal mati orang tuannya atau adanya pencabutan
kekuasaan oleh orang tua kepada anak oleh pengadilan. Perwalian harus melalui
permohonan kepada pengadilan.
Perbandingan perwalian menurut ketentuan Hukum Adat dengan UU
No. 1 Tahun 1974
Sistem Timbulnya Syarat Perwalian Kewajiban Wali
Hukum
Adat Karena Tanpa permohonan Mengelola dan mengatur harta
kematian ke pengadilan; anak tanpa keharusan
otomatis berada menginventarisir; adanya sifat
dalam perwalian saling percaya
kerabat
UU No. 1 Kematian Harus dengan Harus menginverntarisir harta
Tahun dan peermohonan ke anak dan mencatat keluar
1974 pencabutan pengadilan masuknua harta
kekuasaan
orang tua

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hukum perkawinan sebagai bagian dari hukum perdata adalah peraturan
peraturan hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan hukum serta akibat-akibatnya
antara dua pihak, yaitu seorang laki-laki dan seorang wanita dengan maksud hidup
bersama untuk waktu yang lama menurut peraturan-peraturan tang ditetapkan dalam
undang-undang.
Hukum keluarga adalah keseluruhan ketentuan yang mengenai hubungan hukum
yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah, dan kekeluargaan karena perkawinan
(perkawinan, kekuasaan orang tua, perwalian pengampuan, keadaan tak hadir).
Di Indonesia pelaksanaan hukum perkawinan masih pluarisme, artinya di
Indonesia berlaku tiga macam sistem hukum perkawinan, yaitu menurut Hukum Perdata
Barat (BW), menurut Hukum Islam, menurut Hukum Adat.
Ruang lingkup dari hukum perkawinan meliputi syarat-syarat perkawinan, hak dan
kewajiban suami istri, percampuran kekayaan, perjanjian perkawinan, perceraian dan
terakhir tentang pemisahan harta kekayaan.

Ruang Lingkup dari Hukum keluarga meliputi keturunan, kekuasaan orang


tua,hubungan anak dengan orang tua, perwalian, pengampuan, hubungan anak dengan
kerabat.

3.2 Saran
Sebagaimana pepatah “tak ada gading yang tak retak”. Dalam penyusunan
makalah ini jika masih banyak terdapat kekeliruan dalam penyampaian materi dan dalam
segi penulisannya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Daftar Pustaka

Subekti. 1989. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta : Internusa.


Tutik, Titik T. 2008. Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional. Surabaya : Kencana.
Kolkman, W.D. Rosa Agustina. Leon C.A. Verstapen. Sri Natin. Suharnoko. Sulastriyono.
Hukum Tentang Orang, Hukum Keluarga, dan Hukum Waris di Belanda dan Indonesia. Jakarta :
Pustaka Larasan.