Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS

KEJANG DEMAM SEDERHANA

Disusun untuk memenuhi syarat kepaniteraan klinik


di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Bethesda
pada Program Pendidikan Dokter tahap Profesi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Disusun oleh :
Mega Dwi Putri Sugianto
42170130

Pembimbing :
dr. Margareta Yuliani, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT BETHESDA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2017
BAB I
KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
• Nama : An. RS
• No. RM : 02-05-xx-xx
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Tanggal Lahir : 15 April 2012
• Usia : 5 tahun, 6 bulan, 1 hari
• Alamat : Gunungkidul, Grogol V
• Masuk Bangsal : 18 Oktober 2017

B. ANAMNESIS
Alloanamnesis dilakukan dengan ibu pasien pada tanggal 19 Oktober 2017
1. Keluhan Utama
 Kejang
 Demam
2. Riwayat Penyakit Sekarang
 1 HSMRS (Selasa, 17 Oktober 2017)
Pasien mengalami batuk sejak Selasa pagi. Pada Selasa malam (sekitar pukul
10.00), pasien mengeluhkan demam. Pasien tidak diberikan obat.
 HMRS (Rabu, 18 Oktober 2017)
Pasien mengalami kejang pada hari Rabu pagi dan segera dibawa ke IGD RS
Bethesda Yogyakarta.
Kejang berlangsung ± 5 menit dan generalisata.
Pasien juga masih mengeluhkan batuk.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat keluhan serupa (+)
• Riwayat kejang demam (+) sewaktu usia 1,5 tahun pasien pernah mengalami kejang
demam karena DF.
• Riwayat alergi (-)
• Riwayat asma (-)

4. Riwayat Penggunaan Obat


Tidak ada

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat kejang demam (+) kakak kedua dan sepupu dari Ayah pasien
Riwayat alergi (-)
Genogram :

6. Riwayat Makan
• 0 bulan – 2 bulan  ASI, susu formula
• 2 bulan – 6 bulan  ASI, susu formula, MPASI (bubur saring)
• 6 bulan – 2 tahun  ASI, susu formula, MPASI (bubur saring, bubur)
• 2 tahun – sekarang  Makanan keluarga, susu formula
Kesan : anak tidak mendapat ASI Eksklusif, pemberian MPASI terlalu dini.
7. Lifestyle
Pasien merupakan anak yang aktif.
Sehari-hari pasien makan 3-4x dengan menu makanan keluarga dan masih
mengonsumsi susu formula.

8. Riwayat Persalinan
• Antenatal Care
Kunjungan ANC selama kehamilan dilakukan rutin di dokter spesialis kandungan
• Riwayat penyakit saat hamil
Tidak ada
• Vaksin TT
Vaksin TT diterima Ibu sebelum menikah
• Partum
OS lahir pada usia kehamilan 37 minggu secara SC di RS Bethesda Yogyakarta.
BBLC (3800 gram) dengan PB 51 cm.
• Post partum
Keadaan bayi sehat, kulit kemerahan, menangis kuat, gerak aktif, air ketuban jernih.

9. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


Motorik
Usia Motorik kasar Bahasa Sosial
halus
3 Memegang
Mengangkat kepala Tertawa/berteriak Bisa tersenyum
bulan mainan
4 Menoleh ke arah
Membalik badan Mengamati Mengamati tangannya
bulan suara
Menggaruk
6 Menirukan kata- Memasukkan
Duduk manik-manik,
bulan kata/mengoceh makanan ke mulut
meraih
9-10 Bangkit untuk Mengambil Berbicara satu Melambaikan tangan,
bulan berdiri kubus kata meminta
Menaruh
12 Berjalan Berbicara dua
kubus di Menirukan kegiatan
bulan berpegangan kata
cangkir
14 Mencorat- Menggunakan sendok
Berjalan sendiri Berbicara 3 kata
bulan coret garpu
Menyusun
20 Berjalan naik
menara dari Kombinasi kata Membuka pakaian
bulan tangga
kubus
Menyusun
2 Bicara sebagian Gosok gigi dengan
Melempar bola menara dari
tahun dimengerti bantuan
kubus
Mencuci dan
3 Berdiri 1 kaki 2 Menggoyangk Menyebut 1 mengeringkan tangan,
tahun detik an ibu jari warna makan sendiri, minum
dengan cangkir
4-5 Mampu melompat
Memakai pakaian
tahun dan menari

Kesan : riwayat tumbuh kembang pasien sesuai dengan usia, pasien sudah bersekolah dan tidak
ada kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah.

10. Riwayat Imunisasi


Imunasi Dasar :
• BCG diberikan 1 kali, umur 2 bulan.
• DPT diberikan 3 kali, umur 2, 4, 6 bulan.
• Polio diberikan 3 kali, umur 2, 4, 6 bulan.
• Hepatitis B diberikan 3 kali, umur 0, 1, 6 bulan.
• Campak diberikan 2x, umur 9 dan 24 bulan
Kesan: Imunisasi dasar lengkap sesuai usia.
11. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah anak ketiga dari 3 bersaudara. Ayah pasien bekerja sebagai pegawai
swasta dan ibu pasien sebagai IRT. Biaya pengobatan secara pribadi.
Kesan : keadaan sosial ekonomi baik

12. Data Perumahan


Pasien tinggal di rumah bersama ayah, ibu dan kedua kakak laki-lakinya.
Pengasuh pasien adalah ibu pasien.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan di Bangsal G3 (19 Oktober 2017)
1. Keadaan Umum : Sedang
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Vital Sign :
 Denyut nadi : 120 x/menit
 RR : 20 x/menit
 Suhu : 38 oC
4. Status Gizi :
 Berat Badan : 21 kg
 Tinggi Badan : 115 cm
5. Status Lokalis
 Kepala
Kepala : Normocephali
Mata : Hematoma (-), Sklera Ikterik (-/-), Conjungtiva Anemis (-/-),
pupil isokor, refleks cahaya (+/+), mata cekung (-)
Hidung : Nafas cuping hidung (-), discharge hidung (-)
Mulut : Mulut sianosis (-), mukosa oral basah
Telinga : Edema (-), discharge telinga (-), kelainan anatomi (-)
 Leher
Pembesaran KGB (-)
 Thorax (Pulmo)
Inspeksi : Gerakan dada simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi interkosta
(-), jejas (-)
Palpasi : Tidak teraba benjolan
Perkusi : Sonor kedua lapang paru
Auskultasi : Suara paru vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
 Thorax (Cor)
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Tidak teraba benjolan
Perkusi : Redup
Auskultasi : Bising jantung (-)
 Abdomen
Inspeksi : Distensi (-)
Auskultasi : Bising usus (+)
Perkusi : Timpani
Palpasi : Abdomen teraba supel, pembesaran organ intra abdomen (-), turgor
kulit normal, nyeri tekan (-)
 Ekstremitas
Gerakan aktif, akral teraba hangat, perabaan nadi cukup kuat dan reguler, capillary
refill <2 detik, edema (-)

D. RESUME
Dari hasil anamnesis didapatkan hasil :
Anak laki-laki berusia 5 tahun dirawat di bangsal G3 anak dengan keluhan kejang, demam,
dan batuk. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang, compos mentis,
denyut nadi 120x/menit, RR 20x/menit, suhu 38⁰C, kepala normocephali, pulmo, cor, dan
abdomen dalam batas normal.

E. DIAGNOSIS BANDING
1. Kejang
- Kejang demam sederhana
- Epilepsi
2. Batuk
- ISPA (susp. bronkhitis)

F. PLANNING
• Pemeriksaan darah rutin
• Pemeriksaan kadar elektrolit darah
• Pemeriksaan EEG
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hemoglobin 11,4 g/dL 10,2 – 15,2 g/dL
Lekosit 13,63 rb/mmk 5,0 – 17,0 rb/mmk
Eosinofil 0,1 % 1–5%
Basofil 0.1 % 0–1%
Segmen Neutrofil 78,8 % 32 – 52 %
Limfosit 6,8 % 23 – 53 %
Monosit 14,2 % 2 – 11 %
Hematokrit 33,3 % 40,0 – 54,0 %
Eritrosit 4.35 juta/mmk 4,00 – 5,30 juta/mmk
RDW 13,1 % 11,5 – 14,5 %
MCV 76,6 fL 80 – 94 fL
MCH 26,2 pg 26 – 32 pg
MCHC 34,2 g/dL 32 – 36 g/dL
Trombosit 222 /mmk 150 - 450 / mmk
MPV 10,5 fL 7,2 – 11,1 fL
PDW 10,15 fL 9,0 – 13,0 fL

H. DIAGNOSIS KERJA
• Kejang demam sederhana
• ISPA

I. TERAPI
 Terapi cairan : Infus RL; BB : 21 kg
100 ml untuk 10 kg pertama = 1000 ml
50 ml untuk 10 kg berikutnya = 500 ml
25 ml untuk 1 kg berikutnya = 25 ml
Kebutuhan total cairan anak = 1525 ml
Anak di infus dengan infus makro:
1
𝑥 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑡𝑒𝑠
3
=
𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝑗𝑎𝑚 𝑥 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)
1
𝑥 1525 𝑥 20
3
=
24 𝑥 60
= 7 tpm
 Anti konvulsan : Diazepam per rektal 10 mg (BB >10 kg)
 Anti piretik : Paracetamol injeksi 15 mg/kgBB, dapat diulang
dengan interval 6 jam
 Antitusif : Dekstrometorphan 1mg/kgBB dibagi dalam 3x
pemberian
 Antibiotik : Kotrimoksazol 480 mg setiap 12 jam

J. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam

K. FOLLOW UP HARIAN
Hari ke I (18/10/2017)
S Demam belum stabil, kejang (-)
O KU: Sedang, CM
VS: T= 37,3/38,3 ; RR= 20x/mnt ; HR= 110x/mnt
Status Lokalis
Kepala : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), mata cekung (-)
Thorax : Dinding dada simetris , suara paru vesikuler (+/+), jantung dalam batas normal
Abd : distensi (-), peristaltik (+)
Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk , nadi kuat dan regular
A  KDS
 ISPA
P • Infus RL
• Pamol 4x250 mg
• Sanprima 2x10
• Luminal 15 mg 3x1 bks
• Profilas ¼ Cetrizine 1/8 Ataroc 1/XII

Hari ke II (19/10/2017)
S Demam (+), kejang (-), batuk (+)
O KU: Sedang, CM
VS: T= 37,6 ; RR=20x/mnt ; HR= 110x/mnt
Status Lokalis
Kepala : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), mata cekung (-)
Thorax : Dinding dada simetris , suara paru vesikuler (+/+), jantung dalam batas normal
Abd : distensi (-), peristaltik (+)
Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk , nadi kuat dan regular
A  KDS
 ISPA
P • Infus RL
• Evaluasi demam
• Pamol 4x250 mg
• Sanprima 2x10
• Luminal 15 mg 3x1 bks
• Profilas ¼ Cetrizine 1/8 Ataroc 1/XII

Hari ke III (20/10/2017)


S Demam (-), kejang (-), batuk berkurang
O KU: Sedang, CM
VS: T= 36⁰C ; RR=20x/mnt ; HR= 100x/mnt
Status Lokalis
Kepala : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), mata cekung (-)
Thorax : Dinding dada simetris , suara paru vesikuler (+/+), jantung dalam batas normal
Abd : distensi (-), peristaltik (+)
Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk , nadi kuat dan regular
A  KDS
 ISPA
P • Infus RL
• Evaluasi demam
• Pamol 4x250 mg
• Sanprima 2x10
• Luminal 15 mg 3x1 bks
• Profilas ¼ Cetrizine 1/8 Ataroc 1/XII
BAB II
LANDASAN TEORI
I. KEJANG DEMAM
A. DEFINISI
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal di atas 38⁰ C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium (IDAI, 2013).

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


• Demam pemicu kejang (proses ekstrakranial), paling banyak merupakan ISPA,
OMA, ISK, roseola.
• Genetik, keturunan mempunyai ambang kejang yang rendah.
• Usia, anak dengan usia <5 tahun lebih rentan terkena kejang demam.
• Jenis kelamin, laki-laki lebih rentan terkena kejang demam (Irdawati, 2009).

C. PATOGENESIS
Demam adalah kenaikan suhu karena adanya kenaikan titik ambang regulasi panas
oleh hipotalamus. Setiap kenaikan suhu sebanyak 1⁰C, metabolisme karbohidrat tubuh
akan meningkat sebanyak 10-15%. Hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan
glukosa dan oksigen, yang dapat menyebabkan hipoksia jaringan terutama jaringan
otak.
Hipoksia jaringan otak menyebabkan gangguan fungsi fisiologis pompa kanal
natrium dan reuptake asam glutamate oleh sel glia. Akibatnya, ion Na banyak masuk
ke dalam intrasel, dan juga terjadi penumpukan asam glutamate ekstrasel. Asam
glutamate akan meningkatkan permeabilitas membran sel terhadap ion Na, yang
menyebabkan ion Na semakin banyak masuk ke dalam sel.
Terjadinya peningkatan ion Na intrasel menyebabkan terjadinya Na influx dan
menyebabkan perubahan potensial membran sel. Sel akan berada dalam kondisi
depolarisasi dan akan mengakibatkan kejang.
D. KLASIFIKASI
1. Kejang demam sederhana
• Berlangsung <15 menit
• Tonik-klonik
• Tidak berulang dalam 24 jam
2. Kejang demam kompleks
• Berlangsung >15 menit
• Fokal
• Berulang atau terjadi >1x dalam 24 jam (Irdawati, 2009).
E. DIAGNOSIS
• ANAMNESIS
- Terjadi kejang yang didahului oleh demam
- Faktor resiko infeksi penyebab demam
- Tipe kejang (seluruh tubuh/bagian tertentu; durasi kejang)
- Riwayat penurunan kesadaran
- Riwayat trauma (terutama kepala), riwayat tumbuh kembang, riwayat
kejang, fungsi neurologis
- Riwayat kejang demam pada keluarga
• PEMERIKSAAN FISIK
- Vitalsign  suhu tubuh meningkat
- Kelainan neurologis paska kejang  tidak ada
- Pemeriksaan meningeal  curiga meningitis
- Tanda-tanda peningkatan TIK  kesadaran, muntah proyektil, fontanela
menonjol, papil edema
- Tanda-tanda infeksi  infeksi telinga, infeksi saluran napas, dll
• PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemeriksaan darah rutin
- Pemeriksaan elektrolit
- Pemeriksaan gula darah
- Pungsi lumbal  klinis mengarah ke meningitis/infeksi SSP; bayi <12
bulan dengan riwayat imunisasi HIB dan S. pneumonia (-)
- EEG  kejang demam kompleks, kejang demam pada anak usia >6 tahun
- CT-Scan  makro/mikrosefali, kelainan neurologi menetap (terutama
hemiparesis), papilledema (IDAI, 2013).

F. TERAPI

(Deliana, 2012)
Indikasi pengobatan rumatan
• Kejang >15 menit
• Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
• Kejang fokal
• Pertimbangan pengobatan rumat apabila:
a. Kejang berulang ≥ 2x dalam 24 jam
b. Kejang demam pada bayi <12 bulan
c. Kejang demam ≥ 4x dalam setahun (IDAI, 2013)

G. PROGNOSIS
• Kemungkinan mengalami kecacatan/kelainan neurologis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada
pasien yang sebelumnya normal.
Terjadinya kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus biasanya terjadi
pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau fokal.
• Kemungkinan mengalami kematian
Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.
• Kemungkinan kejang demam berulang
o Usia <12 bulan
o Riwayat kejang demam pada keluarga
o Temperatur yang rendah saat kejang
o Cepatnya kejang setelah demam (IDAI, 2013)
H. EDUKASI
• Meyakinkan orangtua bahwa prognosis kejang umumnya baik
• Cara penanganan kejang
- Orang tua harus tetap tenang dan tidak panik
- Kendorkan pakaian yang ketat terutama sekitar leher
- Bila anak tidak sadar, posisikan terlentang dengan kepala miring, bersihkan
jika ada lendir dan muntah
- Tetap bersama pasien selama kejang
- Berikan diazepam per rektal sesuai dosis berat badan
- Bawa ke rumah sakit jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit dan tetap
kejang meski sudah diberikan diazepam
• Memberi informasi kemungkinan terjadinya kejang berulang
• Efek samping obat (IDAI, 2013)
II. ISPA
A. DEFINISI
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan (hidung hingga paru, beserta organ sekitarnya:
sinus, ruang telinga tengah, selaput paru) yang berlangsung <14 hari.

B. ETIOLOGI
Sebagian besar infeksi pada saluran napas akut disebabkan oleh virus. Untuk
peradangan pada ruang telinga akut, sebagian besar disebabkan oleh bakteri.

C. KLASIFIKASI
• Pneumonia
o Batuk
o Takipneu
o Sesak nafas yang ditandai dengan nafas cuping hidung
o Demam
• Bukan pneumonia
o Klinis: batuk pilek
o Demam
o Tanpa retraksi dinding dada dan tanpa takipneu
o Contoh: rhinitis, faringitis, tonsillitis, dan lainnya (WHO, 2008)
D. TERAPI
• Pneumonia
o Kotrimoksazol 480 mg/12 jam
o Golongan penisilin, seperti amoksisilin 125 mg/8 jam
• Bukan pneumonia
o Dekstrometorphan 1mg/kgBB dibagi dalam 3x pemberian
o Salbutamol 0,3mg/kgBB dibagi dalam 3x pemberian
o Antihistamin (cetirizine) 5 mg/hari (Kemenkes RI, 2011)
DAFTAR PUSTAKA

Deliana, Melda. (2012). Tatalaksana Kejang Demam pada Anak, Sari Pediatri IDAI, Vol. 4. No
2. Jakarta: Sari Pediatri
IDAI. (2013). Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Badan Penerbit IDAI
Irdawati. (2009). Kejang Demam dan Penatalaksanaannya. Kartasura: FIK UMS
Kemenkes RI. (2011). Pedoman Pengendalian ISPA. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
WHO. (2008). Epidemic-prone and Pandemic-prone Acute Respiratory Diseases.