Anda di halaman 1dari 5

3.

Identifier Statis

Merupakan identifier yang memiliki sifat statis. Artinya, nilai dari variabel tersebut akan tetap diingat
oleh program sehingga dapat digunakan untuk menyimpan state pada saat pemanggilan nilai variabel
itu pada kesempatan berikutnya. Nilai variabel statis akan sama dengan nilai terakhirnya.

Contoh variabel statis:

#include <studio.h>
#include <conio.h>

void coba_static (int a) {


static int b=3 ;
int c=1 ;

printf (“b awal : %d\”,b) ;


b += a;
printf (“b akhir : %d\n”,b) ;

printf (“c awal : %d\n”,c) ;


c += a;
printf (“c akhir : %d\n”,c) ;
}

Int main ( ) {
int a=2;
coba_static (a) ;
a=3 ;
coba_static (a) ;
getch ( ) ;
}

Hasil Program :
8.2 BAGAN SCOPE IDENTIFIER
int A,B ;
int main ( )
{
/* blok main */
float c ;
{
/* blok statement 1 */
int D ;

}

/ / variabel E bersifat global untuk blok bawahnya

double E ;
double fungsi (void) {
double F ;

}

int Fungsi2 (void) {

char G ;
/* blok statement 2 */
{
int H ;

}

/* blok statement 3 */
{
int I ;

}

Tabel Scope Identifier :


Penggunaan variabel local lebih disarankan, karena dengan menggunakan variabel global maka akan
muncul dampak sebagai berikut :

1. Memboroskan memori komputer karena komputer masih tetap menyimpan nilainya walau
sudah tidak diperlukan lagi.
2. Mudah terjadi kesalahan program karena satu perubahan dapat menyebabkan perubahan
menyeluruh pada program.
3. Pembuatan fungsi lebih sulit karena harus diketahui variabel global apa saja yang digunakan.
4. Pendeteksian kesalahan program lebih sulit dilakukan.