Anda di halaman 1dari 5

TUGAS MAKALAH

SANITASI PENANGANAN LIMBAH DAN LINGKUNGAN


“Pengolahan Limbah Abon Ikan Lele”

Kelompok 3:
1. Banat Mubarokah H0915014
2. Fransisca Dwi J. H0915026
3. Heni Widyastutik H1917032
4. Kennard Nathanael H0915039
5. Linta Qisthi Novia H0915045
6. Mustika Sari H0915053
7. Ramah Sugihati H0915064
8. Ronaldi Setiawan H0915071
9. Santy Maharani H0915077
10. Yuliana Ispriyanti H0915087

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
A. Sumber Limbah
Abon ikan lele merupakan produk kering olahan ikan yang dibuat dari daging
ikan, diproses secara tradisional melalui perebusan, pemberian bumbu, dan
penggorengan (Dewi dkk., 2011). Sumber limbah abon ikan dihasilkan dari tahapan
proses pembuatan abon ikan lele. Sumber limbah dalam proses pengolahan meliputi
limbah cair dan limbah padat. Pada prinsipnya proses pembuatan abon ikan meliputi
penyiangan, pencucian, pengukusan, pencampuran, dan penggorengan. Tahapan proses
pembuatan abon ikan lele dimulai dengan menyiangi ikan, tujuannya untuk
memisahkan antara bagian yang digunakan dan tidak digunakan yaitu dengan
membuang kepala, isi perut, kulit, dan buntut. Setelah disiangai, daging ikan dicuci
hingga bersih untuk menghilangkan darah dan dikukus hingga menghasilkan tekstur
yang lebih lunak. Daging yang telah dikukus disuir-suir untuk memperkecil ukuran
menggunakan tangan atau garpu. Selanjutnya daging yang sudah disuir-suir digoreng
dengan mencampurkan bumbu-bumbu yang tersedia. Abon yang sudah matang
ditiriskan minyaknya menggunakan mesin press dan abon disisiri untuk membentuk
tekstur khas abon yaitu seperti serat.
Dari uraian proses tersebut dapat diketahui sumber limbah pengolahan abon ikan
lele dihasilkan dari proses penyiangan yang mengghasilkan limbah padat berupa
kepala, isi perut, kulit, dan buntut. Limbah cair dihasilkan dari proses pencucian yang
bertujuan untuk menghilangkan darah dan minyak hasil penggorengan serta penirirsan
abon.
B. Pengolahan Limbah Abon Ikan Lele
1. Limbah Cair
Limbah cair pada UKM pengolahan abon ikan lele meliputi limbah dari proses
pencucian ikan, limbah rebusan, limbah perasan daging ikan, dan limbah minyak
goreng. Limbah cair pada pengolahan ikan diduga masih memiliki nilai gizi berupa
protein sarkoplasma yang bersifat larut dalam air.
 Limbah pencucian ikan
Selama proses pencucian, pada UKM air limbah pencucian belum dilakukan
pengolahan lebih lanjut dan dibuang melalui saluran air menuju ke tanah, dan
langsung diserap tanah. Belum ada perlakukan terlebih dahulu sebelum limbah
dibuang ke lingkungan. Limbah pencucian ikan mengandung darah, kotoran,
dan bagian dari ikan yang terlarut dalam air cucian. Air limbah tidak
mengandung zat-zat kimia yang berbahaya.
 Limbah rebusan ikan, dan perasan daging ikan
Air rebusan ikan mengandung banyak protein yang terlarut selama perebusan.
Sehingga limbah cair ini dapat dioptimalkan dengan memanfaatkannya sebagai
bahan tambahan dalam pembuatan pakan ternak bebek berbentuk pasta atau
sebagai flavor kerupuk maupun diolah lebih lanjut menjadi produk kecap ikan
2. Limbah Padat
Limbah padat dari produksi abon ikan lele berupa isi perut (jeroan), kepala,
ekor, tulang, kulit, maupun sirip. Perlu dilakukan penanganan limbah terhadap
adanya limbah padat tersebut. Limbah jeroan dan kepala ikan lele dapat
dimanfaatkan sebagai silase (pakan ikan atau ternak). Pengolahan silase dari jeroan
dan kepala ikan menggunakan prinsip pengawetan dengan penambahan asam.
Jeroan dan kepala ikan dihaluskan lalu disaring dan ditambahkan asam formiat
dalam pencampuran hasil penyaringan (Adityana, 2007).
Limbah ekor, kulit dan sirip ikan lele dapat dimanfaatkan menjadi keripik.
Pengolahan menjadi keripik dapat meminimalisir jumlah limbah yang dihasilkan
dari ikan lele untuk pengolahan abon. Limbah tulang ikan lele menjadi hasil
samping dari pengolahan abon lele yang jumlahnya cukup banyak. Penanganan
limbah tulang lele dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan tulang ikan menjadi
tepung tulang ikan maupun untuk pembuatan gelatin. Limbah padat lainnya yang
dihasilkan dari produksi abon lele adalah rempah-rempah. Penanganan limbah
rempah-rempah yang bersifat organik dilakukan dengan pembuangan limbah ke
tempat sampah khusus bahan organik atau mengolahnya menjadi pupuk organik
melalui proses fermentasi.
C. Pemanfaatan Limbah
1. Limbah Padat
 Tulang Ikan
Tepung Tulang Ikan. Proses pembuatan tepung tulang dimulai dengan: limbah ikan
berupa tulang dicuci dengan air sampai bersih. Kemudian direbus selama 30 menit
pada suhu 100°C. Setelah tulang direbus dimasukkan ke dalam autoklaf selama 45-
60 menit pada suhu 121°C sampai tulang menjadi lunak. Selanjutnya dilakukan
penggilingan I dengan blender, pengovenan selama 17 jam pada suhu 70°C
kemudian penggilingan II sampai halus. Dilanjutkan dengan pengayakan sehingga
menjadi tepung tulang ikan (Thalib, 2009). Tepung ikan dapat ditambahkan pada
produk ekstrusi, roti, biskuit dan kue kering (Nabil, 2005).
 Kulit dan ekor ikan lele
Proses pembuatan keripik kulit ikan adalah dengan: limbah kulit ikan dicuci hingga
bersih, kemudian direndam menggunakan air kapur selama 1-2 jam, lalu ditiriskan.
Setelah itu kulit ikan dipotong seragam, direndam bumbu selama 5-10 menit sampai
meresap, dijemur hingga benar-benar kering. Setelah kering lalu bisa digoreng
(Indraswari, 2003).
 Kepala ikan dan isi perut
Pemanfaatan limbah kepala ikan, isi perut ikan dan limbah nanas untuk pakan
unggas dengan cara pemeraman limbah kepala ikan dan isi perut ikan dengan
bantuan enzim bromelin yang terdapat pada seluruh bagian nanas (Widyakarya
Pangan Gizi LIPI, 2004).
2. Limbah Cair
a. Pemanfaatan limbah cair berupa hasil pencucian ikan lele sebagai Pupuk
Organik
Menurut Dwicaksono dkk (2014) limbah cair industri abon ikan tidak dapat
dimanfaatkan langsung sebagai pupuk cair karena mengandung lemak dan
protein yang tidak dapat diserap langsung oleh tanaman. Perlu adanya
penguraian kandungan organik dalam limbah cair tersebut, tujuannya untuk
memecah senyawa komplek menjadi senyawa-senyawa organik yang sederhana
sehingga tanaman lebih mudah menyerap nutrisi yang terkandung dalam pupuk
cair organik tersebut. Pembuatan pupuk organik dapat ditambahkan aktivator
berupa EM4 (effective microorganisms). Produk EM4 pertanian merupakan
produk bakteri fermentasi bahan organik tanah yang dapat menyuburkan tanah
dan menyehatkan tanah.
b. Pemanfaatan limbah minyak jelantah hasil dari penggorengan abon menjadi
Biodiessel
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan beberapa kali
penggorengan. Minyak jelantah dapat bermanfaat jika dapat diolah dengan
tepat. Salah satu proses penanganan terhadap minyak jelantah adalah
mengolahnya menjadi biodiesel karena memiliki asam lemak yang tinggi.
(Satriana dkk, 2012).
DAFTAR PUSTAKA

Adityana, D. 2007. Pemanfaatan Berbagai Jenis Silase Ikan Rucah Pada Produksi Biomassa
(Artemia Franciscana). Skripsi. Biologi MIPA UNS. Surakarta.
Dewi EN, Ibrahim R, Yuaniva N 2011. Daya Simpan Abon Ikan Nila Merah (Oreochromis
niloticus Trewavas) Yang Diproses Dengan Metoda Penggorengan Berbeda. Jurnal
Saintek Perikanan 6(1): 6-12.
Dwicaksono dkk. 2013. “Effect of Effective Microorganisms Additions on the Wastewater
from Fishing Industry for Organic Liquid Fertilizers”. Jurnal Sumber Daya Alam dan
Lingkungan. Universitas Brawijaya
Indraswari, C.H. 2003. Rambak Kulit lkan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Nabil, M. 2005. Pemanfaatan Limbah Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp.) sebagai Sumber Kalsium
dengan Metode Hidrolisis Protein. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan,
IPB
Satriana., Elhusna, N., Desrina., Supardan, D. 2012. Karakteristik Biodiesel Hasil
Transesterifikasi Minyak Jelantah Menggunakan Teknik Kavitasi Hidrodinamik. Jurnal
Jurusan Teknik Kimia. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
Thalib, A. 2009. Pemanfaatan Tepung Tulang Ikan Madidihang (Thunnus albacores) sebagai
Sumber Kalsium dan Fosfor untuk Meningkatkan ilai Gizi Makron Kenari. Skripsi.
Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Widyakarya Pangan Gizi LIPI. 2004. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Bangsa.
Dalam: Pangan dan Gizi Masa Depan. Serpong, 17-19 Februari 1998. Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia, Jakarta