Anda di halaman 1dari 4

GangguanPendengaran

Gangguan pendengaran adalah istilah generik yang mengindikasikan ketidak


mampuan mendengar yang bervariasi tingkat keparahannya, mulai dari ringan
sampai berat, termasuk ketulian dan kesulitan mendengar. Gangguan pendengaran
dapat disebut juga dengan ketulian. Orang tuli yaitu orang yang tidak mampu
mendengar sedemikian rupa sehingga menghalangi keberhasilan pemrosesan
informasi linguistic melalui pendengaran dengan atau tanpa alat bantu dengar.
Orang dengan kesulitan pendengaran yaitu orang yang dengan menggunakan alat
bantu dengar mempunyai pendengaran sisa yang cukup untuk dapat memproses
informasi linguistic melalui pendengaran (Latifah, 2010).

Tuli dalam kedokteran dibagiatas 3 jenis, yaitu (Gabriel, 1988):

1. Tuli/Gangguan Dengar Konduksi yaitu gangguan dengar yang disebabkan


kelainan di telinga bagian luar dan/atau telinga bagian tengah, sedangkan
masih baik, dapat terjadi pada orang denganinfeksitelingatengah, infeksi
telinga luar atau adanya serumen di liang telinga.
2. Tuli/Gangguan Dengar Saraf atau Sensorineural yaitu gangguan dengar
akibat kerusakan saraf pendengaran, meskipun tidak ada gangguan di
telinga bagian luar atau tengah.
3. Tuli/Gangguan Dengar Campuran yaitu gangguan yang merupakan
campuran kedua jenis gangguan dengar di atas, selain mengalami kelainan
di telinga bagian luar dan tengah juga mengalami gangguan pada saraf
pendengaran.

Adapun beberapa gangguan yang dikelompokkan berdasakan tempat terjadinya


gangguan pada bagian telinga :
1. Telingaluar : jalur pendengaran tertutup oleh benda asing
seperti serumen
2. Telinga tengah :lubang/sobeknya gendang telinga, koklea sakit
yang disebabkan tidak adanya kecocokan
impedansi antara udara dan konduksi tulang.
3. Telingadalam : Bising yang berkepanjangan karena cidera
pendengaran, transmisi suara ke otak tidak
memadai

Epidemiologi
Di dunia, menurutperkiraan WHO padatahun 2005 terdapat 278 juta orang
menderitagangguanpendengaran, 75 - 140 jutadiantaranyaterdapat di Asia
Tenggara. Dari hasil WHO Multi Center Study padatahun 1998, Indonesia
termasuk 4 (empat) negara di Asia Tenggara denganprevalensiketulian yang
cukuptinggi (4,6%), 3 (tiga) lainnyaadalah Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%)
dan India (6,3%) (WHO, 2006).

Faktor-faktor Yang MempengaruhiDayaDengar


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi daya dengar menurut Kusumawati
(2012) adalah sebagai berikut:
1. Kebisingan
Menurut Kementrian Lingkungan Hidup (1996), kebisingan adalah bunyi
yang tidak diinginkan dari suatu kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia khususnya
gangguan pendengaran dan kenyamanan lingkungan. Gangguan
pendengaran yang diakibatkan oleh kebisingan berkaitan erat dengan masa
kerja dan intensitas kerja. Jika dilihat berdasarkan masa kerja, pekerja
yang pernah/sedang bekerja di lingkungan bising selama lima tahun atau
lebih maka berisiko terkena penyakit gangguan pendengaran dan jika
dilihat berdasarkan intensitas kerja, pekerja akan berisiko terkena penyakit
gangguan pendengaran bila bekerja lebih dari 8 jam/hari dengan intensitas
bising yang melebihi 85 dBA (Kusumawati, 2012).
2. Umur
Gangguan pendengaran akibat bertambahnya umur disebabkan oleh
perubahan patologi pada organ auditori (Kusumawati, 2012). Perubahan
patologi yang terjadi antara lain pada telinga luar dengan perubahan yang
paling jelas berupa berkurangnya elastisitas jaringan daun telinga dan
liang telinga. Perubahan lainnya adalah adanya penyusutan jaringan lemak
yang memiliki fungsi sebagai bantalan pada telinga.
3. Penggunaan obat-obatan yang bersifat ototoksik
Mengkonsumsi obat-obatan yang memiliki sifat ototoksik seperti
antibiotic aminoglikosid selama 14 hari baik diminum atau pun melalui
suntikan akan dapat menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran
(Kusumawati, 2012). Ototoksik adalah gangguan pendengaran yang terjadi
akibat efek samping dari konsumsi obat- obatan.
4. Riwayat infeksi telinga
Otitis media (OA) merupakan peradangan telinga tengah yang disebabkan
oleh virus ataupun bakteri. Otitis media merupakan suatu infeksi yang
memicu terjadinya peradangan dan penumpukan cairan pada telingag
tengah. Bakteri yang dapatmenyebabkan otitis media adalah Streptococcus
pneumoniae, Haemophilusinfluenzaedan Moraxella cattarhalis. Sedangkan
virus yang dapatmenyebabkan otitis media adalah Respiratory syncytial
virus, Influenza virus, Rhinovirus dan Adenovirus. Telinga yang terinfeksi
bakteri atau virus dapat memicu timbulnya tinnitus.
5. Kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok adalah kebiasaan membakar tembakau kemudian
menghisap asapnya baik menggunakan rokok ataupun melalui pipa
(Fawzani, dkk., 2005). Kebiasaan merokok merupakan salah satu
penyebab terkena penyakit gangguan pendengaran (Kusumawati, 2012).
Kandungan pada rokok yang menjadi penyebab terjadinya gangguan
pendengaran adalah zat nikotin. Zat nikotin merupakan zat yang bersifat
ototoksik. Karbonmonoksida yang terkandung dalam rokok juga
mempunyai dampak menimbulkan penyakit gangguan pendengaran.
Kandungan karbonmonoksida pada rokok menyebabkan iskemia melalui
produksi karboksi-hemoglobin (ikatan antara CO dan hemogoblin),
dengan terbentuknya ikatan tersebut maka menyebabkan hemoglobin tidak
efisien dalam mengikat oksigen. Suplai oksigen ke organ korti di koklea
menjadi terganggu dan menimbulkan efek iskemia.
Latifah, Melly. 2010. Implikasi Assessment Dan Diagnosis
PadaAnakPenderitaGangguanPendengaranTerhadap Treatment Dan
Pendidikannya. Program StudiIlmuKeluargadanPangan. IPB Bandung.

Gabriel, J.F. 1988. Bunyi; in FisikaKedokteran, vol. 3, p.69 - 75 (EGC, Jakarta).

World Health Organization, 2006. Deafness and Hearing Impairment


.Diunduhdari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs300/en

Kusumawati, Indah, 2012, Hubungan Tingkat Kebisingan di


LingkunganKerjadenganKejadianGangguan P endengaranPadaPekerja di PT X,
Skripsi, FakultasKesehatanMasyarakat, Program StudiKesehatanMasyarakat
,Universitas Indonesia, Depok