Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN HIPERTENSI

Disusun Oleh:

Nama : SARUNAI RAMIATI


NIM : 144012017000881

POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA


PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
2018
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI

Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai faktor-faktor


yang menyangkur Lanjut Usia(Nugroho Wahyudi, 1992).
Gerontik adalah ilmu yang mempelajari, membahas, meneliti segala bidang
masalah Lanjut Usia, bukan saja mengenai kesehatan namun juga menyangkut sosial
kesejahteraan, pemukiman, lingkungan hidup, pendidikan, perundang-
undangan(Josaputra, 1987).
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses
kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada tahap
ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya
kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya.
Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuaan normal, seperti rambut yang
mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca indera,
serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi integritas orang usia
lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri,
kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal
tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi
secara bijak (Soejono, 2000). Penuaan merupakan proses normal perubahan yang
berhubungan dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup.
Usia tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan.
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik,
yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di
ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi
dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas
dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi
manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam
setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya
(Darmojo, 2004).
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU No. 4 Tahun 1965 adalah seseorang
yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan
hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan
menurut UU No. 12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (lanjut usia) adalah
seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut adalah
sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis.
Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian
(Hutapea, 2005).
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980: 380) terdapat beberapa ciri-ciri orang lanjut
usia,yaitu:
a. Usia lanjut merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis.
Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi memiliki peran yang
penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran pada lansia semakin cepat
apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki motivasi yang kuat
maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b. Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial
yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh pendapat-
pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise itu seperti: lansia
lebih senang mempertahankan pendapatnya dari pada mendengarkan pendapat
orang lain.
c. Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran
dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar
keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung
mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk
perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu membuat penyesuaian diri
lansia menjadi buruk Adapun pembagian atau batasan-batasan Lanjut Usia menurut
WHO meliputi:
a. Middle Age : 45-59 tahun
b. Elderly : 60-70 tahun
c. Old : 75-90 tahun
d. Very Old : Di atas 90 tahun
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.Pada manula hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan sistolik lebih dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih
dari 90 mmHg.(Brunner and Suddarth, 2002).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah pada orang dewasa, dan dikatakan
hipertensi bila tekanan darah sistoliknya lebih dari atau sama dengan 140 mmHg atau
tekanan darah diastoliknya lebih dari atau sama dengan 90 mmHg. (Sharon Mantik
Lewis, 2000).
Berdasarkan etiologi dibagi menjadi dua:
a. Hipertensi primer (idiopatik)
90% tidak diketahui penyebabnya, tetapi ada faktor pendukung:Stress psikososial
Obesitas, Kurang olah raga dan Merokok
b. Hipertensi primer
Yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain, yaitu: Penyakit ginjal, kehamilan,
obat-obatan (kontrasepsi).
Faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi;
a. Usia
b. Riwayat keluarga
c. Gaya hidup, konsumsi garam-garaman.
Pada mulanya hipertensi esensial atau primer yang belum diketahui secara pasti
penyebabnya. Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak pada pusat vasomotor, pada medula otak.Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem syaraf
simpatis ke ganglia simpatis. Neuron preganglia melepaskan asetilkolin yang akan
merangsang serabut syaraf pasca ganglia ke pembuluh darah. Kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan
konstriksi.Pada saat bersamaan dimana, sistem syaraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang
mengakibatkan aktivitas vasokonstriksi.Medula adrenal mensekresi epinefrin yang
menyebabkan vasokonstriksi korteks adrenal.Mensekresi kortisol dan steroid lainnya
yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah vasokonstriktor, kuat
yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal dan menyebabkan peningkatan
volume intravaskuler.
Faktor tersebut mencetuskan terjadinya hipertensi.Hipertensi ini lama kelamaan
menyebabkan penyempitan pembuluh darah besar, kecil pada jantung, otak, ginjal dan
pembuluh darah perifer-perifer.Sehingga aliran darah ke organ-organ tersebut dapat
terhambat sampai terjadi perdarahan akibat penyumbatan.Bila arteriola menyempit
maka tahanan perifer meningkat, jantung harus bekerja dan memompa lebih keras lagi
untuk mempertahankan cardiac output tetap normal.Bila hal ini terus berlanjut dapat
terjadi hipertrofi pada otot jantung, khususnya pada ventrikel kiri. Pada bagian atas yang
melewati kompensasi jantung, akan terjadi gagal jantung. Gangguan
endokrin/hormonal, gangguan ginjal, gangguan pembuluh darah, neurologis dapat
menyebabkan terjadinya hipertensi.Kadar kolesterol yang tinggi pada obesitas dapat
menimbulkan penyempitan pembuluh darah karena pelemakan pada dinding jantung
(intima) pembuluh darah. Dalam waktu yang sama jantung tidak dapat melakukan
kompensasi lagi sehingga terjadi gagal ginjal.
Klasifikasi hipertensi:
Sistolik Diastolik
Normal < 120 mmHg dan < 80 mmHg
Pre hipertensi 130-139 mmHg atau 80-89 mmHg
Hipertensi stage I 140-159 mmHg atau 90-99 mmHg
Hipertensi stage II 160-179 mmHg atau 100-109 mmHg
Hipertensi stage III 180-209 mmHg atau 110-119 mmHg
Hipertensi stage IV > 210 > 120
Individu yang mengalami hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai
bertahun-tahun, gejala timbul bila ada biasanya menunjukan kerusakan vaskuler
dengan manifestasi yang khas sesuai dengan organ yang divaskularisasi oleh
pembuluh darah yang bersangkutan.
Gejala yang sering terjadi antara lain:
a. TD > 140 / > 90 mmHg
b. Tachikardia
c. Pusing, sakit kepala
d. Palpitasi
e. Mata berkunang-kunang, pandangan kabur
f. Rasa berat di tengkuk
g. Sukar tidur
Jantung dan pembuluh darah memebrikan oksigen dan nutrien setiap sel hidup
diperlukan untuk bertahan hidup. Penurunan fungsi kardiovaskular telah memiliki
dampak pada sistem yang lainnya. Dengan meningkatnya usia jantung dan pembuluh
darah mengalami perubahan baik struktural dan fungsional.
1. Perubahan Struktur
Ukuran jantung seseorang tetap dengan berat badan, adanya suatu hipertrofi
atau atrofi yang terlihat jelas menandakan adanya ketidak normalan. Ukuran ruang-
ruang jantung tidakberubah dengan penuaan. Ketebalan dinding ventrikel kiri
cenderung meningkat karena adanya peningkatan densitas kolagen dan hilangnya
fungsi serat-serat elastis.oleh karena itu, penuaan pada jantung menjadi kurang
mampu untuk distensi, dengan kekuatan kontraktil yang kurang efektif.
Terjadi kekakuan pada sbagian besar pangkal aorta sehingga menyebabkan
obstruksi parsial terhadap aliran darah selama denyut sistole, tidak sempurnanya
pengosongan ventrikel dapat terjadi selama waktu peningkatan denyut jantung (
misalnya demam, stres dan olahraga). Dan gangguan pada arteri koroner dan
sirkulasi sistemik.
Perubahan struktural mempengaruhi konduksi sistem jantung melalui
peningkatan jumlah jaringan fibrosa, dan jaringan ikat .jumlah total sel-sel pacemaker
mengalami penurunan, seiring bertambahna usia,. Berkas his kehilangan serat
konduksi yang membawa implus ke ventrikel . selain itu penebalan jaring elastis dan
retikuler dengan infiltrasi lemak terjadi pada daerah nodus sinoatrial ( SA).
Pada usia lanjut sistem aorta dan arteri perifer menjadi kaku dan tidak lurus.
Perunagan ini terjadi karena peningkatan kolagen dan hilangnya serat elastis dalam
lapisan medial atrteri. Sebagai suatu mekanisme kompensasi, aorta dan arteri lain
secara progresif mengalami dilatasi untuk menerima lebih banyak volume darah.
Vena menjadi meregang dan mengalami dilatasi dalam cara yang hampir sama.
Katub vena menjadi tidak kompeten atau gagal untuk menutup secara sempurna.
2. Perubahan Fungsi
Perubahan utam pada sistem kardiovaskular adalah penurunan kemampuan
untuk meningkatkan keluaran sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan
tubuh.curah jantung tetap stabil atau sedikit menurun seriring bertambahnya
usia.dan denyut jantung istirahat juga menurun. Karena miocardium mengalami
penebalan dan kurang dapat diragngkan dengan katub-katub yang lebih kaku
peningkatan waktu pengisian diastolic dan peningkatan tekanan pengisian diastolic
diperluakn juga untuk mempertaha kan preload yang adekuat jantung mengalami
penuaan juga lebih bergantung pada kontstraksi atrium, atau volume darah yang
diberikan pada ventrikel sebagai hasil dari kontrraksi dua kondisi yang menempatkan
lansia pada resiko untuk megalami tidak adekuatnya, curah jantung yang
menempatkan lain yang bearisiko curan jantungdan takikardia,dan fibrilasi atrial
serta hilangnya kontraksi dalama beragama.
KEPERAWATAN GERONTIK

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Sarunai Ramiati

Tempat Praktik : Home Care ( Jl.G.Obos XII)

Tanggal Pengkajian : 19 Mei 2018

Sumber Informasi : Ny. S

I. Identitas Diri Klien


Nama : Ny. S
Umur : 60 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Kristen Protestan
Suku : Dayak Maanyan
Status Perkawinan : Kawin
(Kawin/ Duda/ Janda/ Tidak Kawin)
Alamat : Jl. G.Obos XII

II. Riwayat Penyakit


1. Keluhan yang dirasakan saat ini
Klien mengatakan bahwa dirinya sering merasa pusing (nyeri kepala), pusing
dirasakan saat beraktivitas dan hampir sering. Klien mengatakan kurang memahami
tentang penyakit hipertensi. Klien sering memegang kepalanya yang sakit dan tampak
lemah. Klien merasa kaku pada leher bagian belakang dan pandangan kabur saat
jalan, kepala seperti berputar-putar dan terkadang seperti akan jatuh sehingga klien
sangat berhati-hati saat akan berjalan.
2. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Klien mengatakan tidak pernah mengalami penyakit yang serius, klien hanya
mengeluhkan pusing, pandangan kabur saat jalan dan terkadang seperti akan jatuh.
Hal ini dirasakan sejak ± 2 tahun yang lalu.

III. Pengkajian Saat Ini


(Mulai hari pertama Saudara merawat klien)
1. Pemeliharaan dan persepsi kesehatan
- Pendapat klien tentang kesehatan dirinya saat ini: Klien mengatakan mengalami
tekanan darah tinggi dan klien mengatakan kepala klien pusing serta merasa kaku
pada leher bagian belakang.
- Klien merasa tidak dapat mengatasi hal-hal yang mempengaruhi kesehatannya
sehingga klien sering memeriksakan diri dan klien tidak mengetahui pantangan diit
darah tinggi yang dideritanya
- Klien mengatakan untuk memelihara kesehatannya rutin memeriksakan diri ke
dokter dan minum obat hipertensi yang diresepkan dokter

2. Pola nutrisi/ metabolik


- Klien mengatakan mengonsumsi nasi 3 kali sehari dengan variasi makanan lauk
dan sayur
- Klien mengatakan tidak mengonsumsi vitamin
- Klien mengatakan menyukai jenis makanan berkuah
- Klien mengatakan nafsu makan klien baik tidak ada gangguan
- Klien mengatakan tidak ada kesulitan dalam menelan, klien tidak mersasa mual
- Klien mengatakan tidak ada diit khusus yang dianjurkan
- Klien mengatakan makan dan minum klien cukup, klien minum ± 1500 ml, klien
mengatakan tidak ada masalah dalam mengeluarkan cairan.
- Klien overweigh dengan IMT 25.16
- klien mengatakan merasa berat badan klien naik dari bulan lalu.

3. Pola eliminasi
a. Buang air besar
- Klien mengatakan buang air besar 2 kali sehari dengan konsistensi lembek
dengan warna kuning, klien juga mengatakan tidak ada nyeri pada saat BAB
- Klien mengatakan tidak ada kesulitan pada saat BAB
- Klien mengatakan tidak menggunakan obat apapun untuk memperlancar BAB
b. Buang air kecil
- Klien mengatakan buang air kecil 5-6 kali sehari dengan warna urine kuning
dan tidak ada nyeri namun belakangan klien sering bangun malam untuk BAK
- Klien mengatakan tidak mengeluarkan urine saat tertawa, batuk ataupun
bersin.

4. Pola aktivitas dan latihan


Skor
Kemampuan perawatan 0 1 2 3 4 Ket.
diri
Makan/ minum √
Mandi √
Toileting √
Berpakaian/ berbias √
Aktivitas sehari-hari
Mobilitas di tempat tidur √
Berpindah √
Ambulasi/ ROM √
Berjalan √
Naik tangga √

Beri tanda √ pada kolom skor yang sesuai dengan ketentuan skor:
0 = mandiri
1 = alat bantu
2 = dibantu orang lain
3 = dibantu orang lain dan alat
4 = tergantung total

5. Pola istirahat- tidur


- Klien mengatakan segar setelah tidur pada malam hari
- Klien mengatakan tidur ±7-9 jam perhari dengan jumlah tidur siang 1-2 jam dari
pukul 14.00-16.00 WIB. Dan tidur malam dari jam 22.00-05.00 Wib.
- Klien mengatakan sering terbangun pada saat tidur.
- Klien mengatakan sering terbangun untuk BAK.
- Klien mengatakan tidak mengalami gangguan tidur selain sering terbangun untuk
BAK.
6. Pola seksual dan reproduksi
- Klien mengatakan berhenti menstruasi sekitar usia> 50 tahun.
- Klien mengatakan tidak ada keluhan.

7. Pola perseptual dan kognitif


- Klien menggunakan alat bantu penglihatan (kaca mata) digunakan pada saat klien
akan membaca.
- Klien mengatakan tidak mengalami gangguan persepsi sensori.
- Klien mengatakan tidak mengalami perubahan dalam memori, baik jangka panjang
maupun jangka pendek. Klien dapat menyebutkan kronologi hidupnya dari masa
lalu sampai saat ini.
- Klien tidak mengalami disorientasi tempat, waktu, maupun orang. Klien mampu
menyebutkan tempat tinggal, mampu mengingat nama keluarga dan kerabat, dan
mampu menyebutkan bahwa hari ini adalah hari sabtu tanggal 19 Mei 2018.
- Dalam mengambil keputusan, klien dapat melakukan secara mandiri. misalnya
mengambil keputusan kapan waktunya makan siang, kapan waktunya mandi dll.
- Tidak ada perubahan perilaku dari klien baik hiperaktif maupun hipoaktif.
- Tidak ada perubahan pada konsentrasi klien, klien bisa fokus pada saat
berkomunikasi.
- Klien kooperatif, klien tidak menarik diri, klien tidak mengalami depresi, klien tidak
mengalami halusinasi, dan tidak mengalami delusi.
- Tidak ada riwayat stroke dan tanda-tanda infeksi pada klien.
- Klien mengatakan tidak ada ketidaknyamanan maupun nyeri yang dirasakan.

8. Pola komunikasi- sosial


- Kemampuan bersosialisasi klien saat ini baik, komunikasi sangat baik, klien
mengatakan sering saling ngobrol dengan anggota keluarga dan tetangga.
- Klien tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, klien bisa berbicara
menggunakan bahasa Indonesia dengan sangat jelas.
- Interaksi antara klien dan lingkungan baik
- Klien mengikuti kegiatan keagaaman seperti kebaktian keluarga dan posyandu
lansia sehingga sosialisasi klien dengan masyarakat baik.
9. Konsep diri
(Kaji masing-masing konsep diri)
- Klien tidak mengalami ketakutan dan kekhawatiran tentang apapun.
- Klien mampu mengidentifikasi sumber kekuatan, klien mengatakan menyerahkan
semua kejadian dalam hidupnya kepada Tuhan.
- Klien mampu menguasai hidupnya, klien mengatakan semua kejadian dalam
hidupnya sudah menjadi takdir yang harus diterimanya.
- Penampilan umum klien baik, klien tidak menolak kontak mata dengan perawat.
- Klien tidak berkomentar negatif tentang dirinya, klien menerima dirinya apa
adanya.
- Tidak ada anggota tubuh klien yang rusak.
- Klien bersikap wajar dan biasa saja, tidak menunjukkan sikap agresif, marah, atau
menuntut.
- Klien tidak mengalami ketakutan akan kematian, klien menyadari bahwa dalam
hidup pasti ada kematian, dan lansia menyadari bahwa suatu saat dia pasti akan
kembali ke Sang Pencipta.
- Klien tidak sering menyendiri, klien senang berbincang-bincang dengan orang lain.

10. Manajemen stress- koping


- Klien mengatakan status emosinya baik, tetapi klien akan marah apabila ada hal-
hal yang dia tidak suka msalnya ada anggota keluarga yang malas, dan tidak
menjaga kebersihan maka klien akan marah.
- Klien mengatakan tidak ada hal-hal yang membuatnya stress akhir-akhir ini.
- Dalam mengelola stres, klien mengatakan menyerahkan semua kejadian dalam
hidupnya ke tangan Tuhan.
- Dalam memproyeksikan stressor yang terjadi, klien mengatakan stressor yang
terjadi merupakan takdir yang telah ditetapkan Tuhan dalam hidupnya.
- Klien mengatakan menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya dan
menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
- Klien mengatakan tidak pernah mengalami traumatic secara fisik maupun psikis.

11. Sistem nilai dan keyakinan (spiritual)


- Klien beragama Kristen Protestan, dan mengikuti budaya Dayak Maanyan. Klien
mengatakan agama yang dianut, dan kebudayaan tidak mempengaruhi
kesehatannya.
- Klien mengatakan ke gereja setiap hari minggu, dan selalu berdoa secara pribadi
maupun mengikuti kebaktian bersama.
- Klien terlibat aktif dan serius dalam menjalankan ibadah.
- Klien mengatakan sistem nilai dan keyakinan yang ia anut mempengaruhi semua
aspek baik kesehatan atau koping terhadap stress. Klien mengatakan dengan
banyak berdoa pikiran menjadi tenang dan merasa lebih dekat dengan Tuhan.
- Klien mengatakan tidak akan marah kepada Tuhan ketika mengalami sakit atau
gangguan namun klien lebih mendekatkan diri kepada Tuhan agar diberi kekuatan
dalam menjalankan semua rintangan yang dihadapi.
- Klien mengatakan tidak megalami halangan apapun dalam melakukan kegiatan
ibadah.

IV. Pemeriksaan Fisik


( Cephalocaudal, fokuskan pada masalah yang dirasakan)
1. Postur tulang belakang : postur tulang belakang klien saat berjalan tegap.
2. Keadaan Umum: Compos Mentis
3. Data Objektif
a. TD : 160/110 mmHg
b. N : 84 x/menit
c. S : 36,6 oC
d. RR : 20 x/menit
e. BB : 55 kg
f. TB : 145 cm
4. Pengkajian Head to Toe
a. Kepala
Normocephalus, rambut tampak ubanan, tidak ada luka, tidak ada nyeri tekan pada
kepala dan tidak ada benjolan.
b. Mata
Bentuk tampak simetris, konjungtiva tampak anemis, sclera tidak ikterik, pupil
isokor, penglihatan kabur, tidak ada peradangan, tampak menggunakan kaca mata,
tidak ada nyeri dan tidak ada benjolan.
c. Hidung
Bentuk tampak simetris, tidak ada luka, tidak ada peradangan, tidak ada secret
pada hidung, tidak ada nyeri tekan, penciuman masih cukup baik.
d. Mulut dan Tenggorokan
Mulut tampak bersih, mukosa mulut tampak kering, tidak ada peradangan, gigi
tampak kuning, tampak careas gigi dan tidak ada kesulitan saat menelan.
e. Telinga
Bentuk simetris, tidak ada luka, tidak tampak serumen, tidak ada peradangan, tidak
nyeri tekan pada bagian belakang telinga (mastoideus), tidak ada benjolan,
pendengaran masih bagus
f. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada luka, tidak ada bendungan vena
jugularis, klien mengeluh leher bagian belakang, terasa berat (kaku kuduk).
g. Dada
Tampak simetris, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada nyeri tekan.
h. Abdomen
Bentuk simetris, tidak ada oedema, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa.
i. Genetalia
Tidak terkaji
j. Ekstremitas
Kekuatan otot tangan kanan dan kiri 4, kaki kanan dan kiri 4
k. Integument
Kebersihan cukup baik, warna kulit hitam, lembab, tidak ada gangguan pada kulit.

Mengetahui: Palangka Raya, 19 Mei 2018


Pembimbing, Praktikan

(..................................................) (Sarunai Ramiati)


I. ANALISA DATA
NO DATA SUBJEKTIF DAN OBJEKTIF MASALAH KEPERAWATAN
1. DO: Nyeri kepala
1. Klien tampak sering memegangi
kepalanya.
2. Klien tampak lemah
3. TD: 160/110 mmHg
4. Nadi: 84 x/menit
̊
5. Suhu: 36,6 C
6. Respirasi: 20 x/menit
DS:
1. Klien mengatakan sakit kepala
2. Sakit kepalanya berdenyut-denyut.
3. Kadang klien merasakan kaku di
leher bagian belakang dan
pandangan kabur saat jalan.
4. Klien mengatakan kepalanya
seperti berputar-putar dan
terkadang seperti akan jatuh jika
berjalan.

2. DO: Kurang pengetahuan tentang hipertensi


1. Klien tampak sering bertanya
tentang penyakit tekanan darah
tinggi
2. Klien tampak bingung dan kurang
tepat dalam menjelaskan tentang
diit hipertensi

Ds:
1. Klien mengatakan tidak
mengetahui pantangan diit darah
tinggi yang dideritanya.
2. Klien mengatakan tekanan darah
klien tinggi dan klien mengatakan
kepala klien pusing serta sering
merasa kaku pada leher bagian
belakang.

3. DO: Ketidak seimbangan nutrisi lebih dari


1. TB: 145 Cm, BB: 55 Kg kebutuhan tubuh
IMT= BB:TB(M)2 = 25.16% (Gemuk
Ringan)
2. Klien tampak sedikit gemuk.

DS:
Klien mengatakan merasa berat
badannya naik dalam beberapa bulan
terakhir.

II. Masalah Keperawatan Gerontik


1. Nyeri kepala
2. Kurang pengetahuan tentang hipertensi
3. Ketidak seimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh

III. Skoring Diagnosa Keperawatan Gerontik


1. Diagnosa Keperawatan 1: Nyeri kepala bd. peningkatan tekanan vaskular serebral
Skor X Bobot
Rumus = Nilai Tertinggi

No Kriteria Bobot Penghitungan


1. Sifat Masalah: Skor: 2
- Ancaman kesehatan (2) 1 Bobot: 1
- Tidak/ kurang sehat (3) Nilai tertinggi:
- Krisis yang dapat diketahui (1) 2X1 2
Rumus = =
3 3

2 Kemungkinan masalah untuk Skor: 1


dirubah: 2 Bobot: 2
- Dengan mudah (2) Nilai tertinggi:
- Hanya sebagian (1) 1X 2
Rumus = 2
=1
- Tidak dapat (0)
3 Potensial masalah untuk dicegah: Skor: 2
- Tinggi (3) 1 Bobot: 1
- Cukup (2) Nilai tertinggi:
- Rendah (1) 2X1 2
Rumus = 3
= 3

4. Menonjolnya masalah: Skor: 2


- Masalah berat (perlu segera Bobot: 1
ditangani) (2) 1 Nilai tertinggi:
- Masalah tetap ( tidak perlu 2X1
Rumus = 2
=1
segera) (1)
- Masalah tidak dirasakan (0)
Skor Total 1
3,
3

2. Diagnosa Keperawatan 2: Kurang pengetahuan tentang hipertensi bd. kurang


terpapar informasi dan kurangnya keinginan untuk mencari informasi tentang
hipertensi.

Skor X Bobot
Rumus = Nilai Tertinggi

No Kriteria Bobot Penghitungan


1. Sifat Masalah: Skor: 1
- Ancaman kesehatan (2) 1 Bobot: 1
- Tidak/ kurang sehat (3) Nilai tertinggi:
- Krisis yang dapat diketahui (1) 1X1 1
Rumus = 3
= 3

2 Kemungkinan masalah untuk Skor: 2


dirubah: 2 Bobot: 2
- Dengan mudah (2) Nilai tertinggi:
- Hanya sebagian (1) 2X 2
Rumus = 2
=2
- Tidak dapat (0)

3 Potensial masalah untuk dicegah: Skor: 3


- Tinggi (3) 1 Bobot: 1
- Cukup (2) Nilai tertinggi:
- Rendah (1) 3X 1
Rumus = 3
=1
4. Menonjolnya masalah: Skor: 0
- Masalah berat (perlu segera Bobot: 1
ditangani) (2) 1 Nilai tertinggi:
- Masalah tetap ( tidak perlu 0X 1
Rumus = 2
=0
segera) (1)
- Masalah tidak dirasakan (0)
Skor Total 1
3, 3

3. Diagnosa Keperawatan 3: Ketidak seimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh bd.
intake yang berlebih terhadap kebutuhan metabolisme tubuh.

Skor X Bobot
Rumus = Nilai Tertinggi

No Kriteria Bobot Penghitungan


1. Sifat Masalah: Skor: 1
- Ancaman kesehatan (2) 1 Bobot: 1
- Tidak/ kurang sehat (3) Nilai tertinggi:
- Krisis yang dapat diketahui (1) 1X 1 1
Rumus = =
3 3

2 Kemungkinan masalah untuk Skor: 2


dirubah: 2 Bobot: 2
- Dengan mudah (2) Nilai tertinggi:
- Hanya sebagian (1) 2X2
Rumus = 2
=2
- Tidak dapat (0)
3 Potensial masalah untuk dicegah: Skor: 3
- Tinggi (3) 1 Bobot: 1
- Cukup (2) Nilai tertinggi:
- Rendah (1) 3X 1
Rumus = =1
3

4. Menonjolnya masalah: Skor: 1


- Masalah berat (perlu segera Bobot: 1
ditangani) (2) 1 Nilai tertinggi:
- Masalah tetap ( tidak perlu 1X1 1
Rumus = 2
= 2
segera) (1)
- Masalah tidak dirasakan (0)
Skor Total 1
16
IV. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN SESUAI PRIORITAS
1. Nyeri kepala bd. peningkatan tekanan vaskular serebral
2. Kurang pengetahuan tentang hipertensi bd. kurang terpapar informasi dan kurangnya
keinginan untuk mencari informasi tentang hipertensi.
3. Ketidak seimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh bd. intake yang berlebih
terhadap kebutuhan metabolisme tubuh.

V. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


No Diagnosa Tujuan Tujuan Evaluasi Intervensi
Keperawatan Umum Khusus Kriteria Standar
1. Nyeri kepala Penuru Nyeri Setelah - Nyeri - Kompres hangat pada
bd. nan kepala dilakukan kepala dahi
peningkatan tekana hilang intervensi hilang - Anjurkan
tekanan n darah tindakan - TTV meminimalkan
vaskular keperawatan dalam aktivitas yang dapat
serebral selama 4 kali batas meningkatkan sakit
kriteria hasil normal kepala: mengejan
yang saat BAB, batuk
diharapkan: panjang,
- Ny. S membungkuk
melaporkan - Kolaborasi: untuk
nyeri kepala pemberian analgetik
hilang atau penurun tekanan
- Tidak ada darah
kaku kuduk - Meminimalkan
- TD < stimulasi/
140/100 meningkatkan
mmHg relaksasi
- Nadi 80 - Menurunkan tekanan
x/menit vaskular serebral dan
- Mempertaha memperlambat
nkan tirah respon simpatis efektif
baring dalam menghilangkan
selama fase sakit kepala
akut - Aktivitas yang
meningkatkan
vasokontriksi
menyebabkan sakit
kepala.
2. Kurang Penget Penget Setelah Pengeta - Kaji tingkat
pengetahuan ahuan ahuan dilakukan huan pengetahuan klien
tentang Ny.S Ny.S intervensi klien - Berikan pendidikan
hipertensi bd. bertam tentang tindakan tentang kesehatan tentang
kurang bah hiperte keperawatan hipertens cara mencegah dan
terpapar nsi selama 4 kali i mengatasi
informasi dan adekua kriteria hasil bertamb hipertensi
kurangnya t yang ah - Evaluasi tingkat
keinginan diharapkan: pengetahuan klien
untuk - Ny.S - Memudahkan dalam
mencari mengatakan menentukan
informasi paham intervensi selajutnya
tentang mengenai
hipertensi. penyakitnya
3. Ketidak Keseim Penuru Setelah Penurun - Diskusikan bersama
seimbangan bangan nan dilakukan an BB ke pasien mengenai
nutrisi lebih nutrisi berat intervensi IMT hubungan antara
dari badan tindakan ideal. intake makanan,
kebutuhan keperawatan latihan, dan
tubuh b.d selama 4 kali penurunan BB
Intake yang kriteria hasil dengan
berlebih yang meningkatkan
terhadap diharapkan: motivasi dan
kebutuhan - Ny.S pengetahuan klien.
metabolism Mengerti - Diskusikan bersama
tubuh factor yang pasien mengenai
meningkatka kebiasaan, gaya
n berat hidup dan factor
badan herediter yang dapat
- Mengidentfifi mempengaruhi BB
kasi tingkah untuk mengetahui
laku dibawah faktor penyebab
kontrol klien
- Memodifikasi obesitas yang
diet dalam dialami klien
waktu yang - Diskusikan bersama
lama untuk pasien mengenai
mengontrol risiko yang
berat badan berhubungan
- Penurunan dengan BB berlebih
berat badan dan penurunan BB
1-2 untuk meyakinkan
pounds/mgg pasien tentang
- Menggunaka pentingnya BB ideal
n energy - Perkirakan BB
untuk badan ideal pasien
aktivitas untuk mengetahui
sehari hari target penurunan BB
klien
- Beri pujian/reward
saat pasien
beraktivitas/olahrag
a untuk menurunkan
BB agar
meningkatkan
motivasi klien
- Anjurkan klien untuk
melakukan olahraga
rutin untuk
membantu
menurunkan BB
klien
VI. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
Hari Pertama
No Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi
1. Sabtu/ 19 Mei 2018 - Menganjurkan tirah baring S: - Ibu S mengatakan sakit
09.00 WIB selama fase akut kepala
09.10 WIB - Mengompres hangat pada dahi - Sakit kepalanya berdenyut-
09.25 WIB - Menganjurkan meminimalkan denyut
aktivitas yang dapat O:- TD :160/110 mmHg
meningkatkan sakit kepala: - Nadi : 84 x/menit
mengejan saat BAB, batuk A: Masalah belum teratasi
panjang, membungkuk P: Kolaborasi: rujuk ke
Puskesmas untuk
pemberian analgetik atau
penurun tekanan darah
2 Sabtu/ 19 Mei 2018 - Mengkaji tingkat pengetahuan S: Klien mengatakan mengerti
09.40 WIB klien dengan apa yang sudah di
09.45 WIB - Memberikan pendidikan diskusikan
kesehatan tentang cara O: Klien dapat menyebutkan
mencegah dan mengatasi kembali apa itu hipertensi/
hipertensi darah tinggi, klien bisa
10.00 WIB - Menjelaskan patofisiologi dari menggambarkan tanda dan
penyakit dan bagaimana hal ini gejala hipertensi, klien bisa
berhubungan dengan anatomi menyebutkan diit yang baik
dan fisiologi, dengan cara yang untuk hipertensi.
tepat. A: Masalah teratasi
10.10 WIB - Menggambarkan tanda dan P: Intervensi dihentikan.
gejala yang biasa muncul pada
penyakit, dengan cara yang
tepat.
10.15 WIB - Menginformasikan diit yang
tepat untuk klien.
10.20 WIB - Mengevaluasi tingkat
pengetahuan klien
3 Sabtu/ 19 Mei 2018 - Mendiskusikan bersama S: - Klien mengatakan sanggup
11.00 WIB pasien mengenai hubungan melakukan olahraga secara
teratur dan mengatur diit,
antara intake makanan, dan klien mengatakan
latihan, dan penurunan BB mengetahui hubungan
11.15 WIB - Mendiskusikan bersama antara intake makanan,
pasien mengenai kebiasaan, latihan, dan penurunan BB,
gaya hidup dan factor herediter - Klien mengatakan tidak ada
yang dapat mempengaruhi BB. anggota keluarganya yang
11.20 WIB - Mendiskusikan bersama mengalami obesitas.
pasien mengenai risiko yang O: Klien tampak mengerti dan
berhubungan dengan BB fokus dalam berdiskusi
berlebih dan penurunan BB A: Masalah belum teratasi
11.25 WIB - Memperkirakan BB badan P: Ditambah memonitor pola
ideal pasien makan klien, memotivasi
11.30 WIB - Menganjurkan klien untuk klien untuk berolahraga.
melakukan olahraga rutin

Hari Kedua
No Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi
1. Minggu/ 20 Mei 2018 - Menganjurkan tirah baring S: - Ibu S mengatakan sakit
09.00 WIB selama fase akut kepala sudah berkurang
09.10 WIB - Mengompres hangat pada namun kadang-kadang
dahi muncul kembali
O:- TD :160/ 90 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
A: Masalah belum teratasi
P: Kolaborasi untuk pemberian
analgetik atau penurun
tekanan darah
2 Minggu/ 20 Mei 2018 - Mendiskusikan bersama S: - Klien mulai melakukan
09.25 WIB pasien mengenai hubungan olahraga secara teratur dan
antara intake makanan, mengatur diit, dan klien
latihan, dan penurunan BB mengatakan mengetahui
09.30 WIB - Mendiskusikan bersama hubungan antara intake
pasien mengenai makanan, latihan, dan
kebiasaan, gaya hidup dan penurunan BB,
factor herediter yang dapat O: Klien tampak mengerti dan
mempengaruhi BB. fokus dalam berdiskusi
- Mendiskusikan bersama A: Masalah teratasi
09.40 WIB pasien mengenai risiko P: Intervensi dihentikan
yang berhubungan dengan
BB berlebih dan penurunan
BB
- Memperkirakan BB badan
10.00 WIB ideal pasien
- Menganjurkan klien untuk
10.15 WIB melakukan olahraga rutin

Hari Ketiga
No Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi
1. Senin/ 21 Mei 2018 - Menganjurkan tirah baring S:- Ibu S mengatakan sakit
09.00 WIB selama fase akut kepalanya sudah mulai
09.10 WIB - Mengompres hangat pada berkurang
dahi O:- TD :150/90 mmHg
- Menganjurkan - Nadi : 80 x/menit
meminimalkan aktivitas A: Masalah belum teratasi
yang dapat meningkatkan P: Kolaborasi untuk pemberian
sakit kepala: mengejan saat analgetik atau penurun
BAB, batuk panjang, tekanan darah
membungkuk

Hari Keempat
No Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi
1. Minggu/ 20 Mei 2018 - Menganjurkan tirah baring S: - Ibu S mengatakan sakit
09.00 selama fase akut kepalanya sudah tidak ada
09.10 - Mengompres hangat pada O:- TD :130/90 mmHg
09.25 dahi - Nadi : 84 x/menit
- Menganjurkan A: Masalah teratasi
meminimalkan aktivitas P: Intervensi dihentikan.
yang dapat meningkatkan
sakit kepala: mengejan saat
BAB, batuk panjang,
membungkuk
KESIMPULAN

Proses menua merupakan kombinasi dari bermacam-macam faktor yang saling


berkaitan. Fungsi masing-masing organ pada usia lanjut menurun secara kualitatif dan
kuantitatif, dan ini sudah dimulai sejak usia 30 tahun. Telah diuraikan berbagai penyakit
yang mungkin timbul pada lansia dengan pencegahan dan penatalaksanaannya.
Bagaimana menjaga kebugaran pada lansia dengan olahraga dan pedoman umum gizi
seimbang. Menjadi tua adalah proses alamiah, tetapi tentu saja setiap orang
mendambakan untuk tetap sehat di usia tua. Hal ini sesuai dengan slogan Tahun Usia
Lanjut WHO: do not put years to life but life into years, yang artinya usia panjang tidaklah
ada artinya bila tidak berguna dan bahagia, mandiri sejauh mungkin dengan mempunyai
kualitas hidup yang baik.
Prose penuaan tidak terlepas dari berbagai penyakit salah satunya adalah
hipertensi. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah pada orang dewasa, dan
dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistoliknya lebih dari atau sama dengan 140
mmHg atau tekanan darah diastoliknya lebih dari atau sama dengan 90 mmHg.
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada lansia harus
memperhatikan berbagai aspek baik itu bio, psiko, sosio, cultural, karena tidak semua
lansia sudah benar-benar mengalami kemunduran fungsi organ.
DAFTAR PUSTAKA

Agus Purwadianto (2000), Kedaruratan Medik: Pedoman Penatalaksanaan Praktis,


Binarupa Aksara, Jakarta.
Callahan, Barton, Schumaker (1997), Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan
gawat Darurat Medis, Binarupa Aksara, Jakarta.
Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Decker DL. (1990). Social Gerontology an Introduction to Dinamyc of Aging. Little Brown
and Company. Boston
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Evelyn C.pearce (1999), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT
Gramedia, Jakarta.
Gallo, J.J (1998). Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Aliha Bahasa James Veldman. EGC.
Jakarta
Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Hudak and Gallo (1996), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Lueckenotte.A.G. (1996). Gerontologic Nursing. Mosby Year Book. Missouri
Nugroho.W. (2000). Keperawatan Gerontik. Gramedia. Jakarta