Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH SEJARAH INDONESIA MASA PERGERAKAN NASIONAL

BUDI UTOMO

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah

Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Nasional

Dosen : Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd.

Disusun Oleh:

Guntur Wahyu Pamungkas 14406241042

Devi Wahyu Fitriani 15406241038

Lulyta Milasari 15406241044

Getrudis Rosalia Niron 15406244016

PROGAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setelah VOC runtuh tahun 1799, Belanda terus mencoba menerapkan berbagai
macam politik baru. Di mulai dari Cultuurstelsel (tanam paksa) tahun 1800-1870, politik
kolonial liberal (1870-1900) hingga diterapkannya Politik Kolonial Etis (1900-1942)
masyarakat bumi putera harus menanggung penderitaan yang cukup berat dan kejam. Van
Deventer mengatakan bahwa Indonesia telah berjasa membantu pemerintah Belanda
memulihkan keuangannya, oleh sebab itu sudah sewajarnya kalau kebaikan orang Indonesia
itu dibayar kembali. Oleh karena itu menurut Van Deventer, hutang budi itu harus di bayar
dengan peningkatan kesejahteraan melalui trias politiknya yang terdiri dari Irigasi, Edukasi
dan emigrasi.

Pendidikan yang diberikan kepada rakyat pribumi ternyata telah melahirkan


kelompok elite intelektual. Elit inilah kemudian yang menjadi pelopor pergerakan nasional.
Bangkitnya nasionalisme di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari bangkitnya nasionalisme di
Asia yang ditandai adanya kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, serta penderitaan
lahir batin yang tak tertahankan lagi ditambah pengaruh kejadian-kejadian didalam maupun
diluar tanah air yang merupakan dorongan yang mempercepat lahirnya pergerakan nasional
dan titik berangkat lahirnya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Latar Belakang Pergerakan Nasional Indonesia?
2. Bagaimana Sejarah Berdirinya Organisasi Budi Utomo?
3. Bagaimana Perkembangan Organisasi Budi Utomo?
4. Apa Saja Penyebab Berakhirnya Organisasi Budi Utomo?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Latar Belakang Pergerakan Nasional Indonesia.
2. Untuk Mengetahui Sejarah Berdirinya Organisasi Budi Utomo.
3. Untuk Mengetahui Perkembangan Organisasi Budi Utomo.
4. Untuk Mengetahui apa saja Penyebab Berakhirnya Organisasi Budi Utomo.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Pergerakan Nasional Indonesia

Istilah pergerakan mengandung arti yang khas, berbeda dengan istilah


perjuangan.Pergerakan Nasional merupakan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan
dan mengakhiri penjajahan yang berbentuk organisasi yang teratur, tutur Susanto
Tirtoprojo, sedangkan perjuangan memiliki arti yang luas seperti yang dilakuka
pahlawan-pahlawan kita. Perjuangan-perjuagan yang dilakukna oleh para pahlawan kita
merupakan perlawanan lokal yang tidak terorganisasi secara modern, dansecara lagsung
belum menciptakan syarat-syarat bagi persatuan Indonesia. Adapun yang dimaksud
dengan organisasi modern yaitu mempunyai pengurus tetap,tujuan, dan program kerja.

Kata pergerakan Indonesia meliputi berbagai macam aksi yang dilakukan secara
modern yakni kearah perbaikan hidup bangsa karena tidak puas dengan kondisi rakyat
pada waktu itu. Makna pergerakan Indonesia sediri telah diakui sejak berdirinya Budi
Utomo pada tanggal 20 Mei1908 dan hingga saat ini dirayakan sebagai hari Kebangkitan
Nasional dan diakhiri dengan tercapaiya tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia yang juga
hingga saat ini kita rayakan pada setiap tanggal 17 Agustus mulai dari kemerdekaan
Indonesia dari tahun 1945 hingga saat ini. Usia pergerakan Indonesa itu masih tergolong
muda, namun hal yang nyata juga dapat dirasakan dari masa penjajahan hingga
kemerdekaan, bahwa rakyat Indonesia tidak pernah puas dengan apa yang mejadi
kebijaka penjajah waktu itu sehingga perlu ada yang namaya perbaikan nasib rakyat
Indonesia sendiri. Tujuan pergerakan Nasional ini adalah untuk meleapkan bentuk-bentuk
kekuasaan penjajahan dan mencapai suatu keadaan yang memberi tempat untuk
perkembangan kemerdekaan bangsa Indonesia ini.

Latar Belakang Pergeraka Nasional Indonesia

Sistem tanam paksa yang merupakan salah satu sistem ekspliotasi kolonial dalam
tahun tahun terakhir semaki jelas nampak ketidak efisienan oleh sebab itu maka pad
tahun 1870, sistem tanam paksa dibubarkan dan sebagai perkembangan selanjutnya pada
tahun 1870-1900 di Indoesia mengalami zaman liberalisme dimana pola politik kolonial
diterapkan aras dasar liberal. Dalam masa ini Indonesia terbuka pada modal swasta
Belanda dan negara negara Eropa lainnya telah membuka perkebunan-perkebunan seperti
teh, kopi, gula, kina yang cukup besar di pulau Jawa dan Sumatra bagian Timur..
Menjelang abad ke XX politik serba eksploitasi ini berubah menjadi politik etis yang
merupakan reaksi dari politik liberal kolonial dan dijalankan atas dasar kesusilaan
sehingga perlu adanya balas budi yang dilakukan oleh pihak Belada kepada Indonesia.

Van Deventer sebagai pemimpin liberal mempunyai peran karena karanganya


yang berjudul “Eere Schuld” yang artinya hutang kehormatan (1999), oleh karena itu
dikecamnya politik keuangan Belanda yang tidak memisahkan keurangan negeri induk
dari negeri jajahan. Pokok usul Van Deventer yaitu pemerintah Belanda hatus
memperlihtkan budi mereka dengan mengusahakan perbaikan-perbaikan dalam bdang
Irigas,Edukasi, dan Transmigrasi yang dsebut trilogy Van Deventer. Politik Etis
beranggapan bahwa idonesia tidak lagi dianggap sebagai daerah yang menguntungkan
melaikan dianggap sebgai daerah yang perlu dikembangkan. Namun dalam praktikya
bahwa politk etis pu hanya sebagi simbol agar pemeritah Belanda mendapat tenaga yang
murah dari Indonesia.

Sejak permulaan abad XVII sampai abad XX kerap terjadi peperangan dan
pemberontakan yang tidak brhasil karena rakyat Indonesia hanya menggunaka senjata
yang dimana mash sagat jauh tertingga dbandingkan senjata Belada dan aksi aksi ini
belum dapat digolongkan mejadi gerakan modern. Karena setiap aksi aksi yang tersusun
secara modern memerlukan kesanggupan dan kecakapan didalamnya, dan tentu juga
pendidikan dan penajara sagat berpegaruh oleh bangsa Indoesia agar memiliki kecakapa
dalam gerakan modern bagsa Indonesia. Selain faktor dari dalam ,ada juga faktor dari
luar yang mendorong timbulnya pergerakan yaitu dari luar Negeri yaitu : Kemenangan
Jepang atas Russia dan Gerakan Turki Muda. Sedangkan faktor dalam Negeri yaitu :
Aksi dari kaum peranakan (Indonesia-Belanda), Penderitaan-penderitaan rakyat yang
tidak dapat ditahan lagi.1
1 Dikutip dari http://digilib.uinsby.ac.id/11571/6/bab2.pdf, diakses pada hari selasa tanggal 26 september 2017,
pukul 19.50.
B. Sejarah Berdirinya Organisasi Boedi Oetomo
Periode akhir abad XIX dan awal abad XX merupakan periode awal pertumbuhan
modernisasi masyarakat bumi putera. Modernisasi dalam hal ini diartikan sebagai hasrat
untuk mencapai kemajuan dengan menuntut pelajaran dan pendiidkan, terutama
pendidikan model Barat. Dalam tubuh masyarakat bumi putera mulai saat itu telah
tumbuh kesadaran diri akan ketertinggalan kebudayaan jika dibandingkan dengan bangsa
Belanda yang ketika itu sebgai penjajah. Buktinya adalah bahwa semakin banyak anak
yang mengunjungi sekolah untuk menuntut ilmu pengetahuan dan tekni, makin banyak
penduduk pribumi yang mencari kesempatan untuk mendapatkan pendidikan modern.
Hal itu semakin meningkat setelah digelindingkannya politik etis di Hindia Belanda yang
salah satu programnya adalah pengembngan pendidikan bagi kalangan bumi putera.
Gejala itu menjadi tanda bahwa masyarakat berkembang kea rah kesadaran nasional.
Faham-faham baru mulai berlaku, timbul keberanian meninggalkan tradisi kuno, dan
adanya dorongan yang semakin kuat memperoleh kemajuan.
Boedi oetomo sebagai suatu organisasi pergerakan nasional pertama didirikan atas
dasar tuntutan kemajuan itu. Tuntutan kemajuan yang direfleksi dalam bentuk suatu
organisasi itu sebenarnya sebagai suatu jawaban terhadap Penetrasi barat dengan
imperialism dan kapitalismenya. Aspirasi nasional itu tidak hanya timbul sebagai reaksi
terhadap isolasi ekonomis dan sosio kultural yang dicuptakan oleh politik colonial Barat,
tetapi juga karena dorongan kuat untuk menjunjung tinggi derajat bangsa.
Pada tahun 1906 dan 1907 Wahidin Sudirihusodo mengdakan suatu perjalanan
keliling ke seluruh Jawa dalam rangka menganjurkan suatu perjlanan pengajaran sebagai
salah satu langkah untuk memajukan kehidupan rakyat. Anjurannya itu dapat terealisasi
tidak hanya bergantung kepada pemerintah Hindia Belanda, tetapi juga dapat terealisasi
jika bangsa Indonesia juga mau berusaha sendiri dengan cara membentuk studiefonds
atau dana pelajar yang hasilnya akan digunakan untuk membantu para pelajar yang
pandai tetapi kurang mampu untuk dalam hal biaya. Dalam perjalanan kelilingnya itu
akhirnya pda akhir tahun 1907 sampai di Jakarta dan bertemu dengan para pelajar stovia
(Sekolah Dasar Pribumi). Di situlah Wahidin bertemu dengan pemuda Sutomo dan
berbincang-bincang tentang nasib rakyat yang masih kurang mendapat perhatian di
bidang pendidikan. sejak itu rupanya tumbuh pemikiran dalam diri Sutomo untuk
melanjutkan cita-cita Wahidin Sudirihusodo, dan tidak hanya terbatas pada studiefonds
saja tetapi lebih luas dari itu. Gagasannya itu kemudian dilontarkan kepada teman-
temannya dan memperoleh sambutan yang ppositif, khususnya Gunawan
Mangunkusumo. Sebagai realisasi dari gagasan yang telah mendapat dukungan dari
teman-temannya para pelajar stovia itu, pada tanggal 20 Mei 1908 oleh mereka
dibentuklah organisasi yang kemudian diberi nama Boedi Oetomo, dan sebagai ketuanya
terpilih pemuda Sutomo.2
Dr. Wahidin Sudirohusodo (1857-1917) adalah pembangkitbsemangat organisasi
yang pertama itu. Sebagai seorang lulusan sekolah ‘Dokter Jawa’ di Weltvreden (yang
sesudah tahun 1900 dinamakan STOVIA), dia bekerja sebagai dokter pemerintah di
Yogyakarta sampai tahun 1899. Pada tahun 1901 dia menjadi redaktur majalah
Retnadhoemilah (Ratna yang berkilauan) yang dicetak dalam bahasa Jawa dan Melayu
untuk kalangan pembaca priyayi dan mencerminkan perhatian priyayi terhadap masalah-
masalah status mereka.
Pada tahun 1907 Wahidin berkunjung ke STOVIA dan di sana, di salah satu
lembaga terpenting yang menghasilkan priyayi rendah Jawa, dia melihat adanya
tanggapan yang bersemangat dari murid-murid sekolah tersebut. Diambil keputusan
untuk membentuk suatu organisasi pelajar guna memajukan kepentingan-kepentingan
priyayi rendah, dan pada bulan Mei 1908 diselenggarakan suatu pertemuan yang
menghasilkan Budi Utomo. Nama Jawa ini (yang seharusnya dieja budi utama)
diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh organisasi tersebut sebagai het schooner
striven (ihtiar yang indah), tetapi menurut konotasi-konotasi bahasa Jawa yang beraneka
ragam nama itu juga mengandung arti cendekiawan, watak atau kebudayaan yang mulia.
Pada pertemuan pertama itu para mahasiswa dari STOVIA, OSVIA, sekolah-sekolah
guru, serta sekolah-sekolah pertanian dan kedokteran hewan terwakili. Cabang-
cabangnya didirikan pada lembaga-lembaga tersebut dan pada tahun 1908 Budi Utomo
sudah mempunyai anggota 650 orang. Mereka yang bukan mahasiswa ikut
menggabungkan diri, sehingga pengaruh mahasiswa mulai berkurang dan organisasi
tersebut tumbuh menjadi priyayi rendah Jawa pada umumnya.3

2 Cahyo Budi Utomo. 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia Dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan.
Semarang: IKIP Semarang Press. Hlm 50.
3 M.C. Ricklefs. 1991. A History Of Modern Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hlm 249.
Menururt Tirtoprojo, istilah Boedi Oetomo berasal dari kata “Boedi” yang berarti
perangai atau tabiat dan “Oetomo” yang berarti baik atau luhur. Dengan demikian Boedi
Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adala perkumpulan yang akan mencapai sesuatu
berdasarkan keluhuran budi, kebaikan perangai, atau tabiat. Nama itu muncul dalam
sebuah anekdot dalam pembicaraan antara Dr. Wahidin Sudirohusodo dengan para pelajar
Stovia, termasuk Sutomo. Setelah Dr. Wahidin menceritakan cita-citanya dan akan
melanjutan perjalanannya ke lain-lain daerah di luar Jakarta (dalam rangka menghimpun
studiefonds ), ada cerita bahwa pada waktu itu Sutomo melahrkan kata-kata dalam bahasa
jawa: “puniko pedaleman ingkang sae, membuktikan budi ingkang utami”, artinya: yang
tuan maksudkan itu suatu pekerjaan yang baik dan membuktiakn suatu budi, suatu tabiat
yang utama. Perkataan itu didengar oleh kawan Sutomo, Dr. soeradji sehingga ketika
mereka mendirikan perkumpulan ini diusulkannya agar diberi nama Boedi Oetomo,
yang sebenarnya berasal dari ucapan Sutomo ketika berdialog dengan Dr. Wahidin pada
waktu sebelumnya.
Selain Sutomo dan Suradji, ynag turut aktif dalam pendirian Boedi Oetomo
adalah M.Muhammad Saleh, Mas Suwarno, Muhammad Sulaiman, Gunawan, Gumbreg
dan R. Angka. Setelah melalui pertimbangan yang masak, akhirnya nama Boedi Oetomo
itu disepakati sebagai nama yang tepat dari organisasi para priyayi Jawa tersebut.
Susunan pengurus Boedi Oetomo ketika itu adalah: ketua, R. Sutomo; wakil ketua,
M.Sulaiman; Sekretaris I, Suwarno; Sekretaris II, M. Gunawan; Bendahara, R. Angka;
Komisaris, M.Suwarno, M.Muhammad Saleh.
Tujuan Boedi Oetomo untuk pertama kali itu memang belum menunjukkan
sifatnya yang nasional. Tujua perkumpulan semula adalah menacapai kemakmuran yang
harmonis untuk nusa dan bangsa Jawa dan Madura (de harmonische ontwikkeling vn land
en volk van Java en Madura). untuk mencapai tujuan itu dirumuskan beberapa usaha
yaitu:
1. Memajukan pengajaran sesuai dengan yang dicita-citakan Dr. Wahidin
2. Memajukan pertanian, peternakan, dan perdagangan
3. Memajukan tehnik dan industry
4. Menghidupkan kembali kebudayaan.

C. Perkembangan Organisasi Boedi Oetomo


Perhatian utama Boedi Oetomo adalah kemajuan yang harmonis nusa dan bangsa,
tanpa adanya perbedaan golongan, bangsa, jenis kelamin dan agama. Pada awalnya Boedi
Oetomo merumuskan tujuannya secara samar-samar, yaitu kemajuan bagi Hindia, dengan
anggota yang terbatas. Namun ternyata kemunculan Boedi Oetomo mampu menarik
khalayak ramai, sehingga dalam waktu antara bulan Mei sampai dengan Okober 1908,
cabang-cabang Boedi Oetomo telah berdiri di Jakarta, Bogor, Bandung, Magelang,
Surabaya, Probolinggo dan Yogyakarta.
Dalam Kongres yang pertama 4 dan 5 Oktober di Yogyakarta, berhasil memilih
Raden Adipati Tirtokusomo seorang Bupati Karanganyar sebagai ketua Umum, serta
Wahidin Sudirohusodo sebagai Wakil Ketua. Pada waktu itu pedoman Boedi Oetomo
adalah “Pemuda-pemuda jadi motor dan orang-orang tua jadi sopir, supaya kapal tak
hancur kena karang dan selamat sampai ke pelabuhan”. Hasil dari Kongres Pertama, yaitu
: 1) Boedi Oetomo tidak ikut mengadakan kegiatan politik, 2) Kegiatan terutama
ditujukan kepada bidang pendidikan dan kebudayaan, dan 3) ruang gerak terbatas hanya
untuk daerah Jawa dan Madura (kemudian diperluas ke Bali karena dianggap adanya
kesamaan budaya).
Boedi Oetomo bersifat kooperatif dengan pemerintah kolonial untuk menempuh
cara dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada waktu itu sehingga wajar jika
Boedi Oetomo berorientasi kultural. Realisasi dari keinginan Budi Utomo adalah
memajukan pengajaran bagi orang Jawa agar mendapat kemajuan dan untuk
membangkitkan kembali kultur Jawa. Jadi ada usaha mengkombinasikan antara tradisi,
kultur dan edukasi Barat.4 Corak baru yang diperkenalkan Budi Utomo adalah “kesadaran
lokal”Arah perjuangan Boedi Oetomo juga terfokus pada bidang ekonomi seperti yang
tercantum dalam Undang-Undang Mufakat yang menyatakan antara lain Bahwa Boedi
Oetomo turut memahami kemajuan bumi putera, tetapi maksudnya yang terutama sekali
adalah meringankan upaya mencari makan. Boedi Oetomo berpandangan bahwa segala
kesengsaraan dan kemelaratan bangsa disebabkan karena kebodohan. Maka dari itu
banyak sekolah yang didirikan dan banyak menarik kaum intelektual untuk
memperhatikan kemajuan kebudayaan sendiri.
Boedi Oetomo mulai terjun dalam kancah politik pada tahun 1915 ketika
Inlandsche Militie dipersoalkan. Boedi Oetomo ikut memperjuangkan adanya milisi bagi
4 Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945.
Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Hlm 30 .
kaum bumi putera, hal itu diwujudkan dengan dikirimnya Dwijosewoyo untuk mewakili
delegasi ke Belanda Pada Bulan Januari 1917, untuk menyampaikan suatu permohonan
kepada Ratu Wilhelmina. Tak hanya itu pada tahun 1918 Boedi Oetomo juga masuk ke
dalam fraksi dalam Volksraad yang bernama radicale concentrasi. Selain itu pada tahun
1921 Boedi Oetomo juga ikut menuntut Inlandsche Meerderbeid supaya bagian terbesar
dari Volksraad terdiri dari anggota-anggota bangsa Indonesia.5

Perkembangan Boedi Oetomo secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Juli 1908

Gagasan Boedi Oetomo menyebar ke sekolah-sekolah lain di Jawa. Juli 1908, anggota
Boedi Oetomo sudah mencapai 650 orang. Soetomo nyaris dikeluarkan dari Stovia
karena aktivitasnya di Boedi Oetomo, teman-teman sesama Boedi Oetomo siap
mengundurkan diri dari Stovia jika Soetomo dikeluarkan. Direktur Stovia, H.F. Roll
membela aktivitas Boedi Oetomo di depan Dewan Guru sehingga ia tak jadi dikeluarkan.

 3-5 Oktober 1908

Kongres pertama Boedi Oetomo diadakan di Yogyakarta. Sekitar 300 orang hadir dari
beragam latar belakang dan profesi. Boedi Oetomo berfokus pada peningkatan
kesejahteraan orang Jawa dalam bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan serta tidak
terlibat dalam politik. Keanggotaannya terbatas pada suku Jawa dan Madura. Tjipto
Mangoenkoesoemo hadir dan mengutarakan ketidaksetujuannya. Menurutnya, fokus
kerja Boedi Oetomo hanya ditujukan pada kaum priyayi Jawa saja, bukan rakyat Jawa
keseluruhan, terutama di desa-desa. Karena masih harus menempuh masa studi, maka
kaum muda menyerahkan kepemimpinan pada kaum tua. Raden Adipati Tirtokoesoemo,
Bupati Karanganyar, dipilih sebagai ketua Boedi Oetomo yang pertama. Dr. Wahidin
Soedirohoesodo terpilih sebagai wakil ketua.

 28 Desember 1909

Boedi Oetomo memperoleh pengakuan (rechtpersoon) pemerintah Hindia Belanda. Arsip


pengakuan Boedi Oetomo sebagai badan hukum (rechtspersoon), tertanggal 28 Desember
5 Cahyo Budi Utomo. 1995. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia Dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan.
Semarang: IKIP Semarang Press. Hlm 53.
1909. Statuta pertama Boedi Oetomo yang diajukan untuk pertama kali sebagai
organisasi badan hukum pun terdapat dalam arsip ini. Boedi Oetomo menyewa Mr S.J. M
Wijthoff, seorang advokat untuk mengurus pengajuan badan hukum kepada pemerintah
kolonial. Dalam statuta disebutkan bahwa tujuan Boedi Oetomo adalah menggalang
kerjasama antara rakyat Jawa dengan Madura secara harmonis. Boedi Oetomo juga
mencurahkan perhatiannnya pada bidang pendidikan, kebudayaan, teknik dan industri,
menumbuhkan kembali seni dan tradisi pribumi, menjunjung tinggi cita-cita umat
manusia pada umumnya, dan membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa.

 16 Januari 1909

Hinloopen Labberton, perwakilan dari Himpunan Teosofi Hindia Belanda,


menyelenggarakan ceramah di depan anggota Boedi Oetomo tentang hubungan teosofi
dan Boedi Oetomo, termuat dalam buku Theosophie oentoek Boedi Oetomo.

 Pemberantasan Opium 26 Mei 1909

Boedi Oetomo diajak bekerjasama oleh pemerintah Hindia Belanda karena dianggap
sebagai organisasi pendidikan yang bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat Jawa
tentang penggunaan opium.

 9 September 1909

Tjipto Mangoenkoesoemo, Komisaris Pengurus Besar Budi Utomo, mengajukan usul


agar Budi Utomo meluaskan keanggotaannya bagi seluruh orang-orang Hindia dalam
rapat Pengurus Besar Budi Utomo di Yogyakarta. Usul tersebut ditolak dan Cipto
mengundurkan diri dari Budi Utomo. Saat itu anggota Budi Utomo mencapai 10.000
orang di 40 cabang.

 Juli-September 1910

Majalah Verslag Boedi-oetomo diterbitkan menggunakan bahasa Melayu. Majalah


Goeroe Desa diterbitkan oleh Boedi Oetomo, ditujukan untuk memperbaiki kesejahteraan
rakyat pedesaan dan berisikan informasi mengenai teknikteknik pertanian.

 16 September 1911
R.T. Tirtokusumo terpilih sebagai ketua Boedi Oetomo untuk masa jabatan kedua, namun
dalam pelaksanaannya ia memutuskan untuk meletakkan jabatannya karena konflik
internal organisasi.

 25 Agustus 1912

Pangeran Ario Noto Dirodjo, anak Paku Alam V, terpilih menjadi ketua Boedi Oetomo
kedua. Dalam masa kepemimpinannya, semakin banyak priyayi rendahan Jawa
bergabung.
Perselisihan dengan Regentenbond 1913 Para bupati (yang merupakan priyayi tinggi
Jawa) yang tergabung dalam Boedi Oetomo memisahkan diri dan membentuk
Regentenbond karena merasa statusnya terancam oleh dominasi priyayi rendahan dalam
Boedi Oetomo. Pada 12 November 1909 sekelompok bupati mengajukan pendirian
“Perhimpunan BupatiBupati” (Vereeniging van Regenten).

 Peran Boedi Oetomo dalam Rencana Milisi Boemipoetra 1914-1916

Boedi Oetomo mendukung pembentukan milisi boemipoetra untuk mempertahankan


Hindia Belanda. Gagasan ini ditentang oleh Sarekat Islam Semarang yang behaluan kiri.
Gagasan pembentukan milisi ditolak pemerintah kolonial, namun pembentukan Dewan
Rakyat (Volksraad) diterima. Boedi Oetomo berpartisipasi di dalamnya.

 1916

Menjadi anggota Comite Indie Weebar (Komite Pertahanan India) yang memperjuangkan
diadakannya milisi bagi pemuda-pemuda Indonesia.

 Peran dalam Volksraad 1917-1918

Haluan pergerakan Boedi Oetomo berubah dari gerakan sosial-budaya menjadi gerakan
politik dengan tuntutan otonomi dan parlemen untuk orang-orang pribumi (Volksraad).
Volksraad dibentuk di Batavia, wakil-wakil Boedi Oetomo duduk di dalamnya.

 Boedi Oetomo dalam Garut Affaire 1919

Haji Hassan dari Cimareme melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan menolak
membayar pajak padi. Dia tewas terbunuh di rumahnya dalam sebuah pengepungan
polisi. Pemerintah Kolonial dianggap kurang tanggap dalam memberikan penjelasan.
Beberapa anggota Volksraad mengusulkan agar bisa pergi ke Garut untuk menyelidiki
peristiwa tersebut. Wakil Boedi Oetomo di dalam Volksraad berpidato menyetujui
gagasan itu. Namun beberapa hari kemudian, saat voting dilakukan, hanya Sastrowidjono
saja yang setuju. Sedangkan Kamil dan Dwidjosewojo, yang semula setuju, malah
menolak. Sementara itu Radjiman memilih tidak memberikan suaranya.

 Radikal dan Berfusi 1921-1922

Boedi Oetomo mulai menempuh jalan politik revolusioner dengan mempertanyakan


kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Boedi Oetomo membentuk komite yang
menyokong pemogokan pegawai pegadaian (Januari 1922) dan menuntut pelepasan
ratusan pemogok yang ditangkap. Karena ini, pemerintah menganggap Boedi Oetomo
telah menjadi organisasi ‘kiri’.

 1923-1924
Golongan tua dan muda mulai bertentangan terkait arah pergerakan, dipengaruhi oleh
perkembangan pergerakan di India (non-kooperatif) dengan pemerintah. Golongan muda
ingin Boedi Oetomo menjadi non-kooperatif, sedangkan golongan tua menolak dan
berusaha menghapus anggapan golongan ‘kiri’ tersebut. Golongan tua menang dalam
kongres Boedi Oetomo pada tahun 1924; menyetir Boedi Oetomo kembali ke jalur
kebudayaan.

 1925-1927

Kepengurusan Boedi Oetomo jatuh ke tangan golongan muda. Kedudukan pengurus


besar dipindahkan ke Semarang pada kongres April 1925. Boedi Oetomo bergabung pada
Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada
Desember 1927. Suara untuk menjadikan Boedi Oetomo sebagai organisasi yang terbuka
bagi semua orang Indonesia mulai berkemuka.

 1928-1929

Kongres tahun 1929 menyetujui penambahan satu kalimat dalam anggaran dasar Boedi
Oetomo, yakni ikut serta melaksanakan cita-cita persatuan Indonesia.
 1930-1931
Boedi Oetomo membuka keanggotaan untuk semua orang Indonesia. Kongres tahun 1931
menugaskan para anggota Boedi Oetomo untuk berusaha mempersatukan perkumpulan-
perkumpulan yang berkebangsaan Indonesia.

 1932-1934

Kongres Boedi Oetomo pada Desember 1932 memutuskan mengubah haluan pergerakan
secara radikal: mencapai Indonesia merdeka. 1933-1934 adalah saat di mana Boedi
Oetomo menentang keras pembatasan hak berserikat dan berkumpul setelah partai-partai
pergerakan nasional diberangus pemerintah. Komisi fusi BO-PBI (Persatuan Bangsa
Indonesia) dibentuk pada Januari 1934.

 1935
Kongres Boedi Oetomo terakhir dan kongres peresmian fusi berlangsung pada 24-26
Desember 1935 dan lahirlah Partai Indonesia Raya (Parindra).6

D. Penyebab Berakhirnya Organisasi Budi Utomo

Pada dekade ketiga abad XX kondisi-kondisi sosio-politik makin matang dan Budi
Utomo mulai mencari orientasi politik yang mantap dan mencari massa yang lebih luas.
Kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, khususnya tekanan terhadap
pergerakan nasional maka Budi Utomo mulai kehilangan wibawa, sehingga terjadilah
perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam Budi Utomo. Selain itu juga, karena Budi
Utomo tidak pernah mendapat dukungan massa, kedudukannya secara politik kurang begitu
penting, sehingga pada tahun 1935 organisasi ini resmi dibubarkan. 7

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa Tujuan organisasi Budi Utomo tidak maksimal karena
banyak hal, yaitu :
1. Adanya kesulitan finansial.
2. Adanya sikap Raden Adipati Tirtokusumo yang lebih memperhatikan kepentingan
pemerintah kolonial dari pada rakyat.
3. Lebih memajukan pendidikan kaum priyayi dibanding rakyat jelata.
6 Dikutip dari
http:www.gahetna.nl/sites/default/files/boedi_oetomo_beweging_in_het_gedung_arsip_te_jakartatest.pdf ,
diakses pada hari sabtu, 23 September 2017, Pukul 14.20.
7 M.C. Ricklefs. 1991. A History Of Modern Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hlm 251.
4. Keluarnya anggota dari gologan mahasiswa.
5. Bahasa Belanda lebih menjadi prioritas utama dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.
6. Priyayi yang lebih mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan jiwa nasionalisnya

BAB III

KESIMPULAN

Politik etis telah mendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat


pribumi. Banyak penduduk bumi putera yang kemudian mengenyam pendidikan barat,
sebagai suatu cara untuk mengubah pemikiran yang tradisional. Faktor-faktor penyebab
munculnya perlawanan terhadap Pemerintah Belanda antara lain : Faktor Internalnya
yaitu : Penjajahan Belanda di hampir seluruh wilayah nusantara secara tidak langsung
telah menyatupadukan penduduk-penduduk dari berbagai bahasa dan kebudayaan
menjadi satu unit politik dan dengan cara demikian telah menimbulkan di kalangan
rakyat nusantara semacam “Kesadaran” yang sama bahwa mereka berada di bawah
penindasan bangsa asing yang keji. Sedangkan faktor eksternalnya : Kemenangan Jepang
atas Rusia pada perang Rusia-Jepang tahun 1905, gerakan Turki Muda untuk mencapai
perbaikan nasib.

Boedi Oetomo yang dibentuk pada tanggal 20 Mei 1908 merupakan sebuah
organisasi pelajar yang didirikan oleh Dr.Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School
tot Opleiding voor Inlandsche Arsten) yaitu Goenawan, Dr.Cipto Mangoenkeosoemo dan
Soeraji seta R.T Ario Tirtokusumo. Berdirinya Budi Utomo tak bisa lepas dari peran Dr.
Wahidin Sudirohusodo. Tujuan perkumpulan semula adalah menacapai kemakmuran
yang harmonis untuk nusa dan bangsa Jawa dan Madura (de harmonische ontwikkeling
vn land en volk van Java en Madura). untuk mencapai tujuan itu dirumuskan beberapa
usaha yaitu: Memajukan pengajaran sesuai dengan yang dicita-citakan Dr. Wahidin,
Memajukan pertanian, peternakan, dan perdagangan, Memajukan tehnik dan industry dan
Menghidupkan kembali kebudayaan.
Pada tanggal -5 Oktober 1908 Boedi Oetomo mengadakan konggres pertama di
Yogyakarta. Sekitar 300 orang hadir dari beragam latar belakang dan profesi. Pada
awalnya keanggotaannya terbatas pada suku Jawa dan Madura. Tahun 1917-1918 Haluan
pergerakan Boedi Oetomo berubah dari gerakan sosial-budaya menjadi gerakan politik
dengan tuntutan otonomi dan parlemen untuk orang-orang pribumi (Volksraad). Pada
tanggal 24-26 Desember 1935 Boedi Oetomo mengadakan Kongres terakhir dan kongres
peresmian fusi dan lahirlah Partai Indonesia Raya (Parindra).

DAFTAR PUSTAKA

M.C. Ricklefs.1991. A History Of Modern Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai


Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budi Utomo, Cahyo. 1995.Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia Dari


Kebangkitan Hingga Kemerdekaan. Semarang: IKIP Semarang Press.

http:www.gahetna.nl/sites/default/files/boedi_oetomo_beweging_in_het_gedung_
arsip_te_jakartatest.pdf , diakses pada hari sabtu, 23 September 2017, Pukul 14.20.

http://digilib.uinsby.ac.id/11571/6/bab2.pdf, diakses pada hari selasa tanggal 26


september 2017, pukul 19.50.