Anda di halaman 1dari 14

Pengaruh Pengelolaan Aset Daerah Terhadap Laporan Keuangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan aset Daerah Kabupaten Bone Bolango

Nur Iswahyudi Zainal

241408076

Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Dan BIsnis Universitas Negeri Gorontalo

ABSTRAK Iswahyudi Zainal, 2013. Pengaruh Pengelolaan Aset Daerah Terhadap Laporan Keuangan Dinas Pendapatan Pengelolaan

Keuangan Dan aset Daerah Kabupaten Bone Bolango. Skripsi Program Studi Strata 1 Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan Pembimbing I Rio Monoarfa, SE,.Ak, M.Si dan Pembimbing II Pratiwi Husain, SE,. M.Si Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan dinas pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan aset Daerah Kabupaten Bone Bolango. Responden dalam penelitian ini adalah pegawai bagian keuangan pada dinas pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan aset Daerah Kabupaten Bone Bolango. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui kuesioner. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelolaan aset daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap laporan keuangan dinas pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan aset Daerah Kabupaten Bone Bolango. Koefisien determinasi menunjukan besarnya pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan dinas pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan aset Daerah Kabupaten Bone Bolango adalah sebesar 73.8%

Kata Kunci: Pengelolaan Aset Daerah, laporan keuangan

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, pemerintah daerah merupakan

satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dengan pemerintah pusat dalam upaya penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan kepada masyarakat. Sejak diberlakukannya kedua undang-undang tersebut, penyelenggaraan pemerintah daerah mengalami pergeseran fundamental, baik secara politis, administratif, teknis maupun keuangan dan ekonomi, untuk mencermati mengadapi perubahan pengelolaan pemerintah daerah tersebut adalah perlunya menata manajemen pemerintahan yang dapat bekerja secara efesien, efektif dan ekonomis, (Halim, 2007: 145). Manajemen pemerintahan yang efektif sangat dibutuhkan agar berbagai urusan pemerintahan dilimpahkan kewenanganya kepada daerah dan dapat terselenggara secara maksimal serta dapat dipertanggngjawabkan secara baik kepada publik. Untuk lebih meningkatkan kapasitas daerah, dalam mengelola pembagunan daerah, pemerintah juga telah menerbitkan undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara yang selanjutnya diikuti dengan undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara. Melalui kebijakan ini pemerintah secara aktif mendorong terjadinya reformasi dibidang keuangan daerah, (Andriany, 2009). Alasan yang mendasari perlunya reformasi keuangan daerah yaitu mendorong pengelolaan keuangan daerah yang berbasis kinerja, dan mendorong terwujudnya akuntabilitas publik di bidang keuangan daerah. Sebagai konsekuensi logisnya pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten diseluruh Indonesia saat ini khususnya seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sudah harus mengacu kepada ketentuan baru tersebut, terutama yang terkait langsung dengan kebijakan pengelolaan barang daerah, dan sisi lain yang perlu dicermati adanya ketegasan dan kejelasan hal-hal yang terkait dengan hak, wewenang dan kewajiban kepala SKPD sebagai pengguna anggaran sekaligus pengguna barang milik daerah, (Andriany, 2009). Semakin meningkatnya tuntutan transparasi dalam sistem pemerintah at pada era reformasi saat ini. Pemerintah daerah diwajibkan menyusun laporan pertanggung jawaban yang menggunakan sistem akuntansi yang diatur oleh pemerintah pusat dalam bentuk undang-undang dan peraturan pemerintah yang bersifat mengikat seluruh pemerintah daerah. Upaya mewujudkan pemerintah yang transparan dan akuntabel tersebut dibutuhkan adanya satu jaminan bahwa segala aktivitas dan transaksi terekam secara baik dengan ukuran–ukuran yang jelas dan dapat diikhtisarkan. Melalui proses akuntansi dalam bentuk laporan, sehingga bisa dilihat segala yang terjadi dan terdapat diruang entitas pemerintahan tersebut. Laporan tahunan (laporan keuangan) meskipun belum melaporkan akuntabilitas secara keseluruhan dari entitas pemerintahan, secara umum dipertimbangkan sebagai media utama akuntabilitas. Lapora keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas laporan. Tujan umum laporan keaungan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanafaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumberdaya. Secara spesifik, tujuan laporan keuangan pemerintah adalah menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keuputusan dan menunjukan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumberdaya yang dipercayakan kepadanya, (Hariadi, dkk, 2010: 155). Kewajiban pemerintah daerah untuk menyelenggarakan akuntansi dan pelaporan keuangan dilakukan dalam rangka meningkatkan akuntabilitas dan

tranparansi. Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan, setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan satuan kerja pengelola keuangan daerah (SKPKD) wajib menyampaikan laporan keuangan yang mencakup laporan realisiasi anggaran, nerca keuangan daerah, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut harus disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintah. (Hariadi, dkk, 2010: 155). Berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan, Seregar (2008) maka tidak lepas dari usaha untuk mengembangkan asset daerah. Dalam Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial dimasa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Hal ini dilakukan untuk melihat perkembangan aset daerah yang ada di tiap kabupaten/kota. Dengan adanya perekembangan aset daerah, secara otomotias akan memberikan dampak terhadap laporan keuangan yang ada di Kabupaten/Kota tersebut baik dari segi anggaran pengeluaran maupun penerimaan. Dalam peraturan Menteri Dalam Negeri ini yang dimaksud barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/APBD, dan atau yang berasal dari perolehan lainnya yang sah. Kemudian pengurusan dan pengelolaan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. Di samping itu pengurusan dan pengelolaan barang milik daerah meliputi dari perencanaan kebutuhan, penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan, pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Pertanggungjawaban atas barang milik daerah kemudian menjadi sangat penting ketika pemerintah wajib menyampaikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBD dalam bentuk laporan keuangan yang disusun melalui suatu proses akuntansi atas transaksi keuangan, aset, hutang, ekuitas dana, pendapatan dan belanja, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungan, (Simamora, 2011: 2). Aset tetap atau barang milik daerah merupakan salah satu faktor yang paling strategis dalam pengelolaan keuangan daerah. Pada umumnya, nilai aset tetap daerah merupakan nilai yang paling besar dibandingkan dengan akun lain pada laporan keuangan. Keberadaan aset tetap sangat mempengaruhi kelancaran roda pemerintahan dan pembangunan. Oleh karena itu, sistem pengendalian intern atas manajemen/pengelolaan aset tetap daerah harus handal untuk mencegah penyimpangan yang dapat merugikan keuangan daerah (BPK RI, 2010) dalam Putra (2012: 3). Aset tetap/barang milik daerah memiliki fungsi yang sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, tetapi dalam pelaksanaan pengelolaannya sering kali terdapat berbagai persoalan. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango tahun anggaran 2009, adapun permasalahan pengelolaan barang milik daerah di Pemerintah Kabupaten Bone Bolango yang menjadi sorotan BPK RI adalah sebagai berikut:

1. Sebagaimana dijelaskan dalam Temuan Pemeriksaan nomor 4 Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian Intern, pengelolaan dan penatausahaan Aset Tetap belum dilakukan sesuai ketentuan sehingga nilai Aset Tetap pada Neraca sebesar Rp27.530.998.132,00 tidak diyakini kewajarannya. 2. Pelaksanaan Pembangunan Instalasi Listrik Untuk Rumah Pribadi Bupati Merugikan Keuangan Daerah Sebesar Rp124.721.036,00;

Atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango Tahun Anggaran 2009 BPK memberikan opini “Wajar Dengan Pengecualian (WDP)”. Hingga tahun 2011 BPK masih memberikan opini WDP terhadap LKPD pemerintah Kabupaten Bone Bolango, BPK berpendapat Laporan Keuangan

Pemerintah Kabupaten Bone Bolango telah disajikan secara wajar dalam semua hal yang material kecuali untuk dampak hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. Berdasarkan data yang diperoleh dari pemerintah Kabupaten Bone Bolango, dalam tabel berikut ini menyajikan perkembangan aset pemerintah Kabuapten Bone Bolango tahun 2009-2011.

Tabel 1: Perkembagan Aset Kabupaten Bone Bolango 2009-2011

No

Jenis Aset

Saldo Per 31 Desember 2009

Saldo Per 31 Desember 2010

Saldo Per 31 Desember 2011

1

KIB A (Tanah)

18.731.462.169

48.322.195.012

50.344.408.010

2

KIB B (Peralatan Mesin)

82.596.320.299,13

96.146.359.936

124.825.521.544

3

4

KIB C (Gedung/Bangunan)

KIB D (Jalan, jaringan, Irigasi)

115.497.354.232,99

231.291.652.913,01

179.534.541.323

262.497.988.925,60

195.937.363.850

303.148.006.651,6

0

5

6

KIB E (Aset Tetap LAinnya)

KIB F (Konstruksi dalam pengerjaan)

11.029.644.057

-

11.909.963.097

1.916.351.859

17.935.425.256

4.682.822.317

7

KIB G (Aset tetap tak berwujud)

927.432.650

927.432.650

927.432.650

Total

460.073.866.321,13

601.254.832.802,6

697.800.980.278,6

Sumber: Laporan keuangan Pemda Bone Bolango

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa data jumlah aset yang ada di kabupaten Bone Bolango adalah 7 aset yakni Tanah, Peralatan Mesin, Jalan, Jaringan, Irigasi, Aset Tetap Lainnya, Konstruksi dalam Pengerjaan, dan Aset Tetap Tak Berwujud, data ini merupakan data secara garis besar aset kabupaten Bone Bolango. Sedangkan data laporan keuangan menunjukan perkembangan aset pemerintah Bone Bolango pada tahun 2009 total aset kabupaten Bone Bolango Sebesar Rp. 460.073.866.321,13. Pada tahun 2010 meningkat menajdi sebesar Rp. 601.254.832.802,6 dan pada tahun 2011 total aset kabuaten Bone Bolango meningkat sebesar Rp. 697.800.980.278,6 Dengan bertambahnya jumlah aset maka akan berdampak pada laporan keuangan yang dimiliki oleh Bone Bolango, karena jumlah penerimaan dari aset yang meningkat tiap tahunnya. Namun dengan berkembangnya jumlah aset, masih ada hal-hal yang belum dibenahi diantaranya, kurangnya perhatian pemerintah terhadap aset yang dimiliki, aset yang dimiliki oleh pemerintah masih minim, dan kurangnya anggaran yang disalurkan untuk pemeliharaan aset daerah. Penelitian Wiraputri (2012) dengan judul pengaruh pengelolaan barang milik daerah terhadap akuntabilitas dengan kualitas laporan keuangan sebagai variable intervening (studi kasus pemerintah kabupaten/Kota Ciayu Majakuning, Subang, Karawang Dan Purwakarta). Hasil penelitian dengan analisis jalur menunjukkan bahwa pengaruh pengelolaan barang milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan mempunyai arah positif namun tidak berpengaruh

signifikan. Sedangkan pengaruh pengelolaan barang milik daerah terhadap akuntabilitas dengan kualitas laporan keuangan sebagai variabel intervening tidak berpengaruh signifikan. Hal tersebut berarti kualitas laporan keuangan belum dapat memediasi antara pengelolaan barang milik daerah terhadap akuntabilitas. Siregar (2008) dengan judul pengaruh pengelolaan barang milik daerah terhadap pengamanan aset daerah pada Kabupaten Deli Serdang. Hasil penelitian membuktikan Pengelolaan Barang Milik Daerah memberikan dampak yang signifikan terhadap Pengamanan AseT Daerah pada Kabupaten Deli Serdang. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji tentang perkembangan aset daerah dan laporan keuangan dengan memformulasikan judul ”Pengaruh Pengelolaan Aset Daerah Terhadap Laporan Keuangan di DPPKAD Bone Bolango”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah apakah pengelolaan aset daerah berpengaruh terhadap laporan keuangan di DPPKAD Bone Bolango?.

Tujuan Penelitian

Tujuan utama yang hendak dicapai dalam penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan di

DPPKAD Bone Bolango.

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

Kajian Teori Pengertian Aset Daerah

Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa msa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial dimasa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya (SAP, 2009: 23).

Prinsip Dasar Pengelolaan Aset Daerah

Untuk mendukung pengelolaan aset daerah secara efisien dan efektif serta menciptakan transparansi kebijakan pengelolaan aset daerah, maka pemerintah daerah perlu memiliki atau mengembangkan sistem informasi menajemen yang komprehensif dan handal sebagai alat untuk menghasilkan laporan pertanggung jawaban. Selain itu, sistem informasi tersebut juga bermanfaat untuk dasar pengambilan keputusan mengenai kebutuhan barang dan estimasi kebutuhan belanja pembangunan (modal) dalam penyusunan APBD, dan untuk memperoleh informasi manajemen aset daerah yang memadai maka diperlukan dasar pengelolaan kekayaan

asset yang memadai juga, dimana menurut Mardiasmo dalam Sirigar (2008: 11) terdapat tiga prinsip dasar pengelolaan kekayaan aset daerah yakni: (1) adanya perencanaan yang tepat, (2) pelaksanaan/pemanfaatan secara efisien dan efektif, dan (3) pengawasan (monitoring).

Laporan Keuangan Daerah

Lapora keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas laporan. Tujan umum laporan keaungan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanafaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumberdaya. Secara spesifik, tujuan laporan keuangan pemerintah adalah menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keuputusan dan menunjukan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumberdaya yang dipercayakan kepadanya, (Hariadi, dkk, 2010: 155).

Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban ataupun dugaan sementara terhadap suatu masalah yang dihadapi, yang akan masih akan diuji kebenarannya lebih lanjut melalui analisis data yang relevan dengan masalah yang terjadi, (Mifitria, 2009). Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Diduga pengelolaan aset daerah berpengaruh terhadap laporan keuangan di DPPKAD Bone Bolango.

TEKNIK ANALISIS DATA

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data regresi linear sederhana. Penggunaan teknik ini karena dalam penelitian ini hanya digunakan satu variable terikat (Efektivitas Pengembalian Piutang) dan satu variable independen (Pengendalian Intern Piutang). Model yang akan dibentuk sesuai dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2009: 261) adalah:

Y = a + bX

(Sugiyono, 2009: 261)

Y

: Variabel dependen (Pengelolaan Aset Daerah)

X

: Variabel independen (Laporan Keuangan)

b

: Angka arah atau koefisien regresi

a

: Intercept atau konstata

Untuk kemudahan dalam perhitungan digunakan jasa komputer berupa software dengan program SPSS (Statistical Package for Sosial Science) for windows version 16 dan Microsoft exel 2007.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan pengujian asumsi klasik dan syarat-syarat untuk memenuhi analisis regresi telah terpenuhi, maka tahap berikut adalah melakukan evaluasi dan interpretasi model regresi. Model regresi dalam penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh variabel pengelolaan aset daerah (X), terhadap variabel dependen laporan keuangan (Y). Pengujian

hipotesis ditujukan untuk menguji ada tidaknya pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengujian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 16. Kriteria pengambilan keputusan dalam melakukan penerimaan dan

penolakan setiap hipotesis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

  • 1. Dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel untuk masing-masing koefisien regresi. Apabila t hitung lebih kecil dari t tabel , maka hipotesis nol (H 0 ) atau ditolak, dan apabila t hitung lebih besar dari nilai t tabel , maka H 1 atau diterima.

  • 2. Cara yang kedua Selain kriteria perbandingan t hitung dengan t tabel , yaitu dengan menggunakan kriteria nilai p value (kekuatan koefisien regresi dalam menolak H 0 ). Jika p value < 0,05 maka Ho ditolak dan apabila p value > 0,05 maka H 0 diterima.

Adapun hasil Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel beikut:

Tabel 1: Model Persamaan Regresi

Coefficients a

 

Unstandardized

Standardized

   

Coefficients

Coefficients

Model

B

Std. Error

Beta

t

Sig.

1

(Constant)

-6.241

1.504

 

-4.151

.000

Pengelolaan Aset

         

Daerah

.517

.057

.859

9.047

.000

a. Dependent Variable: Laporan Keuangan

Sumber: Data Olahan 2013

Berdasarkan tabel 1 maka diperoleh persamaan regresi untuk melihat pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan sebagai berikut:

Y = -6.241 + 0.517X

Persamaan regresi yang diperoleh dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • 1. Nilai konstanta pada persamaan ini sebesar -6.241 menjelaskan nilai rata-rata laporan keuangan pada saat pengelolaan aset daerah konstan (tidak berubah) atau sama dengan nol adalah sebesar -6.241

  • 2. Koefisien regresi untuk variabel pengelolaan aset daerah (bx) bertanda positif sebesar 0.517 menunjukkan perubahan laporan keuangan (Y) jika pengelolaan aset daerah meningkat sebesar satu satuan. Jadi jika skor pengelolaan aset daerah meningkat sebesar 1 (satu) satuan maka akan terjadi peningkatan laporan keuangan sebesar 0.517. Jadi, semakin baik pengelolaan aset daerah maka laporan keuangan yang disajikan juga semakin baik. Sebaliknya apabila pengelolaan aset daerah buruk maka laporan keuangan yang disajikan juga akan buruk.

Hasil analisis di atas juga dapat diketahui nilai t- hitung untuk variabel .pengelolaan aset daerah adalah sebesar 9.047. Sedangkan nilai t- tabel pada tingkat signfikansi 5% dan derajat bebas n-k-1=31.-1-1= 29 sebesar 1.69913. Jika kedua nilai t ini dibandingkan maka nilai t- hitung masih lebih besar dibandingkan dengan nilai t- tabel sehingga Ho yang menyatakan tidak terdapat pengaruh pengelolaan aset terhadap laporan keuangan ditolak dalam artian Hipotesis H 1 yang menyatakan terdapat pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan diterima. Selain itu apabili kita membandingkan nilai signifikan (P value ), maka dapat dilihat bahwa nilai P value dari pengujian ini lebih kecil dari 0.05. Dengan kata lain pada tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan DPPKAD Kabupaten Bone Bolango.

Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi untuk mengukur besarnya proporsi atau pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Setelah diketahui bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan maka langkah selanjutnya adalah menganalisis besar pengaruh yang ditimbulkan oleh pengelolaan keuangan daerah terhadap laporan keuagan DPPKAD Kabupaten Bone Bolango. Untuk keperluan tersebut digunakan analisis koefisien determinasi. Nilai koefisien determinasi merupakan suatu nilai yang besarnya

berkisar antara 0% - 100%. Semakin besar nilai koefisien determinasi suatu model regresi menunjukkan bahwa pengaruh dari variabel bebas yang terdapat dalam model terhadap variabel tidak bebasnya juga semakin tinggi. Untuk mengetahui besarnya koefisien determinasi (R ) dapat dilihat pada tabel:

2

Tabel 2: Koefisien Determinasi

Model Summary

 

R

Adjusted R

Std. Error of

Model

R

Square

Square

the Estimate

1

.859 a

.738

.729

1.266133

a. Predictors: (Constant), Pengelolaan Aset Daerah Sumber: Olah Data 2013

Tabel di atas menunjukkan bahwa besarnya koefisien determinasi atau angka R Square adalah sebesar 0.738. Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan di DPPKAD Kabupaten Bone Bolango diperoleh sebesar 73.8% dan sisanya sebesar 26.2% (100-73.8) dipengaruh oleh variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.

Pembahasan

Aset Daerah atau barang milik daerah adalah semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh ata beban anggaran pendapatan dan belanja daerah maupun yang berasal dari perolehan lain yang sah baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak beserta bagian-bagainnya ataupun yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai, dihitung, diukur atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan kecuali uang dan surat-surat berharga lainnya. Aset daerah merupakan sumber daya penting bagi pemerintah daerah sebagai penopang utama pendapatan asli daerah. oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk dapat mengelola aset secara memadai. Dalam pengelolaan aset, pemerintah daerah harus menggunakan pertimbangan aspek perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan atau penggunaan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi agar aset daerah mampu memberika kontribusi optimal bagi pemerintah daerah yang bersangkutan. Pengelolaan aset daerah yang baik tentunya akan erpengaruh terhadap penyusunan laporan keuangan daerah. Berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan, Seregar (2008) maka tidak lepas dari usaha untuk mengembangkan asset daerah. Dalam Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial dimasa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Hal ini dilakukan untuk melihat perkembangan aset daerah yang ada di tiap kabupaten/kota. Dengan adanya perekembangan aset daerah, secara otomotias akan memberikan dampak terhadap laporan keuangan yang ada di Kabupaten/Kota tersebut baik dari segi anggaran pengeluaran maupun penerimaan. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan regresi sederhana diperoleh kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan. Hal ini didasarkan dari hasil pengujian dengan menggunakan uji-t yang memberikan hasil yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Koefisien regresi sebesar 0,517 dengan arah positif menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dari pengelolaan aset daerah terhadap kualitas laporan keuangan daerah pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Bone Bolango. Semakin baik pengelolaan aset daerah yang diterapkan maka laporan keuangan yang disajikan oleh DPPKAD Kabuapten Bone Bolango juga akan semakin baik. Setiap peningkatan pengelolaa aset daerah maka kinerja laporan keuangan yang disajikan akan lebih baik. Hasil Penelitian ini sejalan dengan teori Simamora (2011) yang menyatakan Pertanggungjawaban atas barang milik daerah kemudian menjadi sangat penting ketika pemerintah wajib menyampaikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBD dalam bentuk laporan keuangan yang disusun melalui suatu proses akuntansi atas transaksi keuangan, aset, hutang, ekuitas dana, pendapatan dan belanja, termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungan.

Sehingga itu pengelolan aset daerah yang baik akan berpengaruh terhadap laporan keuangan yang disajikan. Hasil ini juga sesui dengan pernyataan yang terdapat dalam Standar Akuntansi Pemerintahan dan Pemendagri No. 13 tahun 2006. Dimana dengan meningkatkan sistem Inventarisasi dan Pelaporan yang baik, maka akan berdampak baik untuk keberhasilan perkembangan aset daerah. Dengan meningkatnya sistem inventarisasi dan pelaporan terhadap BMD tersebut, maka tingkat kualitas laporan keuangan yang dihasilkan akan menjadi lebih reliable mengingat jumlah aset yang terdaftar benar-benar menggambarkan jumlah yang sebenarnya. Penelitian ini juga membuktikan penelitian dari Wiraputri (2012) hasil penelitian dengan analisis jalur menunjukkan bahwa pengaruh pengelolaan barang milik daerah terhadap kualitas laporan keuangan mempunyai arah positif . penelitian ini juga sejalan dengan Siregar (2008) Hasil penelitian membuktikan Pengelolaan Barang Milik Daerah memberikan dampak yang signifikan terhadap Pengamanan AseT Daerah pada Kabupaten Deli Serdang. Sama halnya dengan Mifitri (2009). Hasil penelitiannya membuktikan Pengelolaan Barang Milik Daerah memberikan dampak yang signifikan terhadap Pengamanan Aset Daerah pada Kabupaten Langkat. Hasil Koefisien determinasi dalam penelitian ini menunjukan bahwa besarnya pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan Di DPPKAD Kabupaten Bone Bolango diperoleh sebesar 73.8%. melihat kontribusi pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan memiliki pengaruh yang kuat. Pengelolaan aset daerah merupakan salah satu upaya yang dijalankan pemerintah daerah utuk mengelola, mengatur, dan menjaga aset daerahnya. Bila aset daerah dapat dikelola dengan baik, maka akan mempengaruhi laporan keuangan yang disajikan. Apalagi masalah aset pernah menjadi catatan atas laporan keuangan daerah pemerintah Kabupaten Bone Bolango. Karena itu diharapkan dengan melakukan pengelolaan aset daerah sesuai peraturan yang ada, maka, pengelolaan aset daerah akan lebh efektif dan efisien guna menyusun laporan kuangan yang lebih berkualitas. Dari hasil penelitian dan berbagai penelitian terdahulu terlihat bahwa pengelolaan aset daerah memeberikan kontribusi yang positif terhadap laporan keuangan. Dengan adanya suatu pengelolaan yang baik maka terbentuklah kerja sama dan keterkaitan formal sehingga suatu pekerjaan dapat diselesaikan dan kebutuhan dapat terpenuhi, penerapan pengelolaan aset daerah secara baik dan efektif maka akan dapat mempengaruhi penyajian laporan keuangan pun menjadi baik. Karena dalam hal pengelolaan aset daerah yang selama ini menjadi kendala dapat ditingkatkan menjadi baik dengan penerapan pengelolaan aset daerah ini, dimana pengelolaan aset daerah dilakukan sesuai dengan siklus pengelolaan aset daerah. hal ini sebagaimana tertuang dalam Permendagri No. 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Aset Daerah, dengan berjalannya siklus pengelolaan aset daerah secara bai sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka permasalahan-permasalaha dalam pengelolaan aset daerah dapat sedikit demi sedikit dibenahi menjadi lebih baik sehingga dapat pula meningkatkan kualitas penyajian laporan keuangan yang lebih baik lagi.

Kesimpulan Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan Di DPPKAD kabupaten Bone Bolango. Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pengelolaan aset daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hal ini sebagaimana ditinjau dari hasil uji t dengan t tabel yaitu sebesar 1.69913 dan t hitung sebesar 9.047 yang berarti bahwa t hitung lebih besar dari t tabel , dengan signifikan dibawah 0,05 (5%). Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan dari pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan pada DPPKAD Kabupaten Bone Bolango dan pengaruhnya bersifat positif. Semakin baik pengelolaan aset yang diterapkan maka laporan keuangan yang dihasilkan akan semakin berkualitas. Nilai koefisien determinasi atau R square diperoleh sebesar 0.738. Artinya pengaruh pengelolaan aset daerah terhadap laporan keuangan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Gorontalo diperoleh sebesar 73,8%.

Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan dan hasil penelitian diman pengelolaan keuangan daerah memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap laporan keuangan maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

Untuk DPPKAD Bone Bolango kiranya lebih meningkatkan lagi pengelolaan aset daerahnya, hal ini dikarenakan masih ditemukan masalah terkait dengan pengelolaan aset Kabupaten Bone Bolango diman pengelolaan dan penatausahaan Aset Tetap belum dilakukan sesuai ketentuan sehingga nilai Aset Tetap pada Neraca tidak dapat diyakini kewajarannya. Untuk mengatasi masalah tersebut maka diharapkan Pemerintah Bone Bolango melakukan sistem Inventarisasi, pembukuan, dan Pelaporan yang baik terkait dengan pengelolaan aset daerahnya, dengan melakukan sistem Inventarisasi dan Pelaporan terhadapaset daerah tersebut dengan baik dan benar sesuai peraturan pemerintah yang berlaku saat ini, maka tingkat kualitas laporan keuangan yang dihasilkan akan menjadi lebih reliable dan berkualitas mengingat jumlah aset yang terdaftar benar-benar menggambarkan jumlah yang sebenarnya sebagai akibat dari tindakan pengelolaan aset yang efisien dan efektif di lingkungan pemerintah Bone Bolango.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno dan Trisnawati. 2010. Akuntansi Perpajakan. Edisi 2 Revisi. Jakarta: Salemba Empat. Andriany, Ayu. 2009. Pengaruh Pengelolaan Barang Milik Daerah Terhadap Pengamanan Aset Daerah Studi Kasus Pada Pemerintahan Kota Medan. Skripsi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekenomi, Universitas Sumatra Utara, Medan. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka Cipta Baridwan, Zaki. 1991. Intermediate Accounting. BPFE : Yogyakarta. Chabib Soleh dan Heru Rohmansyah. (2010). Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Fokus Media. Bandung.

Darsono dan Ashari. 2005. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan. Yogyakarta: Andi Offset. Erlina, 2008. Akuntansi Sektor Publik, Akuntansi untuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), USU Press, Medan. GASB. 1998. Governmental Accounting Standard Board. Halim, Abdul, 2007. Akuntansi Keuangan Daerah, Jakarta : Salemba Empat.

,2007. Akuntansi Dan pengendalian Pengelolaan Keuangan Daerah. UPP STIM YPKN. Yogyakarta. Hariadi, Pramono, Yanuar E. Restianto dan Icuk Rangga Bawono. 2010. Pengelolaan Keuangan Daerah. Salemba empat Jakarta. Mifitri, Dewi, 2009. ” Pengaruh Pengelolaan Barang Milik Daerah Terhadap Pengamanan Aset Daerah Pada Kabupaten Langkat”, Skripsi, Departement Akuntansi Fakultas Ekenomi, Uneversitas Sumatra Utara, Medan.

Nsanganzelu, dkk (2011). ” The Levels of Factors that Contribute towards Efficiency, Effectiveness and Strength of the Internal Control Systems (ICSs) With Regard to Non-current Assets Safeguard and Management in Public Institutions in Tanzania.

Putra, Ardiansyah. 2012. Analisis Pengaruh Perencanaan, Pelaksanaan, Pembinaan, Pengawasan Dan Pengendalian Terhadap Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Kabupaten

Sarolangun. Tesis, Departemen Akuntansi Fakultas Ekenomi, Universitas Sumatra Utara, Medan .. Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, Laporan Keuangan Untuk Tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2007. ------------, Undang -Undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah ------------ Undang-Undang No 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan ------------ Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 pasal 32. ------------ Permendagri No. 17 tahun 2007 Pengelolaan Barang Milik Daerah. ------------ Peraturan pemerintah No. 105 tahun 2000 pasal 28. ------------ Permendagri No. 29 tahun 2002 pasal 18 laporan akhir tahun. ------------ Permendagri No. 13 tahun 2006 Tentang Pemerintah Daerah.

------------ PSAP No. 1 alinea 43 Peraturan pemerintah No. 24 tahun 2005 ------------ Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang

Pengolaan Keuangan Daerah.

----------- Peraturan Mentri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. ------------ Peraturan Pemerintah No.71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan ------------ Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. ------------ Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Cetakan, 2009.

Riduan dan Akon. 2005. Skala pengukuran Variable – variable penelitian. Bandung : Alfabeta. Simamora, Fitryani Mr . 2011. Pengaruh Penatausahaan Dan Penertiban Barang Milik Daerah Terhadap Pengamanan Barang Milik Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat. Skripsi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekenomi, Universitas Sumatra Utara, Medan. Siregar, Mizan ahmad, 2008. ” Pengaruh Pengelolan Barang Milik Daerah Terhadap Pengamanan Aset Daerah Pada Kabupaten Deli Serdang ”, Skripsi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekenomi, Universitas Sumatra Utara, Medan. Sudjana, Nana. 1984. Metode Statistika. Bandung: Tarsito Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sutaryo, 2009. Manajemen aset daerah. Artikel Jurusan Akuntansi FE UNS

Uma, Sekaran. 2008. Reseach Methods for Busines (Metode Penelitian Bisnis). Jakarta: Salemba Empat. Wiraputri, Maya Maulidia, 2012. Pengaruh Pengelolaan Barang Milik Daerah Terhadap Akuntabilitas Dengan Kualitas Laporan Keuangan Sebagai Variable Intervening (Studi Kasus Pemerintah Kabupaten/Kota Ciayumajakuning, Subang, Karawang Dan Purwakarta). http://repository.upi.edu