Anda di halaman 1dari 11

ARTIKEL JURNAL STUDI KASUS

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Riset Keperawatan

Dosen pengampu :Dr. Nang Randu, S.Pd., M.A

Di susun Oleh :

Nama : Eka Ayu Meylina

NIM : PO.62.20.1.16.016

DEPERTEMEN KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA

JURUSAN DIII-KEPERAWATAN REGULER XIX A

2018
INTENSITAS KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN PASIEN ANAK

(Studi Kasus tentang Intensitas Komunikasi Terapeutik Perawat dalam Kaitannya


dengan Semangat Pasien Anak untuk Sembuh di RSUP H.Adam Malik Medan)

Nora Jessica Simamora

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Intensitas Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pasien Anak (Studi
Kasus tentang Komunikasi Terapeutik Perawat dalam Kaitannya dengan Semangat Pasien
Anak untuk Sembuh di RSUP H. Adam Malik Medan). Penelitian ini berfokus pada
penelitian kualitatif studi kasus. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana intensitas komunikasi terapeutik yang dilakukan terhadap semangat pasien anak
untuk sembuh di Ruang Anak Rindu B RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian ini juga
menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan interpretif. Dalam penelitian ini
peneliti meneliti subjek penelitian (informan) enam orang pasien anak yang berumur dua
tahun ke atas yang sudah dapat diajak untuk berbicara dan dirawat inap di Ruang Anak
Rindu B, serta tiga orang perawat yang bertugas di ruangan tersebut.
Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah penelitian lapangan yang berupa
wawancara mendalam (indepth interview) dengan bentuk wawancara tidak berstruktur
serta observasi terhadap ke semua informan dan penelitian kepustakaan. Sedangkan
analisis data yang peneliti gunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan
kesimpulan. Peneliti menggunakan teori komunikasi antarpribadi, komunikasi terapeutik,
komunikasi dalam keperawatan, dan komunikasi pada anak.
Hasil penelitian yang peneliti dapatkan adalah terdapat intensitas komunikasi terapeutik
perawat dan pasien anak yang dikategorikan ke dalam tingkat sering yaitu rata-rata tiga
kali dalam sehari. Selain itu intensitas komunikasi terapeutik perawat dalam kaitannya
dengan semangat pasien untuk sembuh di Ruang Anak Rindu B RSUP H. Adam Malik
Medan adalah positif/baik. Komunikasi terapeutik dapat dijadikan sebagai model terapi
dalam penyembuhan pasien. Penelitian kualitatif ini berhasil menjawab konteks masalah
“Bagaimanakah intensitas komunikasi terapeutik perawat dalam kaitannya dengan
semangat pasien anak untuk sembuh di RSUP H. Adam Malik Medan?”.
Kata Kunci:

Komunikasi Terapeutik, Semangat Pasien Anak Untuk Sembuh.


Analisis Abstrak :

Abstrak di atas membahas tentang studi kasus intensitas komunikasi terapeutik perawat
dan pasien anak penulisannya sudah lengkap dari judul, metode dan rumusan hasil/ temuan
ada tapi masih ada kurang, biasanya Abstrak dibuat dengan 2 bahasa yaitu bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris. Untuk penyusunan dengan spasi tunggal dan terdapat tiga
paragraf.

Abstrak adalah tulisan singkat yang berisi gambaran secara menyeluruh mengenai
aktivitas / kegiatan penelitian yang dilakukan. Abstrak biasanya diletakkan di bagian awal
sebuah karya ilmiah atau pun laporan hasil penelitian sebagai informasi awalan bagi para
pembaca. Abstrak biasanya dibuat dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris (bahasa general)
dan bahasa ibu tempat laporan penelitian atau pun karya ilmiah tersebut dibuat.
Penggunaan dua bahasa ini dimaksudkan agar karya ilmiah atau pun laporan penelitian
dapat digunakan baik oleh orang-orang yang berasal dari negara tempat laporan penelitian
tersebut dibuat, maupun oleh orang-orang yang berasal dari negara di luar tempat laporan
penelitian tersebut dibuat. Abstrak berisi intisari menyeluruh tentang isi tulisan, mulai dari
judul, metode, dan rumusan hasil/ temuan. Abstrak di tulis dengan spasi tunggal. Untuk
makalah, abstrak cukup satu paragraf, sedangan untuk laporan penelitin terdiri atas tiga
paragraf.
PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Salah satu kajian ilmu komunikasi ialah komunikasi kesehatan. Bentuk komunikasi yang
dilakukan disebut komunikasi antarpribadi. Dalam ilmu kesehatan, komunikasi
antarpribadi ini disebut juga dengan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah
bentuk khusus dari komunikasi yang digunakan dalam pengaturan perawatan kesehatan
untuk mendukung, mendidik, dan secara efektif memberi kekuatan dalam mengatasi
masalah sulit yang berhubungan dengan kesehatan (Elizabeth, 2003:200).

Proses keperawatan merupakan suatu metode untuk mengorganisasi dan memberikan


tindakan keperawatan dari pasien kepada klien (Arwani, 2002: 46). Dalam hal ini, kesan
lahiriah perawat dan keramah tamahan perawat mulai dari senyum yang penuh ketulusan,
kerapian berbusana, sikap familiar, serta sikap bertemperamen bijak dibutuhkan untuk
menjadi obat pertama bagi pasien.

Berkomunikasi dengan anak-anak pada tingkat usia yang berbeda membutuhkan


modifikasi dari keterampilan yang dipelajari. Dengan memahami tingkat kognitif,
perkembangan, dan fungsional anak, perawat dapat memilih strategi komunikasi yang
paling tepat. Anak-anak menjalani perubahan terkait usia yang signifikan dalam
kemampuan untuk memproses informasi kognitif dan kemampuan untuk berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan. Untuk memiliki hubungan terapeutik yang efektif
dengan seorang anak, maka perawat harus mampu memahami perasaan dan proses berpikir
dari sudut pandang anak. Mengembangkan hubungan mensyaratkan bahwa perawat
memahami dunia antarpribadi anak, merasakan hal itu dan menyampaikan kejujuran, rasa
hormat, dan penerimaan perasaan (Elizabeth, 2003: 396).

Dalam penelitian ini peneliti memilih lokasi penelitian di RSUP H. Adam Malik yang
beralamat di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan, Kecamatan Medan
Tuntungan, Medan. Letak RSUP H. Adam Malik. Letak yang berada agak jauh dari jalan
raya ini sangat mendukung bagi para pasien karena suasana tenang di daerah tersebut akan
semakin mempercepat proses penyembuhan dari pasien. Peneliti memilih rumah sakit ini
sebagai tempat penelitian karena peneliti pernah membaca di harian waspada online terkait
pemberitaan mengenai pelayanan yang mengecewakan yang diberikan oleh rumah sakit ini
terhadap seorang pasien bayi berusia tiga minggu korban gempa dengan menelantarkannya
dikarenakan pasien tersebut tidak mampu (dikutip dari http:www.waspada.co.id). Dalam
hal inilah peneliti ingin mengetahui apakah pelayanan tersebut meliputi juga komunikasi
terapeutik di antara perawat dan pasien, khususnya pasien anak serta bagaimanakah
komunikasi terapeutik berjalan secara intensif di RSUP. H. Adam Malik Medan.

Konteks Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka konteks permasalahan sebagai berikut:


“Bagaimanakah Intensitas Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Kaitannya Dengan
Semangat Pasien Anak Untuk Sembuh Di RSUP H. Adam Malik Medan?”.
KAJIAN PUSTAKA

Model Teoretik

Komunikasi Terapeutik

Dalam konteks pelayanan keperawatan kepada klien, pertama-tama klien harus percaya
bahwa perawat mampu memberikan pelayanan keperawatan dalam mengatasi keluhannya,
demikian juga perawat harus dapat dipercaya dan diandalkan atas kemampuan yang telah
dimiliki perawat.

Pada waktu perawat berkomunikasi terapeutik pertama kali, proses komunikasi mungkin
akan terlihat canggung, semu dan seperti dibuat-buat. Namun hal ini akan lebih membantu
untuk mempersepsikan masing-masing hubungan pasien karena adanya kesempatan untuk
mencapai hubungan antar manusia yang positif sehingga akan mempermudah pencapaian
tujuan keperawatan (Arwani, 2002: 50).

Tujuan komunikasi terapeutik adalah untuk menyediakan tempat yang aman bagi klien
untuk mengeksplorasi makna dari pengalaman penyakit dan untuk menyediakan informasi
dan dukungan emosional setiap kebutuhan klien untuk mencapai kesehatan maksimum dan
kesejahteraan. Dalam banyak hal, perawat berfungsi sebagai pendamping yang terampil,
menggunakan pendamping, menggunakan komunikasi sebagai alat utama untuk mencapai
tujuan kesehatan (Pearson, 1997:46-52). Setiap percakapan terapeutik adalah unik
(Caughan & Long, 2000:979-984) karena orang-orang menahan mereka berbeda.

Komunikasi Dalam Keperawatan

Proses keperawatan merupakan suatu metode untuk mengorganisasi dan memberikan


tindakan keperawatan dari pasien kepada klien (Arwani, 2002: 46). Komunikasi
merupakan bentuk yang selalu dan dapat dilakukan pada setiap tahap atau komponen
proses keperawatan. Satu hal penting yang tidak terpisahkan dari proses pencapaian tujuan
tersebut adalah komunikasi. Komponen proses keperawatan meliputi: pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan penilaian (Arwani, 2002: 47-48).

Komunikasi Pada Anak

Berkomunikasi dengan anak-anak pada tingkat usia yang berbeda membutuhkan


modifikasi dari keterampilan yang dipelajari. Dengan memahami tingkat kognitif,
perkembangan, dan fungsional anak, perawat dapat memilih

strategi komunikasi yang paling tepat. Anak-anak mengalami perubahan terkait dengan
usia dalam kemampuan yang signifikan untuk memproses informasi kognitif dan
kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan lingkungan. Untuk memiliki
hubungan terapeutik yang efektif dengan seorang anak, perawat harus mampu memahami
perasaan dan proses berpikir dari sudut pandang anak.
METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif untuk
membandingkan kasus pada informan pada tiap pasien anak. Menurut Bogdan dan Taylor
(1975:5) mengartikan bahwa metode penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata (bisa lisan untuk penelitian
sosial, budaya dan filsafat), catatan-catatan yang berhubungan dengan makna, nilai, serta
pengertian.

Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah intensitas komunikasi terapeutik perawat
dalam kaitannya dengan semangat pasien anak untuk sembuh.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini disebut sebagai informan yaitu beberapa orang
pasien anak yang dirawat inap di Ruang Anak Rindu B RSUP H. Adam Malik dan juga
beberapa orang perawat yang juga bekerja di Ruang Anak Rindu B RSUP H. Adam Malik.
Penentuan informan ini menggunakan teknik purpossive yaitu teknik pengambilan subjek
penelitian dengan maksud atau tujuan tertentu.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu pengumpulan data langsung ke lokasi penelitian. Dalam hal ini peneliti berencana
melakukan teknik observasi dan wawancara mendalam terhadap subjek penelitian
(informan).

2. Studi Kepustakaan (Library Research)

Yaitu penelitian dengan cara mempelajari dan menelaah buku-buku, artikel dan dokumen-
dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian sehingga terkumpul data yang relevan
dan mendukung dalam penelitian ini.

Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Mereduksi data berarti merangkum dan memilih hal-hal yang pokok untuk kemudian
memfokuskan pada hal-hal yang penting dengan mencari tema dan pola sesuai dengan
masalah penelitian.
2. Penyajian Data (Display Data)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat,
bagan maupun hubungan antarkategori.

3. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing /Verification)

Langkah ketiga dalam penyajian data menurut Miles dan Huberman (Moleong, 2009: 308)
adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan dan verifikasi data
dimaksudkan untuk mencari makna dari data yang dikumpulkan dengan mencari
hubungan, persamaan, atau perbedaan.

Analisis Metodologi :

Metodologi dari studi kasus di atas yang berjudul intensitas kamunikasi terapeutik perwat
dan pasien anak terdiri metode penelitian, objek penelitian, subjek penelitian,teknik
pengumpulan data dan teknik analisis data. Metodologi penelitian merupakan sebuah cara
untuk mengetahui hasil dari sebuah permasalahan yang spesifik, dimana permasalahan
tersebut disebut juga dengan permasalahan penelitian. Metode penelitiannya
mengggunakan studi kasus dengan cara pembandingan. Teknik pengumpulan data dengan
cara penelitian lapangan dan studi keperpustakaan. Teknik analisis data dengan car
reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Wawancara dilakukan terhadap sembilan orang informan yang terdiri dari enam orang
pasien dan tiga orang perawat. Sedangkan lama wawancara adalah selama empat hari
dihitung dari tanggal 12 Februari 2013 dengan satu orang anak, yaitu S; kemudian pada
tanggal 18 Februari dengan tiga orang anak yaitu M.F, RP, dan TS; pada tanggal 19
Februari wawancara dilakukan dengan dua orang anak yaitu AS dan J; pada tanggal 21
Februari 2013 peneliti mengadakan wawancara terhadap tiga orang perawat yaitu Kak I,
Ibu RS, serta Ibu MH.

Pada hari pertama wawancara dilakukan terhadap informan pertama yaitu adik S yang
berlangsung selama sekitar tiga puluh menit. Perawat yang bertugas memberikan
pelayanan yang cukup baik sehingga tercipta komunikasi terapeutik yang cukup baik pula.
Komunikasi ini juga tergolong cukup sering yaitu dengan intensitas tiga kali dalam sehari,
yaitu pagi, siang, dan malam. Peneliti tidak menemukan adanya hambatan dan berjalan
lancar baik di antara setiap perawat dengan S maupun ibunya.

F merupakan informan kedua yang peneliti wawancarai. Intensitas komunikasi terapeutik


yang perawat lakukan terhadap F adalah lebih dari tiga kali termasuk pada malam hari.
Informan berikutnya adalah RP. Menurut RP ada perawat yang datang ke tempatnya untuk
menanyai keadaannya dengan intensitas tiga kali dalam sehari termasuk malam. Namun R
membuat perbandingan antara pelayanan yang dilakukan oleh perawat di Tebing dengan
perawat di RSUP. H. Adam Malik dan peneliti dapatkan bahwa perawat di Tebing sedikit
lebih ramah dan baik daripada yang ada di RSUP H. Adam Malik. Tetapi secara
keseluruhan pelayanan di ruang anak RSUP. H. Adam Malik menurut R cukup baik. TS
adalah informan berikutnya yang menderita penyakit lupus dan dirawat di ruang Rindu B
3.3. Rata-rata perawat mendatangi adik ini adalah sekali dalam sehari yaitu pada malam
hari untuk mengganti infus maupun menyuntik antibiotik. Harapan T terhadap perawat di
ruangan ini adalah supaya semoga pelayanannya semakin baik lagi.

Informan kelima yang peneliti wawancarai adalah AS. Dalam kegiatan wawancara ini,
peneliti sedikit mengalami kesulitan dikarenakan si informan hanya sedikit sekali
mengetahui bahasa Indonesia sehingga peneliti berusaha mengadakan tanya-jawab dengan
menggunakan bahasa Batak. Intensitas komunikasi terapeutik oleh perawat adalah
sebanyak tiga kali dalam sehari. Wawancara berikutnya adalah terhadap J. Peneliti melihat
terjadi komunikasi terapeutik yang berjalan dengan baik disini. J sangat senang kalau
perawat datang berbicara kepadanya saat pagi hari.

Informan berikutnya adalah Kak I. Menurut Kak I komunikasi terapeutik yang dilakukan
antara perawat dan pasien sangat bagus karena dapat mempermudah perawat mencari tau
penyakit pasien. Menurut kakak ini juga harus ada persiapan diri perawat pada saat akan
merawat pasien khususnya pasien baru. Tindakan yang dilakukan pada saat bertemu
langsung dengan pasien berupa tindakan-tindakan keperawatan yang dibutuhkan pasien.
Intensitas komunikasi terapeutik yang terjalin adalah sesering mungkin dan disesuaikan
shift. Ibu RS adalah salah satu perawat senior di bagian ruang anak di rumah sakit ini.
Intensitas komunikasi terapeutik yang dijalankan adalah sesering mungkin bahkan hingga
tujuh sampai sepuluh kali dalam sehari. Persiapan diri perawat pada saat akan merawat
pasien pertama kalinya menurut Ibu R adalah terlebih dahulu mengkaji pasien yang
pertama kali datang, lalu membina saling percaya. Teknik yang dilakukan oleh perawat
dalam menggali informasi dari setiap pasien adalah dengan mengadakan pendekatan
dengan selembut mungkin terlebih dahulu terhadap pasien agar tercipta hubungan baik
sehingga mereka merasa dihargai sebagai seorang pasien. Beliau menjelaskan ada waktu
tertentu komunikasi terapeutik berjalan secara efektif yaitu pada pagi hari tepatnya pada
saat overan bed to bed.

Ibu MH adalah kepala ruangan di Ruang Anak Rindu B yang membawahi semua perawat
yang bekerja di ruangan ini. Intensitas komunikasi terapeutik yang terjadi menurut beliau
adalah sangat sering yaitu dengan mendatangi setiap ruang pasien, menginfus, serta
menanyai perkembangan mereka dan keluhan mereka. Informan juga sangat yakin
komunikasi komunikasi terapeutik dapat diupayakan sebagai model terapi dalam praktik
penyembuhan pasien anak. Teknik yang dianjurkan oleh Ibu MH dalam melakukan praktik
komunikasi terapeutik terhadap pasien adalah dengan membina pendekatan dan hubungan
yang baik dengan mereka. Waktu yang paling efektif untuk melakukan komunikasi
terapeutik menurut informan adalah pada pagi hari karena pada waktu itu baik perawat
maupun pasien yang dalam keadaan normal masih segar, jadi pasien akan lebih leluasa
menyampaikan apa saja dan begitu juga perawat akan lebih mudah untuk menanyai
maupun menjawab pertanyaan mereka.

Pembahasan

Intensitas komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat adalah sering dan berulang-ulang.
Secara rata-ratanya ada tiga kali dalam sehari. Menurut pengamatan peneliti juga perawat
selalu datang ke setiap ruangan untuk nenanyakan perkembangan pasien.

“Iya kak, sering datang, ada yang kakak tapi ada juga yang udah tua perawatnya, seingat
S ada tiga kali kak.” (S, dok. Wawancara 12 Februari 2013)

Tingkat pemahaman para perawat mengenai komunikasi terapeutik ini sesuai dengan
pengertian dasar komunikasi terapeutik yaitu adalah kemampuan atau keterampilan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar
bagaimana berhubungan dengan orang lain (Northouse 1998:12).

“Ada. Cuman kan kita lihat juga disini kapasitas perawat disini. Sudah perawat lama
semua kan. Kalo ditanyapun mengenai komunikasi terapeutik udah lupa orang itu apa itu
komunikasi terapeutik, taunya mereka terapinya itu aja. Komunikasi terapi, tujuannya
untuk pengobatan. Kan gitu kan.” (RS, dok. Wawancara 21 Februari 2013)

Secara teoretis, sebelum hendak menemui pasien dalam melakukan tindakan keperawatan
dan komunikasi terapeutik, maka perawat dituntut untuk mempersiapkan segala sesuatunya
dengan baik terlebih dahulu. Peneliti mendapatkan bahwa perawat melakukan hal ini
dalam melakukan tugas mereka.

“Kalau pasiennya VIP ya pake maskerlah, juga kalau pasiennya berpenyakit menular.” (I,
dok. Wawancara 21 Februari 2013)

Waktu yang paling efektif dalam melakukan komunikasi terapeutik adalah pada pagi hari.
Alasan menurut pasien adalah karena pagi hari itu suasana masih segar.

Dari keseluruhan uraian dan pembahasan dapatlah disimpulkan intensitas komunikasi


terapeutik yang dilakukan perawat cukup baik sehingga komunikasi ini dapat saja berperan
pada tingkat semangat pasien anak untuk sembuh dandapat melepaskan status dan
perannya sebagai pasien serta kembali kepada keadaan normalnya.

KESIMPULAN

Kesimpulan

Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian yang peneliti lakukan maka dapat dikemukakan
kesimpulan sebagai berikut:
Intensitas komunikasi terapeutik yang terjalin di antara perawat dan pasien anak adalah
sering, yang secara rata-rata sebanyak tiga kali dalam sehari dimana waktu yang paling
efektif dalam melakukan komunikasi terapeutik adalah pada pagi hari.

Komunikasi terapeutik yang terjalin di antara perawat dan pasien anak antara lain berupa
pendekatan awal, penguatan, bujukan, penguatan (reinforcement), serta membina
hubungan baik sehingga komunikasi ini dapat dijadikan sebagai model terapi dalam
praktik penyembuhan pasien, khususnya pasien anak di RSUP H. Adam Malik Medan.

Menurut pasien, pelayanan komunikasi terapeutik yang diberikan oleh perawat cukup baik.
Dan peneliti mengamati juga bahwa tindakan komunikasi terapeutik ini berlangsung
dengan baik/positif di Ruang Anak Rindu B RSUP H. Adam Malik Medan.

Saran

Penelitian ini merupakan studi kasus untuk mengetahui bagaimana intensitas komunikasi
terapeutik perawat dan pasien anak dan dilakukan sesuai prinsip metode kualitatif. Jika di
kemudian hari dilakukan penelitian ulang atau masih mengangkat kajian intensitas
komunikasi terapeutik perawat dan pasien anak, peneliti menyarankan untuk sebaiknya
melakukan penelitian kuantitatif agar dapat dijadikan sebagai perbandingan antara
penelitian kualitatif dan kuantitatif.

Intensitas komunikasi terapeutik oleh perawat di RSUP H. Adam Malik, khususnya di


Ruang Anak Rindu B hendaknya lebih ditingkatkan lagi agar pasien merasa nyaman dan
senang sehingga dapat meningkatkan semangat pasien untuk sembuh.

Analisis Kesimpulan :

Kesimpulan terkait langsung dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Kesimpulan
juga dapat ditarik dari hasil pembahasan. Kesimpulan penelitian merangkum semua hasil
penelitian yang telah diuraikan secara lengkap. Untuk sarannya hanya untuk RSUP H.
Adam Malik ruangan Anak Rindu B. Saran yang diajukan hendaknya selalu bersumber
pada temuan penelitian, pembahasan, dan kesimpulan hasil penelitian. Saran dapat
ditunjukkan pada suatu instansi seperti pemerintahan, lembaga, ataupun swasta, ataupun
pihak lain yang dianggap layak.

DAFTAR REFERENSI

Arwani. (2002). Komunikasi Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC

Bogdan, Robert and Steven J. Taylor. (1975). Introduction To Qualitattive Research


Methods. New York: John Wiley & Sons

. (1992). Pengantar Metoda Peneltian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional


Bungin, Burhan. (2007). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan
Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

. (2008). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial
Lainnya. Jakarta: Kencana

Caughan, A & Long A.(2000). Communication Is The Essence Of Nursing Care : Ethical
Foundation. : Br J Nurs

Elizabeth C.Arnold, Kathleen Underman Boggs. (2007). Interpersonal Relationships :


Professional Communication Skill for Nurses. USA: Saunders Elsevier Inc

Kennedy, Lisa Sheldon. (2010). Komunikasi Untuk Keperawatan. Jakarta: Erlangga (Edisi
Terjemahan)

Moleong, Lexy J. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Northouse. (1998). Health Communication: Strategies for Health Professionals.


Connecticut: Appleton & Lange

Pearson, A, dkk. (1997). Practicing Nursing Therapeutically Through Acting As A Skilled


Companion On The Illness Journey. : Adv Pract Nurs

Vardiansyah, Dani. (2008). Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Index

Sumber Lain:

http://rsuphadammalik.com/

Dokumen RSUP.H.Adam Malik