Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Puskesmas sebagai unit organisasi fungsional di bidang kesehatan
dasar yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, membina peran
serta masyarakat dan pelayanan kesehatan dasar secara menyeluruh dan
terpadu. Puskesmas Kampung Bali adalah salah satu Puskesmas Induk dalam
wilayah kerja Kecamatan Teluk Segara di Kota Bengkulu tepatnya di Jalan
Bali RT II Kelurahan Kampung Bali. Adapun wilayah kerjanya meliputi 4
kelurahan. Masing – masing wilayah kerja Puskesmas ini adalah :
1. Kelurahan Kampung Bali dengan luas wilayah kerja 1,84 km²
2. Kelurahan Bajak dengan luas wilayah kerja 3,46 km²
3. Kelurahan Tengah Padang luas wilayah kerja 7,50 km²
4. Kelurahan Pintu Batu yang luas wilayah kerja 0,11 Km²
Jadi, luas keseluruhan wilayah kerja UPTD Puskesmas Kampung Bali
adalah sekitar 12,91 km².
Geografi kecamatan ini merupakan daerah yang terletak di pesisir
pantai,dataran rendah, dan rawa-rawa. Pada akhir tahun 2015, jumlah
penduduk yang berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kampung Bali
berdasarkan data dari masing – masing kelurahan adalah sebesar 9662 jiwa.
Maka, kepadatan penduduk per km² adalah sebanyak 748 jiwa. Dengan
jumlah kepala keluarga sebanyak 2126 KK dan rata – rata per kepala keluarga
adalah 5 jiwa.
Menurut profil tahunan Puskesmas Kampung Bali, didapati penyakit
infeksi seperti ISPA dan diare masuk menjadi 10 penyakit terbanyak. Angka
kejadian ISPA sendiri pada tahun 2015 ditemukan sebanyak 4163 kasus, yang
menempati urutan pertama dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas
Kampung Bali. Untuk angka kejadian diare sendiri masih tinggi di wilayah
kerja Puskesmas Kampung Bali, dengan ditemukan sebanyak 363 kasus.
Berdasarkan riset, mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu
cara paling efektif untuk mencegah penyakit diare dan ISPA, keduanya
menjadi penyebab utama kematian anak-anak. Setiap tahun, sebanyak 3,5 juta
anak-anak di seluruh dunia meninggal sebelum mencapai umur lima tahun
karena penyakit diare dan ISPA. Mencuci tangan dengan sabun juga dapat
mencegah infeksi kulit, mata, kecacingan, dan flu burung. Cuci Tangan Pakai
Sabun (CTPS) sebaiknya dilakukan pada lima waktu penting, yaitu: (1)
sebelum memulai pekerjaan; (2) sesudah menggunakan toilet; (3) sebelum
memegang bayi; (4) sesudah menceboki anak; (5) sebelum menyiapkan
makanan dan sesudah makan. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air
mengalir dapat memutuskan mata rantai kuman yang melekat di jari-jemari.
Masyarakat termasuk anak sering mengabaikan mencuci tangan memakai
sabun dengan air mengalir karena kurangnya pemahaman tentang kesehatan.
Permasalahan penyakit infeksi seperti ISPA dan diare tentunya bisa
diminimalisasi dengan memanipulasi faktor host, dengan melakukan personal
hygiene, salah satunya dengan tindakan mencuci tangan yang baik dan benar.
Maka dari itu, penulis berminat untuk melakukan identifikasi mengenai
“Gambaran Pengetahun dan Perilaku Cuci Tangan yang Baik dan Benar di
Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali periode Januari dan Februari 2017”.
Hasil yang didapatkan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar
studi dan/atau pemberian rekomendasi ke Puskesmas Kampung Bali sebagai
tumpuan dalam penanganan masalah kesehatan di wilayah kerjanya, sehingga
masalah kesehatan ke depannya ini dapat ditangani dengan baik.

1.1. RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka diagnosis komunitas yang
dibuat ini mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan perilaku cuci tangan
yang baik dan benar di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali. Maka,
dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Gambaran
Pengetahuan dan Perilaku Cuci Tangan yang Baik dan Benar di Wilayah
Kerja Puskesmas Kampung Bali periode Januari dan Februari 2017 .
1.2. TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui Gambaran Pengetahuan dan Perilaku Cuci Tangan yang Baik dan
Benar di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Bali periode Januari dan
Februari 2017.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan dan perilaku cuci tangan yang baik
dan benar, yang berkontribusi terhadap tingginya insiden penyakit infeksi
seperti ISPA dan diare di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali periode
Januari dan Februari 2017.
2. Merencanakan solusi mampu laksana untuk membudayakan cuci tangan yang
baik dan benar di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali.

1.4 MANFAAT
1.4.1 Masyarakat
Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai perilaku cuci tangan
yang baik dan benar di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali
1.4.2 Penulis
Penulis mengetahui gambaran umum mengenai pengetahuan dan perilaku
cuci tangan yang baik dan benar, yang berkontribusi terhadap tingginya
insiden penyakit infeksi seperti ISPA dan diare di wilayah kerja Puskesmas
Kampung Bali periode Januari dan Februari 2017
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KONSEP PERILAKU
2.1.1.Pengertian Perilaku
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang
mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis,
tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau
aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses
adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons,
maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Response.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat
dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :
1. Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk
terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus
ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan
sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan
belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
2. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh
orang lain.

2.1.2. Klasifikasi Perilaku Kesehatan


Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon
seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit
atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta
lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3
kelompok :
1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance)
Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance) adalah
perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana
sakit.
2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan,
atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking
behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan
seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
3. Perilaku kesehatan lingkungan
Perilaku kesehatan lingkungan adalah apabila seseorang merespon
lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan
sebagainya.

2.1.3. Domain Perilaku


Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2003), membagi perilaku itu
didalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak
mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk
kepentingan tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga
domain perilaku tersebut, yang terdiri dari ranah kognitif (cognitive domain), ranah
affektif (affective domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain).
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk
kepentingan pengukuran hasil, ketiga domain itu diukur dari :
1. Pengetahuan (knowlegde)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Tanpa
pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil
keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang :
a. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri sendiri, misalnya
intelegensia, minat dan kondisi fisik.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal nerupakan faktor dari luar diri, misalnya keluarga,
masyarakat, atau sarana.
c. Faktor pendekatan belajar
Faktor pendekatan belajar merupakan faktor yang berhubungan dengan
upaya belajar, misalnya strategi dan metode dalam pembelajaran.

Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu :


1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu
materi yang telah dipelajari sebelumnya.
2) Memahami (Comprehension)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar.
3) Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
4) Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu
struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain.
5) Sintesis
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.
6) Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi / objek.
2. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Allport menjelaskan bahwa
sikap mempunyai tiga komponen pokok :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (obyek).
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
3. Praktik atau tindakan (practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt
behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata
diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara
lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik ini mempunyai
beberapa tingkatan :
a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat
pertama.
b. Respon terpimpin (guide response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan
sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat
kedua.
c. Mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan
benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan
kebiasaan, maka ia sudah mancapai praktik tingkat tiga.
d. Adopsi (adoption)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah
berkembang dengan baik.Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi
tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan


wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau
bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni
dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
Menurut Notoatmodjo (2003), sebelum orang mengadopsi perilaku baru
didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni :
1. Kesadaran (awareness)
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu
terhadap stimulus (objek)
2. Tertarik (interest)
Dimana orang mulai tertarik pada stimulus
3. Evaluasi (evaluation)
Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya.Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Mencoba (trial)
Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5. Menerima (Adoption)
Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
2.1.4. Asumsi Determinan Perilaku
Menurut Spranger, membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai
kebudayaan. Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang
dominan pada diri orang tersebut.Secara rinci perilaku manusia sebenarnya
merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan,
kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya.
Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan
tersebut dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman, keyakinan,
sarana/fasilitas, sosial budaya dan sebagainya. Beberapa teori lain yang telah dicoba
untuk mengungkap faktor penentu yang dapat mempengaruhi perilaku khususnya
perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain:
1. Teori Lawrence Green
Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat
kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok,
yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non
behavior causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :
a) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan
sebagainya.
b) Faktor pendorong (enabling factor), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas
atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan,
alat-alat steril dan sebagainya.
c) Faktor pendukung (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
2. Teori Snehandu B. Kar
Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa
perilaku merupakan fungsi dari :
a) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau
kesehatannya (behavior itention).
b) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).
c) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau
fasilitas kesehatan (accesebility of information).
d) Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil
tindakan atau keputusan (personal autonomy).
e) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).
3. Teori WHO
WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu
adalah pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk
pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek
(objek kesehatan).
a) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang
lain.
b) Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek.
Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa
adanya pembuktian terlebih dahulu.
c) Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek.
Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling
dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau
objek lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu
terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap
akan diikuti oleh tindakan mengacu kepada pengalaman orang lain, sikap
diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau
sedikitnya pengalaman seseorang.
d) Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya,
maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
e) Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga
dan sebagainya.
f) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber
didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of
life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk
dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat
sesuai dengan peradapan umat manusia (Notoatmodjo, 2003).
2.2 TEORI MENCUCI TANGAN YANG BENAR
Cara mencuci tangan yang benar yang dengan cara mencuci tangan
menggunankan sabun Mencuci tangan menggunakan sabun adalah salah satu
tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari-jemari menggunakan air dan
sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman.
Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal
ini dilakukan karena tangan sering menjadi agen yang membawa kuman dan
menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak
langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain
seperti handuk, gelas). Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia
dan binatang, ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus) dan makanan/minuman yang
terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan bakteri, virus, dan
parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa dirinya sedang ditulari.
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu cara paling efektif untuk
mencegah penyakit diare dan ISPA, keduanya menjadi penyebab utama kematian
anak-anak. Setiap tahun, sebanyak 3,5 juta anak-anak di seluruh dunia meninggal
sebelum mencapai umur lima tahun karena penyakit diare dan ISPA. Mencuci tangan
dengan sabun juga dapat mencegah infeksi kulit, mata, kecacingan, dan flu burung.
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebaiknya dilakukan pada lima waktu penting,
yaitu: (1) sebelum memulai pekerjaan; (2) sesudah menggunakan toilet; (3) sebelum
memegang bayi; (4) sesudah menceboki anak; (5) sebelum menyiapkan makanan dan
sesudah makan. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir dapat
memutuskan mata rantai kuman yang melekat di jari-jemari. Masyarakat termasuk
anak sering mengabaikan mencuci tangan memakai sabun dengan air mengalir
karena kurangnya pemahaman tentang kesehatan.
Mencuci tangan adalah membersihkan tangan dari segala kotoran, dimulai
dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara tertentu sesuai kebutuhan.
Perilaku cuci tangan adalah salah satu bentuk kebersihan diri yang penting. Mencuci
tangan juga dapat diartikan menggosok dengan sabun secara bersama seluruh kulit
permukaan tangan dengan kuat dan ringkas yang kemudian dibilas di bawah air yang
mengalir.
Cuci tangan menggunakan air saja tidaklah cukup untuk melindungi
seseorang dari kuman penyebab penyakit yang merugikan kesehatan. Dari berbagai
riset, risiko penularan penyakit dapat berkurang dengan adanya peningkatan perilaku
hidup bersih dan sehat, perilaku kebersihan, seperti cuci tangan pakai sabun. Perilaku
cuci tangan pakai sabun merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan
efektif dibandingkan dengan intervensi kesehatan dengan cara lain. Cuci tangan
adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanis dari kulit kedua belah
tangan dengan memakai sabun dan air. Kesehatan dan kebersihan tangan secara
bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit pada kedua
tangan dan lengan serta mengurangi kontaminasi silang. Cuci tangan dianggap
merupakan salah satu langkah yang paling penting untuk mengurangi penularan
mikroorganisme dan mencegah infeksi selama lebih dari 150 tahun. Kesehatan
kebersihan tangan yang baik dapat mencegah penularan mikroorganisme dan
mengurangi frekuensi infeksi nosokomial.
a. Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan mencuci tangan
menggunakan sabun.
1. Diare
Penyakit diare menjadi penyebab kematian kedua yang paling
umum untuk anak-anak balita. Sebuah ulasan yang membahas sekitar
30 penelitian terkait menemukan bahwa cuci tangan dengan sabun
dapat menurunkan angka kejadian diare hingga 50%. Penyakit diare
seringkali diasosiasikan dengan keadaan air, namun secara akurat
sebenarnya harus diperhatikan juga penanganan kotoran manusia
seperti tinja dan air kencing, karena kuman-kuman penyakit penyebab
diare berasal dari kotoran-kotoran ini. Kuman-kuman penyakit ini
membuat manusia sakit ketika mereka masuk mulut melalui tangan
yang telah menyentuh tinja, air minum yang terkontaminasi, makanan
mentah, dan peralatan makan yang tidak dicuci terlebih dahulu atau
terkontaminasi. Tingkat keefektifan mencuci tangan dengan sabun
dalam penurunan angka penderita diare dalam persen menurut tipe
inovasi pencegahan adalah: Mencuci tangan dengan sabun (44%),
penggunaan air olahan (39%), sanitasi (32%), pendidikan kesehatan
(28%), penyediaan air (25%), sumber air yang diolah (11%). (2)
2. Infeksi saluran pernafasan.
Infeksi saluran pernafasan adalah penyebab kematian utama anak-
anak balita. Mencuci tangan dengan sabun mengurangi angka infeksi
saluran pernafasan ini dengan dua langkah : 1) dengan melepaskan
patogen-patogen pernafasan yang terdapat pada tangan dan
permukaan telapak tangan, 2) dengan menghilangkan patogen (kuman
penyakit) lainnya (terutama virus entrentic) yang menjadi penyebab
tidak hanya diare namun juga gejala penyakit pernafasan lainnya.
Bukti-bukti telah ditemukan bahwa praktik-praktik menjaga kesehatan
dan kebersihan seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah
makan/buang air besar/kecil dapat mengurangi tingkat infeksi hingga
25%. Penelitian lain di Pakistan menemukan bahwa mencuci tangan
dengan sabun mengurangi infeksi saluran pernafasan yang berkaitan
dengan pnemonia pada anak-anak balita hingga lebih dari 50 %.
3. Infeksi cacing, infeksi mata, dan infeksi kulit.
Penelitian juga telah membuktikan bahwa selain diare dan infeksi
saluran pernafasan penggunaan sabun dalam mencuci tangan
mengurangi kejadian penyakit kulit, infeksi mata seperti trakoma, dan
cacingan khususnya untuk ascariasis dan trichuriasis.

Gambar 2.1 Diagram Transmisi Penyakit


b. Teknik mencuci tangan yang baik dan benar dan penggunaan sabun
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka mencuci tangan haruslah
dengan air bersih yang mengalir, baik itu melalui kran air atau disiram
dengan gayung, menggunakan sabun yang standar, setelah itu keringkan
dengan handuk bersih atau menggunakan tisu. Untuk penggunaan jenis
sabun dapat menggunakan semua jenis sabun karena semua sabun
sebenarnya cukup efektif dalam membunuh kuman penyebab penyakit.
Teknik mencuci tangan yang benar harus menggunakan sabun dan di
bawah air yang mengalir dengan langkahlangkah sebagai berikut:
1. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai air
yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak
tangan secara.
2. Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian.
3. Jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih.
4. Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan.
5. Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian.
6. Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan.
7. Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara
memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh bagian tangan
dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan memakai handuk atau
tisu.
Gambar 2.2 Langkah-langkah Mencuci Tangan

Karena mikroorganisme tumbuh berkembang biak di tempat basah dan di air


yang menggenang, maka apabila menggunakan sabun batangan sediakan sabun
batangan yang berukuran yang kecil dalam tempat sabun yang kering. Hindari
mencuci tangan di waskom yang berisi air walaupun telah ditambahkan bahan
antiseptik, karena mikroorganisme dapat bertahan dan berkembang biak pada larutan
ini. Apabila menggunakan sabun cair jangan menambahkan sabun apabila terdapat
sisa sabun pada tempatnya, penambahan dapat menyebabkan kontaminasi bakteri
pada sabun yang baru dimasukkan. Apabila tidak tersedia air mengalir, gunakan
ember dengan kran yang dapat dimatikan sementara menyabuni kedua tangan dan
buka kembali untuk membilas atau gunakan ember dan kendi/teko.
2.3 DIAGNOSIS KOMUNITAS
Diagnosis komunitas, sering juga disebut public health assessment, adalah
suatu kegiatan untuk menentukan masalah yang terdapat dalam komunitas
melalui suatu studi. Diagnosis komunitas adalah suatu komponen penting dalam
perencanaan program kesehatan.
Meskipun seringkali disamakan dengan asesmen kebutuhan, namun terdapat
perbedaan yang jelas: suatu diagnosis komunitas yang baik diharapkan dapat
bersifat luas dan mencakup berbagai aspek komunitas seperti budaya, struktur
social, peran komunitas, dan lain sebagainya; sebuah diagnosis komunitas yang
baik harus dapat memberikan suatu bayangan bagi para perencana program akan
bagaimana kehidupan di daerah tersebut, masalah-masalah kesehatan yang
penting, intervensi yang paling mungkin berhasil, dan cara evaluasi program
yang baik.15,16
Kata “diagnosis” digunakan karena pada dasarnya proses diagnosis
komunitas didasarkan pada prinsip-prinsip diagnosis klinis; perbedaannya adalah
bahwa diagnosis komunitas diaplikasikan pada komunitas dalam peran dokter
yang lebih luas, sedangkan diagnosis klinis diaplikasikan pada tingkat yang lebih
personal. Perbandingan diagnosis klinis dan diagnosis komunitas dapat dilihat
pada tabel 5 berikut:16
Tabel 2.3.Perbedaan Antara Diagnosis Komunitas Dan Diagnosis Klinis
Dokter Klinis Dokter Komunitas
Dilakukan oleh dokter Dilakukan oleh dokter atau epidemiologis
Fokus perhatian : hanya orang sakit Fokus perhatian : pasien
Fokus perhatian : orang sakit dan sehat Fokus perhatian : komunitas / masyarakat
Dilakukan dengan memeriksa pasien Dilakukan dengan cara survey
Diagnosis didapat berdasarkan keluhan Diagnosis didasarkan atas Riwayat
dan simtom alamiah perjalanan penyakit ( Natural
history of disease)
Memerlukan pemeriksaan laboratorium Memerlukan penelitian epidemiologi
Dokter menentukan pengobatan Dokter/epidemiologis merencanakan plan
of action
Pengobatan pasien menjadi tujuan utama Pencegahan dan Promosi menjadi tujuan
utama
Diikiuti dengan follow up kasus Diikuti dengan program evaluasi
Dokter tertarik menggunakan teknologi Dokter/epidemiologis tertarik dengan
tinggi nilai statistik
2.3.1 Langkah-langkah Diagnosis Komunitas
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melaksanakan
diagnosis komunitas adalah sebagai berikut:16
1. Definisi komunitas : Melalui data demografis, data kesehatan, data
kualitatif ditentukan komunitas yang spesifik.
2. Karakteristik komunitas : Berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif,
dapat ditentukan masalah kesehatan dalam komunitas yang terpilih untuk
kandidat intervensi.
3. Prioritas masalah : Dari masalah yang ada, ditentukan masalah yang
paling penting dalam komunitas.
4. Penilaian masalah kesehatan terpilih: Masalah yang terpilih dianalisa
dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang terkait dan strategi serta
fasilitas yang ada untuk rencana intervensi.
5. Intervensi : Penentuan intervensi dipengaruhi oleh masalah dan sumber
yang ada.
6. Evaluasi : Evaluasi penting untuk menilai pemecahan masalah melalui
intervensi yang diberikan.
2.4 KERANGKA KONSEP

Pengetahuan mengenai
mencuci tangan yang
benar

Tingkat pendidikan dan


ekonomi

Ketersediaan fasilitas Perilaku mencuci tangan


kesehatan (air bersih) yang baik dan benar

Petugas kesehatan

Informasi media massa


BAB III
METODE PENELITIAN

Tujuan umum dari pengumpulan data adalah untuk memecahkan masalah,


langkah-langkah yang ditempuh harus relevan dengan masalah yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam setiap melaksanakan langkah tersebut harus dilakukan secara
objektif dan rasional.

3.1 POPULASI PENGUMPULAN DATA


Dalam kegiatan baik yang bersifat ilmiah maupun yang bersifat sosial, perlu
dilakukan pembatasan populasi dan cara pengambilan sampel. Populasi adalah
keseluruhan objek pengumpulan data (Arikunto, 2002). Dalam hal ini yang menjadi
populasi adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali.

3.2 SAMPEL PENGUMPULAN DATA


Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002).
Sampel penelitian diambil dengan metode consecutive sampling. Sampel pada
penelitian ini dilakukan pengumpulan data melalui kuesioner diambil dari responden
yang berumur >20 tahun.

3.3 JENIS DAN SUMBER DATA

3.3.1 Jenis data

a. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata - kata, bukan
dalam bentuk angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai
macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis,
observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan
(transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang
diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.

19
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau
bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah
atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau
statistika.
Berdasarkan proses atau cara untuk mendapatkannya, data
kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu sebagai
berikut:
1. Data diskrit adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang
diperoleh dengan cara membilang. Contoh data diskrit
misalnya: jumlah perempuan dan laki-laki, jumlah orang
yang menyelesaikan pendidikan terakhir. Karena diperoleh
dengan cara membilang, data diskrit akan berbentuk bilangan
bulat (bukan bilangan pecahan).
2. Data kontinum adalah data dalam bentuk angka atau bilangan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Data kontinum
dapat berbentuk bilangan pecahan. Contoh data kontinum
misalnya : umur.
Untuk mencapai kelengkapan, ketelitian, dan kejelasan data,
pencatatan data harus dilengkapi dengan:

1. Nama pengumpul data


2. Nama peserta yang datanya diambil
3. Tanggal dan waktu pengumpulan data.
4. Lokasi pengumpulan data
5. Keterangan-keterangan tambahan data.

Metode checklist merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk


mengumpulkan data. Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara
yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara
sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara,
pengamatan, tes, dokumentasi, dan sebagainya.

20
Berdasarkan uraian–uraian tersebut, maka dipilih instrumen
pengumpulan data dengan menggunakan checklist dan wawancara terpimpin
dengan menggunakan kuesioner. Dipilihnya kuesioner ini dikarenakan
kuesioner bersifat objektif dan jujur karena berasal dari sumber data
(responden) secara langsung, diharapkan dapat lebih mendengar tujuan-
tujuan, perasaan, pendapat dari responden secara langsung sehingga tercipta
hubungan yang baik antara pewawancara dan responden, selain itu dapat
diterapkan untuk pengumpulan data dalam lingkup yang luas, serta cukup
efisien dalam penggunaan waktu untuk mengumpulkan data. Cara
pengumpulan data melalui pengamatan langsung (observasi) untuk
mengetahui dan melihat langsung kondisi dan keadaan rumah disetiap
keluarga.

3.3.2 Sumber Data

Sumber data dalam pengumpulan data ini adalah para responden yang
berobat dan berada di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali.

a. Data primer
Data yang langsung didapatkan dari kuesioner yang diisi oleh
responden.

b. Data sekunder
Data yang didapat dari profil tahunan yang sudah ada di Puskesmas
Kampung Bali.

3.3.3 Penentuan Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan


digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan
tersebut menjadi sistematis dan mudah.

Instrumen sebagai alat bantu dalam metode pengumpulan data


merupakan sarana yang dapat diwujudkan berupa benda atau alat, seperti cek

21
list, kuesioner, perangkat tes, pedoman wawancara, pedoman observasi, skala,
kamera foto dan sebagainya.

Instrumen pengumpulan data merupakan suatu yang amat penting dan


strategis kedudukannya di dalam keseluruhan kegiatan pengumpulan data atau
suatu penelitian. Dengan instrumen akan diperoleh data yang merupakan
bahan penting untuk menjawab permasalahan, mencari sesuatu yang akan
digunakan untuk mencapai tujuan dan untuk membuktikan hipotesis.

3.3.4 Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu langkah-


langkah diagnosis komunitas. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, maka
digunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data.

3.3.4.1 Metode Cheklist


Check list adalah salah satu cara yang paling sederhana yang
lazim digunakan untuk mengurangi kesalahan atau bahkan kegagalan
yang dapat ditimbulkan oleh keterbatasan memori dan perhatian
manusia. Cara ini membantu untuk memastikan konsistensi dan
kesempurnaan dalam melaksanakan suatu tugas atau kegiatan.

Contoh yang paling sederhana adalah “to do the list” sedangkan


contoh yang lebih kompleks dapat berupa jadwal, yang menjabarkan
tugas-tugas berdasarkan waktu dan faktor berpengaruh lainnya.

Checklist sering dipresentasikan dalam bentuk daftar tugas


dengan checkboxes di sebelah kiri daftar tugas tersebut, kemudian
tanda centang diberikan dalam checkboxes tersebut setelah tiap-tiap
daftar tugas tersebut selesai dilaksanakan.

Banyak hazard dapat diidentifikasi dengan menggunakan


checklist. Proswdur umum untuk membau checklist adalah sebagai
berikut:

22
1. Tentukan sasaran dari checklist. Apa tujuannya, di mana akan
digunakan, dan hasil akhir apa yang diharapkan? Yang paling
penting adalah hal-hal apa saja yang tidak dapat dicapai
dengan hanya menggunakan metode ini, dan metode apa lagi
yang diperlukan? Kenali keterbatasan tersebut sebelum
memulai.
2. Identifikasi cakupan wilayah keahlian yang diperlukan dalam
checklist, dan pilih orang-orang yang berkompetensi dalam
masing-masing bidang.
3. Mulailah kembangkan checklist. Kemudian bagilah project
tersebut ke dalam beberapa subsistem untuk memudahkan
analisis
4. Ambillah penilaian independen dari manajer atau project
engineer berpengalaman. Langkah ini sangat krusial untuk
mengidentifikasi kemungkinan kelebihan prediksi atau
bahkan kelalaian menentukan prediksi.
5. Perbaharui checklist jika diperlukan, ketika informasi-
informasi tamabahan tentang project terebut diproleh.

Namun checklist juga memiliki kekurangan:

 Karena tidak memiliki standard khusus, item-item dalam


checklist sangat tergantung pada pengetahuan dan pengalaman
para penyusun checklist. Oleh karena itu, pemilihan personel
penuyusun checklist sangat menentukan keberhasilan project,
 Checklist hanya merupakan “yes or no question” yang tidak
dapat menggambarkan secara detil efisiensi dari suatu subsistem
dalam project yang dilaksanakan,
 Checklist tidak dapat mengurutkan skala prioritas (rangking)
suatu hazard,
 Apabila checklist disusun oleh orang yang kurang
berpengalaman, kemungkinan terlewatnya suatu hazard menjadi
lebih besar.

23
3.3.4.1 Metode Angket atau Kuesioner (questionnaire)

Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data


secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan
responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket
berisi sejumlah pertnyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh
responden. Responden mempunyai kebiasaan untuk memberikan jawaban
atau respon sesuai dengan persepsinya

Kuesioner merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden


untuk menyatakan pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya
pertanyaan dibuat dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan
kalimat-kalimat pendek dengan maksud yang jelas. Penggunaan kuesioner
sebagai metode pengumpulan data terdapat beberapa keuntungan, diantaranya
adalah pertanyaan yang akan diajukan pada responden dapat distandarkan,
responden dapat menjawab kuesioner pada waktu luangnya, pertanyaan yang
diajukan dapat dipikirkan terlebih dahulu sehingga jawabannya dapat
dipercaya dibandingkan dengan jawaban secara lisan, serta pertanyaan yang
diajukan akan lebih tepat dan seragam.

a. Macam – Macam Kuesioner


1) Kuesioner tertutup. Setiap pertanyaan telah disertai
sejumlah pilihan jawaban. Responden hanya
memilih jawaban yang paling sesuai.
2) Kuesioner terbuka. Dimana tidak terdapat pilihan
jawaban sehingga responden harus
memformulasikan jawabannya sendiri.
3) Kuesioner kombinasi terbuka dan tertutup. Dimana
pertanyaan tertutup kemudian disusul dengan
pertanyaan terbuka.

24
4) Kuesioner semi terbuka. Pertanyaan yang
jawabannya telah tersusun rapi, tetapi masih ada
kemungkinan tambahan jawaban.

b. Keuntungan Metode Kuesioner


1) Dalam waktu singkat diperoleh banyak keterangan.
2) Pengisiannya dapat dilakukan di tempat, tanpa
dipengaruhi oleh orang lain.
3) Bila lokasi responden jaraknya cukup jauh, metode
pengumpulan data yang paling mudah adalah
dengan angket.
4) Pertanyaan-pertanyan yang sudah disiapkan adalah
merupakan waktu yang efisien untuk menjangkau
responden dalam jumlah banyak.
5) Dengan angket akan memberi kesempatan mudah
pada responden untuk mendiskusikan dengan
temannya apabila menemui pertanyaan yang sukar
dijawab.
6) Dengan angket responden dapat lebih leluasa
menjawabnya dimana saja, kapan saja, tanpa
terkesan terpaksa.
c. Kelemahan Metode Kuesioner
1) Tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut
karena jawaban terbatas pada hal-hal yang
ditanyakan.
2) Dapat menjawab tidak sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya jika dia menghendaki demikian.
3) Jawaban hanya mengungkap keadaan pada saat
angket diisi.
4) Apabila penelitian membutuhkan reaksi yang
sifatnya spontan dengan metode ini adalah kurang
tepat.

25
5) Metode ini kurang fleksibel, kejadiannya hanya
terpancang pada pertanyaan yang ada.
6) Jawaban yang diberikan oleh responden akan
terpengaruh oleh keadaan global dari pertanyaan.
Sangat mungkin jawaban yang sudah diberikan di
atas secara spontan dapat berubah setelah melihat
pertanyaan di lain nomor.
7) Sulit bagi peneliti untuk mengetahui maksud dari
apakah sudah responden sudah terjawab atau
belum.
8) Ada kemungkinan terjadi respons yang salah dari
responden. Hal ini terjadi karena kurang kejelasan
pertanyaan atau karena keragu-raguan responden
menjawab. Hal-hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan dalam teknik kuesioner.

3.3.4.3 Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah sekumpulan berkas berupa catatan,


transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda dan
sebagainya. Data yang diperoleh dapat berupa data primer, sekunder. Data
primer didapatkan dari pengisian kuesioner yang diperoleh dari responden,
sedangkan data tersier diperoleh dari penelusuran tinjauan pustaka.

Pengumpulan data dilakukan di Puskesmas Kampung Bali dan


dilakukan selama sepuluh hari, mulai dari tanggal 09-18 Februari 2017.

26
3.4 DEFINISI OPERASIONAL
No. Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Skala
Operasional Ukur
1. Perilaku Kebiasaan Ceklis Observasi Baik 9- Ordinal
mencuci mencuci tangan Kuesioner Wawancara 10
tangan yang benar Cukup 7-
yang benar 8
Buruk 5-
6
2. Pengetahu Wawasan Kuesioner Wawancara Baik 11- Ordinal
an pengetahuan 12
mengenai mengenai Sedang
mencuci mencuci tangan 8-10
tangan yang benar Buruk 6-
yang baik 7
dan benar
3. Tingkat Meliputi : Cara Kuesioner Wawancara Tinggi : Ordinal
Pendidika berfikir dalam 5-6
n penerimaan Sedang :
informasi 3-4
mengenai Rendah :
mencuci tangan 1-2
yang benar
4. Tingkat Hal-hal yang Kuesioner Wawancara Atas 8- Ordinal
ekonomi berkaitan antara 10
penghasilan Menenga
ekonomi dengan h : 5-7
pendidikan, Bawah :
fasilitas 0-4
kesehatan
5. Ketersedia Tersedianya Kuesioner Wawancara Baik: 3-4 Ordinal
an fasilitas fasilitas Sedang:
kesehatan kesehatan (air 1-2
(air bersih besih dan sabun) Buruk: 0
dan sabun) di rumah
6. Petugas Petugas Kuesioner Wawancara Peduli : Ordinal
kesehatan kesehatan aktif 1
untuk Tidak
memberikan peduli : 0
penyuluhan
mengenai
mencuci tangan
yang benar
7. Informasi Tersedianya Kuesioner Wawancara Luas : 2 Ordinal
media media massa Sedikit :
massa berupa Koran, 1
poster, televisi. Tidak

27
ada : 0

3.5 KRITERIA INKLUSI


Kriteria responden survey
1. Diketahui memilik riwayat keluarga berobat dengan diagnosis ISPA dan
atau diare
2. Berdomisili dalam wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali
3. Bersedia mengisi kuesioner dengan lengkap

3.6 KRITERIA EKSKLUSI


1. Responden yang berada diluar wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali
2. Responden yang menolak untuk mengisi kuesioner dengan lengkap

28
BAB IV
HASIL

4.1 PROFIL PUSKESMAS KAMPUNG BALI


4.1.1 Visi dan Misi
4.1.1.1 Visi
Visi dari UPTD Puskesmas Kampung Bali adalah mewujudkan
pelayanan dasar yang bermutu dan bersinergis (bersih, sehat, indah, nyaman,
empati, ramah, giat,inisiatif, dan standar).
4.1.1.2 Misi
1. Menggerakan kemandirian masyarakat untuk berperilaku hidup
sehat
2. Meningkatkan kualitas pelayanan yang bermutu dan terjangkau
bagi masyarakat
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemecahan dan
penanganan masalah kesehatan
4. Mewujudkan puskesmas sebagai pusat informasi
5. Menjalin kerjasama dengan lintas sektor dalam rangka
mendukung meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

4.1.2 Data Geografis dan Demografis


4.1.2.1 Wilayah Kerja
Puskesmas Kampung Bali adalah salah satu Puskesmas Induk dalam
wilayah kerja kecamatan Teluk Segara di Kota Bengkulu tepatnya di
Jalan Bali RT II Kelurahan Kampung Bali. Adapun wilayah kerjanya
meliputi 4 kelurahan sama dengan tahun sebelumnya, masing –
masing wilayah kerja Puskesmas ini adalah :
1. Kelurahan Kampung Bali dengan luas wilayah kerja 1,84 km²
2. Kelurahan Bajak dengan luas wilayah kerja 3,46 km²
3. Kelurahan Tengah Padang dengan luas wilayah kerja 7,50 km²
4. Kelurahan Pintu Batu yang luas wilayah kerjanya : 0,11 km²

29
Jadi, luas keseluruhan wilayah kerja UPTD Puskesmas Kampung Bali
adalah sekitar 12,91 km².
Adapun batasan – batasan wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali
adalah sbb:
1. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Pasar Bengkulu.
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Kebun Geran.
3. Sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.
4. Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Sukamerindu
4.1.2.2 Data Penduduk
Pada akhir tahun 2015 jumlah penduduk yang berada di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Kampung Bali berdasarkan data dari
masing – masing kelurahan adalah sebesar 9662 jiwa. Maka kepadatan
penduduk per km² adalah sebanyak 748 jiwa, dengan jumlah kepala
keluarga sebanyak 2126 KK dan rata – rata per kepala keluarga adalah
5 jiwa (sumber data : Kelurahan)
4.1.3 Sumber Daya Kesehatan
Upaya-upaya kesehatan di Puskesmas antara Lain :
1. Upaya kesehatan pokok
a. Kesehatan Ibu dan Anak dan KB
Tujuan :
1) Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak
2) Mengurangi angka kesakitan dan angka kematian ibu, bayi
dan anak
3) Meningkatkan kesehatan keluarga dan mewujudkan
keluarga kecil bahagia dan sejahtera
4) Pembinaan dan pelayanan kesehatan anak pra sekolah
Kegiatan :
1) Pemeriksaan terhadap ibu hamil, Ibu bersalin, ibu
menyusui, bayi, balita dan anak pra sekolah di luar gedung
maupun di luar gedung
2) Mengamati perkembangan bayi dan balita

30
3) Memberikan penyuluhan kepada ibu hamil dan ibu
menyusui
4) Menimbang berat badan, mengukur tensi darah, mengukur
tinggi fundus uteri
5) Memberikan pengobatan kepada ibu hamil
6) Mencari dan melayani akseptor baru atau lama
7) Pembinaan terhadap akseptor lama
8) Rapat koordinasi tingkat Kecamatan dan Puskesmas

2. Usaha Perbaikan Gizi


Tujuan : Meningkatkan status gizi masyarakat
Kegiatan :
1) Mengadakan penyuluhan tentang Gizi
2) Mengenali penderita kurang gizi sedini mungkin sekaligus
mengobati
3) Memberi makanan tambahan pada Bayi, Balita, Bumil
4) Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada Balita
5) Pemberian tablet tambah darah

3. Kesehatan Lingkungan
Tujuan :
1. Jangka Panjang
a) Terciptanya kondisi lingkungan yang sehat sehingga dapat
menjamin kualitas masyarakat
b) Menurunkan angka angka kesakitan yang di sebabkan oleh kondisi
lingkungan yang tidak sehat
2. Jangka Pendek
a) Mengurangi atau menghilangkan factor lingkungan yang
memungkinkan terjadinya media berkembang biakan kuman
penyakit
b) Mengurangi penularan penyakit berbasis lingkungan

31
Kegiatan :
1) Kegiatan dalam gedung meliputi klinik sanitasi
2) Kegiatan Luar Gedung
a) Pengawasan rumah penduduk meliputi pengawasan air bersih,
keadaan rumah, dan pengawasan jamban keluarga
b) Pengawasan tempat-tempat umum
c) Pengawasan tempat-tempat pengolahan makanan
d) Pemeriksaan sampel makanan dan air minum

4. Promosi Kesehatan
Tujuan : Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan
masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat
serta berperan aktif dalam mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal
Kegiatan :
1) Penyuluhan kelompok & umum baik di dalam maupun di luar
gedung
2) Meningkatkan peran serta masyarakat dengan memberikan
pembinaan di luar gedung dan bimbingan pada kader posyandu,
pengobatan tradisional, kelompok dana sehat dan TOGA.

5. Pengobatan
Tujuan: Meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat
Kegiatan :
1) Pengobatan rawat jalan
2) Pelayanan rujukan
3) Pelayanan KIR kesehatan

32
Tenaga yang ada di UPTD Puskesmas Kampung Bali adalah sebagai
berikut:

Tabel 4.1. Jenis Ketenagaan Berdasarkan di UPTD Puskesmas Kampung Bali


KEBUTUHAN ADA KURANG LEBIH
NO JENIS JABATAN/TENAGA NON NON
PNS PNS PNS PNS PNS NON PNS PNS NON PNS

1 Dokter (JFT) 1 0 0 0 1 0 0 0
2 Dokter Gigi (JFT) 1 0 1 0 0 0 0 0
3 Perawat Ahli 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Perawat Terampil 7 1 7 1 0 0 0 0
5 Perawat Gigi 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Bidan Ahli 2 0 0 0 2 0 0 0
7 Bidan Terampil 6 0 8 0 0 0 2 0
8 Penyuluh Kesmas 5 0 5 0 0 0 0 0
Administrator
9 Kesehatan 1 0 0 0 1 0 0 0
10 Apoteker 0 0 0 0 0 0 0 0
11 Asisten Apoteker 2 0 1 0 1 1 0 0
12 Nutrisionis 0 0 0 0 0 0 0 0
13 Pranata Laboratorium 1 0 1 0 0 0 0 0
14 Sanitarian 0 0 0 0 0 0 0 0
15 Struktural 2 0 2 0 0 0 0 0
16 Fungsional Umum (Staf) 2 0 2 0 0 0 0 0

Jumlah 30 1 27 1 5 1 2 0

4.1.4 Sarana Pelayanan Kesehatan


Sarana fisik yang terdapat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kampung Bali
terdiri atas sarana kesehatan pemerintah dan sarana kesehatan yang
bersumber daya masyarakat. Uraian sarana tersebut disajikan dalam tabel
berikut ini :

33
Tabel 4.2 Jumlah dan Jenis pelayanan Kesehatan Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas Kampung Bali
No. Jenis Pelayanan Kesehatan Jumlah

1. Puskesmas 1

2. Puskesmas Pembantu 3

3. Bidan Praktek Mandiri 6

4. Poskesdes 1

5. Pusling 1

4.2 PREVALENSI KESEHATAN MASYRAKAT DI WILAYAH KERJA UPTD


PUSKESMAS KAMPUNG BALI

Tabel 4.4 Data Sepuluh Penyakit Menular Terbanyak di UPTD Puskesmas


Kampung Bali tahun 2015

Jumlah
No Nama Penyakit Total
Laki-Laki Perempuan
1 Ispa 1272 1510 2782
2 Gastritis 268 382 650
3 Penyakit Kulit Karena Alergi 256 202 458
4 Hipertensi 171 198 369
5 Diare 174 189 363
6 Bronchitis 201 249 350
7 Radang Sendi Serupa Rematik 146 134 280
8 Ruda Paksa 92 97 189
9 Penyakit Kulit Karena Infeksi 611 69 130
10 Cepalgia 95 34 129
Jumlah 3286 3064 6350

34
4.3 HASIL PENELITIAN
Tabel 4.3.1 Karakteristik Responden

Karakteristik Jumlah (n) Presentase (%)

Umur

< 20 tahun 8 16

40 21 – 40 tahun 15 30

41 41 – 60 tahun 22 44

> 60 tahun 5 10

Jenis Kelamin

Pria 19 38

Wanita 31 62

Jumlah 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, umur responden paling banyak terdapat pada usia 41 – 60
tahun dan wanita merupakan jenis kelamin paling banyak.

Tabel 4.3.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden


Karakteristik Jumlah (n) Presentase (%)

Tidak Sekolah 3 6

SD 5 10

42 SMP 10 20

43 SMA 25 50

35
44 PT 7 14

45 Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, pendidikan responden paling banyak di SMA.

Tabel 4.3.3 Distribusi Frekuensi Responden terhadap aspek perilaku terhadap


cara mencuci tangan yang baik dan benar
Perilaku Frekuensi (n) Presentase (%)

Baik 11 22

Cukup 10 20

Kurang 29 58

Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, aspek perilaku terhadap cara mencuci tangan yang baik dan
benar masih banyak kurang, dengan persentase >50%.

Tabel 4.3.4 Distribusi Frekuensi Responden terhadap aspek pengetahuan


terhadap cara mencuci tangan yang baik dan benar
Pengetahuan Frekuensi (n) Presentase (%)

Baik 13 26

Cukup 15 30

Kurang 22 44

Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, aspek pengetahuan terhadap cara mencuci tangan yang baik
dan benar masih banyak dengan pengetahuan kurang.

36
Tabel 4.3.5 Distribusi Responden terhadap aspek pendidikan terhadap cara
mencuci tangan yang baik dan benar
Pendidikan Frekuensi (n) Presentase (%)

Rendah 6 12

Sedang 30 60

Tinggi 14 28

Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, aspek pendidikan terhadap cara mencuci tangan yang baik
dan benar paling banyak dengan aspek pendidikan cukup.

Tabel 4.3.6 Distribusi Responden terhadap aspek tingkat ekonomi terhadap


cara mencuci tangan yang baik dan benar
Tingkat Ekonomi Frekuensi (n) Presentase (%)

Rendah 28 56

Cukup 12 24

Tinggi 10 20

Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, tingkat ekonomi terhadap cara mencuci tangan yang baik
dan benar paling banyak dengan tingkat ekonomi rendah.

37
Tabel 4.3.7 Distribusi Responden terhadap aspek ketersediaan fasilitas
terhadap cara mencuci tangan yang baik dan benar

Ketersediaan Fasilitas Frekuensi (n) Presentase (%)

Terdapat Fasilitas 10 20

Kurang Fasilitas 14 28

Tidak terdapat Fasilitas 26 52

Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, aspek ketersediaan fasilitas terhadap cara mencuci tangan
yang baik dan benar masih sangat minim.

Tabel 4.3.8 Distribusi Responden terhadap aspek petugas kesehatan terhadap


cara mencuci tangan yang baik dan benar
Petugas Kesehatan Frekuensi (n) Presentase (%)

Peduli 5 10

Kurang Peduli 20 40

Tidak Peduli 25 50

Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, aspek petugas kesehatan terhadap cara mencuci tangan yang
baik dan benar yang peduli masih rendah.

38
Tabel 4.3.9 Distribusi Responden terhadap aspek informasi media masa
terhadap cara mencuci tangan yang baik dan benar
Informasi Media Massa Frekuensi (n) Presentase (%)

Lengkap 10 20

Tidak Lengkap 14 28

Tidak Ada 26 52

Total 50 100

Pada tabel menunjukkan bahwa dari total subjek yang dilakukan survey
sebanyak 50 responden, aspek informasi media masa terhadap cara mencuci tangan
yang baik dan benar masih minim.

4.4. Rencana Intervensi Pemecahan Masalah


4.4.1 Jangka Pendek
a. Pembagian leaflet/selebaran tentang pengertian dan tata cara
mencuci tangan yang baik dan benar kepada subjek, khususnya
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kampung Bali..
b. Memberikan demonstrasi kepada keluarga binaan untuk mencuci
tangan dengan baik dan benar.
c. Memberikan sabun khusus cuci tangan kepada setiap keluarga
binaan.
d. Menempelkan pamflet yang berisi gambar tentang 7 langkah cara
mencuci tangan yang baik dan benar menurut WHO di dekat tempat
mereka cuci tangan.
e. Memberikan handuk kering ditempat mereka cuci tangan.
f. Memberikan sarana mengalir berupa galon yang memiliki keran
untuk mengalirkan air.

4.3.2 Jangka Menengah


a. Memberikan informasi terbaru terhadap tenaga kesehatan dan kader
desa setempat tentang cara mencuci tangan yang baik dan benar.

39
b. Meningkatkan kesadaran para tokoh masyarakat dengan cara
penyuluhan agar dapat mengubah paradigma masyarakat bahwa hal
kecil berupa mencuci tangan yang baik dan benar dapat
meningkatkan kualitas hidup mereka.
c. Mendukung pelaksanaan program Puskesmas, yakni program
kesehatan lingkungan
4.3.3 Jangka Panjang
a. Memberikan penyuluhan secara berkala tentang pentingnya mencuci
tangan yang baik dan benar dan informasi terbaru mengenai cuci
tangan.
b. Memotivasi setiap anggota keluarga binaan untuk mencuci tangan
yang baik dan benar.
c. Bekerja sama dengan pihak puskesmas dan kader setempat untuk
mengevaluasi penyebaran pengetahuan dan angka kejadian penyakit
yang bisa di sebabkan karena perilaku yang tidak baik di wilayah
kerja Puskesmas Kampung Bali.

40
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Area Masalah

Berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data, maka dilakukanlah diskusi


kelompok dan merumuskan serta menetapkan area masalah yaitu perilaku mencuci
tangan yang tidak baik dan tidak benar di keluarga binaan.

5.1.2 Akar Penyebab Masalah


a. Rendahnya kesadaran akan pentingnya mencuci tangan yang baik dan
benar.
b. Tidak mengetahui langkah-langkah yang baik dan benar dalam mencuci
tangan.
c. Ketidaktersediaan air bersih yang mengalir, sabun, dan tempat mencuci
tangan yang memadai.
d. Tidak ada petugas kesehatan yang melakukan penyuluhan mengenai
mencuci tangan yang baik dan benar.

5.1.3 Alternatif Pemecahan masalah

a. Memperbaiki kebiasaan, meningkatkan partisipasi, meningkatkan


kesadaran dan pengetahuan mengenai dampak mencuci tangan yang
salah dengan melakukan penyuluhan, diskusi dan demonstrasi cara
mencuci tangan yang baik dan benar.
b. Penyediaan fasilitas mencuci tangan dalam hal ini dengan pemberian
ember berkeran, sabun cuci tangan, handuk kering.

5.1.4 Intervensi yang dilakukan


a. Memberikan penyuluhan, diskusi dan demonstrasi mengenai cara
mencuci tangan yang baik dan sehat dampak buruk akibat tidak
mencuci tangan

41
b. Melakukan penyuluhan kepada keluarga binaan melalui media berupa
pamflet mengenai cuci tangan yang baik dan benar dan kapan waktu
yang tepat untuk mencuci tangan
c. Penyediaan alat yang mendukung perilaku mencuci tangan yang baik
dan benar berupa ember yang diberi keran, sabun cuci tangan, handuk
kering.

5.2 Saran

5.2.1 Intervensi Pemecahan Masalah

1. Memotivasi keluarga untuk mengajarkan cara cuci tangan yang baik


dan benar sejak kecil.

2. Memberikan penyuluhan mengenai mencuci tangan yang baik pada


keluarga binaan melalui media pamflet mengenai cara mencuci
tangan yang baik dan benar serta waktu-waktu penting untuk mencuci
tangan.

3. Memberikan motivasi kepada keluarga binaan untuk mengerti


pentingnya melengkapi sarana dan fasilitas yang telah ada.

4. Pemberian ember berkeran, sabun cuci tangan, dan handuk kering


untuk keluarga binaan.

5. Pemberdayaan masyarakat sekitar dengan cara membentuk kader


untuk mempromosikan dan mengajarkan cara mencuci tangan yang
baik dan benar.

5.2.2 Rekomendasi

a. Koordinasi di antara ketua RT dan masyarakat untuk pengadaan air


bersih dan sarana mencuci tangan yang baik dan benar.
b. Penambahan kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kampung
Bali.

42
LAMPIRAN I

KUESIONER PENELITIAN
PENGETAHUAN DAN PERILAKU PERILAKU MENCUCI TANGAN
YANG BAIK DAN BENAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
KAMPUNG BALI PERIODE JANUARI DAN FEBRUARI TAHUN
2017

NO.
IDENTITAS RESPONDEN
RESPONDEN
1. Nama :
2. Umur :
3. Alamat :
4. Pendidikan :
5. Pekerjaan :

I. PERILAKU MENCUCI TANGAN YANG BENAR


1. Apakah anda mencuci tangan dengan air yang mengalir?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah anda menggunakan sabun khusus untuk mencuci tangan pada saat
anda akan mencuci tangan?
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah anda mencuci tangan sebelum anda makan?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah anda mencuci tangan setelah BAB?
a. Ya
b. Tidak

43
5. Apakah anda mengeringkan tangan anda dengan handuk kering atau tissue
setelah mencuci tangan?
a. Ya
b. Tidak

Indikator Penilaian :

1. Jika jawaban YA nilai : 2


2. Jika jawaban TIDAK nilai : 1

Total :
1. Jumlah total 9--10 : Perilaku BAIK
2. Jumlah total 7 – 8: Perilaku CUKUP
3. Jumlah total 5-- 6: Perilaku BURUK

II. PENGETAHUAN MENGENAI MENCUCI TANGAN YANG


BENAR
6. Menurut anda air apa yang baik digunakan untuk mencuci tangan?
a. Air bersih yang mengalir
b. Air bersih yang ditampung
c. Air apa saja
7. Menurut anda sabun apa yang sebaiknya digunakan untuk mencuci tangan?
a. Sabun khusus untuk mencuci tangan
b. Sabun apa saja
c. Tidak memakai sabun
8. Langkah pertama mencuci tangan yang baik dan benar adalah?
a. Oleskan sabun
b. Basahkan tangan dengan air bersih
c. Bersihkan telapak tangan
9. Menurut anda, diwaktu apa saja anda harus mencuci tangan?
a. Sebelum makan, sebelum memegang bayi, setelah BAB

44
b. Sebelum makan, sebelum memasak, sebelum memegang bayi, setelah
BAB
c. Sebelum makan, sebelum memasak, sebelum memegang bayi,
setelah BAB, sesudah menceboki bayi
10. Menurut anda ada berapa langkah mencuci tangan yang baik menurut WHO?
a. 3
b. 5
c. 7
11. Menurut anda, jika anda tidak mencuci tangan, kemungkinan anda akan
mengalami penyakit?
a. Diare
b. Darah tinggi
c. Demam berdarah

Indikator Penilaian :

4. Jika jawaban BENAR nilai : 2


5. Jika jawaban SALAH nilai : 1

Total :

Jumlah total 11 -- 12 : Pengetahuan BAIK

Jumlah total 8 – 10 : Pengetahuan CUKUP

Jumlah total 6 - 7 : Pengetahuan KURANG

III. PENDIDIKAN

12. Pendidikan terakhir bapak/ibu ?


a. Tidak pernah sekolah
b. SD/ Sederajat
c. SLTP/Sederajat

45
d. SLTA/Sederajat
e. Akademi/Diploma
f. Perguruan Tinggi

NILAI JAWABAN : a : 1 b : 2 c : 3 d : 4 e: 5 f : 6
Total :
Jumlah total 1-2: pendidikan RENDAH
Jumlah total 3-4: pendidikan SEDANG
Jumlah total 5-6: pendidikan TINGGI

IV. TINGKAT EKONOMI


13. Berapa penghasilan bapak/ibu (keluarga) perbulan ?
a. < 2.000.000
b. 2.000.000 – 2.200.000
c. > 2.000.000 – 2.000.000
14. Apakak bapak/ibu selalu mendapatkan penghasilan yang tetap setiap
bulannya?
a. Tidak
b. Kadang-kadang
c. Ya
15. Dari penghasilan tersebut, bagaimana untuk kebutuhan sehari-hari anda?
a. Kurang
b. Cukup
c. Lebih
16. Dari penghasilan tersebut apakah bapak atau ibu dapat membeli barang-
barang selain bahan pokok?
a. Tidak
b. Kadang-kadang
c. Ya
17. Rumah yang dihuni oleh bapak atau ibu adalah rumah?
a. Sewa
b. Menumpang rumah kerabat

46
c. Rumah pribadi

NILAI JAWABAN : a : 0 b : 1 c : 2
Total :
Jumlah total 0-3 : Penghasilan RENDAH
Jumlah total 4-7 : Penghasilan CUKUP
Jumlah total 8-10 : Penghasilan TINGGI
V. KETERSEDIAAN FASILITAS
18. Apakah terdapat air mengalir untuk mencuci tangan ?
a. Ada
b. Tidak Ada
19. Apakah terdapat sabun khusus cuci tangan ?
a. Ada
b. Tidak Ada

NILAI JAWABAN : a : 1 b : 0
Total :
Jumlah total 2: Fasilitas BAIK
Jumlah total 1: Fasilitas CUKUP
Jumlah total 0: Fasilitas KURANG

VI. PETUGAS KESEHATAN


20. Apakah petugas kesehatan pernah melakukan penyuluhan mengenai cara
mencuci tangan yang benar?
a. Pernah
b. Tidak pernah

21. Apakah petugas kesehatan pernah memberikan leaflet atau poster tentang
cara mencuci tangan yang baik dan benar
a. Pernah
b. Tidak pernah

47
NILAI JAWABAN : a : 1 b : 0
Total :
Jumlah total 2: Petugas Kesehatan PEDULI
Jumlah total 1: Petugas Kesehatan KURANG PEDULI
Jumlah total 0: Petugas Kesehatan TIDAK PEDULI

VII. INFORMASI MEDIA MASSA

22. Apakah media massa yang terdapat di desa Anda ?


a. Tidak ada
b. Koran atau televisi
c. Koran, televisi dan poster

NILAI JAWABAN : a : 0 b:1 c:2


Total :
Jumlah total 2: Sumber Informasi MEMADAI
Jumlah total 1: Sumber Informasi CUKUP MEMADAI
Jumlah total 0: Sumber Informasi TIDAK MEMADAI

48
CARA MENCUCI TANGAN YANG BAIK DAN BENAR MENURUT WHO

NO KEGIATAN YA TIDAK

1. Membuka keran air.

2. Mencuci tangan dengan air mengalir.

3. Membasuh seluruh pergelangan tangan, punggung tangan sampai


ujung jari dengan air mengalir.

4. Mengambil sabun secukupnya.

5. Meratakan sabun dengan kedua telapak tangan sampai berbusa.

6. Menggosok-gosok kedua telapak tangan .

7. Menggosok punggung tangan kanan dengan tangan kiri dan


sebaliknya (bergantian )

8. Menggosok sela-sela jari tangan kanan dengan tangan kiri dan


sebaliknya (bergantian)

9. Membersihkan buku-buku jari dengan mengatupkan kedua jari


tangan kanan dan kiri (bergantian).

10. Menggosok ibu jari dengan cara , ibu jari kanan berputar dalam
genggaman tangan kiri dan sebaliknya (bergantian)

11. Meletakkan ujung jari tangan kanan ke telapak tangan kiri


kemudian gosok perlahan secara memutar dan sebaliknya
(bergantian).

13. Membilas kedua tangan dengan air mengalir sampai bersih.

14. Mengeringkan kedua tangan dengan handuk bersih dan kering.

KETERANGAN :

* Beri tanda Checklist ( √ ) pada jawaban YA jika Responden Melakukannya


dan
* Beri tanda Checklist ( √ ) pada jawaban TIDAK jika Responden Tidak
Melakukannya

49