Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KEPERAWATAN PALIATIF MANAJEMEN NYERI

DI SUSUN OLEH

KELOMPOK MANAJEMEN NYERI

DEWI SRI PANGESTI 17111024110183

NANDA SEKAR BUANA 17111024110223

SITI JAHRA AMALIAH 17111024110258

TANTI NUR HAYATI 17111024110262

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SAMARINDA

2018

1
KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum wr.wb.
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT.Yang karena limpahan
rahmat dan kekuatan yang diberikan kepada kami dalam menyelesaikan penyusunan
makalah yang berjudul “KEPERAWATAN PALIATIF PADA MENEJEMEN NYERI”
sebagai pemenuhan nilai tugas mata kuliah Keperawatan paliatif.
Tentunya ada pihak-pihak yang turut berperan dalam terselesaikannya makalah
ini. Dan tak lupa penyusun sampaikan ucapan terimakasih kepada teman-teman sejawat
yang telah memberikan support kepada kami sehingga penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini.
Penyusun telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun pastilah
masih memiliki kekurangan.Maka dari itu, penyusun berharap banyak masukan kritik
dan saran dari pembaca untuk perbaikan makalah ini agar menjadi lebih baik dan
bermanfaat bagi penyusun dan pembaca.
Wabilahi taufik walhidayah wa ridho wal inayah tsumasalammu’alaikum wr. wb.

Samarinda, 1 Mei 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I 1

PENDAHULUAN 1

A. LATAR BELAKANG 1
B. TUJUAN 2
C. MANFAAT 2

BAB II 3

PEMBAHASAN 3

D. KONSEP NYERI 3
E. ALAT PENGUKURAN NYERI PADA PASIEN YANG TERPASANG
VENTILATOR MEKANIK 8
BAB III 11
KEPERAWATAN PALIATIF MENEJEMEN NYERI 11
F. TUJUAN PENATALAKSANAAN NYERI 11
G. MANAJEMEN NYERI PADA KANKER 11
H. FORMULASI OPIOID UNTUK NYERI KRONIS 12
I. EFEK SAMPING 12
J. CONTOH PROSEDUR 12
DAFTAR PUSTAKA 13

BAB I

3
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu kemajuan utama dalam perawatan kesehatan modern adalah


perbaikan perawatan akhir hayat pada pasien yang mengalami penyakit terminal.
Sebagian besar pasien terminal akan sangat menderita, penderitaan berupa fisik, mental
dan atau spiritual (Kemp,2009). Selain kegiatan promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif, pasien dengan penyakit yang sulit disembuhkan seperti penyakit kanker,
penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif kronis, cystic fibrosis, stroke, Parkinson,
gagal jantung/heart failure, penyakit genetika, dan HIV/AIDS juga memerlukan
perawatan paliatif (Supari, 2007). Menurut Ketua Masyarakat Paliatif Indonesia (MPI)
Drajad Ryanto Suardi dalam seminar yang bertema Sharing the care (Peduli perawatan
paliatif untuk sesama), jumlah pasien yang memerlukan perawatan paliatif meningkat,
seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup, disamping pasien kanker, jumlah
penyakit motor neuron dan penyakit saraf serta pasien HIV-ADIS juga meningkat. Dari
pasien yang rawat inap di RSCM pada 2009, terdapat 65% pasien paliatif, yang 60%
pasien neurologi, lebih 60% pasien ODHA dalam stadium lanjut(Hendry, 2010).Saat ini
pelayanan kesehatan di Indonesia belum menyentuh kebutuhan pasien dengan penyakit
yang sulit disembuhkan tersebut, terutama pada stadium lanjut dimana prioritas
pelayanan tidak hanya pada penyembuhan tetapi juga perawatan agar mencapai kualitas
hidup yang terbaik bagi pasien dan keluarganya (Supari,2007).Perawatan paliatif di
Indonesia baru dimulai pada tanggal 19 Februari 1992. ProfSunaryadi, Kepala Pusat
Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo menuturkan dari tahun 1992-
2010 pelayanan perawatan paliatif baru ada di 6 ibukota besar yaitu DKI Jakarta, Jawa
Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali danSulawesi Selatan (Aselmahumka, 2008).
Salah satu stimulasi penyebab nyeri adalah karena adanya pembedahan.
Pembedahan atau operasi adalah semua tindak pengobatan yang menggunakan cara
invasive dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani,
pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan

4
( Sjamsuhidayat & Jong, 2004). Untuk mengatasi nyeri diperlukan penatalaksanaan
manajemen nyeri melalui cara farmakologi dan non-farmakologi (Smeltzer & Bare,
2012). Pereda nyeri farmakologi dibedakan menjadi tiga kategori yakni golongan opioid,
non-opioid, dan anesthetic. Walaupun analgesik dapat menghilangkan nyeri dengan
efektif, jenis analgesik opioid mempunyai efek samping yang harus dipertimbangkan
dan diantisipasi, yakni diantaranya depresi pernapasan, mual, muntah, konstipasi,
pruritus, dan efek toksik pada pasien dengan gangguan hepar atau ginjal. Ketorolak
(toradol) merupakan analgesik yang kemanjurannya dapat dibandingkan dengan morfin,
lazim diresepkan sebagai pereda nyeri setelah operasi di rumah sakit.

Terapi non-farmakologi diperlukan sebagai pendamping terapi farmakologi


untuk mempersingkat episode nyeri yang hanya berlangsung beberapa detik atau menit.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwarelaksasi efektif dalam menurunkan nyeri
setelah operasi, diantaranya yaitu dengan latihan pernapasan diafragma, teknik relaksasi
progresif, guided imagery, meditasi dan relaksasi napas dalam (Smeltzer & Bare, 2012).
Beberapa penelitian tentang penerapan foot message pada pasien setelah operasi juga
telah dibuktikan dalam menurunkan nyeri (Chanif, Petpichetchian & Chongchaeron,
2013).

B. Tujuan

1. Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat meengetahui tentang keterampilan dasar keperawatan
serta tentang gambaran nyeri, jenis, serta manajemen nyeri.
2. Tujuan khusus

5
a) Untuk mengetahui definisi nyeri
b) Untuk mengetahui sifat nyeri
c) Untuk mengetahui tentang apa saja faktor nyeri
d) Untuk mengetahui tentang penanganan atau manajemen nyeri.
e) Perawatan paliatif untuk manajemen nyeri kronis.

C. Manfaat

Penyusunan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun
praktis. 1) Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengembangan pengetahuan
mengenai keterampilan dasar keperawatan serta tentang gambaran nyeri, jenis serta
manajemen nyeri pada perawatan paliatif.

Penulis, sebagai penambah pengetahuan dan keilmuan dibidang keperawatan khususnya


tentang keperawatan pada pasien paliatif.

2) Secara praktis, dapat digunakan untuk melakukan manajemen nyeri secara kronis.

6
BAB II

PEMBAHASAN

D. KONSEP NYERI
1. Definisi nyeri

Nyeri adalah perasaan tidak nyaman dan sangati individual yang tidak dapat
dirasakan atau dibagi dengan orang lain. Setiap individual yang tidak dapat dirasakan
atau di bagi dengan orang lain. Setiap individu akan merasakan reaksi dan persepsi yang
berbeda. Nyeri menyangkut dua aspek yairu psikologis dan fisiologis yang keduanya di
pengaruhi faktor-faktor seperti budaya ,usia lingkungan dan sistem
pendukung,pengalaman masa lalu, kecemasan dan stress serta efek plasebo (potter &
perry ,2005;Smeltzer dan Barre 2001).

Adapaun Nyeri didefinisakan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
eksistensi diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. Internasional association for
study of pain (IASP), nyeri adalah sensasi subyektif dan emosional yang tidak
menyenangkan yang dapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial,
atau menggambarkan kondisi terjdinya kerusakan.(Tamsuri, 2007).

Menurut Oxford Concise Medical Dictionary, Nyeri adalah sensasi tidak


menyenangkan yang bervariasi dari nyeri yang ringan hingga nyeri yang berat. Nyeri ini
adalah respon terhadap implus dari nervus dari nervus perifer dari jaringan yang rusak
atau berpotensi rusak.

2. teori pengontrol nyeri (Gate control theory)

Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor


dapat menghaslkan rangsangan nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang
mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori Gate control theory
di anggap paling relevan (Tamsuri 2007). Teori ini menjelaskan bahwa implus nyeri
diatur oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Keseimbangan

7
aktivitas dan neuron sensori dan serabut sistem saraf pusat.Keseimbangan aktivitas dari
neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses
pertahanan.Neuron delta-A dan C melepaskan subtansi C melepaskan subtansi P untuk
mentranmisi implus melalui mekanisme pertahanan. Selain itu terdapat mekanoresepor,
neuron beta-A, yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter
penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan
menutup mekanisme perthanan. Mekanisme penutupan ini dpat terlihat saat seorang
perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan
menstimulasi mechanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut
delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien
mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika implus nyeri di hantakkan ke otsk, terdapat
pusat kortek yang lebihntinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden
melepaskan opiat endogen,seperti endorfin dan dinorfin,pembunuh nyeri alami yang
berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan
menghambat pelepasan substansi P. Tehnik distraksi,musik,konseling dan pemberian
plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter dan Perry, 2005).

3. Faktor yang mempengaruhi respon nyeri

Menurut Smeltzer & Barre (2004). Faktor yang mempengaruhi respon terhadap
nyeri usia, jenis kelamin, budaya, perhatian.

a. Usia

Batasan usia menurut DepKes RI (2009) yaitu anak-anak mulai usia 0-12 tahun,
remaja usia 13-18 tahun, dewasa usia 19-59 tahun, lansia usia lebih dari 60 tahun. Usia
mempunyai peranan yang penting dalammempersepsikan dan mengekspresikan rasa
nyeri. Pasien dewasa memiliki respon yang berbeda terhadap nyeri dibandingkan pada
lansia. Nyeri dianggap sebagai kondisi yang alami dari proses penuaan. Cara

8
menafsirkan nyeri ada dua. Pertama, rasa sakit adalahnormal dari proses penuaan.
Kedua sebagai tanda penuaan. Usia sebagai faktor penting dalam pemberian obat.
Perubahan Metabolik pada orang yang lebih tua mempengaruhi respon terhadap
analgesic opioid. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh usia
terhadap persepsi nyeri dan hasilnya sudah tidak konsisten. Washington, Gibson dan
Helme (2000) menemukan bahwa orang tua membutuhkan intensitas lebih tinggi dari
rangsangan nyeri dibandingkan orang usia muda. Menurut Edwards & Fillingham
(2000) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan persepsi nyeri antara orang muda
dengan orang tua, sedangkan menurut Li, Green-wald dan Gennis (2001) menemukan
bahwa nyeri pada lansia pasien merupakan bagian dari proses penuaan. Pasien usia
lanjut melaporkan nyeri kurang signifikan dibandingkan pasien yang lebih muda

b. Jenis kelamin

Respon nyeri di pengaruhi oleh jenis kelamin. Logan dan Rose (2004) telah
melakukan penelitian terhadap sampel 100 pasien untuk mengetahui perbedaan respon
nyeri antara laki-laki danperempuan. Hasilnya menunjukan bahwa ada perbedaan antara
lakilaki dan perempuan dalammerespon nyeri yaitu perempuan mempunyai respon nyeri
lebih baik dari pada laki-laki.

c. Budaya

Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap


nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat
yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan jadi mereka tidak mengeluh
jika ada nyeri. (Suza, 2003), menemukan bahwa orang Jawa dan Batak mempunyai
respon yang berbeda terhadap nyeri.Diamenemukan bahwa pasien Jaw mencoba untuk
mengabaikan rasa sakit dan hanya diam, menunjukkansikap tabah, dan mencoba
mengalihkan rasa sakit melalui kegiatankeagamaan. Iniberartibahwa pasien Jawa
memiliki kemampuan untuk mengelola nya atau rasa sakitnya. Di sisilain,

9
pasienBatakmerespon nyeri dengan berteriak, menangis, atau marah dalam rangka
untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, sehingga menunjukkan ekspresif. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dengan budaya yang berbeda dinyatakan
dalam cara yang berbeda yang mempengaruhi persepsi nyeri.

4. Manajemen nyeri

Management nyeri bisa dilakukan dengan pharmakologic dan non pharmakologic,


terapi pharmakologic untuk mengatasi nyeri diberikan olehdokter melalui intra vena
atau rute epidural (Smeltzer dan Bare, 2004).

1. Pendekatan farmakologi adalah cara yang paling efektif untuk menghilangkan


nyeri dengan pemberian obat-obatan pereda nyeri terutama untuk nyeri yang
sangat hebat yang berlangsung selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari.
Metode yang paling umum digunakan untuk mengatasi nyeri adalah analgesic
(Strong, Unruh, Wright &Baxter, 2002), ada tiga analgesik yakni:
a. Non-narkotika dan anti inflamasi nonstreroid (NSAID): menghilngkan
nyeri ringan dan sedang dan sangat berguna bagi pasien yang rentan
terhadap efek pendepresi pernafasan.
b. Analgesik narkotik atau opiad: analgesik ini umumnya diresepkan untuk
nyeri yang sedang sampai berat, seperti nyeri depresi pernafasan, sedasi ,
konstipasi, mual muntah.
c. Obat tambahan atau ajuvant (koanalgesik): ajuvant seperti sedative, anti
cemas, dan relaksan otot miningkat control nyeri atau menghilangkan
gejala lain terkait dengan nyeri seperti depresi dan mual (Potter &
Perry,2006).

2. intervensi keperawatan mandiri (non farmakologi)

Manajemen nyeri non farmakologi yang dapat digunakan untuk mengatasi nyeri adalah
musik therapy , relaksasi, hypnosis therapy, distraksi therapy, terapi bermain, terapi

10
aktivitas, akupuntur therapy, kompres dan pijat.Menurut pellino, dkk (2005)
management nyeri non pharmakologic.Dapat digunakan untuk kombinasi dengan
pharmakologic dalammengatasi nyeri hasil penelitian menunjukan bahwa
kombinasiPharmakologic dan non pharmakologic mempunyai efek lebih baik daripada
hanya mengunakan analgesik opiod saja. Management nyeriNon pharmakologic yang
dapat digunakan untuk mengatasi nyeri padaPasien yang terpasang ventilator mekanik
di ruang icu adalah relaksasi,Terapi musik, terapi sentuhan, terapi pijat (pellino dkk,
2005).

1). Relaksasi

Menurut Houston &Jesurum(dalamChanif, 2011). Relaksasi merupakan


management nyeri non pharmakologic yang mempunyai efek sangat baik untuk
mengatasi nyeri. Relaksasi akan menyebabkan penuruan hormon adrenalin
dengan penurunan hormon adrenalin akan menyebabkan rasa tenang, rasa tenang
akan menyebabkan aktifitas saraf simpatik menurun sehingga akan
menyebabkanpenurunan nyeri. Relaksasi juga akan menyebabkan kondisi rilek
pada otot sehingga menyebabkan konsumsi oksigen dalam otot menjadi sedikit
dengan demikian akan menurunkan frekwensi nadi dan tekanan darah,
penurunan frekwensinadi dan tekanan darah akan menyebabkan penurunan nyeri
(Biley, 2000). Menurut penelitian Houston dan Jesurum (dalam Chanif, 2011)
penggunaan tehnik relaksasi (The quick relaxation technique /QRT) dan
kombinasi farmakologis yang dilakukan pada 24 pasien yang berumur 70 tahun
dimana obyek penelitian sedang menjalani bedah jantung bypass di ruang ICU,
hasil penelitian ini menunjukan setengah dari sampelyang diteliti merasakan
nyeri hilang dengan cepat dari pada kelompokyang tidak diberi relaksasi.

2). Terapi Musik (perangsangan auditori murrotal)

11
Terapi musik merupakan bagian dari tehnik relaksasi yang dapat digunakan di
ruang ICU yang mempunai efek menenangkan (Biley,2000). Menurut Oken
(2004) musik dapat memiliki efek terapeutik pada pikiran dan tubuh manusia.
Efek suara dapat mempengaruhi keseluruhan fisiologi tubuh pada basis aktivasi
korteks sensori dengan aktivasi sekunder lebih dalam pada neokorteks dan
beruntun ke dalam sistem limbik, hipotalamus dan sistem saraf otonom. Saraf
kranial kedelapan dan kesepuluh membawa impuls suara melalui telinga. Dari
sini, saraf vagus, yang membantu regulasi kecepatan denyut jantung, respirasi,
dan bicara, membawa impuls sensorik motorik ke tenggorokan, laring, jantung,
dan diafragma. Para ahli terapi suara menyatakan saraf vagus dan sistem limbik
(bagian otak yang bertanggung jawab untuk emosi) merupakan penghubung
antara telinga, otak, dan sistem saraf otonom yang menjelaskan bagaimana suara
bekerja dalam menyembuhkan gangguan fisik dan emosional (Oken, 2004).
Perangsangan auditori murrotal mempunyai efek distraksi yang meningkatkan
pembentukan endorphin dalam sistem kontrol desenden dan membuat relaksasi
otot. Dapat juga digunakan dasar teori Opiate endogenous, dimana reseptor
opiate yang berada pada otak dan spinal cord menentukan dimana sistem saraf
pusatmengistirahatkan substansi morfin yang dinamakan endorphin dan
enkephalin bila nyeri diterima. Opiate endogen ini dapat dirangsang
pengeluaranya oleh stimulasi rangsangan. Opiate reseptor ini berada pada ujung
saraf sensori perifer (Monsdragon, 2004).

3). Terapisentuhan
Terapi sentuhan merupakan salah satu metode non pharmacologic yang
dilakukan untuk mengurangi nyeri dasar teori ini adalah teorigate control yang
olehMelzackdan Wall (1965) teori inimenjelaskan bahwa ada dua macam
serabut saraf yaitu serabut sarafberdiameter kecil dan serabut saraf berdiameter
besar yangmempunyai fungsi yang berbeda-beda. Impuls rasa sakit yang
dibawaOleh saraf berdiameter kecil menyebabkan gate control di spinal
cordMembuka dan impuls diteruskan ke korteks serebral sehingga

12
akanMenimbulkan rasa sakit. Tetapi impuls rasa sakit ini dapat diblokYaitu
dengan memberikan rangsangan pada saraf berdiameter besaryang menyebabkan
gate control akan tertutup dan rangsangan sakittidak dapat diteruskan ke korteks
serebral. Pada prinsipnyarangsangan berupa usapan pada saraf berdiameter besar
yang banyakpada kulit harus dilakukan awal rasa sakit atau sebelum impuls
rasasakit yang dibawa oleh saraf berdiameter kecil mencapai korteksserebral
(Potter dan Perry, 2005).

4). Terapi Pijat

Pijat merupakan tehnik managemen non pharmakologic untukMengurangi nyeri


dan dapat menyebabkan pasien rilek dan pasien dapat memenuhi kebutuhan
istirahat tidur. Ruang ICU dianggap penyebab ketidaknyamanan pasien baik
fisik dan psikis. Menurut Monsdragon (2004) mekanisme pijat dapat
menurunkan nyeri adalah serabut nyeri membawa stimulasi nyeri ke otak
perjalanan sensasi nyeri yang dibawa oleh otak lebih kecil dari pada serabut
sentuhan yang luas. Ketika sentuhan dan nyeri dirangsang bersama, sensasi
sentuhan berjalan ke otak menutup pintu gerbang dalam otak. Dengan adanya
pijatan yang mempunyai efek distraksi juga dapat meningkatkan pembentukan
endorphin dalam sistem kontrol desenden dan membuat relaksasi otot. Dapat
juga digunakan dasar teoriOpiate endogenous, dimana reseptor opiate yang
berada pada otak dan spinal cord menentukan dimana sistem saraf pusat
mengistirahatkan substansi morfin yang dinamakan endorphin dan enkephalin
bila nyeri diterima. Opiate endogen ini dapat dirangsang pengeluaranya oleh
stimulasi kulit melalui pijatan. Opiate reseptor ini berada pada ujung saraf
sensori perifer

E. ALAT PENGUKURAN NYERI PADA PASIEN YANG TERPASANG


VENTILATOR MEKANIK

Penilaiaan skala nyeri harus dilakukan secara terus menerus tetapi pada pasien yang
terpasang ventilator mekanik banyak kendala dalam penilaian skala nyeri yang

13
sebabkan karna pasien tidak bisa komunikasi secara verbal dan terpasanng endotrakeal
tube (ETT) dan terjadi perubahan tingkat kesadaran (Hamill-Ruth & Marohn, 1999.;
Herr & Kwekkeboom, 2001;Shannon & Bucknall, 2003). Hal ini diperlukan pengetauan
yang cukup tentang penilaian skala nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik.
Menurut Gelinas (2007) dan Payen (2001) menyatakan bahwa penilian skala nyeri pada
pasien yang dirawat di ruang ICU bisa dilakukan dengan mengamati prilaku pasien
walaupun kondisi pasien tidak sadar. Penilaian nyeri pada pasien yang terpasang
ventilator mekanik dengan menitik beratkan data obyektif yang terlihat secara nonverbal
(AHCPR, 1992; Jacobi, 2002). Sebuah penelitian yang dikukan oleh Gelinas & Arbour
(2009) pada 257 pasien yang terpasang ventilator mekanik di ruang ICU hasilnya
menunjukan ekspresi rasa nyeri ditunjukan dengan cara meringis, kekakuan otot,
kepatuhan saat penggunaan ventilator mekanik (melawan kerja ventilator). Penilaian
respon nyeri menggunakan parameter dari tanda-tanda vital. Meskipun tanda-tanda vital
meningkat selama perawatn di ruang ICU. (Gelinas, 2007; Young, 2006), peningkatan
tanda-tanda vital tidak selalu terjadi pada pasien yang mengalami nyeri (Gelinas, 2007).
The American Society Managemen Pain Nurse (ASMPN) merekomendasikan bahwa
tanda-tanda vital tidak boleh dianggap sebagai indikator utama dari penilaian nyeri,
karena kondisi ini bisa disebabkan karna perubahan homestatic dan pengaruh dari obat-
obatan (Herr, 2006). Penilaian nyeri pada pasien yang terjadi penurunan kesadaran
dapat menggunakan beberapa parameter atau instrumen, instrumen yang dapat
digunakan adalah menggunakan BPS (Behabioral Pain Scale ), CPOT (Critcal Pain
Obserb Tool), PACU-BPRS (Post Anesthesia Care Unit Behavioral Pain Rating Scale),
PAIN (Pain Assessment and Intervention Notation) algoritma (Herr, 2006; Anand &
Craig, 1996). Instrumen yang digunakan untuk penilaian nyeri pada pasien yang dirawat
di ruang ICU dengan ventilator adalah menggunakan Skala Nyeri dengan Perilaku
(BPS) dan Critcal Pain Obserb Tool (CPOT) (Herr, 2006; Anand & Craig, 1996).

Penjelasan instrumen CPOT yang digunakan untuk penilaian nyeri pada pasien yang
terpasang ventilator mekanik

14
Indicator Kondisi skors Keterangan
Ekspresi wajah rileks 0 Tidak ada ketegangan otot
kaku 1 Mengerutkan kening,
mengangkat alis
meringis 2 Menggigit selang ETT*
Gerakan Tubuh Tidak ada gerakan 0 Tidak bergerak(tidak
abnormal kesakitan) atau posisi
normal (tidak ada gerakan
lokalisasi nyeri)
1 Gerakan hati- hati,
Lokalisasi nyeri menyentuh lokasi nyeri,
mencari perhatian melalui
2 gerakkan
gelisah Mencabut EET, mencoba
untuk duduk, tidak
mengikuti perintah,
mengamuk, mencoba
keluar dari tem,pat tidur
Aktivasi alarm Pasien kooperatif terhadap 0 Alarm tidak berbunyi
ventilator kerja ventilator mekanik
Alarm aktiv tapi mati 1 Batuk, alarm berbunyi
sendiri tetapi berhenti secara
2 spontan
Alarm selalu aktif Alarm sering berbunyi
Berbicara jika Berbicara dalam nada 0 Bicara dengan nada pelan
pasien normal atau tidak ada suara
diekstubasi Mendesah,mengeran 1 Mendesah,mengeran
menangis 2 Menangis,berteriak.

15
Ketegangan Tidak ada ketegangan otot 0 Tidak ada ketegangan otot
otot Tegang,kaku 1 Gerakan otot pasif
Sangat tegang atau kaku 2 Gerakan sangat kuat
Total
Ket: endotrakeal tube adalah alat yang di pasang kepada pasien untuk menjaga bebasnya
jalan nafas pada pasien. Catatan:

Skors 0: tidak ada nyeri


Skors 1-2: nyeri ringan
Skors 3-4: nyeri sedang
Skors 5-6: nyeri berat
Skors 7-8: nyeri sangat berat

16
BAB III

KEPERAWATAN PALIATIF MENEJEMEN NYERI

F. TUJUAN PENATALAKSANAAN NYERI

1. Mengurangi intensitas dan durasi keluhan nyeri

2. Menurunkan kemungkinan berubahnya nyeri akut menjadi gejala nyeri


kronis yang persisten

3. Mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan akibat nyeri

4. Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri

5. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengoptimalkan kemampuan


pasien untuk menjalankan aktivitas sehari-hari

G. MANAJEMEN NYERI PADA KANKER

1. ANALGESIK
a. Non-Farmakologi
Lifestyle, Physical, Akupuntur, Hipnotis
b. Tindakan
Surgical, Nerve block (eg epidural/facet block)
c. Farmakologi
Paracetamol,NSAIDs

2. WHO: WEAK OPIOID


 Kombinasi :
o Codeine  10-20 mg
o Acetominophen  500-600mg
o +adjuvant 4 hours (6x/day )
 Kerugian :

17
o Incovenient ( boring )
o Konstipasi
 Obat Kombinasi  ® Ultracet
 Acetominophen, ..... 325 mg
 Tramadol ................ 37,5 mg
 q 12 hours / q 8 hours
 Kombinasi sinergis :
 Potensiasi
 Onset cepat-long acting
3. WHO: STRONG OPIOID
Paling sering digunakan :
i. Morphine
ii. Transdermal fentanyl

H. FORMULASI OPIOID UNTUK NYERI KRONIS


 Sustained release :
 oral: MST, oxycodone, hydromorphone
 transdermal: fentanyl
 Strategi ‘start low-go slow’ untuk meminimalkan efek samping
 Efektif di semua tipe nyeri
 termasuk nyeri neuropati

I. EFEK SAMPING
 Sedasi
 Nausea Vomitting (Haloperidol 1,5 mg malam)
 Konstipasi
 Dry Mouth

18
J. CONTOH PROSEDUR
Konversi morfin iv menjadi oral.
Perbandingan 1 : 3.
contoh :Mo iv 30 mg/24 jam,
Jika diberikan secara oral 90 mg/24 jam.
6 x 15 mg immediate tablet (IR)
bila terkontrol, fentanyl transdermal 50 µg/h

19
DAFTAR PUSTAKA

Aselmahuka (2008), Perawatan Paliatif

Billey, F, C. (2000). The Effects on patient well beingof music listening as anursing
intervention: review of the literature. Journal of clinical nurse, 9, 668-673.

Chanif, (2012). The effect of foot massage on acut post operative Pain in Indonesian
Patiens After Abdominal Surgery.

Edwards, R, R., & Fillingham, R, B. (2000). Age-associated differences in responses to


noxious stimuli. Journal of Gerontology Series A: Biological Science &
Medikal Science, 56, 180-185.

Helme, R.D., Gibson S.J., 2000, Pain In Older People, IASP Press Seatle, 8, 103-112.

Kemp, C (2009), Klien sakit terminal: Asuhan Keperawatan (Edisi 2) (Nike Budi
Subekti, Penerjemah). Jakarta: ECG

Li, S, F., Greenwald , P W., Gennis, P. (2001). Effect of age on acute perception of a
standarlized stimulus in the emergency department. Annals of Emergency
Medicine, 38, 664-647.

Logan, E, D., & Rose, B, J. (2004). Gender differences in post-operative pain and
patient controlled analgesia use among adolescent surgical patient.

Monsdragon.(2004). Pregnancy Information ( Effleuage and massage )

Oken, B. S. (2004).Complementary Therapies in Neorology: An Evidence-Based


Approach. USA: The Parthenon Publshing Group.

Payen, J, F. (2001). Assessing pain in the critical ill sedated patients by using a
behavioral pain scale. Critical Care Medicine, 29, 2258-2267.

20
Pellino, T, A., Gordon, D, B., & Engelke, Z, K. (2005). Use of nonpharmacologic
interventions fo pain and axiety after total hip and total knee arthroplasty.
Orthop Nurs, 24, 182-190

Potter, P.a & Perry, A.G . (2009). Fundamental Keperawatan. Edisi 7, Jakarta :
Salemba Medika

Sjamsuhidayat R, Wim de jong, 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, Jakarta: EGC

Smeltzer, S., Bare, B., Hinkle, J., Cheever, K. (2008). Bruner and Suddarth textbook of
medical surgical nursing (11th ed.) Philadelphia : Lippincott Williams &
Wilkins

Suza, D. E (2003). Pain experience between Javanese and Bataknese patients with
major surgery in Medan, Indonesia. Unpublished Master Thesis, Prince of
Songkla University: Thailand.

Tamsuri A, (2007). Konsep Dan Penatalaksanaan Nyeri, Jakarta : EGC

21