Anda di halaman 1dari 82

RANGKUMAN SEJARAH

I. PERJUANGAN BANGSA INDONESIA


A. CORAK PERJUANGAN BANGSA INDONESIA
Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia yang pada awalnya hanya hendak bedagang, berujung
dengan kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia. Pada awalnya bangsa Barat hanya
menuntut untuk dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah pada suatu kerajaan. Setelah
berhasil melakukan monopoli dengan melakukan berbagai cara, kemudian meningkat dengan ingin
menguasai wilayah dan pemerintahan tersebut. Pada awalnya bangsa Barat hanya melakukan
kolonialisasi dilanjutkan kemudian dengan melakukan imperialisme.
Menghadapi hal tersebut, bangsa Indonesia tidak tinggal diam melainkan juga melakukan
perlawanan. Secara garis besar perjuangan bangsa Indonesia untuk menghadapi bangsa Barat
dibedakan menjadi dua bentuk gerakan yakni gerakan tradisional dan gerakan modern. Batas
dari gerakan tradisional dengan gerakan modern adalah adanya politik etis yang mampu melahirkan
golongan terpelajar. Munculnya golongan terpelajar, membuat perjuangan bangsa Indonesia yang
awalnya tradisional kedaerahan berubah menjadi modern.
Gerakan tradisional juga disebut Gerakan daerah bercirikan sebagai berikut. (a) Bentuk
gerakannya belum diorganisasi, maka menggantungkan kepada pemimpin. (b) Sifatnya kedaerahan,
maka bersifat insidental sementara. (c) Mengandalkan kekuatan senjata dan kekuatan gaib. (d)
Belum ada tujuan yang jelas. (e) Gerakannya mudah bubar atau berakhir jika pemimpin mereka
tertangkap.
Beberapa perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia antara lain:
1) Perlawanan Aceh terhadap Portugis
2) Perlawanan Demak terhadap Portugis
3) Perlawanan Ternate terhadap Portugis
4) Perlawanan Gowa-Tallo terhadap VOC
5) Perlawanan Banten terhadap VOC
6) Perlawanan Mataram Islam terhadap VOC
7) Perang Diponegoro
8) Perang Paderi
9) Perang Puputan Jagaraga

Politik Etis yang dicetuskan oleh Van Deventer berdampak positif terhadap perjuangan bangsa
Indonesia. Adanya politik etis memunculkan golongan terpelajar atau cendikiawan yang mampu
menjadi pelopor pergerakan nasional. Gerakan modern atau gerakan nasional melawan
penjajah bercirikan sebagai berikut; (a) Gerakannya sudah diorganisasi secara teratur. (b) Bersifat
nasional baik wilayah atau cita-cita kebangsaan, (c) Perjuangan menggunakan taktik modern dan
organisasi modern. (d) Sudah memiliki tujuan yang jelas, yaitu Indonesia merdeka. (e) Gerakannya
tangguh dan berakar di hati rakyat. Berbagai organisasi modern yang dibentuk antara lain:
1) Budi Utomo
2) Sarekat Islam
3) Indische Partij
4) Perhimpunan Indonesia
5) Partai Nasional Indonesia
6) Partai Komunis Indonesia
7) Partai Indonesia Raya
8) Gerakan Rakyat Indonesia
9) Gabungan Politik Indonesia
B. POLITIK DEVIDE ET IMPERA VOC
Devide et impera adalah cara yang ditempuh Belanda di Indonesia untuk menguasai suatu wilayah.
Politik devide et impera diterapkan baik oleh VOC maupun pemerintah kolonial Belanda sendiri.
Pada awalnya, VOC datang untuk berdagang. Lama kelamaan muncul jiwa serakah ingin menguasai
wilayah tersebut. maka VOC kemudian menuntut penguasa setempat untuk memberikan hak
monopoli perdagangan kepada VOC. Keinginan VOC tersebut ditolak oleh penguasa setempat
sehingga kemudian VOC berupaya untuk mengganti penguasa tersebut dengan penguasa yang mau
bekerjasama dengan VOC.
VOC mampu menguasai Indonesia pada masa itu disebabkan oleh:
 VOC adalah organisasi dagang yang tertib dan para pengurusnya bekerja keras sehingga
maju dengan pesat,
 banyak kerajaan di Indonesia yang mudah dikuasai VOC karena politik adu domba, dan
 para pedagang di Nusantara belum memiliki kesatuan dan persatuan yang kuat.
Beberapa politik ada domba di Indonesia antara lain:
Di Kerajaan Banten
Belanda memanfaatkan konflik internal kerajaan Banten dengan cara politik adu domba. Antara
Sultan Haji, Putra Mahkota Banten, sedang berselisih dengan Sultan Ageng Tirtayasa mengenai
pergantian kekuasaan kerajaan. VOC memberikan bantuan kepada Sultan Haji untuk melengserkan
Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah berhasil melengserkan Sultan Ageng Tirtayasa, VOC meminta
imbalan berupa perjanjian, yang menyatakan bahwa Banten merupakan wilayah yang berada di
bawah kekuasaan VOC, dan VOC diijinkan mendirikan benteng. Banten juga harus memutuskan
hubungan dengan bangsa-bangsa lain dan memberikan hak monopoli kepada VOC untuk berdagang
di Banten. Perjanjian Banten sangat menguntungkan bagi VOC.

Di Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar)


Di Kerajaan Gowa-Tallo, VOC melakukan politik adu domba antara Sultan Hasanudin dengan Aru
Palaka, raja dari Bone. Bone merupakan salah satu wilayah yang dikuasai oleh Hasanudin.
Perlawanan rakyat Bone terhadap Sultan Hasanudin dipimpin oleh Aru Palaka. Aru Palaka
kemudian meminta bantuan VOC untuk mengalahkan Sultan Hasanudin. Perang antara kerajaan
Makasar dengan kerajaan Bone yang dibantu VOC, berakhir dengan kekalahan kerajaan Makasar.
Sultan Hasanudin harus menandatangani Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan. Salah
satunya adalah VOC berhak melakukan monopoli perdagangan di Sulawesi.

Di Kerajaan Mataram Islam


Kerajaan Mataram Islam dibawah kekuasaan Sultan Agung melakukan perlawanan terhadap VOC.
Sultan Agung menganggap bahwa VOC akan menghalangi cita-citanya menguasai tanah Jawa. Oleh
karena itu Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia sebanyak dua kali akan
tetapi mengalami kegagalan. Sepeninggalnya Sultan Agung, pada zaman Amangkurat I, pengaruh
VOC kemudian memasuki istana Kerajaan Mataram Islam. Konflik dalam istana Kerajaan Mataram
Islam membuat pengaruh VOC semakin kuat. Puncak dari berbagai konflik yang adalah dengan
adanya Perjanjian Gianti dan Perjanjian Salatiga yang membuat Kerajaan Mataram Islam
terpecah menjadi kerajaan kecil.

C. PERLAWANAN TERHADAP KOLONIAL BELANDA


Perang Paderi (1803 – 1838)
Dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Peristiwa ini berawal dari gerakan Paderi untuk memurnikan
ajaran Islam di wilayah Minangkabau, Sumatra Barat. Perang ini dikenal dengan nama Perang
Paderi karena merupakan perang antara kaum Paderi/kaum putih/golongan agama melawan
kaum hitam/kaum Adat dan Belanda. Tokoh-tokoh pendukung kaum Paderi adalah Tuanku Nan
Renceh, Tuanku Kota Tua, Tuanku Mensiangan, Tuanku Pasaman, Tuanku Tambusi, dan Tuanku
Imam.
Jalannya Perang Paderi dapat dibagi menjadi 3 tahapan
Tahap I, tahun 1803 – Ciri perang tahap pertama ini adalah murni perang saudara dan belum ada
campur tangan pihak luar, dalam hal ini Belanda. Perang ini mengalami perkembangan baru saat
kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda. Sejak itu dimulailah Perang Paderi melawan Belanda.
Tahap II, tahun 1822 – Tahap ini ditandai dengan meredanya pertempuran karena Belanda yang
makin melemah berhasil mengadakan perjanjian dengan kaum Paderi. Pada tahun 1825, berhubung
dengan adanya perlawanan Diponegoro di Jawa, pemerintah Hindia Belanda dihadapkan pada
kesulitan baru. Kekuatan militer Belanda terbatas, dan harus menghadapi dua perlawanan besar
yaitu perlawanan kaum Paderi dan perlawanan Diponegoro. Oleh karena itu, Belanda mengadakan
perjanjian perdamaian dengan Kaum Paderi. Perjanjian tersebut adalah Perjanjian Masang (1825)
yang berisi masalah gencatan senjata di antara kedua belah pihak. Setelah Perang Diponegoro
selesai, Belanda kembali menggempur kaum Paderi di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ellout
tahun 1831. Kemudian, disusul juga oleh pasukan yang dipimpin Mayor Michiels.
Tahap III, tahun 1832 – Perang pada tahap ini adalah perang semesta rakyat Minangkabau
mengusir Belanda. Sejak tahun 1831 kaum Adat dan kaum Paderi bersatu melawan Belanda yang
dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Pada tanggal 16 Agustus 1837 jam 8 pagi, Bonjol secara
keseluruhan diduduki Belanda. Tuanku Imam mengungsi ke Marapak. Pertempuran itu berakhir
dengan penangkapan Tuanku Imam, yang langsung dibawa ke Padang. Selanjutnya atas perintah
Letkol Michiels, Tuanku Imam diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat pada tahun 1838. Kemudian pada
tahun 1839 dipindah ke Ambon. Tiga tahun kemudian dipindah ke Manado sampai meninggal pada
tanggal 6 November 1864 pada usia 92 tahun.

Perlawanan Patimura terhadap Belanda


Ketika Belanda kembali berkuasa di Maluku pada tahun 1817, monopoli diberlakukan lagi.
Diberlakukan lagi sistem ekonomi uang kertas yang sangat dibenci dan keluar perintah sistem kerja
paksa (rodi). Belanda tampaknya juga tidak mau menyokong dan memerhatikan keberadaan gereja
Protestan dan pengelolaan sekolah-sekolah protestan secara layak. Inilah penyebab utama
meletusnya Perang Maluku yang dipimpin Kapitan Pattimura. Pada tanggal 15 Mei 1817, pasukan
Pattimura mengadakan penyerbuan ke Benteng Duurstede. Dalam penyerangan tersebut, Benteng
Duurstede dapat diduduki oleh pasukan Pattimura bahkan residen van den Berg beserta keluarganya
tewas.
Tentara Belanda yang tersisa dalam benteng tersebut menyerahkan diri. Dalam penyerbuan itu,
Pattimura dibantu oleh Anthonie Rheebok, Christina Martha Tiahahu, Philip Latumahina, dan
Kapitan Said Printah. Berkat siasat Belanda yang berhasil membujuk Raja Booi, pada tanggal 11
November 1817, Thomas Matulessy atau yang akrab dikenal dengan gelar Kapitan Pattimura
berhasil ditangkap di perbatasan hutan Booi dan Haria.
Akhirnya vonis hukuman gantung dijatuhkan kepada empat pemimpin, yaitu Thomas Matullessy
atau Kapitan Pattimura, Anthonie Rheebok, Said Printah, dan Philip Latumahina. Eksekusi hukuman
gantung sampai mati dilaksanakan pada pukul 07.00 tanggal 10 Desember 1817 disaksikan rakyat
Ambon.

Perlawanan Diponegoro terhadap Belanda


Sebelum Perang Diponegoro meletus, terjadi kekalutan di Istana Yogyakarta. Ketegangan mulai
timbul ketika Sultan Hamengku Buwono II memecat dan menggeser pegawai istana dan bupati-
bupati yang dahulu dipilih oleh Sultan Hamengku Buwono I. Kekacauan dalam istana semakin
besar ketika mulai ada campur tangan Belanda. Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan
Belanda menimbulkan kebencian rakyat. Kondisi ini memuncak menjadi perlawanan menentang
Belanda.
Sebab-sebab umum perlawanan Diponegoro.
 Kekuasaan Raja Mataram semakin lemah, wilayahnya dipecah- pecah.
 Belanda ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan dan pengangkatan raja pengganti.
 Kaum bangsawan sangat dirugikan karena sebagian besar sumber penghasilannya diambil alih
oleh Belanda. Mereka dilarang menyewakan tanah bahkan diambil alih haknya.
 Adat istiadat keraton menjadi rusak dan kehidupan beragama menjadi merosot.
 Penderitaan rakyat yang berkepanjangan sebagai akibat dari berbagai macam pajak, seperti
pajak hasil bumi, pajak jembatan, pajak jalan, pajak pasar, pajak ternak, pajak dagangan, pajak
kepala, dan pajak tanah.
Hal yang menjadi sebab khusus perlawanan Pangeran Diponegoro adalah adanya rencana
pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Dalam
perang tersebut, Pangeran Diponegoro mendapatkan dukungan dari rakyat Tegalrejo, dan dibantu
Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasyah Prawirodirjo, dan Pangeran Dipokusumo.
Pada tanggal 20 Juli 1825, Belanda bersama Patih Danurejo IV mengadakan serangan ke Tegalrejo.
Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya menyingkir ke Selarong, sebuah perbukitan di Selatan
Yogyakarta. Selarong dijadikan markas untuk menyusun kekuatan dan strategi penyerangan secara
gerilya. Agar tidak mudah diketahui oleh pihak Belanda, tempat markas berpindah-pindah, dari
Selarong ke Plered kemudian ke Dekso dan ke Pengasih. Perang Diponegoro menggunakan siasat
perang gerilya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Berbagai upaya untuk mematahkan perlawanan Pangeran Diponegoro telah dilakukan Belanda,
namun masih gagal. Siasat Benteng stelsel (sistem Benteng) yang banyak menguras biaya
diterapkan juga. Namun sistem benteng ini juga kurang efektif untuk mematahkan perlawanan
Diponegoro. Jenderal De Kock akhirnya menggunakan siasat tipu muslihat melalui perundingan.
Pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro bersedia hadir untuk berunding di rumah
Residen Kedu di Magelang.
Dalam perundingan tersebut, Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan di Semarang dan
dipindah ke Batavia. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1830 dipindah lagi ke Manado. Pada tahun
1834 pengasingannya dipindah lagi ke Makassar sampai meninggal dunia pada usia 70 tahun
tepatnya tanggal 8 Januari 1855.

Perang Puputan Jagaraga di Bali


Pada tahun 1844, sebuah kapal dagang Belanda kandas di daerah Prancak (daerah Jembara), yang
saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Kerajaan-kerajaan di Bali termasuk Buleleng
pada saat itu memberlakukan hak tawan karang. Dengan demikian, kapal dagang Belanda tersebut
menjadi hak Kerajaan Buleleng. Pemerintah kolonial Belanda memprotes Raja Buleleng yang
dianggap merampas kapal Belanda, namun tidak dihiraukan. Insiden inilah yang memicu pecahnya
Perang Bali, atau dikenal juga dengan nama Perang Jagaraga.
Belanda melakukan penyerangan terhadap Pulau Bali pada tahun 1846. Yang menjadi sasaran
pertama dan utama adalah Kerajaan Buleleng. Patih I Gusti Ktut Jelantik beserta pasukan
menghadapi serbuan Belanda dengan gigih. Pertempuran yang begitu heroik terjadi di Jagaraga yang
merupakan salah satu benteng pertahanan Bali.
Belanda melakukan serangan mendadak terhadap pasukan Bali di benteng Jagaraga. Dalam
pertempuran tersebut, pasukan Bali tidak dapat menghalau pasukan musuh. Akhirnya pasukan I
Gusti Ktut Jelantik terdesak dan mengundurkan diri ke daerah luar benteng Jagaraga.
Waktu benteng Jagaraga jatuh ke pihak Belanda, pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Mayor
A.V. Michiels dan sebagai wakilnya adalah van Swieten. Raja Buleleng dan patih dapat meloloskan
diri dari kepungan pasukan Belanda menuju Karangasem. Setelah Buleleng secara keseluruhan
dapat dikuasai, Belanda kemudian berusaha menaklukkan kerajaan-kerajaan lainnya di Pulau Bali.
Ternyata perlawanan sengit dari rakyat setempat membuat pihak Belanda cukup kewalahan. Perang
puputan pecah di mana-mana, seperti Perang Puputan Kusamba (1849), Perang Puputan Badung
(1906), dan Perang Puputan Klungkung (1908).

Perlawanan Antasari terhadap Pemerintah Belanda


Campur tangan pemerintah Belanda dalam urusan pergantian kekuasaan di Banjar merupakan biang
perpecahan. Sewaktu Sultan Adam Al Wasikbillah memegang tahta kerajaan Banjar (1825 – 1857),
putra mahkota yang bernama Sultan Muda Abdurrakhman meninggal dunia. Dengan demikian calon
berikutnya adalah putra Sultan Muda Abdurrakhman atau cucu Sultan Adam. Yang menjadi masalah
adalah cucu Sultan Adam dari putra mahkota ada dua orang, yaitu Pangeran Hidayatullah dan
Pangeran Tamjid. Sultan Adam cenderung untuk memilih Pangeran Hidayatullah. Alasannya
memiliki perangai yang baik, taat beragama, luas pengetahuan, dan disukai rakyat. Sebaliknya
Pangeran Tamjid kelakuannya kurang terpuji, kurang taat beragama dan bergaya hidup kebarat-
baratan meniru orang Belanda.
Pangeran Tamjid inilah yang dekat dengan Belanda dan dijagokan oleh Belanda. Belanda menekan
Sultan Adam dan mengancam supaya mengangkat Pangeran Tamjid. Di mana-mana timbul suara
ketidakpuasan masyarakat terhadap Sultan Tamjidillah II (gelar Sultan Tamjid setelah naik tahta)
dan kebencian rakyat terhadap Belanda. Kebencian rakyat lama-lama berubah menjadi bentuk
perlawanan yang terjadi di mana-mana. Perlawanan tersebut dipimpin oleh seorang figur yang
didambakan rakyat, yaitu Pangeran Antasari.
Pangeran Hidayatullah secara terang-terangan menyatakan memihak kepada Pangeran Antasari.
Bentuk perlawanan rakyat terhadap Belanda mulai berkobar sekitar tahun 1859. Pangeran Antasari
juga diperkuat oleh Kyai Demang Lehman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang.
Penyerangan diarahkan pada pos- pos tentara milik Belanda dan pos-pos missi Nasrani. Benteng
Belanda di Tabania berhasil direbut dan dikuasai. Tidak lama kemudian datang bantuan tentara
Belanda dari Jawa yang dipimpin oleh Verspick, berhasil membalik keadaan setelah terjadi
pertempuran sengit.
Akibat musuh terlalu kuat, beberapa orang pemimpin perlawanan ditangkap. Pangeran Hidayatullah
ditawan oleh Belanda pada tanggal 3 Maret 1862, dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Pada
tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari wafat. Sepeninggal Pangeran Antasari, para pemimpin
rakyat mufakat sebagai penggantinya adalah Gusti Mohammad Seman, putra Pangeran Antasari.

Perlawanan Kerajaan Aceh terhadap Belanda


Penandatanganan Traktat Sumatra antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 membuka
kesempatan kepada Belanda untuk mulai melakukan intervensi ke Kerajaan Aceh. Belanda
menyatakan perang terhadap Kerajaan Aceh karena Kerajaan Aceh menolak dengan keras untuk
mengakui kedaulatan Belanda. Inilah awal pertempuran terjadi antara pasukan Aceh dengan
sebagian tentara Belanda yang mulai mendarat di Aceh. Dalam pertempuran itu pasukan Aceh
mundur ke kawasan Masjid Raya. Pasukan Aceh tidak semata-mata mundur tapi juga sempat
memberi perlawanan sehingga Mayor Jenderal Kohler sendiri tewas. Dengan demikian, Masjid
Raya dapat direbut kembali oleh pasukan Aceh.
Daerah-daerah di kawasan Aceh bangkit melakukan perlawanan. Para pemimpin Aceh yang
diperhitungkan Belanda adalah Cut Nya’Din, Teuku Umar, Tengku Cik Di Tiro, Teuku Ci’ Bugas,
Habib Abdurrahman, dan Cut Mutia. Belanda mencoba menerapkan siasat konsentrasi stelsel yaitu
sistem garis pemusatan di mana Belanda memusatkan pasukannya di benteng-benteng sekitar
kota termasuk Kutaraja. Belanda tidak melakukan serangan ke daerah-daerah tetapi cukup
mempertahankan kota dan pos-pos sekitarnya. Namun, siasat ini tetap tidak berhasil mematahkan
perlawanan rakyat Aceh.
Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan Belanda berpikir keras untuk menemukan siasat baru.
Untuk itu, Belanda memerintahkan Dr. Snouck Hurgronje yang paham tentang agama Islam untuk
mengadakan penelitian tentang kehidupan masyarakat Aceh. Dr. Snouck Hurgronje memberi saran
dan masukan kepada pemerintah Hindia Belanda mengenai hasil penyelidikannya terhadap
masyarakat Aceh yang ditulis dengan judul De Atjehers. Berdasarkan kesimpulan Dr. Snouck
Hurgronje pemerintah Hindia Belanda memperoleh petunjuk bahwa untuk menaklukkan Aceh harus
dengan siasat kekerasan.
Pada tahun 1899, Belanda mulai menerapkan siasat kekerasan dengan mengadakan serangan besar-
besaran ke daerah-daerah pedalaman. Serangan-serangan tersebut dipimpin oleh van Heutz. Tanpa
mengenal peri-kemanusiaan, pasukan Belanda membinasakan semua penduduk daerah yang
menjadi targetnya.
Satu per satu pemimpin para pemimpin perlawanan rakyat Aceh menyerah dan terbunuh. Dalam
pertempuran yang terjadi di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Jatuhnya Benteng Kuto Reh pada tahun
1904, memaksa Aceh harus menandatangani Plakat pendek atau Perjanjian Singkat (Korte
Verklaring).
Biar pun secara resmi pemerintah Hindia Belanda menyatakan Perang Aceh berakhir pada tahun
1904, dalam kenyataannya tidak. Perlawanan rakyat Aceh terus berlangsung sampai tahun 1912.
Bahkan di beberapa daerah tertentu di Aceh masih muncul perlawanan sampai menjelang Perang
Dunia II tahun 1939.

Perang Tapanuli (1878 – 1907)


Pada tahun 1878 Belanda mulai dengan gerakan militernya menyerang daerah Tapanuli, sehingga
meletus Perang Tapanuli dari tahun 1878 sampai tahun 1907. Perlawanan Belanda di daerah
Tapanuli dipimpin oleh Si Singamangaraja XII. Sebab-sebab terjadinya Perang Batak atau Perang
Tapanuli. Raja Si Singamangaraja XII menentang dan menolak daerah kekuasaannya di Tapanuli
Selatan dikuasai Belanda. Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica (menguasai seluruh
Hindia Belanda).
Pada masa pemerintahan Si Singamangaraja XII, kekuasaan kolonial Belanda mulai memasuki
daerah Tapanuli. Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica yang dilakukan dengan berlindung
di balik kegiatan zending yang mengembangkan agama Kristen. Belanda menempatkan pasukannya
di Tarutung dengan dalih melindungi penyebar agama Kristen. Si Singamangaraja XII tidak
menentang usaha-usaha mengembangkan agama Kristen tetapi ia tidak bisa menerima tertanamnya
kekuasaan Belanda di wilayah kekuasaannya.
Menghadapi perluasan wilayah pendudukan yang dilakukan oleh Belanda, pada bulan Februari 1878
Si Singamangaraja XII melancarkan serangan terhadap pos pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat
Tarutung (Tapanuli Utara). Pertempuran merebak sampai ke daerah Buntur, Bahal Batu, Balige, Si
Borang-Borang, dan Lumban Julu. Dengan gigih rakyat setempat berjuang saling bahu membahu
berlangsung sampai sekitar 7 tahun. Tetapi, karena kekurangan senjata pasukan Si Singamangaraja
XII semakin lama semakin terdesak. Bahkan terpaksa ditinggalkan dan perjuangan dilanjutkan ke
tempat lain.
Dalam keadaan yang lemah, Si Singamangaraja XII bersama putra-putra dan pengikutnya
mengadakan perlawanan. Dalam perlawanan ini, Si Singamangaraja, dan seorang putrinya, Lapian
serta dua putranya, Sultan Nagari dan Patuan Anggi, gugur. Dengan gugurnya Si Singamangaraja
XII, maka seluruh daerah Batak jatuh ke tangan Belanda.
D. PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP PORTUGIS
Pada tahun 1511 Alfonso de Albuquerque berhasil menguasai Malaka yang menjadi tempat
penting bagi perdagangan rempah-rempah. Penguasaan Portugis terhadap Malaka kemudian
memunculkan berbagai perlawanan rakyat Indonesia.

Serangan Kerajaan Aceh terhadap Portugis


Sejak kedatangan orang Portugis di Malaka pada tahun 1511, telah terjadi persaingan yang berbuntut
permusuhan antara Portugis dan Kesultanan Aceh. Sultan Aceh pada waktu itu diperintah oleh
Sultan Ali Mughayat Syah (1514- 1528), menganggap bahwa orang Portugis merupakan saingan
dalam politik, ekonomi, dan penyebaran agama. Latar belakang perlawanan rakyat Aceh
terhadap Portugis antara lain:
 Adanya monopoli perdagangan oleh Portugis
 Pelarangan terhadap orang-orang Aceh untuk berdagang dan berlayar ke Laut Merah
 Penangkapan kapal kapal Aceh oleh Portugis.
Oleh karena itu, tindakan kapal-kapal Potugis telah mendorong munculnya perlawanan rakyat Aceh.
Sebagai persiapan Aceh melakukan langkah-langkah antara lain:
 Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan persenjataan, meriam dan prajurit
 Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa ahli dari Turki pada
tahun 1567.
 Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara.
Setelah berbagai bantuan berdatangan, Aceh segera melancarkan serangan terhadap Portugis di
Malaka. Portugis harus bertahan mati-matian di Formosa/Benteng. Portugis harus mengerahkan
semua kekuatannya sehingga serangan Aceh ini dapat digagalkan. Sebagai tindakan balasan pada
tahun 1569 Portugis balik menyerang Aceh, tetapi serangan Portugis di Aceh ini juga dapat
digagalkan oleh pasukan Aceh.
Sejak Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), perjuangan
mengusir Portugis mencapai puncaknya. Untuk mencapai tujuannya, Sultan Iskandar Muda
menempuh beberapa cara untuk melumpuhkan kekuatan Portugis, seperti blokade perdagangan.
Sultan Aceh melarang daerah-daerah yang dikuasai Aceh menjual lada dan timah kepada Portugis.
Cara ini dimaksudkan agar kekuatan Portugis benar-benar lumpuh, karena tidak memiliki barang
yang harus dijual di Eropa. Upaya ini ternyata tidak berhasil sepenuhnya, sebab raja-raja kecil yang
merasa membutuhkan uang secara sembunyi-sembunyi menjual barang dagangannya kepada
Portugis. Gagal dengan taktik blokade ekonomi, Sultan Iskandar Muda menyerang kedudukan
Portugis di Malaka pada tahun 1629. Seluruh kekuatan tentara Aceh dikerahkan. Namun, upaya itu
mengalami kegagalan. Pasukan Kesultanan Aceh dapat di pukul mundur oleh pasukan Portugis.
Faktor penyebab kegagalan serangan Aceh terhadap Portugis di Malaka adalah:
 Tidak dipersiapkan dengan baik
 Perlengkapan senjata yang digunakan masih sederhana
 Terjadi konflik internal dikalangan pejabat Kerajaan Aceh
 Serangan Kerajaan Demak terhadap Portugis di Malaka

Dikuasainya Malaka pada tahun 1511 oleh orang-orang Portugis merupakan ancaman tersendiri bagi
Kerajaan Demak. Pada tahun 1512, Kerajaan Demak di bawah pimpinan Pati Unus (Pangeran
Sabrang Lor) dengan bantuan Kerajaan Aceh menyerang Portugis di Malaka. Namun, serbuan
Demak tersebut mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan serangan Demak ke Portugis di
Malaka adalah:
 Serangan tersebut tidak dilakukan dengan persiapan yang matang
 Jarak yang terlalu jauh
 Kalah persenjataan
Penyerangan dilakukan sekali lagi bersama Aceh dan Kerajaan Johor, tetapi tetap berhasil
dipatahkan oleh Portugis. Perjuangan Kerajaan Demak terhadap orang-orang Portugis tidak berheti
sampai di situ. Kerajaan Demak selalu menyerang dan membinasakan setiap kapal dagang Portugis
yang melewati jalur Laut Jawa. Karena itulah kapal dagang Portugis yang membawa rempah-
rempah dari Maluku (Ambon) tidak melalui Laut Jawa, tetapi melalui Kalimantan Utara.

Upaya Demak untuk mengusir Portugis diwujudkan dengan ditaklukkannya Kerajaan Pajajaran oleh
Fatahilah pada tahun 1527. Penaklukkan Pajajaran ini disebabkan Kerajaan Pajajaran mengadakan
perjanjian perdagangan dengan Portugis, sehingga Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di
Sunda Kelapa. Ketika orang-orang Portugis mendatangi Sunda Kelapa (sekarang Jakarta), terjadilah
perang antara Kerajaan Demak di bawah pimpinan Fatahilah dengan tentara Portugis. Dalam
peperangan itu, orang-orang Portugis berhasil dipukul mundur pada tanggal 22 Juni 1527.
Kemudian, pelabuhan Sunda Kelapa diganti namanya oleh Fatahilah menjadi Jayakarta yang berarti
kejayaan yang sempurna.

Perlawanan Rakyat Maluku


Setelah Portugis pada tahun 1511 berhasil menduduki Malaka, Portugis melanjutkan misi dagangnya
menuju Maluku. Di kepulauan Maluku terdapat Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore yang
menghasilkan remah-rempah. Portugis diperbolehkan mendirikan benteng sebagai kantor dagang.
Akan tetapi terjadi penyimpangan, Portugis menjadikan benteng itu sebagai basis pertahanan untuk
menguasai dan menjajah daerah Ternate. Portugis memaksa Sultan Ternate, yaitu Sultan Hairun
untuk menerima kekuasaan Portugis, dan hanya menjual cengkih dan pala kepada Portugis. Selain
itu, Portugis melarang Sultan Ternate menjul rempah-rempahnya kepada pedagang lain. Tentu saja
sikap seperti ini sangat ditentang oleh Sultan Hairun. Ketika Sultan Hairun akan membicarakan
masalah perdagangan dengan Portugis ini, beliau dibunuh secara licik.

Terbunuhnya, Sultan Hairun jelas memancing kemarahan rakyat Ternate. Sultan Baabullah yang
menggantikan Sultan Hairun bersumpah akan mengusir Portugis dari Ternate. Untuk itu, Sultan
Baabullah mengerahkan tentara dan segenap kekuatannya mengepung benteng Portugis, hingga
akhirnya Portugis menyerah dan dipaksa meninggalkan Ternate tahun 1575. Setelah terusir dari
Ternate, kemudian Portugis ke Ambon hingga dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1605.

E. PERLAWANAN SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO (1613 – 1645)


Raja Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung
Hanyokrokusumo. Sultan Agung berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa seperti
Gresik (1613), Tuban (1616), Madura (1624), dan Surabaya (1625). Setelah berhasil mempersatukan
kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Sultan Agung mengalihkan perhatiannya pada VOC (Kompeni) di
Batavia. VOC di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen berusaha mendirikan benteng untuk
memperkuat monopolinya di Jawa. Niat VOC (kompeni) tersebut membuat marah Sultan Agung
sehingga mengakibatkan Mataram sering bersitegang dengan VOC (kompeni).
Ada beberapa alasan mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia, yakni:
 tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
 VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke
Malaka,
 VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
 keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan Pulau Jawa.
Sultan Agung menyadari bahwa kompeni Belanda tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu pada
tanggal 22 Agustus 1628 Sultan Agung memerintahkan penyerangan pasukan Mataram ke
Batavia. Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Baurekso dan Dipati Ukur. Kemudian
tahun1629, Mataram kembali menyerang VOC di Batavia di bawah pimpinan Suro Agul-Agul,
Kyai Adipati Mandurareja, dan Dipati Upasanta. Kedua usaha yang dilakukan oleh Sultan
Agung tersebut mengalami kegagalan. Faktor yang menyebabkan kegagalan Sultan Agung
dalam susah menguasai Batavia antara lain:
 Munculnya penghianatan dari dalam pasukan Mataram
 Kekurangan bahan makanan akibat dibakar VOC
 Jarak Mataram dengan Batavia yang terlalu jauh
 Berjangkitnya penyakit Pes
 VOC menggunakan taktik perang Parit yang sukar ditembus oleh pasukan Mataram
 Persenjataan yang kalah modern
Meskipun tidak berhasil mengusir VOC dari Batavia, Sultan Agung sudah menunjukkan semangat
anti penjajahan asing khususnya kompeni Belanda.

F. PERLAWANAN TRUNOJOYO (1674-1680)


Trunojoyo, seorang keturunan bangsawan dari Madura tidak senang terhadap Amangkurat I, karena
pemerintahannya yang sewenang-wenang dan menjalin hubungan dengan Kompeni. Perlawanan
Trunojoyo di mulai pada tahun 1674, dengan menyerang Gresik. Dengan berpusat di Demung
(dekat Panarukan), Trunojoyo melakukan penyerangan dan dalam waktu singkat telah berhasil
menguasai beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah bahkan sampai pusat Mataram di
Plered (Yogyakarta). Dalam perlawanan ini, Trunojoyo dibantu oleh Raden Kajoran, Macan
Wulung, Karaeng Bontomarannu, dan Karaeng Galesung.

Pada tanggal 2 Juli 1677, pasukan Trunojoyo telah berhasil menduduki Plered, ibukota Mataram.
Amangkurat I yang sering sakit bersama putra mahkota, Adipati Anom melarikan diri untuk minta
bantuan kepada Kompeni di Batavia. Dalam perjalanan, Amangkurat I meninggal di Tegal Arum
(selatan Tegal), sehingga dikenal dengan sebutan Sultan Tegal Arum. Adipati Anom kemudian
menaiki takhta dengan gelar Amangkurat II. Untuk menghadapi Trunojoyo, Amangkurat II minta
bantuan Kompeni, akan tetapi tidak ke Batavia namun ke Jepara. Pimpinan Kompeni (VOC)
Speelman menerima dengan baik Amangkurat II dan bersedia membantu dengan suatu perjanjian
(1678) yang isinya:
 VOC mengakui Amangkurat II sebagai raja Mataram.
 VOC mendapatkan monopoli dagang di Mataram.
 Seluruh biaya perang harus diganti oleh Amangkurat II
 Sebelum hutangnya lunas, pantai utara Jawa digadaikan kepada VOC.
 Mataram harus menyerahkan daerah Kerawang, Priangan, Semarang dan sekitarnya kepada
VOC.
Setelah perjanjian ini ditandatangani penyerangan di mulai. Pada waktu itu Trunojoyo telah berhasil
mendirikan istana di Kediri dengan gelar Prabu Maduretno. Tentara VOC di bawah pimpinan
Anthonie Hurdt, yang dibantu oleh tentara Aru Palaka dari Makasar, Kapten Jonker dari Ambon
beserta tentara Mataram menyerang Kediri. Dengan mati-matian tentara Trunojoyo menghadapi
pasukan gabungan Mataram-VOC, tetapi akhirnya terpukul mundur. Pasukan Trunojoyo terus
terdesak, masuk pegunungan dan menjalankan perang gerilya. Demi keselamatan sebagian
pengikutnya, pada tanggal 25 Desember 1679 menyerah dan akhirnya gugur ditikam keris oleh
Amangkurat II pada tanggal 2 Januari 1680. Dengan gugurnya Trunojoyo, terbukalah jalan bagi
VOC untuk meluaskan wilayah dan kekuasaannya di Mataram.
G. PERLAWANAN UNTUNG SUROPATI (1686-1706)
Untung, menurut cerita adalah seorang putra bangsawan dari Bali, yang dibawa pegawai VOC ke
Batavia. Semula Untung dijadikan tentara VOC di Batavia. Dalam peristiwa Cikalong (1684),
merasa harga dirinya direndahkan, maka Untung berbalik melawan VOC. Dengan peristiwa
Cikalong tersebut, Untung tidak kembali ke Batavia, namun melanjutkan perlawanan menuju
Cirebon. Di Cirebon terjadi perkelahian dengan Suropati dan Untung menang sehingga namanya
digabungkan menjadi Untung Suropati.

Dari Cirebon Untung terus melanjutkan perjalanan menuju Kartasura, dan disambut baik oleh
Amangkurat II yang telah merasakan beratnya perjanjian yang dibuat dengan VOC. Pada tahun
1686, datanglah utusan VOC di Kartasura di bawah pimpinan Kapten Tack dengan maksud
merundingkan soal hutang Amangkurat II dan menangkap Untung. Amangkurat II menghindari
pertemuan ini dan terjadilah pertempuran.

Kapten Tack bersama anak buahnya berhasil dihancurkan oleh Untung, dan Untung kemudian
melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur hingga sampai di Pasuruan. Di Pasuruan inilah Untung
Suropati berhasil mendirikan istana dan mengangkat dirinya menjadi adipati dengan gelar Adipati
Ario Wironegoro, dengan wilayah seluruh Jawa Timur, antara lain Blambangan, Pasuruhan,
Probolinggo, Malang, Kediri dan Bangil. Di Bangil, dibangun perbentengan guna menghadapi VOC.

Pada tahun 1703, Amangkurat II wafat, putra mahkota Sunan Mas naik takhta. Raja baru ini benci
terhadap Belanda dan condong terhadap perlawanan Untung. Pangeran Puger (adik Amangkurat II)
yang ingin menjadi raja, pergi ke Semarang dan minta bantuan kepada VOC agar diakui sebagai raja
Mataram. Pada tahun 1704, Pangeran Puger dinobatkan menjadi raja dengan gelar Paku Buwono I.
Pada tahun 1705 Paku Buwono I dan VOC menyerang Mataram. Sunan Mas melarikan diri dan
bergabung dengan pasukan Untung di Jawa Timur.

Oleh pihak Kompeni di Batavia, dipersiapkan pasukan secara besar-besaran untuk menyerang
Pasuruan. Di bawah pimpinan Herman de Wilde, pasukan Kompeni berhasil mendesak perlawanan
Untung. Dalam perlawanan di Bangil, Untung Suropati terluka dan akhirnya pada tanggal 2 Oktober
1706 gugur. Jejak perjuangannya diteruskan oleh putra-putra Untung, namun akhirnya berhasil
dipatahkan oleh Kompeni. Bahkan Sunan Mas sendiri akhirnya menyerah, kemudian dibawa ke
Batavia, dan diasingkan ke Sailan (1708).

H. PERLAWANAN RAKYAT MALUKU MELAWAN VOC


Pada tahun 1605 Belanda mulai memasuki wilayah Maluku dan berhasil merebut benteng Portugis
di Ambon. Praktik monopoli dengan sistem pelayaran Hongi menimbulkan kesengsaran rakyat. Pada
tahun 1635 muncul perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC di bawah pimpinan Kakiali, Kapten
Hitu. Perlawanan segera meluas ke berbagai daerah. Oleh karena kedudukan VOC terancam, maka
Gubernur Jederal Van Diemen dari Batavia dua kali datang ke Maluku (1637 dan 1638) untuk
menegakkan kekuasaan Kompeni.

Beberapa tindakan sewenang-wenang Belanda di Maluku antara lain:


 Melaksanakan sistem penyerahan wajib sebagian hasil bumi (rempah- rempah) kepada VOC
(contingenten).
 Adanya perintah penebangan/pemusnahan tanaman rempah-rempah jika harga rempah-
rempah di pasaran turun (hak ekstirpasi) dan penanaman kembali secara serentak apabila
harga rempah-rempah di pasaran naik/ meningkat.
 Mengadakan pelayaran Hongi (patroli laut), yang diciptakan oleh Frederick de Houtman
(Gubernur pertama Ambon) yakni sistem perondaan yang dilakukan oleh VOC dengan
tujuan untuk mencegah timbulnya perdagangan gelap dan mengawasi pelaksanaan monopoli
perdagangan di seluruh Maluku
Untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku, Kompeni menjanjikan akan memberikan hadiah
besar kepada siapa saja yang dapat membunuh Kakiali. Akhirnya seorang pengkhianat berhasil
membunuh Kakiali. Dengan gugurnya Kakiali, untuk sementara Belanda berhasil mematahkan
perlawanan rakyat Maluku, sebab setelah itu muncul lagi perlawanan sengit dari orang-orang Hitu di
bawah pimpinan Telukabesi. Perlawanan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1646. Pada tahun
1650 muncul perlawanan di Ambon yang dipimpin oleh Saidi. Perlawanan meluas ke daerah lain,
seperti Seram, Maluku, dan Saparua. Pihak Belanda agak terdesak, kemudian minta bantuan ke
Batavia. Pada bulan Juli 1655 bala bantuan datang di bawah pimpinan Vlaming van Oasthoom dan
terjadilah pertempuran sengit di Howamohel. Pasukan rakyat terdesak, Saidi tertangkap dan
dihukum mati, maka patahlah perlawanan rakyat Maluku.

Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan menentang VOC. Pada akhir abad ke-18, muncul
lagi perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Jamaluddin, namun segera dapat
ditangkap dan diasingkan ke Sailan (Sri Langka). Menjelang akhir abad ke-18 (1797) muncullah
perlawanan besar rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Nuku dari Tidore. Sultan Nuku
berhasil merebut kembali Tidore dari tangan VOC. Akan tetapi setelah Sultan Nuku meninggal
(1805), VOC dapat menguasai kembali wilayah Tidore.

Perlawanan Pattimura terjadi di Saparua, yaitu sebuah kota kecil di dekat pulau Ambon. Sebab-
sebab terjadinya perlawanan terhadap Belanda adalah :
 Adanya Perjanjian London (1816) yang menyatakan Belanda berkuasa di Maluku.
 Rakyat Maluku menolak kehadiran Belanda karena pengalaman mereka yang menderita
dibawah VOC
 Pemerintah Belanda menindas rakyat Maluku dengan diberlakukannya kembali penyerahan
wajib dan kerja wajib
 Dikuasainya benteng Duursteide oleh pasukan Belanda
Akibat penderitaan yang panjang rakyat menentang Belanda dibawah pimpinan Thomas Matulesi
atau Pattimura. Pattimura didukung oleh teman-temannya seperti Anthonie Rhebok, Philip
Latumahina, dan Christina Marta Tiahahu. Tanggal 15 Mei 1817 rakyat Maluku mulai bergerak
dengan membakar perahu-perahu milik Belanda di pelabuhan Porto. Selanjutnya rakyat menyerang
penjara Duurstede. Residen Van den Berg tewas tertembak dan benteng berhasil dikuasai oleh rakyat
Maluku.

Pada bulan Oktober 1817 pasukan Belanda dikerahkan secara besar-besaran, Belanda berhasil
menangkap Pattimura dan kawan-kawan dan pada tanggal 16 Nopember 1817. Pattimura dijatuhi
hukuman mati ditiang gantungan, dan berakhir lah perlawanan rakyat Maluku.

I. PERLAWANAN SULTAN AGENG TIRTAYASA (1651 – 1683)


Pihak VOC ingin mendapatkan monopoli lada di Banten. Pada tahun 1656 pecah perang. Banten
menyerang daerah-daerah Batavia dan kapal-kapal VOC, sedangkan VOC memblokade pelabuhan.
Pada tahun 1659 tercapai suatu penyelesaian damai. VOC menggunakan siasat devide et impera /
memecah belah dengan memanfaatkan konflik internal dalam keluarga Kerajaan Banten.
Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putranya yang bergelar Sultan Haji (1682 – 1687) sebagai raja
di Banten. Sultan Ageng dan Sultan Haji berlainan sifatnya. Sultan Ageng bersifat sangat keras dan
anti-VOC sedang Sultan Haji lemah dan tunduk pada VOC. Maka ketika Sultan Haji menjalin
hubungan dengan VOC, Sultan Ageng menentang dan langsung menurunkan Sultan Haji dari
tahtanya. Namun, Sultan Haji menolak untuk turun dari tahta kerajaan.

Untuk mendapatkan tahtanya kembali, Sultan Haji meminta bantuan pada VOC. Pada tanggal 27
Februari 1682 pasukan Sultan Ageng menyerbu Istana Surosowan di mana Sultan Haji bersemayam.
Namun mengalami kegagalan karena persenjataan Sultan Haji yang dibantu VOC lebih lengkap.
Oleh karena kekalahan ini maka diadakan Perjanjian Banten. Isi Perjanjian Banten (1683) antara
lain:

 Banten harus mengakui kekuasaan VOC


 Sultan Haji diangkat sebagai sultan Banten
 Banten harus melepaskan pengaruhnya terhadap Cirebon
 Banten tidak boleh berdagang lagi di Maluku
 Hanya Belanda yang boleh mengekspor dan memasukkan kain ke wilayah Banten
Tahun 1683 Sultan Ageng berhasil ditangkap, dan Sultan Haji kembali menduduki tahta Banten.
Meskipun Sultan Ageng telah ditangkap, perlawanan terus berlanjut di bawah pimpinan Ratu Bagus
Boang dan Kyai Tapa.

J. PERLAWANAN SULTAN BAABULLAH (1570 – 1583)


Raja Ternate yang sangat gigih melawan Portugis adalah Sultan Hairun yang bersifat sangat anti-
Portugis. Beliau dengan tegas menentang usaha Portugis untuk melakukan monopoli perdagangan di
Ternate. Rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Hairun melakukan perlawanan. Rakyat
menyerang dan membakar benteng-benteng Portugis. Portugis kewalahan menghadapi perlawanan
tersebut.

Dengan kekuatan yang lemah, tentu saja Portugis tidak mampu menghadapi perlawanan. Oleh
karena itu, pada tahun 1570 dengan licik Portugis menawarkan tipu perdamaian. Sehari setelah
sumpah ditandatangani, de Mosquito mengundang Sultan Hairun untuk menghadiri pesta
perdamaian di benteng. Tanpa curiga Sultan Hairun hadir, dan kemudian dibunuh oleh kaki tangan
Portugis.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan besar bagi rakyat Maluku dan terutama Sultan Baabullah,
anak Sultan Hairun. Bersama rakyat, Sultan Baabullah bertekad menggempur Portugis. Pasukan
Sultan Baabullah memusatkan penyerangan untuk mengepung benteng Portugis di Ternate. Lima
tahun lamanya Portugis mampu bertahan di dalam benteng yang akhirnya menyerah pada tahun
1575 karena kehabisan bekal. Kemudian Portugis melarikan diri ke Timor Timur.

K. PERLAWANAN PANGERAN DIPONEGORO (1825–1830)


Sebab-sebab perlawanan Diponegoro, antara lain sebagai berikut:
 Adanya kekecewaan dan kebencian kerabat istana terhadap tindakan Belanda yang makin
intensif mencampuri urusan keraton melalui Patih Danurejo (kaki tangan Belanda).
 Adanya kebencian rakyat pada umumnya dan para petani khususnya akibat tekanan pajak
yang sangat memberatkan.
 Adanya kekecewaan di kalangan para bangsawan, karena hak-haknya banyak yang
dikurangi.
 Sebagai sebab khususnya ialah adanya pembuatan jalan oleh Belanda melewati makam
leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo.
Pertempuran pertama meletus pada tanggal 20 Juli 1825 di Tegalrejo. Setelah pertempuran di
Tegalrejo, Pangeran Diponegoro dan pasukannya menyingkir ke Dekso. Di daerah Plered, pasukan
Diponegoro dipimpin oleh Kertapengalasan yang memiliki kemampuan yang cukup kuat. Kabar
mengenai pecahnya perang melawan Belanda segera meluas ke berbagai daerah. Dengan
dikumandangkannya perang sabil, di Surakarta oleh Kiai Mojo, di Kedu oleh Kiai Hasan Besari, dan
di daerah-daerah lain maka pada pertempuran-pertempuran tahun 1825–1826 pasukan Belanda
banyak terpukul dan terdesak.

Melihat kenyatan ini, kemudian Belanda menggunakan usaha dan tipu daya untuk mematahkan
perlawanan, antara lain sebagai berikut;
 Siasat benteng stelsel, yang dilakukan oleh Jenderal de Kock mulai tahun 1827.
 Siasat bujukan agar perlawanan menjadi reda.
 Siasat pemberian hadiah sebesar 20.000,- ringgit kepada siapa saja yang dapat menangkap
Pangeran Diponegoro.
 Siasat tipu muslihat, yaitu ajakan berunding dengan Pangeran Diponegoro dan akhirnya
ditangkap.
Dengan berbagai tipu daya, akhirnya satu per satu pemimpin perlawanan tertangkap dan menyerah,
antara lain Pangeran Suryamataram dan Ario Prangwadono (tertangkap 19 Januari 1827), Pangeran
Serang, dan Notoprodjo (menyerah 21 Juni 1827, Pangeran Mangkubumi (menyerah 27 September
1829), dan Alibasah Sentot Prawirodirdjo (menyerah tanggal 24 Oktober 1829). Kesemuanya itu
merupakan pukulan yang berat bagi Pangeran Diponegoro.

Melihat situasi yang demikian, pihak Belanda ingin menyelesaikan perangsecara cepat. Jenderal de
Kock melakukan tipu muslihat dengan mengajak berunding Pangeran Diponegoro. De Kock berjanji
apabila perundingan gagal maka Diponegoro diperbolehkan kembali ke pertahanan. Atas dasar janji
tersebut, Diponegoro mau berunding di rumah Residen Kedu, Magelang pada tanggal 28 Maret
1830. Namun, De Kock ingkar janji sehingga Pangeran Diponegoro ditangkap ketika perundingan
mengalami kegagalan. Akhirnya Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada
tanggal 28 Maret 1830 dan dibawa ke Batavia dengan kapal “Pollaz”, terus diasingkan ke
Manado. Pada tahun 1834 dipindahkan ke Makassar dan akhirnya wafat pada tanggal 8
Januari 1855. Perang Diponegoro yang panjang membawa akibat sebagai berikut.
 Wilayah Mataram Yogyakarta dan Surakarta menjadi sempit, PB VI yang ikut melawan
Belanda akhirnya dibunuh di Ambon (1830).
 Belanda memperoleh daerah Surakarta – Yogyakarta sebagai daerah yang diperas
kekayaannya.
 Adanya sebagian cukai yang dihapus untuk mengurangi kerusuhan.
 Kas negara Belanda menjadi kosong sehingga atas prakarsa dari Van Den Bosch diterapkan
tanam paksa di Indonesia

L. PERLAWANAN BANTEN MELAWAN VOC


Belanda mendarat pertama kali di Indonesia tepatnya di Kerajaan Banten dipimpin oleh
Cornelius de Houtman. Pada waktu orang-orang Belanda datang pertama kali di Banten (1596),
Banten berada di bawah pemerintahan Maulana Muhammad. Pada saat itu Banten telah berkembang
menjadi kota bandar yang ramai. Wilayah Banten meliputi seluruh Banten, Priangan, dan Cirebon.
Maksud kedatangan Belanda yang semula berdagang, maka disambut dengan baik. Akan tetapi
setelah Kompeni malakukan monopoli dan penetrasi politik, hubungan Banten – VOC menjadi
buruk, bahkan sering terjadi pertentangan; lebih-lebih setelah VOC berhasil menduduki kota
Jayakarta pada tahun 1619.

Pertentangan Banten – VOC menjadi perlawanan besar, setelah Banten di bawah pemerintahan
Sultan Ageng Tirtoyoso ( 1651 – 1682). Dalam hal ini VOC melakukan politik “devide et impera”.
Pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota (dikenal dengan sebutan Sultan
Haji karena pernah naik haji) sebagai pembantu yang mengurusi urusan dalam negeri, sedangkan
urusan luar negeri dipercayakan kepada Pangeran Purboyo ( adik Sultan Haji). Atas hasutan VOC,
Sultan Haji mencurigai ayahnya dan menyatakan bahwa ayahnya ingin mengangkat Pangeran
Purboyo sebagai raja Banten.

Pada tahun 1680, Sultan Haji berusaha merebut kekuasaan, sehingga terjadilah perang terbuka
antara Sultan Haji yang dibantu VOC melawan Sultan Ageng Tirtayasa (ayahnya) yang dibantu
Pangeran Purboyo. Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purboyo terdesak ke luar kota, dan
akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa berhasil di tawan oleh VOC; sedangkan Pangeran Purboyo
mengundurkan diri ke daerah Priangan.

Pada tahun 1682 Sultan Haji dipaksa oleh VOC untuk menandatangani suatu perjanjian yang
isinya
 VOC mendapat hak monopoli dagang di Banten dan daerah pengaruhnya.
 Banten dilarang berdagang di Maluku.
 Banten melepaskan haknya atas Cirebon.
 Sungai Cisadane menjadi batas wilayah Banten dengan VOC.
 Hanya Belanda yang boleh mengekspor lada dan memasukan kain ke wilayah kekuasaan
Banten
Sejak adanya perjanjian ini, maka penguasa Banten sebenarnya ialah VOC.

M. PERLAWANAN DI ACEH (1873–1904)


Aceh memiliki kedudukan yang sangat strategis sebagai pusat perdagangan. Aceh banyak
menghasilkan lada dan tambang serta hasil hutan. Oleh karena itu, Belanda berambisi untuk
mendudukinya. Sebaliknya, orang-orang Aceh tetap ingin mempertahankan kedaulatannya. Sampai
dengan tahun 1871, Aceh masih mempunyai kebebasan sebagai kerajaan yang merdeka. Situasi ini
mulai berubah dengan adanya Traktrat Sumatra (yang ditandatangani Inggris dengan Belanda
pada tanggal 2 November 1871).

Isi dari Traktrat Sumatra 1871 itu adalah pemberian kebebasan bagi Belanda untuk
memperluas daerah kekuasaan di Sumatra, termasuk Aceh. Dengan demikian, Traktrat Sumatra
1871 jelas merupakan ancaman bagi Aceh. Karena itu Aceh berusaha untuk memperkuat diri, yakni
mengadakan hubungan dengan Turki, Konsul Italia, bahkan dengan Konsul Amerika Serikat di
Singapura. Tindakan Aceh ini sangat mengkhawatirkan pihak Belanda karena Belanda tidak ingin
adanya campur tangan dari luar. Belanda memberikan ultimatum, namun Aceh tidak
menghiraukannya. Selanjutnya, pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda memaklumkan perang kepada
Aceh.

Jalannya Perlawanan Kerajaan Aceh


Sebelum terjadi peperangan, Aceh telah melakukan persiapan-persiapan. Sekitar 3.000 orang
dipersiapkan di sepanjang pantai dan sekitar 4.000 orang pasukan disiapkan di lingkungan istana.
Pada tanggal 5 April 1873, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R.
Kohler melakukan penyerangan terhadap Masjid Raya Baiturrahman Aceh. Pada tanggal 14
April 1873, Masjid Raya Aceh dapat diduduki oleh pihak Belanda dengan disertai pengorbanan
besar, yakni tewasnya Mayor Jenderal Kohler.

Setelah Masjid Raya Aceh berhasil dikuasai oleh pihak Belanda, maka kekuatan pasukan Aceh
dipusatkan untuk mempertahankan istana Sultan Mahmuh Syah. Dengan dikuasainya Masjid Raya
Aceh oleh pihak Belanda, banyak mengundang para tokoh dan rakyat untuk bergabung berjuang
melawan Belanda. Tampilah tokoh-tokoh seperti Panglima Polim, Teuku Imam Lueng Bata, Cut
Banta, Teungku Cik Di Tiro, Teuku Umar dan isterinya Cut Nyak Dien. Serdadu Belanda kemudian
bergerak untuk menyerang istana kesultanan, dan terjadilah pertempuran di istana kesultanan.
Dengan kekuatan yang besar dan semangat jihad, para pejuang Aceh mampu bertahan, sehingga
Belanda gagal untuk menduduki istana.

Pada akhir tahun 1873, Belanda mengirimkan ekspedisi militernya lagi secara besar-besaran
di bawah pimpinan Letnan Jenderal J. Van Swieten dengan kekutan 8.000 orang tentara.
Pertempuran seru berkobar lagi pada awal tahun 1874 yang akhirnya Belanda berhasil menduduki
istana kesultanan. Sultan beserta para tokoh pejuang yang lain meninggalkan istana dan terus
melakukan perlawanan di luar kota. Pada tanggal 28 Januari 1874, Sultan Mahmud Syah
meninggal, kemudian digantikan oleh putranya yakni Muhammad Daud Syah. Sementara itu,
ketika utusan Aceh yang dikirim ke Turki, yaitu Habib Abdurrachman tiba kembali di Aceh tahun
1879 maka kegiatan penyerangan ke pos-pos Belanda diperhebat. Habib Adurrachman bersama
Teuku Cik Di Tiro dan Imam Lueng Bata mengatur taktik penyerangan guna mengacaukan dan
memperlemah pos-pos Belanda.

Menyadari betapa sulitnya mematahkan perlawanan rakyat Aceh, pihak Belanda berusaha
mengetahui rahasia kekuatan Aceh, terutama yang menyangkut kehidupan sosial-budayanya. Oleh
karena itu, pemerintah Belanda mengirim Dr. Snouck Hurgronye (seorang ahli tentang Islam)
untuk meneliti soal sosial budaya masyarakat Aceh. Dengan menyamar sebagai seorang ulama
dengan nama Abdul Gafar, ia berhasil masuk Aceh.

Hasil penelitiannya dibukukan dengan judul De Atjehers (Orang Aceh). Dari hasil penelitiannya
dapat diketahui bahwa sultan tidak mempunyai kekuatan tanpa persetujuan para kepala di
bawahnya dan ulama mempunyai pengaruh yang sangat besar di kalangan rakyat. Dengan demikian
langkah yang ditempuh oleh Belanda ialah melakukan politik “de vide et impera ( memecah belah
dan menguasai). Cara yang ditempuh kaum ulama yang melawan harus dihadapi dengan kekerasan
senjata; kaum bangsawan dan keluarganya diberi kesempatan untuk masuk korps pamong praja di
lingkungan pemerintahan kolonial.

Belanda mulai memikat hati para bangsawan Aceh untuk memihak kepada Belanda. Pada bulan
Agustus 1893, Teuku Umar menyatakan tunduk kepada pemerintah Belanda dan kemudian
diangkat menjadi panglima militer Belanda. Teuku Umar memimpin 250 orang pasukan dengan
persenjataan lengkap, namun kemudian bersekutu dengan Panglima Polim menghantam Belanda.
Tentara Belanda di bawah pimpinan J.B. Van Heutz berhasil memukul perlawanan Teuku Umar dan
Panglima Polim. Teuku Umar menyingkir ke Aceh Barat dan Panglima Polim menyingkir ke Aceh
Timur. Dalam pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur.

Sementara itu, Panglima Polim dan Sultan Muhammad Daud Syah, masih melakukan perlawanan di
Aceh Timur. Belanda berusaha melakukan penangkapan. Pada tanggal 6 September 1903 Panglima
Polim beserta 150 orang parjuritnya menyerah setelah Belanda melakukan penangkapan terhadap
keluarganya. Hal yang sama juga dilakukan terhadap Sultan Muhammad Daud Syah. Pada tahun
1904, Sultan Aceh dipaksa untuk menandatangani Plakat Pendek yang isinya sebagai berikut.
 Aceh mengakui kedaulatan Belanda atas daerahnya.
 Aceh tidak diperbolehkan berhubungan dengan bangsa lain selain dengan belanda.
 Aceh menaati perintah dan peraturan Belanda.
Perang Aceh secara resmi dianggap berakhir pada tahun 1912, akan tetapi serangan serangan
terhadap Belanda masing berlangsung.

II. MASA AWAL KEMERDEKAAN


A. PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA
Proklamasi merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Adanya
proklamasi membuktikan bahwa bangsa Indonesia melepaskan diri dari penjajahan. Pelaksanakan
proklamasi “diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”.
Hal ini dikarenakan “vacum of power” dikarenakan Jepang sudah menyerah kepada Sekutu akan
tetapi Sekutu belum datang ke Indonesia.
Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklok merupakan peristiwa penting menjelang proklamasi. Peristiwa
Rengasdengklok dikarenakan adanya perbedaan yang meruncing antara golongan muda
dengan golongan tua mengenai cara dan waktu proklamasi. Golongan muda menginginkan
Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun hal ini ditolak oleh
golongan tua dikarenakan Indonesia belum siap dan juga berita kekalahan Jepang atas Sekutu masih
simpang siur.

Peristiwa Proklamasi
Proklamasi Indonesia terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi ini terjadi pasca terjadinya
peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa Proklamasi diselenggarakan dengan cara yang sangat
sederhana. Terjadi pada pukul 10.00 pagi yang mana Soekarno di dampingi oleh Hatta
memproklamasikan kemerdakaan Indonesia. Pasca pembacaan kemudian dilakukan pengibaran
bendera merah putih.

Makna Penting Proklamasi


Proklamasi merupakan titik puncak perjuangan bangsa Indonesia yang dapat menghantarkan ke
pintu gerbang kebebasan. Proklamasi merupakan seruan yang bersifat legal dan resmi. Dengan
pernyataan itu, bangsa Indonesia terbebas dari segala bentuk penjajahan bangsa lain. Makna
proklamasi antara lain:
 Lahirnya negara dan bangsa Indonesia
 Sebagai puncak perjuangan pergerakan anti penjajahan
 Adanya perpindahan kekuasaan dari kolonial ke nasional
 Sebagai sumber hukum lahirnya hukum nasional
 Menjadi bukti kedaulatan bangsa Indonesia sehingga diakui oleh negara negara di dunia

Penyebaran Berita Proklamasi


Setelah proklamasi dibacakan kemudian tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Sulitnya tranportasi
dan komunikasi tidak menghalangi untuk tersebarnya berita proklamasi. Berita tentang peristiwa
proklamasi berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Daerah luar Jawa
khususnya daerah Indonesia mengalami keterlambatan tentang berita proklamasi. Akan tetapi secara
perlahan-lahan berita proklamasi bisa tersebar di seluruh pelosok Indonesia. cara yang dilakukan
adalah dengan mengutus tokoh ke berbagai daerah.

Dukungan Proklamasi
Berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia kemudian menyebar ke seluruh pelosok tanah air. Satu
daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda dalam mendengar berita proklamasi dikarenakan
sulitnya transportasi dan sarana komunikasi. Langkah selanjutnya setelah mendengar berita
proklamasi kemudian rakyat setempat melakukan tindakan spontan dan heroic dalam rangka
menyambut kemerdekaan Indonesia. Cara yang dilakukan beraneka ragam dengan cara melucuti
senjata Jepang, menduduki tempat penting, dan lain sebagainya.

B. PERISTIWA RENGASDENGKLOK
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Kekalahan
Jepang ini dilatarbelakangi bom atom di dua kota indsutri yaitu Hirosima (6 Agustus 1945) dan di
Nagasaki (9 Agustus 1945). Sekutu sebagai pemenang perang menerapkan status quo terhadap
negara yang dikuasai oleh Jepang pada masa Perang Dunia II. Salah satunya adalah Indonesia yang
harus dikembalikan kepada Belanda. Pada saat itu pula Indonesia mengalami masa yang dikenal
dengan vacuum of power (kekosongan kekuasaan) yaitu Indonesia tidak ada yang menguasai,
Jepang kalah kepada Sekutu akan tetapi Sekutu belum tiba di Indonesia.

Berita kekalahan Jepang atas Sekutu akhirnya didengar oleh tokoh Indonesia salah satunya tokoh
muda yaitu Sutan Syahrir yang mendengar berita kekalahan Jepang kepada Sekutu dari radio BBC.
Kemudian Sutan Syahrir mendesak Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia. Akan tetapi Bung Karno menolak desakan tersebut dikarenakan setelah pertemuan
dengan Jenderal Terauchi di Dalat Vietnam tanggal 12 Agustus 1945 yang menjanjikan
kemerdekaan Indonesia akan terwujud. Pembahasan di Dalat meliputi kapan waktu proklamasi
Indonesia dan wilayah Indonesia yang meliputi semua bekas Hindia Belanda.

Berdasarkan keputusan tersebut, merupakan berita gembira yang dibawa dari Dalat Vietnam Selatan.
Sehingga ketikan para pemuda menuntut Bung Karno untuk segera memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia, Bung Karno menolaknya. Ada beberapa alasan Bung Karno menolak
untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yaitu Bung Karno masih meragukan
tentang berita kekalahan Jepang dan Bung Karno menganggap Jepang masih kuat sehingga
takut terjadi bentrok antara pemuda Indonesia dengan tentara Jepang.

Para pemuda yang dipimpin oleh Chaerul Saleh kemudian mengadakan rapat di gedung
bakteriologi di Pegangsaan Timur pada tanggal 15 Agustus malam. Tokoh yang hadir antara lain
Chaerul Saleh, Djohan Nur, Kusnandar, Subadio, Margono, Wikana dan Darwis yang hasilnya
mengutus Wikana dan Darwis guna menemui Bung Karno untuk memaksa beliau segera
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hasilnya tetap gagal. Kemudian para pemuda
memutuskan untuk mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta dari pengaruh Jepang. Tempat yang
dipilih sebagai tempat pengamanan kedua tokoh tersebut adalah Rengasdengklok. Ada beberapa
alasan kenapa dipilihnya Rengasdengklok sebagai tempat pengamanan Bung Karno dan Bung Hatta.

Rengasdengklok adalah salah satu kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Letak
Rengasdengklok agak terpencil sehingga tidak akan dapat dideteksi dengan mudah
kedatangan tentara Jepang. Rengasdengklok merupakan daerah yang sudah dikuasi oleh
tentara Peta yang dipimpin oleh Chudanco Subeno. Rakyat di daerah Rengasdengklok anti
terhadap Belanda. Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta dipimpin oleh Chudanco Singgih. Di
Rengasdengklok, kedua tokoh tersebut dipaksa oleh kaum muda untuk segera memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia. Latar belakang peristiwa ini yang kemudian hari nanti terkenal dengan
peristiwa Rengasdengklok adalah waktu dan cara melakukan proklamasi.

Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan
perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia
di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok.
Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Ahmad Soebardjo berhasil
meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di
Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang
kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam,
maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung
museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

C. PERUMUSAN TEKS PROKLAMASI


Setelah Ahmad Subardjo menjamin bahwa kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan esok hari,
maka kemudian Bung Karno dan Bung Hatta dipulangkan dari Rengasdengklok menuju Jakarta.
Setibanya di Jakarta, Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subardjo kemudian menemui Jenderal
Nishimura untuk meminta izin agar PPKI melakukan sidang. Nishimura menolak hal tersebut
dikarenakan harus menetapkan status quo di Indonesia. Para pemimpin kemudian menemuai
Laksamana Maeda. Laksamana Maeda merupakan salah satu tokoh Jepang yang bersimpati pada
perjuangan bangsa Indonesia, Maeda mengizinkan rumhanya untuk dijadikan sebagai tempat
perumusan proklamasi.

Tempat perumusan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda jalan Imam Bonjol No. 1.Para
pemuda berkumpul di ruang tamu dan di pekarangan rumah Laksamana Maeda. Sedangkan tiga
tokoh yaitu Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subardjo menuju ruang makan untuk membuat
naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu Laksamana Maeda menuju ketempat
tidurnya. Pada kalimat pertama merupakan usul dari Ahmad Subarjo sedangkan kalimat kedua
merupakan usul dari Moh Hatta. Berikut ini merupakan naskah tulisan tangan Bung Karno
(naskah klad):

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal² jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
Dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-’05
Wakil2 bangsa Indonesia.

Setelah selesai disusun (jam 03.00) kemudian konsep naskah dibacakan di ruang tamu. Bung Hatta
mengusulkan bahwa semua yang hadir membubuhkan tandatangan di naskah proklamasi. Bung
Hatta terinspirasi dengan naskah declaration of independent di Amerika. Usul tersebut ditolak oleh
Sukarni. Sukarni menyatakan bahwa yang tandatangan cukup Bung Karno dan Bung Hatta
atas nama bangsa Indonesia. Alasan dari Sukarni bahwa yang hadir pada saat itu terdapat
orang-orang yang pro dengan Jepang, kalau mereka ikut tandatangan maka kemerdekaan
Indonesia hanya sebatas hadiah dari Jepang. Teks proklamasi kemudian diketik oleh Sayuti
Melik. Isi teks proklamasi kemerdekaan hasil ketikan Sayuti Melik (teks otentik) sebagai berikut:
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
Dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Perbedaan antara naskah klad (tulisan tangan Bung Karno) dan teks otentik (ketikan Sayuti Melik)
antara lain kata Proklamasi dirubah menjadi PROKLAMASI, hal2 diganti menjadi hal-hal,
tempoh diganti tempo, wakil-wakil bangsa Indonesia menjadi Atas nama bangsa Indonesia,
Djakarta 17-8-05 diganti menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Naskah klad setelah
selesai disalin oleh Sayuti Melik dibuang di tempat sampah, untung saja diambil oleh B.M
Diah sehingga sampai sekarang naskah tersebut masih ada.

Pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia rencananya akan dibacakan di lapangan IKADA


akan tetapi dikarenakan disana terdapat banyak tentara Jepang kemudian dipindahkan ke Jalan
Pegangsaan Timur no 56 yaitu di rumah Bung Karno. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan
pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera
Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh
Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan
pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief
Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang
pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah
Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin
menyanyikan lagu Indonesia Raya.

D. TOKOH-TOKOH SEKITAR PERISTIWA PROKLAMASI


Beberapa tokoh penting yang ikut dalam perumusan hingga pelaksanaan proklamasi antara lain:
 Soekarno. Bung Karno berperang sebagai perumus proklamasi dan pembaca proklamasi. Selain
itu dikediaman Bung Karno, yakni di Jalan Pegangsaan Timur no 56 adalah tempat
diselenggarakannya pembacaan proklamasi.
 Moh Hatta. Bung Hatta memiliki peran yang hampir sama dengan Bung Karno yakni sebagai
perumus proklamasi dan mendampingi Bung Karno saat pembacaan teks proklamasi. Bung Hatta
menyumbangkan kalimat proklamasi “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll
diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”.
 Ahmad Soebardjo. Bersama Bung Karno dan Bung Hatta, Ahmad Soebardjo merupakan salah
tokoh yang merumuskan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Paragraf pertama yang
berbunyi “kami bangsa Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaan Indonesia” merupakan
sumbangan dari Ahmad Soebardjo. Selain itu Ahmad Soebardjo lah tokoh yang menengahi
konflik antara golongan muda dan golongan tua saat terjadi peristiwa Rengasdengklok.
 Soekarni. Soekarni adalah tokoh dari golongan muda yang menginginkan kemerdekaan
secepatnya. Soekarni pula tokoh yang membawa Seokarno dan Hatta menuju Rengasdengklok.
Soekarni juga yang mengusulkan penandatangan proklamasi cukup Soekarno Hatta atas nama
bangsa Indonesia.
 Chaerul Saleh. Chaerul Saleh merupakan tokoh pemuda yang memimpin rapat para pemuda di
gedung Bakteriologi. Hasil dari rapat pemuda itu adalah mengutus Wikana dan Darwis untuk
memberitahukan kepada Bung Karno agar proklamasi segera dilakukan. Akan tetapi misi dari
Wikana dan Darwis gagal membujuk Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia.
 Sutan Syahrir. Sutan Syarir merupakan salah satu tokoh yang pertama kali mendengar berita
kekalahan Jepang dari Sekutu. Sutan Syahrir mendengar berita kekalahan Jepang dari radio BBC
Australia. Sutan Syahrir kemudian memberitahukan hal tersebut kepada Hatta, akan tetapi Hatta
tidak begitu percaya dengan berita tersebut.
 Sayuti Melik. Sayuti Melik merupakan tokoh dari golongan muda yang berjasa dalam
pengetikan teks proklamasi. Naskah proklamasi ketikan tangan Bung Karno kemudian diketik
oleh Sayuti Melik. Sayuti Melik atas kesepatakan bersama, kemudian merubah beberapa redaksi
teks proklamasi. Sepeti kata “tempoh” diganti dengan “tempo”
 Fatmawati merupakan istri dari Bung Karno. Saat proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus
1945, ibu Fatmawati lah yang menjahit bendera merah putih. Bendera hasil jahitan dari
Fatmawati nanti terkenal sebagai bendera pusaka.
 Syudanco Singgih. Singgih merupakan pimpinan dari tentara PETA yang membawa Bung Karno
dan bung Hatta menuju Rengasdengklok.
Tokoh lain yang berada pada sekitar peristiwa proklamasi yang lain semisal Latief
Hendradiningrat dan Suhud yang mengibarkan bendera merah putih, Sudiro yang mempersiapkan
tiang bendera, Willopo yang menyiapkan mikrofon. Walikota Jakarta, Soewiryo memberikan
sambut disusul dengan pemimpin pemuda, yakni Dr Moewardi. Selain itu juga ada B.M Diah yang
menyimpan teks asli proklamasi dan kemudian menyebarkan berita proklamasi.

E. SUSUNAN ACARA PROKLAMASI KEMERDEKAAN


Proklamasi tanggal 17 Agustus merupakan peristiwa besar dalam sejarah Indonesia. Indonesia
muncul menjadi salah satu negara yang merdeka. Proklamasi dibacakan pada hari jumat tanggal 9
Ramadhan, berdasarkan penanggalan Islam. Proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan
cara yang sangat sederhana. Perubahan kekuasaan yang begitu cepat membuat persiapan
kemerdekaan dilakukan dengan cara seksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya, seperti
yang tertulis dalam teks proklamasi. Gambaran singkatnya proklamasi kemerdekaan dapat dilihat
dalam prosesi proklamasi.

Proklamasi dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945. Susunan Acaranya seperti berikut:
 Pidato Soekarno sekaligus pembcaan teks proklamasi
 Pengibaran bendera merah putih
 Sambutan-sambutan

Sejak pagi hari, sudah banyak orang berdatangan di rumah Sukarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56.
Tokoh-tokoh yang sudah hadir, antara lain Mr. A. A. Maramis, dr. Buntaran Martoatmojo,
Mr. Latuharhary, Abikusno Cokrosuyoso, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantoro, Sam
Ratulangi, Sartono, Sayuti Melik, Pandu Kartawiguna, M. Tabrani, dr. Muwardi, Ny. SK.
Trimurti, dan AG. Pringgodigdo. Diperkirakan yang hadir pada pagi itu seluruhnya ada 1.000
orang.
Upacara dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih yang dijahit oleh. Pengibar bendera
adalah A.G Pringgodigdo dan S. Suhud. Hadirin yang datang secara bersama-sama menyanyikan
lagu Indonesia raya. Acara terakhir kemudian sambutan dari Walikota Jakarta yaitu Suwiryo
kemudian dilanjutkan oleh sambutan dr Moewardi sebagai pimpinan pemuda. Sekitar jam 11.00,
upacara Proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah selesai.

F. PENYEBARAN BERITA PROKLAMASI


Beberapa cara dalam menyebarkan berita Proklamasi antara lain:
 Melalui Radio. Pada hari itu juga, teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio
dari Kantor Domei (sekarang Kantor Berita ANTARA), Waidan B. Palenewen. Ia menerima
teks proklamasi dari seorang wartawan Domei yang bernama Syahruddin. Kemudian ia
memerintahkan F. Wuz (seorang markonis), supaya berita proklamasi disiarkan tiga kali berturut-
turut. Baru dua kali F. Wuz melaksanakan tugasnya, masuklah orang Jepang ke ruangan radio
sambil marah-marah, sebab mengetahui berita proklamasi telah tersiar ke luar melalui udara.
 Melalui media pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam penerbitannya
tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia. Harian Suara Asia di Surabaya dan Tcahaya di Bandung
merupakan koran pertama yang memuat berita proklamasi. Beberapa tokoh pemuda yang
berjuang melalui media pers antara lain B.M. Diah, Sayuti Melik, dan Sumanang.
 Pemasangan plakat, poster, maupun coretan pada dinding tembok dan gerbong kereta api,
 Berita proklamasi juga disebarkan secara langsung oleh para utusan daerah yang menghadiri
sidang PPKI. Berikut ini para utusan PPKI yang ikut menyebarkan berita proklamasi : Teuku
Mohammad Hassan dari Sumatera, Sam Ratulangi dari Sulawesi, Ktut Pudja dari Sunda
Kecil (Bali). dan A. Hamidan dari Kalimantan.

G. DUKUNGAN TERHADAP PROKLAMASI


Berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia kemudian menyebar ke seluruh pelosok tanah air. Satu
daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda dalam mendengar berita proklamasi dikarenakan
sulitnya transportasi dan sarana komunikasi. Langkah selanjutnya setelah mendengar berita
proklamasi kemudian rakyat setempat melakukan tindakan spontan dan heroic dalam rangka
menyambut kemerdekaan Indonesia. Cara yang dilakukan beraneka ragam dengan cara melucuti
senjata Jepang, menduduki tempat penting, dan lain sebagainya.

Tindakan terhadap Jepang khususnya untuk merebut dan melucuti senjata-senjata Jepang. Tujuan
melucuti senjata Jepang : (1) Memperoleh senjata untuk modal perang. (2) Mencegah senjata Jepang
supaya tak jatuh ke tangan sekutu. (3) Mencegah supaya senjata Jepang tak dipakai untuk
membunuh rakyat.

Berbagai tindakan spontan dalam rangka menyambut kemerdekaan antara lain:


Peristiwa Hotel Yamato di Surabaya
Orang-orang Belanda yang menginap di Hotel Yamato/Orange mengibarkan bendera Belanda yang
berwarna merah, putih dan biru. Hal tersebut memancing kemarahan pemuda Surabaya yang sedang
bergelora semangat nasionalismenya dikarenakan baru marayakan kemerdekaan. Para pemuda
Surabaya kemudian menyerbu Hotel Yamato. Beberapa pemuda berhasil memanjat atap hotel dan
menurunkan bendera Merah Putih Biru, kemudian merobek bagian warna birunnya. Setelah itu,
bendera tersebut dikibarkan kembali sebagai bendera Merah Putih

Dukungan dari Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII


Kemudian untuk mempertegas sikapnya, Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VII
pada tanggal 5 September 1945 mengeluarkan amanat. Amanat Sri Paku Alam VIII sama dengan
amanat Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Hanya saja kata‘Sri Sultan Hamengkubuwana IX’ diganti
dengan ‘Sri Paku Alam VIII’ dan ‘Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat’ diganti dengan ‘Negeri Paku
Alaman’. Amanat dari HB IX antara lain:
 Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat bersifat kerajaan dan merupakan daerah istimewa dari Negara
Indonesia. Sri Sultan sebagai kepala daerah dan memegang kekuasaan atas Negeri
Ngayogyakarta Hadiningrat.
 Hubungan antara Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Negara RI
bersifat langsung.
 Sultan selaku Kepala Daerah Istimewa bertanggung jawab kepada Presiden.

Pertempuran di Yogyakarta
Pada tanggal 26 September 1945, para pegawai pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang
mengadakan aksi mogok. Mereka memaksa pihak Jepang untuk menyerahkan semua kantor
terhadap pihak Indonesia. Perbuatan itu diperkuat oleh Komite Nasional Indonesia daerah
Yogyakarta yang memkabarhukan berdirinya pemerintah RI di Yogyakarta. Pada tanggal 7 Oktober
1945, rakyat dan BKR merebut tangsi Otsukai Butai.

Pertempuran Lima Hari di Semarang.


Pertempuran Lima Hari di Semarang adalah pertempuran besar yang terjadi seusai Jepang menyerah
terhadap Sekutu. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 15 – 20 Oktober 1945. Pertempuran Lima
Hari di Semarang diawali dari momen kaburnya para tawanan bekas tentara Jepang yang bakal
dijadikan buruh pabrik di daerah Cepiring. Kaburnya tentara-tentara Jepang ke wilayah Semarang
ini memunculkan ketakutan pada diri rakyat Semarang. Apalagi kemudian Jepang menguasai pusat
persediaan air yang ada di daerah Candi. Kondisi terus meresahkan rakyat saat tersiar desas-desus
bahwa Jepang telah meracuni persediaan air minum di daerah Candi.

Untuk membuktikan desas-desus itu, Dr. Karyadi memberanikan diri untuk mengecek air minum
tersebut. Ketika sedang meperbuat pemeriksaan, ia ditembak Jepang dan kemudia gugur. Momen ini
memunculkan amarah rakyat jadi berkobarlah pertempuran Lima Hari di Semarang. Dalam
pertempuran tersebut, setidak sedikit 2000 rakyat Semarang menjadi korban dan 100 orang Jepang
tewas. Pertempuran ini sukses diakhiri seusai ceo TKR berunding dengan pasukan Jepang. Usaha
perdamaian tersebut akhirnya lebih dipercepat setalah pasukan Sekutu (Inggris) mendarat di
Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Untuk selanjutnya, pasukan Sekutu menawan dan
melucuti senjata Jepang.

Pertempuran di Kalimantan
Di Kalimantan dukungan Proklamasi Kemerdekaan diperbuat dengan berdemokrasi, pengibaran
Bendera Merah-Putih dan mengadakan rapat-rapat. Pada 14 November 1945 dengan beraninya
kurang lebih 8000 orang berkumpul di komplek NICA dengan mengarak Bendera Merah-Putih.

Pertempuran di Makassar
Para pemuda mendukung Gubernur Sulawesi, Dr. Sam Ratulangi dengan merebut gedung-gedung
Vital dari tangan polisi. Di Gorontalo para pemuda sukses merebut senjata dari markas-markas
Jepang pada 13 Sepember 1945. Di Sumbawa di bulan Desember 1945, rakyat berusaha merebut
markas-markas Jepang. Pada 13 Desember 1945 dengan cara serentak para pemuda meperbuat
agresi terhadap Jepang.

Pertempuran di Aceh
Di Aceh pada 6 Oktober 1945 para pemuda dan tokoh masyarakat membentuk Angkatan Pemuda
Indonesia (API). 6 hari kemudian Jepang melarang berdirinya organisasi tersebut. pemuda menolak
dan timbulah pertempuran. Para pemuda mengambil alih kantor-kantor pemerintah Jepang, melucuti
senjatanya dan mengibarkan Bendera Merah-Putih.

Pertempuran di Palembang
Di Palembang pada 8 Oktober 1945 Dr. A. K. Gani memimpin rakyat mengadakan upacara
pengibaran Bendera Merah-Putih. Perekutan kekuasaan di Palembang diperbuat tanpa Insiden.
Pihak Jepang berusaha menghindari pertempuran.

Pertempuran di Sumbawa
Di bulan Desember 1945, para pemuda Indonesia di Sumbawa meperbuat aksi. Mereka meperbuat
perebutan terhadap pos-pos militer Jepang, yaitu terjadi di Gempe, Sape, dan Raba.

H. PERISTIWA HOTEL YAMATO


Peristiwa ini bermula dari di pasangnya bendera belanda yang dilakukan oleh sekelompok orang
yang di komando langsung oleh Mr. W.V.Ch ploegman. Peristiwa ini di lakukan sekitar pukul
21:00 pada tanggal 18 oktober 1945. Pemasangan bendera ini tampaknya tidak di ketahui oleh para
pemuda dan tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari pemerintah R.I di surabaya. Meskipun pihak
belanda memasang bendera di malam hari, tampaknya usaha itu nihil. Keesokan harinya tanggal 19
oktober 1945 sekelompok pemuda melihat berkibarnya bendera belanda itu, tak kuat menahan
amarah. Hanya beberpa jam setelah mereka melihat berkibarnya bendera belanda itu, jalannan sesak
oleh segerombolan masa yang marah atas ulah yang di lakukan oleh pemerintah kolonial belanda
itu.

Jalan tunjangan yang merupakan jaln pusat kota itu bagaikan kerimunan semut, banyak dari
kalangan pemuda, pelajar, maupun dari golongan dewasa yang berkumpul,guna protes atas ulah
yang di lakukanya. Residen Sudirman yang merupakan wakil dari keresidenan daerah surabaya itu
langsung menemui ploegman dengan di dampingi oleh sidik dan hariono. Mereka bertujuan untuk
melakukan perundingan dengan pihak belanda untuk menurunkan bendera tri warna tersebut.
Tampaknya usaha yang dilkukan sudirman sia-sia, ploegman dengan nada keras dan mengangkat
senjata revolvernya menjawab ”tentara sekutu telah menang, dan belanda merupakan sekutu, maka
sekarang pemerintah hindia belanda berhak atas indonesia! Republik indonesia tidak kami akui”.

Merasa usaha yang di lakukan gagal dengan yang di sertai perasaan amarah yang begitu kuat, sidik
dan harianto mengambil langkah yang mengejutkan. Sidik langsung menendang revolver yang di
pengang oleh ploegman hingga terpental dan menyebabkan letusan tanpa mengenai korban.
Sementara harianto menyeret sudirman dari rauangan tersebut, namun sidik masih terus melakukan
pergulatan dengan ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Setelah letusan pistol milik poegman
tersebut menyebabkan bebrapa sidik hingga tersunggkur ke tanah. Mengetahui kondisi yang sepert
ini akhirnya para pemuda yang di luar hotel merengsek masuk ke hotel, hingga perkelahian tak
dapat di hindarkan. Sementara itu hariono dengan kusno wibowo di bantu dengan beberapa pemuda
melakukan pemanjatan guna menurunkan bendera tri warna tersebut. Setelah berhasil
menurunkanya mereka merobek bendera yang bagian biru hingga akhirnya berkibarlah bendera
merah putih. Pekik “merdeka” di lontarkan oleh mereka sebagai tanda kehormatan dan kedaulatan
dari Indonesia.

I. PERTEMPURAN LIMA HARI DI SEMARANG


Dengan menyerahnya Jepang terhadap sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 dan di susul dengan di
proklamirkan republik indonesia 17 agustus 1945, maka seharusnya tamatlah kekuasaan Jepang di
indonesia. Dan di tunjuknya Mr wongsonegoro sebagai penguasa republik di jawa tengah dan
pusat pemerintahnya di semarang, maka adalah kewajiban pemerintah di jawa tengah mengambil
alih kekuasaan yang selama ini di pegang Jepang, termasuk bidang pemerintahan, keaamanan, dan
ketertibannya. Maka terbentuklah badan keaamanan rakyat (BKR) yang kemudian menjadi tentara
keamanan rakyat (TKR).

Di beberapa tempat di Jawa tengah telah terjadi pula kegiatan perlucutan senjata Jepang tanpa
kekerasan antara lain di banyumas, tapi terjadi kekerasan di ibukota semarang. Kido butai (pusat
ketentaraan Jepang di jatingaleh) nampak tidak memberikan persetujuaanya secara menyeluruh,
meskipun di jamin oleh gubernur wonsonegoro, bahwam sejata tersebut tidak untuk melawan
Jepang. Permintaan yang berulang ulang Cuma menghasilkan senjata yang tak seberapa, dan itu pun
senjata-senjata yang agak usang. Kecurigaan BKR dan pemuda semarang semakin bertambah,
setelah sekutu mulai mendaratkan pasukannya di pulau jawa.

Pihak indonesia khawatir Jepang akan menyerahkan senjata-senjatanya kepada sekutu, dan
berpendapat kesempatan memperoleh senjata harus dimanfaatkan sebelum sekutu mendarat di
semarang. karna sudah pasti pasukan belanda yang bergabung dengan sekutu akan ikut dalam
pendaratan itu yang tujuannya menjajah indonesia lagi. Pertempuran lima hari di semarang ini
dimulai menjelang minggu malam tanggal 15 oktober 1945. Keadaan kota semarang sangatlah
mencekam apalagi di jalan jalan dan kampung kampung di mana ada pos BKR dan pemuda tampak
keaadan siap. Pasukan pemuda terdiri dari beberapa kelompok yaitu BKR, Polisi istimewa, AMRI,
AMKA (angkatan muda kereta api) dan organisasi para pemuda lainnya. Dapat pula kita tambahkan
di sini, bahwa markas Jepang di bantu oleh pasukan Jepang sebesar 675 orang,yang mereka dalam
perjalanan dari irian ke jakarta,tapi karena persoalan logistik,pasukan ini singgah ke semarang.

Pasukan ini merupakan pasukan tempur yang mempunyai pengalaman di medan perang irian.
Keaadan kontras sekali, karena para pemuda pejuang kita harus menghadapi pasukan Jepang yang
berpengalaman tempur dan lebih lengkap persenjataanya , sementara kelompok pasukan pemuda
belum pernah bertempur, dan hampir-hampir tidak bersenjata. Juga sebagian besar belum pernah
mendapat latihan,kecuali di antaranya pasukan polisi intimewa, anggota BKR, dari ex-PETA dan
Heiho yang pernah mendapat pendidikan dan latihan militer, tapi tanpa pengalaman tempur.
Pertempuran lima hari di semarang ini diawali dengan berontakan 400 tentara Jepang yang bertugas
membangun pabrik senjata di cepiring dekat semarang. Pertempuran antara pemberontak Jepang
melawan pemuda ini berkorban sejak dari cepiring (kl 30 km sebelah barat semarang) hingga
jatingaleh yang terletak di bagian atas kota. Di jatingaleh ini pasukan Jepang yang dipukul mundur
menggabungkan diri dengan pasukan kidobutai yang memang berpangkalan di tempat tersebut.

Suasana kota semarang menjadi panas. Terdengar bahwa pasukan kidobutai jatingaleh akan segera
mengadakan serangan balasan terhadap para emuda indonesia. Situasi hangat bertambah panas
dengan meluasnya desas-desus yang menggelisahkan masyarakat, bahwa cadangan air minum di
candi (Siranda) telah diracuni. Pihak Jepang yang disangka telah melakukan peracunan lebih
memperuncing keadaan dengan melecuti delapan orang polisi indonesia yang menjaga tempat
tersebut untuk menghidarkan peracunan cadangan air minum itu. Dr. Karyadi, kepala laboratorium
pusat rumah sakit rakyat (perusara) ketika mendengar berita ini langsung meluncur ke siranda untuk
mengecek kebenarannya. Tetapi beliau tidak pernah sampai tujuan, jenazahnya ditemukan di jalan
Pandanaran semarang, karena dibunuh tentara Jepang (namanya diabadikan menjadi RS di
semarang).
Keesokan harinya 15 oktober 1945 jam 03:00 pasukan kidobutai benar-benar melancarkan
serangannya ke tengah-tengah kota semarang. Markas BKR kota semarang menepati kompleks
bekas sekolah MULO di mugas (di belakang bekas pom bensin pandaran). Dibelakangnya terdapat
sebuah bukit rendah dari sinilah di waktu fajar kidobutai melancarkan serangannya mendadak
berkas BKR secara tiba-tiba mereka melancarkan serangan dari dua jurusan dengan tembakan mesin
gancar, diperkirakan pasukan Jepang yang menyerang nerjumlah 400 orang. Setelah memberikan
perlawanan setengah jam pimpinan BKR akhirnya menyadari markasnya tak mungkin dapat
mempertahankan lagi dan untuk menghindari kepungan tentara Jepang, pasukan BKR
mengundurkan diri meninggalkan maarkasnya. Pertempuran ini dimulai pada 15 oktober 1945 – 20
oktober 1945

J. PERUMUSAN DASAR NEGARA INDONESIA


Perumusan dasar negara Republik Indonesia mulai disusun pasca pembentukan BPUPKI. Pada
sidang pertama BPUPKI tanggal 29 Mei- 1 Juni 1945 membahas mengenai pembentukan
dasar negara. Pada sidang pertama ini ada tiga tokoh yang mengemukakan dasar negara yaitu Moh
Yamin, Supomo dan pada hari terakhir adalah Soekarno. Pasca sidang BPUPKI yang pertama
kemudian dilanjutkan dengan pembentukan panitia kecil yang disebut dengan Panitia Sembilan.
Hasil dari panitia Sembilan yang dikenal dengan Piagam Jakarta kemudian disahkan oleh PPKI
pada sidang pertama tanggal 18 Agustus 1945 dengan beberapa perubahan.

Muh.Yamin pada sidang tanggal 29 Mei 1945 menyampaikan dasar negara hasil pemikirannya.
Dalam pidatonya Moh Yamin mengemukakan Azas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik
Indonesia. Menurut Yamin ada lima azas, yaitu (1) Peri Kebangsaan, (2) Peri Kemanusian, (3)
Peri Ketuhanan, (4) Peri Kerakyatan, dan (5) Kesejahteraan rakyat. Supomo pada tanggal 31
Mei 1945 mengusulkan dasar negara yang terdiri dari lima pokok pikiran yaitu (1) Persatuan, (2)
Kekeluargaan, (3) Keseimbangan lahir batin, (4) Demokrasi atau Mufakat, dan (5) Keadilan
rakyat

Pada kesempatan tersebut Ir. Sukarno juga menjadi pembicara kedua. Ia mengemukakan tentang
lima dasar negara. Lima dasar itu adalah (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Internasionalisme atau
Peri Kemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, (5) Ketuhanan
Yang Maha Esa. Pidato itu kemudian dikenal dengan Pancasila .

BPUPKI membentuk panitia kecil yang terdiri dari sembilan orang. Pembentukan panitia
sembilan itu bertujuan untuk merumuskan tujuan dan maksud didirikannya Negara
Indonesia. Panitia kecil itu terdiri atas:
 Sukarno,
 Drs Moh Hatta
 Drs Muh. Yamin,
 Ahmad Subardjo,
 A.A Maramis,
 Abdul Kahar Muzakkar,
 Wahid Hasyim,
 Agus Salim,
 Abikusno Cokrosuyoso.
Hasil dari perumusan Panitia Sembilan adalah Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Isi dari
Piagam Jakarta adalah:
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. (menurut) dasar kemanusian yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia
4. (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dalam permusyawaratan/ perwakilan
5. (serta dengan mewujudkan suatu ) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada sidang PPKI yang pertama tanggal 18 Agustus 1945 disahkanlah undang-undang dasar
1945 dengan beberapa perubahan terutama pada sila pertama dalam Piagam Jakarta. Ada sebuah
berita bahwa kalau sila pertama tidak dirubah, maka Indonesia bagian timur akan melepaskan diri
dari Indonesia. Oleh karena kearifan dan kebijaksaan tokoh-tokoh pada saat itu maka sila pertama
berubah dari “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-
pemeluknya” diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

K. PANITIA PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA


Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai adalah salah
satu badan yang dibentuk oleh Jepang. Badan tersebut menindaklanjuti hasil dari sidang BPUPKI.
BPUPKI dan PPKI adalah badan buatan dari Jepang. Jepang mendirikan BPUPKI dan dilanjutkan
dengan PPKI merupakan salah satu daya tawar kepada bangsa Indonesia untuk membantu Jepang
dalam menghadapi Sekutu dalam perang Asia-Pasifik. Pada awalnya (1942), memang Jepang
mengalami kemenangan, akan tetapi lama kelamana tentara Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat
mampu mengalahkan Jepang di berbagai front pertempuran.

BPUPKI yang diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat merupakan badan awal yang bertugas
mempersiapkan hal sesuatu yang berhubungan dengan sebuah Negara merdeka, diantaranya dasar
Negara dan Undang-udang dasar. Hasil dari sidang BPUPKI 1 dan 2 menghasilakan dasar Negara
yang terkenal dengan Pancasila hasil dari Piagam Jakarta yang dibuat oleh panitia Sembilan. Setalah
berhasil membuat berbagai persiapan tersebut, maka badan tersebut diganti dengan PPKI. Hal ini
juga dipengaruhi oleh keadaan perang yang memperlihatkan tanda-tanda akan kekalahan Jepang.
Salah satunya adalah bom atom di kota Hirosima (6 Agustus 1945).

PPKI dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945, merupakan badan yang akan mempersiapkan
penyerahan kekuasaan pemerintah dari bala tentara Jepang kepada bangsa Indonesia. Janji Jepang
memang sangat menggiurkan bagi bangsa Indonesia. Pemerintah Jepang sendiri seakan serius dalam
pemberian janji tersebut, sehingga tokoh-tokoh yang berjuang secara kooperatif seperti Bung Karno
dan Hatta mau bekerjasama dengan Jepang. Pembentukan PPKI langsung ditangani oleh
Mersekal Terauci yang menjabat sebagai panglima bala tentara Jepang di Asia Tenggara yang
berkedudukan di Dalat Vietnam.

Anggota PPKI terdiri dari 21 orang yang berasal dari berbagai pulau diantaranya Jawa (21),
Sumatera (3), Sulawesi (2), Kalimantan, Sunda Kecil, Maluku dan golongan Cina masing-masing
diwakili 1 orang. Sebagai ketua PPKI adalah Bung Karno dan sebagai wakil Bung Hatta.
Anggota PPKI yaitu: Bung Karno, Bung Hatta, Radjiman, Otto Iskandardinata, Wachid
Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Suryohamijoyo, Sutarjo Kartohadikusumo, Supomo,
Abdulkadir, Poeroebojo dan Suroso berasal dari Jawa, Amir Syarifudin, Teuku Moh Hasan
dan Abdul Abas dari Sumatera, Ratulangie dan Andi Pangeran dari Sulawesi, Hamidan
(Kalimantan), Gusti Ktut Puja (Sunda Kecil), Latuharhary (Maluku) dan Yap Chuan Bing
wakil dari etnis Cina.
Di kemudian hari anggota PPKI ditambah enam orang tanpa sepengetahuan Jepang. Maksud
penambahan ini merupakan bentuk simbolis bahwa PPKI bentukan orang Indonesia bukan
bentukan dari Jepang. Enam anggota baru yaitu Ahmad Subarjo, Sayuti Melik, Ki Hajar
Dewantara, Iwa Kusumasumantri, Kasman Singodimedjo, dan Wiranatakusumah. Kemudian
PPKI menjadi alat penting dalam usaha melengkapi keperluan yang dibutuhkan dalam satu Negara
merdeka.

Pada saat pelantikan yaitu pada tanggal 9 Agustus 1945, ketiga tokoh nasional Soekarno, Hatta
dan Radjiman W, dipanggil ke Dalat Vietnam. Tujuannya adalah mendengarkan instruksi dari
pemerintah Jepang terhadap langkah selanjutnya dari PPKI. Pada pertemuan tangal 12
Agustus, Terauci mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia akan dilakukan pada tanggal 24
Agustus 1945 dengan wilayah Indonesia meliputi seluruh wilayah bekas Hindia-Belanda. Setelah
itu kemudian Soekarno dan rombongan kembali ke Indonesia. Pada tanggal 15 Agustus terjadi
peristiwa besar yang seakan-akan memupuskan kemerdekaan Indonesia, Jepang menyerah kepada
Sekutu dan menyuruh Jepang untuk tetap mempertahankan status quo. Janji kemerdekaan hilang,
janji status quo yang datang.

Kemudian terjadilah peristiwa Rengasdengklok yang mana terjadi perbedaan pendapat antara
golongan muda dan golongan tua. Pangkal dari permasalahannya adalah mengenai waktu dan
pelaksana proklamasi. Golongan muda ingin segera, golongan tua nanti dulu. Golongan muda
menolak proklamasi dilakukan oleh PPKI, sedangkan golongan tua akan mengadakan rapat PPKI
pada tanggal 16 Agustus. Guna mendesak Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemederkaan,
para pemuda bertindak nekad dengan menculik kedua tokoh tersebut ke Rengasdengklok. Dan pada
akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan diri kemerdekaan tanah ibu
pertiwi dari penjajahan.

Setelah itu, PPKI memerankan hal yang penting dalam proses penyusunan lembaga-lembaga
Negara. Selama hayatnya PPKI melakukan tiga kali sidang. Sidang pertama dipenuhi dengan
berbagai friksi dikarenakan membahas masalah yang fundamenta, yaitu dasar Negara. Atas suatu
keinginan untuk mendirikan Negara baru, maka para tokoh melakukan kompromi yaitu mengganti
beberapa pasal dalam UUD 1945. Salah satunya adalah dalam hal dasar Negara yang mana piagam
Jakarta dikoreksi pada sila pertamanya, hal ini dikarenakan agar tidak terjadi perpecahan bagi
Negara yang baru sehari lahir. Bunyi sila pertama “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan
syariat-syariat Islam bagi pemeluknya, dirubah menjadi “Ketuhanan YME. Hal ini menandakan
kemajemukan Indonesia.

L. HASIL SIDANG PPKI I,II DAN III


Dalam keberlangsungannya, PPKI melakukan sidang sebanyak 3 kali yakni:

Hasil Sidang Pertama PPKI (18 Agustus 1945)


Pada pelaksanaanya sebelum menggelar sidang PPKI pertama Ir.Soekarno menambahkan 9 anggota
PPKI baru yang sebagian terdiri dari golongan muda, yaitu Sukarni, Chairul Saleh, dan Wikana.
Namun ketiga golongan muda tersebut kurang berkenan, mereka masih menganggap bahwa PPKI
merupakan badan yang di bentuk oleh Jepang. Oleh sebab itu, Ir.Soekarno hanya mengumumkan 6
orang sebagai anggota baru PPKI yaitu Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimejo, Wiranata
Kusumah, Sayuti Melik, Mr. Iwa Kusuma Sumantri, dan Mr. Ahmad Subarjo. Hasil sidang PPKI I
yaitu:
 Pengesahan UUD 1945. Sidang PPKI pertama dilaksanakan di sebuah Gedung Cuo Sangi In di
Jalan Pejambon. Pada rapat ini Soekarno-Hatta meminta sejumlah tokoh untuk merevisi ulang
kembali piagam Jakarta, khusunya pada kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Hal tersebut memicu rasa keberatan bagi pemeluk
agama lain (selain agama Islam). Akhirnya setelah melakukan perundingan yang dilakukan
kurang lebih selama 15 menit yang dipimpin oleh Bung Hatta semua tokoh mencapai
kesepakatan untuk merubahnyamenjadi “ Ketuhanan Yang Maha Esa”.
 Penetapan Ir.Soekarno sebagai Presiden dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden. Penetapan
Soekarno-Hatta sebagai presiden dan wakil presiden diusulkan oleh Otto Iskandardinata
secara aklamasi.
 Pembentukan Komite Nasional. Pembentukan Komite Nasional ditujukan untuk membantu
tugas presiden selama Majelis Permusyawaratan Rakyat belum terbentuk.

Hasil Sidang PPKI II (19 Agustus 1945)


Setelah sebelumnya PPKI melakukan sidang pertamanya pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI
melakukan sidang keduanya pada tanggal 19 Agustus 1945. Hasil sidang PPKI II yaitu:

 Dibaginya wilayah Indonesia menjadi 8 provinsi meliputi wilayah Sumatra, Jawa Barat,
Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Berikut di
bawah ini rincian setiap wilayah provinsi dan gubernur yang ditetapkan sebagai pemimpinnya:
(a) Sumatra dengan Teuku Mohammad Hassan sebagai gubernurnya. (b) Jawa Barat dengan
Sutarjo Kartohadikusumo sebagai gubernurnya. (c) Jawa Tengah dengan R. Panji Suroso sebagai
gubernurnya. (d) Jawa Timur dengan R.A Suryo sebagai gubernurnya . (e) Sunda Kecil dengan
Mr. I Gusti Ketut Puja Suroso sebagai gubernurnya. (f) Maluku dengan Mr. J. Latuharhary
sebagai gubernurnya. (g) Sulawesi dengan Dr.G.S.S.J. Ratulangi sebagai gubernurnya. (h)
Kalimantan dengan Ir. Pangeran Mohammad Nor sebagai gubernurnya.
 Menetapkan 12 Kementrian Kabinet Dalam Lingkungan Pemerintahan. departemen yang
dibentuk yaitu: (a) Departemen dalam negeri : RRA Wiranata Kusumah (b) Departemen luar
negeri : Mr. Achmad Soebardjo (c) Departemen kehakiman : Prof. Dr. Mr Soepomo (d)
Departemen pengajaran : Ki Hajar Dewantoro (e) Departemen pekerjaan umum : Abukusno
Cokrosuyoso (f) Departemen perhubungan : Abikusno Cokrisuyoso (g) Departemen keuangan :
AA maramis (h) Departemen Kemakmuran : Ir. Surachman (i) Departemen kesehatan : dr.
Buntaran Martoatmojo (j) Departemen sosial : Mr. Iwa Kusuma Sumantri (k) Departemen
keamanan rakyat : Supriyadi (l) Departemen Penerangan : Mr. Amir syamsudin

Hasil Sidang PPKI III (22 Agustus 1945)


Pada sidang yang ketiga ini PPKI memiliki agenda utama yaitu membicarakan Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

 Pembentukan Komite Nasional. Pada tanggal 29 Agustus 1945,137 orang anggota KNIP secara
resmi dilantik di Gedung Kesenian Pasar Baru, Jakarta. KNIP terdiri dari golongan muda dan
masyarakat dari berbagai daerah serta anggota PPKI sebagai intinya. Dalam sidang pertama
KNIP berhasil menunjuk Kasman singodimejo sebagai ketua dan M. Sutarjo sebagai wakil
ketua pertama, Latuharhary sebagai wakil ketua kedua, dan Adam malik sebagai wakil
ketua ketiga.
 Pembentukan PNI. PNI diketuai oleh Ir.Soekarno. Pembentukan PNI pada awalnya ditujukan
sebagai satu-satunya partai di Indonesia dengan tujuan yang seperti disebutkan dalam risalah
sidang PPKI yaitu mewujudkan negara Republik Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur
berdasarkan kedaulatan rakyat. Namun dalam perkembangannya muncul maklumat pada tanggal
31 Agustus 1945 yang berisikan penundaan segala kegiatan yang dilakukan PNI yang akhirnya
dilimpahkan kepada KNIP. Sejak saat itu gagasan yang hanya ada satu partai di Indonesia tidak
pernah lagi dimunculkan.
 Pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat). Pembentukan BKR merupakan perubahan
dari hasil sidang PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 yang sebelumnya merencanakan
pembentukan tentara kebangsaan. Perubahan tersebut akhirnya diputuskan pada tanggal 22
Agustus 1945 untuk tidak membentuk tentara kebangsaan. Keputusan ini dilandasi oleh berbagai
pertimbangan politik. Para pemimpin pada waktu itu memilih untuk lebih menempuh cara
diplomasi untuk memperoleh pengakuan terhadap kemerdakaan yang baru saja diproklamasikan.
Tentara pendudukan Jepang yang masih bersenjata lengkap dengan mental yang sedang jatuh
karena kalah perang, menjadi salah satu pertimbangan juga, untuk menghindari bentrokan apabila
langsung dibentuk sebuah tentara kebangsaan.

M. SIDANG PPKI I
Sehari sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, yakni tanggal 18 Agustus 1945, PPKI
mengadakan rapat pleno di Pejambon Jakarta (di gedung yang sekarang menjadi Departemen
Kehakiman). Rapat yang dihadiri 27 orang anggota itu Soekarno dan Hatta. Rapat tersebut
menghasilkan 3 keputusan penting, yaitu pengesahan UUD 1945, pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden, pembentukan Komite Nasional yang bertugas membantu presiden sebelum DPR
terbentuk

Mengesahkan UUD 1945


Sebelum rapat pleno dimulai, Seokarno dan Hatta meminta kesediaan Ki Bagus Hadikusumo, K.H.
Wahid hasyim, Mr. Kasman Singodimejo dan Mr. Teuku Mohammad Hassan untuk membahas
masalah rancangan pembukaan Undang-Undang Dasar. Masalah itu terutama mengenai kalimat
“Ketuhanan dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Keberatan pemeluk
agama lain adalah bahwa kalimat tersebut dapat membahayakan persatuan republik yang baru lahir
itu.

Di bawah pimpinan Hatta, keempat tokoh tersebut menyendiri di salah satu ruangan untuk bertukar
pikiran. Hanya dalam waktu 15 menit, semua sepakat untuk menghilangkan kalimat “dengan
menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Seandainya masalah itu dibicarakan dalam
rapat pleno, tentu akan memakan waktu berlarut-larut.

Rapat membahas rancangan pembukaan dan undang-undang dasar yang telah disiapkan BPUPKI
(dengan sedikit perubahan pada pembukaan sesuai kesepakatan tim kecil tadi). Dalam waktu 2 jam,
rapat menyepakati bersama rancangan itu lalu mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi
Undang-Undang dasar Republik Indonesia. Dengan pengesahan UUD 1945 itu, Indonesia telah
memiliki landasan hidup bernegara.

Memilih Presiden dan Wakil Presiden


Pemilihan presiden dan wakil presiden berlangsung secara spontan, setelah disahkannya Undang-
Undang Dasar 1945. Ketika Soekarno meminta sidang untuk membahas pasal III dalam aturan
peralihan, Otto Iskandardinata mengusulkan agar pemilihan presiden dan wakil presiden
dilakukan secara aklamasi. Ia sendiri mengajukan Ir. Soekarno menjadi Presiden dan Mohammad
Hatta menjadi Wakil Presiden. Dan akhirnya peserta rapat langsung menyetujui kedua tokoh itu
secara bulat.
Pengangkatan Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dan Mohammad Hatta sebagai
Wakil Presiden republik Indonesia diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh
peserta rapat secara spontan. Pemilihan presiden dan wakil presiden secara aklamasi dan cepat itu
menunjukkan betapa para anggota PPKI menyadari kepentingan nasional dan persatuan bangsa.
Dengan terpilihnya Ir. Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden itu,
maka Indonesia telah memiliki lembaga pemerintahan sendiri.

Pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI)


Pembentukan Komite Nasional Indonesia ini bertujuan untuk membantu tugas presiden sebelum
terbenuknya MPR dan DPR hasil Pemilu. Pembentukan KNI lebih terperinci pada sidang PPKI III
tanggal 22 Agustus 1945.

N. SIDANG PPKI II
Pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI kembali melakukan sidang yang kedua. Maka pada sidang
PPKI II dibahas mengenai kementerian dan pembagian wilayah. Hasil sidang PPKI II diputuskan
bahwa dibentuk 12 kementerian/Departemen, serta pembagian provinsi di Indonesia menjadi 8
Provinsi.

Pembentukan 12 Kementerian
Sebelum rapat pleno, Presiden Soekarno menugaskan panitia kecil untuk membahas susunan
kementerian. panitia kecil itu terdiri atas Ahmad Subardjo (ketua), Sutarjo Kartohadikusumo,
dan Kasman Singodimejo. Hasil pembahasan panitia kecil itu kemudian dibicarakan dalam rapat
pleno, pada tanggal 19 Agustus 1945. Rapat pleno memutuskan penyusunan 12 menteri yang
memimpin departemen dan 4 menteri negara.

SUSUNAN KEMENTERIAN
Menteri Dalam Negeri R.A.A. Wiranatakusumah
Menteri Luar Negeri Mr. Ahmad Subardjo
Menteri Kehakiman Prof. Mr. Dr. Supomo
Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis
Menteri Kemakmuran Ir. Surachman Tjokroadisurjo
Menteri Kesehatan Dr. Buntaran Martoatmodjo
Menteri Pengajaran Ki Hajar Dewantara
Menteri Sosial Mr. Iwa Kusumasumantri
Menteri Keamanan Rakyat Supriyadi
Menteri Penerangan Mr. Amir Syarifuddin
Menteri Perhubungan Abikusno Cokrosujoso
Menteri Pekerjaan Umum Abikusno Cokrosujoso
Menteri Negara Wahid Hasyim
Menteri Negara Dr. M. Amir
Menteri Negara Mr. R.M. Sartono
Menteri Negara Otto Iskandardinata

Pembagian Wilayah
Sebelum rapat pleno, Presiden Soekarno juga menugaskan panitia kecil untuk membahas pembagian
wilayah negara. Panitia kecil itu terdiri atas Otto Iskandardinata (ketua), Subardjo, Sayuti
Melik, Iwa Kusumasumantri, Wiranatakusumah, Dr. Amir, A.A. Hamidhan, Dr. Ratulangi,
dan Ktut Puja. Hasil pembahasan panitia kecil itu kemudian dibicarakan dalam rapat pleno, pada
tanggal 19 Agustus 1945. Rapat pleno memutuskan untuk membagi wilayah Republik Indonesia
menjadi 8 propinsi. Masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur.

PEMBAGIAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA


Propinsi Sumatra Mr. Tengku Moh. Hasan
Propinsi Jawa Barat Sutarjo Kartohadikusumo
Propinsi Jawa Tengah R. Panji Soeroso
Propinsi Jawa Timur R.A. Soerjo
Propinsi Sunda Kecil Mr. I Gusti Ktut Pudja
Propinsi Maluku Mr. J. Latuharhary
Propinsi Sulawesi Dr. G.S.S.S.J. Ratulangi
Propinsi Kalimantan Ir. Pangeran Mohammad Noor

O. HASIL SIDANG PPKI III (22 AGUSTUS 1945)


Pada tanggal 22 Agustus 1945, PPKI melakukan sidang yang ke-3. Pada sidang yang ketiga ini
PPKI memiliki agenda utama yaitu membicarakan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
dan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan pembentukan Badan Keamanan Rakyat. Sidang
PPKI ini ditujukan untuk melengkapi kelengkapan negara yang sudah dibahasa pada Sidang PPKI I
tanggal 18 Agustus 1945 dan dilanjutkan dengan Sidang PPKI II tanggal 19 Agustus 1945.

Pembentukan Komite Nasional


Komite Nasional Indonesia sempat dibahas dalam sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945,
kemudian dilanjutkan pada sidang PPKI III yang mana dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) dan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). Pada tanggal 29 Agustus 1945 137
orang anggota KNIP secara resmi dilantik di Gedung Kesenian Pasar Baru, Jakarta. KNIP terdiri
dari golongan muda dan masyarakat dari berbagai daerah serta anggota PPKI sebagai intinya. KNIP
adalah badan yang membantu penyelenggaraan pemerintah (tugas-tugas presiden). Jumlah KNIP
secara keseluruhan adalah 150 orang. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat.
Pelantikan anggota KNIP dilaksanakan di Gedung Kesenian, Pasar Baru, Jakarta pada tanggal 29
Agustus 1945. Lembaga itu diketuai oleh Mr. Kasman Singodimejo, M. Sutarjo sebagai wakil
ketua pertama, Latuharhary sebagai wakil ketua kedua, dan Adam malik sebagai wakil ketua
ketiga.

Wewenang KNIP sebagai DPR ditetapkan dalam rapat KNIP melalui maklumat wakil presiden
tanggal 16 Oktober 1945 meliputi hal-hal berikut.
 KNIP sebelum DPR/MPR terbentuk diserahi kekuasaan legislatif untuk membuat undang-
undang dan ikut menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
 Berhubung gentingnya keadaan, maka pekerjaan sehari-hari KNIP dijalankan oleh sebuah
Badan Pekerja KNIP yang diketuai oleh Sutan Syahrir. Komite Nasional Indonesia disusun
dari tingkat pusat sampai daerah. Pada tingkat pusat disebut Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) dan pada tingkat daerah yang disusun sampai tingkat kawedanan disebut Komite
Nasional Indonesia.
 KNID adalah Komite Nasional Indonesia Daerah. Tugas KNID adalah untuk membantu dan
mengawasi jalannya kinerja pemerintahan di tataran lebih rendah daripada presiden, seperti
gubernur dan bupati.

Pembentukan Partai Nasional Indonesia (PNI)


PNI diketuai oleh Ir.Soekarno. Pembentukan PNI pada awalnya ditujukan sebagai satu-satunya
partai diIndonesia dengan tujuan yang seperti disebutkan dalam risalah sidang PPKI yaitu
mewujudkan negara Republik Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan kedaulatan
rakyat. Pembentukan PNI sebagai partai tunggal ini merupakan upaya agar tidak ada gejolak
persaingan antar partai.

Namun dalam perkembangannya muncul maklumat pada tanggal 3 November 1945 yang berisikan
penundaan segala kegiatan yang dilakukan PNI yang akhirnya dilimpahkan kepada KNIP. Adanya
partai tunggal ini ditentang oleh berbagai pihak dikarenakan bertentangan dengan nilai demokratis.
Sejak saat itu gagasan yang hanya ada satu partai di Indonesia tidak pernah lagi dimunculkan.

Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR)


Pembentukan BKR merupakan perubahan dari hasil sidang PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945
yang sebelumnya merencanakan pembentukan tentara kebangsaan. Perubahan tersebut akhirnya
diputuskan pada tanggal 22 Agustus 1945 untuk tidak membentuk tentara kebangsaan. Keputusan
ini dilandasi oleh berbagai pertimbangan politik. Para pemimpin pada waktu itu memilih untuk lebih
menempuh cara diplomasi untuk memperoleh pengakuan terhadap kemerdakaan yang baru saja
diproklamasikan. Tentara pendudukan Jepang yang masih bersenjata lengkap dengan mental yang
sedang jatuh karena kalah perang, menjadi salah satu pertimbangan juga, untuk menghindari
bentrokan apabila langsung dibentuk sebuah tentara kebangsaan.

Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus 1945 mengumumkan dibentuknya BKR. Presiden
berpidato dengan mengajak para sukarelawan pemuda, bekas PETA, Heiho, dan Kaigun untuk
berkumpul pada tanggal 24 Agustus 1945 di daerahnya masing-masing. Badan Keamanan Rakyat
(atau biasa disingkat BKR) adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan tugas pemeliharaan
keamanan bersama-sama dengan rakyat dan jawatan-jawatan negara. Anggota BKR saat itu adalah
para pemuda Indonesia yang sebelumnya telah mendapat pendidikan militer sebagai tentara Heiho,
Pembela Tanah Air (PETA), KNIL dan lain sebagainya. BKR tingkat pusat yang bermarkas di
Jakarta dipimpin oleh Moefreni Moekmin. Melalui Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober
1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan setelah mengalami beberapa
kali perubahan nama akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia.

P. KOMITE VAN AKSI DAN LAHIRNYA BADAN-BADAN


Perjuangan Sukarni dan Adam Malik membentuk Komite van Aksi yang dimaksudkan sebagai
gerakan yang bertugas dalam pelucutan senjata terhadap serdadu Jepang dan merebut
kantor-kantor yang masih diduduki Jepang. Munculnya Komite van Aksi kemudian disusul
dengan lahirnya berbagai badan perjuangan lainnya di bawah Komite van Aksi seperti API
(Angkatan Pemuda Indonesia), BARA (Barisan Rakyat Indonesia) dan BBI (Barisan Buruh
Indonesia)

Di berbagai daerah kemudian juga berkembang badan-badan perjuangan. Di Surabaya muncul BBI
pada tanggal 21 Agustus 1945. Kemudian pada tanggal 25 Agustus 1945, dibentuk Angkatan Muda
oleh Sumarsono dan Ruslan Wijayasastra. Kedua tokoh ini kemudian membentuk PRI (Pemuda
Republik Indonesia) bersama Bung Tomo pada tanggal 23 September.

Demikian halnya yang terjadi di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang, di sana juga muncul
berbagai badan perjuangan. Misalnya, Angkatan Muda dan Pemuda di Semarang, Angkatan Muda di
Surakarta, Angkatan Muda Pegawai Kesultanan atau dikenal Pekik (Pemuda Kita Kesultanan) di
Yogyakarta. Di Bandung berdiri Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia yang kemudian lebih dikenal
dengan PRI (Pemuda Republik Indonesia).Selain itu, juga muncul Barisan Banteng, Pesindo
(Pemuda Sosialis Indonesia).

BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia), dan juga muncul Hizbullah-Sabilillah. Bahkan
orang-orang luar Jawa yang berada di Jawa membentuk badan perjuangan seperti KRIS (Kebaktian
Rakyat Indonesia Sulawesi) dan PIM (Pemuda Indonesia Maluku). Kemudian, muncul pula badan-
badan perjuangan yang lebih bersifat khusus, misalnya TP (Tentara Pelajar), TGP (Tentara Genie
Pelajar), dan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Selanjutnya berkembang pula kelaskaran.

Badan-badan perjuangan juga berkembang di luar Jawa, antara lain sebagai berikut.
 Di Aceh terdapat API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin oleh Syamaun Gaharu dan
BPI (Barisan Pemuda Indonesia) kemudian menjadi PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang
dipimpin oleh A. Hasyim.
 Di Sumatra Utara terdapat Pemuda Republik Andalas.
 Di Sumatra Barat terdapat Pemuda Andalas dan Pemuda Republik Indonesia Andalas Barat.
 Di Lampung terdapat API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin oleh Pangeran Emir
Mohammad Noor.
 Di Bengkulu terdapat PRI (Pemuda Republik Indonesia) dipimpin oleh Nawawi Manaf.
 Di Kalimantan Barat terdapat PPRI (Pemuda Penyongsong Republik Indonesia). Tokoh-
tokohnya, antara lain Musani Rani dan Jayadi Saman.
 Di Kalimantan Selatan terdapat PRI (Persatuan Rakyat Indonesia) yang dipimpin oleh Rusbandi.
 Di Bali terdapat AMI (Angkatan Muda Indonesia) dan PRI (Pernuda Republik Indonesia).
 Di Sulawesi Selatan terdapat PPNI (Pusat Pemuda Nasional Indonesia) yang dipimpin oleh
Manai Sophian, AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), Pemuda Merah Putih, dan
Penunjang Republik Indonesia.
Dengan munculnya badan-badan perjuangan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa di seluruh tanah
air telah siap menggelorakan revolusi untuk membersihkan kekuatan Jepang dari Indonesia.

Q. PEMBENTUKAN TENTARA NASIONAL


Pada sidang PPKI III, tanggal 22 Agustus 1945 dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR). Badan
itu ditetapkan sebagai bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang dengan tugas
memelihara keselamatan masyarakat. Tampak bahwa PPKI tidak memutuskan pembentukan tentara
kebangsaan. Tindakan itu dilakukan untuk menghindari permusuhan dengan kekuatan militer asing,
baik Jepang yang masih ada di Indonesia maupun Sekutu yang akan datang nanti. Meskipun
demikian, BKR diperkuat oleh unsur-unsur militer dari PETA, Heiho, Seinendan, dan Keibodan.

Pada tanggal 23 Agustus 1945, Presiden Soekarno mengumumkan secara resmi berdirinya
BKR. Berdirinya BKR itu ditindak lanjuti dengan pembentukan BKR pusat dan BKR daerah.
Pemimpin BKR Pusat adalah Kaprawi (ketua umum), Sutalaksana (ketua I), dan Latief
Hendraningrat (ketua II). Para pemimpin BKR daerah antara lain Aruji Kartawinata (Jawa
Barat), Soedirman (Jawa Tengah), dan drg. Mustopo (Jawa Timur).

Pembentukan BKR ini membuat sebagian pemuda merasa tidak puas. Mereka menuntut
dibentuknya tentara nasional. Setelah mengalami tindakan provokasi pasukan Sekutu dan Belanda
yang mengancam keamanan negara, aksinya pemerintah menyadari perlu dibentuknya tentara
kebangsaan. Untuk itu, pemerintah menugaskan KNIL Mayor Oerip Soemohardjo untuk
menyusun tentara kebangsaan. Pada tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan
maklumat yang meresmikan berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Berdasarkan maklumat pemerintah itu Oerip Soemohardjo mendirikan Markas Tertinggi TKR di
Yogyakarta, Ia menjabat sebagai Kepala Staf Umum TKR. Sebagai Panglima TKR, pemerintah
menunjuk Supriyadi, tokoh pemberontakan PETA di Blitar. Karena Supriyadi ternyata tidak
pernah menduduki jabatannya, Markas Tertinggi TKR mengadakan pemilihan pemimpin
tertinggi pada bulan November 1945. Orang yang terpilih adalah Kolonel Soedirman,
Komandan Divisi V / Banyumas. Sebulan kemudian, Soedirman dilantik sebagai Panglima Besar
TKR dengan pangkat Jenderal, Sedangkan Oerip Soemohardjo tetap menjadi Kepala Staf Umum
TKR dengan pangkat Letnan Jenderal.

Perkembangan Tentara Kebangsaan


 7 Januari 1946 : TKR berganti nama menjadi Tentara keselamatan rakyat.
 24 Januari 1946 : TKR berganti nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Pergantian
nama itu dilatarbelakangi oleh upaya mendirikan tentara kebangsaan yang percaya pada kekuatan
sendiri.
 3 Juni 1947 : TRI berganti nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pergantian nama itu
dilatar belakangi oleh upaya mereorganisasi tentara kebangsaan yang benar-benar profesional.
Mulai tanggal 3 Juni 1947, secara resmi telah diakui berdirinya TNI sebagai penyempurnaan dari
TRI. Segenap anggota angkatan perang yang tergabung dalam TRI dan anggota kelaskaran
dimasukkan ke dalam TNI. Dalam organisasi ini telah dimiliki TNI Angkatan Darat (TNI AD),
TNI Angkatan Laut (TNI AL), dan TNI Angkatan Udara (TNI AU). Semua itu terkenal dengan
sebutan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Saat ini Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia kembali bernama Tentara Nasional Indonesia.

R. PEMBENTUKAN TENTARA INDONESIA


Pemerintah Indonesia yang baru merdeka dengan sengaja segera membentuk tentara nasional
dengan pertimbangan politik yaitu pembentukan tentara nasional pada saat itu akan mengundang
kecurigaaan dan akan menimbulkan pukulan gabungan tentara Sekutu dan Jepang. Menurut
perkiraan bahwa kekuatan nasional belum mampu menghadapi pukulan tersebut. Oleh karena itu,
pemerintah hanya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang berfungsi sebagai penjaga
keamanan umum pada masing-masing daerah.

Badan-badan perjuangan bernaung dibawah Komite Van Aksi, antara lain Angkatan Pemuda
Indonesia (API), Barisan Rakyat Indonesia (BARA), dan Barisan Buruh Indonesia (BBI),. Badan-
badan perjuangan kemudian dibentuk diseluruh Indonesia, seperti Barisan Banteng Kebaktian
Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Pemuda Indonesia Maluku (PIM), Hisbullah Sabilllah, Pemuda
Sosialis Indonesia (Pesindo, Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), Barisan Pemuda
Indonesia (BPI), dan Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Sidang PPKI tanggal 22 Agustus berhasil membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan
diumumkan oleh presiden pada tanggal 23 Agustus 1945. dengan pemimpin BKR pusat sebagai
berikut :
Ketua umum : Kaprawi
Ketua I : Sutalaksana
Ketua II : Latief Hendraningrat
Anggota : Arifin Abdurahman, Mahmud dan Zulkifli Lubis
Pada tanggal 16 September 1945 South East Asian Comand (SEAC) merupakan angkatan perang
Inggris mendarat di Jakrta dan melakukan tekanan kepada Jepang untuk tetap mempertahankan
status quo. Hal itu menimbulkan keberanian serdadu Jepang untuk mempertahankan diri terhadap
pemuda Indonesia yang sedang melucuti senjata. Pada tanggal 29 September 1945 datang lagi
tentara Sekutu yang tergabung dalam Alied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dengan
membawa pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Hal ini menimbulakan
perlawanan sengit dari para pemuda Indonesia terhadap sedadu NICA dan sekutu pada umumnya.

Pemerintah memanggil pensiunan Mayor KNIL Urip Sumoharjo ke Jakarta dan dberi tugas
membentuk tentara kebangasaan Indonesia. Melalui Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945
terbentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dengan Maklumat Pemerintah Tanggal 6
Oktober 1945, Supriyadi, pemimpin perlawanan Peta di Blitar (Febuari 1945), diangkat sebagai
Menteri Keamanan Rakyat. Karena Supriyadi tidak memenuhi panggilan dan tidak terdengar kabar
beritanya, pada tanggal 20 Oktober 1945, pemerintah kembali mengumumkan para pejabat
pemimpin di lingkungan Kementerian Keamanan Rakyat antara lain Menteri Keamanan Rakyat ad
interim, Muhammmad Suroadikusumo, pemimpin tertinggi Tentara Keamanan Rakyat, Supriyadi,
dan sebagai kepala staf Umum Tentara Keamanan Rakyat adalah Urip Sumoharjo.

Dalam Konferensi TKR yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 12 November 1945,
Kolonel Sudirman, Panglima Divisi V Banyumas dipilih menjadi pemimpin tertinggi TKR
sedangkan kepal staf dipilih Urip Sumoharjo. Pengangkatan Kolonel Sudirman dalam jabatan
tersebut baru terlaksana setelah selesai pertempuran di Ambarawa. Untuk menghilangkan
kesimpangsiuran, Markas Besar TKR pada tanggal 6 Desember 1945 mengeluarkan sebuah
maklumat. Isi maklumat ini menyatakan bahwa disamping tentara resmi (TKR) diperbolehkan
adanya lascar-laskar sebab hak dan kewajiban mempertahankan negara bukanlah monopoli tentara.
Pada tanggal 18 Desember 1945 pemerintah melantik Kolonel Sudirman sebagai Panglima Besar
TKR dengan pengangkatan Jenderal. Sebagai kepala Staf TKR dilantik Urip Sumoharjo dengan
pangkat letnan Jenderal.

Tugas utama panglima Besar TKR adalah meninjau kembali struktur organisasi, struktur kerja, dan
landasan perjuangan TKR supaya diadakan penyempurnaan lebih lanjut. Untuk itu, diadakan rapat
dengan para panglima divisi. Hasil rapat pimpinan pada tanggal 1 Januari 1946 menyebabkan
pemerintah mengubah nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan
Rakyat, Kementerian Keamanan Rakyat menjadi Kementerian Pertahanan. Belum sampai sebulan
dikeluarkan lagi Maklumat Pemerintah Tanggal 23 Januari 1945 untuk mengganti nama
Tentara Keselamatan Rakyat dengan nama Tentara Republik Indonesia (TRI).

Tanggal 19 Juli 1946 terbentuklah Angkatan Laut Republik Indonesia disingkat ALRI. Selanjutnya,
pada tanggal 9 April 1946 TRI bagian perhubungan udara diganti nam dan strukturnya menjadi
Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara atau dikenal dengan nama Angkatan Udara Republik
Indonesia (AURI). Pada tanggal 5 Mei 1947 presiden mengeluarkan dekrit guna membentuk Panitia
Pembentukan Organisasi Tentara Nasional Indonesia dengan beranggotakan 21 orang dari pimpinan
beberapa lascar yang paling berpengaruh kuat. Panitia itu dipimpin Presiden Sukarno sendiri. Pada
tanggal 7 Juni 1947 keluar sebuah Penetapan Presiden yang membentuk suatu organisasi tentara
yang bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai penyempurna TRI. Didalam penetapan itu,
antara lain diputuskan bahwa mulai tanggal 3 juni 1947 secara resmi Tentara Nasional Indonesia
dengan segenap anggota angkatan perang yang ada sebagai inti kekuatannya. Selain itu, anggota
lascar bersenjata, baik yang sudah maupun yang belum bergabung dalam biro perjuangan dimasukan
serentak dalam Tentara Nasional Indonesia, dengan Kepala Pucuk Pemimpin, Panglima Besar
Jenderal Soedirman.

S. KEDATANGAN SEKUTU DAN NICA DI INDONESIA


Setelah Jepang menyerah pada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, sekutu kemudian
memerintahkan Jepang untuk melaksanakan status quo, yaitu menjaga situasi dan kondisi
sebagaimana adanya pada saat itu sampai kedatangan tentara sekutu ke Indonesia. Sekutu
merupakan berbagai perkumpulan negara yang menentang politik fasisme yang dilakukan oleh Blok
Axis/Fasis/Sentral pada Perang Dunia II. Perang berakhir dengan kemenangan blok Sekutu terhadap
blok Fasis.

Pihak sekutu memutuskan bahwa pasukan – pasukan Amerika Serikat akan memusatkan perhatian
pada pulau – pulau di Jepang, sedangkan tanggung jawab terhadap Indonesia dipindahkan dari
SWPC (South West Pasific Command) dibawah komando Amerika Serikat kepada SEAC (South
East Asia Command) di bawah komando Inggris yang dipimpin Laksamana Lord Louis
Mountbatten. Sebelum kedatangan tentara sekutu ke Indonesia, pada tanggal 8 September
Laksamana L. L. Mountbatten mengutus tujuh perwira Inggris di bawah pimpinan Mayor A. G.
Greenhalgh ke Indonesia. Tugasnya adalah mempelajari serta melaporkan keadaan di Indonesia
menjelang pendaratan pasukan sekutu.

Pada tanggal 16 September 1945 rombongan perwakilan sekutu berlabuh di Tanjung Priok.
Rombongan ini dipimpin oleh Laksamana Muda W. R. Patterson. Dalam rombongan ini ikut pula
C. H. O. Van der Plas yang mewakili pimpinan NICA yaitu Dr. H. J. Van Mook. Setelah itu pada
tanggal 29 September 1945 tibalah pasukan SEAC di Tanjung Priok, Jakarta di bawah pimpinan
Letjend Sir Philip Chistison. Pasukan ini bernaung di bawah bendera AFNEI (Allied Forces
Netherlands East Indies). Pasukan AFNEI terbagi menjadi 3 divisi yaitu :

 Divisi India ke-23, di pimpin oleh Mayor Jendral D.C. Hawthorn bertugas di Jawa Barat
 Divisi India ke-5, di pimpin oleh Mayor J E.C Marsergh bertugas di Jawa Timur
 Divisi India ke-26, di pimpin oleh Mayor Jendral H.M. Chambers bertugas di Sumatra

Pasukan AFNEI di pusatkan di Barat Indonesia terutama wilayah Sumatera dan Jawa, sedangkan
daerah Indonesia lainnya, terutama wilayah Timur diserahkan kepada angkatan perang Australia.
AFNEI diserahi beberapa tugas menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Indonesia.

Kedatangan sekutu ke Indonesia semula mendapatkan sambutan hangat dari rakyat Indonesia,
seperti kedatangan Jepang dulu. Akan tetapi setelah diketahui mereka datang disertai orang-orang
NICA (Netherlands Indies Civil Administration), sikap rakyat Indonesia berubah menjadi penuh
kecurigaan dan bahkan akhirnya bermusuhan. Bangsa Indonesia mengetahui bahwa NICA berniat
menegakkan kembali kekuasaannya. Situasi berubah memburuk tatkala NICA mempersenjatai
kembali bekas anggota KNIL (Koninklijk Nederlands Indies Leger). Satuan – satuan KNIL yang
telah dibebaskan Jepang kemudian bergabung dengan tentara NICA. Diberbagai daerah, NICA dan
KNIL yang didukung Inggris/Sekutu melancarkan provokasi dan melakukan teror terhadap para
pemimpin nasional.

Untuk meredakan ketegangan tersebut, pada tanggal 1 Oktober 1945 panglima AFNEI menyatakan
pemberlakuan pemerintahan Republik Indonesia yang ada di daerah – daerah sebagai kekuasaan de
facto. Kerena pernyataan tersebut pemerintah RI menerima pasukan AFNEI dengan tangan terbuka,
bahkan pemerintah RI memerintahkan pejabat daerah untuk membantu tugas – tugas AFNEI.

Pada kenyataannya kedatangan pihak sekutu selalu menimbulkan insiden di beberapa daerah.
Tentara sekutu sering menunjukkan sikap tidak menghormati kedaulatan bangsa Indonesia. Lebih
dari itu, tampak jelas bahwa NICA ingin mengambil alih kembali kekuasaan di Indonesia. Hal ini
membuktikan bahwa AFNEI telah menyimpang dari misi awalnya. Kenyataan tersebut memicu
pertempuran di beberapa daerah seperti Surabaya, Bandung, Medan, Ambarawa, Manado, dan Bali.

T. KEDATANGAN TENTARA AFNEI


Peristiwa menyerahnya Jepang kepada Sekutu 14 Agustus 1945 menunjukkan de jure wilayah
jajahan Jepang dikuasai Sekutu sebagai pihak yang menang dalam Perang Dunia II. Komando
Pertahanan Sekutu di Asia Tenggara yaitu South East Asia Command (SEAC) berpusat di
Singapura, kemudian membentuk divisi yang diberi nama AFNEI. Tugas yang diemban adalah
mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang. Pasukan ini di bawah pimpinan Letnan Jenderal
Sir Philip Christison. Tugas AFNEI adalah:
 menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang,
 membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu (dinamakan Relief of Allied Prisoners
and War Internes /RAPWI),
 melucuti orang-orang Jepang dan kemudian dipulangkan,
 menciptakan keamanan dan perdamaian,
 menghimpun keterangan guna menyelidiki pihak-pihak yang dianggap sebagai penjahat perang.
Pasukan AFNEI melakukan pendaratan di Jakarta pada tanggal 29 September 1945 dipimpin
oleh Letjen Sir Philip Christison. Tentara AFNEI ini terdiri dari 3 divisi, yaitu
 Divisi India ke-23 yang ditempatkan di wilayah Jawa Barat dipimpin Mayor Jenderal D.C.
Hawtowrn
 Divisi India ke-5 untuk daerah Jawa Timur dipimpin Mayor Jenderal E.C. Mansergh
 Divisi India ke-26 untuk wilayah Sumatera dipimpin Mayor Jenderal HM. Chambers
Kedatangan tentara AFNEI ini ternyata menimbulkan konflik dengan tentara dan pemuda Indonesia.
Hal ini dikarenakan ternyata di dalam tentara AFNEI terdapat NICA yang memiliki tujuan menjajah
kembali Indonesia. Oleh karena setiap kota yang diduduki AFNEI, kemudian NICA yang berkuasa.

NICA (belanda) kembali datang ke Indonesia dengan membonceng tentara AFNEI (sekutu) yang
bertugas melucuti senjata tentara Jepang. Kedatangan NICA ingin kembali menggakkan kekuasaan
Belanda di Indonesia. Salah satunya adalah dengan cara memblokade laut Indonesia. Alasan
NICA adalah mencegah masuknya senjata dan peralatan militer ke Indonesia, mencegah
keluarnya hasil-hasil perkebunan Belanda, dan melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-
tindakan yang dilakukan oleh bangsa lain.

Pada kenyataannya tujuan Belanda mengadakan blokade ini adalah agar ekonomi Indonesia
mengalami kekacauan, eksport dan impor tidak bisa keluar dan masuk Indonesia, tidak ada
pendapatan bagi negara yang baru merdeka ini. Sebenarnya tujuan dari blokade laut ini
adalah untuk menghancurkan Indonesia dari sisi ekonomi.

Untuk menembus blokade ekonomi dari pemerintah Belanda, pemerintah Republik Indonesia
menempuh usaha-usaha sebagai berikut:
 Pemerintah Indonesia mengirimkan bantuan beras sebanyak 500.000 ton kepada India yang
sedang dilanda bencana kelaparan. Perjanjian bantuan Indonesia kepada India ditandatangani
oleh Perdana Menteri Sjahrir dan K.L. Punjabi, wakil pemerintah India (18 Mei 1946). Sebagai
imbalannya, pemerintah India menjanjikan mengirimkan bahan pakaian yang sangat dibutuhkan
oleh rakyat Indonesia. Upaya pemerintah di bidang politik ini ternyata berhasil dengan baik. India
menjadi Negara Asia yang paling aktif membantu Indonesia dalam perjuangan diplomatik di
forum internasional.
 Pemerintah mengadakan hubungan dagang langsung dengan pihak luar negeri. Usaha ini dirintis
oleh Banking and Trading Corperation (BTC). BTC melakukan kontak dagang dengan
perusahaan asing luar negeri yaitu, Isbrebsten Inc (Amerika Serikat). Usaha ini akhirnya gagal
dikarenakan blockade laut yang kuat dari Belanda. Selain itu pemerintah Indonesia juga
membentuk perwakilan resmi di Singapura yang diberi nama Indonesia Office (Indoff). Secara
resmi Indoff memperjuangkan kepentingan politik luar negeri Indonesia. Akan tetapi, secara
rahasia Indoff mengendalikan penembusan blokade ekonomi Belanda dan usaha perdagangan
barter.

U. PERTEMPURAN DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN


INDONESIA
Perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan dua bentuk strategi
perjuangan, yakni dengan menggunakan jalur diplomasi dan militer. Kurun waktu Indonesia
dalam rangka mempertahankan kemerdekaan adalah dari tahun 1945 sampai pengakuan kedaulatan
yang dilakukan Belanda berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar yakni 27 Desember 1949. Jadi
dalam rentan waktu 1945-1949 merupakan usaha bangsa Indonesia dalam rangka
mempertahankan kemerdekaan atau juga sering disebut sebagai revolusi nasional.

Berabagai pertempuran yang muncul dalam rangka mempertahankan kemerdekaan antara tentara
Indonesia dengan Belanda yang dibantu oleh Sekutu terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Antara
lain:
 Pertempuran Surabaya
 Pertempuran Ambarawa
 Pertempuran Medan Area
 Pertempuran Bandung Lautan Api
 Pertempuran Puputan Margarana
Pada berbagai front pertempuran ini kebanyakan bangsa Indonesia mengalami kekalahan.
Penyebabnya adalah kalah persenjataan dan kemampuan dalam militer yang kurang mumpuni.
Tentara Indonesia yang baru berlatih senjata pada zaman pendudukan Jepang, harus menghadapi
tentara Sekutu yang pada Perang Dunia II berhasil keluar sebagai pemenang. Kemampuan militer
professional dan didukung oleh senjata yang modern membuat tentara Indonesia dalam berbagai
pertempuran harus mengalami kekalahan.

Tapi dengan semangat perjuangan yang luar biasa dan dengan strategi yang jitu, bangsa Indonesia
berhasil mengalahkan tentara Sekutu pada pertempuran di Ambarawa.

Nederlands Indies Civil Administration merupakan pemerintahan sipil yang dibentuk Belanda untuk
kembali menguasai Indonesia yang dipimpin oleh Van Mook. Pada saat Belanda menyerah kepada
Jepang di Kalijati, Van Mook melarikan diri ke Australia dan mendirikan pemerintahan pelarian
(exile government) di Australia
V. PERTEMPURAN SURABAYA
Peristiwa di Surabaya itu merupakan rangkaian peristiwa yang dimulai sejak kedatangan pasukan
Sekutu dengan bendera AFNEI di Jawa Timur. Kemudian terjadi peristiwa Hotel Yamato, yang
mana terjadi penurunan paksa bendera Belanda dari atas hotel tersebut. Khusus untuk Surabaya,
Sekutu menempatkan Brigade 49, yaitu bagian daridivisi ke-23 Sekutu. Brigade 49 dipimpin
Brigjen A.W.S. Mallaby yang mendarat 25 Oktober 1945. Pada mulanya pemerintah Jawa Timur
enggan menerima kedatangan Sekutu.

Kemudian dibuat kesepakatan antara Gubernur Jawa Timur R.M.T.A.Suryo dengan Brigjen
A.W.S. Mallaby. Kesepakatan itu adalah sebagai berikut.
 Inggris berjanji tidak mengikutsertakan angkatan perang Belanda
 menjalin kerja sama kedua pihak untuk menciptakan kemanan dan ketentraman
 akan dibentuk kontrak biro
 Inggris akan melucuti senjata Jepang

Kontak senjata antar Sekutu dan rakyat Surabaya sudah terjadi sejak 27 Oktober 1945. Karena
terjadi kontak senjata yang dikhawatirkan meluas, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh.
Hatta mengadakan perundingan. Kedua belah pihak merumuskan hasil perundingan sebagai berikut.
 Surat-surat selebaran/pamflet dianggap tidak berlaku
 Serikat mengakui keberadaan TKR dan Polisi Indonesia
 Seluruh kota Surabaya tidak lagi dijaga oleh Serikat, sedangkan kamp-kamp tawanan dijaga
bersama-sama Serikat dan TKR
 Tanjung Perak dijaga bersama TKR, Serikat, dan Polisi Indonesia

Walaupun sudah terjadi perundingan, akan tetapi di berbagai tempat di kota Surabaya tetap terjadi
bentrok senjata antara Serikat dan rakyat Surabaya yang bersenjata. Pertempuran seru terjadi di
Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah. Gedung itu dikepung oleh para pemuda yang
menuntut agar pasukan A.W.S. Mallaby menyerah. Tuntutan para pemuda itu ditolak pasukan
Serikat. Karena begitu gencarnya pertempuran di sana, akibatnya terjadi kejadian fatal, yaitu
meninggalnya A.W.S. Mallany tertusuk bayonet dan bambu runcing. Peristiwa ini terjadi
tanggal 30 Oktober 1945.

Dengan meninggalnya A.W.S. Mallaby, pihak Inggris memperingatkan rakyat Surabaya dan
meminta pertanggungjawaban. Mereka mengancam agar rakyat Surabaya menyerah dan akan
dihancurkan apabila tidak mengindahkan seruan itu. Ultimatum Inggris bermakna ancaman balas
dendam atas pembunuhan A.W.S. Mallaby disertai perintah melapor ke tempat-tempat yang
ditentukan. Disamping itu, pemuda bersenjata harus menyerahkan senjatanya. Ultimatum Inggris itu
secara resmi ditolak rakyat Surabaya.

Karena penolakan itu, pertempuran tidak terhindarkan lagi, maka pecahlah pertempuran pada
tanggal 10 November 1945. Sekutu mengerahkan pasukan infantri dengan senjata-senjata berat.
Peristiwa heroik ini berlangsung hampir tiga minggu. Dalam pertempuran tersebut, melalui siaran
radio, Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya. Pertempuran yang memakan korban
banyak dari pihak bangsa Indonesia ini diperingati sebagai Hari Pahlawan setiap tanggal 10
November. Peringatan itu merupakan komitmen bangsa Indonesia yang berupa penghargaan
terhadap kepahlawanan rakyat Surabaya sekaligus mencerminkan tekad perjuangan seluruh bangsa
Indonesia
W.PERTEMPURAN PALAGAN AMBARAWA
Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 29 November dan berakhir pada 15 Desember
1945 antara pasukan TKR dan pemuda Indonesia melawan pasukan Inggris. Latar belakang dari
peristiwa ini dimulai dengan insiden yang terjadi di Magelang sesudah mendaratnya Brigade Artileri
dari Divisi India ke-23 di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Oleh pihak RI mereka
diperkenankan untuk mengurus tawanan perang yang berada di penjara Ambarawa dan Magelang.
Ternyata mereka diboncengi oleh tentara Nederland Indische Civil Administration (NICA) yang
kemudian mempersenjatai bekas tawanan itu. Pada tanggal 26 Oktober 1945 pecah insiden
Magelang yang berkembang menjadi pertempuran antara TKR dan tentara Sekutu. Insiden itu
berhenti setelah kedatangan Presiden Sukarno dan Brigadir Jenderal Bethell di Magelang pada
tanggal 2 November 1945.

Pada tanggal 20 November 1945 di Ambarawa pecah pertempuran antara pasukan TKR di bawah
pimpinan Mayor Sumarto melawan tentara Sekutu. Pada tanggal 21 November 1945 pasukan
Sekutu yang berada di Magelang ditarik ke Ambarawa di bawah lindungan pesawat tempur. Namun
tanggal 22 November 1945 pertempuran berkobar di dalam kota dan pasukan Sekutu melakukan
pengeboman terhadap kampung-kampung yang berada di sekitar Ambarawa. Pasukan TKR bersama
pemuda dari Boyolali, Salatiga, Kartosuro bertahan di kuburan Belanda, sehingga membentuk garis
medan sepanjang rel kereta api dan membelah kota Ambarawa. Sementara itu, dari arah Magelang
pasukan TKR dan Divisi V/Purwokerto di bawah pimpinan Imam Adrongi melakukan serangan
fajar pada tanggal 21 November 1945 dengan tujuan memukul mundur pasuka Sekutu yang
berkedudukan di Desa Pingit.

Pasukan Imam Adrongi berhasil menduduki Desa Pingit dan merebut desa-desa sekitarnya.
Sementara itu, Batalion Imam Adrongi meneruskan gerakan pengejarannya. Kemudian disusul 3
batalion yang berasal dari Yogyakarta, yaitu batalion 10 Divisi III di bawah pimpinan Mayor
Suharto, batalion 8 di bawah pimpinan Mayor Sarjono, dan Batalion Sugeng. Musuh akhirnya
terkepung. Walaupun demikian, pasukan musuh mencoba mematahkan pengepungan dengan
mengadakan gerakan melambung dan mengancam kedudukan pasukan Indonesia dari belakang
dengan tank-tanknya. Untuk mencegah jatuhnya korban, pasukan mundur ke Bedono. Dengan
bantuan resimen kedua yang dipimpin M. Sarbini, batalion Polisi Istimewa yang dipimpin Onie
Sastroatmojo dan batalion dari Yogyakarta, gerakan musuh berhasil ditahan di Desa Jambu.

Di Desa Jambu para komandan mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin oleh kolonel Holland
Iskandar. Rapat itu menghadirkan pembentukan komando yang disebut Markas Pimpinan
Pertempuran dan bertempat di Magelang. Sejak saat itu, Ambarawa dibagi atas 4 sektor, yaitu
sektor Utara, sektor Selatan, sektor Barat dan sektor Timur. Kekuatan pasukan bertempur
secara bergantian. Pada tanggal 26 November 1945 pimpinan pasukan TKR dari Purwokerto yaitu
Letkol Isdiman gugur. Setelah mengetahui Isdiman gugur maka pimpinan pasukan TKR
Purwokerto Kolonel Sudirman turun langsung memimpin pasukan. Kehadiran Sudirman ini
semakin menambah semangat tempur TKR dan para pejuang yang sedang bertempur di Ambarawa.

Kolonel Sudirman menyodorkan taktik perang Supit Urang. Taktik ini segera diterapkan. Musuh
mulai terjepit dan situasi pertempuran semakin menguntungkan pasukan TKR. Sejak saat itu,
pimpinan pasukan TKR Purwokerto dipimpin oleh Kolonel Sudirman. Situasi pertempuran
menguntungkan pasukan TKR. Pada tanggal 5 Desember 1945, musuh terusir dari Desa Banyubiru,
yang merupakan garis pertahanan yang terdepan. Pada tanggal 12 Desember 1945 dini hari, pasukan
TKR bergerak menuju sasaran masing-masing. Dalam waktu setengah jam pasukan TKR berhasil
mengepung musuh di dalam kota. Pertahanan musuh yang terkuat diperkirakan berada di Benteng
Willem yang terletak di tengah-tengah kota Ambarawa. Kota Ambarawa dikepung selama empat
hari empat malam.

Musuh yang merasa kedudukannya terjepit berusaha keras untuk melakukan pertempuran. Pada
tanggal 15 Desember 1945 musuh meninggalkan Kota Ambarawa dan mundur ke Semarang.
Pertempuran di Ambarawa ini mempunyai arti penting karena letaknya yang sangat strategis.
Apabila musuh menguasai Ambarawa, mereka dapat mengancam 3 kota utama di Jawa Tengah,
yaitu Surakarta, Magelang dan Yogyakarta. Dalam pertempuran itu, pasukan TKR mengalami
kemenangan yang gemilang.

Dengan kemenangan ini nama Sudirman semakin populer sebagai komandan dan pimpinan TKR
dan menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih memiliki pasukan yang kuat yaitu dari pasukan
TKR. Untuk mengenang pertempuran Ambarawa, tanggal 15 Desember dijadikan Hari Infanteri.
Di Ambarawa juga dibangun Monumen Palagan, Ambarawa.

X. PERTEMPURAN MEDAN AREA


Pasca Kemerdekaan Indonesia, pemerintah kemudian mengutus Teungku Moh Hasan untuk
menyebarkan berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia ke wilayah sumatera. Mr. Teuku
Mohammad Hassan yang diangkat menjadi Gubernur Sumatra. Ia ditugaskan oleh pemerintah untuk
menegakkan kedaulatan Republik Indonesia di Sumatra dengan membentuk Komite Nasional
Indonesia di wilayah Sumatra

Latar belakang pertempuran Medan Area antara lain:


 Bekas tawanan yang bersifat congkak dan sewenang-wenang
 Perbuatan anggota pasukan NICA menginjak-injak bendera merah putih yang dirampas dari
seorang pemuda Indonesia di Hotel, di Jalan Bali.
 Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut
pinggiran kota Medan
 Sekutu mengeluarkan ultimatum pada tanggal 18 Oktober 1945 yang berisi : melarang rakyat
membawa senjata, semua senjata harus diserahkan kepada pasukan Sekutu.

Pada Tanggal 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu mendarat di Sumatera Utara di bawah pimpinan
Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly. Serdadu Belanda dan NICA ternyata ikut membonceng pasukan
Sekutu yang telah dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan. Sehari setelah pasukan sekutu
mendarat di Sumatera, mereka membebaskan para tawanan perang di beberapa kamp tawanan untuk
membawanya ke Medan atas persetujuan Gubernur Teuku Mohammad Hassan karena tujuannya
baik.

Perlawanan rakyat medan dipimpin oleh Achmad Tahir. Achmad Tahir memelopori terbentuknya
TKR Sumatera Timur. Pada tanggal 10 Oktober 1945. Disamping TKR, di Sumatera Timur
terbentuk Badan-Badan perjuangan dan laskar-laskar partai. Pada tanggal 13 Oktober 1945 terjadi
sebuah insiden di sebuah hotel di Jalan Bali, Medan. Seorang anggota pasukan NICA menginjak-
injak bendera merah putih yang dirampas dari seorang pemuda. Pemuda-pemuda Indonesia pun
marah. Hotel tersebut dikepung dan diserang oleh para pemuda dan TRI (Tentara Republik
Indonesia). Terjadilah pertempuran. Dalam peristiwa itu banyak orang Belanda terluka. Peperangan
pun menjalar ke Pematang Siantar dan Brastagi.
Serta pada tanggal 18 Oktober 1945 Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly memberikan ultimatum kepada
pemuda Medan agar menyerahkan senjatanya. Aksi-aksi teror mulai dilakukan oleh Sekutu dan
NICA. Kemarahan rakyat semakin memuncak setelah pada tanggal 1 Desember 1945 Sekutu
memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran
kota Medan.

Pada tanggal 10 Desember 1945 pasukan Sekutu melancarkan serangan militer secara besar-besaran
dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur. setelah pertarungan yang sengit, Pada bulan April
1946 pasukan Inggris berhasil mendesak pemerintah RI ke luar Medan. Gubernur, Mrkas Divisi
TKR, dan Walikota pindah ke Pematang Siantar. Pada tanggal 10 Agustus 1946 di tebing Tinggi
diadakan pertemuan diantara para Komandan pasukan yang berjuang di Medan Area dan
memutuskan dibentuk nya satu komando yang bernama komando resimen “laskar rakyat medan
area” untuk memperkuat perlawanan di kota medan.

Setelah mengadakan konsolidasi dan disusun rencara penyerangan baru terhadap sekutu, 15
Februari 1947 pukul 06.00 WIB ditetapkanlah sebagai hari “H” penyerangan. Dikarenakan
kesalahan komunikasi serangan ini tidak dilakukan secara serentak, tapi walaupun demikian
serangan umum ini berhasil membuat Belanda kalang kabut sepanjang malam. Karena tidak
memiliki senjata berat, jalannya pertempuran tidak berubah. Menjelang Subuh, pasukan Indonesia
mundur ke Mariendal. dan serangan umum 15 Februari 1947 menjadi serangan terakhir yang
dilakukan oleh pejuang Tanah Air di Sumatra kepada pasukan Sekutu.

Y. BANDUNG LAUTAN API


Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, rakyat di Bandung kemudian mengambil berbagai
tindakan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Para pemuda dan PETA berhasil menyerbu
markas pasukan Jepang di Cisadas dan berhasil merampas senjata di gudang pabrik senjata di
lapangan terbang Andir yang sekarang menjadi bandara Husein Sastranegara. Pemuda Bandung juga
menduduki berbagai tempat penting lainnya.

Pada tanggal 17 Oktober 1945 pasukan Sekutu mendarat di Bandung. Pada waktu itu para pemuda
dan pejuang di kota Bandung sedang gencar-gencarnya merebut senjata dan kekuasaan dari tangan
Jepang. Oleh Sekutu, senjata dari hasil pelucutan tentara Jepang supaya diserahkan padanya. Bahkan
pada tanggal 21 November 1945, sekutu mengeluarkan ultimatum agar Bandung bagian utara
dikosongkan oleh pihak Indonesia paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan untuk
menjaga keamanan.

Oleh para pejuang, ultimatum tersebut tidak diindahkan sehingga sejak saat itu sering terjadi insiden
dengan pasukan-pasukan Sekutu. Sekutu mengulangi ultimatumnya pada tanggal 23 Maret 1945
yakni agar TRI meninggalkan kota Bandung. Dengan adanya ultimatum ini, pemerintahan RI di
Jakarta menginstruksikan agar TRI mengosongkan kota bandung, akan tetapi dari markas TRI
Yogyakarta menginstruksikan agar kota Bandung tidak dikosongkan.

Akhirnya, para pejuang Bandung meninggalkan kota Bandung walaupun dengan berat hati. Sebelum
meninggalkan kota Bandung terlebih dahulu para pejuang Republik Indonesia menyerang ke arah
kedudukan-kedudukan Sekutu sambil membumihanguskan kota Bandung bagian Selatan. Tujuan
dari pembumi hangusan ini adalah agar tempat-tempat penting tidak dapat dimanfaatkan oleh tentara
Sekutu. Tokoh yang terlibat dalam pembumihangusan kota Bandung adalah Moh Toha.
Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Bandung Lautan Api
Z. PERANG PUPUTAN MARGARANA
Salah satu isi perundingan Linggajati pada tanggal l0 November 1946 adalah bahwa Belanda
mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera,
Jawa, dan Madura. Selanjutnya Belanda harus sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat
tanggal 1 Januari 1949. Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya
kurang lebih 2000 tentara di Bali, ikut pula tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Pada waktu itu
Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang pergi ke
Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI. Sementara itu
perkembangan politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat
perundingan Linggajati di mana Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah Republik Indonesia.
Rakyat Bali merasa kecewa terhadap isi perundingan ini.

Lebih-lebih ketika Belanda membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai diajak membentuk
Negara Indonesia Timur. Ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I Gusti Ngurah Rai, bahkan
dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18 November 1946 I Gusti Ngurah Rai
memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan. Kemudian Belanda
mengerahkan seluruh kekuatan di Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan rakyat Bali ini.
Pertempuran hebat terjadi pada tanggal 29 November 1946 di Margarana, sebelah utara Tabanan.

Puputan adalah tradisi perang masyarakat Bali. Puputan berasal dari kata puput. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia kata puput bermakna terlepas dan tanggal. Adapun yang dimaksud dengan
kata puputan versi pribumi bali adalah perang sampai nyawa lepas atau tanggal dari badan. Dapat
dikatakan kalau puputan adalah perang sampai game over atau titik darahterakhir. Istilah Margarana
diambil dari lokasi pertempuran hebat yang saat itu berlangsung di daerah Marga, Tababan-Bali.

Menurut sejarah, ada sejumlah puputan yang meletus di Bali. Namun, yang terkenal dan termasuk
hebat, terdapat sekitar dua puputan. Pertama, Puputan Jagaraga yang dipimpin oleh Kerajaan
Buleleng melawan imprealis Belanda. Strategi puputan yang diterapkan ketika itu adalah sistem
tawan karang dengan menyita transportasi laut imprealis Belanda yang bersandar ke pelabuhan
Buleleng.

Alur Puputan Margarana bermula dari perintah I Gusti Ngurah Rai kepada pasukan Ciung Wanara
untuk melucuti persenjata polisi Nica yang menduduki Kota Tabanan. Perintah yang keluar sekitar
pertengahan November 1946, baru berhasil mulus dilaksakan tiga hari kemudian. Puluhan senjata
lengkap dengan alterinya berhasil direbut oleh pasukan Ciung Wanara. Pasca pelucutan senjata Nica,
semua pasukan khusus Gusti Ngurah Rai kembali dengan penuh bangga ke Desa Adeng-Marga.
Perebutan sejumlah senjata api pada malam 18 November 1946 telah membakar kemarahan
Belanda. Belanda mengumpulkan sejumlah informasi guna mendeteksi peristiwa misterius malam
itu. Tidak lama, Belanda pun menyusun strategi penyerangan. Tampaknya tidak mau kecolongan
kedua kalinya, pagi-pagi buta dua hari pasca peristiwa itu (20 November 1946) Belanda mulai
mengisolasi Desa Adeng, Marga.

Demi menghancurkan Desa Marga, Belanda terpaksa meminta semua militer di daerah Bali untuk
datang membantu. Belanda juga mengerahkan sejmulah jet tempur untuk membom-bardir kota
Marga. Kawasan marga yang permai berganti kepulan asap, dan bau darah terbakar akibat seranga
udara Belang. Perang sengit di Desa Marga berakhir dengan gugurnya Gusti Ngurah Rai dan semua
pasukannya. Puputan Margarana menyebabkan sekitar 96 gugur sebagai pahlawan bangsa,
sementara di pihak Belanda, lebih kurang sekitar 400 orang tewas.
AA. TAKTIK PERANG GERILYA
Perang Gerilya merupakan salah satu strategi yang diterapkan pada saat mempertahankan
kemerdekaan. Tentara Indonesia yang kalah dalam segi kualitas tentara dan persenjataan, kemudian
menerapkan taktik perang gerilya. Taktik ini membuat tentara Belanda mengalami kewalahan,
dikarenakan tidak dapat memprediksi pasti dimana tempat tentara Indonesia berada. Taktik ini
pernah digunakan dalam Perang Diponegoro (1825-1830).

Ciri sistem Perang Gerilya / Wehkreise


 Suatu wilayah terbagi menjadi sejumlah lingkaran pertahanan yang dapat berdiri sendiri, bernama
wehkreise. Wilayah itu terletak di kawasan luar kota dan pegunungan
 Tiap Wehkreise memiliki pemerintahan sekaligus pertahanan gerilya yang total (melibatkan
semua kekuatan) dan dinamis(tidak terikat pada satu lokasi). Tujuannya adalah menghambat
gerak pasukan Belanda. Apabila musuh terus mendesak, dilakukan pengungsian dan bumi hangus
total.
 Selain menggalang pertahanan, tiap wehkreise harus mampu menyusup kebelakang garis
pertahanan musuh dan membentuk kantong pertahanan di dalam daerah musuh.

Keampuhan taktik Perang Gerilya/ Wekreise:


 Pasukan Belanda hanya menguasai wilayah terbatas di kota-kota, sedangkan wilayah luar kota
yang luas tetap dikuasai oleh TNI
 Karena semua kekuatan termasuk rakyat terlibat dalam pertahanan gerak pasukan Belanda dapat
dikuasai dengan cepat. Akibatnya, saat Belanda melakukan gempuran terhadap suatu wilayah
pertahanan, wilayah itu telah ditinggalkan dalam keadaan bumi hangus.
 Pasukan TNI dapat melakukan serangan mendadak terhadap pesukan Belanda, lalu dengan cepat
menghilang sebelum Belanda sempat membalas.
 Konsilidasi dapat dengan cepat dilakukan sesuai dengan tuntutan keadaan.

Saat Agresi Militer II terjadi Jenderal Sudirman segera memutuskan bahwa untuk menghadapi
Belanda tidak mungkin secara frontal tetapi harus dengan taktik yang lebih jitu, yaitu Perang Gerilya
dan memberi kebebasan kepada para komandan pasukan untuk meklakukan serangan serangan
kepada pasukan Belanada tanpa harus menunggu komando Panglima Besar. Dalam kondisi sakit
paru-paru yang parah Jenderal Sudirman bergerilya keluar Yogyakarta. Perlawanan tersebut sangat
efektif dalam mengacaukan kekuatan militer Belanda. rakyat juga beperan dalam perang gerilya ini
yakni dengan menyediakan kebutuhan hidup untuk tentara yang sedang berperang dan juga kadang
menyembunyikan tentara di dalam rumah-rumah mereka.

BB. PERUNDINGAN DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN


Selama berdirinya Republik Indonesia hingga pengakuan kedaulatan, telah terjadi beberapa
perundingan, yaitu:

 Perundingan Linggarjati
Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati,
Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil
perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan
diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947.

Latar Belakang
Masuknya AFNEI yang diboncengi NICA ke Indonesia karena Jepang menetapkan ‘status quo’ di
Indonesia menyebabkan terjadinya konflik antara Indonesia dengan Belanda, seperti contohnya
Peristiwa 10 November, selain itu pemerintah Inggris menjadi penanggung jawab untuk
menyelesaikan konflik politik dan militer di Asia, oleh sebab itu, Sir Archibald Clark Kerr,
diplomat Inggris, mengundang Indonesia dan Belanda untuk berunding di Hooge Veluwe, namun
perundingan tersebut gagal karena Indonesia meminta Belanda mengakui kedaulatannya atas
Jawa,Sumatera dan Pulau Madura, namun Belanda hanya mau mengakui Indonesia atas Jawa dan
Madura saja.

Pada akhir Agustus 1946, pemerintah Inggris mengirimkan Lord Killearn ke Indonesia untuk
menyelesaikan perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Pada tanggal 7 Oktober 1946
bertempat di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta dibuka perundingan Indonesia-Belanda dengan
dipimpin oleh Lord Killearn. Perundingan ini menghasilkan persetujuan gencatan senjata (14
Oktober) dan meratakan jalan ke arah perundingan di Linggarjati yang dimulai tanggal 11
November 1946.

Jalannya Perundingan
Dalam perundingan ini Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir. Anggota delegasi Indonesia antara
lain, Susanto Tirtoprodjo, Moh. Roem, A.K Gani. Delegasi Belanda diwakili oleh tim yang
disebut Komisi Jendral dan dipimpin oleh Wim Schermerhorn dengan anggota H.J. van
Mook, Maz Van Poll,dan Lord Killearn dari Inggris bertindak sebagai mediator dalam
perundingan ini.

Hasil perundingan
Hasil perundingan terdiri dari 17 pasal yang antara lain berisi:
 Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan
Madura.
 Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
 Pihak Belanda dan Indonesia Sepakat membentuk negara RIS.
 Dalam bentuk RIS Indonesia harus tergabung dalam Commonwealth /Persemakmuran Indonesia-
Belanda dengan mahkota negeri Belanda sebagai kepala uni.

Pro dan Kontra di kalangan masyarakat Indonesia


Perjanjian Linggarjati menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia, contohnya
beberapa partai seperti Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat
Jelata. Partai-partai tersebut menyatakan bahwa perjanjian itu adalah bukti lemahnya
pemerintahan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan negara Indonesia. Untuk
menyelesaikan permasalahan ini, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 6/1946,
dimana bertujuan menambah anggota Komite Nasional Indonesia Pusat agar pemerintah
mendapat suara untuk mendukung perundingan linggarjati. Pasca perjanjian Linggarjati
kemudian, Kabinet Syahrir harus menyerahkan mandate kepada presiden.

Pelanggaran Perjanjian
Pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur
Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan
perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini
merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda. PBB kemudian
mengambil tindakan terhadap agresi Belanda tersebut dengan cara membentuk KTN. Lembaga ini
dibentuk pada tanggal 25 Agustus 1947 sebagai reaksi PBB terhadap Agresi Militer Belanda I.
Lembaga ini beranggotakan 3 negara : Australia (dipilih oleh Indonesia) dengan tokoh
Richard Kirby, Belgia (dipilih oleh Belanda) dengan wakil Paul Van Zealand dan Amerika
Serikat (pihak netral) yang mengutus wakil dr. Frank Graham.
Badan ini berperan dalam : mengawasi secara langsung penghentian tembak menembak sesuai
resolusi Dewan Keamanan PBB, memasang patok-patok wilayah status quo yg dibantu oleh
TNI, dan mempertemukan kembali Indonesia Belanda dalam Perundingan Renville.

 Perjanjian Renville
Atas usulan KTN pada tanggal 8 Desember 1947 dilaksanakan perundingan antara Indonesia
dan Belanada di atas kapal renville yang sedang berlabuh di Jakarta. Delegasi Indonesia terdiri
atas perdana menteri Amir Syarifudin, Ali Sastroamijoyo, Dr. Tjoa Sik Len, Moh. Roem, Haji
Agus Salim, Narsun dan Ir. Juanda. Delegasi Belanda terdiri dari Abdulkadir Widjojoatmojo,
Jhr. Van Vredeburgh, Dr. Soumokil, Pangran Kartanagara dan Zulkarnain.

Hasil Perundingan
Setelah selesai perdebatan dari tanggal 8 Desember 1947 sampai dengan 17 Januari 1948 maka
diperoleh hasil persetujuan damai yang disebut Perjanjian Renville. Pokok-pokok isi
perjanjian Renville, antara lain sebagai berikut:
 Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia sampai kedaulatan Indonesia diserahkan
kepada Republik Indonesia Serikat yang segera terbentuk.
 Republik Indonesia Serikat mempunyai kedudukan yang sejajar dengan negara Belanda dalam
uni Indonesia-Belanda.
 Republik Indonesia akan menjadi negara bagian dari RIS
 Sebelum RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan sebagain kekuasaannya kepada
pemerintahan federal sementara.
 Pasukan republic Indonesia yang berada didaerah kantong harus ditarik ke daerah Republik
Indonesia. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis Van Mook, yakni garis
yang menghubungkan dua derah terdepan yang diduduki Belanda.

Perjanjian Renville ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 17 Januari 1948. adapun
kerugian yang diderita Indonesia dengan penandatanganan perjanjian Renville adalah sebagai
berikut :
 Indonesia terpaksa menyetujui dibentuknya negara Indonesia Serikat melalui masa peralihan.
 Indonesia kehilangan sebagaian daerah kekuasaannya karena garis Van Mook terpaksa harus
diakui sebagai daerah kekuasaan Belanda.
 Pihak republik Indonesia harus menarik seluruh pasukanya yang berda di derah kekuasaan
Belanda dan kantong-kantong gerilya masuk ke daerah republic Indonesia.

Pro-Kontra terhadap Hasil perjanjian


Penandatanganan naskah perjanjian Renville menimbulkan akibat buruk bagi pemerinthan republik
Indonesia, antara lain sebagai berikut:
 Wilayah Republik Indonesia menjadi makin sempit dan dikurung oleh daerah-daerah kekuasaan
belanda.
 Timbulnya reaksi kekerasan dikalangan para pemimpin republic Indonesia yang mengakibatkan
jatuhnya cabinet Amir Syarifuddin karena dianggap menjual negara kepada Belanda.
 Perekonomian Indonesia diblokade secara ketat oleh Belanda
 Indonesia terpaksa harus menarik mundur kesatuan-kesatuan militernya dari daerah-daerah
gerilya untuk kemudian hijrah ke wilayah Republik Indonesia yang berdekatan.
 Dalam usaha memecah belah Negara kesatuan republic Indonesia, Belanda membentuk negara-
negara boneka, seperti; negara Borneo Barat, Negara Madura, Negara Sumatera Timur, dan
Negara Jawa Timur. Negara boneka tersebut tergabung dalam BFO (Bijeenkomstvoor Federal
Overslag).
 Terjadi pemberontakan yang kecewa terhadap perjanjian Renville semisal PKI di Madiun yang
dipimpin oleh Musso dan Amir, serta pemberontakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo di Jawa
Barat.

Agresi Militer Belanda II


Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda menyerbu ibu kota republic Indonesia saat itu, yakni
Yogyakarta. Presiden, wakil presiden dan beberapa menteri ditangkap oleh Belanda. Sedangkan
tentara yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman melakukan aksi perang gerilya. Sebelum
tertangkap presiden Soekarno sudah menunjuk menteri kemakmuran Syafrudin Prawiranegara
untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, kalau hal
tersebut gagal, presiden juga sudah memerintahkan A.A Maramis untuk membentuk
pemerintahan sementara di India.

PBB mengkutuk tindakan Belanda tersebut kemudian membentuk UNCI (United Nations
Commisions for Indonesia). Badan perdamaian ini dibentuk pada tanggal 28 Januari 1949 untuk
menggantikan Komisi Tiga Negara yang dianggap gagal mendamaikan Indonesia – Belanda
(Belanda kembali melakukan Agresi Militer setelah P. Renville). Peranan UNCI adalah :
mengadakan Perundingan Roem Royen (7 Mei 1949) dan mengadakan Konferensi Meja
Bundar di Den Haag Belanda.

 Perjanjian Roem-Royen
Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara
Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya
ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari
kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Maksud pertemuan ini adalah
untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja
Bundar di Den Haag pada tahun yang sama.

Kesepakatan
Hasil pertemuan ini adalah: 1) Angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas
gerilya, 2) Pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar, 3) Pemerintah
Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta, 4) Angkatan bersenjata Belanda akan
menghentikan semua operasi militer dan membebaskan semua tawanan perang

Pada tanggal 22 Juni, sebuah pertemuan lain diadakan dan menghasilkan keputusan:
 Kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai perjanjian
Renville pada 1948
 Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan
persamaan hak
 Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada Indonesia
Pasca perjanjian
Pada 6 Juli, Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan ke Yogyakarta, ibukota sementara
Republik Indonesia. Pada 13 Juli, kabinet Hatta mengesahkan perjanjian Roem-van Roijen dan
Sjafruddin Prawiranegara yang menjabat presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
dari tanggal 22 Desember 1948 menyerahkan kembali mandatnya kepada Soekarno dan secara resmi
mengakhiri keberadaan PDRI pada tanggal 13 Juli 1949.

Pada 3 Agustus, gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia dimulai di Jawa (11 Agustus) dan
Sumatera (15 Agustus). Konferensi Meja Bundar mencapai persetujuan tentang semua masalah
dalam agenda pertemuan, kecuali masalah Papua Belanda

 Konferensi Inter Indonesia


Untuk memantapkan langkah RI dalam menghadapi Belanda di KMB pada tanggal 19 Juli 1949 RI
mengadakan pendekatan dan koordinasi dengan (Bijeenkomst Foor Federal Overlaag (BFO)
atau Musyawarah Negara-negara bagian Buatan Belanda. Hasil terpenting dalam pertemuan ini
adalah RI dan BFO sepakat untuk bersama sama menghadapi Belanda dalam KMB. Hal-hal yang
dibicarakan pada Konferensi Inter Indonesia adalah:
 Susunan Negara serikat akan dibentuk
 Bentuk kerja sama antara RIS dan Belanda dalam perserikatan UNI
 Sokongan BFO mengenai tuntutan RI atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan politik maupun
ekonomi.
 Bidang kemiliteran dengan keputusan:
o Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) adalah angkatan perang nasional
o TNI menjadi inti APRIS dan akan menerima anggota-anggota Koninklijke Netherland-Idies
Leger (KNIL) dan Veigligheids Batlyons (VB) dan kesatuan Belanda lainnya dengan syarat
yang akan ditentukan selanjutnya.
o Pertahanan Negara adalah semata-mata hak pemerintah RIS, bukan hak Negara-negara
bagian
 Konferensi Meja Bundar
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan
Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Latar belakang
Setelah berhasil menyelesaikan masalah intern, bangsa Indonesia siap menhadapi Konferensi meja
Bundar seperti hasil keputusan Perundingan Roem-Royen. Pada tanggal 23 Agustus 1949,
Konferensi Meja Bundar (KMB) dibuka secara resmi di Ridderzaal, Den Haag Belanda.

Jalannya Sidang
Pada KMB, delegasi Indonesia dipimpin oleh Moh. Hatta dengan anggota Moh. Roem, Supomo,
J. Leimena, Ali Sastroamijoyo, Sukiman, Soeyono Hadinoto, Sumitro Djoyohadikusumo, A.K
Pringgodigdo, Kolonel B. Simatupang, Sumardi dan Ir, Juanda. BFO dipimpin oleh Sultan Hamid
II, delegasi Belanda dipimpin oleh J.H. Van Maarseven, dan wakil dari UNCI diketuai
Crithley. Masalah-masalah yang sulit diselesaikan adalah sebagai berikut:
 Masalah Uni Indonesia-Belanda.Indonesia menghendaki sifat kerja bebas tanpa adanya organisasi
permanen, sedangkan Belanda menghendaki kerja sama yang luas dengan organisasi permanen.
 Soal utang Belanda. Indonesia hanya mau mengakui utang Belanda sampai menyerahnya
Belanda kepada Jepang. Sebaliknya Belanda menghendaki agar Indonesia menanggung utang
Belanda sampai hari itu, termasuk biaya operasi milter waktu agresi militer I dan agresi militer II.
Hasil konferensi
Hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) adalah:
 Serah terima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat,
kecuali Papua bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi
daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua bagian barat negara terpisah
karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2
menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari serahterima, dan bahwa masalah ini
akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
 Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan monarch Belanda sebagai kepala
negara
 Pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat
 Keradjaan Nederland menjerahkan kedaulatan atas Indonesia jang sepenuhnja kepada Republik
Indonesia Serikat dengan tidak bersjarat lagi dan tidak dapat ditjabut, dan karena itu mengakui
Republik Indonesia Serikat sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat.
 Republik Indonesia Serikat menerima kedaulatan itu atas dasar ketentuan-ketentuan pada
Konstitusinja; rantjangan konstitusi telah dipermaklumkan kepada Keradjaan Nederland.
 Kedaulatan akan diserahkan selambat-lambatnja pada tanggal 30 Desember 1949 Rantjangan
Piagam Penjerahan Kedaulatan.

Di bidang militer memuat beberapa ketentuan


 Pembentukan APRIS dengan TNI sebagai intinya
 Pembubaran KNIL serta pemulangan Koninklijke Leger (KL) dan Koninklijke Miletaire (KM) ke
negeri Belanda
 Pemasukan anggota KNIL kedalam APRIS
 Pengadaan misi militer Belanda di Indonesia untuk melatih APRIS

Pembentukan RIS
Sebagai tindak lanjut dari KMB, maka pada tanggal 27 Desember 1949 dilakukan upoacara
penyerahan kedaulatan di 3 tempat secara bersamaan, yaitu :
 di Den Haag (Belanda): penyerahan kedaulatan dari Ratu Yuliana kepada Drs. Moh. Hatta selaku
wakil pemerintah RIS.
 di Jakarta: penyerahan kedaulatan dari wakil pemerintah Belanda H.J. Lovink kepada wakil
pemerintah RI Sri Sultan Hamengku Buwono IX
 di Yogyakarta: penyerahan mandat dari Ir. Soekarno selaku Presiden RIS kepada Mr. Asaat selaku
Pejabat Sementara Presiden RI

Sejak tanggal 27 Desember 1949 terbentuklah pemerintahan RIS yang terdiri dari 17 Negara
bagian (salah satunya adalah RI di Yogyakarta) dan beribu kota di Jakarta, serta
menggunakana Konstitusi RIS 1949. Sedangkan RI di Yogyakarta tetap menggunakan UUD
1945.Tanggal 27 Desember 1949, pemerintahan sementara negara dilantik. Soekarno menjadi
Presidennya, dengan Hatta sebagai Perdana Menteri membentuk Kabinet Republik Indonesia
Serikat. Indonesia Serikat telah dibentuk seperti republik federasi berdaulat yang terdiri dari 16
negara yang memiliki persamaan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.

CC. PERJANJIAN LINGGARJATI DAN DAMPAKNYA BAGI INDONESIA


Perjanjian Linggarjati merupakan Perjanjian pertama kali yang dilakukan bangsa Indonesia dalam
rangka mempertahankan kemerdekaan. Pada zaman tersebut, system pemerintahan Indonesia adalah
parlementer, sebagai perdana menteri adalah Sutan Syahrir. Tokoh ini sering dijuluki “si kancil”
karena kecerdikannya. Syahrirlah yang menjalankan pemerintahan sehari-hari. Syahrir berjuang
dengan melakukan diplomasi agar mendapatkan dukungan internasional terhadap kedaulatan bangsa
Indonesia. Belanda sangat enggan untuk membahas masalah Indonesia dengan Sukarno yang sangat
membenci Belanda. Belanda kemudian setuju untuk melakukan Perjanjian setelah tahu yang
menjalankan pemerintahan adalah Syahrir.

Pertemuan demi pertemuan kemudian dilakukan oleh kedua belah pihak dengan Clark Keer (dari
Inggris) sebagai pemrakarsanya. Sebelum diadakannya Perjanjian Linggarjati dilakukan terlebih
dahulu pertemuan di Hooge Value (Belanda pada 14-25 April 1946. Indonesia membawa beberapa
usulan menuju pertemuan tersebut antara lain pengakuan de facto, kerja sama antara Indonesia
Belanda. Namun usulan tersebut ditolak oleh Belanda.

Pada tanggal 10-15 November 1946 diadakan Perjanjian di Linggarjati sebuah daerah di selatan
Cirebon Jawa Barat. Delegasi Indonesia terdiri dari Moh Roem, Susanto Tirtiprodjo, A.K Gani
dan dipimpin oleh Sutan Syahrir. Sedangkan Belanda dipimpin oleh Schermerhorn. Sedangkan
sebagai penengah adalah Lord Killearn dari pihak sekutu. Hasil Perjanjian Linggarjati antara
lain:
 Belanda mengakui secara de facto wilayah Indonesia meliputi Jawa, Sumatera dan Madura,
 RI dan Belanda bekerja sama menyelenggarakan berdirinya sebuah negara federal bernama
negara Indonesia Serikat,
 RIS dan Belanda akan membentuk Uni-Indonesia Belanda dengan ratu Belanda sebagai
pemimpinnya.

Hasil Perjanjian Linggarjati ditandatangani di Istana Merdeka tanggal 25 Maret 1947. Hasil
Perjanjian Linggarjati ini mengalami pro dan kontra. Tokoh yang kontra merupakan kelompok
Persatuan Perjuangan yang dipimpin Tan Malaka. Menurut kelompok ini, Perjanjian Linggarjati
sangat merugikan Indonesia. Wilayah Indonesia menjadi sempit dan menunjukan Indonesia menjadi
negara yang lemah. Diplomasi yang dilakukan menurut kelompok oposisi hanya karena alasan
pemerintah sangsi atas kemampuan rakyat bersenjata sebagai intinya. Persatuan Perjuangan
dibentuk sebagai gabungan sejumlah partai politik maupun golongan lain sejak Januari 1942,
mereka adalah kelompok yang berjuang dengan kekuatan. Pemimpin kelompok ini, Tan Malaka
beranggapan bahwa berunding dengan Pemerintahan Belanda tidak ada gunanya dan hanya akan
merugikan Republik saja, tuntutan Merdeka 100% serta slogan-slogan “merdeka atau mati” menjadi
tujuan perjuangan revolusioner. Kenyataannya janji-janji yang diberikan pihak asing tidak dapat
dipercaya benar.

Perjanjian Linggarjati berdampak pada jatuhnya kepercayaan parlemen terhadap Syahrir. Oleh
karena itu Syahrir harus mengembalikan mandat kepada presiden Sukarno. Pada dasarnya ada
dampak postif dari diadakannya Perjanjian Linggarjati. Secara langsung keberadaan Indonesia mulai
diperhatikan oleh dunia luar. Negara Indonesia secara de facto dan de jure sudah diakui oleh negara
lain meskipun dengan wilayah yang sempit yaitu tinggal Jawa, Sumatera dan Madura. Perjanjian
Linggarjati kemudian diingkari Belanda dengan adanya agresi militer Belanda I pada tanggal
21 Juli 1947. Sasaran utama serangan Belanda adalah daerah-daerah penghasil devisa seperti Jawa
Barat serta Sumatera Timur, Sumatera Selatan dan Jawa Timur.

Serangan Belanda ini kemudian menimbulkan reaksi internasional. Belanda mengatakan bahwa
tindakan polisionel yang dilakukan sudah benar untuk menghancurkan gerombolan pengacau. Tapi
bagi pihak Indonesia tindakan Belanda tersebut telah melanggar kedaulatan Indonesia. Pada tanggal
31 Juli 1947 PBB mengeluarkan resolusi yang mendesak agar kedua negara yang bertikai untuk
menghentikan pertempuran dan mengadakan Perjanjian. Hal ini merupakan buntut dari tuntutan
India dan Austalia yang mengajukan resolusi kepada Dewan Keamanan PBB. Guna menanggapi hal
tersebut maka, Dewan Keamanan PBB membentuk Komisi Jasa Baik yang kemudian dikenal
dengan Komisi Tiga Negara (KTN) dikarenakan terdiri dari tiga negara.

KTN bertugas membantu menyelesaikan sengketa antara Indonesia-Belanda. KTN terdiri dari
Australia yang ditunjuk Indonesia, Belgia yang ditunjuk oleh Belanda dan Amerika Serikat
yang ditunjuak keduanya. Australia membantu Indonesia dikarenakan partai Buruh di sana
bersimpati dengan perjuangan Indonesia. Wakil dari Australia adalah Richard Kirby, wakil
Belgia adalah Paul Van Zeeland dan wakil Amerika Serikat adalah Frank Graham. Kemudian
KTN berhasil membawa kembali Indonesia dan Belanda ke Perjanjian selanjutnya, yaitu Perjanjian
Renville.

DD. HASIL PERJANJIAN RENVILLE DAN DAMPAKNYA BAGI INDONESIA


Perjanjian Renville terjadi pasca adanya Agresi militer Belanda I tangga 21 Juli 1947 sampai 5
Agustus 1947 atau terkenal dengan Operatie Product. Agresi militer tersebut merupakan
pengingkaran Belanda terhadap hasil Perundingan Linggarjati. Belanda menduduki tempat-tempat
penting yang kaya akan sumber daya alam. Serangan ini kemudian menimbulkan keceman keras
dari dunia internasional. Salah satunya adalah PBB yang kemudian membentuk Committee of Good
Offices for Indonesia yang terkenal dengan sebutan Komisi Tiga Negara (KTN) terdiri dari Amerika
Serikat, Australia dan Belgia.

Atas usulan KTN pada tanggal 8 Desember 1947 dilaksanakan perundingan antara Indonesia dan
Belanda. Kembali permasalah terjadi, Belanda menginginkan tempat diadakannya perjanjian di
wilayah yang diduduki oleh Belanda, sebaliknya pula Indonesia menuntut agar perundingan
dilaksanakan di wilayah Indonesia. Atas usul Amerika Serikat, kemudian perundingan dilakukan di
atas kapal USS Renville milik Amerika Serikat yang berlabuh di Tanjung Priok.

Delegasi Indonesia terdiri atas perdana menteri Amir Syarifudin, Ali Sastroamijoyo, Dr. Tjoa
Sik Len, Moh. Roem, Haji Agus Salim, Narsun dan Ir. Juanda. Delegasi Belanda terdiri dari
Abdulkadir Widjojoatmojo, Jhr. Van Vredeburgh, Dr. Soumokil, Pangeran Kartanagara dan
Zulkarnain. Ternyata wakil-wakil Belanda hampir semua berasala dari bangsa Indonesia sendiri
yang pro Belanda. Dengan demikian Belanda tetap melakukan politik adu domba agar Indonesia
mudah dikuasainya. Sedangkan wakil dari KTN, Frank Graham dari Amerika Serikat, Richard
Kirby dari Australia dan Paul Van Zeeland dari Belgia.

Setelah selesai perdebatan dari tanggal 8 Desember 1947 sampai dengan 17 Januari 1948 maka
diperoleh hasil persetujuan damai yang disebut Perjanjian Renville. Pokok-pokok isi perjanjian
Renville, antara lain sebagai berikut :
 Wilayah Indonesia meliputi Yogyakarta dan sekitarnya, Banten dan sebagian Sumatera.
 Pasukan republic Indonesia yang berada di daerah kantong harus ditarik ke daerah Republik
Indonesia. Daerah kantong adalah daerah yang berada di belakang Garis Van Mook, yakni garis
yang menghubungkan dua daerah terdepan yang diduduki Belanda.
 Akan diadakan plebesit untuk menentukan pilihan masuk ke wilayah Indonesia atau masuk dalam
wilayah yang diduduki Belanda.
 Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia sampai kedaulatan Indonesia diserahkan
kepada Republik Indonesia Serikat yang segera terbentuk.
 Republik Indonesia Serikat mempunyai kedudukan yang sejajar dengan negara Belanda dalam
uni Indonesia-Belanda.
 Republik Indonesia akan menjadi negara bagian dari RIS
 Sebelum RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada
pemerintahan federal sementara.

Perjanjian Renville ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 17 Januari 1948. adapun
kerugian yang diderita Indonesia dengan penandatanganan perjanjian Renville adalah sebagai
berikut :
 Indonesia terpaksa menyetujui dibentuknya negara Indonesia Serikat melalui masa peralihan.
 Wilayah Indonesia semakin sempit
 Pihak republik Indonesia harus menarik seluruh pasukanya yang berada di daerah kekuasaan
Belanda dan kantong-kantong gerilya masuk ke daerah Republic Indonesia.
 Timbulnya reaksi kekerasan dikalangan para pemimpin Republic Indonesia yang mengakibatkan
jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin karena dianggap menjual negara
 Belanda membentuk negara-negara boneka, seperti; negara Borneo Barat, Negara Madura,
Negara Sumatera Timur, dan Negara Jawa Timur. Negara boneka tersebut tergabung dalam BFO
(Bijeenkomstvoor Federal Overslag).
 Terjadi pemberontakan yang kecewa terhadap perjanjian Renville semisal PKI di Madiun yang
dipimpin oleh Musso dan Amir Syarifudin, serta pemberontakan yang dipimpin oleh
Kartosuwiryo di Jawa Barat.
Belanda kembali mengingkari Perjanjian Renville dengan mengadakan Agresi Militer Belanda II
pada tanggal 19 Desember 1948 dengan sasaran Yogyakarta.

EE. PERJANJIAN ROEM-ROYEN


Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara
Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya
ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari
kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Maksud pertemuan ini
adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum
Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama.
Hasil pertemuan ini adalah:

 Angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya


 Pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar
 Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta
 Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan semua
tawanan perang

Pada tanggal 22 Juni 1949, sebuah pertemuan lain diadakan dan menghasilkan keputusan:
 Kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai perjanjian
Renville
 Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan
persamaan hak
 Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada Indonesia
Pada 6 Juli, Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan ke Yogyakarta, ibukota sementara
Republik Indonesia. Pada 13 Juli, kabinet Hatta mengesahkan perjanjian Roem-van Roijen dan
Sjafruddin Prawiranegara yang menjabat presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
dari tanggal 22 Desember 1948 menyerahkan kembali mandatnya kepada Soekarno dan secara resmi
mengakhiri keberadaan PDRI pada tanggal 13 Juli 1949.

Pada 3 Agustus, gencatan senjata antara Belanda dan Indonesia dimulai di Jawa (11 Agustus) dan
Sumatera (15 Agustus). Konferensi Meja Bundar mencapai persetujuan tentang semua masalah
dalam agenda pertemuan.

FF. KONFERENSI INTER INDONESIA


Berdasarkan hasil perundingan Roem-Royen, maka akan dilakukan Konferensi Meja Bundar. Untuk
memantapkan langkah RI dalam menghadapi Belanda di KMB pada tanggal 19 Juli 1949 RI
mengadakan pendekatan dan koordinasi dengan (Bijeenkomst Foor Federal Overlaag (BFO)
atau Musyawarah Negara-negara bagian Buatan Belanda.

Hasil terpenting dalam pertemuan ini adalah RI dan BFO sepakat untuk bersama sama menghadapi
Belanda dalam KMB. Hal-hal yang dibicarakan pada Konferensi Inter Indonesia adalah:
 Negara Indonesia Serikat berganti nama menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan
bendera kebangsaan Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, bahasa nasional bahasa
Indonesia, dan tanggal 17 Agustus sebagai hari nasional.
 Susunan Negara Serikat akan dibentuk
 Bentuk kerja sama antara RIS dan Belanda dalam perserikatan UNI
 Sokongan BFO mengenai tuntutan RI atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan politik maupun
ekonomi.
 Bidang kemiliteran dengan keputusan:
 Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) adalah angkatan perang nasional
 TNI menjadi inti APRIS dan akan menerima anggota-anggota Koninklijke Netherland-Idies
Leger (KNIL) dan Veigligheids Batlyons (VB) dan kesatuan Belanda lainnya dengan syarat
yang akan ditentukan selanjutnya.
 Pertahanan Negara adalah semata-mata hak pemerintah RIS, bukan hak Negara-negara
bagian

GG. PERUNDINGAN KMB : PENGAKUAN KEDAULATAN INDONESIA


Pada bulan pertama tahun 1949 karena di desak oleh resolusi Dewan Keamanan PBB, Belanda
mengadakan pendekatan-pendekatan politis. Perdana Menteri Belanda Dr. Drees mengundang Prof.
Dr. Supomo salah satu anggota delegasi RI dalam perundingan lanjutan Renville untuk berunding.
Berdasarkan kenyataan dan penjajagan politis oleh pihak Belanda bahwa pada dasarnya pemimpin-
pemimpin RI bersedia berunding, maka tanggal 26 Februari 1949 mereka mengumumkan niatnya
akan melakukan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 12 Maret 1949 guna membicarakan masalah
Indonesia dan merundingkan syarat-syarat “penyerahan” kedaulatan serta pembentukan Uni
Indonesia-Belanda.

Pemerintah Belanda mengutus Dr. Koets sebagai Wakil Tinggi Mahkota untuk menemui Ir.
Soekarno yang bersama beberapa pembesar RI lainnya ditawan di Bangka. Kedatangannya di
Bangka juga untuk menjelaskan maksud pemerintah Belanda dan mengundang Ir. Soekarno untuk
menghadiri konferensi di Den Haag. Isi penjelsan yang disampaikan yakni:
 Pemerintah Belanda akan mengadakan KMB di Den Haag guna membahas “penyerahan”
kedaulatan yang dipercepat
 Penarikan pasukan-pasukan Belanda secepat-cepatnya setelah “penyerahan kekuasaan”
 Tentang pengembalian pemerintahan RI ke Yogya dinyatakan bahwa hal itu tidak mungkin
dilaksanakan.

Tanggal 3 Maret 1949 Presiden Soekarno mengadakan pembicaraan dengan penghubung BFO
(Bijeenkomst voor Federal Overleg) dan menegaskan akan pentingnya kedudukan pemerintahan RI.
Tanggal 4 Maret 1949, Presiden Soekarno membalas undangan Wakil Tinggi Mahkota yang berisi
penolakan menghadiri KMB kecuali dengan syarat yakni:
 Pengembalian kekuasaan RI adalah syarat mutlak untuk memulai perundingan
 Kedudukan dan kewajiban Komisi PBB untuk Indonesia dalam membantu melaksanakan resolusi
PBB tidak akan terganggu.

Dari pihak BFO dikeluarkan pernyataan yang berisi pemberitahuan bahwa BFO tetap pada pendirian
semula yakni:
 Supaya pemerintah RI dikembalikan ke Yogyakarta
 Komisi PBB untuk Indonesia agar membantu melaksanakan resolusi
 RI memerintahkan gencatan senjata.

Dari pihak Komisi PBB akan memberikan bantuan terhadap:


 Tercapainya persetujuan sebagai pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan tanggal 28 Januari 1949
paragraf 1 dan 2 yakni menghentikan aksi militer oleh Belanda dan pengembalian para pemimpin
RI ke Yogyakarta
 Menetapkan tanggal dan waktu serta syarat untuk mengadakan KMB di Den Haag agar dapat
diselenggarakan seleksanya.

Dengan adanya petunjuk dari Dewan Keamanan dan adanya pendekatan politis antara RI dengan
Belanda maka pada tanggal 14 April 1949 atas inisiatif PBB untuk Indonesia diadakan perundingan
antara RI-Belanda (Nugroho Notosusanto, 1993: 162-165). KMB berlangsung dari 23 Agustus
sampai 2 November 1949. Yang menjadi ketua KMB adalah PM Belanda, Drees. KMB
menghasilkan naskah-naskah hubungan antara Indonesia (RI dan BFO) dan Belanda yakni:
 Belanda mengakui Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat
 Status Irian Barat diselesaikan dalam waktu setahun sesudah pengakuan kedaulatan
 Akan dibentuk Uni Indonesia-Belanda berdasarkan kerjasama sukarela dan sederajat
 RIS mengembalikan hak milik Belanda dan memberikan hak konsesi dan izin baru untuk
perusahaan-perusahaan Belanda
 RIS harus membayar semua utang Belanda yang ada sejak tahun 1942 (Moedjanto, 1988: 57-59).

Dengan keputusan itu maka Republik Indonesia (RI) menjadi satu negara bagian dalam RIS yang
statusnya sama dengan negara-negara ciptaan Belanda. Pada tanggal 27 Desember 1949 di
ibukota Belanda Amsterdam diadakan penyerahan kedaulatan dari Belanda yang diwakili
oleh Ratu Juliana kepada Indonesia diwakili Drs Moh Hatta sebagai Ketua Delegasi RI,
sedangkan di Jakarta pada hari sama dilakukan penyerahan kedaulatan itu dengan menurunkan
bendera Belanda depan Istana Merdeka dan Bendera Sang Saka Merah Putih berkibar sebagai tanda
kedaulatan Indonesia. Dalam upacara tersebut Belanda diwakili Wakil Mahkota Agung Lovink
sedangkan Indonesia diwakili Sultan Hamangku Buwono IX.
HH. PEMERINTAH DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI)
Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan serangan mendadak di lapangan terbang
Maguwo dengan mengkhianati Persetujuan Renville. Gerakan ke Yogya dimulai pukul 12.00 pada
waktu pertempuran di Maguwo masih berlangsung, Belanda menembaki beberapa bangunan penting
dalam kota Yogya. Yang menjadi sasaran utama ialah Markas Besar Komando Djawa (MBKD),
Markas Besar AURI, dan gedung-gedung disekitar Istana Presiden.

Belanda yakin dengan ditangkapnya Bung Karno dan Bung Hatta dan sebagian besar pemimpin-
pemimpin yang lainnya yang merupakan inti dari pimpinan pusat Republik, Republik Indonesia
tidak ada lagi. Pembatalan secara sepihak atas Perjanjian Renville diumumkan jam 23.30 tanggal 18
Desember 1948, jadi hanya beberapa jam sebelum melakukan agresi. Pihak Belanda tentu saja
sengaja melakukan hal itu supaya penyerangannya ke kota Yogyakarta mengejutkan tentara
Indonesia sehingga dapat dengan mudah dilumpuhkan.

Dalam suasana pertempuran pada tanggal 19 Desember 1948 itu, kabinet RI masih sempat
mengadakan sidang kilat istimewa di Istana Negara Yogyakarta. Dalam sidang itu diambil keputusan
bahwa pemerintah akan tetap tinggal di dalam kota. Keputusan penting yang lain yaitu memberikan
mandat kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara yang saat itu sudah ada di
Bukittinggi untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera jika dalam keadaan mendesak
pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi. Mandat lainnya diberikan kepada dr.
Sudarsono, L. N. Palar, dan A. A. Maramis dengan alamat New Delhi (India) untuk membentuk
pemerintahan di luar negeri jika Sjafruddin tidak berhasil membentuk Pemerintah Darurat Republik
Indonesia.

Adapun susunan dari PDRI sebagai berikut:


 Ketua, merangkap Menteri Pertahanan dan Penerangan, Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
 Wakil ketua, merangkap menteri kehakiman, Mr. Soesanto Tirtoprodjo. Setelah terdengar kabar
bahwa sdr. Supeno gugur karena dibunuh Belanda, maka Beliau merangkap juga Menteri
Pembangunan dan Pemuda.
 Menteri Luar Negeri, Mr. A. A. Maramis.
 Menteri Dalam Negeri merangkap Menteri Kesehatan, dr. Soekiman.
 Menteri Keuangan, Mr. Loekman Hakim.
 Menteri Kemakmuran (termasuk pmr), I. Kasimo.
 Menteri Agama, Masjkoer.
 Menteri Pendidikan , Pengajaran dan Kebudayaan, Mr. TM. Hasan.
 Menteri Perhubungan, Ir. Indratjaja.
 Menteri Pekerjaan Umum Ir. Sitompoel.
 Menteri Perburuhan dan Sosial, Mr. ST. Mohd. Rasjid.

Sehari setelah PDRI didirikan, Sjafruddin Prawiranegara selaku Ketua PDRI menyampaikan pidato
radio yang ditujukan kepada semua stasiun radio. Pidato tersebut dapat ditangkap oleh stasiun radio
Singapura dan juga disadap oleh Radio Belanda di daerah Riau. Isi pidato itu antara lain:
mengemukakan serangan yang tiba-tiba dari Belanda telah berhasil menawan Presiden dan Wakil
Presiden, Perdana Menteri dan beberapa pembesar lain. Belanda mengira bahwa dengan ditawannya
pemimpin-pemimin yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa.

Negara Republik Indonesia tidak tergantung kepada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu
adalah sangat berharga bagi bangsa kita. Hilang pemerintahan Soekarno-Hatta, sementara atau
selama-lamanya, rakyat Indonesia akan menghadirkan pemerintahan yang baru, hilang pemerintahan
ini akan timbul yang baru lagi. Pemerintahan PDRI dibentuk karena ada kemungkinan besar bahwa
pemerintahan Soekarno-Hatta tidak dapat menjalankan tugasnya seperti biasa. Kepada seluruh
angkatan perang Republik Indonesia kami serukan: bertempurlah, gempurlah Belanda dimana
saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi.

Adapun peran PDRI dalam menjaga eksistensi bangsa dan Negara Indonesia adalah dengan
melaksanakan beberapa tindakan, antara lain :
 Menjalankan perang gerilya selama mungkin dengan perhitungan bahwa dengan semakin
lamanya perang gerilnya maka secara ekonomi Belanda akan terjepit dan payah sebab sumber
mereka akan habis dan mereka akan terpaksa melanjutkan perundingan.
 Dengan perhitungan diatas maka pemerintahan PDRI menginginkan jauh dari Bukit tinggi
dengan mencari lokasi paling tenteram yaitu di wilayah selatan jauh dari Bukit Tinggi. Karena
jika mereka tetap di Bukit Tinggi maka gampang ditemukan oleh Belanda dengan akibat
pemerintah tidak bisa menjalankan tugas secara leluasa karena harus terus-terusan berurusan
dengan Belanda.
 Para tokoh sipil dijadikan sebagai pejabat yang memiliki wewenang militer karena pada saat itu
adalah saat gerilya, dimana saat gerilya adalah saat dimana terkaburnya batas-batas militer dan
sipil yang menjadikan sesuatu itu sebelumnya ingin diperjelas dalam usaha meletakan struktur
dan tradisi baru repulik. Ditangan para tokoh sipil militer atau yang disebut gubernur militer
inilah terpusat kekuasaan sipil dan militer untuk sementara waktu.
 Para gubernur lama diangkat sebagai komisaris yang dimana fungsinya sebagai penghubung
masyarakat dan pemerintah pusat PDRI agar tetap ada komunikasi antara rakyat dan
pemerintah.
 Melancarkan ofensif diplomasi untuk mendapatkan simpati sebanyak-banyaknya agar mendapat
dukungan dari dunia Internasional
 Mengadakan koordinasi perjuangan, dan bahkan juga mengadakan reorganisasi pemerintahan
daerah (terutama di Sumatra), tetapi juga menyusun organisasi pemerintahan perang. Dalam hal
yang terakhir ini menunjukan betapa kepekaan terhadap rakyat dan tradisi serta adat setempat
telah memungkinkan PDRI mengadakan mobilisasi daya dan dana secara optimal.

Pada tangal 10 Juli 1949, Sjafruddin kembali ke Yogyakarta. Sjafruddin disambut oleh Soekarno
setibanya di Yogyakarta. Sjafruddin menerangkan bahwa PDRI tidak berada di belakang Roem-
Royen, tapi berada di belakang rakyat, berjuang dengan rakyat dan untuk rakyat (Kedaulatan
Rakyat, 11 Juli 1949). Pada tanggal 13 Juli 1949, kabinet Hatta bersidang. Hatta melakukan
perombakan kabinet. Kabinet yang baru terbentuk itu disebut Kabinet Hatta II. Dalam kabinet ini,
Sjafruddin diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri.

II. PEMBENTUKAN KTN DAN UNCI


Perundingan Linggarjati yang disepakati oleh Belanda dan Indonesia ternyata tidak berlangsung
lama kurang lebih 4 bulan. Hal ini dikarenakan Belanda mengadakan Agresi Militer atau yang
Belanda sebut sebagai Operatie Product ke wilayah Indonesia. Agresi Militer Belanda pertama
tanggal 21 juli 1947 ini merupakan pengingkaran terhadap hasil Perundingan Linggarjati.
Oleh karena itu berbagai pihak melakukan kecaman terhadap tindakan yang dilakukan oleh Belanda
tersebut.

Pada tanggal 30 Juli 1947, pemerintah India dan Australia mengajukan permintaan resmi agar
masalah Indonesia-Belanda dimasukan dalam agenda Dewan Keamanan PBB. Pemintaan itu
diterima baik dan dimasukkan dalam agenda sidang Dewan Keamanan PBB. Tanggal 1 Agustus
1947, Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian permusuhan kedua belah pihak dan
mulai berlaku sejak tanggal 4 Agustus 1947. Atas usul Amerika Serikat DK PBB membentuk
Komisi Tiga Negara (KTN) yang beranggotakan Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. KTN
berperan aktif dalam penyelenggaraan Perjanjian Renville. KTN membuat laporan yang
disampaikan kepada DK PBB, bahwa Belanda banyak melakukan pelanggaran. Hal ini telah
menempatkan Indonesia lebih banyak didukung negara-negara lain.

Pada tanggal 25 Agustus 1947, DK PBB menerima usul Amerika Serikat tentang pembentukan suatu
Commitee of Good Offces (Komisi Jasa-jasa Baik) atau yang lebih dikenal dengan Komisi Tiga
Negara (KTN). Belanda menunjuk Belgia sebagai anggota, sedangkan Indonesia memilih Australia.
Kemudian Belanda dan Indonesia memilih negara pihak ketiga, yakni Amerika. Komisi resmi
terbentuk tanggal 18 September 1947. Australia dipimpin oleh Richard Kirby, Belgia
dipimpin oleh Paul Van Zeelland dan Amerika Serikat dipimpin oleh Dr. Frank Graham.
Australia mendukung perjuangan bangsa Indonesia dikarenakan partai buruh di Australia bersimpati
dengan perjuangan bangsa Indonesia.

Konfik antara Indonesia dengan Belanda masih terus berlanjut. Namun semakin terbukanya mata
dunia terkait dengan konfik itu, menempatkan posisi Indonesia semakin menguntungkan. Untuk
mempercepat penyelesaikan konfik ini maka oleh DK PBB dibentuklah UNCI (United Nations
Commission for Indonesia) atau Komisi PBB untuk ndonesia sebagai pengganti KTN. UNCI ini
memiliki kekuasaan yang lebih besar dibanding KTN. UNCI berhak mengambil keputusan yang
mengikat atas dasar suara mayoritas. UNCI memiliki tugas dan kekuasaan sebagai berikut.

 Memberi rekomendasi kepada DK PBB dan pihak-pihak yang bersengketa (Indonesia dan
Belanda).
 Membantu mereka yang bersengketa untuk mengambil keputusan dan melaksanakan resolusi DK
PBB.
 Mengajukan saran kepada DK PBB mengenai cara-cara yang dianggap terbaik untuk
mengalihkan kekuasaan di Indonesia berlangsung secara aman dan tenteram. d. Membantu
memulihkan kekuasaan pemerintah RI dengan segera.
 Mengajukan rekomendasi kepada DK PBB mengenai bantuan yang dapat diberikan untuk
membantu keadaan ekonomi penduduk di daerah-daerah yang diserahkan kembali kepada RI.
 Memberikan saran tentang pemakaian tentara Belanda di daerah-daerah yang dianggap perlu
demi ketenteraman rakyat.
 Mengawasi pemilihan umum, bila di wilayah Indonesia diadakan pemilihan.

Ketika Presidan, Wakil presiden dan pembesar-pembesar Republik ditawan Belanda di Bangka,
delegasi BFO (Bijzonder Federaal Overleg) mengunjungi mereka dan mengadakan perundingan.
UNCI mengumumkan bahwa delegasi-delegasi Republik, Belanda dan BFO telah mecapai
persetujuan pendapat mengenai akan diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB). UNCI
juga berhasil menjadi mediator dalam KMB. Bahkan peranan itu juga tampak sampai penyerahan
dan pemulihan kekuasaan Pemerintah RI di Indonesia

JJ. AGRESI MILITER BELANDA 1 DAN 2


Agresi Militer Belanda 1
Agresi Militer Belanda 1 dilakukan Belanda merupakan pengingkaran terhadap hasil
Perundingan Linggarjati. Sesudah persetujuan Linggajati ditandatangani, hubungan RI-Belanda
semakin memburuk. Oleh pihak Kolonis Belanda, Persetujuan Linggajati memang hanya dianggap
sebagai alat untuk memungkinkan mereka mendatangkan pasukan-pasukan yang lebih banyak dari
negerinya. Setelah mereka merasa cukup kuat, mereka beralih kepada maksud semula, yaitu
menghancurkan Republik Indonesia dengan kekuatan senjata. Untuk memperoleh dalih guna
menyerang RI, mereka mengajukan tuntutan yang bukan-bukan seperti: Supaya dibentuk pemerintah
federal sementara yang akan berkuasa diseluruh Indonesia sampai pembentukan RIS yang berarti RI
ditiadakan. Dan juga Pembentukan gandamerie (pasukan keamanan) bersama yang juga akan
masuk ke daerah Republik.

Dengan sendirinya Republik tidak mungkin menerima usul itu, karena akan berarti llikuidasi bagi
dirinya. Dengan penolakan RI itu, Belanda lalu merobek-robek Persetujuan Linggajati dan pada
tanggal 21 juli 1947 melancarkan Aksi Militer Belanda I kedalam wilayah kekuasaan RI.

Pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14
hari, yang berisi:
 Membentuk pemerintahan bersama;
 Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga bersama;
 Republik Indonesia harus mengirimkan beras untuk rakyat di daerah-daerah yang diduduki
Belanda;
 Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama. termasuk daerah daerah Republik yang
memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama): dan
 Menyelenggarakan penilikan bersama atas impor dan ekspor

Perdana Menteri Sjahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama masa
peralihan, tetapi menolak gendarmerie bersama. Jawaban ini mendapatkan reaksi keras dari
kalangan parpol-parpol di Republik. Ketika jawaban yang memuaskan tidak kunjung tiba, Belanda
terus “mengembalikan ketertiban” dengan “tindakan kepolisian”. Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah
malam (tepatnya 21 Juli 1947) mulailah pihak Belanda melancarkan ‘aksi polisionil’ mereka yang
pertama atau yang dikenal dengan Operasi Produk. Polisionil adalah operasi militer Belanda di
Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli sampai 5
Agustus 1947 (aksi pertama) dan dari 19 Desember 1948 sampai 5 Januari 1949 (aksi kedua).

Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan sekali dimana mereka telah menempatkan pasukan-
pasukannya di tempat yang strategis. Pasukan yang bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk
menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten), dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan
Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Dengan
demikian, Belanda menguasai semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa Di Sumatera, perkebunan-
perkebunan di sekitar Medan, instalasi- instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan
daerah Padang diamankan. Melihat aksi Belanda yang tidak mematuhi perjanjian Linggarjati
membuat Sjahrir bingung dan putus asa, maka pada bulan Juli 1947 dengan terpaksa
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri, karena sebelumnya dia sangat
menyetujui tuntutan Belanda dalam menyelesaikan konflik antara pemerintah RI dengan Belanda.

Menghadapi aksi Belanda ini, bagi pasukan Republik hanya bisa bergerak mundur dalam
kebingungan dan hanya menghancurkan apa yang dapat mereka hancurkan. Dan bagi Belanda,
setelah melihat keberhasilan dalam aksi ini menimbulkan keinginan untuk melanjutkan aksinya
kembali. Beberapa orang Belanda, termasuk van Mook, berkeinginan merebut Yogyakarta dan
membentuk suatu pemerintahan Republik yang lebih lunak, tetapi pihak Amerika dan Inggris yang
menjadi sekutunya tidak menyukai ‘aksi polisional’ tersebut serta menggiring Belanda untuk segera
menghentikan penaklukan sepenuhnya terhadap Republik.
Agresi Militer Belanda II
Agresi Militer Belanda I mendapatkan berbagai kecaman dunia internasional. Salah satunya adalah
PBB dengan membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang bertujuan menyelesaikan masalah
Indonesia ke meja perungingan. Pada akhirnya atas prakarsa dari KTN, Indonesia dengan Belanda
dipertemukan kembali dalam sebuah perundingan yaitu Perundingan Renville. Indonesi dengan
Belanda kemudian berunding dan menghasilkan keputusan yang dianggap sangat merugikan
Indonesia.

Belanda yang merasa berkuasa, akhirnya kembali melakukan serangan yang kedua. Agresi Milner
Belanda II atau Operasi Gagak terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan
terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta,
Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya
Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin
Prawiranegara.

Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara
Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta. Kabinet mengadakan sidang kilat.
Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat
dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan. Peristiwa
agresi ini terjadi pada tanggal 19 Desember 1948, dan penyerangan tersebut terjadi di kota
Yogyakarta. Belanda menyerangnya dari segala jurusan dan telah menduduki kota tersebut.
Tujuannya adalah menghancurkan Indonesia

Penyerangan Belanda ini di karenakan pada pada tanggal 2 November 1948, Kementrian
Penerangan RI menyangkal tuduhan Belanda tentang pelanggaran gencatan senjata. Tuduhan-
tuduhan Belanda itu sama dengan sebelum aksi militernya tanggal 21-7-1947. Pada tanggal 4-11-
1948, Perdana Mentri Hatta mengatakan. bahwa suasana Indonesia-Belanda sangat buruk dan
mengingatkan kepada keadaan sebelum tanggal 20 Juli 1947 (sebelum aksi militer Belanda D. Dan
bersamaan dengan itu Nehru di Kairo menyatakan, bahwa ada satu kekuasaan kolonial menyerang
Indonesia, hal ini akan menimbulkan reaksi berbahaya di India dan dunia lainnya.

Banyak pihak yang terlibat dalam peristiwa ini, terutama Amerika dan Australia yang meminta
supaya diadakan sidang istimewa dewan keamanan untuk membicarakan agresi militer yang
dilakukan oleh Belanda terhadap Republik Indonesia, bersamaan dengan waktu itu pula, apa yang
dinamakan kabinet Negara Indonesia Timur. meletakkan jabatan sebagai protes atas agresi Belanda
terhadap Republik Indonesia.

Putusan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta tentang pemindahan kekuasaan : kepada Mr.
Sjafrudin Prawiranegara, dengan perantaraan radio diberi kuasa untuk membentuk Pemerintah
Darurat Indonesia (PDRI) di Sumatra. Bersamaan dengan itu apa yang dinamakan Kabinet
Pasundan, menyerahkan mandatnya kepada “Wali Negara” sebagai protes atas agresi Belanda
terhadap Republik Indonesia.

Pada tanggal 22 Desember 1948, KTN mengawatkan kepada dewan keamanan laporan yang isinya
menyalahkan Belanda sebagai aggressor dan yang melanggar perjanjian. Pada tanggal 23 Desember
1948, Rusia mengajukan resolusi kepada Dewan Keamanan mengecam Belanda sebagai aggressor.
India dan Pakistan melarang pesawat KLM (Belanda) terbang di atas wilayahnya serta tidak
diperkenankan mendarat disana. Pada tanggal 24 Desember 1948, dewan keamanan menerima
Resolusi Amerika Serikat Diperintahkan dengan segera kepada Belanda dan Indonesia untuk
menghentikan tembak-menembak dan membebaskan pimpinan-pimpinan republik yang ditawan.
Pada tanggal 27 Desember 1948, Presiden Sukarno, Sultan Sjahrir dan H. Agus Salim ditawan
di Brastagi. sedangkan Wakil Presiden Hatta di Bangka. Juga beberapa pimpinan-pimpinan
lainn mengalami hal yang serupa (ditawan di Sumatra).

Pada tanggal 29 Desember 1948, pasukan gerilya menyerang pasukan Belanda di seluruh kota
yogyakarta (serangan pertama). Pada tanggal 31 Desember 1948. Presiden Sukarno, Syahrir, dan
H. Agus Salim oleh Belanda dipindahkan pengasinganya ke Prapat. Sebagai hasil diplomasi
republic maka di New Delhi dari tanggal 20 sampai 23 Januari 1949 berlangsung koprensi Asia yang
dihadiri oleh 21 Negara Asia dan Australia. Resolusi konprensi Asia tersebut tentang sengketa
Indonesia-Belanda ini, berpengaruh besar kepada resolusi Dewan Keamanan PBB berikutnya.

Mr. A. A. Maramis, Mentri Keuangan Republik yang sedang berada di New Delhi, di tunjuk
sebagai Mentri Luar Negeri dalam Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Pada
tanggal 24 Januari 1949, Resolusi konprensi New Delhi dikirim kepada Dewan Keamanan PBB,
yang menuntut antara lain : Pembebasan para pemimpin (pembesar) Republik Indonesia dan
Penarikan mundur Belanda dari Yogyakarta dan penarikan berangsur-angsur tentara Belanda dari
daerah-daerah yang diduduki sejak 19 Desember 1948.

KK. PENGAKUAN KEDAULATAN INDONESIA


Kedatangan Sekutu ke tanah air dibonceng oleh tentara NICA (Belanda) yang ingin kembali
menjajah Indoneisa. Hal tersebut bertentangan dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Oleh
karena itu dalam periode 1945-1949, bangsa Indonesia melakukan usaha dalam rangka
mempertahankan kemerdekaan. Pemerintah dan rakyat bersama-sama dan satu semangat untuk
mengusir Belanda dari Indonesia.

Usaha yang dilakukan dengan dua cari yakni diplomasi dan militer. Jalur diplomasi dipilih
dikarenakan bahwa persenjataan bangsa Indonesia sangat terbatas yakni hasil dari rampasan Jepang,
selain itu jalur diplomasi dipilih juga dikarenakan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.
Diplomasi juga merupakan taktik bangsa Indonesia untuk menarik dukungan internasional yang
mencitrakan bahwa bangsa Indonesia adalah negara suka dengan perdamaian. Beberapa
perungingan yang dilakukan dengan Belanda antara lain: Perundingan Linggarjari, Renville, Roem-
Royen dan Konferensi Meja Bundar (KMB).
Strategi dalam mempertahankan kemerdekaan juga melalui jalur militer atau dengan menggunakan
kekuatan fisik. Pada awal kemerdekaan, Indonesia tidak segera membentuk tentara nasional
melainkan membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR yang dibentuk pada tanggal 22
Agustus 1945 tidak memuaskan bagi beberapa kalangan sehingga menuntut pemerintah untuk
membentuk tentara nasional. Maka keluarlah maklumat 5 Oktober 1945 yang menyatakan
pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Perjuangan secara Diplomasi dan Militer, bagaikan satu keping mata uang yang tidak bisa
dipisahkan. Diplomasi dan militer sangat mendukung dalam upaya mendapatkan pengakuan
kedaulatan. Puncak dari perjuangan tersebut, terjadi Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.
Pemerintah Belanda dan RI duduk satu meja guna membahas pengakuan kedaulatan Indonesia.
Hasilnya adalah Belanda mengakui kedaulatan Indoneisa.

Upacara pengakuan kedaulatan dilakukan secara bersamaan, baik di Indonesia maupun di


Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.
 Di ruang istana Kerajaan Belanda; Ratu Juliana, PM Dr. William Drees, Menteri Seberang Lautan
Mr. A.M.J.A Sassen, dan Ketua Delegasi RIS Drs. Moch. Hatta secara bersama-sama
membubuhkan tanda tangan pada naskah pengakuan kedaulatan tersebut;
 Di Jakarta; Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda, A.H.J. Lovink
dalam suatu upacara secara bersama-sama membubuhkan tanda tangan pada naskah pengakuan
kedaulatan tersebut;
 Pada waktu yang sama, di Yogyakarta dilakukan penyerahan kedaulatan RI kepada RIS.

Pemerintah Belanda tidak bersedia menyelesaikan masalah Irian Barat (Papua sekarang) seperti
yang disebutkan dalam isi perjanjian KMB. Sedangkan dari dalam negeri timbul masalah baru yang
berkaitan dengan: (1) masalah integrasi, (2) masalah angkatan bersenjata, dan (3) masalah
penolakan rakyat negara-negara bagian terhadap RIS (bentuk negara federasi).

LL. DUKUNGAN INDIA TERHADAP KEMERDEKAAN INDONESIA


Bangsa India dan bangsa Indonesia sama-sama pernah dijajah oleh bangsa asing. India dijajah oleh
Inggris dan Indonesia dijajah oleh Belanda, Inggris dan Jepang. Sebagai bangsa yang sama-sama
menentang penjajahan, terjalin rasa yang sama, senasib, dan sependeritaan. Oleh karena itu ketika
pemerintah dan rakyat India mengalami bahaya kelaparan pemerintah Indonesia menawarkan
bantuan berupa padi 500.000 ton. Peristiwa tersebut terkenal dengan india rice. India rice selain
untuk memberikan bantuan kepada India yang sedang dilanda kelaparan, juga merupakan
cara dari pemerintah untuk mendapatkan dukungan dari negara lain.

Perjanjian bantuan Indonesia kepada India ditandatangani oleh Perdana Menteri Sjahrir dan
K.L. Punjabi, wakil pemerintah India (18 Mei 1946) Kesepakatan ini sebenarnya ialah barter
antara Indonesia dengan India. Hal ini terbukti dari dikirimkannya obat-obatan ke Indonesia oleh
India untuk membalas bantuan Indonesia. Hal ini juga dimaksudkan untuk menembus blokade yang
dilakukan Belanda terhadap Indonesia.

Penyerahan padi ini dilakukan pada tanggal 20 Agustus 1946 d Probolinggo Jawa Timur, yang
kemudian diangkut ke India dengan kapal laut yang disediakan oleh pemerintah India sendiri.
Diplomasi beras ini sebenarnya ditentang oleh Belanda, karena gaung yang ditimbulkan
menyebabkan Indonesia semakin mendapat simpati dari negara lain.

Ketika Jenderal Spoor melakukan Agresi Belanda ke-II tanggal 19 Desember 1948, India merupakan
salah satu negara yang mengkutuk tindakan Belanda tersebut. Reaksi keras itu diwujudkan dalam
penyelenggaraan Konferensi Asia di New Delhi atas prakarsa Perdana Menteri India, Pandit
Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Birma U Aung San. Konferensi ini dihadiri oleh negara-
negara asia, seperti: Pakistan, Afganistan, Sri Lanka,Nepal, Libanon, Siria, dan Irak. Delegasi Afrika
berasal dari Mesir dan Ethiopia. Konferensi ini juga dihadiri utusan dari Australia, sedang Indonesia
dalam ini diwakili oleh Dr. Sudarsono.

Konferensi Asia di New Delhi ini dilaksanakan selama empat hari, mulai dari tanggal 20
sampai dengan tanggal 25 Januari 1949. Resolusi yang dihasilkan mengenai masalah
Indonesia adalah sebagai berikut:
 pengembalian pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta
 pembentukan Pemerintah ad interim yang mempunyai kemerdekaan dalam politik luar negeri,
sebelum tanggal 15 Maret 1949
 penarikan tentara Belanda dari seluruh Indonesia
 penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia Serikat paling lambat 1 Januari 1950

MM. FAKTOR BELANDA KELUAR DARI INDONESIA


Selain adanya hasil KMB, berbagai kondisi baik itu dari dalam negeri dan luar negeri memaksa
Belanda untuk segera keluar dari Indonesia
Faktor dari dalam
Faktor dari dalam negeri Indonesia yang memaksa Belanda keluar dari Indonesia antara lain:
 Belanda menyadari bahwa kekuatan militer tidak cukup untuk menghadapi militer Indonesia
yang berjumlah banyak dengan semangat luar biasa untuk mengusir penjajah
 Perang yang berkepanjangan membuat hancurnya perkebunan dan pabrik-pabrik Belanda yang
ada di Indonesia
 Belanda tidak mendapat dukungan dari dalam negeri Indonesia
 Para pejuang Indonesia melakukan perang gerilya dan serangan terus menerus terhadap kekuatan
Belanda di Indonesia

Faktor dari Luar


Sedangkan faktor dari luar negeri yang membuat Belanda harus meninggalkan Indonesia antara lain:
Sikap dari PBB, negara negara Asia-Afrika dan Amerika Serikat.
 Resolusi DK PBB
Pada tanggal 28 Januari 1949, Dewan Keamanan (DK) PBB mengeluarkan resolusi yang
disampaikan kepada Indonesia dan Belanda antara lain: (a) mendesak kepada Belanda untuk
menghentikan seluruh operasi militer, dan kepada Indonesia agar menghentikan perang gerilya, (b)
mendesak Belanda untuk membebaskan pemimpin Indonesia yang ditangkap saat mengadakan
Agresi Militer Belanda II, (c) menganjurkan Indonesia dan Belanda untuk membuka kembali
perundingan.

 Konferensi Asia di New Delhi


Sebelumnya tanggal 19 Desember 1949, P.J Nehru (dari India) dan U Aung San (dari Myanmar)
memprakarsai Konferensi Asia yang diselenggarakan di New Delhi tanggal 20-23 Januari 1949 yang
dihadiri negara negara antara lain: Afghanistan, Australia, Myanmar, Sri Langka, Ethiopia, India,
Iran, Irak, Libanon, Pakistan, Philipina, Saudi Arabia, Suriah dan Yaman. Wakil Indonesia yang
hadir dalam konferensi Asia antara lain A.A Maramis, Sudarsono, dan Soemitro Djojohadikusumo.
Hasil dari konferensi Asia berupa resolusi yang akan diajukan kepada PBB. Isi resolusi konferensi
Asia antara lain:
 Pengembalian pemerintah Indonesia ke Yogyakarta
 Pembentukan pemerintah ad interim yang mempunyai kemerdekaan dalam politik luar
negeri
 Penarikan tentara Belanda dari seluruh Indonesia
 Penyerahan kedaulatan paling lambat pada tanggal

 Sikap Amerika Serikat


Pada awalnya, Amerika Serikat membantu Belanda dalam banyak hal, salah satunya adalah dengan
kembali berkuasa Indonesia. Belanda merupakan salah satu Sekutu dari Amerika Serikat pada
Perang Dunia II terutama untuk kawasan di Eropa Barat. Amerika Serikat memberikan bantuan
ekonomi dan militer untuk Belanda dalam Marshall Plan. Tujuan dari Amerika Serikat ini tidak bisa
dipisahkan dari politik Amerika Serikat dalam perang dingin dengan Uni Soviet.
Sikap Amerika terhadap Indonesia berubah setelah pemerintah Indonesia menumpas pemberontakan
PKI Madiun yang ada kaitannya dengan Uni Soviet. Langkah yang dilakukan pemerintah Indonesia
menumpas pemberontakan PKI inilah yang menjadikan kebijakan Amerika Serikat kemudian
mendukung Indonesia dan mendesak Belanda untuk keluar dari Indonesia. Amerika Serikat
menganggap bahwa Indonesia sebagai sekutu yang kuat untuk membendung komunisme di kawasan
Asia Tenggara. Amerika Serikat takut kalau pada akhirnya tetap mendukung Belanda, akan
membuat Indonesia mendekat kepada Uni Soviet.

NN. PERANAN PBB DALAM MASALAH INDONESIA-BELANDA


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah salah satu organisasi dunia yang terbentuk pasca
terjadinya Perang Dunia II. Gagasan pendirian PBB dirintis oleh Perdana menteri Inggris,
Winston Churchil dan Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Rosevelt. Secara resmi
berdiri tanggal 24 Oktober 1945. Pada saat itu, lima negara besar (the big five) yakni Amerika
Serikat, Inggris, Perancis, Rusia dan Cina serta 50 negera menghadiri Konferensi San Fransisco dan
menandatangani United Nations Charter (Piagam PBB).

PBB memiliki tujuan memelihara perdamaian dunia dan keamanan internasional terlibat juga dalam
usaha menyelesaikan konflik antara Indonesia dengan Belanda. Konflik Indonesia Belanda sendiri
dilatarbelakangi oleh kedatangan AFNEI yang dibonceng NICA (pemeritahan sipil Belanda untuk
Indonesia). NICA ingin kembali menegakkan kekuasaan Belanda kembali di Indonesia. Hal ini
merupakan ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia.

PBB mulai ikut ambil bagian pada konflik Indonesia-Belanda, saat Belanda melakukan agresi
militer I sebagai pengingkaran terhadap Perundingan Linggarjati. PBB kemudian membentuk
Komisi Jasa Baik pada tanggal 18 September 1947 yang kemudian dikenal dengan Komisi Tiga
Negara (KTN) dikarenakan terdiri dari tiga negara. KTN bertugas membantu menyelesaikan
sengketa antara Indonesia-Belanda. KTN terdiri dari Australia yang ditunjuk Indonesia, Belgia yang
ditunjuk oleh Belanda dan Amerika Serikat yang ditunjuak keduanya. Australia membantu Indonesia
dikarenakan partai Buru di sana bersimpati dengan perjuangan Indonesia. Wakil dari Australia
adalah Richard Kirby, wakil Belgia adalah Paul Van Zeeland dan wakil Amerika Serikat adalah
Frank Graham. Kemudian KTN berhasil membawa kembali Indonesia dan Belanda ke Perjanjian
selanjutnya, yaitu Perjanjian Renville.

Selain pembentukan KTN, Pada tanggal 28 Januari 1949 mengeluarkan resolusinya yang isinya
sebagai berikut:
 Penghentian semua operasi militer dengan segera oleh Belanda dan penghentian semua aktivitas
gerilya oleh Republik,
 Pembebasan dengan segera dengan tidak bersyarat semua tahanan politik di dalam daerah
Republik oleh Belanda semenjak tanggal 19 Desember 1949
 Belanda harus memberikan kesempatan kepada para pemimpin Indonesia untuk kembali ke
Yogyakarta
 Perundingan-perundingan akan dilakukan dalam waktu yang secepat-cepatnya
 Mulai sekarang Komisi Jasa-Jasa Baik (Komisi Tiga Negara) ditukarnamanya menjadi Komisi
Perserikatan Bangsa-Bangsa untukIndonesia (United Nations Commission for Indonesia atau
UNCI), yang bertugas membantu melancarkan perundingan-perundingan.

Indonesia kemudian secara resmi menjadi anggota PBB pada masa kabinet Moh Natsir yakni
pada tanggal 28 September 1950 menjadi negara ke-60. Hal ini sesuai dengan dasar politik luar
negeri Indonesia yang bebas-aktif. Wakil tetap Indonesia di PBB adalah L.N Palar yang pernah
berbicara pada Sidang Majelis Umum PBB (1950). Indonesia pernah menjadi Presiden Majelis
Umum PBB (1971) yang diwakili oleh Adam Malik.

Peranan PBB dalam konflik Indonesia dengan Belanda tidak hanya terjadi pada masa usaha
mempertahankan kemerdekaan (1945-1949), melainkan juga pada saat Indonesia melakukan upaya
mengembalikan Irian Barat dalam pangkuan ibu pertiwi. Belanda bersikeras untuk mempertahankan
Irian Barat agar tidak masuk ke dalam wilayah Indonesia.

PBB menjadi penengah antara Indonesia dengan Belanda. Pasca perundingan New York, maka
wilayah Irian Barat dibawah kendali PBB melalui United Nations Temporary Authority (UNTEA).
UNTEA selaku pemerintahan sementara PBB kemudian menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia
pada tanggal 1 Mei 1969. PBB juga turut serta dalam penentuan pendapat rakyat (pepera) dengan
mengirimkan duta besarnya yakni Ortis Sanz.

OO. KONDISI EKONOMI INDONESIA PASCA KEMERDEKAAN


Pasca Proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia harus
mengatur kehidupan sendiri. Pola ekonomi yang masih menganut pola perekonomian kolonial,
membuat ekonomi Indonesia semakin terpuruk. Banyak kesulitan dalam bidang keuangan yang
dihadapi oleh pemerintah yang baru itu, yang harus segera diselesaikan. Sumber keuangan yang
masih sangat terbatas dan pengeluaran yang besar, menjadi salah satu ciri dari kondisi keuangan
pada masa awal kemerdekaan.

Revolusi dalam rangka mempertahankan kemerdekaan juga membutuhkan biaya dalam usaha
tersebut. Selain itu juga untuk menggaji pegawai pemerintah, keuangan negara yang sangat terbatas.
Oleh karena itu pemerintah kemudian menggambil berbagai kebijakan dalam rangka mengatasi
permasalahan-permasalahan dalam bidang ekonomi pada awal terbentuknya negara kesatuan
Republik Indonesia.

Berbagai masalah ekonomi yang ada pada awal kemerdekaan antara lain:
 Kas negara yang masih kosong. Penghasilan utama pemerintah hanya bergantung pada sektor
pertanian.
 Perkebunan dan instalasi industry rusak berat akibat adanya politik bumi hangus saat menghadapi
kedatangan Belanda. Politik bumi hangus dilakukan agar tempat-tempat penting yang
ditinggalkan oleh rakyat Indonesia tidak dapat dimanfaatkan oleh Belanda.
 Jumlah penduduk yang meningkat tajam dan jumlah makanan yang terbatas.
 Belum memiliki pola dan cara untuk mengatur keuangan. Selain itu juga adanya mentalitas
bangsa Indonesia yang belum siap maju.
 Beredarnya mata uang Jepang yang semakin merosot nilai tukarnya. Selain itu inflasi juga
disebabkan oleh adanya tiga mata uang yang beredar di masyarakat. Selain mata uang Jepang,
beredar pula mata uang Hindia Belanda dan uang dari De Javasce Bank.

Berbagai kondisi ekonomi tersebut diperparah dengan adanya blokade ekonomi yang dilakukan oleh
Belanda. Belanda melakukan blokade dengan dalih untuk melindungi Indonesia dari intervensi
asing, untuk mencegah dimasukannya senjata dan alat-alat militer ke Indonesia dan mencegah
dikelurkannya hasil perkebunan Belanda. Padahal pada hakekatnya tujuan Belanda melakukan hal
tersebut adalah untuk menghancurkan Indonesia melalui bidang ekonomi. Blokade ini menimbulkan
barang ekspor Indonesia tidak bisa keluar, sekaligus barang impor tidak dapat diterima. Selain itu
blokade ekonomi juga menambah inflasi semakin tinggi.
Selain adanya blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda, kondisi ekonomi juga diperburuk
dengan adanya gangguan keamanan di berbagai daerah seperti PKI Madiun dan DI/TII Jawa Barat
yang dalam penumpasannya membutuhkan biaya yang besar.

PP. PERMASALAHAN EKONOMI PASCA KEMERDEKAAN INDONESIA


Pasca pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, permasalahan yang dihadapi oleh
bangsa Indonesia di bidang ekonomi sangatlah kompleks. Pada Demokrasi Liberal sering terjadi
pergantian kebinet selain itu juga terjadi banyak pemberontakan sehingga hal tersebut
mengakibatkan pembangunan ekonomi tidak dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Berikut
ini permasalahan ekonomi yang terjadi pasca pengekuan kedaulatan, antara lain:

 Belum terwujudnya kemerdekaan ekonomi


Kondisi perekonomian Indonesia pasca pengakuan kedaulatan masih dikuasai oleh asing. Untuk itu
para ekonom menggagas untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
Salah satu tokoh ekonom itu adalah Sumitro Djoyohadikusumo. Ia berpendapat bahwa bangsa
Indonesia harus secepatnya ditumbuhkan kelas pengusaha. Pengusaha yang bermodal lemah harus
diberi bantuan modal. Program ini dikenal dengan gerakan ekonomi Program Benteng. Tujuannya
untuk melindungi usaha-usaha pribumi. Ternyata program benteng mengalami kegagalan.
Banyak pengusaha yang menyalahgunakan bantuan kredit untuk mencari keuntungan secara cepat.

 Perkebunan dan instalasi-instalasi industri rusak


Akibat penjajahan dan perjuangan fisik, banyak sarana prasarana dan instalasi industri mengalami
kerusakan. Hal ini mengakibatkan kemacetan dalam bidang industri, kondisi ini mempengaruhi
perekonomian nasional.

 Jumlah penduduk meningkat cukup tajam


Pada pasca pengakuan kedaulatan, laju pertumbuhan penduduk meningkat. Pada tahun 1950
diperkirakan penduduk Indonesia sekitar 77,2 juta jiwa. Tahun 1955 meningkat menjadi 85,4 juta.
Laju pertumbuhan penduduk yang cepat berakibat pada peningkatan impor makanan. Sejalan
dengan pertumbuhan penduduk kebutuhan akan lapangan kerja meningkat. Kondisi tersebut
mendorong terjadinya urbanisasi.

 Hutang negara meningkat dan inflasi cukup tinggi


Setelah pengakuan kedaulatan, ekonomi Indonesia tidak stabil. Hal itu ditandai dengan
meningkatnya hutang negara dan meningginya tingkat inflasi. Hutang Indonesia meningkat
karena Ir. Surachman (selaku Menteri Keuangan saat itu) mencari pinjaman ke luar negeri
untuk mengatasi masalah keuangan negara. Sementara itu, tingkat inflasi Indonesia meninggi
karena saat itu barang-barang yang tersedia di pasar tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.
Akibatnya, harga barang-barang kebutuhan naik.

 Defisit dalam perdagangan internasional


Perdagangan internasional Indonesia menurun. Hal ini disebabkan Indonesia belum memiliki
barang-barang ekspor selain hasil perkebunan. Padahal sarana dan produktivitas perkebunan telah
merosot akibat berbagai kerusakan.

 Kekurangan tenaga ahli untuk menuju ekonomi nasional


Pada awal pengakuan kedaulatan, perusahaan-perusahaan yang ada masih merupakan milik
Belanda. Demikian juga tenaga ahlinya. Tenaga ahli masih dari Belanda, sedang tenaga Indonesia
hanya tenaga kasar. Oleh karena itu Mr. Iskaq Tjokroadikusuryo melakukan kebijakan
Indonesianisasi. Kebijakan ini mendorong tumbuh dan berkembangnya pengusaha swasta nasional.
Langkahnya dengan mewajibkan perusahaan asing memberikan latihan kepada tenaga bangsa
Indonesia.

 Rendahnya Penanaman Modal Asing (PMA) akibat konflik Irian Barat


Akibat konflik Irian Barat kondisi politik tidak stabil. Bangsa Indonesia banyak melakukan
nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda. Sebagai dampak nasionalisasi, investasi asing
mulai berkurang. Investor asing tidak berminat menanamkan modalnya di Indonesia. Pada tahun
1960-an terjadi disinvestasi yang cukup tajam akibat konflik Irian Barat. Akibatnya kapasitas
produksi menurun karena terjadi salah urus dalam perusahaan.

QQ. PENATAAN EKONOMI AWAL KEMERDEKAAN (1945-1949)


Pada awal kemerdekaan, terjadi inflasi yang sangat tinggi sebagai akibat tak terkendalinya peredaran
uang Jepang. Pada waktu itu, pemerintah mengakui beredarnya tiga mata uang, yaitu:
 Uang De Javanche Bank,
 Uang Hindia Belanda,
 Uang Jepang.

Hal ini kemudian diperparah dengan kebijakan Belanda yang memblokade Indonesia pada bulan
November 1945 yang mengakibatkan hasil ekspor Indonesia tidak bisa dikirim keluar negeri begitu
pula produk-produk luar negeri yang dibutuhkan tidak bisa masuk Indonesia. Berbagai upaya
kemudian dilakukan dalam rangka menata ekonomi Indonesia

Pinjaman Nasional
Untuk mengatasi persoalan keungan, pemerintah melalui Menteri Keuangan, Ir. Surachman
merencanakan untuk mengeluarkan kebijakan pinjaman nasional dan telah disetujui oleh BP KNIP.
Pinjaman itu diperkirakan mencapai Rp 1,000,000,000.oo yang dibagi menjadi dua tahap. Pinjaman
itu akan dikembalikan dalam waktu 40 tahun. Kebijakan itu mendapat dukungan dari rakyat dengan
bukti pemerintah mampu menghimpun tabungan rakyat sebesar Rp 500,000,000,00.

Mengeluarkan ORI
Ternyata, keadaan perekonomian tersebut terus memburuk karena berbagai kebijakan Belanda yang
mencampuri urusan Indonesia. Belanda mengeluarkan uang NICA pada tanggal 6 Maret 1946 untuk
mengganti Jepang. Sementara, pemerintah Indonesia pada tanggal 26 Oktober 1946 mengeluarkan
uang kertas baru, yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI). Semenjak dikeluarkannya ORI kemudian
mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda, dan mata uang de javasche bank tidak berlaku di
wilayah Indonesia.

Pembentukan BNI
Bank Negara Indonesia (BNI) dibentuk oleh Margono Djojohadikusumo pada 5 Juli 1946. BNI
menjadi bank sentral dan sirkulasi yang bertanggung jawab menerbitkan dan mengelola mata uang.
Saat Indonesia mengeluarkan ORI, BNI mengedarkan alat pembayaran resmi tersebut. pada tahun
1955, peran BNI beralih menjadi Bank Pembangunan dan kemudian mendapatkan hak untuk
bertindak sebagai bank devisa. Pada tahun ini juga BNI beralih menjadi bank umum dengan
penetapan secara yuridis melalui Undang-undang Darurat No. 2 tahun 1955.

Banking and Trading Corporation (BTC)


Dipimpin oleh Sumitro Joyohadikusumo dan Dr. Ong Eng Die. Berhasil mengadakan traksaksi
dengan perusahaan swasta Amerika Serikat. Barang yang diekspor adalah gula, karet, dan teh. Salah
satu traksaksinya dengan perusahaan Amerika Serikat, Insbranton Inc dengan menggunakan kapal
Martin Behremann dicegat oleh Belanda.

Indonesia Office (Indoff)


Adanya blokade laut yang dibuat Belanda membuat ekspor Indonesia tidak bisa leluasa. Barang
yang masuk dan keluar dari Indonesia dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Salah satu pintu
masuknya adalah melalui Singapura. Pada tahun 1947 dibentuk Indonesia Office (Indoff) di
Singapura. Secara resmi Indoff merupakan badan yang memperjuangkan kepentingan politik di luar
negeri, namun secara rahasia juga berusaha menembus blokade dan usaha perdagangan barter.
Indoff diketuai oleh Mr. Oetojo Ramelan.

India Rice
Pemerintah Syahrir berusaha menembus blokade yang dilakukan oleh Belanda. Salah satu usaha
politis dilakukan dengan cara mengirimkan beras ke India yang sedang menderita kelaparan.
Indonesia kemudian mengirimkan 500.000 ton beras dengan harga yang sangat rendah. Sebagai
imbalannya India mengirimkan bahan pakaian dan obat-obatan yang diperlukan oleh Indonesia.
Selain itu juga, India sangat aktif mendukung kemerdekaan Indonesia.

Kementerian Pertahanan Usaha Luar Negeri (KPULN)


Kementerian Pertahanan Usaha Luar Negeri atau KPULN dipimpin oleh Jayengprawiro. KPULN
bertugas untuk membeli senjata dan perlengkapan perang lainnya dan berusaha memasukan ke
Indonesia. Salah satu tokoh yang berhasil memasukkan senjata adalah Laksamana Muda Yahya
Daniel Dharma atau John Lie. John Lie menyelundukan senjata dari Singapura.

Konferensi Ekonomi
Konferensi Ekonomi pertama
Dilaksanakan pada bulan Februari 1946 yang dipimpin oleh Ir. Darmawan Mangunkusumo.
Tujuan dari konferensi ekonomi adalah untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam
menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak seperti; masalah produksi dan distribusi,
masalah sandang, dan status administrasi perkebunan.

Konferensi Ekonomi Kedua


Diadakan di Solo pada tanggal 6 Mei 1946 untuk membahas program ekonomi pemerintah, masalah
keuangan negara, pengendalian harga, distribusi dan alokasi tenaga manusia. Saran dari Moh Hatta
adalah dengan mendakan rehabilitas pabrik gula.

Konferensi ekonomi menghasilkan beberapa kebijakan, seperti:


 Pembentukkan Badan Persediaan dan Pembagian Bahan Makanan (BPPBM) yang menjadi
cikal bakalnya Bulog
 Pembentukan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN);
 Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) atas inisiatif Menteri
Kemakmuran, dr. A.K. Gani.

Nasionalisasi Perusahan Belanda


Sejak pengakuan kedaulatan, pemerintahan Indonesia dihadapkan dengan masalah gawat yang
bertalian dengan dipertahankannya dominasi Belanda atas ekonomi Indonesia. Sebagaimana
diketahui bahwa dalam KMB, pihak Indonesia telah menyetujui untuk menghormati hak-hak dan
mengakui kepentingan- kepentingan perusahaan Belanda di Indonesia. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa kemerdekaan ekonomi belum tercapai karena beberapa sektor ekonomi Indonesia
yang strategis masih dikuasai dan dikendalikan perusahaan-perusahaan swasta Belanda. Ada lima
perusahaan swasta Belanda yang memegang monopoli kegiatan ekonomi di Indonesia. Kelima
perusahaan itu sering disebut sebagai “the big five”, terutama karena sebagai pemegang monopoli
kegiatan ekonomi Indonesia yaitu:
 NV Jacobson dan van den Berg bergerak dalam bidang perdagangan ekspor impor. Setelah
dinasionalisasi kemudian namanya berganti menjadi PT Fadjar Bhakti
 NV Internatio bergerak dalam bidang perkapalan, perkebunan, dan industry tekstil. Setalah
dinasionalisasi kemudian namanya berganti menjadi PT Aneka Bhakti
 NV Borneo-Sumatera Maatschappiy (Barsumij), bergerak dalam bidang perindustrian
dengan beberapa anak perusahaan seperti pabrik teksil Nebritex. Setelah dinasionalisasi
namanya berganti menjadi PT Budi Bhakti
 NV Lindeteves, bergerak dalam bidang perindustrian dan peralatan teknik untuk keperluan
industry dalam negeri. Setelah dinasionalisasi kemudian namanya berganti menjadi PT Tulus
Bhakti
 NV Geo Wehry, bergerak dalam bidang perkebunan dan sector perdagangan dalam negeri.
Setalah dinasionalisasi namanya berganti menjadi PT Marga Bhakti.
Selain menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda juga menasionalisasi De Javasche Bank
yang kemudian menjadi Bank Indonesia. Hal ini terjadi pada masa Demokrasi Liberal (1950-
1959) yakni pada masa Kabinet Sukiman.

Pembentukan Planning Board


Planning board (badan perancang ekonomi) dibentuk pada tanggal 19 Januari 1947.
Pembentukan ini atas inisiatif dari A.K Gani. Tugas dari badan perancang ekonomi adalah
membuat rencana pembangunan ekonomi untuk jangka waktu 2 sampai 3 tahun. Untuk menampun
dana pembangunan maka dibentuk bank pembangunan. Badan Perancang Ekonomi ini kemudian
diperluas menjadi Panitia Pemikir Siasat Ekonomi.

Panitia Pemikir Siasat Ekonomi


Ini merupakan tindakan lanjut dari Badan Perancang Ekonomi. Panitia Pemikir Siasat Ekonomi
diketua oleh Moh Hatta dan A.K Gani sebagai wakilnya. Tugas dari Panitia Pemikir Siasat
Ekonomi adalah mempelajari, mengumpulkan data, dan memberikan saran kepada pemerintah
dalam merencanakan pembangunan ekonomi. Badan ini tidak bisa berjalan maksimal dikarenakan
adanya agresi militer belanda II. Hal ini diperparah dengan adanya pemberontakan PKI di Madiun
1948.

Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang(RE-RA)


Diprakarsai oleh Moh Hatta dengan tujuan untuk mengurangi beban negada dalam bidang ekonomi
selain juga untuk meningkatkan efisiensi angktan perang. Sejumlah angkatan perang dikurangi
selanjutnya tenaga bekas angkatan perang disalurkan ke bidang-bidang produktif dan diurus oleh
kementeria pembangunan dan pemuda. Kebijakan ini kemudian menimbulkan masalah, yakni PKI
Madiun. Front Demokrasi Rakyat yang dipimpin oleh Amir Syarifudin tidak terima dengan
kebijakan tersebut dikarenakan banyak anggota FDR dan PKI yang banyak anggotanya dikeluarkan
dari angkatan perang.

Rencana Kasimo
Program ini disusun oleh Menteri Urusan Bahan Makanan, I.J Kasimo. Pada dasarnya program
ini berupa Rencana Produksi Tiga Tahun (1948-1950) mengenai usaha swasembada pangan.
Rencana Kasimo meliputi:
 Anjuran memperbanyak kebun bibit dan padi unggul
 Penyembelihan hewan pertanian dilarang
 Tanah-tanah kosong harus ditanami
 Transmigrasi ke Sumatera

Persatuan Tenaga Ekonomi (PTE)


Organisasi ini dipimpin oleh B.R Motik, bertujuan unutk menggiatkan partisipasi pengusaha
swasta. Pembentukan PTE diharapkan dapat melenyapkan individualisasi kalangan pedagang
sehingga dapat memperkokoh ketahanan ekonomi Indonesia. PTE tidak mampu berkembang. PTE
hanya mampu mendirikan bank PTE di Yogyakarta. Kegiatan PTE kemudian semakin mundur
akibat adanya Agresi Militer Belanda II.

[1] Netherland Indies Civil Administration (NICA) dibentuk pada tanggal 3 April 1944 di Australia
yang bertugas mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintahan kolonial di Hindia-
Belanda. NICA dipimpin oleh H.J. Van Mook. NICA mengadakan perjanjian dengan tentara Sekutu
mengenai wilayah Hindia-Belanda yang dikuasi oleh Sekutu akan diserahkan kepada NICA.

[2] De Javasche Bank didirikan berdasarkan surat keputusan Komisaris Jenderal Hindia Belanda No
25 pada tahun 24 Januari 1828 di Jakarta. Mr. C de Haan diangkat sebagai presiden De Javasche
Bank. De Javsche Bank mendapatkan hak istimewa sebagai bank sirkulasi. Kemudian de Javasche
Bank membuka canbang di Semarang dan Surabaya. Setelah Indonesia merdeka, De Javasche Bank
dirubah namanya menjadi Bank Indonesia dan Syafruddin Prawiranegara sebagai Presiden De
Javasche Bank berdasarkan keputusan Presiden RI No. 123 tanggal 12 Juli 1951

[3]Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali
dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno,
Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya

[4] Pemberontakan PKI di Madiun dipimpin oleh Musso dan Amir Syarifudin. Pada tanggal 18
September 1948, PKI memproklamasikan kemerdekaan Sovyet Republik Indonesia. Pemebrontakan
ini merupakan kelanjutan dari kekecewaan berbagai pihak terhadap isi Perjanjian Renville dan juga
termasuk program Re-Ra yang dibuat oleh Kabinet Hatta dikarenakan kebijakan Re-Ra sangat
merugikan bagi anggota lascar yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang
dipimpin oleh Amir Syarifudin.

[5] Front Demokrasi Rakyat (FDR) dibentuk di Surakarta pada tanggal 26 Februari oleh Amir
Syarifudin. FDR terdiri dari Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia (PKI), Pesindo, PBI dan
Sarbupri. FDR menuntut pemerintah untuk membatalkan Perjanjian Renville yang isinya merugikan
Indonesia.

RR. KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA PADA MASA AWAL KEMERDEKAAN


Penyelenggaraan Konferensi Ekonomi Indonesia
Dalam menanggulangi masalah ekonomi perintah RI juga menempuh tindakan yang bersifat
konseptual. Usaha-usaha tersebut direalisasikan oleh pemerintah pada bulan Februari 1946 dengan
diselenggarakannya Konferensi Ekonomi Indonesia yang pertama. Adapun tujuan konferensi
tersebut adalah untuk memperoleh kesepakatan dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi
negara yang bersifat yang mendesak yang antara lain masalah produksi dan distribusi makanan,
masalah sandang, serta masalah status dan administrasi pengelolaan perkebunan-perkebunan.
Konferensi Ekonomi ke-2 diselenggarakan di Kota Solo pada tanggal 6 Mei 1946. Konferensi ini
memiliki ruang lingkup lebih luas. Masalah yang dibahas adalah program ekonomi pemerintah,
masalah keuangan negara, pengendalian harga, distribusi, dan alokasi tenaga kerja.

Pembentukan Badan Perancang Ekonomi


Setelah diadakannya konferensi ekonomi ke-2, pemerintah tetap berusaha memecahkan masalah
ekonomi nasional. Atas inisiatif Menteri Kemakmuran, A.K. Gani maka tanggal 19 Januari 1917
dibentuk Badan Perancang Ekonomi. Badan ini merupakan badan yang bertugas membuat
rencana pembangunan ekonomi untuk jangka waktu 2 sampai 3 tahun. Selain itu, badan ini juga
bertugas untuk mengkoordinasi dan merestrukturisasi semua cabang produksi dalam bentuk badan
hukum seperti yang dilakukan pada BPPGN dan PPN. Sesudah Badan Perancang Ekonomi
bersidang, Menteri A.K. Gani kemudian mengumumkan rancangan pemerintahan tentang Rencana
Pembangunan Sepuluh Tahun.

Pelaksanaan Rencana Kasimo


Karena perekonomian Indonesia sangat bergantung pada produksi pertanian, maka bidang ini
dijalankan kembali. Oleh Menteri Urusan Bahan Makanan Kasimo diturunkan Rencana Produksi
Tiga Tahun (1948-1950), yang lebih terkenal dengan nama Kasimo Plan. Kasimo Plan adalah
usaha swasembada pangan dengan petunjuk pelaksanaan yang prkatis. Isi dari Kasimo Plan
antara lain:
 Menanami tanah kosong (tidak terurus) di Sumatera Timur seluas 287.277 hektare.
 Melakukan intensifikasi pertanian di Jawa dengan menanam bibit unggul.
 Pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi pangan.
 Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit.
 Pelaksanaan transmigrasi bagi penduduk Jawa.

Oeang Republik Indonesia (ORI)


Sejak akhir pemerintahan pendudukan Jepang sampai awal masa kemerdekaan, keadaan ekonomi
Indonesia mengalami kehancuran. Pada saat itu, inflasi yang hebat menimpa Negara Republik
Indonesia yang baru saja lahir. Sumber inflasi tersebut adalah beredarnya mata uang Jepang secara
tidak terkendali. Jumlah ini semakin bertambah ketika sekutu berhasil menduduki beberapa kota
besar di Indonesia dan menguasai bank-bank. Dari bank-bank itu diedarkan uang cadangan
berjumlah 2,3 milyar guna membiayai operasi-operasi militer dan menggaji pegawai dalam rangka
mengembalikan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.

Pada tanggal 6 Maret 1946, panglima sekutu mengumumkan berlakunya uang NICA sebagai
pengganti uang Jepang. Pemerintah Indonesia menolak penggunaan uang itu dan menyatakan bahwa
uang NICA bukan alat pembayaran yang sah di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia.
Selanjutnya, pemerintah pada bulan Oktober 1946 mengeluarkan ORI untuk menggantikan uang
kertas Jepang yang sudah sangat merosot nilainya.

Program Pinjaman Nasional


Pemerintah RI berjuang keras untuk mengatasi kesulitan moneter dengan melakukan pinjaman
nasional. Dengan mendapat persetujuan dari Badan Pekerja Nasional Indonesia, menteri keuangan,
Surahman melakukan pinjaman nasional berdasarkan UU No.4/1946. Besarnya pinjaman ini
direncanakan berjumlah 1 milyar yang dibagi atas dua tahap dana akan dibayar kembali selambat-
lambatnya dalam jangka 40 tahun. Guna mengumpulkan dana dari masyarakat, maka pada bulan Juli
1946 seluruh penduduk di Jawa dan Madura diwajibkan untuk menyetorkan uangnya ke bank-bank
tabungan pos dan rumah pegadaian. Pada pinjaman tahap pertama berhasil dikumpulkan sejumlah
500 juta. Pelaksanaan pinjaman ini dinilai sukses dan merupakan salah satu indikator yang
menunjukan usaha pemerintah mendapat dukungan dari rakyat.

Pengurangan Defisit Anggaran


Setelah pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, situasi perekonomian Indonesia
tetap belum pulih karena masih mewarisi keadaan ekonomi dan keuangan yang mengkhawatirkan.
Pada waktu itu bangsa Indonesia harus menanggung hutang luar negeri Hindia-Belanda sebesar
1500 juta rupiah. Dan hutang dalam negeri sejumlah 2800 juta rupiah. Beban yang berat ini
merupakan konsekuensi pengakuan kedaulatan. Difisit pemerintah pada waktu itu 5,1 milyar rupiah.
Pemerintah mengambil beberapa langkah untuk mengurangi defisit. Misalnya, dengan
mengeluarkan pinjaman pemerintah dengan cara melakukan tindakan keuangan pada tanggal 20
Maret 1950.

Pembuatan maklumat-maklumat. Berbagai maklumat dikeluarkan setelah kemerdekaan Indonesia.


Keluarnya maklumat ini berguna untuk menyusun kelengkapan negera. Beberapa maklumat yang
keluar antara lain:
 Maklumat wakil presiden no X tanggal 16 Oktober 1945 tentang pemberian wewenang kepada
KNIP sebagai pemegang kekuasaan legeslatif
 Maklumat wakil presiden tanggal 3 Nopember 1945 yang berisi tentang pembentukan partai-
partai politik
 Maklumat Pemerintah 14 Nopember 1945 tentang pergantian sistem pemerintahan dari
presidensial ke parlementer

Pemindahan Ibukota RI ke Yogjakarta. Menjelang akhir tahun 1945 keamanan kota Jakarta
semakin memburuk tentara Belanda semakin merajalela dan berbagai aksi teror meningkat.
Mengingat situasi yang semakin memburuk, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta pada
tanggal 4 Januari 1946 memutuskan pindah ke Yogyakarta yang kemudian dijadikan sebagai Ibu
Kota Negara RI.

Pelaksanaan Diplomasi menghadapi Belanda. Pasca kemerdekaan, NICA (Belanda) datang


kembali ke Indonesia dan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Kemudian muncul berbagai
pertempuran yang melibatkan antara Indonesia dengan Belanda. Selain melalui jalur pertempuran,
usaha dalam memeperoleh kemerdekaan dilakukan dengan melakukan perungingan.

SS. SEJARAH OEANG REPUBLIK INDONESIA (ORI)


Menteri Keuangan Mr. A. A. Maramis, pada tanggal 7 November 1945 membentuk suatu
panitia yang dinamakan Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indonesia
yang diketuai oleh T. R. B. Sabaruddin, Direktur Bank Rakyat Indonesia. Tugasnya ialah
menyelenggarakan segala sesuatu yang bersangkutan dengan pencetakan uang. Ketika ditawari
untuk menjadi Menteri Keuangan dalam Kabinet Sjahrir III, Sjafruddin menyatakan kesediannya.
Salah satu faktornya ialah karena Sjafruddin ingin segera mempercepat proses pencetakan “Oeang
Republik Indonesia” (ORI).

Sjafruddin yakin bahwa terwujudnya ORI dapat menjadi alat perjuangan yang ampuh dalam
mencerminkan eksistensi negara Republik Indonesia yang berdaulat dan besar pula artinya untuk
membiayai perjuangan seperti menggaji pegawai negeri dan tentara, membeli perlengkapan
administrasi pemerintah dan lain-lain. Keluarnya ORI bukanlah tujuan utama. Tujuan ini baru akan
tercapai apabila ditempuh dengan kerja keras yang ditinjau dari sudut ekonomi berarti meningkatkan
produksi, bukan dengan mencetak uang.

Dalam pelaksanaan tugasnya, panitia menghadapi kesulitan dan rintangan. Pencetakan ORI
menggunakan alat yang harus dicari di dalam negeri. Tidak mungkin mendatangkan mesin pentjetak
uang dari luar negeri melihat kondisi saat itu. Kesukaran memperolah bahan-bahan baku yang
diperlukan seperti kertas, tinta, bahan kimia untuk fotografi dan zinkografi, pelat seng untuk klise
dan alat-alat lainnya seperti mesin aduk untuk membuat tinta. Pembuatan klise dikerjakan di
percetakan de Unie dan percetakan Balai Pustaka. Pembuatan gambar lithografi dilakukan di
percetakan de Unie. Percetakan perdana dilakukan di percetakan Balai Pustaka dengan pertama-
pertama mencetak lembaran uang seratus rupiah. Terjadinya pertempuran Surabaya November 1945
dan kondisi politik Indonesia saat itu menyebabkan pencetakan uang yang beberapa bulan
dilaksanakan di Jakarta dipindahkan ke pedalaman dengan alat yang serba kurang lengkap.

Pihak Inggris yang pro Belanda memberikan pendapat tentang rencana pemerintah mengeluarkan
uang sendiri, bahwa lebih baik menerima uang Hindia Belanda karena mempunyai kurs
internasional, dan dapat dipergunakan untuk membayar keluar negeri. Ditambahkan, kalau
pemerintah RI mengeluarkan uang sendiri, uang itu tidak laku di luar negeri. Pada kenyataannya
uang NICA sekalipun mempunyai kurs internasional tidak diterima dan ditolak oleh rakyat. Uang
Jepang ditarik, sebagai gantinya, ORI yang diterima penuh kepercayaan oleh rakyat. Penolakan
terhadap uang Belanda merupakan suatu bukti nyata bahwa selain ORI uang lain sudah tidak dapat
dijadikan alat penukar. Oleh karena itu, tidak perlu uang yang memiliki kurs luar negeri, yang
dibutuhkan adalah uang yang diterima rakyat (Kedaulatan Rakyat, 26 Desember 1945).

Pada tanggal 29 sampai 30 Oktober 1946 uang yang dibuat sendiri oleh pemerintah Republik
Indonesia dikeluarkan secara resmi sebagai alat penukaran, alat pembayaran yang sah, dan alat
pengukur harga di seluruh wilayah yang secara de facto berada dibawah kekuasaan negara Republik
Indonesia, yaitu Jawa, Madura dan Sumatra. Sebelum ORI dikeluarkan, pemerintah terlebih dahulu
menarik semua uang Jepang dan uang Hindia Belanda dari peredaran dengan cara yang sedikit
sekali menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan menggantinya dengan uang baru, yang
mempunyai harga tinggi serta dapat diawasi peredarannya (Sikap, 12 Maret 1949).

Langkah pertama dimulai tanggal 22 Juni 1946 pemerintah Republik Indonesia melarang orang
Indonesia membawa uang lebih dari ƒ 1.000 dari daerah Karesidenan Jakarta, Semarang, Surabaya,
Bogor dan Priangan ke daerah-daerah lain di Jawa dan Madura tanpa izin lebih dahulu dari
pemerintah daerah yang bersangkutan. Demikian juga dilarang membawa uang dari luar masuk ke
pulau Jawa dan Madura melebihi ƒ 5.000 uang Jepang tanpa seijin Menteri Perdagangan dan
Perindustrian. Mulai tanggal 15 Juli 1946 di Jawa dan Madura, seluruh uang Jepang dan uang
Hindia Belanda yang ada di tangan masyarakat, perusahaan-perusahaan dan badan-badan lain harus
disimpan pada bank-bank yang ditunjuk, yaitu Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia,
Bank Surakarta, Bank Nasional, Bank Tabungan Pos dan Rumah Gadai (Beng To, 1991: 76-77).

Pengeluaran ORI didasarkan atas dua undang-undang yaitu pertama Undang-Undang no.
17/1946 tertanggal 1 Oktober 1946 yang berisi pemerintah akan mengeluarkan uang sendiri yakni
Uang Republik Indonesia, sedangkan tentang bentuk, warna, harga uang tersebut dan lain-lain yang
berhubungan dengan pengeluaran uang itu pengaturannya diserahkan kepada Menteri Keuangan
Republik Indonesia. Kedua Undang-Undang no 19/1946 yang diumumkan tanggal 24 Oktober
1946 disebut sebagai Undang-Undang tentang pengeluaran Uang Republik Indonesia, mengatur
dasar nilai uang baru dengan uang Jepang, tentang pembayaran hutang lama yang belum lunas pada
waktu berlakunya ORI, tentang uang Jepang yang masih berlaku sekarang, dan pengaturan harga-
harga maksimum bagi barang-barang yang dipandang perlu yang penetapannya diserahkan kepada
Menteri Kemakmuran. Dasar nilai ditentukan 10 rupiah ORI sama dengan emas murni seberat 5
gram. Emas murni jang dimaksud dalam pasal ini yaitu emas 24 karat. Sebagai dasar penukaran 50
rupiah uang Jepang sama dengan 1 rupiah ORI untuk wilayah Jawa dan Madura serta 100 rupiah
uang Jepang sama dengan 1 rupiah ORI untuk wilayah Sumatera (Arsip Kementerian Penerangan no
1).

ORI berlaku sebagai alat pembayaran yang sah pada tanggal 29 malam 30 Oktober 1946 jam 24.00.
Pada saat itu juga menurut putusan tersebut ORI menjadi satu-satunya alat pembayaran yang sah di
daerah Republik di Jawa dan Madura. Di Sumatera, peredaran ORI, karena kesukaran-kesukaran
dalam lapangan tehnik (kesulitan mengadakan pengangkutan dan menjamin keamanannya) tidak
dapat diadakan dengan segera. Di Sumatera uang Jepang masih terus berlaku sebagai alat
pembayaran yang sah, di samping uang sementara (Uang Republik Indonesia untuk provinsi
Sumatera) sampai kira kira pertengahan tahun 1948 (Sikap, 12 Maret 1949).

Pada awal penyebarannya, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 19/1946 yang memuat
tentang pembagian uang sebesar 1 rupiah ORI pada setiap orang, dan ditambah 3 sen untuk tiap
kepala keluarga. Uang itu dimaksudkan sebagai modal untuk setiap orang. Adapun pertimbangan
pemerintah mengenai jumlah uang 1 rupiah tersebut adalah dengan dasar bahwa pada saat itu setiap
orang mempunyai uang tunai sebesar 50 rupiah uang Pendudukan Jepang, yang sebelumnya sudah
diputuskan. Pembagian uang dilakukan secara serentak pada hari dan waktu yang bersamaan di
seluruh Jawa dan Madura. Pembagian uang baru diberikan langsung kepada masyarakat secara
merata sebagai imbalan atas uang lama yang tidak berlaku lagi, dan juga agar masyarakat tidak
dirugikan (Nurhajarini, 2006: 36).

Pada tanggal 29 Oktober 1946 malam, sebelum keluarnya ORI, Wakil Presiden Mohammad Hatta
dan Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara menyampaikan pidato melalui RRI. Dalam pidato
itu disampaikan pemberitahuan tentang keluarnya dan diresmikannya ORI pada pagi hari tanggal 29
Oktober 1946 sebagai alat pembayaran yang sah. Sjafruddin Prawiranegara selaku Menteri
Keuangan menyampaikan pesan guna mengurangi keguncangan ekonomi dengan keluarnya ORI
tersebut. Isi pesan Sjafruddin antara lain mengajak rakyat untuk berhemat, bagi perusahaan-perusaan
terutama toko-toko, warung-warung jangan menjual barang terlalu banyak untuk keperluan sehari-
hari dan jangan menutup toko, pembeli dibatasi, toko-toko dan warung-warung diberi kesempatan
untuk menyimpan uangnya di bank-bank sampai tanggal 30 Oktober 1946, memberi kelebihan
persediaan makanan kepada tetangga yang kekurangan, jangan pergi ke bank untuk jumlah kecil
untuk mencari untung, tetapi harus berani menderita kerugian (Prawiranegara, 2011: 32).

ORI tidak dapat diedarkan di Sumatra, maka untuk mengatasi kesullitan keuangan, pada akhir tahun
1947 beberapa daerah di Sumatra mengeluarkan jenis uang sendiri. Diantaranya, ORIPS (Oeang
Repoeblik Indonesia Provinsi Sumatra), URISU (Oeang Repoeblik Indonesia Sumatra Utara),
URIDJA (Oeang Repoeblik Indonesia daerah Djambi), URIDA (Oeang Repoeblik Indonesia daerah
Aceh), ORITA (Oeang Repoeblik Indonesia daearah Tapanuli), dan Uang Mandat yang dikeluarkan
oleh Dewan Perahanan daerah sumatra Selatan. Bahkan daerah Banten yang terisolasi, dikeluarkan
URIDAB (Oeang Repoeblik Indonesia daerah Banten) (Beng To, 1991: 71).

Di wilayah Indonesia tidak hanya ada satu jenis uang. Pihak NICA (Belanda) mengeluarkan uang
baru sendiri yang dinamakan uang NICA. Peredaran uang NICA bersamaan dengan ORI telah
menimbulkan kesukaran bagi rakyat, khususnya penduduk daerah perbatasan anatara daerah yang
dikuasai Belanda dan daerah yang dikuasai Republik. Pada satu pihak penduduk takut diketahui
memiliki ORI oleh tentara NICA, dipihak lain takut pula diketahui memiliki uang NICA oleh
pasukan Republik. Ternyata makin lama uang Republik makin populer dikalangan rakyat (Rosidi,
2011: 141).

ORI dalam sejarah kemerdekaan Indonesia telah menjalankan peranan sebagai alat yang
mempersatukan bangsa Indonesia untuk bersama-sama dengan pemerintah Republik yang masih
muda itu berjuang mempertahankan dan menegakkan negara Indonesia. Dengan kata lain ORI telah
berperan sebagai alat perjuangan kemerdekaan, baik dalam menghimpun tenaga maupun dalam
membiayai berbagai macam keperluan negara. ORI berfungsi juga sebagai alat revolusi yang
mendukung dan memungkinkan pemerintah Indonesia mangatur administrasinya, mengorganisasi
dan memperkuat tentaranya, memelihara keamanan dan ketertiban, mengurus kesejahteraan rakyat
dalam menentang agresi Belanda (Beng To, 1991: 69-84).

TT. PEMBENTUKAN BERBAGAI PARTAI POLITIK


Sidang PPKI pada tanggal 22 Agustus 1945 juga memutuskan adanya pembentukan partai politik
nasional yang kemudian terbentuk PNI (Partai Nasional Indonesia). Partai ini diharapkan sebagai
wadah persatuan pembinaan politik bagi rakyat Indonesia. BPKNIP mengusulkan perlu dibentuknya
partai-partai politik, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Wakil Presiden dengan maklumat pada
tanggal 3 Nopember 1945. Setelah dikeluarkan maklumat itu, berdirilah partai-partai politik di
NKRI.

Maklumat wakil presiden tanggal 3 November 1945 berisi tentang pembentukan partai-partai
politik. Beberapa partai politik yang kemudian terbentuk misalnya :
 Masyumi, berdiri tanggal 7 November 1945, dipimpin oleh dr Sukiman Wiryosanjoyo
 PKI (Partai Komunis Indonesia) berdiri 7 November 1945 dipimpin oleh Mr. Moh. Yusuf. Oleh
tokoh-tokoh komunis, sebenarnya pada tanggal 2 Oktober 1945 PKI telah didirikan.
 PBI (Partai Buruh Indonesia), berdiri tanggal 8 November 1945 dipimpin oleh Nyono
 Partai Rakyat Jelata, berdiri tanggal 8 Nopember 1945 dipimpin oleh Sutan Dewanis
 Parkindo (Partai Kristen Indonesia), berdiri tanggal 10 November 1945 dipimpin oleh Dr
Prabowinoto
 PSI (Partai Sosialis Indonesia), berdiri tanggal 10 November 1945 dipimpin Amir Syarifuddin
 PRS (Partai Rakyat Sosialis), berdiri tanggal 10 November 1945 dipimpin oleh Sutan Syahrir
 PKRI Partai Katholik Republik Indonesia), berdiri tanggal 8 Desember 1945
 Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia, berdiri tanggal 17 Desember 1945 dipimpin oleh JB Assat
 PNI (Partai Nasional Indonesia), berdiri tanggal 29 Januari 1946. PNI merupakan penggabungan
dari Partai Rakyat Indonesia (PRI), Gerakan Republik Indonesia, dan Serikat Rakyat Indonesia,
yang masing-masing sudah berdiri dalam bulan November dan Desember 1945.

UU. REPUBLIK INDONESIA SERIKAT (RIS)


Bagian penting dari keputusan KMB adalah terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat.
Memang hasil KMB diterima oleh Pemerintah Republik Indonesia, namun hanya “ setengah hati”
karena menjadikan RI hanya sebagai salah satu Negara bagian lainnya buatan Belanda. Hal ini
terbukti dengan munculnya perbedaan dan pertentangan antar kelompok bangsa. Dua kekuatan besar
yang saling berseberangan yaitu:
 kelompok unitaris, artinya kelompok pendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berpusat di Yogyakarta; dan
 kelompok pendukung Negara Federal-RIS.
Meskipun RI sudah berhasil mendorong rakyat yang bersemangat nasionalis di tiga Negara bagian
untuk bergabung dengan Negara bagian RI tetapi tidak berhasil menyatukan Negara bagian Sumatra
Timur dan Negara Indonesia Timur yang mendapat pengaruh Belanda begitu kuat, kecuali itu juga
dihambat oleh kepentingan pengakuan internasional terhadap integrasi Negara. Maka RI akhirnya
mengalah membentuk integrasi Negara lewat RIS yang dianggap oleh kaum nasionalis bukan
nation-state.

Pembentukan negara-negara federal dirintis dalam Konferensi Malino, pada tanggal 15-25
Juli 1946. Konferensi dipimpin oleh Van Mook. Kemudian disusul berbagai konferensi lainnya yang
bertujuan untuk membentuk negara bagian, antara lain:
 Negara Indonesia Timur (NIT) dibentuk berdasarkan Konferensi Denpasar tabga 18-24 Desember
1946. Selaku kepala negara NIT adalah Cokorda Gde Raka Sukawati. Wilayah NIT melliputi
Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku.
 Negara Pasundan diporklamasikan pada tanggal 4 Mei 1947. Negara Pasundan meliputi wilayah
Jawa Barat dan sekitarnya. Sebagai kepala negara ditunjuklah R.A.A Wiranatukusumah.
 Negara Madura dibentuk pada tanggal 23 Januari 1948. R.A.A Cakraningrat ditunjuk sebagai
kepala negara Madura. Negara Madura meliputi pulau Madura dan pulau-pulau kecil di
sekitarnya.
 Negara Sumatera Timur dibentuk pada tanggal 24 Maret 1948. Selaku kepala negara ditunjuk Dr.
Teuku Mansur. Wilayah negara Sumatera Timur meliputi daerah Medan dan sekitarnya.
 Negara Sumatera Selatan secara resmi berdiri pada tanggal 31 Agustus 1948. Abdul Malik
terpilih sebagai kepala negara Sumatera Selatan. Wilayah negara Sumatera Selatan meliputi
daerah Palembang dan sekitarnya.
 Negara Jawa Timur dibentuk pada tanggal 26 November 1948. R.T.P Achmad Kusumonegoro
terpilih sebagai kepala negara. Wilayah negara Jawa Timur meliputi wilayah Jawa Timur.
 Daerah-daerah otonomi yang meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Dayak Besar,
Banjar, Kalimantan Tenggara, Bangka, Belitung, Riau dan Jawa Tengah.

RIS dibentuk pada tanggal 27 Desember 1949, sebagai kepala pemerintahan adalah Perdana Menteri
Hatta, dan kepala negara adalah presiden Soekarno. Dampak dari terbentuknya Negara RIS adalah
konstitusi yang digunakan bukan lagi UUD 1945, melainkan Konstitusi RIS tahun 1949. Dalam
pemerintahan RIS jabatan presiden dipegang oleh Ir. Soekarno, dan Drs. Mohammad Hatta sebagai
perdana menteri. Berdasarkan pandangan kaum nasionalis pembentukan RIS merupakan strategi
pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah kekuatan bangsa Indonesia sehingga Belanda
akan mudah mempertahankan kekuasaan dan pengaruhnya di Republik Indonesia. Kelompok ini
sangat menentang dan menolak ide federasi dalam bentuk negara RIS.

RIS tidak berlangsung lama dikarenakan bentuk negara serikat tidak dikehendaki oleh sebagian
besar bangsa Indonesia. Bentuk RIS merupakan upaya Belanda dalam memecah belas persatuan dan
kesatuan. Pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS resmi dibubarkan dan dibentuk Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

VV. PEMBERONTAKAN PADA MASA RIS


Pada tanggal 17 Agustus 1950 dengan resmi RIS dibubarkan, dan dibentuk Negara Republik
Indonesia yang berbentuk kesatuan. Pembubaran RIS ini ternyata menimbulkan berbagai
pemberontakan yang tidak menginginkan RIS untuk bubar, diantaranya pemberontakan APRA, Andi
Azis dan RMS.
Angkatan Perang Ratu Adil adalah sebuah angkatan perang yang dipimpin oleh Raymond
Westerling. Nama Ratu Adil dipakai supaya menarik simpati rakyat, dikarenakan ada ramalan bakal
datang Ratu Adil yang membawa kehidupan negara yang makmur. Raymond Westerling dianggap
sebagai ratu adilnya. Padahal sebelumnya Westerling melakukan pembantaian besar-besaran di
Sulawesi. Alasan dari pemberontakan APRA adalah (1) Tuntutan agar semua bekas tentara
Belanda ditetapkan sebagai tentara Negara bagian yang ditempati (Negara Pasundan), (2)
Mengamankan kepentingan ekonomi kaum kolonialis Belanda di Indonesia, dan (3) menolak
pembubaran negara Pasundan.

Pada tanggal 23 Januari 1950, APRA menyerang Kota Bandung. Pasukan APRA membantai
terhadap setiap anggota TNI yang ditemuinya. Markas Siliwangi berhasil dikuasai. Dalam peristiwa
ini Letkol Lembong tewas dalam menghadapi pasukan Westerling. Pemerintah pusat segera
mengirimkan pasukan ke Bandung untuk menghentikan pembantaian yang dilakukan oleh APRA.
Sementara itu dilakukan perundingan antara Drs. Muhammad Hatta dengan komisaris tinggi
Belanda di Jakarta. Hasilnya Westerling didesak untuk meninggalkan kota Bandung. Karena
semakin terdesak oleh pasukan APRIS dan rakyat, akhirnya pasukan APRA kemudian meninggalkan
kota Bandung.

Selain di Negara Pasundan, di Negara Indonesia Timur juga muncul pemberontakan yang dipimpin
oleh Andi Aziz. Penyebab dari pemberontakan Andi Aziz adalah (1) Menolak masuknya pasukan
APRIS dari unsur TNI di Sulawesi Selatan, dan (2) Menolak pembubaran Negara Indonesia Timur.
Pasukan Andi Azis berusaha menghalang-halangi masuknya TNI ke Makasar dengan menduduki
sarana-sarana penting, seperti lapangan terbang, sarana telekomunikasi, pos militer, dan menawan
Letkol A.J. Mokoginta.

Untuk mengatasi perlawanan Andi Azis, pemerintah pusat member instruksi agar dalam waktu 4×24
jam Andi Azis datang ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun intruksi
tersebut tidak dihiraukan Andi Azis, sehingga pemerintah mengirimkan pasukan dibawah pimpinan
Kolonel Alek Kawilarang untuk menumpas pemberontakan. Dengan ditangkapnya Andi Azis maka
pemberontakan tersebut dapat diatasi.

Setelah gagal di Sulawesi Selatan, anggota pemberontakan Andi Azis kemudian berpindah ke
Maluku. Sisa-sisa tentara Andi Azis menggabungkan diri dengan Christian Robert Steven
Soumokil yang menolak pembentukan negara kesatuan republic Indonesia. Pada tanggal 25 April
1950, Dr Soumokil memproklamasikan berdirinya Negara Republik Maluku Selatan (RMS).
Pendirian RMS merupakan ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Serikat, sehingga pemerintah menyatakan Indonesia Timur dalam keadaan bahaya. Pemerintah pusat
mengirim Dr. J. Leimana untuk menyelesaikan pemberontakan melalui jalan diplomasi dengan
Soumokil namun mengalami gagal. Sehingga pemerintah mengirim pasukan yang dipimpin oleh
Kolonel A.E. Kawilarang untuk melancarkan operasi militer. Pada peristiwa penumpasan, gugur
perwira APRIS, salah satunya adalah Letkol Slamet Riyadhi.

RIS merupakan warisan dari colonial Belanda, yang tidak sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa ini.
Oleh karena itu keberlangsungan dari RIS hanya sebentar yakni dari tanggal 27 Desember 1949
sampai 17 Agustus 1950.

WW. PELEBURAN FEDERAL MENJADI NEGARA KESATUAN


Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar memutuskan bahwa bentuk negara Indonesia adalah
bentuk federal. Akan tetapi bentuk negara federal ini tidak berlangsung lama dikarenakan tidak
semua pihak setuju dengan bentuk tersebut. Akhirnya satu persatu dari negara bagian
menggabungkan diri dengan pemerintahan RI di Yogyakarta. Pada akhirnya hanya tersisa tiga
negara bagian, yakni RI, NIT dan NST.

Dengan semua perkembangan politik di Indonesia itu memaksa para elit yang ada di NIT dan NST
untuk berunding dengan pemerintah RIS. Oleh karena itu, dari tanggal 3 sampai 5 Mei 1950
diadakan perundingan antara PM RIS M. Hatta, Presiden NIT Sukawati, dan PM NST Dr.
Mansyur. Hasilnya adalah disetujuinya pembentukan suatu negara kesatuan. Akan tetapi, pada
tanggal 13 Mei 1950 Dewan Sumatera Timur menentang keputusan itu.

Meskipun demikian, Dewan Sumatera Timur masih bersedia menerima pembubaran RIS dengan
syarat NST dileburkan ke dalam RIS bukan ke dalam RI. Walaupun ada dukungan kuat dari
sebagian besar penduduk Sumatera Timur, tetapi PM Hatta mendukung Dewan NST. Keputusan
Hatta itu didasari situasi di Sumatera Timur yang masih rapuh untuk bergabung dengan RI. Hatta
berpikir bahwa apabila diambil jalan penggabungan NST langsung ke dalam RI, mungkin dapat
mendorong para bekas KNIL yang saat itu masih menjadi anggota batalyon keamanan NST untuk
memberontak sebagaimana tindakan yang diambil teman-temannya di Ambon.

Sehubungan dengan hasil konferensi antara Hatta, Mansyur dan Sukawati, maka sebagai tindak
lanjut diadakan perundingan antara PM-RIS Hatta yang mewakili NIT beserta dengan NST di satu
pihak dan PM-RI A. Halim pada pihak lainnya. Hasilnya adalah tercapainya persetujuan pada
tanggal 19 Mei 1950 diantara kedua belah pihak untuk membentuk NKRI. Persoalannya adalah
bagaimana cara untuk membentuk sebuah negara kesatuan, sebagaimana yang dikenhendaki seluruh
rakyat Indonesia. Pilihan yang diambil para pemimpin Indonesia adalah dengan cara mengubah
Konstitusi RIS. Pilihan ini diambil karena apabila semua negara bagian melebur ke dalam RIS (RI
akan menjadi satu-satunya negara bagian dari RIS, sehingga RIS akhirnya terlikuidasi) akan
menimbulkan berbagai macam kesulitan. Pertama, akan timbul masalah dengan para bekas anggota
KNIL. Di samping itu ada alasan penting lainnya menyangkut hubungan dengan luar negeri. Jika
seluruh negara bagian bergabung dengan RI, maka akan timbul kesulitan.

Persoalannya adalah RI yang masih eksis adalah RI sebagai negara bagian RIS(sebagai akibat
persetujuan KMB). Padahal yang menyelenggarakan hubungan luar negeri adalah RIS yang telah
dilikuidasi. Dengan perkataan lain proses kembali dari RIS ke NKRI melalui cara ini berarti
peleburan negara yang telah mendapat pengakuan internasional dengan memunculkan sebuah
negara baru. Oleh karena itu agar pengakuan dunia internasional tetap terpelihara secarayuridis,
maka pembubaran RIS harus dihindari. Satu pilihan cerdik akhirnya diambil, yaitu dengan jalan
mengubah konstitusi RIS. Jadi secara yuridis NKRI adalah perubahan dari RIS sebagai negara
federal menjadi negara berbentuk kesatuan. Melalui cara itu terhindar permasalahan berkaitan
dengan dunia internasional.

Apabila RIS dibubarkan dan digantikan oleh RI sebagai negara bagian dalam tubuh RIS, maka
negara baru yang muncul itu tidak dapat menjalankan hubungan internasional secara yuridis formal.
Hal itu disebabkan RI sebagai negara bagian tidak dapat menyelenggarakan hubungan internasional.
Akan lain persoalannya apabila RIS berganti menjadi negara kesatuan. Secara yuridis tidak akan ada
permasalahan dengan dunia internasional, karena yang berubah hanya konstitusinya saja, bukan
negaranya.
Pada akhirnya upaya pergantian RIS menjadi RI terjadi pada tanggal 17 Agustus 1950. Secara resmi
negara Indonesia berbentuk Republik. Kemudian Indonesia memasuki era baru, yakni Demokrasi
Liberal (1950-1959).

XX. PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL


Gunting Syafruddin
Kebijakan ini adalah Pemotongan nilai uang (sanering). Caranya memotong semua uang yang
bernilai Rp. 2,50 ke atas hingga nilainya tinggal setengahnya. Kebijakan ini dilakukan oleh Menteri
Keuangan Syafruddin Prawiranegara pada masa pemerintahan RIS. Tindakan ini dilakukan pada
tanggal 20 Maret 1950 berdasarkan SK Menteri Nomor 1 PU tanggal 19 Maret 1950.
Tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar Rp. 5,1 Miliar. Dampaknya rakyat kecil
tidak dirugikan karena yang memiliki uang Rp. 2,50 ke atas hanya orang-orang kelas menengah dan
kelas atas. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dan pemerintah
mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat pinjaman sebesar Rp. 200 juta.

Sistem Ekonomi Gerakan Benteng


Sistem ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk
mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah yang dilakukan pada masa Kabinet Natsir yang
direncanakan oleh Sumitro Joyohadikusumo (menteri perdagangan). Program ini bertujuan untuk
mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi
Indonesia). Programnya :
 Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
 Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi
dalam pembangunan ekonomi nasional.
 Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit.
 Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.

Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng
dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan
bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Tetapi tujuan program ini tidak dapat
tercapai dengan baik meskipun beban keuangan pemerintah semakin besar. Kegagalan program ini
disebabkan karena : (1) Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non
pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal, (2) Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas
yang cenderung konsumtif (3) Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah (4) Para
pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya (5) Para pengusaha menyalahgunakan
kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka peroleh.

Nasionalisasi De Javasche Bank


Seiring meningkatnya rasa nasionalisme maka pada akhir tahun 1951 pemerintah Indonesia
melakukan nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Awalnya terdapat peraturan
bahwa mengenai pemberian kredi tharus dikonsultasikan pada pemerintah Belanda. Hal ini
menghambat pemerintah dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan moneter. Tujuannya adalah
untuk menaikkan pendapatan dan menurunkan biaya ekspor, serta melakukan penghematan secara
drastis.

Perubahan mengenai nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral
dan bank sirkulasi diumumkan pada tanggal 15 Desember 1951 berdasarkan Undang-undang No.
24 tahun 1951.
Sistem Ekonomi Ali-Baba
Sistem ekonomi Ali-Baba diprakarsai oleh Iskaq Tjokrohadisurjo (mentri perekonomian kabinet
Ali I). Tujuan dari program ini adalah
 Untuk memajukan pengusaha pribumi.
 Agar para pengusaha pribumi Bekerjasama memajukan ekonomi nasional.
 Pertumbuhan dan perkembangan pengusaha swasta nasional pribumi dalam rangka merombak
ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
 Memajukan ekonomi Indonesia perlu adanya kerjasama antara pengusaha pribumi dan non
pribumi.

Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi sedangkan Baba digambarkan sebagai


pengusaha non pribumi khususnya Cina. Pengusaha pribumi diwajibkan untuk memberikan
latihan-latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga bangsa Indonesia agar dapat menduduki
jabatan-jabatan staf. Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional.
Pemerintah memberikan perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing
yang ada. Pada praktenya program Ali-Baba tidak berhasil dikarenakan pengusaha pribumi kurang
pengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
Sedangkan pengusaha non pribumi lebih berpengalaman dalam memperoleh bantuan kredit.

Gerakan Asaat
Gerakan Asaat memberikan perlindungan khusus bagi warga negara Indonesia Asli dalam segala
aktivitas usaha di bidang perekonomian dari persaingan dengan pengusaha asing pada umumnya dan
warga keturuan Cina pada khususnya. Dukungan dari pemerintah terhadap gerakan ini terlihat dari
pernyataan yang dikeluarkan pemerintah pada Oktober 1956 bahwa pemerintah akan memberikan
lisensi khusus pada pengusaha pribumi. Ternyata kebijakan pemerintah ini memunculkan reaksi
negatif yaitu muncul golongan yang membenci kalangan Cina. Bahkan reaksi ini sampai
menimbulkan permusuhan dan pengrusakan terhadap toko-toko dan harta benda milik masyarakat
Cina serta munculnya perkelahian antara masyarakat Cina dan masyarakat pribumi

Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)


Pada masa Kabinet Burhanudin Harahap dikirim delegasi ke Jenewa untuk merundingkan masalah
finansial-ekonomi antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Misi ini dipimpin oleh Anak
Agung Gede Agung. Pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana persetujuan
Finek, yang berisi :
 Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan.
 Hubungan Finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral.
 Hubungan Finek didasarkan pada Undang-undang Nasional, tidak boleh diikat oleh perjanjian
lain antara kedua belah pihak.

Hasilnya pemerintah Belanda tidak mau menandatangani, sehingga Indonesia mengambil langkah
secara sepihak. Tanggal 13 Februari1956, Kabinet Burhanuddin Harahap melakukan pembubaran
Uni Indonesia-Belanda secara sepihak. Tujuannya untuk melepaskan diri dari keterikatan ekonomi
dengan Belanda. Sehingga, tanggal 3 Mei 1956, akhirnya Presiden Sukarno menandatangani
undang-undang pembatalan KMB.

Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)


Masa kerja kabinet pada masa liberal yang sangat singkat dan program yang silih berganti
menimbulkan ketidakstabilan politik dan ekonomi yang menyebabkan terjadinya kemerosotan
ekonomi, inflasi, dan lambatnya pelaksanaan pembangunan. Program yang dilaksanakan umumnya
merupakan program jangka pendek, tetapi pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo II, pemerintahan
membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang disebut Biro Perancang Negara. Tugas
biro ini merancang pembangunan jangka panjang. Ir. Juanda diangkat sebagai menteri perancang
nasional. Biro ini berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya
akan dilaksanakan antara tahun 1956-1961 dan disetujui DPR pada tanggal 11 November 1958.
Tahun 1957 sasaran dan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah Nasional Pembangunan
(Munap). Pembiayaan RPLT diperkirakan 12,5 miliar rupiah.

RPLT mengalami kegagalan disebabkan oleh Adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat dan
Eropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan ekspor dan pendapatan
negara merosot. Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-
perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolak ekonomi. Adanya ketegangan antara pusat
dan daerah sehingga banyak daerah yang melaksanakan kebijakan ekonominya masing-masing.

Musyawarah Nasional Pembangunan


Masa kabinet Juanda terjadi ketegangan hubungan antara pusat dan daerah. Masalah tersebut untuk
sementara waktu dapat teratasi dengan Musayawaraah Nasional Pembangunan (Munap). Tujuan
diadakan Munap adalah untuk mengubah rencana pembangunan agar dapat dihasilkan rencana
pembangunan yang menyeluruh untuk jangka panjang.

YY. FAKTOR KEMBALINYA INDONESIA KE BENTUK KESATUAN


Sejarah mencatat RIS, tidak berlangsung lama, yakni dari tanggal penetapan keadaulatan yakni 27
Desember 1949 hingga pidato Bung Karno untuk kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kembalinya ke
bentuk kesatuan, antara lain:
 RIS tidak sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa
 RIS hanyalah upaya Belanda dalam memecah belah kesatuan Republik Indonesia
 RIS tidak sesuai dengan UUD 1945
 Bentuk RIS tidak disukai oleh sebagian besar tokoh Indonesia
 Pada masa RIS terjadi berbagai kekacauan antara lain muncul berbagai pemberontakan salah
satunya APRA yang dipimpin oleh Raymond Westerling.

Persiapan dalam upaya kembali ke negara kesatuan sudah dilakukanbeberapa bulan sebelumnya.
Rakyat di negara bagian menuntut negara RIS dibubarkan dan kembali ke negara kesatuan. Jawa
Barat, misalnya tanggal 8 Maret 1950 mengadakan demonstrasi agar negara Pasundan dibubarkan.
Sikap yang sama juga terjadi pada negara Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera
Timur.

Maka semenjak Pidato Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 secara resmi Indonsia kembali
kebentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan presiden Soekarno dan Wakilnya Moh Hatta.
Setelah itu Indonesia memasuki masa baru yang dinamakan Demokrasi Liberal.

ZZ. PERUBAHAN BENTUK NEGARA RIS MENJADI NKRI


Konferensi Inter-Indonesia dilangsungkan sebelum terjadi Konferensi Meja Bundar. Konferensi ini
dihadiri oleh pemerintah RI dan BFO. Konferensi Antar-Indonesia masalah pelaksanaan daripada
pokok-pokok persetujuan yang telah diambil di Yogyakarta. Kedua belahpihak setuju untuk
membentuk Panitia Persiapan Nasional yang bertugas menyelenggarakan suasana tertib sebelum dan
sesudah KMB. Sesudah berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri dengan musyawarah, bangsa
Indonesia sebagai keseluruhan telah siap menghadapi KMB.
Akibat dari persetujuan KMB salah satunya aadalah terbentuklah Negara Republik Serikat (RIS)
yang terbagi menjadi 9 negara bagian. Namun pada akhirnya ada keinginan dari seluruh rakya
Indonesia untuk bersatu lagi, menjadi satu Negara kesatuan. Keinginan untuk kembali ke Negara
kesatuan dilancarkan rakyat di mana-mana. Rakyat di berbagai daerah melancarkan demonstrasi-
demonstrasi dan pemogokan untuk menyatakan keinginannya kembali bergabung dengan RI di
Yogyakarta.

Dampak dari terbentuknya Negara RIS adalah konstitusi yang digunakan bukan lagi UUD 1945,
melainkan Konstitusi RIS tahun 1949. Dalam pemerintahan RIS jabatan presiden dipegang oleh Ir.
Soekarno, dan Drs. Mohammad Hatta sebagai perdana menteri. Berdasarkan pandangan kaum
nasionalis pembentukan RIS merupakan strategi pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah
kekuatan bangsa Indonesia sehingga Belanda akan mudah mempertahankan kekuasaan dan
pengaruhnya di Republik Indonesia. Kelompok ini sangat menentang dan menolak ide federasi
dalam bentuk negara RIS (Sartono Kartodirjo, 1995: 78).

Sistem pemerintahan Federal yang diwariskan oleh KMB hanya dapat bertahan selama kurang dari
enam minggu dan sesudah itu secara progresif mulai pecah karena banyaknya tekanan dari gerakan
meluas yang berusaha menggantikannya dengan suatu bentuk pemerintahan kesatuan. Mayoritas
bangsa Indonesia benar-benar tidak puas dengan sistem federasi yang diletakkan diatas pundak
mereka oleh persetujuan KMB. Dalam 15 negara bagian hasil ciptaan Belanda, ketidakpuasan ini
segera mewujudkan diri dalam tuntutan-tuntutan massa yang meluas dan serempak untuk
dihapuskannya apa yang dianggap sebagai persekutuan yang menunjukkan federalisme dan
peleburan Negara-negara bagian dan digabungkan dengan Republik yang lama (Kahin, 1995: 569-
572).

Mengenai pembentukan Negara Kesatuan terjadi setelah Pemerintah Negara Indonesia Timur (NIT)
dan Pemerintah Negara Sumatera Timur (NST) menyatakan keinginannya untuk bergabung kembali
ke dalam wilayah NKRI. NIT dan NST adalah Negara bagian yang paling akhir menyatakan
bergabung kembali pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah pertimbangan mengenai
pokok-pokok pikiran tentang pementukan Negara Kesatuan disetujui oleh pemerintah RIS dan
pemerintah RI, maka realisasi pembentukan Negara Kesatuan terlaksana setelah ditandatanganinya
Piagam Persetujuan antara Pemerintah RIS dan Pemerintah RI pada tanggal 19 Mei 1950. Dalam
piagam tersebut dinyatakan bahwa kedua belah pihak dalam waktu sesingkat-singkatnya bersama-
sama melaksanakan pembentukan Negara Kesatuan sebagai penjelmaan daripada Republik
Indonesia berdasrkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada tanggal 17 Agustus 1950 dengan resmi RIS
dibubarkan dan dibentuk Negara Kesatuan yang diberi nama Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).

Sesuai dengan hasil KMB, RIS harus membayar hutang Belanda sejak tahun 1942 sampai
pengakuan kedaulatan. Alasannya, semua hutang Belanda digunakan untuk kepentingan Hindia-
Belanda. Sedangkan pihak RIS hanya bersedia menanggung hutang Belanda sampai Indonesia
menyatakan kemerdekaan. Alasannya, apabila RIS harus menanggung hutang sampai tahun 1949
berarti RIS harus membiayai sendiri penyerangan-penyerangan Belanda terhadap Republik
Indonesia. Hal ini menimbulkan jalan buntu, terutama dalam menentukan tanggung jawab masing-
masing negara bagian. Sementara, Amerika Serikat terus menekan agar RIS menanggung semua
hutang Belanda.

Masalah di atas merupakan salah satu faktor yang mendorong timbulnya pemikiran untuk kembali
ke bentuk negara kesatuan. Gerakan yang menginginkan bentuk negara kesatuan pun semakin
meluas. Berbagai demonstrasi dan mosi yang menuntut agar negara-negara bagian RIS dilebur dan
bergabung dengan Republik Indonesia guna membentuk negara kesatuan. Presiden NIT, Sukowati
mengumumkan bahwa negara bagiannya siap menjadi unsur suatu negara kesatuan. Bahkan, 13
daerah di wilayah NIT, keculi Maluku Selatan siap untuk melepaskan diri dari NIT dan
menggabungkan diri dengan Republik Indonesia.

Tindakan itu kemudian diikuti oleh negara bagian lainnya. Penggabungan antara daerah yang satu
dengan lainnya dimungkinkan oleh pasal 43-44 Konstitusi RIS. Para pendukung negara kesatuan
dikenal sebagai kaum unitaris dan masyarakat yang menghendaki negara RIS dikenal sebagai kaum
federalis. Semula, kedudukan kaum federalis cukup kuat untuk mempertahankan pandangannya.
Akan tetapi, kekuatan itu mulai memburuk sebagai akibat beberapa tokohnya berkhianat terhadap
RIS. Berbagai gerakan separatis yang muncul pada masa RIS telah melahirkan sikap tidak
senangterhadap tokoh-tokoh kaum federalis dan mendorong mereka untuk mendukung tokoh-tokoh
kaum unitaris. Dengan demikian, gerakan separatis merupakan faktor yang ikut mendorong usaha-
usaha perjuangan kembali ke negara kesatuan.

Faktor lain yang mendorong untuk kembali ke negara kesatuan adalah keinginan rakyat. Di berbagai
daerah dilancarkan tuntutan pembubaran negara-negara bagian. Pada bulan Februari 1950, rakyat
Jawa Barat melakukan demonstrasi di depan Parlemen Pasundan menuntut dibubarkannya negara
Pasundan. Di Jawa Timur, rakyat berdemonstrasi menuntut dibubarkannya negara Jawa Timur.
Tuntutan semacam itu terus meluas di beberapa negara bagian maupun satuan kenegaraan (daerah-
daerah otonom). Sampai tanggal 5 April 1950, negara-negara bagian dalam RIS tinggal tiga, yaitu
RI, NIT, dan NST.

Beberapa daerah melancarkan mosi untuk melepaskan diri dari RIS dan bergabung dengan
Republik Indonesia, di antaranya:
 Pada tanggal 4 Januari 1950, DPRD Malang mengajukan mosi untuk lepas dari Negara Jawa
Timur dan masuk Republik Indonesia.
 Pada tanggal 30 Januari 1950, Sukabumi minta lepas dari Pasundan dan masuk menjadi bagian
Republik Indonesia.
 Pada tanggal 22 April 1950, Jakarta Raya menggabungkan diri pada Republik Indonesia.
 Di Sumatera terjadi pergolakan politik di mana rakyat menuntut pembubaran Negara Sumatera
Timur. Front Nasional Sumatera Timur dalam konferensinya pada tanggal 21 dan 22 Januari
1950 mengeluarkan resolusi yang antara lain menuntut supaya Negara Sumatera Timur selekas-
lekasnya digabungkan kepada Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Sementara Negara
Sumatera Timur dibubarkan dan diganti dengan Dewan Perwakilan Sumatera Timur yang
demokratis.
 Di Sulawesi timbul gerakan-gerakan rakyat yang menuntut pembubaran negara Indonesia Timur
dan sebelum RIS dengan resmi membubarkan negara Indonesia Timur terlebih dahulu mereka
menggabungkan diri dengan Republik Indonesia.

Berbagai perjuangan tersebut kemudian menghasilkan yakni Pada tanggal 14 Agustus 1950,
Parlemen RI dan Senat RIS mengesahkan Rancangan UUD Negara Kesatuan menjadi Undang
Undang Dasar Sementara. Tahun 1950 (UUDS 1950). Sehari kemudian, Presiden Soekarno
membacakan piagam terbentuknya NKRI dan dinyatakan mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus
1950. Pada hari itu juga Soekarno terbang ke Yogyakarta untuk menerima kembali jabatan sebagai
Presiden RI, yang sebelumnya dipangku oleh Mr. Asaat. Dengan demikian, sejak 17 Agustus 1950
negara RIS secara resmi dibubarkan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berhasil ditegakkan
kembali. Keberhasilan itu merupakan bukti adanya persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.