Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. Trauma juga
mempunyai dampak psikologis dan sosial. Pada kenyataannya, trauma
adalahkejadian yang bersifat holistik dan dapat menyebabkan hilangnya
produktivitas seseorang.

Pada pasien trauma, bagaimana menilai abdomen merupakan salah satuhal


penting dan menarik. Penilaian sirkulasi sewaktu primary survey harusmencakup
deteksi dini dari kemungkinan adanya perdarahan yang tersembunyipada abdomen dan
pelvis pada pasien trauma tumpul. Trauma tajam pada dada diantara nipple dan
perineum harus dianggap berpotensi mengakibatkan cederaintraabdominal. Pada
penilaian abdomen, prioritas maupun metode apa yangterbaik sangat ditentukan
oleh mekanisme trauma, berat dan lokasi trauma,maupun status hemodinamik
penderita.
Adanya trauma abdomen yang tidak terdeteksi tetap menjadi salah satupenyebab
kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Sebaiknya janganmenganggap bahwa ruptur
organ berongga maupun perdarahan dari organ padatmerupakan hal yang mudah
untuk dikenali. Hasil pemeriksaan terhadap abdomenmungkin saja dikacaukan
oleh adanya intoksikasi alkohol, penggunaan obat-obattertentu, adanya trauma
otak atau medulla spinalis yang menyertai, ataupunadanya trauma yang mengenai
organ yang berdekatan seperti kosta, tulangbelakang, maupun pelvis. Setiap
pasien yang mengalami trauma tumpul pada dada baik karena pukulan langsung
maupun deselerasi, ataupun trauma tajam, harusdianggap mungkin mengalami
trauma visera atau trauma vaskuler abdomen

1.2 Tujuan

a. Untuk mengetahui defenisi hipertensi essensial


b. Untuk mengetahui gejala dan tanda hipertensi essensial
c. Untuk mengetahui klasifikasi hipertensi essensial
d. Untuk mengetahui patogensis hipertensi essensial
e. Untuk mengetahui penatalaksanaan hipertensi essensial
2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Abdomen

anatomi luar dari abdomen dibagi menjadi:

1.

Abdomen Depan-

Batas Superior : Garis intermammaria-

Batas Inferior : Kedua ligamentum inguinale dan simfisis pubis-


3

Batas Lateral : Kedua linea axillaris anterior

2. Pinggang
Pinggang merupakan daerah yang berada di antara linea axillaris anterior danlinea
axillaris posterior, dari sela iga ke-6 di atas, ke bawah sampai crista iliaca. Di
lokasi ini adanya dinding otot abdomen yang tebal, berlainan dengandinding otot
yang lebih tipis di bagian depan, menjadi pelindung terutamaterhadap luka tusuk.

3.

Punggung-

Batas Superior : Ujung bawah scapula-

Batas Inferior : Crista iliaca

Batas Lateral : Kedua linea axillaris posterior


Otot-otot punggung dan otot paraspinal juga menjadi pelindung terhadaptrauma
tajam.

Anatomi dalam dari abdomen meliputi 3 regio:


1. Rongga Peritoneal
Rongga peritoneal dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:

A. Rongga Peritoneal Atas


Rongga peritoneal atas dilindungi oleh bagian bawah dari dinding thoraxyang
mencakup diafragma, hepar, liean, gaster, dan colon transversum.Bagian ini juga
disebut sebagai komponen thoracoabdominal dariabdomen. Pada saat diafragma
naik sampai sela iga IV pada waktuekspirasi penuh, setiap terjadi fraktur iga
maupun luka tusuk tembus dibawah garis intermammaria bisa mencederai organ
dalam abdomen.

B. Rongga Peritoneal Bawah


Rongga peritoneal bawah berisikan usus halus, bagian colon ascendensdan colon
descendens, colon sigmoid, dan pada wanita, organ reproduksi internal.

2. Rongga Pelvis
Rongga pelvis, yang dilindungi oleh tulang-tulang pelvis,
sebenarnyamerupakan bagian bawah dari rongga intraperitoneal, sekaligus
bagian bawah dari rongga retroperitoneal. Di dalamnya terdapat rectum,
vesika urinaria,pembuluh-pembuluh iliaca, dan pada wanita, organ reproduksi
internal.Sebagaimana halnya bagian torakoabdominal, pemeriksaan organ-
organ pelvisterhalang oleh bagian-bagian tulang di atasnya.

3. Rongga Retroperitoneal
4

Rongga yang potensial ini adalah rongga yang berada di belakang


dindingperitoneum yang melapisi abdomen. Di dalamnya terdapat aorta
abdominalis,vena cava inferior, sebagian besar dari duodenum, pancreas, ginjal
dan ureter,serta sebagian posterior dari colon ascendens dan colon descendens,
danbagian rongga pelvis yang retroperitoneal. Cedera pada organ
dalamretroperitoneal sulit dikenali karena daerah ini jauh dari
jangkauanpemeriksaan fisik yang biasa, dan juga cedera di sini pada awalnya
tidak akanmemperlihatkan tanda maupun gejala peritonitis. Rongga ini tidak
termasuk dalam bagian yang diperiksa sampelnya Diagnostic Peritoneal Lavage
(DPL).

2.2. Mekanisme Trauma


1. Trauma tumpul
Suatu pukulan langsung, misalnya terbentur setir atau bagian mobillainnya dapat
menyebabkan trauma kompresi ataupun crush injury terhadap organvisera.
Kompresi ini dapat merusak organ padat maupun organ berongga,
bisamengakibatkan ruptur, terutama organ-organ yang distensi (misalnya uterus
ibuyang hamil), dan mengakibatkan perdarahan maupun peritonitis. Trauma
tarikan(shearing injury) terhadap organ visera terjadi bila suatu alat pengaman
(misalnya seat-belt) tidak digunakan dengan benar. Pasien yang cedera pada suatu
tabrakanmotor bisa mengalami trauma deselerasi.

Tekanan yang tiba-tiba mengakibatkan kerusakan terutama pada organyang


berongga dapat pula diakibatkan oleh tekanan intraluminer yang tiba-tibameninggi.
Organ yang rusak yang berlawanan dengan arah trauma, terutama padatrauma dari samping
disebut counter coup. Bagian yang selalu rusak selalupermukaan lateral dan organ
seperti hati dan limpa merupakan organ yangtersering mengalami kerusakan pada
trauma tumpul.

2. Trauma tajam

Luka tusuk ataupun luka tembak (kecepatan rendah) akan


mengakibatkankerusakan jaringan karena laserasi ataupun terpotong. Luka
tembak dengankecepatan tinggi akan menyebabkan transfer energi kinetik yang
lebih besarterhadap organ visera, dengan adanya efek tambahan berupa
temporarycavitation, dan bisa pecah menjadi fragmen yang mengakibatkan
kerusakanlainnya. Kerusakan dapat berupa perdarahan bila mengenai pembuluh
darah atauorgan yang padat. Bila mengenai organ yang berongga, isinya akan
keluar kedalam rongga perut dan menimbulkan iritasi pada peritoneum.

Luka tembak mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, bergantung jauhnya perjalanaan
peluru, besar energi kinetik maupun kemungkinan pantulanpeluru oleh organ
tulang, maupun efek pecahan tulangnya. Organ padat akanmengalami kerusakan
yang lebih luas akibat energi yang ditimbulkan oleh pelurutipe high velocity.
5

Infeksi masih merupakan risiko terbesar pada korban dengan luka tusuk abdomen.
Mortalitas terjadi pada 30% korban luka tusuk abdomen yangmenderita infeksi
abdomen mayor. Faktor risiko paling penting adalah adanyacedera pada organ
berongga, dimana luka pada kolon menyebabkan insidensiinfeksi tertinggi relatif
terhadap cedera organ intraabdomen. Cedera padapankreas dan hati secara signifikan
meningkatkan risiko infeksi ketikaberkombinasi dengan cedera organ berongga.
Penggunaan antibiotik dalampencegahan infeksi ini didasarkan pada 3 hal, yakni pilihan
agen antibiotik, durasipenggunaan antibiotik, dan dosis optimal antibiotik.

2.3. Penilaian Trauma


Pemeriksaan pada korban trauma harus cepat dan sistematik sehinggatidak ada cedera
yang tidak terdeteksi sebelum dilakukan penanggulangan yangefisien dan terencana.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan menganalisis data yangdidapat dari anamnese,
pemeriksaan fisik, laboratorium dan pencitraan.
1. Anamnese
Anamnese yang teliti terhadap pasien yang mengalami trauma abdomenakibat tabrakan
kendaraan bermotor harus mencakup kecepatan kendaraan, jenistabrakan, berapa besar
penyoknya bagian kendaraan ke dalam ruang penumpang, jenis pengaman yang dipergunakan,
ada/tidak air bag, posisi pasien dalamkendaraan, dan status penumpang lainnya.
Keterangan ini dapat diperolehlangsung dari pasien, penumpang lain, polisi maupun
petugas emergensi jalanraya. Informasi mengenai tanda-tanda vital, luka-iuka yang ada
maupun responsterhadap perawatan pra-rumah sakit harus dapat diberikan oleh
petugas-petugaspra-rumah sakit.

Bila meneliti pasien dengan trauma tajam, anamnese yang teliti harusdiarahkan pada
waktu terjadinya trauma, jenis senjata yang dipergunakan (pisau,pistol, senapan), jarak
dari pelaku, jumlah tikaman atau tembakan, dan jumlahperdarahan eksternal yang
tercatat di tempat kejadian. Bila mungkin, informasitambahan harus diperoleh dari
pasien mengenai hebatnya maupun lokasi darisetiap nyeri abdominalnya, dan apakah
ada nyeri-alih ke bahu. Selain itu padaluka tusuk dapat diperkirakan organ mana yang
terkena dengan mengetahui arahtusukan, bentuk pisau dan cara memegang alat
penusuk tersebut.

2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik diarahkan untuk mencari bagian tubuh yang
terkenatrauma, kemudian menetapkan derajat cedera berdasarkan hasil
analisis riwayattrauma. Pemeriksaan fisik abdomen harus dilakukan
dengan teliti dan sistimatismeliputi inspeksi, auskultasi, perkusi, dan
palpasi. Temuan-temuan positif ataupun negatif didokumentasi dengan
baik pada status

Syok dan penurunan kesadaran mungkin akan memberikan kesulitan


padapemeriksaan perut. Trauma penyerta kadang-kadang dapat
menghilangkan gejala-gejala perut.

A. Inspeksi
6

Umumnya pasien harus diperiksa tanpa pakaian. Adanya jejas padadinding perut
dapat menolong ke arah kemungkinan adanya trauma abdomen. Abdomen bagian
depan dan belakang, dada bagian bawah danperineum diteliti apakah mengalami
ekskoriasi ataupun memar karena alatpengaman, adakah laserasi, liang tusukan, benda
asing yang menancap,omentum ataupun bagian usus yang keluar, dan status
kehamilan. Harus dilakukan log-roll agar pemeriksaan lengkap.

B. Auskultasi
Di ruang IGD yang ramai sulit untuk mendengarkan bising usus,yang penting adalah ada
atau tidaknya bising usus tersebut. Darah bebas diretroperitoneum ataupun
gastrointestinal dapat mengakibatkan ileus, yangmengakibatkan hilangnya bising usus.
Pada luka tembak atau luka tusuk dengan isi perut yang keluar, tentunya tidak perlu
diusahakan untuk memperoleh tanda-tanda rangsangan peritoneum atau hilangnya
bisingusus. Pada keaadan ini laparotomi eksplorasi harus segera dilakukan. Padatrauma
tumpul perut, pemeriksaan fisik sangat menentukan untuk tindakan selanjutnya. Cedera
struktur lain yang berdekatan seperti iga, vertebra,maupun pelvis bisa juga
mengakibatkan ileus walaupun tidak ada cederaintraabdominal. Karena itu
hilangnya bising usus tidak diagnostik untuk trauma intra abdominal.

C. Perkusi
Manuver ini mengakibatkan pergerakan peritoneum danmencetuskan
tanda peritonitis. Dengan perkusi bisa kita ketahui adanyanada timpani
karena dilatasi lambung akut di kwadran kiri atas ataupunadanya perkusi
redup bila ada hemoperitoneum. Adanya darah dalamrongga perut dapat
ditentukan dengan shifting dullness, sedangkan udarabebas ditentukan
dengan pekak hati yang beranjak atau menghilang.

D. Palpasi
Adanya kekakuan dinding perut yang volunter (disengaja olehpasien)
mengakibatkan pemeriksaan abdomen ini menjadi kurangbermakna. Sebaliknya,
kekakuan perut yang involunter merupakan tandayang bermakna untuk rangsang
peritoneal. Tujuan palpasi adalah untuk mendapatkan adanya nyeri lepas yang
kadang-kadang dalam. Nyeri lepassesudah tangan yang menekan kita lepaskan
dengan cepat menunjukkanperitonitis, yang bisanya oleh kontaminasi isi usus,
maupunhemoperitoneum tahap awal.

E. Evaluasi luka tusuk


Sebagian besar kasus luka tembak ditangani dengan laparotomieksplorasi karena insiden
cedera intraperitoneal bisa mencapai 95%. Lukatembak yang tangensial sering tidak
betul-betul tangensial, dan traumaakibat ledakan bisa mengakibatkan cedera
intraperitoneal walaupun tanpaadanya luka masuk. Luka tusukan pisau biasanya
ditangani lebih selektif,akan tetapi 30% kasus mengalami cedera intraperitoneal. Semua
7

kasusluka tembak ataupun luka tusuk dengan hemodinamik yang tidak stabilharus di
laparotomi segera.

Bila ada kecurigaan bahwa luka tusuk yang terjadi sifatnyasuperfisial dan nampaknya
tidak menembus lapisan otot dinding abdomen,biasanya ahli bedah yang berpengalaman akan
mencoba untuk melakukaneksplorasi luka terlebih dahulu untuk menentukan
kedalamannya. Prosedurini tidak dilakukan untuk luka sejenis diatas iga karena
kemungkinanpneumotoraks yang terjadi, dan juga untuk pasien dengan tanda
peritonitisataupun hipotensi. Akan tetapi, karena 25-33% luka tusuk di abdomenanterior
tidak menembus peritoneum, laparotomi pada pasien seperti inimenjadi kurang
produktif. Dengan kondisi steril, anestesi lokaldisuntikkan dan jalur luka diikuti sampai
ditemukan ujungnya. Bilaterbukti peritoneum tembus, pasien mengaiami risiko lebih
besar untuk cedera intraabdominal, dan banyak ahli bedah menganggap ini
sudahindikasi untuk melaksanakan laparotomi. Setiap pasien yang sulit kita eksplorasi
secara lokal karena gemuk, tidak kooperatif maupun karenaperdarahan jaringan lunak
yang mengaburkan penilaian kita harus dirawatuntuk evaluasi ulang ataupun kalau perlu
untuk laparotomi.

F. Menilai stabilitas pelvis


Penekanan secara manual pada sias ataupun crista iliaca akanmenimbulkan rasa
nyeri maupun krepitasi yang menyebabkan dugaanpada fraktur pelvis pada pasien
dengan trauma tumpul. Harus hati-hatikarena manuver ini bisa menyebabkan atau
menambah perdarahan yangterjadi.

G. Pemeriksaan penis, perineum dan rektum


Adanya darah pada meatus uretra menyebabkan dugaan kuatrobeknya uretra. Inspeksi pada
skrotum dan perineum dilakukan untuk melihat ada tidaknya ekimosis ataupun hematom
dengan dugaan yangsama dengan diatas. Tujuan pemeriksaan rektum pada pasien
dengantrauma tumpul adalah untuk menentukan tonus sfingter, posisi
prostat(prostat yang lelaknya tinggi menyebabkan dugaan cedera uretra),
danmenentukan ada tidaknya fraktur pelvis. Pada pasien dengan luka
tusuk,pemeriksaan rektum bertujuan menilai tonus sfingter dan melihat
adanyaperdarahan karena perforasi usus.

3. Intubasi
Bilamana problem airway, breathing, dan circulation sudah
dilakukandiagnosis dan terapi, sering dilakukan pemasangan kateter gaster dan
urinesebagai bagian dari resusitasi.

A. Gastric tube
Tujuan terapeutik dari pemasangan gastric tube sejak masaresusitasi
adalah untuk mengatasi dilatasi lambung akut, dekompresigaster sebelum
melakukan DPL, dan mengeluarkan isi lambung yangberarti mencegah
aspirasi. Adanya darah pada NGT menunjukkankemungkinan adanya
cedera esofagus ataupun saluran gastrointestinalbagian atas bila nasofaring
ataupun orofaringnya aman. Perhatian: gastric tube harus dimasukkan
melalui mulut (orogastric) bila ada kecurigaanfraktur tulang fasial ataupun
8

fraktur basis cranii agar bisa mencegah tubemasuk melalui lamina


cribiformis menuju otak.

B. Kateter urin
Tujuan pemasangan adalah mengatasi retensi urin, dekompresibuli-buli
sebelum melakukan DPL, dan untuk monitor urinary output sebagai salah
satu indeks perfusi jaringan. Hematuria menunjukkanadanya cedera
traktus urogenitalis. Perhatian: ketidak mampuan untuk kencing, fraktur
pelvis yang tidak stabil, darah pada metus urethra,hematoma skrotum
ataupun ekimosis perineum maupun prostat yangletaknya tinggi pada
colok dubur menjadi petunjuk agar dilakukanpemeriksaan uretrografi
retrograd agar bisa diyakinkan tidak adanyarupture urethra sebelum
pemasangan kateter. Bilamana pada primarysurvey maupun secondary
survey kita ketahui adanya robek uretra,mungkin harus dilakukan
pemasangan kateter suprapubik oleh dokter yangberpengalaman.

4. Pemeriksaan radiologi
A. Pemeriksaan X-Ray untuk screening trauma tumpul
Rontgen untuk screening adalah Ro-foto cervical lateral, thorax APdan
pelvis AP dilakukan pada pasien trauma tumpul dengan
multitrauma.Rontgen foto abdomen 3 posisi (telentang, tegak dan lateral
dekubitus)berguna untuk melihat adanya udara bebas di bawah diafragma
ataupunudara di luar lumen di retroperitonium, yang kalau ada pada
keduanyamenjadi petunjuk untuk dilakukannya laparotomi. Hilangnya
bayanganpsoas menunjukkan kemungkinan cedera retroperitoneal.

B. Pemeriksaan X-Ray untuk screening trauma tajam


Pasien luka tusuk dengan hemodinamik yang abnormal tidak memerlukan
pemeriksaan screening X-Ray. Pada pasien luka tusuk di atasumbilikus
atau dicurigai dengan cedera thoracoabdominal denganhemodinamik yang
normal, rontgen foto thorax tegak bermanfaat untuk menyingkirkan hemo
atau pneumothorax, ataupun untuk dokumentasiadanya udara bebas
intraperitoneal. Pada pasien yang hemodinamiknya normal, pemasangan
klip pada luka masuk maupun luka keluar dari suatuluka tembak dapat
memperlihatkan jalannya peluru maupun adanya udararetroperitoneal pada
rontgen foto abdomen tidur.

C. Pemeriksaan dengan kontras yang khusus


1. UretrografiSebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, harus
dilakukanuretrografi sebelum pemasangan kateter urin bila kita curigai
adanyaruptur uretra. Pemeriksaan uretrografi dilakukan dengan
memakaikateter No. 8-F dengan balon dipompa 15-20 cc di fossa
naviculare.Dimasukkan 15-20 cc kontras yang tidak diencerkan.
9

Dilakukanpengambilan foto dengan proyeksi oblik dengan sedikit


tarikan padapenis.
2. Sistografi
Ruptur buli-buli intra ataupun ekstraperitoneal terbaik ditentukandengan
pemeriksaan sistografi ataupun CT sistografi. Dipasang kateteruretra dan
kemudian dipasang 300 cc kontras yang larut dalam air padakolf setinggi
40 cm di atas pasien dan dibiarkan kontras mengalir kedalam buli-buli atau
sampai (1) aliran terhenti (2) pasien secaraspontan mengedan, atau (3)
pasien merasa sakit. Diambil foto rontgenAP, oblik dan foto post-voiding.
Cara lain adalah dengan periksaan CTScan (CT cystogram) yang terutama
bermanfaat untuk mendapatkaninformasi tambahan tentang ginjal maupun
tulang pelvisnya.
3. CT Scan/IVP
Bilamana ada fasilitas CT Scan, maka semua pasien denganhematuria dan
hemodinamik stabil yang dicurigai mengalami cederasistem urinaria
bias diperiksa dengan CT Scan dengan kontras dan bisaditentukan
derajat cedera ginjalnya. Bilamana tidak ada fasilitas CTScan,
alternatifnya adalah pemeriksaan IVP. Pada penderita denganhematuria
yang keadaannya stabil harus dilakukan IVP.
4. GastrointestinalCedera pada struktur gastrointestinal yang letaknya
retroperitoneal(duodenum, colon ascendens, colon descendens) tidak
akanmenyebabkan peritonitis dan bisa tidak terdeteksi dengan
DPL.Bilamana ada kecurigaan, pemeriksaan dengan CT Scan dengankontras
ataupun pemeriksaan Ro-foto untuk traktus gastrointestinalbagian atas
ataupun bagian bawah dengan kontras harus dilakukan.

5. Pemeriksaan Diagnostik pada Trauma Tumpul


Apabila ada bukti awal atau pun bukti yang jelas menunjukkan pasienharus segera
ditransfer, pemeriksaan yang memerlukan banyak waktu tidak perludilakukan.
Beberapa prosedur yang dapat dilakukan antara lain diagnostik peritoneal lavage,
CT scan, maupun Focused Assesment Sonography in Trauma (USG FAST).

Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL) merupakan prosedur invasif yangbisa


dikerjakan dengan cepat, memiliki sensitivitas sebesar 98% untuk
perdarahanintraperitoneal. DPL harus dilakukan pada pasien trauma tumpul
denganhemodinamik abnormal, khususnya apabila ditemui:

1. Perubahan sensorium akibat trauma kapitis, intoksikasi alkohol,


kecanduanobat-obatan.
2. Perubahan sensasi akibat trauma spinal.
3. Cedera organ yang berdekatan dengan iga bawah, pelvis, vertebra
lumbalis.
4. Pemeriksaan fisik diagnostik tidak jelas.
10

5. Diperkirakan akan ada kehilangan kontak dengan pasien dalam waktu


yangagak lama, misalnya pasien menjalani pembiusan untuk
cideraekstraabdominal, pemeriksaan angiografi.
6. Adanya lap-belt sign (kontusio dinding perut) dengan kecurigaan trauma
usus.

DPL juga diindikasikan pada pasien dengan hemodinamik normal apabiladijumpai hal-hal
tersebut serta apabila fasilitas USG dan CT scan tidak memadai.

Kontraindikasi untuk DPL adalah apabila dijumpai indikasi yang jelasuntuk


laparatomi. Kontaindikasi relatif lainnya antara lain operasi abdomensebelumnya,
morbid obesiti, sirosis yang lanjut dengan adanya koagulopatisebelumnya. Bisa
dipakai teknik terbuka atau tertutup (Seldinger) diinfra umbilikal oleh dokter yang
terlatih. Pada pasien dengan fraktur pelvismaupun ibu hamil lebih baik digunakan
supraumbilikal guna mencegah terjadinyahematoma pelvis atau membahayakan
uterus.

CT Scan merupakan prosedur diagnostik di mana kita perlu memindahkanpasien ke


tempat scanner, memberikan kontras intravena untuk pemeriksaanabdomen atas,
bawah serta pelvis. Akibatnya, dibutuhkan banyak waktu danhanya dilakukan pada
pasien dengan hemodinamik stabil, di mana kita tidak perlusegera melakukan
laparatomi. Dengan CT scan kita memperoleh keteranganmengenai organ yang
mengalami kerusakan dan tingkat kerusakannya, sertamendiagnosa trauma
retroperitoneal maupun pelvis yang sulit didiagnosis denganpemeriksaan fisik, FAST, dan
DPL.

Hipertensi adalah penyakit dengan tanda-tanda adanya gangguan tekanan


darah sistolik maupun yang naik diatas tekanan darah normal (Budiyanto, 2002)

Tekanan darah sistolik adalah tekanan puncak yang tercapai ketia jantung
berkontraksi dan memompa darah keluar melalui arteri. Tekanan darah sistolik
dicatat apabila terdengar bunyi pertama. Pada alat pengukur tekanan darah.
Tekanan darah diastol diambil ketika tekanan jatuh ketitik terendah saat jantung
rileks dan mengisi darah kembali. Tekanan darah diastolik dicatat apabila buny
tidak terdengar (Sheps, S. G. 2005).

2.2 Gejala dan tanda

2.2.1 hipertensi benigna


Pada hipertensi benigna, tekanan darah sistolik maupun diastolic belum
begitu meningkat, bersifat ringan atau sedang dna belum tanpak kelainan atau
11

kerusakan dari target organ seperti otak, mata, jantung dan ginjal. Juga belum
Nampak kelainan fungsi dari alat-alat tersebut yang bersifat berbahaya.

2.2.2 Hipertensi maligna

Pada hipertensi maligna, tekanan darah sistolik biasanya lebih dari 130
mmHg dan terdapat kelainan atau kerusakan dari target organ yang bersifat
progresif. Diagnose hipertensi ini dapat ditegakkan apabila dijumpai adanya
peerdarahan dan eksudat dengan atau tanpa papiloedema pada retina (WHO,
1978). Kira-kira 1 % pasien hipertensi menjadi fase maligna baik pada hipertensi
essensial maupun skuneder. Sebelum diberikan tepari efeksif, harapan hidup
setelah diagnosis hipertensi ini adalah kurang dari 2 tahun dengan kebanyakan
kematiian karena payah ginjal, hemoregik serebral, atau payah jantung kongestip

2.3 Klasifikasi

Menurut The seventh report of the joint national committee on prevention ,


detection, evaluation, and treatment of high blood pressure (JNC 7) klasifikasi
tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,
prahipertensi, hipertensi, derajat 1 dan derajat 2

Klasifikasi TD sistolik TD diastolic


tekanan darah (mmHg) (mmHg)
Normal < 120 <80
Prahipertensi 120-139 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 90-99
Hipertensi derajat 2 ≥ 160 ≥100

2.4 Patogenesis
12

Hipertensi essensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena


interaksi antara factor-faktor resiko terpenting. Factor resiko yang mendorong
timbulnya kenaikan tekanan darah tersebutt adalah:
a. factor resiko seperti: diet dan asupan garam, stress, ras, obesitas, merokok,
genetic
b. system saraf simpatis
 tonus simpatis
 variasi durnal
c. keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokontriksi: endotel
pembuluh darah berkurang utama, tetapi remodeling endotel, otot polos dan
interstisium juga memberkan kontribusi akhir. Di pengaruh system otokrin
setempat yang berperan pada system rennin, angiotensin dan aldosteron.
Kaplan menggambarkan beberapa factor yang berperan dalam pengendalian
tekanan darah yang mempengaruhi rumus darah : Tekanan Darah = Curah Jantung
X Tahanan Feriver (Sudoyo dkk, 2008).
2.5 penatalaksanaan
Penatalaksanan non farmakologi

a. Mengurangi konsumsi garam


Pembatasan konsumsi garam sangat dianjurkan, maksimal 2 gr garam
dapur untuk diet setiap hari.
b. Menghindari kegemukan
Hindarkan kegemukan atau obesitas dengan menjaga BB normal atau
tidak berlebihan. Batasan kegemukan adalah jika BB lenih 10 % dari
BB normal.
c. Membatasi konsumsi lemak
Membatasi konsumsi lemak agar kadar kolesterol darah tidak terlalu
tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi dapat mengakibatkan terjadiny
endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah, lama kelamaan
akan menyumbat pembuluh darah. Dengan demikian akan
13

memperberat kerja jantung dan cara tersebut langsung mempermudah


hipetensi.
d. Olahraga teratur
Menurut penelitian, olahraga secara teratur dapat menyerap atau
menghilangkan endapan kolesterol pada pembuluh nadi. Olahraga
yang di maksid adalah menggerakkan semua sendi dan otot tubuh
(latihan isotonic atau dinamik) seperti gerak jalan, berenang, naik
sepeda.

Penatalaksanaan farmakologi

Di Indonesia banyak sekali obat anti hipertensi yang mempunyai sifat


farmakologis yang berbeda-beda. Oleh karena itu untuk dapat menentukan pilihan
obat yang tepat diperlukan penhgetahuan tentang farmakologi masing-masing
jenis obat tersebut. Secara garis besar oabat hipertensi terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan.

a. Mempunyai efektivitas yang tinggi


b. Menghindari toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
c. Memungkinkan penggunaan obat secara oral
d. Tidak menimbulkan intoleransi
e. Harga obat re;latif murah sehingga terjangkau oleh penderita.
f. Memungkinkan penggunaan dalam jangka panjang.
14

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Semua pasien trauma tumpul dengan hemodinamik yang tidak stabil


harussegera dinilai kemungkinan perdarahan intrabdominal maupun
kontaminasitraktus gastrointestinal dengan melakukan DPL (Diagnostic
Peritoneal Lavage),ataupun FAST (Focused Assessment Sonography in Trauma).
Pasien peritonitisdengan hemodinamik normal bisa dinilai dengan CT scan,
dengan keputusanoperasi didasarkan pada organ yang terkena dan beratnya
trauma.Semua pasien luka tusuk abdomen dan sekitarnya yang
mengalamihipotensi, peritonitis ataupun eviscerasi organ memerlukan laparotomi
segera.Semua luka tembak yang menyeberang rongga peritoneum ataupun
bagianretroperitoneum dengan bagian pembuluh darah harus segera di
laparotomi.Pasien luka tusuk abdomen depan dengan gejala yang ringan, bila
eksplorasi lokalmenunjukkan tembusnya peritoneum, dievaluasi dengan
pemeriksaan fisik diagnostik berulang ataupun DPL.Penanganan trauma tumpul dan
tajam pada abdomen antara lainmengembalikan fungsi vital dan optimalisasi
oksigenasi dan perfusi jaringan,menentukan mekanisme trauma, pemeriksaan fisik
15

yang hati-hati dan diulangberkala, menentukan cara diagnostik yang khusus bila
diperlukan, tetap curigabila ada cedera vaskular maupun retroperitoneal yang
tersembunyi, dan segeramenentukan bila diperlukan operasi.

3.2 SARAN
Saran untuk hipertensi esensial ini dapat di dilakukan pencegahan, yaitu
a. Dapat mengurangi mengkonsumsi makanan berlemak dan mengurangi
garam
b. Selalu lakukan olahraga untuk mengurangi lemak dan membakar kalori,
agar tida terjadi penyumbatan pembuluh darah.
c. Hindari merokok dan alkohol.