Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN

PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN I


PENGUJIAN JARTEST DAN ISOTHERM ADSORPSI

KELOMPOK 9
1. 081.09.006 (DEWI AMBARSARI)
2. 082.09.008 (EMANUEL MARIANUS TAPU)
3. 082.09.019 (SEPTIAN MAULANA)

ASISTEN :
PUTRI A.S.

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS ARSITEKTUR LANSEKAP & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Percobaan Jartest ditujukan untuk menentukan dosis optimal koagulan
untuk menurunkan angka kekeruhan air atau menjernihkan air keruh dan
berwarna. Kekeruhan air tidak selalu sama melainkan sangat bervariasi.
Kebutuhan koagulan untuk setiap tingkat kekeruhan tidak sama, untuk itu
diperlukan penentuan dosis yang tepat untuk mencapai pemisahan partikel yang
optimum. Karena dosis tidak dapat dihitung melainkan ditentukan melalui
eksperimental dengan alat unit jartest.
Pada praktikum kali ini, selain menggunakan jartest, digunakan pula
metode isotherm adsorpsi menggunakan karbon aktif (Activated Carbon).
Adsorpsi merupakan kemampuan suatu adsorben yang digunakan untuk
menghilangkan sibstansisubstansi tertentu dari suatu larutan. Salah satu proses
adsorpsi dapat digunakan dengan karbon aktif adsorben. Karbon aktif digunakan
secara luas karena bahan-bahan ini mempunyai daya serap yang kuat dan
terutama molekul-molekul organik.
Adsorpsi telah banyak digunakan untuk menghilangkan bahan-bahan
organik dalam air. Penghilangan kimia organik dalam air dapat digunakan
dengan :
1. Penambahan klorin atau potassium permanganat untuk mengoksidasi
senyawa
2. Aerasi (hasil oksidasi)
3. Koagulasi/flokulasi atau sedimentasi
4. Filtrasi
Pada proses adsorsi dapat digunakan karbon aktif atau resin sintetik untuk
menghilangkan bahan-bahan organik, selain dapat digunakan alumina aktif untuk
menghilangjan organik dan unsur flouride dan arsenik. Adsorpsi dapat
diklasifikasikan atas dua jenis, yaitu adsorpsi kimia dan adsorpsi fisika. Salah
satu contoh dari adsorpsi fisik adalah memiliki banyak kapiler-kapiler dalam
partikel-partikel karbon dan permukaannya memungkinkan untuk terjadinya
adsorpsi termasuk juga permukaan pori-porinya. Area permukaan pori-pori
adalah sagat banyak dan kebanyakan proses adsorpsi terjadi pada permukaan
pori-pori ini.
Adsorpsi secara kimia adalah dengan terjadinya reaksi antara zat (solid)
dengan larutan pengadsorpsi. Biasanya reaksi ini besifat irreversible (tidak dapat
berbalik). Proses adsorbsi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti :
1. Pegadukan
2. Kecepatan adsorpsi (makin kecil diameter, makin cepat adsorpsinya)
3. pH (menentukan optimum)
4. suhu ( pada daerah tropis tidak menimbulkan masalah)
karbon aktif yang digunaka pada proses adsorpsi berfungsi untuk
menghilangkan bau, rasa, dan warna. Karbon aktif ini dapat terbuat dari berbagai
macam material seperti arang batu, batok kelapa, serbuk gergaji, kayu, sekam
dan sebagainya. Adsorpsi terjadi pada saat partikel-partikel karbon aktif yang
ditempatkan pada suatu larutan yang mengandung bahan-bahan organik terlarut
dihubungkan dengan suatu penghubung (slurry) dan digerakkan untuk
menghasilkan kontak yang cukup memadai. Konsentrasi ari larutan ini akan
menurun dari konsentrasi (Co) kedapa suatu harga keseimbangan (Ce), jika
waktu kontak tersedia satu sampai empat jam. Dari test slurry ini akan diperoleh
hubungan antara konsentrasi keseimbanga (Ce) dan jumlah substansi organik
yang dapat teradsorpsi (x) tiap unit massa dari karbon aktif (m).
Di dalam menentukan daya adsorbsi dari partikel-partikel ada tiga cara,
yaitu :
1. Langmuir
a. Banyak digunakan pada industri pengolah limbah
b. Mempelajari adsorbsi yang berkaitan degan luas permukaan
sehingga diperoleh suatu grafik
2. Freunlich
a. Banyak digunakan pada pengolah limbah
b. Cocok dipakai pada larutan campuran dimana larutannya harus
encer
c. Diperoleh suatu garis adsorpsi garis yang baik dari Langmuir
3. BET (Brunnaun, Emel, Teller)
a. Isotherm adsorpsi lebih sempurna dari keduanya
b. Banyak digunakan dalam industri minyak.
Pada percobaan ini menggunakan isotherm Freudlich di mana isotherm ini
meruakan suatu rumus empiris yang menunjukkan keseimbangan adsorpsi
melalui kisaran limit dalam konsentrasi larutan. Eksperimen adsorpsi umumnya
dilakukan pada suatu suhu konstan sehingga diperoleh hubunga antara
penyebaram yang seimbang antara adsorben dan pelarut yang kemudian dapat
digambarkan sebagai isotherm asorpsi.
2.2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah menetapkan dosis optimal koagulan dan
karbon aktif yang digunakan untuk menurunkan angka kekeruhan air atau
menjernihkan air keruh dan berwarna.
BAB II
ALAT DAN BAHAN

Alat Ukuran Jumlah Bahan Ukuran


pH meter - 1 Sampel air 50 ml
Labu erlenmeyer 250 ml 1 Aquades secukupnya
Beaker glass 500 ml 2 Larutan PAC 22,5 ml
Volumetri 50 ml 1 Arang 18 g
Bulp - 1
Corong - 1
DO meter 1
Alat jartest 1
Turbidimeter 1
Alumunium foil
BAB III
CARA KERJA

A. Jartest

1. Sediakan beaker glass 500 ml.


2. Isi dengan sampel air sampai tanda tera 500 ml.
3. Hidupkan alat jartest selama 30 detik.
4. Tambahkan larutan PAC sebanyak 22,5 ml ke dalam beaker glass.
5. Lakukan pegadukan dengan jartest selama 10 menit dengan kecepatan 140
rpm.
6. Setelah 10 menit matikan alat pengaduk. Diamkan sampai terbentuk flok dan
hitung lamanya pembetukan flok.
7. Aduk kembali dengan alat jartest selama 5 menit dengan kecepatan 30 rpm.
8. Amati flok yang terbentuk dan hitung waktu endapannya.
9. Pisahkan antara endapan dengan bagian yang jernih.
10. Ukur air yang jernih tersebut dengan turbidimeter. Catat angka kekeruhannya.

B. Isotherm
1. Sediakan beaker glass 500 ml.
2. Isi dengan sampel air sampai tanda tera 500 ml.
3. Hidupkan alat jartest selama 30 detik.
4. Tambahkan karbon aktif (dalam hal ini arang) sebanyak 18 gram ke dalam
beaker glass.
5. Lakukan pegadukan dengan jartest selama 10 menit dengan kecepatan 140
rpm.
6. Setelah 10 menit matikan alat pengaduk. Diamkan sampai terbentuk flok dan
hitung lamanya pembetukan flok.
7. Aduk kembali dengan alat jartest selama 5 menit dengan kecepatan 30 rpm.
8. Amati flok yang terbentuk dan hitung waktu endapannya.
9. Pisahkan antara endapan dengan bagian yang jernih.
10. Ukur air yang jernih tersebut dengan turbidimeter. Catat angka kekeruhannya.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PENGHITUNGAN

Hari/ Tanggal : Kamis / 23 Juni 2011


Tempat : Situ Bahagia
Titik : 8 (koordinat S 060 09’ 30. 9 E 1060 47’ 30. 7)
Posisi : Tepi depan situ
Waktu : Pukul 08.00 WIB
Jenis Sampel : Air Tawar

Gambar 1. Titik Pengambilan Sampel

Diketahui data primer yang di catat sebagai berikut :


Dissolved Oxygen : 1,4
Total Dissolved Solids (TDS) : 563
Conductivity (DHL) : 0,850
Temperatur : 28°C
pH : 6,61
Jartest dan Isotherm Adsorpsi ;

Pada percobaan jartest, sampel yang diaduk dengan kecepatan 140 rpm
lebih cepat mengendap dan hasil cairannya jernih. Setelah itu dilanjutkan dengan
pengadukan kembali selama 5 menit dengan kecepatan 30 rpm dan hasilnnya
seperti pada gambar di bawah ini.

Dalam gambar tersebut terlihat jelas perbedaan lapisan warna antara air
yang jernih dengan endapannya.
Pada percobaan isotherm dengan memasukkan karbon aktif, ternyata stelah
dilakukan pengadukan dengan kecepatan 140 ppm dan 30 rpm masing-masing
selama 10 menit dan 5 menit, diperoleh air sampel dengan warna yang tetap
keruh. Hasilnya adalah seperti gambar di bawah ini.

Hasil pengamatan yang diperoleh dari setiap kelompok praktikum


diakumulasikan dalam bentuk tabel di bawah ini.

Tabel Hasil Pengamatan Jartest


Dosis Analisa
Pembentukan Waktu
Kelompok Koagulan
flok pengendapan Warna Kekeruhan
(ml)
1 2,5 Kecil 6 mnt 23 det Hijau keruh 47
2 5 Kecil 6 mnt 13 det Hijau keruh 39
3 7,5 Kecil 6 ment 5 det Hijau keruh 36
4 10 Kecil 6 mnt 52 det Hijau keruh 11
5 12,5 Besar 5 mnt 18 det Hijau keruh 8
6 15,0 Besar 4 ment 5 det Jernih 4,4
7 17,5 Besar 4 ment 6 det Jernih 3,5
8 20 Besar 2 mnt 30 det Jernih 2,8
9 22,5 besar 2 menit Jernih 2
Diketahui :
Vol sampel : 500 ml
C2 PAC : 450 mg/liter
C1 PAC : 10000 mg/liter
Volume PAC yang ditambahkan adalah :
𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 𝐶2 𝑃𝐴𝐶 500 𝑥 450
= = 22,5 𝑚𝑙
𝐶1 𝑃𝐴𝐶 10000

Tabel Hasil Pengamatan Isotherm


Dosis Analisa
Pembentukan
Kelompok Koagulan
flok Warna Kekeruhan
(gr)
1 2 Kecil 0,325 47
2 4 Kecil 0,320 42
3 6 Kecil 0,333 41
4 8 Kecil 0,360 35
5 10 Besar 0,337 33
6 12 Besar 0,390 34
7 14 Besar 0,396 24
8 16 Besar 0,390 27
9 18 Besar 0,40 23

Diketahui kekeruhan pada blangko adalah 50 NTU sedangkan absorbansi sampel


adalah 0,242. Sehingga dapat dihitung selisih konsentrasi yaitu Wa-Ws = 0,242 –
0,400 = - 0,158.
Dengan demikian dapat dihitung pula nilai Removal yaitu :
−0,158
𝑅𝑒𝑚𝑜𝑣𝑎𝑙 = 𝑥 100% = −65,3%
0,242
BAB V
PEMBAHASAN

Koagulasi dan flokulasi berfungsi menurunkan materi atau padatan yang


tersuspensi atau koloid dalam limbah cair. Padatan koloid memiliki ukuran sangat
kecil sehingga hanya dapat mengendap setelah digumpalkan antar sesamanya terlebih
dahulu dengan bantuan penambahan bahan kimia koagulan dan flokulan. Reaksi
pengumpulan dikenal sebagai reaksi Koagulasi- Flokulasi.
Penambahan bahan kimia Koagulan harus dilakukan untuk menunjang
terjadinya destabilisasi koloid dan reaksi Koagulasi dan Flokulasi. Bahan kimia
flokulan ditambahkan untuk memperbesar ukuran gumpalan yang kemudian akan
mempercepat berlangsungnya pengendapan koloid. Sebagian besar jenis koagulan
dan flokulan dapat dikelompokkan ke dalam 2 jenis berikut ini :
a. Garam logam (metal salt ) misal : Garam alumunium (Al3+), Garam besi
(Fe3+) masuk dalam kelompok ini adalah Alumunium Sulfat , besi klorida,
besi sulfat dll.
b. Polimer, jenis polimer lebih berperan sebagai flokulan, walaupun ada
beberapa yang memiliki muatan list rik sehingga dapat berperan sebagai
Koagulan juga. Polimer dapat dikelompokan sebagai organik dana anorganik.
misal : PAC (Poly Alumunium Chloride).
Koagulan yang digunakan saat praktikum yaitu PAC dan Alumunium sulfat,
artinya kedua jenis koagulan digunakan dalam praktikum ini. Hal tersebut bertujuan
untuk mengetahui penggunaan dosis yang tepat pada setiap koagulan karena setiap
koagulan memiliki perbadaan dosis untuk membentuk flok dengan sempurna.
Pada saat penambahan dengan PAC, dosis koagulan yang terbaik adalah pada
konsentrasi PAC 400 mg/L dan 450 mg/L karena pada konsentrasi tersebut, tingkat
kekeruhan dari air sample berkurang dengan nilai yang paling kecil diantara koagulan
dengan dosis yang lain dan berbeda jauh dari tingkat kekeruhan awal koagulan yaitu
78 NTU.
Sedangkan, saat penambahan sampel dengan alumunium sulfat atau alum,
dosis koagulan terbaik adalah 90 mg/L yaitu dengan penambahan alum sebanyak 45
ml. Dosis penggunaan antar dua koagulan tersebut berbeda karena kemampuan tiap-
tiap koagulan untuk membentuk flok sesuai dengan air limbah/air buangan yang diuji
berbeda-beda. Hasil pengujian menyatakan, untuk mengelola air buangan di Situ
Bahagia khususnya pada unit flokulasi/koagulasi diperlukan koagulan PAC dengan
dosis 22,5 ml atau 450 mg/L. Dalam penggunaan alum, dosisnya tidak boleh berlebih,
sebab bila berlebih akan timbul endapan berwarna putih yang disebabkan adanya
reaksi alum dengan air, maka dalam pemakaian koagulan alum harus lebih berhati-
hati.
Bila dosis koagulan baik alum maupun PAC kurang dari dosis terbaiknya
berdasarkan pengujian, maka endapan yang tersuspennsi tidak dapat dipisahkan
secara sempurna. Hal tersebut dapat dilihat dari tingginya tingkat kekeruhan yang
dihasilkan oleh dua koagulan tersebut dengan dosis dibawah 400 mg/L (bukan dosis
terbaik).
Sample air yang diuji ditambahkan metilen blue. Praktikum ini bertujuan
untuk mengetahui besar kemampuan karbon aktif untuk menghilangkan warna, rasa
dan bau. Dengan menggunakan metilen blue maka dapat terlihat jelas perubahan
warna yang terjadi saat awal sebelum dilakukan penambahan karbon aktif dan
pengadukan dan setelah ditambahkan karbon aktif dan diaduk.
Karbon aktif yang digunakan dapat berupa kayu, lignit, batu bara, tulang,
residu minyak tanah dan kulit kacang yang dibakar terlebih dahulu. Digunakan
beberapa bahan tersebut untuk karbon aktif karena, bhan-bahan tersebut memiliki
luas permukaan yang cukup besar. Dibutuhkan luas permukaan yang cukup besar
karena untuk dapat mengadsorpsi bahan organik yang terlarut dalam aiar, adsorben
harus mempunyai permukaan yang luas dan bebeas dari bahan-bahan yang
diadsorpsi.
Dari hasil pengamatan didapatkan data yang kurang valid karena nilai
konsentrasi dari penambahan karbon aktif sebanyak 1 gram sampai 10 gram tidak
mengalami penurunan yang konstan. Nilainya berfluktuatif yang mengindikasikan
adanya kesalahan negatif maupun positif saat melakukan penimbangan karbon aktif
(jumlah gram karbon aktif yang dimasukkan kurang tepat takarannya). Saat
melakukan penimbangan dengan neraca analitik seharusnya saat awal, dilakukan
penzero-an(di nol kan) pada neraca sebelum cawan dimasukkan, kemudian setelah
cawan dimasukkan kembali dilakukan penzero-an, barulah dimasukkan karbon aktif
yang akan ditimbang. Kemungkinan kesalahan terjadi karena prosedur penimbangan
tersebut tidak dilakukan dengan tepat dan benar.
Bila dilihat secara umum, seharusnya semakin banyak karbon aktif diberikan
pada suatu sample maka kemampuan karbon aktif untuk mengadsorpsi bahan organik
(yang diindikasikan dengan hilangnya warna, bau dan rasa) akan semakin besar.
Sehingga semakin banyak diberikan karbon aktif maka konsentrasi zat pencemar
akhir dari sample akan semakin menurun. Konsentrasi sample dapat dikatakan
menurun selain diperoleh dari hasil hitungan dapat juga langsung dilihat dari
perubahan warna yang diukur di spektrofotometer. Semakin kecil nilai absorbansi
maka semakin kecil pula konsentrasi yang akan terukur.
Data yang dihasilkan, menunjukkan bila selisih konsentrasi awal dan akhir
besar maka % removal atau kemampuan karbon aktif untuk mengadsorpsi semakin
besar. Hal itu dapat terlihat dari data pada penambahan karbon aktif sebanyak 18
gram. Nilai konsentrasi awal 0,242 dan konsentrasi akhir 0,400 sehingga selisihnya
0,158 dan memiliki % removal sebesar 65,3 %. Sedangkan untuk data yang memiliki
selisih besar akan menghasilkan % removal besar pula. Hal tersebut disebabkan pula
oleh perbedaan jumlah penambahan karbon aktif yang berbeda-beda.
BAB VI
SIMPULAN

1. Dosis terbaik penggunaan koagulan PAC adalah 400 mg/L dan 450 mg/L
2. Hasil data yang didapatkan kurang valid karena nilai setiap penambahan
karbon aktif, berfluktuatif.
3. Persen removal terbesar adalah 65,3% yaitu dengan penambahan karbon aktif
sebanyak 18 gram.
4. Tidak dapat diketahui % removal terkecil karena nilai berfluktuatif (tidak
valid).
DAFTAR PUSTAKA

Sasongko, Djoko. 1995. Teknik Sumberdaya Air Jilid 2. Jakarta: Erlangga.


Sudiartono, ujang. 2006. Master Plan Pengelolaan Limbah Industri Kab. Tangerang.
http://www.google.com. (20 Juni 2011).
Tim Dosen. 2010. Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan I. Jakarta:
Universitas Trisakti.