Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensoris dan emosional yang tidak
menyenangkan atau yang berhubngan dengan kerusakan jaringan atau potensial akan
menyebabkan kerusakan jaringan. Persepsi yang disebabkan oleh rangsangan yang
potensial dapat menyebabkan kerusakan jaringan disebut niciception. Nociception
merupakan langkah awal proses nyeri. Receptor neurologic yang dapat membedakan
antara rangsangan nyeri dengan rangsangan lain di sebut nociceptor.

Setiap individu pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyerimerupakan


alasan yang paling umum orang mencari kesehatan. Walaupunmerupakan salah satu dari
gejala yang paling sering terjadi di bidang medis, nyerimerupakan salah satu yang paling
sedikit dipahami. Individu yang seringmengalami nyeri merasa tertekan atau menderita
dan mencari upaya untukmenghilangkan nyeri. Nyeri bersifat subjektif, tidak ada dua
individu yang mengalami nyeri yang sama dan tidak ada dua kejadian nyeri yang sama
menghasilkan respon ataau perasaan identik pada seorang individu. Nyeri merupakan
sumber penyebab frustasi, baik klien maupun bagi tenaga kesehatan. Nyeri
dapat merupakan faktor utama yang menghambat kemampuan dan keinginanindividu
untuk pulih dari suatu penyakit.

Nyeri berbeda dari sensasi lain, yaitu bahwa nyeri memberi peringatan bahwa ada ses
uatu yang salah, nyeri mendahului sinyal lain, dan nyeri berkaitan dengan perasaan tidak
menyenangkan. Nyeri ternyata merupakan sensasi yang sangat rumit karena jika nyeri
berkepanjangan dan jaringan rusak, jalur-jalur nosiseptor sentral mengalami fasilitasi dan
reorganisasi. IASP mendefinisikan nyeri sebagai suatu sensori subjek dan pengalaman
emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual
atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu agar mahasiswa/i mampu mengetahui :
a. Pengertian Pain management ( management nyeri )
b. Mekanisme nyeri akibat inflamasi (peradangan)
c. Kelainan-kelainan sendi akibat inflamasi dan gangguan mekanik
d. Terapi pain management
e. Tindakan promotif, preventif dan rehabilitasi pada penyakit dengan nyeri sendi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pain Management


Manajemen nyeri atau pain management adalah salah satu bagian daridisiplin ilmu
medis yang berkaitan dengan upaya-upaya menghilangkan nyeri atau pain relief.
Manajemen nyeri cukup efektif dalam mengatasi nyeri, yakni
dengan perasaan kontrol, mengurangi perasaan tidak berdaya dan putus asa menjadi
metode pengalih yang menenangkan, serta menggangu siklus nyeri-ansietas-
ketegangan(Sloman, 1995).

2.2 Mekanisme Nyeri Inflamasi.


Inflamasi adalah merupakan interaksi yang sangat komplek antara faktor jaringan dalam
upaya memberikan respon terhadap trauma maupun infeksi dan proses ini menyebabkan
kerusakan jaringan yang selanjutnya diikuti penyembuhan. Proses inflamasi ini akan
mengakibatkan respon seluler dari immune sel ( makrofag dan neutrofil ) dan sel-sel lainnya (
sel schwan dan mast sel ) yang akan memproduksi mediator-mediator yang dapat
mengaktivasi serta menyebabkan sensitisasi dari pada nosiseptor.

Menyusul terjadinya kerusakan pada jaringan , maka tubuh akan memberikan respon sebagai
upaya untuk proteksi diri , yaitu berupa :
1. Respon Lokal .
Dengan terdapatnya sel jaringan yang rusak, maka akan terjadi pelepasan mediator
nyeri inflamasi perifer yang berasal dari 3 tempat yaitu :
a. Sel rusak dan sel-sel immune.
1) Prostaglandin.
Pada nyeri inflamasi yang memegang peranan sangat penting adalah
terdapatnya mediator inflamasi turunan dari asam arachidonat. Pada jaringan
yang rusak membrana pospolipid sel dengan katalisator enzyme pospolipase
akan membentuk asam arachidonat. Dan selanjutnya asam arachidonat ini
dengan bantuan enzyme cyclooksigenase akan membentuk substansi nyeri
berupa prostaglandin ( PGE-2, PGD-2, PGF-2, PGI-2 ) ( yang akan
mempengaruhi reseptor prostaglandin yang terdapat pada saraf sensoris perifer
dan medulla spinalis ) dan thromboxane. Dan ternyata Prostaglandin E-2 yang
mempunyai peranan utama pada mekanisme nyeri inflamasi yang mendukung
terjadinya aktivasi nosiseptor secara langsung berupa sensitisasi pada neuron
primer aferen. Dengan demikian menghambat enzyme cyclooksigenase ( COX-
1 dan COX-2 ) dan menghambat reseptor prostanoid adalah penting untuk
mengurangi nyeri inflamasi.
2) Sitokin.
Sitokin sebagai mediator yang memainkan peranan penting selain
prostaglandin dalam proses inflamasi dan berpengaruh pada neuron sensoris.
Disamping itu sitokin secara langsung dapat merangsang terbentuknya
prostaglandin dan nampaknya juga menginduksi terjadinya sensitisassi perifer.
3) Neurotrophins.
Mediator inflamasi golongan ini mempunyai peran meningkatkan sintesis
neuropeptide ( subtan P ) dan meningkatkan eksitabilitas neuron saraf sensoris
4) Serotonin .
Serotonin merupakan mediator yang terbentuk pada respon awal inflamasi,
dihasilkan oleh mast cell dan platelet selama injury dan inflamasi. Serotonin
mempunyai efek aktivasi langsung reseptor pada neuron saraf sensoris .
5) Adenosin.
Adenosisn diduga berperan dalam nyeri yang bekerja melalui
reseptor purinergik, yang dapat mempermudah terjadinya transmisi sinaptik .
6) Cannabinoids.
Merupakan substansi neuroaktif ( physiological antagonism ) yang diproduksi
oleh jaringan yang mengalami inflamasi atau jaringan sekitarnya. Substansi ini
bekerja pada reseptor cannabinoid baik yang terdapat pada system saraf perifer
maupun sentral sehingga menyebabkan degranulasi mast cells tidak terjadi dan
eksitabilitas nosiseptor terhambat .
7) Histamin.
Mediator inflamasi yang dilepaskan oleh mast cells akibat terjadinya
degranulasi dari mast cells, yang selanjutnya akan mensensitisasi aferen
nosiseptor dan merupakan mediator yang bersifat vasoaktif sehingga
menimbulkan respon inflamsi berupa edema.
8) Leucotrines.
Produk-produk turunan dari asam arachidonat selain prostaglandin adalah
leucotrines yang menyebabkan sensitisasi reseptor perifer dan meningkatkan
responsibilitas terhadap stimuli-stimuli lainnya.
9) Kinin .
Mediator golongan kinin ini dilepaskan pada jaringan yang cedera dan
mempunyai kontribusi terhadap terjadinya inflamasi. Efeknya sangat komplek
pada neuron aferen primer termasuk aktivasi dan sensitisasi langsung pada
reseptor.
b. Plasma darah :
Dari plasma darah akan dilepaskan bradikinin sebagai akibat perubahan
permiabilitas pembuluh darah. Bradikinin merupakan mediator inflamasi penting
yang mengakibatkan aktifasi dan sensitisasi nosiseptor perifer
c. Ujung saraf
Akibat terdapatnya protease dari sirkulasi dan vaskuler epithelium yang rusak
akan terjadi aktivasi reseptor protease pada saraf sensoris sehingga terjadi
pelepasan neuropeptida yaitu substansi – P yang akan mengaktifasi reseptor-
reseptor ditingkat yang lebih tinggi.

2. Respon Segmental.
Respon ini terjadi pada tingkat medulla spinalis, dimana rangsang nyeri perifer yang
dihantarkan oleh serabut saraf A-delta dan C, akan mengaktifkan kornu posterior dan
juga kornu anterior serta lateralis medulla spinalis. Aktifasi tingkat medulla spinalis ini
dapat menyebabkan spasme otot, spasme pembuluh darah dan menekan aktifitas
saluran cerna. Spasme otot yang terjadi akan menjadi sumber stimuli baru, sehingga
rasa nyeri dirasakan lebih hebat, demikian pula dengan adanya spasme pembuluh
darah akan menyebabkan iskemia dan hipoksia jaringan yang mengakibatkan asidosis
jaringan serta akan menurunkan nilai ambang nyeri, sehingga rasa nyeri yang timbul
menjadi semakin hebat. Selain itu asupan rangsang nyeri dari kulit dapat mengaktifasi
medulla spinal sehingga timbul reflek kutaneovisceral yang akan menyebabkan
menurunnya peristaltik usus segala resikonya.

3. Respon Suprasegmental
Respon suprasegmental ini terjadi sebagai akibat stimulasi pusat saraf otonom di
Hypothalamus, yang manifestasinya adalah meningkatnya aktifitas saraf simpatis. Dan
didalam klinis manifestasinya berupa vasokontriksi, meningkatnya denyut nadi,
curah jantung , meningkatnya tekanan darah dan terjadi pelepasan hormon steroid dari
glandula suprarenalis.

4. Respon Kortikal
Respon ini juga terjadi pada tingkat susunan saraf pusat tepatnya pada Kortex Cerebri
yang berupa respon psikodinamik. Yang dapat menghasilkan rasa cemas, takut dan
gelisah yang selanjutnya dapat mengundang umpan balik berupa menurunnya nilai
ambang nyeri, sehingga nyeri akan dirasakan lebih hebat. Respon kortikal ini sangat
dipengauhi oleh latar belakang pendidikan, motivasi dan budaya seseorang.

Kesimpulan.
Mekanisme komplek yang mendasari nyeri inflamasi adalah terangsangnya reseptor
dan keberadaannya mediator inflamasi yang terbentuk didaerah cedera atau daerah
ynag mengalami inflamasi. Mediatormediator akan selalu terbentuk selama proses
inflamasi masih terjadi dan apabila proses ini tidak dihentikan maka mediator tersebut
akan tetap mensensitisasi reseptor dan nyeri akan dirasakan terus menerus (sensitisasi).

2.3 Kelainan-Kelainan Sendi Karena Inflamasi Dan Gangguan Mekanik


OA RA GOUT
Faktor Usia Autoimun  Perubahan
Pencetus Kelainan yang kadar
mencangkup Endokrin, asam urat
Inflamasi, serum >>
Pertumbuhan, atau <<
Herediter  Pemakaia
n alcohol
berat
menyebab
kan
fluktuasi
pada asam
urat serum
Etiologi Degeneratif Infeksi Penunmpukan
menyebabkan agen penyebab (
inflamasi NSU )

Patofisiologi Tulang rawan sendi Autoimun 1.penurunan urat


tidak statis poliferasi serum ->
makrofag dan pelepasan kristal
Selalu mengalami fibroblast monosodium urat
pertukaran pada synovial dari tofi
komponen matrix 2.penurunan tsbt -
Limfosit > timbul keadaan
Yang rusak diurai oleh asimptomatik
enzim pengurai dan Poliferasi sel 3.serangan trjd
dibentuk kembali oleh Endotel dgn ada'y
kolagen dan proteoglikan prubahantemperat
yang ketiga-tiganya Neovaskularisa ur, pH, &
dihasilkan kondrosit si kelarutan urat
( terjadinya osteoartristis 4.kelarutan
karena penurunan fungsi sodium urat
kerja kondrosit ) menurun pda
temperatur lebih
rendah pda sendi
perifer (sendi
kaki&tangan)
5.MSU (kristal
monosodium) di
endapkan
6.pngendapan
MSU pda MTP
brhub dgn trauma
sering & brulang2

maaf ya klupaan
(DP)

Gejala Kaku pada pagi hari Kaku pada 1.tahap pertama


Pada tungikai bawah dan pagi hari asimptomatik
patella Artritis pada 3 2. tahap kedua
Hambatan gerakan sendi persendian gejalanya adalah
Krepitasi ( rasa atau lebih pembengkakan
gemeretak yang kadang- Arthritis pada pada sendi ibu
kadang dapat terdengar persendian jari dan MTP
pada sendi yang sakit ) tangan Peradangan local,
Pembesaran sendi ( Arthritis 9 demam dan
deformitas ) simetrik peningkatan
Perubahan gaya berjalan Nodus jumlah sel darah
revmatoid putih
Factor 3. tidak ada gejala
revmatoud tapi terjadi
serum positif serangan ulang
Perubahan satu tahun
gambaran kemudian jika
radiologi tidak diobati
4.nyeri, sakit,
kaku, pembesaran
dan penonjolan
dari sendi
Pemeriksaan Inspeksi : perubahan Inspeksi: di liat Saat berjalan dan
Fisik gaya berjalan dan adanya ada tanda- saat diam
kemerahan pada sendi tanda radang?
yang terkena Deformitas
Palpasi : raba bagian sendi
yang nyeri dan rasa ada Palpasi: ada
calor yang menandai nyeri tekan?
adanya inflamasi Nyeri gerak?
Panas?
Krepitasi?
Pemeriksaan MRI C – Reactive Radiografi dan
Penunjang CT SCAN pprotein ( test kolkisin
a.MRI Rongen CRP )
b.CT- SCAN Laju Endap
c.Rontgen darah LED )
Hemoglobin
atau
Hematokin
Jumlah
leukosit
Jumlah
trombosit
Fungsi hati
Factor
rheumatoid
Foto polos
sendi
MRI
Anti RA33
Fungsi Ginjal
Urenalisis
Penata Farmako : Farmako : Farmako :
Laksanaan Analgesik oral non Glukokortikoid Kolkisin, obat
a.Farmakolog opiate, analgesic topical, dosis rendah anti inflamasi non
is obat anti inflamasi Intra steroid ( OAINS )
b.Non steroid atau OAINS, antikuolar dan kortikosteroid,
Farmakologis CHONDROPROTECTI DMARD dan alo kurino
VE agen, terapi bedah Analgetik Ex : NonFarmakologi
Asetaminopher :
Non Farmako : Oplatdiprokual Pengaturan diet,
 Terapi one dan dan istirahat sendi
istirahat lidokaintopikal
 Terapi Non farmako :
latihan Terapi puasa
 Terapi Termoterapi (
dengan terapi spa
modalitas Pemberian
tertentu minyak ikan
 Terapi bisa digunakan
ortotik sebagai
serta NSAID –
okupasion Sparing
al maupun Angensta
psikologi Edukasi
k.

Prognosis Lambat dan baik Prognosis Baik :


buruk pada berkurangnya
stadium dini peradangan akut
AR antara lain pada nyeri sendi
: Buruk :
skorfungsional kerussakan ginjal
rendah, status dan batu ginjal
social ekonomi
rendah, tingkat
pendidikan
rendah ada
riwayat
keluarga dekat
penderita AR
melibatkan
banyak sekali
nilai CRP ( /
LED +, ada
perubahan
Radiologi pada
waktu
peenyakit pada
NodulReumato
id atau
Manifestasi
ekstraartikular
lain
Komlikasi Dislokasi, Anemia Kerusakan ginjal,
deformitas Kanker eksresi asam urat
Komplikasi buruk,
cardiac proteinuria, batu
Penyakit ginjal dan
tulang hipertensi ringan
belakang
Lester
Gangguan
mata
Pembentukan
infeksi
Deformitas
sendi
tangan,dll
Komplikasi
pernafasan
Nodul
rheumatoid
Veskulitoid
Kelainan Pada Sendi
1. Terkilir atau keseleo (sprain) adalah gangguan sendi akibat gerakan yang tidak
biasa, dipaksakan atau bergerak secara tiba-tiba. Terkilir dapat menyebabkan memar,
bengkak dan rasa sakit.

2. Dislokasi adalah pergeseran tulang penyusun sendi dari posisi normal.

3. Osteoartritis (Keropos Sendi) Yaitu peradangan pada sendi yang disebabkan


rapuhnya kapsul sendi,sehingga merusak lapisan tulang rawan yang menutup
permukaan ujung ujung tulang. Umumnya menyerang sendi sendi penopang tubuh
seperti lutut pinggul,tulang belakang.Osteoartritis umumnya menyerang usia
lanjut.Pada sebagian penderita tidak sampai parah. Degenerasi atau ausnya kartilago (
jaringan elastis) yang seharusnya melingkari ujung ujung tulang tulang pada
persendian.
4. Ankikolis adalah sendi tidak dapat digerakkan dan ujung-ujung antartulang terasa
bersatu.

5. Urai Sendi adalah robeknya selaput sendi yang diikuti oleh terlepasnya ujung tulang
sendi.
6. Artritis adalah peradangan pada sendi yang disertai bengkak, kaku, keterbatasan
bergerak dan rasa sakit.
Adapun bentuk-bentuk artritis, antara lain:
 Artrisis Eskudatif adalah terisinya rongga sendi oleh cairan yang
disebut getah radang. Penyakit ini terjadi karena serangan kuman.
 Artrisis Sika adalah berkurangnya minyak sendi yang menyebabkan
rasa nyeri saat tulang digerakkan
 Atritis Gout ( Gaut Atritis) terjadi karena adanya timbunan asam urat
pada sendi-sendi kecil terutama jari - jari tangan. Sebagai akibatnya
ruas jari-jari membesar.
 Atritis Reumatoid adalah penyakit yang timbul akibat sistem kekebalan
tubuh secara keliru menyerang jaringan yangs sehat sehingga
menyebabkan peradangan pada sendi. Penyakit ini lebih sering diderita
oleh wanita berusia 25-55 tahun
 Artritis Psoriatik adalah radang sendi yang terjadi pada orang-orang
yang menderita psoariasis pada kulit atau kuku. Psoariasis merupakan
kelainan kulit menahun yang menyebabkan timbulnya bercak-bercak
merah di kulit.
 Atritis Septik adalah radang sendi yang disebabkan oleh infeksi
bakteri.
7. Serangan Kuman pada Sendi
 Infeksi gonorhoe dan sifilis dapat menyerang persendian sehingga
sendi menjadi kaku.
 Layuh sendi adalah keadaan tidak bertenaga pada sendi yang
disebabkan layuhnya tulang akibat infeksi sifilis ketika bayi dalam
kandungan.

8. Arthralgia adalah dari kata arthrom dan algia: sakit, jadi maksudnya sakit sendi.
Sindroma Felty: penyakit sendi dengan gejala antara lain rheumatoid arthritis, limpa
membesar, anemia, sel darah putih rendah, sel pembeku darah rendah, bercak
pigentasi pada kulit anggota bawah.
Akibat gangguan mekanik
a. Dislokasi
Dislokasi terjadi saat ligamen memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang
berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh
faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir.
b. Terkilir atau keseleo adalah gangguan sendi akibat gerakan pada sendi yang tidak
biasa, dipaksakan atau bergerak secara tiba-tiba. Umumnya kesleo bisa menyebabkan
rasa yang sangat sakit dan bengkak pada bagian yang keseleo.

Stimulus noxios

Transduksi
Nosireseptor

Susunan saraf
pusat Neuron aferen primer
Transmisi
Kornu dorsalis
spinalis

Modulasi Batang otak Thalamus Medula spenalis

Persepsi

Pada proses inflamasi, proses nyeri terjadi karena stimulus nosiseptor akibat pembebasan
berbagai mediator biokimiawi selama proses inflamasi terjadi. Inflamasi terjadi akibat
rangkaian reaksi imunologik yang dimulai oleh adanya antigen yang kemudian diproses oleh
Antigen Presenting Cells (APC) yang kemudian akan di ekresikan ke permukaan sel dengan
determinan HLA yang sesuai. Antigen yang di ekresikan tersebut akan diikat oleh sel T
melalui reseptor T pada permukaan sel T membentuk Komplek trimolukuler. Kompleks
imunologik dengan pelepasan berbagai sitokin (IL-1, IL-2) sehingg terjadi aktifasi, mitosis
dan poliferasi sel T tersebut. Sel T yang yang teraktifasi juga akan menghasilkan berbagai
limfokin dan mediator inflamasi yang bekerja merangsang makrofag untuk meningkatkan
aktifitas fagositosisnya dan merangsang foliferasi dan aktifasi sel B untuk memproduksi
antibody.

2.4 Pain Management Therapy


a. Spinal Decompression. Terapi Spinal Decompression menggunakan traksi yang
dikendalikan oleh computer yang disesuaikan denagn kondisi dan kebutuhan setiap
individu. Dengan tujuan merenggangkan sendi sendi di tulang punggung untuk
mengembalikan bentuk dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang punggung.
b. Dry Needling. Terapi dry needling dimaksudkan untuk membantu mengendurkan
otot-otot yang tegang atau terikat.
c. Trigger Point. Trigger point adalah serat otot yang sangat terkontraksi sehingga
menyebabkan nyeri luar biasa pada daerah munculnya trigger point dan dapat
menyebabkan kejang otot yang menyebabkan nyeri pada bagian tubuh lainnya.
Physiotherapist kami dapat membantu anda dalam menghilangkan rasa sakit pada
otot-otot.
d. Shockwave Therapy. Shockwave Therapy adalah teknologi yang relatif baru yang
tersedia untuk mengobati rasa sakit kronis. Terapi shockwave dapat efektif mencapai
80% mengurangi rasa sakit kronis dan gejala yang terkait. Telah digunakan dengan
baik dalam pengobatan olahraga selama lebih dari 10 tahun, dan telah menjadi pusat
banyak studi klinis. Kondisi yang diobati secara teratur dengan Shockwave
Therapy meliputi nyeri tumit, Plantar Fasciitis, Tendonitis Achilles. Shockwave
Therapy dapat digunakan untuk mempercepat proses penyembuhan, mengurangi rasa
sakit dan meningkatkan perbaikan jaringan. Terapi biasanya berlangsung hanya
beberapa menit dan rasa sakit yang berkurang biasanya dirasakan langsung setelah
perawatan (efek jangka pendek), dan sepanjang hari-hari berikutnya. Shockwave
Therapy tidak memiliki efek samping negatif dan merupakan pengobatan non-
invasif. Terapi shockwave juga dapat digunakan untuk mengobati patologi lain
seperti: Kista Ganglion dan Neuroma Morton.

2.5 Tindakan Promotif, Preventif, Dan Rehabilitatif Pada Penyakit Nyeri Sendi
a. PROMOTIF
1. Mempertinggi Nilai Kesehatan (Health Promotion)
Promotif adalah usaha mempromosikan kesehatan mengenai sendi kepada
masyarakat. Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan
individu,keluarga, kelompok dan masyarakat. Setiap individu berhak untuk
menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di
segala aspek pemeliharaan kesehatannya. Usaha ini merupakan pelayanan
terhadap pemeliharaan kesehatan pada umumnya.
Beberapa usaha diantaranya :
 Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya dalam
mencegah terjadinya penyakit pada sendi.
 Pengenalan penyakit nyeri sendi, penyebab, gejala, dan dampak nya

b. PREVENTIF
Penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti (seperti halnya penyakit
rematik) tidak dapat dicegah. Pencegahan hanya bersifat sekunder, yaitu mencegah
kambuhnya penyakit rematik yang sudah dapat dikendalikan. Bentuk pencegahan
preventif tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Pelajari cara-cara praktis untuk rileksasi. Otot atau urat yang tegang mudah
membuat persendian stres.
2. Jaga keseimbangan antara istirahat dan beraktivitas. Istirahat selama delapan jam
di malam hari ideal untuk menjaga kesehatan otot dan urat.
3. Berolahraga secara teratur, selama 20-30 menit per hari. Hindari latihan yang
dapat menyebabkan nyeri atau ngilu pada persendian.
4. Biasakan sikap tubuh yang baik. Angkat barang yang berat dengan tumpuan otot
pangkal paha (pinggul), bukan dengan punggung.
5. Lindungi persendian. Dalam udara dingin gunakan sarung tangan untuk
melindungi buku-buku jari, baju dalam panjang untuk melindungi lutut, dan
kaus kaki tebal untuk melindungi pergelangan dan jari kaki.
6. Pangkas berat badan jika Anda kegemukan. Mengurangi berat badan sebanyak 6
kg dapat memotong risiko nyeri sendi sampai 50 persen.
7. Hindari kursi dan kasur yang terlalu empuk.
8. Berendam dalam air hangat, terutama setelah latihan yang berat.
9. Usahakan tidak mengusung beban dengan cara digendong atau dipanggul, tapi
sebaiknya ditarik dengan alat. Gunakan gerobak atau alat beroda untuk
membawa kotak yang berat, misalnya.
c. REHABILITATIF
Tindakan rehabilitatif pada nyeri sendi
Edukasi
 Edukasi sangat penting bagi semua pasien OA, bahkan pada pasien tertentu
mungkin merupakan hal yang terpenting. Dua hal yang menjadi sasaran utama
program edukasi adalah bagaimana mengatasi nyeri dan disabilitas. Beberapa
penelitian menunjukkan pasien OA simtomatik yang mendapat program edukasi
memperoleh manfaat yang lebih besar (20-30%) dibanding kelompok yang
hanya mendapat NSAID saja. Hal ini dikarenakan edukasi meningkatkan pola
hidup sehat, meningkan aktivitas fisik, dan meningkatkan kemampuan pasien
dalam mengatasi rasa nyeri.
 Tujuan edukasi meliputi: mengurangi kecemasan, meningkatkan kepatuhan
pengelolaan, perubahan perilaku yang sesuai, meningkatkan fungsi dan citra diri.
 Karena OA merupakan penyakit yang kronik, maka pasien harus kita ajak untuk
memahami bahwa mungkin dalam derajat tertentu mungkin akan tetap ada rasa
nyeri, kaku dan keterbatasan gerak serta fungsi. Hal tersebut perlu difahami dan
disadari sebagai bagian dari realitas kehidupannya. Kepada pasien kita terangkan
bagaimana cara mengurangi rasa nyeri, mempertahankan mobilitas dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mengakomodasi keterbatasan.

 Edukasi pada hal khusus seperti:


- pemahaman penyakit dan fungsi sendi
- perlindungan sendi
- konservasi energi
- seksual dan psikososial

Jelaskan cara dan tindakan prognosis pada penyakit nyeri sendi


Cara Menentukan Prognosis
 Cara yang dapat dilakukan untuk menegakkan prognosis adalah dengan melakukan
diagnosis
 Diagnosis :
 Inspeksi
 Palpasi
 Perkusi
 Auskultasi ( tidak digunakan untuk nyeri sendi)
 Pemeriksaan Tunjangan
o Rontgen

Pengobatan
a. Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat simpotamatik.
Obat anti inflamasi nonsteroid(OAINS) bekerja hanya sebagai analgesic
danmengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses patologis.
a) Analgesic yang dapatdipakai adalah asetaminofen dosis 2,6-4,9 g/hari atau
profoksifen HCL. Asam salisilat juga cukup efektif namun perhatikan efek
samping pada saluran cerna dan ginjal
b) Jika tidak berpengaruh, atau tidak dapat peradangan maka OAINS seperti
fenofrofin, piroksikam,ibuprofen dapat digunakan. Dosis untuk osteoarthritis
biasanya ½-1/3 dosis penuh untuk arthritis rematoid. Karena pemakaian
biasanya untuk jangka panjang, efek samping utama adalahganggauan mukosa
lambung dan gangguan faal ginjal.
b. Perlindungan sendi dengan koreksi postur tubuh yang buruk, penyangga untuk
lordosis lumbal, menghindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit , dan
pemakaian alat-alat untuk meringankan kerja sendi.
c. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan.
d. Dukungan psikososial
e. Persoalaan seksual pada pasien dengan osteoarthritis ditulang belakang.
f. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin serta program latihan yang tepat.
g. Operasi dipertimbangkan pada pasien dengan kerusakan sendi yang nyata dengan
nyeri yang menetap dan kelemahan fungsi.
h. Terapi konservatif mencakup penggunaan kompres hangat, penurunan berat
badan, upaya untuk menhistirahatkan sendi serta menghindari penggunaan sendi
yang berlebihan pemakaian alat-alat ortotail. Untuk menyangga sendi yang
mengalami inflamasi (bidai penopang) dan latihan isometric serta postural. Terapi
okupasioanl dan fisioterapi da[pat membantu pasien untuk mengadopsi strategi
penangan mandiri.
Jika Tidak diobati
 tidak bisa berjalan.
 perubahan bentuk atau deformity. Jika dibiarkan, osteoarthritis dapat menyebabkan
 cacat permanen pada tulang.
 Bentuk tulang bisa berubah menjadi bengkok ke dalam ataupun ke luar. Untuk itu
penyakit tersebut perlu diwaspadai karena mempunyai dampak jangka panjang.
Dampak tersebut umumnya baru dirasakan penderita sekitar 10 tahun kemudian.
 Umumnya baik, sebagian besar nyeri dapat diatasi dengan obat-obat konservatif.
Hanya kasus-kasus berat yang memerlukan operasi.
 Untuk penanganan osteoarthritis dengan melakukan operasi dapat dilakukan juga
melalui proses viskosuplementasi.
 proses viskosuplementasi adalah cara yang dapat membantu pemulihan dan
peningkatan pembatalan serta pelumasan cairan sinovial persendian pada penderita
osteoarthritis. pada proses viskosuplementasi dilakukan penyuntikan semacam cairan
atau gel yang sama dengan cairan sinovial ke dalam persendian untuk memulihkan
sifat peredam kejut (shock breaker) serta pelumasan cairan sinovial yang terkena
osteoarthritis.
 Pada stadium lanjut, seperti stadium 3 dan 4, sering kali sendi, terutama lutut, menjadi
bengkok sehingga diperlukan penggantian sendi lutut. Tindakan yang disebut
arthroplasty ini adalah penggantian permukaan sendi pangkal paha. Setelah operasi
ini, pasien dapat berjalan kembali dengan baik tanpa terasa nyeri.
Berikan kompres air hangat pada bagian yang sakit untuk mengurangi nyeri, relaksasi,
dan melancarkan aliran darah.
 Berikan kompres dingin untuk mengurangi rasa sakit dan ketegangan otot saat terjadi
kekambuhan.