Anda di halaman 1dari 7

TUGAS

Mata Kuliah : Hukum Bisnis

Nama : Desty Hani Aulia


NIM : 165030201111141
Prodi : Ilmu Administrasi Bisnis 2016
Kelas: I

Efektivitas Arbitrase sebagai Lembaga Penyelesaian Sengketa Bisnis

Dunia bisnis oleh persiangan (competition) dan kerjasama (cooperation). Terlebih lagi
beberapa tahun belakangan ini dunia terintegrasi tanpa batas (the borderless world),
persaingan antara pelaku bisnis semakin ketat, tetapi sekaligus membuka peluang yang luas
dalam kerjasama di berbagai usaha. Sengketa ataupun konflik merupakan sesuatu yang
lumrah terjadi dalam hubungan binis. Dalam menghadapi sengketa yang meningkat
diperlukan mekanisme yang tepat dalam penyelesaian sengketa tersebut. Salah satu lembaga
tempat penyelesaian sengketa yang dapat digunakan para pelaku binis adalah lembaga
arbitrase.

Di Indonesia, arbitrase sebagai salah satu mekanisme penyelesaian sengketa diluar


pengadilan. Menurut Subekti dalam ( B Nasution 2016 ), arbitrase adalah penyelesaian
suatu perselisihan (perkara) oleh seorang atau beberapa orang wasit (arbiter) yang
bersama-sama ditunjuk oleh para pihak yang berperkara dengan tidak diselesaikan melalui
pengadilan. Menurut UU Arbitrase dan APS, dalam Pasal 1 angka 1, arbitrase adalah cara
penyelesaian suatu sengketa diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian
arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Arbitrase adalah
mekanisme yang dipilih atas kesepakatan bersama oleh para pihak untuk menyelesaikan
sengketa komersial yang terjadi diantara 2 pihak yang penyelesaiannya atas sengketa
tersebut diserahkan kepada seorang arbiter yang ditunjuk atas kesepakatan bersama oleh
para pihak/lembaga arbitrase secara tertulis dimana putusan yang dihasilkan oleh
arbiter/lembaga arbitrase itu bersifat final yang berarti tidak dapat diajukan upaya
hukum terhadapnya dan bersifat mengikat yang berarti keputusan yang dihasilkan harus
diterima dan dijalankan oleh kedua pihak secara sukarela.

Ada beberapa pertimbangan yang melandasi para pihak untuk memilih arbitrase baik
nasional maupun internasional sebagai upaya penyelesaian perselisihan mereka.
Pertimbangan pertama adalah ketidakpercayaan para pihak terhadap pengadilan negeri
dikarenakanPenyelsaian sengketa dengan membuat suatu gugatan melalui
pengadilan akan menghabiskan jangka waktu yang relatif panjang, ini dikarenakan
Pengadilan Umum mempunyai 3 tingkatan, yaitu Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi
dan Mahkamah Agung. Jika para pihak merasa tidak puas dengan putusan itu akan naik
banding dan kasasi sehingga akan memakan waktu yang panjang dan berlarut- larut. Pada
lembaga Peradilan Umum sering dijumpai adanya tunggakan perkara-perkara yang
menyebabkan semakin lamanya penyelesaian perkara melalui pengadilan. Pertimbangan
kedua adalah prosesnya cepat. Arbitrase sebagai suatu proses pengambilan keputusan,
seringkali lebih cepat dan tidak begitu formal dan lebih murah dari pada proses litigasi di
pengadilan. Pada umumnya prosedur arbitrase ditentukan dengan memberikan batas
waktu penyelesaian dalam pemeriksaan sengketa.
Pasal 48 ayat (1) UU Arbitrase dan APS juga disebutkan bahwa pemeriksaan atas perkara
harus diselesaikan dalam waktu paling lama 180 hari atau 6 bulan. Menurut BANI
proses arbitrase memerlukan waktu paling lama enam bulan. Ketiga, prosesenya
Dilakukan secara rahasi, karena pemeriksaan maupun pemutusan sengketa oleh suatu
majelis arbitrase selalu dilakukan secara tertutup sehingga tidak ada publikasi dan para
pihak terjaga kerahasiaannya. Sedangkan pada sidang pengadilan, menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, dilaksanakan dengan sifat terbuka untuk
umum, begitu pula putusannya diucapkan dalam sidang terbuka. Keempat, para pihak yang
bersengketa dapat bebas memilih arbiter yang akan menyelesaikan persengketaan mereka.
Jika dalam hal ini para pihak tidak bersepakat dalam memilih arbiter, maka menurut Pasal
13 ayat (1) UU Arbitrase dan APS, “Apabila tidak tercapai kesepakatan mengenai
pemilihan arbiter atau tidak ada ketentuan mengenai pengangkatan arbiter, ketua
Pengadilan Negeri dapat menunjuk arbiter atau majelis arbiter.” Selain itu arbiter juga

Kelima, diselesaikan oleh ahlinya (expert). Penyelesaian sengketa melalui arbitrase tidak
memerlukan saksi ahli karena para pihak yang bersengketa dapat menunjuk para ahli untuk
menjadi arbiter yang serba mengetahui masalah yang dipersengketakan. Menyelesaikan
kasus perdagangan internasional pada Pengadilan memerlukan biaya tambahan
dikarenakan sering sekali dijumpai hakim kurang paham/kurang mampu menangani kasus
yang bersifat teknis. Keenam, putusan arbitrase pada umumnya dianggap final dan
mengikat (binding) yang berarti tidak ada upaya untuk banding. Namun, apabila
hukum yang berlaku pada yuridiksi yang bersangkutan menetapkan pelaksanaan putusan
arbitrase melalui pengadilan, pengadilan harus mengesahkannya dan tidak berhak
meninjau kembali persoalan (materi) dari putusan tersebut. Ketujuh, biaya lebih murah.
Biaya arbitrase biasanya terdiri dari biaya pendaftaran, biaya administrasi dan biaya arbiter
yang sudah ditentukan tarifnya. Prosedur arbitrase dibuat sesederhana mungkin dan tidak
terlalu formal. Disamping itu para arbiter adalah para ahli dan praktisi di bidang atau
pokok yang dipersengketakan sehingga diharapkan akan mampu memberikan putusan yang
cepat dan obejektif. Hal ini tentunya menghemat biaya jika dibandingkan melalui
pengadilan. Kedelapan, para pihak dapat memilih hukum yang akan diberlakukannya, yang
ditentukan oleh para pihak sendiri dalam perjanjian. Khususnya dalam kaitannya dengan
para pihak yang berbeda kewarganegaraan, para pihak yang bebas memilih hukum ini
berkaitan dengan teori hukum dalam Hukum Perdata Internasional (HPI). Hal ini karena
masing-masing negara mempunya Hukum Perdata Internasional tersendiri.

Kesembilan, mengenai k epekaan arbiter. Ciri penting lainnya dari arbitrase yang
mendasari para pihak memilih arbitrase adalah kepekaan/kearifan dari arbiter, termasuk
perangkat hukum yang akan diterapkan dalam menyelesaikan perselisihan pengadilan
dan arbiter menerapkan ketentuan hukum untuk membantu menyelesaikan persoalan-
persoalan sengketa yang dihadapinya, dalam hal-hal yang relevan, arbiter akan
memberikan perhatian yang besar terhadap keinginan, realitas dan praktik dagang para
pihak. Sebaliknya, pengadilan sebagai lembaga penyelesaian sengketa yang bersifat publik
seringkali memanfaatkan sengketa privat sebagai tempat untuk menonjolkan nilai-nilai
masyarakat. Akibatnya, dalam penyelesaian sengketa privat yang ditanganinya,
pertimbangan hakim sering kali mengutamakan kepentingan umum, kepentingan
privat/pribadi merupakan kepentingan yang kedua. Terakir, mengenai kecendrungan yang
modern. Kecendrungan yang terlihat pada dunia bisnis (perdangangan) modern adalah
liberalisasi peraturan perundang-undangan arbitrase untuk lebih mendorong pengunaan
arbitrase dari pada penyelesaian sengketa bisnis melalui pengadilan.

Pada umumnya undang-undang dirancang untuk memberikan otonomi, kebebasan,


dan fleksibilitas secara maksimal dalam menyelesaikan sengketa. Hal ini dilakukan dengan
memberikan kebebasan kepada para pihak untuk menunjuk hukum dan prinsip-prinsip
yang adil yang dapat diterapkan terhadap sengketa yang terjadi diantara mereka dan
memberikan kewenangan kepada mereka untuk melih arbiter.Dengan melihat
perbandingan antara arbitrase dengan peradilan pada umumnya, dapat disimpulkan bahwa
arbitase adalah lembaga yang efektif sebagai lembaga penyelesaian kasus bisnis.