Anda di halaman 1dari 2

Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid dari protein karena

penambahan bahan kimia sehingga partikel-partikel tersebut bersifat netral dan


membentuk endapan karena adanya gaya grafitasi (Poedjiadi 2009). Koagulasi dapat
ditimbulkan dengan pemanasan, penambahan asam dan perlakuan alkali. Dalam uji
koagulasi untuk pengujian keberadaan protein digunakan Salah satu parameter
adanya kelainan atau gangguan pada ginjal yaitu adanya protein di dalam urine.
Dalam keadaan normal, protein yang ada di dalam darah akan disaring oleh
glomerulus ginjal sehingga tidak akan mungkin didapat di dalam urine. Protein darah
merupakan molekul yang memiliki ukuran molekul yang sangat besar sehingga pada
orang yang normal, tidak akan bisa menembus saringan ginjal pada bagian
glomerulus. Jika ditemukan protein di dalam urine, itu artinya saringan yang ada di
glomerulus tersebut telah rusak (Poedjiadi 2009). Pemeriksaan keberadaan urine di
dalam urine dapat dilakukan dengan beberapa uji yaitu uji koagulasi, uji Bang, dan uji
Heller.

Uji yang pertama adalah uji koagulasi panas dan asam asetat. Panas yang
digunakan pada percobaan ini untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi
hidrofobik non polar . Hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi
kinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat
cepat sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut. Pemanasan akan membuat
protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun karena
energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada
struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan
peptida. Sedangkan penambahan asam asetat bertujuan agar larutan albumin
mencapai pH isoelektriknya sehingga bisa terkoagulasi (syuhada et al 2010).

Uji kedua yang dilakukan adalah uji Bang dimana pereaksi Bang adalah
alrutan buffer asetat dengan ph 4.7 . Kelarutan protein di dalam suatu cairan,
sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu,
kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas
memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH
tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif
dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik
(Hawab 2007). Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan
karena pada saat itu muatan listriknya netral. Albumin mempunyai titik isolistrik pada
pH 4.7 daripada itu maka ketika ditambahkan buffer pH 4.7 membentuk larutan yang
sangat keruh (Bintang 2010).

Poedjiadi, A. 2009. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.


Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta : Erlangga.
Syuhada , Noormartany , Alamsyah M , Nina SD. 2010. Korelasi proteinuria metode
rasio albumin-kreatinin urin dengan metode kromatografi pada preeklamasi.
MKB.44(2):218-223.