Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN TUTORIAL ILMU FORENSIK

SKENARIO 1. PAIJO GANTUNG DIRI

KELOMPOK 3 :
ANGGOTA PENYUSUN
1. Rosyiidah Husnaa Haniifah (6130014021)
2. Anydhia Fitriana Afiuddin (6130014022)
3. Anang Maulana Yusuf (6130014023)
4. Nur Amiroh Aulia Sari (6130014024)
5. Aisyah Imas Setiawati (6130014025)
6. Niken Ayu Kusumawardani (6130014026)
7. Rahmaniah Ulfah (6130014027)
8. Athiyatul Ulya (6130014028)
9. Nurma Islamiyah (6130014029)
10. Dana Madya Puspita (6130014030)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan tutorial berjudul “Skenario 1. Paijo Gantung Diri” telah melalui


konsultasi dan disetujui oleh Tutor Pembimbing

Surabaya, 30 Maret 2018

Pembimbing

Hotimah Masdan Salim, dr., Ph.D


(17081138)
ANGGOTA PENYUSUN

Rosyiidah Husnaa Haniifah (6130014021)


Anydhia Fitriana Afiuddin (6130014022)
Anang Maulana Yusuf (6130014023)
Nur Amiroh Aulia Sari (6130014024)
Aisyah Imas Setiawati (6130014025)
Niken Ayu Kusumawardani (6130014026)
Rahmaniah Ulfah (6130014027)
Athiyatul Ulya (6130014028)
Nurma Islamiyah (6130014029)
Dana Madya Puspita (6130014030)
Skenario
Paijo Gantung Diri
Seorang suami istri, Paijo 39 tahun dan Marni 27 tahun terlibat pertengkaran
hebat karena Paijo mencurigai Marni selingkuh. Sore itu Paijo melihat Marni diantar
pulang oleh seorang laki-laki. Hal itu sudah seringkali terjadi. Keesokan harinya
warga dikejutkan dengan ditemukannya Paijo tergantung di kusen pintu kamarnya
menggunakan tali. Warga melapor ke polisi. Polisi mengamankan TKP dan melarang
warga untuk menyentuh ataupun mengubah TKP. Polisi juga segera menghubungi
unit forensik untuk melakukan olah TKP dan menyatakan Paijo meninggal karena
asfiksia dan akan dilakukan otopsi.

STEP 1
Identifikasi Kata Sulit :
Tidak ditemukan kata sulit

Kata kunci:
1. Paijo 39 tahun
2. Pertengkaran rumah tangga
3. Perselingkuhan istrinya
4. Paijo tergantung di kusen pintu kamarnya
5. Paijo meninggal karena asfiksia

STEP 2
Identifikasi Masalah/Pertanyaan :
1. Apa saja tanda-tanda kematian yang didapatkan pada korban gantung diri?
2. Bagaimana mekanisme kematian Paijo (mulai tahapan, mekanisme, patfis)?

STEP 3
Jawaban Pertanyaan STEP 2 :
1. - Algor mortis
- Rigor mortis
- Livor mortis
- Sianosis muka dan tangan
- Lidah menjulur
- Tanda jeratan seperti garis putus-putus, tetapi kalau karena dijerat tandanya
garis melingkar
- Busa pada saluran pernapasan
2. Fase dyspneu: rangsangan medulla oblongata  4 menit  masih bisa
diselamatkan
Fase konvulsi: kejang klonik-tonik, bradikardi, opistotonus
Fase apneu: depresi pusat napas, napas berhenti, relaksasi sfingter
Fase akhir: refleks pupil & kornea (-)

HIPOTESIS
Seorang laki-laki meninggal karena asfiksia yang diduga akibat gantung diri.
STEP 4
MIND MAPPING

Korban meninggal Pertengkaran


Pandangan Islam
gantung diri
pasutri

Dilakukan olah TKP oleh


unit forensik

Pemeriksaan luar Pemeriksaan dalam

Menyatakan pasien
meninggal karena asfiksia

Mekanisme Asfiksia

STEP 5
Learning Objectives :
1. Menjelaskan tanda-tanda kematian yang didapatkan pada korban gantung diri
2. Menjelaskan mekanisme kematian gantung diri
3. Menjelaskan pembuatan VeR mati pada kasus ini (pemeriksaan dalam dan cara
otopsi)
4. Menjelaskan aspek medikolegal pada gantung diri
5. Menjelaskan pandangan islam mengenai gantung diri dan otopsi
6. Menjelaskan peran dokter terhadap kasus gantung diri
STEP 6
Belajar Mandiri

STEP 7
Jawaban Learning Objectives :
1. Tanda kematian yang didapatkan pada korban
Menurut Amir (2007) tanda kematian pada kasus gantung diri (hanging) sebagai
berikut :
1) Tanda penjeratan pada leher. Hal ini sangat penting diperhatikan oleh dokter, dan
keadaannya bergantung kepada beberapa kondisi:
a. Tanda penjeratannya jelas dan dalam jika bahan penggantung
yangdigunakan kecil dan keras dibandingkan jika menggunakan bahan yang
lembut dan lebar seperti selendang, maka bekas jeratan tidak begitu
jelas.Letak ikatan pada leher penting untuk membedakan hanging dan
strangulasi. Pada hanging :
i. 85% di atas cartilago thyroidea.
ii. 15% setinggi cartilago thyroidea.
iii. 5% di bawah cartilago thyroidea.
b. Bekas jeratan (ligature mark) berparit, bentuk oblik (miring) seperti ”V”
terbalik pada bagaian depan leher, dimulai pada leher bagian atas diantara
kartilago tiroid dengan dagu, lalu berjalan miring sejajar dengan garis
rahang bawah menuju belakang telinga. Tanda ini semakin tidak jelas pada
bagian belakang. Kadangkadang disertai luka lecet dan vesikel kecil di
pinggir jeratan.
c. Tanda penjeratan tersebut berwarna coklat gelap dan kulit tampak kering,
keras dan berkilat. Pada perabaan, kulit terasa seperti perabaan kertas
perkamen, disebut tanda parchmentasi. Bila jeratan tali keras, mula- mula
akan menimbulkan warna pucat kemudian berubah menjadi coklat seperti
warna kertas perkamen. Pada pinggir ikatan dijumpai daerah hiperemis dan
ekimosis. Ini menunjukkan bahwa pengikatan terjadi sewaktu korban masih
hidup. Bila pengikatan degan bahan yang lembut seperti selendang maka
terlihat bekasnya lebar dan tidak ada lekukan ikatan, biasanya miring dan
kontinu. Bila lama tergantung, di bagian atas jeratan warna kulit lebih gelap
karena adanya lebam mayat.
d. Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit di bagian bawah
telinga, tampak daerah segitiga pada kulit di bawah telinga, yaitu di bagian
yang tidak ada bekas jeratan. Kadang- kadang didapati juga bekas tekanan
simpul di kulit.
e. Pinggirannya berbatas tegas dan tidak terdapat tandatanda abrasi di
sekitarnya.
f. Jumlah tanda penjeratan Pada keadaan lain bisa didapati leher dililiti
beberapa kali secara horizontal baru kemudian digantung, dalam keadaan ini
didapati beberapa bekas jeratan yang lengkap, tetapi pada satu bagian tetap
ada bagian yang menunjukkan titik simpul.
2. Kedalaman dari bekas penjeratan juga menunjukkan lamanya tubuh tergantung,
berat badan korban (komplit atau inkomplit) dan ketatnya jeratan.
3. Jika korban lama tergantung, ukuran leher menjadi semakin panjang.
4. Tanda-tanda asfiksia
Muka pucat atau bisa bengkak, mata menonjol keluar, perdarahan berupa ptekia
tampak pada wajah dan subkonjuntiva (Tardeou's spot pada conjuntiva bulbi dan
palpebra).
5. Lidah. Jika posisi tali di bawah cartilago thyroidea maka lidah akan terlihat
menjulur ke luar dan berwarna lebih gelap akibat proses pengeringan.
6. Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan tempat
simpul tali. Keadaan ini merupakan tanda pasti penggantungan ante-mortem.
7. Lebam mayat Bila korban lama diturunkan dari gantungan, lebam mayat didapati
dikaki dan tangan bagian bawah terutama di ujungujung jari tangan dan kaki.
Bila segera diturunkan lebam mayat bisa didapati di bagian depan atau belakang
tubuh sesuai dengan letak tubuh sesudah diturunkan.
8. Posisi tangan biasanya dalam keadaan tergenggam.
9. Urin dan feses bisa keluar.
10. Kadang penis tampak ereksi akibat terkumpulnya darah.

2. Mekanisme kematian gantung diri


MEKANISME ASFIKSIA
Ada 4 stadium gejala / tanda dari asfiksia, yaitu (1,5):
♥ Fase dispneu / sianosis
♥ Fase konvulsi
♥ Fase apneu
♥ Fase akhir / terminal / final
Pada fase dispneu / sianosis asfiksia berlangsung kira-kira 4 menit. Fase ini
terjadi akibat rendahnya kadar oksigen dan tingginya kadar karbon dioksida.
Tingginya kadar karbon dioksida akan merangsang medulla oblongata sehingga
terjadi perubahan pada pernapasan, nadi dan tekanan darah. Pernapasan terlihat cepat,
berat, dan sukar. Nadi teraba cepat. Tekanan darah terukur meningkat.
Fase konvulsi asfiksia terjadi kira-kira 2 menit. Awalnya berupa kejang klonik
lalu kejang tonik kemudian opistotonik. Kesadaran mulai hilang, pupil dilatasi,
denyut jantung lambat, dan tekanan darah turun.
Fase apneu asfiksia berlangsung kira-kira 1 menit. Fase ini dapat kita amati
berupa adanya depresi pusat pernapasan (napas lemah), kesadaran menurun sampai
hilang dan relaksasi spingter.
Fase akhir asfiksia ditandai oleh adanya paralisis pusat pernapasan
lengkap. Denyut jantung beberapa saat masih ada lalu napas terhenti kemudian mati.

Patofisiologi pada tanda ASFIKSIA


Karena asfiksia merupakan mekanisme kematian, maka secara menyeluruh untuk
semua kasus akan ditemukan tanda-tanda umum yang hampir sama, yaitu:
Pada pemeriksaan luar (1,4,5):
♥ Muka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang
disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2.
♥ Tardieu’s spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieu’s spot merupakan
bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat.
♥ Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap karena terhambatnya
pembekuan darah dan meningkatnya fragilitas/permeabilitas kapiler. Hal ini
akibat meningkatnya kadar CO2sehingga darah dalam keadaan lebih cair. Lebam
mayat lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO2.
♥ Busa halus keluar dari hidung dan mulut. Busa halus ini disebabkan adanya
fenomena kocokan pada pernapasan kuat.

3. Pembuatan VeR mati pada kasus


Pembuatan VeR mati pada kasus ini (pemeriksaan luar) + cara autopsi (Pemeriksaan
dalam)
A. Pembuatan VER mati pada kasus ini
1) Bagian – bagian dari Visum et Repertum
Sudut kanan atas :
 Alamat tujuan SPVR(Rumah sakit atau dokter), dan tgl SPVR.
 Rumah sakit (Direktur) :
o Kepala bagian / SMF Bedah
o Kepala bagian / SMF Obgyn
o Kepala bagian / SMF Penyakit dalam
o Kepala bagian I.K.Forensik.
Sudut kiri atas :
 Alamat peminta VeR,
 Nomor surat, hal
 Lampiran.
Bagian tengah :
 Disebutkan SPVR korban hidup / mati
 Identitas korban (nama, umur, kelamin, kebangsaan, alamat, agama dan
pekerjaan).
 Peristiwanya (modus operandi) antara lain :
o Luka karena . . . . . . . . . . . . . . . .
o Keracunan (obat/racun . . . . . . . . . .)
o Kesusilaan (perkosaan / perzinahan / cabul)
o Mati karena (listrik, tenggelam, senjata api/tajam/tumpul dsb).
PEMBUKAAN
Kata Projustitia dicantumkan disudut kiri atas, dan dengan demikian visum et
repertum tidak perlu bermaterai, sesuai dengan pasal 136 KUHAP.
PENDAHULUAN
Bagian ini memuat antara lain :
 Identitas pemohon visum et repertum.
 Identitas dokter yang memeriksa / membuat visum et repertum.
 Tempat dilakukannya pemeriksaan (misalnya rumah sakit X Surabaya).
 Tanggal dan jam dilakukannya pemeriksaan.
 Identitas korban.
 Keterangan dari penyidik mengenai cara kematian, luka, dimana korban
dirawat, waktu korban meninggal.
 Keterangan mengenai orang yang menyerahkan / mengantar korban
pada dokter dan waktu saat korban diterima dirumah sakit.
PEMBERITAAN
 Identitas korban menurut pemeriksaan dokter, (umur, jenis kel,TB/BB),
serta keadaan umum
 Hasil pemeriksaan berupa kelainan yang ditemukan pada korban
 Tindakan – tindakan / operasi yang telah dilakukan.
 Hasil pemeriksaan tambahan.
Syarat – syarat :
 Memakai bahasa Indonesia yg mudah dimengerti orang awam.
 Angka harus ditulis dengan huruf, (4 cm ditulis empat sentimeter).
 Tidak dibenarkan menulis diagnose luka (luka bacok, luka tembak dll).
 Luka harus dilukiskan dengan kata – kata
 Memuat hasil pemeriksaan yang objektif (sesuai apa yang dilihat dan
ditemukan)
KESIMPULAN
 Bagian ini berupa pendapat pribadi dari dokter yang memeriksa,
mengenai hasil pemeriksaan sesuai dengan pengetahuan yang sebaik –
baiknya.
 Seseorang melakukan pengamatan dengan kelima panca indera
(pengelihatan, pendengaran, perasa, penciuman dan perabaan).
 Sifatnya subjektif.
PENUTUP
 Memuat kata “Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan
mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan”.
 Diakhiri dengan tanda tangan, nama lengkap / NIP dokter.

2) Prosedur, permintaan, penerimaan dan penyerahan Visum et Repertum


Pihak yang berhak meminta Ver :
 Penyidik, sesuai dengan pasal I ayat 1, yaitu pihak kepolisian yang
diangkat negara untuk menjalankan undang-undang
 Di wilayah sendiri, kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II
 Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat
 Pada mayat harus diberi label, sesuai KUHP 133 ayat C
Syarat pembuat :
 Harus seorang dokter (dokter gigi hanya terbatas pada gigi dan mulut)
 Di wilayah sendiri
 Memiliki SIP
 Kesehatan baik

3) Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk
membuat VeR jenazah, yaitu:
a) Harus tertulis, tidak boleh secara lisan
b) Harus sedini mungkin
c) Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar
d) Ada keterangan terjadinya kejahatan
e) Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki
f) Ada identitas pemintanya
g) Mencantumkan tanggal permintaan
h) Korban diantar oleh polisi

Saat menerima permintaan membuat VeR, dokter harus mencatat tanggal


dan jam, penerimaan surat permintaan, dan mencatat nama petugas yang
mengantar korban. Batas waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil VeR kepada
penyidik selama 20 hari. Bila belum selesai, batas waktunya menjadi 40 hari dan
atas persetujuan penuntut umum.
Lampiran visum :
 Fotografi forensic
 Identitas, kelainan – kelainan pada gambar tersebut
 Penjelasan istilah kedokteran
 Hasil pemeriksaan lab forensik (toksikologi, patologi, sitologi, mikrobiologi)
Visum Korban Meninggal
INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT ISLAM JEMURSARI
SURABAYA

VISUM ET REPERTUM
(JENAZAH)
PRO JUSTITIA
Berhubung dengan surat Saudara.
Nama : AGUS NUGROHO, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088.
Alamat : Kepolisian Sektor Kota Surabaya, Jl. Raya Made No. 50 Surabaya, 60233.
Jabatan : An. Kepala. Kepolisian Sektor kota Kediri.
Tertanggal : 16 Maret 2018, - No. Pol: 224/01/10/2008.

Yang kami terima pada tanggal ; 16 Maret 2018, maka kami, Dr. ......... SpF. Dokter
Spesialis Forensik, Dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik dan
Mediko Legal RSI Jemursari Surabaya, telah melakukan pemeriksaan luar pada
tanggal: 16 Maret 2018, pukul: 16.00 WIB dan pemeriksaan dalam pada tanggal: 16
Maret 2018, pukul: 16.30 WIB di rumah sakit tersebut di atas, atas jenazah yang
menurut surat Saudara tersebut.
Nama : Tn. Paijo, - Jenis kelamin : Laki – laki, - Umur : 39 Tahun
Alamat : Jalan WR. Supratman 115 Surabaya
Bangsa : Indonesia
Dengan dugaan meninggal karena : Gantung Diri
Korban ditemukan/ meninggal : tergantung di kusen pintu kamarna menggunakan tali
Pada tanggal : 16 Maret 2018, - Pukul : 07.00 WIB
Korban dibawa ke kamar jenazah RSI Jemursari Surabaya
Oleh : AGUS NUGROHO, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088 , Dengan kendaraan
No.Pol.: L 1234 UA
Pada tanggal: 16 Maret 2018, - Pukul : 11.30
HASIL PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN LUAR :
Korban seorang Laki – laki, Usia tiga puluh sembilan tahun , Tinggi badan ......
sentimeter, Berat badan ...... kilogram, keadaan gizi ......, warna kulit ......
1. Lebam mayat dan kaku mayat .......
2. Korban berlabel dan tidak bersegel, keadaan gizi baik.
3. Pakaian .......
4. Kepala / leher : kedua pupil mata ......, bibir atas dan bawah membiru ......, mulut
berisi ......, di leher ada bekas tali
5. Dada : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.
6. Perut : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.
7. Punggung : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.
8. Alat kelamin luar : ...... (ada / tidak cairan yang keluar)
9. Anggota gerak atas : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam
10. Anggota gerak bawah : tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam

PEMERIKSAAN DALAM :
1. Kepala / leher : (saluran kerongkongan tampak merah dan berlendir / ......).
2. Dada : (Paru dan jantung ditemukan / tidak kelainan) (perut : jaringan hati, limpa,
kelenjar ludah perut, kandung empedu, usus dan ginjal, kandung seni, ditemukan
kelainan / tidak)

PEMERIKSAAN TAMBAHAN :
(Ditemukan racun pada hati, usus, limpa, jantung korban / ......)
KESIMPULAN :
1. Korban seorang Laki – laki, Usia Tiga puluh sembilan tahun, Tinggi badan ......
sentimeter, Berat badan ...... kilogram, keadaan gizi ......, warna kulit ......, rambut
......, panjang ...... sentimeter.
2. Pemeriksaan Luar : ditemukan luka memar bekas tali di leher.
3. Pemeriksaan Dalam : tidak ditemukan memar di bawah kulit kepala, memar di
bawah kulit leher dan memar di bawah kulit dada serta ditemukan cairan warna
merah di rongga dada.
4. Pada alat kelamin ditemukan ......
5. Jadi korban meninggal dunia oleh karena asfiksia.
Demikian Visum Et Repertum ini saya buat dengan mengingat sumpah waktu
menerima jabatan.

Tanda tangan,

( Dr. ......, SpF. )


NIP. 030610012
nb : Semua angka seharusnya ditulis kembali dengan abjad misalnya : 3 (tiga)

B. Cara Autopsi
Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan
adanya penyidikan suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah temuan obyektif pada
korban, yang diperoleh dari pemeriksaan medis. (Chadha, 1995)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada otopsi medikolegal :
1. Tempat untuk melakukan otopsi adalah pada kamar jenazah.
2. Otopsi hanya dilakukan jika ada permintaan untuk otopsi oleh pihak yang
berwenang.
3. Otopsi harus segera dilakukan begitu mendapat surat permintaan untuk
otopsi.
4. Hal – hal yang berhubungan dengan penyebab kematian harus dikumpulkan
dahulu sebelum memulai otopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan
temuan-temuan dari pemeriksaan fisik.
5. Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan otopsi.
6. Identitas korban yang sesuai dengan pernyataan polisi harus dicatat pada
laporan. Pada kasus jenazah yang tidak dikenal, maka tanda-tanda
identifikasi, photo, sidik jari, dan lain-lain harus diperoleh.
7. Ketika dilakukan otopsi tidak boleh disaksikan oleh orang yang tidak
berwenang.
8. Pencatatan perincian pada saat tindakan otopsi dilakukan oleh asisten.
9. Pada laporan otopsi tidak boleh ada bagian yang dihapus.
10. Jenazah yang sudah membusuk juga bisa diotopsi. (Chadha, 1995)

Adapun persiapan yang dilakukan sebelum melakukan otopsi forensik / medikolegal :


1. Melengkapi surat – surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan dilakukan,
termasuk surat izin keluarga, surat permintaan pemeriksaan/pembuatan
visum et repertum.
2. Memastikan mayat yang akan diotopsi adalah mayat yang dimaksud dalam
surat tersebut.
3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian
selengkap mungkin untuk membantu memberi petunjuk pemeriksaan dan
jenis pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.
4. Memastikan alat-alat yang akan dipergunakan telah tersedia. Untuk otopsi
tidak diperlukan alat – alat khusus dan mahal, cukup :
Timbangan besar untuk menimbang mayat.
Timbangan kecil untuk menimbang organ.
Pisau, dapat dipakai pisau belati atau pisau dapur yang tajam.
Gunting, berujung runcing dan tumpul.
Pinset anatomi dan bedah.
Gergaji, gergaji besi yang biasanya dipakai di bengkel.
Forseps atau cunam untuk melepaskan duramater.
Gelas takar 1 liter.
Pahat.
Palu.
Meteran.
Jarum dan benang.
Sarung tangan.
Baskom dan ember.
Air yang mengalir
5. Mempersiapkan format otopsi, hal ini penting untuk memudahkan dalam
pembuatan laporan otopsi (Hamdani, 2000).

Beberapa peraturan perundang – undangan yang mengatur pekerjaan dokter dalam


membantu peradilan : (Idries, 1997)
a) Pasal 133 KUHAP :
 Ayat 1:
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa
yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan
keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli
lainnya.
 Ayat 2:
Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1
dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah
mayat.
 Ayat 3:
Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan baik dengan penuh penghormatan terhadap
mayat tersebut dan diberi label yg memuat identitas mayat diberi cap
jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
b) Pasal 134 KUHAP:
1) Dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan pembuktian bedah
mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan
terlebih dahulu kepada keluarga korban.
2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-
jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan
tersebut.
3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga
atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera
melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3)
undang – undang ini.
c) Pasal 179 KUHAP:
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran
kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli
demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka
yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka
mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang
sebaik – baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam
bidang keahliannya.

PEMERIKSAAN LUAR
Bagian pertama dari teknik otopsi adalah pemeriksaan luar. Sistematika pemeriksaan
luar adalah :
1) Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada
jempol kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas
pemeriksaan. Catat warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin.
Sedangkan label rumah sakit, untuk identifikasi di kamar jenazah, harus
tetap ada pada tubuh mayat.
2) Penutup Mayat : Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada
tidaknya bercak/pengotoran) dari penutup mayat.
3) Bungkus Mayat : Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada
tidaknya bercak/pengotoran) dari bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila
ada.
4) Pakaian Mayat : Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang
dikenakan di atas sampai di bawah, dari yang terluar sampai terdalam.
Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak tekstil,
bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu, monogram/inisial,
dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian bila ada
tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya.
5) Perhiasan Mayat : Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna,
merek, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
6) Mencatat benda di samping mayat.
7) Mencatat perubahan tanatologi :
 Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.
 Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada
tidaknya spasme kadaverik.
 Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu
ruangan pada saat tersebut.
 Pembusukan.
 Lain – lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.
8) Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur,
warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae
albicantes pada dinding perut.
9) Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas
khusus, meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali
dan cacat pada tubuh.
10) Memeriksa rambut yaitu distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari
rambut. Rambut kepala harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan
cara memotong dan mencabut sampai ke akarnya, paling sedikit dari 6 lokasi
kulit kepala yang berbeda. Potongan rambut ini disimpan dalam kantungan
yang telah ditandai sesuai tempat pengambilannya.
11) Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda
kekerasan, kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata,
warna, cari pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak
perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya kelainan fisiologik atau patologik.
Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa mata. Catat ukuran pupil,
bandingkan kiri dan kanan.
12) Mencatat daun telinga dan hidung pada bentuk dan kelainan/anomali.
13) Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi
dengan lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu,
kelainan letak, pewarnaan, dan sebagainya.
14) Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran
pembuluh darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara
menyeluruh.
15) Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat kelainan
bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Pada wanita
dicatat keadaan selaput darah dan komisura posterior, periksa sekret liang
sanggama. Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka,
benda asing, darah dan lain-lain.
16) Lain – lain. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda
perbendungan, ikterus, sianosis, edema, bekas pengobatan, bercak lumpur
atau pengotoran lain pada tubuh.
17) Bila terdapat tanda – tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka
pada tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka,
lokasi, ukuran, dll. Dalam luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua
tepi ditautkan. Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan,
antara lain : garis tengah melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang
belakang, garis mendatar melalui kedua puting susu, dan garis mendatar
melalui pusat.
Contoh :
Luka panjang dua setengah sentimeter dan masuk ke dalam dada. Ujung
yang satu letaknya dua sentimeter sebelah kiri dari garis tengah melalui
tulang dada dan dua sentimeter di atas garis mendatar melalui kedua puting
susu. Sedangkan ujung yang lain lima sentimeter sebelah kiri dari garis
tengah melalui tulang dada dan empat sentimeter di atas garis mendatar
melalui kedua puting susu. Saluran tusuk dilukis di bagian pemeriksaan
dalam, ditulis organ apa saja yang tertusuk.
18) Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya. (Tanto, 2014)

PEMERIKSAAN DALAM
Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut ini :
 Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai prosesus
xifoideus kemudian 2 jari paramedian kiri dari puat sampai simfisis, dengan
demikian tidak perlu melingkari pusat.
 Insisi Y, merupakan salah satu tehnik khusus otopsi dan akan dijelaskan
kemudian.
 Insisi melalui lekukan suprastenal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan
suprasternal ini dibuat sayatan melingkari bagian leher (Hamdani, 2000).

Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati – hati dan
dicatat:
1) Ukuran : Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita
pengukur. Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas
inferior organ. Organ hati yang mengeras juga menunjukkan adanya
pembesaran.
2) Bentuk.
3) Permukaan : Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang
lembut, berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika
terdapat penebalan, permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan.
4) Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut.
5) Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu.
Caranya dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada
saat ditarik. Jaringan yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi
yang rendah sedangkan jaringan yang susah menunjukkan kohesi yang kuat.
6) Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur
permukaan penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ
tubuh adalah keabu-abuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah
yang terdapat pada organ tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak,
lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen bisa merubah warna organ. Warna
yang pucat merupakan tanda anemia.

Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan khusus
juga bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab
kematian (Chadha, 1995).
Insisi pada masing-masing bagian – bagian tubuh yaitu :
1) Dada :
 Seksi Jantung :
Jantung dibuka menurut aliran darah : pisau dimasukkan ke vena kava
inferior sampai keluar di vena superior dan bagian ini dipotong. Ujung pisau
dimasukkan melalui katup trikuspidalis keluar di insisi bilik kanan dan
bagian ini dipotong. Ujung pisau lalu dimasukkan arteri pulmonalis dan otot
jantung mulai dari apeks dipotong sejajar dengan septum
interventrikulorum.
Ujung pisau dimasukkan ke vena pulmonalis kanan keluar ke vena
pulmonalis kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui
katup mitral keluar di insisi bilik kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau
kemudian dimasukkan melalui katup aorta dan otot jantung dari apeks
dipotong sejajar dengan septum inetrventrikulorum. Jantung sekarang sudah
terbuka, diperiksa katup, otot kapiler, chorda tendinea, foramen ovale,
septum interventrikulorum.
Arteri koronaria diiris dengan pisau yang tajam sepanjang 4-5 mm
mulai dari lubang dikatup aorta. Otot jantung bilik kiri diiris di pertengahan
sejajar dengan epikardium dan endokardium, demikian pula dengan septum
interventrikulorum.
 Paru-paru :
Paru-paru kanan dan kiri dilepaskan dengan memotong bronkhi dan
pembuluh darah di hilus, setelah perkardium diambil. Vena pulmonalis
dibuka dengan gunting, kemudian bronkhi dan terakhir arteri pulmonalis.
Paru-paru diiris longitudinal dari apeks ke basis.
Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm dari
sambungannya dengan cara pisau dipegang dengan tangan kanan dengan
bagian tajam horizontal diarahkan pada tulang rawan iga dan dengan tangan
yang lain menekan pada punggung pisau. Pemotongan dimulai dari tulang
rawan iga no. 2. Tulang dada diangkat dan dilepaskan dari diafragma kanan
dan kiri kemudian dilepaskan mediastinum anterior. Rongga paru-paru
diperiksa adanya perlengketan, darah, pus atau cairan lain kemudian diukur.
Kemudian pisau dengan tangan kanan dimasukkan dalam rongga paru-
paru, bagian tajam tegak lurus diarahkan ke tulang rawan no.1 dan tulang
rawan dipotong sedikit ke lateral, kemudian bagian tajam pisau diarahkan ke
sendi sternoklavikularis dengan menggerak-gerakkan sternum, sendi
dipisahkan. Prosedur diulang untuk sendi yang lainnya.
Mediastinum anterior diperiksa adanya timus persistens. Perikardium
dibuka dengan Y terbalik, diperiksa cairan perikardium, normal sebanyak
kurang lebih 50 cc dengan warna agak kuning. Apeks jantung diangkat,
dibuat insisi di bilik dan serambi kanan diperiksa adanya embolus yang
menutup arteri pulmonalis. Kemudian dibuat insisi di bilik dan serambi kiri.
Jantung dilepaskan dengan memotong pembuluh besar dekat perikardium.
2) Perut :
 Esofagus – Lambung – Doudenum – Hati :
Semua organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Esofagus
diikat ganda dan dipotong. Diafragma dilepaskan dari hati dan esofagus dan
unit tadi dapat diangkat. Sebelum diangkat, anak ginjal kanan yang biasanya
melekat pada hati dilepaskan terlebih dahulu.
Esofagus dibuka terus ke kurvatura mayor, terus ke duodenum.
Perhatikan isi lambung, dapat membantu penentuan saat kematian. Kandung
empedu ditekan, bulu empedu akan menonjol kemudian dibuka dengan
gunting ke arah papila Vater, kemudian dibuka ke arah hati, lalu kandung
empedu dibuka. Perhatikan mukosa dan adanya batu.
Buluh kelenjar ludah diperut dibuka dari papila Vater ke pankreas.
Pankreas dilepaskan dari duodenum dan dipotong-potong transversal.
Hati : perhatikan tepi hati, permukaan hati, perlekatan, kemudian
dipotong longitudinal.
Usus halus dan usus besar dibuka dengan gunting ujung tumpul,
perhatikan mukosa dan isinya, cacing.
 Ginjal, Ureter, Rektum, dan Kandung Urine:
Organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Ginjal dengan
suatu insisi lateral dapat diangkat dan dilepaskan dengan memotong
pembuluh darah di hilus, kemudian ureter dilepaskan sampai panggul kecil.
Kandung urine dan rektum dilepaskan dengan cara memasukkan jari
telunjuk lateral dari kandung urine dan dengan cara tumpul membuat jalan
sampai ke belakang rektum. Kemudian dilakukan sama pada bagian
sebelahnya. Tempat bertemunya kedua jari telunjuk dibesarkan sehingga 4
jari kanan dan kiri dapat bertemu, kemudian jari kelingking dinaikkan ke
atas dengan demikian rektum lepas dari sakrum. Rektum dan kandung urine
dipotong sejauh dekat diafragma pelvis.
Anak ginjal dipotong transversal. Ginjal dibuka dengan irisan
longitudinal dari lateral ke hilus. Ureter dibuka dengan gunting sampai
kandung urine, kapsul ginjal dilepas dan perhatikan permukaannya. Pada
laki-laki rektum dibuka dari belakang dan kandung urine melalui uretra dari
muka. Rektum dilepaskan dari prostat dan dengan demikian terlihat vesika
seminalis. Prostat dipotong transversal, perhatikan besarnya penampang.
Testis dikeluarkan melalui kanalis spermatikus dan diiris longitudinal,
perhatikan besarnya, konsistensi, infeksi, normal, tubuli semineferi dapat
ditarik seperti benang.
 Urogenital Perempuan :
Kandung urine dibuka dan dilepaskan dari vagina. Vagina dan uterus
dibuka dengan insisi longitudinal dan dari pertengahan uterus insisi ke
kanan dan ke kiri. Ke kornu, Tuba diperiksa dengan mengiris tegak lurus
pada jarak 1 – 1,5 cm. Ovarium diinsisi longitudinal.
Pada abortus provokatus kriminalis yang dilakukan dengan menusuk ke
dalam uterus, seluruhnya : kandung urine, uterus dan vagina, rektum
difiksasi dalam formalin 10% selama 7 hari, setelah itu dibuat irisan tegak
lurus pada sumbu rektum setebal 1,25 cm, kemudian semuanya direndam
dalam alkohol selama 24 jam. Saluran tusuk akan terlihat sebagai noda
merah, hiperemis. Dari noda merah ini dibuat sediaan histopatologi.
Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan,
duodenum dan rektum diikat ganda kemudian dipotong.
Limpa : dipotong di hilus, diiris longitudinal, perhatikan parenkim,
folikel, dan septa.
3) Leher :
Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil
dikeluarkan sebagai satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar
gondok dan tonsil. Pada kasus pencekikan tulang lidah harus dibersihkan dan
diperiksa adanya patah tulang.
4) Kepala :
Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri
dengan mata pisau menghadap keluar supaya tidak memotong rambut terlalu
banyak. Kulit kepala kemudian dikelupas ke muka dan ke belakang dan
tempurung tengkorak dilepaskan dengan menggergajinya. Pahat dimasukkan
dalam bekas mata gergaji dan dengan beberapa ketukan tempurung lepas dan
dapat dipisahkan. Durameter diinsisi paralel dengan bekas mata gergaji. Falx
serebri digunting dibagian muka. Otak dipisah dengan memotong pembuluh
darah dan saraf dari muka ke belakang dan kemudian medula oblongata.
Tentorium serebri diinsisi di belakang tulang karang dan sekarang otak dapat
diangkat. Selaput tebal otak ditarik lepas dengan cunam. Otak kecil dipisah
dan diiris horisontal, terlihat nukleus dentatus. Medula oblongata diiris
transversal, demikiaan pula otak besar setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala
perhatikan adanya edema, kontusio, laserasi serebri.
5) Tengkorak Neonatus :
Kulit kepala dibuka seperti biasa, tengkorak dibuka dengan
menggunting sutura yang masih terbuka dan tulang ditekan ke luar, sehingga
otak dengan mudah dapat diangkat (Hamdani, 2000).

PEMERIKSAAN KHUSUS
Pada beberapa keadaan tertentu, diperlukan berbagai prosedur khusus dalam
tindakan otopsi, antara lain : insisi ”Y”, insisi pada kasus dengan kelainan leher, tes
emboli udara, tes apung paru, tes pada pneumothorax, dan tes alphanaphthylamine.
 Insisi ”Y”
1) Insisi yang dilakukan dangkal (shallow incision) yang dilakukan pada
tubuh pria.
 Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah tulang selangka dan sejajar
dengan tulang tersebut, kiri dan kanan, sehingga bertemu pada bagian
tengah (incisura jugularis).
 Lanjutkan sayatan, dimulai dari incisura jugularis ke arah bawah tepat di
garis pertengahan sampai ke sympisis os pubis menghindari daerah
umbilikus.
 Kulit daerah leher dilepaskan secara hati-hati sampai ke rahang bawah;
tindakan ini dimulai dari sayatan yang telah dibuat pertama kali.
 Dengan kulit daerah leher dan dada bagian atas tetap utuh, alat-alat
dalam rongga mulut dan leher dikeluarkan.
 Tindakan selanjutnya sama dengan tindakan pada bedah mayat yang
biasa.
2) Insisi yang lebih dalam (deep incision), yang dilakukan untuk kaum
wanita.
 Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah buah dada, dimulai dari
bagian lateral menuju bagaian medial (Proc. Xiphoideus); bagian lateral
disini dapat dimulai dari ketiak, ke arah bawah sesuai dengan arah garis
ketiak depan (linea axillaris anterior), hal yang sama juga dilakukan
untuk sisi yang lain (kiri dan kanan).
 Lanjutkan sayatan ke arah bawah seperti biasa, sampai simphisis os
pubis, dengan demikian pengeluaran dan pemeriksaan alat-alat yang
berada dalam rongga mulut, leher, dan rongga dada lebih sulit bila
dibandingkan dengan insisi ”Y” yang dangkal.
Insisi ”Y”, dilakukan semata-mata untuk alasan kosmetik, sehingga jenazah yang
sudah diberi pakaian, tidak memperlihatkan adanya jahitan setelah dilakukan bedah
mayat. Ada dua macam insisi ”Y”, yaitu :
 Insisi pada Kasus dengan Kelainan di Daerah Leher
o Buat insisi ”I”, yang dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah seperti
biasa, sampai ke simpisis os pubis.
o Buka rongga dada, dengan jalan memotong tulang dada dan iga-iga.
o Keluarkan jantung, dengan menggunting mulai dari v.cava inferior,
vv.pulmonalis, a.pulmonalis, v.cava superior dan terakhir aorta.
o Buka rongga tengkorak, dan keluarkan organ otaknya.
o Dengan adanya bantalan kayu pada daerah punggung, maka daerah leher
akan bersih dari darah, oleh karena darah telah mengalir ke atas ke arah
tengkorak dan ke bawah, ke arah rongga dada; dengan demikian
pemeriksaan dapat dimulai.
Insisi ini dimaksudkan agar daerah leher dapat bersih dari darah, sehingga
kelainan yang minimalpun dapat terlihat; misalnya pada kasus pencekikan,
penjeratan, dan penggantungan. Prinsip dari teknik ini adalah pemeriksaan daerah
dilakukan paling akhir.

 Tes emboli udara


o Buat sayatan ”I”, dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah sampai ke
symphisis pubis,
o Potong rawan iga mulai dari iga ke–3 kiri dan kanan, pisahkan rawan iga
dan tulang dada keatas sampai ke perbatasan antara iga ke–2 dan iga ke–3,
o Potong tulang dada setinggi perbatasan antara tulang iga ke–2 dan ke–3,
o Setelah kandung jantung tampak, buat insisi pada bagian depan kandung
jantung dengan insisi ”I”, sepanjang kira-kira 5–7 sentimeter; kedua ujung
sayatan tersebut dijepit dan diangkat dengan pinset (untuk mencegah air
yang keluar),
o Masukkan air ke dalam kandung jantung, melalui insisi yang telah dibuat
tadi, sampai jantung terbenam; akan tetapi bila jantung tetap terapung, maka
hal ini merupakan pertanda adanya udara dalam bilik jantung,
o Tusuk dengan pisau organ yang runcing, tepat di daerah bilik jantung kanan,
yang berbatasan dengan pangkal a. Pulmonalis, kemudian putar pisau itu 90
derajat; gelembung-gelembung udara yang keluar menandakan tes emboli
hasilnya positif,
o Bila tidak jelas atau ragu – ragu, lakukan pengurutan pada a. Pulmonalis, ke
arah bilik jantung, untuk melihat keluarnya gelembung udara,
o Bila kasus yang dihadapi adalah kasus abortus, maka pemeriksaan dengan
prinsip yang sama, dilakukan mulai dari rahim dan berakhir pada jantung,
o Semua yang disebut di atas adalah untuk melakukan tes emboli pulmoner,
untuk tes emboli sistemik, pada prinsipnya sama, letak perbedaannya adalah
: pada tes emboli sistemik tidak dilakukan penusukan ventrikel, tetapi
sayatan melintang pada a. Coronaria sinistra ramus desenden, secara serial
beberapa tempat, dan diadakan pengurutan atas nadi tersebut, agar tampak
gelembung kecil yang keluar,
o Osis fatal untuk emboli udara pulmoner 150 – 130 ml, sedangkan untuk
emboli sistemik hanya beberapa ml.
Emboli udara, baik yang sistemik maupun emboli udara pulmoner, tidak jarang
terjadi.
Pada emboli sistemik udara masuk melalui pembuluh vena yang ada di paru-
paru, misalnya pada trauma dada dan trauma daerah mediastinum yang merobek
paru-paru dan merobek pembuluh venanya.
Emboli pulmoner adalah emboli yang tersering, udara masuk melalui pembuluh-
pembuluh vena besar yang terfiksasi, misalnya pada daerah leher bagian bawah, lipat
paha atau daerah sekitar rahim (yang sedang hamil); dapat pula pada daerah lain,
misalnya pembuluh vena pergelangan tangan sewaktu diinfus, dan udara masuk
melalui jarum infus tadi. Fiksasi ini penting, mengingat bahwa tekanan vena lebih
kecil dari tekanan udara luar, sehingga jika ada robekan pada vena, vena tersebut
akan menguncup, hal ini ditambah lagi dengan pergerakan pernapasan, yang
”menyedot”.

 Tes Apung Paru – paru


o Keluarkan alat-alat dalam rongga mulut, leher dan rongga dada dalam satu
kesatuan, pangkal dari esophagus dan trakea boleh diikat.
o Apungkan seluruh alat-alat tersebut pada bak yang berisi air.
o Bila terapung lepaskan organ paru – paru, baik yang kiri maupun yang
kanan.
o Apungkan kedua organ paru – paru tadi, bila terapung lanjutkan dengan
pemisahan masing – masing lobus, kanan terdapat lima lobus dan kiri dua
lobus.
o Apungkan semua lobus tersebut, catat yang mana yang tenggelam dan mana
yang terapung.
o Lobus yang terapung diambil sebagian, yaitu tiap-tiap lobus 5 potong
dengan ukuran 5 mm x 5 mm, dari tempat yang terpisah dan perifer.
o Apungkan ke 25 potongan kecil – kecil tersebut, bila terapung, letakkan
potongan tersebu pada dua karton, dan lakukan penginjakan dengan
menggunakan berat badan, kemudian dimasukkan kembali ke dalam air.
o Bila terapung berarti tes apung paru positif, paru-paru mengandung udara,
bayi tersebut pernah dilahirkan hidup.
o Bila hanya sebagian yang terapung, kemungkinan terjadi pernafasan partial,
bayi tetap pernah dilahirkan hidup.
Tes apung paru – paru dikerjakan untuk mengtahui apakah bayi yang diperiksa
itu pernah hidup. Untuk melaksanakan test ini, persyaratannya sama dengan test
emboli udara, yakni mayatnya harus segar. Cara melakukan tes apung paru-paru:

 Tes Pada Pneumothoraks


o Buka kulit dinding dada pada bagian yang tertinggi dari dada, yaitu sekitar
iga ke 4 dan 5 ( udara akan berada pada tempat yang tertinggi ),
o Buat ”kantung” dari kulit dada tersebut mengelilingi separuhnya dari daerah
iga 4 dan 5 ( sekitar 10 x 5 cm )
o Pada kantung tersebut kemudian diisi air, dan selanjutnya tusuk dengan
pisau, adanya gelembung udara yang keluar berarti ada pneumothorax; dan
bila diperiksa paru-parunya, paru-paru tersebut tampak kollaps,
o Cara lain; setelah dibuat kantung , kantung ditusuk dengan spuit besar
dengan jarum besar yang berisi air separuhnya pada spuit tersebut; bila ada
pneumothorax, tampak gelembung-gelembung udara pada spuit tadi.
Pada trauma di daerah dada, ada kemungkinan jaringan paru robek, sedemikian
rupa sehingga terjadi mekanisme ”ventil” di mana udara yang masuk ke paru-paru
akan diteruskan ke dalam rongga dada, dan tidak dapat keluar kembali, sehingga
terjadi kumulasi udara, dengan akibat paru-paru akan kolaps dan korban akan mati.
Diagnosa pneumothorax yang fatal semata-mata atas dasar test ini, bila test ini
tidak dilakukan, diagnosa sifatnya hanya dugaan. Cara melakukan test ini adalah
sebagai berikut:
 Tes Alpha Naphthylamine
o Kertas saring Whatman direndam dalam larutan alpha-naphthylamine, dan
keringkan dalamoven, hindari jangan sampai terkena sinar matahari,
o Pakaian yang akan diperiksa, yaitu yang diduga mengandung butir-butir
mesiu, dipotong dan di atasnya diletakkan kertas saring yang telah diberi
alpha-naphthylamine,
o Di atas kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine tadi ditaruh
lagi kertas saring yang dibasahi oleh aquadest,
o Keringkan dengan cara menyeterika tumpukan tersebut, yaitu kain yang
akan diperiksa, kertas yang mengandung alpha-naphthylamine dan kertas
saring yang basah,
o Test yang positif akan terbentuk warna merah jambu (pink colour), pada
kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine; bintik-bintik merah
jambu tadi sesuai dengan penyebaran butir-butir mesiu pada pakaian (Idries,
1997).
Test ini dilakukan untuk mengetahui adanya butir – butir mesiu khususnya pada
pakaian korban penembakan,
Setelah otopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam rongga
tubuh. Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak
dikembalikan ke dalam rongga tengkorak. Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang
dilepaskan pada saat membuka rongga dada. Jahitkan kulit dengan rapi menggunakan
benang yang kuat, mulai dari dagu sampai ke daerah simfisis. Atap tengkorak
diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis,
baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi. Bersihkan tubuh mayat dari darah
sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak keluarga (Tanto, 2014).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada otopsi juga dilakukan prosedur laboratorium yaitu :
1) Sediaan histopatologi dari masing-masing organ.
Dari tiap organ diambil sediaan sebesar 2 x 2 x1 cm kubik dan difiksasi
dalam formalin 10%.Organ yang diambil adalah: paru-paru, hati, limpa,
pankreas, otot jantung, arteri koronaria, kelenjar gondok, ginjal, prostat, uterus,
korteks otak, basal ganglia dan dari bagian lain yang menunjukkan adanya
kelainan.
2) Pemeriksaan toksikologi.
o Lambung dan isinya.
o Seluruh usus dan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan pada
pada usus setiap jarak sekitar 60 cm.
o Darah, yang berasal dari sentral (jantung) dan yang berasal dari perifer
(v,jugularis; a.femoralis, dan sebagainya), masing-masing 50 ml dan dibagi
dua, yang satu diberi bahan pengawet dan yang lain tidak diberi bahan
pengawet.
o Hati, sebagai tempat detoksifikasi , diambil sebanyak 500 gram.
o Ginjal, diambil keduanya yaitu pada kasus keracunan logam berat khususnya
atau bila urine tidak tersedia.
o Otak, diambil 500 gram. Khusus untuk keracunan chloroform dan sianida,
dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang mempunyai
kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah mengalami pembususkan.
o Urine, diambil seluruhnya. Karena pada umunya racun akan diekskresikan
melalui urine, khususnya pada test penyaring untuk keracunan narkotika,
alkohol dan stimulan.
o Empedu, diambil karena tempat ekskresi berbagai racun.
o Pada kasus khusus dapat diambil: jaringan sekitar suntikan, jaringan otot,
lemak di bawah kulit dinding perut, rambut, kuku dan cairan otak.
Prinsip pengambilan sampel pada kasus keracunan adalah diambil sebanyak
– banyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk pemeriksaan
histopatolgik. Secara umum sampel yang harus diambil adalah:
Pada pemeriksaan intoksikasi, digunakan alkohol dan larutan garam jenuh
pada sampel padat atau organ. NaF 1% dan campuran NaF dan Na sitrat
digunakan untuk sampel cair. Sedangkan natrium benzoate dan phenyl mercuric
nitrate khusus untuk pengawet urine.
3) Pemeriksaan bakteriologi.
Dalam hal ada dugaan sepsis diambil darah dari jantung dan sediaan limpa
untuk pembiakan kuman. Permukaan jantung dibakar dengan menempelkan
spatel yang dipanaskan sampai merah, kemudiaan darah jantung diambil dengan
tabung injeksi yang steril dan dipindah dalam tabung reagen yang steril.
Permukaan limpa dibakar dengan cara tersebut di atas dan dengan pinset dan
gunting yang steril diambil sepotong limpa dan dimasukkan dalam tabung reagen
yang steril dan kedua tabung dikirim ke laboratorium bakteriologi.
4) Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati. Mungkin perlu dilakukan
untuk melihat parasit malaria.Sediaan hapus lainnya adalah dari tukak sifilis atau
cairan mukosa.
5) Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa biokimia.
6) Pemeriksaan urine dan feces.
7) Usapan vagina dan anus, utamanya pada kasus kejahatan seksual.
8) Cairan uretra (Hamdani, 2000).

4. Aspek medikolegal pada kasus gantung diri


Pemeriksaan yang teliti tetap harus dilakukan untuk mencegah kemungkinan
perkiraan lain.
• Apakah kematian disebabkan oleh penggantungan? Pertanyaan ini sering
diajukan kepada dokter pemeriksa dalam persidangan.
• Apakah penggantungan tersebut merupakan bunuh diri, pembunuhan atau
kecelakaan?
• Beberapa faktor di bawah ini dapat dijadikan bahan pertimbangan.
• Penggantungan biasanya merupakan tindakan bunuh diri, kecuali dibuktikan lain.
• Cara terjadinya penggantungan
• Bukti-bukti tidak langsung di sekitar tempat kejadian
• Tanda berupa jejas penjeratan
• Tanda-tanda kekerasan atau perlawanan

5. Pandangan Islam mengenai gantung diri dan otopsi


 Bunuh diri
Bunuh diri atau menghilangkan nyawa diri sendiri dalam Islam merupakan
tindakan yang sangat dibenci oleh Allah dan mendapatkan dosa yang sangat
besar, hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an:
“Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena
bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada
keterangan ini (Al-Qur'an).” (QS. Al-Kahfi : 6)
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan
yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu
membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan
barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zhalim, akan
Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. An-Nisa : 29-30).
Selain bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang dan berdosa besar
bagi pelakunya, orang yang membunuh dirinya sendiri dengan menggunakan
suatu benda atau cara, kelak di hari kiamat akan dihukum dengan benda atau cara
tersebut di dalam neraka. Hal ini dijelaskan dalam hadist nabi:
Hadist Tsabit bin Dhahhak radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda:
“Barangsiapa yang bersumpah dusta atas nama agama selain Islam, maka
dia seperti apa yang diucapkannya. Barangsiapa yang membunuh dirinya
dengan sesuatu, maka dia akan disiksa dengan benda tersebut di neraka
jahannam. Melaknat seorang mukmin sama seperti membunuhnya. Barangsiapa
yang menuduh seorang mukmin sebagai kafir maka dia seperti telah
membunuhnya.” [HR. Al-Bukhari (6195) dan Muslim (110)].
Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda:
“Orang yang mencekik dirinya (bunuh diri) maka dia akan mencekik
dirinya di neraka, dan orang yang menusuk dirinya maka dia akan menusuk
dirinya di neraka.” [HR. Al-Bukhari (1365)].
Dalam haditsnya Imam Bukhori, Rasulullah Saw bersabda :
“Barang siapa menghempaskan diri dari sebuah bukit, lalu ia menewaskan
dirinya, maka ia akan masuk neraka dalam keadaan terhempas di dalamnya,
kekal lagi dikekalkan dalam neraka untuk selama-lamanya. Dan barang siapa
meneguk racun lalu menewaskan dirinya, maka racun itu tetap di tangannya
sambil ia menegukkannya di dalam neraka jahannam, kekal lagi dikekalkan di
dalamnya selama-lamanya. Dan barang siapa membunuh dirinya dengan
sepotong besi, maka besinya itu terus berada di tangannya, ia tikamkan ke
perutnya di dalam api nereka jahannam selama-lamanya.”

 Otopsi
Saat ini otopsi sering digunakan sebagai salah satu proses hukum, untuk
mencari atau menguatkan bukti. Hasil dari pemeriksaan otopsi tersebut ditulis
dalam sebuah surat keterangan dokter yang lazim disebut dalam dunia
kedokteran Visum et Repertum yakni laporan atau surat keterangan dari seorang
dokter untuk pengadilan dalam perkara pidana (Idries, 1997).
Otopsi dapat dilakukan tanpa melakukan bedah mayat, namun tak jarang
pula dilakukan pembedahan pada beberapa organ dalam, bahkan mayat yang
sudah dikuburkan pun digali kembali. Dalam syariat Islam apabila mayat yang
sudah dikuburkan, tidak boleh dibongkar (haram dibongkar) karena hal itu akan
merusak kehormatan mayat. Adapun membongkar kuburan yang sudah lama,
tidak ada halangan, asal mayat sudah hancur, berarti tulang-tulangnya sudah
hancur (Rasjid, 2005).
Sabda Rasulullah SAW :
“Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mukmin yang sudah
meninggal, sama seperti mematahkan tulangnya dikala hidupnya” (Riwayat Abu
Dawud 2/69, Ibnu Majah 1/492, Ibnu Hibban 776, Ahmad 6/58, dari ‘Aisyah ,
dengan sanad shahih).
Meski secara umum merusak jasad mayat adalah dilarang, namun beberapa
ulama kontemporer membolehkan atas dasar pertimbangan maslahat tapi dengan
beberapa syarat. Dalam hokum fiqh dikenal kaidah yang menyatakan:

Dalam hal ini, maslahat bagi si mayat adalah hendaknya jasadnya tidak
dirusak, sedang maslahat umumnya, dengan kaidah otopsi, beberapa masalah
terkait bisa mendapat solusi. Juga kaidah tentang mafsadah:

Otopsi bisa menyebabkan mafsadah (kerusakan). Sedang ketidaktahuan


akan sebab kematian, akibat penyakit berbahaya dan tidak berkembangnya ilmu
kedokteran adalah mafsadah yang jauh lebih besar.
“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging
babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain
Allah. Tetapi barang siapa dalam keadan terpaksa (memakannya) sedang ia
tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa
baginya.” (QS. Al-Baqoroh : 173)

6. Peran dokter terhadap kasus gantung diri


RUANG LINGKUP PELAYANAN KEDOKTERAN FORENSIK
Ruang lingkup ilmu kedokteran forensik berkembang dari waktu ke waktu. Pada
mulanya hanya pada kematian korban kejahatan, kematian yang tidak terduga, mayat
tidak dikenal hingga kejahatan korban yang masih hidup, bahkan pemeriksaan
kerangka atau bagian dari tubuh manusia. Jenis perkaranyapun semakin meluas dari
pembunuhan, penganiayaan, kejahatan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, child
abuseand neglect, perselisihan pada perceraian, ragu ayah (dispute paternity) hingga
ke pelanggaran hak asasi manusia.
Bentuk ekspertise dari dokter forensik saat ini, tidak hanya terbatas pada hasil
visum et repertum, akan tetapi juga pengeluaran surat keterangan kematian dan
pengisian asuransi. Dimana semua surat keterangan yang dikeluarkan tersebut
mempunyai aspek medikolegal.
Dalam penanganan medis korban yang masih hidup ataupun korban yang sudah
meninggal mungkin saja akan melibatkan berbagai dokter dengan keahlian klinis
yang tidak hanya dokter spesialis forensik, akan tetapi juga melibatkan dokter klinisi
lain dan yang tidak kalah pentingnya adalah dokter umum yang ada di Instalasi
Gawat Darurat. Siapapun dokter yang terlibat dalam penanganan korban tindak
pidana, haruslah memakai ilmu kedokteran forensik, yang memegang prinsip
pengumpulan barang bukti yang sebanyak – banyaknya. Dokter diharapkan
memberikan keterangan tentang luka atau cedera yang dialami korban, penyebab
luka, dan seberapa parah luka tersebut mempengaruhi kesehatan korban (derajat luka
atau kwalifikasi luka). Adapun beberapa peran dari dokter yang sering terkait dengan
pelayanan forensik adalah
1. Peran dokter dalam memeriksa korban tindak pidana hidup.
2. Peran dokter dalam pemeriksaan kasus kejahatan seksual.
3. Peran dokter dalam pemeriksaan jenazah.
4. Peran dokter dalam menangani kasus DOA (Death on Arrival).
5. Tatacara pengeluaran surat keterangan kematian.
6. Peran dokter sebagai saksi ahli.

Dokter Dokter
Forensik Umum
Fakultas
Kedokter
an
Penyidik / Polri

Pemeriksaan
Luar dan Dalam

Visum et
Repertum

PROSEDUR PERMINTAAN VISUM ET REPERTUM


 KUHAP 133
 Diminta penyidik
 Tertulis/ surat resmi
 Jelas periksa luar atau dalam
 Label/ segel
 KUHAP 134
 Keluarga keberatan autopsi mendapat waktu 2(dua) hari
 Bersikukuh autopsi dilakukanKUHP 222

PERAN DOKTER PEMERIKSAAN JENAZAH


Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk
membuat VeR jenazah, yaitu:
1. Harus tertulis, tidak boleh secara lisan.
2. Harus sedini mungkin.
3. Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar.
4. Ada keterangan terjadinya kejahatan.
5. Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki.
6. Ada identitas pemintanya.
7. Mencantumkan tanggal permintaan.
8. Korban diantar oleh polisi.
Saat menerima permintaan membuat VeR, dokter harus mencatat tanggal dan
jam, penerimaan surat permintaan, dan mencatat nama petugas yang mengantar
korban. Batas waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil VeR kepada penyidik
selama 20 hari. Bila belum selesai, batas waktunya menjadi 40 hari dan atas
persetujuan penuntut umum.
Lampiran visum
 Fotografi forensik
 Identitas, kelainan-kelainan pada gambar tersebut
 Penjelasan dalam istilah kedokteran
 Hasil pemeriksaan lab forensik (toksikologi, patologi, sitologi, mikrobiologi)
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mun’in Idries. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Binarupa
Aksara. 1997
Amir A. 2007. Rangkaian ilmu kedokteran forensik. 2nd ed. Medan: Percetakan
Ramadhan
Chadha, PV. (1995). Otopsi Mediko – Legal. Dalam: Ilmu Forensik dan Toksikologi
Edisi Kelima. Jakarta : Widya Medika.
Hamdani, Njowito. (2000). Autopsi. Dalam: Ilmu Kedokteran Kehakiman Edisi
Kedua. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hariadi A, Hoediyanti, Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal, Edisi 7
Tahun 2011. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.
Idries, AM. (1997). Prosedur Khusus. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik
Edisi Pertama. Jakarta : Binarupa Aksara.
Rasjid, Sulaiman. 2005. Fiqh Islam. Bandung. Sinar Baru Algesindo.

Tanto, Chris., Liwang, Frans., Hanifati, Sonia., dan Pradipta, Eka Adip (ed). (2014).
Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius.