Anda di halaman 1dari 19

 

SRIWIJAYA KU YANG HILANG SUMBER DARI SEJARAH DAN 


ADAT ISTIADAT BUMI PUTRA NUSANTARA INDONESIA. 
 

 

 
Bangkrutnya Bangsah Indonesia yang saat ini di ambang pintu itu 
karna terkikisnya budaya bangsa jelas akibat dari pengabaian 
terhadap nilai-nilai tradisi serta adat istiadat leluhur yang tidak 
mampu dilestarikan serta tidak bisa dikembangkan untuk menjadi 
pilar kepribadian bangsa Indonesia sebagai Benteng kekuatan 
Nasionalis guna menghadapi perkembangan dan tuntutan jaman. 
 
Nilai-nilai budaya suku bangsa Indonesia yang sepatutnya dapat 
dipertahankan sekaligus bisa dijadikan Filsafat dan setandar 
budaya serta batasan batasan atas Hak Hak Ulayat yang hakiki 
seharusnya menjadi pijakan untuk dikembangkan, sehingga dapat 
menjadi kekuatan dari- pertahanan budaya bangsa yang terus 
mendapat gesekan atas politik luar untuk menghapuskan hak hak 
yang beradap yang menjunjung tinggi Hak asasi Manusia di jadi kan 
tolak ukur yang harus pemerintah jaga sebagai Pondasi berdiri 
Kokoh nya PANCASILA dan UUD,45 sebagai Ideologi dan Ruhnya 
Bangsah Indonesia ini. 

 

 
Kemajuan serta tuntutan teknologi termodern yang ikut menggerus 
budaya tradisional suku bangsa Indonsia, harus segera dibentengi 
dengan nilai-nilai budaya leluhur kita sebagai jatidiri bangsa yang 
otentik dan original. 
 
Jati diri bangsa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan 
sesungguhnya telah teruji dan ampuh dalam menghadapi penetrasi 
budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian serta harkat 
dan martabat bangsa dari segenap suku bangsa Indonesia yang 
khas Timur, bukan berbudaya Barat. 
 
Karenanya perlu formulasi nyata dengan cara menghimpun ide serta 
gagasan yang cerdas dan brilyan melalui diskusi hingga musyawarah 
akbar bersama masyarakat adat dan masyarakat Sriwijaya yang 
ada di nusantara dapat segera dilaksanakan. 
 
Formula yang jitu dan selaras dengan budaya dari suku bangsa 
Indonesia jelas semakin mendesak untuk dapat menghantar 
segenap warga bangsa dan warga negara Indonesia memasuki pintu 
gerbang kemerdekaan yang substansial, yaitu adil, makmur, aman 
dan tenteram dalam wujud nyata lahir dan bathin. 
 

 

Ragam kegiatan — untuk melestarikan, mengembangkan budaya 


tradisional suku bangsa Indonesia yang telah mengakar dalam adat 
istiadat bangsa nusantara — pantas dijadikan dasar pijak serta 
pakem untuk melesat ke masa depan, tanpa abai pada masa lalu 
yang pernah berjaya dalam bidang teknologi, pertanian serta 
perdagangan hingga tata pemerintahan. Tentu saja untuk hal-hal 
yang sudah tidak relevan dapat ditinggalkan tanpa mengabaikan 
nilai-nilai moral serta spiritual yang terkandung di dalamnya. 
 

 
Ragam diskusi, workshop serta seminar hingga beragam kegiatan 
yang dapat dan mampu memantik bangkit dan berkembangnya 
budaya bangsa nusantara harus segera dimulai. Karenanya, rasa 
peduli serta kesadaran segenap elemen bangsa perlu dan patut 
ambil bagian, sehingga budaya bangsa Indonesia dapat menjadi 
benteng dari ketahanan nasional dalam pengertian yang lebih luas. 
 
Kesadaran serta pemahaman kita bahwa pembentukan Negara 
Bangsa sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, sangat jelas 
bahwa jasa masyarakat adat serta masyarakat rumpun melayu ialah 
Sriwijaya tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, peranan 
masyarakat adat dan masyarakat Sriwijaya patut dikaji ulang peran 
serta haknya dalam usaha membangun bangsa dan negara Indonesia 

 

menuju masa depan yang lebih baik, lebih makmur dan sejahtera 
serta lebih beradab, sehingga manusia Indonesia dapat lebih 
bermartabat, damai, aman, tenteram serta berkeadilan menikmati 
capaian sejahtera dalam wujud lahir dan bathin. 
 
Tekad dan amanat kemerdekaan bangsa Indonesia seperti tertuang 
dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945; “Bahwa 
sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh 
sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena 
tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” 
 
“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah 
sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa 
mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang 
kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, 
adil dan makmur.” 
 
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan 
didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan 
yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini 
kemerdekaannya.” Realitasnya, setelah mengalami berbagai tahap 
amandemen, UUD 1945 yang menjadi pegangan bangsa Indonesia 
membangun berbagai aspek kehidupan yang lebih baik dan lebih 

 

beradab/ Kini mulai terasa cacat dan celanya dari akibat susulan 
dari amandemen UUD 1945 itu setelah satu dasa warsa 
diberlakukan. Hasil bumi dan air serta segenap kekayaan alam yang 
ada di bumi nusantara tidak bisa sepenuhnya dinikmati oleh 
segenap warga bangsa Indonesia. 
 
Seharusnya Sang Raja Sriwijaya menyangkal atas hasil amandemen 
karna tak sesuai dengan Pancasila. Karenanya hasil amandemen 
UUD 1945 perlu ditinjau ulang. Usulan untuk meninjau ulang hasil 
amandemen UUD 1945 , lantaran secara yuridis formal mengalami 
perombakan itu tidak lagi mencerminkan jatidiri bangsa Indonesia. 
Karena UUD 1945 hasil amandemen telah membuat kerapuhan 
Pancasila sebagai Dasar Negara pada substansi hukum yang paling 
mendasar. Sehingga adanya penyimpangan dari Jiwa Pancasila yang 
sesungguhnya. “Jika kedaulatan rakyat hanya berhenti hanya pada 
Presiden dan DPR RI, maka tujuan negara tentang kesejahteraan 
sebagaimana terkandung dalam Pembukaan (Alenia VI, UUD 1945) 
dan sila kelima, maka menjadi mustahil akan terwujud. Bahkan 
sebaliknya – kekayaan negara untuk esejehteraan – hanya untuk 
realisasidemokrasi semata. 
 
Rapuhnya Pancasila sebagai dasar negara, seperti tercermin dalam 
pemaparan empat pilar MPR RI yang justru menyatakan bahwa 

 

Pancasila seagai bagian dari empat pilar itu. Demikian juga dengan 
menipisnya nilai-nilai kebangsaan dari warga bangsa Indonesia – 
utamanya para pejabat pemerintah dan elite politik serta birokrat 
— yang cenderung menuju titik nol. Dampaknya adalah munculnya 
virus berbahaya yang mematikan, yaitu pesimisme, apataisme dan 
fatalisme yang berujung pada politik identitas yang menafikan 
kebhinekaan bangsa Indonesia. Sebagai rumpun bangsa yang 
beraneka ragam, bangsa Indonesia dapat menyelesaikan setiap 
perbedaan maupun konflik dengan nilai-nilai dan prinsip 
musyawarah mufakat secara damai dan bermartabat suda tidak 
ada lagi ujutnya. 
 
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara 
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh 
tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan 
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan 
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi 
dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan 
Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, 
yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia 
yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada :Ketuhanan 
Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan 
Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan 

 

dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan 


suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” 
 
Hasil amandemen UUD 1945, pasal 18, sidang Tahunan Majelis 
Permusyawaratan Rakyat Tahun 2001 tanggal 1–9 November 2001 
mempertegas bahwa “Pembagian daerah Indonesia atas daerah 
besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya 
ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan 
mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan 
negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat 
istimewa diubah. Berikutnya adalah pasal 18B ayat 1 menyatakan 
bahwa; Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan 
pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa 
di sini harusnya tana Sriwijaya merupakan daerah yang Khusus dan 
Istimewah seperti yang diatur dengan undang-undang. Sedangkan 
pada ayat 2 Pasal 18B UUD 1945 menegaskan; Negara mengakui 
dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat 
beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai 
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan 
Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang. 
 
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok 
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 83; 

 

Tambahan Lembaran Negara Nomor 2778), dianggap sudah tidak 


sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, sehingga perlu diganti 
dengan UU No. 5 Tahun 1974. 
 
Pertimbangannya adalah untuk melancarkan pelaksanaan 
pembangunan yang tersebar di seluruh pelosok Negara dan dalam 
membina kestabilan politik serta kesatuan Bangsa, maka hubungan 
yang serasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah atas dasar 
keutuhan Negara Kesatuan, diarahkan pada pelaksanaan otonomi 
Daerah yang nyata dan bertanggungjawab yang dapat menjamin 
perkembangan dan pembangunan Daerah dan dilaksanakan 
bersama-sama dengan dekonsentrasi. 
 
Adapun cara penyelenggaraan pemerintahan di daerah, selain 
didasarkan pada azas desentralisasi dan azas dekonsentrasi juga 
dapat diselenggarakan berdasarkan azas tugas pembantuan; bahwa 
untuk mengatur yang dimaksud di atas, perlu ditetapkan Undang- 
undang tentang Pokok-pokok Pemerintahan Di Daerah. Adapun inti 
dari ini adalah penyerahan urusan pemerintahan dari Pemerintah 
atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah 
tangganya. Konsekuensinya otonomi Daerah adalah hak, wewenang 
dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah 
tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan 

 
10 

yang berlaku. 
Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan 
masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang 
berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus 
rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik 
Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang 
berlaku. 
 
Adapun substansi dari makna dekonsentrasi adalah pelimpahan 
wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala 
Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat-pejabatnya di 
daerah. Sedangkan urusan pemerintahan umum adalah urusan 
pemerintahan yang meliputi bidang-bidang ketentraman dan 
ketertiban, politik, kordinasi, pengawasan, dan urusan 
pemerintahan lainnya yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu 
lnstansi dan tidak termasuk urusan rumah tangga Daerah. 
 
Ada juga UU Nomor 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa 
yang mempertimbangkan keberadaan dari Undang-undang Nomor 
19 Tahun 1965 tentang Desa praja (Lembaran Negara Tahun 1965 
Nomor 84), karena dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan 
perkembangan keadaan, bahwa sesuai dengan sifat Negara 
Kesatuan Republik Indonesia maka kedudukan pemerintahan Desa 

 
11 

sejauh mungkin diseragamkan, dengan mengindahkan keragaman 


keadaan Desa dan ketentuan adat istiadat yang masih berlaku 
untuk memperkuat pemerintahan Desa agar makin mampu 
menggerakkan masyarakat dalam partisipasinya dalam 
pembangunan dan menyelenggarakan administrasi Desa yang makin 
meluas dan efektif. 
 
Kecuali itu juga, dipandang perlu segera mengatur bentuk dan 
susunan pemerintahan Desa dalam suatu Undang-undang yang dapat 
memberikan arah perkembangan dan kemajuan masyarakat Desa 
sebagai suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk 
sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan 
masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan 
terendah. Karena itu, awalnya pembentukan Desa dan Kelurahan 
adalah tindakan mengadakan Desa dan Kelurahan baru di luar 
wilayah Desa-desa dan Kelurahan-kelurahan yang telah ada. 
 
Undang-undang Nasional yang ada seyogyanya harus menjamin 
tataperdesaan yang lebih dinamis dan penuh daya-guna dalam 
rangka menyelesaikan Revolusi Nasional yang Demokratis dan 
Pembangunan Nasional Semesta, sesuai dengan isi dan jiwa 
Manifesto Politik sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara dan 
pedoman-pedoman pelaksanaannya yang pernah menjadi program 

 
12 

Garis-garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana 


Tahapan Pertama (1961-1969) dan sempat di diperkukuh dengan 
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. 
I/MPRS/1960 dan No. II/MPRS/1960. 
 
Sekarang – jaman now – ada pula UU No. 6 Tahun 2014 yang 
menyederhanakan jabaran UU sebelumnya, sehingga membuat 
kerdil peranan hukum adat serta sumber daya masyarakat adat – 
termasuk Sriwijaya atau tata pemerintahan model kerajaan yang 
pernah berjaya di nusantara. Kendati dalam pertimbangan UU No. 
6 Tahun 2014 ini menayatakan bahwa Desa memiliki hak asal usul 
dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan 
masyarakat setempat dan berperan mewujudkan cita-cita 
kemerdekaan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik 
Indonesia Tahun 1945. 
 
Atas dasar pemikiran sumbangan dan pengorbanan yang sangat 
besar telah diberikan oleh warga masyarakat adat dan Sriwijaya se 
Nusantara, maka gagasan untuk memberi tempat yang sewajarnya 
bagi warga masyarakat adat dan warga masyarakat Sriwijaya di 
nusantara ini sebagai pemilik sah dari alam dan jagat lingkungan 
serta segenap tata budaya manusia di nusantara ini, sewajarnya 
memperoleh peran dalam menata bangsa dan negara untuk masuk 

 
13 

ke dalam pintu gerbang kemerdekaan yang menjadi cita-cita serta 


kesepakatan segenap warga bangsa Indonesia untuk hidup lebih 
layak, lebh baik dan lebih beradab mulai hari ini dan untuk masa 
depan.** 
 
Suda saat nya kita menjalan kan Amanat Penderitaan Rakyat 
(AMPERA) di Nusantara dan Bumi Putra Sriwijaya menjadi Pioneer 
dan Garda terdepan membuat perubahan dengan Cara 
menghapuskan Kapitalis (Perkebunan pertambangan) 
mengembalikan Hak Hak Rakyat adat (warga asli Sriwijaya) ,Setiap 
perseorang orang Asli Sriwijaya terhitung menjadi tanggungan 
Rajanya dengan Besarannya Berlipat2 karena setiap warga ikut 
andil bagian bagi hasil SDA ,SDM, dan SDD. tampa harus kerja” 
Maka dari itu Apa pun yang terkandung dari Segenap wilaya 
Sriwijaya Itu milik Masyarakatnya Peninggalan dan prasasti serta 
nama dan simbol yang ada kaitannya secara mutlak Dari Sriwijaya 
harus ada Kontribusi (Candi reklame Gambar di Uang dll) Pajak 
terhadap Raja Sriwijaya dan ini semuanya di tentukan Oleh Pucuk 
pimpinan masyarakat Adat Yaitu Raja Sriwijaya. 
 
https://sangrajalangit99.wordpress.com/2017/10/15/deklarasi-pe
rserikatan-bangsa-bangsa-tentang-hak-hak-masyarakat-pribumi-2
/?preview=true 

 
14 

 
Pokok pikiran Anak bangsa Anak cucu dari Semidang sakti Bernama 
Ahmad Furqon bergelar Semidang Sakti lebi di kenal di tana Sriwijaya 
Puyang Rajo Nyawe “Roni Paslah” saat ini warga masyarakat di 
Kabupaten Banyuasin. 
 
 

 
15 

 
 
Gambaran Masala yang menjadi penderitaan Seluruh 
Masyatakat di lihat dari kondisi yang sebenar-benarnya di 
Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan 
 
 
 
http://petisi.co/semua-pihak-diminta-ikut-mengawasi-keuangan-ka
bupaten-banyuasin/ 
 
http://petisi.co/hutang-pamkab-banyuasin-kepada-kontraktor-men
capai-rp-90-m/ 
 
http://www.tribunus.co.id/2018/04/kebablasan-anggaran-titipan-p
emegang.html 
 
http://petisi.co/sudah-meninggal-masih-wajib-bayar-pbb/ 
 
http://petisi.co/semua-pihak-diminta-ikut-mengawasi-keuangan-ka
bupaten-banyuasin/ 

 
16 

 
http://petisi.co/hutang-pamkab-banyuasin-kepada-kontraktor-men
capai-rp-90-m/ 
 
http://www.tribunus.co.id/2018/04/kebablasan-anggaran-titipan-p
emegang.html 
 
http://petisi.co/sudah-meninggal-masih-wajib-bayar-pbb/ 
 
http://petisi.co/ramai-kasus-kucuran-dana-dari-pusat-tiba-tiba-ke
pala-dinas-pertanian-banyuasin-mundur/ 
 
https://www.scribd.com/document/376148894/Surat-Pengaduan-
Dugaan-KKN-Dana-Pertanian-Kabupaten-Banyuasin-Sumsel 
 
https://www.scribd.com/document/376148894/Surat-Pengaduan-
Dugaan-KKN-Dana-Pertanian-Kabupaten-Banyuasin-Sumsel 
 
https://www.scribd.com/document/369401887/Kasus-Kkn-Pemban
gunan-Pdam-Kenten-Laut-Kab-Banyuasin 
 
https://id.scribd.com/document/380166710/Pejabat-Otak-Dari-P
erampokan-Harta-Benda-Milik-Pemedintah-1 

 
17 

 
https://id.scribd.com/document/380166967/Pt-Sumatera-Anuger
ah-Jaya-Desa-Lubuk-Karet-Dan-Desa-Meranti 
 
https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://
www.bpk.go.id/assets/files/magazine/_edisi_02___vol__vii_febru
ari_2017_1519096384.pdf&ved=2ahUKEwik47-gpaLbAhUVQH0KH
ZebDIcQFjAHegQIBRAB&usg=AOvVaw1CNltoPQCgZ5gigcVdYXE

 
Pideo ini mencermin kan kemiskinan Masyarakat kab banyuasin 
Sum-sel, dampak dari kesemena,menaan Pejabat dan lemah nya 
penegak,an Hukum di Kab Banyuasin 
Sum-Sel.​http://beritanda.com/index.php/video/9432-yek-karim-p
otret-kemiskinan-di-banyuasin 
 
Video Kesemerautan Tata Kota dan Pusat Pasar Kota kabupaten 
Banyuasin 
Sum-Sel..”​https://www.youtube.com/watch?v=-V1Q8QbbYT8 
 
https://sangrajalangit99.wordpress.com/2016/08/18/checklist-le
gal-audit-pembuktian-dugaan-kkn-di-tubuh-perusahaan-perkebunan
-pt-sumatera-anugerah-jaya 

 
18 

 
MBM menuntut Janji Kapolda Sum-Sel Irjen Pol, Saud Usman 
Nastion dan Kejari kab Banyuasin Suwito,SH 
http://beritanda.com/index.php/nasional/hukum/7383-mbm-dinas
-puck-banyuasin-diduga-korupsi-pembangunan-proyek-pdam-tirta-b
etuah-di-talang-kelapa#sthash.47FJJvPX.dpuf 
 
http://beritanda.com/index.php/nasional/hukum/7383-mbm-dinas
-puck-banyuasin-diduga-korupsi-pembangunan-proyek-pdam-tirta-b
etuah-di-talang-kelapa#sthash.47FJJvPX.dpuf 
 
 
Allahu Akbar 
Bermula dari : Laa ilaha ilallah 
Berjalan dengan : Muhammadarasulullah laa haula wala quwata ilaa 
billah 
Berakhir dengan : Inalillahi wa ina ilaihi rojiun. 
 
Aku Qur'an tujuh Masani, 
Aku Roh pusat Rohani, 
Hatiku kutitip kepada insani, 
Kepadanya kuberikan lidahku ini. 
 

 
19 

 
 
 

Anda mungkin juga menyukai