Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN ANSIETAS

OLEH:

NI PUTU RESTU DWI KRISNANDA CAHYANI


(P07120215040)
MAHASISWA TINGKAT 3B/D-IV KEPERAWATAN SMT IV

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2018
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
CEMAS

A. Pengertian
Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh
situasi (Videbeck, 2008). Ansietas atau kecemasan adalah respons emosi
tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan
secara interpersonal (Suliswati, 2005). Ansietas adalah suatu kekhawatiran
yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala sumatif, yang
menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau
penderitaan yang jelas bagi pasien (Mansjoer, 1999).
Menurut Stuart dan Laraia (2005) aspek positif dari individu
berkembang dengan adanya konfrontasi, gerak maju perkembangan dan
pengalaman mengatasi kecemasan. Cemas atau ansietas merupakan suatu
perasaan khawatir yang samar-samar sumbernya, seringkali tidak spesifik atau
tidak diketahui oleh individu tersebut.
Ansietas adalah perasaan/respon emosional terhadap penilaian,
perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart dan Sundeen, 1988). Keadaan
emosi dialami secara objektif dan dikomunikasikan dalam hubungan
interpersonal. Ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian dalam
kehidupan sehari-hari. Ansietas menggambarkan keadaan khawatir, gelisah,
takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik.
Ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupannya dihadapkan
pada rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas
yang berat pada kehidupan pada masa dewasanya. Tingkat ansietas sebagai
berikut:
1. Ansietas ringan, berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-
hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan menghasilkan
lahan persepsinya. Ansietas dapat memotivasi bekpar dan menghasilkan
pertumbuhan dan kreatifitas.
2. Ansietas sedang, memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal
yang penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang
mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang
lebih terarah.
3. Ansietas berat, sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan
tidak dapat berfikir pada hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk
mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan
untuk dapat memusatkan pada satu area lain.
Tingkat panik dari ansietas, berhubungan dengan terperangah,
ketakutan dari orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu
walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian.
Dengan panik, terjadi peningkatan aktifitas motorik, menurunnya
kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini
tidak sejalan dengan kehidupan, dan juga berlangsung terus dalam waktu
yang lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat, bahkan kematian.

B. Rentang Respon Ansietas (Stuart & Sundeen, 1990)

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik

C. Faktor Predisposisi
Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang
dapat menyebabkan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Ketegangan
dalam kehidupan tersebut dapat berupa :
1. Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan
dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau
situasional.
2. Konflik emosional, yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan
baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan
dapat menimbulkan kecemasan pada individu.
3. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu
berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan.
4. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil
keputusan yang berdampak terhadap ego.
5. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan
ancaman terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri
individu.
6. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress
akan mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang
dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam
keluarga.
7. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi
respons individu dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi
kecemasannya.
8. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan
yang mengandung benzodizepin, karena benzodiazepine dapat menekan
neurotransmiter gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol
aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan
kecemasan.

D. Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang
dapat mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Stresor
presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
1. Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas
fisik yang meliputi :
a. Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem
imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya:
hamil).
b. Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri,
polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya
tempat tinggal.
2. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.
a. Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah
dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman
terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.
b. Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian,
perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya.

E. Tanda dan Gejala


Keluhan-keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang mengalami
ansietas (Hawari, 2008), antara lain sebagai berikut :
1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung.
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang.
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
6. Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang,
pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan
pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.

F. Tingkatan Ansietas
Ansietas memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek
membahayakan, yang bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas yang
dialami, dan seberapa baik individu melakukan koping terhadap ansietas.
Menurut Peplau (dalam, Videbeck, 2008) ada empat tingkat kecemasan yang
dialami oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan panik.
1. Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan
membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan
membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar, menyelesaikan
masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan melindungi diri sendiri.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas ringan adalah sebagai
berikut :
a. Respons fisik
- Ketegangan otot ringan
- Sadar akan lingkungan
- Rileks atau sedikit gelisah
- Penuh perhatian
- Rajin
b. Respon kognitif
- Lapang persepsi luas
- Terlihat tenang, percaya diri
- Perasaan gagal sedikit
- Waspada dan memperhatikan banyak hal
- Mempertimbangkan informasi
- Tingkat pembelajaran optimal
c. Respons emosional
- Perilaku otomatis
- Sedikit tidak sadar
- Aktivitas menyendiri
- Terstimulasi
- Tenang
2. Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada
sesuatu yang benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau agitasi.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas sedang adalah sebagai
berikut:
a. Respon fisik :
- Ketegangan otot sedang
- Tanda-tanda vital meningkat
- Pupil dilatasi, mulai berkeringat
- Sering mondar-mandir, memukul tangan
- Suara berubah : bergetar, nada suara tinggi
- Kewaspadaan dan ketegangan menigkat
- Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri punggung
b. Respons kognitif
- Lapang persepsi menurun
- Tidak perhatian secara selektif
- Fokus terhadap stimulus meningkat
- Rentang perhatian menurun
- Penyelesaian masalah menurun
- Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan
c. Respons emosional
- Tidak nyaman
- Mudah tersinggung
- Kepercayaan diri goyah
- Tidak sabar
3. Ansietas berat, yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman,
memperlihatkan respons takut dan distress.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas berat adalah sebagai
berikut :
a. Respons fisik
- Ketegangan otot berat
- Hiperventilasi
- Kontak mata buruk
- Pengeluaran keringat meningkat
- Bicara cepat, nada suara tinggi
- Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
- Rahang menegang, mengertakan gigi
- Mondar-mandir, berteriak
- Meremas tangan, gemetar
b. Respons kognitif
- Lapang persepsi terbatas
- Proses berpikir terpecah-pecah
- Sulit berpikir
- Penyelesaian masalah buruk
- Tidak mampu mempertimbangkan informasi
- Hanya memerhatikan ancaman
- Preokupasi dengan pikiran sendiri
- Egosentris
c. Respons emosional
- Sangat cemas
- Agitasi
- Takut
- Bingung
- Merasa tidak adekuat
- Menarik diri
- Penyangkalan
- Ingin bebas
4. Panik, individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena
hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun
dengan perintah.
Menurut Videbeck (2008), respons dari panik adalah sebagai berikut :
a. Respons fisik
- Flight, fight, atau freeze
- Ketegangan otot sangat berat
- Agitasi motorik kasar
- Pupil dilatasi
- Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun
- Tidak dapat tidur
- Hormon stress dan neurotransmiter berkurang
- Wajah menyeringai, mulut ternganga
b. Respons kognitif
- Persepsi sangat sempit
- Pikiran tidak logis, terganggu
- Kepribadian kacau
- Tidak dapat menyelesaikan masalah
- Fokus pada pikiran sendiri
- Tidak rasional
- Sulit memahami stimulus eksternal
- Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi.
c. Respon emosional
- Merasa terbebani
- Merasa tidak mampu, tidak berdaya
- Lepas kendali
- Mengamuk, putus asa
- Marah, sangat takut
- Mengharapkan hasil yang buruk
- Kaget, takut
- Lelah

G. Sumber Koping
Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan
menggunakan atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari
sosial, intrapersonal dan interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah
aset ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial budaya
yang diyakini. Dengan integrasi sumber-sumber koping tersebut individu
dapat mengadopsi strategi koping yang efektif (Suliswati, 2005).

H. Mekanisme Koping
Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi
merupakan faktor utama yang membuat klien berperilaku patologis atau
tidak. Bila individu sedang mengalami kecemasan ia mencoba menetralisasi,
mengingkari atau meniadakan kecemasan dengan mengembangkan pola
koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme koping yang biasanya digunakan
adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok,
olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri pada
orang lain (Suliswati, 2005). Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan
sedang, berat dan panik membutuhkan banyak energi. Menurut Suliswati
(2005), mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua jenis, yaitu:
1. Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas. Tujuan
yang ingin dicapai dengan melakukan koping ini adalah individu mencoba
menghadapi kenyataan tuntutan stres dengan menilai secara objektif
ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan konflik dan memenuhi
kebutuhan.
a Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi
hambatan pemenuhan kebutuhan.
b Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik
untuk memindahkan seseorang dari sumber stress.
c Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang
mengoperasikan, mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek
kebutuhan personal seseorang.
2. Ego oriented reaction atau reaksi berorientasi pada ego. Koping ini tidak
selalu sukses dalam mengatasi masalah. Mekanisme ini seringkali
digunakan untuk melindungi diri, sehingga disebut mekanisme pertahanan
ego diri biasanya mekanisme ini tidak membantu untuk mengatasi masalah
secara realita. Untuk menilai penggunaan makanisme pertahanan individu
apakah adaptif atau tidak adaptif, perlu dievaluasi hal-hal berikut :
a Perawat dapat mengenali secara akurat penggunaan mekanisme
pertahanan klien.
b Tingkat penggunaan mekanisme pertahanan diri terebut apa
pengaruhnya terhadap disorganisasi kepribadian.
c Pengaruh penggunaan mekanisme pertahanan terhadap kemajuan
kesehatan klien.
d Alasan klien menggunakan mekanisme pertahanan.
I. Penatalaksanaan Ansietas
Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap
pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat
holistik, yaitu mencakup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik,
psikososial dan psikoreligius. Selengkapnya seperti pada uraian berikut:
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stres, dengan cara:
a Mengonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang.
b Tidur yang cukup.
c Cukup olahraga.
d Tidak merokok.
e Tidak meminum minuman keras.
2. Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan
memakai obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan
neurotransmitter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak
(limbic system).Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti
cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam,
lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam.
3. Terapi somatic
Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala
ikutan atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan.Untuk
menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-
obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.
4. Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain:
a. Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan
dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan
diberi keyakinan serta percaya diri.
b. Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila
dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan.
c. Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali
(re-konstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat
stressor.
d. Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu
kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.
e. Psikoterapi psikodinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses
dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak
mampu menghadapi stressor psikososial sehingga mengalami
kecemasan.
f. Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar
faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga
dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.
5. Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya
dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem
kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

J. AsuhanKeperawatan
I. Pengkajian
Identitas Klien
a.Initial :Ansietas lebih rentan terjadi pada wanita daripada laki-
laki, karena wanita lebih mudah stress dibanding pria.
b. Umur : Toddler-lansia
c. Pekerjaan : Pekerajaan yang mempunyai tingkat stressor yang besar.
d.Pendidikan : Orang yang mempunyai tingkat pendidikan yang rendah
lebih rentan mengalami ansietas

II. Alasan Masuk


Sesuai diagnosa awal klien ketika pertama kali masuk rumah sakit.

III. Faktor Predisposisi (Stuart, 2007)


1. Dalam pandangan psikoanalitis, ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara dua elemen kepribadian : id dan superego.
2. Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasan takut
terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Ansietas juga
berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan
kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu.
3. Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitu
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk
mencapai tujuan yang diinginkan
4. Kajian keluarga menunjukan bahwa gangguan ansietas biasanya
terjadi dalam kelurga. Gangguan ansietas juga tumpang tindih antara
gangguan ansietas dengan depresi

IV. Fisik
a. Tanda Vital:
TD : Meningkat, palpitasi, berdebar-debar bahkan sampai pingsan.
N : Menurun
S : Normal (36˚C - 37,5˚C ), ada juga yang mengalami hipotermi
tergantung respon individu dalam menangania ansietasnya
P : Pernafasan , nafas pendek, dada sesak, nafas dangkal, rasa
tercekik terengah- engah
b. Ukur : TB dan BB: normal (tergantung pada klien)
c. Keluhan Fisik :  refleks, terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia,
tremor, kaku, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, gerakan lambat,
kaki goyah.
Selain itu juga dapat dikaji tentang repon fisiologis terhadap ansietas
(Stuart, 2007):
B1 : Nafas cepat, sesak nafas, tekanan pada dada, nafas dangkal,
pembengkakan pada tenggorokan, terengah-engah.
B2 : Palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat, rasa ingin
pingsan, pingsan, TD ↓, denyut nadi ↓.
B3 : Refleks ↑, reaksi terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor,
rigiditas, gelisah, wajah tegang.
B4 : Tidak dapat menahan kencing, sering berkemih.
B5 : Kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada
abdomen, nyeri abdomen, mual, nyeri ulu hati.
B6 : Lemah.

V. Psikososial:
A. Konsep diri:
1. Gambaran diri : wajah tegang, mata berkedip-kedip, tremor, gelisah,
keringat berlebihan.
2. Identitas : gangguan ini menyerang wanita daripada pria serta terjadi
pada seseorang yang bekerja dengan sressor yang berat.
3. Peran : menarik diri dan menghindar dalam keluarga / kelompok /
masyarakat.
4. Ideal diri : berkurangnya toleransi terhadap stress, dan kecenderungan
ke arah lokus eksternal dari keyakinan kontrol.
5. Harga diri : klien merasa harga dirinya rendah akibat ketakutan yang
tidak rasional terhadap objek, aktivitas atau kejadian tertentu.

B. Hubungan Sosial:
1. Orang yang berarti: keluarga
2. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat: kurang berperan
dalam kegiaran kelompok atau masyarakat serta menarik diri dan
menghindar dalam keluarga / kelompok / masyarakat.
3. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: +

C. Spiritual:
1. Nilai dan keyakinan
2. Kegiatan ibadah

VI. Status Mental:


1. Penampilan : pada orang yang mengalami ansietas berat dan panik
biasanya penampilannya tidak rapi.
2. Pembicaraan : bicara cepat dan banyak, gagap dan kadang-kadang
keras.
3. Aktivitas motorik : lesu, tegang, gelisah, agitasi, dan tremor.
4. Alam perasaan : sedih, putus asa, ketakutan dan khawatir.
5. Afek : labil
6. Interaksi selama wawancara: tidak kooperatif, mudah tersingung dan
mudah curiga, kontak mata kurang.
7. Persepsi : berhalusinasi, lapang persepsi sangat sempit dan tidak
mampu menyelesaikan masalah.
8. Proses pikir : persevarsi
9. Isi pikir : obsesi, phobia dan depersonalisasi
10. Tingkat kesadaran : bingung dan tidak bisa berorietansi terhadap
waktu, tempat dan orang (ansietas berat)
11. Memori : pada klien yang mengalami OCD (Obsessive Compulsif
Disorder) akan terjadi gangguan daya ingat saat ini bahkan sampai
gangguan daya ingat jangka pendek.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung : tidak mampu berkonsentrasi
13. Kemampuan penilaian : gangguan kemampuan penilaian ringan
14. Daya titik diri : menyalahkan hal-hal diluar dirinya: menyalahkan
orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat ini.

VII. Kebutuhan Persiapan Pulang


1. Kemampuan klien memenuhi/ menyediakan kebutuhan makanan,
keamanan, tempat tinggal, dan perawatan.
2. Kegiatan hidup sehari-hari:
a. Kurang mandiri tergantung tingkat ansietas
b. Perawatan diri
c. Nutrisi
d. Tidur
VIII. Mekanisme Koping
Adaptif ( ansietas ringan ) dan maladaptif (ansietas sedang, berat dan
panik).Menurut Stuart (2007) Individu menggunakan berbagai
mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya, ketidakmampuan
mengatasi ansietas secara konstruktif merupakan penyebab utama
terjadinya perilaku patologis. Ansietas ringan sering ditanggulangi tanpa
pemikiran yang sadar, sedangkan ansietas berat dan sedang menimbulkan
2 jenis mekanisme koping :
1. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi tuntunan situasi stres
secara realistis
2. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan
sedang. Tetapi karena mekanisme tersebut berlangsung secara relative
pada tingkat tidak sadar dan mencakup penipuan diri dan distorsi
realitas, mekanisme ini dapat menjadi repon maladaptif terhadap stres.

IX. Masalah Psikososial dan Lingkungan


1. Masalah dengan dukungan kelompok: klien kurang berperan dalam
kegiatan kelompok atau masyarakat serta menarik diri dan menghindar
dalam keluarga/ kelompok/ masyarakat.
2. Masalah berhubungan dengan lingkungan: lingkungan dengan tingkat
stressor yang tinggi akan memicu timbulnya ansietas.
3. Masalah dengan pendidikan: seseorang yang pernah gagal dalam
menempuh pendidikan, tidak ada biaya untuk melanjutkan jenjang
pendidikan berikutnya.
4. Masalah dengan pekerjaan: mengalami PHK, target kerja tidak tercapai.
5. Masalah dengan perumahan: pasien kehilangan tempat tinggalnya
karena bencana alam, pengusuran dan kebakaran.
6. Masalah ekonomi: pasien tidak mempunyai kemampuan finansial
dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari dan keluarganya.
7. Masalah dengan pelayanan kesehatan: kurang percaya dengan petugas
kesehatan.
X. Pengetahuan Kurang Tentang
Pasien kurang mempunyai pengetahuan tentang faktor presipitasi, koping,
obat-obatan, dan masalah lain tentang ansietas

XI. Aspek medik


Diagnosa Medik:
1. Adanya perasaan cemas atau khawatir yang tidak realistic terhadap dua
atau lebih hal yang dipersepsi sebagai ancaman perasaan ini
menyebabkan individu tidak mampu istirahat dengan tenang (inability
to relax)
2. Terdapat paling sedikit 6 dari 18 gejala-gejala berikut:
Ketegangan Motorik:
a. Kedutan otot atau rasa gemetar
b. Otot tegang/kaku/pegel linu
c. Tidak bisa diam
d. Mudah menjadi lelah
Hiperaktivitas Otonomik:
a. Nafas pendek/ terasa berat
b. Jantung berdebar-debar
c. Telapak tangan basah dingin
d. Mulut kering
e. Kepala pusing/rasa melayang
f. Mual, mencret, perut tidak enak
g. Muka panas/ badan menggigil
h. Buang air kecil lebih sering
i. Sukar menelan/rasa tersumbat
Kewaspadaan berlebihan dan Penangkapan Berkurang
a. Perasaan jadi peka/ mudah ngilu
b. Mudah terkejut/kaget
c. Sulit konsentrasi pikiran
d. Sukar tidur
e. Mudah tersinggung
3. Hendaknya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam
gejala: penurunan kemampuan bekerja, hubungan social, dan
melakukan kegiatan rutin.

1.1.1 Pohon Masalah


Ristimencederaidirisendiri, orang
lain,
Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh GangguanPersepsisensori:
halusinasilihat
anorexia
Defisit
Mual, muntah Isolasisosial perawatan diri

lingkunganAsamLam
bungmeningkat

Gangguan proses pikir :Ansietas

Resiko Kopingindividuinefektif
Ancaman
ketidakberdayaan Status
Kurangnya rasa percaya diri Kesehatan

Kurang pengetahuan PeristiwaTraumatik Penyakit

1.1.2 Rencana Intervensi


Diagnosa keperawatan:
1. Ansietas b.d ancaman status kesehatan.
TUM : Klien dapat mengurangi dan mengontrol kecemasannya.
TUK : Klien mengenal cara- cara untuk mengurangi kecemasannya
Intervensi Rasional
a. Health education (5510)
1. Kaji pengetahuan lansia
Dengan memberikan pendidikan
mengenai kecemasan.
kesehatan pada pasien, dapat
2. Berikan pendidikan kesehatan
meningkatkan pengetahuannya tentang:
mengenai
a. Tanda dan gejala psikis yang muncul
a. Tanda dan gejala psikis yang
pada kecemasan
muncul pada kecemasan
b. Tanda dan gejala fisik yang muncul
b. Tanda dan gejala fisik yang
pada kecemasan
muncul pada kecemasan
c. Cara menangani kecemasan dengan
c. Cara menangani kecemasan
- Nafas dalam
dengan
- Terapi SEFT
- Nafas dalam
- Terapi SEFT
Activity therapy: Senam Lansia
b. Monitor intensitas kecemasan Dengan memonitor tingkat ansietas
pasien kita bisa menentukan seberapa
tingkat ansietas pasien dan seberapa
bahaya ansietas tersebut.
c. Tetap bersama klien ketika Keselamatan klien merupakan suatu
tingkat ansietasnya tinggi (berat prioritas. Klien yang sangat cemas tidak
atau panik) boleh ditinggal sendiri rasa cemasnya
akan meningkat.
d. Pindahkan klien ke tempat yang Kemampuan klien untuk menghadapi
tenang dengan stimulus minimal stimulus yang berlebihan terganggu.
atau sedikit. Penggunaan ruangan Perilaku cemas dapat meningkat akibat
kecil atau area siklusi dapat stimulus eksternal. Ruangan yang lebih
diindikasikan kecil dapat meningkatkan rasa aman
klien. Semakin besar are, klien akan
semakin tersesat dan panik.
e. Tetap tenang dalam menghadapi Klien akan merasa lebih aman jika
klien. perawat tenang dan jika klien merasa
bahwa perawat dapat mengendalikan
situasi.
f. Gunakan pernyataan yang Kemampuan klien untuk menghadapi
singkat, sederhana, dan jelas. abstraksi atau kompleksitas terganggu.
g. Sadari perasaan dan tingkat Ansietas dikomunikasikan secara
ketidaknyamanan atau ansietas interpersonal. Bersama klien yang cemas
perawat sendiri. dapat meningkatkan tingkat ansietas
perawat sendiri.
h. Dorong partisipasi klien dalam Latihan relaksasi merupakan cara yang
latihan relaksasi. Latihan ini efektif dan nonkimiawi untuk
dapat mencakup bernapas dalam, mengurangi ansietas.
relaksasi otot progresif, medikasi,
imajinasi terbimbing, dan pergi
ke tempat yang tenang dan damai
(untuk jiwa).
i. instruksuksikan pasien untuk Teknik relaksasi dapat menenangkan
menggunakan teknik relaksasi perasaan pada pasien
kriteria hasil:
 klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala dan
cemas
 mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk
mengontrol cemas
 vital sign dalam batas normal
 postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan
2. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain, dan lingkungan b.d halusinasi
lihat.
TUM : Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
TUK : Klien mampu mengontrol rasa cemasnya
Intervensi Rasional
a. BHSP dengan klien • Memperkenalkan diri dengan sopan dan
ekspresi wajah bersahabat
• Tanyakan nama klien
• Jabat tangan klien

• Terima dan dukung pertahanan klien


• Kenalkan realita yang berhubungan
dengan mekanisme koping klien
b. Pasien akan terlindung dari
• Berikan umpan balik pada klien
bahaya
tentang perilaku, stressor dan sumber
koping

c. Ciptakan lingkungan tenang dan


jauh dari kegaduhan
d. Jauhkan klien dari benda yang
berbahaya seperti benda tajam
3. Koping individu inefektif b.d. harga diri rendah
TUM :Menunjukan koping yang efektif.
TUK :Menunjukan pengendalian impuls dengan mempertahankan
pengendalian diri tanpa pengawasan secara konsisten.
Intervensi Rasional
Peningkatan koping : Membantu pasien untuk beradaptasi
- Nilai kesesuaian pasien terhadap untuk beradaptasi dalam menerima
perubahan gambaran diri. stressor, p[erubahan atau ancaman yang
- Nilai dampak kehidupan pasien berpengaruh pada pemenuhan
terhadap peran dan kebutuhan dan peran dalam kehidupan.
hubungannnya dengan orang
lain.
Dukung pembuatan keputusan : Memberikan informasi dan dukunagn
- Explorasi metode yang pada pasien dalam membauta
digunakan pasien pada masa keputusan berkaitan dengan perawatan
sebelumnya dalam mengatasi kesehatan.
masalah kehidupan.
- Evaluasi kemampuan pasien
dalam mengambil keputusan.
Health Education :
- Memberikan informasi faktual
yang terkait dengan diagnose,
pengobatan, prognosis.
- Menganjurkan pasien untuk
mengguanakan tekhnik relaksasi Meningkatkan koping individu klien
sesuai kebutuhan. dan keluarga, serta memandirikan.
- Memberikan pelatihan
ketrampilan social yang sesuai.
Kolaboratif :
- Melibatkan sumber-sumber
yang ada di rumah sakit dalam
memberikan dukungan
emosional untuk pasien dan
keluarga. Memaksimalkan upaya penyembuhan
- Fasilitasi pasien untuk mengenal klien dengan berkolaborasi dengan
kelompok yang mendukungnya, tenaga medis yang lain.
pemberi layanan kesehatan
lainnya.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual
muntah, dan asam lambung meningkat.
TUM : Menunjukan perawatan diri; aktivitas kehidupan sehari-hari.
TUK : Pasien mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri.
Intervensi Rasional
Pengkajian :
- Kaji kemampuan klien dalam Karena kemampuan dalam memenuhi
memenuhi kebutuhan nutrisi sensori, kognitif dapat
nutrisinya. berpengaruh pada proses pemenuhan
- Kaji deficit sensori kognitif atau nutrisi.
fisik yang dapat menyulitkan
makan.
Pengelolaan gangguan makan :
- Pencegahan dan penangan
pembatasan diet yang berat dan
aktivitas yang berlebih atau
makan dalam jumlah banyak
ndalam satu waktu.
Pengelolaan nutrisi : Pasien dengan ansietas cenderung tidak
- Pemberian asupan diet makanan memiliki nafsu makan, sehingga
dan cairan yang seimbang. pemberian makanan dalam porsi kecil
- Pemberian makanan dalam porsi diharapkan mampu menjaga nutrisi
kecil. pasien agar tetap seimbang.
Bantuan menaikan berat badan :
Mencegah penurunan berat badan yang
- Fasilitasi pencapaian kenaikan
signifikan.
berat badan.
Health Education :
- Tunjukan penggunaan alat bantu
dan aktivitas yang adaptif.
- Ajarkan pasien menggunakan
metode alternative untuk makan
atau minum
Kolaboratif : Sebagai upaya memandirikan klien dan
- Rujuk pasien dan keluarga pada keluarga dalam pemenuhan nutrisi
layanan social untuk klien.
mendapatkan pertolongan
kesehatan di rumah.
- Gunakan terapi fisik dan
okupasi sebagai sumber dalam
perencaan aktivitas perawatan
pasien.
5. Risiko ketidakberdayaan dengan faktor risiko usia dan kognitif

TUM: Meningkatkan kemampuan diri pasien


TUK: Meningkatkan kognitif dan rasa percaya diri pasien
Intervensi Rasional
1. Beri pendidikan kesehatan Dengan memberikan pendidikan kesehatan pada lansia,
mengenai maka lansia dapat mengetahui:
a. Ciri-ciri perkembangan a. Ciri-ciri perkembangan lansia
lansia yang normal dan yang normal dan tidak normal
tidak normal b. Penanganan yang bisa dilakukan
b. Penanganan yang bisa keluarga dalam menghadapi
dilakukan keluarga dalam lansia dengan perkembangan
menghadapi lansia dengan tidak normal
perkembangan tidak normal c. Cara menstimulasi
c. Cara menstimulasi perkembangan lansia
perkembangan lansia
Activity therapy : Senam Lansia Dengan senam lansia, lansia dapat
Hemodinamik Status menambah teman, dan memberikan
1. Ukur tanda-tanda vital kebugaran fisik
2. Ukur gula darah sewaktu 1. Untuk mengetahui
perkembangan kondisi pasien
2. Mengukur gula darah dapat
mengetahui perkembangan gula
darah pasien, menentukan diet
yang tepat, serta tindakan yang
tepat.

Kriteria Evaluasi:
- Perkembangan pasien ke arah yang baik: tidak terdapat
perkembangan yang abnormal pemantauan perkembangan pasien
- Rasa percaya diri meningkat
- Keluarga berpartisipasi dan terlibat dalam pemantauan
perkembangan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. 1995.Psikologi Keperawatan. Jakarta: PT. BPK Gunung


Mulia.
Hawari, D. 2008. Manajemen Stres Cemas dan Depresi.Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
Mansjoer, A. 1999.Kapita Selekta Kedokteran. 3rd ed. Jilid 1.Jakarta : Penerbit
Aesculapius Stuart, Gail W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. 5th
ed. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Nurjannah, I. 2004. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa Manajemen.
Proses Keperawatan dan Hubungan Terapeutik Perawat-
Klien.Yogyakarta : Penerbit MocoMedia.
Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Viedebeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. 7th ed. Jakarta
:Penerbit Buku Kedokteran EGC.