Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

ATRIUM FIBRILASI
A. Definisi
Fibrilasi atrium menggambarkan irama jantung yang tidak teratur dan seringkali
cepat. Irama jantung yang tidak teratur dan seringkali cepat.. Irama jantung yang tidak
teratur atau aritmia, dari hasil impuls listrik yang abnormal didalam jantung. Ketidak
teraturan dapat terus menerus terjadi atau bisa datAng dan pergi. Kontraksi jantung normal
di mulai dari impuls listrik di atrium kanan. Impuls ini berasal dari daerah atrium disebut
nodus sinoatrial atau sinus “ alat pacu jantung alami” (Irianto, Epidemologi Penyakit
Menular dan Tidak Menular Panduan Klinik, 2014).
Atrial fibrilasi (AF) adalah suatu gangguan pada jantung yang paling umum (ritme
jantung abnormal) yang ditandai dengan ketidakteraturan irama denyut jantung dan
peningkatan frekuensi denyut jantung, yaitu sebesar 350-650 x/menit. Pada dasarnya atrial
fibrilasi merupakan suatu takikardi supraventrikuler dengan aktivasi atrial yang tidak
terkoordinasi sehingga terjadi gangguan fungsi mekanik atrium. Keadaan ini menyebabkan
tidak efektifnya proses mekanik atau pompa darah jantung. Dari gambaran
elektrokardiogram AF dapat dikenali dengan absennya gelombang P, yang diganti oleh
fibrilasi atau oskilasi antara 400-700 permenit dengan berbagai bentuk, ukuran, jarak dan
waktu timbulnya yang dihubungkan dengan respon ventrikel yang cepat dan tak teratur
bila konduksi AV masih utuh. Irama semacam ini sering disebut sebagai gelombang “f”.
Penyakit AF pada lansia memiliki resiko mengalami stoke, karena irama yang tidak
teratur ini dapat menyebabkan gumpalan darah di ruang jantung dan ini bisa hanyut ke
pembuluh darah otak dan menimbulkan sumbatan. Bila terjadi kelemahan pada anggota
gerak secepatnya dilakukan pemindaian CT. apabila terbukti ada sumbatan, ini terjadi
akibat gumpalan darah. Gumpalan darah ini dapat dilarutkan dengan obat fibrinolitik
apabila kejadian stroke belum lebih dari 3 jam. Begitu gumpalan darah larut dan darah
mengalir kembali, tanda-tanda sroke akan menyusut namun ini memerlukan ketaatan dan
keteraturan dalam memeriksakan indikator keenceran darahnya (Karo, 2016)
Menurut AHA (American Heart Association), klasifikasi dari atrial fibrilasi dibedakan
menjadi 4 jenis, yaitu:
a. AF deteksi pertama
Semua pasien dengan AF selalu diawali dengan tahap AF deteksi pertama.
Tahap ini merupakan tahapan dimana belum pernah terdeteksi AF sebelumnya
dan baru pertama kali terdeteksi.
b. Paroksismal AF
AF yang berlangsung kurang dari 7 hari atau AF yang mempunyai episode
pertama kali kurang dari 48 jam dinamakan dengan paroksismal AF. AF jenis ini
juga mempunyai kecenderungan untuk sembuh sendiri dalam waktu kurang dari
24 jam tanpa bantuan kardioversi.
c. Persisten AF
AF yang sifatnya menetap dan berlangsung lebih dari 48 jam tetapi kurang
dari 7 hari. Berbeda dengan paroksismal AF, persisten AF perlu penggunaan dari
kardioversi untuk mengembalikan irama sinus kembali normal.
d. Kronik/permanen AF
AF yang sifatnya menetap dan berlangsung lebih dari 7 hari. Pada permanen
AF, penggunaan kardioversi dinilai kurang berarti, karena dinilai cukup sulit
untuk mengembalikan ke irama sinus yang normal. Disamping klasifikasi menurut
AHA (American Heart Association), AF juga sering diklasifikasikan menurut
lama waktu berlangsungnya, yaitu AF akut dan AF kronik. AF akut dikategorikan
menurut waktu berlangsungnya atau onset yang kurang dari 48 jam, sedangkan
AF kronik sebaliknya, yaitu AF yang berlangsung lebih dari 48 jam. Berdasarkan
ada tidaknya penyakit yang mendasari, AF dapat dibedakan menjadi:
1. AF primer terjadi bila tidak disertai penyakit jantung atau penyakit
sistemik lainnya,
2. AF sekunder disertai adanya penyakit jantung atau penyakit sistemik
seperti gangguan tiroid. Berdasarkan bentuk gelombang P AF dibedakan
atas:
 AF coarse (kasar)
 AF fine (halus)
Interpretasi EKG fibrilasi atrium, sebgai berikut:
1. Frekuensi: frekuensi atrium 350 sampai 600 denyut per menit; respon
ventrikuler biasanya 120 sampai 200 denyut per menit
2. Gelombang P: tidak terdapat gelombang P yang jelas; tampak undulasi yang
ireguler, dinamakan gelombang fibrilasi atau gelombang f, interval PR tidak
dapat diukur.
3. Kompleks QRS: biasanya normal
4. Hantaran: biasanya normal melalui ventrikel. Ditandai oleh respon ventrikel
ireguler, karena nodus AV tidak berespons terhadap frekuensi atrium yang
cepat, maka impuls yang dihantarkan menyebabkan ventrikel berespons
ireguler.
5. Irama: ireguler dan biasanya cepat, kecuali bila terkontrol. Iregularitas irama
diakibatkan oleh perbedaan hantaran pada nodus AV.

B. . Etiologi
Fibrilasi Atrium dapat terjadi tanpa ada penyakit jantung yang mendasari. Hal ini
mendasari umumnya terjadi pada usia muda, sekitar setengah dari mereka tidak memiliki
masalah jantung lainnya. Hal ini sering disebut fibrilasi atrium tunggal. Beberapa
penyebab yang tidak melibatkan jantung adalah sebagai berikut :
 Hipertiroidisme ( tiroid terlalu aktif)
 Penggunaan Alcohol
 Emboli paru (bekuan darah di paru-paru)
 Pneumonia
 Seringkali fibrilasi atrium terjadi sebagai akibat dari beberapa kondisi jantung
(fibrilasi atrium sekunder)
 Penyakit katup : ini karena bawaan dengan atau disebabkan oleh infeksi atau
degenerasi/ penkapuran katup karena usia.
 Pembesaran dinding ventrikel kiri (Hipertropi ventrikel kiri).
 Penyakit jantung koroner (atau penyakit arteri koroner).
 Tekanan darah tinggi (hipertensi)
 Kardiomiopati (Penyakit Otot Jantung) penyebab gagal jantung kongestif
 Perikarditis (peradangan kantung yang mengelilingi jantung)
 Fibrilasi atrium sering terjadi setelah operasi kardiditoraks (membuka
jantung)
 Bagi banyak orang dengan episode fibrilasi atrium yang jarang dan singkat,
episode disebabkan oleh jumlah pemicu. Bisa karena asupan alkohol yang
berlebihan beberapa orang dapat menghindari dengan menghindari
pemicunya. Pemicu umumnya adalah alkohol dan kafein pada individu yang
peka.
C. Manifestasi Klinik
Gejala dari Atrium Febrilasi menurut (Kowalak & P., 2014) dan menurut (Irianto,
Epidemologi Penyakit Menular dan Tidak Menular Panduan Klinik, 2014).
1. Gagal jantung, penyakit paru obstruktif menahun, tirotoksilosis, perikarditis,
konstriktif menahun, penyakit jantung iskemik, sepsis, emboli paru, penyakit jantung
reumatik, hipertensi, stenosis, mitral, iritasi atrium, atau komplikasi pada pembedahan
pintas (bypass) koroner penggantian katup
2. Pemakaian nifedipin dan digoksin
3. Gejala fibrilasi atrium bervariasi
4. Ada yang tidak memiliki gejala
5. Gejala paling umum pada penderita fibrilasi atrium intermiten adalah palpasi sensasi
denyut jantung yang cepatt atau tidak teratur. Hal ini membuat beberapa orang
menjadi sangat cemas. Banyak orang juga menggambarkan suatu sensasi berdebar
yang tidak teratur di dada mereka
6. Beberapa menjadi pusing atau pingsan
7. Gejala lain termasuk lemah, kekurangan energy atau sesak napas dan nyeri dada

D. Komplikasi
Gagal jantung dan stroke merupakan komplikasi tersering FA yang dapat
mengakibatkan disabilitas berat dan menetap. Walaupun lebih banyak terjadi pada
usia tua tetapi proporsi FA yang bermakna terjadi pada usia muda (Yuniadi, 2014)
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium yang dapat diperiksa antara lain:
 Darah lengkap (anemia, infeksi)
 Elektrolit, ureum, kreatinin serum (gangguan elektrolit atau gagal ginjal)
 Enzim jantung seperti CKMB dan atau troponin (infark miokard sebagai pencetus
FA)
 Peptida natriuretik (BNP, N-terminal pro-BNP dan ANP) memiliki
 asosiasi dengan FA. Level plasma dari peptida natriuretik tersebut meningkat pada
pasien dengan FA paroksismal maupun persisten, dan menurun kembali dengan
cepat setelah restorasi irama sinus.
 D-dimer (bila pasien memiliki risiko emboli paru)
 Fungsi tiroid (tirotoksikosis)
 Kadar digoksin (evaluasi level subterapeutik dan/atau toksisitas) Uji toksikologi
atau level etanol
2. Elektrokardiogram (EKG)
Irama (verifikasi FA)
Hipertrofi ventrikel kiri
Durasi dan morfologi gelombang getar
Preeksitasi
Blok berkas cabang
Riwayat infark miokard sebelumnya
Aritma atrium lainnya
Ukur interval RR, QRS, dan QT dalam rangka evaluasi pengobatan
3. Pemeriksaan Laboratorium
Mencakup pemeriksaan fungsi tiroid ginjal, dan hati serta elektrolit
Untuk FA yang pertama kali terdiagnosis, terutama bila laju ventrikel sulit dikontro
4. Ekokardiogradi transtorakal
Evaluasi adanya jantung valvular
Ukur dimensi atrium kiri dan atrium kanan
Ukur dimensi & fungsi ventrikel kiri, ada tidaknya hipertrofi ventrikel kiri
Ukur tekanan ventrikel kanan (evaluasi hipertensi pulmonal)
 Evaluasi adanya trombus atrium kiri (sensitivitas rendah)
 Evaluasi adanya penyakit pericardial
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Aktivitas /istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan umum dan karena kerja.
Tanda : Perubahan frekuensi jantung/TD dengan aktivitas/olahraga.
2. Sirkulasi
Gejala :
 Riwayat penyakit janutng sebelumnya, kardiomiopati, GJK, penyakit
katup jantung, hipertensi.
 Tanda : Perubahan TD, contoh hipertensi atau hipotensi selama
periode disritmia.
 Nadi : mungkin tidak teratur, contoh denyut kuat, pulsus altenan
(denyut kuat teratur/denyut lemah), nadi bigeminal (denyut kuat tak
teratur/denyut lemah). Defisit nadi (perbedaan antara nadi apical dan
nadi radial).
 Bunyi jantung : irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun.
Kulit : warna dan kelembaban berubah, contoh pucat, sianosis,
berkeringat (gagal jantung, syok).
 Edema : dependen, umum, DVJ (pada adanya gagal jantung).
 Haluaran urine : menurun bila curah jantung menurun berat.
3. Integritas ego
Gejala :
 perasaan gugup (disertai takiaritmia), perasaan terancam. Stressor
sehubungan dengan masalah medik.
Tanda :
Cemas, takut, menolak, marah, gelisah, menangis.
4. Makanan/cairan
Gejala :
 Hilang nafsu makan, anoreksia.
 Tidak toleran terhadap makanan (karena adanya obat).
 Mual/muntah
 Perubahan berat badan.
Tanda :
 Perubahan berat badan.
 Edema
 Perubahan pada kelembaban kulit/turgor.
 Pernapasan krekels.
5. Neuro sensor
Gejala :
 Pusing, berdenyut, sakit kepala.
Tanda :
 Status mental/sensori berubah, contoh disorientasi, bingung, kehilangan
memori, perubahan pola bicara/kesadaran, pingsan, koma.
 Perubahan perilaku, contoh menyerang, letargi, halusinasi.
 Perubahan pupil (kesamaan dan reaksi terhadap sinar).
 Kehilangan refleks tendon dalam dengan disritmia yang mengancam hidup
(takikardia ventrikel , bradikardia berat).
6. Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala :
Nyeri dada, ringan sampai berat, dimana dapat atau tidak bisa hilang oleh obat
anti angina.
Tanda : Perilaku distraksi, contoh gelisah.
7. Pernapasan
Gejala :
 Penyakit paru kronis.
 Riwayat atau penggunaan tembakau berulang.
 Napas pendek.
 Batuk (dengan /tanpa produksi sputum).
Tanda :
 Perubahan kecepatan/kedalaman pernapasan selama episode disritmia.
 Bunyi napas : bunyi tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada
 menunjukkan komplikasi pernapasan, seperti pada gagal jantung kiri
(edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal.
8. Keamanan
Tanda :
 Demam.
 Kemerahan kulit (reaksi obat).
 Inflamasi, eritema, edema (trombosis superficial).
 Kehilangan tonus otot/kekuatan.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan atrial
fibrilasi adalah:
1. Penurunan curah jantung b.d perubahan frekuensi dan irama jantung
2. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
3. Ketidakefektifan pola nafas b/d sindrom hipoventilasi
C. Rencana/ Intervensi Keperawatan
DAFTAR PUSTAKA
Irianto, K. (2014). Epidemologi Penyakit Menular dan Tidak Menular. Bandung: Alfabeta.

Irianto, K. (2014). Epidemologi Penyakit Menular dan Tidak Menular Panduan Klinik. Bandung:
ALFABETA.

Karo, S. K. (2016). Cegah Dan Atasi Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Jakarta Pusat: Praninta
Aksara.

Kowalak, & P., J. (2014). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Yuniadi, Y. (2014). Pedoman Tata Laksana Fibrilasi Atrium. Indonesia: Centra Communications.