Anda di halaman 1dari 398

Lampiran : KEPUTUSANDIREKTURJENDERALPERHUBUNGANLAUT

Nomor : UM.008/9/20/DJPL - 12
Tanggal : 16 FEBRUARI 2012

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN


KAPAL NON KONVENSI BERBENDERA INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

Pasal 1
Definisi

Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan :

(1) Ahli ukur kapal adalah pejabat Pemerintah yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal dan
diberi wewenang untuk melaksanakan pengukuran kapal.

(2) Audit Manajemen Keselamatan adalah Verifikasi yang dilakukan secara sistematis
terhadap pelaksanaan sistem manajemen keselamatan perusahaan dan kapal terhadap
kesesuaian persyaratan sistem manajamen keselamatan yang telah ditetapkan dan
diterapkan secara efektif.

(3) Auditor adalah Pejabat Pemerintah atau lembaga yang diberi kewenangan untuk
melaksanakan Audit terhadap kesesuaian persyaratan Sistem Manajemen Keselamatan
dan memiliki kompetensi.

(4) Bahan tak mudah terbakar adalah bahan yang tidak terbakar atau mengeluarkan uap
yang mudah terbakar dalam jumlah yang cukup untuk menyala sendiri pada waktu
dipanaskan pada sekitar 750°C.

(5) Baja atau bahan yang setara dengannya adalah bahan tidak mudah terbakar dimana
karena sifatnya sendiri atau adanya insulasi, memiliki struktural dan sifat keutuhan
yang setara dengan baja sesuai uji kebakaran standar.

(6) Bangunan atas adalah,sesuai dengan penjelasan dalamStandar Kapal Non Konvensi
BAB I Pendahuluan Bagian B seksi 3 definisi no 4

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 1
(7) Bangunan atas tertutup adalah,sesuai dengan penjelasan dalam Standar Kapal Non
Konvensi BAB I Pendahuluan Bagian B seksi 3 definisi tabel 2 no 5

(8) Bukti obyektif adalah, sesuai dengan penjelasan dalam Standar Kapal Non
Konvensi BAB IX Manajemen Operasional Bagian B seksi 4.1.1.6

(9) Daftar ukur adalah,sesuai dengan penjelasan dalamStandar Kapal Non KonvensiBAB I
Pendahuluan Bagian B seksi 3 definisi tabel 2 no 9

(10) Dalam terbesar pada perhitungan Garis Muat adalah,sesuai dengan penjelasan dalam
Standar Kapal Non Konvensi BAB I Pendahuluan Bagian B seksi 3 definisi tabel 2 no
12

(11) Dalam terbesar pada perhitungan Surat Ukur adalah,sesuai dengan penjelasan
dalamStandar Kapal Non Konvensi BAB I Pendahuluan Bagian B seksi 3 definisi tabel
2 no 140

(12) Dinas Orbit Polar Satelit adalah dinas yang didasarkan pada orbit polar satelit yang
menerima dan merelay tanda bahaya dari Emergency Position Indicating Radio Beacon
(EPIRB) satelit dan yang memancarkan posisinya.

(13) Divisi klas “A” adalah divisi yang dibentuk oleh sekat dan geladak yang memenuhi
persyaratan berikut ini :
a. Harus terbuat dari baja atau bahan yang setara;
b. Harus diperkuat dengan baik
c. Dikonstruksi sedemikian sehingga mampu menahan aliran asap dan nyala hingga
akhir satu jam uji kebakaran standar
d. Dilapisi dengan bahan tak mudah terbakar sedemikian sehingga suhu rata-rata sisi
yang tidak terkena tidak akan naik lebih dari 139°C di atas suhu awal, juga tidak
akan naik lebih dari 180°C di atas suhu awal pada sembarang titik, termasuk
sambungannya, dalam waktu berikut ini :
i. Klas “A-60” 60 menit;
ii. Klas “A-30” 30 menit;
iii. Klas “A-15” 15 menit;
iv. Klas “A-0” 0 menit.

(14) Divisi klas “B” adalah divisi yang dibentuk oleh sekat dan geladak, langit-langit atau
pelapis yang memenuhi persyaratan berikut ini :
a. Terbuat dari bahan tak mudah terbakar dan dikonstruksi sedemikian sehingga
mampu menahan aliran asap dan nyala hingga akhir setengah jam uji kebakaran
standar.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 2
b. Memiliki nilai insulasi sedemikian sehingga suhu rata-rata sisi yang tidak terkena
tidak akan naik lebih dari 139°C di atas suhu awal, juga tidak akan naik lebih dari
225°C di atas suhu awal pada sembarang titik, termasuk sambungannya, dalam
waktu berikut ini :
i. Klas “B-15” 15 menit;
ii. Klas “B-0” 0 menit;

(15) Divisi klas “C” adalah divisi yang dikonstruksikan dari bahan yang tidak mudah
terbakar, namun tidak perlu memenuhi persyaratan aliran asap atau nyala atau
pembatasan kenaikan suhu.

(16) Geladak lambung timbul adalah, sesuai dengan penjelasan dalamStandar Kapal Non
Konvensi BAB I Pendahuluan Bagian B seksi 3 Table 2.19

(17) Geladak terpenggal adalah geladak yang mempunyai panjang penggalanlebih dari satu
meter dan membentang selebar kapal.

(18) Informasi Keselamatan Maritim / Maritime Safety Information (MSI) adalah, sesuai
dengan penjelasan dalamStandar Kapal Non Konvensi BAB I Pendahuluan Bagian B
Seksi 3 Table 2.21

(19) International safety Management (ISM) Code adalah Kodifikasi Internasional tentang
Manajemen Keselamatan Pengoperasian Kapal dan pencegahan pencemaran
sebagaimana yang diatur dalam Bab IX Konvensi SOLAS 1974 yang telah
diamandemen.

(20) INMARSAT. sesuai dengan penjelasan dalam Standar Kapal Non Konvensi BAB III
Peralatan Bagian B Seksi 4.4.2.7

(21) Kapal ringan adalah kapal yang sesuai dengan penjelasan dalam Standar Kapal Non
Konvensi Bab II Seksi 26 klausul 26.6

(22) Kelaiklautan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan
kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, garis muat, pemuatan,
kesejahteraan awak kapal dan kesehatan penumpang, status hukum kapal, manajemen
keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal, dan manajemen keamanan kapal
untuk berlayar di perairan tertentu.

(23) Keselamatan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan material,
konstruksi, bangunan, permesinan dan perlistrikan, stabilitas, tata susunan serta
perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio, elektronik kapal, yang
dibuktikan dengansertifikat setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 3
(24) Pelayar adalah semua orang yang ada di atas kapal dalam suatu pelayaran.

(25) Kapal adalah, Sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB I
Pendahuluan Seksi 3 table 2.26

(26) Kapal baruartinya kapal yang lunasnya diletakkan atau yang pada tahappembangunan yang
sama pada atau setelah 1 Januari 2014

(27) Kapal lama artinya kapal yang bukan merupakan kapal baru

(28) Kapal Non Konvensi adalah kapal yang tidak dicakup oleh konvensi dan kode yang
diterbitkan oleh badan internasional yang berkaitan beserta amandemennya

(29) Kapal Konvensi adalah kapal selain dari kapal non konvensi

(30) Kapal Indonesia adalah kapal yang memiliki surat tanda kebangsaan kapal Indonesia

(31) Kapal penumpang adalah kapal yang dibangun dan dikonstruksikan serta mempunyai
fasilitas akomodasi untukmengangkut penumpang lebih dari 12 (duabelas) orang.

(32) Kapal penumpang ro-ro adalah kapal penumpang yang memuat muatan keruangan
muatan ruang kategori khusus dengan metode roll on roll off.

(33) Kapal barang adalah setiap kapal yang bukan merupakan kapal penumpang

(34) Kapal tangki adalah kapal barang yang dibangun dan diperuntukkan semata-mata untuk
mengangkut muatan cair secara curah.

(35) Kapal geladak rata adalah kapal barang yang tidak mempunyai bangunan atas di
geladak lambung timbul.

(36) Kapal penangkap ikan adalah kapal yang digunakan sebagai kapal penangkap ikan, atau
hewan yang hidup di laut.

(37) Kedap air adalah kondisi yang dalam keadaan laut bagaimanapun, air tidak dapat
masuk dan keluar dari kedua sisi.

(38) Kedap cuaca adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB I
Pendahuluan Bagian B table 2.64

(39) Ketidaksesuaian (Non Conformity) adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non
Konvensi BAB IX Manajemen Operasional Bagian B seksi 4.1.1.8

(40) Ketidaksesuaian Besar (Major Non Conformity) adalah sesuai dengan penjelasan
Standar Kapal Non KonvensiBAB IX Manajemen Operasional Bagian B seksi 4.1.1.9

(41) Kode pengukuran adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB
VII Pengukuran Kapal Bagian A seksi 2.1.10.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 4
(42) Koefisien blok adalah perbandingan antara volume benamam pada kedala r-nan 85 % dari
tinggi kapal dengan hasil perkalian ukuran panjang, lebar dan s arat benaman pada kedalaman
85 dari tinggi kapal atau dalam bentuk rumus sebagai berikut :
V
Kb =
PxLxd

Kb = Koefesien blok
V = Volume benaman kapal pada kedalaman 85 % dari tinggi kapal terkeet
P = Panjang kapal diukur pada sarat benaman pada kedalaman 85 % dari
tinggi kapal terkecil
L = Lebar kapal diukur pada sarat benamam pada kedalaman 85 dari nggi
kapal terkecil
d = Sarat benaman pada kedalaman 85 % dart tinggi kapal terkecil

(43) Komunikasi antar anjungan kapal adalah komunikasi keselamatan antara kapal dengan
kapal lain dari posisi dimana kapal biasanya dinavigasikan.

(44) Komunikasi Radio Umum adalah lalulintas korespondensi operasional dan umum
selain berita bahaya, berita segera dan berita keselamatan melalui radio.

(45) Lambung timbul adalah jarak vertikal yang diukur pada tengah kapal dari sisi atas garis
geladak lambung timbul kearah bawah hingga sisi atas garis muat.

(46) Lebar kapal pada perhitungan Garis Muat dan Pengukuran adalah sesuai dengan
penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB I Pendahulauan Bagian B seksi 3 Table
3.75

(47) Mesin kemudi utama adalah permesinan, penggerak daun kemudi, satuan tenaga mesin
kemudi, jika ada, serta perlengkapan bantu dan sarana penempel torak ke stok kemudi
(misalnya tiller atau kwadran) yang diperlukan untuk menggerakan daun kemudi.

(48) Mesin kemudi bantu adalah perlengkapan selain dari mesin kemudi utama yang
diperlukan untuk mengemudikan kapal bila terjadi kegagalan pada mesin kemudi
utama.

(49) Observasi adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB I
Pendahulauan Bagian B seksi 3 Table 2.89

(50) Panjang kapal adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB I
Pendahulauan Bagian B seksi 3 Table 3.95.

(51) Papan hubung utama sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB V
Pemesinan dan Kelistrikan Bagian B seksi 8 .3.8

(52) Papan hubung darurat adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non
KonvensiBAB V Pemesinan dan Kelistrikan Bagian B seksi 8 .3.4

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 5
(53) Peraturan Radio adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB I
Pendahuluan Bagian B seksi 3 Table 2.109.

(54) Panggilan pilih digital / Digital Selective Calling(DSC) adalah sesuai dengan
penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB I Pendahuluan Bagian B seksi 3 Table
2.93.
(55) Penumpang adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB I
Pendahuluan Bagian B seksi 3 Table 2.106.

(56) Pemilik adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB I
Pendahuluan Bagian B seksi 3 Table 2.99

(57) Penilik Keselamatan Kapal (Marine Inspector) adalah pejabat pemerintah pemeriksa
keselamatan kapal yang mempunyai kualifikasi dan keahlian di bidang keselamatan
yang diangkat dan diberi wewenang oleh Menteri.

(58) Permeabilitas ruang adalah persentase ruangan yang dapat digenangi air.

(59) Perusahaan adalahsesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB IX
Manajemen Operasional Bagian B seksi 4.1.1.2

(60) Ruang permesinan adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB
II Konstruksi dan Stabilitas seksi 2.20.1

(61) Ruang penumpang adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB
II Konstruksi dan Stabilitas Seksi 2.22

(62) Ruang akomodasi adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB
II Konstruksi dan Stabilitas Seksi 2.1.

(63) Ruang umum adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB II
Konstruksi dan Stabilitas Seksi 2.1

(64) Ruang layanan sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB
IPendahuluan Table 2.125.

(65) Ruang muatan adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB
IPendahuluan Table 2.127

(66) Ruang kategori khusus adalah ruang tertutup di atas atau di bawah geladak sekat yang
dimaksudkan untuk mengangkut kendaraan bermotor dengan bahan bakar di dalamnya.

(67) Sertifikat Keselamatan Kapalsesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi
BAB II Konstruksi dan Stabilitas Seksi 32.1.8

(68) Sertifikat Manajemen Keselamatan / Safety Management Certificate (SMC) adalah


sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non KonvensiBAB IX Manajemen Operasinal
Bagian B Seksi 4.1.1(5)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 6
(69) Sistem kendali mesin kemudi adalah perlengkapan dengan mana perintah diteruskan
dari anjungan navigasi ke satuan tenaga mesin kemudi.

(70) Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) adalah sesuai dengan penjelasan Standar
Kapal Non Konvensi BAB IX Manajemen Operasinal Bagian B Seksi 4.1.1(3)

(71) Stasiun kendali adalah ruang radio kapal atau perlengkapan navigasi utama atau sumber
darurat tenaga berada atau dimana perlengkapan kendali kebakaran ditempatkan.

(72) Sumber utama tenaga listrik adalah pembangkittenaga listrik guna memasok tenaga
listrik ke papan hubung utama yang didistribusikan ke seluruh layanan untuk
mempertahankan operasi normal kapal.

(73) Sumber darurat tenaga listrik adalah sumber tenaga listrik guna memasok papan
hubung darurat bila terjadi kegagalan pasokan dari sumber utama tenaga listrik.

(74) Surat ukur adalahsesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB VII
Pengukuran Kapal Bagian A Seksi 2.1.9

(75) Tanggal Ulang Tahun adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non
KonvensiBAB IX Manajemen Operasinal B Seksi 6.1.1(11).

(76) Tengah kapal adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB I
Bagian B Table 2.145

(77) Tengah kapal pada pengukuran Surat Ukur adalah titik tengah dari panjang kapal
diukur dari sisi depan tinggi haluan.

(78) Tinggi bangunan atas adalah adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non
KonvensiBAB I Bagian B Table 2.146

(79) Tonase kapal adalah adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non
KonvensiBAB I Bagian B Table 2.149

(80) Tugas jaga adalah adalah sesuai dengan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi BAB
I Bagian B Table 2.22

(81) Unit tenaga mesin kemudi adalah :


a. Untuk mesin kemudi listrik, motor listrik dan perlengkapan pendukungnya;
b. Untuk mesin kemudi elektrohidrolik, motor listrik dan perlengkapan
pendukungnya serta pompanya;
c. Untuk mesin kemudi hidrolik lainnya, mesin penggerak dan pompanya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 7
(82) Uji kebakaran standar adalah pengujian terhadap spesimen sekat atau geladak dengan
cara dikenai pada tungku uji hingga suhu setara dengan kurva suhu-waktu standar yang
ditarik melalui titik-titik suhu berikut yang diukur di atas suhu tungku awal :
a. Pada akhir 5 menit pertama 556°C;
b. Pada akhir 10 menit pertama 659°C;
c. Pada akhir 15 menit pertama 718°C;
d. Pada akhir 30 menit pertama 821°C;
e. Pada akhir 60 menit pertama 925°C.

(83) Zona vertikal utama adalah bagian-bagian dari lambung, bangunan atas, rumah geladak
ditentukan sebagai divisi klas “A” yang panjangnya pada sembarang geladak tidak
lebih dari 40m.

(84) Definisi yang tidak terdapat pada ayat-ayat diatas, merujuk pada Bab I Pendahuluan
Bagian B Seksi 3 Definisi dalam dokumen Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia beserta amandemennya

Pasal 2
Penerapan
(1) Kecuali secara tegas ditentukan lain dalam Peraturan ini, semua kapal penumpang
dan semua kapal barang dengan GT lebih besar dan sama dengan 500 berbendera
Indonesia yang melakukan pelayaran Internasional harus memenuhi ketentuan
Konvensi SOLAS 1974 beserta Protokol dan amandemen-amandemennya yang telah
diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia.

(2) Kapal-kapal penumpang yang diatur dalam aturan ini adalah kapal penumpang yang
hanya berlayar dalam daerah pelayaran kawasan Indonesia (near coastal voyage),
lokal, terbatas, pelabuhan dan perairan daratan yang hanya berada dalam wilayah
perairan Indonesia saja.

(3) Peraturan tentang Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia diterapkan pada kapal-
kapal yang tidak diatur dalam konvensi Internasionalmeliputi :
a. Seluruh kapal niaga yang tidak berlayar ke luar negeri;
b. Kapal-kapal barang berukuran GT dibawah 500 yang berlayar ke luar negeri;
c. Kapal-kapal yang tidak digerakan dengan tenaga mekanis (tongkang, pontoon dan
kapal layar);
d. Kapal-kapal kayu (KLM) dan kapal kayu dengan mesin penggerak;
e. Kapal-kapal penangkap ikan;
f. Kapal-kapal pesiar;
g. Kapal-kapal dengan rancang bangun baru dan tidak biasa (novel);
h. Kapal-kapal negara yang difungsikan untuk niaga; dan
i. Semua kapal yang ada, yang mengalami perubahan fungsi

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 8
(4) Peraturan ini berlaku bagi kapal laut dan kapal perairan daratan yang terdaftar di
Indonesia dan tidak diatur dalam peraturan konvensi-konvensi Internasional.

(5) Penerapan yang tidak diatur pada ayat-ayat diatas, merujuk pada Bab I Pendahuluan
Bagian A Seksi 2 Aplikasi Dokumen Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia beserta amandemennya.

Pasal 3
Daerah Pelayaran dan Daerah Operasi Kapal

(1) Daerah Operasi Kapal sesuai yang tercantum dalam dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab I Pendahuluan Bagian C Seksi 4 serta
amandemennya.

(2) Daerah Pelayaran Kapal terdiri dari :


a. Daerah Pelayaran Semua Lautan yang meliputi semua laut di dunia;
b. Daerah Pelayaran Kawasan Indonesia (Near Coastal Voyage) yang meliputi
daerah yang dibatasi oleh garis-garis yang ditarik dari titik Lintang 10°00’00’’
Utara di Pantai Barat Malaysia, sepanjang Pantai Malaysia, Singapura, Thailand,
Kamboja dan Vietnam Selatan di Tanjung Tiwan dan garis-garis yang ditarik
antara Tanjung Tiwan dengan Tanjung Baturampon di Philipina, sepanjang Pantai
Selatan Philipina sampai Tanjung San Augustin ke titik lintang 00°00’00’’ dan
Bujur 140°00’00’’ Timur, titik Lintang 02°35’00’’ Selatan dan Bujur 141°00’00’’
Timur, ditarik ke Selatan hingga ke titik 09°10’00’’ Selatan dan bujur
141°00’00’’ Timur, ke titik Lintang 10°00’00’’ Selatan dan Bujur 140°00’00’’
Timur, ke titik Lintang 10°11’00’’ Selatan dan Bujur 121°00’00’’ Timur, ke titik
Lintang 09°30’00’’ Selatan dan Bujur 105°00’00’’ Timur ke titik Lintang
02°00’00’’ Utara dan Bujur 094°00’00’’ Timur, ke titik Lintang 06°30’00’’ Utara
dan Bujur 094°00’00’’ sampai dengan titik Lintang 10°00’00’’ Utara di Pantai
Barat Malaysia;
c. Daerah Pelayaran Lokal yang meliputi jarak dengan radius 500 mil laut dari suatu
pelabuhan tertunjuk. Jarak ini diukur antara titik-titik terdekat batas-batas perairan
pelabuhan sampai tempat labuh yang lazim. Jika pelabuhan tertunjuk dimaksud
terletak pada sungai atau perairan wajib pandu, maka jarak itu diukur dari atau
sampai pelampung terluar atau sampai muara sungai atau batas luar dari perairan
wajib pandu;
d. Daerah Pelayaran Terbatas yang meliputi jarak dengan radius 100 mil laut dari
suatu pelabuhan tertunjuk. Jarak ini diukur antara titik-titik terdekat batas-batas
perairan pelabuhan sampai tempat labuh yang lazim. Jika pelabuhan tertunjuk
dimaksud terletak pada sungai atau perairan wajib pandu, maka jarak itu diukur
dari atau sampai pelampung terluar atau sampai muara sungai atau batas luar dari
perairan wajib pandu;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 9
e. Daerah Pelayaran Pelabuhan yang meliputi perairan di dalam daerah lingkungan
kerja dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan; dan
f. Daerah Pelayaran Perairan Daratan adalah perairan sungai, danau, waduk dan
kanal atau terusan.

Pasal 4
Survei dan Pemeriksaan Kapal

(1) Survei dan pemeriksaan kapal berdasarkan waktu pelaksanaan terdiri dari:
a. Survei dan Pemeriksaan Pertama;
b. Survei dan Pemeriksaan Tahunan;
c. Survei dan Pemeriksaan Pembaharuan;
d. Survei dan Pemeriksaan Antara;
e. Survei dan Pemeriksaan Kerusakan dan Perbaikan; dan
f. Survei dan Pemeriksaan Diluar Jadwal.

(2) Survei kapal:


a. Survei terkait dengan kekuatan konstruksi lambung dan permesinan dapat
dilaksanakan oleh pemerintah, badan klasifikasi atau otoritas survei yang diakui
oleh pemerintah.
b. Hasil survei kapal dipergunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penerbitan
sertifikat keselamatan kapal.
c. Hasil survei sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) b dan salinan sertifikat
konstruksi lambung dan permesinan yang masih berlaku dilampirkan pada
permohonan sertifikat keselamatan kapal.
d. Hasil survei kapal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) a, b, c dilaporkan kepada
pemerintah dengan format standar sesuai ketentuan yang berlaku secara berkala
dengan jangka waktu setiap 6 (enam) bulan.

(3) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Pertama dilaksanakan sebelum kapal dioperasikan, meliputi
pemeriksaan lengkap atas bangunan, permesinan dan perlengkapannya, termasuk
sisi luar kulit dasar kapal. Pemeriksaan harus sedemikian untuk memperoleh
kepastian bahwa tata susunan, bahan dan kekuatan bangunan, bejana tekan serta
kelengkapannya, permesinan induk dan permesinan bantu, baling-baling dan
poros baling-baling, instalasi radio dan elektronika kapal, termasuk yang
digunakan untuk sarana penyelamatan diri, perlengkapan pemadam kebakaran,
peralatannavigasi, publikasi nautika, tangga pandu, dan peralatan lainnya
memenuhi persyaratan peraturan ini. Pemeriksaan harus dilaksanakan sedemikian
rupa hingga dapat diperoleh kepastian bahwa konstruksi kapal dan
perlengkapannya memenuhi persyaratan, dan kapal harus dilengkapi dengan
lampu-lampu, sosok benda, sarana yang menghasilkan isyarat bunyi dan isyarat
bahaya untuk pencegahan tubrukan di laut.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 10
b. Pemeriksaan Tahunan dilaksanakan setiap dua belas bulan, meliputi pemeriksaan
bangunan, permesinan dan perlengkapannya, termasuk sisi luar kulit dasar kapal
(khusus untuk kapal penumpang). Pemeriksaan harus sedemikian untuk
memperoleh kepastian bahwa bangunan kapal, serta perlengkapannya, permesinan
induk dan permesinan bantu, instalasi listrik, instalasi radio dan elektronika kapal,
perlengkapan penyelamat, perlindungan terhadap kebakaran, detektor kebakaran
dan perlengkapan pemadam kebakaran, peralatan navigasi, tangga pandu dan
peralatanlain dalam keadaan baik dan memuaskan. Lampu-lampu, sosok benda
dan sarana yang menghasilkan isyarat bunyi dan isyarat bahaya harus juga
diperiksa untuk diperoleh kepastian bahwa lampu-lampu dan sosok benda
memenuhi persyaratan peraturan ini.
c. Pemeriksaan Pembaharuan atau Pemeriksaan Besar dilaksanakan pada setiap
periode tertentu tidak melebihi 5 (lima) tahun, meliputi pemeriksaan untuk
memperoleh kepastian bahwa sisi luar kulit dasar kapal, tata susunan, kekuatan
bangunan, bejana tekan serta kelengkapannya, tenaga penggerak utama, baling-
baling dan poros baling-baling, perangkat mesin kemudi, permesinan-permesinan
bantu dalam kondisi memuaskan dan memenuhi persyaratan peraturan ini.
d. Pemeriksaan Antara dilaksanakan setiap antara Pemeriksaan Berkala ke dua dan
Pemeriksaan Berkala ke tiga, yang meliputi pemeriksaan bangunan, permesinan
dan perlengkapannya, termasuk sisi luar kulit dasar kapal. Pemeriksaan harus
sedemikian untuk memperoleh kepastian bahwa bangunan kapal serta
perlengkapannya, permesinan induk dan permesinan bantu, instalasi listrik,
instalasi radio dan elektronika kapal, perlengkapan penyelamat, perlindungan
terhadap kebakaran, detektor kebakaran dan perlengkapan pemadam kebakaran,
peralatannavigasi, tangga pandu dan peralatanlain dalam keadaan baik dan
memuaskan. Lampu-lampu, sosok benda dan sarana yang menghasilkan isyarat
bunyi dan isyarat bahaya harus juga diperiksa untuk diperoleh kepastian bahwa
lampu-lampu dan sosok benda memenuhi persyaratan peraturan ini. Khusus untuk
kapal tangki minyak harus juga diperiksa kamar pompa, sistem pipa muatan dan
pipa ventilasi.
e. Pemeriksaan kerusakan dan perbaikan dilaksanakan pada setiap kali terjadi
kecelakaan atau ditemukan adanya suatu kerusakan yang mempengaruhi
keselamatan kapal atau fungsi dan kelengkapan pesawat penyelamat serta
perlengkapannya. Pemeriksaan itu harus sedemikian untuk memperoleh kepastian
bahwa bahan dan penyelesaian perbaikan-perbaikan dalam keadaan memuaskan
dan memenuhi persyaratan peraturan ini.
f. Pemeriksaan diluar jadwal dilaksanakan selain dari pemeriksaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3) huruf (a), (b), (c), dan (d) apabila diperlukan yang
berkaitan dengan persyaratan keselamatan kapal.

(4) Untuk pemenuhan keselamatan kapal, pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(3) dilakukan oleh Penilik Keselamatan Kapal (Marine Inspector) dan dibuktikan
dengan adanya hasil laporan pemeriksaan dengan format standar sesuai ketentuan yang
berlaku.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 11
Pasal 5
Pengujian

(1) Setiap bahan konstruksi bangunan, permesinan dan listrik,stabilitas, perangkat


komunikasi radio dan elektronika, perlengkapanpenolong, perangkat detektor dan
pemadam kebakaran, peralatan navigasi dan meteorologi serta peralatan pencegahan
pencemaran dari kapal harus lulus uji coba sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(2) Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terkait keselamatan dilakukan oleh
Penilik Keselamatan Kapal (Marine Inspector) dengan memperhatikan standar mutu
pabrik pembuat.

(3) Bahan, peralatan dan perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dianggap
telah lulus uji mutu yang dibuktikan dengan sertifikat pabrik pembuat.

Pasal 6
Sertifikasi Keselamatan

(1) Sertifikat Keselamatan Kapal diterbitkan setelah hasil pemeriksaan dan pengujian
terhadap kapal memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan Peraturan ini.

(2) Kekurangan dan ketidaklengkapan yang ditemukan pada saat pemeriksaan dalam
rangka sertifikasi Keselamatan Kapal harus dapat dipenuhi sebelum penerbitan
sertifikat tersebut.

(3) Kekurangan dan ketidaklengkapan yang merupakan catatan rekomendasi hasil


pemeriksaan dan pengujian oleh Penilik Keselamatan Kapal wajib ditindak lanjuti dan
diketahui pada pemeriksaan selanjutnya sebagai kekurangan yang harus dipenuhi dan
harus terdokumentasi diatas kapal.

(4) Pemberian tenggang waktu untuk pemenuhan kekurangan dan ketidaklengkapan


persyaratan setelah penerbitan sertifikat hanya dapat dilakukan dengan kondisi-kondisi
seperti:
a. Kapal baru dibangun dan belum beroperasi;
b. Kekurangan dan ketidaklengkapan persyaratan tersebut bukan merupakan hal-
hal yang mendasar yang mengancam keselamatan jiwa;
c. Daerah/tempat yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya pemenuhan
kekurangan dan ketidaklengkapan persyaratan tersebut.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 12
(5) Sertifikat Keselamatan Kapal diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
yang memuat keterangan penting tentang identitas kapal dan bentuk sertifikat sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

(6) Sertifikat Keselamatan Kapal yang diterbitkan berdasarkan peraturan ini harus
disimpan di tempat yang aman di atas kapal untuk diperlihatkan bilamana diperlukan,
kepada petugas syahbandar.

(7) Sertifikat sementara hanya diberikan pada kapal-kapal yang belum memiliki sertifikat
sertifikat/dokumen penunjang lainnya, dengan masa berlaku maksimal 3 (tiga) bulan
dan hanya dapat diperpanjang paling lama 1 x 3 bulan.

Pasal 7
Penyetaraan dan Pembebasan

(1) Dalam keadaan tertentu Menteri dapat memberikan penyetaraan dan


pembebasansebagian persyaratan yang ditetapkandengan tetap memperhatikan
keselamatan kapal.

(2) Dalam keadaan luar biasa dan atas permohonan perusahaan, Direktur Jenderal
Perhubungan Laut dapat memberikan pengecualian dari beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan pengujian oleh Penilik
Keselamatan Kapal (Marine Inspector).

(3) Penyertaraan dan Pembebasan yang tidak diatur dalam ayat – ayat diatas, merujuk pada
Bab I Pendahuluan bagian D Seksi 6 Pengecualian dan Kesetaraan dokumen Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 13
BAB II
KONSTRUKSI

Pasal 8
Gambar Desain Kapal

Gambar desain kapal merupakan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab II Konstruksi dan Stabilitas Bagian B Seksi 4, sebagai berikut :
(1) Sebelum kapal dibangun pemilik kapal harus membuat gambar desain yang disetujui
oleh pemerintah dalam bentuk surat pengesahan gambar;
(2) Gambar desain seperti yang maksud pada ayat (1) harus menggunakan bahasa dan
simbol yang mudah dimengerti dan bukan berupa foto, sesuai dengan kaidah gambar.

Pasal 1
Kekuatan Konstruksi
Semua kapal harus memenuhi persyaratan kekuatan konstruksi sesuai dengan Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Seksi 5, 17, 18 dan 19.

Pasal 2
Penempatan Sekat Kedap Air Melintang
(1) Kapal harus dibagi seefisien mungkin dengan memperhatikan daerah pelayarannya atas
tingkat sub divisi sesuai panjang kapal dan lama pelayaran sedemikian sehingga tingkat
tertinggi sub divisi itu selaras dengan panjang kapal.

(2) Seluruh kapal penumpang yang panjangnya kurang dari 35 meter harus memenuhi
persyaratan tentang panjang yang diijinkan untuk kompartemen kedap air yang
ditentukan pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Annex 1.

(3) Penempatan sekat kedap air melintang untuk kapal selain kapal penumpang ditentukan
menurut Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Seksi 9 dan Seksi
10.

(4) Semua kapal harus memenuhi persyaratan kekedapairan seperti yang ditentukan pada
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 8 klausul 8.14.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 14
Pasal 3
Pintu pada sekat Kedap Air

Persyaratan Pintu Kedap Air merupakan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab II Konstruksi dan Stabilitas Bagian A seksi 2 klausul 2.28 dan Seksi 7 klausul
7.5, sebagai berikut :
(1) Pintu kedap air harus dikonstruksikan sedemikian rupa sehingga memiliki kekuatan
yang sama dengan konstruksi yang bersebelahan dan terpisah.
(2) Pintu-pintu kedap air boleh dari jenis engsel ataupun jenis geser kecuali pada kapal
dengan pelayaran jarak pendek dan pada bagian badan kapal yang berada di bawah
garis air harus dengan jenis geser.
(3) Pintu kedap air dari jenis geser pada kapal penumpang/penumpang roro harus dapat
dioperasikan dalam keadaan kapal miring sampai 15 derajat ke semua sisi dan harus
dapat digunakan dari setiap sisi pintu dengan kecepatan penutupan tidak lebih dari 60
detik pada saat kapal dalam kondisi tegak.

Pasal 4
Dasar Ganda
Kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih yang dibangun pada dan setelah tanggal 1 Januari
tahun 2014 harus mengikuti ketentuan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia
Bab II Seksi 9 klausul 9.3.

Pasal 5
Kekedapan Geladak Sekat Pada Kapal Penumpang Ro-Ro

Kekedapan geladak sekat sebagai berikut :


(1) Semua jalan laluan atau bukaan harus ditutup sebelum kapal meninggalkan dermaga
untuk berlayar dan harus tetap tertutup sampai kapal tiba di dermaga
(2) Direktur Jenderal Perhubungan Laut dapat memberikan ijin beberapa jalan laluan atau
bukaan-bukaan untuk dibuka dalam pelayaran tetapi hanya untuk jangka waktu yang
cukup untuk laluan dan kerja penting di kapal.

Pasal 14
Pintu Rampa
Konstruksi pintu rampa pada kapal penumpang ro-ro memenuhi persyaratan sebagai berikut :
(1) Pintu rampa pada kapal penumpang ro-ro harus dikonstruksikan sedemikian sehingga
memiliki kekokohan yang cukup, kedap air dan dengan sistim penutup yang mudah,
aman serta memenuhi persyaratan keselamatan.
(2) Pintu rampa yang sekaligus berfungsi sebagai jembatan kendaraan konstruksinya harus
memenuhi persyaratan dengan ukuran yang memadai.
(3) Pintu rampa yang dilengkapi dengan sistem pengunci hidrolik, jika terjadi kerusakan
pada alat hidrolik dalam posisi tertutup, penguncinya harus tetap dalam posisi tertutup.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 15
Pasal 15
Kapasitas Beban Geladak

Ketentuan tentang kapasitas beban geladak mengacu kepada Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab II Seksi 18 dan Seksi 20 klausul 20.17.

Pasal 16
Bukaan Ruang Permesinan
Ketentuan tentang bukaan ruang permesinan mengacu ke Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab II Konstruksi dan Stabiltas Seksi 11 klausul 11.6.

Pasal 17
Pintu Kedap Cuaca, Ambang Palka dan Penutup Palka
Seluruh kapal harus memenuhi ketentuan pintu kedap cuaca, ambang palka dan penutup
palka yang disyaratkan pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II.Seksi
11 klausul 11.2,11.3, 11.4 dan 11.5.

Pasal 18
Sub Divisi
Persyaratan subdivisi kedap air harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
(1) Kapal-kapal penumpang yang panjangnya 35 meter atau lebih harus memenuhi
persyaratan yang ditentukan pada Standar Kapal Non KonvensiBerbendera Indonesia
Bab II Seksi 6.
(2) Khusus untuk kapal - kapal penumpang yang panjangnya kurang dari 35 meter harus
memenuhi persyaratan yang dijelaskan pada Standar Kapal Non KonvensiBerbendera
Indonesia Bab II Seksi 7; Bab II Annex 1 dan Annex 2.
(3) Kapal selain kapal penumpang yang panjangnya 35 meter atau lebih harus memenuhi
persyaratan subdivisi kedap air yang ditentukan pada Standar Kapal Non
KonvensiBerbendera Indonesia Bab II Seksi 9.
(4) Kapal selain kapal penumpang yang panjangnya kurang dari 35 meter harus memenuhi
persyaratan subdivisi kedap air yang ditentukan pada Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab II Seksi 10.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 16
Pasal 19
Jangkar

Persyaratan Jangkar merupakan penjelasan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera


Indonesia Bab II Konstruksi dan Stabilitas Bagian H Seksi 26, sebagai berikut :
(1) Penentuan berat jangkar untuk kapal dengan panjang 24 meter atau lebih ditentukan
berdasarkan Bilangan Peralatan sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab II Seksi 26 klausul 26.2.
(2) Jangkar pada kapal dengan panjang kurang dari 24 meter, wajib memenuhi ketentuan
yang diatur pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Seksi 26
Tabel 26, 27, 28 dan 29.
(3) Kapal ringan seperti yang disebut pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab II Seksi 26 klausul 26.6 berat jangkarnya mengacu ke Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Seksi 26 klausul 26.7.

Pasal 20
Kriteria Umum Stabilitas Kapal Utuh

(1) Seluruh kapal harus memenuhi ketentuan tentang stabilitas kapal utuh yang disyaratkan
pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Bagian J.
(2) Kriteria stabilitas minimum kapal penumpang dan barang harus memenuhi persyaratan
berikut :
a. Besarnya luasan di bawah kurva lengan penegak tidak kurang dari 0,090 meter
radian pada sudut miring sampai dengan 40 derajat, 0.055 meter radian pada sudut
miring sampai dengan 30 derajat.
b. Untuk besarnya luasan dibawah kurva lengan penegak antara sudut miring 30
derajat sampai dengan 40 derajat atau sudut miring 30 derajat sampai dengan
sudut genangan yang besarnya kurang dari 40 derajat tidak boleh kurang dari 0,03
meter radian.
c. Besarnya lengan penegak tidak boleh kurang dari 0,20 meter pada sudut miring 30
derajat atau lebih.
d. Lengan penegak terbesar harus terjadi pada sudut miring yang sebaiknya melebihi
30 derajat tetapi tidak kurang 25 derajat. Apabila hal ini tidak dapat dipenuhi
untuk kapal - kapal dengan perbandingan Lebar dan Tinggi kapal (B/H) > 2.5
maka kriteria berikut dapat diterapkan :
i. Lengan penegak terbesar harus terjadi pada sudut miring tidak kurang dari
15 derajat; dan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 17
ii. Besarnya luasan di bawah kurva lengan penegak tidak boleh kurang dari
0.070 meter-radian sampai dengan sudut miring 15 derajat dan 0.055
meter-radian sampai dengan sudut miring 30 derajat atau lebih. Apabila
lengan penegak terbesar terjadi pada sudut miring antara 15 derajat dan 30
derajat maka besarnya luasan di bawah kurva lengan penegak sampai
dengan sudut miring dimana lengan penegak terbesar terjadi (qmax) tidak
boleh kurang dari;
0.055 + 0.001 (30 – qmax) meter-radians
e. Tinggi Metasentrum awal (GMO) tidak boleh kurang dari 0,15 meter.
f. Kriteria tambahan untuk kapal penumpang adalah sudut miring yang disebabkan
oleh penumpang-penumpang apabila berkumpul ke satu sisi tidak boleh melebihi
10 derajat dan sudut miring yang disebabkan kapal yang berputar tidak boleh
melebihi 10 derajat.

(3) Kriteria stabilitas minimum kapal pengangkut kayu pada geladak :


a. Besarnya luasan dibawah kurva lengan penegak tidak boleh kurang dari 0,08
meter radian untuk sudut miring sampai dengan 40 derajat atau sampai dengan
sudut genangan yang besarnya kurang dari 40 derajat;
b. Lengan penegak terbesar tidak boleh kurang dari 0,25 M;
c. Tinggi Metasentrum awal (GMO) pada kondisi kapal berangkat tidak boleh kurang
0,10 M.

(4) Kriteria stabilitas minimum kapal ikan harus memenuhi persyaratan berikut :
a. Besarnya luasan dibawah kurva lengan penegak tidak boleh kurang dari 0,055
meter radian untuk sudut miring sampai dengan 30 derajat dan tidak boleh kurang
dari 0,09 meter radian untuk sudut miring sampai dengan 40 derajat atau sampai
dengan sudut genangan yang besarnya kurang dari 40 derajat.
Untuk besarnya luasan dibawah kurva lengan penegak antara sudut miring 30
derajat sampai dengan 40 derajat atau sudut miring 30 derajat sampai dengan
sudut genangan yang besarnya kurang dari 40 derajat tidak boleh kurang dari 0,03
meter radian.
b. Besarnya lengan penegak tidak boleh kurang dari 0.02 meter pada sudut miring 30
derajat atau lebih.
c. Lengan penegak terbesar harus terjadi pada sudut miring yang sebaiknya melebihi
30 derajat tetapi tidak kurang dari 25 derajat.
d. Tinggi Metasentrum awal (GMO) tidak boleh kurang dari 0,35 M untuk kapal
dengan geladak tunggal, bila mempunyai bangunan atas yang lengkap atau
mempunyai panjang 70 meter atau lebih tinggi Metasentrum tidak boleh kurang
dari 0,25 M.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 18
Pasal 21
Uji Kemiringin
(1) Seluruh kapal harus memenuhi ketentuan uji kemiringan yang disyaratkan pada Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonsia Bab II Seksi 37 atau ketentuan Internasional
yang diakui oleh Pemerintah.
(2) Kapal penumpang semua ukuran dan kapal barang dengan panjang 24 meter atau lebih
setelah selesai dibangun dan sebelum di operasikan, terlebih dahulu harus menjalani uji
kemiringin, benaman yang sebenarnya dan penentuan kedudukan pusat gaya berat kapal
kosong.
(3) Apabila terjadi perubahan terhadap konstruksi kapal yang mempengaruhi kondisi
maupun pusat gravitasi kapal kosong maka harus menjalani uji kemiringan kembali
dan informasi mengenai stabilitas juga harus diganti.

Pasal 22
Penentuan Perkiraan Stabilitas Kapal dengan Bantuan Pengujian Periode Oleng Kapal
Panjang sampai dengan 70 Meter

Penentuan perkiraan stabilitas kapal dengan bantuan pengujian periode oleng kapal panjang
sampai dengan 70 meter sebagai penjelasan tambahan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonsia Bab II Konstruksi dan Stabilitas Bagian J Seksi 37.
(1) Dalam menentukan stabilitas awal kapal-kapal kecil, secara sederhana dapat dilakukan
dengan pengujian jangka waktu oleng dengan rumus berikut :

GM0 = ( F x B )2
Tr
Dimana :

F : Faktor untuk jangka waktu oleng


B : Lebar kapal didalam meter
T : Waktu untuk satu jangka waktu oleng penuh dalam detik.

(2) Faktor “F” untuk menilai pengaruh dari pembagian berbagai massa didalam badan
kapal yang dimuati, untuk coaster ukuran biasa (tidak termasuk kapal tangki) nilai rata-
rata sebagai berikut :
a. Kapal kosong atau kapal dengan balas F = 0,88

b. Kapal dimuati penuh dengan bahan-bahan cair dalam tangki terdiri atas
persentasi muatanseluruhnya

20 % dari seluruh muatan F = 0,78


10 % dari seluruh muatan F = 0,75
5 % dari seluruh muatan F = 0,73

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 19
Pasal 23
Penyusunan Informasi Stabilitas
(1) Nahkoda harus dibekali dengan informasi stabilitas yang memenuhi persyaratan yang
ditentukan pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Seksi 36
guna memungkinkan Nahkoda dengan cepat dan sederhana memperoleh panduan yang
seksama atas stabilitas kapal dalam berbagai keadaan. Informasi stabilitas harus
disahkan oleh Direktorat Jenderal.
(2) Apabila ada perubahan terhadap kapal sedemikian sehingga mempengaruhi stabilitas,
informasi stabilitas yang telah diubah harus mendapat pengesahan kembali
olehDirektorat Jenderal.
(3) Informasi tentang stabilitas harus meliputi :
a. Sifat-sifat stabilitas mengenai keadaan-keadaan pemuatan yang khusus.
b. Data-data dalam bentuk tabel-tabel atau diagram yang memungkinkan Nahkoda
untuk menghitung dan menilai stabilitas kapalnya dan memeriksa apakah
stabilitas tersebut cukup dalam semua keadaan pemuatan dengan kondisi yang
berbeda-beda.
c. Data-data ini harus mencakup namun tidak terbatas pada:
i. Berat kapal kosong;
ii. Berat benaman kapal (displacement) pada tiap-tiap kedalaman sarat
(draught);
iii. Besaran jumlah berat dalam ton (metric ton) ataupun long ton untuk setiap
perubahan sarat sebesar 1 (satu) cm atau 1 (satu) inchi;
iv. Ketinggian titik gravitasi kapal diatas lunas pada tiap-tiap kedalaman sarat
(VCG/KG);
v. Jarak mendatar titik gravitasi dari titik tengah kapal (LCG) untuk tiap-tiap
kompartemen;
vi. Besaran efek permukaan bebas tiap-tiap tangki air, ballast, bahan bakar
dan muatan untuk tiap-tiap ketinggian; dan
vii. Informasi-informasi lainnya sesuai dengan jenis dan kebutuhan
perhitungan stabilitas kapal.

Pasal 24
Pengaruh Angin dan Olengan
Kapal harus memenuhi keadaan stabilitas yang telah disyaratkan untuk dapat menahan
pengaruh angin kencang dan olengan dalam cuaca terburuk yang tidak dapat dihindarkan di
seluruh perairan sesuai dengan daerah pelayarannya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 20
Pasal 25
Stabilitas Kapal Bocor
(1) Stabilitas kapal bocor yang cukup harus diperoleh dalam semua keadaan kerja agar
kapal mampu melawan genangan penuh dari suatu kompartemen utama yang manapun
yang disyaratkan ada dalam panjang genangan.
(2) Jika dua kompartemen utama yang berdampingan dipisahkan oleh sebuah sekat yang
direlungkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, maka stabilitas kapal bocor akan
cukup melawan genangan dua kompartemen utama manapun yang berdampingan.
(3) Jika faktor sub divisi yang disyaratkan itu 0.03 atau kurang, maka stabilitas kapal bocor
harus mencakup untuk menanggulangi genangan tiga kompartemen utama manapun
yang berdampingan.
(4) Persyaratan ayat (1) Pasal ini akan ditentukan dengan perhitungan yang dibuat sesuai
Pasal 18dan memperhatikan imbangan dan ciri-ciri rancang bangun kapal dan tata
susunan serta bentuk luar dari kompartemen yang rusak. Dalam membuat perhitungan
ini, kapal dianggap berada dalam kondisi stabilitas terburuk.
a. Jika menggunakan sekat membujur dengan kekuatan yang cukup untuk
membatasi dan mengurangi laju aliran air dalam suatu tangki, maka harus
dapat dipertimbangkan secara layak pembatasan dalam perhitungan itu.
b. Jika jangkauan stabilitas dalam keadaan rusak itu meragukan, maka harus
dapat disyaratkan untuk melakukan pemeriksaan terhadapnya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 21
Pasal 26
Perhitungan Stabilitas Kapal Bocor
(1) Untuk pembuatan perhitungan stabilitas kapal bocor, maka permeabilitas volume dan
permukaan pada umumnya harus sebagai berikut :

Ruang Permeabilitas

Diperuntukkan bagi muatan atau perbekalan 60


Digunakan sebagai akomodasi 95
Ditempati permesinan-permesinan 85
Diperuntukkan bagi cairan-cairan 0 atau 90

Permeabilitas permukaan yang nilainya lebih besar harus diasumsikan bagi ruang, di
dekat bidang air yang bocor yang di dalamnya tidak terdapat akomodasi atau
permesinanan yang jumlahnya tidak berarti dan ruang yang pada umumnya tidak
digunakan untuk muatan atau perbekalan apapun yang jumlahnya cukup besar.

(2) Asumsi luasnya kebocoran adalah sebagai berikut :


a. Dalam arah membujur; 3,05 meter (10 kaki) ditambah 3 persen panjang kapal,
atau 10,67 meter (35 kaki), yang mana saja yang lebih kecil.
Jika faktor sub divisi yang disyaratkan itu 0.33 atau lebih kecil, maka luas
kebocoran diasumsikan membujur harus diperbesar seperlunya sehingga meliputi
dua sekat kedap air melintang utama yang beruntun manapun.
b. Dalam arah melintang (diukur dari dalam lambung kapal, tegak lurus sumbu
membujur setinggi garis muat sub divisi yang paling dalam). Suatu jarak yang
sama dengan seperlima lebar kapal.
c. Dalam arah tegak; dari garis alas ke atas tanpa batas.
d. Jika suatu kebocoran luasnya lebih kecil dari yang ditunjukkan dalam sub ayat (a),
(b) dan (c) ayat ini akan mengakibatkan keadaan yang lebih parah terhadap
kemiringan atau hilangnya tinggi metasentrum, maka kebocoran tersebut akan
diasumsikan ke dalam perhitungan.
(3) Penggenangan yang tidak simetris harus dijaga hingga sekecil mungkin sesuai dengan
susunan yang efisien. Jika diperlukan untuk memperbaiki sudut kemiringan yang besar,
sistim yang dipakai, jika mungkin harus dapat bekerja secara otomatis, tetapi dalam
keadaan bagaimanapun jika perlengkapan pengawas terhadap perlengkapan
penggenangan melintang dipasang, harus dapat dilayani dari atas geladak.
Perlengkapan ini beserta perlengkapan pengawasannya, maupun kemiringan maksimum
sebelum terjadi keseimbangan harus dapat disetujui. Jika disyaratkan perlengkapan
penggenangan melintang, maka waktu untuk terjadinya keseimbangan tidak akan lebih
lama dari pada 15 menit. Keterangan yang dapat dipakai tentang penggunaan
perlengkapan penggenangan melintang harus diberikan kepada nahkoda kapal.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 22
(4) Keadaan terakhir dari kapal setelah bocor dan dalam hal penggenangan yang tidak
simetris, setelah dilakukan langkah penyeimbangan harus terjadi hal berikut.
a. Bagi penggenangan simetris harus ada suatu tinggi metasentrum sisa positif yang
nilainya paling sedikit 50 milimeter (2 inchi) sebagaimana yang dihitung dengan
metode berat benaman tetap.
b. Bagi penggenangan tidak simetris seluruh kemiringan tidak melampaui 7 derajat,
kecuali dalam keadaan khusus, diijinkan kemiringan tambahan karena adanya
momen yang tidak lebih besar dari 15 derajat.
c. Dalam keadaan bagaimanapun juga garis batas benaman itu tidak akan terbenam
selama satu tahapan penggenangan antara. Jika dianggap bahwa garis batas
benaman itu dapat terbenam selama satu tahapan penggenangan antara, maka dapat
disyaratkan penyidikan dan pengaturan, jika dianggap perlu, demi keselamatan
kapal.

(5) Tidak ada keringanan persyaratan untuk stabilitas kebocoran, kecuali ditunjukkan
bahwa tinggi metasentrum utuh dalam keadaan kerja yang bagaimanapun yang
diperlukan untuk memenuhi persyaratan ini lebih dari cukup untuk kerja yang
dimaksudkan.

a. Keringanan persyaratan untuk stabilitas kebocoran akan diijinkan hanya di dalam


hal yang luar biasa dan berdasarkan atas keadaan bahwa penutupan, tata susunan
dan ciri-ciri lain dari kapal adalah yang paling menguntungkan bagi stabilitas
setelah kebocoran, yang secara praktis dan secara layak dapat ditetapkan di dalam
keadaan-keadaan khusus.
b. Untuk kapal penumpang yang panjangnya kurang dari 35 meter, harus memenuhi
persyaratan yang ditentukan pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab II Annex 2.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 23
BAB III
PERALATAN

PERALATAN NAVIGASI
Pasal 27
Perangkat navigasi untuk kapal penumpang daerah pelayaran kawasan Indonesia
(near coastal voyage)
a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
GT lebih besar dari 35 Indonesia Berbendera IndonesiaBab III Seksi 5 klausul 5.7
ditambah 1 (satu) unit pedoman magnet cadangan yang siap
digunakan setiap saat.
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 35
Indonesia Berbendera IndonesiaBab III Seksi 5 klausul 5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portabel).

b. Pedoman gasing
Batasan
Pedoman gasing
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT lebih besar atau sama
persyaratan pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 500
Indonesia Berbendera IndonesiaBab III Seksi 5 klausul 5.8

GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 24
c. Sistem kendali haluan atau lintasan (Heading or track control system (auto pilot))

Batasan
Sistem kendali haluan atau lintasan
Gross tonnage

GT lebih besar dan sama


Wajib dilengkapi
dengan 10.000

GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan

d. Pelorus atau alat baring pedoman(Pelorus or Compass Bearing Device )


Batasan Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage (Pelorus or Compass Bearing Device )

Semua ukuran Wajib dilengkapi

e. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)


Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan hasil penimbalan setelah
pengeringan (dry docking).
Semua ukuran Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.

f. Alat pancar petunjuk haluan(Transmitting Heading Device)


Batasan Alat pancar petunjuk haluan
Gross tonnage (Transmitting Heading Device)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

g. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 25
h. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
Semua ukuran
daerah pelayarannya.

i. Alat penerima sistem satelit navigasi (GPS)


Batasan
Alat penerima sistem satelit navigasi global
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 7
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

j. Radar 9 GHz (Pertama)


Batasan
Radar 9 GHz(pertama)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

k. Radar 3 GHz (Kedua)


Batasan
Radar (kedua) 3 GHz
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar kedua 3 GHz yang minimal
dengan 3.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1 atau
dapat menggunakan radar 9 GHz sebagai pengganti radar 3
GHz dengan seijin Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
GT kurang dari 3.000 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 26
l. Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Batasan
Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit ARPA yang minimal
dengan 10.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.2
GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan

m. Alat bantu garis haluan otomatis (Automatic tracking aid)


Batasan Alat bantu garis haluan otomatis
Gross tonnage (Automatic tracking aid)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

n. Alat bantu ploting elektronik


Batasan
Alat bantu ploting elektronik
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Sistem identifikasi otomatis (AIS)


Batasan
Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan
dengan 35 Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
Seksi 5 klausul.5.11
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 27
p. Perekam data pelayaran (VDR)

Batasan Perekam data pelayaran


Gross tonnage (Voyage Data Recorders (VDR))

Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan


GT lebih besar atau sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 500
Seksi 5 klausul 5.10

GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

q. Alat ukur kecepatan


Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

r. Perum gema(echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage echo sounding device
Wajib dilengkapi dengan perangkat elektronik perum
GT lebih besar dan sama
gemaStandar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia
dengan 300
Bab III Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan

s. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong.

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong.
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 500
Tidak diwajibkan
Catatan :
GT kurang dari 500 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling – baling,
diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 28
t. Corong pemberitahuan (Public addressor)
Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 12.

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel

u. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat


Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT 35 sampai dengan kurang
Wajib dilengkapi minimalhandy talkie
dari 300
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

v. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat siang hari yang terpisah dari
dengan 35 lampu pencarian (search light).
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

w. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi.

x. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal.
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 29
y. IAMSAR
Batasan
IAMSAR
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi.
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 28
Perangkat navigasi untuk kapal penumpang daerah pelayaran lokal

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
GT lebih besar dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul.5.7 ditambah 1 (satu) unit
pedoman magnet cadangan yang siap digunakan setiap saat.
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul.5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portabel).

b. Pedoman gasing
Batasan
Pedoman gasing
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 500
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.8

GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 30
c. Sistem kendali haluan atau lintasan(Heading or track control system (auto pilot))

Batasan
Sistem kendali haluan atau lintasan
Gross tonnage

GT lebih besar dan sama


Wajib dilengkapi
dengan 10.000

GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan.

d. Pelorus atau alat baring pedoman(Pelorus or Compass Bearing Device )


Batasan Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage (Pelorus or Compass Bearing Device )
Semua ukuran Wajib dilengkapi

e. Alat koreksi haluan dan baringan (daftar deviasi)


Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi
Semua ukuran Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.

f. Alat pancar petunjuk haluan(Transmitting Heading Device)


Batasan Alat pancar petunjuk haluan
Gross tonnage (Transmitting Heading Device)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

g. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 31
h. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
Semua ukuran
daerah pelayarannya.

i. Alat penerima sistem satelit navigasi (GPS)


Batasan
Alat penerima sistem satelit navigasi global
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 7
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

j. Radar 9 GHz (Pertama)


Batasan
Radar 9 GHz(pertama)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

k. Radar 3 GHz (Kedua)


Batasan
Radar (kedua) 3 GHz
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar kedua 3 GHz yang minimal
dengan 3000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1 atau
dapat menggunakan radar 9 GHz sebagai pengganti radar 3
GHz dengan seijin Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
GT kurang dari 3000 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 32
l. Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Batasan
Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit ARPA yang minimal
dengan 10.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.2
GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan

m. Alat bantu garis haluan otomatis (Automatic tracking aid)


Batasan Alat bantu garis haluan otomatis
Gross tonnage Automatic tracking aid
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

n. Alat bantu ploting elektronik (ARPA)


Batasan
Alat bantu ploting elektronik(ARPA)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IIISeksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Sistem identifikasi otomatis (AIS)


Batasan
Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan
dengan 35 Standar Kapal Non Konvensi Berbendera IndonesiaBab
IIISeksi 5klausul 5.11.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

p. Perekam data pelayaran (VDR)

Batasan Perekam data pelayaran


Gross tonnage Voyage Data Recorders (VDR)

Semua ukuran Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 33
q. Alat ukur kecepatan
Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

r. Perum gema(echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi perum gema yang memenuhi persyaratan
GT lebih besar dan sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 300
Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan

s. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong.

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong.
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 500
Tidak diwajibkan
Catatan :
GT kurang dari 500 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling – baling,
diwajibkan.

t. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi.12

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 34
u. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT 7 sampai dengan kurang
Wajib dilengkapiradio portabel
dari 300
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

v. Lampu isyarat (Day light signal)

Batasan Lampu isyarat


Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat siang hari yang terpisah dari
dengan 35 lampu pencarian (search light).
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

w. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi.

x. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal.
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

y. IAMSAR
Batasan
IAMSAR
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi.
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 35
Pasal 29
Perangkat navigasi untuk kapal penumpang daerah pelayaran terbatas

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
GT lebih besar dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul.5.7 ditambah 1 (satu) unit
pedoman magnet cadangan yang siap digunakan setiap saat.
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul.5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portabel).

b. Pedoman gasing
Batasan
Pedoman gasing
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 500
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.8

GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan.

c. Sistem kendali haluan atau lintasan (Heading or track control system / Auto Pilot )

Batasan
Sistem kendali haluan atau lintasan
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

d. Pelorus atau alat baring pedoman(Pelorus or Compass Bearing Device)


Batasan Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage (Pelorus or Compass Bearing Device)
Wajib dilengkapi, minimum dengan alat baring sederhana
Semua ukuran
(perangkat jarum semat)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 36
e. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)
Batasan
Koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi
Semua ukuran Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.

f. Alat pancar petunjuk haluan(Transmitting Heading Device)


Batasan Alat pancar penunjuk haluan
Gross tonnage (Transmitting Heading Device)
Semua ukuran Tidak diwajibkan

g. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

h. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
Semua ukuran
daerah pelayarannya.

i. Alat penerima sistem satelit navigasi (GPS)


Batasan
Alat penerima sistem satelit navigasi global
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 7
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 37
j. Radar 9 GHz (Pertama)
Batasan
Radar 9 GHz(pertama)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

k. Radar 3 GHz (Kedua)


Batasan
Radar (kedua) 3 GHz
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar kedua 3 GHz yang minimal
dengan 3.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1 atau
dapat menggunakan radar 9 GHz sebagai pengganti radar 3
GHz dengan seijin Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
GT kurang dari 3.000 Tidak diwajibkan

l. Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)


Batasan
Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan

m. Alat bantu garis haluan otomatis (Automatic tracking aid)


Batasan Alat bantu garis haluan otomatis
Gross tonnage (Automatic tracking aid)
Semua ukuran Tidak diwajibkan

n. Alat bantu ploting elektronik


Batasan
Alat bantu ploting elektronik
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 38
o. Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Batasan
Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan

p. Perekam data pelayaran (VDR)

Batasan Perekam data pelayaran


Gross tonnage Voyage Data Recorders (VDR)

Semua Ukuran Tidak diwajibkan

q. Alat ukur kecepatan


Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 7
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

r. Perum gema(echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi perum gema yang memenuhi persyaratan
GT lebih besar dan sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 300
Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 39
s. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong.

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong.
Tidak diwajibkan
Catatan :
Semua ukuran 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling – baling,
diwajibkan.

t. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi.12
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel

u. Alat komunikasike tempat pengemudian darurat


Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi minimal radio portabel

v. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat siang hari yang terpisah dari
dengan 35 lampu pencarian (search light).
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 40
w. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi.
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

x. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 30
Perangkat navigasi untuk kapal penumpang daerah pelayaran pelabuhan

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
GT lebih besar dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul.5.7 ditambah 1 (satu) unit
pedoman magnet cadangan yang siap digunakan setiap saat.
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul.5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portabel).

b. . Pelorus atau alat baring pedoman (Pelorus or Compass Bearing Device)


Batasan Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage (Pelorus or Compass Bearing Device )
Wajib dilengkapi, minimum dengan alat baring sederhana
Semua ukuran
(perangkat jarum semat)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 41
c. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)
Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi
Semua ukuran Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal

d. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

e. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
Semua ukuran
daerah pelayarannya.

f. Radar 9 GHz (pertama)


Batasan
Radar 9 GHz (pertama)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonsia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

g. Alat bantu ploting elektronik


Batasan
Alat bantu ploting elektronik
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 42
h. Alat ukur kecepatan
Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

i. Perum gema
Batasan
Perum gema
Gross tonnage
Wajib dilengkapi perum gema yang memenuhi persyaratan
GT lebih besar dan sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 300
Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan

j. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong
Tidak diwajibkan
Catatan :
Semua ukuran 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling – baling,
diwajibkan.

k. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi.12

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimum dengan pengeras suara portabel

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 43
l. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi radio portabel

m. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
Semua ukuran Tidak diwajibkan

n. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan.

o. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi minimum penandaan tanda bahaya
dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 31
Perangkat navigasi untuk kapal penumpang daerah pelayaran daratan

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Semua ukuran
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.7 atau bisa diganti
dengan pedoman magnet portabel.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 44
b. Pelorus atau alat baring pedoman (Compass Bearing Device)
Batasan Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage (Compass Bearing Device)
Wajib dilengkapi, minimum dengan alat baring sederhana
Semua ukuran
(perangkat jarum semat)

c. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)


Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35 Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.

GT dibawah 35 Tidak diwajibkan

d. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

e. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
Semua ukuran
daerah pelayarannya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 45
f. Radar
Batasan
Radar
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

g. Alat ukur kecepatan


Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak Wajib

h. Perum gema (echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi dengan perangkat elektronik perum gema
dengan 300 yang dapat diganti dengan perum tangan.

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan

i. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong
Tidak diwajibkan
Catatan :
Semua ukuran 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling – baling,
diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 46
j. Corong pemberitahuan (Public addressor)
Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV.Seksi 12
GT 7 sampai dengan kurang
Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel
dari 35

GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

k. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat


Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi minimum radio portabel (handy talkie)
dengan 300
GT 35 sampai dengan kurang Wajib tetapi bisa diganti dengan sarana lain yang bisa
dari 300 dimengerti.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

l. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat siang hari yang terpisah dari
dengan 35 lampu pencarian (search light).
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

m. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 47
n. Kode isyarat Internasional
Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal
dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 32
Perangkat navigasi untuk kapal barang daerah pelayaran kawasan Indonesia
(near coastal voyage)

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 5
GT lebih besar dari 35 klausul 5.7 ditambah 1 (satu) unit pedoman magnet
cadangan yang siap digunakan setiap saat.

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab
dari 35
III Seksi 5 klausul 5.7.

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portabel).

b. Pedoman gasing
Batasan
Pedoman gasing
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 500
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.8

GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 48
c. Sistem kendali haluan atau lintasan(Heading or track control system/Auto Pilot)

Batasan
Sistem kendali haluan atau lintasan
Gross tonnage

GT lebih besar dan sama


Wajib dilengkapi
dengan 10.000

GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan

d. Pelorus atau alat baring pedoman(Pelorus or Compass Bearing Device )


Batasan Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage (Pelorus or Compass Bearing Device )

Semua ukuran Wajib dilengkapi

e. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)


Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35 Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.

GT dibawah 35 Tidak diwajibkan

f. Alat pancar petunjuk haluan


Batasan
Alat pancar petunjuk haluan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 500 Catatan : untuk kapal yang melakukan pelayaran
Internasional mengikuti aturan konvensi.
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 49
g. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

h. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
daerah pelayarannya.

i. Alat penerima sistem satelit navigasi (GPS)


Batasan
Alat penerima sistem satelit navigasi global
Gross tonnage

Semua ukuran Wajib dilengkapi

j. Radar
Batasan
Radar
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 300 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

k. Radar 3 GHz (Kedua)


Batasan
Radar (kedua) 3 GHz
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar kedua 3 GHz yang minimal
dengan 3.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1 atau
dapat menggunakan radar 9 GHz sebagai pengganti radar 3
GHz dengan seijin Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
GT kurang dari 3.000 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 50
l. Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Batasan
Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit ARPA yang minimal
dengan 10.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 5 klausul 5.9.2
GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan

m. Alat bantu garis haluan otomatis (Automatic tracking aid)


Batasan Alat bantu garis haluan otomatis
Gross tonnage (Automatic tracking aid)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

n. Alat bantu ploting elektronik


Batasan
Alat bantu ploting elektronik
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 300
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

o. Sistem identifikasi otomatis (AIS)


Batasan
Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Gross tonnage
GT lebih besar atau sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan
dengan 300 Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
Seksi 5 klausul 5.11
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 51
p. Perekam data pelayaran (VDR)

Batasan Perekam data pelayaran


Gross tonnage Voyage Data Recorders (VDR)

Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan


GT lebih besar dan sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 3.000
Seksi 5 klausul 5.10

GT kurang dari 3.000 Tidak diwajibkan

q. Alat ukur kecepatan


Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 7
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

r. Perum gema(echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi perum gema yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
GT lebih besar dan sama Seksi 17 klausul 17.5
dengan 300
Catatan : untuk kapal yang melakukan pelayaran
Internasional mengikuti aturan konvensi.

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 52
s. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah dan daya dorong

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah dan daya
Gross tonnage dorong
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 500
Tidak diwajibkan
Catatan :
GT kurang dari 500 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling –
baling, diwajibkan.

t. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)

GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Bab IV Seksi 12

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel

u. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat


Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT kurang dari 300 Radio handy talkie

v. Lampu isyarat(day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat siang hari yang terpisah dari
dengan 35 lampu pencarian (search light).
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi (minimal dengan lampu senter)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 53
w. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi.

x. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 54
Pasal 33
Perangkat navigasi untuk kapal barang daerah pelayaran lokal

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
GT lebih besar dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.7 ditambah 1 (satu) unit
pedoman magnet cadangan yang siap digunakan setiap saat.
GT 7 sampai dengan kurang Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dari 35 Seksi 5 klausul 5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portabel).

b. Pedoman gasing
Batasan
Pedoman gasing
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT lebih besar dan sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 500
Indonsia Bab III Seksi 5 klausul 5.8

GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan.

c. Sistem kendali haluan atau lintasan (Heading or track control system (auto pilot))

Batasan
Sistem kendali haluan atau lintasan
Gross tonnage

GT lebih besar dan sama


Wajib dilengkapi
dengan 10.000

GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 55
d. Pelorus atau alat baring pedoman
Batasan
Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage

Semua ukuran Wajib dilengkapi

e. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)


Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi
GT lebih besar dari 35 Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

f. Alat pancar petunjuk haluan(Transmitting Heading Device)


Batasan
Alat pancar petunjuk haluan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

g. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

h. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
daerah pelayarannya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 56
i. Alat penerima sistem satelit navigasi (GPS)
Batasan
Alat penerima sistem satelit navigasi global
Gross tonnage

Semua ukuran Wajib dilengkapi

j. Radar
Batasan
Radar
Gross tonnage
Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
GT lebih besar dan sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 300
Indonsia Bab III Seksi 5 klausul.5.9.1
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

k. Radar 3 GHz (Kedua)


Batasan
Radar (kedua) 3 GHz
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar kedua 3 GHz yang minimal
dengan 3.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1 atau
dapat menggunakan radar 9 GHz sebagai pengganti radar 3
GHz dengan seijin Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
GT kurang dari 3.000 Tidak diwajibkan

l. Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)


Batasan
Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi 1 (satu) unit ARPA yang minimal
GT lebih besar dan sama
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dengan 10.000
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.2
GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 57
m. Alat bantu garis haluan otomatis (Automatic tracking aid)
Batasan Alat bantu garis haluan otomatis
Gross tonnage (Automatic tracking aid)
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

n. Alat bantu ploting elektronik


Batasan
Alat bantu ploting elektronik
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

o. Sistem identifikasi otomatis (AIS)


Batasan
Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan
GT lebih besar atau sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 300
Seksi 5 klausul.5.11
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

p. Perekam data pelayaran (VDR)

Batasan Perekam data pelayaran


Gross tonnage Voyage Data Recorders (VDR)

Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan


GT lebih besar atau sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 3.000
Seksi 5 klausul 5.10

GT kurang dari 3.000 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 58
q. Alat ukur kecepatan
Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi

r. Perum gema (echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi dengan perum gema yang memenuhi
GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 300
Indonsia Bab III Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan.

s. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 500
Tidak diwajibkan
Catatan :
GT kurang dari 500 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling –
baling, diwajibkan.

t. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 12

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 59
u. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT 35 sampai dengan kurang
Wajib dilengkapihandy talkie
dari 300
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

v. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat yang terpisah dari lampu
dengan 35 pencarian (search light).
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

w. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi.

x. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal
dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 60
Pasal 34
Perangkat navigasi untuk kapal barang daerah pelayaran terbatas

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
GT lebih besar dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.7 ditambah 1 (satu) unit
pedoman magnet cadangan yang siap digunakan setiap saat.
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portable).

b. Pedoman gasing
Batasan
Pedoman gasing
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

c. Sistem kendali haluan atau lintasan (Heading or track control system (auto pilot))

Batasan
Sistem kendali haluan atau lintasan
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan.

d. Pelorus atau alat baring pedoman


Batasan
Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage
Wajib dilengkapi, minimum dengan alat baring sederhana
Semua ukuran
(perangkat jarum semat)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 61
e. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)
Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 35 Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.
GT dibawah 35 Tidak diwajibkan

f. Alat pancar petunjuk haluan


Batasan
Alat pancar petunjuk haluan
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

g. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
Semua ukuran pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

h. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
Semua ukuran
daerah pelayarannya.

i. Alat penerima sistem satelit navigasi (GPS)


Batasan
Alat penerima sistem satelit navigasi global
Gross tonnage

Semua ukuran Wajib dilengkapi

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 62
j. Radar
Batasan
Radar
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
dengan 300 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

k. Radar (kedua) 3 GHz


Batasan
Radar (kedua) 3 GHz
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi radar kedua 3 GHz yang minimal
dengan 3000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 3000 Tidak diwajibkan

l. Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)


Batasan
Alat bantu ploting radar otomatis (ARPA)
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit ARPA yang minimal
dengan 10.000 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 5 klausul5.9.2
GT kurang dari 10.000 Tidak diwajibkan

m. Alat bantu garis haluan otomatis(Automatic tracking aid)


Batasan Alat bantu garis haluan otomatis
Gross tonnage Automatic tracking aid
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 500
GT kurang dari500 Tidak diwajibkan

n. Alat bantu ploting elektronik


Batasan
Alat bantu ploting elektronik
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 500
GT kurang dari500 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 63
o. Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Batasan
Sistem identifikasi otomatis (AIS)
Gross tonnage
GT lebih besar atau sama Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan
dengan 300 Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
Seksi 5 klausul5.11
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

p. Perekam data pelayaran (VDR)

Batasan Perekam data pelayaran


Gross tonnage Voyage Data Recorders (VDR)

Wajib dilengkapi 1 (satu) unit yang memenuhi persyaratan


GT lebih besar dan sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 3.000
Seksi 5 klausul5.10
GT kurang dari 3.000 Tidak diwajibkan

q. Alat ukur kecepatan


Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi
dengan 7
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

r. Perum gema(echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi perum gema yang memenuhi persyaratan
GT lebih besar atau sama
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab III
dengan 300
Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 64
s. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar


Gross tonnage dan mode operasi baling – baling, arah daya dorong

GT lebih besar dan sama


Wajib dilengkapi
dengan 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan
Catatan :
1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling – baling,
diwajibkan.

t. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonsia Bab IV Seksi 12

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel

u. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat


Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
Radio jinjing (handy talkie)

v. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat yang terpisah dari lampu
dengan 300 pencarian (search light).
GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 65
w. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage

Semua ukuran Wajib dilengkapi.

x. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal.
dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 35
Perangkat navigasi untuk kapal barang daerah pelayaran pelabuhan

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 5
GT lebih besar dari 35
klausul5.7 ditambah 1 (satu) unit pedoman magnet
cadangan yang siap digunakan setiap saat.
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 5
dari 35
klausul5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portabel).

b. Alat baring pedoman (Compass Bearing Device)


Batasan
Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage
Wajib dilengkapi, minimum dengan alat baring sederhana
Semua ukuran
(perangkat jarum semat)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 66
c. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

d. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
Semua ukuran
daerah pelayarannya.

e. Radar
Batasan
Radar
Gross tonnage
Wajib dilengkapi radar 9 GHz yang minimal memenuhi
GT lebih besar dan sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 175
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.9.1
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

f. Alat bantu ploting elektronik


Batasan
Alat bantu ploting elektronik
Gross tonnage
Tidak diwajibkan
Semua ukuran

g. Alat ukur kecepatan


Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT sama dengan dan lebih
Wajib dilengkapi
besar dari 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 67
h. Perum gema (echo sounding device)
Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi dengan perum gema yang memenuhi
GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab Berbendera
dengan 300
Indonesia Bab III Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan.

i. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling –
baling, arah daya dorong

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong
Tidak diwajibkan
Catatan :
Semua ukuran 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling – baling,
diwajibkan.

j. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 500 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 12.

GT kurang dari 500 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara portabel

k. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat


Batasan
Telepon ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT kurang dari 300 Radio jinjing (handy talkie)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 68
l. Lampu isyarat (Day light signal)
Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat yang terpisah dari lampu
dengan 35 pencarian (search light).

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

m. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

n. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi minimum tanda marabahaya.
dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 36
Perangkat navigasi untuk kapal barang daerah pelayaran perairan daratan

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab Berbendera
GT lebih besar dari 35
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul 5.7 ditambah 1 (satu) unit
pedoman magnet cadangan yang siap digunakan setiap saat.
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 5
dari 35
klausul5.7

GT kurang dari 7 Minimal menggunakan pedoman magnet tangan (portable).

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 69
b. Pelorus atau alat baring pedoman (Compass Bearing Device)
Batasan
Pelorus atau alat baring pedoman
Gross tonnage
Wajib dilengkapi, minimum dengan alat baring sederhana
Semua ukuran
(perangkat jarum semat)

c. Alat koreksi haluan dan baringan (Daftar deviasi)


Batasan
Alat koreksi garis haluan dan baringan (daftar deviasi)
Gross tonnage
Wajib dilengkapi
Catatan : Semua kompas magnet sebelum digunakan dan
Semua ukuran yang baru selesai melaksanakan pengeringan (dry docking)
wajib di timbal.

d. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
pelayarannya, atau dapat diganti dengan peralatan eletronik
peta (ECDIS) lengkap dengan penataan cadangannya.

e. Publikasi nautika
Batasan
Publikasi nautika
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi publikasi nautika yang sesuai dengan
dengan 35 daerah pelayarannya.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 70
f. Alat ukur kecepatan
Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

g. Perum gema (echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi dengan perum gema yang memenuhi
GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 300
Indonesia Bab III Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan.

h. Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling, kisar dan mode operasi baling
– baling, arah daya dorong.

Batasan Indikator sudut daun kemudi, putaran baling-baling,


kisar dan mode operasi baling – baling, arah daya
Gross tonnage dorong.

GT lebih besar dan sama


Wajib dilengkapi
dengan 500
Tidak diwajibkan
Catatan:
GT kurang dari 500 1. Untuk semua ukuran kapal indikator sudut daun kemudi
diwajibkan.
2. Untuk tipe CPP : kisar dan mode operasi baling –
baling, diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 71
i. Corong pemberitahuan (Public addressor)
Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dengan 35 Non Konvensi Berbendera Indonsia Bab IV Seksi 12

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara jinjing.

j. Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat


Batasan
Alat komunikasi ke tempat pengemudian darurat
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 300
GT kurang dari 300 Radio jinjing (handy talkie)

k. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat siang hari
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat yang terpisah dari lampu
dengan 175 pencarian (search light).
GT kurang dari 175 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

l. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi.

m. Kode isyarat Internasional


Batasan
Kode isyarat Internasional
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi sesuai keperluan kapal.
dengan 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 72
Pasal 37
Perangkat navigasi untuk kapal penangkap ikan

a. Pedoman magnet
Batasan
Pedoman magnet
Gross tonnage
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
Semua ukuran persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 5 klausul.5.7.

b. Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik


Batasan
Peta laut/sistem peraga peta dan informasi elektronik
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi peta laut yang sesuai dengan daerah
pelayarannya.

c. Alat penerima sistem satelit navigasi (GPS)


Batasan
Alat penerima sistem satelit navigasi global
Gross tonnage
GT sama dengan dan lebih 1 (satu) unit GPS
besar dari 7
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

d. Radar
Batasan
Radar
Gross tonnage
GT sama dengan dan lebih Wajib dilengkapi minimum1 (satu) unit radar
besar dari 35
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 73
e. Alat ukur kecepatan
Batasan
Alat ukur kecepatan
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
Wajib dilengkapi
dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

f. Perum gema (echo sounding device)


Batasan Perum gema
Gross tonnage (echo sounding device)
Wajib dilengkapi dengan perum gema yang memenuhi
GT lebih besar dan sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 300
Indonesia Bab III Seksi 17 klausul 17.5

GT kurang dari 300 Wajib dilengkapi dengan perum tangan

g. Corong pemberitahuan (Public addressor)


Batasan Corong pemberitahuan
Gross tonnage (Public addressor)
GT lebih besar dan sama Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
dengan 35 Seksi12

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan pengeras suara jinjing.

h. Lampu isyarat (Day light signal)


Batasan Lampu isyarat
Gross tonnage (Day light signal)
GT lebih besar dan sama Wajib dilengkapi lampu isyarat yang terpisah dari lampu
dengan 35 pencarian (search light).
GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi minimal dengan lampu senter

i. Reflektor radar
Batasan
Reflektor radar
Gross tonnage
Semua ukuran Wajib dilengkapi.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 74
Pasal 38
Alat-alat sederhana untuk menentukan dalamnya air
(1) Perum tangan yang digunakan oleh kapal-kapal sebagai pengganti perum gema, harus
memenuhi persyaratan teknis antara lain:
a. Terbuat dari serat yang tidak mengkerut karena basah dan yang bagus serta awet
disebut”Simson Tiller Rope No.8”.
b. Panjang tali perum disesuaikan dengan keperluan biasanya 10 - 30 meter.
c. Batu perum berbentuk pyramid dengan berat sekitar 3 sampai dengan 7 kg dibuat
dari timbel dengan sebelah bawahnya berlubang yang diisi gemuk untuk
mengetahui jenis dasar laut.
d. Tali diberi markah-markah dalam keadaan basah dengan seperti berikut;
i. Markah 1,2,4,6,8,9 dan seterusnya tali tidak berwarna,
ii. Markah 3,13,23 meter dan seterusnya sepotong kain merah,
iii. Markah 5,15,25 meter dan seterusnya sepotong kain putih
iv. Markah 7,17,27 meter dan seterusnya sepotong kain biru
v. Markah 19,20,30 meter dan seterusnya sepotong kulit dengan berturut-
turut 1,2,3 lubang dan seterusnya.
(2) Batang duga:
a. Terbuat dari kayu dengan sebelah bawahnya dibuat agak lebih besar dan
berbentuk datar atau bertombol agar tidak terlalu banyak masuk atau menancap
kedalam tanah pada waktu digunakan.
b. Panjang antara 3 sampai dengan 10 meter dan setiap 1 desimeter diberi markah
warna tertentu serta diberi tanda setiap 1 meter (1m) untuk memudahkan
pembacaan.
PERALATAN RADIO
Pasal 39
Perlengkapan radio untuk kapal penumpang dan barang yang berlayar di daerah
pelayaran kawasan Indonesia (near coastal voyage - Area A1+A2+A3)
a. VHF DCS

BATASAN
VHF DSC
AREA

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul.4.2.1.1
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 2 (dua) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausulBab III.4.2.1.1

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 75
b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
AREA

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
AREA

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
AREA

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 76
e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
AREA

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.7

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


Semua ukuran
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.4

g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dengan 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 300 sampai dengan
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
kurang dari 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 35 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dari 300
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT kurang dari 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.3

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 77
Pasal 40
Perlengkapan radio untuk kapal penumpang dan barang yang berlayar di daerah
pelayaran lokal (Area A1+A2+A3)

a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
AREA

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 2 (dua) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
AREA

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul.4.2.1.2
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
AREA

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 78
d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
AREA

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.7

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


Semua ukuran
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.4

g. EPIRB – semua kapal

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dengan 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 300 sampai dengan
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
kurang dari 500
klausul4.2.1.3

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 79
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 35 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dari 300
klausul4.2.1.3

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.3

Pasal 41
Perlengkapan radio untuk kapal penumpang dan barang yang berlayar di daerah
pelayaran terbatas (Area A1+A2)
a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
Area

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 80
d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


Semua ukuran
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.4

g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dengan 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 300 sampai dengan
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
kurang dari 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 35 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dari 300
klausul4.2.1.3

GT kurang dari 35 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.3

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 81
Pasal 42
Perlengkapan radio untuk kapal penumpang dan barang yang berlayar di daerah
pelayaran pelabuhan (Area A1)
a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
AREA

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan

c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan

d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 82
f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Semua ukuran
Tidak diwajibkan

g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Semua ukuran
Tidak diwajibkan

Pasal43
Perlengkapan radio untuk kapal penumpang dan barang yang berlayar di daerah
pelayaran perairan daratan (Area A1)

a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
AREA

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan

c. HF DSC
BATASAN
HF DSC
Area
A1 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 83
d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 84
Pasal 44
Perlengkapan radio untuk kapal ikan yang panjangnya 24 meter dan keatas
berlayar di daerah kawasan Indonesia (near coastal voyage - Area A1+A2+A3)

a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
AREA

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 2 (dua) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2
c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 85
d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.7

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


Semua ukuran
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.4

g. EPIRB> 35 GT - > wajib

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dengan 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 300 sampai dengan
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
kurang dari 500
klausul4.2.1.3

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 86
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 35 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dari 300
klausul4.2.1.3

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 45
Perlengkapan radio untuk kapal ikan yang panjangnya 24 meter dan keatas
berlayar di daerah pelayaran lokal (Area A1+A2+A3)
a. EPIRB

BATASAN
VHF DSC
AREA

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 2 (dua) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 87
c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan
A1+A2+A3 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.7

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


Semua ukuran
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.4

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 88
g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dengan 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 300 sampai dengan
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
kurang dari 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 35 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dari 300
klausul4.2.1.3
GT kurang dari 35
Tidak diwajibkan

Pasal 46
Perlengkapan radio untuk kapal ikan yang panjangnya 24 meter dan keatas
berlayar di daerah pelayaran terbatas (Area A1+A2)
a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
Area

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 89
c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan

d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan

e. INMARSAT
BATASAN
INMARSAT
Area
A1 Tidak diwajibkan
A1+A2 Tidak diwajibkan

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


Semua ukuran
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
klausul4.2.1.4

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 90
g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi


GT lebih besar atau sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dengan 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 300 sampai dengan
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
kurang dari 500
klausul4.2.1.3
Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit yang memenuhi
GT 35 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 4
dari 300
klausul4.2.1.3
GT kurang dari 35
Tidak diwajibkan

Pasal 47
Perlengkapan radio untuk kapal ikan yang panjangnya 24 meter dan keatas
berlayar di daerah pelayaran pelabuhan (Area A1)
a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
Area

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul.4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan

c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 91
d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan

f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Semua ukuran
Tidak diwajibkan

g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Semua ukuran
Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 92
Pasal 48
Perlengkapan radio untuk kapal ikan yang panjangnya 24 meter dan keatas
berlayar di daerah pelayaran perairan daratan (Area A1)
a. VHF DSC

BATASAN
VHF DSC
Area

A1 Wajib dilengkapi dengan 1 (satu) unit perangkat radio yang


memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III
Seksi 4 klausul4.2.1.1

b. MF DSC

BATASAN
MF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan

c. HF DSC

BATASAN
HF DSC
Area

A1 Tidak diwajibkan

d. NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)

BATASAN
NARROW BAND DIRECT PRINTING (NBDP)
Area

A1 Tidak diwajibkan

e. INMARSAT

BATASAN
INMARSAT
Area

A1 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 93
f. NAVTEX

BATASAN
NAVTEX
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

g. EPIRB

BATASAN
EPIRB
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

Pasal 49
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal penumpang daerah
pelayaran kawasan Indonesia (near coastal voyage)

a. Sistem alarm dan komunikasi


Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Wajib dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam ruang akomodasi dan ruang layanan ditempat yang
mudah ditemukan dan dijangkau.
(2) Wajib dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan
navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.
(3) Wajib dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public
address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali
kebakaran.
Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 94
b. Pompa utama pemadam kebakaran
Batasan Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 3 (tiga) unit pompa pemadam
kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
sama dengan 4.000
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan.
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,31 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahasilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 500 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kurang dari 4.000 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran :
a. GT 4.000 sampai dengan lebih besar dan sama dengan 1.000
= 0.275 N/mm2
b. GT 500 sampai dengan kurang dari 1.000 = 0,20 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahsilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 50 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam


kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
kurang dari 500
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,20 N/mm2
3) Pompa harus dapat menghasilkan pancaran dari tiap hidran
GT 20 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m.

c. Penataan pompa
GT sama dengan atau 1) Penantaan pompa – pompa, sumber daya dan saluran masuk air
lebih besar dari1.000 laut harus sedemikian rupa sehingga bila terjadi kebakaran dalam
satu kompartemen tidak akan menyebabkan semua pompa
kebakaran tidak berfungsi .
2) Penataan pompa – pompa, pipa pemadam kebakaran harus
sedemikian rupa sehingga satu pancaran air yang efektif dapat
langsung tersedia di dalam ruangan (interior location).

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 95
d. Pompa pemadam kebakaran darurat
Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT 50 sampai dengan 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran


utama tidak berfungsi, maka dipasang 1 pompa kebakaran
kurang dari 1.000
darurat tetap dengan penggerak mesin diluar kompartemen
dimana pompa – pompa kebakaran utama berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan penggerak mesin harus
dapat menghasilkan sekurang-kurangnya satu pancaran air dari
setiap hidran, slang dan nosel dimana tekanan pada setiap hidran
dipertahankan sekurang-kurangnya 20 N/mm2

GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

e. Hidran, slang dan nosel nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage
GT sama dengan atau (1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu) buah
lebih besar dari50 setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
(2) Ruang permesinan wajib dilengkapi minimum 1 (satu) buah,
dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose (pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

f. Sistem springkler(water sprinkler system).


Batasan
Sistem springkler (water sprinkler system)
Gross tonnage

GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di ruang penumpang, akomodasi ABK, ruang
lebih besar dari 175 muatan, ruang layanan dan geladak kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 96
g. Alat pendeteksi kebakaran
Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
kurang dari 500 diri pada ruang akomodasi ABK, di ruang penumpang,ruang
permesinan yang tidak dijaga, ruang layanan dan ruang-ruang
tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan baterai)
kurang dari 300 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Alarm kebakaran
Batasan
Alarm kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di akomodasi ABK, di ruang penumpang,ruang


muatan, geladak kendaraan ruang layanan, dan ruang mesin.
sama dengan 35

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan.

i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
(1) CO2
(2) Busa tekanan tinggi
(3) Air pancar (water fog)
Daya mesin kurang
Tidak diwajibkan
dari375 kW

j. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan atau
Wajib dilengkapi dengan CO2
lebih besar dari 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 97
k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin

Daya mesin sama Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang
dengan atau lebih besar digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
dari375 kW tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan :
1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

l. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

m. perangkat pemadam kebakaran api portabel.

Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang

50 meter atau lebih (1) 2 (dua) unit dry chemical masing - masing 4.5 kg di tiap
geladak untuk ruang akomodasi dan ruang layanan antara
dinding kedap air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur yang luas
geladaknya lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua)
unit untuk ruang yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali
anjungan.
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
dan tidak lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 98
25 meter atau lebih dan (1) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg untuk tiap ruang
kurang dari 50 meter penumpang dan ruang ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur
(3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang
terdiri dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8
kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
Kurang dari 25 meter (1) 1 (satu) unit unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg untuk tiap
ruang penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg di dapur
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan
di luar kamar mesin.

n. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Daya ketel sama dengan
atau lebih besar dari 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

Daya ketel kurang 175


Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

o. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
lebih besar dari 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 99
p. Perlengkapan petugas pemadam.
Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
50 meter atau lebih (1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan) beserta tambahan 1 (satu) set untuk tiap 30 meter
panjang kapal yang panjangnya lebih dari 80 meter.
(2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
25 atau lebih dan Wajib dilengkapi 1 (satu) set dan 1 (satu) tabung cadangan alat bantu
kurang dari 50 meter pernapasan.
Kurang dari 25 meter Tidak diwajibkan

q. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
sama dengan atau lebih Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
besar dari 35 m tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
kurang dari 35 m Tidak diwajibkan

r. Alat bantu pernafasan untuk meloloskandiri (EEBD).


Batasan
Alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri (EEBD)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
lebih besar dari500 di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

s. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).

Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage

Semua kapal 1) Setiap ruangan penumpang dan ruang permesinan wajib


memiliki rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.

2) Setiap kamar penumpang, dek penumpang dan ruang akomodasi


lainnya wajib diberikan informasi posisi keberadaan dan jalur
terdekat untuk meloloskan diri dalam bentuk peta yang mudah
dimengerti oleh penumpang.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 100
3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflektor yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu padam.
GT kurang dari 300 Khusus untuk kapal penumpang dan kapal penumpang kecepatan
tinggi dengan pintu untuk meloloskan diri yang terbatas tetapi
memiliki jendela akomodasi yang dapat digunakan untuk meloloskan
diri maka kaca jendela tersebut harus terbuat dari kaca yang
diperkuat (toughened glass) dan dilengkapi alat pemukul kaca,
sehingga dapat dipecahkan pada saat keadaan darurat.

t. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Jumlah penumpang
Jumlah penumpang (1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh pejabat
sama dengan atau lebih yang berwenang wajib dipasang di dinding interior kapal yang
besar dari 36 mudah dilihat.
penumpang (2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang di dalam
tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman didekat tangga
naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
(3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna putih.
(4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat

u. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal


Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar dari175 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 101
Pasal 50
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal penumpang daerah
pelayaran lokal

a. Sistem alarm dan komunikasi.


Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih 1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.

2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan


navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.

3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public


address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali
kebakaran.
Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

b. Pompa utama pemadam kebakaran.

Batasan Pompa utama pemadam kebakaran


Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 3 (tiga) unit pompa pemadam
sama dengan 4.000 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan.
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,31 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahasilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 500 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kurang dari 4.000 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran :
a. GT 4.000 sampai dengan lebih besar dan sama dengan 1.000
= 0.275 N/mm2
b. GT 500 sampai dengan kurang dari 1.000 = 0,20 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahsilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 102
GT 50 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam
kurang dari 500 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,20 N/mm2
3) Pompa harus dapat menghasilkan pancaran dari tiap hidran
GT 20 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m.

c. Penataan pompa
GT sama dengan atau 1) Penantaan pompa – pompa, sumber daya dan saluran masuk air
lebih besar dari1.000 laut harus sedemikian rupa sehingga bila terjadi kebakaran dalam
satu kompartemen tidak akan menyebabkan semua pompa
kebakaran tidak berfungsi .
2) Penataan pompa – pompa, pipa pemadam kebakaran harus
sedemikian rupa sehingga satu pancaran air yang efektif dapat
langsung tersedia di dalam ruangan (interior location).

d. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT 50 sampai dengan 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran


kurang dari 1.000 utama tidak berfungsi, maka dipasang 1 pompa kebakaran
darurat tetap dengan penggerak mesin diluar kompartemen
dimana pompa – pompa kebakaran utama berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan penggerak mesin harus
dapat menghasilkan sekurang-kurangnya satu pancaran air dari
setiap hidran, slang dan nosel dimana tekanan pada setiap hidran
dipertahankan sekurang-kurangnya 20 N/mm2

Tidak diwajibkan
GT kurang dari 50

e. Hidran, slang dan nosel nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT sama dengan atau (1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu) buah
lebih besar dari50 setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
(2) Ruang permesinan wajib dilengkapi minimum 1 (satu) buah,
dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose (pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 103
f. Sistem springkler(water sprinkler system).
Batasan
Sistem springkler(water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di ruang penumpang, akomodasi ABK,ruang
lebih besar dari 175 layanandan geladak kendaraan.

GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

g. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage
Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
GT 300 sampai dengan
kurang dari 500 diri pada ruang akomodasi ABK, di ruang penumpang, ruang
permesinan yang tidak dijaga, ruang layanan dan ruang-ruang
tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan baterai)
kurang dari 300 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Sistem alarm kebakaran


Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di akomodasi ABK, di ruang penumpang, ruang
sama dengan 35 muatan, geladak kendaraan ruang layanan, dan ruang mesin.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan.

i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
1) CO2
2) Busa tekanan tinggi
3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 104
j. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan atau
Wajib dilengkapi dengan CO2
lebih besar dari 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin
Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang
digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

l. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemical masing - masing 4.5 kg di tiap geladak
untuk ruang akomodasi dan ruang layanan antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur yang luas geladaknya
lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit untuk ruang
yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan.
50 meter atau lebih
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg

25 meter atau lebih dan (1) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg untuk tiap ruang penumpang
kurang dari 50 meter dan ruang ABK di tiap geladak.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 105
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur
(3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemical kapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemical kapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

m. Pasir.
atasan
Pasir
Daya mesin
Daya ketel sama dengan
atau lebih besar dari 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Daya ketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

n. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
lebih besar dari 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Perlengkapan petugas pemadam.

Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang

(1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat


pernafasan) beserta tambahan 1 (satu) set untuk tiap 30 meter
50 meter atau lebih panjang kapal yang panjangnya lebih dari 80 meter.
(2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 106
25 atau lebih dan Wajib dilengkapi 1 (satu) set dan 1 (satu) tabung cadangan alat bantu
kurang dari 50 meter pernapasan.

Kurang dari 25 meter Tidak diwajibkan

p. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage

sama dengan atau lebih Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
besar dari 35 m tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.

kurang dari 35 m Tidak diwajibkan

q. Alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri (EEBD).


Batasan
Alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri (EEBD)
Gross tonnage
Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
GT sama dengan atau di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
lebih besar dari 500 dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.

GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

r. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).

Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage

Semua kapal (1) Setiap ruangan penumpang dan ruang permesinan wajib memiliki
rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
(2) Setiap kamar penumpang, dek penumpang dan ruang akomodasi
lainnya wajib diberikan informasi posisi keberadaan dan jalur
terdekat untuk meloloskan diri dalam bentuk peta yang mudah
dimengerti oleh penumpang.
(3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflektor yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu padam.
GT kurang dari 300 Khusus untuk kapal penumpang dan kapal penumpang kecepatan
tinggi dengan pintu untuk melarikan diri yang terbatas tetapi

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 107
memiliki jendela akomodasi yang dapat digunakan untuk melarikan
diri maka kaca jendela tersebut harus terbuat dari kaca yang
diperkuat (toughened glass) dan dilengkapi alat pemukul kaca,
sehingga dapat dipecahkan pada saat keadaan darurat.

s. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Jumlah penumpang
Jumlah penumpang (1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh pejabat
sama dengan atau lebih yang berwenang wajib dipasang didinding interior kapal yang
besar dari 36 mudah dilihat.
penumpang (2) Copy bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang didalam
tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman didekat tangga
naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
(3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi warna
merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna putih.
(4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi Copy daftar awak
kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalui diperbaharui
setiap saat.

t. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal


Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar dari175 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 108
Pasal 51
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal penumpang daerah
pelayaran terbatas
a. Sistem alarm dan komunikasi
Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.

(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan


navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.

(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public


address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.

Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

b. Pompa utama pemadam kebakaran


Batasan Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage
1) Wajib dilengkapi minimum 3 (tiga) unit pompa pemadam
GT lebih besar atau
kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
sama dengan 4.000
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan.
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,31 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahasilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 500 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kurang dari 4.000 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran :
a. GT 4.000 sampai dengan lebih besar dan sama dengan 1.000
= 0.275 N/mm2
b. GT 500 sampai dengan kurang dari 1.000 = 0,20 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahsilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 50 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam


kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 109
kurang dari 500 pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,20 N/mm2
3) Pompa harus dapat menghasilkan pancaran dari tiap hidran
GT 20 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m.

c. Penataan pompa
GT sama dengan atau 1) Penantaan pompa – pompa, sumber daya dan saluran masuk air
lebih besar dari1.000 laut harus sedemikian rupa sehingga bila terjadi kebakaran
dalam satu kompartemen tidak akan menyebabkan semua
pompa kebakaran tidak berfungsi .
2) Penataan pompa – pompa, pipa pemadam kebakaran harus
sedemikian rupa sehingga satu pancaran air yang efektif dapat
langsung tersedia di dalam ruangan (interior location).

d. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT 50 sampai dengan 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran


kurang dari 1.000 utama tidak berfungsi, maka dipasang 1 pompa kebakaran
darurat tetap dengan penggerak mesin diluar kompartemen
dimana pompa – pompa kebakaran utama berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan penggerak mesin harus
dapat menghasilkan sekurang-kurangnya satu pancaran air dari
setiap hidran, slang dan nosel dimana tekanan pada setiap hidran
dipertahankan sekurang-kurangnya 20 N/mm2

GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

e. Hidran, slang dan nosel - nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel - nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu) buah
GT sama dengan atau
lebih besar dari50 setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi minimum 1 (satu) buah,
dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose (pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 110
f. Sistem springkler(water sprinkler system)
Batasan
f. Sistem springkler(water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di ruang penumpang, akomodasi ABK, ruang
lebih besar dari 175 layanandan geladak kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

g. Alat pendeteksi kebakaran


atasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage

GT 300 sampai dengan Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
kurang dari 500 diri pada ruang akomodasi ABK, di ruang penumpang, ruang
permesinan yang tidak dijaga, ruang layanan dan ruang-ruang
tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan baterai)
kurang dari 300 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Sistem alarm kebakaran


Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di akomodasi ABK, di ruang penumpang, ruang
sama dengan 35 muatan, geladak kendaraan ruang layanan, dan ruang mesin.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan.

i. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan jinjing.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
1) CO2
2) Busa tekanan tinggi
3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 111
j. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan atau
Wajib dilengkapi dengan CO2
lebih besar dari 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin
Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang
digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

l. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemical masing - masing 4.5 kg di tiap geladak
untuk ruang akomodasi dan ruang layanan antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur yang luas geladaknya
lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit untuk ruang
yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan.
50 meter atau lebih
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg

25 meter atau lebih dan (1) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg untuk tiap ruang penumpang
kurang dari 50 meter dan ruang ABK di tiap geladak.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 112
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur
(3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemical kapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemical kapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

m. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Daya ketel sama dengan
atau lebih besar dari 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Daya ketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

n. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
lebih besar dari 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Perlengkapan petugas pemadam.


Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan) beserta tambahan 1 (satu) set untuk tiap 30 meter
50 meter atau lebih panjang kapal yang panjangnya lebih dari 80 meter.
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 113
25 atau lebih dan Wajib dilengkapi 1 (satu) set dan 1 (satu) tabung cadangan alat bantu
kurang dari 50 meter pernapasan.
Kurang dari 25 meter Tidak diwajibkan

p. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Panjang kapal
sama dengan atau lebih Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
besar dari 35 m tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
kurang dari 35 m Tidak diwajibkan

q. Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD).


Batasan
Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD)
Gross tonnage
Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
GT sama dengan atau di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
lebih besar dari 500 dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

r. Rute untuk meloloskan (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal (1) Setiap ruangan penumpang dan ruang permesinan wajib memiliki
rute melarikan diri dalam keadaan darurat.
(2) Setiap kamar penumpang, dek penumpang dan ruang akomodasi
lainnya wajib diberikan informasi posisi keberadaan dan jalur
terdekat untuk melarikan diri dalam bentuk peta yang mudah
dimengerti oleh penumpang.
(3) Jalur melarikan diri harus diberi tanda, stiker refleckor yang dapat
membantu untuk melarikan diri pada saat lampu padam.

GT kurang dari 300 Khusus untuk kapal penumpang dan kapal penumpang kecepatan
tinggi dengan pintu untuk melarikan diri yang terbatas tetapi
memiliki jendela akomodasi yang dapat digunakan untuk melarikan
diri maka kaca jendela tersebut harus terbuat dari kaca yang
diperkuat (toughened glass) dan dilengkapi alat pemukul kaca,
sehingga dapat dipecahkan pada saat keadaan darurat.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 114
s. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Jumlah penumpang
Jumlah penumpang 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
sama dengan atau lebih pejabat yang berwenang wajib dipasang didinding interior
besar dari 36 kapal yang mudah dilihat.
penumpang 2) Copy bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang didalam
tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman didekat
tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi Copy daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalui
diperbaharui setiap saat.

t. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal


Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar dari175 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 115
Pasal 52
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal penumpang daerah
pelayaran pelabuhan
a. Sistem alarm dan komunikasi
Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.

(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan


navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.

(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public


address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.
Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

b. Pompa utama pemadam kebakaran


Batasan Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 3 (tiga) unit pompa pemadam
sama dengan 4.000 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan.
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,31 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahasilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 500 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kurang dari 4.000 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran :
a. GT 4.000 sampai dengan lebih besar dan sama dengan 1.000
= 0.275 N/mm2
b. GT 500 sampai dengan kurang dari 1.000 = 0,20 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahsilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 50 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam


kurang dari 500 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 116
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,20 N/mm2
3) Pompa harus dapat menghasilkan pancaran dari tiap hidran
GT 20 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m.

c. Penataan pompa
GT sama dengan atau 1) Penantaan pompa – pompa, sumber daya dan saluran masuk air
lebih besar dari1.000 laut harus sedemikian rupa sehingga bila terjadi kebakaran
dalam satu kompartemen tidak akan menyebabkan semua
pompa kebakaran tidak berfungsi .
2) Penataan pompa – pompa, pipa pemadam kebakaran harus
sedemikian rupa sehingga satu pancaran air yang efektif dapat
langsung tersedia di dalam ruangan (interior location).

d. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT 50 sampai dengan 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran


kurang dari 1.000 utama tidak berfungsi, maka dipasang 1 pompa kebakaran
darurat tetap dengan penggerak mesin diluar kompartemen
dimana pompa – pompa kebakaran utama berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan penggerak mesin harus
dapat menghasilkan sekurang-kurangnya satu pancaran air dari
setiap hidran, slang dan nosel dimana tekanan pada setiap hidran
dipertahankan sekurang-kurangnya 20 N/mm2

Tidak diwajibkan
GT kurang dari 50

e. Hidran, slang dan nosel - nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel - nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT sama dengan atau 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu) buah
lebih besar dari50 setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi minimum 1 (satu) buah,
dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose (pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 117
f. Sistem springkler(water sprinkler system)
Batasan
Sistem springkler(water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di ruang penumpang, akomodasi ABK, ruang
lebih besar dari 175 layanandan geladak kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

g. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage

GT 300 sampai dengan Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
kurang dari 500 diri pada ruang akomodasi ABK, di ruang penumpang, ruang
permesinan yang tidak dijaga, ruang layanan dan ruang-ruang
tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan baterai)
kurang dari 300 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Sistem alarm kebakaran


Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di akomodasi, ruang muatan, geladak kendaraan
sama dengan 35 dan ruang mesin.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
1) CO2
2) Busa tekanan tinggi
3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 118
j. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan atau
Wajib dilengkapi dengan CO2
lebih besar dari 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin
Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang
digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

l. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

m. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemical masing - masing 4.5 kg di tiap geladak
untuk ruang akomodasi dan ruang layanan antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
50 meter atau lebih (2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur yang luas geladaknya
lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit untuk ruang
yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 119
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg
(1) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg untuk tiap ruang penumpang
dan ruang ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur
25 meter atau lebih dan
kurang dari 50 meter (3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemical kapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemical kapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

n. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Daya ketel sama dengan
atau lebih besar dari 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Daya ketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

o. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
lebih besar dari 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 120
p. Perlengkapan petugas pemadam.
Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan) beserta tambahan 1 (satu) set untuk tiap 30 meter
50 meter atau lebih panjang kapal yang panjangnya lebih dari 80 meter.
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
25 atau lebih dan Wajib dilengkapi 1 (satu) set dan 1 (satu) tabung cadangan alat bantu
kurang dari 50 meter pernapasan.
Kurang dari 25 meter Tidak diwajibkan

q. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
sama dengan atau lebih Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
besar dari 35 m tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
kurang dari 35 m Tidak diwajibkan

r. Alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri (EEBD).


Batasan
Alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri (EEBD)
Gross tonnage
Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
GT sama dengan atau di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
lebih besar dari 500 dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

s. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal 1) Setiap ruangan penumpang dan ruang permesinan wajib
memiliki rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
2) Setiap kamar penumpang, dek penumpang dan ruang
akomodasi lainnya wajib diberikan informasi posisi
keberadaan dan jalur terdekat untuk meloloskan diri dalam
bentuk peta yang mudah dimengerti oleh penumpang.
3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflektor yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 121
padam.
GT kurang dari 300 Khusus untuk kapal penumpang dan kapal penumpang kecepatan
tinggi dengan pintu untuk meloloskan diri yang terbatas tetapi
memiliki jendela akomodasi yang dapat digunakan untuk meloloskan
diri maka kaca jendela tersebut harus terbuat dari kaca yang
diperkuat (toughened glass) dan dilengkapi alat pemukul kaca,
sehingga dapat dipecahkan pada saat keadaan darurat.

t. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Jumlah penumpang
Jumlah penumpang 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
sama dengan atau lebih pejabat yang berwenang wajib dipasang di dinding interior
besar dari 36 kapal yang mudah dilihat.
penumpang 2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang
didalam tabung/kotak tahan api dan kotak kedap air yang
aman didekat tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap
sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat

u Sijil – sijil (muster list) di atas kapal


Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar dari175 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 122
Pasal 53
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal penumpang daerah
pelayaran perairan daratan

a. Sistem alarm dan komunikasi


Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.

(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan


navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.

(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public


address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.

Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

b. Pompa utama pemadam kebakaran


Batasan Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 3 (tiga) unit pompa pemadam
kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
sama dengan 4.000
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan.
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,31 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahasilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

GT 500 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
kurang dari 4.000
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran :
a. GT 4.000 sampai dengan lebih besar dan sama dengan 1.000
= 0.275 N/mm2
b. GT 500 sampai dengan kurang dari 1.000 = 0,20 N/mm2
3) Tiap pompa harus dapat mengahsilkan pancaran secara serentak
melalui 2 hidran.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 123
GT 50 sampai dengan 1) Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam
kurang dari 500 kebakaran dengan kapasitas tidak kurang dari 2/3 kapasitas
pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan
2) Tekanan minimum pada tiap hidran 0,20 N/mm2
3) Pompa harus dapat menghasilkan pancaran dari tiap hidran
GT 20 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m.

c. Penataan pompa
GT lebih besar dan 1) Penantaan pompa – pompa, sumber daya dan saluran masuk air
sama dengan1.000 laut harus sedemikian rupa sehingga bila terjadi kebakaran dalam
satu kompartemen tidak akan menyebabkan semua pompa
kebakaran tidak berfungsi .
2) Penataan pompa – pompa, pipa pemadam kebakaran harus
sedemikian rupa sehingga satu pancaran air yang efektif dapat
langsung tersedia di dalam ruangan (interior location).

d. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT 50 sampai dengan 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran


utama tidak berfungsi, maka dipasang 1 pompa kebakaran
kurang dari 1000
darurat tetap dengan penggerak mesin diuar kompartemen
dimana pompa – pompa kebakaran utama berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan penggerak mesin harus
dapat menghasilkan sekurang-kurangnya satu pancaran air dari
setiap hidran, slang dan nosel dimana tekanan pada setiap hidran
dipertahankan sekurang-kurangnya 20 N/mm2

Tidak diwajibkan
GT kurang dari 50

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 124
e. Hidran, slang dan nosel nosel pemadam kebakaran.
Batasan
Hidran, slang dan nosel nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar dan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu)
buah setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
sama dengan 50
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi minimum 1 (satu) buah,
dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose (pancar dan
semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

f. Sistem springkler(water sprinkler system).


Batasan
Sistem springkler(water sprinkler system)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di ruang penumpang, akomodasi ABK dan ruang
sama dengan 175 layanan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

g. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage

GT sama dengan 300 Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
sampai lebih besar dari diri pada ruang akomodasi ABK, di ruang penumpang, ruang
permesinan yang tidak dijaga, ruang layanan dan ruang-ruang
500
tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran.
GT sama dengan 175 Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan baterai)
sampai dengan 300 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Sistem alarm kebakaran


Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di akomodasi, ruang muatan, geladak kendaraan
sama dengan 35 dan ruang mesin.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 125
i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.
Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
1) CO2
2) Busa tekanan tinggi
3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

j. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan atau
Wajib dilengkapi dengan CO2
lebih besar dari 500
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin
Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang
digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 126
l. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

m. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemical masing - masing 4.5 kg di tiap geladak
untuk ruang akomodasi dan ruang layanan antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur yang luas geladaknya
lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit untuk ruang
yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan.
50 meter atau lebih
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg
(1) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg untuk tiap ruang penumpang
dan ruang ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemical 4.5 kg di dapur
25 meter atau lebih dan
kurang dari 50 meter (3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemical kapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemical kapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 127
n. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Daya ketel sama dengan
atau lebih besar dari 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Daya ketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

o. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
lebih besar dari 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

p. Perlengkapan petugas pemadam.


Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan) beserta tambahan 1 (satu) set untuk tiap 30 meter
50 meter atau lebih panjang kapal yang panjangnya lebih dari 80 meter.
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
25 atau lebih dan Wajib dilengkapi 1 (satu) set dan 1 (satu) tabung cadangan alat bantu
kurang dari 50 meter pernapasan.
Kurang dari 25 meter Tidak diwajibkan

q. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
sama dengan atau lebih Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
besar dari 35 m tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
kurang dari 35 m Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 128
r. Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD).
Batasan
Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD)
Gross tonnage
Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
GT sama dengan atau di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
lebih besar dari 500 dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 500 Tidak diwajibkan

s. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal 1) Setiap ruangan penumpang dan ruang permesinan wajib
memiliki rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
2) Setiap kamar penumpang, dek penumpang dan ruang
akomodasi lainnya wajib diberikan informasi posisi
keberadaan dan jalur terdekat untuk meloloskan diri dalam
bentuk peta yang mudah dimengerti oleh penumpang.
3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflektor yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu
padam.

GT kurang dari 300 Khusus untuk kapal penumpang dan kapal penumpang kecepatan
tinggi dengan pintu untuk meloloskan diri yang terbatas tetapi
memiliki jendela akomodasi yang dapat digunakan untuk meloloskan
diri maka kaca jendela tersebut harus terbuat dari kaca yang
diperkuat (toughened glass) dan dilengkapi alat pemukul kaca,
sehingga dapat dipecahkan pada saat keadaan darurat.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 129
t. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Jumlah penumpang
Jumlah penumpang 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
sama dengan atau lebih pejabat yang berwenang wajib dipasang di dinding interior
besar dari 36 kapal yang mudah dilihat.
penumpang 2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang
didalam tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman
didekat tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat

u. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal


Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar dari175 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 130
Pasal 54
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal barang daerah pelayaran
kawasan Indonesia (near coastal voyage)
a. Sistem alarm dan komunikasi
Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.
(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan
navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.
(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public
address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.
Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain
b. Pompa utama pemadam kebakaran
Batasan
Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
GT lebih besar atau
sama dengan 1.000 kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa pemadam kebakaran utama harus dapat
menghasilkan pancaran air secara serentak melalui 2 hidran
dengan tekanan minimum pada :
a. GT sama dengan atau lebih besar dari 6.000 = 0.31 N/mm2
b. GT kurang dari 6.000 = 0,25 N/mm2
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
GT 500 sampai dengan
kurang dari 1000 kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa kebakaran utama harus dapat mengahasilkan satu
pancaran air melalui tiap hidran dengan tekanan minimum 0,20
N/mm2
GT 50 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 500 utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak kurang dari
2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan., harus dapat
menghasilkan satu pancaran air melalui tiap nosel dengan tekanan
minimum 0,20 N/mm2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 131
GT 35 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m

c. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran
sama dengan 500 utama tidak berfungsi, maka perlu dipasang 1 pompa pemadam
kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power driven)
di luar kompartemen dimana pompa – pompa kebakaran utama
berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power
driven) harus dapat mengahasilkan sekurang - sekurangnya
satu pancaran air dari tiap hidran, slang atau nosel dimana
tekanan dari tiap hidran dipertahankan sekurang – kurangnya
0,20 N/mm2
3) Kapal dengan GT kurang dari 1.000, dapat digunakan pompa
pemadam kebakaran portabel dengan tenaga penggerak (power
driven) sebagai pompa kebakaran darurat dan harus
menghasilkan satu pancaran air dari tiap slang dan nosel dengan
mempertahankan tekanan 0,20 N/mm2

GT 50 sampai dengan Bila pompa pemadam kebakaran utama, sumber dayanya dan saluran
kurang dari 500 masuk air laut tidak ditempatkan di luar kompartemen yang berisi
mesin pembakaran dalam penggerak kapal atau ketel uap maka
pompa pemadam kebakaran darurat yang dioperasikan secara
manual dipasang di luar kompartemen
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

d. Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT sama dengan atau 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu)
lebih besar dari50 buah setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi Minimum minimum 1
(satu) buah, dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose
(pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 132
e. Sistem springkler(water sprinkler system)
Batasan
Sistem springkler (water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di akomodasi, ruang muatan dan geladak
lebih besar dari 175 kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan.

f. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
sama dengan 500 diri pada ruang akomodasi, ruang permesinan yang tidak dijaga,
ruang-ruang tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan battery)
kurang dari 500 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

g. Sistem alarm kebakaran


Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di ruang akomodasi, ruang muatan dan ruang
sama dengan 175 mesin.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Daya mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
(1) CO2
(2) Busa tekanan tinggi
(3) Air pancar(water fog).
Daya mesin kurang
Tidak diwajibkan
dari375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 133
i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan atau (1) Wajib dilengkapi dengan CO2 sistem atau;
lebih besar dari 2.000 (2) Busa tekanan tinggi
GT kurang dari 2.000 Tidak diwajibkan

j. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin
Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang
digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

l. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
1) 2 (dua) unit dry chemical masing - masing 4.5 kg di tiap
geladak untuk ruang akomodasi dan ruang layanan setiap
antara dinding kedap air dan dinding zona kebakaran.
50 meter atau lebih 2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur yang
luas geladaknya lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2
(dua) unit untuk ruang yang lebih besar

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 134
3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali
anjungan.
4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai
untuk memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit
terdiri dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2
6,8 kg dan tidak lebih dari 6 (enam)
6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry
chemical masing - masing 4,5 kg
1) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak.
2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas4.5 kg di dapur
25 meter atau lebih dan 3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang
kurang dari 50 meter terdiri dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2
6,8 kg
4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry
chemical masing - masing 4.5 kg
1) 1 (satu) unit unit dry chemicalkapasitas4,5 kg untuk tiap
ruang penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di
ruang permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat
ditempatkan di luar kamar mesin.

m. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Daya ketel sama dengan
atau lebih besar dari 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Dayaketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 135
n. Selimut pemadam kebakaran.
Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
lebih besar dari 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Perlengkapan petugas pemadam.


Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan).
50 meter atau lebih
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
25 atau lebih dan Wajib dilengkapi 1 (satu) set dan 1 (satu) tabung cadangan alat bantu
kurang dari 50 meter pernapasan.
Kurang dari 25 meter Tidak diwajibkan

p. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
sama dengan 175 tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 136
q. Alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri (EEBD).
Batasan
Alat bantu pernafasan untuk meloloskandiri (EEBD)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
sama dengan 500 di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT 175 sampai dengan Dilengkapi 1 (satu) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
kurang dari 500 di ruang akomodasi/penumpang. Alat tersebut ditempatkan ditempat
yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

r. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal (1) Setiap ruangan akomodasi dan ruang permesinan wajib memiliki
rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
(2) Setiap ruang akomodasi wajib diberikan informasi posisi
keberadaan dan jalur terdekat untuk meloloskan diri dalam
bentuk peta yang mudah dimengerti oleh penumpang.
(3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflector yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu padam.

s. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Gross tonnage
GT sama dengan atau 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
lebih besar 175 pejabat yang berwenang wajib dipasang di dinding interior
kapal yang mudah dilihat.
2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang
didalam tabung/kotak tahan api dan kedap airyang aman
didekat tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 137
u. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar 35 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 55
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal barang daerah pelayaran
Lokal

a. Sistem alarm dan komunikasi


Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.

(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan


navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.

(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public


address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.

Kurang dari 25meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 138
b. Pompa utama pemadam kebakaran
Batasan
Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
sama dengan 1.000
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa pemadam kebakaran utama harus dapat
menghasilkan pancaran air secara serentak melalui 2 hidran
dengan tekanan minimum pada :
a. GT sama dengan atau lebih besar dari 6.000 = 0.31 N/mm2
b. GT kurang dari 6.000 = 0,25 N/mm2
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
GT 500 sampai dengan
kurang dari 1000 kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa kebakaran utama harus dapat mengahasilkan satu
pancaran air melalui tiap hidran dengan tekanan minimum 0,20
N/mm2
GT 50 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 500 utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak kurang dari
2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan., harus dapat
menghasilkan satu pancaran air melalui tiap nosel dengan tekanan
minimum 0,20 N/mm2
GT 35 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m

c. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran
sama dengan 500 utama tidak berfungsi, maka perlu dipasang 1 pompa pemadam
kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power driven)
di luar kompartemen dimana pompa – pompa kebakaran utama
berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power
driven) harus dapat mengahasilkan sekurang - sekurangnya
satu pancaran air dari tiap hidran, slang atau nosel dimana
tekanan dari tiap hidran dipertahankan sekurang – kurangnya
0,20 N/mm2
3) Kapal dengan GT kurang dari 1.000, dapat digunakan pompa
pemadam kebakaran portabel dengan tenaga penggerak (power

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 139
driven) sebagai pompa kebakaran darurat dan harus
menghasilkan satu pancaran air dari tiap slang dan nosel dengan
mempertahankan tekanan 0,20 N/mm2

GT 50 sampai dengan Bila pompa pemadam kebakaran utama, sumber dayanya dan saluran
kurang dari 500 masuk air laut tidak ditempatkan di luar kompartemen yang berisi
mesin pembakaran dalam penggerak kapal atau ketel uap maka
pompa pemadam kebakaran darurat yang dioperasikan secara
manual dipasang di luar kompartemen
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

d. Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar dan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu)
buah setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
sama dengan 50
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi Minimum minimum 1
(satu) buah, dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose
(pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

e. Sistem springkler (water sprinkler system)


Batasan
Sistem springkler (water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di akomodasi, ruang muatan dan geladak
lebih besar dari 175 kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

f. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage
Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
GT lebih besar dan
diri pada ruang akomodasi, ruang permesinan yang tidak dijaga,
sama dengan 500
ruang-ruang tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran

GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan battery)
kurang dari 500 di ruang akomodasi.

GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 140
g. Sistem alarm kebakaran
Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di ruang akomodasi, ruang muatan dan ruang
sama dengan 175 mesin.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
(1) CO2
(2) Busa tekanan tinggi
(3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan dan (1) Wajib dilengkapi dengan CO2 sistem atau;
lebih besar dari 2.000 (2) Busa tekanan tinggi

GT kurang dari 2.000 Tidak diwajibkan

j. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin
Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang
digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW
1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 141
k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

l. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di tiap geladak untuk
ruang akomodasi dan ruang layanan setiap antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur yang luas
geladaknya lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit
untuk ruang yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan..
50 meter atau lebih
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg
(1) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur
25 meter atau lebih dan
kurang dari 50 meter (3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 142
m. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Dayaketel lebih besar
dan sama dengan 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Dayaketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

n. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
sama dengan 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Perlengkapan petugas pemadam.


Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
50 meter atau lebih 1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan).
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
Kurang dari 25 meter Tidak diwajibkan

p. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
sama dengan 175 tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 143
q. Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD).
Batasan
Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
sama dengan 500 di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT 175 sampai dengan Dilengkapi 1 (satu) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
kurang dari 500 di ruang akomodasi/penumpang. Alat tersebut ditempatkan ditempat
yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

r. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal (1) Setiap ruangan akomodasi dan ruang permesinan wajib memiliki
rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
(2) Setiap ruang akomodasi wajib diberikan informasi posisi
keberadaan dan jalur terdekat untuk meloloskan diri dalam
bentuk peta yang mudah dimengerti oleh penumpang.
(3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflector yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu padam.

s. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Gross tonnage
GT lebih besar dan 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
sama dengan 100 pejabat yang berwenang wajib dipasang di dinding interior
kapal yang mudah dilihat.
2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang
didalam tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman
didekat tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 144
t. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar 35 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 56
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal barang daerah pelayaran
terbatas

a. Sistem alarm dan komunikasi


Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.

(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan


navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.

(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public


address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.
Kurang dari 25 meter (4) Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 145
b. Pompa utama pemadam kebakaran
Batasan
Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
sama dengan 1.000
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa pemadam kebakaran utama harus dapat
menghasilkan pancaran air secara serentak melalui 2 hidran
dengan tekanan minimum pada :
a. GT sama dengan atau lebih besar dari 6.000 = 0.31 N/mm2
b. GT kurang dari 6.000 = 0,25 N/mm2
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
GT 500 sampai dengan
kurang dari 1000 kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa kebakaran utama harus dapat mengahasilkan satu
pancaran air melalui tiap hidran dengan tekanan minimum 0,20
N/mm2
GT 50 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 500 utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak kurang dari
2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan., harus dapat
menghasilkan satu pancaran air melalui tiap nosel dengan tekanan
minimum 0,20 N/mm2
GT 35 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m

c. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran
sama dengan 500 utama tidak berfungsi, maka perlu dipasang 1 pompa pemadam
kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power driven)
di luar kompartemen dimana pompa – pompa kebakaran utama
berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power
driven) harus dapat mengahasilkan sekurang - sekurangnya
satu pancaran air dari tiap hidran, slang atau nosel dimana
tekanan dari tiap hidran dipertahankan sekurang – kurangnya
0,20 N/mm2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 146
3) Kapal dengan GT kurang dari 1.000, dapat digunakan pompa
pemadam kebakaran portabel dengan tenaga penggerak (power
driven) sebagai pompa kebakaran darurat dan harus
menghasilkan satu pancaran air dari tiap slang dan nosel dengan
mempertahankan tekanan 0,20 N/mm2

GT 50 sampai dengan Bila pompa pemadam kebakaran utama, sumber dayanya dan saluran
masuk air laut tidak ditempatkan di luar kompartemen yang berisi
kurang dari 500
mesin pembakaran dalam penggerak kapal atau ketel uap maka
pompa pemadam kebakaran darurat yang dioperasikan secara
manual dipasang di luar kompartemen
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

d. Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar dan 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu)
buah setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
sama dengan 50
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi Minimum minimum 1
(satu) buah, dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose
(pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

e. Sistem springkler(water sprinkler system).


Batasan
Sistem springkler(water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di akomodasi, ruang muatan dan geladak
lebih besar dari 175 kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

f. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage
Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
GT lebih besar dan diri pada ruang akomodasi, ruang permesinan yang tidak dijaga,
sama dengan 500 ruang-ruang tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan battery)
kurang dari 500 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 147
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 148
h. Sistem alarm kebakaran
Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di ruang akomodasi, ruang muatan dan ruang
sama dengan 175 mesin.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

h. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
(1) CO2
(2) Busa tekanan tinggi
(3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan dan (1) Wajib dilengkapi dengan CO2 sistem atau;
lebih besar dari 2.000 (2) Busa tekanan tinggi
GT kurang dari 2.000 Tidak diwajibkan

j. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin

Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang


digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 149
k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

k. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di tiap geladak untuk
ruang akomodasi dan ruang layanan setiap antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur yang luas
geladaknya lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit
untuk ruang yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan..
50 meter atau lebih
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg
(1) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur
25 meter atau lebih dan
kurang dari 50 meter (3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 150
m. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Dayaketel lebih besar
dan sama dengan 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Dayaketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

n. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
sama dengan 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Perlengkapan petugas pemadam.


Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
50 meter atau lebih 1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan).
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
Kurang dari 50 meter Tidak diwajibkan

p. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
sama dengan 175 tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 151
q. Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD).
Batasan
Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
sama dengan 500 di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT 175 sampai dengan Dilengkapi 1 (satu) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
kurang dari 500 di ruang akomodasi/penumpang. Alat tersebut ditempatkan ditempat
yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

r. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal 1) Setiap ruangan akomodasi dan ruang permesinan wajib
memiliki rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
2) Setiap kamar dan ruang akomodasi wajib diberikan informasi
posisi keberadaan dan jalur terdekat untuk meloloskan diri
dalam bentuk peta yang mudah dimengerti oleh penumpang.
3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflector yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu
padam.

s. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Gross tonnage
GT lebih besar dan 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
sama dengan 100 pejabat yang berwenang wajib dipasang di dinding interior
kapal yang mudah dilihat.
2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang
didalam tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman
didekat tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 152
t. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar 35 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 57
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal barang daerah pelayaran
pelabuhan
a. Sistem alarm dan komunikasi
Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.

(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan


navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.

(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public


address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.
Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 153
b. Pompa utama pemadam kebakaran
Batasan
Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
sama dengan 1.000
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa pemadam kebakaran utama harus dapat
menghasilkan pancaran air secara serentak melalui 2 hidran
dengan tekanan minimum pada :
a. GT sama dengan atau lebih besar dari 6.000 = 0.31 N/mm2
b. GT kurang dari 6.000 = 0,25 N/mm2
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
GT 500 sampai dengan
kurang dari 1000 kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa kebakaran utama harus dapat mengahasilkan satu
pancaran air melalui tiap hidran dengan tekanan minimum 0,20
N/mm2
GT 50 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 500 utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak kurang dari
2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan., harus dapat
menghasilkan satu pancaran air melalui tiap nosel dengan tekanan
minimum 0,20 N/mm2
GT 35 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m

c. Pompa pemadam kebakaran darurat

Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran
sama dengan 500 utama tidak berfungsi, maka perlu dipasang 1 pompa pemadam
kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power driven)
di luar kompartemen dimana pompa – pompa kebakaran utama
berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power
driven) harus dapat mengahasilkan sekurang - sekurangnya
satu pancaran air dari tiap hidran, slang atau nosel dimana
tekanan dari tiap hidran dipertahankan sekurang – kurangnya
0,20 N/mm2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 154
3) Kapal dengan GT kurang dari 1.000, dapat digunakan pompa
pemadam kebakaran portabel dengan tenaga penggerak (power
driven) sebagai pompa kebakaran darurat dan harus
menghasilkan satu pancaran air dari tiap slang dan nosel dengan
mempertahankan tekanan 0,20 N/mm2

GT 50 sampai dengan Bila pompa pemadam kebakaran utama, sumber dayanya dan saluran
kurang dari 500 masuk air laut tidak ditempatkan di luar kompartemen yang berisi
mesin pembakaran dalam penggerak kapal atau ketel uap maka
pompa pemadam kebakaran darurat yang dioperasikan secara
manual dipasang di luar kompartemen
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

d. Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu)
GT lebih besar dan
sama dengan 50 buah setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi Minimum minimum 1
(satu) buah, dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose
(pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

e. Sistem springkler(water sprinkler system).


Batasan
Sistem springkler(water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di akomodasi, ruang muatan dan geladak
lebih besar dari 175 kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

f. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage
Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
GT lebih besar dan diri pada ruang akomodasi, ruang permesinan yang tidak dijaga,
sama dengan 500 ruang-ruang tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan battery)
kurang dari 500 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 155
h. Sistem alarm kebakaran
Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di ruang akomodasi, ruang muatan dan ruang
sama dengan 175 mesin.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
(1) CO2
(2) Busa tekanan tinggi
(3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

j. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan dan (1) Wajib dilengkapi dengan CO2 sistem atau;
lebih besar dari 2.000 (2) Busa tekanan tinggi
GT kurang dari 2.000 Tidak diwajibkan

k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin

Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang


digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 156
l. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

m. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di tiap geladak untuk
ruang akomodasi dan ruang layanan setiap antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur yang luas
geladaknya lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit
untuk ruang yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan..
50 meter atau lebih
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg
(1) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur
25 meter atau lebih dan
kurang dari 50 meter (3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 157
n. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Dayaketel lebih besar
dan sama dengan 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Dayaketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

o. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
sama dengan 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

p. Perlengkapan petugas pemadam.


Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
50 meter atau lebih 1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan).
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
Kurang dari 50 meter Tidak diwajibkan

q. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
sama dengan 175 tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 158
r. Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD).
Batasan
Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
sama dengan 500 di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT 175 sampai dengan Dilengkapi 1 (satu) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
kurang dari 500 di ruang akomodasi/penumpang. Alat tersebut ditempatkan ditempat
yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

s. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal 1) Setiap ruangan akomodasi dan ruang permesinan wajib
memiliki rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
2) Setiap kamar dan ruang akomodasi wajib diberikan informasi
posisi keberadaan dan jalur terdekat untuk meloloskan diri
dalam bentuk peta yang mudah dimengerti oleh penumpang.
3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflector yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu
padam.

t. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Gross tonnage
GT lebih besar dan 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
sama dengan 100 pejabat yang berwenang wajib dipasang di dinding interior
kapal yang mudah dilihat.
2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang
didalam tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman
didekat tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 159
u. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar 35 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 58
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran kapal barang daerah pelayaran
perairan daratan
a. Sistem alarm dan komunikasi
Batasan
Sistem alarm dan komunikasi
Panjang
25 meter atau lebih (1) Harus dipasang tombol alarm kebakaran manual ditiap-tiap dek
di dalam akomodasi dan ruang layanan ditempat yang mudah
ditemukan dan dijangkau.
(2) Harus dipasang alarm khusus yang dioperasikan dari anjungan
navigasi atau stasiun kendali kebakaran untuk memanggil awak
kapal. Alarm ini dapat merupakan bagian dari sistem alarm
umum kapal, tapi alarm demikian harus dapat dibunyikan secara
terpisah ke ruang-ruang penumpang.
(3) Harus dipasang suatu sistem pemberitahuan umum (public
address system) atau sarana komunikasi lain yang efektif di
seluruh akomodasi, ruang layanan dan stasiun kendali kebakaran.
Kurang dari 25 meter Wajib dilengkapi dengan penandaan lain

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 160
b. Pompa utama pemadam kebakaran
Batasan
Pompa utama pemadam kebakaran
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
sama dengan 1.000
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa pemadam kebakaran utama harus dapat
menghasilkan pancaran air secara serentak melalui 2 hidran
dengan tekanan minimum pada :
a. GT sama dengan atau lebih besar dari 6.000 = 0.31 N/mm2
b. GT kurang dari 6.000 = 0,25 N/mm2
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) unit pompa pemadam
GT 500 sampai dengan
kurang dari 1000 kebakaran utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak
kurang dari 2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang
dipersyaratkan.
2) Tiap pompa kebakaran utama harus dapat mengahasilkan satu
pancaran air melalui tiap hidran dengan tekanan minimum 0,20
N/mm2
GT 50 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 500 utama dengan kapasitas tiap pompa tidak kurang tidak kurang dari
2/3 kapasitas pompa-pompa bilga yang dipersyaratkan., harus dapat
menghasilkan satu pancaran air melalui tiap nosel dengan tekanan
minimum 0,20 N/mm2
GT 35 sampai dengan Wajib dilengkapi minimum 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran
kurang dari 50 portabel dengan tenaga penggerak yang dapat menghasilkan
pancaran air melalui nosel dengan diameter 10 mm sejauh 6 m

c. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Gross tonnage

GT lebih besar atau 1) Bila kebakaran dapat menyebabkan semua pompa kebakaran
sama dengan 500 utama tidak berfungsi, maka perlu dipasang 1 pompa pemadam
kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power driven)
di luar kompartemen dimana pompa – pompa kebakaran utama
berada.
2) Pompa kebakaran darurat tetap dengan tenaga penggerak (power
driven) harus dapat mengahasilkan sekurang - sekurangnya
satu pancaran air dari tiap hidran, slang atau nosel dimana
tekanan dari tiap hidran dipertahankan sekurang – kurangnya
0,20 N/mm2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 161
3) Kapal dengan GT kurang dari 1.000, dapat digunakan pompa
pemadam kebakaran portabel dengan tenaga penggerak (power
driven) sebagai pompa kebakaran darurat dan harus
menghasilkan satu pancaran air dari tiap slang dan nosel dengan
mempertahankan tekanan 0,20 N/mm2

GT 50 sampai dengan Bila pompa pemadam kebakaran utama, sumber dayanya dan saluran
masuk air laut tidak ditempatkan di luar kompartemen yang berisi
kurang dari 500
mesin pembakaran dalam penggerak kapal atau ketel uap maka
pompa pemadam kebakaran darurat yang dioperasikan secara
manual dipasang di luar kompartemen
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

d. Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran.


Batasan
Hidran, slang dan nosel pemadam kebakaran
Gross tonnage
1) Wajib dilengkapi minimum 2 (dua) buah ditambah 1 (satu)
GT lebih besar dan
buah setiap kelebihan dari kelipatan 25 m panjang kapal.
sama dengan 50
2) Ruang permesinan wajib dilengkapi Minimum minimum 1
(satu) buah, dilengkapi dengan nosel tipe dual purpose
(pancar dan semprot).
GT kurang dari 50 Tidak diwajibkan

e. Sistem springkler(water sprinkler system).


Batasan
Sistem springkler(water sprinkler system)
Gross tonnage
GT sama dengan atau Wajib dilengkapi di akomodasi, ruang muatan dan geladak
lebih besar dari 175 kendaraan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

f. Alat pendeteksi kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi kebakaran
Gross tonnage
Wajib dilengkapi di ruang tangga, koridor dan jalur penyelamatan
GT lebih besar dan diri pada ruang akomodasi, ruang permesinan yang tidak dijaga,
sama dengan 500 ruang-ruang tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran
GT 175 sampai dengan Wajib dilengkapi dengan alat detektor lokal (menggunakan battery)
kurang dari 500 di ruang akomodasi.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 162
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 163
h. Sistem alarm kebakaran
Batasan
Sistem alarm kebakaran
Gross tonnage
GT lebih besar dan Wajib dilengkapi di ruang akomodasi, ruang muatan dan ruang
sama dengan 175 mesin.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

i. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan.


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang permesinan
Kekuatan mesin
Daya mesin sama Di ruang permesinan
dengan atau lebih besar Wajib dilengkapi dengan salah satu dari :
dari375 kW
(1) CO2
(2) Busa tekanan tinggi
(3) Air pancar(water fog).

Daya mesin kurang


Tidak diwajibkan
dari375 kW

j. Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat


Batasan
Instalasi pemadam kebakaran tetap di ruang muat
Gross tonnage
GT sama dengan dan (1) Wajib dilengkapi dengan CO2 sistem atau;
lebih besar dari 2.000 (2) Busa tekanan tinggi
GT kurang dari 2.000 Tidak diwajibkan

k. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar mesin.


Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di kamar
Daya mesin mesin

Tiap ruangan yang berisikan permesinan pembakaran dalam yang


digunakan untuk penggerak utama, atau yang memiliki total tenaga
Daya mesin sama tidak kurang dari 375 kW untuk mesin bantu harus dilengkapi
dengan atau lebih besar dengan :
dari 375 kW 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 45 liter atau jenis lain yang
setara.

Daya mesin kurang dari


Tidak diwajibkan
375 kW

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 164
l. Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler room (ruang ketel)
Batasan Perangkat pemadam busa dan CO2 bukan portabel di boiler
Daya mesin room (ruang ketel)
Dayaketel sama dengan Jika kapal dilengkapi boiler, maka di boiler room (ruang ketel)
atau lebih besar dari 175 dilengkapi dengan 1 (satu) tabung pemadam busa kapasitas 135 liter
kW. atau jenis lain yang setara.
Dayaketelkurang dari
Tidak diwajibkan.
175 kW

m. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


atasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
(1) 2 (dua) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di tiap geladak untuk
ruang akomodasi dan ruang layanan setiap antara dinding kedap
air dan dinding zona kebakaran.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur yang luas
geladaknya lebih kecil dan sama dengan 15 m2 dan 2 (dua) unit
untuk ruang yang lebih besar
(3) 1 (satu) unit CO2 kapasitas 6,8 kg di stasiun kendali anjungan..
50 meter atau lebih
(4) 2 (dua) unit Foam masing - masing 9 liter yang sesuai untuk
memadamkan kebakaran minyak pada ruang ketel.
(5) Ruang permesinan dilengkapi minimum 2 (dua) unit terdiri dari 1
(satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg dan tidak
lebih dari 6 (enam)
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg
(1) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4.5 kg di dapur
25 meter atau lebih dan
kurang dari 50 meter (3) 2 (dua) unit tabung pemadam di ruang permesinan yang terdiri
dari 1 (satu) unit foam 9 liter dan 1 (satu) unit CO2 6,8 kg
(4) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4.5 kg
(1) 1 (satu) unit unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg untuk tiap ruang
penumpang dan ruang ABK di tiap geladak
(2) 1 (satu) unit dry chemicalkapasitas 4,5 kg di dapur
Kurang dari 25 meter
(3) 1 (satu) unit tabung pemadam dry powder 4.5 kg di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan di
luar kamar mesin.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 165
n. Pasir.
Batasan
Pasir
Daya mesin
Dayaketel lebih besar
dan sama dengan 175 Wajib dilengkapi dengan 0.5 m3 dan 1 (satu) sekop
kW
Dayaketel kurang 175
Wajib dilengkapi dengan 0.25 m3 dan 1 (satu) sekop
kW

o. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
sama dengan 175 kebakaran.
GT sama dengan 35 Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
sampai dengan kurang yang siap dibasahkan.
dari 175
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

p. Perlengkapan petugas pemadam.


Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
50 meter atau lebih 1) Wajib dilengkapi 2 (dua) set (perlengkapan petugas dan alat
pernafasan).
2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
Kurang dari 50 meter Tidak diwajibkan

q. Sambungan darat Internasional.


Batasan
Sambungan darat Internasional (International shore connection)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 1 (satu) unit sambungan darat Internasional, yang diberi
sama dengan 175 tanda dan ditempatkan di tempat yang aman dan mudah dilihat.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 166
r. Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD).
Batasan
Alat bantu pernafasan untuk melarikan diri (EEBD)
Gross tonnage
GT lebih besar dan Dilengkapi 2 (dua) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
sama dengan 500 di ruang akomodasi/penumpang, ruang permesinan pada setiap dek
dan ruang pengendalian di anjungan. Alat tersebut ditempatkan
ditempat yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT 175 sampai dengan Dilengkapi 1 (satu) unit alat bantu pernafasan untuk meloloskan diri
kurang dari 500 di ruang akomodasi/penumpang. Alat tersebut ditempatkan ditempat
yang aman dan hanya digunakan apabila diperlukan.
GT kurang dari 175 Tidak diwajibkan

s. Rute untuk meloloskan diri (Escape route).


Batasan
Rute untuk meloloskan diri (Escape route)
Gross tonnage
Semua kapal 1) Setiap ruangan akomodasi dan ruang permesinan wajib
memiliki rute meloloskan diri dalam keadaan darurat.
2) Setiap kamar dan ruang akomodasi wajib diberikan informasi
posisi keberadaan dan jalur terdekat untuk meloloskan diri
dalam bentuk peta yang mudah dimengerti oleh penumpang.
3) Jalur meloloskan diri harus diberi tanda, stiker reflector yang
dapat membantu untuk melarikan diri pada saat lampu
padam.

t. Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)


Batasan
Bagan pengendali kebakaran (Fire control plan)
Gross tonnage
GT lebih besar dan 1) Bagan pengendali kebakaran yang telah dikukuhkan oleh
sama dengan 100 pejabat yang berwenang wajib dipasang di dinding interior
kapal yang mudah dilihat.
2) Salinan bagan pengendali kebakaran ini harus dipasang
didalam tabung/kotak tahan api dan kedap air yang aman
didekat tangga naik/masuk keatas kapal pada setiap sisi.
3) Tabung/kotak bagan pengendali kebakaran ini harus diberi
warna merah dan diberi tanda/stensil “Fire Plan” berwarna
putih.
4) Didalam tabung tersebut juga harus dilengkapi salinan daftar
awak kapal dan manifest jumlah penumpang yang selalu
diperbaharui setiap saat.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 167
u. Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Batasan
Sijil – sijil (muster list) di atas kapal
Tonase kapal
GT sama dengan atau Perusahaan wajib menyusun sijil – sijil (muster list) seperti yang
lebih besar 35 tertulis di bawah ini :
(1) Sijil pemadam kebakaran.
(2) Sijil meninggalkan kapal.
(3) Sijil menanggulangi pencemaran.
(4) Sijil pertolongan orang jatuh ke laut.
(5) Sijil mengatasi kebocoran.
(6) Daftar ronda/patroli.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 59
Persyaratan perlengkapan pemadam kebakaran di kapal ikan (penangkap ikan)
a. Pompa utama pemadam kebakaran
Batasan
Pompa utama pemadam kebakaran
Panjang

Samadengan atau Lebih Wajib dilengkapi 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran dengan
besar 24 m tenaga penggerak (power driven), dapat berupa pompa dinas umum
dengan kapasitas tidak kurang dari 16 m3/jam ditambah 1 unit pompa
kebakaran portabel dengan kapasitas tidak kurang dari 10 m3/jam.
12 m sampai dengan Wajib dilengkapi 1 (satu) unit pompa kebakaran portabel dengan
kurang dari 24 m kapasitas tidak kurang dari 10 m3/jam ditambah dengan 4 buah
ember kapasitas tidak kurang dari masing - masing 4 liter
Kurang dari 12 m Jika menggunakan mesin luar (outboard motor) wajib dilengkapi
dengan 1 buah ember kapasitas tidak kurang dari 4 liter.

b. Pompa pemadam kebakaran darurat


Batasan
Pompa pemadam kebakaran darurat
Panjang

Sama dengan atau Lebih Wajib dilengkapi 1 (satu) unit3 pompa kebakaran portabel dengan
besar 24 m kapasitas tidak kurang dari 5 m /jam.
12 m sampai dengan Wajib dilengkapi 1 (satu) unit pompa pemadam kebakaran manual
kurang dari 24 m dengan kapasitas yang cukup untuk menyemprot sejauh 6 m dengan
nosel diameter 10 mm.
Kurang dari 12 m Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 168
c. Hidran, selang dan nosel pemadam kebakaran.
Batasan
Hidran, selang dan nozzle pemadam kebakaran
Panjang

Sama dengan atau Lebih (1) Minimum 2 (dua) buah dengan panjang slang tidak kurang dari
15 m ditambah 1 (satu) buah setiap kelebihan dari kelipatan 25 m
besar 24 m
panjang kapal)
(2) Ruang permesinan ; minimum 1 (satu) buah slang, panjang 10
m dengan nosel tipe dual purpose (pancar dan semprot).
Minimum 1 (satu) buah slang pemadam kebakaran, nosel untuk
12 m sampai dengan
kurang dari 24 m penggunaan ke ruang permesinan harus tipe dual purpose (pancar
dan semprot)
Kurang dari 12 m Tidak diwajibkan

d. Sistem springkler.
Batasan
Sistem springkler
Panjang

Sama dengan atau Lebih Wajib dilengkapi di ruang akomodasi ABK dan ruang layanan.
besar 45 m

Kurang dari 45 m Tidak diwajibkan

e. Alat pendeteksi alarm dan kebakaran


Batasan
Alat pendeteksi alarm dan kebakaran
Panjang

Sama dengan atau Lebih Wajib dilengkapi di ruang akomodasi ABK, ruang permesinan dan
besar 45 m ruang layanan.

Kurang dari 45 m Tidak diwajibkan

f. perangkat pemadam kebakaran api portabel.


Batasan
Perlengkapan pemadam kebakaran api portabel
Panjang
24 meter atau lebih (1) 1 (satu) unit dry chemical masing - masing 4,5 kg untuk tiap
ruang akomodasi dan ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemical masing - masing 4,5 kg di dapur.
(3) 1 (satu) unit CO2 masing - masing 6,8 kg pada ruang kendali
anjungan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 169
(4) 4 (empat) unit di ruang permesinan terdiri dari foam masing -
masing 9 liter dan CO2 masing - masing 6,8 kg
(5) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg.
(6) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg.
Lebih besar 17 sampai (1) 1 (satu) unit unit dry chemical masing - masing 4,5 kg untuk tiap
dengan 24 meter ruang akomodasi dan ABK di tiap geladak.
(2) 1 (satu) unit dry chemical masing - masing 4,5 kg di dapur.
(3) 1 (satu) unit CO2 masing - masing 6,8 kg pada ruang kendali
anjungan
(4) Minimum 3 (tiga) unit di ruang permesinan terdiri dari foam
masing - masing 9 liter dan CO2 masing - masing 6,8 kg
(5) Ruang layanan lainnya minimum 1 (satu) unit dry chemical
masing - masing 4,5 kg.
Kurang dari 17 meter (1) 1 (satu) unit unit dry chemical masing - masing 4,5 kg untuk tiap
ruang akomodasi dan ABK
(2) 1 (satu) unit CO2 masing - masing 6,8 kg pada ruang kendali
anjungan
(3) 1 (satu) unit terdiri dari foam masing - masing 9 liter di ruang
permesinan, apabila tidak memungkinkan dapat ditempatkan
diluar kamar mesin

g. Selimut pemadam kebakaran.


Batasan
Selimut pemadam kebakaran (fire blanket)
Panjang
Setiap dapur dilengkapi dengan 1 (satu) unit selimut pemadam
Lebih besar dari 24 m
kebakaran.
Setiap dapur dilengkapi dengan minimal 4 (empat) unit karung goni
Kurang dari 24 m yang siap dibasahkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 170
h. Perlengkapan petugas pemadam.
Batasan
Perlengkapan petugas pemadam
Panjang
60 m atau lebih (1) 2 (dua) set beserta tambahan 1 (satu) set untuk tiap 30 meter
panjang kapal yang panjangnya lebih dari 80 meter.
(2) Disamping itu harus disediakan tambahan 2 (dua) tabung
cadangan alat bantu pernapasan.
24 sampai dengan Dilengkapi 1 (satu) set dan 2 (dua) tabung cadangan alat bantu
kurang dari 60 m pernafasan
Kurang dari 24 meter Tidak diwajibkan

Pasal 60
Pemadam Kebakaran Portabel

(1) Kapal sesuai dengan jenis, ukuran dan daerah pelayarannya harus dilengkapi dengan
sejumlah pemadam kebakaran portabel yang ditempatkan di ruang akomodasi, ruang
layanan, dan ruang permesinan, yang diantaranya harus dari jenis yang dapat
memadamkan kebakaran akibat aliran listrik atau gas.

(2) Kapasitas pemadam kebakaran portabel dari bahan cair tidak boleh lebih dari 13,5 liter
namun tidak kurang dari 9 liter.

(3) Alat pemadam kebakaran dari selain bahan cair harus sekurang-kurangnya mempunyai
sifat jinjingan dan kapasitasnya sama dengan alat pemadam kebakaran sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2).

(4) Alat pemadam kebakaran portabel harus diperiksa dan diuji secara berkala.

(5) Semua alat pemadam kebakaran portabel harus ditempatkan di tempat yang mudah
dikenal oleh seluruh pelayar serta dilengkapi tanda dan petunjuk yang jelas mengenai
masa berlaku maupun cara penggunaanya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 171
Pasal 61
Perlengkapan Petugas Pemadam Kebakaran

(1) Kapal sesuai dengan jenis, ukuran dan daerah pelayarannya harus dilengkapi dengan
perlengkapan petugas pemadam kebakaran yang sesetiap set terdiri dari :
a. Pakaian pelindung yang dibuat dari bahan yang melindungi kulit dari panas dan
permukaan luarnya harus tahan air;
b. Sepatu boot dan sarung tangan dari karet atau dari bahan yang bukan penghantar
arus listrik;
c. Topi helm untuk melindungi terhadap benturan;
d. Lampu keamanan listrik yang dapat menyala minimum 3 jam;
e. Kapak kebakaran;
f. Sarana bantu pernapasan yang berupa salah satu dari jenis berikut ini :

1) Masker asap yang dilengkapi dengan pompa udara dan selang udara yang
panjangnya cukup; atau
2) Tabung bantu pernapasan dengan volume udara paling sedikit 1.200 liter atau
harus dapat berfungsi sekurang-kurangnya selama 30 menit dan sejumlah
cadangan yang cukup.
3) Setiap alat pernapasan harus dilengkapi dengan tali penyelamat tahan api
dengan ukuran panjang dan kekuatan yang cukup, yang ditautkan pada tali
pinggang untuk mencegah alat pernapasan terlepas pada waktu beroperasi.

(2) Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus disimpan di tempat yang
aman dalam keadaan siap pakai.

Pasal 62
Sistim Alarm dan Detektor Kebakaran Otomatis
(1) Detektor kebakaran otomatis harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Detektor panas harus bekerja antara suhu 540C sampai dengan 780C, bilamana suhu
naik sampai ke batas-batas tersebut dengan kecepatan kurang dari 10C per menit.
b. Detektor asap harus bekerja sebelum kepekatan asap melebihi 12,5% penggelapan
sesetiap meter, tetapi kepekatan asap tidak sampai lebih dari penggelapan 2% setiap
meter.
(2) Jarak maksimum antar detektor harus sesuai dengan tabel berikut ini :

Luas lantai Jarak maksimum


Tipe detector maksimum per antara pusat detektor Jarak maksimum dari
detector sekat
Panas 37 m2 9 m 4,5 m
Asap 74 m2 11 m 5,5 m

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 172
(3) Detektor kebakaran harus ditempatkan pada ruang tangga, koridor dan jalur
penyelamatan diri pada ruang akomodasi, ruang permesinan yang tidak dijaga, ruang-
ruang tertutup lainnya yang rentan terhadap kebakaran.

Pasal 63
Pompa, Saluran, Hidran dan Selang Pemadam Kebakaran
(1) Kapasitas total pompa pemadam kebakaran :
a. Di kapal penumpang, pompa pemadam kebakaran yang disyaratkan harus mampu
menyalurkan sejumlah air untuk pemadaman kebakaran sesuai dengan tekanan yang
layak dengan kapasitas tidak kurang dari dua pertiga kapasitas pompa bilga.
b. Di kapal barang, pompa pemadam kebakaran yang disyaratkan selain daripada
pompa darurat, harus mampu menyalurkan sejumlah air untuk memadamkan
kebakaran dengan tekanan yang layak dengan kapasitas tidak kurang dari empat
pertiga kapasitas pompa bilga.
c. Masing-masing pompa pemadam kebakaran selain pompa pemadam darurat harus
memiliki kapasitas tidak kurang dari 80% dari total kapasitas yang disyaratkan
dibagi dengan jumlah minimum pompa yang disyaratkan, tetapi dalam segala hal
tidak boleh kurang dari 25 m3/jam untuk setiap pompa.
(2) Pompa ballas, pompa bilga atau pompa untuk pelayanan umum dapat dianggap sebagai
pompa pemadam kebakaran, dengan ketentuan bahwa pompa-pompa itu tidak
digunakan untuk memompa minyak.
(3) Diameter dan tekanan pipa saluran utama harus cukup efektif untuk mendistribusikan
penyemprotan maksimum dari dua pompa pemadam kebakaran yang bekerja secara
serentak dan tekanan minimum pada semua hidran tidak kurang dari 0,25 N /mm2.
(4) Jumlah dan posisi hidran harus sedemikian sehingga paling sedikit dua semprotan air
yang tidak berasal dari hidran yang sama, salah satu diantaranya dari satu selang
pemadam kebakaran harus dapat mencapai bagian kapal yang biasanya dimasuki oleh
penumpang atau awak kapal pada saat berlayar.
(5) Selang pemadam kebakaran harus dari bahan yang kuat dan tidak mudah lapuk yang
disetujui oleh pemerintah serta dengan panjang yang cukup untuk menyemprotkan air
ke setiap-setiap ruangan yang biasa digunakan.
(6) Ukuran standar dari pipa pancar 12 mm, 16 mm dan 19 mm atau sedekat mungkin
dengan ukuran-ukuran ini, untuk ruang akomodasi dan ruang layanan, tidak perlu
digunakan pipa pancar dengan garis tengah lebih dari 12 mm dan untuk ruang
permesinan garis tengah pipa pancar tidak lebih dari 19 mm.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 173
Pasal 64
Sambungan Darat Internasional
(1) Kapal sesuai dengan jenis, ukuran dan daerah pelayarannya harus dilengkapi dengan
sambungan darat Internasional yang memenuhi persyaratan dengan ukuran standar
flensa sebagai berikut :
Keterangan Ukuran
Garis tengah luar 178 mm
Garis tengah dalam 64 mm
Garis tengah lingkaran baut 132 mm
Lubang baut pada flense 4 lubang dengan garis tengah 19 mm yang
dipisahkan dengan jarak yang sama di
lingkaran baut sebagaimana tersebut diatas,
dipautkan pada flensa di tepi luar flense
Tebal flense Sekurang-kurangnya 14,5 mm
Mur dan baut 4 unit, masing-masing dengan garis tengah
16 mm dan panjang 50 mm

(2) Sambungan darat Internasional harus terbuat dari baja atau bahan lain yang sepadan dan
dirancang untuk layanan 1,0 N/mm2 dan harus disimpan di kapal bersama-sama
dengan paking yang terbuat dari bahan yang sesuai dan empat baut berukuran 16 mm,
panjang 50 mm dan enam gelang tutup.

PERLENGKAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN


Pasal 65
Ketentuan umum perlengkapan pencegahan pencemaran
Kapal tangki minyak dengan GT 100 sampai dengan GT 149 dan selain kapal tangki minyak
dengan GT 100 sampai dengan GT 399 dan/atau yang menggunakan mesin penggerak utama
200 PK atau lebih wajib memenuhi persyaratan konstruksi dan peralatan kategori B yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab III Seksi 19 klausul 19.2.2.1
sebagai berikut:

(1) Pondasi-pondasi, tangki-tangki dan pipa-pipa yang berkaitan dengan pemasangan


peralatan pencegahan pencemaran dirancang dan dibangun dengan konstruksi yang
kuat dengan menggunakan bahan yang memadai.
(2) Sistem pipa balas dikapal terpisah dengan system pipa minyak bahan bakar, minyak
muatan dan minyak pelumas.
(3) Tangki penampungan minyak kotor dari ruang permesinan berkapasitas sekurang-
kurangnya:

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 174
V = 0.,15 X C

V = Kapasitas minimum tangki dalam m3


C = Pemakaian bahan bakar perhari dalam ton (MT)
d = Pada pipa saluran pembuangan dari kapal ke darat
dipasang flens sambungan pembuangan dengan ukuran
standar sesuai sebagai berikut

Dimensi standar flens sambungan pembuangan

Keterangan Ukuran
Garis tengah luar 215 mm
Garis tangah dalam Sesuai dengan diameter luar pipa
Garis tengah lingkaran tusuk baut 183 mm
Lubang bautdi flens 6 lubang, diameter 22 mm ditempatkan
dengan jarak yang sama dilingkaran baut
dengan garis tengah tersebut di atas, diberi
alur di bagian luar flens.
Lebar alur 22 mm
Tebal flens 20 mm
Jumlah dan diameter baut 6 buah x 20 mm
Flens dirancang untuk menerima pipa-pipa sampai dengan diameter dalam maksimum
125 mm dan harus terbuat dari baja atau bahan lain yang sepadan dan mempunyai
permukaan yang datar. Flens ini bersama dengan paking dari bahan kedap minyak, harus
sesuai untuk tekanan 600 kPa.

(4) Pada peralatan pemisah air berminyak yang dipasang di ruang mesin dengan
pembuangan berkadar tidak melebihi 15 ppm dengan kapasitas sebagai berikut:
a. 0.10 m3/jam untuk kapal dengan mesin penggerak utama kurang dari 500 PK,
b. 0.25 m3/jam untuk kapal dengan mesin penggerak utama 500 PK atau lebih.
(5) Menyediakan buku catatan minyak untuk mencatat kegiatan-kegiatan dikapal sebagai
berikut:
a. Untuk kapal tangki minyak:
i. Ruang permesinan:
1. Pencucian tangki bahan bakar minyak.
2. Pembuangan air bilga melalui alat pemisah air dan minyak.
3. Penyaluran limbah berminyak dari tangki penampungan minyak
kotor ke fasilitas penampungan didarat.
4. Buku catatan minyak untuk operasi ruang permesinan.
ii. Buku catatan minyak untuk ruang muatan:

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 175
1. Pemuatan minyak muatan.
2. Pemindahan muatan minyak dari tangki ke tangki selama dalam
masa pelayaran.
3. Pembongkaran minyak muatan.
4. Pengisian air balas di tangki muatan dan dedicated clean ballast
tank.
5. Pencucian tangki muatan termasuk Crude Oil Washing.
6. Pembuangan air balas kecuali dari segregated ballast tanks.
7. Pembuangan dari slop tank.
8. Penutupan katup – katup atau peralatan yang serupa setelah
operasi pembuangan dari slop tank.
9. Penutupan katup – katup yang perlu untuk mengisolasi dedicated
clean ballast tank dari muatan dan sistem pipa stripping setelah
operasi pembuangan dari operasi slop tank.
10. Pembuangan residu lainnya.
b. Untuk kapal selain kapal tangki minyak:
Buku catatan minyak untuk ruang permesinan.
i. Pencucian tangki bahan bakar minyak.
ii. Pembuangan air bilga melalui alat pemisah air dan minyak.
iii. Penyaluran limbah berminyak dari tangki penampungan minyak kotor
ke fasilitas penampungan didarat.
iv. Kapal tangki minyak, selain wajib memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan ini juga wajib dilengkapi dengan tangki
slop penampungan limbah dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Berkapasitas sekurang - kurangnya 3% dari kapasitas ruang muat.
2. Dilengkapi dengan alat pendeteksi batas permukaan air dan
minyak (Oil interface Detector).
3. Dilengkapi dengan instalasi pembuangan ke fasilitas
penampungan.

Pasal 66
Peralatan dan bahan penanggulangan tumpahan minyak dikapal
Peralatan dan bahan penanggulangan tumpahan minyak yang berasal dari kapal yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi BAB III Seksi 19 klausul 19.2.2.2
adalah sebagai berikut:
(1) Bahan kimia pengurai 100 liter, untuk kapal tangki minyak dengan GT 150 atau lebih
hingga kurang dari GT 1.000.
(2) Bahan kimia pengurai 60 liter, untuk kapal selain dari kapal tangki minyak dengan
GT 400 atau lebih sampai kurang dari GT 1.000.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 176
(3) Oil boom berukuran panjang sekurang - kurangnya 140 meter, bahan kimia pengurai
400 liter, alat penyemprot, dan bahan penyerap minyak 100 kg, untuk kapal tangki
minyak dengan GT 1.000 atau lebih sampai kurang dari GT 5.000.
(4) Bahan kimia pengurai 400 liter dan bahan penyerap minyak 100 kg, untuk kapal
selain dari kapal tangki minyak dengan GT 1.000 sampai kurang dari GT 5.000.
(5) Oil boom berukuran panjang sekurang - kurangnya 200 meter, bahan kimia pengurai
600 liter, alat penyemprot, dan bahan penyerap minyak 200 kg untuk kapal tangki
minyak dengan GT 500 sampai kurang dari 10.000.
(6) Bahan kimia pengurai 600 liter, alat penyemprot dan bahan penyerap minyak 200 kg,
untuk kapal selain dari kapal tangki minyak dengan GT 5000 sampai kurang dari
10.000.
(7) Oil boom yang panjangnya sekurang - kurangnya 300 meter, bahan kimia pengurai
1000 liter, alat penyemprot, dan bahan penyerap minyak 300 kg untuk kapal tangki
minyak dengan GT 10.000 atau lebih.
(8) Bahan kimia pengurai 1000 liter, alay penyemprot dan bahan penyerap minyak 300
kg, untuk kapal selain kapal tangki minyak dengan GT 10.000 atau lebih.

Pasal 67
Peralatan pencegahan pencemaran untuk kapal yang memuat gas cair beracun
Sebagai tambahan, untuk kapal yang mengangkut muatan gas cair beracun, harus memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi BAB III Seksi 19 klausul 19.2.2.3.

Pasal 68
Peralatan pencegahan pencemaran oleh kotoran dari kapal
Kapal dengan GT 400 atau lebih dan/atau kapal yang mengangkut pelayar lebih dari 15
orang, harus memenuhi ketentuan pencegahan pencemaran oleh kotoran dari kapal dengan
dilengkapi peralatan sebagai berikut:
1) Alat pengolah kotoran.
2) Alat penghancur kotoran; dan/atau
3) Tangki penampung kotoran dan sambungan pembuangan standar.

Pasal 69
Bak penampung/sampah untuk pencegahan pencemaran oleh sampah dari kapal
(1) Semua jenis kapal wajib dilengkapi dengan peralatan pencegahan pencemaran oleh
sampah dari kapal dengan penandaan sebagai berikut:
a. Bak penampungan sampah berwarna kuning untuk sampah kertas/kayu.
b. Bak penampungan sampah berwarna hijau untuk sampah organik (bahan
makanan).
c. Bak penampungan sampah berwarna biru untuk sampah botol gelas dan kaleng.
d. Bak penampungan sampah berwarna merah untuk sampah plastik
(2) Sampah tidak diperbolehkan untuk dibakar diatas kapal, untuk itu sampah yang telah
terkumpul harus dikirim kepihak yang berwenang didarat untuk pembuangan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 177
(3) Sampah yang dikirim didarat harus mendapatkan kertas tanda terima oleh pihak
penerima dengan menyebutkan jumlah sampah yang dibuang tiap-tiap jenisnya dalam
m3.
(4) Tanda terima tersebut harus disimpan dan dicatatkan dalam buku catatan sampah.

Pasal 70
Pencegahan pencemaran udara
Semua kapal dengan GT 400 atau lebih dan/atau mempunyai mesin dengan daya 130 kW
atau lebih harus memiliki peralatan pencegahan pencemaran udara berupa penyaring gas
buang yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi BAB III Seksi 19 klausul
19.2.2.(7).

Pasal 71
Peralatan pencegahan pencemaran kapal tongkang dan tongkang kerja tak
bermesin.
Semua kapal tongkang dan tongkang kerja tak bermesin harus memiliki peralatan pencegahan
pencemaran dan penanggulangan pencemaran kategori C yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi BAB III Seksi 19 klausul 19.2.3.

Pasal 72
Peralatan pencegahan pencemaran kapal pendarat (landing craft) yang memuat
minyak
Semua kapal pendarat (landing craft) yang memuat minyak, harus memiliki peralatan
pencegahan pencemaran dan penanggulangan pencemaran kategori D yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi BAB III Seksi 19 klausul 19.2.4

Pasal 73
Peralatan pencegahan dan penanggulangan pencemaran dikapal yang memiliki
kamar mesin tetapi tidak memungkinkan untuk ditempatkannya alat pemisah air
dan minyak
Semua kapal yang memiliki kamar mesin yang tidak memungkinkan untuk ditempatkannya
alat pemisah air dan minyak (oily water separator) harus memiliki peralatan pencegahan
pencemaran dan penanggulanagn pencemaran kategori E yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi BAB III Seksi 19 klausul 19.2.5

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 178
PERALATAN MEDIS
Pasal 74
Peralatan Medis untuk kapal penumpang yang berlayar di daerah
pelayaran kawasan Indonesia (near coastal voyage) dan lokal

a. Tabung O2 dengan selang dan masker


Batasan
Tabung O2 dengan selang dan masker
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
1 (satu) set
dengan 500
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500- -> 300 GT
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

b. Tensimeter dengan air raksa atau digital


Batasan
Tensimeter dengan air raksa atau digital
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
1 (satu) set
dengan 500
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

c. Stetoscope
Batasan
Stetoscope
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
1 (satu) set
dengan 500
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 179
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

d. Alat bantu nafas manual


Batasan
Alat bantu nafas manual
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
1 (satu) set
dengan 500
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

e. Alat sterilisator rebus


Batasan
Alat sterilisator rebus
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama
1 (satu) set
dengan 500
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 180
f. Kantong kompres panas dan dingin
Batasan
Kantong kompres panas dan dingin
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

g. Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan


Batasan
Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

h. Kulkas
Batasan
Kulkas
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 181
i. Brangkas dorong
Batasan
Brankas dorong
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

j. Wadah satinless 20cm


Batasan
Wadah stainless 20cm
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

k. Baskom cuci tangan 20cm


Batasan
Baskom cuci tangan 20cm
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 182
l. Pisau bedah
Batasan
Pisau bedah
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

m. Gunting bedah
Batasan
Gunting bedah
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

n. Penjepit tekan
Batasan
Penjepit tekan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Penjepit jaringan
Batasan
Penjepit jaringan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 183
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

p. Pemegang jarum jahit


Batasan
Pemegang jarum jahit
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

q. Jarum jahit untuk otot ½ lingkaran


Batasan
Jarum jahit untuk otot ½ lingkaran
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

r. Jarum jahit untuk kulit ½ lingkaran


Batasan
Jarum jahit untuk kulit ½ lingkaran
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 184
s. Jarum suntik sekali pakai 1ml
Batasan
Jarum suntik sekali pakai 1ml
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

t. Jarum suntik sekali pakai 3ml


Batasan
Jarum suntik sekali pakai 3ml
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

u. Jarum suntik sekali pakai 5ml


Batasan
Jarum suntik sekali pakai 5ml
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 185
v. Kapas
Batasan
Kapas
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5kg
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.1kg
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

w. Verban
Batasan
Verban
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 5 roll
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 roll
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 2 roll

x. Kasa steril
Batasan
Kasa steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) kotak
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) kotak
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 1 (satu) kotak

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 186
y. Alkohol 70%
Batasan
Alkohol 70%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

z. Larutan peroksida (H2O2) 3%


Batasan
Larutan peroksida (H2O2) 3%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 1 (satu) liter
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

aa. Iodine povidon 10%


Batasan
Iodine povidon 10%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 187
bb. Selang untuk saluran kemih
Batasan
Selang untuk saluran kemih
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

cc. Sarung tangan karet steril


Batasan
Sarung tangan karet steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

dd. Kotak obat P3K


Batasan
Kotak obat P3K
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 3 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan,
dari 500 kamar mesin dan dapur.
GT 35 sampai dengan kurang 2 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan
dari 300 dan kamar mesin.

GT kurang dari 35 1 (satu) set lengkap dengan isinya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 188
ee. Chloramfenicol tetes mata
Batasan
Chloramfenicol tetes mata
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

ff. Pantocaine tetes mata


Batasan
Pantocaine tetes mata
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

gg. Betadine salep kulit


Batasan
Betadine salep kulit
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 189
hh. Chloramfenicol tetes telinga
Batasan
Chloramfenicol tetes telinga
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

ii. Lidocaine injeksi


Batasan
Lidocaine injeksi
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

jj. Minyak kayu putih


Batasan
Minyak kayu putih
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 190
kk. Balsem
Batasan
Balsem
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set

ll. Paracetamol tablet 500mg


Batasan
Paracetamol tablet 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 30 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 10 tablet

mm. Metampiron/antalgin 500mg


Batasan
Metampiron/antalgin 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 191
nn. Obat anti mabok laut
Batasan
Obat anti mabok laut
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 10 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

oo. CTM/Obat anti alergi


Batasan
CTM/Obat anti alergi
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 10 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

pp. Tandu (Stretcher)


Batasan
Tandu (Stretcher)
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 192
Pasal75
Peralatan Medis untuk kapal penumpang yang berlayar di daerah pelayaran
terbatas, pelabuhan dan perairan daratan

a. Tensimeter dengan air raksa atau digital


Batasan
Tensimeter dengan air raksa atau digital
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

b. Stetoscope
Batasan
Stetoscope
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

c. Alat bantu nafas manual


Batasan
Alat bantu nafas manual
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 193
d. Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Batasan
Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

e. Kapas
Batasan
Kapas
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5kg
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.1kg
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

f. Verban
Batasan
Verban
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 5 roll
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 roll
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 2 roll

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 194
g. Kasa steril
Batasan
Kasa steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) kotak
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) kotak
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 1 (satu) kotak

h. Alkohol 70%
Batasan
Alkohol 70%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

i. Iodine povidon 10%


Batasan
Iodine povidon 10%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 195
j. Sarung tangan karet steril
Batasan
Sarung tangan karet steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

k. Kotak obat P3K


Batasan
Kotak obat P3K
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 3 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan,
dari 500 kamar mesin dan dapur.
GT 35 sampai dengan kurang 2 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan
dari 300 dan kamar mesin.

GT kurang dari 35 1 (satu) set lengkap dengan isinya.

l. Betadine salep kulit


Batasan
Betadine salep kulit
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 196
m. Minyak kayu putih
Batasan
Minyak kayu putih
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Balsem
Batasan
Balsem
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set

p. Paracetamol tablet 500mg


Batasan
Paracetamol tablet 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 30 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 10 tablet

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 197
Pasal 76
Peralatan Medis untuk kapal barang yang berlayar di daerah pelayaran kawasan
Indonesia (near coastal voyage) dan lokal

a. Tabung O2 dengan selang dan masker


Batasan
Tabung O2 dengan selang dan masker
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

b. Tensimeter dengan air raksa atau digital


Batasan
Tensimeter dengan air raksa atau digital
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

c. Stetoscope
Batasan
Stetoscope
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 198
d. Alat bantu nafas manual
Batasan
Alat bantu nafas manual
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

e. Alat sterilisator rebus


Batasan
Alat sterilisator rebus
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

f. Kantong kompres panas dan dingin


Batasan
Kantong kompres panas dan dingin
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 199
g. Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Batasan
Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

h. Kulkas
Batasan
Kulkas
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

i. Brangkas dorong
Batasan
Brankas dorong
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 200
j. Wadah satinless 20cm
Batasan
Wadah stainless 20cm
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

k. Baskom cuci tangan 20cm


Batasan
Baskom cuci tangan 20cm
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

l. Pisau bedah
Batasan
Pisau bedah
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 201
m. Gunting bedah
Batasan
Gunting bedah
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

n. Penjepit tekan
Batasan
Penjepit tekan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

o. Penjepit jaringan
Batasan
Penjepit jaringan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 202
p. Pemegang jarum jahit
Batasan
Pemegang jarum jahit
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

q. Jarum jahit untuk otot ½ lingkaran


Batasan
Jarum jahit untuk otot ½ lingkaran
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

r. Jarum jahit untuk kulit ½ lingkaran


Batasan
Jarum jahit untuk kulit ½ lingkaran
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 203
s. Jarum suntik sekali pakai 1ml
Batasan
Jarum suntik sekali pakai 1ml
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

t. Jarum suntik sekali pakai 3ml


Batasan
Jarum suntik sekali pakai 3ml
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

u. Jarum suntik sekali pakai 5ml


Batasan
Jarum suntik sekali pakai 5ml
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 204
v. Kapas
Batasan
Kapas
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5kg
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.1kg
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

w. Verban
Batasan
Verban
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 5 roll
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 roll
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 2 roll

x. Kasa steril
Batasan
Kasa steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) kotak
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) kotak
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 1 (satu) kotak

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 205
y. Alkohol 70%
Batasan
Alkohol 70%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

z. Larutan peroksida (H2O2) 3%


Batasan
Larutan peroksida (H2O2) 3%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 1 (satu) liter
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

aa. Iodine povidon 10%


Batasan
Iodine povidon 10%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 206
bb. Selang untuk saluran kemih
Batasan
Selang untuk saluran kemih
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tidak diwajibkan
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

cc. Sarung tangan karet steril


Batasan
Sarung tangan karet steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

dd. Kotak obat P3K


Batasan
Kotak obat P3K
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 3 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan,
dari 500 kamar mesin dan dapur.
GT 35 sampai dengan kurang 2 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan
dari 300 dan kamar mesin.

GT kurang dari 35 1 (satu) set lengkap dengan isinya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 207
ee. Chloramfenicol tetes mata
Batasan
Chloramfenicol tetes mata
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

ff. Pantocaine tetes mata


Batasan
Pantocaine tetes mata
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) botol kecil
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

gg. Betadine salep kulit


Batasan
Betadine salep kulit
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 208
hh. Chloramfenicol tetes telinga
Batasan
Chloramfenicol tetes telinga
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

ii. Lidocaine injeksi


Batasan
Lidocaine injeksi
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

jj. Minyak kayu putih


Batasan
Minyak kayu putih
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 209
kk. Balsem
Batasan
Balsem
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set

ll. Paracetamol tablet 500mg


Batasan
Paracetamol tablet 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 30 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 10 tablet

mm. Metampiron/antalgin 500mg


Batasan
Metampiron/antalgin 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 210
nn. Obat anti mabok laut
Batasan
Obat anti mabok laut
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 10 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

oo. CTM/Obat anti alergi


Batasan
CTM/Obat anti alergi
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 10 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

pp. Tandu (Stretcher)


Batasan
Tandu (Stretcher)
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 211
Pasal 77
Peralatan Medis untuk kapal barang yang berlayar di daerah pelayaran terbatas,
pelabuhan dan perairan daratan

a. Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan


Batasan
Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

b. Kapas
Batasan
Kapas
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5kg
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.1kg
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

c. Verban
Batasan
Verban
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 5 roll
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 roll
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 2 roll

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 212
d. Kasa steril
Batasan
Kasa steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) kotak
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) kotak
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 1 (satu) kotak

e. Alkohol 70%
Batasan
Alkohol 70%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

f. Iodine povidon 10%


Batasan
Iodine povidon 10%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 213
g. Kotak obat P3K
Batasan
Kotak obat P3K
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 3 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan,
dari 500 kamar mesin dan dapur.
GT 35 sampai dengan kurang 2 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan
dari 300 dan kamar mesin.

GT kurang dari 35 1 (satu) set lengkap dengan isinya.

h. Betadine salep kulit


Batasan
Betadine salep kulit
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

i. Minyak kayu putih


Batasan
Minyak kayu putih
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 214
j. Balsem
Batasan
Balsem
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set

k. Paracetamol tablet 500mg


Batasan
Paracetamol tablet 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 30 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 10 tablet

Pasal 78
Peralatan Medis untuk kapal penangkap ikan
a. Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Batasan
Bidai untuk patah tulang, kaki dan tangan
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 215
b. Kapas
Batasan
Kapas
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5kg
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.1kg
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

c. Verban
Batasan
Verban
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 5 roll
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 roll
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 2 roll

d. Kasa steril
Batasan
Kasa steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) kotak
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) kotak
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 1 (satu) kotak

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 216
f. Alkohol 70%
Batasan
Alkohol 70%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 3 (tiga) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

g. Larutan peroksida (H2O2) 3%


Batasan
Larutan peroksida (H2O2) 3%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 2 (dua) liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 1 (satu) liter
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

h. Iodine povidon 10%


Batasan
Iodine povidon 10%
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 0.5 liter
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set secukupnya

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 217
i. Sarung tangan karet steril
Batasan
Sarung tangan karet steril
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

j. Kotak obat P3K


Batasan
Kotak obat P3K
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 3 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan,
dari 500 kamar mesin dan dapur.
GT 35 sampai dengan kurang 2 (satu) set lengkap dengan isinya ditempatkan di anjungan
dari 300 dan kamar mesin.

GT kurang dari 35 1 (satu) set lengkap dengan isinya.

k. Betadine salep kulit


Batasan
Betadine salep kulit
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) tube
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 218
l. Lidocaine injeksi
Batasan
Lidocaine injeksi
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

m. Minyak kayu putih


Batasan
Minyak kayu putih
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

n. Balsem
Batasan
Balsem
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 219
o. Paracetamol tablet 500mg
Batasan
Paracetamol tablet 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set 30 tablet
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set 20 tablet
dari 300

GT kurang dari 35 1 (satu) set 10 tablet

p. Metampiron/antalgin 500mg
Batasan
Metampiron/antalgin 500mg
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
1 (satu) set
dari 300

GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 220
BAB IV
PERLENGKAPAN KESELAMATAN

Pasal 79
Perlengkapan penolong kapal penumpang daerah pelayaran kawasan Indonesia
(near coastal voyage)

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Gross tonnnage
1) Dilengkapi sekoci penolong kategori B yang memenuhi
GT lebih besar atau sama persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 500 IndonesiaBab IV Seksi 2 klausul 2.2dengan kapasitas
tidak kurang dari 37.5% total jumlah pelayar pada setiap
sisi. Setengah dari jumlahsekoci yang ada ditiap sisi
tersebut harus dilengkapi motor sebagai alat penggerak;
atau
2) Dilengkapi sekoci kategori B yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 2 klausul 2.2 dengan kapasitas tidak kurang dari
15% total jumlah pelayar pada setiap sisi. Setengah dari
jumlah sekoci yang ada ditiap sisi tersebut harus
dilengkapi motor sebagai alat penggerak dan ditambah
rakit penolong kembung Kategori B di tiap sisi, dengan
kapasitas tidak kurang dari 22.5% total jumlah pelayar
pada tiap sisi.
3) Sebagai tambahan, harus memiliki rakit penolong
kembung (Inflatable Life Raft) kategori B yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.2 dan 7.1 dengan
kapasitas 50% total jumlah pelayar.
4) Dilengkapi dengan 1 buah sekoci penyelamat (Rescue
boat) jika tidak ada sekoci penolong (Life boat) yang
dapat berfungsi sebagai sekoci penyelamat (Rescue boat).
GT 300 sampai dengan kurang 1) Dilengkapi sekoci penolong kategori B yang memenuhi
dari 500 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.2 dengan kapasitas
tidak kurang dari 37.5% total jumlah pelayar pada setiap
sisi. Setengah dari jumlah sekoci yang ada di tiap sisi
tersebut harus dilengkapi motor sebagai alat penggerak,
atau

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 221
2) Dilengkapi sekoci kategori B yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 2 klausul 2.2 dengan kapasitas tidak kurang dari
15% total jumlah pelayar pada setiap sisi. Setengah dari
jumlah sekoci yang ada ditiap sisi tersebut harus
dilengkapi motor sebagai alat penggerak dan ditambah
rakit penolong kembung Kategori C di tiap sisi, dengan
kapasitas tidak kurang dari 22.5% total jumlah pelayar
pada tiap sisi.
3) Sebagai tambahan, harus memiliki rakit penolong
kembung (Inflatable Life Raft) kategori C yang memenuhi
persyaratan dokumen Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera IndonesiaBab IV Seksi 6.3 dan 7.2 dengan
kapasitas 50% total jumlah pelayar.
4) Dilengkapi dengan 1 buah sekoci penyelamat (Rescue
boat) jika tidak ada sekoci penolong (Life boat) yang
dapat berfungsi sebagai sekoci penyelamat (Rescue boat).
GT 35 sampai dengan kurang 1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft)
dari 300 kategori B yang memenuhi persyaratandokumen Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera IndonesiaBab IV seksi
6.2 dan 7.1dengan kapasitas tidak kurang dari 125% total
jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
GT 7 sampai dengan kurang dari Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
35 memenuhi persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera IndonesiaBab IVSeksi 6.5atau alat
apung yang memenuhi persyaratan dokumen Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera IndonesiaBabIVSeksi 8dengan
kapasitas tidak kurang dari 125% total jumlah pelayar.
GT kurang dari 7 Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) atau yang
sepadan yang dapat menampung 100% total jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage

Semua ukuran Lihat ayat a. Sekoci dan rakit penolong

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 222
c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
240 meter atau lebih 30 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IVSeksi 9 klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
180 meter atau lebih tetapi 24 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 240 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
120 meter atau lebih tetapi 18 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 180 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 12 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 120 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 223
45 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 60 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1.
2) Paling sedikit 6 buah dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
15 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 45 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1.
2) Dilengkapi dengan lampu yang dapat
menyala sendiri dan 2 unit lainnya
dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 15 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1
2) Dilengkapi dengan lampu yang dapat
menyala sendiri dan 2 unit lainnya
dilengkapi dengan tali apung.

d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Ukuran kapal
Semua Ukuran (1) Baju penolong kategori A yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.1 yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
(2) Sejumlah 100 persen total jumlah pelayar untuk dewasa
ditambah 5 persen cadangan.
(3) Sejumlah yang mencukupi untuk petugas jaga/pekerja
di anjungan, ruang kendali kamar mesin dan ditempat
kerja yang jauh dari akomodasi (apabila ada) dan
(4) Minimum 10 persen dari jumlah penumpang, untuk
anak-anak.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 224
e. Alat pelontar tali
Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage

GT lebih besar atau sama Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
dengan 500 Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
16, dengan 4 unit proyektil dan tali;

GT 300 sampai dengan kurang Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
dari 500 Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
16, dengan 3 unit proyektil dan tali;

GT 175 sampai dengankurang Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
dari 300 Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
16. dengan 2 unit proyektil dan tali;
2 unit pistol pelontar roket dengan tali.

Dilengkapi dengan 4 (empat) unit tali buangan dengan


GT kurang dari 175
panjang 30 meter setiap unitnya.

f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
GT lebih besar atau sama 1) 12 (dua belas) unit roket parasut isyarat marabahaya
dengan 300 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 6 (enam) buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14; dan
3) 2 (dua) unit tabung asap oranye yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 15;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 225
GT lebih besar atau sama 1) 12 (dua belas) unit roket parasut isyarat marabahaya
dengan 35 sampai dengan GT yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
kurang dari 300 Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 4 (empat) unit cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 14; dan
3) 2 (dua) unit tabung asap oranye yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 15;
GT kurang dari 35 12 (dua belas) unit roket parasut isyarat marabahaya yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV
Seksi 13;

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 2 unit radar transponder yang memenuhi
GT lebih besar dan sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 35
Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.5
Dilengkapi dengan 1 unit radar transponder yang memenuhi
GT 7 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 35
Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.5
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Dilengkapi dengan 3 unit Two way VHF radio
dengan 35 telephoneyang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Bab III Seksi 4 klausul4.2.1.6.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 226
Pasal 80
Perlengkapan penolong kapal penumpang daerah pelayaran lokal

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Gross tonnnage
GT lebih besar atau sama 1) Dilengkapi sekoci penolong kategori B yang memenuhi
dengan 500 persyaratan dokumen Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera IndonesiaBab IV Seksi 2 klausul 2.2 dengan
kapasitas tidak kurang dari 25% total jumlah pelayar
pada setiap sisi. Setengah dari jumlah sekoci yang ada di
tiap sisi tersebut harus dilengkapi motor sebagai alat
penggerak; atau
2) Dilengkapi sekoci kategori B yang memenuhi
persyaratan dokumen Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera IndonesiaBab IV seksi 2.2dengan kapasitas
tidak kurang dari 15% total jumlah pelayar pada setiap
sisi. Setengah dari jumlah sekoci yang ada ditiap sisi
tersebut harus dilengkapi motor sebagai alat penggerak
dan ditambah rakit penolong kembung Kategori B di tiap
sisi, dengan kapasitas tidak kurang dari 10% total jumlah
pelayar pada tiap sisi.
3) Sebagai tambahan, harus memiliki rakit penolong
kembung (Inflatable Life Raft) kategori B yang
memenuhi persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera IndonesiaBab IVSeksi 6 klausul6.2
dan 7.1dengan kapasitas 75% total jumlah pelayar.
4) Dilengkapi dengan 1 buah sekoci penyelamat (Rescue
boat) jika tidak ada sekoci penolong (Life boat) yang
dapat berfungsi sebagai sekoci penyelamat (Rescue
boat).
GT 300 sampai dengan kurang 1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life
dari 500 Raft) kategori C yang memenuhi persyaratan dokumen
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera IndonesiaBab
IVSeksi 6 klausul 6.3 dan 7.1 dengan kapasitas tidak
kurang dari 125% total jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 buah sekoci penyelamat (Rescue
boat).
GT 35 sampai dengan kurang 1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life
dari 300 Raft) kategori C yang memenuhi persyaratan dokumen
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera IndonesiaBab
IV. Seksi 6 klausul 6.3 dan 7.1 dengan kapasitas tidak
kurang dari 125% total jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 buah sampan bermotor.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 227
Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
GT 7 sampai dengan kurang memenuhi persyaratan dokumen Standar Kapal Non
dari 35 Konvensi Berbendera IndonesiaBab IVSeksi 6 klausul6.5
atau
Alat apung yang memenuhi persyaratan dokumen Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera IndonesiaBab IVSeksi 8
dengan kapasitas tidak kurang dari 125% total jumlah
pelayar.
GT kurang dari 7 Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage

Semua ukuran Lihat ayat a. Sekoci dan rakit penolong

c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
240 meter atau lebih 30 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IVSeksi 9 klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
180 meter atau lebih tetapi 24 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 240 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 228
120 meter atau lebih tetapi 18 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 180 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 12 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 120 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
45 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 60 meter persyaratan dokumen Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 9 klausul 9.1.
2) Paling sedikit 6 buah dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
15 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 45 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 15 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 229
d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Ukuran Kapal
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori A yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.1 yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
2) Sejumlah 100 persen total jumlah pelayar untuk dewasa
ditambah 5 persen cadangan.
3) Sejumlah yang mencukupi untuk petugas jaga/pekerja
di anjungan, ruang kendali kamar mesin dan ditempat
kerja yang jauh dari akomodasi (apabila ada) dan
4) Minimum 10 persen dari jumlah penumpang, untuk
anak-anak.

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage

Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar


GT lebih besar atau sama
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
dengan 500
16 dengan 4 unit proyektil dan tali; atau

Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar


GT 300 sampai dengan kurang Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
dari 500 16dengan 3 unit proyektil dan tali; atau

GT 175 sampai dengan kurang Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
dari 300 Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
16dengan 2 unit proyektil dan tali; atau

GT kurang dari 175 Dilengkapi dengan 4 (empat) unit tali buangan dengan
panjang 30 meter setiap unitnya.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 230
f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
GT lebih besar atau sama 1) 8 (delapan) unit roket parasut isyarat marabahaya yang
dengan 300 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 6 (enam) buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14; dan
3) 2 (dua) unit tabung asap oranye yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 15;
GT lebih besar atau sama 1) 8 (delapan) unit roket parasut isyarat marabahaya yang
dengan 35 sampai dengan GT memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
kurang dari 300 Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 4 (empat) unit cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14; dan
3) 2 (dua) unit tabung asap oranye yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 15;
GT kurang dari 35 6 (enam) unit roket parasut isyarat marabahaya yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage

Dilengkapi dengan 2 unit radar transponder yang memenuhi


GT lebih besar dan sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 35
Indonesia Bab III. Seksi 4 klausul 4.2.1.5

GT 7 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan 1 unit radar transponder yang memenuhi
dari 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III. Seksi 4 klausul 4.2.1.5
GT kurang dari 7 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 231
h. Two way radio telephony
Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Dilengkapi dengan 3 unit Two way VHF radio
dengan 35 telephoneyang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Bab III Seksi 4 klausul4.2.1.6.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 81
Perlengkapan penolong kapal penumpang daerah pelayaran terbatas
a. Sekoci dan rakit penolong.
Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Gross tonnnage
GT lebih besar atau sama 1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft)
dengan 500 kategori C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6
klausul 6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 125% total jumlah
pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sekoci penyelamat
kategori B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 4
klausul 4.2 pada setiap sisinya.
GT 300 sampai dengan kurang 1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft)
dari 500 kategori D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6
klausul 6.4 dan 7.1 dengan kapasitas tidak kurang dari
125% total jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
GT 35 sampai dengan kurang 1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft)
dari 300 kategori D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6
klausul 6.4 dan 7.1 dengan kapasitas tidak kurang dari
125% total jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
GT 7 sampai dengan kurang Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
dari 35 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.5 atau alat
apung yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 8 dengan
kapasitas tidak kurang dari 125% total jumlah pelayar.
GT kurang dari 7 Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
jumlah pelayar.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 232
b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage

Semua ukuran Lihat ayat a. Sekoci dan rakit penolong

c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
240 meter atau lebih 30 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
180 meter atau lebih tetapi 24 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 240 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
120 meter atau lebih tetapi 18 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 180 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 233
60 meter atau lebih tetapi 12 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 120 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
45 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
15 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 45 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 15 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.

d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Ukuran Kapal
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori B yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.2 yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
2) Sejumlah 100% total jumlah pelayar untuk dewasa
ditambah 5% cadangan.
3) Sejumlah yang mencukupi untuk petugas jaga/pekerja
di anjungan, ruang kendali kamar mesin dan ditempat
kerja yang jauh dari akomodasi (apabila ada) dan
4) Minimum 10% dari jumlah penumpang, untuk anak-
anak.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 234
e. Alat pelontar tali
Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage

Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar


GT lebih besar atau sama
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
dengan 500
16 dengan 4 unit proyektil dan tali;

Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar


GT 300 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
dari 500
16 dengan 3 unit proyektil dan tali;

Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar


GT 175 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
dari 300
16 dengan 2 unit proyektil dan tali;

Dilengkapi dengan 4 (empat) unit tali buangan dengan


GT kurang dari 175
panjang 30 meter setiap unitnya.

f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
1) 4 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
GT lebih besar dan sama memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dengan 300 Berbendera Indonesia Bab IV Seksi13;
2) 4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi14; dan
3) 2 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi15;
1) 2 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
GT 35 sampai dengan kurang
dari 300 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi13;
2) 4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi14; dan
3) 1 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi15;
GT kurang dari 35 4 buah roket parasut isyarat marabahaya yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi13;
g. Search and rescue radar transponder (SART)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 235
Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 1 unit radar transponder yang memenuhi
GT lebih besar dan sama
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 35
Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.5
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
GT lebih besar atau sama Dilengkapi dengan 3 unit Two way VHF radio
dengan 35 telephoneyang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Bab III Seksi 4 klausul4.2.1.6.
GT kurang dari 35 Tidak diwajibkan

Pasal 82
Perlengkapan penolong kapal penumpang daerah pelayaran pelabuhan
a. Sekoci dan rakit penolong.
Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Gross tonnage
GT 500 atau lebih 1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life
Raft) kategori D yang memenuhi persyaratan Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi. 6 klausul6.4 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total
jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
GT 300 sampai dengan 1) Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
kurang dari 500 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi. 6 klausul 6.5 atau
alat apung yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi8
dengan kapasitas tidak kurang dari 100% total jumlah
pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
GT 35 sampai dengan kurang 1) Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
dari 300 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Bab IV Seksi 6 klausul6.5 atau alat apung yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi8 dengan kapasitas
tidak kurang dari 100% total jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 236
GT 7 sampai dengan kurang Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
dari 35 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi. 6 klausul6.5 atau alat
apung yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi8 dengan
kapasitas tidak kurang dari 100% total jumlah pelayar.
GT kurang dari 7 Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage

Semua ukuran Lihat ayat a. Sekoci dan rakit penolong

c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
240 meter atau lebih 30 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
180 meter atau lebih tetapi 24 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 240 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
120 meter atau lebih tetapi 18 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 180 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 237
60 meter atau lebih tetapi 12 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 120 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
45 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
15 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 45 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 15 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.

d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Jumlah pelayar
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori C yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul10.3 yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
2) Sejumlah 100% total jumlah pelayar untuk dewasa
ditambah 5% cadangan.
3) Sejumlah yang mencukupi untuk petugas jaga/pekerja
di anjungan, ruang kendali kamar mesin dan ditempat
kerja yang jauh dari akomodasi (apabila ada) dan
4) Minimum 10% dari jumlah penumpang, untuk anak-
anak.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 238
e. Alat pelontar tali
Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
GT lebih besar atau sama Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 30 meter
dengan 500 sebanyak 4 unit.
GT 300 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 30 meter
dari 500 sebanyak 3 unit.
GT 35 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 30 meter
dari 300 sebanyak 2 unit.
Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 20 meter
GT kurang dari 35
sebanyak 1 unit.

f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT lebih besar atau sama Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
dengan 300 Seksi 14
2 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT 35 sampai dengan kurang
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
dari 300
Seksi 14
2 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT kurang dari 35 Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 14

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 239
Pasal 83
Perlengkapan penolong kapal penumpang daerah pelayaran perairan daratan

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Gross tonnnage
1) Dilengkapi rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft)
kategori C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
GT lebih besar atau sama
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6
dengan 500
klausul 6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah
pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
1) Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab
GT 300 sampai dengan kurang IV Seksi 6 klausul6.5 atau alat apung yang memenuhi
dari 500 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 8dengan kapasitas tidak kurang
dari 100% total jumlah pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
1) Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.5 atau
GT 35 sampai dengan kurang alat apung yang memenuhi persyaratan Standar Kapal
dari 300 Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
8dengan kapasitas tidak kurang dari 100% total jumlah
pelayar.
2) Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sampan bermotor
Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
GT 7 sampai dengan kurang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV
dari 35 Seksi 6 klausul6.5 atau alat apung yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 8 dengan kapasitas tidak kurang
dari 100% total jumlah pelayar.
Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
GT kurang dari 7
jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage

Semua ukuran Lihat ayat a. Sekoci dan rakit penolong

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 240
c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
240 meter atau lebih 30 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
180 meter atau lebih tetapi 24 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 240 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
120 meter atau lebih tetapi 18 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 180 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 12 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 120 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
45 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 241
15 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari dari 45 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri dan 2
unit lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 15 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.

d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Ukuran kapal
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori C yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 10
klausul10.3 yang dilengkapi lampu, peluit dan pita
pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
2) Sejumlah 100% total jumlah pelayar untuk dewasa
ditambah 5% cadangan.
3) Sejumlah yang mencukupi untuk petugas jaga/pekerja
di anjungan, ruang kendali kamar mesin dan ditempat
kerja yang jauh dari akomodasi (apabila ada) dan
4) Minimum 10% dari jumlah penumpang, untuk anak-
anak.

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
GT lebih besar atau sama Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 30 meter
dengan 500 sebanyak 4 unit.
GT 300 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 30 meter
dari 500 sebanyak 3 unit.
GT 35 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 30 meter
dari 300 sebanyak 2 unit.
Dilengkapi dengan tali buangan dengan panjang 20 meter
GT kurang dari 35
sebanyak 1 unit.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 242
f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT lebih besar atau sama persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dengan 175 Indonesia Bab IV Seksi 14
2 (empat) unit cerawat tangan merah yang memenuhi
GT kurang dari 175 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14;

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
Semua ukuran Tidak diwajibkan

Pasal 84
Perlengkapan penolong kapal barang dengan GT lebih kecil dari 500
selain kapal tangki daerah pelayaran Internasional

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Panjang
Panjang lebih besar atau sama 1) 1 (satu) buah sekoci kategori A yang memenuhi
dengan 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV.2.1 dengan kapasitas 100% total
jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah satunya
dilengkapi motor atau 1 (satu) buah sekoci jatuh bebas
(free fall lifeboat) dengan kapasitas 100% total jumlah
pelayar.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 243
2) Sebagai tambahan, rakit penolong kembung (Inflatable
Life Raft) kategori A yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV.6.1 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah
pelayar yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi
kesisi lainnya atau rakit penolong kembung (Inflatable
Life Raft) kategori A yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV.6.1 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah
pelayar pada setiap sisi kapal.
Panjang 35 meter atau lebih 1) 1 (satu) buah sekoci kategori A yang memenuhi
tetapi kurang dari 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV.2.1 dengan kapasitas 100% total
jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah satunya
dilengkapi motor.
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
A yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV.6.1 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar yang dapat
dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi lainnya; atau
3) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
A yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV.6.1 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar pada setiap
sisi kapal.
Panjang 20 sampai dengan 1) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
kurang dari 35 B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV.6.2 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar yang dapat
dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi lainnya;
atau
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV.6.2 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar pada setiap
sisi kapal.
Panjang 10 sampai dengan Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
kurang dari 20 meter memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV.6.5 atau alat apung yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV.8 dengan kapasitas tidak
kurang dari 125% total jumlah pelayar.
Panjang kurang dari 10 meter Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
(GT kurang dari 7) jumlah pelayar.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 244
b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sekoci penyelamat kategori
GT 300 sampai dengan kurang B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dari 500 Berbendera Indonesia Bab IV.4.2

GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan.

c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
150 meter atau lebih 14 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV.9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
100 meter atau lebih tetapi 10 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 150 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV.9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 100 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV.9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 245
30 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV.9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 30 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV.9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.

d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Jumlah pelayar
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori A yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV.10.1yang dilengkapi lampu, peluit dan pita pemantul
cahaya (retro-reflektor tape) sejumlah 100% total
jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
GT 300 sampai dengan kurang Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 16. dengan 4 unit
dari 500 proyektil dan tali;

GT 35 sampai dengan kurang Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
dari 300 Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 16. dengan 2 unit
proyektil dan tali;

GT kurang dari 35 Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar


Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 16. dengan 2 unit
proyektil dan tali;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 246
f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 1) 12 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
dari 500 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 6 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14; dan
3) 2 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi15;
GT 35 sampai dengan kurang 1) 12 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
dari 300 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi13;
2) 4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi14; dan
3) 2 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi15;
GT kurang dari 35 12 buah roket parasut isyarat marabahaya yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi13;

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 2 unit radar transponder yang memenuhi
GT 300 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 500
Indonesia Bab III.4.2.1.5.
Dilengkapi dengan 1 unit radar transponder yang memenuhi
GT kurang dari 300 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III.4.2.1.5.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 247
h. Two way radio telephony
Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Dilengkapi dengan 3 (tiga) unit two way radio telephony
dengan 500 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III.4.2.1.6.
GT 300 sampai dengan Dilengkapi dengan 2 (dua) unit two way radio telephony
kurang dari 500 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III.4.2.1.6.

GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

Pasal85
Perlengkapan penolong kapal barang selain kapal tangki daerah pelayaran
kawasan Indonesia (near coastal voyage)
a. Sekoci dan rakit penolong.
Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Panjang
Panjang lebih besar atau sama 1) 1 (satu) buah sekoci kategori B yang memenuhi
dengan 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 2.2dengan kapasitas
100% total jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah
satunya dilengkapi motor.
atau
1 (satu) buah sekoci luncur/jatuh bebas (free fall
lifeboat) dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar.
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.2 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi
lainnya;
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.2 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
pada setiap sisi kapal.
Panjang 35 meter atau lebih 1) 1 (satu) buah sekoci kategori B yang memenuhi
tetapi kurang dari 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 2.2dengan kapasitas
100% total jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah
satunya dilengkapi motor.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 248
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi
lainnya;
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
pada setiap sisi kapal.
Panjang 20 sampai dengan Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori C
kurang dari 35 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.3 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar yang dapat
dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi lainnya;
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori C
yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.3 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar pada setiap sisi
kapal.
Panjang 10 sampai dengan Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
kurang dari 20 meter memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.5 atau alat
apung yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 8 dengan
kapasitas tidak kurang dari 125% total jumlah pelayar.
Panjang kurang dari 10 meter Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
(GT kurang dari 7) jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sekoci penyelamat kategori
GT 300 sampai dengan kurang B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dari 500 Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 4 klausul 4.2.

GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 249
c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
150 meter atau lebih 14 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
100 meter atau lebih tetapi 10 unit 3) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 150 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
4) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 100 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
30 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 30 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 250
d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Jumlah pelayar
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori A yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.1 yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape) sejumlah
100% total jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
GT 300 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 16. dengan 4 unit
dari 500
proyektil dan tali;
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
GT 175 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 16. dengan 2 unit
dari 300
proyektil dan tali;
GT kurang dari 175 Tali buangan dengan panjang 30m sejumlah 4 unit.

f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 1) 12 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
dari 500 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi13;
2) 6 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi14; dan
3) 2 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 15;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 251
GT 35 sampai dengan kurang 1) 12 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
dari 300 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi13;
2) 4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi14; dan
3) 2 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi15;
GT kurang dari 35 6 buah roket parasut isyarat marabahaya yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi13.

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 2 unit radar transponder yang memenuhi
GT 300 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 500
Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.5.
Dilengkapi dengan 1 unit radar transponder yang memenuhi
GT kurang dari 300 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.5

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan 3 (tiga) unit two way radio telephony
dari 500 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.6

Dilengkapi dengan 2 (dua) unit two way radio telephony


GT kurang dari 300 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.6.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 252
Pasal 86
Perlengkapan penolong kapal barang selain kapal tangki berlayar di daerah
pelayaran lokal

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Panjang
Panjang lebih besar atau sama 1) 1 (satu) buah sekoci kategori B yang memenuhi
dengan 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 2.2dengan kapasitas
100% total jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah
satunya dilengkapi motor.
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.2 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi
lainnya;
Panjang 35 meter atau lebih 1) 1 (satu) buah sekoci kategori B yang memenuhi
tetapi kurang dari 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 2.2dengan kapasitas
100% total jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah
satunya dilengkapi motor.
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi
lainnya;
Panjang 20 sampai dengan Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori C
kurang dari 35 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.3 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar yang dapat
dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi lainnya;
Panjang 10 sampai dengan Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
kurang dari 20 meter memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.5 atau alat
apung yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 8 dengan
kapasitas tidak kurang dari 125% total jumlah pelayar.
Panjang kurang dari 10 meter Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
(GT kurang dari 7) jumlah pelayar.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 253
b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sekoci penyelamat kategori
GT 300 sampai dengan kurang B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dari 500 Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 4 klausul 4.2..

GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan.

c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
150 meter atau lebih 14 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
100 meter atau lebih tetapi 10 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 150 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 100 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 254
30 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 30 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.
d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Jumlah pelayar
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori B yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.2 yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
sejumlah 100% total jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
GT 300 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 16. dengan 4 unit
dari 500
proyektil dan tali;
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
GT 175 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 16. dengan 2 unit
dari 300
proyektil dan tali;
GT kurang dari 175 Tali buangan dengan panjang 30m sejumlah 4 unit.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 255
f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 1) 8 (delapan) unit roket parasut isyarat marabahaya yang
dari 500 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 4 (empat) buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14; dan
3) 2 (dua) unit tabung asap oranye yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 15;
1) 4 (empat) unit roket parasut isyarat marabahaya yang
GT 175 sampai dengan kurang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dari 300 Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 4 (empat) unit cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 14; dan
3) 2 (dua) unit tabung asap oranye yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 15;
4 buah roket parasut isyarat marabahaya yang memenuhi
GT kurang dari 175 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 13.

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage

Dilengkapi dengan 2 unit radar transponder yang memenuhi


GT 300 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 500
Indonesia Bab III. Seksi 4 klausul 4.2.1.5
Dilengkapi dengan 1 unit radar transponder yang memenuhi
GT kurang dari 300 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III. Seksi 4 klausul 4.2.1.5

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 256
h. Two way radio telephony
Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan 2 (dua) unit two way radio telephony
dari 500 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.6
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

Pasal 87
Perlengkapan penolong kapal barang selain kapal tangki didaerah pelayaran
terbatas

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Panjang
Panjang lebih besar atau sama 1) 1 (satu) buah sekoci kategori C yang memenuhi
dengan 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul 2.3dengan kapasitas
100% total jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah
satunya dilengkapi motor.
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi
lainnya; atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
pada setiap sisi kapal.
Panjang 35 meter atau lebih 1) 1 (satu) buah sekoci kategori D yang memenuhi
tetapi kurang dari 85 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 2 klausul2.4 dengan kapasitas
100% total jumlah pelayar pada setiap sisi kapal. Salah
satunya dilengkapi motor.
2) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6
klausul6.4 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah
pelayar yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi
kesisi lainnya;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 257
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6
klausul6.4 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah
pelayar pada setiap sisi kapal.
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori D
yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul6.4 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar yang dapat
Panjang 20 sampai dengan dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi lainnya;
kurang dari 35
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori D
yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul6.4 dan 7.1
dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar pada setiap sisi
kapal.
Panjang 10 sampai dengan
Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
kurang dari 20 meter memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul6.5 atau alat
apung yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 8 dengan
kapasitas tidak kurang dari 125% total jumlah pelayar.
Panjang kurang dari 10 meter Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
(GT kurang dari 7) jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage
Dilengkapi dengan 1 (satu) unit sekoci penyelamat kategori
GT 300 sampai dengan kurang B yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dari 500 Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 4 klausul4.2.

GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 258
c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
150 meter atau lebih 14 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
100 meter atau lebih tetapi 10 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 150 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 100 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
30 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
Kurang dari 30 meter 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 259
d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Jumlah pelayar
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori B yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.2yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape) sejumlah
100% total jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
GT 300 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
dari 500
Seksi16. dengan 4 unit proyektil dan tali;
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
GT 175 sampai dengan kurang
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
dari 300
Seksi16. dengan 2 unit proyektil dan tali;
GT kurang dari 175 Tali buangan dengan panjang 30m sejumlah 4 unit.

f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang 1) 6 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
dari 500 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14; dan
3) 2 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi15;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 260
1) 4 buah roket parasut isyarat marabahaya yang
GT 175 sampai dengan kurang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
dari 300 Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 13;
2) 4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi; dan
3) 2 buah tabung asap oranye yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi15;
2 buah roket parasut isyarat marabahaya yang memenuhi
GT kurang dari 175 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 13.

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage

GT 300 sampai dengan kurang Dilengkapi dengan 2 unit radar transponder yang memenuhi
dari 500 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III. Seksi 4 klausul 4.2.1.5
Dilengkapi dengan 1 unit radar transponder yang memenuhi
GT kurang dari 300 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab III. Seksi 4 klausul 4.2.1.5

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage
GT lebih besar dan sama Dilengkapi dengan 2 (dua) unit two way radio telephony
dengan 500 yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab III Seksi 4 klausul 4.2.1.6
GT kurang dari 300 Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 261
Pasal 88
Perlengkapan penolong kapal barang selain dari kapal tangki di daerah pelayaran
pelabuhan

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Panjang

Panjang lebih besar atau sama 1) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
dengan 85 meter C yang memenuhi Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.3 dan
7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar yang
dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi lainnya;
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
pada setiap sisi kapal.
2) Dilengkapi dengan 1 unit sampan bermotor (working
boat).

Panjang 35 meter atau lebih 1) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
tetapi kurang dari 85 meter D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.4 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi
lainnya;
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.4 dan 7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
pada setiap sisi kapal.
2) Dilengkapi dengan 1 unit sampan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 262
Panjang 20 sampai dengan Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
kurang dari 35 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV
Seksi 6 klausul6.5 atau alat apung yang memenuhi
persyaratan Bab IV seksi 8 dengan kapasitas tidak kurang
dari 125% total jumlah pelayar.

Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang


Panjang 10 sampai dengan memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV
kurang dari 20 meter Seksi 6 klausul6.5 atau alat apung yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 8
dengan kapasitas tidak kurang dari 100% total jumlah
pelayar.
Panjang kurang dari 10 meter
Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
(GT kurang dari 7)
jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
150 meter atau lebih 14 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
100 meter atau lebih tetapi 10 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 150 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 263
60 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 100 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
30 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
10 meter atau lebih tetapi 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 30 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.
Kurang dari 10 meter 2 unit Alat apung tiup, diwarnai dengan warna yang
menyolok (orange), dan diberi nama kapal.

d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Jumlah pelayar
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori C yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.3yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
sejumlah 100% total jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 264
e. Alat pelontar tali
Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage

GT 300 sampai dengan kurang 4 unit,Tali buangan dengan panjang 30 meter


dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
2 unit,Tali buangan dengan panjang 30 meter.
dari 300

GT kurang dari 35 1 unit,Tali buangan dengan panjang 20 meter .

f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT 300 sampai dengan kurang
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
dari 500
Seksi 14; dan
2 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT 35 sampai dengan kurang
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
dari 300
Seksi 14; dan
2 buah roket parasut isyarat marabahaya yang memenuhi
GT kurang dari 35 persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 13.

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 265
Pasal 89
Perlengkapan penolong kapal barang selain kapal tangki di daerah pelayaran
perairan daratan

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Panjang

Panjang lebih besar atau sama 1) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
dengan 85 meter C yang memenuhi Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.3 dan
7.1 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar yang
dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi lainnya;
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
C yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Bab IV Seksi 6 klausul6.3 dan 7.1 dengan
kapasitas 100% total jumlah pelayar pada setiap sisi
kapal.

2) Dilengkapi dengan 1 unit sampan bermotor (working


boat).

Panjang 35 meter atau lebih 1) Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
tetapi kurang dari 85 meter D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.4 dan 7.1dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
yang dapat dipindah-pindahkan dari satu sisi kesisi
lainnya;
atau
Rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori
D yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Bab IV Seksi 6 klausul6.4 dan 7.1 dengan
kapasitas 100% total jumlah pelayar pada setiap sisi
kapal.
2) Dilengkapi dengan 1 unit sampan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 266
Panjang 20 sampai dengan Dilengkapi rakit penolong tegar (Rigid Life Raft) yang
kurang dari 35 memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV
Seksi 6 klausul6.5 atau alat apung yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Bab IV Seksi 8
dengan kapasitas tidak kurang dari 125% total jumlah
pelayar.
Panjang 10 sampai dengan
Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
kurang dari 20 meter jumlah pelayar.
Panjang kurang dari 10 meter
Alat apung sederhana yang dapat menampung 100% total
(GT kurang dari 7) jumlah pelayar.

b. Sekoci penyelamat
Batasan
Sekoci penyelamat (rescue boat)
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
150 meter atau lebih 14 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9
klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
100 meter atau lebih tetapi 10 unit 1) Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
kurang dari 150 meter Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
60 meter atau lebih tetapi 8 unit 1) Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
kurang dari 100 meter Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 4 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 267
30 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
kurang dari 60 meter Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul 9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan
lampu yang dapat menyala sendiri, 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
10 meter atau lebih tetapi 4 unit 1) Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
kurang dari 30 meter Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul 9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.
Kurang dari 10 meter 2 unit Alat apung tiup, diwarnai dengan warna yang
menyolok (orange), dan diberi nama kapal.

d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Ukuran kapal
Semua Ukuran 1) Baju penolong kategori C yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab
IV Seksi 10 klausul 10.3yang dilengkapi lampu, peluit
dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
sejumlah 100% total jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
GT 300 sampai dengan kurang
Tali buangan dengan panjang 30 meter sejumlah 4 unit.
dari 500
GT 35 sampai dengan kurang
Tali buangan dengan panjang 30 meter sejumlah 2 unit.
dari 300

GT kurang dari 35 Tali buangan dengan panjang 20 meter sejumlah 1 unit.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 268
f. Isyarat marabahaya
Batasan
Isyarat marabahaya (pyrotechnic)
Gross tonnage
2 buah roket parasut yang memenuhi persyaratan Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
GT 300 sampai dengan kurang 13; dan
dari 500 2 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 14
4 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT 35 sampai dengan kurang
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
dari 300
Indonesia Bab IV Seksi 14; dan
2 buah cerawat tangan merah yang memenuhi persyaratan
GT kurang dari 35 Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 14.

g. Search and rescue radar transponder (SART)


Batasan
Search and rescue radar transponder
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

h. Two way radio telephony


Batasan
Two way radio telephony
Gross tonnage

Semua ukuran Tidak diwajibkan

Pasal 90
Aturan khusus sekoci untuk kapal barang jenis tangki minyak, kimia dan gas

(1) Kapal tangki minyak, kimia dan pengangkut gas yang mengangkut muatan yang
mempunyai titik nyala api tidak sampai 60oC, harus menggunakan sekoci tertutup yang
tahan api.
(2) Kapal tangki minyak harus menggunakan sekoci jenis tertutup yang memiliki sistem
springkler (sprinkler water) diluar sekoci.
(3) Kapal tangki kimia dan pengangkut gas harus menggunakan sekoci yang memiliki
sistem pendukung sendiri (self contained air support system).

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 269
Pasal 91
Tali kawat baja penurun sekoci
Tali kawat baja penurun sekoci harus:
(1) Merupakan tali kawat yang direkomendasikan dari pabrik untuk digunakan pada sekoci
yang sesuai dengan ukuran yang disyaratkan untuk digunakan disekoci tersebut.
(2) Memiliki sertifikat uji pabrikan.
(3) Diperiksa rutin secara visual dan diberi minyak pelumas/gemuk yang sesuai.
(4) Di putar balik dari ujung ke ujung setelah berumur 30 bulan (2.5 tahun) semenjak
tanggal pemasangan atau jika terdapat patahan pada 1 (satu) simpul dengan catatan
patahan tersebut masih di dalam tromol gulungan pada saat sekoci diturunkan dan
sudah pada permukaan air;
(5) Di ganti dengan tali kawat yang baru apabila:
a. Telah berumur 60 bulan (5 tahun) sejak tanggal pemasangan;
b. Jika diameter tali kawat berkurang 7% dari diameter awal; dan
c. Jika terdapat patahan-patahan atau kebocoran dan karat yang dianggap sudah
mengurangi kekuatan tali kawat tersebut.
(6) Diberi keterangan (penandaan) di dinding dekat sekoci tersebut yang berisi informasi:
a. Tanggal pemasangan/instalasi; dan
b. Tanggal diputar balik.
Pasal 92
Perlengkapan penolong kapal ikan

a. Sekoci dan rakit penolong.


Batasan
Sekoci dan rakit penolong
Panjang
Lebih besar dari 45 m 1) Dilengkapi dengan sekurang-kurangnya 2 (dua) unit
rakit penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori C
yang memenuhi persyaratan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul
6.3 dan 7.1 dengan kapasitas 100% jumlah pelayar setiap
sisi kapal
2) Dan 1 (satu) unit sekoci penyelamat atau sekoci kerja
yang dapat berfungsi sebagai sekoci penyelamat.
17 m sampai dengansampai Dilengkapi dengan sekurang-kurangnya 1 (satu) buah rakit
dengan45 m penolong kembung (Inflatable Life Raft) kategori C yang
memenuhi persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6 klausul 6.3 dengan
kapasitas 100% total jumlah pelayar;
Kurang dari 17 meter Dilengkapi dengan 1 (satu) buah rakit penolong tegar (Rigid
Life Raft) kategori E yang memenuhi persyaratan Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 6
klausul 6.5 dengan kapasitas 100% total jumlah pelayar
pada setiap sisi kapal.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 270
c. Pelampung penolong
Batasan
Pelampung penolong
Panjang
60 meter atau lebih 8 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul
9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan lampu
yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
45 meter atau lebih tetapi 6 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 60 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul
9.1.
2) Paling sedikit 50% dilengkapi dengan lampu
yang dapat menyala sendiri, 2 unit
diantaranya dilengkapi dengan tabung
(isyarat) asap oranye (MOB Buoy), 2 unit
lainnya dilengkapi dengan tali apung.
24 meter atau lebih tetapi 4 unit 1) Pelampung penolong yang memenuhi
kurang dari 45 meter persyaratan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul
9.1.
2) Minimal 2 unitnya dilengkapi dengan tali
apung.
kurang dari 24 meter 2 unit Pelampung penolong yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 9 klausul 9.1 atau alat
lain yang setara.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 271
d. Baju penolong
Batasan
Baju penolong
Jumlah pelayar
Lebih besar dari 60 meter 1) Baju penolong kategori A yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia
Bab IV Seksi 10 klausul 10.2 yang dilengkapi lampu,
peluit dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
sejumlah 100% total jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).
45 meter sampai dengan 1) Baju penolong kategori B yang memenuhi persyaratan
kurang dari 60 meter Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia
Bab IV Seksi 10 klausul 10.3 yang dilengkapi lampu,
peluit dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape)
sejumlah 100% total jumlah pelayar.
2) Ditambah sejumlah yang mencukupi untuk petugas
jaga/pekerja di anjungan, ruang kendali kamar mesin
dan ditempat kerja yang jauh dari akomodasi (apabila
ada).
24 meter sampai dengan Baju penolong kategori C yang memenuhi
kurang dari 45 meter persyaratanStandar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab IV Seksi 10 klausul 10.4 yang dilengkapi
lampu, peluit dan pita pemantul cahaya (retro-reflektor
tape) sejumlah 100% total jumlah pelayar.
Kurang dari 24 meter Baju penolong kategori D yang memenuhi persyaratan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV
Seksi 10 klausul 10.4 yang dilengkapi lampu, peluit dan
pita pemantul cahaya (retro-reflektor tape) sejumlah 100%
total jumlah pelayar.

e. Alat pelontar tali


Batasan
Alat pelontar tali (line throwing apparatus)
Gross tonnage
Sarana pelontar tali yang memenuhi persyaratan Standar
45 meter atau lebih Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab IV Seksi
16, dengan 2 unit proyektil dan tali; atau

Kurang dari 45 meter Tali buangan dengan panjang 30 meter sejumlah 2 unit.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 272
Pasal 93
Sistem evakuasi kapal (Marine Evacuation System)
(1) Lintasan sistem evakuasi kapal harus memberikan penurunan dengan keselamatan bagi
orang lanjut usia, ukuran serta kemampuan fisik yang berbeda-beda memakai baju
renang yang diakui dari stasiun embarkasi ke pesawat penyelamat.
a. Lantai dasar bila dipasang harus sedemikian sehingga daya apung yang cukup
tersedia bagi beban kerja. Dalam hal pelataran dipompa, ruang daya apung utama
yang untuk tujuan ini termasuk setiap bangku atau ruang bagian struktur yang
dipompa harus memenuhi persyaratan rakit penolong kembung yang didasarkan
atas kapasitas peralatan kecuali kapasitas yang dihasilkan dengan dibagi dengan
0,25 dari daerah yang dapat digunakan dalam butir (3).
b. Daerah yang mencakup yang akan memberikan pengamanan paling kurang dua
rakit penolong untuk dinaiki dan mengakomodasi paling kurang sejumlah orang
yang setiap saat diharapkan berada dipelataran tersebut. Area pelataran yang
dapat digunakan harus paling kurang sama dengan 20% total jumlah orang yang
dijinkan pada sistem evakuasi kapal 10 M2 yang mana lebih besar.
c. Mengering sendiri.
d. Dibagi dengan cara sedemikian sehingga kehilangan gas dari salah satu
kompartemen manapun tidak akan membatasi penggunaan operasionalnya
sebagai sarana evakuasi. Tabung daya apung harus dibagi dan dilindungi
terhadap kerusakan yang terjadi akibat bergesekan dengan lambung kapal.
e. Dipasangi sistem stabilisasi.
f. Tertahan oleh tali haluan atau pengikat diposisi lainya dirancang untuk bisa lepas
secara otomatis apabila diperlukan mampu disesuaikan keposisi yang disyaratkan
untuk evakuasi.
g. Dilengkapi dengan tambahan tali tambat dan tali haluan dengan kekuatan yang
memadai untuk mengikat dengan aman rakit penolong kembung yang terbesar
yang berkaitan dengan sistem tersebut.
h. Apabila lintasan tersebut memberikan akses langsung ke pesawat penyelamat
harus tersedia penataan pelepasan cepat.
(2) Kinerja sistem evakuasi kapal (MES)
a. Mampu dilepas oleh satu orang;
b. Sedemikian sehingga memungkinkan jumlah total orang sesuai dengan rancangan
sistem tersebut dipindahkan dari kapal ke rakit penolong kembung dipompa
dalam waktu 30 menit untuk kapal penumpang dan 10 menit untuk kapal barang
dari waktu diberikan tanda meninggalkan kapal
c. Diatur agar rakit penolong dapat diikat atau dilepaskan dengan aman dari
pelataran oleh seorang yang berada di rakit penolong atau di pelataran.
d. Mampu dilepas dari kapal dalam kondisi yang tidak menguntungkan trim sampai
100 dan kemiringan 200 pada salah satu sisi.
e. Apabila dipasang luncuran miring sehingga sudut itu terhadap horizontal adalah :
1) Dalam rentang besaran 300 sampai dengan 350 ketika kapal tegak dan
dalam kondisi laut yang teringan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 273
2) Dalam hal kapal penumpang suatu maksimum 550 dalam tahap akhir
pembanjiran (tergenang) sebagaimana dimakud dalam Pasal 21.
(3) Dievaluasi untuk kapasitas dengan cara menghitung penurunan evakuasi sistem yang
dilakukan di pelabuhan.
(4) Dapat menyediakan saran evakuasi yang memuaskan dalam keadaan laut yang
berkaitan dengan kecepatan 6 pada skala Beaufort;
(5) Dirancang sepanjang dapat dilaksanakan untuk tetap efektif dalam kondisi membeku;
dan
(6) Dibuat sedemikian agar hanya diperlukan jumlah pemeliharaan rutin minimal. Setiap
bagian yang memerlukan pemeliharaan oleh awak kapal harus dapat dicapai dan mudah
dipelihara.
(7) Apabila suatu sistem evakuasi kapal atau lebih diusahakan d suatu kapal, paling kurang
50% dari sistem tersebut harus dikenai penurunan percobaan setelah instalasi. Syarat
terhadap penurunan ini memuaskan, sistem yang tidak dicoba harus diturunkan dalam
waktu 12 bulan setelah pemasangan.
(8) Rakit penolong kembung yang digunakan berkaitan dengan sistem evakuasi di laut
harus :
a. sesuai dengan persyaratan rakit penolong kembung;
b. ditempatkan didekat kontainer sistem tetapi dapat dilepaskan bebas dari sistem
pelepasan dan menaiki pelataran;
c. bisa dilepaskan satu per satu dari rak penyimpanannya dengan pengaturan yang
memungkinkan ditambahkan disamping peralatan;
d. disimpan sesuai dengan persyaratan penempatan pesawat penyelamat;
e. dandilengkapi tali penarik kembali yang telah disambungkan atau yang dapat
disambungkan dengan mudah kepelataran.
(9) Kontainer untuk sistem evakuasi kapal.
a. Lintasan evakuasi dan pelataran harus dikemas dalam wadah yang :
1) dibuat sedemikian untuk dapat menahan digunakan pada kondisi yang keras
yang dihadapai di laut;
2) sepanjang dapat dilaksanakan, kecuali untuk lobang pengeringan didasar
kontainer.
b. kontainer tersebut harus dimarkahi dengan :
1) nama pembuat atau merek dagang;
2) nomor seri;
3) nama otorita yang menyetujui serta jumlah orang yang diperkenankan
untuk diangkut;
4) Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia;
5) Tanggal pembuatan (bulan dan tahun);
6) Tanggal dan tempat terakhir kali diperbaiki;
7) Tinggi penyimpangan maksimal yang diperkenankan di atas garis air; dan
8) Posisi penyimpanan di kapal.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 274
c. petunjuk peluncuran dan pengoperasian dimerkahi di atau dekat kontainer.
d. Sistem evakuasi dilaut harus dimerkahi dengan :
1) nama pembuat atau merek dagang;
2) nomor seri;
3) Tanggal pembuatan (bulan dan tahun);
4) Nama otorita yang mengetahui;
5) Tanggal dan tempat dimana terakhir kali diservis; dan
6) Kapasitas sistem tersebut.

Pasal 94
Petunjuk Latihan
Petunjuklatihan, harus memuat petunjuk-petunjuk dan informasi dalam istilah yang mudah
dipahami yang digambarkan, dimana mungkin, pada perlengkapan penolong yang disediakan
di kapal dan dalam cara penyelamatan diri yang terbaik. Setiap bagian dari informasi
demikian dapat diberikan dalam bentuk sarana yang dapat didengar dan dilihat sebagai
pengganti cara manual. Hal - hal berikut harus diterangkan secara rinci :
(1) Cara mengenakan baju penolong dan pakaian cebur, salah satu yang sesuai;
(2) Cara berkumpul di stasiun embarkasi yang telah ditentukan
(3) Menaiki, meluncurkan dan melepaskan pesawat penyelamat dan sekoci penyelamat,
termasuk pengoperasian sistem evakuasi kapal (Marine Evacuation System) bila
tersedia.
(4) Cara menurunkan pesawat penyelamat.
(5) Cara pelepasan dari alat peluncur.
(6) Cara menggunakan sarana untuk perlindungan di kawasan menurun, kalau dianggap
sesuai
(7) Penerangan di kawasan penurunan
(8) Kegunaan seluruh peralatan penyelamatan diri
(9) Kegunaan seluruh perlengkapan deteksi
(10) Dengan bantuan ilustrasi penggunaan perangkat radio untuk menyelamatkan diri .
(11) Penggunaan jangkar apung.
(12) Penggunaan mesin dan kelengkapannya.
(13) Mengangkat kembali pesawat penyelamat dan sekoci penyelamat, termasuk cara
penempatan dan pengikatan.
(14) Penggunaan yang benar terhadap fasilitas pesawat penyelamat untuk menyelamatkan
diri.
(15) Cara menemukan kembali, dan menyelamatkan termasuk penggunaan sarana
penyelamatan dari helikopter (tali gantungan, keranjang, tandu-tandu) celana
pelampung (breeches-buoy) dan perangkat penyelamatan di pantai serta alat pelontar
tali kapal .

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 275
(16) Seluruh fungsi lain yang tertera dalam sijil berkumpul dan petunjuk-petunjuk darurat.
Salinandari tuntunan latihan ini harus tersedia ditempat yang dapat dengan mudah dibaca
oleh awak kapal (smoking/TV room).
Pasal 95
Petunjuk Pemeliharaan Alat Penolong di Kapal
Petunjuk untuk melakukan pemeliharaan alat – alat penolong diatas kapal harus mudah
dipahami, kalau mungkin disertai ilustrasi, dan seperlunya harus mencakup hal berikut untuk
setiap alat penolong :
(1) Suatu daftar periksa untuk digunakan pada waktu melaksanakan pemeriksaan;
(2) Petunjuk pemeliharaan dan perbaikan;
(3) Jadwal pemeliharaan berkala;
(4) Denah bagian-bagian yang perlu dilumasi dengan minyak pelumas;
(5) Daftar bagian-bagian yang dapat diganti;
(6) Daftar suku cadang;
(7) Buku catatan pemeriksaan dan pemeliharaan.
Pasal 96
Sijil Berkumpul dan Petunjuk Keadaan Darurat
(1) Sijil berkumpul harus menyebutkan rincian dari isyarat alarm keadaan darurat umum
yang diatur dalam Pasal 90 (16) dan juga tindakan yang harus diambil oleh awak kapal
dan penumpang pada waktu alarm dibunyikan. Sijil berkumpul juga harus menjelaskan
bagaimana perintah meninggalkan kapal diberikan.

(2) Sijil berkumpul harus menunjukkan tugas-tugas yang dibebankan pada masing-masing
anggota awak kapal termasuk :
a. Menutup pintu-pintu kedap air, pintu-pintu perlindungan terhadap kebakaran,
katup-katup, lobang-lobang pembuangan, tingkap-tingkap samping, lobang-lobang
cahaya, lobang-lobang samping lambung dan bukaan-bukaan semacam itu di kapal;
b. Memperlengkapi pesawat penyelamat dan alat-alat penolong lainnya;
c. Persiapan dan penurunan pesawat penyelamat;
d. Persiapan umum bagi perlengkapan penolong yang lain;
e. Mengumpulkan para penumpang;
f. Penggunaan perlengkapan komunikasi;
g. Menunjuk anggota kelompok-kelompok yang ditugaskan memadamkan kebakaran;
h. Tugas-tugas khusus yang dibebankan dalam hal penggunaan perlengkapan
pemadam kebakaran dan instalasi-instalasi.
(3) Sijil berkumpul harus menjelaskan perwira-perwira yang ditugaskan untuk menjamin
bahwa perlengkapan penolong dan perlengkapan pemadam kebakaran dipelihara dalam
kondisi yang baik dan siap digunakan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 276
BAB V
PERMESINAN DAN KELISTRIKAN

Instalasi Permesinan
Pasal 97
Umum
(1) Permesinan, ketel dan bejana tekan lainnya, sistem-sistem pipa terkait dan
perlengkapan lainnya harus didesain dan dikonstruksikan secara memadai sesuai
peruntukannya, dipasang dan dilindungi sedemikian rupa untuk mengurangi bahaya
terhadap orang di kapal, dengan memperhatikan bagian-bagian yang bergerak,
permukaan-permukaan yang panas dan bahaya-bahaya lainnya.
(2) Instansi yang berwenang dapat memberikan pertimbangan khusus terhadap keandalan
setiap permesinan dan komponen esensial yang dipasang tunggal di kapalseperti:
a. Untuk kapal dengan propulsi diesel
Mesin diesel yang digunakan sebagai mesin propulsi utama, kopling elastik, gigi
reduksi dan sistem poroa propulsi
b. Untuk kapal dengan propulsi listrik.
Motor propulsi, gigi reduksi dan sistem poros propulsi.
(3) Untuk kapal dengan penataan permesinan yang inkonvensional yang digunakan sebagai
mesin propulsi utama dan sistem poros propulsi yang dipasang tunggal, intansi yang
berwenang dapat mempersyaratkan tambahan permesinan yang memungkinkan kapal
berlayar dengan kecepatan yang mampu untuk bernavigasi (navigable speed) bila
terjadi gangguan mesin propulsi dan sistem poros propulsi..
(4) Permesinan penggerak kapal harus dilengkapi dengan sarana yang dapat meneruskan
atau memulihkan operasi normalnya walaupun salah satu peralatan bantu esensial tidak
beroperasi. Harus diberikan pertimbangan khusus terhadap malfungsi dari:
a. Satu set generator yang berfungsi sebagai sumber daya listrik utama;
b. Sumber-sumber pasokan uap;
c. Sistem air pengisian ketel;
d. Sistem pasokan bahan bakar minyak untuk ketel atau mesin;
e. Sumber-sumber tekanan minyak pelumas;
f. Sumber-sumber tekanan air;
g. Satu pompa kondensat dan penataan untuk mempertahankan vakum di
kondensator;
h. Pasokan udara secara mekanis ke ketel;
i. Satu kompresor udara dan bejana udara untuk keperluan start dan kontrol;
j. Sarana hidrolik, pneumatik, atau listrik untuk kontrol mesin penggerak utama
termasuk baling-baling dengan kisar yang dapat diatur.
Tetapiinstansiberwenangdenganmempertimbangkankeselamatansecarakeseluruhandap
atmengurangisebagiankemampuanpenggerakdarikondisi normal.
(5) Permesinan harus dilengkapi dengan sarana untuk menjamin agar dapat dioperasikan
dari kondisi kapal mati tanpa bantuan dari luar.
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 277
(6) Semua ketel, semua bagian permesinan, semua sistem uap, hidrolik, pneumatik dan
sistem lainnya serta semua kelengkapan terkait yang mendapat tekanan internal harus
duji dengan memadai sebelum digunakan untuk pertama kali.
(7) Permesinan penggerak utama dan semua permesinan bantu esensial, tidak termasuk
permesinan darurat, untuk penggerak dan keselamatan kapal, yang dipasang di kapal,
harus didesain untuk beroperasi bila kapal dalam keadaan tegak atau dalam keadaan
miring ke kiri atau ke kanan sampai sudut 15 derajat dan secara serentak trim haluan
atau buritan sampai sudut 5 derajat pada kondisi statis atau oleng sampai sudut 22,5
derajat dan mengangguk sampai sudut 7,5 derajat dalam kondisi dinamis. Dengan
mempertimbangkan tipe, ukuran dan kondisi layanan kapal, instansi berwenang dapat
mengijinkan deviasi dari sudut-sudut ini.
(8) Untuk permesinan darurat bila tidak ada penetapan lain, harus didesain dan dipasang
untuk beroperasi pada kondisi kemiringan kapal, baik statis dan maupun dinamis
sampai sudut 22,5 derajat dan kondisi tungging baik statis maupun dinamis sampai
sudut 10 derajat.
(9) Bila tidak ada penetapan lain, desain dan pemasangan permesinan, tidak termasuk
permesinan darurat, harus menggunakan kondisi temperatur lingkungan seperti berikut:
a. Temperatur udara didalam ruangan tertutup, 0 sampai 45 derajat C,
b. Temperatur udara didalam ruangan dimana dimana temperatur dapat melebihi
45 derajat C, sesuai kondisi spesifik lokal,
c. Temperatur di geladak terbuka, -25 sampai 45 derajat C,
d. Temperatur air laut 32 derajat C.
(10) Harus dibuat penataan untuk memudahkan pembersihan, pemeriksaandan pemeliharaan
permesinan penggerak utama dan permesinan bantu termasuk ketel dan bejana tekan.
(11) Harus diberikan pertimbangan khusus terhadap desain, konstruksi dan instalasi sistem
permesinan propulsi sehingga setiap mode getarannya tidak akan menimbulkan
tegangan yang tidak semestinya pada permesinan ini dalam rentang operasi normal.
(12) Sambungan-sambungan ekspansi non metal pada sistem pipa, bila ditempatkan pada
suatu sistem yang menembus sisi kapal dan sekaligus penembusan dan sambungan
ekspansi non metal yang berada dibawah garis muat terdalam, harus diinspeksi sebagai
bagian dari survey yang telah ditetapkan dan bila perlu diganti atau diganti pada
interval yang direkomendasikan oleh pembuat.
(13) Instruksi operasi dan pemeliharan, dan gambar-gambar teknik permesinan kapal dan
peralatan esensial untuk operasi kapal yang aman harus ditulis dengan bahasa yang
dapat dimengerti oleh perwira dan anak buah kapal yang diharuskan untuk mengerti
informasi seperti ini dalam melaksanakan tugasnya.
(14) Lokasi dan penataan pipa-pipa ventilasi untuk tangki-tangki servis bahan bakar
minyak, tangki-tanki endap dan tangki-tangki minyak pelumas harus sedemikian rupa
sehingga bila pipa-pipa ventilasi mengalami kebocoran tidak menimbulkan resiko
masuknya air laut atau air hujan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 278
Pasal 98
Instalasi Permesinan Kapal Non Konvensi
(1) Instalasi permesinan kapal non konvensi dengan bobot GT 500 atau lebih mengacu ke
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia, Bab V, Bagian A, Seksi 1
klausul 1.1.2.
(2) Instalasi permesinan kapal non konvensi dengan bobot kurang dari GT 500 mengacu
ke Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia, Bab V, Bagian A, Seksi 1
klausul 1.2.2.

Instalasi Listrik

Pasal 99
Umum
(1) Instalasilistrikharussedemikianrupasehingga:
a. Semua daya listrik yang diperlukan untuk mempertahankan kapal untuk
beroperasi secara normal dan kondisi habitat yang wajar dipastikan tersedia
tanpa menggunakan sumber daya listrik darurat.
b. Layanan listrik yang esensial untuk keselamatan harus tersedia pada semua
kondisi darurat.
c. Keselamatan penumpang, awak kapal dan kapal itu sendiri harus dijamin dari
bahaya listrik.
(2) Instalasi listrik, tidak termasuk instalasi listrik darurat, yang dipasang di kapal, harus
didesain untuk beroperasi bila kapal dalam keadaan tegak atau dalam keadan miring
ke kiri atau ke kanan sampai sudut 15 derajat dan secara serentak trim haluan atau
buritan sampai sudut 5 derajat pada kondisi statis atau oleng sampai sudut 22,5
derajat dan mengangguk sampai sudut 7,5 derajat dalam kondisi dinamis. Dengan
mempertimbangkan tipe, ukuran dan kondisi layanan kapal, instansi berwenang dapat
mengijinkan deviasi dari sudut-sudut ini.
(3) Untuk instalasi listrik darurat bila tidak ada penetapan lain, harus didesain dan
dipasang untuk beroperasi pada kondisi kemiringan kapal, baik statis dan maupun
dinamis 22,5 derajat dan kondisi tungging baik statis maupun dinamis 10 derajat.
(4) Bila tidak ada penetapan lain, desain dan pemasangan permesinan, tidak termasuk
permesinan darurat, harus menggunakan kondisi temperatur lingkungan seperti
berikut:

a. Temperatur udara didalam ruangan tertutup, 0 sampai 45 derajat C.


b. Temperatur udara didalam ruangan dimana dimana temperatur dapat melebihi
45 derajat C, sesuai kondisi spesifik lokal,
c. Temperatur di geladak terbuka, -25 sampai 45 derajat C,
d. Temperatur air laut 32 derajat C.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 279
Pasal 100
Instalasi Listrik Kapal Non Konvensi
1) Instalasi listrik kapal non konvensi dengan bobot GT 500 atau lebih mengacu ke
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia, Bab V, Bagian B, Seksi 8
klausul 8.2.1.
2) Instalasi listrik kapal non konvensi dengan bobot kurang dari GT 500 mengacu ke
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia, Bab V, Bagian A, Seksi 8
klausul 8.2.2

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 280
BAB VI
GARIS MUAT

Pasal 102
Pemberlakuan
(1) Keputusan ini diberlakukan untuk menetapkan garis muat kapal niaga tipe A seperti
yang disebut pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 5
klausul 5.1.2 dan kapal niaga tipe B seperti yang disebut pada Bab VI Seksi 5 klausul
5.1.3.
(2) Kapal niaga yang disebut pada ayat (1) dibagi dalam kriteria :
a. Kapal dengan panjang 24 meter keatas,
b. Kapal dengan panjang 15 meter sampai dengan kurang dari 24 meter,
c. Kapal dengan panjang sampai dengan kurang dari 15 meter.

Pasal103
Penentuan Dan Penetapan Besaran Garis Muat
(1) Besaran garis muat yang diperoleh sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 5.1, digunakan untuk kapal yang diijinkan
beroperasi di daerah pelayaran kawasan Insdonesia dan daerah pelayaran lokal.
(2) Besaran garis muat yang diperoleh sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 5.2, digunakan untuk kapal yang diijinkan
beroperasi di daerah pelayaran terbatas.
(3) Besaran garis muat yang diperoleh sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 5.3, digunakan untuk kapal yang diijinkan
beroperasi di daerah pelayaran pelabuhan dan perairan daratan.

Pasal 104
Kekuatan Kapal
(1) Direktur Jenderal Perhubungan Laut harus meyakini, bahwa kekuatan kapal secara
keseluruhan cukup, untuk sarat air yang sesuai dengan lambung timbul yang ditentukan,
merujuk kepada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab II Seksi 5.
(2) Kapal-kapal yang dibangun dan dirawat sesuai syarat-syarat dari suatu badan klasifikasi
yang diakui Pemerintah dianggap mempunyai kekuatan yang cukup.

Pasal 105
Informasi yang harus diberikan pada nahkoda
(1) Nahkoda kapal, harus mendapatkan informasi yang memungkinkan nakhoda untuk
menyusun muatan dan ballast pada kapal sedemikian rupa, sehingga pemuatan tidak
mempengaruhi kekuatan struktur kapal, stabilitas dan batas garis muat yang telah
ditetapkan
(2) Informasi stabilitas harus tersedia diatas kapal barang dengan panjang 24 meter atau
lebih dan kapal penumpang semua ukuran dengan menyertakan informasi sesuai Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera IndonesiaBab VI Appendix 10.3.
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 281
(3) Informasi stabilitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus mendapatkan
pengesahan dari Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
(4) Kapal bangunan tradisional atau kapal lainnya yang diawaki oleh awak kapal yang
mempunyai keterbatasan pengetahuan dalam membaca informasi stabilitas, wajib
disediakan data-data informasi stabilitas yang sederhana dan mendapat pengesahan
Direktur Jenderal Perhubungan Laut.

Pasal 106
Perombakan Kapal
(1) Perombakan pada konstruksi kapal yang mempengaruhi persyaratan lambung timbul
harus memenuhi ketentuan dalam keputusan ini.
(2) Perombakan kapal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), harus dengan persetujuan
Direktur JenderalPerhubungan Laut.
(3) Kapal yang mengalami perombakan harus dilakukan pemeriksaan untuk meyakinkan
bahwa perombakan memenuhi persyaratan garis muat sesuai dengan Standar Kapal
Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI.

Pasal 107
Batas Garis Muat Dan Batas Pemuatan
(1) Marka garis muat kapal yang telah ditentukan tidak boleh terbenam pada saat kapal
bertolak, selama dalam pelayaran dan pada waktu tiba sesuai dengan garis muat yang
telah ditentukan.
(2) Kapal yang berada di air tawar maka marka garis muat laut diperbolehkan terbenam
sampai pada batas sesuai yang ditentukan dalam sertifikat garis muat
(3) Kapal yang meninggalkan suatu pelabuhan yang berlokasi di sungai atau perairan darat,
pemuatan yang melebihi marka, diperbolehkan sesuai dengan berat bahan bakar dan
bahan lain yang diperlukan untuk konsumsi antara titik keberangkatan dengan perairan
laut.

Pasal 108
Marka Garis Geladak

(1) Garis geladak dinyatakan dengan garis horizontal berukuran panjang 300 mm dan lebar
25 mm yang ditempatkan :
a. Di tengah panjang kapal pada tiap sisi kapal dan bagian atasnya tepat pada sisi
atas geladak lambung timbul;di tengah panjang kapal pada kapal yang mempunyai
tepi geladak yang dibundarkan (Rounded Gunwales),
b. Tetapitidak pada sisi atas geladak lambung timbul dengan syarat bahwa lambung
timbul telah dikoreksi sesuai dengan letak garis geladak.
(2) Bentuk, ukuran dan penetapan marka garis geladak merujuk ke gambar marka garis
geladak Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Halaman VI-31
(3) Letak garis geladak dan besaran garis muat serta markanya harus dicantumkan pada
sertifikat garis muat
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 282
Pasal 109
Bentuk Marka Garis Muat
(1) Marka garis muat terdiri dari :
a. Untuk kapal dengan panjang lebih dari 24 meter yaitu lingkaran dengan garis
tengah luar 300 mm dengan lebar garis 25 mm, dipotong oleh garis horizontal
berukuran panjang 450 mm, lebar 25 mm dan sisi atasnya melalui titik pusat
lingkaran dan titik pusat lingkaran ditempatkan di tengah panjang kapal dan pada
jarak yang sama dengan lambung timbul air laut yang ditentukan, diukur vertikal
dari sisi atas garis geladak; Sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 1.
b. Untuk kapal dengan panjang antara 15 meter sampai dengan 24 meter yaitu;
setengah lingkaran dengan garis tengah luar 300 mm dengan lebar garis 25 mm,
dipotong oleh garis horizontal berukuran panjang 450 mm, lebar 25 mm dan sisi
atasnya melalui titik pusat lingkaran dan titik pusat lingkaran ditempatkan di
tengah panjang kapal dan pada jarak yang sama dengan lambung timbul air laut
yang ditentukan, diukur vertikal dari sisi atas garis geladak; Sesuai dengan
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 2.
c. Untuk kapal dengan panjang kurang dari 15 meter yaitu; Segitiga sama sisi yang
salah satu sudutnya bertumpu pada garis horizontal dengan tinggi 100 mm dari
garis dasar horizontal berukuran 450 mm, dengan lebar garis 25 mm dan titik
segitiga sama sisi yang bertumpu tempatkan di tengah panjang kapal dan pada
jarak yang sama dengan lambung timbul air laut yang ditentukan, diukur vertikal
dari sisi atas garis geladak; Sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 3.
(2) Garis – garis yang menyatakan garis muat terdiri dari :
a. Untuk kapal dengan panjang lebih dari 24 meter: Garis – garis horizontal dengan
panjang 230 mm, lebar 25 mm dan tegak lurus terhadap garis vertikal dengan
lebar 25 mm yang dipasang pada jarak 540 mm dari titik pusat lingkaran ke arah
haluan kapal dan menunjukkan:
1) Garis muat air laut, yang ditunjukkan oleh tepi atas dari garis yang melalui
titik pusat lingkaran dengan simbol huruf T (Tropis);
2) Garis muat air laut Tropis Musim Barat yang ditunjukkan oleh tepi
atasdari garis yang berada dibawah simbol huruf T sejarak 50 mm
dengansimbol ST (Seasoning Tropic);
3) Garis muat air tawar yang ditunjukkan oleh sisi atas dari garis dengan
simbol huruf AT (air tawar).
b. Untuk kapal panjang antara 15 meter sampai dengan 24 meter: Garis – garis
horizontal dengan panjang 230 mm, lebar 25 mm dan tegak lurus terhadap garis
vertikal dengan lebar 25 mm yang dipasang pada jarak 540 mm dari titik pusat
lingkaran ke arah haluan kapal dan menunjukkan;
1) Garis muat air laut yang ditunjukkan oleh tepi atas dari garis yang melalui
titik pusat lingkaran dengan simbol huruf T (Tropis);
2) Garis muat air tawar yang ditunjukkan oleh sisi atas dari garis dengan
simbol huruf AT (air tawar).

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 283
c. Untuk kapal dengan panjang sampai dengan dibawah 15 meter
Garis horisontal dengan panjang 450 mm, tebal 25 mm terletak sejarak 250 mm
dari sisi atas garis geladak yang titik tengahnya sebagai tumpuan dari bentuk
segitiga dengan panjang sisi atas 300 mm berjarak sebesar 150 mm dari sisi atas
garis geladak, tebal sisi – sisi segitiga 25 mm. Dilengkapi dengan huruf R di sisi
kiri dan I di sisi kanan segitiga, tinggi huruf 115 mm, lebar huruf 25 mm.
Jarak 250 mm pada gambar adalah besaran garis muat di perairan laut dan jarak
150 mm adalah besaran garis muat di perairan daratan (air tawar)

Pasal 110
Marka Sarat
(1) Kapal dengan panjang 15 meter atau lebih, harus memperlihatkan marka sarat pada
haluan dan buritan kapal, di tiap lambung.

(2) Bentuk angka, besaran dan jarak sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab VI Seksi 19

(3) Tata cara penempatan pada setiap kapal merujuk kepada Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 11.

Pasal 111
Pemeriksaan
Jenis – jenis pemeriksaan sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia
Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 12 klausul 12.1

Pasal 112
Pelaksana pemeriksa dan laporan
(1) Pemeriksaan garis muat dilakukan oleh marine inspektur atau
surveyor/pemeriksa lain yang sudah disetujui oleh Direktur Jenderal
Perhubungan laut.
(2) Pemerikasaan pertama dan pemeriksaan perubahan apabila ada dilakukan diwajibkan
mengisi laporan kondisi penetapan pemeriksaan lambung timbul sesuai dengan Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 9.
(3) Pemeriksaan lainnya harus mengisi laporan pemeriksaan untuk hal itu.

Pasal 113
Sertifikasi
(1) Sertifikat garis muat terdiri dari :
a. Sertifikat garis muat sementara.
b. Sertifikat garis muat tetap.
c. Sertifikat pengecualian.
(2) Bentuk sertifikat tersebut ayat 1 sesuai dengan Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab VI Appendix 7 dan Appendix 8.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 284
(3) Tata cara penerbitan dan masa berlaku sertifikat garis muat sesuai Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 12 klausul 12.2 dan Seksi 13, masa
berlaku sertifikat garis muat sementara tidak lebih dari 3 bulan dan tidak dapat
diperpanjang.

(4) Sertifikat garis muat sementara hanya diterbitkan:


a. Untuk menunggu penyelesaian sertifikat tetap pada saat kapal melaksanakan
pemeriksaan pertama atau pemeriksaan perubahan;
b. Untuk menunggu penyelesaian sertifikat pembaharuan.

Pasal 114
Masa berlaku Sertifikat
Masa berlaku sertifikat garis muat sesuai Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab VI Seksi 14.
Pasal 115
Pengecualian
Penerbitan pengecualian terhadap sertifikat garis muat, sesuai dengan Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 15.

Pasal 116
Kondisi Penetapan
(1) Kondisi untuk memperoleh besaran garis muat, lihat pada Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 8 klausul 8.3 sampai dengan 8.23.5.

(2) Kondisi penetapan yang tersebut seksi diatas agar memperhatikan, pemberlakuan kepada
masing-masing kriteria panjang kapal seperti pada Pasal 102.

(3) Pengecualian diberikan kepada kapal ikan dan kapal cepat seperti yang tertulis pada
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 8 klausul 8.5.5, 8.5.6,
8.6.2.(2) dan 8.6.2.(3).

(4) Persyaratan khusus untuk penetapan besaran garis muat terhadap kapal tipe A merujuk
kepada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 8 klausul
8.24.

Pasal 117
Tinggi Haluan Minimum
(1) Tinggi haluan minimum diperoleh dari persamaan pada formula perhitungan di Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 4 No.IX

(2) Perhitungan tinggi linggi minimum tidak dipersyaratkan pada


a. Kapal yang tidak diawaki.
b. Kapal dengan panjang kurang dari 24 meter.
c. Tidak mempunyai forecastle dengan minimum panjang.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 285
Pasal 118
Zona Garis Muat
(1) Zona garis muat yang dimaksud pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
Indonesia Bab VI Appendix 6, hanya diberlakukan kepada kapal dengan panjang
kurang dari 50 meter.
(2) Pemberlakuan ditetapkan setelah diumumkan oleh Otoritas yang berwenang.

Pasal 119
Untuk mendapatkan besarnya lambung timbul kapal didasarkan pada formula perhitungan
sebagaimana tercantum dalam Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI
Appendix 4.

Pasal 120
Penetapan Garis Muat
(1) Penetapan besaran garis muat berdasarkan perhitungan sesuai formula pada Standar
Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Appendix 4.
(2) Besaran garis muat ditetapkan oleh Dirjen atau Kepala Instansi yang diberikan
kewenangan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
(3) Setiap orang dilarang merubah penetapan besaran garis muat yang sudah ditetapkan
sesuai ayat 2.
(4) Perubahan besaran garis muat hanya dapat dilakukan apabila ada perhitungan baru
karena adanya perubahan pada kapal dan sudah ditetapkan sesuai ayat 2.

Pasal 121
Pemasangan Marka Garis Muat
(1) Pemasangan marka garis muat dapat dilaksanakan setelah penetapan dan sertifikat garis
muat sudah diterbitkan oleh Dirjen atau Kepala Instansi yang diberi kewanangan oleh
Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
(2) Pada saat pemasangan marka garis muat harus disaksikan oleh marine inspektur atau
surveyor dari instansi yang diberi kewenangan oleh Direktur Jenderal Perhubungan
Laut dan membuat berita acara pemasangannya.
(3) Marka garis muat harus dipasang secara tetap dengan cara dilas pada kapal berbahan
logam atau dipahatkan pada kapal kayu di kedua sisi kapal dan harus kelihatan dengan
jelas dengan diberi warna terang di atas warna gelap atau warna gelap di atas dasar
warna terang.
(4) Bentuk dan ukuran marka garis muat yang akan dipasang sesuai dengan peruntukan
yang diatur pada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Appendix
1,2 dan 3.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 286
Pasal 122
Pelaporan
(1) Kondisi Penetapan Pemeriksaan Lambung Timbul dan perhitungan penetapan besaran
garis muat untuk pemerikasaan pertama, pemeriksaan perubahan dan salinan sertifikat
garis muat sementara yang diterbitkan segera dilaporkan ke Direktur Jenderal
Perhubungan Laut.
(2) Laporan pemeriksaan tahunan, laporan pemeriksaan pembaharuan dan masing – masing
salinan sertifikat garis muat segera dilaporkan ke Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
(3) Laporan pemeriksaan dan alasan yang digunakan untuk penerbitan pengecualian serta
salinan sertifikat pembebasan yang diterbitkan segera dilaporkan ke Direktur Jenderal
Perhubungan Laut.
Pasal 123
Kapal-Kapal Tanpa Tenaga Penggerak
(1) Tongkang atau jenis kapal lain yang tidak memiliki peralatan tenaga penggerak sendiri
harus diberikan lambung timbul yang sesuai dengan peraturan ini kecuali untuk
tongkang yang tidak berawak.
(2) Pertimbangan harus diberikan terhadap stabilitas dari tongkang muatan digeladak
cuaca. Muatan geladak hanya dapat dibawa pada tongkang yang ditetapkan dengan tipe
B.
(3) Tongkang tidak berawak yang memiliki bukaan masuk kecil di geladak lambung timbul
yang ditutup dengan penutup baja kedap cuaca dengan packing terbuat dari baja atau
bahan yang sebanding dapat diberikan pengurangan 25% dari perhitungan pada
peraturan ini.
Pasal 124
Ketentuan khusus untuk kapal kargo curah cair (tangki)
Ketentuan khusus untuk kapal kargo curah cair (tangki) merujuk kepada Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab VI Seksi 8 klausul 8.24.

Pasal 125
Penerapan sertifikat garis muat
Penerapan besaran lambung timbul pada sertifikat garis muat berikut adalah :
a. Untuk sertifikat yang merujuk kepada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
IndonesiaBab VI Annex 5.1 digunakan pada kapal yang bersertifikat keselamatan
dengan daerah pelayaran kawasan Indonesia.
b. Untuk sertifikat yang merujuk kepada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
IndonesiaBab VI Annex 5.2 digunakan pada kapal yang bersertifikat keselamatan
dengan daerah pelayaran Terbatas.
c. Untuk sertifikat yang merujuk kepada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
IndonesiaBab VI Annex 5.3 digunakan pada kapal yang bersertifikat keselamatan
dengan daerah pelayaran Pelabuhan dan daerah pelayaran perairan Daratan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 287
BAB VII
PENGUKURAN KAPAL

PENGUKURAN KAPAL STANDAR KAPAL NON KONVENSI BERBENDERA


INDONESIA BERBENDERA INDONESIA
Sesuai dengan dokumen Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VII
Pasal 126
(1) Pengukuran kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia dilaksanakan sesuai dengan
syarat dan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera IndonesiaBab VII Bagian A Seksi 1.
(2) Pengukuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh Ahli Ukur Kapal.

Pasal 127
Ahli Ukur kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 121 ayat (2), harus memenuhi
persyaratan:
1) Lulus dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan pengukuran kapal;
2) Telah menjalani praktek pengukuran dan dinyatakan cakap serta terampil
melaksanakan pengukuran kapal metode pengukuran Internasional oleh ahli ukur
pembimbing;
3) Memperoleh pengukuhan dari Direktur Jenderal Perhubungan Laut.

Pasal 128
(1) Pengukuran kapal yang berukuran panjang kurang dari 24 (duapuluh empat) meter
Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VII Bagian A Seksi 1 klausul
1.1.5.
(2) Kapal yang berukuran panjang kurang dari 24 (duapuluh empat) meter, atas permintaan
pemilik dapat diukur sesuai dengan metode pengukuran KonvensiInternasional tentang
pengukuran kapal 1969 (TMS ’69).

METODE PENGUKURAN
Pasal 129
Tonase Kotor dan Tonase Bersih dari kapal yang telah diukur sesuai dengan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 123 ayat (1) dihitung dan ditetapkan dengan
menggunakan syarat dan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab VII, Bagian B, Seksi 3.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 288
PENGAMBILAN UKURAN DAN TINGKAT AKURASI
Pasal 130
1) Semuaukuran yang digunakan untuk menentukan volume ruangan yang akan
dimasukkan dalam perhitungan Tonase Kotor dan Tonase Bersih harus diukur dengan
mengabaikan adanya lapisan-lapisan atau hal-hal lain serupa itu hingga ke sisi sebelah
dalam kulit plat dinding pada kapal-kapal yang terbuat dari logam atau fibreglass dan
hingga kepermukaan kulit luar, pada kapal-kapal yang terbuat dari bahan-bahan lain.
2) Ukuran yang diambil searah membujur terhadap kapal disebut panjang, dan yang
diambil searah melintang kapal disebut lebar, tanpa mengindahkan bentuk dari ruangan
yang diukur.
Pasal 131
Akurasi, pembulatan angka, penetapan tonase kotor dan tonase bersih dari hasil pengukuran
terhadap kapal dengan panjang kurang dari 24 meter merujuk Standar Kapal Non Konvensi
Berbendera Indonesia Bab VII Seksi 4.

DAFTAR UKUR DAN SURAT UKUR


Pasal 132
1) Perhitungan dan penetapan Tonase Kotor serta Tonase Bersih dari kapal yang telah
diukur, dilakukan dengan menggunakan Daftar Ukur.
2) daftarukur Standar Kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia Bab VII Bagian C Seksi
6
3) Daftar Ukur sebagaimana dimaksud ayat (2) ditanda tangani oleh Ahli Ukur Kapal yang
melakukan pengukuran.
4) Bentuk, isi dan susunan daftar ukur sebagaimana tercantum dalam Standar Kapal Non
Konvensi Berbendera Indonesia Bab VII Appendix 4.
Pasal 133
1) Surat ukur diterbitkan hanya untuk kapal yang berukuran Tonase Kotor (GT) 7 atau
lebih
2) Bentuk, isi dan susunan Surat Ukur untuk kapal yang berukuran panjang kurang dari 24
(dua puluh empat) meter, yang diukur sesuai dengan ketentuan Pasal 127 ayat (1),
diterbitkan menggunakan format seperti contoh dalam Standar Kapal Non Konvensi
Bab VII Appendix 4 dan 5.

Pasal 134
(1) Surat Ukur Non Konvensi diterbitkan oleh Syahbandar/Adpel/Ka. UPP di setiap
pelabuhan yang mempunyai kode pengukuran.
(2) Surat Ukur diterbitkan sesuai dengan Daftar Ukur yang telah diperiksa dan disahkan
oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
(3) Dalam hal penerbitan Surat Ukur sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum dapat
dilaksanakan, dapat diterbitkan Surat Ukur Sementara.
(4) Surat Ukur Sementara bagi kapal-kapal yang diukur di luar negeri diterbitkan oleh
Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
(5) Surat Ukur dan Surat Ukur Sementara sebagaimana dlmaksud dalam ayat (2) dan (3)
diberi nomor dan tanggal penerbitan yang sama dengan nomor Daftar Ukur.
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 289
KODE PENGUKURAN DAN TANDA SELAR
Pasal 135
Pelabuhan yang berwenang melakukan pengukuran dan Kode Pengukuran ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Perhubungan Laut.
Pasal 136
Kapal yang telah memperoleh Surat Ukur harus dipasang Tanda Selar, tata cara pemasangan,
ukuran huruf dan angka merujuk kepada Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
IndonesiaBab VII bagian D Seksi 9.
Pasal 137
Tata cara pengukuran
(1) Tata cara pengukuran kapal merujuk dalam Standar Kapal Non Konvensi Berbendera
IndonesiaBab VII Bagian E Seksi 10
(2) Pelaksanaan pengukuran kapal dapat dilakukan sejak kapal dalam proses pembangunan.

Pasal 138
(1) Dalam hal pengukuran tidak dapat dilaksanakan karena tidak ada ahli ukur kapal di
pelabuhan tempat kapal berada, pengukuran dapat dilaksanakan oleh Ahli Ukur Kapal
dari pelabuhan terdekat atau dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
(2) Pemilik kapal dapat mengajukan permohonan bantuan Ahli Ukur kepada Direktur
Jenderal Perhubungan Laut atau oleh Pejabat yang berwenang di pelabuhan tempat
kapal berada kepada pelabuhan lain yang terdekat.
(3) Surat Ukur untuk kapal sebagaimana dimaksud ayat (1), diterbitkan di pelabuhan
tempat kapal berada atau di pelabuhan yang memberi bantuan Ahli Ukur kapal apabila
pelabuhan tempat kapal berada tidak mempunyai Kode pengukuran.

Pasal 139
(1) Permohonan pengukuran kapal dapat diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan
Laut atau pejabat pemegang fungsi keselamatan kapal di pelabuhan tempat kapal
berada.

(2) Berdasarkan hasil pengukuran, Ahli Ukur Kapal menyusun Daftar Ukur dan
disampaikan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut paling lambat 1 (satu) bulan
sejak pengukuran selesai dilakukan.

(3) Pengesahan atau penolakan Daftar Ukur diterbitkan oleh Direktur Jenderal
Perhubungan Laut selambat-lambatnya dalam waktu tidak lebih dari 5 (lima) hari kerja
setelah Daftar Ukur diterima.

(4) Berdasarkan pengesahan Daftar Ukur oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut, pejabat
pemegang fungsi keselamatan kapal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menerbitkan
Surat Ukur dan harus dilaporkan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut.

(5) Surat Ukur sebagaimana dimaksud ayat (4) diserahkan kepada pemilik setelah
pemasangan Tanda Selar dilaksanakan.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 290
Pasal 140
Masa berlaku sertifikat
(1) Surat Ukur tetap mempunyai masa berlaku tidak terbatas.
(2) Surat Ukur sementara mempunyai masa berlaku tidak lebih dari 2 bulan dan tidak dapat
diperpanjang.

Pasal 141
Yang membatalkan surat ukur
(1) Kapal Berganti nama
(2) Hasil pengukuran tidak sesuai dengan keadaan kapal yang sebenarnya.
(3) Diperoleh secara tidak sah dan atau digunakan tidak sesuai dengan peruntukannya.

Pasal 142
Penggantian Surat Ukur

(1) Surat Ukur Baru untuk kapal yang ganti nama sebagaimana dimaksud dalam Pasal
136ayat (1) dapat diterbitkan dengan mengambil data dari Surat Ukur lama beserta
lampiran berita acara ganti nama kapal.

(2) Surat ukur Baru untuk kapal seperti disebut ayat (1), dapat diterbitkan setelah kapal
melaksanakan pengukuran ulang dan penyusunan daftar ukur baru.

Pasal 143
Penerbitan Surat Ukur oleh Pejabat Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri untuk kapal
yang dibangun atau ganti bendera di Iuar negeri dapat dilakukan, berdasarkan pemberitahuan
dari Direktur Jenderal Perhubungan Laut.

Pasal 144
(1) Salinan Surat Ukur dapat diterbitkan sebagai pengganti Surat Ukur yang rusak, hilang
atau musnah.
(2) Permohonan pernerbitan salinan Surat Ukur sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut atau pejabat pemegang fungsi
keselamatan kapal yang telah menerbitkan Surat Ukur tersebut.
(3) Surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dilengkapi dengan surat
keterangan tentang hilang atau musnah dari Kepolisian Negara Republik Indonesia atau
dengan menunjukkan Surat Ukur yang rusak.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 291
BAB VIII
PENGAWAKAN

Pasal 145
(1) Pengawakan kapal Non-Convention terdiri dari :
a. Seorang Nakoda;
b. Sejumlah Perwira;
c. Sejumlah Pelaut Bawahan (Able Seafarers dan Rating);
d. Sejumlah juru masak/koki dan pelayan untuk kapal tertentu sehubungan keterbatasan
jumlah kabin yang tersedia di atas kapal.

(2) Pengawakan kapal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), didasarkan pada :
a. Ukuran gross tonnage (GT) Kapal;
b. Total tenaga penggerak kapal (kilowatt/kW);
c. Daerah Pelayaran.

Pasal 146
(1) Batas ukuran tonase kotor (Gross Tonnage/GT) kapal terdiri dari :
a. Kapal ukuran tonase kotor/GT 3000 atau lebih;
b. Kapal ukuran tonase kotor/GT 1500 sampai dengan kurang dari GT 3000 ;
c. Kapal ukuran tonase kotor/GT 500 sampai dengan kurang dari 1500;
d. Kapal ukuran tonase kotor/ GT 175 sampai dengan kurang 500;
e. Kapal ukuran tonase kotor/ GT 35 sampai dengan kurang 175;
f. Kapal ukuran tonase kotor/ GT 7 sampai dengan kurang 35;
g. Kapal ukuran tonase kotor/ GT kurang dari 7.

(2) Batas total tenaga penggerak kapal (kiloWatt/kW):


a. Kapal dengan tenaga penggerak 3000 kW atau lebih;
b. Kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3000 kW;
c. Kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW.

(3) Batas daerah pelayaran terdiri terdiri dari :


a. Daerah pelayaran semua lautan (Un-Restricted Voyage/URV);
b. Daerah pelayaran kawasan Indonesia (Near Coastal Voyage/NCV);
c. Daerah pelayaran lokal (Local Voyage);
d. Daerah pelayaran terbatas (Limited Voyage)
e. Daerah pelayaran pelabuhan (Port Limited Voyage);
f. Daerah pelayaran perairan daratan (Sungai, Kanal dan Danau).

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 292
Pasal 147
Jenis-jenis sertifikat pelaut terdiri dari :
a. Sertifikat Keahlian Pelaut (Certificate of Competency).
b. Sertifikate Keterampilan Pelaut (Certificate of Proficiency).
c. Sertifikat pengukuhan (Certificate of Endorsement).

Pasal 148
Jenis-jenis sertifikat dan dokumen yang wajib dimiliki seluruhnya atau sebagian oleh
nakhoda dan anak buah kapal bagian dek dan katering dalam menduduki jabatan dan/atau
tugas jaga di atas kapal.

a. Nakhoda (Master)dan Mualim – I (Chief Mate) terdiri dari :


1) Sertifikat keahlian pelaut (Certificate of Competency);
2) Sertifikat pengukuhan (Certificate of Endosment);
3) Sertifikat Brevet ”A” dan Brevet ”B”, bagi yang bekerja di kapal kecepatan tinggi
(High Speed Craft)
4) Sertifikat operator radio GMDSS, jika kapal tersebut dilengkapi dengan peralatan
GMDSS dan berlayar di wilayah A3 dan A4;
5) Sertifikat Radar Simulator untuk kapal yang dilengkapi dengan peralatan Radar atau
sertifikat ARPA Simulator untuk kapal yang dilengkapi dengan peralatan ARPA;
6) Sertifikat Pelatihan Dasar Keselamatan (Basic Safety Training);
7) Sertifikat perawatan medis (Medical Care) bagi pemilik sertifikat keahlian
(Competency) Tingkat – I/II/III Nautika atau sertifikat Medical First Aid bagi pemilik
sertifikat keahlian (Competency) Tingkat IV dan V Nautika;
8) Sertifikat Basic Oil and Chemical Tanker (BOCT) atau Basic Liquified Gas Tanker
(BLGT) sesuai dengan jenis kapal;
9) Sertifikat Advance Oil Tanker atau Sertifikat Advance Chemical Tanker atau
Sertifikat Advance Liquified Gas Tanker sesuai dengan jenis kapal;
10) Sertifikat Crowd Management dan Crisis Management and Human Behaviour bagi
yang bekerja di kapal penumpang;
11) Sertifikat “Crowd Management”, “Crisis Management and Human Behaviour” dan
“Passenger Safety, Cargo Safety and Hull Intergrity” bagi yang bekerja di kapal
penumpang Ro – Ro;
12) Sertifikat pemadaman kebakaran tingkat lanjut (Advance Fire Fighting) bagi pemilik
sertifikat keahlian (Competency) Tingkat – I/II/III/IV Nautika;
13) Sertifikat sekoci penyelamat dan sekoci penolong (Survival Craft and Rescue Boats);
14) Sertifikat Electronics Charts Display and Information System (ECDIS) untuk kapal
yang dilengkapi dengan peralatan ECDIS;
15) Sertifikat Bridge Resource Management bagi pemilik sertifikat keahlian Tingkat –
I/II/III/IV Nautika, untuk kapal yang berlayar di daerah pelayaran semua lautan atau
Kawasan Indonesia (Near Coastal Voyage/NCV);
16) Sertifikat Perwira Keamanan Kapal (Ship Security Officer) bagi yang ditunjuk sebagai
penanggung jawab keamanan di kapal ;
17) Sertifikat Dynamic Position (DP) bagi yang bekerja pada kapal jenis Anchor
Handling Tug Supply (AHTS) Vessel untuk kapal tersebut di lengkapi dengan
Dynamic Position;
18) Sertifikat kesehatan pelaut;
19) Buku Pelaut.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 293
b. Perwira Dek atau Mualim yang dikenai tugas jaga (Watchkeeping Officer)terdiri dari :
1) Sertifikat keahlian pelaut (Certificate of Competency);
2) Sertifikat pengukuhan (Certificate of Endosment);
3) Sertifikat Brevet ”A” dan Brevet ”B”, bagi yang bekerja di kapal kecepatan tinggi
(High Speed Craft)
4) Sertifikat operator radio umum (ORU) atau GOC for the GMDSS, jika kapal tersebut
diperlengkapi dengan peralatan GMDSS dan berlayar di wilaya A3 dan A4;
5) Sertifikat Radar Simulator untuk kapal yang dilengkapi dengan peralatan Radar atau
sertifikat ARPASimulator untuk kapal yang dilengkapi dengan peralatan ARPA dan;
6) Sertifikat Pelatihan Dasar Keselamatan (Basic Safety Training);
7) Sertifikat perawatan medis (Medical Care)bagi pemilik sertifikat keahlian
(Competency) ANT- 1/II/III atau sertifikat Medikal First Aid bagi pemilik sertifikat
keahlian (Competency) ANT IV dan V;
8) Sertifikat Tanker Familiarization dan Oil Tanker atau Chemical Tanker atau
Liquefied Gas sesuai dengan jenis kapal tankinya;
9) Sertifikat Crowd Management dan Crisis Management and Human Behaviour bagi
yang bekerja di kapal penumpang;
10) Sertifikat Crowd Management, Crisis Management and Human Behaviour dan
Passenger Safety, Cargo Safety and Hull Intergrity bagi yang bekerja di kapal
penumpang Ro – Ro;
11) Sertifikat pemadaman kebakaran tingkat lanjut (Advance Fire Fighting) bagi pemilik
sertifikat keahlian (Competency) ANT – I/II/III/IV;
12) Sertifikat sekoci penyelamat dan sekoci penolong (Survival Craft and Resque Boats)
jika kapal tersebut dengan sekoci;
13) Sertifikat Electronics Charts Display and Information System (ECDIS) jika kapal
dilengkapi dengan peralatan ECDIS ;
14) Sertifikat Bridge Resource Management bagi pemilik sertifikat keahlian ANT –
I/II/III/IV, jika kapal berlayar di daerah pelayara semua lautan atau Kawasan
Indonesia (Near Coastal Voyage/NCV);
15) Sertifikat Perwira Keamanan Kapal (Ship Security Officer) bagi yang ditunjuk sebagai
penanggung jawab keamanan di kapal ;
16) Sertifikat Dynamic Position (DP) bagi yang bekerja pada kapal jenis Anchor
Handling Tug Supply (AHTS) Vessel jika kapal tersebut di lengkapi dengan Dynamic
Position;
17) Sertifikat (keterangan) kesehatan pelaut;
18) Buku Pelaut.

c. Rating bagian dek yang dikenai tugas jaga di anjungan kapal terdiri dari :

1) Sertifikat keahlian pelaut (Certificate of Competency), atau Sertifikat keterampilan


pelaut (Certificate of Proficiency) sebagai Able Seafarers deck atau Watchkeeping
rating;
2) Sertifikat pelatihan dasar keselamatan (Basic Safety Training);
3) SertifikatBasic Oil and Chemical Tanker (BOCT)atauBasic Liquified Gas Tanker
(BLGT) sesuai dengan jenis kapal;
4) Sertifikat Crowd Management dan Crisis Management and Human Behaviour bagi
yang bekerja di kapal penumpang;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 294
5) Sertifikat “Crowd Management”, “Crisis Management and Human Behaviour” dan
“Passenger Safety, Cargo Safety and Hull Intergrity” bagi yang bekerja di kapal
penumpang Ro – Ro;
6) Sertifikat sekoci penyelamat dan sekoci penolong (Survival Craft and Resque Boat);
7) Sertifikat kesehatan pelaut;
8) Buku Pelaut.
d. Rating bagian dek yang tidak dikenai tugas jaga di anjungan kapal terdiri dari:
1) Sertifikat pelatihan dasar keselamatan (Basic Safety Training) ;
2) Sertifikat Tanker Familiarization bagi yang bertugas di kapal tanki ;
3) Sertifikat (keterangan) kesehatan pelaut;
4) Buku Pelaut.
Pasal 149
Jenis-jenis sertifikat dan dokumen yang wajib dimiliki seluruhnya atau sebagian oleh anak
buah kapal bagian mesin dalam menduduki jabatan dan/atau tugas jaga di atas kapal.
a. Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer Officer)dan Masinis – II (Second Officer) terdiri
dari :
1) Sertifikat keahlian pelaut (Certificate of Competency) ;
2) Sertifikat pengukuhan pengukuhan (Certificate of Endosment);
3) Sertifikat Brevet ”A”, bagi yang bekerja di kapal kecepatan tinggi (High Speed Craft)
4) Sertifikat pelatihan dasar keselamatan (Basic Safety Training).
5) Sertifikat Perawatan medis (Medical Care) bagi pemilik sertifikat keahlian Tingkat –
I/II/III Teknika atau Sertifikat Medical First Aid bagi pemilik sertifikat keahlian
Tingkat – IV/V Teknika;
6) Sertifikat Basic Oil and Chemical Tanker (BOCT) atau Basic Liquified Gas Tanker
(BLGT) sesuai dengan jenis kapal;
7) Sertifikat Advance Oil Tanker atau Sertifikat Advance Chemical Tanker atau
Sertifikat Advance Liquified Gas Tanker sesuai dengan jenis kapal;
8) Sertifikat Crowd Management dan Crisis Management and Human Behaviour bagi
yang bekerja di kapal penumpang;
9) Sertifikat “Crowd Management”, “Crisis Management and Human Behaviour” dan
“Passenger Safety, Cargo Safety and Hull Intergrity” bagi yang bekerja di kapal
penumpang Ro – Ro;
10) Sertifikat Pemadaman kebakaran tingkat lanjut (Advance Fire Fighting) bagi pemilik
sertifikat keahlian Tingkat – I/II/III/IV Teknika;
11) Sertifikat sekoci penyelamat dan sekoci penolong (Survival Craft and Resque
Boats);
12) Sertifikat Engine Resource Management bagi pemilik sertifikat Tingkat – I/II/III/IV
Teknika, bagi yang berlayar di daerah pelayaran semua lautan dan kawasan Indonesia;
13) Serifikat Perwira Keamanan Kapal (Ship Security Officer) bagi yang ditunjuk sebagai
penanggung jawab keamanan di kapal;
14) Sertifikat kesehatan pelaut ;
15) Buku Pelaut.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 295
b. Perwira mesin atau Masinis yang dikenai tugas jaga (Watchkeeping Engineer
Officer)terdiri dari :
1) Sertifikat keahlian pelaut (Certificate of Competency) ;
2) Sertifikat pengukuhan pengukuhan (Certificate of Endorsement);
3) Sertifikat Brevet ”A”, bagi yang bekerja di kapal kecepatan tinggi (High Speed Craft
4) Sertifikat pelatihan dasar keselamatan (Basic Safety Training);
5) Sertifikat Perawatan medis (Medical Care) bagi pemilik sertifikat keahlian Tingkat –
I/II/III Teknika atau Sertifikat Medical First Aid bagi pemilik sertifikat keahlian
Tingkat – IV/V Teknika;
6) Sertifikat Basic Oil and Chemical Tanker (BOCT) atau Basic Liquified Gas Tanker
(BLGT) sesuai dengan jenis kapal;
7) Sertifikat Advance Oil Tanker atau Sertifikat Advance Chemical Tanker atau
Sertifikat Advance Liquified Gas Tanker sesuai dengan jenis kapal;
8) Sertifikat Crowd Management dan Crisis Management and Human Behaviour bagi
yang bekerja di kapal penumpang;
9) Sertifikat “Crowd Management”, “Crisis Management and Human Behaviour” dan
“Passenger Safety, Cargo Safety and Hull Intergrity” bagi yang bekerja di kapal
penumpang Ro – Ro;
10) Sertifikat Pemadaman kebakaran tingkat lanjut (Advance Fire Fighting) bagi pemilik
sertifikat keahlian Tingkat – I/II/III/IV Teknika;
11) Sertifikat sekoci penyelamat dan sekoci penolong (Survival Craft and Rescue Boats);
12) Sertifikat Engine Resource Management bagi pemilik sertifikat Tingkat – I/II/III/IV
Teknika, bagi yang berlayar di daerah pelayaran semua lautan dan kawasan Indonesia;
13) Sertifikat Perwira Keamanan Kapal (Ship Security Officer) bagi yang ditunjuk sebagai
penanggung jawab keamanan di kapal;
14) Sertifikat kesehatan pelaut;
15) Buku Pelaut.

c. Rating bagian mesin yang dikenai tugas jaga terdiri dari:


1) Sertifikat keahlian pelaut (Certificate of Competency), atau Sertifikat keterampilan
pelaut sebagai Able Seafarers Engine atau Watchkeeping rating;
2) Sertifikat pelatihan dasar keselamatan (Basic Safety Training);
3) SertifikatBasic Oil and Chemical Tanker (BOCT)atauBasic Liquefied Gas Tanker
(BLGT)sesuai dengan jenis kapal;
4) Sertifikat Crowd Management dan Crisis Management and Human Behavior bagi
yang bekerja di kapal penumpang;
5) Sertifikat “Crowd Management”, “Crisis Management and Human Behavior” dan
“Passenger Safety, Cargo Safety and Hull Integrity” bagi yang bekerja di kapal
penumpang Ro – Ro;
6) Sertifikat sekoci penyelamat dan sekoci penolong (Survival Craft and Rescue Boat);
7) Sertifikat kesehatan pelaut;
8) Buku Pelaut.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 296
d. Rating bagian mesin yang tidak dikenai tugas jaga terdiri dari :
1) Sertifikat pelatihan dasar keselamatan (Basic Safety Training);
2) Sertifikat Tanker Familiarization bagi yang kerja di kapal tanki;
3) Sertifikat (keterangan) kesehatan pelaut ;
4) Buku Pelaut.

Pasal 150
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian dek dan bagian
katering di kapal niaga yang berukuran tonase kotot (Gross Tonnage) kurangdari GT 500,
untuk daerah pelayaran semua lautan ditentukan sebagai berikut :

a. Untuk kapal berukurang tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang 500, Jumlah awak
kapal sekurang - kurangnya 6 (enam) orang dengan jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan
serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf b,
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi dapat merangkap sebagai koki.

b. Untuk kapal berukurang tonase kotor (GT) kurang dari 175, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalamp pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan
serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi dapat merangkap sebagai koki.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 297
Pasal 151
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian mesin di kapal niaga
yang berukuran tonase kotor/GT kurangdari 500, untuk daerah pelayaran semua lautan
ditentukan sebagai berikut :

a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 KW atau lebih, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c;

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3000 kW atau lebih, pada ruang mesin yang tidak
diawaki secara berkala (Periodically unattended machineri space) jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 298
c. Untuk kapal dengan tenaga kurang dari 3.000 kW, pada ruang mesin yang tidak diawaki
secara berkala (Periodically unattended machineri space) jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya kapal 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

d. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan
sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf b
4) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c;

e. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 299
Pasal 152
Persyaratan minimal jumlah jabatan, sertifikat kepelautan dan jumlah awak kapal bagian dek
dan bagian katering di kapal niaga yang belayar di daerah kawasan Indonesia (Near Coastal
Voyage /NCV) ditentukan sebagai berikut:

a. Untuk kapal dengan tonase kotor/GT di atas 3.000, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 7 (tujuh) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai dengan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan
serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai dengan yang tercantum pada sertifikat
pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang Mualim jaga (Watchkeeping officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai dengan yang tercantum
pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada
pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal
143 huruf c;

b. Untuk kapal dengan tonase kotor/GT 500 sampai dengan kurang dari GT 3.000, jumlah
awak kapal sekurang-kurangnya 6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat
sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai dengan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan
serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai dengan yang tercantum pada sertifikat
pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai dengan yang tercantum
pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada
pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal
143 huruf c;

c. Untuk kapal dengan tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang dari GT 500, jumlah
awak kapal sekurang-kurangnya 6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat
sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan
serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf b;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 300
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

d. Untuk kapal tonase kotor/ GT kurang dari 175, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 5
(lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai yang tercantum pada sertifikat pengukuhan
serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

Pasal 153
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian mesin di kapal niaga
yang berukuran tonase kotor/GT kurangdari 500, untuk daerah pelayaran kawasan Indonesia
(Near Coastal Voyage /NCV) ditentukan sebagai berikut :

a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 KW atau lebih, jumlah awak sekurang-
kurangnya kapal 6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c;

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, pada ruang mesin yang tidak
diawaki secara berkala (Periodically unattended machineri space) jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 301
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga kurang dari 3.000 kW, pada ruang mesin yang tidak diawaki
secara berkala (Periodically unattended machineri space) jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya kapal 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada sertifikat
pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144
huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

d. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 sampai dengan kurang dari 3.000 kW, jumlah
awak kapal sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat
sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf b
4) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

e. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 302
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Engineer sesuai yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c
Pasal 154
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian dek dan bagian
katering di kapal niagauntuk daerah pelayaran lokal (Local Voyage)ditentukan sebagai
berikut:
a. Untuk kapal tonase kotor/GT 3.000 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 10
(sepuluh) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat II Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat III Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat IV Nautikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 1 (satu) orang serang/bosun yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 143 huruf d;
5) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143huruf c;
6) 1 (satu) orang kelasi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf d;
7) 1 (satu) orang koki yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 9
huruf d;

b. Untuk kapal tonase kotor/GT1.500 sampai dengan kurang 3.000, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 9 (sembilan) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat III Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 303
3) 2 (dua) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jagadan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 1 (satu) orang serang yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf d;
5) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;
6) 1 (satu) orang koki yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf d.

c. Untuk kapal tonase kotor/GT 500 sampai dengan kurang 1.500 jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 7 (tujuh) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim - I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu)orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;
5) 1 (satu) orang koki yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf d.
d. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat IV Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim - I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c.
e. Untuk kapal tonase kotor/GT 35 sampai dengan kurang dari GT 175, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 304
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat V Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c.
f. Untuk kapal tonase kotor/GT7sampai dengan kurang dari GT 35, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat V Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c.
.
Pasal 155
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian mesin di kapal
niagauntuk daerah pelayaran lokal (Local Voyage)ditentukan sebagai berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, jumlah awak kapal bagian
mesin 6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1(satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat II Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat III Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai masinis - IIdan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat IV Teknikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala masinis jaga dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan
sertifikat sebagai berikut :
1. 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat III Teknikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 305
2. 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat III Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai masinis - II dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3. 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat V Teknikadan/atau memiliki
sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai masinis jagadan
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4. 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat IV Teknika dan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat IV Teknikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai masinis - II dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai masinis jaga dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c .

Pasal 156
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian dek dan bagian
katering di kapal niagauntuk daerah pelayaran pelayaran terbatas (Limited Voyage)ditentukan
sebagai berikut:
a. Untuk kapal tonase kotor / GT 3.000 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 7
(tujuh) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat III Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat IV Nautikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 306
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143huruf c;
5) 1 (satu) orang koki yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 9
huruf d.

b. Untuk kapal tonase kotor/GT1.500 sampai dengan kurang 3.000, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 6 (enam) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai berikut
:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat IVNautika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jagadan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c.

c. Untuk kapal tonase kotor/GT 500 sampai dengan kurang 1.500 jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim - I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu)orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c.

d. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut
:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat IV Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 307
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim - I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c.

e. Untuk kapal tonase kotor/GT 35 sampai dengan kurang dari GT 175, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat V Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

f. Untuk kapal tonase kotor/GT7sampai dengan kurang dari GT 35, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat V Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat V Nautikadan sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c.
Pasal 157
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian mesin di kapal
niagauntuk daerah pelayaran terbatas (Limited Voyage)ditentukan sebagai berikut:

a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, jumlah awak kapal bagian
mesin 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1(satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat IIITeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai masinis - IIdan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala masinis jaga dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf b;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 308
4) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3000 kW,
jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan
sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian
serendah-rendahnya pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai masinis - II dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut serendah-rendahnya tingkat IV Teknikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai masinis - II dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c .

Pasal 158
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian dek dan bagian
katering di kapal niagauntuk daerah pelayaran pelabuhan (Port Limited Voyage) ditentukan
sebagai berikut:
a. Untuk kapal tonase kotor / GT 3.000 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya
6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat III Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 309
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat IV Nautikadan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143huruf c;

b. Untuk kapal tonase kotor/GT1.500 sampai dengan kurang 3.000, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai
berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut serendah-
rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
serendah-rendahnya tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut serendah-rendahnya tingkat VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jagadan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

c. Untuk kapal tonase kotor/GT 500 sampai dengan kurang 1.500 jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim - I dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

d. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat IV
Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 310
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
V Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim - I dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

e. Untuk kapal tonase kotor/GT 35 sampai dengan kurang dari GT 175, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut:

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat V
Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
V Nautikadan sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

f. Untuk kapal tonase kotor/GT7sampai dengan kurang dari GT 35, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat V
Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
V Nautikadan sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

Pasal 159
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian mesin di kapal
niagauntuk daerah pelayaran pelabuhan (Port Limited Voyage)ditentukan sebagai berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3000 kW atau lebih, jumlah awak kapal bagian
mesin 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1(satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut tingkat IIITeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai masinis - IIdan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 311
b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan
sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat VTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai masinis - II dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai masinis - II dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c .

Pasal 160
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian dek dan bagian
katering di kapal niagauntuk daerah pelayaran perairan daratan (Sungai, Kanal dan Danau)
ditentukan sebagai berikut:

a. Untuk kapal tonase kotor / GT 3.000 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya
6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut tingkat IV Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143huruf c;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 312
b. Untuk kapal tonase kotor/GT1.500 sampai dengan kurang 3.000, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai
berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nakhoda serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim – I serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut tingkat VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim jagaserta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

c. Untuk kapal tonase kotor/GT 500 sampai dengan kurang 1.500 jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nakhoda serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim - I serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

d. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat V
Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
V Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim - I dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 313
f. Untuk kapal tonase kotor/GT 35 sampai dengan kurang dari GT 175, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat V
Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautika dan sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

g. Untuk kapal tonase kotor/GT7sampai dengan kurang dari GT 35, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat V
Nautika dan sertifikat pengukuhan, serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautika dan sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c;

Pasal 161
Persyaratan minimal jumlah awak kapal dan sertifikat kepelautan bagian mesin di kapal
niagauntuk daerah pelayaran perairan daratan (Sungai, Kanal dan Danau) ditentukan sebagai
berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, jumlah awak kapal bagian
mesin 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1(satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai masinis - IIdan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan
sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat VTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 314
jabatan sebagai masinis - II dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal sekurang-
kurangnya 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai masinis - II dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

Pasal 162
Untuk kapal Gross Tonnage / GT kurang 7, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 2 (dua)
orang yang telah mendapatkan surta keterangan pemimpin kapal yang di keluarkan oleh
syahbandar atau instansi yang berwenang.

Pasal 163
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian dek
dan katering di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug
Boat) untuk daerah pelayaran semua lautan (Unrestricted Voyage/URV) sebagai berikut:

a. Untuk kapal tonase kotor /GT 500 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 6
(enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143
huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud pada pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal
143 huruf c dan 1 (satu) orang diantaranya merangkap koki;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 315
b. Untuk kapal tonase kotor/GT175 sampai dengankurang dari 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut:
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal 143
huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud pada pasal 143 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal
143 huruf c, 1 (satu) orang diantara juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai
koki.

c. Untuk kapal tonase kotor/GT kurang dari 175, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 5
(lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

Pasal 164
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian
mesin di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug Boat)
untuk daerah pelayaran semua lautan (Unrestricted Voyage/URV)sebagai berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, jumlah awak kapal 5 (lima)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat pelaut
dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai jabatan dan pembatasan yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 316
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second engineer Officer) yang memiliki sertifikat pelaut
dan pengukuhan sebagai Second Engineer Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai
jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai jabatan dan
pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
dan pengukuhan sebagai Second Engineer Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal 3 (tiga)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai jabatan dan
pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Engineer Officer sesuai jabatan dan
pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 144 huruf c.

Pasal 165
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian dek
dan katering di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug
Boat) untuk daerah pelayaran kawasan Indonesia (Near Coastal Voyage/NCV) sebagai
berikut:
a. Untuk kapal tonase kotor GT 500 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 6
(enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 317
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut dan pengukuhan
sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat
pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

b. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang dari 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut dan pengukuhan
sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat
pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

c. Untuk kapal tonase kotor/GT kurang dari 175, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 4
(lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1(satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

Pasal 166
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian
mesin di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug Boat)
untuk daerah pelayaran kawasan Indonesia (Near Coastal Voyage/NCV) sebagai berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3000 kW atau lebih, jumlah awak kapal 5 (lima)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 318
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat pelaut
dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai jabatan dan pembatasan yang
tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second engineer Officer) yang memiliki sertifikat pelaut
dan pengukuhan sebagai Second Engineer Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer sesuai
jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai jabatan dan
pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
dan pengukuhan sebagai Second Engineer Officer sesuai jabatan dan pembatasan
yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144huruf c.
c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal 3 (tiga)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer sesuai jabatan dan
pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut dan pengukuhan sebagai Second Engineer Officer sesuai jabatan dan
pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 144 huruf c.

Pasal 167
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian dek
dan katering di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug
Boat) untuk daerah pelayaran lokal (local Voyage) sebagai berikut:
a. Untuk kapal tonase kotor GT 500 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 6
(enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 319
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut memiliki
sertifikat keahlian pelaut tingkat III (ANT III) dan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut memiliki
sertifikat keahlian pelaut tingkat IV (ANT IV) dan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat IV (ANT IV) dan/atau memiliki
sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, 1 (satu) orang diantara juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai
koki.

b. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang dari 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat IV
(ANT IV) dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut tingkat V (ANT
V) dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai
mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

c. Untuk kapal tonase kotor/GT kurang dari 175, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 4
(empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

Pasal 168
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian
mesin di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug Boat)
untuk daerah pelayaran pelayaran lokal (Local Voyage) sebagai berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, jumlah awak kapal 6 (enam)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 320
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat IIITeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second engineer Officer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat VTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 3 (tiga) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal 3 (tiga)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat VTeknikadan memiliki sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat V Teknikadan memiliki sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144huruf c
Pasal 169
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian dek
dan katering di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug
Boat) untuk daerah pelayaran terbatas (Limited Voyage)sebagai berikut:
a. Untuk kapal tonase kotor GT 500 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 5
(lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 321
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut memiliki
sertifikat keahlian pelaut tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut memiliki
sertifikat keahlian pelaut tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

b. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang dari 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut tingkat V
Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

c. Untuk kapal tonase kotor/GT kurang dari 175, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 4
(empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat V
(ANT V) dan memiliki sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
V (ANT V) dan memiliki sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.
4)
Pasal 170
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian
mesin di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug Boat)
untuk daerah pelayaran pelayaran terbatas(LimitedVoyage) sebagai berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, jumlah awak kapal 4 (empat)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 322
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second engineer Officer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 jumlah awak kapal 2 (dua) orang
dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat VTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a.
Pasal 171
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian dek
dan katering di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug
Boat) untuk daerah pelayaran pelabuhan (Port Limited Voyage) dan perairan daratan (land
territorial waterVoyage) sebagai berikut:

a. Untuk kapal tonase kotor GT 500 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 4
(empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut memiliki
sertifikat keahlian pelaut tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai nakhoda dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 143 huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut memiliki
sertifikat keahlian pelaut tingkat IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan
yang memperbolehkan jabatan sebagai mualim – I dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 143 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 323
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

b. Untuk kapal tonase kotor/GT 175 sampai dengan kurang dari 500, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nahkoda dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut tingkat V
Nautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 143huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

c. Untuk kapal tonase kotor/GT kurang dari 175, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 3
(tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai nahkoda dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 143
huruf a;
3) 1 (satu) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
143 huruf c, di mana juru mudi atau oiler dapat merangkap sebagai koki.

Pasal 172
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan untuk bagian
mesin di kapal niaga untuk jenis kapal, Anchor-Handling Tug Supply dan tunda (Tug Boat)
untuk daerah pelayaran pelayaran pelabuhan (Port Limited Voyage) danperairan daratan (land
territorial waterVoyage) sebagai berikut:

a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, jumlah awak kapal 4 (empat)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second engineer Officer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai masinis jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 324
3) 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai masinis jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal 2 (dua)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin dan memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat V Teknikadan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan
jabatan sebagai masinis jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 144 huruf a.

Pasal 173
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan bagian dek dan
katering di kapal niaga jenis tongkang, kapal penampung (floating storage), Mobile Offshore
Drilling Unit (MODU), dan kapal - kapal lainnya yang dilengkapi dengan akomondasi tetapi
tidak dilengkapi mesin penggerak utama (Main Engine) dan atau dilengkapi mesin penggerak
utama (main engine), tetapi mesin tersebut tidak difungsikan sebagai mesin penggerak utama,
adalah sebagai berikut:

a. Untuk kapal tonase kotor / GT10.000 atau lebih, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya
5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat II
Nautikadan memiliki sertifikat pengukuhan;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
III Nautika dan memiliki sertifikat pengukuhan;
3) 3 (tiga) orang rating dek yang memiliki sertifikat keterampilan pelaut.

b. Untuk kapal tonase kotor/GT3.000 sampai dengan kurang 10.000, jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat III
Nautikadan memiliki sertifikat pengukuhan;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 325
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan memiliki sertifikat pengukuhan;
3) 3 (tiga) orang rating dek yang memiliki sertifikat keterampilan pelaut.
c. Untuk kapal tonase kotor/GT1.500 sampai dengan kurang 3.000 jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah, jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan memiliki sertifikat pengukuhan;
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
VNautikadan memiliki sertifikat pengukuhan;
3) 3 (tiga) orang rating dek yang memiliki sertifikat keterampilan pelaut.

d. Untuk kapal tonase kotor/GT kurang 1.500, jumlah awak kapal sekurang-kurangnya 4
(empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat V
Nautikadan memiliki sertifikat pengukuhan.
2) 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
V Nautikadan memiliki sertifikat pengukuhan.
3) 2 (dua) orang rating dek yang memiliki sertifikat keterampilan.

Pasal 174
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan bagian mesin di
kapal niaga jenis tongkang, kapal penampung (floating storage), Mobile Offshore Drilling
Unit (MODU), dan kapal - kapal lainnya yang dilengkapi dengan akomondasi tetapi tidak
dilengkapi mesin penggerak utama (Main Engine) dan atau dilengkapi mesin penggerak
utama (main engine), tetapi mesin tersebut tidak difungsikan sebagai mesin penggerak utama,
adalah sebagai berikut:

a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak atau tenaga pembangkit listrik 3.000 kW atau
lebih, jumlah awak kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat IVTeknikadan memiliki sertifikat pengukuhan.
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second engineer Officer) yang memiliki sertifikat pelaut
tingkat VTeknikadan memiliki sertifikat pengukuhan.
3) 2 (dua) orang rating mesin yang memiliki sertifikat keterampilan pelaut.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak atuatenaga pembangkit listrik 750 kW sampai
dengan kurang dari 3.000 kW, jumlah awak kapal 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan
dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat VTeknikadan memiliki sertifikat pengukuhan.
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut
tingkat V Teknikadan memiliki sertifikat pengukuhan.
3) 1 (satu) orang rating mesin yang memiliki sertifikat keterampilan pelaut.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak atau tenaga pembangkit listrik kurang dari 750
kW, jumlah awak kapal 2 (dua) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 326
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IVTeknikadan memiliki sertifikat pengukuhan.
2) 1 (satu) orang rating mesin yang memiliki sertifikat keterampilan pelaut.
Pasal 175
Persyaratan minimal jumlah awak kapal, jabatan, dan sertifikat kepelautan bagian mesin
untuk semua jenis kapal yang berlayar didaerah pelayaran, lokal, terbatas, pelabuhan dan
daratan, yang tidak diawaki secara berkala (Periodically unattended machineri space) adalah
sebagai berikut:
a. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 3.000 kW atau lebih, pada ruang mesin yang tidak
diawaki secara berkala (Periodically unattended machineri space) jumlah awak kapal
sekurang-kurangnya kapal 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat II Teknika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
keahlian pelaut tingkat III Teknika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai Masinis - II serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut keahlian pelaut tingkat IV Teknika dan/atau memiliki sertifikat
pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai masinis jaga serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf b;
4) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

b. Untuk kapal dengan tenaga penggerak 750 kW sampai dengan kurang dari 3.000 kW,
jumlah awak kapal 3 (tiga) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IV Teknika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai Masinis - II serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat keahlian
pelaut tingkat IV Teknika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai masinis jaga serta memiliki sertifikat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c.

c. Untuk kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 750 kW, jumlah awak kapal 2 (dua)
orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IV Teknika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai kepala kamar mesin serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud dalam pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 144 huruf c

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 327
DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 328
Persyaratan Minimal Kapal lay up
Pasal 176
Persyaratan minimal jumlah jabatan, sertifikat kepelautan dan jumlah awak kapal bagian dek
kapal lay upuntuk semua jenis dan ukuran kapal ditentukan sebagai berikut :
a. Untuk bagian dek jumlah awak kapal sekurang - kurangnya 4 (empat) orang dengan
jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut tingkat
IVNautikadan memiliki sertifikat pengukuhan;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat pelaut tingkat V
Nautika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan
sebagai mualim jaga dan memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud pada pasal
143 huruf a;
3) 2 (dua) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana sertifikat dan/atau
memiliki sertifikat pengukuhan yang memperbolehkan jabatan sebagai juru mudi.

b. Untuk bagian mesinjumlah awak kapal sekurang - kurangnya 3 (tiga) orang dengan
jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :
1) 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IV Teknika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai Masinis - II serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud pada pasal 144 huruf a;
2) 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut tingkat IV Teknika dan/atau memiliki sertifikat pengukuhan yang
memperbolehkan jabatan sebagai masinis jaga serta memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud pada pasal 144 huruf a;
3) 1 (satu) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
pada pasal 144 huruf c.

SUSUNAN, STANDAR DAN PERSYARATAN


PENGAWAKAN KAPAL LAYAR MOTOR (KLM)

Pasal 177
1) Pengawakan kapal layar motor terdiri dari :
a) Seorang pemimpin kapal;
b) Sejumlah Mualim;
c) Sejumlah rating.

2) Pengawakan kapal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), didasarkan pada :


a). Ukuran gross tonnage/GT Kapal;
b). Ukuran tenaga penggerak kapal (kilowatt/kW);
c). Daerah Pelayaran.

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 329
Pasal 178
1) Daerah Pelayaran terdiri dari :
a) Daerah pelayaran lokal;
b) Daerah pelayaran terbatas;
c) Daerah pelayaran perairan daratan dan danau.

2) Ukuran tonase kotor kapal (gross tonnage/GT):


a) Kapal tonase kotor GT sama dengan atau lebih dari 315sampai denganGT 500 ;
b) Kapal tonase kotor GT sama dengan atau lebih dari 200sampai dengan kurang dari
GT 315;
c) Kapal tonase kotor GT sama dengan atau lebih dari 100sampai dengan kurang dari
GT 200;
d) Kapal tonase kotor GT sama dengan atau lebih dari 25sampai dengan kurang dari GT
100;
e) Kapal tonase kotor kurang dari GT 25.

3) Ukuran tenaga penggerak kapal (kiloWatt/kW):


a) Kapal dengan tenaga penggerak 400kW sampai dengan535 kW;
b) Kapal dengan tenaga penggerak 275 kW sampai dengan kurang dari 400 kW;
c) Kapal dengan tenaga penggerak kurang dari 275kW.

Pasal 179

Dokumen pelayaran rakyatterdiri dari :


a) Sertifikat kecakapan pelayaran rakyat dari jenjang terendah sampai tertinggi terdiri
dari :
1) Surat Keterangan Kecakapan;
2) Sertifikat/SuratKecakapan Mualim Pelayaran Rakyat tingkat II ( MPR II);
3) Sertifikat/SuratKecakapan Mualim Pelayaran Rakyat tingkat I (MPR I);
4) Sertifikat/Surat Juru Motor Pelayaran Rakyat tingkat II (JMPR II);
5) Sertifikat/Surat Juru Motor Pelayaran Rakyat tingkat I (JMPR I);
6) Sertifikat/Surat keterampilan dasar keselamatan (Basic Safety Training).

b) Buku Pelaut.

PERSYARATAN JUMLAH JABATAN, SERTIFIKAT KEPELAUTAN


DAN JUMLAH AWAK KAPAL LAYAR MOTOR

Pasal 180

Persyaratan minimal jumlah jabatan, sertifikat kepelautan dan jumlah awak kapal bagian
dek di kapal niagauntuk jenis kapal layar motor, untuk daerah pelayaran lokal, terbatas
dan sungai/danauditentukan sebagai berikut :

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 330
a. Untuk kapal tonase kotor GT sama dengan atau lebih dari 315sampai denganGT 500,
jumlah awak kapal sekurang - kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan
sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master)/pemimpin kapal yang memiliki sertifikat/surat


kecakapan mualim pelayaran rakyat tingkat I (MPR I) dan memiliki
sertifikat/surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian sertifikat
Sertifikat/Surat kecakapan mualim pelayaran rakyat tingkat I (MPR I) dan
memiliki sertifikat/Surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
3) 1 (satu) orang kepala kamar mesin (Chief Engineer) yang memiliki
Sertifikat/Surat Juru motor pelayaran rakyat tingkat I (JMPR I) dan memiliki
sertifikat/Surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
4) 1 (satu) orang masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
Sertifikat/Surat Juru motor pelayaran rakyat tingkat II (JMPR II) dan memiliki
sertifikat/surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;

b. Untuk kapal tonase kotor GT sama dengan atau lebih dari 200sampai dengan kurang
dari GT 315, jumlah awak kapal sekurang - kurangnya 4 (empat) orang dengan
jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master)/pemimpin kapal yang memiliki sertifikat/surat


kecakapan mualim pelayaran rakyat tingkat I (MPR I) dan memiliki
sertifikat/surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
2) 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian sertifikat
Sertifikat/Surat kecakapan mualim pelayaran rakyat tingkat II (MPR II) dan
memiliki sertifikat/Surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
3) 1 (satu) orang kepala kamar mesin (Chief Engineer) yang memiliki
Sertifikat/Surat Juru motor pelayaran rakyat tingkat I (JMPR I) dan memiliki
sertifikat/Surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
4) 1 (satu) orang masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
Sertifikat/Surat Juru motor pelayaran rakyat tingkat II (JMPR II) dan memiliki
sertifikat/surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;

c. Untuk kapal tonase kotor kurang dari GT sama dengan atau lebih dari 100sampai
dengan kurang dari GT 200, jumlah awak kapal sekurang - kurangnya 2 (dua) orang
dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master)/pemimpin kapal yang memiliki sertifikat/surat


kecakapan mualim pelayaran rakyat tingkat II (MPR II) dan memiliki
sertifikat/surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
2) 1 (satu) orang kepala kamar mesin (Chief Engineer) yang memiliki
Sertifikat/Surat Juru motor pelayaran rakyat tingkat II (JMPR II) dan memiliki
sertifikat/Surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 331
d. Untuk kapal tonase kotor kurang dari Kapal tonase kotor GT sama dengan atau lebih
dari 25sampai dengan kurang dari GT 100, jumlah awak kapal sekurang - kurangnya
2 (dua) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master)/pemimpin kapal yang memiliki sertifikat/surat


kecakapan mualim pelayaran rakyat tingkat II (MPR II) dan memiliki
sertifikat/surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
2) 1 (satu) orang kepala kamar mesin (Chief Engineer) yang memiliki
Sertifikat/Surat Juru motor pelayaran rakyat tingkat II (JMPR II) dan memiliki
sertifikat/Surat sebagaimana dimaksud pada pasal 172;
e. Untuk kapal tonase kotor kurang dari Kapal tonase kotor kurang dari GT 25, jumlah
awak kapal sekurang - kurangnya 2 (dua) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat
sebagai berikut :

1) 1 (satu) orang Nakhoda (Master)/pemimpin kapal yang memiliki Surat


Keterangan Kecakapan dan memiliki sertifikat/surat sebagaimana dimaksud pada
pasal 172;
2) 1 (satu) orang kepala kamar mesin (Chief Engineer) yang memiliki Surat
Keterangan Kecakapan, sertifikat keterampilan dasar keselamatan (Basic Safety
Training) dan buku pelaut.

PERSYARATAN JUMLAH JABATAN, SERTIFIKAT KEPELAUTAN


DAN JUMLAH AWAK KAPAL IKAN

Pasal 181
Jenis sertifikat Kepelautan
(1) Sertifikat keahlian pelaut kapal penangkap ikan dari jenjang terendah sampai tertinggi
terdiri dari :
a. Sertifikat Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan Tingkat III (ANKAPIN III);
b. Sertifikat Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan Tingkat II (ANKAPIN II);
c. Sertifikat Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan Tingkat I (ANKAPIN I);
d. Sertifikat Ahli Teknika Kapal Penangkap Ikan Tingkat III (ATKAPIN III);
e. Sertifikat Ahli Teknika Kapal Penangkap Ikan Tingkat II (ATKAPIN II);
f. Sertifikat Ahli Teknika Kapal Penangkap Ikan Tingkat I (ATKAPIN I).
g. Sertifikat Rating Kapal Penangkap Ikan;
(2) Sertifikat Keterampilan pelaut kapal penangkap ikan terdiri dari :
a. Sertifikat Keselamatan Dasar Awak Kapal Penangkap Ikan (Basic Safety
Trainingfor all Fishing Vessel Personnel / BST-F Certificate) atau Basic Safety
Training;
b. Sertifikat Lanjutan Penanggulangan Kebakaran (Advanced Fire Fighting
Certifikate)
c. Sertifikat Pertolongan Medis Darurat (Medical Emergency First Aid Certificate)
d. Sertifikat Perawatan Medis di atas Kapal (Medical Care on Board Certificate)

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 332
e. Sertifikat Simulator Radar (Radar Simulator Certificate);
f. Automatic Radar Plotting Aids (ARPA) Simulator;
g. Sertifikat Operator Radio Umum untuk GMDSS (General Radio Operator
Certificate/GOC for the GMDSS);
h. Sertifikat Radio Terbatas untuk GMDSS (Restricted Radio Operator
Certificate/ROC for the GMDSS);
i. Sertifikat keterampilan penggunaan sekoci penyelamat dan sekoci penolong
(Survival craft and resque boats);
j. Sertifikat Perwira Keamanan Kapal (Ship Security Officer Certificate).

Pasal 182
PENGAWAKAN KAPAL PENANGKAP IKAN

Persyaratan minimal jumlah jabatan, sertifikat kepelautan dan jumlah awak kapal bagian dek
dan pelayanan di kapal ikan untuk jenis kapal penangkap ikan dan Kapal penampung, untuk
daerah pelayaran semua lautan (Unrestrected Voyage/URV) ditentukan sebagai berikut :

(1) Untuk kapal tonase kotor (GT)sama dengan dan lebih besar dari 68atau panjang kapal 24
atau lebih, jumlah awak kapal sekurang - kurangnya 12 (dua belas) orang dengan jumlah
jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

a. 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;
b. 1 (satu) orang Mualim I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum
pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;
c. 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer
sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
d. 4 (empat) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;
e. 3 (tiga) orang kelasi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
32 huruf e;
f. 1 (satu) orang koki yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;
g. 1 (satu) orang pelayan yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 333
(2) Untuk Kapal tonase kotor (GT) 34 sampai dengan kurang dari 68 atau panjang kapal 12
sampai dengan kurang dari 24 meter, jumlah awak kapal sekurang - kurangnya 11
(sebelas) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut:

a. 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;
b. 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum
pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;
c. 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer
sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
d. 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;
e. 1 (satu) orang kelasi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;
f. 1 (satu) orang koki yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;
g. 1 (satu) orang pelayan yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;

(3) Untuk Kapal tonase kotor (GT) kurang dari 34 atau panjang kapal kurang dari 12 meter,
jumlah awak kapal sekurang -kurangnya 10 (sepuluh) orang dengan jumlah jabatan dan
sertifikat sebagai berikut:

a. 1 (satu) orang Nakhoda (Master) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Master sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada
sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;
b. 1 (satu) orang Muliam I (Chief Mate) yang memiliki sertifikat keahlian pelaut dan
pengukuhan sebagai Chief Mate sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum
pada sertifikat pengukuhan serta memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;
c. 1 (satu) orang Mualim jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer
sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
d. 3 (tiga) orang juru mudi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174;
e. 1 (satu) orang kelasi yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;
f. 1 (satu) orang koki yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal
174;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 334
g. 1 (satu) orang pelayan yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam
pasal 174.

Pasal 183
Persyaratan minimal jumlah jabatan, sertifikat kepelautan dan jumlah awak kapal bagian
mesin di kapal niaga untuk jenis kapal, penangkap ikan dan penampung, untuk daerah
pelayaran semua lautan (Unrestrected Voyage/URV); ditentukan sebagai berikut :

(1) Untuk Kapal dengan tenaga penggerak (kW)300 atau lebih, jumlah awak sekurang -
kurangnya kapal 6 (enam) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai berikut :

a. 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer Officer sesuai
jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
b. 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai jabatan
dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
c. 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer
sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
d. 3 (tiga) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 174;

(2) Untuk Kapal dengan tenaga penggerak (kW) 100 sampai dengan kurang dari 300, jumlah
awak kapal sekurang - kurangnya 5 (lima) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat
sebagai berikut :
a. 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer Officer sesuai
jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
b. 1 (satu) orang Masinis II (Second Engineer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Second EngineerOfficer sesuai jabatan
dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
c. 1 (satu) orang Masinis jaga (Watchkeeping Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Watchkeeping Engineer Officer
sesuai jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
d. 2 (dua) orang juru minyak (Oiler) yang memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 174;

DITKAPEL – HUBLA
EDISI I* – FEBRUARI 2012
Page 335
(3) Untuk Kapal dengan tenaga penggerak (kW)kurang dari 100, jumlah awak kapal
sekurang - kurangnya 4 (empat) orang dengan jumlah jabatan dan sertifikat sebagai
berikut :

a. 1 (satu) orang Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer Officer) yang memiliki
sertifikat keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Chief Engineer Officer sesuai
jabatan dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta
memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam pasal 174;
b. 1 (satu) orang Masinis II (Second Enginer Officer) yang memiliki sertifikat
keahlian pelaut dan pengukuhan sebagai Second Enginer Officer sesuai jabatan
dan pembatasan yang tercantum pada sertifikat pengukuhan serta memilik