Anda di halaman 1dari 22

mayoritas menyangkut asasi manusia dan kebersamaan dalam persatuan

bangsa.
3. Sila Keempat, pelaksanaan politik praktis berkaitan dengan kekuasaan
eksekutif, legislatif dan yudikatif dalam proses pengambilan keputusan,
melaksanakan pengawasan serta partisipasi rakyat yang didasarkan pada
legitimasi demokrasi.
4. Sila Kelima, setiap individu ikut serta secara nyata dalam mewujudkan
keadilan sosial, dengan dukungan legitimasi hukum demokrasi dan juga
legistimasi moral.

Prinsip-prinsip dasar etika politik negara tidak boleh bertentangan dengan nilai-
nilai dari sila-sila Pancasila, yang didasarkan kepada legistimasi hukum dan juga
legistimasi moral.

4. Pancasila sebagai Nilai Fundamental Negara


Nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 secara
yuridis memiliki kedudukan sebagai Pokok Kaidah Negara yang fundamental.
Pembukaan UUD 1945 memuat nilai-nilai Pancasila mengandung empat pokok
pikiran, bilamana dianalisi makna yang terkandung di dalamnya tiada lain
merupakan derivasi atau penjabaran dai nilai-nilai Pancasila yakni:

Pokok pikiran pertama, menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara


persatuan, yaitu negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia, mengatasi segala pahan golongan maupun perorangan.
Pokok pikiran kedua, menyatakan bahwa negara hendak mewujudkan suatu
keadilan sosial bagi seluruh rakyat indoneisa, dan dalam hal ini negara
berkewajiban mewujudakan kesejahteraan umum bagi seluruh warga negara,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan perdamain abadi dan keadilan social.
Pokok pikiran ketiga, menyatakan bahwa negara berdaulatan rakyat, hal ini, ini
menunjukan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi dengan kedaulatan ditangan
rakyat.
Pokok pikiran keempat, menyatakan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan
Yang Maha Esa menurut dasar kemanusian yang adil dan beradab, yang
mengandung arti bahwa negara Indonesia menjunjung tinggi keberadaban semua
agama dalam pergaulan hidup negara.

Dalam keempat pokok pikiran tersebut dapat disimpulkan bahwa pokok -


pokok pikiran tersebut merupakan perwujudan dari sila-sila Pancasila dan sebagai
dasar fundamental dalam pendirian negara. Nilai-nilai dari sila-sila Pancasila
tersebut yang diwujudkan dalam empat pokok-pokok pikiran tersebut dijabarkan
dalam pasl-pasal isi abating tubuh UUD 1945. Pancasila dalam kedudukan sebagai
dasar filsafat negara (Philosofisch gronslag) dari negara, merupakan suatu dasar
nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan negara. Konsekwensinya seluruh
pelaksanaan dan penyelengaraan negara terutama segala peraturan perundang-
undangan termasuk proses reformasi dalam segala bidang, dijabarkan dan
diderivasikan dari nilai-nilai Pancasila.
Sebagai dasar negara, Pancasila merupak suatu asas kerohanian yang
meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan sumber nilai,
norma serta kaidah, baik moral maupun hukum negara, dan menguasai hukum dasar
baik yang tertulis atau UUD maupun tidak tertulis atau konvensi, yang mengikat
secara hukum. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara tersebut dapat dirinci
sebagai berikut (Kaelan, 2003) :
1. Pancasila sebagai dasar negara adalah merupakan sumber dari segala
sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia.
2. Meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945.
3. Mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara baik hukum tertulis
maupun hukum tidak tertulis.
4. Mengandung norma yang mengharuskan UUD mengandung isi yang
mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara memegang
teguh cita-cita miral rakyat.
5. Merupakan sumber semangat bagi UUD 1945, bagi penyelengara negara
dan para pelaksana pemerintahan.

Dasar formal kedudukan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia


tersimpulkan dalm pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yang berbunyi sebagi
berikut ; ”…..maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Undang – Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan
kepada: ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab,
persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan – perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ”. Pengertian kata ”….dengan berdasarkan
kepada….”. hal ini secara yuridis memiliki makna sebagai dasar negara adalah
Pancasila.

Bedasarkan proses asal mula terwujudnya Pancasila dapt dibedakan atas dua
macam yaitu: asal mula yang langsung dan asal mula yang tidak langsung. Menurut
Notonagoro (1985) asal mula langsung secara ilmiah filsafati dibedakan atas empat
macam yaitu: Kausa Materialis, Kausa Formali, Kausa Effisien, dan Kausa Finalis.
Asal mula Kausa Meterialis, adalah bahwa asal mula dari nilai-nilai Pancasila digali
dari bangsa Indonesia sendiri yang terdapat dalam kepribadia dan pandangan hidup
bangsa. Asal mula Kausa Formalis, adalah asal mula bentuk atau bagaimana bentuk
Pancasila itu dirumuskan seperti termuat dalam pembukaan UUD 1945. Asal mula
Kausa Effisiensi, adalah asal mula karya yang menjadikan Pancasila sebagai dasar
negara yang sah, setelah dilakukan pembahasan dalam siding-sidang BPUPKI dan
PPKI. Asal mula Kausa Finalis, adalah bahwa perumusan Pancasila bertujuan
untuk dijadikan sebagai dasar negara. Asal mula tidak langsung Pancasila yakni
secara kausalitas adalah asal mula jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, yang
mengakar dalam kepribadian dan kebudayaan Indonesia.

C. Pancasila dalam Konstitusi Negara

Pancasila yang termuat dalam pembukaan UUD 1945, sejak disahkan oleh
PPKI tanggal 18 Agustus 1945 secara konstitusional menjadi ideologi nasional
yang mengikat seluruh bangsa Indonesia. Unsur-unsur Pancasila yang diangkat dan
dirumuskan oleh para pendiri negara, pada hakekatnya mempunyai kedudukan dan
fungsi sebagai suatu ideologi bangsa, pandangan hidup bangsa, dan dasar negara
Indonesia untuk menuju cita-cita luhurnya yakni membangun msyarakat adil dan
makmur.
1. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Istilah ideologi berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata eidos
dan logos. Kata eidos mempunyai arti bentuk dan kata logos yang berarti ilmu. Kata
idea (Inggris) mempunyai arti gagasan, konsep, pengertian dasar, dan cita-cita.
Maka arti ideologi secara harfiah berarti ilmu pengertian-pengertian dasar. Menurut
Pranaka, (1987), apabila ditelusuri secara histori istilah ideologi pertama kali
dipakai dan dikemukakan oleh seorang Perancis, Destuut de Tracy pada tahun 1796
yang menyebutkan ideologie sebagai science of ideas, suatu program yang
diharapkan dapat membawa perubahan institusional dalam masyarakat Perancis.
Ideologi sebagai rangkain kesatuan cita-cita yang mendasarkan dan menyeluruh
yang jalin-menjalin menjadi satu sistem pemikiran yang logis dan bersumber kepda
filsafat, juga merupakan konsep operasionalisasi dari suatu pandangan atau filsafah
hidup dan merupakan norma ideal yang melandasi ideologi.

Pancasila sebagai ideologi terbuka tidak hanya dapat dibenarkan,


melainkan dibutuhkan sebagai milik seluruh rakyat dan masyarakat dalam
menemukan didrinya (kepribadian) di dalam ideologi tersebut. Menurut Magis
Suseno (1987), ideologi terbuka mempunyai isi yang tidak operasional, ia baru
menjadi operasional apabila sudah dijabarkan ke dalam perangkat yang berupa
konstitusi atau peraturan perundang-undangan lainnya. Oleh kareana itu setiap
generasi dapat menggali kembali filsafah negara itu untuk menentukan apa
implikasinya bagi situasi atau jaman masing-masing.

Ideologi Pancasila juga bersifat reformatif, dan dinamis yakni dapat


senantiasa menyesuaikan dengan perkembangan jaman secara actual, dan
antisipatif. Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti mengubah nila-nilai dasar
yang terkandung di dalamnya, namun mengeksplisitkan wawasan secra lebih
konkrit, sehingga memiliki kemampuan yang reformatif untuk memecahkan
masalah-masalah actual yang senantiasa berkembang airing dengan aspirasi rakyat,
perkembangan IPTEKS serta jaman. Eksploitasi dilakukan dengan menghadapkan
pada berbagai masalah yang selalu silih berganti melalui refleksi yang rasional
sehingga terungkap makna oprasionalnya. Ideologi Pancasila sebagai ideologi
terbuka meliputi.
1. Nilai dasar, yaitu kelima sila-sila yang tercantum dalam Pancasila terdapat
pada pembukaan UUD 1945.
2. Nilai Instrumental, yaitu merupakan arahan, kebijakan , strategi, sasaran
serta Lembaga pelaksanaanya, yang merupakan eksplitasasi penjabaran
lebih lanjut dari nilai-nilai dasar ideologi Pancasila.
3. Nilai Praktis, yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu
realisasi pengalaman yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam realisasi praktis inilah
maka penjabaran nila-nilai Pancasila senantiasa berkembang dinamis dan
selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan sesuia dengan
perkembangan jaman, IPTEKS serta aspirasi masyarakat.

Ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka secara struktual memiliki tiga


dimesi yaitu: dimensi idealis, dimensi normative dan dimensi realitis. Kadar
idealisme yang terkandung dalam Pancasila mampu memberikan harapan,
optimisme serta mampu mengugah motivasi para pendukungnya untuk berupaya
mewujudkan apa yang dicita-citakan. Dimensi realistis dari ideologi Pancasila
harus mampu mencerminkan realitas hidup dan berkembang dalam masyarakat
berdasarkan nila-nilai ideal dan normatif serta mampu dijabarkan dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam penyelenggaraan negara. Ideologi Pancasila tidak
bersifat utopis, yaitu hanya merupakan sistem ideolgi belaka yang jauh dari
kehidupan sehari-hari secara nyata, dan juga bukan merupakan suatu doktrin belaka
yang bersifat tertutup yang merukapan norma-norma yang beku (Kaelan, 2003).

2. Pancasila Sebagai Pandangan Hiup Bangsa


Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dalam
perjuangan untuk mencapai kehidupan yang lebih sempurna, senantiasa
memerlukan nilai-nilai luhur yang dijunjungnya sebagai suatu pandangan hidup.
Nilai-nilai luhur adalah merupakan suatu tolak ukur kebaikan yang berkenaan
dengan hal-hal yang bersifat mendasar dan abadi dalam hidup manusia seperti cita-
cita yang hemdak dicapainya. Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangkaian
nilai-nilai luhur tersebut adalah suatu wawasan yang menyeluruh terhadap
kehidupan itu sendiri. Pandangan hidup berfungsi sebagai kerangka acuan, baik
untuk menata kehidupan diri pribadi maupun dalam interaksi antar manusia dalam
bermasyarakat serta alam sekitarnya.
Dalam proses penjabaran kehidupan modern antara pandangan hidup
masyarakat dengan pandangan hidup bangsa memiliki hubungan yang bersifat
timbal balik. Pandangan hidup bangsa diproyeksikan kembali kepada pandangan
hidup masyarakat serta cerminan dalam sikap hidup pribado warganya. Dengan
demikian dalam negara Pancasila pandangan hidup masyarakat tercermin dalam
kehidupan negara yaitu Pemerintah dan lain-lain penyelanggara negara untuk
memilihara budi pekerti kemanusian yang luhur dan memegang teguh cita-cita
moral rakyat yang luhur (Darmodiharjo, 1996). Dengan suatu pandangan hidup
yang jelas maka bangsa Indonesia akan memiliki pegangan dan pedoman
bagaimana mengenal dan memecahkan berbagai masalah politik, sosial budaya,
ekonomi, hukum, pertahanan keamanan dan persoalan lainnya dalam gerak
masyarakat yang semakin modern.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa tersebut terkandung di dalam
konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan, terkandung dasar pikiran
terdalam dan gagasan mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik. Oleh karena
itu Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan kristalisasi dari nilai-nilai
yang hidup dalam masyarakat Indonesia, maka pandangan hidup tersebut dijunjung
tinggi oleh warganya karena pandangan hidup Pancasila berakar pada budaya dan
pandangan hidup masyarakat. Dengan demikian pandangan hidup Pancasila bagi
bangsa Indonesia yang pluralistik harus merupakan asas pemersatu bangsa sehingga
tidak boleh mematikan keanekaragaman.

3. Pancasila diantara Ideologi Besar di Dunia


Bangsa Indonesia terbentuk melalui suatu proses sejarah yang Panjang, dan
terbentuk sebagai majemuk dalam keragaman budaya dan agama serta berkembang
dalam suatu kebersamaan, persatuan dan kesatuan berdasarkan unsur-unsur:
kesatuan sejarah, keasatuan nasib, kesatuan kebudayaan, kesatuan wilayah dan
kesatuan asas kerohanian. Bangsa Indonesia dengan keragamannya membentuk
suatu kesatuan integral dengan paham intergralistik dan negara kebangsaan di
tengah-tengah perkembangan ideologi lain di dunia seperti ideologi liberalism,
sosialis komunis dan lain-lain dengan nilai-nilai yang berbeda dengan ideologi
Pancasila.

1. Paham negara integralistik


Paham negara intergralistik yang disampaikan Soepomo dalam sidaang
BPUPKI, memberikan suatu prinsip bahwa negara adalah sauatu kesatuan integral
dari unsur-unsur yang menyususn, negara mengatasi semua golongan dan bagian-
bagian yang membentuk negara, negara tidak memihak pada suatu golongan
maupun golongan tersebut sebagai golongan terbesar. Paham integralistik
menggambarkan suatu masyarakat sebagai susunan kesatuan organis yang integral
dari setiap anggota, bagian, lapisan, kelompok, golongan tang ada didalamnya.
Eksitensi setiap unsur hanya berarti dalam hubungannya dengan keseluruhan, setiap
anggota, bagian, lapisan, kelompok dan anggota dalam masyarakat itu memiliki
tempat, fungsi dan kedudukan masing-masing yang diakui, dihormati dan dihargai.
Paham integralistik yang terkandung dalam Pancasila melekatkan asas
kebersamaan hidup, mendambakan keselarasan dalam hubungan antar individual
maupun masyarakat, dalam arti negara tidak memihak kepada yang kuat, tidak
mengenal mayoritas dan juga tidak mengenal tirani minoritsa. Berpedoman kepada
ideologi Pancasila yang menganut paham integralistik dalam membangun
persatuan bangsa (sila kedua Pancasila) menunjukkan bahwa negara Indonesia
adalah Negara Kebangsaan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, telah memberikan
sifat yang khas sebagai negara yang bukan sekuler ataupun memisahkan antar
agama dengan negara, demikian juga bukan negara agama yaitu yang mendasarkan
dasar negara atas agama tertentu. Negara memelihara budi pekerti kemanusiaan
yang luhur dan memegang teguh cita-cita kemanusian sebagai makhluk Tuhan
dengan segala hak dan kewajibannya. Sebagai negara kebangsaan yang
berkedaulatan rakyat, kekuasaan tertinggi adalah ditangan rakyat, dan sebagai suatu
negara berkeadilan sosial, negara Indonesia merupakan suatu negara yang
berdasarkan atas hukum untuk memenuhi pengakuan dan perlindungan atas hak-
hak asasi manusia, peradilan yang bebas dan legalitas dal arti hukum.
2. Negara Kebangsaan berdaulatkan Pancasila
NKRI sebagai negara kebangsaan yang berlandaskan Pancasila adalah
kesatuan integral dalm kehidupan berbangsa dan bernegara yang memiliki
kebersamaan, kekeluargaan dan bersifat religius. Pada hakekatnya NKRI adalah
negara kebangsaan yang ber-Ketuhanan, kebangsaan yang berperikemanusian,
berkebangsaan yang bersatu, berkebangsaan yang berkerakyatan dan kebangsaaan
yang berkeadilan.

Negara Bangsa yang ber-Ketuhanan


NKRI sebagai negara bangsa yang religius yakni negara yang ber-
Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan negara terokrasi atau negara yang berlandaskan
atas firman Tuhan dan juga bukan sekuler yang memisahkan agama dan negara.
Ideologi Pancasila menjamin kebebasan beragama sesuai keyakinan dan
kepercayaannya masing-masing warganegara dan menempatkan kebebasan
beragama sebagai bagian dari hak asasi yang paling mutlak. Kebijakan negara tidak
boleh bertentangan engan nila-nilai agama, dan setiap keputusan harus
memperhatikan legitimasi kebenaran nilai-nilai religius. Hakekat Ketuhanan Yang
Maha Esa dalam Pancasila secara ilmiah filosofis mengandung makna, terdapat
kesesuaian hubungan sebab akibat antara Tuhan, amanusia dan negara. manusia
ciptaan Tuhan, dan manusia adalah makhluk Tuhan, sedangkan negara merupakan
Lembaga kemanusian atau Lembaga suatu bangsa yang dibentuk oleh manusia
untuk mewujudkan cita-citanya

Negara bangsa yang berperikemanusian


Sebagai negara bangsa yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab,
merupakn negara dengan kebangsaaan yang menjunjung tinggi perikemanuisaaan
berdasarkan nasionalisme dan hakekat kodrat manusia, yang berarti bukan suatu
kebangsaan yang chauvinistic. Bangsa Indonesia mengakui dirinya sebagai bagian
dari umat manusia, yang alam tata pergaulan dunia internasional berdasarkan atas
kodrat manusia, serta mengakui kemerdekaan sebagai hak segala bangsa atas dasar
jak kemanusian sebagai makhluk individual ataupun makhluk sosial.
Negara bangsa yang bersatu

Bangsa Indonesia yang pluralistic menjunjung tinggi asas persatuan dan


persatuan bangsa dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman suku, etnis,
bahasa, agama dan sebagainya bukan merupakan pemisah tetapi merupakn
perbedaan dalam persatuan sebagai bangsa dengan prinsip saling menghormati,
saling menghargai dan hidup dalam toleransi yang serasi. Bangsa Indonesia tidak
mengenal mayoritas dalam membangun persatuan, hal ini telah dibuktikan dengan
beberapa sikap bangsa dalam menyikapi perbedaan seperti kompromi tentang
sumpah pemuda menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,
perumusan Pembukaan UUD 1945 menyangkut agama, dan lain-lain.

Negara bangsa yang berkerakyatan

NKRI adalah negara yang menganut demokrasi, dengan menempatkan


kekuasaan tertinggi ditangan rakyat yang diwujudkan melalui sistem PEMILU dan
sistem ketatanegaraan melalui perwakilan rakyat di Lembaga legislative. MPR dan
DPR/DPRD merupakan Lembaga perwakilan rakyat dalam melaksanakan
demokrasi dengan mengutamakan asas musyawarah untuk mufakat. Pemungutan
suara sebagai suatu alat atau sistem demokrasi bukanlah merupakan hal yang baru
dalam hal sisem demokrasi Indonesia, bahkan sudah diterapkan dalam forum
BPUPKI dan PKI dengan sangat demokratis.

Negara bangsa yang berkeadilan

Kemerdekaan Indonesia pada dasarnya adalah hasil perjuangan bangsa


Indonesia dalam menuntut keadilan, karena selama masa penjajahan bangsa
Indonesia diperlakukan sewenang-wenang oleh pemerintah Hindia Belanda dan
sangat tidak adil dan sangat tidak manusiawi. Rasa senasib dan sepenanggungan
dalm kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan, dan penderitaan lahir batin
memicu gerakan kemerdekaan di seluruh tanah air. Perwujudan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia merupakan cita-cita dan dambaan terciptanya kehidupan
yang berkeadilan dan berkemakmuran.
3. Ideologi lain di dunia
Dari tradisi sejarah filsafat barat dapat dibuktikan bahwa tumbuhnya
ideologi seperti liberalism, kapitalisme, marxisme, maupun naziisme dan fasisme
adalah bersumber kepada aliran-aliran filsafat yang berkembang di Eropa. Persepsi
mengenai kebebasan yang tumbuh pada jaman Renaisance dan Aufklarung
mengakibatkan tumbuh dan berkembang iedologi liberal dan kapitalis barat.
Demikian pula dengan pemikiran-pemikiran Karl Marx dan Engels yang historis
materialistik dan dialektik telah menumbuh suburkan ideologi
Marxisme/Leninisme/Komunisme di negara-negara sosial komunis.

Paham liberalisme

Paham liberalisme telah berkembang di berbagai belahan dunia sebagai


paham ideologi yang berdasarkan pada kebebasan manusia sebagai individu di atas
segala-galanya, dan dalam realisasi demokrasi menunjukkan bahwa kebebasan dan
rasio merupakan hakikat tingkatan tertinggi dalam negara sehingga dimungkinkan
akan berkedudukan lebih tinggi dari pada nilai religiu. Negara liberal hakikatnya
merupakan alat atau sarana individu, sehingga masalah agama dalam negara sangat
ditentukan oleh kebebasan individu. Paham liberalism dalam pertumbuhannya
sangat dipengaruhi oleh paham rasionalisme yang mendasarkan atas kebenaran
rasio. Negara memberi kebebasan kepada warganya untuk memeluk agama dan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing, namun dipihak lain
memberi juga kebebasan untuk tidak percaya terhadap Tuhan atau atheis.

Paham komunis

Paham komunis lahir sebagai bentuk reaksi atas perkembangan masyarakat


kapitalis sebagai hasil dari ideologi liberal yang mengakibatkan munculnya
masyarakat kapitalis yang berdampak terhadap meluasnya penderitaan rakyat.
Komunisme tampil sebagai reaksi atas penindasan rakyat kecil (proletar) oleh
kalangan kapitalis yang didukung pemerintah. Komunisme memandang bahwa
hakikat kebebasan dan hak individu itu tidak ada, dan mendasarkan pada suatu
keyakinan bahwa manusia adalah hanya makhluk sosial. Hak individu tidak diakui
karena hal ini akan menimbulkan kapitalisme yang pada gilirannya akan
melakukan penindasan pada kaum proletar. Untuk menciptakan komunal, paham
komunis melakukan dengan revolusi sebagai upaya melakukan radikal terhadap
struktural msyarakat. Paham komunis terhadap agama sangat jelas, yakni agama
dianggap sebagai fanatis makhluk manusia, agama adalah keluhan makhluk
tertindas, agama adalah merupakan candu masyarakat. Negara yang berpaham
komunis adalah atheis, melarang dan menekan kehidupan beragama, nilai tertinggi
dalam negara adalah meteri sehingga nilai manusia ditentukan oleh materi (Kaelan,
2003).

D. Pancasila sebagai Paradigma Nasional

Istilah paradigma pada awalnya berkembang dalam dunia ilmu


pengetahuan terutama dalam kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan. Secara
terminologis tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam dunia ilmu
pengetahuan adalah Thomas S. Khun dalam bukunya yang berjudul The Structure
of Scientific Revolution, dengan inti sari pengertian sebagai suatu asumsi-asumsi
teoritis sebagai sumber nilai sehingga merupakan suatu sumber hukum, metode,
serta penerapan dalam ilmu pengetahuan.

1. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan

Pancasila sebagai ideologi terbuka bersifat reformasi, actual, antisipatif dan


senantiasa mampu menyesuaikan engan perkembangan aspirasi masyarakat.
Berdasarkan hakikatnya manusia dalam kenyataan objektifnya bersifat ganda
bahkan multidimensi, yang kemudian berkembang dalam berbagai bidang
kehidupan manusia serta ilmu pengetahuan lainnya misalnya politik, hukum,
ekonomi, budaya serta bidang-bidang lainnya. atas dasar kajian paradigma ilmu
pengetahuan sosial dikembangkan metode berdasarkan hakikat dan sifat manusia
yang mengandung konotasi penegertian sumber nilai, kerangka pikir, orientasi
dasar, sumber asas serta arah dan tujuan dari perkembangan, perubahan serta proses
dalam suatu bidang tertentu termasuk dalam pembangunan reformasi maupun
dalam Pendidikan.

1) Pembangunan Nasional

Bangsa Indonesia melaksanakan pembangunan nasional untuk mencapai


tujuan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945 yakni untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamain abadi dan keadilan sosial. Secara filosofis hakikat
Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung suatu
konsekwensi bahwa dalam segala aspek pembangunan nasional harus mendasarkan
hakikat nilai-nilai Pancasila yaitu pada dasar ontologis manusia sebagai subjek
pendukung pokok sila-sila Pancasila sekaligus sebagai pendukung pokok negara.

Untuk mewujudkan tujuan negara melalui pembangunan nasional harus


dikembalikan pada dasar-dasar hakikat manusia monopluralis, yang meliputi
susunan kodrat manusia yakni, rohani (jiwa), dan raga, sifat kodrat manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Pembangunan nasional harus dapat dijabarkan dalam berbagai bidang yang
mencakup nilai-nilai hakikat kodrat manusia seperti bidang politik, ekonomi,
hukum, pendidikan, sosial budaya, ilmu pengetehuan dan teknologi serta bidang
kehidupan beragama.

2) Paradigma pembangunan IPTEKS

Untuk mewujudkan kesejahteraan manusia dan peningkatan harkat dan


martabatnya, maka manusia mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
sebagai suatu hasil kreativitas rohani manusia yang mencakup aspek akal, rasa dan
kehendak. Akal merupakan potensi rohaniah manusia dalam hubungan dengan
intelektualitas, rasa dalam hubungan dengan estetis dan kehendak dalam hubungan
dengan moral (etika). Atas dasar kreativitas akal yang dimiliki manusia, mereka
mengembangkan IPTEKS dalam rangka untuk mengolah potensi sumber daya alam
yang disediakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, yang pada hakekatnya terikat oleh
nilai dasar Pancasila.

IPTEKS yang ditemukan, dibuktikan dan diciptakan, harus


mempertimbangkan maksud dan akibatnya apakah merugikan manusia dan
lingkungan sekitarnya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam
mengembangkan IPTEKS haruslah bersifat beradab, karena IPTEKS adalah
sebagai hasil budaya manusia yang beradab dan bermoral untuk tujuan mencapai
kesejahteraan dan harkat martabat umat manusia. Untuk mewujudkan kesejahteraan
bangsa Indonesia pengembangan IPTEKS hendaknya dapat mengembangkan rasa
nasionalisme dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
Pengembangan IPTEKS harus dikembangkan secara demokratis, artinya setiap
ilmuwan haruslah memiliki kebebasan untuk mengembangkan IPTEKS dan harus
menghormati dan menghargai kebebasan orang lain dengan sikap yang terbuka.
Untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, harus dapat
mengkomplementasikan pengembangan IPTEKS dengan menjaga keseimbangan
keadilan dalam kehidupan kemanusiaan.

3) Paradigma Pembanguna bidang Politik

Pancasila sebagai paradigma politik, didasarkan pada kenyataan obyektif


bahwa manusia adalah sebagai subyek negara, dan dalam sistem politik negara
harus mendasarkan pada kekuasaan pada tuntutan hak dasar kemanusiaan yang
disebut sebagai hak asasi manusia (HAM) dalam upaya perwujudan hak atas
mertabat kemanusiaan. Sistem Politik negara harus mendasarkan pada kekuasaan
yang bersumber pada penjelmaan hakikat manusia sebagai makhluk individu atau
sosial dalam kekuasaan negara, sehingga kekuasaan negara harus berdasarkan
kekuasaan rakyat bukannya kekuasaan perorangan atau kelompok. Pancasila
memberikan dasar-dasar moralitas politik negara, yaitu politik negara harus
berdasarkan pada kerakyatan (sila keempat) dan pengembangan dan aktualisasinya
berdasarkan pada moral moralitas sila-sila lainnya.

4) Paradigma Pembangunan bidang Ekonomi

Menurut Mubiyarto (1999), perekonomian Indonesia adalah ekonomi


kerakyatan yang humanistik dan berdasarkan pada tujuan demi kesejahteraan rakyat
secara luas, bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi saja melainkan terkait
dengan nila-nilai moral kemanusiaan dan kesejahteraaan seluruh bangsa.
Perekonomian nasional dibangun atas asas kekeluargaan untuk memenuhi
kebutuhan manusia, agar manusia menjadi lebih sejahtera. Oleh karena ekonomi
kerakyatan yang akan dibangun oleh bangsa Indonesia adalah sistem ekonomi
kerakyatan yang bercirikan nilai-nilai moral kemanusiaan untuk mencapai
kesejahteraan yang berkeadilan, maka dalam pembangunan ekonomi nasional harus
menghindari sistem ekonomi yang berorientasi pada sistem ekonomi liberal, sistem
ekonomi sosialis komunis dan sistem ekonomi kapitalis karena tidak sesuai dengan
nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila.

5) Paradigma Pembangunan bidang Sosial Budaya

Pembangunan dan pengembangan aspek sosial budaya hendaknya


didasarkan atas sistem nilai yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki
oleh masyarakat Indonesia. Dalam prinsip etika Pancasila pada hakikatnya bersifat
humanistik, artinya nilai-nilai Pancasila mendasarkan pada nilai yang bersumber
pada harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Pancasila
merupakan normatif bagi peningkatan humanisasi dalam bidang sosial terutama
ditunjukkan dari nilai-nilai dari sila kedua Pancasila. Menurut Koentawijoyo (1986),
bahwa sebagai kerangka kesadaran Pancasila dapat merupakan dorongan untuk :
(1) universialisasi, yaitu melepaskan symbol-simbol dari keterkaitan struktur, dan
(2) transendentalisasi, yaitu meningkatkan derajat kemerdekaan manusia dan
kebebasan spriritual.

Proses humanisasi universal, dehumanisasi serta aktualisasi nilai hanya


untuk kepentingan kelompok sosial tertentu dan menciptakan sistem sosial budaya
yang semakin jauh dari akar budaya yang beradab. Gejolak masyarakat yang
berkembang dalam era modernisasi yang jauh dari nila-nilai kemanusiaan yang adil
dan beradab, dapat terjadi sebagai akibat dari perbenturan kepentingan politik dan
kepentingan global untuk meraih hegemoni pengaruh kekuasaan. Untuk
mengantisipasi perkembangan sosial budaya yang semakin jauh dari nilai-nilai
budaya bangsa yang beradab, perlu dilakukan mengakat kembali nilai-nilai yang
dimiliki bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila yang secara terinci
berdasarkan nilai-nilai kemanusian, nilai keagamaan dan nilai keberadaban.

6) Paradigma Pembangunan bidang Pertahan Keamanan


Untuk mencapai kesejahteraan rakyat mutlak diperlukan ketertiban umum
yang mengatur tentang ketertiban warga maupun dalam rangka melindungi segenap
wilayah negara dan bangsanya demi tegaknya integritas NKRI. Pemerintah
mempunyai perangkat pertahanan dan keamanan negara yang didasarkan pada
hakikat nilai kemanusian monopluralis sebagai basis moralitas pertahanan dan
keamanan negara, yang berarti harus dapat terjaminnya harkat dan martabat
manusia atau hak asasi manusia. Pertahanan dan keamanan negara bukanlah hanya
untuk sekelompok warga ataupun kelompok politik tertentu, sehingga berakibatkan
negara menjadi totaliter dan otoriter. Unutk mewujudkan pertahanan dan negara
yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusian harus dikembangkan berdasarkan
nilai-nilai yang tekandung didalam Pancasila.
2. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi

Indonesia adalah satu negara yang mempunyai potensi sumber daya yang
sangat luar biasa besarnya, baik dari aspek sumber daya alam maupun sumber daya
manusia, sehingga mampunyai peluang untuk menjadi negara yang besar dan
makmur. Telah banyak ditampilkan konsep-konsep pembangunan dari berbagai
aspek untuk melahirkan berbagai format pembangunan yang mengacu kepada
Pancasila dan UUD 1945, namun belum dapat menciptakan pemerintahan yang
stabil sebagai prasyarat bagi pelaksanaan pembangunan. Krisis moneter dan
keuangan tahun 1998, telah memicu kembali terjadinya konflik internal yang
mendambakan terwujudnya “Indonesia Baru” yang demokratis, ditegakkan hukum
dan meningkatnya kesejahteraan rakyat. Gelombang reformasi bergulir dengan
tuntutan dilakukan perubahan dan pembaharuan dalam upaya percepatan
terwujudnya cita-cita bangsa sesuai dengan ideologi Pancasila, sebagai ungkapan
konsistensi bangsa Indonesia atas keyakinan terhadap nilai Pancasila yang
mengakar pada pandangan hidup bangsa Indonesia sendiri.

1) Konsistensi nilai-nilai Pancasila

Reformasi adalah upaya menata kehidupan bangsa dan negara dalam suatu
sistem di bawah nilai-nilai Pancasila, bukan menghancurkan dan membubarkan
bangsa dan negara Indonesia. Perubahan dan pembaharuan yang dilakukan melalui
gerakan reformasi haruslah tetap konsisten dan konsekwen terhadap nilai-nilai
Pancasila, yakni suatu gerakan reformasi yang berlangsung tetap dalam flatform
dan sumber nilai yang jelas sebagai arahan, tujuan, serta cita-cita yang terkandung
dalam Pancasila. Pancasila sebagai sumber nilai dan sumber norma yang
fundamental dari bangsa Indonesia yaitu nilai-nilai yang merupakan nilai
Ketuhanan, Kemanusian, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan, adalah ada secara
obyektif dan melekat pada bangsa Indonesia yang merupakan pandangan kehidupan
bangsa sehari-hari.

Reformasi dalam kehidupan politik kenegaraan yang terjadi bukan berarti


kita akan mengubah cita-cita, dasar nilai serta pandangan hidup bangsa melainkan
melakukan perubahan dengan menata kembali dalam suatu flatform yang
bersumber pada nilai-nilai dari sila Pancasila dalam segal bidang kehidupan
berbangsa dan bernegara. Gerakan reformasi harus mampu mencari akar penyebab
terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara misalnya sistem demokrasi tidak berlangsung sebagaimana mestinya,
berkembangnya praktek-praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nopotisme), belum
tegaknya hukum secara adil, masih tingginya angka kemiskinan dan pengangguran,
semakin rusaknya lingkungan hidup, semakin tertinggalnya pedesaan dalam
pembangunan san sebagianya. Oleh karean itu menurut Kaelan (2003) gerakan
reformasi harus memiliki kondisi syarat-syarat tertentu yakni:

(1) Gerakan reformasi dilakukan karena ada penyimpangan-penyimpangan


konstitusi.
(2) Gerakan reformasi dilakukan harus dengan suatu cita-cita yang jelas
sesuai dengan Pancasila, atau suatu upaya untuk mengembalikan
penyimpangan yang terjadi kepada dasar nilai-nilai Pancasila.
(3) Gerakan reformasi dilakukan dengan berdasarkan pada suatu kerangka
struktural yang sesuai dengan UUD sebagai kerangka acuan reformasi,
menegakkan sistem atau kedaulatan berada ditangan rakyat,
menegakkan hukum dalam arti yang sebenarnya, melindungi hak-hak
asasi manusia, menciptakan peradilan yang bebas dari penguasa dan
sebagainya.
(4) Reformasi dilakukan ke arah suatu perubahan kea rah kondisi serta
keadaan yang lebih baik dalam segala hal aspek kehidupan rakyat.
(5) Reformasi dilakukan dengan suatu dasar moral dan etika sebagai
manusia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, serta terjaminnya
persatuan dan ksatuan bangsa.
2) Aktualisasi Pancasila

Aktualisasi Pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu aktualisasi


obyektif dan subyektif. Aktualisasi Pancasila yang obyektif yaitu aktualisasi
Pancasila dalam berbagai bidang kehidupan kenegaraan yang meliputi
kelembagaan negara antara lain legislative, eksekutif, maupun yudikatif. Selain itu
juga meliputi bidang-bidang aktualisasi lainnya seperti politik, ekonomi, hukum
terutama penjabaran ke dalam UU. Adapun aktualisasi Pancasila yang subyektif
adalah aktualisasi Pancasila pada setiap individu terutama dalam aspek moral dalam
kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Aktualisasi yang subyektif
tersebut tidak terkecuali baik warganegara biasa, apparat penyelenggara negara,
penguasa negara, terutama kalangan elit politik dalam kegiatan politik perlu
wawasan diri agar memiliki moral Ketuhanan dan Kemanusian sebagaimana
terkandung dalam Pancasila (Kaelan, 2002).

Aktualisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara


merupakan panggilan bagi tiap warganegara untuk berbuat yang terbaik bagi
bangsa dan negaranya sebagai upaya menjamin kelangsungan hidup NKRI
sepanjang masa. Dalam kaitan ini peran pemuda sebagai harapan bangsa
merupakan kader-kader bangsa yang harus memiliki nilai-nilai keperjuangan untuk
memenuhi panggila rasa “cinta tanah air” yang rela berkorban demi untuk
kejayaan bangsa dan negaranya Indonesia. Untuk menyongsong masa depan yang
penuh harapan akan kejayaan dan kebahagiaan, hendaknya setiap warganegara
tidak melupakan atau meninggalkan panggilan sejarah, termasuk di dalamnya tekad
dan kesepakatan yang telah diikrarkan oleh para pejuang bangsa.

Untuk melanjutkan pembangunan sebagai upaya mencapai cita-cita


kemerdekaannya, bangsa Indonesia perlu memiliki kepercayaan diri yang kokoh
atas dasar kebenaran sejarah serta cita-cita yang diperjuangkan para pandahulunya.
Walaupun demikian sejalan dengan perubahan waktu dan lingkungan, dalam
menantisipasi corak pembangunan, kita dituntut untuk menerapkan etika, yang
mengisyaratkan digunakan kesadaran kritis, rasa tanggung jawab, serta komitmen
dan daya inovasi. Etika perjuangan bangsa Indonesia didasarkan pada perpaduan
dari Pancasila sebagai ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, serta
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai landasan keberadaannya
sebagai bangsa yang merdeka, maka sebagai aktualisasi Pancasila dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara perlu dilandasi oleh etika kepejuangan yang bersumber
pada nilai, semangat dan nilai-nilai 1945 (Alex Suseno, 1982).

Mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan


bernegara perlu dukungan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang cerdas
dalam mencapai tujuan negara yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa”,
sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Kecerdasan kehidupan
bangsa erat kaitanya dengan sistem Pendidikan nasional baik pendidikan formal
maupaun non formal, dimana kualitas generasi muda sangat ditentukan oelh
kebijakan, program dan kegiatan Pendidikan yang mendukungnya.
VI. MEMAHAMI UNDANG-UNDANG DASAR 1945 (HASIL
AMANDEMEN)

Negara Indonesia sebagai negara demokrasi yang berdasarkan atas hukum,


pelaksanaan dan penyelenggaraan negara diatur dalam suatu sistem peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku. Dalam pengertian inilah negara dilaksanakan
berdasarkan pada suatu konstitusi atau UUD negara. Pembagian kekuasaan,
lembaga-lembaga tinggi negara, hak dan kewajiban warganegara, keadilan sosial
lainnya diatur dalam suatu UUD negara. UUD sebagai sumber hukum dasar tertulis
menurut sifat dan fungsinya adalah suatu naskah yang memaparkan kerangka dan
tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan
pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut. Isi batang tubuh UUD 1945
menentukan cara-cara bagaimana pusat-pusat kekuasaan baik badan legislatif,
eksekutif maupun badan yudikatif bekerjasamadan menyesuaikan diri satu sama
lain. UUD 1945 dalam tertib hukum Indonesia merupakan peraturan hukum positif
yang tertinggi, disamping itu sebagai alat kontrol terhadap norma-norma hukum
positif yang lebih rendah dalam hirarki tertib hukum Indonesia.

A. Amandemen UUD 1945

Ketika bangsa Indonesia menghadapi krisis ekonomi tahun 1998 sebagai


dampak dari krisis ekonomi yang melanda Asia terutama Asia Tenggara,
menimbulkan goyahnya stabilitas politik dalam negeri yang memicu muncilnya
gerakan reformasi untuk melakukan suatu perubahan dan pembaharuan sidemua
bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintahan dibawah rezim Orde
Baru, telah membawa bangsa Indonesia dalam kemakmuran semu dengan
perekonomian rakyat yang sangat stabil, praktek korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN)semakin meningkat, serta penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang
dikalangan para pejabat dan pelaksana pemerintahan negara yang semakin
mengarah pada sistem birokratik otorian dan sistem korporatik (Nasikun, 1998).
Sistem demokrasi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, konsentrasi
kekuasaan dan partisipasi di dalam pembuatan keputusan-keputusan nasional
berada pada penguasa negara, kelompok militer, kelompok cerdik, cendikawan dan
kelompok wiraswastaan oligopolistik melalui kejarsama dengan masyarakat bisnis
internasional. Gerakan reformasi menyebabkan mundurnya Presiden Soeharto pada
tanggal 21 Mei 1998, yang disusul dengan dilantiknya Wakil Presiden B.J. Habibie
menggantikan kedudukan Presiden mengacu pada pasal 8 ayat (1) UUD 1945.

1. Gerakan Reformasi

Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia dan sebagai pandangan


hidup bangsa Indonesia dalam perjalanan sejarah, belum sepenuhnya diletakkan
dalm kedudukan dan fungsi yang sebenarnya. Pada masa Orde Lama pelaksanaan
Pancasila dalam sistem tata negara terjadi beberapa penyimpangan yang berakhir
jatuhnya Presiden Soekarno pada tahun 1966. Pada masa Orde Baru Pancasila
digunakan sebagai alat legitimasi politik oleh penguasa, sehingga kedudukan
Pancasila sebagai sumber nilai dikaburkan dengan praktek kebijaksanaan
pelaksanaan penguasa negara yang berakhir dengan mundurnya Presiden Soeharto
pada awal era reformasi tahun 1998.

Makna reformasi secara etimologis berasal dari kata reformation dengan


akar kata reform yang secara semantic bermakna make or become better by
removing or putting right what is bad or wrong (Oxford Advenced Learne’r
Dictionary of Current English, 1980), (Wibisono, 1988). Secara harfiah reformasi
memiliki makna; suatu gerakan untuk memformat ulang, menata ulang atau menata
kembali hal-hal yang menyimpang untuk dikembalikan pada formay semula sesuai
dengan nilai-nilai ideal yang dicita-citakan rakyat (Riswanda, 1998).

Reformasi dalam perpektif Pancasila pada hakikatnya merupakan gerakan


untuk menata ulang dengan melakukan perubahan-perubahan sebagai realisasi
kedinamisan dan keterbukaan Pancasila dalam kebijaksanaan dan penyelenggaraan
negara. Sebagian suatu ideologi yang bersifat terbuka dan dinamis Pancasila harus
mampu mengantisipasi perkembangan jaman terutama perkembangan dinamika
aspirasi rakyat. Nilai-nilai Pancasila adalah ada pada filsafat hidup bangsa
Indonesia, dan sebagai bangsa makan akan senantiasa memiliki perkembangan
aspirasi sesuai dengan tututan jaman. Oleh kareana itu Pancasila sebagai sumber
nilai memiliki sifat yang reformatif, artinya memiliki aspek pelaksanaan yang
senantiasa mampu menyesuaikan dengan dinamika aspirasi rakyat dalam
mengantisipasi perkembangan jaman dengan tetap mangacu kepada nila-nilai
esential Pancasila.

Para pendiri negara serta penggali nilai-nilai Pancasila menentukan


Pancasila sebagai dasar hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta
memformalkan UUD 1945 sebagai UUD negara dimaksudkan untuk mewujudkan
demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam praktek
pelaksanaannya ternyata terjadi penyimpangan-penyimpangan dengan nuilai-nilai
Pancasila serta semangat dalam UUD 1945. Kondisi yang demikian itu tidak
menumbuhkan kehidupan politik yang demokratis, karena penguasa senantiasa
memperkokoh kekuasaannya dengan berlindung dibalik ideologi Pancasila, serta
meligitimasi tindakan dan kebijaksanaannya berdasarkan Pancasila.

Agar demokrasi dapat dilakukan sesuai dengan UUD 1945, perlu dilakukan
reformasi kehidupan politik dengan jalan revitalisasi ideologi Pancasila, yaitu
mengembalikan Pancasila pada kedudukan serta fungsi yang sebenarnya sesuai
dengan UUD 1945. Nilai-nilai Pancasila harus benar-benar dijadikan sebagai
sumber nilai serta sumber norma dalam segala penentuan kebijaksanaan negara
serta peraturan perundang-undangan negara. Gerakan reformasi harus tetap
diletakkan dalam kerangka perpektif Pancasila sebagai landasan cita-cita dan
ideologi, sebab tanpa adanya suatu dasar nilai yang jelas maka suatu akan mengarah
pada suatu disintegrasi, anarkisme, brutalisme serta pada akhirnya menuju pada
kahancuran bangsa dan negara Indonesia.

Dalam negara Indonesia Pancasila merupakan cita-cita hukum, kerangka


piker, sumber nilai serta sumber arah penyusunan dan perubahan hukum positif.
Dalam pengertian inilah maka Pancasila berfungsi sebagai paradigma hukum
terutama dalam kaitannya dengan berbagai macam upaya perubahan hukum.
Produk hukum baik materi maupun penegakannya disarankan semakin jauh dari
nilai-nilai kemanusian, kerakyatan serta keadilan. Subsistem hukum nampaknya
tidak mampu menjadi pelindungan bagi kepentingan masyarakat dan yang berlaku
hanya bersifat imperative bagi penyelenggara pemerintahan. Oleh karena kerusakan
atas subsistem hukum yang sangat menentukan dalam berbagai bidang misalnya
politik, ekonomi dan bidang-bidang lainnya maka bangsa Indonesia ingin
melakukan reformasi, menata kembali subsistem hukum kearahyang semestinya
berdasarkan sumber nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

2. Proses Amandemen UUD 1945

Pemikiran tentang amandemen UUD 1945, didasarkan pada suatu


kenyataan sejarah selama masa Orde Lama dan Orde Baru, bahwa penerapan
terhadap pasal-pasal UUD memiliki sifat multi interpretable, atau dengan kata lain
berwahyu arti, sehingga mengakibatkan adanya perbedaan persepsi dalam
penyelenggaraan negara. Sistem kekuasaan lebih berorientasi pada sentralisasi
kekuasaan terutama kepada Presiden, sehingga cheks and balances kekuasaan tidak
terjadi terutama terhadap kekuasaaan eksekutif. Gerakan reformasi memasuki hal-
hal yang mendasar dalam batang tubuh UUD 1945, sebagai upaya untuk
membangun sistem pemerintahan yang lebih demokratis melalui penataan terhadap
ketatanegaraan.

Sidang Istimewa MPR yang dilakukan pada tahun 1998, memutusan


diadakan percepatan pelaksanaan PEMILU tahun 1999, dengan harapan akan
memasuki era baru yang lebih stabil dan kondusif dalam