Anda di halaman 1dari 8

Tujuan

1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat
kerja.
2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

Manfat

4. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam pekerajaaan dapat


digolongkan dalam:
5. 1. Bahaya terbentur benda
6. 2. Bahaya terjepit benda
7. 3. Bahay tertabrak benda atau alat penyimpan
8. 4. Bahaya tergilas kendaraaan
9. 5. Bahaya kerjatuh benda
10. 6. Bahaya tergores
11. 7. Bahaya senyawa bahan kimia
12. 8. Bahaya penafasan, dan sebagainya.
Tujuan
1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan pekerja

1. Melindungi dan mencegah pekerja dari semua gangguan ksehatan akibat


lingkungan kerja atau pekerjaannya.

1. Menempatkan pekerja sesuai dengan kemampuan fisik, mental, dan


pendidikan atau keterampilannya.

1. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja

Etika dan legalisasi


-
Disiplin
-
Etis
-
Bertanggung jawab
Konsep Kebijakan K3

Organisasi buruh internasinal ILO mengeluarkan guidline untuk pelaksanaan OHS


managemen mulai dari tingkat nasional sampai pada tingkat perusahaan. Menurut ILO-OSH
guidline ini, kebijakan K3 tingkat nasional menekankan hal-hal berikut [ILO-OSH 2001]:

1. Manajemen K3 harus merupakan bagian integral dari keseluruhan manajemen


organisasi.
2. Memfasiltasi kegiatan K3 baik tingkat nasional dan organisasi.
3. Keterlibatan pekerja atau perwakilan pekerja pada tingkat organisasi.
4. Melaksanakan perbaikan terus menerus terhadap biroksrasi, administrasi dan biaya.
5. Kerjasama antar instansi terkait dalam kerangka manajemen K3
6. Melakukan evaluasi berkala terhadap efektifitas kebijakan K3 nasional.
7. Mempublikasikan manajemen K3
8. Memastikan manajemen K3 diberlakukan sama terhadap kontraktor, pekerja kontrak
dan pekerja tetap.

Kebijakan

1. Peningkatan koordinasi berdasarkan kemitraan yang saling mendukung.


2. Pemberdayaan pengusaha, tenaga kerja dan pemerintah agar mampu menerapkan dan
meningkatkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator.
4. Penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen perusahaan.
5. Pemahaman dan penerapan norma keselamatan dan kesehatan kerja yang
berkelanjutan.

Contoh kasus resiko dan hazard pada asuhan keperawatan

Seorang perawat di RSUD Gunung Jati, Kota Cirebon, diketahui positif difteri pasca
menangani pasien yang menderita penyakit yang sama.
Hazard yang ada di kasus : Hazard Biologis yaitu Perawat tertular penyakit defteri dari pasien
pasca menangani dan melakukan tindakan awal pada pasien.

#Tujuan Utama dari Manajemen Resiko dalam keperawatan.

Tujuan utama dari manajemen resiko adalah melakukan pengkajian dan mencari pemecahan
masalah terhadap masalah potensial sebelum masalah itu benar benar terjadi, misalnya luka.
Walaupun demikian, keberhasilan manajemen resiko akan sangat tergantung pada perawat
dan para profesi kesehatan lainnya. Hal ini disebabkan karena merekalah yang melakukan
kegiatan dan bertanggungjawab secara profesional melalui pembuatan dokumentasi tentang
semua aktivitas aktivitas dan hasil observasinya. Pencatatan yang tepat dan benar dapat
menghasilkan dokumen yang menggambarkan situasi situasi resiko tinggi, yang meliputi
kejadian-kejadian yang tidak diharapkan untuk terjadi maupun praktek-praktek lainnya yang
menjamin keselamatan dan kesehatan pasien. Selain itu, pencatatan yang layak dapat
memberikan perlindungan baik kepada pasien, perawat institusi penyelenggara pelayanan
kesehatan.
Manajemen Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Manajemen Risiko K3
adalah suatu upaya mengelola risiko untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang
tidak diinginkan secara komprehensif, terencana dan terstruktur dalam suatu
kesisteman yang baik. Sehingga memungkinkan manajemen untuk meningkatkan
hasil dengan cara mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang ada

ResikodanHazard
Hazard (Bahaya) :suatuyangdapat menyebabkan cedra pada manusia atau kerusakan pada alat atau lingkungan
Resiko : Peluang terpaparnya seseorang atau alat pada suatu bahaya.

Contoh Hazard dan Resiko Pada Perawat yang Melakukan pengkajian :


1. Pelecehan verbal saat melakukan komunikasi dengan pasien dan keluarga
2. Kekerasan fisik pada perawat saat melakukan Peengkajian
3. Pasien dan Keluarga acuh tak acuh dengan pertanyaan yang di ajukan Perawat
4. Resiko tertular penyakit dengan kontak fisik maupun udara saat Pengkajian
5. Perawat menjadi terlalu empati dengan keadaan pasien dan keluarga

Upaya Mencegah dan Meminimalkan Hazard dan Resiko pada perawat yang melakukan
pengkajian :
1. Batasi Akses ke tempat isolasi
2. Menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD ) dengan benar
3. SOP Memasang APD
4. Petugas tidk boleh menyentuh wajahnya sendiri
5. Membatasi sentuhan langsung dengan pasien
6. Cuci tangan dengan air dan sabun

PSIKOLOGI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN

Kesehatan Spiritual Dalam Keperawatan :

PASIEN YG MEMBUTUHKAN DUKUNGAN SPIRITUAL

1. PASIEN KESEPIAN

PS dlm keadaan dlm keadaan sepi dan tdk ada yg menemani akan membutuhkan bantuan
krn mereka merasakan tdk ada kekuatan selain kekuatan tuhan, tdk ada yg menyertainya kecuali
Tuhan.

2. PASIEN KETAKUTAN DAN CEMAS

adanya ketakutan dan kecemasan dpt menimbulkan perasaan kacau, yg dpt membuat
pasien membuutuhkan ketenangan pd dirinya, dan ketenangan yg plg bsar adlh bersama tuhan.

3. PASIEN YG HARUS MENGUBAH GAYA HIDUP  pola gaya hidup dpt mengacaukan keyakinan
individu bila ke arah yg lbh buruk dan sebaliknya
4. PASIEN YG HARUS MENGUBAH GAYA HIDUP  pola gaya hidup dpt mengacaukan keyakinan
individu bila ke arah yg lbh buruk dan sebaliknya

Pengertian Konsep Diri :

1. Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalalm berhubungan dengan
orang lain. ( Stuart dan Sundeen, 1998 ).
2. Konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal,
emosional, intelektual, sosial dan spiritual ( Beck, Willian dan Rawlin, 1986 )

Komponen-komponen konsep diri dalam keperawatan


3. Konsep diri terdiri dari Citra Tubuh (Body Image), Ideal Diri (Self ideal), Harga Diri
(Self esteem), Peran (Self Rool) dan Identitas(self idencity).

Adaptasi terhadap stress dalam keperawatan dapat berupa :


1. Adaptasi fisiologis
Adaptasi fisiologis adalah proses penyesuaian diri secara alamiah atau secara fisiologis untuk
mempertahankan keseimbangan dalam berbagai faktor yang menimbulkan keadaan menjadi
tidak seimbang contoh: masuknya kuman pennyakit ketubuh manusia.
2. Adaptasi psikologi
Adaptasi secara psikologis dapat dibagi menjadi dua yaitu:
• LAS ( Local adaptation syndroma)
LAS adalah apabila kejadiannya atau proses adaptasi bersifat lokal contoh:
seperti ketika kulit terinfeksi maka akan terjadi disekitar kulit tersebut kemerahan, bengkak,
nyeri, panas dll yang sifatnya lokal atau pada daerah sekitar yang terkena.
• GAS ( general adaptation syndroma)
GAS adalah apabila reaksi lokal tidak dapat diaktifitasi maka dapat menyebabkan gangguan
dan secara sistemik tubuh akan melakukan proses penyesuaian diri seperti panas di seluruh
tubuh, berkeringat

Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu


kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki.
Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan
(Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah
dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah
mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam
bentuk yang berbeda.
B. Berduka
Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang
dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan
lain-lain.
Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA
merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka
disfungsional.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu
dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,
hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya
kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
C. KEMATIAN
Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Namun,
bencana gempa di Bantul memaksa anak untuk melihat dan atau mengalami kematian
secara tiba-tiba. Pemahaman akan kematian mempengaruhi sikap dan tingkah laku
seseorang terhadap kematian. Selain pengalaman, pemahaman konsep kematian juga
dipengaruhi oleh perkembangan kognitif dan lingkungan sosial budaya.

Konsep Etiologi Penyakit dalam antropologi kesehatan :


Antropologi Kesehatan adalah studi mengenai konfrontasi manusia dengan penyakit dan
keadaan sakit, dan mengenai susunan adaptif (yaitu sistem medis dan obat-obatan) dibuat oleh
kelompok manusia untuk berhubungan dengan bahaya penyakit pada manusia sekarang ini.

PANDANGAN PARA AHLI ANTROPOLOGI TERHADAP PENYAKIT

Antropologi kesehatan mempelajari sosio-kultural dari semua masyarakat yang berhubungan


dengan sakit dan sehat sebagai pusat dari budaya, di antaranya objek yang menjadi kajian
disiplin ilmu ini adalah:

1. penyakit yang berhubungan dengan kepercayaan (misfortunes),


2. beberapa masyarakat misfortunes disebabkan oleh kekuatan supranatural maupun
supernatural atau penyihir,
3. kelompok healers ditemukan dengan bentuk yang berbeda disetiap kelompok
masyarakat,
4. healers yang mempunyai peranan sebagai penyembuh,
5. perhatian terhadap suatu keberadaan sakit atau penyakit tidak secara individual,
terutama illness dan sickness pada keluarga ataupun masyarakat.

Pandangan ahli antropologi penyebab orang sakit ada dua hal yaitu:
1. Secara personalistik (secara personal)

Secara personalistik (secara personal) penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi


dari suatu agen yang aktif, yang dapat berupa mahluk supanatural (mahluk gaib atau
dewa), mahluk yang bukan manusia (seperti hantu, roh leluhur, atau roh jahat)
maupun mahluk manusia (tukang sihir attau tukang tenung). Orang yang sakit adalah
korbanya, objek dari agresi atau hukuman yang ditunjukan khusus kepadanya untuk
alasan-alasan yang khusus menyangkut dirinya saja. Kepercayaan tentang kausalitas
penyakit yang bersifat personalistik menonjol dalam data-data medis dan kesehatan
yang tercatat dalam etnografi klasik tentang masyarakat-masyarakat “primitif”
(masyarakat yanng belum berkembang). Hal ini termasuk kelompok-kelompok seperti
penduduk-penduduk pribumi. Sebagian besar dari kelompok ini (pada mulanya)
relatif kecil, terisolir, buta askara, dan kurang kontak dengan peradaban tinggi.

Menelusuri nilai budaya, misalnya mengenai pengenalan kusta dan cara


perawatannya. Kusta telah dikenal oleh etnik Makasar sejak lama. Adanya istilah
kaddala sikuyu (kusta kepiting) dan kaddala massolong (kusta yang lumer),
merupakan ungkapan yang mendukung bahwa kusta secara endemik telah berada
dalam waktu yang lama di tengah-tengah masyarakat tersebut.

2. Secara naturalistik penyakit dijelaskan dengan istilah sistemik yang bukan pribadi.
Sistem-sistem naturalistik mengakui adanya suatu model keseimbangan, sehat terjadi
karena unsur-unsur yang tetap dalam tubuh, seperti panas, dingin, cairan tubuh
(humor atau dosha), yin dan yang berada dalam keadaan seimbang menurut usia dan
kondisi individu dalam lingkungan alamiah dan lingkungan sosialnya. Apabila
keseimbangan ini terganggu, maka hasilnya adalah timbulnya penyakit. Walaupun
prinsip keseimbangan dalam sistem-sistem neuralistik dieksprresikan dalam berbagai
cara, tulisan masa kini mengungkapkan peran utama panas, dingin, sebagai ancaman
pokok terhadap kesehatan. Natural, nonsupranatural, dan empiris adalah istilah-istilah
yang sejajar dengan predikat “naturalistik” namun istilah “supranatural” dan
“magical” kurang tepat karena keduanya,

3. Ruang Lingkup Dan Peranan Antropologi Kesehatan

Penyakit muncul tidak bersamaan dengan saat munculnya manusia, tetapi sebagaimana

dikemukakan oleh Sigerit (Landy 1977), penyakit adalah bagian dari kehidupan yang ada di

bawah kondisi yang berubah-ubah.

Menurut Foster dan Anderson kesehatan berhubungan dengan perilaku. Perilaku

manusia cenderung bersifat adaptif. Terdapat hubungan antara penyakit, obat-obatan, dan

kebudayaan. Menurut Landy antropologi kesehatan adalah suatu studi tentang konfrotasi
manusia dengan penyakit serta rasa sakit, dan rencana adaptif yaitu sistem pengobatan dan

obat-obat yang dibuat oleh kelompok manusia berkaitan dengan ancaman yang akan datang.

dengan tingkah laku rewel, sering menangis dan tidak nafsu makan. Orang dewasa dianggap sakit
jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan nafsu makan, atau "kantong kering" (tidak punya uang).
Selanjutnya masyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu : 1. Karena
pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia 2. Makanan yang diklasifikasikan ke
dalam makanan panas dan dingin. 3. Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain.). Untuk
mengobati sakit yang termasuk dalam golongan pertama dan ke dua, dapat digunakan obatobatan,
ramuan-ramuan, pijat, kerok, pantangan makan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab
sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan dukun, kyai dan lain-lain. Dengan demikian upaya
penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap penyebab sakit. Beberapa
contoh penyakit pada bayi dan anak sebagai berikut: a. Sakit demam dan panas. Penyebabnya
adalah perubahan cuaca, kena hujan, salah makan, atau masuk angin. Pengobatannya adalah
dengan cara mengompres dengan es, oyong, labu putih yang dingin atau beli obat influensa. Di
Indramayu dikatakan penyakit adem meskipun gejalanya panas tinggi, supaya panasnya turun.
Penyakit tampek (campak) disebut juga sakit adem karena gejalanya badan panas. b. Sakit mencret
(diare). Penyebabnya adalah salah makan, makan kacang terlalu banyak, makan makanan pedas,
makan udang, ikan, anak meningkat kepandaiannya, susu ibu basi, encer, dan lain-lain.
Penanggulangannya dengan obat tradisional misalkan dengan pucuk daun jambu dikunyah ibunya
lalu diberikan kepada anaknya (Bima Nusa Tenggara Barat) obat lainnya adalah Larutan Gula Garam
(LGG), Oralit, pil Ciba dan lain-lain. Larutan Gula Garam sudah dikenal hanya proporsi campurannya
tidak tepat. c. Sakit kejang-kejang Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit panas dan
kejang-kejang disebabkan oleh hantu.

Pengkajian Topik Antropologi Kesehatan


Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan
sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Bentuk dari
perilaku tersebut ada dua yaitu pasif dan aktif. Perilaku pasif merupakan respon internal dan
hanya dapat dilihat oleh diri sendiri sedangkan perilaku aktif dapat dilihat oleh orang lain.

Prilaku kesehatan yang terjadi di kabupaten Boyolali diantaranya adalah sebagai berikut :

Prilaku negative masyarakat

1. Masih banyak bahkan sebagian besar masyarakat yang tidak peduli dengan kebersihan
lingkungan terbukti dari masih banyaknya sungai yang menjadi tempat pembuangan sampah
sementara air sungai juga digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan menyuci
baju masyarakat sekitar.

solusi :
pemberian paparan tentang kesehatan dan peringatan akan bahaya yang akan di timbulkan
dari prilaku tersebut.