Anda di halaman 1dari 20

1

Judul : Laporan Praktik Lapang Pelayanan Kesehatan


Reproduksi Sapi Perah di Wilayah Koperasi
Peternakan Bandung Selatan (KPBS), Kecamatan
Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Tanggal Pelaksanaan: 04 September s/d 30 September 2017
Nama/NRP : Eka Deandra Rahayu, SKH / B94164116

PELAYANAN INSEMINASI BUATAN (IB)

Teknologi inseminasi buatan (IB) merupakan suatu proses perkawinan yang


dilakukan dengan cara mendeposisikan semen ke dalam saluran reproduksi betina
agar terjadi proses fertilisasi, proses ini biasanya dilakukan dengan bantuan
manusia (Zelpina et al. 2012). Teknologi ini merupakan teknologi yang sudah lama
dikenal namun masih relevan untuk digunakan sampai sekarang. Inseminasi buatan
mulai dilaksanakan di Indonesia pada tahun 1952 oleh Balai Penyelidikan Hewan
di Bogor (sekarang Balai Penelitian Ternak). Salah satu pelayanan yang dilakukan
di KPBS Pangalengan adalah pelayanan inseminasi buatan.
Peralatan dan bahan yang dipersiapkan untuk dibawa saat melakukan IB yaitu
thermos berisi straw semen beku dan nitrogen cair, gun IB, plastic sheath, pinset,
gunting, tisu, nota pelayanan IB dan pulpen. Straw yang digunakan (Gambar 1) di
KPBS Pangalengan berasal dari pejantan bernama Dunde dengan nomor identitas
(ID) 31088 dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) Singosari. Selama mengikuti
kegiatan harian paramedis di KPBS Pangalengan, mahasiswa telah mengikuti
petugas melakukan IB sebanyak 18 kali.

Gambar 1 Straw yang digunakan di KPBS Pangalengan

Sebelum melakukan IB, petugas akan mengonfirmasi kondisi berahi dengan


melakukan pemeriksaan fisik seperti kondisi vulva yang merah, bengkak dan
berlendir, serta pemeriksaan palpasi perektal untuk melihat folikel. Petugas juga
menanyakan informasi mengenai identitas sapi, waktu saat tanda berahi muncul,
waktu IB terakhir, dan waktu terakhir partus. Menurut Ball dan Peters (2004),
tanda-tanda sapi berahi adalah menaiki sapi lainnya, mengeluarkan suara keras,
gelisah, adanya sekresi lendir jernih dari organ reproduksi, kenaikan suhu tubuh
berhubungan dengan peningkatan aktifitas, serta perubahan vulva menjadi bengkak
dan merah. Deteksi berahi dilapangan dilakukan pada pagi dan sore ketika
pemerahan, akan tetapi sebaiknya deteksi berahi juga dilakukan pada malam hari.
Keberhasilan dalam mendeteksi berahi merupakan hal yang sangat penting
dalam keberhasilan inseminasi buatan. Sebelum melakukan IB, paramedis biasanya
menanyakan kapan mulai terlihat gejala berahi, kapan terakhir diinseminasi, dan
sudah berapa kali diinseminasi. Komunikasi dengan peternak mengenai kebenaran
2

kondisi sapi yang dilaporkan berahi sangat penting terkait dengan keberhasilan
dalam mendeteksi berahi karena masih terdapat beberapa peternak yang kurang
memahami tanda-tanda berahi pada sapi. Paramedis juga memastikan pemeriksaan
luar dengan mengamati bagian vulva untuk melihat perubahan yang menunjukkan
gejala berahi dan melakukan palpasi perektal untuk memastikan dan mengetahui
kondisi uterus dan ovarium. Sapi yang berahi saat dilakukan palpasi rektal
uterusnya akan menegang dan ditemukan adanya folikel yang telah matang. Berahi
sapi berlangsung kira-kira 18 jam dengan siklus berahi rata-rata 21 hari. Waktu
yang paling tepat untuk mengawinkan sapi adalah 12 sampai 24 jam sesudah fase
estrus terlihat (Ball dan Peters 2004).
Prosedur pelaksanaan IB dimulai dari pengamatan berahi, handling semen
beku, thawing semen beku sampai dengan pelaksanaan inseminasi sangat
memengaruhi keberhasilan perkawinan (Zelpina et al. 2012). Teknik pelaksanaan
IB oleh petugas di lapang dimulai dengan mempersiapkan peralatan dan bahan IB.
Straw dikeluarkan dari thermos untuk proses thawing. Thawing adalah proses
pencairan kembali semen beku sebelum digunakan untuk IB. Faktor yang
memengaruhi keadaan spermatozoa khususnya keutuhan spermatozoa dalam
semen beku yaitu suhu dan lama thawing. Proses thawing yang baik dapat
dilakukan pada suhu 37 oC selama 25–30 detik dan dalam suhu air biasa sekitar 25–
30 oC selama 60 detik (Affandy et al. 2007). Thawing terbaik dilakukan pada suhu
37 oC selama 25–30 detik. Selama mengikuti petugas di lapangan, suhu air yang
digunakan untuk thawing kurang diperhatikan. Perlakuan tersebut menyebabkan
spermatozoa tidak mengalami thawing dengan sempurna sehingga belum
mengalami perubahan temperatur yang sesuai dengan kehidupan sel spermatozoa.
Perlakuan yang kurang tepat terhadap semen pada saat thawing akan menjadi salah
satu faktor yang menyebabkan rendahnya angka kebuntingan pada inseminasi
pertama. Hal ini Setelah proses thawing, straw dimasukkan ke dalam gun IB lalu
sumbat pabrik digunting dan plastic sheath dipasang. Selanjutnya dilakukan palpasi
per rektal untuk membantu mengarahkan gun IB menuju serviks. Setelah ujung gun
IB mencapai cincin serviks ketiga selanjutnya semen beku dideposisikan dan gun
IB dikeluarkan dari saluran reproduksi sapi betina. Ketika di lapangan, sisa plastic
sheath jarang di buang pada tempat sampah, menyebabkan plastic sheath beresiko
termakan oleh sapi.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan
inseminasi buatan, antara lain performa sapi betina, keahlian inseminator, kualitas
semen yang digunakan, proses thawing, ketepatan dalam deteksi berahi dan waktu
IB. Setelah dilakukan inseminasi buatan, maka dilakukan recording oleh petugas
IB dengan membuat nota/catatan pelayanan IB. Nota/catatan ini bertujuan untuk
mengetahui dan mengevaluasi keberhasilan IB, mengetahui semen pejantan yang
digunakan, jumlah straw yang terpakai, kinerja inseminator dan juga sebagai data
dari KPBS.
Usaha pengembangan sapi perah bergantung pada salah satu faktor yang
mempunyai hubungan dengan program IB diantaranya produksi susu, reproduksi
sapi perah dan genetik (Supraptono dan Siddiq 2008). Penggunaan teknologi IB
pada usaha peternakan sapi perah harus diikuti dengan seleksi pejantan yang ketat
sehingga dapat menghasilkan peningkatan kemampuan genetik untuk produksi
susu. Menurut Warwick et al. (1995), dalam program IB perlu merencanakan
penggunaan pejantan-pejantan yang mempunyai karakteristik tertentu untuk
3

direkomendasikan sebagai pejantan unggul. Banyaknya penggunaan pejantan


dimaksudkan untuk menghindari adanya inbreeding dan sebagai pilihan alternatif
apabila terdapat pejantan yang menurunkan cacat genetik. Menurut Supraptono dan
Siddiq (2008), nilai koefisien inbreeding yang membahayakan apabila telah lebih
dari 12.5%. Akibat dari inbreeding akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan,
kemampuan reproduksi, kekuatan (vigor) dan adanya faktor letal atau kelainan yang
diwariskan dari silang dalam. Dijelaskan lebih lanjut setiap kenaikan 10% koefisien
inbreeding pada sapi perah akan menurunkan produksi susu sebesar 190 kg/laktasi
dan produksi lemak sebanyak 6 kg/laktasi (Warwick et al. 1995).
Menurut Supraptono dan Siddiq (2008), dalam penggunaan IB, pejantan
yang digunakan merupakan hasil seleksi yang cermat dan akurat dengan kualitas
pejantan yang keunggulannya didasarkan atas catatan produksi dua generasi
tertuanya baik dari jalur jantan maupun jalur induk (pejantan register) dan pejantan
yang kriteria keunggulannya berdasarkan penampilan produksi susu anak betina
keturunannya (pejantan proven).
Sistem pencatatan pada sapi yang di IB maupun sapi yang mendapatkan
pengobatan di KPBS Pangalengan sudah baik. Petugas akan mencatat jenis
pelayanan pada nota pelayanan IB (Gambar 2) yang telah disediakan, kemudian
lembar kedua atau ketiga akan diberikan pada peternak dan lembar yang asli akan
menjadi arsip. Data harian akan dimasukkan ke komputer oleh administrator.

Gambar 2 Nota pelayanan IB

Keberhasilan program IB dapat dinilai berdasarkan hasil kebuntingan yang


diperoleh. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur pelaksanan IB,
diantaranya adalah CR% dan S/C. Nilai rata-rata CR% dan S/C di KPBS
Pangalengan adalah 47.14% dan 2.1. CR adalah nilai penghitungan persentase
betina yang bunting oleh IB pertama dari semua akseptor. Menurut Taylor dan Field
(2004), nilai CR minimum yang baik adalah tidak kurang dari 60%. Nilai CR yang
rendah dapat diakibatkan oleh rendahnya keakuratan deteksi berahi, kesalahan
penanganan semen, rendahnya kualitas semen, tidak tepatnya waktu inseminasi,
kesalahan teknik inseminasi, gangguan organ reproduksi, buruknya status nutrisi,
fertilitas atau kondisi cuaca yang tidak optimal (Smith 2007). Dari literatur tersebut
disebutkan penanganan semen yaitu salah satunya thawing dapat menjadi salah satu
penyebab angka CR yang tidak optimal, jadi petugas lapangan harus
memperhatikan terutama lama dan suhu thawing yang tepat.
S/C merupakan jumlah pelayanan yang diberikan untuk memperoleh satu
kebuntingan. Menurut Hiroshi et al. (2002) dalam Ali et al. (2005) bahwa angka
S/C rata-rata adalah 1.41±0.82. Untuk dapat mencapai nilai S/C yang baik (dalam
batas normal) harus didukung dengan manajemen dan keterampilan peternak dalam
4

mendeteksi berahi. Hal lain yang juga sangat mempengaruhi keberhasilan IB adalah
adanya masalah reproduksi pada sapi betina yang tidak terdeteksi oleh peternak dan
paramedis. Faktor lain diantaranya adalah kurang diperhatikannya kebersihan vulva
dan gun IB saat akan melakukan inseminasi sehingga memungkinkan masuknya
bakteri ke vagina dan uterus.
Selama di lapang mahasiswa diberikan kesempatan untuk ikut serta dalam
melaksanakan inseminasi buatan apabila pemilik sapi mengizinkan. Jika pemilik
sapi tidak mengizinkan maka mahasiswa hanya melihat proses IB dan membantu
dalam proses thawing, pemasangan straw ke gun IB, hingga pencatatan dalam nota
pelayanan IB sesuai dengan data sapi yag diinseminasikan. Rekapitulasi kegiatan
inseminasi dicantumkan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Rekapitulasi pelayanan IB di KPBS Pangalengan


No Kegiatan Jumlah (ekor)
1 Inseminasi Buatan (IB) 18
2 Inseminasi Buatan yang dilakukan -
mahasiwa
Total 18

PELAYANAN PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN (PKB)

Pelayanan pemeriksaan kebuntingan di KPBS Pangalengan sudah


dilaksanakan terprogram berdasakan catatan dari pelaksanaan IB 2 bulan
sebelumnya. Pemeriksaan kebuntingan bertujuan untuk mengetahui keberhasilan
IB yang telah dilakukan, mengetahui kondisi fetus, dan menentukan waktu kering
kandang (Abeygunawardena 2007). Peternak biasanya meminta untuk memastikan
kebuntingan pada sapi kurang lebih setelah dua bulan pasca IB. Pelaksanaan
pemeriksaan kebuntingan di KPBS Pangalengan sudah terprogram. Setiap petugas
medis memiliki catatan yang digunakan untuk mengontrol sapi di area kerja
masing-masing. Keuntungan PKB yang terprogram adalah dapat mengetahui sedini
mungkin keberhasilan IB yang dilakukan, dapat memperkirakan waktu kelahiran,
dapat mengetahui ada tidaknya kelainan selama kebuntingan sehingga dapat
menyiapkan penanganan yang cepat dan tepat, dan dapat tercapainya efisiensi
reproduksi.
PKB yang dilakukan di lapang dengan metode palpasi perektal. Metode
palpasi perektal dilakukan secara hati-hati dan sistematis mulai dari serviks, corpus
uteri, dan cornua uteri. Palpasi per rektal pada hewan bunting kurang dari 40 hari
dalam Ball dan Peters (2004) merupakan pemeriksaan yang cukup beresiko karena
dapat menyebabkan trauma baik untuk induk maupun fetus. Oleh karena itu,
pemeriksaan paling cepat dan mengurangi kejadian abortus dapat dilakukan 40 hari
setelah di IB. Petugas lapang dalam melakukan PKB sudah tepat yaitu kurang lebih
setelah dua bulan pasca IB. Umur kebuntingan tersebut dirasakan dengan
berbedanya ukuran diameter antara cornua kanan dan kiri. Beberapa perubahan
yang ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan kebuntingan antara lain,
kesimetrisan (asimetris) kornua uteri, fluktuasi cairan amnion, konsistensi uterus,
besar dan lokasi kornua uteri dalam rongga pelvis, adanya membran fetus,
5

peningkatan vaskularisasi arteri uterina media (fremitus), dan pergerakan dari


fetus. Kegiatan pemeriksaan kebuntingan yang dilakukan selama di tempat praktek
disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Rekapitulasi kegiatan PKB yang diikuti mahasiswa


Usia Jumlah
Temuan di Lapang Literatur
kebuntingan (ekor)
Kosong 1 Tidak didapatkan -
temuan.
2 bulan 1 Cornua uteri yang Asimetri cornua uteri,
asimetris. fluktuasi, bifucartio uteri
terasa, organ reproduksi masih
berada di ruang pelvis
(Noakes et al. 2008).
8 bulan 1 Kepala terutama bagian Kepala dan kaki sudah mudah
mulut teraba, fremitus teraba karena fetus sudah
arteri uterina berdesir mulai masuk keruang pelvis
kuat (Govind 2010).
6 bulan 1 Asimetri kornua uteri Asimetri kornua uteri sudah
yang sudah tidak jelas, tidak jelas, fluktuasi, fremitus
fluktuasi, fremitus arteri uterina. Organ
arteri uterine yang reproduksi letaknya lebih
berdesir ringan dan masuk ke ruang abdomen
organ reproduksi (Noakes et al. 2008).
letaknya lebih masuk ke
ruang abdomen

PELAYANAN PREPARTUS DAN POSTPARTUS

Pengobatan prepartus di KPBS Pangalengan jika ada laporan dari peternak.


Apabila tidak ada laporan, maka penanganan prepartus tidak dilakukan.
Penanganan yang dilakukan pada sapi prepartus adalah dengan memberikan Vitol-
140® (tiap ml mengandung vitamin A, 80000 IU, vitamin D3, 40000 IU dan
vitamin E 20 Mg dengan dosis 10 ml). Vitol-140® berfungsi untuk meningkatkan
daya tahan induk dan meningkatkan ketahanan fetus yang dilahirkan. Pemberian
Vitol-140® pada periode pre partus dilakukan hanya sekali diberikan dengan dosis
10 ml.
Menurut Huzzey (2003) pada periode prepartus yang terpenting harus
diperhatikan adalah menejemen pakan yang kaya akan gizi untuk akhir
perkembangan janin, proses partus, dan produksi susu. Saat umur 7 bulan sebaiknya
pemberian rumput hijau diperbanyak dan konsentrat dikurangi. Pada umur
kebuntingan 9 bulan pemberian konsentrat ditambah dan rumput hijau dikurangi.
Peningkatan pemberian konsentrat karena mengandung mineral dan kalsium yang
dapat serap sebagai energi saat partus. Apabila pada masa prepartus tidak ada
perhatian terhadap menajemen pakan, maka kelainan metabolisme akan muncul
pasca kondisi purpurealis.
Pelayanan postpartus dan kesehatan hewan (sapi sakit) juga dilakukan hal
6

yang sama seperti pelayanan IB dan PKB. Pelaporan postpartus maupun sapi sakit
dilakukan peternak dengan meletakkan kartu laporan sakit di kotak khusus pada
setiap pos kelompok peternak. Kartu laporan sakit tersebut berwarna merah yang
didalamnya memuat nama anggota, alamat, kelompok peternak, dan penjelasan
kegunaan kartu tersebut hanya untuk sapi yang benar-benar sakit.
Keadaan post partus pada sapi sangat penting untuk diawasi
perkembangannya. Faktor penyakit, gangguan reproduksi post partus, menejemen
pemeliharaan post partus menjadi faktor penyebab panjangnya calving interval. Hal
ini terkait dengan proses involusi uterus. Pelayanan post partus dilakukan pasca sapi
melahirkan. Pelayanan yang diberikan berupa pemberian Vitamin B-Complex®
dengan dosis 10 ml (dosis 10-15 ml) atau Vitol-140® (Vitamin A, retinol-propionate
80 000 IU, Vitamin D3, cholecalciferol 40 000 IU dan Vitamin E, a-tocopherol
acetate 20 Mg) dengan dosis 10 ml (dosis 10 ml) IM dan antibiotika cotrimoxazole
960 mg (mengandung trimetoprim 160 mg dan sulfametoxazol 800 mg/kaplet)
dengan dosis 2 kaplet (dosis 2-4 kaplet) secara intrauterin (IU).
Sediaan vitamin diberikan pada sapi yang mengalami kelemahan pasca
melahirkan. Pemberian multivitamin juga bertujuan untuk meningkatkan
metabolisme dan memperbaiki kondisi tubuh post partus. Pemberian vitamin B
komplek bertujuan untuk meningkatkan stamina tubuh dan meningkatkan nafsu
makan. Akan tetapi, pemberian vitamin B kompleks pada sapi tidak disarankan
karena hewan ruminansia dapat menghasilkan vitamin B sendiri dari hasil
metabolisme di rumen yang berasal dari hijauan kecuali jika sapinya tidak mau
makan (Bechdel 2015). Sedangkan pemberian vitamin A,D,E sudah tepat untuk
proses revitalisasi endometrium.
Pemberian antibiotika ditujukan untuk menekan jumlah bakteri yang
kemungkinan menginfeksi uterus pasca melahirkan. Pemberian antibiotika
cotrimoxazole biasanya diberikan sesaat setelah pengeluaran manual plasenta oleh
petugas. Tujuan petugas memberikan antibiotika adalah untuk mengurangi adanya
infeksi sekunder bakteri di dalam uterus. Pemberian antibiotika ini sebenarnya tidak
dianjurkan apabila tidak terlihat gejala demam atau infeksi. Pemilihan obat-obatan
post partus disesuaikan dengan laporan dan gejala klinis yang dialami sapi setelah
melahirkan.
Periode post partus harus selalu dipantau dan diperhatikan proses
puerpuriumnya harus berjalan dengan sempurna, yaitu involusi uteri ±40 hari,
regenerasi endometrium, kembalinya fungsi ovarium (ovarian rebound), dan
eliminasi mikroba. Proses eliminasi mikroba merupakan masa kritis selama post
partus dapat dilihat dari pengeluaran lochia. Pengeluaran lochia terjadi selama 7-10
hari atau maksimal selama 2 minggu. Lochia yang dikeluarkan secara normal
berwarna merah kecoklatan, kecokelatan seperti serum darah sampai kuning terang
tembus. Tetapi apabila terjadi infeksi didalam uterus lochia yang dikeluarkan bisa
disertai nanah disertai bau busuk. Pengamatan pengeluaran lochia saat post partus
penting untuk memonitor proses puerpurium dengan baik. Jadi pada periode post
partus yang paling penting adalah pemberian pakan dengan kualitas yang baik,
monitoring post partus, dan tindakan pengobatan hanya dilakukan jika terjadi
infeksi.
Involusi uterus melibatkan hilangnya cairan intraluminal, penyusutan ukuran,
dan perbaikan endometrium. Sejumlah besar darah dalam uterus pasca kelahiran,
yang bercampur dengan sisa-sisa bagian karunkula setelah 4 hari, yang berubah
7

menjadi cairan bening pada hari ke-12 pasca melahirkan dan lama-kelamaan
menurun kuantitas cairan tersebut pada hari ke-23 pasca melahirkan. Cairan ini
disebut lochia uterus, terdiri dari leleran mukosa, dentritus, darah, jaringan yang
dimulai 3-4 hari dan mulai berkurang sampai hari ke-9 pasca melahirkan. Lokia
mempunyai warna yang berbeda, mulai dari putih, putih kekuningan atau abu-abu
dengan karakter mukopurulent yang merupakan bagian akhir dari periode
puerpurium. Cairan ini dianggap sebagai proses normal (Drillich 2006). KPBS
Pangalengan telah melakukan penyuluhan pre partus dan post partus kepada
peternak.

PENANGANAN GANGGUAN REPRODUKSI

Kegiatan pelayanan penanganan gangguan reproduksi di KPBS


Pangalengan yang dilakukan oleh dokter hewan maupun paramedis berupa
pemberian vitamin, antibiotika, analgesik, maupun antiinflamasi yang sesuai
dengan penyakit yang ditemukan di lapang. Adapun kasus reproduksi yang
ditemukan selama praktek di KPBS Pangalengan berikut ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3 Rekapitulasi Jenis Gangguan Reproduksi pada Sapi Perah di KPBS


Pangalengan

No Kasus Jumlah
1 Pyometra 1
2 Hipofungsi ovary 1
3 Distokia 1
4 Endometritis 1

PEMBAHASAN

Kasus 1

Pyometra

Pemeriksaan
Sapi 1
Klinis

Anamnesa Sapi mengeluarkan leleran putih kental purulent dari


vagina dan menunjukkan gejala berahi.

Sinyalemen
Nama NN
Jenis hewan Sapi
Ras/breed Frisian Holstein
8

Warna rambut Hitam dan putih


Jenis kelamin Betina
Umur 3 Tahun
Berat badan ±350 kg

Status present
Pemeriksaan fisik Baik
Perawatan Baik (BCS 2.5)
Gizi 38 ºC
Suhu 72x/menit
Frekuensi jantung 32 x/menit
Frekuensi nafas

Alat kelamin Keluar discharge purulent


Vulva dari vagina

Kelenjar mammae Simetris

Gejala klinis Keluar discharge purulent


dari vagina ketika berahi.
Diagnosa Pyometra
Prognosa Fausta
Terapi 5 ml Penstrep® ditambah aquades sampai 20 ml
diberikan secara intrauterine.

Gambar 3 Discharge yang menempel pada ekor sapi

Berdasarkan temuan klinis tersebut, maka dilakukan pemeriksaan melalui


palpasi rektal untuk memastikan keadaan saluran reproduksi sapi tersebut. Hasil
pemeriksaan palpasi rektal ditemukan adanya cairan yang mengisi uterus sehingga
uterus ketika teraba terasa membesar. Berdasarkan gejala, temuan klinis dan
pemeriksaan palpasi rektal, sapi tersebut didiagnosa mengalami pyometra. Secara
normal, uterus mampu membersihkan dirinya sendiri dari infeksi dan berada dalam
9

keadaan steril. Pada periode postpartus, uterus sapi biasanya dicemari dengan
bermacam-macam organisme. Adanya kontaminasi menyebabkan terjadinya
penyakit pada uterus. Salah satu gangguan reproduksi karena patologis uterus
adalah pyometra. Menurut Sayuti et al. (2012), pyometra merupakan peradangan
kronis mukosa uterus (endometrium) yang ditandai dengan nanah dalam uterus
menyebabkan gangguan reproduksi yang bersifat sementara (infertil) atau
permanen (majir), dan dapat terjadi pada semua jenis hewan ternak. Gejala pada
hewan yang menderita pyometra adalah tidak munculnya berahi dalam waktu lama
atau anberahi, siklus berahi hilang karena adanya corpus luteum persisten, cairan
nanah yang mengisi penuh uterus dan adanya leleran (discharge) yang dapat dilihat
disekitar ekor dan vulva. Secara klinis, sapi menunjukkan rasa sakit pada uterus
yang ditandai dengan sering melihat ke belakang (pada bagian yang sakit), ekor
sering diangkat dan selalu merejan disertai adanya discharge disekitar ekor, vulva
dan perineum (Sayuti et al. 2012). Selain itu, hal yang membedakan pemeriksaan
palpasi rektal pada sapi yang mengalami pyometra diantaranya tidak ditemukan
fremitus pada arteri uterina media dan dinding uterus menebal.
Pengobatan yang dilakukan pada kasus pyometra sapi pemberian antibiotika
secara intrauterine menggunakan Penstrep® 400 ( sebanyak 5 ml yang ditambah
aquades sampai 15 ml dan dikombinasikan dengan PGF2α, Galapan® (D-
Clopostrenol 74 mkg dan 1 mg chlorocresol) sebanyak 5 mL secara intramuscular
(dosis 2 ml). Pemberian antibiotik diulang 3 hari kemudian apabila kondisi belum
membaik. Antibiotika berfungsi untuk membunuh kuman-kuman penyebab infeksi.
Sementara PGF2α menyebabkan terjadinya pembukaan serviks dan uterus sehingga
menyebabkan relaksasi serviks dan pengeluaran leleran dari uterus (Hirsbruner et
al. 2000). Penggunaan antibiotik penstrep untuk irigasi intrauterine kurang tepat.
Hal ini karena penstrep mengandung sodium formaldehyde sulfoxylate yang dapat
mengiritasi mukosa. Partodihardjo (1980) menyatakan terapi yang dapat dilakukan
pada pyometra didasarkan pada pelepasan corpus luteum persisten secara manual
atau dengan penyuntikan prostaglandin (PGF2α) dengan dosis tinggi (30-40 mg)
secara intramuskuler untuk mengembalikan siklus berahi, dilatasi serviks dan
kontraksi uterus serta pengeluaran discharge dari uterus.
Kejadian pyometra dapat dicegah dengan memperhatikan sanitasi
lingkungan, penanganan partus dan pelaksanaan inseminasi buatan secara aseptis.
Pemberian antibiotika secara intramuskuler atau intrauterine perlu dilakukan untuk
mencegah infeksi sekunder dan mempercepat persembuhan. Hasil penelitian Sayuti
et al. (2012) terhadap sapi-sapi yang menderita pyometra dan diterapi dengan
menggunakan kombinasi antibiotika dengan PGF2α menunjukkan pengeluaran
discharge yang lebih cepat dibandingkan sapi yang diterapi hanya dengan
menggunakan antibiotika. Pengeluaran discharge pada sapi yang diterapi dengan
kombinasi antibiotika dan PGF2α mulai terjadi sehari setelah terapi sedangkan pada
sapi yang diterapi hanya dengan antibiotika hampir dikatakan tidak terjadi
meskipun abdomennya tertekan saat berbaring. Sehingga pengobatan dengan
antibiotika dirasa sudah tepat.
10

Kasus 2

Hipofungsi Ovari

Sapi 1
Anamnesa Sapi tidak pernah berahi.
Signalement
- Nama Sapi NN
- Umur 3 tahun
- Berat Badan ±200 kg
Status Present
- Perawatan Baik
- Pertumbuhan BCS 2.0
- Suhu 37.5 oC
- Frek Nafas 40 x/menit
- Frek Jantung 80x/menit
Gejala Klinis Sapi tidak berahi, ketika dilakukan palpasi ukuran
ovarium kecil.
Diagnosa Hipofungsi ovari
Prognosa Fausta
Terapi Ovalumon® 10 ml IM dan Vitol® 10 ml IM.

Hipofungsi ovarium merupakan kondisi patologik dimana terjadi


ketidakseimbangan konsentrasi hormon karena adanya gangguan sekresi hormon
Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Lutenizing Hormone (LH). Fungsi
ovarium menjadi kurang aktif sehingga tidak terdapat pertumbuhan folikel dan
korpus luteum. Permukaan ovarium yang mengalami hipofungsi akan menjadi licin.
Hipofungsi ovarium merupakan salah satu gangguan reproduksi pada sapi betina
yang disebabkan oleh kesalahan manajemen pakan. Kondisi ini dapat dialami sapi
dara maupun sapi induk postpartus.
Ketika dipalpasi, ovarium terasa pipih, licin dan sedikit keras. Menurut
Toeliehere (1981), ovarium yang mengalami hipofungsi berukuran normal atau
sedikit kecil, rata, licin dan tidak mengunjukkan aktifitas folikel atau korpus
luteum. Gangguan keseimbangan hormon FSH dan LH dapat terjadi karena
beberapa hal yaitu kesalahan manajemen pakan seperti defisiensi nutrien tertentu,
stres dari lingkungan dan defisiensi hormon tertentu. Gangguan tersebut
menyebabkan terganggunya fungsi hipotalamus-pituitari-ovarium dan berdampak
pada penurunan sekresi Gonadotropin-releasing Hormone (GnRH) oleh
hipotalamus dan diikuti menurunnya hormon gonadotropin FSH-LH serta
mengakibatkan tidak tumbuhnya folikel pada ovarium. Menurut Hafez dan Hafez
(2000) kejadian hipofungsi ovari juga akan menyebabkan menurunnya sekresi
gonadotropin sehingga tidak ada aktivitas ovarium setelah m elahirkan. Menurut
Noakes (2001), kekurangan nutrisi akan memengaruhi fungsi hipofisa anterior
sehingga produksi dan sekresi hormon FSH dan LH rendah, yang menyebabkan
ovarium tidak berkembang atau mengalami hipofungsi.
Penanggulangan sapi hipofungsi ovari dengan BCS 2.0 adalah dengan
perbaikan pakan. Sapi tersebut harus mendapatkan hijauan dan konsentrat yang
11

cukup. Dengan perbaikan pakan tersebut diharapkan dapat memperbaiki fungsi


reproduksinya. Terapi yang dilakukan di lapangan adalah dengan pemberian
Ovalumon® 10 ml (dosis 5-10 ml). Ovalumon® mengandung estradiol benzoat. Sapi
juga diberikan Vitol® sebanyak 10 ml (dosis 10 ml), yang memiliki kandungan
vitamin A, D dan E selama 3 hari. Selain hormon dan mineral, pemberian vitamin-
vitamin tersebut dapat membantu untuk menginduksi siklus baru dan meningkatkan
keberhasilan konsepsi. Pengobatan yang dilakukan tidak berhasil karena pemberian
hormon estradiol pada pengobatan hipofungsi ovari merupakan pengobatan yang
kurang tepat. Karena estrogen hanya akan menyebabkan sapi memperlihatkan
gejala estrus tetapi tidak membuat sapi mengalami pertumbuhan dan perkembangan
folikel . Pada kasus anestrus postpartum akibat hipofungsi ovarium, apabila tidak
ditangani dengan pemberian preparat hormon yang dapat merangsang pertumbuhan
dan perkembangan folikel (gonadotropin) atau preparat yang dapat merangsang
pelepasan gonadotropin (GnRH), maka tidak akan terjadi pertumbuhan dan
perkembangan folikel sehingga tidak akan muncul estrus (Suartini et al. 2013).
Menurut Pemayun (2009), untuk mengatasi kejadian anestrus postpartum akibat
hipofungsi ovarium dapat dilakukan dengan penyuntikan gonadotropin dan
memperbaiki manajemen pemeliharaan.
Pohan dan Talib (2010) menyatakan pemberian progesteron dengan dosis
tunggal 62.5 mg secara IM atau perpaduan antara progesteron 62.5 mg dilanjutkan
3 hari kemudian dengan pemberian estradiol 1.0 mg secara IM dapat menimbulkan
estrus dan kebuntingan pada sapi yang mengalami hipofungsi ovari. Dasar
fisiologik dari penggunaan progesteron adalah melalui reaksi umpan balik
negatifnya terhadap hipothalamus yang bersifat sementara dan setelah efek
hambatan hilang, maka akan terjadi sekresi FSH dan LH dalam jumlah yang lebih
banyak dari biasanya yang disebut dengan LH surge. Dengan demikian akan terjadi
proses pertumbuhan dan pematangan folikel menjadi folikel de graaf sehingga
terjadi ovulasi.

Kasus 3

Distokia

Sapi 1
Anamnesa Sapi dara dengan usia kebuntingan telah 9 bulan
memiliki tulang pelvis yang kecil. Sapi telah
mengalami perejanan dan pengeluaran lendir yang
cukup banyak.

Signalement
- Nama Sapi NN
- Umur 3 tahun
- Berat Badan ±400 kg
Status Present
- Perawatan Baik
- Pertumbuhan BCS 3
12

- Suhu 38.6 oC
- Frek Nafas 64 x/menit
- Frek Jantung 72 x/menit
Gejala Klinis Tidak bisa melahirkan
Diagnosa Distokia
Terapi Operasi sectio caesaria

Gambar 4 Tulang pelvis sapi yang kecil menyebabkan distokia

Distokia adalah gangguan reproduksi yang terjadi pada hewan dimana hewan
sulit atau mengalami perpanjangan waktu partus dibandingkan dengan kebuntingan
normal, sehingga menjadi tidak mungkin kembali bagi induk untuk mengeluarkan
fetus kecuali dengan pertolongan manusia. Penyebab distokia dibagi menjadi dua,
yaitu penyebab langsung dan penyebab dasar. Penyebab langsung terdiri dari
penyebab maternal dan fetus (Jackson 2007).
Faktor yang menjadi penyebab dasar adalah genetik, ras/breed, penyakit,
pakan dan exercise. Faktor genetik baik dari induk maupun dari pejantan
berpengaruh terhadap ukuran fetus yang besar sehingga menyebabkan distokia.
Ras/breed berpengaruh terhadap masa kebuntingan yang lebih lama dan memiliki
proporsi kelahiran dengan ukuran fetus yang lebih besar sehingga memungkinkan
terjadinya distokia. Contohnya breed Aberdeen angus memungkinkan terjadinya
distokia 3%, Simmental 10%, Charolais 9%, Frisian Holstein 6%. Pada sapi jenis
Charolais pendukung utama terjadinya distokia karena ukuran pevis yang kecil dan
fetus yang terlalu besar. Pengaruh penyakit terhadap terjadinya distokia misalnya
hipokalsemia saat melahirkan menimbulkan inersia uterine primer atau kegagalan
uterus dalam berkontraksi sehingga sulit saat melakukan pengejanan. Pemberian
pakan yang tidak sesuai (defisiensi/berlebih) dapat menimbulkan risiko terjadinya
distokia. Pakan yang berlebih akan menyebabkan ukuran fetus besar dan
meningkatkan timbunan lemak intrapelvis sehingga proses pengejanan tidak
efisien, sedangkan pakan yang kekurangan menyebabkan kurangnya kekuatan
induk saat pengejanan. Exercise pada sapi bertujuan untuk membantu peningkatan
tonus otot yang mendukung dalam proses partus.
13

Faktor maternal yang menjadi penyebab distokia yaitu kondisi induk sapi,
pelvis area, lama kebuntingan, dan umur induk sedangkan faktor fetal terdiri dari
ukuran fetus, jenis kelamin fetus, kondisi fetus, maldeposition pada fetus, kembar
siam, serta fetal monster (Ball & Peters 2004). Kondisi induk sapi berkaitan dengan
ada tidaknya penyakit maupun kelainan pada induk yang bisa menyebabkan
terjadinya distokia. Lama kebuntingan berkaitan dengan ukuran fetus, karena
semakin lama masa kebuntingan akan semakin banyak nutrisi yang diserap oleh
fetus untuk pertumbuhan. Umur induk berkaitan dengan kondisi dewasa kelamin
pada induk yang berhubungan dengan ukuran pelvis (Jackson 2007).
Kejadian distokia yang terjadi pada kasus disebabkan karena umur induk
yang masih dara.sehingga erat kaitannya dengan diameter tulang pelvis yang
sempit. Walaupun posisi fetus dalam kondisi normal untuk lahir normal, tetapi
kelahiran normal tidak akan dapat terjadi akibat jalan keluar yang sempit. Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani distokia, yaitu tindakan
manipulatif, sectio caesaria, dan fetotomi. Tindakan manipulasi dilakukan dengan
menarik atau mengubah posisi fetus yang awalnya mengalami abnormalitas
menjadi normal sehingga fetus dapat dikeluarkan secara normal. Metode
manipulasi meliputi repulsi, eksitasi, rotasi, versio, dan retraksi. Sectio caesaria
merupakan teknik pengeluaran fetus melalui tindakan bedah. Fetotomi merupakan
metode penanganan distokia dengan cara pemotongn fetus menjadi potongan-
potongan yang lebih kecil sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan melalui saluran
peranakan. Teknik ini dilakukan jika fetus sudah dalam keadaan mati dan tidak
dapat dikoreksi secara manipulatif.
Teknik penanganan yang tepat dilakukan pada kejadian kasus distokia yang
terjadi adalah sectio caesaria. Teknik ini dilakukan dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui dinding abdomen di daerah flank (legok lapar) atau
laparatomi (Noordin 2012). Sebelum melakukan operasi, sapi dihandling secara
tepat. Daerah flank kiri dicuci bersih dan dilakukan pencukuran dengan lebar 5 cm
dan panjang 30-40 cm. Setelah itu, dilakukan disinfeksi menggunakan iodium
tincture dan penyuntikan anastesi regional lidokain sebanyak 100 ml di sekitar
flank. Anastesi yang dilakukan dilapang kurang tepat karena tidak menggunakan
anastasi paralumbal, hanya dilakukan anastesi lokal sehingga hanya bagian kulit
saja yang teranastesi dan menyebabkan sapi tetap akan merasakan sakit ketika
dioperasi. Insisi kemudian dilakukan pada kulit secara tegak lurus di sepanjang
daerah yang telah dicukur sekitar 30-40 cm.
Tindakan insisi dimulai dari kulit, otot, serosa, dan uterus. Setelah
melakukan insisi peritoneum, rumen akan terlihat dan harus didorong ke arah
cranial untuk mencari letak dinding uterus. Setelah menemukan uterus, dinding
uterus kemudian disayat yang disesuaikan dengan besar fetus agar pengeluaran
fetus tidak terhalangi. Selaput amnion kemudian disayat dan segera dilakukan
fiksasi pada fetus. Kedua kaki fetus ditarik keluar dan dibersihkan dari selaput fetus.
Rongga uterus kemudian dibilas menggunakan NaCl yang telah ditambahkan
dengan 15 ml antibiotika Penstrep-400® (Procaine Penicillin G 200 000 IU dan
Streptomycin Sulphate 500 mg) sebelum dilakukan penjahitan pada dinding uterus
menggunakan catgut. Setelah dijahit, uterus dimasukkan kembali ke dalam rongga
perut dan dibersihkan dari sisa-sisa darah atau jaringan yang berasal dari rongga
uterus menggunakan NaCl. Otot yang disayat juga ditutup kembali menggunakan
cat gut. Sayatan kulit ditutup dengan interlocking suture menggunakan benang
14

nilon. Daerah jahitan kemudian dibersihkan dan disemprot dengan alamycin spray.
Tindakan sectio caesaria ditampilkan pada Gambar 5.

Gambar 5A) Induk sapi dalam kondisi yang lemah dan berbaring, B) pencukuran
pada daerah flank kiri, C) Penyuntikan anestesi lokal lidokain, D)
Penyayatan kulit, E) Penyayatan otot sampai peritonium, F) Pencarian
uterus dan pengeluaran, G) Penarikan fetus, H) Pembersihan fetus, I)
Penjahitan dinding uterus, J) Pemberian NaCl yang dicampur dengan
antibiotika penstrep ke rongga perut, K) Penjahitan kulit dengan
interlocking suture, L) Penyemprotan alamycin spray ke daerah bekas
sayatan.

Setelah operasi selesai, sapi diberi terapi antibiotika Penstrep® (mengandung


Penicillin G 200.000 IU dan dyhidrostreptomycine sulphate 250 mg) 20 ml secara
15

IM (dosis 10-20 ml) selama 3 hari berturut-turut. Pemberian antibiotika


dimaksudkan untuk mencegah adanya infeksi akibat proses operasi yang mungkin
tidak steril. Pemberian terapi antibiotika dilakukan selama tiga hari berturut-turut.
Selain antibiotika, sapi juga diberi infus dextrose (Infadex) sebanyak 500 ml (dosis
100-500 ml). Pedet yang telah dikeluarkan selanjutnya dibersihkan dari sisa-sisa
selaput yang menyelubungi, diberi kolostrum dalam 6 jam setelah kelahiran, dan
pemberian antibiotika spray pada daerah umbilikus setelah lahir.
Berbagai macam teknik penanggulangan distokia pada sapi bergantung dari
hasil diagnosis klinis yang terlihat setelah mempertimbangkan anamnese yang
disampaikan oleh peternak dan mengetahui kedudukan fetus menjelang proses
kelahiran baik yang normal maupun abnormal (Noordin 2012). Penanganan yang
dapat dilakukan diantaranya adalah mutasi yaitu mengembalikan presentasi, posisi
dan postur fetus agar normal dengan cara didorong, diputar dan ditarik, penarikan
paksa juga dapat dilakukan apabila uterus lemah dan janin tidak dapat menstimulir
perejanan, penanganan distokia lainnya adalah pemotongan janin (fetotomi)
dilakukan apabila presentasi, posisi dan postur janin yang abnormal tidak bisa
diatasi dengan mutasi, penarikan paksa dan keselamatan induk yang diutamakan,
dan penanganan distokia lainnya adalah operasi caesar yang merupakan alternatif
terakhir apabila semua cara tidak berhasil. Operasi ini dilakukan dengan
pembedahan perut dengan alat dan kondisi yang steril (Affandy et al., 2007). Pada
kasus ini karena distokia disebabkan oleh tulang pelvis induk yang kecil, maka
penanganan dengan operasi sectio caesaria sudah tepat, akan tetapi anastesi yang
dilakukan masih kurang tepat karena tidak menggunakan anastesi paralumbal.
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian
distokia diantaranya adalah pengaturan manajemen pakan yang baik sebelum dan
saat kebuntingan, sapi tidak di IB dengan semen ras yang ukuran badan lebih besar,
pencegahan penyakit reproduksi sapi, exercise yang cukup pada sapi bunting,
pengawasan kebuntingan sejak dini, dan pemeriksaan organ reproduksi (Jackson
2017).

Kasus 4

Endometritis

Sapi 1
Anamnesa Sapi mengeluarkan leleran berwarna keruh dari vagina
Sinyalemen
Nama NN
Jenis hewan Sapi
Ras/breed Frisian Holstein
Warna rambut Hitam dan putih
Jenis kelamin Betina
Umur 3 Tahun
Berat badan ±350 kg

Status present
Pemeriksaan fisik
16

Perawatan Baik
Gizi Baik
Suhu 38 ºC
Frekuensi jantung 88 x/menit
Frekuensi nafas 20 x/menit

Alat kelamin
Vulva Terdapat discharge
mukopurulent
Kelenjar mammae Simetris
Keluar discharge
Gejala klinis mukopurulent dari vagina.

Endometritis
Diagnosa
Prognosa Fausta
Terapi 5 ml Penstrep® ditambah aquades sampai 20 ml
diberikan secara intrauterine.

Gambar 6 Discharge pada sapi yang mengalami endometritis

Endometritis merupakan peradangan pada endometrium dan biasanya akan


terbentuk lapisan mukus di bagian dalam uterus sebagai hasil infeksi bakteri akibat
kontaminasi (Ball dan Peters 2004). Organisme yang spesifik dapat menyebabkan
endometritis yaitu Campilobacter fetus dan Trichomonas fetus. Akan tetapi kondisi
tersebut juga dapat disebabkan bakteri non spesifik seperti Corynebacterium
pyogene, Escherichia coli, dan Fusobacterium necrophorum.
Gejala endometritis menurut literatur salah satunya adalah terdapat leleran
berwarna jernih keputihan sampai kekuningan yang keluar secara berlebihan dari
vagina dan uterus (Nurhayati et al. 2008). Gejala lain yang tampak adalah adanya
17

nafsu makan yang menurun, produksi susu menurun yang disertai demam (Ball dan
Peters 2004). Bila sudah berlangsung lama biasanya hewan tidak memperlihatkan
gejala sakit dan berahi. Salah satu bentuk khusus dari penyakit ini yaitu pyometra.
Gejala klinis yang sering terlihat pada sapi di wilayah KPBS Pangalengan adalah
keluarnya leleran berwarna putih susu yang cukup banyak, sangat kental, berbau.
Biasanya terjadi pada sapi yang dilaporkan peternak tidak pernah menunjukkan
gejala berahi serta beberapa kali dikawinkan tapi tidak pernah bunting. Pada
beberapa kasus, sapi mengalami demam tidak mau makan dan produksi susu juga
menurun, ditemukan lendir kekuningan keluar dari organ reproduksi.
Sebelum melakukan tindakan pengobatan, petugas akan melakukan
inspeksi apakah terdapat leleran lendir putih kental yang keluar dari vulva dan
untuk meneguhkan diagnosa petugas akan melakukan palpasi perektal. Hasil
palpasi perektal petugas ditemukan ukuran kedua uterus lebih besar dibandingkan
dari uterus normal dan dinding uterus menebal, beberapa kasus terjadi secara
bilateral maupun unilateral. Menurut Drillich (2006), temuan klinis melalui palpasi
perektal adalah asimetris/simetris cornua uterus disertai penebalan dinding uterus.
Penanganan penyakit dilakukan dengan cara melisiskan corpus luteum dalam ovari
dengan pemberian Prostaglandin dan antibiotika. Tiga hari setelah pemberian obat,
hewan menunjukkan gejala berahi dan servik akan dilatasi sehingga discharge
keluar.
Pada kasus di lapang, petugas melakukan pengobatan dengan menggunakan
infusi intrauterine 5 ml Penstrep-400® (Procaine Penicillin G 200 000 IU dan
Streptomycin Sulphate 500 mg) ditambah aquades 15 ml. Setelah itu, sapi diinjeksi
dengan Lutalyse® Dinoprost tromethamin 5 mg dan Benzyl alcohol 9.45 mg)
dengan dosis 5 ml secara IM (dosis 5 ml secara IM). Pada kasus endometritis
dimana CL tidak ditemukan, treatment berupa infus antibiotika atau sulphonamide
ke uterus diulang setiap 2 hari selama seminggu pengobatan. Penstrep® 400 LA
yang berisi Procaine penicillin G 200000 IU, Dihydrostreptomysin sulphate 200 mg
dipilih untuk terapi ini karena memiliki spektrum luas. Akan tetapi, penggunaan
antibiotik penstrep untuk irigasi intrauterine kurang tepat. Hal ini karena penstrep
mengandung sodium formaldehyde sulfoxylate yang dapat mengiritasi mukosa.
Antibiotik lain yang dapat digunakan pada kasus endometritis adalah dengan
pemberian cephapirin benzathine yang dapat memperbaiki performa reproduksi
sapi yang terkena endometritis secara intrauterine dan hormon PGF2α yang akan
menyebabkan luteolisis serta menyebabkan relaksasi serviks dan pengeluaran
nanah dari uterus (Sayuti et al. 2012).
Ball dan Peter (2004) mengemukakan bahwa terapi yang berpotensi
mengatasi kasus ini adalah terapi antibiotika sistemik, irigasi uterus, pemberian
injeksi estrogen atau prostaglandin untuk menginduksi respon uterus. Irigasi
intrauterin yang baik dapat menggunakan NaCl fisiologis hangat berfungsi untuk
mengaktifkan vaskularisasi uterus dan merangsang tubuh mengeluarkan fagosit-
fagosit. Penggunaan NaCl fisiologis sebagai pengencer antibiotik lebih baik karena
sifat NaCl fisiologis yang isotonis sehingga menyebabkan antibiotika lebih lama
menempel di lumen. Pengobatan yang dilakukan oleh petugas di lapang sebaiknya
tidak harus selalu melakukan spool antibiotika, namun dilihat terlebih dahulu
derajat keparahan endometritisnya. Menurut Drillich (2006) penggunaan
antibiotika secara sistemik atau intrauterin akan efektif pada endometritis yang
kronis.
18

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Prosedur IB oleh petugas lapangan belum terlaksana dengan baik dan


benar, misalnya penanganan semen pada saat thawing yaitu suhu dan lama
thawing yang harus diperhatikan.
2. Deteksi berahi hanya dilakukan pagi dan sore hari
3. Efisiensi reproduksi di KPBS Pangalengan sudah cukup baik
4. Penanganan kasus yang tidak tepat

Saran

1. Perlu pelatihan dan upgrading petugas inseminator dan kesehatan hewan


untuk meningkatkan keberhasilan reproduksi.
2. Deteksi birahi sebaiknya dilakukan pada pagi, sore dan malam hari agar
efisiensi reproduksi tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Abeygunawardena H, Abeygunawardena IS, Pushpakumara PGS. 2007. Improving


the Reproductive Management of Dairy Cattle Subjected to Artificial
Insemination. University of Peradeniya Sri Lanka. 113-118.
Affandy LS, Dikman DM, Aryogi. 2007. Manajemen Perkawinan Sapi Potong.
Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Affandy LS, Pratiwi WC, Ratnawati D. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan
Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong. Pasuruan (ID): Pusat Penelitian
dan Pengembangan Peternakan.
Ali AKA, Alessa AA, Alshaikh MA, Aljumaah RS, Al-Haidary AA, Alkraidees
MS. 2005. Odds Ratio and Probability of Conception of HolsteinFriesian
Dairy Cows in the Kingdom of Saudi Arabia. J Anim Sci. 18(3):308-313.
Ball PJH, Peters AR. 2004. Reproduction in Cattle. Ed-3. Iowa (AU) : Blackwell
Bechdel SI.2015. Synthesis Of Vitamin 3 In The Rumen Of The Cow.
http://www.jbc.org/. Department of Agricultural and Biological Chemistry,
Pennsylvania State ColZege, State Caollege [02 November 2017]
Drillich M. 2006. An Update On Uterine Infections In Dairy Cattle. Slov Vet Res.
43 (1): 11-5.
Govind P. 2010. Methods Of Pregnancy Diagnosis in Domestic Animals: The
Current Status. Webmed Central Reproduction. 1(12).
Hafez B, Hafez E. 2000. Reproduction in Farm Animal. 7th Edition. Philadelphia
(US): Lippincott Williams and Wilkins.
Hisbruner, G, R. Ficher, U. Kupfer, H. Burkhardt, and A. Steiner. 2000. Effect of
different doses of prostaglandin F2a on intrauterine pressure and uterine
motility during diestrus in experimental cows. Theriogenology 54(2):291-
19

303.
Huzzey MJ. 2003. Pre-partum behaviour and intake identify dairy cows at risk for
post-partum metritis [Thesis]. Columbia: The University of British Columbia.
Jackson PGG. 2007. Handbook Obstetri Veteriner Edisi Kedua. Yogyakarta(ID) :
Gadjah Mada University Press.
Macmillan J. 2012.The in Calf Project: improving reproductive performance of
cows in australian dairy. Dairy Cow Fertility : International Conference
Herds.
McDougall S, Compton C. 2005. Reproductive Performance of Anestrous Dairy
Cows Treated with Progesterone and Estradiol Benzoate. J. Dairy Sci. 88:
2388.
Noordin M. 2012. Teknik Penanganan Gangguan Kelahiran pada Sapi. Bogor(ID):
IPB Press.
Noakes DE. 2000. Fertility and Infertility. Adrews AH, editor. Iowa(USA):
Blackwell Publishing. 137-146
Noakes DE, Parkinson TJ, England GCW. 2008. Arthur’s Veterinary
Reproduction and Obstetric. London (GB): Elsevier
Nurhayati IS, Saptati RA dan Martindah E. 2008. Penanganan Gangguan
Reproduksi Guna Mendukung Pengembangan Usaha Sapi Perah. Bogor (ID):
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan.
Pemayun TGO. 2009. Induksi Estrus Dengan PMSG Dan GnRH Pada Sapi Perah
Anestrus Post Partum. Buletin Veteriner Udayana 1 (2) : 83-87.
Pohan A, C Talib. 2010. Aplikasi hormone progesterone dan estrogen pada betina
induk sapi bali anestrus postpartum yang digembalakan di Timor Barat, Nusa
Tenggara Timur. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner :
18-24.
Ratnawati D, Pratiwi WC, Affandhy L. 2007. Petunjuk Teknis Penangan Gangguan
Reproduksi Pada Sapi Potong. Pasuruan (ID): Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan
Smith R D. 2007. Factors Affecting Conception Rate. http://www.wvu.edu/ ~ext
en/infores/pubs/livepoul/ dirm10.pdf. Cornell University [02 November
2017].
Suartini NK, Trilaksana IGNB, Pemayun TGO. 2013. Kadar estrogen dan
munculnya estrus setelah pemberian Buserelin (agonis GnRH) pada sapi bali
yang mengalami anestrus postpartum akibat hipofungsi ovarium. J Ilmu dan
Kesehatan Hewan. 1(2) :40-44.
Supraptono, Siddiq R. 2008. Peran Penyediaan Pejantan Proven untuk
Pengembangan Usaha Sapi Perah di Indonesia (The Role on Proven Bull
Stock for the Dairy Cattle Development in Indonesia) dalam Semiloka
Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020.
Balai Inseminasi Buatan Lembang.
Taylor RE dan Field TG. 2004. Scientific Farm Animal Production (An Introduction
to Animal Science). Britain (UK): Pearson Prentice Hall.
Toelihere MR. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Jakarta (ID): Bumi
Angkasa.
Zelpina E, Rosadi B, Sumarsono T. 2012. Kualitas Spermatozoa Post Thawing dari
Semen Beku Sapi Perah. JIIP. 15(2): 94 – 102.
20