Anda di halaman 1dari 50

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

KRISIS AKUNTANSI DAN MEMBANGUN KEMBALI


KEPERCAYAAN PUBLIK

KELOMPOK 9

Disusun Oleh :

Wahyu Cahyadi (1510112007)

Zahra Ismi Fauziyyah (1510112014)

Reiza Rachman (1510112077)

Nabila Fairuz Fatin (1510112090)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PEMBANGUANAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan
tepat waktu. Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai “Krisis akuntansi
dan Membangun kembali kepercayaan publik”. Makalah yang kami buat ini
guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi

Kami menyadari, dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan.
Hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan pengetahuan dan pengalaman yang
kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca,
demi perbaikan dan kesempurnaan makalah di waktu yang akan datang. Dan kami
berharap semoga makalah ini dapat bagi para pembaca.

Jakarta , Maret 2018

Penyusun

1ii
DAFTAR ISI

Halaman
COVER
KATA PENGANTAR ..................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................... iii
BAB I . PENDAHULUAN .............................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................... 2
BAB II . PEMBAHASAN ............................................................... 3
A. Akuntansi,Pasar Modal,Earning Management ....................... 3
B. Menurunnya Pamor Akuntansi Di Amerika ........................... 6
C. Kelemahan Akuntansi Sebagai Penyuplai Informasi ............. 9
D. Alternatif Di Luar Akuntansi Konvensional .......................... 13
E. Kritik Terhadap Akuntansi Konvensional .............................. 14
F. Akuntansi Forensik ................................................................. 20
G. Beberapa Faktor Hilangnya Kepercayaan Publik................... 28
H. Saran Untuk Membangun Kembali Kepercayaan Publik ....... 34
I. Reformasi Akuntansi Menurut David Mosso ......................... 36

BAB III . PENUTUP ....................................................................... 46


A. Kesimpulan ............................................................................. 46

DAFTAR REFERENSI

2iii
i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berkembangnya profesi akuntan publik telah banyak diakui oleh berbagai
kalangan. Kebutuhan dunia usaha, pemerintah dan masyarakat luasakan jasa
akuntan inilah yang menjadi pemicu perkembangan tersebut, namun demikian
masyarakat belum sepenuhnya menaruh kepercayaan terhadapprofesi akuntan
publik. Krisis atau menurunnya kepercayaan dari masyarakat terhadap mutu jasa
yang diberikan oleh akuntan publik di Indonesia semakin terlihat jelas seiring
dengan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia sertafenomena kebangkrutan
perusahaan, seperti kasus Bank Mega skandal Enrondan Worldcom di USA, yang
melibatkan salah satu big four, yaitu ArthurAndersen CPA.

Profesi akuntan sangat berperan penting dalam dunia bisnis, di bidang


bisnis profesi akuntan memiliki tempat yang istimewa karena seperti halnya
profesi-profesi lainnya, profesi akuntan dituntut harus memiliki keahlian lebih
dalam bidang akuntansi. Jika dicermati sudah banyak lembaga-lembaga
pendidikan yang khusus mengajarkan teori mengenai akuntansi, sepertihalnya
kurikulum di sekolah dan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta,tidak
hanya itu munculnya lembaga-lembaga kursus akuntansi di Indonesia kini sudah
mulai banyak. Kondisi di dunia kerja pun seolah menyambut positif fenomena ini,
hal ini ditandai dengan banyaknya peluang yang diberikan oleh perusahaan
terhadap kebutuhan profesi akuntan. Dengan adanya kondisi ini secara tidak
langsung persaingan dalam dunia kerja akan semakin ketat, seorang akuntan
dituntut harus memiliki kompetensi yang lebih baik dibandingkan dengan akuntan
lainnya.

Profesi akuntan sekarang ini dituntut untuk mampu bertindak secara


profesional sesuai dengan etika profesionalisme audit. Hal tersebut dikarenakan
profesi akuntan mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang diperbuat baik

3
1
terhadap pekerjaannya, organisasinya, masyarakat dan dirinya sendiri. Dengan
bertindak sesuai etika maka kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan
akan meningkat. Terlebih saat ini profesi akuntan diperlukan oleh perusahaan,
khususnya perusahaan yang akan masuk ke dalam pasar modal. Hal ini
disebabkan setiap perusahaan yang hendak ikut serta dalam bursa efek wajib
diaudit oleh akuntan publik.

B. Rumusan Masalah
1. Apa peranan akuntansi,pasar modal, earning management?
2. Apa penyebab menurunya pamor akuntansi di amerika?
3. Apa kelemahan akuntansi sebagai penyuplai informasi?
4. Apa alternative di luar akuntansi konvensional dan kritik terhadap
terhadap akuntansi konvensional?
5. Bagaimana kasus mengenai akuntansi publik yang ada di Indonesia?
6. Apa itu akuntansi Forensik?
7. Apa faktor-faktor hilangnya kepercayaan publik dan saran untuk
membangun kembali kepercayaan publik?
8. Bagaimana reformasi akuntansi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui peranan akuntansi,pasar modal, earning management
2. Untuk mengetahui penyebab menurunya pamor akuntansi di amerika
3. Untuk mengetahui kelemahan akuntansi sebagai penyuplai informasi
4. Untuk mengetahui alternative di luar akuntansi konvensional dan kritik
terhadap terhadap akuntansi konvensional
5. Untuk mengetahui kasus mengenai akuntansi publik yang ada di
Indonesia
6. Untuk mengetahui akuntansi Forensik
7. Untuk mengetahui faktor-faktor hilangnya kepercayaan publik dan saran
untuk membangun kembali kepercayaan publik
8. Untuk mengetahui reformasi akuntansi

24
BAB II
PEMBAHASAN

A. AKUNTANSI,PASAR MODAL,EARNING MANAGEMENT


Peranan Akuntansi di Pasar Modal sangat penting, bahkan ada yang
menilai bahwa akuntansi atau laporan keuangan merupakan urat nadinya pasar
modal. Tanpa laporan keuangan maka pasar modal tidak akan bisa berjalan
dengan lancar. Di pasar modal nrgara yang sudah maju dikenal suatu hukum atau
hipotesis yang disebut dengan Pasar yang efisien atau Efficient Market
Hyphotesis (EMH). Menurut hipotesis ini pasar modal yang efisien adalah situasi
dimana pasar modal atau harga dari saham, obligasi atau surat berharga yang
diperdagangkan di pasar modal merupakan hasil dari pemikiran rasional para
pelaku pasar yang mengetahui dan mendapatkan sumber informasi yang ada di
pasar.
Jika ada informasi yang muncul dipasar dan mempengaruhi harga
signifikasi harga saham maka bisa disebut pasar “kuat”, namun bila informasi
tidak dapat mempengaruhi signifikan harga saham maka disebut dengan pasar
“lemah”. Kendatipun ada informasi masuk yang baru namun sama sekali tidak
mempengaruhi harga saham bisa disebut dengan keaadaan pasar tidak efisien.

EMH bisa terjadi pada periode tertentu, jangka waktu tertentu atau sektor
industri tertentu.
Hal ini terjadi karena beberapa alasan yaitu:
1. Situasi ekonomi makro kita belum stabil
Hal ini disebabkan karena struktur dan manajemen ekonomi makro kita
belum murni atau belum dominan diatur oleh mekanisme pasar. Hal ini
menyebabkan analisis dan prediksi para pelaku pasar sering tidak akurat.

2. Di negara maju, manajemen makronya lebih terarah karena


umumnya menggunakan tangan atau mekanisme Bank Sental

1
3
Di negara tersebut faktor tingkat bunga dapat dijadikan sebagai alat
pengontrol atau mengendalikan ekonomi makro dari aspek moneter.

3. Porsi atau peranan pasar modal sebagai sumber investasi dana pasar
modal sudah sangat besar
Berbeda dengan negara berkembang yang porsinya sangat kecil. Kalah
jauh dengan porsi negara atau porsi perbankan. Ini berarti pemilik modal
lebih banyak menginvestasikannya pada pasar modal, contohnya USA
yang 75% rakyat sudah aktif berinvestasi di pasar modal.

4. Tingkat kepercayaan terhadap informasi yang dikeluarkan profesi


akuntan yang ada belum tinggi
Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal .
a. Standar akuntansi masih menggunakan standar asing yang belum
sesuai dengan kondisi dan pemahaman lokal
b. Quality Control di organisasi profesi sendiri di Indonesia yaitu
IAPI belum berjalan dengan baik
c. Sistem hukum dan penegakan hukum belum berjalan dengan baik
d. Tanggung jawab serja keahlian profesi belum seperti yang
diharapan publik
e. Kualitas informasi yang disajikan juga belum sesuai dengan
kebutuhan masyarakat

5. Masih belum banyak investor yang memahami laporan keuangan


sebagai sumber informasi bisnis
Pelaku pasar modal di Indonesia masih belum banyak yang menggunakan
laporan keuangan sebagai sumber informasi dala melakukan keputusan
bisnis.
6. Pelaku pasar modal belum banyak
Hal ini disebabkan dengan pendapatan masyarakat belum memungkinkan
untuk bermain dipasar modal.

24
7. Tingkat profitabilitas di pasar modal belum menjanjikan
Banyak pelaku usaha tidak yakin akan keuntungan yang diperoleh di pasar
modal. Bahkan dengan ketidakstabilan kondisi ekonomi sering pelaku
mengalami kerugian, khususnya pemain kecil.

Di Amerika karena pasarnya dinilai efisien maka manajemen berupaya


untuk memfokuskan diri pada upaya melahirkan laporan keuangan yang bagus.
Umumnya laporan keuangan yang bagus dinilai dari likuiditas, solvabilitas dan
rentabilitas. Tetapi dari semua ukuran tersebut yang paling penting adalah
informasi tentang kemempuan mendapatkan laba atau rentabilitas. Oleh karena itu
banyak manajemen yang berupaya untuk meningkatkan laba dari perusahaannya
dengan berbagai cara. Angka laba ini bukan saja untuk meningkatkan harga
saham perusahaan, tetapi adalah kepentingan pribadi yaitu untuk mendapatkan
bonus eksekutif.
Untuk mengatur laba Earning Management dalam kamus akuntansi
dikenal dalam berbagai istilah. Ada yang menyebut “window dressing” atau
“lipstick accounting” untuk menciptakan laporan keuangan yang cantik. Ada
istilah cooked book atau income smoothing untuk mengatur laba dengan menu
yang diinginkan sponsor. Semua istilah tersebut berkonotasi negatif dengan ingin
menciptakan laba yang distortif inflatif tidak sesuai dengan kenyataan.
Upaya untuk mengatur laba ini kadang bisa didukung dengan standar
akuntansi yang dipakai. Artinya dengan menerapkan standar akuntansi yang
diterima umum pun saat ini kita bisa memanaj laba supaya sesuai dengan keingan
sponsor. Sifat akuntansi yang banyak mengandung taksiran (estimasi),
pertimbangan (judgment) dan sifat accrual untuk bisa mengatur laba. Taksiran
penyusutan bad debts, nilai persediaan, standar penyusutan misalnya straight line,
double declining dan sebagainya bisa mengubah angka laba.
Maka tidak heran di Amerika saat ini sangat ketat pengawasan manajemen
perusahaan atau corporate governance. Dengan adanya undang-undang
peningkatan, tanggung jawab manajemen perusahaan yang lebih dikenal dengan
nama sarbanes oxley act maka regulator semkin kuat mencengkramnya.

35
B. MENURUNNYA PAMOR AKUNTANSI DI AMERIKA
Di era saat ini profesi akuntan di fokuskan pada fungsi pemberian
informasi, dan penyajian informasi yang reliable sehingga dapat dipergunakan
untuk kepentingan proses pengambilan keputusan. Namun, kenyataannya banyak
ditemukan laporan-laporan yang tidak sesuai dengan harapan. Laporan keuangan
dianggap hanya sebagai laporan yang ditukangi, laporan yang memakai kosmetik,
laporan yang dimasak, income smoothing, earning management dan creative
accounting. Para akuntan yang melakukan perbuatan tercela ini telah mencoreng
nama akuntan baik di level internasional maupun nasional. Kasus enron yang
terjadi belakangan ini telah memukul telak profesi akuntan. Pasalnya profesi
akuntan ini hidup diatas kepercayaan publik, jadi jika kepercayaan publik telah
hilang maka secara otomatis sebenarnya eksistensinya secara substantive hilang.

Menurunnya kepercayaan publik ini telah terasa, walaupun Amerika


misalnya telah melakukan beberapa perbaikan untuk mengembalikan kepercayaan
itu seperti dengan mengeluarkan Sarbanes Oxley Act (SOA), aturan lain dalam
peningkatan good corporate governance dan proses pengadilan bagi pelaku
kejahatan korporasi tersebut. American Accounting Association (AAA)
merupakan organisasi akuntansi terbesar di dunia yang mengumpulkan sebagian
besar akademisi dan juga praktisi akuntansi dengan anggota lainnya dari seluruh
dunia. Pamor AAA juga ternyata menurun. Terdapat data menurunnya AAA
dilihat dari keikutsertaan anggotanya yang ingin menjadi anggota AAA. Jumlah
anggota AAA pada 1994 masih 9.800 orang, 10 tahun kemudian menjadi 8.003
orang menurun 18,3%. Pada periode yang sama jumlah dosen juga menurun dari
7.092 menjadi 6.026 menurun 15%. Penurunan ini menurut Judy D. Rayburn,
Presiden AAA disebabkan beberapa hal:
a. Banyaknya dosen yang sudah pensiun
b. Menurunnya beasiswa PhD akuntansi
c. Banyaknya dosen yang bukan akuntansi yang mengajar akuntansi
d. Menurunnya anggaran universitas untuk mendukung kegiatan organisasi
akademi seperti AAA ini

64
e. Yang lama meninggalkan organisasi dan yang baru tidak berminat ikut
serta

Fenomena juga didukung dengan jumlah publikasi penelitian akuntansi.


Perbandingan rata-rata pertahun lebih rendah dengan bidang ilmu keuangan
lainnya kecuali dengan marketing. Dengan fenomena-fenomena tersebut telah
diantisipasi oleh masyarakat akuntansi khususnya di Amerika. Di luar apa yang
dilakukan oleh kongres dan pemerintah Bush saat itu dan SEC sebagai pengawas
pasar modal telah membentuk joint commission untuk mencari tahu dan utnuk
mengatasinya.

Sarbanes Oxley Act


Pada 20 Juli 2002, di Washington, USA, Presiden Bush menandatangani
UU Sarbanes Oxley Act 2002 yang merupakan UU yang mengubah UU tentang
surat berharga dan UU lainnya yang relevan. UU ini dikenal sebagai respon
terhadap berbagai skandal korporasi yang melibatkan Perusahaan Enron, Global
Crossing, WorldCom, Adelphi Communication dan lain sebagainya. Skandal ini
dikenal sebagai kerja sama apik antara manajemen konsultan, analis, dan akuntan
publik yang ingin meraup uang sebanyak-banyaknya dengan rekayasa keuangan
yang mempengaruhi sentimen pasar modal.
Sebenarnya jika dikaji lebih dalam, inti permasalahannya adalah upaya
menerapkan lebih tajam tata kerja yang baik sesuai dengan ketentuan yang
berlaku yang sudah dimiliki oleh semua profesitermasuk profesi akuntan. Dari
situasi ini muncul istilah baru yang sangat popular, yaitu istilah “GCG” atau Good
Corporate Governance. Istilah baru ini hanya merajut kembali berbagai konsep
yang sudah ada seperti istilah akuntabilitas, transparansi, independensi,
objektivitas. Berikut beberapa hal penting yang terkait permasalahan tersebut
khususnya di Amerika:
Pertama: Tanggung Jawab Perusahaan
Dengan adanya UU ini, tanggung jawab semua terafiliasi dalam perusahaan
semakin ditekan. Komite Audit harus aktif, pengawasan auditor harus

75
diperketat, pemisahan yang lebih jelas antara audit service dengan nonaudit
service, dan perlu adanya persetujuan dan pengungkapan atas semua jasa
nonaudit.

Kedua: Auditor
UU ini memkerketat aturan akuntan publik dengan membentuk Dewan
Pengawas Akuntan Publik. UU ini melarang pemberian jasa nonaudit di luar
jasa perpajakan dan adanya kewajiban untuk menggilir pelaksana dan
penanggung jawab audit.

Ketiga: Pengungkapan Diperluas


Beberapa hal yang wajib diungkapkan adalah: manajemen auditor setiap
tahunnya harus menilai sistem pengawasan internalnya. Seperti halnya di
industri perbankan, semua pembiayaan yang bersifat off-balance sheet dan
pembiayaan kontinjensi harus diungkapkan. Laporan kinerja harus disajikan.
Transaksi saham intern harus dilaporkan dalam jangka waktu dua hari.

Keempat: Analis
Analis saham harus dapat mengungkapkan kemungkinan konflik kepentingan.

Kelima: SEC
SEC memperluas objek reviewnya terhadap laporan keuangan perusahaan,
meningkatkan kekuasaan untuk memaksa perusahaan melaksanakan
peraturannya dan menaikka biaya hukuman terhadap setiap pelanggaran UU
pasar modal.

Pelajaran yang harus dipetik adalah bahwa dengan globalisasi ini, kita mau
tidak mau baik akuntan maupun perusahaan, manajemen, analis, pemerintah
selaku regulator dan juga dunia kampus harus selalu mengikuti atau kalau bisa di
depan menerapkan “good governance” di semua bidang bukan saja di swasta,6

68
tetapi juga di dunia birokrasi dan dunia akademis. Peringkat korupsi Indonesia
sebagai nomor satu di Asia dan selalu top 5 di Dunia harus segera kita tinggalkan
dengan berupaya sekuat tenaga menerapkan spirit dari UU Sarbanes Oxley Act.
Sebenarnya dengan sifat budaya kita yang religius sudah cukup menjadi modal
awal untuk menerapkan good governance, namun juga harus ditopang dengan
aturan-aturan yang baik dan benar sesuai dengan ukuran baik dan buruk yang
ditetapkan oleh nilai-nilai akhlak dan agama yang kita anut.

C. KELEMAHAN AKUNTANSI SEBAGAI PENYUPLAI


INFORMASI

Informasi sangat penting dalam proses pengambilan keputusan. Untuk


mendapatkan keputusan yang baik dan benar maka diperlukan informasi yang
lengkap, akurat, tepat waktu, dan benar. Tuhan tidak langung dan tidak banyak
memberikan informasi ini kepada manusia. Manusia harus berusaha mendapatkan
informasi.

Ilmu pengetahuan hanya bisa membahas dan memahami apa yang terlihat,
terjamah, terasa, teraba oleh indera kita. Diluar itu tidak dianggap sebagai ilmu,
artinya valliditas informasinya dinilai tidak akurat. Walapun ada informasi yang
kita percaya bukan karena proses pengetahuan, tetapi proses keyakina dan
kepercayaan.

Untuk sukses dan menjalanai hidup di dunia harus dengan ilmu atau
informasi tentang materi-materi yang terlibat dalam kehidupan. Jika kita tidak
memiliki suatu informasi maka kita tidak akan tahu apa yang harus kita lakukan.
Dan tidak semua informasi yang kita terima benar, oleh karena itu kita perlu
membuktikan mana informasi yang benar dan mana informasi yang salah.

Kita hanya bisa mengambil sikap atau tindakan atas sesuatu jika kita
mengetahui banyak informasi tentang objek yang kita maksud. Dalam ekonomi
khusunya lembaga bisnis, maka mau tidak mau bisnis dengan segala persoalnnya
harus dipahami sifat dan karakternya agar kita bisa memanage bisnis itu dengan

7
9
baik dan sukses. Salah satu ilmu yang muncul untuk megurus bisnis adalah ilmu
manajemen. Dalam ilmu manajemen kita mengetahui informasi bagaimana
mengurus atau memanange suatu perusahaan. Banyak upaya yang dilakukan
manusia khususnya para peneliti dan akademisi untuk memahami sifat-sifat bisnis
dan bagaimana cara mengurusnya untuk dapat sukses dalam mencapai tujauannya.
Salah satu instrument yang dibutuhkan manajer adalah informasi tentang bisnis
yang diberikan oelh ilmu akuntansi.

Ilmu akuntansi adalah ilmu informasi

Akuntansi memberikan keterangan mengenai berbagai kegiatan perusahaan, tetapi


sangat teerbatas pada :

1. Kegiatan yang bersifat ekonomi dan berdampak uang, yang


mengakibatkan dalam posisi keuangan baik harta, utang, modal, hasil, dan
biaya
2. Kegiatan yang melibatkan pertukaran antar berbagai pihak dalam
organisasi dan dengan luar organisasi. Ini disebut juga “reciprocal
transaction” atau transaksi timbal balik
3. Informasi bersifat moneter historis dan kuantitatif

Ketiga sifat informasi akuntansi ini sedang mengaami disorganisasi yang bias
berdampak pada eksistensi dan kemanfaatan informasi akuntansi.

Akuntansi tradisional atau konvensional tidak mampu memberikan


informasi yang utuh, relevan,up to date, dan lengkap tentang bisnis yang
dilaporkannya. Kemudian jika akuntan yang menyusun laporan keuangan tidak
memberikan informasi yang sebenarnya diperoleh dan diketahuinya

Alasan sebuah informasi tidak lengkap :

1. Tidak seluruhnya kegiatan perusahaan yang mengubah posisi keuangan


perusahaan berupa transaksi yang melibatkan uang. Saat ini banyak
aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak masuk dalam kriteria
yang melibatkan uang, misalnya kerusakan yang tidak melibatkan uang,

8
10
sumbangan tenaga dan pikiran yang tidak melibatkan uang, rahmat dan
berkah Tuhan. Zat-zat yang merupakan bagian dari kehidupan yang tidak
dinilai seperti sinar matahari, angina, dan sebagainya. Semua itu berperan
dalam menghidupi dan mensukseskan perusahaan, tetapi tidak dicatat.
2. Tidak semua kegiatan perusahaan menyangkut transaksi timbal balik.
Artinya banyak transaksi yang sifatnya tidak dilakukan secara timbal balik
yang dialami, diterima, dan dilakukan perusahaan yang tidak masuk dalam
isi laporan keuangan. Misalnya, damapk kegiatan perusahaan kepada
kehidupan sosial baik yang bermanfaat maupun yang merusak. Kemudian
contoh lainnya seperti sumbangan perusahaan, pembangunan sarana sosial
adalah kegiatan yang bermanfaat tetapi tidak langsung dibayar oleh
masyarakat. Sedangkan yang merugikan masyarakat dan tidak dibayar
perusahaan misalnya, adanya imbah, kemacetan yang ditimbulkan
perusahaan, kerusakan lingkungan, dan sebagainya.
3. Tidak semua informasi bias dikuantitatifkan apalagi diuangkan.
Sedangkan laporan akuntansi hanya berfokus pada informasi kuantitatif
dan uang. Informasi tentang suatu hal tidak hanya berupa informasi
kuantitatif bahkan tidak bias dituangkan secara kuantitatif harus
dilaporkan secara kualitatif. Misalnya untuk menilai baik dan buruk

Dari analisa di atas dapat disimpulkan bahwa saat ini akuntansi mengalami
disorganisasi karena sifatnya yang menimbulkan kelemahannya dalam
memberikan informasi yang akurat, relevan, utuh dan lengkap.

Kelemahan akuntansi sebagai penyuplai informasi jika dilihat dari penyajian


informasi dalam laporan keuangan:

1. Laporan keuangan tidak bisa disajikan secara rinci, karena hanya


dikelompokkan pada akun-akun atau tabel-tabel dengan kode tertentu.
2. Laporan keuangan tidak selalu bisa disajikan tepat waktu, karena proses
pengerjaannya rumit dan membutuhkan waktu lebih lama.

9
11
3. Laporan keuangan sering disebut sebagai laporan yang kedaluwarsa. Hal
ini, sekali lagi, karena proses pengerjaannya yang rumit dan
membutuhkan waktu lama.
4. Laporan keuangan terkadang masih perlu dilakukan penyesuaian, jika
terjadi perubahan nilai yang disebabkan karena beberapa faktor.
5. Laporan keuangan terkadang tidak mudah dipahami bagi orang awam.
Hal ini dikarenakan laporan keuangan disajikan dengan bahasa teknis
akuntansi, baik yang menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa
internasional atau Inggris.
6. Laporan keuangan memiliki konsep atau aturan yang berubah-ubah setiap
tahun. Hal ini dikarenakan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang
merupakan prinsip dari laporan keuangan masih terus disempurnakan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) setiap tahun.
7. Laporan keuangan tidak dapat menggambarkan berbagai faktor yang
dapat mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan.
8. Laporan keuangan tidak dilengkapi pengertian khusus yang menjelaskan
istilah-istilah teknis yang digunakan di dalamnya.
9. Laporan keuangan bersifat umum dan bukan ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan perusahaan, sehingga informasi yang disajikan sering tidak
terarah dan hanya memperhatikan kebutuhan semua pihak yang
berkepentingan yang sebenarnya mempunyai perbedaan kepentingan.
10. Laporan keuangan hanya mengacu pada obyek analisis laporan keuangan.
Padahal, untuk menilai Iaporan keuangan tidak cukup hanya dilihat dari
angka-angka yang disajikan di dalam tabel laporan keuangan.
11. Laporan keuangan menjadi tolak ukur kemajuan/ kemunduran suatu
perusahaan yang hanya melihat dari angka-angka tanpa melihat aspek-
aspek lainnya, seperti tujuan perusahaan, situasi ekonomi, situasi industri,
gaya manajemen, dan budaya perusahaan.
12. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian,
terlebih ketika didalamnya terdapat beberapa kesimpulan yang tidak pasti
mengenai penilaian suatu pos.

10
12
13. Laporan keuangan menggunakan angka-angka dalam rupiah yang tampak
pasti dan tepat, akan tetapi sebenarnya angka-angka tersebut tidak dapat
dijadikan sebagai panduan pasti dalam skala internasional, karena standar
nilai rupiah yang sering berubah-ubah

D. ALTERNATIF DI LUAR AKUNTANSI KONVENSIONAL

Skandal besar dalam korporasi yang memengaruhi industry keuangan


pasar modal, investor, profesi, dan karyawan menurut Bazerman (2002) tidak
lepas dari tindakan korupsi, kriminaitas dari akuntan yang tidak memiliki etika,
dimana akuntan melakukan pemalsuan angka-angka, melakukan penyelewengan
baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk melindungi kliennya. Hal ini tidak
terlepas dari faktor “unconscious bias” yang berasal dari sifat subjektif dari
akuntansi itu sendiri serta hubungan yang sangat erat antara akuntan publik dan
kliennya.

Karl Marx dan pengikutnya telah lebih dahulu mengkritik akuntansi


sebagai bagian dari ideology kapitalis yang dijadikan alat untuk meligitimasi
keadaan dan struktur sosial ekonomi dan poltik kapitalis. Akuntansi dituduh
bukan memberikan informasi yang benar tentang hubungan sosial yang harmonis,
akuntansi hanya memmentingkan kepentingan ekonominya dalam simbol laporan
laba rugi, produktivitas, dan sebagainya (Harahap, 1993).

Oleh karena itu, sudah banyak pemikiran yang mencoba memberikan


alternatif akuntansi. Hayashi (1989) mengemukakab beberapa school of thought
yang mengnajurkan new paradigm of accounting misalnya, British Critical
Accounting Schoo, Political Economy of Accounting, Hapwood’s Alternative
Accounting Theory, Gambling’s Societal Accounting. Sejauh ini yang menjadi
perhatian pemerintah Amerika adalah memperbaiki aspek teknis dari sistem
kapitalis itu, bukan filosofinya sehingga tidak heran jika krisis ekonomi akan terus
berulang. Sistem ini semakin menjadi bahan pemikiran ulang lagi setelah
beberapa skandal perusahaan terjadi belakangan ini yang puncaknya

13
11
menghasilkan Oxley Corporate Act 2002 di Amerika. Di pihak lain Triyuwono
(2000) membentangkan beberapa pemikirna akuntansi yang berada di luar
mainstream yang dilandasi American non-classical economics thought, misalnya :
Paradigma interprentif yang dimonitori Preston, 1986, Paradigma kritikal yang
disponsori Tinker, 1984, 1988. Dalam diri disiplin akuntansi konvensional itu
sendiri lahir beberapa konsep yang keluar dari mainstreamnya, seperti muncunya
socio economic accounting, environmental accounting, employee reporting,
human resources accounting, value added reporting, Islamic accounting, current
cost accounting (Belkaoui, 1984, Harahap, 2003).

E. KRITIK TERHADAP AKUNTANSI KONVENSIONAL

1. Kritik Lev tentang Akuntansi


Baruch Lev (Harahap, 2001) dari New York Universitiy mengatakan
bahwa akuntansi ini adalah bagin dari ekonomi model lama bahkan bagian dari
Luca Pacioli era 1400-an. Menurut Lev akuntan bukan “a good eyesight”. Lensa
lama tidak akan bias melihat situasi ekonomi baru. Apalagi jika ingin melaporkan
hal-hal yang berkaitan dengan aktiva tidak berwujud yagn marak saat ini seperti:
kekayaan berupa ide, merek, cara kerja, goodwill, fanrchises. Pegawai tidak
mengetahui secara akurat berapa sebenarnya kontribusi mereka terhadap
perusahaan. Demikian juga bagaimana menilai perusahan interber atau aktiva
perusahaan knoeledge based lainnya. Di samping itu, akuntansi tidak bias
memberikan pertanggungjawaban. Saat ini perusahaan banyak melakukan proyek
penelitian untuk pengembangan intangible asset dan akuntansi belum memberikan
respon yang baik. Karenanya menurut beliau perlu pemikiran kembali terhadap
prinsip akuntansi dan keuangan.

Dunia bisnis saat ini mengalami perkembangan yang demkian cepat di


mana aset perusahaan bukan lagi didominasi oleh aktiva fisik, tetapi didominasi
aktiva nonfisik. Lev mengambil contoh, menurut Standard & Poor 500, 500
perusahaan memiliki rasio market to net value perusahaan (yang terdapat di
Neraca) lebih besar dari 6. Ini berarti bahwa angka Neraca yang disupply oleh

12
14
akuntansi keuangan hanya menggambarkab 10-15% dari nilai perusahaan. Jadi
jauh sekali perbedaan nilai yang disajikan akuntansi dengan nilai sebenarnya
terjadi di pasar bursa. Sifat-sifat dari aktiva nonfisik ini sangat berbeda dari aktiva
yang selama ini menjadu andalan akuntansi keuangan untuk dicatat, diukur,
dilaporkan dan dianalisis. Perbedaan antara tangible dan intangible asset ini cukup
signifikan,.

John Kendrick seorang ekonom mengungkapakan bahwa yang


menggerakkan ekonomi Amerika sejak 1990-an adalah kenaikan nilai intagibe
asset ini,. Pada 1929 rasio modal intangible business dengan modal tangible
business adalah 30:70 dan pada 1990 sudah menjadi 63:37. Suatu kenaikan modal
intagibe business yang cukup spektakuer. Menurut beliau produk intangible assets
dapat berupa:

a. Aktiva yang dikaitkan dengan produk inovasi atau hasil R & D.


b. Aktiva yang dikaitkan dengan merek perusahaan dengan mana perusahaan
yang hanya berbisnis menjual mereknya. Misalnya Nike, Reebok,
McDonald, Dunhill, Coca Cola, Pepsi dan lainnya.
c. Aktiva sturktural yaitu jika kemampuan suatu perusahan lain selaku
kompetitornya
d. Monopoli, perusahaan yang menikmati hak-hak monopoli atau franchise
yang tidak dinikmati perudahaan lain.

Berdasarkan situasi ini maka jika akuntansi masih tetap ada pada “old law
of accounting” maka akuntansi bisa tidak dipakai lagi oleh masyarakat.

2. Kritik Belkaoui

Belkaoui (1989) menulis buku dengan judul: “The Coming Crisis in


Accounting” buku ini membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul dari:

a. Profesi Akuntan
Paling tidak di USA, dalam profesi akuntan terjadi penurunan remunerasi,
penurunan jumlah tenaga kerja, peningkatan porsi jasa konsultasi dan

15
13
oengurangan jasa akuntan/ auditing. Belkaoui menilai hal ini sebagai
proses “proletarization of accountant”. Akuntan yang seama ini dianggap
borjuis justru menjadi proletar. Di samping itu, ada juga anggapan bahwa
akuntan sebetulnya bukan tergolong sebagai profesi karena
ketidakmamuannya menjadi independen dan otonom dari langganannya
dan kehilangan monpolinya atas jasa informasi akuntansi yang saat ini
banyak disupply oleh IT. Sampai saat ini upaya-upaya menciptakan
profesi yang dapat dipercaya mulai dari pelepasan standard setting body,
pelaksanaan peer review, upaya menjaga independensi dari klien, Sarbanes
Oxley Act yang dilakukan profesi belum mampu menghilangkan berbagai
permasalahan yang mengurangi respek dan kepercayaan umum kepada
profesi.

b. Kecurangan dalam Lingkungan Akuntansi


Fraud atau kecurangan adalah tindakan criminal. Banyak tindakan fraud
yang dilakukan korporasu maupun fraud yang melibatkan akuntan
khususnya melalui laporan keuangan. Paling tidak di USA pada 1979
embezzlement atau pengguna uang atau kekayaan yang dipercayakan
keada seseorang secara tidak tepat yang ditangkap berujumlah 10.000,
sedangkan fraud atau mendapat uang atau kekayaan melalui pemalsuan,
pencurian, menulis cek, tidak membayar, memalsukan form dan alinnya,
berujumlah 199.300 dan pada 1986 masinf-masinf Embazzlement dan
Fraud menjadi 12.600 dan 349.300 kasus. Suatu peningkatan yang cukup
besar. Kecurangan ini merupakan white collar crime yang dilakukan
oknum akuntan atau akibat kegagalan audit yang dilakukan oleh akuntan.
Publik menganggap meningkatnya kecurangan ini tidak lepas dari
kegagalan profesi akuntan. Bahkan di Tanah Air akuntan sering dicap
“tukang angka” yang bisa menentukan v=jumlah laba atau rugi
perusahaan. Kasus factual telah banyak terjadi mendukung anggapan ini,
sehingga akuntan berada di ambang krisis. Krisis kepercayaan dari publik.

16
14
c. Menurunnya Workload dalam Proses Akuntansi
Karena kemajuan computer maka tugas-tugas akuntansi, khususnya dalam
penyajian laporan keuangan sudah bisa dilakukan oleh software yang user
friendly sehingga tidak memerlukan keahlian akuntansi lagi. Sehingga
beban kerja dari seorang ahli akuntan, audit, analis semakin terbatas yang
akan menimbulkan krisis profesi akuntan.

d. Iklim Organisasi di Kantor Akuntan


Di Indonesia bisanya kantor akuntan adalah fakultas kedua setelah fakultas
ekonomi. Kantor akuntan hanya sebagai batu loncatan untuk memasuki
dunia bisnis lain yang lebih menggiurkan. Bahkan turn over perpindahan
kerja, di kantor akuntan itu cukup tinggi, career path tidak jelas, job
description yang tidak tegas, semakin perlunya spesalisasi, sehingga peran
pun semakin kabur, dan bahkan semakin tingginya konflik internal dalam
kantor akuntan publik itu sendiri. Bahkan jasa ynag di perbolehkan oleh
kantor akuntan semakin diatur dan dibatasi seperti diberlakukan oleh SEC
di USA, di mana akuntan tidak bisa bebas memberikan jada pada
perusahaan yang sama karena dianggap mengurangi independensi. Di
Indonesia ternyata jurusan akuntansi pada 1990-an sampai saat ini,
merupakan jurusan primadona, meskipun dianggap agak lebih sulit
dibandingkan dengan jurusan lain di fakultas ekonomi. Fenomena ini agak
berbeda dengan fenomena yang ada di luar negeri khususnya di Amerika,
Eropa, dan Australia.

e. Problema Produksi Ilmu Pengetahuan dalam Akuntansi


Ilmu pengetahuan paling tidak saat ini lahir dari proses akademik,
sedangkan akuntansi adalah kebutuhan profesi yang brkembang secara
praktik dalam dunia bisnis. Sering terjadi d=antara hasil prses ilmu
pengetahuan dari proses akademik tidak “match” atau tidak sesuai dengan
keinginan atau kebutuhan dunia praktik sehingga sering terjadi gap antara
dunia akademis dengan dunia profesi. Memang kesadaran ini sudah mulai

15
16
17
ada sehingga banyak upaya unutk mendekatkan kedua dunia yang berbeda
ini. Hal ini juga memengaruhi kurikulum yang diajarkan di universitas.
Banyak keluhan ditemukan di pasar kerja bahwa apa yang diajarkan di
bangku kuliah tidak relevan dengan apa yang diinginkan oleh pasar atau
user dari tenaga kerja akuntan yang dihasilkan perguruan tinggi itu. Jika
hal ini berjalan terus maka akuntansi juga akan mengalami krisis.

3. Kritik Max Bazerman


Menurut Max Bazerman (2002) akuntan itu memiliki unconscious bias,
sesuatu yang bisa terjadi tanpa disadarinya disebabkan adanya “self serving bias”.
Self serving bias ini muncul disebabkan enam faktor psikis:
1) Ambiguity dari ilmu akuntansi karena banyaknya persoalan yang
memerlukan pertimbangan dan kebijakan subjektif
2) Attchement, terhadap kepentingan nasabah karena akuntan ditunjuk dan
dibayar oleh perusahaan
3) Approval, di mana akuntan selalu cenderung menerima dan menyetujui
judgment perusahaan
4) Familiarity, merupakan sifat di mana kita lebih mengutamakan membela
kenalan daripada orang asing yang belum dikenal
5) Discounting di mana orang cenderung merespon akibat yang akan muncul
segera dan menunda risiko yang masih lama
6) Escalation merupakan kecenderungan untuk menyembunyikan atau
mengabaikan hal-hal bersifat minor. Auditor pada akhirnya ikut menerima
laporan keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan.

4. Albrecht dan Sack


Albrecht dan Sack (2000) ditugaskan oleh proyek bersama antara AAA,
AICPA, IMA, Arthur Anderson, Deloitte & Touche, Ernst & Young, KPMG dan
PrincewaterhouseCoopers yang sudah dimasukkan sebagai Accounting Education
Series Volume No. 16 mereka melakukan penelitian yang sangat intens tentang

16
18
nasib pendidikan akuntansi di USA dan mereka menyimpulkan bahwa profesi ini
tengah mengalami bahaya disebabkan tiga faktor:
a) Jumlah dan kualitas mahasiswa yang memilih jurusan akuntansi menurun
secara drastic. Mereka menganggap profesi ini tidak bernilai lagi dalam
bekerja di dunia bisnis.
b) Praktisi dan akademisi akuntansi yang ingin melanjutkan studi memilih
jurusan yang bukan akuntansi
c) Tokoh akuntan dan praktisinya menyatakan bahwa pendidikan akuntansi
yang sekarang sudah kuno, rusak, dan perlu diubah secara signifikan.

Memang situasi ini belum memasuki profesi di Tanah Air, tetapi biasanya
gelombangnya akan merambah praktisi di Negara lain karena sector ekonomi
dan bisnis di kuasai oleh Amerika.

5. Akuntansi dan UKM dan Dunia Ketiga

Sebagaimana diketahui akuntansi sangat bermanfaat dalam kegiatan


bisnis. Namun, desain akuntansi yang saat ini dikenal terutama yang diajarkan di
Perguruan Tinggi lebih banyak untuk perusahaan besar dan perusahaan yang
terdaftar di pasar modal. Padahal sebagian besar perusahaan banyak tergolong
perusahaan kecil dan tidak terdaftar di pasar modal sehingga akuntansinya juga
mestinya memiliki perbedaan. Salah seorang yang bergelut dengan sector usaha
kecil dan koperasi, Thoby Mutis menyatakan beberapa akuntansi konvensional
tidak bisa diandalkan di pasar modal. Untuk Akuntansi UKM dan koperasi harus
memiliki sifar dan ciri tersendiri. Sekarang sudah muncul standar akuntansi untuk
entitas yang bukan memiliki pertanggungjawaban public dan satandar akuntansi
untuk perusahaan kecil.

6. Jim Peterson

Dalam sebuah artikelnya di International Herald Tribune tanggal 18-19


November 2006 halaman 17 dengan judul yang sangat provokatif “An Auditor’s
Cry for Love?” atau “ Auditor yang minta dikasihani?” Jim Peterson
mengemukakan isu yang sangat kristis yang selama ini sudah menjadi buah bibir

19
17
masyarakat, tetapi tidak pernah menjadikan isu formal dalam profesi yaitu apakah
jasa akuntansi selama ini dalam menyajikan informasi keuangan masih
bermanfaat?

Beliau mengungkapkan pada awal November 2006 The Big Four, ditambah dua
kembaga besar lainnya. Di mana laporan keenam lembaga penting dalam profesi
akuntan ini yang berjudul “Global Capital Markets and The Global Economy”
menyimpulkan bahwa model laporan keuangan yang sekarang ini tidak berguna
lagi. Saya kira ini merupakan pengakuan lembaga akuntan besar yang selama ini
dirasakan masyarakat. Misalnya saat ini orang lebih menggunakan harga pasar
saham di bursa sebagai alat ukur “value of the firm” atau jika belum listing
mereka menggunakan “ independent appraisal company” untuk meniali
kekayaannya. Nilai kekayaan berbasis biaya historis sudah tidak relevan. Dan
akhirnya masyarakat menggunakan harga saham, accounting income sudah
ditantang oleh economic value added atau market value added, fair value dan
sebagainya.

7. Siapa Mengawasi Akuntan

Permasalahan lain yang juga sering dihadapi dimasyarakat adalah masalah siapa
yang mengawasi akuntan. Akuntansi yag sering juga diniali sebagai profesi
pengawasan, sering di pertanyakan siapa yang mengawasinya? Kita dihadapkan
pada pertanyaan filosofi yang telah lama: “Quiz Custodiet Custodies” siapa yang
mengawasi pegawai, yang menjadi polisi bagi pois, yang mengontrol pengontrol,
yang mengawasi pengawasa? Siapa akuntan para akuntan? Dari berbagai paparan
kritik terhadap akuntansi maka hal ini perlu mendapat perhatian profesi akuntan.

F. AKUNTANSI FORENSIK
Kecurangan yang tidak ada habisnya membuat meningkatnya permintaan
pelayanan dalam penyelidikan kecurangan, oleh karena itu akuntan forensik
sangat diperlukan. Terdapat tiga elemen mendasar yang diperlukan oleh akuntan
forensik yakni mental, metode dan pengalaman. Perguruan tinggi dipandang

20
18
memiliki posisi strategis untuk memfasilitasi pencapaian elemen-elemen tersebut
melalui pendidikan (Prabowo 2013b).
Akuntansi forensik telah dikenal dalam profesi akuntansi bertahun-tahun
yang lalu, akan tetapi, baru dikenal luas ketika terjadi skandal keuangan yang
besar di dunia (seperti Enron, WorldCom, Global Crossing, dll) dalam rentang
tahun 2000-2002 dan merubah persepsi/penilaian terhadap profesi akuntansi.
Dengan demikian, pengajaran kecurangan dan akuntansi forensik untuk
mahasiswa bisnis sangatlah penting (Jackson et al. 2013). Mata kuliah akuntansi
forensik akan memungkinkan mahasiswa untuk melihat bagaimana pelaku
kecurangan mengalami tekanan untuk mengambil keuntungan terhadap
kesempatan pada perusahaan tertentu yang mungkin penting bagi perusahaan
tersebut (Carpenter 2011).
Pentingnya akuntansi forensik dalam memerangi kecurangan seperti
tindak pidana pencucian uang dan korupsi telah terlihat pada beberapa studi
akuntansi forensik. Penerapan terhadap pola pikir dan keahlian akuntansi forensik
sangat penting untuk mencegah, mendeteksi dan menanggapi kecurangan pada
kinerja tugas terhadap penilaian resiko tindak kejahatan kecurangan di sektor
publik Malaysia dan Nigeria (Popoola et al. 2014a; Popoola et al. 2014b).
Akuntansi forensik dapat mencegah dan membatasi cakupan kecurangan, sebagai
hasil dari studi; ditemukan adanya pengaruh penggunaan akuntansi forensik
dalam mendeteksi kasus-kasus korupsi keuangan (Alabdullah et al. 2014).
Akuntansi forensik telah di terapkan untuk mengungkap dan mengurangi
kejahatan di negara-negara seperti Inggris, Kanada, Jerman dan Amerika (Gbegi
dan Adebisi 2014). Permintaan akan layanan akuntansi forensik meningkat selama
beberapa tahun terakhir, dan diperkirakan bahwa perusahaan dan firma hukum
akan membangkan secara internal kemampuan akuntansi forensik daripada
mengandalkan secara eksklusif pada pihak ketiga (Henning and Misuraca 2013).
Akuntan forensik adalah akuntan yang terdaftar dan bersertifikat akuntan
yang telah memperoleh pendidikan tambahan atau sertifikasi sebagai pemeriksa
kecurangan atau sebagai seorang akuntan forensik. Anggota dari International
Federation of Accountants (IFAC) seperti American Institute of Certified Public

19
21
Accountants (AICPA) dan Chartered Professional Accountants of Cananda (CPA
Canada) dimana anggotanya yang memenuhi syarat harus memiliki Certified in
Financial Forensic (CFF) untuk dapat menjadi seorang akuntan forensik. Secara
internasional, sebagai organisasi anti kecurangan dunia, Association of Certified
Examination (ACFE) menyediakan sertifikasi untuk kecurangan yang dikenal
dengan Certified Fraud Examiner (CFE) (Singleton and Singleton 2010). Akuntan
forensik akan menggunakan pengetahuannya di bidang akuntansi, audit dan
hukum, investigasi dan kriminologi untuk mengungkap kecurangan, menemukan
bukti dan menyampaikan bukti tersebut ke pengadilan, jika dibutuhkan.
Kita dapat membedakan dua perbedaan utama antara auditor dan akuntan
forensik. Studi lain telah membuat perbedaan antara akuntan forensik dan audit.
Mengungkapkan pendapat pada keakuratan dan kelengkapan laporan keuangan
adalah tujuan audit, sedangkan tujuan akuntansi forensik adalah pengumpulan
data keuangan yang sistematis untuk menganalisa dan menginterpretasikan
masalah keuangan yang kompleks dan untuk menanggapi keluhan yang timbul
dari masalah-masalah pidana, perdata dan pertanyaan lainnya yang timbul dari
penyelidikan maupun yang bersumber pada penyelidikan terhadap suatu
perusahaan (Smith 2012). Akuntan forensik memberikan skeptisisme professional
dan kemampuan analisis untuk melihat melampaui angka yang disajikan untuk
menyelidiki dan menemukan maksud sebenarnya dari transaksi, sebaliknya, fokus
audit adalah untuk menentukan apakah laporan keuangan perusahaan disajikan
dengan wajar tanpa ada salah saji yang material (Warshacsky 2013). Audit
dilakukan untuk membantu dalam penerapan strategi manajemen untuk mencapai
tujuan serta memberikan laporan keuangan yang benar dan adil dalam lingkungan
bisnis kepada pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan, sedangakan
akuntansi forensik dilakukan untuk menyelidiki penyimpangan atau kecurangan
dan pengukuran dampak (Imoniana et al. 2013). Audit menemukan laporan salah
saji sedangkan akuntansi forensik memeriksa atau menganalisa salah saji secara
mendalam (Kushnirof 2012). Akuntansi forensik dapat dilakukan jika auditor
memiliki kecurigaan adanya penyimpangan dan salah saji yang disengaja dalam
laporan keuangan (Italia 2012).

20
22
Prosedur utama dalam akuntansi forensik lebih menekankan pada teknik
wawancara yang mendalam dan analisis data walaupun seringkali menggunakan
teknik audit umum seperti pengecekan rekonsiliasi, konfirmasi dan sebagainya.
Akuntansi forensik memfokuskan pada segmen tertentu misalnya pemasukan dan
pengeluaran yang di curigai telah terjadi tindak kecurangan atau korupsi baik dari
laporan pihak dalam atau orang ketiga (tip off) atau petunjuk terjadinya
kecurangan (red flag) dan petunjuk lainnya.
Akuntan forensik bertugas untuk mengumpulkan bukti untuk mengetahui
keabsahan transaksi akuntansi yang kompleks.. Akuntan forensik dapat
memberikan pendapat hukum dalam pengadilan. Akuntansi forensik adalah
penggunaan keahlian di bidang akuntansi, audit, hukum yang dipadu dengan
kemampuan investigatif untuk memecahkan suatu masalah atau sengketa
keuangan atau dugaan kecurangan yang pada akhirnya akan diputuskan oleh
pengadilan/arbitrase/tempat penyelesaian perkara lainnya. Kasus korupsi pada
dasarnya adalah sengketa keuangan antara negara dengan warganya yang secara
resmi telah ditunjukan untuk mengelola pemerintahan. Sengketa tersebut harus
diselidiki kebenarannya oleh lembaga negara (misalnya KPK) dan di putuskan
oleh hakim di pengadilan.

Akuntan Publik di Indonesia dan Kasus – kasus yang ada


Akuntan Publik adalah seseorang yang telah memperoleh izin dari Menteri
Keuangan untuk memberikan jasa asurans sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang Nomor 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik. Profesi akuntan publik
merupakan profesi yang memiliki peranan penting dalam perekonomian. Akuntan
Publik berperan dalam peningkatan kualitas dan kredibilitas informasi keuangan,
serta mendorong peningkatan good corporate governance. Akuntan Publik
mempunyai peranan yang signifikan dalam mendukung perekonomian nasional
yang sehat dan efisien, serta meningkatkan transparansi dan mutu informasi dalam
bidang keuangan sehingga Akuntan Publik dituntut untuk senantiasa
meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya. Dengan praktik Akuntan
Publik yang baik dan handal, maka diharapkan dapat memenuhi kebutuhan

21
23
pengguna jasa, dapat dipercaya dan mengedepankan independensi serta
profesionalisme sehingga industri-industri Indonesia menjadi lebih reliable dan
terciptalah perekonomian yang sehat.
Dalam melaksanakan suatu pekerjaan, akuntan publik dituntut untuk dapat
lebih meningkatkan kemampuan dan profesionalismenya dalam memberikan jasa.
Akuntan publik sebagai auditor eksternal dituntut untuk memiliki dedikasi
terhadap profesinya mengikuti kode etik profesi yang ditetapkan oleh organisasi
profesinya yaitu, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). Hal ini dilakukan untuk
menjaga kepercayaan masyarakat terhadap peranan Kantor Akuntan Publik.
Auditor dalam melaksanakan tugas auditnya harus berpedoman pada standar audit
yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang terdiri dari Standar
Umum, Standar Pekerjaaan Lapangan, dan Standar Pelaporan guna menunjang
profesionalisme (Herydan Merrina Agustiny, 2007). Menurut Hery dan Merrina
Agustiny(2007) ada empat elemen penting yang harus dimiliki oleh akuntan, yaitu
keahlian dan pemahaman tentang standar akuntansi atau standar penyusunan
laporan keuangan, standar pemeriksaan/auditing, etika profesi dan pemahaman
terhadap lingkungan bisnis yang diaudit. Persyaratan utama yang harus dimiliki
oleh auditor adalah wajib memegang teguh aturan etika profesi yang berlaku.
Menurut Alvin A, Arensetal. (2008: 98) etika (ethics) secara garis besar dapat
didefinisikan sebagai serangkaian prinsip atau nilai moral. Menurut Sukrisno
Agoes (2012: 42) setiap manusia yang memberikan jasa dari pengetahuan dan
keahliannya pada pihak lain seharusnya memiliki rasa tanggung jawab pada
pihak-pihak yang dipengaruhi oleh jasanya itu. Kode Etik Profesi Akuntan Publik
adalah pedoman bagi para anggota Institut Akuntan Publik Indonesia untuk
betugas secara bertanggung jawab dan objektif yaitu (a) Integritas, yaitu bersikap
lugas dan jujur dalam semua hubungan profesional dan bisnis. (b) Objektivitas,
yaitu tidak membiarkan bias, benturan kepentingan, atau pengaruh yang tidak
semestinya dari pihak lain, yang dapat mengesampingkan pertimbangan
profesional atau bisnis. (c) Kompetensi dan kehati-hatian profesional, yaitu
menjaga pengetahuan dan keahlian profesional pada tingkat yang dibutuhkan
untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja akan menerima jasa

22
24
profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, peraturan, dan
teknik mutakhir, serta bertindak sungguh-sungguh dan sesuai dengan teknik dan
standar profesional yang berlaku. (d) Kerahasiaan, yaitu menghormati kerahasiaan
informasi yang diperoleh dari hasil hubungan profesional dan bisnis dengan tidak
mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga tanpa ada kewenangan
yang jelas dan memadai, kecuali terdapat suatu hak atau kewajiban hukum atau
profesional untuk mengungkapkannya, serta tidak menggunakan informasi
tersebut untuk keuntungan pribadi Akuntan Profesional atau pihak ketiga. (e)
Perilaku Profesional, yaitu mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku dan
menghindari perilaku apa pun yang mengurangi kepercayaan kepada profesi
Akuntan Publik.
Seorang auditor harus mempunyai keahlian dan kompetensi yang baik
untuk mengumpulkan dan menganalisa bukti-bukti audit sehingga bisa
memberikan opini yang tepat. Dalam menjalankan tugasnya auditor harus
mempertahankan sikap mental independen didalam memberikan jasa profesional
sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang diatur oleh
IAI. Sikap mental independen harus meliputi independen dalam fakta (in fact)
maupun dalam penampilan (in appearance) (Mulyadi, 2002). Menurut Nichols
dan Price, 1976 (dalam Goodman Hutabarat, 2012) seringkali dalam pelaksanaan
aktivitas auditing, seorang auditor berada dalam konflik audit. Konflik dalam
sebuah audit akan berkembang pada saat auditor mengungkapkan informasi tetapi
informasi tersebut oleh klien tidak ingin dipublikasikan kepada umum. Konflik ini
akan menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan
yang menyangkut indenpendensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis
yang mungkin terjadi di sisi lainnya. Pengembangan dan kesadaran etis/moral
memainkan peran kunci dalam semua area profesi akuntansi. Akuntan secara terus
menerus berhadapan dengan dilema etika yang melibatkan pilihan antara nilai-
nilai yang bertentangan. Menurut Deis dan Giroux,1992 (dalam Godman
Hutabarat, 2012) bahwa pertimbangan profesional berlandaskan pada nilai dan
keyakinan individu, sehingga kesadaran etika moral memainkan peran penting
dalam pengambilan keputusan dalam pekerjaan audit. Selain itu, audit atas

25
23
laporan keuangan berdasarkan atas standar auditing yang ditetapkan Ikatan
Akuntan Indonesia harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sikap
skeptisisme profesional (Standar Profesional Akuntan Publik, 2001).
Auditor dituntut untuk melaksanakan skeptisisme profesionalnya sehingga
auditor dapat menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan
seksama, karena kemahiran profesional seorang auditor mempengaruhi ketepatan
opini yang diberikannya. Sehingga tujuan auditor untuk memperoleh bukti
kompeten yang cukup dan memberikan basis yang memadai dalam merumuskan
pendapat dapat tercapai dengan baik (Maghfirah Gusti dan Syahril Ali, 2008).
Skeptisisme profesional dapat dilatih oleh auditor dalam melaksanakan tugas
audit dan dalam mengumpulkan bukti yang cukup untuk mendukung atau
membuktikan asersi manajemen. Sikap skeptis dari auditor ini diharapkan dapat
mencerminkan kemahiran profesional dari seorang auditor. Kemahiran
profesional auditor akan sangat mempengaruhi ketepatan pemberian opini oleh
auditor, sehingga secara tidak langsung skeptisisme profesional auditor ini akan
mempengaruhi ketepatan pemberian opini oleh akuntan publik (Maghfirah dan
Syahril, 2008 ).
Seorang auditor yang memiliki skeptisisme professional tidak akan
menerima begitu saja penjelasan dari klien, tetapi akan mengajukan pertanyaan
untuk memperoleh alasan, bukti dan konfirmasi mengenai obyek yang
dipermasalahkan. Auditor harus menyadari bahwa kemungkinan terjadinya salah
saji material dalam laporan keuangan bias saja terjadi. Sikap skeptisisme
professional akan membawa auditor pada tindakan untuk memilih prosedur audit
yang efektif sehingga diperoleh opini audit yang tepat (SuzzyNovyanti, 2008).
Menurut Hery dan Agustiny Merrina (2007) seorang auditor dalam membuat
keputusan pasti menggunakan lebih dari satu pertimbangan rasional, yang
didasarkan atas pelaksanaan etika yang berlaku yang dipahaminya dan membuat
suatu keputusan yang adil. Keputusan auditor dilakukan melalui bentuk pendapat
(opinion) mengenai kewajaran laporan keuangan. Oleh karena itu, akuntan publik
(external auditor) memanfaatkan laporan audit atau produk auditing untuk
mengkomunikasikan opininya terhadap kewajaran laporan keuangan yang

24
26
diperiksanya. Kebanyakan perusahaan menginginkan Unqualified Opinion
sebagai hasil dari laporan audit, agar performancenya terlihat bagus di mata
publik sehingga ia dapat menjalankan operasinya dengan lancar.
Pada Kamis, 9 Februari 2017, waktu Washington. Kantor akuntan publik
mitra Ernst & Young’s (EY) di Indonesia, yakni KAP Purwantono, Suherman &
Surja sepakat membayar denda senilai US$ 1 juta (sekitar Rp 13,3 miliar)
kepada regulator Amerika Serikat, akibat divonis gagal melalukan audit laporan
keuangan kliennya. Kesepakatan itu diumumkan oleh Badan Pengawas
Perusahaan Akuntan Publik AS (Public Company Accounting Oversight
Board/PCAOB). Kasus ini berawal ketika kantor akuntan mitra EY di AS
melakukan kajian atas hasil audit kantor akuntan di Indonesia. Mereka
menemukan bahwa hasil audit atas perusahaan telekomunikasi itu tidak
didukung dengan data yang akurat, yakni dalam hal persewaan lebih dari 4 ribu
unit tower selular. Namun afiliasi EY di Indonesia itu merilis laporan hasil audit
dengan status wajar tanpa pengecualian, Kasus ini merupakan insiden terbaru
yang menimpa kantor akuntan publik, sehingga menimbulkan keprihatinan
apakah kantor akuntan publik bisa menjalankan praktek usahanya di negara
berkembang sesuai kode etik.
Kasus diatas menyebabkan profesi akuntan beberapa tahun terakhir telah
mengalami krisis kepercayaan. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak
akuntan publik yang tidak menegakkan etika profesi dalam menjalankan tugas
profesinya. Alasan yang mendasari diperlukannya perilaku profesional pada setiap
profesi adalah kebutuhan akan kepercayaan publik terhadap kualitas jasa yang
diberikan profesi, terlepas dari yang dilakukan secara perorangan (Yeni Indra
Mayeni, 2011).
.
MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN PUBLIK

Hasil penelitian yang dilakukan oleh BIG FOUR ditambah dengan 2


organisasi profesi akuntan, menunjukkan bahwa para investor tidak lagi
menggunakan laporan keuangan tradisional sebagai alat pengambilan keputusan.

25
27
Jika ini tidak ditanggapi oleh profesi maka profesi maka profesi akuntan tinggal
menjadi warisan dunia yang masuk di museum.Hal yang sama disampaikan oleh
Baruch Lev Sewaktu beliau mengomentari ketidakmampuan akuntansi tradisional
saat ini mengukur intellectual capital. Dia menilai akuntansi tradisional hanya
diperuntukkan untuk bisnis manufaktur yang memiliki aset dominan yaitu aktiva
tetap yang tangible. Kritik lainnya telah kita bahas secara luas dalam bab krisis
akuntansi. Dalam materi ini mencoba memberikan beberapa cara atau
pendapattentang bagaimana membangun kembali kepercayaan publik terhadap
fungsi akuntansi sebagai inforasi bagi investor dalam proses pengambilan
keputusan.

G. BEBERAPA FAKTOR HILANGNYA KEPERCAYAAN PUBLIK

Banyak faktor penyebab mengapa kepercyaan publik terhadap laporan keuangan


hilang. Faktor penyebabnya kita bagi dalam tiga penyebab utama , yaitu :

a. Faktor internal disiplin ilmu akuntansi itu sendiri


b. Faktor eksternal dan kemajuan disiplin lain
c. Faktor individu pelaku dalam profesi akuntan itu.

1. Disiplin Ilmu Akuntansi

Disiplin ilmu akuntansi itu sendiri menjadi faktor penyebab mengapa akuntansi
itu semakin meredup tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar yang semakin
berkembang dan semakin canggih. Hal ini bisa dimaklumi karna pengembangan
ilmu akuntansi ini bisa dikatakan berenti pada dekade 60-an dan 70-an profesi
akuntansi dan akademisi merumuskan kerangka teoriakuntansi melalui beberapa
upaya seperti yang tertuang dalam APB statement No. 4 tetnang prinsip, sifat dan
kualitas laporan keuangan dan trueblood committee report yang membahas tujuan
laporan keuangan dan upaya lainnya seperti SOATATA, ASOBAT, dan
sebagainya.

26
28
Disiplin dan produk laporan keuangan menjadi andalan akuntasi saat ini dibangun
atas dasar konsep kerangka itu yang didasarkan pada kondisi,
sruktur,ekonomi,bisnis,kebutuhan pemakai pada saat itu. Perkembangan
ekonomi,bisnis,teknologi.komputer, komunikasi yang Demikian spektakuler
khususnya teknologi komputer dan komunikasi menyebabkan disiplin ilmu
akuntansi yang masih tidak berubah dari situasi lama. Disiplin
akuntansitradisional tidak mengandalkan teknologi dan tidak menyesuaikan diri
dengan tuntunan pasar menyebabkan ilmu akuntansi tidak tidak bisa memenuhi
kebutuhan dan tuntunan masyarakat yang berubah sehingga ia ditinggalkan
pemakainya dan beralih mencari sumber atau media lain. Disiplin akuntansi yang
kita nikmati saat ini adalah produk yang lahir dari permasalahan dan tantangan
dari ekonomi,bisnis dan manajemen pada era 70-an dan 80-an, dimana struktur
ekonomi waktu itu ditandai dengan bisnis manufaktur yang ditandai dengan
banyaknya asset tangible yaitu aktiva tetap yang terdiri dari lahan, bangunan,
mesin dan pealatan,perabot dan furnitur,kendaraan dan lain sebagainya.

Sebagaimana yang diketahui sektor ekonomi,bisnis,teknologi, dan manajemen


berkembangan terus. Dunia awalnya dikuasai oleh sektor ekonomi agricultur,
kemudian berkembang dikuasai oleh ekonomi manufaktur dan saat ini ditandai
dengan perkembangan ekonomi jasa dengan ditopang kemajuan teknologi
komputer, komunikasi, informasi, yang sangat pesat. Sedangkan ilmu akuntansi
khususnya kerangka konsepnya sendiri tidak dikembangkan sehingga akhirnya
situasi yang dihadapi tidak bisa dijawab dengan kerangka konsep yang lama yang
memiliki kerangka konsep yang jauh berbeda dengan tuntunan pasar dan para
pemakai pada saat ini. Beberapa prinsip yang tidak sesuai dengan situasi yang kita
hadapi saat ini antara lain adalah:

a. Prinsip historical cost


b. Pengukuran tangible cost
c. Pengukuran aspek nonkeuangan
d. Pengukuran aspek sosial ekonomi seperti lingkungan dan tanggung jawab
sosial perubahan

27
29
e. Aspek keadilan dalam pelaporan keuangan
f. Aspek keyakinan agama

Prinsip diatas telah dijawab oleh masyarakat maupun profesi melalui berbagai
konsep baru yang ditawarkan, baik melalui dikursus akademik maupun melalui
perumusan standar akuntansi yang diberikan secara resmi, namun tidak melalui
kerangka konsep dasar sebagaimana pada 1970-an yang menjadi dasar
membangun kerangka teori akuntasi. Kerangka konsep dasar akuntansi yang

dibangun pada era 70-an tidak diubah sama sekali, yang diubah hanya pada
tataran standar yang lepas dari postulat dan prinsip dasarnya. Kerangka konsep
teori akuntansi ini mutlak dimiliki jika kita ingin membangun disiplik akuntansi.
Karna kerangka dasar teori inilah yang menjadi dasar, pedoman dan arah
pengembangan disiplin itu dilakukan supaya tidak sembarangan dan tanpa arah.
Sayangnya kerangka dasar yang lama belum pernah diubah, tetapi sudah
mengubah ranting atau turunannya yang didasarkan pada tuntutan pasar, tetapi
tidak berdasar kerangka teori yang ada. Danpaknya adalah produk
akuntansimenjadi berkembang tidak terarah dan berkembang tidak sejalan dengan
kerangka konsep dasar. Mari kita berikan beberapa contoh yang terjadi dalam
disiplin akuntansi berkaitan dengan situasi ini:

a. Munculnya penilaian “fair value” nila menyebabkan pelanggaran telak


pada prinsip historical cost
b. Dengan perkembangan bisnis berbasis teknologi maju seperti IT,
komunikasi yang berbasis dan digerakan ol maka banyak perusahaan tidak
memiliki pendoman bagai mana menilai “intangible asset” yang belum ada
pedomam resmi dari profesi maupun “standard setter body”
c. Banyak sekali kinerja saat ini bukan diukur hanya oleh ukuran keuangan
tetapi nonkeuangan misalnya perkemban menambahkan ukuran
nonkeuangan (market share, learning process,
kualitas). Sayangnya akuntansi tidak mampu memberikan pendoman
untuk memenuhi tuntutan ini

28
30
d. Dengan semakin derasnya tuntutan masyarakat agar perusahaan tidak
hanya bertanggung jawab pada tujuan mencari laba, tetapi juga
menyelamatkan lingkungan dan ikut bertanggung jawab kepada kehidupan
masyarakat maka seharusnya akuntansi mampu memberikan informasi
sejauh mana perusahaan ikut bertanggung jawab pada da bidang ini
lingkungan dan sosial. Dalam diskursus akademik sudah dikenal a
kuntansi sosial ekonomi atau socio economic accounting yang mengukur
aspek social dan ekonomi dari setiap transaksi yang melibatkan
perusahaan. Bahkan masyarakat saat in yang menggabungkan antara
kepentingan laba, social, dan lingkungan yang dikenal dengan istilah
Triple P atau 3P yang menggambarkan profit (Keuangan), People (Sosial),
Planet (Alam). Akuntansi secara resmi masih diam dalam menjawab
tuntutan pasar dan masyarakat ini.
e. Salah satu tuntutan masyarakat yang tidak pernah berhenti dari benak kita
adalah keadilan. Keadilan harus ditegakan kendatipun langit runtuh
katanya. Namun, sejauh mana akuntansi mampu memberikan informasi
tentang keadilan ini terutama tentang keadilan dalam distribusi pendapatan
dalam suatu kegiatan bisnis yang memang hasilnya merupakan kontribusi
dari semua pihak atau “stakeholders” yang ada dalam organisasi bukan
hanya kontribusi pemilik modal atau “stakeholders”. Dalam diskursus
akademik sudah ditawarkan apa yang disebut dengan “ value added
reporting, atau pelaporan nilai tambah” Namun FASB,IFRS maupun
PSAK sampai saat ini belum memberikan sikap.
f. Munculnya system ekonomi islam (Syariah) yang didasarkan pada
keyakinan ideologis yang berbeda dari keyakinan ideologis kapitalis yang
menjadi dasar ilmu akuntansi menyebabkan bangun teori dan kerangka
konsep, serta sistem pelaporan juga mestinya akan berbeda.sejauh ini
disiplin akuntansi secara resmi belum mau membahas dan memberikan
pedoman dalam bidang ini. Profesi akuntan diam saja dan umat islam yang
coba merumuskannya, namun belum serapih sebagaimana harusnya
akuntansi yang mapan. IAI dan PSAK syariah telah berhasil memisahkan

29
31
PSAK konvesional dan syariahberhasil melahirkan sampai tahun 2010, 12
PSAK Syariahyang berlaku untuk entitas dan transaksi syariah dan
kerangka konsep dasar penyusunan pelaporan lembaga keuangan syariah.
Ditingkat International dikenal AAOIFI (Accounting Auditing
Organization for Islamic Financial Institution), namun hanya melahirkan
standar yang kerangka dasarnya masih bersifat konvensional dan
sayangnya hanya untuk lembaga keuangan bukan lembaga bisnis secara
keseluruhan.

2. Faktor Eksternal dan Kemajuan Disiplin Lain

Ilmu akuntansi adalah bagian dari ilmu informasi. Akuntansi adalah


system informasi dan menawarkan engineering dalam mengolah transaksi yang
diwakili bukti , data, menjadi informasi yang berguna bagi para pengambil
keputusan. Sayangnya akuntansi tidak sendirian. Dalam ilmu informasi ada ilmu
teknologi komputer, ada ilmu teknologi komunikasi, ada audio visual, internet dan
sebagainya. Karena ilmu akuntansi menawarkan informasi maka mau tidak mau
teknologi tadi itu juga memengaruhi kepuasan orang terhadap ilmu akuntansi.
Ilmu computer, audio visual, komunikasi, internet misalnya bisa menjadi media
penyampain informasi akuntansi melalui internet dengan kecepatan, akurasi yang
lebih baik. Dampak dari kemajuan teknologi ini menyebabkan masyarakat
memiliki pilihan lain selain produk akuntansi yang dampaknya adalah peran
akuntansi sebagai jasa untuk masyarakat menjadi berkurang. Ini yang
menyebabkan masyarakat mulai mengabaikan pelaporan akuntansi tradisonal.

3. Faktor Individu Pelaku Dalam Profesi Akuntan Itu

Berbagai Fenomena pelanggaran etika dalam profesi akuntansi seperti


yang kita lihat puncaknya pada kasus Enron Corporation menyebabkan akuntansi

32
30
kehilangan integeritasnya. Kasus pelanggaran etika untuk memenuhi nafsu
serakah para manajer, konsultan dan akuntan menyebabkan salah satu kantor
Akuntan Big one Arthur Anderson terpaksa bubar yang berdampak kepada
kehilangan kepercayaan publik pada profesi ini. Dampaknya pemerintah dan
parlemen melahirkan Sarbanes Oxley Act yang mengatur peningkatan
pertanggungjawaban perusahaan (korporasi) atau disebut juga corporate
Responsibility Act. Dampak dari pelanggaran etika ini, indeks pasar modal turun
sampai 25%, saham Enron turun sampai pada level negatif, Enron corporation
bubar, dan para pimpinan, konsultan, akuntannya dituntut dipengadilan, ada yang
bunuh diri dan ada yang dihukum penjara dan dikenakan denda. Pemerintah
federal di Amerika membentuk badan pengawas akuntansi perusahaan publik atau
diberi nama PCAOB (Public Company Accounting oversight board) dan berbagai
peraturan pembatasan lainnya. Kasus enron ini sangat berdampak negatif pada
profesi akuntan sehingga kepercayaan publik kepada profesi akuntan berada pada
titik nadir titik yang paling rendah. Wajar saja kepercayaan publik terhadap
profesi akyntan hilang dan sukar untuk membangunnya kembali.
Selain itu juga pelanggaran etika juga terjadi pada PT Kimia Farma yang
terbukti melakukan pelanggaran dalam kasus dugaan penggelembungan (mark up)
laba bersih di laporan keuangan perusahaan milik negara untuk tahun buku 2001.
Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) menyajikan kembali (restated) laporan
keuangan Kimia Farma 2001. HTM sendiri telah mengoreksi laba bersih Kimia
Farma tahun buku 2001 menjadi Rp 99 milliar. Koreksi ini dalam bentuk
penyajian kembali laporan keuangan itu telah disepakati para pemegang saham
Kimia Farma dalam rapat umum pemegang saham luar biasa. Dalam rapat
tersebut, akhirnya pemegang saham Kimia Farma secara aklamasi menyetujui
tidak memakai lagi jasa HTM sebagai akuntan publik. pelanggaran yang telah
dilakukan oleh KAP Hans Tuanakotta and Mustofa dan Sdr. Ludovicus Sensi
W adalah melanggar prinsip dasar etika profesi akuntansi terutama integritas,
kepentingan publik dan perilaku profesional. Risiko ini berdampak pada reputasi
HTM dimata pemerintah ataupun publik, dan pada akhirnya HTM harus
menghadapi konsekuensi risiko seperti hilangnya kepercayaan publik dan

31
33
pemerintah akan kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa audit, hingga
yang terburuk adalah kemungkinan ditutupnya Kantor Akuntan Publik tersebut

H. SARAN UNTUK MEMBANGUN KEMBALI


KEPERCAYAAN PUBLIK

Untuk mengembaikan kepercayaan publik terhadap profesi akuntan, banyak ide


dan pendapat telah disampaikan baik oleh akademisi,praktisi,maupun lembaga
resmi. Beberapa ide itu telah dibahas di bab sebelumnya misalnya dalam tren
akuntansi. Beberapa usulan itu antara lain :

1. Untuk mengukur dampak kegiatas perusahaan terhadap sosial dan


lingkungan disarankan menerapkan Socio Economic Accounting (SEA)
atau Akuntansi Lingkungan,Akuntansi Sosial Ekonomi,Akuntansi
Pertanggungjawaban Sosial.
2. Untuk mengukur aset intangible khususnya intelectual capital disarankan
menggunakan akuntansi Modal Intelektual atau Akuntansi Intangible
Asset
3. Untuk mengatasi dampak inflasi terhadap kegunaan laporan keuangan
disarankan menggunakan Akuntansi Inflasi atau menggunakan metode
pengukuran “ Current Value Accounting” atau “ Fair value Accounting”
4. Untuk melaporkan hal-hal diluar angka keuangan maka dibuat informasi
atau laporan nonkeuangan atau pengungkapan lain yang lebih lengkap
melalui konsep “ full disclosure” bukan hanya informasi keuangan,tetapi
juga informasi non keuangan.
5. Untuk menggambarkan kontribusi semua pihak dalam penciptaan nilai
tambah yang dihasilkan perusahaan sehingga lebih menggambarkan
keadilan kepada semua pihak maka diusulkan menggunakan “Value added
Reporting” atau pelaporan nilai tambah
6. Untuk menampung keyakinan dan ideologi yang berbeda dari akuntansi
kapitalis diusulkan menggunakan akuntansi dengan basis ideologi sediri

32
34
misalnya akuntansi syariah,akuntansi sosialis, akuntansi buddha,akuntansi
hindu .jika ada dan sebagainya.
7. Untuk meningkatkan kegunaan laporan keuangan DiPiazza Jr dan Eccles
(2002) mengusulkan teori “ Reexamining the corporate reporting supply
chain”. Mereka menilai dari mata rantai penyiapan laporan keuangan
sehingga mata rantai satu demi satu dijamin memberikan informasi yang
berkualitas dan bermanfaat sesuai kebutuhan konsumen.Mereka juga
mengusulkan agar penerapan standar akuntansi yang berjenjang ada
akuntansi untuk seluruh dunia,standar akuntansi untuk industri khusus,dan
standar akuntansi khusus untuk perusahaan.
8. Memiliki standar akuntansi internasional yang seragam untuk semua
sehingga laporan keuangan diseluruh dunia bisa diperbandingkan.Ini
merupakan usul dari akuntansi internasional melalu pemberlakuan IFRS di
seluruh dunia dan usul Organisasi G-20
9. Melakukan reformasi dalam kerangka konsep teori akuntansi yang akan
dilaksanakan FASB dan IASB dan dukungan organisasi lainnya baik dari
amerika maupun dari organisai internasional.Ide ini yang sebenernya lebih
masuk akal untuk menyelesaikan semua permasalahan rumit yang
dikandung disiplin akuntansi saat ini
10. Memanfaatkan teknologi komputer,teknologi website untuk melaporkan
posisi dan hasil keuangan perusahaan secara cepat dan tepat misalnya
melalui XBRL(Extensive Business Reporting Language) sehingga
pemakai laporan lebih mudah mengetahui posisi dan hasil usaha keuangan
perusahaan,lebih cepat,bisa mendapatkan hasil analisis laporan keuangan
sesuai kebutuhan investor.
11. Membentuk standar akuntansi yang lebih berkualitas dengan
transparasi,sehingga sesuai pembuatan keputusan penggunanya.
12. Melakukan penurunan asimetri informasi yang diharapkan dapat
mengurangi konflik keagenan,sehingga laporan keuangan yang disajikan
tidak mengandung manipulasi dan lebih dapat diandalkan.

33
35
13. Membangun sikap profesionalitas dalam melakukan pekerjaannya dengan
menerapkan kode etik profesi terutama dalam hal independensi dan
mementingkan kepentingan publik.

I. REFORMASI AKUNTANSI MENURUT DAVID MOSSO

David mosso adalah mantan wakil ketua FASB Beliau berperan dalam berbagai
perumusan kerangka konsep akuntansi dan standar akuntansi yang berlaku
sekarang ini.Walaupun banyak orang menuduh fair value accounting khususnya
FASB No.157 Fair Value Measurement. Tetapi justru beliau mendukungnya
sebagai salah satu GAAP yang harus dihargai keberadaannya.Menurut beliau
model akuntansi (accounting model) dan proses penyusunan standar akuntansi
(standard setting process) saat ini merupakan dua hal pokok yang harus di
reformasi untuk menghadapai abad ke-21 dan yang akan dapat menghindari krisis
keuangan global berulang kembali. Kuncinya adalah bagaimana menciptakan
transparansi aktivitas dan hasil bisnis yang dibutuhkan pasar modal sehingga
dapat menghindari pasar modal yang babak belur. David mosso menekankan
bahwa model yang diajukannya ini adalah wealth measurement/early warning
model (David Mosso,Transparency Unveiled: Financial Crisis Prevention
Through Accounting Reform,Accounting Horizon, Vol 24 L 1 pp 95-107)

1. Reformasi Standar Akuntansi


Untuk mendukung argumen beliau yang ingin meredesain standar
akuntansi dan proses standard setting beliau mengemukakan beberapa kesalahan
persepsi masyarakat terhadap GAAP (standar akuntansi) yaitu :
a. Tujuan laporan keuangan sebagaimana dicantumkan dalam kerangka
konsep yang dirumuskan FASB yaitu : “ menyajikan informasi yang
berguna dalam mengambil keputusan investasi” dan “menyajikan infomasi
yang berguna menilai prospek arus kas perusahaan”. Tujuan yang terlalu
luas ini merupakan tujuan yang tidak fokus sukar dicapai karena tidak
fokus. Padahal fokus merupakan sifat yang cocok untuk abad ke-21 ini.

36
34
Ketidakfokusan ini yang melahirkan beberapa perbedaan persepsi
dikalangan akuntan,analis,auditor,fiskus,dan investor selama ini
b. Neraca perusahaan yang disusun berdasarkan standar akuntansi saat ini
memuat total harta dan total kewajiban. Ini dimaknai pemvaca sebagai
semua (all) harta dan utang yang dimiliki perusahaan padahal hakikatnya
bukan demikian. Hal ini yang menimbulkan kesalahan persepsi di
masyarakat.
c. Di dalam seksion Ekuitas atau Owner’s Equity investor selalu
menganggap bahwa semua pihak yang ada di dalam kelompok ini memang
benar-benar adalah pemilik yang bertanggung jawab total terhadap
kewajiban perusahaan. Padahal kenyataannya banyak pihak yang masuk
dalam daftar ekuitas itu sesungguhnya bukan penanggung jawab akhir
kewajiban perusahaan misalnya pemilik hak opsi.
d. Nilai rupiah yang ada di laporan keuangan dianggap sebagai nilai rupiah
pada tanggal laporan padahal sebetulnya nilai itu bisa bermacam-macam
posisi sesuai transaksi keuangan yang dicatat sesuai historical cost.
e. Neraca menunda memasukkan pengaruh perubahan harga dalam pos-pos
yang ada di dalamnya sehingga bisa menunda atau mengabaikan
peringatan dini ( early warning system) jika ada potensi krisis keuangan di
masa yang akan datang.
f. Standar akuntansi memiliki berbagai fleksibilitas yang memungkinkan
manajemen berpeluang untuk merekayasa pelaporan untuk
menyembunyikan berita buruk dalam laporan keuangannya.
g. Pada hakikatnya laporan keuangan bukanlah menggambarkan nilai yang
sebenernya yang merupakan nilai dari posisi keuangan perusahaan atau
hasil usaha perusahaan yang sebetulnya merupakan informasi yang sangat
dibutuhkan investor.
h. Standar akuntansi memberikan beberapa kriteria pengukuran yang berbeda
yang sama-sama diterima,juga memberikan alat ukur ganda (multiple
measurement) yang menimbulkan beberapa angka posisi keuangan dan
hasil usaha yang berbeda.

35
37
Berdasarkan diagnosis kelemahan standar akuntansi ini maka David
Mosso mengemukakan enam Prinsip Dasar Modek Akuntansi sebagai
berikut :
Prinsip 1 dan Utama :
“Tujuan akuntansi adalah mengukur kekayaan ekonomis dan laba
suatu entitas dengan tujuan untuk mendiagnosis kesehatan
keuangannya”
Menurut beliau laporan keuangannya harus merupakan model
ekonomi untuk mendiagnosis kesehatan keuangannya. Kekayaan dan Laba
adalah inti dari aktivitas ekonomi yaitu siklus bisnis sehingga harus juga
menjadi fokus akuntansi. Kekayaan dalam prinsip diatas dimaksudkan “
net worth” dari perusahaan. Laba adalah perubahaan kekayaan diluar
pertambahan atau pengurangan setoran modal. Tujuan akuntansi ini
merupakan landasan bagi penyusunan “ model pengukuran
kekayaan/peringatan dini kesehatan keuangan “ atau “ wealth
measurement/early warning model” Dua hal yang muncul dari isu
kekayaan itu apakah kekayaan itu milik perusahaan dan berapa nilainya.

Prinsip 2 :
“Tujuan akuntansi adalah mengukur kekayaan ekonomis dan laba
suatu entitas dengan tujuan untuk m endiagnosis kesehatan
keuangannya”

Berbeda dari GAAP lama disini Mosso mengusulkan untuk


dicantumkan seluruh ( all bukan total) aset dan kewajiban yang merupakan
aset dan kewajiban entitas/perusahaan tanpa kecuali sehingga dalam model
ini tidak ada lagi apa yang dikenal dalam model lama “ off balance sheet”
Konsekuensinya adalah bahwa adefinisi aset,kewajiban,modal akan
berubah dan lebih luas dari definisi yang lama yang hanya menekankan
pada “economic benefit” atau “probable economic benefit”. Ini bisa juga

36
38
dipakai sebagai definisi kewajiban dengan mengubahnya menjadi
kebalikannya.Goodwil tidak termasuk dalam definisi aset ini sebagai aset
karena ia merupakan hal yang bersifat intangible yang meruakan
kapitalisasi pasar bukan aset. Tetapi operating lease akan masuk dalam
neraca baik sebagai aset atau kewahiban lessor atau lessee.

Kewajiban (liabilities) adalah semua janji yang mengikat


perusahaan yang merupakan tanggung jawab atau kewajibannya secara sah
yang sudah diucapkannya.
Ekuitas pemilik diartikan secara independen dari aset dan
kewajiban,dia merupakan definisi sendiri bebas bukan sekedar aset
dikurangi kewajiban seperti dipakai selama ini. Definisinya didasarkan
pada sifat kepemilikan dan tujuan pengukuran kekayaan.Pemilik adalah
mereka yang memiliki hak untuk bersuara,baik langsung ataupun tidak
langsung melalui perwakilan atas setiap kebijakan entitas ,memiliki hak
membagi kekayan etitas dan mengontrol distribusi kekayaannya.

Prinsip 3:
Ukur semua aset dan kewajiban dan perubahannya berdasarkan
nilai wajar (fair value)

Dalam proposal model standar ini Mosso mengakui bahwa fair


value inilai metode pengukuran yang terbaik,namun dia menyadari bahwa
metode pengukuran yang terbaik,namun dia menyadari bahwa metode
pengukuran ini sesuai FASB No.157 masih memerlukan perbaikan terus-
menerus supaya lebih mudah diterapkan dan dibutuhkan pedoman
tambahan jika diterapkan ke jenis aset yang tidak memiliki harga pasar.

Prinsip 4 :
Ukur semua transaksi saham ekuitas menurut nilai wajar (fair
value ) dengan menghitung laba atau rugi akibat perbedaan atara

39
37
harga waar dari saham ekuitas dan harga wajar dari barang-
barang yang ditukarkan dengan saham itu

Prinsip ini menerapkan konsep fair value ke transaksi saham


ekuitas. Disini dipisahkan antara setoran dan pengambilan modal serta
perubahan laba ditahan.

Prinsip 5:
Ungkapkan semua komitmen dana kontinjensi yang tidak bisa
diakui sebagai aset atau kewajiban atau yang tidak bisa diukur
(tidak bisa dinilai dengan uang)

Ini sebenernya hampir sama dengan standar FASB yang saat ini
berlaku,namun dalam prinsip ini Mosso menekankan juga agar di
fokuskan pada informasi yang bisa memberikan peringatan dini ada
kesehatan keuangan perusahaan atau kemungkinan stress keuangan yang
akan dialami perusahan dimasa yang akan datang.

Prinsip 6
Cantumkan aset dan kewajiba entitas secara terpisah dineracanya
tanpa di netkan ( buat dalam anngka gross). Cantumkan total laba
entitas di laporan laba rgui secara segmen terpisah untuk
komponen laba yang sudah di realisasi dan yang belum di
realisasi. Desain dan lampirkan data tambahan dari neraca dan
laporan laba rugi untuk membantu mendiagnosis kesehatan
keangan entitas dan mendeteksi tanda-tanda keuangn entitas yang
akan mengalami stress di masa yang akan datang.

Prinsip ini sebenerrnya untuk mencoba membeikan informasi bagi


analisis dengan menyajikan laporan keuangan lebih komparatif dan
memberikan informasi yang lebih berguna dalam melihat konsep

38
40
“comprehensive income” . Yang ditekankan disini adalah spirit
pengukuran aset dan informasi tentang kesehatan keuangan perusahaan
dan peringatan dini atas kesehatan keuangan perusahaan dimasa yang akan
datang. Disini misalnya diusulkan bottom line laporan laba rugi yang
sangat dibutuhkan analisi adalah EBITDA atau Earning before
interest,taxes,depreciation and amortization.
Dalam implementasi prinsip ini ada dua hal yang menjadi perintah dan
keharusan , yaitu :
a. Keenam prinsip itu harus diterapkan secara mandatory bukan
volunter.
b. Keenam prinsip itu harus diterapkan secara universal untuk
seluruh entitas dan seluruh industri tanpa ada pilihan atau
pengecualian ( Universal,No Choice,No Exceptions)

2. Reformasi Proses Penyusunan Standar ( Standard Setting Process)


Mosso menilai proses penyusunan standar akuntansi saat ini kira-kira
menimbulkan konsekuensi sebagaimana yang dijelaskannya sebagai berikut :

Proses penyusunan standar akuntansi dimulai dari dasar tujuan laporan keuangan
yang kabur tidak fokus yang akan mengarah pada :
Banyaknya pilihan di antara model pengakuan,pengukuran,dan penyajian
yang akan mengarah pada:
“Muncul debat diantara penyusun standar akuntansi,entitas pelapor,analis
keuangan,akademisi,dan pihak lain yang tentang pilihan standar mana yang akan
dipilih, dan .....”
“Jika pilihan itu mengancam status quo laba yang dikehendaki (managable
earning) tampak menang dalam debat tadi maka ancaman itu akan mengarah pada
...”
“Melakukan lobby pada pengawas pemerintah oleh entitas yang membuat
laporan keuangan yang akan sering mengarah pada...”

41
39
“Melakukan kompromi dengan standar akuntansi yang merupakan
kesalahan yang menimbulkan ......”
“Daur ulang banyak isu ke proyek masa depan dari penyusun standar dan
akhirnya kita akan...”
“Mengalami suatu proses terus-menerus tanpa akhir dalam membahas isu
akuntansi yang kompleks dan...”
Suatu proses yang akan memakan waktu yang banyak dan kita gagal
menyelesaikan banyak problem yang sukar diabaikan.
Beberapa kelemahan dari metode penyusunan standar akuntansi saat ini
menurut Mosso adalah :
a. Proses penyusunan standar sangat lama dan menyebalkan terutama dalam
mengatasi problema akuntansi. Dari sudut kepentingan perlindungan
investor proses ini sangat tidak mendukung.
b. Proses saat ini sangat bermuatan konflik
kepentingan.Perusahaan,regulator,mendominasi proses penyusunan
standar khususnya FASB. Mereka sengaja memperlambat proses
penyusunan standar selama mungkin dan melemahkan hasil akhir dari
proyek penyusunan standar.
c. Proses penyusunan standar saatini fokus hanya pada jenis transaksi khusus
tertentu. Sehingga upaya penyusunan standar tidak mampu dan tidak
disiapkan mentransfer dari satu transaksi ke transaksi lain.
d. Proses yang berlaku sekarang ini membuat auditor menjadi semacam
penasihat kliennya bukan menjadi auditor yang independen (arms-lenght
examiner) dengan tentu ada kepentingannya. Dan tidak ada hukuman
untuk menerapkan praktik yang jelek melalui peluang yang diberikan
ketersediaan variasi standar. Akhirnya klien akan bersandar kepada auditor
sebagai dasar membela diri dalam forum yang melibatkan regulator atau
pengawas.
e. Proses penyusunan standar akuntansi saat ini bersifat tanpa arah dan
didasarkan pada banyak pilihan.

40
42
Untuk mengatasi kondisi yang dialami proses standard setter ini maka david
mosso mengusulkan proses standard setter sebagai berikut :

a. Proses dimulai dari tujuan laporan keuangan yang jelas yaitu untuk
mengukur kekayaan yang akan memaksa ( mandatory)
b. Pengakuan seluruh aset dan kewajiban segera muncul dalam kegiatan
bisnis ini merupakan wilayah keputusan di level entitas dan
c. Pengukuran oleh entitas terhadap seluruh aset dan kewajibannya menurut
fair value (nilai wajar). Artinya dalam sebagian besar kasus ini adalah
merupakan akhir dari proses sebab baik prinsip dasar dan pedoman
aplikasi sudah ditetapkan terlebih dahulu, namun
d. Tantangan atau saran atau keberatan yang bersal dari keputusan pada level
entitas harus disampaikan kepada dewan penyusun standar yang mungkin
bisa mengambil satu dari dua kemungkian tindakan :
1. Selesiakan masalah itu sesegera mungkin dengan proses yang tidak
terlalu lama dengan asumsi adanya pedoman standar yang semakin
luas dan terus bertambah , tetapi dalam hal tertenty yang khusus maka
dewan dapat
2. Membekukan praktik dengan standar sementara untuk mencegah
berkembangnya kasus atau praktik di permasalahkan sewaktu
membahas isu yang sedang dipermasalahkan

Model pengukuran kekayaan/peringatan dini ini menawarkan suatu cara


ntuk menawarkan suatu cara untuk mengubah proses penyusunan standar
akuntansi dari proses yang memakan waktu lama menjadi lebih cepat. Kenapa
bisa cepat karena adanya enam prinsip dasar yang menjadi pedoman penyusunan
standar akuntansi. Serta ada dua keharusan yang mendasarinya yaitu mandatory
(wajib dilaksanakan) dan berlaku universal, no choice no exception ( berlaku
universal, tidak ada pilihan dan tidak ada pengecualian). Pedoman ini akan
mampu memberikan arahan kepada standard setter untuk sebagian besar dalam

41
43
memberikan keputusan atas praktik akuntansi yang dihadapi. Model ini juga akan
memberikan pedoman kepada auditor sebagai alat untuk memaksakan disiplin dan
standar untuk memberikan pendapat akan kewajaran laporan. Semua pihak akan
diberikan pedoman yang kaya dalam memecahkan transaksi yang baru dengan
proses diskusi yang minimal dan waktu yang relatif pendek.

Sebagai perbandingan antara model penyusunan standar akuntansi yang


sekarang dengan yang diusulkan David Mosso dapat dilihat dari tabel sebagai
berikut :

Proses penyusunan standar yang Proses penyusunan standar yang


berlaku saat ini diusulkan
Proses penyelesaian standar bisa Waktu yang dibutuhkan hanya
hitungan tahun hitungan bulan atau hari
Konsepnya tidak memaksa ( non Prinsip yang dipakai adalah prinsip
authoritative) autoritative atau memaksa
Problema akuntansi muncul di lapangan Problema akuntansi muncul di
lapangan
Decision Agenda : Dewan penyusun Initial Resolution :
standar membuat agenda untuk Entitas dan auditornya menerapkan ke
diputuskan melalui proses tiga tahap. . enam prinsip dasar dipandu oleh
untuk bisa menjadi agenda,suatu penerapan standar yang ada yang bisa
problem harus dianggap sebagai hal didiskusikan dengan dewan penyusun
yang prioritas dibahas dewan. Problem standar jika dianggap penting .
lain yang muncul selama pembahasan penerapan standar dilakukan secara
agenda dibiarkan saja yang juga akan langsung terkecuali jika digugat.
berkembang.
Diliberation : Review Appeals :
Setiap isu dibahas dengan serius oleh Jika standar digugat dewan penyusun
dewan penyusunan standar.Problem standar memutuskan apakah yang akan

11
42
44
terus berkembang selama pembahasan menyetujui keputusan awal pada
sepanjang proses pembahasan langkah 3 atau melakukan pembahasan
berlangsung isu setelah praktik dibekukan dengan
mengeuarkan pedoman sementara
Initial Resolution : Final resolution :
Suatu standar diadopsi penerapannya Suatu standar akuntansi diadopsi
hanya pada industri atau transaksi yang dengan menerapkan pedoman enam
dipertimbangkan secara prinsip dasar ditambah dua keharusan
langsung.Pedoman dalam penerapannya : berlaku universal,no choice, no
mulai dilakukan segera setelah standar exception.
dikeluarkan secara resmi.

43
45
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebenarnya masih banyak ide dan pendapat yang muncul untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi akuntansi yang mengalami keterpurukan ini baik dari
pribadi,akademisi,praktisi bahkan dari lembaga-lembaga resmi yang merupakan
bagian dari profesi akuntan.Namun, dalam buku ini kita hanya menyajikan apa
yang sudah dibahas dalam bab ini dan bab lainnya. Kita bisa berharap agar proses
melewati masa-masa kriis ini dapat dilalui dengan baik sehingga profesi akuntan
dapat mengembalikan kejayaan sebagai bagian dari pihak yang memberikan
kontribusinya dalam memberikan informasi yang terpercaya kepada masyarakat.
Keberadaan profesi akuntan dan disiplin akuntansi ini tidak terlepas dari
kebutuhan masyarakat akan informasi yang dapat dipercaya yang merupakan
bagian terpenting dalam proses pengambilan keputusan di pasar modal dan
aktivitas bisnis. Profesi akuntan dan disiplin akuntansi ini kebutuhan masyarakat
akhir karena kebutuhan masyarakat akan informasi yang terpercaya. Akuntansi
dan profesi akuntan harus bisa menjaga kepercayaan masyarakat ini jika profesi
dan ilmu akuntansi ingin tetap hidup,jika amanah dan kontrak sosial ini diabaikan
maka sama artinya dengan mengubur-disiplin akuntansi dan profesi akuntan ini
dari kamus masyarakat yang membutuhkannya.

44
46
DAFTAR REFRENSI

Buku Teori Akuntansi Revisi Edisi 2011 Sofyan Harahap

https://acch.kpk.go.id/id/

https://bisnis.tempo.co/read/845604/mitra-ernst-young-indonesia-didenda-rp-13-
miliar-di-as

http://keuanganlsm.com/kelebihan-dan-kekurangan-laporan-keuangan/

http://hermandarwis.blogspot.co.id/2012/02/akuntansi-ekonomi-politik-
alternatif.html https://agusselamet.wordpress.com/tag/evalusai-kritis-akuntansi-
konvensional/

http://arumarum9.blogspot.co.id/2015/11/analisis-pelanggaran-kode-etik.html

45

Anda mungkin juga menyukai