Anda di halaman 1dari 5

1.

Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi


3.2 Menerapkan permohonan 3.2.1 Menjelaskan definisi wajib pajak
nomor pokok wajib pajak 3.2.2 Menjelaskan hak-hak dan kewajiban
(NPWP) wajib pajak
3.2.3 Menjelaskan definisi dan fungsi nomor
pokok wajib pajak (NPWP)
3.2.4 Menjelaskan prosedur perolehan dan
penghapusan NPWP

4.2 Membuat surat permohonan 4.2.1 Mengkomunikasikan pengertian dan


nomor pokok wajib pajak fungsi NPWP
(NPWP) 4.2.2 Menyebutkan prosedur perolehan dan
penghapusan NPWP

2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui proses pemberian stimulus, diskusi,
tanya jawab, presentasi, penugasan, dan analisis, peserta didik dapat menjelaskan definisi
dan fungsi NPWP bagi wajib. Peserta didik juga diharapkan mampu menjelaskan konsep
wajib pajak dan menyebutkan hak dan kewajiban dari wajib pajak. Keterampilan yang
diharapkan adalah peserta didik dapat membuat surat permohonan pembuatan NPWP,
sehingga peserta didik dapat menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif,
produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dokumen sumber dan dokumen pendukung yang berkaitan
dengan prosedur pembuatan NPWP.

3. Materi Pembelajaran
1. Faktual
Permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan prosedur pembuatan NPWP dan
penghapusan NPWP yang diterapkan oleh direktorat jenderal pajak.
2. Konseptual
Wajib Pajak (WP) menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1
ayat 2 adalah Orang Pribadi atau Badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak,
dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan perpajakan. Orang Pribadi merupakan
Subjek Pajak yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia ataupun di luar
Indonesia.
Hak wajib pajak, meliputi:
1. Hak atas kelebihan pembayaran
2. Hak dalam hal dilakukan pemeriksaan
3. Hak untuk mengajukan keberatan,banding atau gugatan serta peninjauan
kembali
4. Hak kerahasiaan WP
5. Hak untuk pengangsuran atau penundaan pembayaran pajak
6. Hak untuk penundaan pelaporan SPT tahunan.
7. Hak untuk pengurangan PPh pasal 25
8. Hak untuk pajak bumi bangunan (PBB)
9. Hak untuk pembebasan pajak
10. Hak untuk mendapatkan pajak ditanggung pemerintah
11. Hak untuk mendapatkan insentif perpajakan
Kewajiban wajib pajak, meliputi:
1. Kewajiban mendaftarkan diri
2. Kewajiban pembayaran pajak
3. Kewajiban pemungutan/pemotongan pajak
4. Kewajiban pelaporan pajak
5. Kewajiban melakukan pembukuan
6. Kewajiban dalam hal diperiksa
7. Kewajiban memberi data
Pengertian NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) adalah nomor yang diberikan
kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang
dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam
melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan.
Setiap wajib pajak hanya diberikan satu NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).
Selain itu NPWP juga dapat dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam
pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Dalam hal ini
berhubungan dengan dokumen perpajakan, wajib pajak diharuskan untuk
mencantumkan NPWP yang dimilikinya.
NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) terdiri atas 15 digit, 9 digit pertama
merupakan kode wajib pajak dan 6 digit berikutnya merupakan kode administrasi.
Contoh Format NPWP :

|0|7| . |8|9|0| . |1|2|3| . |3| . |3|3|5| . |0|0|0|


– 07 = kode jenis wajib pajak yang mengindikasikan apakah wajib pajak orang
pribadi, wajib pajak badan atau bendaharawan (pemungut).
– 890.123 = nomor urut wajib pajak
– 3 = cek digit
– 335 = kode pemungut pajak
– 000 = Kode cabang 000 berarti kantor pusat, sedangkan kode cabang 001 berarti
cabang kesatu.

Fungsi NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) yaitu :


1. Fungsi NPWP sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak.
2. Fungsi NPWP untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam
pengawasan administrasi perpajakan.
Pendaftaran NPWP
Wajib pajak yang telah memenuhi syarat subjektif dan objektif sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan perpajakan berdasarkan sistem self assessment,
wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk dicatat sebagai
wajib pajak dan sekaligus untuk mendapatkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).
Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai
subjek pajak dalam undang-undang pajak penghasilan 1984 dan perubahannya.
Selain persyaratan subjektif dalam pendaftaran NPWP, harus juga memenuhi
persyaratan objektif. Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang
menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan
pemotongan pemungutan sesuai dengan ketentuan undang-undang pajak penghasilan
1984 dan perubahannya.

Tempat pendaftaran NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dilakukan pada kantor
Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor
Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha
dilakukan, wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu.

Wanita kawin selain yang disebutkan di atas dapat mendaftarkan diri untuk
memperoleh NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) atas namanya sendiri agar wanita
kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya
terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya.

Direkrur Jenderal Pajak menerbitkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) secara
jabatan apabila wajib pajak yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif tidak
mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).
Kewajiban perpajakan bagi wajib pajak yang diterbitkan NPWP secara jabatan
dimulai sejak saat wajib pajak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai
dengan ketentuan peraturan undang-undang perpajakan, paling lama 5 tahun
sebelum diterbitkannya NPWP.

Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dibatasi jangka waktunya,


karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan
pajak terutang. Jangka waktu pendaftaran NPWP adalah :
 Wajib pajak (orang pribadi) yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
dan wajib pajak badan, wajib mendaftarkan diri paling lambat 1 bulan setelah
saat usaha mulai dijalankan.
 Wajib pajak orang pribadi yang sedang tidak menjalankan suatu usaha atau
tidak melakukan pekerjaan bebas apabila jumlah penghasilannya sampai
dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi penghasilan tidak kena
pajak, wajib mendaftarkan diri paling lambat pada akhir bukan berikutnya.
Terhadap wajib pajak yang tidak mendaftarkan NPWP akan dikenakan sanksi
perpajakan.
Penghapusan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
Penghapusan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dapat dilakukan oleh Direktur
Jenderal Pajak apabila :
1. Diajukan permohonan penghapusan NPWP oleh wajib pajak dan/atau ahli
warisnya apabila wajib pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif
dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
2. Wajib pajak badan dilikuidasi (telah dilakukan pembubaran) karena
penghentian atau penggabungan usaha.
3. Wanita yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa
membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan dalam hal suami dari
wanita tersebut telah terdaftar sebagai wajib pajak.
4. Wajib pajak bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di
Indonesia.
5. Dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan NPWP
dari wajib pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau
objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
DIRJEN Pajak setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan
atas permohonan penghapusan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dalam jangka
waktu 6 bulan untuk wajib pajak badan, maka dimulai sejak tanggal permohonan
diterima secara lengkap. Apabila jangka waktu sebagaimana telah ditentukan lewat
dan DIRJEN pajak tidak memberi suatu keputusan, permohonan penghapusan
NPWP pajak dianggap dikabulkan.
3. Prosedural
Melakukan kegiatan yang dimulai dengan menganalisis hak dan kewajiban wajib
pajak serta prosedural dalam pengajuan permohonan pembuatan NPWP dan
penghapusan NPWP.

Syarat seseorang dinyatakan sebagai Wajib Pajak (WP) adalah apabila telah mempunyai
penghasilan dalam satu tahun yang melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Hal ini berlaku bagi setiap orang pribadi, baik yang belum maupun yang sudah berkeluarga.
Namun, bagi wanita kawin yang tidak melakukan perjanjian pisah harta dan pisah
penghasilan dengan suaminya tidak wajib memiliki NPWP.
Ambil contoh batas maksimal PTKP untuk perseorangan di Indonesia sebesar Rp15.840.000
per tahun atau Rp1.320.000 per bulan. Jadi, jika Anda berpenghasilan melebihi batas
maksimal PTKP tersebut, Anda memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak dan dengan begitu
wajib memiliki NPWP.
Untuk dokumen/berkas yang wajib dipersiapkan, di antaranya:
Wajib Pajak (WP) Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
Fotokopi KTP (Warga Negara Indonesia/WNI)
Fotokopi paspor, Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS), atau Kartu Izin Tinggal Tetap
(KITAP) (Warga Negara Asing/WNA).
Wajib Pajak (WP) Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
Fotokopi KTP (Warga Negara Indonesia/WNI).
Fotokopi paspor, Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS), atau Kartu Izin Tinggal Tetap
(KITAP) (Warga Negara Asing/WNA).
Fotokopi dokumen izin kegiatan usaha yang diterbitkan instansi berwenang atau surat
keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari Pejabat Pemerintah Daerah
(Pemda) minimal setingkat Lurah atau Kepala Desa atau lembar tagihan listrik/bukti
pembayaran listrik.
Surat pernyataan di atas materai bahwa WP benar-benar menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas.
Wajib Pajak (WP) Pribadi wanita kawin yang ingin hak dan kewajiban perpajakannya
terpisah
Fotokopi Kartu NPWP suami.
Fotokopi Kartu Keluarga.
Fotokopi surat perjanjian pemisahan penghasilan dan harta atau surat pernyataan
menghendaki hak dan kewajiban perpajakan terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan
suami.
Sekarang Anda sudah tahu apakah Anda termasuk Wajib Pajak atau bukan. Jika iya, langkah
selanjutnya adalah mendaftar untuk pembuatan NPWP Pribadi.