Anda di halaman 1dari 10

Andhika Widyadwatmaja

155090707111010

Kelompok Geolistrik

Dasar Teori

Geolistrik ialah suatu metode dalam geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik di
dalam bumi dan cara mendeteksinya di permukaan bumi. Metoda ini menggunakan medan
potensial listrik bawah permukaan sebagai objek pengamatan utamanya. Kontras
resistivity yang ada pada batuan akan mengubah potensial listrik bawah permukaan
tersebut sehingga bisa kita dapatkan suatu bentuk anomali dari daerah yang kita amati.

1. Resistivitas
Prinsip dasar metode geolistrik ini adalah menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi
menggunakan dua buah elektroda arus, kemudian mengukur beda potensial melalui dua
buah elektroda lainnya di permukaan bumi. Arus listrik yang di-injeksikan akan mengalir
melalui lapisan batuan di bawah permukaan, dan menghasilkan data beda potensial yang
harganya bergantung pada tahanan jenis (resistivity) dari batuan yang dilaluinya.
Fenomana inilah yang dimanfaatkan untuk mengetahui dan menentukan jenis batuan
termasuk fluida apa saja yang ada di bawah permukaan.
Teori utama dalam metoda resistivity sesuai dengan hokum Ohm yaitu arus yang
mengalir (I) pada suatu medium sebanding dengan voltage (V) yang terukur dan
berbanding terbalik dengan resistansi (R) médium, atau dapat dirumuskan sebagai
berikut
V=I.R
Dimana R (Resistansi) sebanding dengan panjang medium yang dialiri (x), dan
berbanding terbalik dengan luas bidang (A), yang sesuai dengan rumus
R = x/A
Untuk mendapatkan pengukuran resistivity yang menghasilkan harga resistivitas semu
ρapp (apparent resistivity) dirumuskan oleh :
ρ app = K array . V / I

2. Self Potensial
Metode Self potential (SP) adalah metode pasif, karena pengukurannya dilakukan
tanpa menginjeksikan arus listrik lewat permukaan tanah, perbedaan potensial alami
tanah diukur melalui dua titik dipermukaan tanah. Potensial yang dapat diukur berkisar
antar beberapa millivolt (mV) hingga 1 volt. Self potensial adalah potensial spontan yang
ada di permukaan bumi yang diakibatkan oleh adanya proses mekanis ataupun oleh
proses elektrokimia yang di kontrol oleh air tanah.
Metode SP merupakan metode pasif. Dimana perbedaan dari potensial alamiah bumi
terukur diantara dua elektroda yang tertancap pada permukaan bumi.
Potensial alamiah tanah mengandung 2 komponen
-Potensial yang konstan tidak berarah/ potensial mineral
-Potensial yang berfluktuasi terhadap waktu/ potensial background
Komponen yang konstan terhadap waktu terutama disebabkan oleh proses
elektrokimia dan kompponen yang disebabkan oleh macam-macam proses mulai dari AC
yang diinduksikan oleh petir dan variasi medan magnetik bumi sampai kepada yang
diakibatkan oleh hujan deras. Faktor utama yang mempengaruhi berbagai proses
terjadinya self potensial adalah air tanah. Potensial ini disebabkan oleh adanya ion-ion
yang terlarut dalam air.
Jenis-jenis potensial ada 4, yaitu:
-Potensial Elektrokinetik (streaming potensial)
Potensial ini dipengaruhi oleh aliran fluida khususnya pada bidang batas media
yang memiliki ‘konstanta streaming’ berbeda.
-Potensial Difusi (Liquid Junction)
Muncul ketika dua elektroda dimasukkan pada dua larutan berkonsentrasi berbeda.
-Potensial Nerst
Terjadi ketika muncul perbedaan potensial antara 2 logam identik yang dicelupkan
dalam larutan yang homogendan konsentrasi larutan masing-masing
elektrodaberbeda.
-Potensial Mineralisasi
Bila 2 macam logam dimasukkan dalam suatu larutan homogen, maka pada logam
tersebut akan timbul beda potensial. Beda potensial ini disebut sebagai potensial
kontak elektrolit. Pada daerah yang banyak mengandung mineral, potensial kontak
elektrolit dan potensial elektrokimia sering timbul dan dapat diukur dipermukaan
dimana mineral itu berada, sehingga dalam hal ini kedua proses timbulnya potensial
ini disebut juga dengan potensial mineralisasi

3. Induced Polarization
Pada prinsipnya metode IP merupakan suatu metode yang mendeteksi terjadinya
polarisasi listrik pada permukaan mineral-mineral logam di bawah permukaan bumi.
Metode ini dapat mendeteksi adanya anomali resistivitas meski dalam jumlah yang
sangat kecil, yang tidak terdeteksi oleh metode lain. Biasanya konfigurasi yang tepat
untuk pengukuran ini adalah dipole-dipole karena dapat memberikan hasil variasi
tahanan jenis dan chargeability-nya ke arah vertikal dan horizontal. Aliran listrik pada
suatu formasi batuan terjadi terutama karena adanya fluida elektrolit pada pori-pori atau
rekahan batuan. Oleh karena itu resistivitas suatu formasi batuan bergantung pada
porositas batuan serta jenis fluida pengisi pori-pori batuan tersebut. Batuan poros yang
berisi air atau air asin tentu lebih konduktif (resistivitas-nya rendah) dibanding batuan yg
sama yg pori-porinya hanya berisi udara (kosong). Temperatur tinggi akan lebih
menurunkan resitivitas batuan secara keseluruhan karena meningkatnya mobilitas ion-ion
penghantar muatan listrik pada fluida yg bersifat elektrolit.

Akuisisi Data

Persiapan

1. Tentukan tujuan/target pengukuran

2. Tentukan metode/konfigurasi yang digunakan

3. Buat stacking chart sesuai kebutuhan (panjang bentangan dan spasi elektroda)

4. Kumpulkan data/informasi geologi daerah survey

5. Usahakan lokasi sedatar mungkin (jauhi topografi bergelombang)

6. Pengukuran sebaiknya sejajar dengan arah kemirinan batuan

7. Ukur arah dan posisi lintasan pengukuran

Konfigurasi yang digunakan adalah:

1. Wenner

Konfigurasi Wenner merupakan salah satu konfigurasi yang sering digunakan dalam
eksplorasi geolistrik dengan susunan jarak spasi sama panjang (r1= r4= a dan
r2=r3=2a). Jarak antara elektroda arus adalah tiga kali jarak elektroda potensial, jarak
potensial dengan titik souding-nya adalah 2/a, maka jarak masing elektroda arus dengan
titik soundingnya adalah 2/3a. Target kedalaman yang mampu dicapai pada metode ini
adalah 2/a. Dalam akuisisi data lapangan susunan elektroda arus dan potensial
diletakkan simetri dengan titik sounding
Kelebihan dari konfigurasi ini adalah Ketelitian pembacaan tegangan pada elektroda
potensial lebih baik, dengan angka yang relatif besar karena jarak elektroda potensial
yang relatif dekat dengan elektroda arus. Kelemahannya adalah Tidak bisa mendeteksi
homogenitas batuan di dekat permukaan yang bisa berpengaruh terhadap hasil
perhitungan.
2. Schlumberger

Konfigurasi Schlumberger merupakan konfigurasi empat elektroda dimana terdapat


sepasang elektroda arus yaitu C1-C2 dan sepasang elektroda potensial P1-P2, dimana
terdapat titik tengah dimana jarak dari pusat dengan elektroda. Dalam pengukuran
konfigurasi schlumberger ini letak jarak elektroda arus diubah, sedangkan letak jarak
elektroda potensial tetap.
Kelebihan dari konfigurasi ini adalah mampu mendeteksi adanya non-homogenitas
lapisan batuan pada permukaan. Kelemahannya adalah Pembacaan tegangan pada
elektroda potensial lebih kecil, terutama ketika jarak antar elektroda potensial jauh.

3. Dipole-dipole

Pada konfigurasi Dipole-dipole, dua elektrode arus dan dua elektrode potensial
ditempatkan terpisah dengan jarak na, sedangkan spasi masing-masing elektrode a.
Pengukuran dilakukan dengan memindahkan elektrode potensial pada suatu penampang
dengan elektrode arus tetap, kemudian pemindahan elektrode arus pada spasi n
berikutnya diikuti oleh pemindahan elektrode potensial sepanjang lintasan seterusnya
hingga pengukuran elektrode arus pada titik terakhir di lintasan itu.
Kelebihan dari konfigurasi ini adalah Dapat digunakan untuk penetrasi yang lebih
dalam dan waktu untuk perubahan bentangan elektroda yang relatif lebih pendek.
Kelemahannya adalah Pengukuran medan listrik menjadi sulit pada jarak pengukuran
yang jauh.

Processing
a. Cumulative Curve Moore
Moore (1945,196l) mengembangkan metode resistivitas kumulatif, "yaitu sebuah
metode empiris untuk menentukan kedalaman (tapi bukan resistivitasnya) terhadap
lapisan horisontal dari Wenner Sounding.
Kurva ini terdiri dari segmen garis lurus yang berpotongan pada titik-titik di mana
nilai absis, menurut Moore sama dengan kedalaman batas horisontal. Metode ini dapat
diuji dengan mudah dengan menggunakan data teoritis yang dipublikasikan di tabel
Orellana-Mooney (Orellana a Mooney, 1966) untuk kurva Wenner. Namun, interpolasi
antara nilai yang diberikan dalam tabel diperlukan karena tabel didasarkan pada jarak
elektroda vahx yang meningkat pada tingkat logaritmik (1, 1,2, 1,4, 1,6, 2, 2,6, 3, 4,),
sedangkan Metode Moore mengasumsikan peningkatan linier konstan (1, 1.1, 1.2, 1.3,
1.4, 1.5, 1.6, 1.7, ...). Ditemukan bahwa untuk model hulu dua lapisan horisontal,
metode ini memberikan hasil yang benar-benar akurat sehingga kontras dalam
resistivitas adalah modera & Jika kontrasnya besar (pz / pl) + * atau 0, kedalaman ke
antarmuka diremehkan oleh aa banyak. seperti 50 persen, sedangkan jika & kontrasnya
kecil, (pz / pl) = 1, kedalamannya terlalu tinggi sebanyak 50 persen. Ini menjelaskan
mengapa metode Moore nampaknya bekerja di area tertentu.

b. Barnes
Metode ini memakai prinsip bahwa ada hubungan antara kedalaman efektif dengan
jarak elektroda dan pengaruh relative material di kedalaman yang berbeda pada
pembacaan tahanan jenis semu, sehingga kedalaman efektif = jarak elektroda. Salah
satu pengolahan data tahanan jenis dalam aturan wenner menghasilkanbentuk kurva
yang disebut kurva kumulatif moore.

c. Curve Matching
Pada dasarnya tahanan jenis semu untuk struktur berlapis ( tahanan jenis dan
ketebalan perlapisan diketahui ) dapat dihitung secara teoritis ( penyelesaian problem
maju ) dengan cara menyelesaikan persamaan Laplace untuk potensial listrik dalam
koordinat silinder dan pertimbangan syarat – syarat batas. Karena penyelesaian sukar
dan panjang dengan melibatkan fungsi Bassel dan syarat – syarat batas maka
interpretasi dapat dilakukan dengan teknik Curve Matching. Teknik Curve Matching
adalah mencocokkan kurva tahanan jenis semu hasil pengukuran lapangan dengan
kurva tahanan jenis semu yang dihitung secara teoritis. Struktur berlapis mempunyai
tahanan jenis dan ketebalan lapisan yang sangat banyak variasinya, sehingga kita perlu
kurva tahanan jenis semu teoritis ( standar atau baku ) struktur berlapis yang
mempunyai variasi yang sangat banyak juga. Pemilihan kurva bantu yang paling cocok
dengan kurva tahanan jenis yang diperoleh di lapangan, memerlukan waktu yang lama
karena variasi kurva baku yang banyak tersebut. Dua hal itulah yang merupakan
kendala – kendala dalam penggunaan Curve Matching.
Untuk menghindari kendala – kendala tersebut, digunakan teknik Curve Matching
struktur medium 2 lapis yang terdiri 2 kurva baku dan 4 kurva bantu. Hal ini dapat
dilakukan karena struktur banyak lapis dapat dianggap sebagai struktur 2 lapis yang
setiap lapisannya dapat diwakili oleh 1 atau kombinasi banyak lapis. Terdapat 2 jenis
kurva baku, yaitu kurva baku struktur 2 lapis yang menurun ( ρ2 < ρ1) dan naik (ρ2 >
ρ1).
Kurva Baku
-Kurva Standart 2 Lapis Ascending (Naik). Metode Geolistrik Sounding ‘’Curve
Matching’’ konfigurasi Schlumberger

-Kurva Standart 2 Lapis Descending (Turun). Metode Geolistrik Sounding ‘’Curve


Matching’’ konfigurasi Schlumberger

Kurva Bantu
- Kurva Bantu Tipe H
Tipe ini lengkungnya berbentuk pinggan (minimum di tengah ). Dibentuk oleh 2
lengkung baku, yaitu depan menurun dan belakang naik. Dan terjadi seperti ada 3
lapisan dengan ρ1 > ρ2 < ρ3 . Dalam struktur 2 lapis, dianggap lapisan bawah lebih
resistan, sehingga arus mengalir paada lapisan semu rapat arus berbanding terbalik
terhadap tahanan jenisnya. Sehingga total konduktansinya sama dengan jumlah dari
masing – masing konduktan.
- Kurva Bantu Tipe A
Kurva ini mencerminkan harga yang selalu naik. Dibentuk oleh 2 kurva baku,
yaitu depan naik dan belakang turun. Sama seperti kurva bantu tipe H, tipe A ini
terjadi seperti ada 3 lapisan dengan ρ1 < ρ2 < ρ3 .

- Kurva Bantu Tipe K


Lengkung kurva ini berbentuk bell (maksimum di tengah ). Dibentuk 2 lengkung
baku, yaitu depan naik dan belakang Moe2KiyoKidi turun. Seperti 3 lapisan dengan
ρ1 < ρ2 > ρ3 .
- Kurva Bantu Tipe Q
Kurva ini mempunyai harga selalu turun. Dibentuk oleh 2 kurva baku, yaitu
depan turun dan belakang juga turun. Seperti 3 lapis dengan ρ1 > ρ2 > ρ3 .

d. Langkah- Langkah Pengolahan Data


-Ms. Excel

Langkah pertama adalah memasukkan data akuisis ke dalam Microsoft Excel


Kemudian taKemudian tambahkan nilai K (faktor geometri) dan ρ (rho) dengan
menggunakan rumus (untuk konfigurasi Wenner) dan atau
. Setelah itu buka Excel yang baru dan copy-paste data yang akan
dimasukkan ke dalam Res2dinv (datum, spasi, dan rho). Pada 6 baris pertama
kolom datum, secara berurut dicantumkan nama konvigurasi yang digunakan, spasi
yang digunakan, nomor jenis konfigurasi, lalu angka 1 dan 0 sebagai bawaan
program. Ditambahkan data datum A, n dan rho untuk konfigurasi dipole-dipole
sedangkan untuk wanner tidak pake data n. Selain itu pada kolom yang sama
namun diurutan terakhir juga di tuliskan angka nol secara berurutan sebanyak 5
kali. Simpan data ini dengan menggunakan format .TXT kemudian ubah ke format
.dat.
-Res2Dinv
Data di atas sudah dapat diolah dalam Res2dinv, sehingga langkah berikutnya
yang perlu dilakukan adalah membuka Res2dinv. Untuk memasukkan data dengan
format .dat yang telah diolah terlebih dahulu, klik File->Read Data File, kemudian
pilih data yang telah disimpan dalam format .dat. Klik OK hingga kotak dialognya
selesai. Kemudian untuk menampilkan pemetaan resistivitas bawah permukaan,
pada menu bar klik inversion->carry out inversion dan save dengan format INV,
OK.
-IPI2WIN
Pada pengolahan data menggunakan IP2WIN, kita akan memproses data hasil
akuisisi menggunakan konfigurasi Schlumberger. Data yang diperoleh pada
akuisisi ini adalah berupa spasi elektroda arus, spasi elektroda potensial, arus, serta
tegangan. Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah membuka software
IP2WIN. Untuk memasukkan data, klik File->New VES Point. Isikan nilai AB/2,
MN, V, dan I. Kemudian klik Save TXT->OK, maka akan ditampilkan kurva teori
(merah) dan kurva lapangan (hitam). Kemudian diudahakan garis merah mendekati
garis hitam dengan menggerkan garis bewrana biru. Hal ini dilakukan untuk
mengurangi nilai error. klik File->Add File->pilih data yang akan ditampilkan,
maka akan muncul kotak dialog information, klik OK.
-PROGRES3
Masukkan nilai spasi elektroda dan observed data (nilai rho a dari ipi2win).
klik forward modeling. tabel depth (d) dan resistivity (rho sebenarnya), kemudian
klik tanda panah merah di samping forward modelling
Klik invers modeling. Klik tanda panah merah di samping invers modeling
HINGGA nilai error tidak dapat diturunkan lagi.

PERTANYAAN

1 Prinsip dari yang dijelaskan menggunakan software diatas? Apakah ada


hubungannya dengan apa yang dipresentasikan sebelum uts?

-Software yang digunakan ms.excel, res2dinv, ipi2win, progres3. Hubungannya


adalah pada saat pengolahan dalam software. Di dalam software sudah terdapat
berbagai rumus sehingga software mampu melakukan penghitungan-
penghitungan otomatis .
2. Jika di geolistrik ketika mendapatkan data, bagaimana cara menyeleksi data
tersebut?

-Pada geolistrik tidak ada seleksi data, namun yang dapat dilakukan adalah
bagaimana cara mendapatkan data yang bagus. Untuk mendapatkan data yang
bagus harus melakukan persiapan yang bagus, yaitu ketika melakukan akuisisi
data daerah pengambilan datanya jangan terlalu dekat dengan aliran sungai,
karena dapat mengganggu proses pengambilan data, dan juga usahakan daerah
tersebut datar, jangan terlalu curam. Kemudian setelah diambil datanya dapat
dilihat pada data apakah data tersebut bagus atau tidak, apabila data tersebut ada
yang terlalu rendah dan terlalu tinggi, sebaiknya dilakukan pengambilan data lagi
setidaknya beberapa kali

3. Aplikasi untuk geolistrik apa saja?

-Pertambangan, mencari air bawah tanah, mengetahui struktur lapisan bawah


bumi, geoteknik untuk pemetaan data longsor, mendeteksi kadar fosfat dalam
tanah.