Anda di halaman 1dari 19

Makalah Swamedikasi

KASUS 10 : DYSMENORRHEA

Oleh :

1. Shasa Hafshah Audita M0615041


2. Umi Hanik Pujiastuti M0615044
3. Versyleis Arifatu S. M0615046

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018

1
BAB I

I. Definisi

Wanita yang sudah mengalami menstruasi biasanya akan merasakan


keluhan - keluhan yang mengganggu. Salah satunya adalah dismenore.
Dismenore berasal dari bahasa Yunani, yaitu dysmenorrhea, terdiri atas “dys”
berarti sulit, “meno” berarti bulan, dan “rrhea” berarti aliran (Madhubala dan
Jyoti, 2012).

Dismenore adalah nyeri kram (tegang) daerah perut mulai terjadi pada 24
jam sebelum terjadinya perdarahan haid dan dapat bertahan selama 24-36 jam
meskipun beratnya hanya berlangsung selama 24 jam pertama. Kram tersebut
terutama dirasakan didaerah perut bagian bawah tetapi dapat menjalar
kepunggung atau permukaan dalam paha, yang terkadang menyebabkan
penderita tidak berdaya dalam menahan nyerinya tersebut (Hendrik, 2008)

Gejalanya meliputi nyeri pada perut bagian bawah, mual, muntah, diare,
cemas, depresi, pusing, nyeri kepala, letih-lesu, bahkan sampai pingsan. Keluhan-
keluhan ini bisa berlangsung selama beberapa jam sampai beberapa hari, pada
umumnya tidak lebih dari 3 hari (Astuti, 2005).

Berdasarkan ada tidaknya kelainan ginekologik, dismenore


diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

a. Dismenore Primer
Dismenore primer adalah nyeri saat menstruasi dengan anatomi
panggul normal. dBiasanya dimulai saat remaja (Unsal et al, 2010).
Rasa nyeri akan dirasakan sebelum atau bersamaan dengan permulaan
menstruasi dan berlangsung untuk beberapa jam (Simanjuntak, 2014).
b. Dismenore Sekunder
Dismenore sekunder merupakan nyeri mesntruasi yang ditandai
dengan adanya kelainan panggul yang nyata. Terjadi akibat berbagai
kondisi patologis seperti endometriosis, salfingitis, adenomiosis
uteri,stenosis serviks, kista ovarium, mioma uteri dan lain-lain. Sering

2
terjadi pada usia lebih dari 30 tahun dimana semakin bertambahnya
umur rasa nyeri akan semakin buruk (Unsal et al,2010).

II. Etiologi

Dismenore diklasifikasikan menjadi dismenore primer dan dismenore


sekunder. Penyebab dismenore bermacam-macam, bisa karena penyakit (radang
panggul), endometriosis, tumor atau kelainan uterus, stres atau cemas yang
berlebihan, bisa juga karena ketidakseimbangan hormonal dan tidak ada
hubungannya dengan organ reproduksi (Simanjuntak, 2014).

Penyebab dari dismenore primer adalah karena terjadinya peningkatan atau


produksi yang tidak seimbang dari prostaglandin endometrium selama menstruasi.
Prostaglandin akan meningkatkan tonus uteri dan kontraksi sehingga timbul rasa
sakit (Bavil et al, 2016).

Faktor-faktor yang menyebabkan dismenore primer antara lain faktor


kejiwaan yang secara emosional tidak stabil yang terjadi pada gadis remaja
apabila tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, berkaitan juga
dengan adanya peningkatan hormon prostaglandin yang bisa meningkatkan
kontraksi miometrium dan mampu mempersempit pembuluh darah, sehingga
terjadi kontraksi otot-otot rahim (Syntia, 2012).

Ada beberapa faktor resiko penyebab dismenore primer, yaitu: usia < 30
tahun, usia menarche dini (< 12 tahun), Indeks Massa Tubuh yang rendah, status
sosial ekonomi yang rendah, riwayat penyakit keluarga, siklus menstruasi yang
lebih panjang, nulipara, sindrom premenstrual, jarang melakukan aktivitas fisik,
stres, diet dan merokok. Bila dilihat secara klinis faktornya ada penyakit radang
panggul, sterilisasi, dan riwayat kekerasa seksual (Latthe et al, 2006).

Dismenore sekunder berhubungan dengan kelainan kongenital atau


kelainan organik di pelvis yang terjadi pada masa remaja. Rasa nyeri yang timbul
disebabkan karena adanya kelainan pelvis misalnya endometriosis, mioma uteri
(tumor jinak kandungan), stenosis serviks, dan malposisi uterus (Judha, Sudarti, &
Fauziah, 2012).

3
III. Patofisiologi

Mekanisme terjadinya nyeri pada dismenore adalah sebagai berikut:


Korpus luteum akan mengalami regresi apabila tidak terjadi kehamilan. Hal ini
akan mengakibatkan penurunan kadar progesteron dan mengakibatkan labilisasi
membran lisosom, sehingga mudah pecah dan melepaskan enzim fosfolipase A2.
Fosfolipase A2 akan menghidrolisis senyawa fosfolipid yang ada di membran sel
endometrium dan menghasilkan asam arakhidonat. Asam arakhidonat bersama
dengan kerusakan endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat dan
menghasilkan prostaglandin PGE2 dan PGF2 alfa. Wanita dengan dismenore
primer didapatkan adanya peningkatan kadar PGE dan PGF2 alfa di dalam
darahnya, yang merangsang miometrium. Akibatnya terjadi
peningkatan kontraksi dan disritmi uterus, sehingga terjadi penurunan
aliran darah ke uterus dan mengakibatkan iskemia. Prostaglandin sendiri dan
endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi, selanjutnya menurunkan ambang rasa
sakit pada ujung-ujung saraf aferen nervus pelvicus terhadap rangsang fisik dan
kimia (Sunaryo, 1989).

IV. Manifestasi Klinis

4
Dismenore primer umumnya terjadi pada usia lebih muda, timbul setelah
terjadinya siklus haid yang teratur, sering pada nulipara, nyeri sering terasa
sebagai kejang uterus dan spesifik, nyeri timbul mendahului haid dan meningkat
pada hari pertama atau kedua haid. Dismenore primer ditandai dengan kram pada
panggul, nyeri biasanya datang sesaat sebelum atau pada awal menstruasi yang
akan berlangsung 1-3 hari (Unsal et al, 2010). Nyeri juga dirasakan pada garis
tengah abdomen bagian bawah (Hillard, 2006). Selain dirasakan pada suprapubik,
nyeri juga dapat menjalar ke permukaan dalam paha dan dirasakan paling berat
pada hari pertama atau kedua bersamaan dengan waktu pelepasan maksimal
prostaglandin ke dalam cairan menstruasi (Dawood, 2006). Ada juga gejala yang
menyertai dismenore primer, antara lain mual, muntah, pusing,nyeri kaki bagian
belakang, diare, konstipasi, dan pingsan (Novia dan Puspitasari, 2008).
Dismenore sekunder yakni umumnya pada usia lebih tua, cenderung
timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur, tidak berhubungan dengan siklus
paritas, nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul, nyeri dimulai dari haid dan
meningkat bersamaan dengan keluarnya darah (Unsal et al, 2010).

V. Tata laksana terapi


a. Secara umum

5
Algoritma penatalaksanaan dismenore (Osayande, 2014)

1) Farmakologi

Pengobatan secara farmakologi adalah yang paling dapat


diandalkan dan efektif untuk menghilangkan dismenorea. Pilihan terapi
lini pertama bagi wanita dengan dismenorea primer adalah NSAID
sedangkan dismenorea sekunder, strategi pengobatan harus didasarkan
pada penyakit yang mendasari, meskipun beberapa strategi pengobatan
yang digunakan untuk dismenorea primer juga mungkin memiliki
beberapa manfaat terhadap patologi organik.

6
Obat-obat NSAID bekerja dengan cara menghambat produksi dan
pelepasan prostaglandin. NSAID yang telah disetujui oleh FDA untuk
pengobatan dismenorea, seperti diklofenak, ibuprofen, ketoprofen,
meclofenamate, asam mefenamat, naproxen. Sedangkan NSAID dan
analgesik lainnya yang telah digunakan adalah aspirin, acetaminofen,
COX-2 inhibitor, narkotika, montelukast.

Agar dapat mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat


antiperadangan non-steroid (misalnya ibuprofen, naproxen, dan asam
mefenamat). Obat NSAID akan sangat efektif jika mulai diminum dua hari
sebelum menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.

Pilihan terapi dismenore dengan NSAID ( Osayande, 2014)

Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari,


maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung estrogen dan
progesterone atau diberikan medroxiprogesteron. Pemberian kedua obat
tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan
mengurangi pembentukan prostaglandin, dan selanjutnya akan mengurangi
beratnya dismenore. Meskipun tidak disetujui oleh FDA untuk mengobati
dismenorea.

Kontrasepsi oral adalah terapi pilihan kedua untuk sebagian besar


pasien. Kontrasepsi oral mencegah nyeri haid melalui mekanisme yang
berbeda dari NSAID. Dengan mencegah ovulasi, kontrasepsi oral dapat
menekan proliferasi progesteron dari endometrium sekretori,

7
mengakibatkan penurunan volume cairan dan sintesis prostaglandin.
Secara umum, diperlukan waktu hingga tiga siklus haid agar dismenorea
terasa berkurang (Potter & Perry, 2006).

Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan


tambahan, misalnyalnya laparoskopi. Jika dismenore sangat berat bisa
dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur yang mana lapisan
rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas. Pengobatan untuk
dismenore sekunder tergantung penyebabnya ( Dr.sylvia, 2010).

Pilihan terapi dismenor dengan kontrasepsi (Osayande, 2014)

2) Non Farmakologi

Terapi non farmakologis yang dapat digunakan sebagai alternative


pilihan dalam pengobatan diminore primer adalah:

8
a) Kompres hangat

Kompres hangat adalah pengompresan yang dilakukan dengan


mempergunakan buli-buli panas yang di bungkus kain yaitu secara
konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh
sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi
penurunan ketegangan otot sehingga nyeri haid yang dirasakan akan
berkurang atau hilang (Perry & Potter, 2005). Menurut Bare & Smeltzer
(2001), kompres hangat mempunyai keuntungan meningkatkan aliran
darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri
dengan mempercepat penyembuhan. Menurut Bobak (2005), kompres
hangat berfungsi untuk mengatasi atau mengurangi nyeri, dimana panas
dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi uterus dan
melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan
mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera,
meningkatkan aliran menstruasi, dan meredakan vasokongestipelvis.
Menurut Price & Wilson (2005), kompres hangat sebagai metode yang
sangat efektif untuk mengurangi nyeri atau kejang otot. Panas dapat di
salurkan melalui konduksi (botol air panas). Panas dapat melebarkan
pembuluh darah dan dapat meningkatkan aliran darah. Kompres hangat
adalah metode yang digunakan untuk meredakan nyeri dengan cara
menggunakan buli-buli yang diisi dengan air panas yang ditempelkan pada
sisi perut kiri dan kanan.

b) Olah raga

Olah raga secara teratur dapat menimbulkan aliran darah sirkulasi


darah pada otot rahim menjadi lancar sehingga dapat mengurangi rasa
nyeri saat menstruasi. Pelepasan endorfin alami dapat meningkat dengan
olah raga teratur yang akan menekan pelepasan prostaglandin, selain itu
mampu menguatkan kadar beta endorfin yaitu suatu zat kimia otak yang
berfungsi meredakan rasa sakit (Sadoso, 1998).

c) Berhenti merokok dan mengkomsumsi alkohol

9
Kebiasaan-kebiasaan buruk ini, mempunyai efek negatif terhadap
tubuh manusia, pada poerokok berat dapat meningkatkan durasi terjadinya
disminore, hal ini berkaitan dengan peningkatan volume dan durasi
perdarahan selama menstruas. Dengan menghindari dan menghilangkan
kebiasaan tersebut, diharapkan efek negatif dapat dihilangkan sehingga
disminore tidak terjadi (Medicastore,2004).

d) Pengaturan diet

Cara mengurangi dan mencegah rasa nyeri saat menstruasi,


dianjurkan mengkomsumsi makanan yang banyak mengandum kalsium
dan makanan segar, seperti sayuran, buah-buahan, ikan, daging, dan
makanan yang mengandung vitamin B6 karena berguna untuk
metabolisme estrogen (Medicastore, 2004).

Menurut Bare & Smeltzer (2001) penanganan nyeri secara


nonfarmakologis terdiri dari:

1) Masase kutaneus
Masase adalah stimulus kutaneus tubuh secara umum,
sering dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase dapat
membuat pasien lebih nyaman karena masase membuat relaksasi
otot.
2) Terapi panas
Terapi panas mempunyai keuntungan meningkatkan aliran
darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurungkan
nyeri dengan mempercepat penyembuhan.
3) Transecutaneus Elektrikal Nerve Stimulaton ( TENS)
TENS dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi
reseptor tidak nyeri (non-nesiseptor) dalam area yang sama seperti
pada serabut yang menstramisikan nyeri. TENS menggunakan unit
yang dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang di pasang pada
kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau
mendengung pada area nyeri.
4) Distraksi
Distraksi adalah pengalihan perhatian dari hal yang
menyebabkan nyeri, contoh: menyanyi, brdoa, menceritakan

10
gambar atau foto denaga kertas, mendengar musik dan bermain
satu permainan.
5) Relaksasi
Relaksasi merupakan teknik pengendoran atau pelepasan
ketegangan, contoh: bernafas dalam-dalam dan pelan.
6) Imajinasi
Imajinasi merupakan jhayalan atau membayangkan hal
yang lebih baik khususnya dari rasa nyeri yang dirasakan

b. Batasan untuk apoteker dalam swamedikasi


Apoteker dapat menjelaskan secara sederhana kepada pasien yang
melakukan upaya swamedikasi mengenai
1. Sebab terjadinya nyeri pada saat menstruasi
2. Gejala - gejala yang umum dan yang harus diwaspadai
3. Obat - obat sederhana yang dapat digunakan untuk pengatasan
pertama
4. Penggalian informasi pasien
5. KIE obat
6. Terapi non farmakologi
7. Kapan harus ke dokter

c. Rujukan
1. Jika ditemui abnormalitas pada vagina
2. Pendarahan yang tidak normal
3. Gejala yang ditandai dengan dismenor sekunder
4. Pendarahan dan nyeri intermenstrual yang parah saat ovulasi
5. Kegagalan medikasi
6. Nyeri saat periode akhir (kemungkinan kehamilan ektopik)
7. Demam
8. Jika pengobatan gagal setelah lebih dari dua siklus menstruasi pada
dismenore primer

VI. Pertanyaan yang Harus Ditanyakan Pada Pasien

Pertanyaan Relevansi
Umur Dismenore primer umumnya terjadi
pada rentang usia 17 - 25 tahun,
sedangkan dismenore sekunder
umumnya terjadi pada usia 30 tahun ke
atas dan jarang ditemui pada perempuan
usia di bawah 25 tahun.

11
Siklus Menstruasi Memastikan terkait siklus menstruasi,
apakah normal atau tidak, dan rentang
waktu menstruasi.
Daerah dan waktu nyeri Dismenor primer umumnya terasa nyeri
seperti di remas - remas pada daerah
abdominal pada saat hari sebelum mulai
menstruasi. Kemudian nyeri akan
berkurang setelah menstruasi pada hari
pertama dan nyeri akan hilang seiring
menstruasi. Sedangkan pada dismenor
sekunder, nyeri dapat terjadi di luar
siklus menstruasi dan semakin
memburuk saat menstruasi. Nyeri dapat
terjadi seminggu sebelum menstruasi
dan saat melakukan hubungan seksual.
Nyeri yang dirasakan lebih seperti nyeri
yang tumpul dan terasa sakit
dibandingkan nyeri seperti di remas -
remas.
Gejala - gejala lain Gejala - gejala lain yang sering
dikeluhkan seperti mual, muntah, rasa
tidak nyaman pada daerah
gastrointestinal, pusing, sakit punggung,
premenstrual syndrome, dll.
Pengobatan Pengobatan apa saja yang telah
dilakukan oleh pasien, baik itu secara
farmakologi maupun non farmakologi.
Tujuannya untuk mengetahui terapi
yang lebih tepat dan efektif untuk pasien
Riwayat Penyakit Tidak selalu nyeri yang dialami oleh
pasien adalah nyeri yang disebabkan
oleh menstruasi. Riwayat penyakit
pasien dapat menjadi poin penting untuk

12
mengetahui penyebab nyeri.
(Blekinsopp, 2009)

VII. Monitoring
1. Efektifitas terapi dari data klinik.
Dengan penggunaan NSAID, prognosis untuk dismenore
primer sangat baik. Prognosis untuk dysmenorrhea sekunder
bervariasi, tergantung pada proses penyakit yang
mendasarinya. Jika diagnosis dismenore sekunder terlewatkan,
patologi yang mendasari dapat menyebabkan peningkatan
morbiditas, termasuk kesulitan hamil (Levy et al, 2017).

2. Adverse drug reaction

(Anwar et al, 2015).

13
3. Kepatuhan pasien

4. Luaran dari terapi dismenorrhea yang diharapakan


a. Untuk mengukur efikasi, lihat apakah tujuan ini telah tercapai:
 Tingkat nyeri dapat ditoleransi?
 Aktivitas sehari - hari dapat berjalan ?
b. Adakah perbaikan umum?
 Jika ada respons yang baik terhadap NSAID yang diresepkan,
anjurkan pasien untuk melanjutkan terapi (meminum NSAIDS
untuk beberapa hari pertama setiap siklus).
 Hubungi penyedia perawatan primer pasien untuk otorisasi isi
ulang NSAID lebih lanjut atau rujuk pasien ke penyedia perawatan
primer mereka.
 Ingatkan pasien untuk melakukan pra-dosis NSAID dan
menggunakan loading doses jika sesuai.
 Perawatan harus dilanjutkan untuk uji coba 3-siklus sebelum
menyatakan non-respons.
 Non-responden harus dirujuk untuk penyelidikan penyebab
sekunder dismenore seperti endometriosis.
 Jika obat hanya menghilangkan sebagian gejala, rekomendasikan /
resepkan NSAID dari kelas yang berbeda atau resepkan

14
kontrasepsi hormonal jika sesuai atau rujuk pasien ke penyedia
perawatan primer mereka.
c. Menilai Adverse Effect :
 NSAID umumnya ditoleransi dengan baik untuk terapi jangka
pendek pada pasien muda.
 Nyeri GI mild - sarankan makan kecil sering, permen karet atau
hisap hisap.
 Nyeri GI moderate - rekomendasikan OTC H2RA antagonis atau
omeprazole
 Hentikan jika mual / muntah terus-menerus, telinga berdenging,
sesak napas; memar yang tidak biasa atau perdarahan (mulut, urin,
tinja), ruam kulit, pembengkakan anggota badan; nyeri dada, atau
palpitasi. Rujuk ke penyedia perawatan primer pasien.
BAB II

I. KASUS
Ny. A.B. 35 tahun, perempuan datang ke apotek dengan keluhan nyeri
perut seperti kram dan mual terkait menstruasi.
Riwayat penyakit dan obat adalah sebagai berikut:
- Ny. A.B. telah mencoba mengkonsumsi ibuprofen 400 mg sehari 3
kali dimulai saat nyeri perut namun tidak optimal karena dia harus
tinggal di rumah saat sakit dan tidak bisa beraktivitas
- 3 bulan lalu mendapatkan resep, dia mendapatkan naproxen tablet
untuk kondisinya. Dia mendapatkan bahwa hasilnya lebih baik
dibandingkan dengan ibuprofen. Namun belum optimal.

II. ANALISA KASUS


a. Identitas pasien
Ny A.B 35 tahun , perempuan.
b. Subyektif
Pasien mengeluhkan nyeri perut seperti kram dan mual terkait
menstruasi.
Ny A.B juga mengeluhkan bahwa ia selalu mengalami sakit saat
menstruasi. Ny A.B pada saat ini tidak sedang memakai alat
kontrasepsi.
c. Obyektif
Keadaan umum Ny. A.B baik, kesadaran baik.
d. Asessment

15
- Problem Medik dan DRP
Pasien sebelumnya mengkonsumsi ibuprofen 400 mg sehari 3 kali
tetapi nyeri masih muncul.
Tiga bulan sebelumnya Ny. A.B mendapatkan resep naproxen tablet.
Hasilnya lebih baik di bandingkan dengan ibuprofen tetapi belum
optimal.
Saat keadaan menstruasi, memperburuk rasa nyeri seperti kram dan
mual yang dirasakan pasien.
Dari data subyektif pasien diperoleh parameter yang mengarah pada
dysmenorrhea untuk klasifikasinya sendiri belum diketahui apakah
pasien mengalami dysmenorrhea primer atau sekunder.

- Pertimbangan Pengatasan
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait gejala nyeri yang
dialami pasien pada dokter untuk menentukan jenis dan penyebab
nyeri yang diderita dan menegakkan diagnosis sehingga dapat
ditentukan terapi yang sesuai.
Untuk meringankan nyeri yang diderita pasien, dapat
direkomendasikan untuk menggunakan obat-obat penghilang rasa
nyeri seperti ibuprofen, na diklofenak. Dosis ibuprofen yang dapat
berikan untuk memberikan efek analgetik adalah 200-400 mg.
Sedangkan dosis diclofenak dapat diberikan 12.5 mg untuk dewasa.
Dan perlu ditanyakan lebih lanjut apakah pasien memiliki riwayat
penyakit kardiovaskuler karena obat ini dikontraindikasikan untuk
pasien yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler.

16
(March Lane, Stockton, 2017).

- Plan

17
Dianjurkan kepada pasien untuk segera periksa ke dokter
Merekomendasikan obat-obat penghilang rasa nyeri seperti
ibuprofen dan Na diclofenak (bila diperlukan dan nyeri
mengganggu aktivitas)
Anjurkan kepada pasien untuk tidak melakukan pekerjaan yang
terlalu berat dan beristirahat dengan cukup.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar A et al (2015): Elevation of cardiovascular risk by non-steroidal anti-
inflammatory drugs. Trends Cardiovasc Med March 12 (epub ahead of
print) doi: 10.1016/j.tcm.2015.03.006
Bavil, Dina Abadi, Mahrokh Dolatian, Zohreh Mahmoodi, and Alireza
Akbarzadeh Baghban . 2016. Comparison of Lifestyles of Young
Woman with and without Primary Dysmenorrheae. Electronic
Physician. 8(3): 2107–2114.
Blekinsopp, A., Paul Paxton, John Blekinsopp. 2009. Symptoms in the
Pharmacy A Guide to the Management of Common Illness. Sixth
Edition. UK. Blackwell Publishing.
Chauhan, Madhubala and Jyoti Kala. 2012. Relation Between
Dysmenorrheae and Body Mass Index in Adolescent with Rural Versus
Urban Variation. J. Obstet Gynaecol India. 62(4): 442–445.
Dickerson LM, Bucci KK. Contraception. In: DiPiro JT, Talbert RL, Yee
GC, et al., eds. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. New
York, NY: McGraw-Hill; 2002;5:1445-1461.
Edwards LA. An update on oral contraceptive options.Formulary.
2004;39:104-121.
Levy BS, Apgar BS, Surrey ES, Wysocki S. Endometriosis and chronic pain:
a multispecialty roundtable discussion. J Fam Pract. 2007 Mar. 56(3
Suppl Diagnosis):S3-13. [Medline].
March Lane, Stockton. 2017. Safety Comparison of NSAIDs. Therapeutic
Research Center.
Morisky, D.E., Ang, A., Krousel-Wood, M., Ward, H.J., 2008. Predictive
validity of medication adherence measure in an outpatient setting,
Journal of Clinical Hypertension, Vol. 10, No. 5, p 348-354
Osayande, Amimi S., dan Suarna Mehulic. 2014 . Diagnosis and Initial
Management of Dysmenorrhea. American Family Physician . Volume
89, No. 5
Sunaryo, 1989. Farmakologi Obat - Obatan yang Digunakan pada
Dismenore. Majalah Kedokteran Keluarga. Vol 8 (2) : 100 - 106

18
Unsal, A. , Unal Ayranci, Mustafa Tozun, Gul Arslan, and Elif Calik .2010.
Prevalence of dysmenorrhea and its effect on quality of life among a
group of female university students.Ups J. Med Sci. 115(2): 138–145.
Wickersham RM, Novak KK, eds.2005. Drug Facts and Comparisons. St.
Louis, MO: Wolters Kluwer Health, Inc.

19

Anda mungkin juga menyukai