Anda di halaman 1dari 89

Kelompok Distilasi 1

Anggota:
1. Joshua Raymond (1506746292)
2. Sofwan (1506728081)
3. Jessica Z (1506673252)
4. Mega Larasati (1606951203)
5. Irfan Danu (1506717885)
Outline

Pengantar
Separasi
Campuran

Basis Jenis-jenis
Perancangan Distilasi

Pemilihan
Jenis Kolom
Distilasi 2
Pengantar Separasi
Campuran
Sedimentasi Berat partikel

Sentrifugasi Gaya sentrifugal


Heterogen
Filtrasi Ukuran partikel
Atom, molekul, ion masuk fase limbak (bulk) lain
Absorpsi berupa gas/cair
Fluida terikat kepada padatan dan membentuk
Campuran Adsorpsi lapisan (film)

Distilasi Beda titik didih

Terpisah kedalam dua fase: stasioner (diam/ tetap)


Kromatografi dan mobil (bergerak)
Homogen Evaporasi Titik didih pelarut lebih rendah dari padatan terlarut

Kelanjutan dari evaporasi dengan mendinginkan


Kristalisasi larutan pekat sehingga mengkristal

Sublimasi Partikel padatan yang dapat menyublim

Menambahkan pelarut yang dapat


Ekstraksi melarutkan komponen yang dipisahkan

Pengeringan Melewatkan zat panas untuk


menguapkan cairan (air)
4
Alternatif Distilasi Komponen Jamak

5
Jenis Distilasi

Distilasi SEDERHANA: TUMPAK


(Batch Distillation)

Distilasi FRAKSIONASI (minyak bumi)

Distilasi KUKUS (Steam Distillation)

Distilasi REAKTIF (Reactive Distillation)


6
1. Distilasi Sederhana

KELEBIHANNYA
1. Kolom tunggal (single column)
• Campuran tunggal (biner atau komponen
jamak) menjadi beberapa produk (single
separation duty)
• Campuran jamak (biner atau komponen
jamak) menjadi sejumlah produk (multiple
separation duty)
2. Satu tahapan operasi (one sequence of operation)
3. Waktu pengoperasiannya lebih cepat

7
1. Distilasi Sederhana
Distilasi Tumpak (Batch Distillation)

Conventional Batch Distillation (CBD) Semi-batch (Semi-continuous) Distillation Column

8
2. Fraksionator
KOLOM DISTILASI
(Total Condenser)

Total kondensor  semua uap


dikondensasikan dan dikembalikan
ke dalam kolom.

10
KOLOM DISTILASI
(Partial Condenser)

Parsial kondensor  proses kondensasi


sebagian, dimana sebagian uap dimasukkan
ke dalam kolom dan cairan diambil sebagai
produk atas.

11
3. Distilasi Kukus (Steam Distillation)

➢ Untuk menyuling
• Produk-produk yang
sensitif terhadap panas
(heat-sensitive products)
• Campuran yang titik
didihnya tinggi
➢ Contoh :
• Ekstraksi minyak dari
bahan tumbuhan (minyak
atsiri)

12
4. Distilasi Reaktif

13
Keuntungan Distilasi Reaktif

1. Pembatasan kesetimbangan kimia teratasi: produk


dihilangkan sesaat ia terbentuk
2. Penghematan energi: panas reaksi dapat digunakan
untuk distilasi
3. Biaya modal terkurangi: hanya perlu satu bejana
saja
Contoh: Produksi MTBE dan metil asetat

14
Jenis Modifikasi Distilasi

dividing-wall distillation internal heat-integrated cyclic operation of distillation


distillation column column
15
DISTILASI MINYAK
BUMI
Posisi Tiga Distilasi Minyak Bumi
Posisi Tiga Distilasi Minyak Bumi

Produk Distilasi
Distilat HK
Ringan

Distilasi
Crude Oil
Atmosferik

Distilasi
Produk Vakum
Bottom
A. Distilasi Atmosferik

▰ Pemisahan minyak bumi menjadi berbagai macam fraksi


▰ Fraksi-fraksi ini dapat berupa produk langsung atau mungkin sebagai umpan unit
pengolahan atau proses lainnya
▰ Pada distilasi atmosferik
▻ Minyak bumi dipanaskan sampai suhu maksimum yang diizinkan pada
tekanan atmosfir
▻ Hasilnya bukan komponen murni, tetapi pada rentang titik didih tertentu
▻ Tidak dapat memisahkan campuran minyak yang titik didihnya tinggi sekali
atau gas-gas ringan yang mudah menguap
Tiga Jenis Distilasi Atmosferik

1. Jenis U (Up-reflux)
2. Jenis A (pump Around reflux)
3. Jenis R (pump back Reflux)
22
1. Jenis U (Up/Top Reflux)

▰ Pengambilan kalor hanya pada kondensor puncak dengan suhu yang rendah
▰ Ini menyebabkan
▻ Lalu lintas uap dan cairan yang melintasi kolom membesar secara tajam
dari bawah ke puncak kolom
▻ Ukuran kolom berdasarkan aliran bahan pada piring puncak menjadi
besar
▰ Diameter kolom jenis ini paling besar dibanding jenis A dan R
2. Jenis A (Pump-Around Reflux)

▰ Keuntungan jenis A: pemanfaatan kalor yang


dikeluarkan oleh pendinginan refluks untuk
memanaskan minyak bumi
▰ Kerugiannya: pengembalian aliran itu memerlukan TIGA
PIRING yang dianggap sebagai satu piring efektif
▻Ini untuk menjaga kesetimbangan kolom fraksionasi
▻Karena cairan yang dikembalikan kedalam kolom asing
untuk zona yang dimasuki
3. Jenis R (Pumpback Reflux)

▰ Pendinginan refluks dilakukan bersamaan dengan keluaran produk samping


▰ Refluks ini adalah cairan dalam kesetimbangan pada piring yang dimasuki
▰ Keuntungannya:
▻Kalor refluks dapat digunakan untuk memanaskan umpan
▻Tidak memerlukan piring tambahan untuk keperluan fraksionasi pada daerah
yang dimasuki refluks sehingga jenis ini paling ekonomis
B. Distilasi Vakum

▰ Distilasi lanjutan dari distilasi atmosferik


▰ Hasilnya
▻Gas oil ringan dan berat
▻Tar vakum
▰ Produk-produk tersebut perlu ditingkatkan nilainya ada unit-unit selanjutnya
▰ Terjadi pada tekanan vakum untuk menjaga suhu agar tidak melebihi yang
diijinkan sehingga terhindar dari perengkahan
▰ Suhunya tergantung spesifikasi umpan
Produk Distilat dan Residu

Faktor Pemanfaatan Produk Fungsi Kolom Vakum


▰ Kandungan umpan minyak ▰ Memanfaatkan secara maksimal residu yang
buminya
mungkin dari minyak bumi
▰ Jenis kilang ▰ Mendapatkan spesifikasi produk pada residu
▰ Unit proses lanjutan sebaik pada distilat atmosferik
▰ Penjualan produknya
Contoh
➢ Gas oil untuk umpan unit catalytic cracking
➢ Umpan untuk hydrotreater dan hydrocracker
➢ Sebagai bahan bakar dan aspal
C. Distilasi Hidrokarbon Ringan

▰ Produk distilat atmosferik masih berupa campuran yang tidak


memenuhi standar sehingga nilai jualnya rendah atau menyulitkan
bila akan diproses selanjutnya
▰ Prosesnya berlangsung pada TEKANAN TINGGI
▻ Besar tekanannya tergantung pada jenis pendingin yang
digunakan dan suhu dekomposisi komponen-komponennya
▰ Produknya: LPG (LPG propana atau LPG butana)
Distilasi Hidrokarbon Ringan
Anatomi Kolom Distilasi

1. Demister
2. Liquid distributor
3. Randomly packed bed
4. Support plate
5. Liquid collector
6. Corrugated sheet structured packing
7. Liquid collector with holes in the bottom
8. Packed column vapor inlet device
9. Chimney tray liquid collector
10.Three fixed-valve, two-pass trays
Langkah Utama Desain Kolom Distilasi

Pemilihan Jenis Pemilihan Jenis Penentuan


Kolom Talam/Unggun Komposisi
• Talam • Bubble, Sieve, Valve • Produk Atas
• Unggun • Acak dan Terstruktur • Produk Bawah

Penentuan Kondisi Penentuan Disain


Operasi Kolom
• Suhu • Jumlah talam/unggun Disain Mekanik
• Tekanan • Diameter dan tinggi
• Efisiensi
Pemilihan Jenis
Kolom
Jenis Kontak dalam Kolom
Pertimbangan

membandingkan biaya
tiap-tiap disain
Hasil yang optimum
berdasarkan
pengalaman ataupun
percobaan

34
Kriteria Pemilihan

Kolom talam dapat didisain untuk menangani


rentang laju alir cairan dan uap yang lebih lebar

Distribusi cairan akan lebih baik menggunakan


talam bila laju alir cairan kecil, kecuali dengan
diameter yang relatif kecil pada kolom isian

Lebih mudah untuk mengatur suhu pada kolom


talam, karena dapat dengan mudah disisipkan
pada jarak antar-talam
35
Cont..

Cairan yang menyebabkan fouling, harus ada man-


way pada kolom talam, sedangkan pada kolom
dengan diameter kecil lebih baik menggunakan
kolom isian

Untuk cairan yang mudah menimbulkan korosi


lebih baik menggunakan kolom isian

Kolom isian lebih cocok untuk menangani sistem


yang berbuih
36
Cont..

Jatuh tekanan per tahapan kesetimbangan lebih


rendah pada kolom isian dari pada kolom talam.
Kondisi operasi vakum lebih cocok dengan
kolom isian

Pemasangan instrumen area kontak uap-cair


pada kolom isian lebih mudah dari pada kolom
talam

Disain menggunakan side-stream, lebih mudah


menggunakan kolom talam

37
Kondisi yang disukai
No Talam (tray column) Isian/Unggun/ (packed column)

1 Beban cairan dan/atau uap berubah-ubah Diameter kolom yang kecil (< 0.6 m)

2 Laju cairan rendah – jumlah tahapan dan atau Banyak pilihan bahan unggun khususnya pada
diameternya besar operasi korosif (seperti plastik, keramik dan paduan
logam)
3 Waktu tinggal cairan lebih lama Jatuh tekanan lebih rendah (penting pada distilasi
vakum)
4 Menangani padatan dan pengotor, karena Entrainment cairan sedikit, hold-up cairan rendah,
kolom talam lebih mudah dibersihkan cocok untuk bahan yang sensitif panas
5 Adanya tegangan panas atau mekanik Cairan foaming dapat ditangani dengan lebih cepat
disebabkan perubahan suhu yang besar yang (agitasi cairan oleh uap kecil)
dapat mengakibat unggun retak
6 Menangani proses eksotermis yang
membutuhkan koil pendingin di dalam kolom
38
Kesimpulan pemilihan design

Tray Packed
▰ Bisa menangani laju alir liquid dan ▰ Untuk liquid korosif, karena alat
gas yang besar lebih murah
▰ Pembersihan mudah karena bisa ▰ Membutuhkan tahanan liquid yang
dipasang manhole rendah karena desitasnya yang
▰ Lebih mudah untuk pengambilan besar
produk samping ▰ Memberikan pressure drop per
▰ Desain plate lebih terjamin taham kesetimbangan yang rendah
efisiensi kerjanya ▰ Untuk diameter kolom yang kecil
39
KOLOM TALAM
(TRAY COLUMN)
Kolom Talam
▰ Kolom/ tray dengan macam-macam disain digunakan untuk menahan cairan untuk
menghasilkan kontak yang lebih baik antara uap dan cairan sehingga diperoleh
pemisahan yang lebih baik
Fasa cair  melalui talam-
talam ini ke bagian bawah
secara vertikal dan
horizontal

Fasa uap  mengalir


Terjadi proses pemisahan
menuju ke atas kolom
antar komponen dalam
melalui talam-talam ini
kolom distilasi
secara vertikal

Terjadi kontak antara uap


yang mengalir dari bawah
dan cairan yang ada di 41
talam
Jenis Kolom Talam

Umum Khusus

Ballast
Bubble Dual-flow Sieve Flexytray
Valve tray tray
cap tray tray tray (Koch)
(Glitsch)

42
Kolom Talam
Jenis Umum
43
Bubble Cap Tray (BCT)

• Bubble Cap Tray adalah tray yang menggunakan bubble cap


untuk mencapai tahap keseimbangan

• Bubble Cap berupa mangkok terbalik yang


terletak di atas riser, yang mana uap dapat
masuk dari bagian bawah tray dan terdispersi
pada permukaan bawah cairan melalui celah-
celah atau slot.

44
45
Keuntungan dan Kerugian BCT

Keuntungan Kerugian
Apabila terjadi penurunan Konstruksi yang lebih rumit
tekanan/ laju alir gas dalam danbiaya yang lebih mahal
kolom maka fasa cairnya tetap
tinggal diatas pelat
Kontak yang terjadi relatif BCT rentan kotor sehingga
lebih baik dibandingkan sieve pembersihan juga
tray memerlukan waktu yang lama

46
Sieve Tray

• Sieve Tray/Perforated Tray adalah tray yang terbuat dari


lapisan logam datar dengan sejumlah lobang.
• Diameter lobang berkisar antara 1/8 – ½ inchi, tetapi yang
sering digunakan adalah 3/16 inchi.

47
• Pada operasi normal, uap mengalir melalui lobang-lobang sehingga menyebabkan turbulensi
cairan membentuk froth sepanjang tray, hingga perpindahan massa uap cairan lebih efisien.

48
Keuntungan dan Kerugian Sieve Tray

Keuntungan Kerugian
Bisa digunakan untuk sistem pemisahan Kecepatan uap yang relatif rendah
yang mengandung endapan padat dibandingkan pada kondisi operasi normal

Mempunyai kapasitas yang lebih besar Kurang fleksibel karena perubahan


pada kondisi operasi yang sama kecepatan dapat mengurangi efisiensi tray
dibandingkan dengan bubble cap
Sistem pemisahan kontinyu dengan Tidak dapat digunakan untuk pemisahan
kapasitas aliran sangat tinggi yang yang mengandung garam dan dioperasikan
mengutamakan kemudahan perawatan pada keadaan panas dan kering, karena
dapat menyebabkan lubang (hole)
tersumbat
49
Dual Flow Tray

• Dual-flow tray adalah sieve tray tanpa downcomer


• Talam ini beroperasi dengan uap naik ke atas melalui lubang
pada talam dan kontak dengan cairan
• Cairan secara berlawanan melalui lubang menuju talam di
bawahnya
• Aliran cairan terjadi secara acak melalui lubang dan tidak
terbentuk aliran cairan yang terus-menerus melalui lubang
yang sama

50
Valve Tray

• Talam dilengkapi dengan katup-katup


• Bukaan katup diatur oleh laju alir uap yang mengalir
• Batas tertinggi bukaanya dikendalikan oleh struktur
dudukan pada bagian bawah katup
• Bila laju uap jatuh, bukaan katup akan berkurang atau
bahkan menutupi hole  mencegah cairan membasahi
lubang

51
Pemilihan Jenis Talam
NO Kondisi DIsain Sieve Valve Bubble-cap Dual-flow

1 Kapasitas T T - ST M ST
2 Jatuh Tekanan M M T R-M
3 Rasio Turndown M T ST R
4 Efisiensi T T M R
5 Fouling Tendency R R-M T SR
SR : Sangat Rendah
6 Harga R M T R R : Rendah
M : Menengah
T : Tinggi
7 Perawatan R R-M T R ST : Sangat Tinggi
8 Korosifitas R R-M T SR
9 Informasi ST M ST M 52
PEMILIHAN JENIS TALAM

NO Kondisi Desain Sieve Valve Bubble-cap


1 Kapasitas 2 3 1
2 Jatuh Tekanan 3 3 2
3 Rasio Turndown 1 2 3
4 Efisiensi 3 3 2
5 Fouling Tendency 3 2 1
6 Harga 3 2 1
7 Perawatan 3 2 1
8 Korosifitas 3 2 1
9 Informasi 3 2 3
53
24 21 15
Kolom Talam
Jenis Khusus
54
Flexitray (Koch)

▰ Jenis valve tray dengan katup-katup yang dapat diangkat yang beroperasi seperti check
valve
▰ Keuntungannya: kapasitasnya besar, efisiensi yang tinggi pada rentang operasi yang
lebih luas, dan dapat digunakan lebih lama pada sistem yang mengalami fouling

55
Ballast Tray (Glitsch)

▰ serupa dengan Sieve Tray, hanya di setiap


lubangdipasang cap-cap yang dapat diangkat atau
berupa valve yang dapatnaik turun tergantung
variasi kecepatan aliran uap.
▰ Gerak vertikal dari cap yang diizinkan antara ¼ - ½
inchi.
▰ Operasi Valve Tray lebih fleksibel dibanding
dengan Sieve Tray
56
KOLOM ISIAN
(PACKED COLOUMN)
KOLOM ISIAN (PACKED COLUMN)

Kolom isian adalah kolom distilasi yang di dalamnya berisi unggun tempat
terjadinya kontak antara fasa uap dan cair secara kontinyu dan berlawanan
arah (counter-current)

Kinerja kolom ini bergantung pada jenis material isian dan karakteristik dari
fluida (uap dan caiaran)

58
59
Tujuan Penggunaan Isian

▰ Tujuannya adalah untuk memaksimalkan efisiensi dan


kapasitas pemisahan dengan cara
1. Memaksimalkan luas permukaan kontak
2. Meningkatkan keseragaman distribusi uap dan cairan pada
permukaan kontak
3. Meminimalkan cairan yang tergenang
4. Mempermudah proses pemisahan yang berlangsung
60
Jenis Material Isian

▰ Random Packing/Damped ▰ Structure packing


Packing
▻ Wire-mesh structured
▻ Raschig rings
packing
▻ Lessing rings
▻ Corrugated structured
▻ Pall rings packing
▻ Berl saddle
▻ Intalox saddle

61
Raschig Ring Partition / Double spiral Metal pall ring Plastic Pall ring
Lessing ring ring

Ceramic Berl Ceramic Intalox Plastic intalox Metal intalox Tellerette


Saddle Saddle saddle
62
Plastic Metal tripak
tripak

Section of expanded metal packings


Metal tripak placed alternatively at right angles

GEM
structured
packing

63
Pemilihan Isian

JENIS APLIKASI
• Jenis paling awal
Rasching
• Harga per unit relatif murah
Rings
• Efisiensi rendah dibandingkan jenis acak lainnya
• Jatuh tekanan (pressure drop) yang lebih rendah
dari Raschig rings (hampir setengahnya)
• Harga HTU rendah
Pall Rings • Batas flooding lebih tinggi
• Distribusi cairan baik, kapasitas tinggi,
efisiensinya tinggi
• Dapat terbuat dari logam, plastik, dan keramik
64
Pemilihan Isian

JENIS APLIKASI

• Kinerjanya lebih baik dibandingkan rasching


Lessing rings
Rings • Jatuh tekanannya sedikit lebih tinggi
• Memiliki side wall thrust lebih tinggi

• Efisiensinya lebih tinggi dari rasching rings


dalam banyak aplikasi, tetapi lebih mahal
Berl Saddle
• Memiliki HTU dan jatuh tekanan yang rendah
• Mudah pecah dari pada rasching rings
65
Pemilihan Isian

JENIS APLIKASI

• Salah satu jenis isian dengan efisiensi yang paling baik, tetapi harganya lebih
mahal
• Batas flooding yang tinggi
Intalox Saddle
• Mampu membuat aliran mengalir dengan merata
• Jatuh tekanan dan HTU lebih rendah dari rasching rings dan berl saddle
• Lebih mudah pecah dalam kolom dibandingkan rasching rings

• Hanya terbuat dari bahan logam saja


• Baik digunakan untuk kolom distilasi dengan diameter besar maupun kecil,
absorpsi, scrubbing, dan liquid extraction
Wire mesh packing
• Memiliki efisiensi yang tinggi
• HETP rendah
• Jatuh tekanan rendah 66
LANGKAH PERHITUNGAN

Spesifikasi Jumlah Effisiensi Panjang


Produk Tray Tray Weir

Neraca
Kondisi Massa Diameter Diameter
Operasi dan Kolom Tray
Energi

67
Kasus 1: CRUDE ASSAY ARAB SAUDI (ALC: Arabian
Light Crude

▰ Jenis minyak bumi : 33.5 oAPI ALC


▰ Laju alir umpan : 100,000 BPSD
▰ Suhu maks keluar reboiler : 650 oF
▰ Suhu operasi refluks : 120 oF, minimum
▰ Spesifikasi produk :Penentuan produk didasarkan pada
penentuan crude break-up yang dilakukan oleh disainer kolom distilasi (lihat
Tabel di tayangan berikutnya)
▰ Overflash : 2 volume % umpan minyak bumi

68
SPESIFIKASI PRODUK

Produk EP ASTM oF Spes. Gap ASTM (5-


95) oF
Overhead 307 20 – 30
Nafta berat 381 25 – 50
Distilat ringan 541 0 – 10
Distilat berat 603

69
KONDISI OPERASI KOLOM

▰ Tekanan : atmosferik
▰ Jumlah piring : 31
▰ Umpan masuk : piring 4

70
Dasar Disain Mekanik

▰ Kolom puncak
▰ Umpan, pengambilan produk samping, atau titik tempat ada
penambahan atau penarikan panas
▰ Dasar kolom
▰ Titik-titik pada kolom ketika laju uap atau cairan mencapai puncak

71
Hasil Neraca Massa dan Energi

1. Laju alir cairan : tinggi


2. Tekanan : tinggi (750 kPa)
3. Jatuh tekanan : sedang (0.175 psia per piring)
4. Turndown ratio : diharapkan tinggi
5. Foaming : sedang
6. Korosivitas : tinggi (sulfur)
7. Endapan padat : kemungkinan terjadi endapan padat besar (minyak mentah)
8. Produk samping : 3 buah aliran
9. Viskositas : sedang
10. Polimerisasi : tidak ada
11. Fouling : tinggi (minyak mentah)

72
PEMILIHAN JENIS KOLOM SESUAI KONDISI OPERASI

NO Kondisi DIsain Kolom Talam Kolom Isian


1 Kapasitas 3 1
2 Tekanan 3 1
3 Turndown 3 1
4 Foaming 2 2
5 Pressure drop 2 1
6 Endapan padat 2 1
7 Produk samping 3 0
8 Korosifitas 2 3
9 Terjadinya fouling 1 3
73
21 14
PEMILIHAN JENIS TALAM

NO Kondisi DIsain Sieve Valve Bubble-cap


1 Kapasitas 2 3 1
2 Jatuh Tekanan 3 3 2
3 Rasio Turndown 1 2 3
4 Efisiensi 3 3 2
5 Fouling Tendency 3 2 1
6 Harga 3 2 1
7 Perawatan 3 2 1
8 Korosifitas 3 2 1
9 Informasi 3 2 3
24 21 15 74
BASIS PERANCANGAN
KOLOM DISTILASI
Basis Perancangan

Neraca Penentuan
Spesifikasi Kondisi
Massa Jumlah
Produk Operasi
Energi Tray

76
1st Case: Spesifikasi Recovery

Sebuah depropanizer memiliki spesifikasi umpan seperti pada Tabel 1.


Diinginkan untuk mengambil kembali 81% propana di distilat dan 99.4%
isobutana di bottom.
Tentukan laju alir dan komposisi di D dan B
Komponen Mol Umpan
C2 0.2
C3 8.9
iC4 63.3
nC4 27.6
100.0
77
1. Mencari laju alir mol propana di distilat dan isobutana di bottom
2. Menentukan isobutana distilat dan propana bottom

Mol Distilat Bottom


Komponen
Umpan Mol % Mol Mol % Mol
C2 0.2
C3 8.9 (0.81)(8.9) = 7.2 8.9-7.2= 1.7
iC4 63.3 63.3-62.9= 0.4 (0.994)(63.3)=62.9
nC4 27.6
100.0

78
3. Menentukan laju alir ethane dan n-butane
• Asumsi: Laju alir bukan key component tetap

Mol Distilat Bottom


Komponen
Umpan Mol % Mol Mol % Mol
C2 0.2 0.2 0.0
Low Key
C3 8.9 7.2 1.7
Heavy Key
iC4 63.3 0.4 62.9
nC4 27.6 0.0 27.6
100.0 7.8 92.2
79
4. Menghitung persen mol untuk setiap komponen

Mol Distilat Bottom


Komponen
Umpan Mol % Mol Mol % Mol
C2 0.2 0.2 2.6 0.0 0.0
C3 8.9 7.2 92.3 1.7 1.8
iC4 63.3 0.4 5.1 62.9 68.3
nC4 27.6 0.0 0.0 27.6 29.9
100.0 7.8 100.0 92.2 100.0

80
2nd Case: Komposisi yang Dispesifikasi

1. Menggunakan Tabel 1, tentukan komposisi overhead dan bottom yang menghasilkan


produk D yang mengandung paling tidak 95% propona dan produk B yang mengandung
lebih sedikit dari 1% propana

Komponen Mol Umpan


C2 0.2
C3 8.9
iC4 63.3
nC4 27.6
100.0

81
Mol Distilat Bottom
Komponen
Umpan Mol % Mol Mol % Mol
C2 0.2
C3 8.9 95.0 1.0
iC4 63.3
nC4 27.6
100.0

Laju alir D didapat dari rasio D/F:

D xF  xB 8.9  1.0
   0.084 D = 8.4 mol
F xD  xB 95.0  1.0
82
2. Menentukan laju alir ethane dan n-butane
Asumsi: Laju alir bukan key component tetap

Mol Distilat Bottom


Kompon
Umpa % %
en Mol Mol
n Mol Mol
Low Key
C2 0.2 0.2 0.0
Heavy Key C3 8.9 (8.4)(0.95)= 7.98 95.0 8.9-7.98= 0.92 1.0
iC4 63.3 8.4-(0.2+7.98)= 63.3-0.22=
0.22 63.08
nC4 27.6 0.0 27.6
100.0 8.4 91.6
83
3. Menghitung persen mol untuk setiap komponen

Distilat Bottom
Komponen Mol Umpan
Mol % Mol Mol % Mol

C2 0.2 0.2 2.4 0.0 0.0


C3 8.9 7.98 95.0 0.92 1.0
iC4 63.3 0.22 2.6 63.08 68.9
nC4 27.6 0.0 0.0 27.6 30.1
100.0 8.4 100.0 91.6 100.0
84
3rd Case: Recovery dan Komposisi yang Dispesifikasi

1. Menggunakan Tabel 1, kita ingin mengambil kembali 95% propana di produk D


dengan kemurnian 94%
Tentukan laju alir dan komposisi di D dan B.

Komponen Mol Umpan


C2 0.2
C3 8.9
iC4 63.3
nC4 27.6
100.0

85
2. Menghitung jumlah laju alir mol propana distilat
3. Menghitung laju alir distilat total dari % kemurnian propana

Mol Distilat Bottom


Komponen
Umpan Mol % Mol Mol % Mol
C2 0.2
C3 8.9 (0.95)(8.9) = 8.46 94.0
iC4 63.3
nC4 27.6
100.0 8.46/0.94= 8.99

86
4. Menentukan laju alir
Distilat Bottom
ethane dan n-butane Komponen
Mol
%
• Asumsi: Laju alir Umpan Mol % Mol Mol
Mol
bukan key component C2 0.2 0.2 0.0
tetap Low
C3 8.9 8.9-8.46=
5. Menghitung laju alir Key 8.46 94.0
0.44
isopropane distilat iC4 63.3 8.99-
63.3-0.33=
6. Menghitung laju alir Heavy (0.2+8.46)=
62.97
tiap komponen di Key 0.33

bottom nC4 27.6 0.0 27.6


100.0 8.99 91.01

87
Menghitung persen mol untuk setiap komponen

Distilat Bottom
Komponen Mol Umpan
Mol % Mol Mol % Mol

C2 0.2 0.2 2.2 0.0 0.0


C3 8.9 8.46 94.0 0.44 0.5
iC4 63.3 0.33 3.7 62.97 69.2
nC4 27.6 0.0 0.0 27.6 30.3
100.0 8.99 100.0 91.01 100.0
88
Rujukan

1. Watkins, R. N. 1969. Petroleum Refinery Distillation. Gulf Publishing Company,


Houston, Texas
2. Champbell. 1992. Gas Conditioning and Processing. Volume 2. Chapter 17
Fractionation and Absorption Fundamentals.
3. Kister. 1992. Distillation Design. McGraw-Hill, Inc.
4. Towler and Synnott. 2008. Chemical Engineering Design. Chapter 11
SEPARATION COLUMNS (DISTILLATION, ABSORPTION, AND EXTRACTION)
5. Lydersen et al. Bioprocess Engineering: Systems, Equipment and Facilities.
Chapter 14. Sub Chapter 14.4.12 Distillation
6. Gorak, A. Dan Olujic, Z. 2014. Distillation: Equipment and Processes. Elsevier Inc
89
Thankyou!
Any Question?

90