Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH LAPORAN PENDAHULUAN &

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


DENGAN GANGGUAN ATRESIA ESOFAGUS
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Anak I
Dosen Pembimbing : Rusana, M. Kep., Sp.,Kep.,An

Oleh :
1. Dewi Apriliani (108116041)
2. Indri Wahyuni (108116049)
3. Arizal Setyawan (108116057)
4. Icha Cahya Puspita (108116065)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL-IRSYAD


AL-ISLAMIYYAH CILACAP
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena dengan hidayah-
Nya sehingga makalah kami yang berjudul “Makalah Laporan Pendahuluan
&Asuhan Keperawatan Anak Dengan Gangguan Atresia Esofagus” ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya. Dan makalah ini disusun guna untuk memenuhi
tugas Keperawatan Medikal Bedah yang dibimbing oleh Ibu Rusana, M. Kep.,
Sp.,Kep.,An
Penulis mengucapkan banyak terima kasih pada pihak teman semua pihak
yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca khususnya mahasiswa Sikes Al-Irsyad Al-Islamiyyah
Cilacap.
Seperti untuk menegakkan diagnosis, perencanaan dan data objektif dari
pasien. Kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan demi
kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Besar harapan kami agar makalah ini bisa
bermanfaat bagi para perawat pada khususnya dan tenaga kesehatan pada
umumnya.

Cilacap, 22 Mei 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Atresia esofagus (AE) merupakan kelainan kongenital yang ditandai


dengan tidak menyambungnya esofagus bagian proksimal dengan esofagus bagian
distal. AE dapat terjadi bersama fistula trakeoesofagus (FTE), yaitu kelainan
kongenital dimana terjadi persambungan abnormal antara esofagus dengan trakea.1
AE merupakan kelaianan kongenital yang cukup sering dengan insidensi
rata-rata sekitar 1 setiap 2500 hingga 3000 kelahiran hidup.1 Insidensi AE di
Amerika Serikat 1 kasus setiap 3000 kelahiran hidup. Di dunia, insidensi bervariasi
dari 0,4 – 3,6 per 10.000 kelahiran hidup.2 Insidensi tertinggi terdapat di Finlandia
yaitu 1 kasus dalam 2500 kelahiran hidup.1
Masalah pada atresia esofagus adalah ketidakmampuan untuk menelan,
makan secara normal, bahaya aspirasi termasuk karena saliva sendiri dan sekresi
dari lambung.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana laporan pendahuluan dari pasien menderita penyakit Atresia
Esofagus?
2. Bagaimana asuhan keperawatan dengan pasien menderita penyakit Atresia
Esofagus ?
C. Tujuan
Tujuan Umum :
Menjelaskan asuhan keperawatan dengan klien penyakit Atresia Esofagus
Tujuan Khusus :
a. Menjelaskan konsep dasar dari Atresia Esofagus
b. Menjelaskan epidemiologi dari Atresia Esofagus
c. Menjelaskan etiologi dari Atresia Esofagus
d. Menjelaskan klasifikasi dari Atresia Esofagus
e. Menjelaskan patofisiologi dan pathways dari Atresia Esofagus
f. Menjelaskan manifestasi klinis dari Atresia Esofagus
g. Menjelaskan komplikasi dari Atresia Esofagus
D. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut :
1. Mengetahui Penatalaksaan pada klien kanker paru
2. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien kanker paru

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


BAB II

PEMBAHASAN

1. Konsep Dasar
a. Definisi

Athresia Esophagus adalah perkembangan embrionik abnormal


esophagus yang menghasilkan pembentukan suatu kantong (blind pouch), atau
lumen berkurang tidak memadai yang mecegah perjalanan makanan / sekresi dari
faring ke perut.
Atresia berarti buntu, atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya
lubang atau muara (buntu), pada esofagus (+). Pada sebagian besar kasus atresia
esofagus ujung esofagus buntu, sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus
bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai
atresia esophagus dengan fistula). Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai
dengan fistula trakeoesofagus. Atresia esofagus sering disertai kelainan bawaan
lain, seperti kelainan jantung, kelainan gastrointestinal (atresia duodeni
atresiasani), kelainan tulang (hemivertebrata).
Atresia Esofagus termasuk kelompok kelainan kongenital terdiri dari
gangguan kontuinitas esofagus dengan atau tanpa hubungan persisten dengan
trachea.
b. Epidemiologi

Atresia esofagus pertama kali dikemukakan oleh Hirscprung seorang ahli


anak dari Copenhagen pada abad 17 tepatnya pada tahun 1862 dengan adanya lebih
kurang 14 kasus atresia esofagus, kelainan ini sudah di duga sebagai suatu
malformasi dari traktus gastrointestinal.
Tahun 1941 seorang ahli bedah Cameron Haight dari Michigan telah
berhasil melakukan operasi pada atresia esofagus dan sejak itu pulalah bahwa
Atresia Esofagus sudah termasuk kelainan kongenital yang bisa diperbaiki.
Di Amerika Utara insiden dari Atresia Esofagus berkisar 1:3000-4500 dari
kelahiran hidup, angka ini makin lama makin menurun dengan sebab yang belum
diketahui. Secara Internasional angka kejadian paling tinggi terdapat di Finlandia

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


yaitu 1:2500 kelahiran hidup. Atresia Esofagus 2-3 kali lebih sering pada janin
yang kembar.

c. Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui zat teratogen apa yang bisa
menyebabkan terjadinya kelainan atresia esophagus, hanya dilaporkan angka
rekuren sekitar 2 % jika salah satu dari saudara kandung yang terkena. Atresia
esophagus lebih berhubungan dengan sindroma trisomi 21,13 dan 18 dengan
dugaan penyebab genetik. Namun saat ini, teori tentang terjadinya atresia
esophagus menurut sebagian besar ahli tidak lagi berhubungan dengan kelainan
genetik. Perdebatan tentang proses embriopatologi masih terus berlanjut.
Selama embryogenesis proses elongasi dan pemisahan trakea dan
esophagus dapat terganggu. Jika pemisahan trekeoesofageal tidak lengkap maka
fistula trakeoesofagus akan terbentuk. Jika elongasi melebihi proliferasi sel
sebelumnya, yaitu sel bagian depan dan belakang jaringan maka trakea akan
membentuk atresia esophagus.
Atresia esophagus dan fistula trakeoesofagus sering ditemukan ketika bayi
memiliki kelainan kelahiran seperti :
1. Trisomi
2. Gangguan saluran pencernaan lain (seperti hernia diafragmatika, atresia
duodenal, dan anus imperforata).
3. Gangguan jantung (seperti ventricular septal defect, tetralogifallot, dan patent
ductus arteriosus).
4. Gangguan ginjal dan saluran kencing (seperti ginjal polisistik atau horseshoe
kidney, tidak adanya ginjal,dan hipospadia).
5. Gangguan Muskuloskeletal
6. Sindrom VACTERL (yang termasuk vertebr, anus, candiac,
tracheosofagealfistula, ginjal, dan abnormalitas saluran getah bening).
7. Lebih dari setengah bayi dengan fistula atau atresia esophagus memiliki
kelainan lahir

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


d. Klasifikasi
1. Kalasia
Chalasia ialah keadaan bagian bawah esophagus yang tidak dapat menutup
secara baik, sehingga menyebabkan regurgitasi, terutama kalau bayi
dibaringkan. Pertolongan : memberi makanan dalam posisi tegak, yaitu duduk
dalam kursi khusus.
Kalasia adalah kelainan yang terjadi pada bagian bawah esophagus (pada
persambungan dengan lambung yang tidak dapat menutup rapat sehingga bayi
sering regurgitasi bila dibaringkan.
2. Akalasia
Ialah kebalikan chalasia yaitu bagian akhir esophagus tidak membuka
secara baik, sehingga keadaan seperti stenosis atau atresia. Disebut pula spasmus
cardio-oesophagus.Sebabnya : karena terdapat cartilage trachea yang tumbuh
ektopik dalam esophagus bagian bawah, berbentuk tulang rawan yang ditemukan
secara mikroskopik dalam lapisan otot.(2)(3)
3. Classification System Gross
Atresia esophagus disertai dengan fistula trakeoesofageal distal adalah tipe
yang paling sering terjadi. Varisi anatomi dari atresia esophagus menggunakan
system klasifikasi gross of bostom yang sudah popular digunakan.
System ini berisi antara lain.(1)
 Tipe A__ Atresia esophagus tanpa fistula ; atresia esophagus murni (10%)
 Tipe B__ Atresia esophagus dengan TEF proximal (<1%)
 Tipe C__ Atresia esophagus dengan TEF distal (85%)
 Tipe D__ Atresia esophagus dengan TEF proximal dan distal (<1%)
 Tipe E__ TEF tanpa atresia esophagus ; fistula tipe H (4%)
 Tipe F__ Stenosis esophagus congenital tanpa atresia (<1%)

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


e. Patofisiologi
Janin dengan atresia esofagus tidak dapat menelan cairan amnion dengan
efektif. Pada janin dengan atresa esofagus dan TEF distal, cairan amnion akan
mengalir menuju trakea, ke fistula kemudian menuju usus. Akibat dari hal ini dapat
terjadi polihidramnion. Polihidramnion sendiri dapat menyebabkan kelahiran
prematur. Janin seharusnya dapat memanfaatkan cairan amnion, sehingga janin
dengan atresia esofagus lebih kecil daripada usia gestasinya.1
Neonatus dengan atresia esofagus tidak dapat menelan dan menghasilkan
banyak air liur. Pneumonia aspirasi dapat terjadi bila terjadi aspirasi susu, atau liur.
Apabila terdapat TEF distal, paru-paru dapat terpapar asam lambung. Udara dari
trakea juga dapat mengalir ke bawah fistula ketika bayi menangis, atau menerima
ventilasi. Hal ini dapat menyebabkan perforasi gaster akut yang seringkali
mematikan. Penelitian mengenai manipulasi manometrik esofagus menunjukkan
esofagus distal seringkali dismotil, dengan peristaltik yang jelek atau anpa
peristaltik. Hal ini akan menimbulkan berbagai derajat disfagia setelah manipulasi
yang berkelanjutan menuju refluks esofagus.
Trakea juga terpengaruh oleh gangguan embriogenesis pada atresia
esofagus. Membran trakea seringkali melebar dengan bentuk D, bukan C seperti
biasa. Perubahan ini menyebabkan kelemahan sekunder ada struktur
anteroposterior trakea atau trakeomalacia. Kelemahan ini akan menyebabkan gejala
batuk kering dan dapat terjadi kolaps parsial pada eksirasi penuh. Sekret sulit untuk
dibersihkan dan dapat menjurus ke pnemona berulang. Trakea juga dapat kolaps
secara parsial ketika makan, setelah manipulasi, atau ketika terjadi refluks
gastroesofagus; yang daat menjurus ke kegagalan nafas; hipoksia, bakan apnea.
f. Pathway

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


g. Manifestasi Klinis
1. Biasanya timbul setelah bayi berumur 2-3 minggu, yaitu berupa muntah yang
proyektil beberapa saat setelah minum susu ( yang dimuntahkan hanya susu ),
bayi tampak selalu haus dan berat badan sukar naik.
2. Biasanya disertai dengan hidramnion (60%) dan hal ini pula yang
menyebabkan kenaikan frekuensi bayi lahir premature, sebaiknya dari
anamnesis didapatkan keterangan bahwa kehamilan ibu disertai hidrmnion
hendaknya dilakukan kateterisasi esophagus . bila kateter berhenti pada jarak
< 10 cm, maka diduga artesia esophagus.
3. Bila pada BBL timbul sesak yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar,
dicurigai terdapat atresia esophagus.
4. Segera setelah diberi minum, bayi akan berbangkis, batuk dan sianosis karena
aspirasi cairan kedalam jalan napas.
5. Pada fistula trakeaesofagus, cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru,
oleh karena itu bayi sering sianosis.
Gejalanya bisa berupa:
1. Mengeluarkan ludah yang sangat banyak
2. Terbatuk atau tersedak setelah berusaha untuk menelan
3. Tidak mau menyusu
4. Sianosis (kulitnya kebiruan)

h. Penatalaksanaan
Atresia merupakan kasus gawat darurat. Penderita seharusnya
ditengkurapkan untuk mengurangi kemungkinan isi lambung masuk ke paru-paru.
Kantong esofagus harus secara teratur dikosongkan dengan pompa untuk mencegah
aspirasi sekret. Perhatian yang cermat harus diberikan terhadap pengendalian suhu,
fungsi respirasi, dan pengelolaan anomali penyerta.
1. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan dilakukan dengan operasi.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Sebelum dilakukan operasi, bayi diletakkan setengah duduk untuk
mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung kedalam paru. Cairan

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


lambung harus sering diisap untuk mencegah aspirasi. Untuk mencegah
terjadinya hipotermia, bayi hendaknya dirawat dalam incubator agar
mendapatkan lingkungan yang cukup hangat. Posisinya sering di ubah-ubah,
pengisapan lender harus sering dilakukan. Bayi hendaknya dirangsang untuk
menangis agar paru berkembang.

Pendekatan Post Operasi


Segera setelah operasi pasien dirawat di NICU dengan perawatan sebagai berikut

1. Monitor pernafasan ,suhu tubuh, fungsi jantung dan ginjal


2. Oksigen perlu diberikan dan ventilator pernafasan dapat diberi jika dibutuhkan.
3. Analgetik diberi jika dibutuhkan
4. Pemeriksaan darah dan urin dilakukan guna mengevaluasi keadaan janin secara
keseluruhan
5. Pemeriksaan scaning dilakukan untuk mengevalausi fungsi esophagus
6. Bayi diberikan makanan melalui tube yang terpasang lansung ke lambung
(gastrostomi) atau cukup dengan pemberian melalui intravena sampai bayi
sudah bisa menelan makanan sendiri.
7. Sekret dihisap melalui tenggorokan dengan slang nasogastric.
8. Perawatan di rumah sakit lebih kurang 2 minggu atau lebih, tergantung pada
terjadinya komplikasi yang bisa timbul pada kondisi ini. Pemeriksaan
esofagografi dilakukan pada bulan kedua, ke enam, setahun setelah operasi
untuk monitor fungsi esofagus.

i. Komplikasi
Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia
esofagus dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut :
1. Dismotilitas esophagus.
Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus. Berbagai
tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat bayi
sudah mulai makan dan minum.

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


10

2. Gastroesofagus refluk.
Kira-kira 50 % bayi yang menjalani operasi ini kana mengalami
gastroesofagus refluk pada saat kanak-kanak atau dewasa, dimana asam lambung
naik atau refluk ke esophagus. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical)
ataupembedahan.
3. Trakea esogfagus fistula berulang.
Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan seperti ini.
4. Disfagia atau kesulitan menelan.
Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat esophagus yang
diperbaiki. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk tertelannya
makanan dan mencegah terjadinya ulkus.
5. Kesulitan bernafas dan tersedak.
Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan makanan, tertaannya
makanan dan saspirasi makanan kedalam trakea.
6. Batuk kronis.
Batuk merupakan gejala yang umum setelah operasi perbaikan atresia
esophagus, hal ini disebabkan kelemahan dari trakea.
7. Meningkatnya infeksi saluran pernafasan.
Pencegahan keadaan ini adalah dengan mencegah kontakk dengan orang
yang menderita flu, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi
vitamin dan suplemen.
j. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan radiologi digunakan sebagai screening non-invasif untuk
mendiagnosis penyakit motilitas esofagus. Dapat dilakukan pemeriksaan
konvensional, seperti pemeriksaan barium atau endoskopi.
2. Foto thorax untuk mengetahui adanya penebalan pada dinding posterior trakea,
motilitas, refluks, dam aspirasi.
3. Ultrasonografi untuk melokalisir area usus yang masuk

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


2. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
Asuhan keperawatan yang diberikan pada bayi baru lahir adalah
berdasarkan tahapan-tahapan pada proses keperawatan. tahap pengkajian
merupakan tahap awal, disini perawat mengumpulkan semua imformasi baik dari
klien dengan cara observasi dan dari keluarganya. Lakukan penkajian bayi baru
lahir.observasi manipestasi atresia esophagus dan fistula. Traekeoesofagus, saliva
berlebihan, tersedat, sianosis, apneu.

1. Lakukan pengkajian pada bayi baru lahir


 Saliva berlebihan dan mengiler
 Tersedak
 Sianosis
 Apnea
 Peningkatan distres pernapasan setelah makan
 Distensi abdomen
2. Observasi, Manifestasi atresia esofagus
3. Bantu dengan prosedur diagnostik misalnya : Radiografi dada dan abdomen,
kateter dengan perlahan dimasukkan kedalam esofagus yang membentuk
tahanan bila lumen tersebut tersumbat.
4. Pantau dengan sering tanda-tanda distres pernapasan
5. Laringospasme yang disebabkan oleh aspirasi saliva yang terakumulasi dalam
kantung buntu
Pengkajian setelah operasi:
1. Kaji Monitor pernafasan dan suhu tubuh
2. Berikan oksigen dan ventilator pernapasan jika perlu
3. Beri analgetik jika perlu
4. Lakukan scaning untuk evaluasi fungsi esofagus
5. Kaji fungsi tube (pemberian makan) berfungsi dengan baik
6. Hisap sekret dengan selang nasogastric

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


1. Diagnosa keperawatan: Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan
dengan lubang abnormal antara esophagus dan trakea atau obstruksi untuk
menelan sekresi.

Tujuan: Pasien mempertahankan jalan napas yang paten tanpa aspirasi

Kriteria Hasil:

 Jalan napas tetap paten


 Bayi tidak teraspirasi sekresi
 Pernapasan tetap pada batas normal

No Intervensi Rasional
1. Lakukan pengisapan sesuai dengan Untuk menghilangkan penumpukan
kebutuhan. sekresi di orofaring.
2. Beri posis terlentang dengan kepala Untuk menurunkan tekanan pada
ditempatkan pada sandaran yang rongga torakal dan meminimalkan
ditinggikan (sedikitnya 300). refluks sekresi lambung ke esophagus
distal dan ke dalam trakea dan bronki.
3. Beri oksigen jika bayi menjadi Untuk membantu menghilangkan
sianotik. distress pernapasan.
4. Jangan gunakan tekanan positif Karena dapat memasukkan udara ke
(misalnya; kantong resusitasi/ masker). dalam lambung dan usus, yang
menimbulkan tekana tambahan pada
rongga torakal.
5. Puasakan Untuk mencegah aspirasi.
6. Pertahankan penghisapan segmen Untuk menjaga agar kantong buntu
esophagus secara intermitten atau tersebut tetap kosong.
kontinue, bila di pesankan pada masa
pra operasi.

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


7. Tinggalkan selang gastrostomi, bila Agar udara dapat keluar,
ada, terbuka untuk drainase gravitasi. meminimalkan resiko regurgitasi isi
lambung dengan trakea.

2. Diagnosa keperawatan: Kerusakan (kesulitan) menelan berhubungan dengan


obstruksi mekanis.

Tujuan: Pasien mendapatkan nutrisi yang adekuat.

Kriteria Hasil: Bayi mendapat nutrisi yang cukup dan menunjukkan penambahan
berat badan yang memuaskan.

No Intervensi Rasional
1. Beri makan melalui gastrostomi Untuk memberikan nutrisi sampai pemberian
sesuai dengan ketentuan makanan oral memungkinkan.
2. Lanjutkan pemberian makan oral Untuk memenuhi kebutuhan akan nutrisi bayi
sesuai ketentuan, sesuai kondisi
bayi dan perbaikan pembedahan.
3. Observasi dengan ketat. Untuk memastikan bayi mampu menelan tanpa
tersedak.
4. Pntau masukan keluaran dan berat Untuk mengkaji keadekuatan masukan nutrisi.
badan.
5. Ajarkan keluarga tentang teknik Untuk mempersiapkan diri terhadap
pemberian makan yang tepat. pemulangan.

3. Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi cedera berhubungan dengan prosedur


pembedahan.

Tujuan: Pasien tidak mengalami trauma pada sisi pembedahan.

Kriteria Hasil: Anak tidak menunjukkan bukti-bukti cidera pada sisi pembedahan.

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


No Intervensi Rasional
1. Hisap hanya dengan kateter yang Untuk mencegah trauma pada mukosa.
diukur sebelumnya sampai ke jarak
yang tidak mencapai sisi
pembedahan.

4. Diagnosa keperawatan: Ansietas berhubungan dengan kesulitan menelan,


ketidaknyamanan karena pembedahan.

Tujuan: Pasien mengalami rasa aman tanda ketidaknyamanan.

Kriteria Hasil:

 Bayi istirahat dengan tenang, sadar bila terjaga, dan melakukan


penghisapan non- nutrisi.
 Mulut tetap bersih dan lembab.
 Nyeri yang dialamianak minimal atau tidak ada.

No Intervensi Rasional
1. Beri stimulasi taktil (mis; membelai, Untuk memudahkan perkembangan optimal
mengayun). dan meningkatkan kenyamanan.
2. Beri perawatan mulut. Untuk menjaga agar mulut tetap bersih dan
membran mukosa lembab.
3. Beri analgesik sesuai ketentuan
4. Dorong orangtua untuk Untuk memberikan rasa nyaman dan aman.
berpastisipasi dalam perawatan
anak.

5. Diagnosa keperawatan :perubahan proses keluarga berhubungan dengan


anak dengan defek fisik.

Tujuan : pasien (keluarga) disiapkan untuk perawatan anak di rumah.

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


Kriteria hasil: Keluarga menunjukkan kemampuan untuk memberiakn perawatan
pada bayi, memahami tanda-tanda komplikasi, dan tindakan yang tepat.

No. Intervensi Rasional


1. Ajarkan pada keluarga tentang keterampilan  Untuk mencegah aspirasi
dan observasi kebutuhan perawat di rumah:  Untuk mencegah keterlam-
batan tindakan
 Beri posisi
 Agar praktisi dapat
 Tanda-tanda distress pernapasan
diberitahu
 Tanda-tanda komplikasi; menolak
makan, disfagia, peningkatan batuk.  Untuk menjamin perawatan
 Kebutuhan alat dan bahan yang yang tepat setelah pulang.
diperlukan
 Perawatan gastrostomi bila bayi telah
dioperasi, termasuk teknik-teknik
seperti pengisapan, pemberian makan,
perawatan sisi operasidan atau ostomi,
dan penggantian balutan.

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


BAB III

PENUTUP

a. Simpulan
Atresia esofagus merupakan kelainan kongenital dengan variasi fistula
trakeoesofageal maupun kelainan kongenital lainnya. Atresia esofagus dapat
dicurigai sejak kehamilan, dan didiagnosa segera setelah bayi lahir. Bahaya utama
pada AE adalah resiko aspirasi, sehingga perlu dilakukan suction berulang.
Penatalaksanaan pada AE utama adalah pembedahan, tetapi tetap dapat
meninggalkan komplikasi lebih lanjut yang berhubungan dengan gangguan
motilitas esofagus.

b. Saran
Perlu dilakukan pemeriksaan dengan NGT untuk mencari ada tidaknya
atresia esofagus pada bayi baru lahir terutama dengan faktor resiko ibu yang
memiliki polihidramnion ataupun tanda dari bayi seperti mulut berbuih, air liur
yang terus keluar, batuk dan sesak nafas, ataupun kembung. Dalam perujukan, perlu
dilakukan tindakan khusus saat pemindahan, yaitu untuk mencegah hipotermia,
sumbatan jalan nafas dan aspirasi dengan suction berulang, dan gangguan sirkulasi
seperti dehidrasi, hipoglikemia dan gangguan elektrolit dengan pemberian cairan
intravena.

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus


DAFTAR PUSTAKA
https://pastakyu.wordpress.com/2010/01/21/asuhan-keperawatan-

atresia-esofagus/

https://www.matadunia.id/2015/12/makalah-atresia-esophagus.html

https://www.academia.edu/people/search?utf8=%E2%9C%93&q=ask
ep+atresia+esofagus+pada+anak

KEPERAWATAN ANAK I | Atresia Esofagus

Anda mungkin juga menyukai