Anda di halaman 1dari 142

PROGRAM

PEMBINAAN
ANGGOTA
BUKU PEGANGAN II

KOMUNITAS
TRITUNGGAL
MAHAKUDUS
PROGRAM
PEMBINAAN
ANGGOTA
BUKU PEGANGAN II

Nama Anggota :
Sel :
Wilayah :
Distrik :

KOMUNITAS TRITUNGGAL MAHAKUDUS


----------------------------------------------------------------------
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.”
Kis. 2:24
PENGANTAR

Program Pembinaan Anggota Tahap II bertujuan untuk membina calon anggota lewat
serangkaian pengajaran dasar yag disusun sedemikian rupa sehingga ia mampu
menjalani kehidupan rohani yang dewasa dan menggunakan karunia-karunia Roh
Kudus (=karunia-karunia karismatis) dan dengan demikian ia dibentuk dan dilengkapi
untuk karya pelayanan. Untuk menempuh program ini, calon anggota dianjurkan untuk
mengikuti Retret Spiritualitas menurut St. Theresia Lisieux, Retret Karunia-karunia Roh
Kudus dan Retret Pelayanan dalam Kuasa Roh Kudus.

Kehidupan rohani yang dewasa mengandaikan pengertian dasar yang benar mengenai
kehidupan Kristiani dan bagaimana menanggulangi masalah-masalah yang menghambat
seseorang untuk menjalani hidup dalam Roh. Kehidupan rohani yang dewasa mau
meneladani cara-cara menuju pada persatuan dengan Allah sebagaimana yang telah
dihayati dan diamalkan oleh tokoh-tokoh besar Karmel dan oleh St. Theresia Lisieux.
Kekuatan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat juga menunjang seluruh perjalanan
menuju kepada Allah ini. Demikianlah calon anggota dibentuk baik melalui sarana
kodrati maupun adikodrati dan selanjutnya ia dilengkapi untuk suatu karya pelayanan
dalam kuasa Roh Kudus.

Untuk mampu melayani dalam kuasa Roh Kudus, calon anggota mempelajari apa itu
karunia-karunia Roh Kudus yang digunakan untuk kepentingann pelayanan umat Allah.
Mempelajari karunia-karunia ini dengan seksama berarti mengenali bagaimana
menggunakan karunia-karunia tersebut dengan benar. Penggunaan karunia-karunia
Roh Kudus dengan benar di satu pihak memampukan Roh Kudus untuk berkarya
seoptimal mungkin dan di lain pihak memampukan calon anggota untuk semakin
berkembang dalam kaarunia-karunia ini.

Pelaksanaan Program Pembinaan Anggota Tahap II ini memakan waktu 2 tahun.


Program ini hendaknya dilakukan dalam pertemuan-pertemuan pengajaran, yang
diadakan 1 X setiap bulan selama 9 bulan berturut-turut untuk setiap tahunnya di luar
pertemuan sel dan pertemuan wilayah oleh masing-masing wilayah/ distrik (tergantung
situasi dan kondisi setempat). Pertemuan pengajaran ini didahului dengan pujian dan
penyembahan yang relatif singkat, yang tidak sama dengan pada pertemuan sel atau
pertemuan wilayah. Anggota akan berbuah banyak dalam menjalani program ini bila
ditunjang oleh komitmen yang tinggi pada pertemuan sel dan pertemun wilayah.

Sebagaimana halnya dengan Program Pembinaan Tahap I, program ini hendaknya


dijadikan kesempatan emas untuk menggali dan melatih tenaga pengajar dari
Komunitas Tritunggal Mahakudus sendiri. Tenaga pengajar untuk keperluan ini
hendaknya diseleksi dari mereka yang memiliki rasa cinta dan sense of belonging
kepada Komunitas Tritunggal Mahakudus, komit pada pertemuan sel dan pertemuan
wilayah, serta memiliki ketrampilan mengajar yang memadai untuk lingkup wilayah/
distrik.

i
Program ini baru bisa berhasil baik bilamana ada kerjasama dari seluruh anggota.
Tenaga pengajar dan para pemimpin (para pelayan dan wakil/ dewannya) diharapkan
mempunyai wawasan yang cukup luas mengenai bahan pengajaran dengan membaca
buku-buku sumber (lihat : D. Rincian Bahan Pengajaran pada hal 3, 5, 7, 9, 11, 13). Bila
ada kesalahan daam pengajaran, tenaga pengajar dan para pemimpin diharapkan
memberikan koreksi setelah pengajaran selesai. Dari pihak lain, partisipasi anggota
sangatlah diharapkan, tidak saja untuk mndengarkan pengajaran yang sedang diberikan,
namun juga untuk mempelajarinya kembali di rumah. Dengan kata lain, semua
anggota KTM harus berperan aktif dalam program ini demi pembinaan anggota
sendiri.

Semoga Program Pembinaan Anggota Tahap II ini bisa ditempuh dalam satu semangat
: mau belajar, mau mengajar dan mau diajar!

ii
A. TUJUAN PEMBINAAN

1. Agar anggota mampu menjalani kehidupan rohani secara dewasa.


2. Agar anggota mampu melayani dengan benar.
3. Agar anggota mampu menggunakan karunia-karunia Roh Kudus yang umum.

B. ANJURAN RETRET

1. Spiritualitas St. Theresia Lisieux.


2. Karunia-karunia Roh Kudus.
3. Pelayanan dalam Kuasa Roh Kudus.

C. PELAKSANAAN PENGAJARAN

1. Masing-masing bahan pengajaran bisa diikuti tanya jawab, bila diperlukan.


2. Untuk bahan pengajaran yang diikuti workshop (bertandakan *), pemimpin workshop
diharapkan mempelajari E. Pedoman Workshop (hal. ) terlebih dulu.
3. Keterangan kolom-kolom ‘D. Rincian Bahan Pengajaran’ (hal. )
 bahan : memuat topik-topik pengajaran.
 pedoman : memuat makalah-makalah atau buku-buku yang digunakan
sebagai bahan pengajaran.
Anggota hendaknya memakai makalah atau buku tersebut
sebagai pedoman selama pengajaran berlangsung dan sebagai
pedoman untuk dipelajari kembali di rumah.
 pokok bahasan : memuat pokok-pokok yang dibahas dalam bahan pengajaran.
Para pengajar hendaknya mengulas semua pokok ini.

1
 sumber : memuat nama buku-buku yang merupakan sumber makalah atau
buku-buku lain yang membahas bahan pengajaran.
Para pengajar dan para pemimpin hendaknya menambah
wawasan mereka dari buku-buku sumber agar pengajaran bisa
disampaikan dalam kebenaran. Setiap wilayah / distrik
hendaknya memiliki buku-buku ini bagi pengajar / anggota
yang memerlukannya.
 pengarang : memuat nama-nama pengarang dari buku-buku yang tercantum
di dalam sumber.
 jumlah sesi : memuat berapa jumlah sesi yang dibutuhkan untuk satu bahan
pengajaran. 1 sesi bisa mengambil waktu antara 45 menit
sampai 1 jam.
 topik sharing : memuat pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijadikan bahan
sharing.
Sel bisa memilih pertanyaan yang mana dan berapa jumlahnya
berdasarkan kebutuhan anggota. Sharing bisa diikuti saling
mendoakan untuk masalah-masalah anggota yang sehubungan
dengan topik sharing.

2
D. RINCIAN BAHAN PENGAJARAN
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

1.a. Tujuan Makalah 1.a. a. panggilan universal kepada 1. Apakah anda sadar bahwa
Hidup (oleh Romo Dr. kekudusan 1 sebagai orang Kristen anda
Kristiani Yohanes dipanggil untuk menjadi kudus?
b. hakekat kesempurnan Kristiani
Indrakusuma, Apa konsekuensinya bagi anda?
1. cinta kasih : unsur utama dalam
O.Carm) 2. Bagaimana usaha anda untuk
kesempurnaan
mewujudkan cinta kasih afektif
2. cinta kasih kepada Allah dan dalam pelaksanaan cinta kasih
sesama efektif?
3. cinta kasih afektif dan efektif
c. persatuan transforman
1. menurut St. Yohanes Salib
2. menurut St. Teresa Avila
Kebajikan Makalah 1.b. a. kebajikan teologal pada umumnya 1. Apa usaha anda agar anda bisa
Teologal (oleh Romo Dr. b. iman 1 mencintai benda-benda duniawi
Yohanes dalam Allah, lewat Allah dan
b. c. harapan
demi Allah?
Indrakusuma, d. kasih
O.Carm) 2.Kesuaman apa dalam diri anda
yang masih belum bisa diatasi
sampai saat ini?
2.a. Kebajikan Buku : a. pentingnya iman Basic Christian Maturity Word of Life 1. Apa yang anda lakukan selama
Iman Menuju b. arti iman 1 ini agar iman anda semakin
Kedewasaan bertumbuh?
c. dasar iman
Rohani 2. Bagaimana anda mengatasi
d. tingkatan iman
Bab III hambatan-hambatan bagi iman:
e. bertumbuh dalam iman rasa takut, rasa khawatir,
keraguan pada diri sendiri,
setan?

3
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

Karunia Buku : a. defnisi A Key to Charismatic Rev. Msgr. Vincent 1. Sharingkan satu pengalaman
b. Iman Bertumbuh dalam b. dasar Kitab Suci Renewal in the Catholic M. Walsh 1 penggunaan karunia iman!
Karunia- Church 2. Apa yang anda lakukan selama
c. penggunaan
karunia Roh ini agar anda bisa bertumbuh
d. syarat-syarat memperoleh
Kudus Bab VI A dalam karunia iman?
e. pertumbuhan
3.a. Mengasihi Buku : Basic Christian Maturity Word of Life 1. Bagaimana anda menyatakan
Allah Menuju 1 kasih anda kepada Allah secara
Kedewasaan konkrit dalam hidup sehari-hari?
Rohani Bab I 2. Hambatan-hambatan apa yang
anda jumpai dalam diri anda
untuk mengasihi Allah dan
bagaimana anda mengatasi
hambatan-hambatan ini?
Buku : a. pentingnya mengasihi sesama Basic Christian Maturity Word of Life 1. Apakah kehendak anda untuk
Mengasihi Menuju b. arti mengasihi sesama 1 mengasihi sesame masih sering
Sesama Kedewasaan dipengaruhi perasaan anda? Apa
c. cara-cara mengasihi sesama
Rohani yang bisa anda lakukan untuk
b. d. peranan Roh Kudus dalam menanggulangi hal ini?
Bab II
mengasihi sesama 2. Bagaimana anda menyatakan
kasih anda kepada sesama secara
konkrit dalam hidup sehari-hari?
4.a. Bimbingan Buku: a. pentingnya birnbingan Allah Basic Christian Maturity Word of Life 1. Bagaimana cara Allah
Allah Menuju b. cara-cara Allah membimbing 1 membimbing kehidupan anda?
Kedewasaan umatNya Sharingkan satu pengalaman
Rohani c. bertumbuh dalam menerima bimbingan Allah!
Bab IV bimbingan Allah 2. Apa yang anda lakukan selama
d. langkah-langkah praktis untuk ini agar bertumbuh dalam
menerima bimbingan Allah menerima bimbingan Allah?

4
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

b. Mencari Makalah 2 a. rencana Allah 1. Manakah dari ke 5 sumber


dan (oleh Romo Dr. b. mengenali kehendak Allah 1 mengenali kehendak Allah yang
Mengenali Yohanes sering menjadi penuntun anda?
c. proses untuk mengenali kehendak
KehendakA 2. Sharingkan satu pengalaman
Indrakusuma, Allah
llah mengenali kehendak Allah lewat
O.Carm)
d. mengenali kehendak Allah secara tanda-tanda batin!
komuniter 3. Sharingkan satu pengalaman
mengenali kehendak Allah
secara komuniter!
5.a. Karunia Buku : a. pengantar a. A Key to a. Rev. Msgr. Vincent 1. Apakah anda merindukan
Membeda- Bertumbuh dalam b. definisi Charismatic M. Walsh 1 karunia ini? Mengapa?
bedakan Karunia- c. dasar Kitab Suci Renewal in the 2. Apa yang bisa anda lakukan agar
Roh/ karunia Roh Kudus Catholic Church bertumbuh dalam karunia ini?
d. 3 sumber roh yang mempengaruhi b. Romo Dr. Yohanes
Discernmen Bab VIII b. Makalah:
t manusia Indrakusuma,O.Carm
Karunia
e. patokan-patokan untuk mengenal Membeda-
kehendak Allah bedakan Roh
f. bagairnana berturnbuh c. Karunia c. Romo L. Sugiri, SJ
Membedakan
Roh-roh
Karisma di Makalah 3 a. karisma dalam Gereja 1. Adakah karisma tertentu yang
b. dalam (oleh Romo Dr. b. apa yang disebut karisma itu? 1 sangat anda rindukan untuk
Hidup Yohanes pelayanan? Mengapa?
c. tujuan karisma
Gereja 2. Bagaimana anda dapat bekerja
Indrakusuma, d. manifestasi Roh Kudus
O.Carrn) sama dengan Roh Kudus agar
e. karisma dalam evangelisasi baru karisma-karisma dapat
berkembang dalam diri anda?

5
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

6.a. Mengatasi Buku : a. pengertian tentang daging Basic Christian Maturity Word of Life 1. Dalam hal apa anda mudah jatuh
Daging dalam kedagingan ? Bagaimana
Menuju b. cara-cara mengatasi daging 1
anda berusaha mengatasi
Kedewasaan c. menyerah kepada Roh Kudus kelemahan anda ini?
Rohani
d. cara-cara menyerah kepada Roh 2. Cara-cara menyerah kepada Roh
Bab IV Kudus (buku 'Menuju
Kudus
Kedewasaan Rohani' Bab VI no
4.1. s/d 4.8.) yang mana yang
masih sulit anda jalani?
Penyangkal Makalah 4 a. pentingnya penyangkalan diri a. The Three Ages of the a. Gan igou – 1. Apa yang biasanya merupakan
an Did b. concupiscentia Interior Life, Prelude of Lagrange motivasi anda dalam melakukan
(oleh Fr. Georgius 1
Askesis c. bagaimana melakukan Eternal Life penyangkalan diri?
Paulus, CSE) b. Mane - Eugene
penyangkalan diri b. I am a Daughter of the
b. 2. Apa saj a bentuk-bentuk
d. matiraga jasmani dan panca indra Church, a Practical penyangkalan diri yang selama
e. pengekangan indra batin Synthesis of Carmelite ini sudah pernah anda lakukan?
f. pengekangan akal budi, ingatan, dan Spirituality
kehendak
g. penutup
7. Sakramen Makalah 5 a. pengantar a. Diklat kuliah Teologi a. Romo Dr. Petrus 1. Bagaimana anda menghayati
Ekaristi b. dasar biblis ekaristi Dogmatik Sakramen- tologi Sakramen Ekaristi sebelum dan
1. konteks perjamuan malam Maria Handoko, CM 2
SIFT Widya Sasana, sesudah menjadi anggota KTM?
terakhir Malang
2. kisah perjamuan malam terakhir 2. Sharingkan sate pengalaman di
b. Makalah : Sakramen- b. Romo Dr. Petrus,
3. perayaan ekaristi dalam mana Tuhan menyembuhkan dan
sakramen Inisiasi dan Maria Handoko, CM
komunitas Kristiani pertama membebaskan anda melalui
Sakramen-sakramen
c. apa itu sakramen ekaristi Sakramen Ekaristi!
1. berbagai nama Penyembuhan
c. The Sacraments and You - c. Michael Pennock 3. Apa yang bisa anda lakukan agar
2. unsur-unsur sakramen ekaristi
Living Encounters with teman-teman seiman lebih mencintai
3. roti dan anggur
4. arti perayaan ekaristi Christ sakramen ini?
d. Rev. Matthias Premm
5. manfaat ekaristi d. Dogmatic Theology for the
d. bagaimana menghayati misa Laity
e. penutup

6
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

8.a. Sakramen Makalah 6 a. sejarah AjaranlmanKatolik a. A. Bakker, SVD 1. Apa yang anda lakukan selama ini
Tobat b. dosa untukMahasiswa untuk menjaga agar suara hati anda
b. Alan Schreck 1
1. arti dosa semakin sempurna dan tepat?
Your Catholic Faith
2. macam-macam dosa
2. Seberapa sering anda menerima
3. pemnan suara hati
Sakramen Tobat?
c. sesal hati/ tobat
d. pengakuan dosa Bagaimana cara anda mengaku.
1. pemeriksaan batin dosa?
2. pengakuan dosa-dosa bemt dan 3. Buah-buah apa yang sudah anda
ringan rasakan dari pengakuan dosa yang
3. absolusi teratur?
4. penitensi 4. Apa sarana-sarana yang anda pakai
5. kapan mengaku untuk menghindari dosa?
6. imam sebagai wakil Kristus

Memperbaiki Buku : a. arti perbuatan salah Basic Christian Maturity Word of Life. 1. Manakah dari keempat sikap dasar
Perbuatan Menuju b. memperbaiki perbuatan salah 1 untuk memperbaiki perbuatan salah
Salah (buku'Menuju Kedewasaan Rohani'
b. Kedewasaan c. empat sikap dasar untuk
Rohani Bab VII no 3. 1. s/d 3.4.) yang
memperbaiki perbuatan salah
belum anda miliki sehingga anda
Bab VII d. langkah-langkah dalam belum sampai pada sikap penyesalan
memperbaiki perbuatan salah dan pendamaian?
e. menerapkan langkah-langkah 2. Langkah-langkah manakah yang
dalam memperbaiki perbuatan sulit anda tempuh dalam
salah memperbaiki perbuatan salah (buku
: 'Menuju Kedewasaan Rohani' Bab
VII no 4.1. s/d 4.4.) ?

7
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

9.a. Menangulangi Buku: a..keberadaan setan Basic Christian Maturity Word of Life 1. Apakah anda cendenmg
KerjaRoh- MenujuKedewasaan b.peperangan rohani 1 mempersalahkan setan sebagai
RohJahat Rohani penyebab masalah-masalah anda
c. wilayah kerjasetan
ataukah anda cenderung
BabVIII d.cara-cara menanggulangi kerja roh-roh jahat meremehkan keberadaan setan?
e..kemenanganmelawankerja roh-roh jahat Mengapa?
2. Dari pengalaman anda, lewat jalan
manakah roh jahat mempengaruhi
diri anda, saudara-saudara
sekomunitas dan umat Allah pada
umumnya?

b. Spiritualitas Makalah7: a.sejarahKarmel a. Pesona Karmel a. Romo Dr. Yohanes 1. Bagaimana anda berusaha
KarmelI LatarBelakang b.kekhasanspiritualitasKarmel Indrakusuma, O.Carm 1 mengamhkan hati kepada Aflah
b. Romo Dr. Yohanes dalam hidup sehah-hari?
(olehSr.Skolastika, c.MariaBundaKarmel b. Kaset-kaset Pengarahan
P.Karm) Indrakusuma, O.Carm 2. Aspek/segi kehidupan Maria yang
d.Elia,bapadanpemimpinkita
c. St. Yohanes Salib mana yang mengesankan bagi
c. Mendaki Gunung Karmel anda? Mengapa?
d St. Yohanes Salib
d. Malam Gelap 3. Aspek/segi kehidupan Elia yang
e. Romo Dr. Yohanes
e. Hidup dalam Roh mana yang mengesankan bagi
Indrakusuma, O.Carm
anda? Mengapa?
10. Spiritualitas Makalah8.a.: a. hidupdihadiratAllah Pesona Karmel a.Romo Dr. Yohanes 1. Apa buah-buah hidup di
Karmel11 MenggapaiKekudusan b. pemurnian: Indrakusuma, O.Cann 2 hadiratAflah yang sudah anda
diJalan b. Romo Dr. Yohanes rasakan selama ini? Sharingkan
1.7dosapokok Kaset-kaset Pengarahan
Indrakusuma, O.Carm satu pengalaman konkrit!
Karmel 2.pengertianMalamGelap
c.St. Yohanes Salib 2. Yang mana dari ke 7 dosa pokok
(olehSr.Skolastika, 3.tanda-tandaMalamGelap c. Mendaki Gunung Kannel yang masih mengikat anda? Apa
P.Karrn) d St. Yohanes Salib
4.sikapyangtepatdalamMalamGelap d Malam Gelap yang sudah anda lakukan untuk
e.Romo Dr. Yohanes mengatasinya?
e. Hidup dalam Roh
Indrakusuma, O.Carm

8
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

Makalah8.b.: a. St.TeresadariAvila 1. Kisah hidup para kudus Karmel


ParaKudusKarmel b.St.YohanesdariSalib yang mana yang mengesankan bagi
anda? Mengapa?
(olehSr.Skolastika, c.St.TheresiadariLisieux
P.Karm) d.St.TeresaBenedicta
e.BeataElisabethdariTritunggal
f..BeatoTitusBrandsma
11. Spiritualitas Makalah9.a.: Untukdibacasendirisebagaipersiapan: Kasih, Kepercayaan dan Romo Dr. Yohanes 1. Dalam hal-hal apakah anda masih
St.Theresia RiwayatHidupSt. a. latarbelakangkeluarga Pasrah Indrakusuma, O.Carm 2 belum menjadi 'anak kecil' ?
LisieuxI Theresia Mengapa?
b.Theresiadalambiara
Lisieux 2. Sharingkan satu pengalaman di
mana kerendahan hati menjadi
(olehRomoDr.
landasan dari suatu perbuatan!
Yohanes
Indrakusuma,O.Cann)
Makalah9.b.: a. kerendahan hati:dasardarisegala kesuciandan
KerendahanHati cirispiritualitasTheresia
(olehRomoDr. b. pandangan Santa Theresia
Yohanes mengenai kerendahan hau
Indrakusuma,O.Cann) c.tetapmenjadianakkecil
d. mengakuikekecilanataukekosongannya
e.kerendahanhatiadalahkebenaran
f.sayabersukacitakarenasayatidaksempurna
g sayarinduuntuktidakdikenal

9
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

12. Spiritualitas Makalah 10 : a.dua aliran spiritualitas dalam Gereja Kasih, Kepercayaan dan Romo Dr. Yohanes 1. Manakah di antara dua ahran dalam
St. Primat Cinta b. primat cinta kasih Pasrah Indrakusurna, O.Cann 2 Gereja yaitu aliran asketis dan aliran
Theresia. Kasih mistik yang lebih dapat membantu
c. pandangan Theresia tentang cinta
Lisieux II anda untuk berkembang dalam
(oleh Romo Dr. kasih dan ciri-ciri kekanakannya kesempurnaan cinta kasih? Mengapa?
Yohanes
d faal-faal yang hakiki : 2. Sharingkan bagaimana anda berusaha
Indrakusuma,
1. menyenangkan hati Yesus mencintai Allah dengan jiwa seorang
O.Carm)
2. cinta kasih yang murni anak kecil!
3. melakukan segala-galanya 3. Apa jawaban anda jika pertanyaan St.
karena cinta Theresia Lisieux pada dirinya, juga
anda tanyakan pada diri anda: Apakah
e. menjadikan 'cinta' dicintai
cinta yang murni itu ada dalam
f. panggilanku ialah cinta kasih hatiku?' (cinta yang murni = cinta
tanpa pamrih)?
4. Apakah anda terus menerus setia
kepada tugas- tugas harian anda untuk
menyenangkan hati Allah dan untuk
memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan?
Sharingkan!
13. Spiritualitas Makalah 11: a. pasrah pada Santa Theresia Kasih, Kepercayaan dan Romo Dr. Yohanes 1. Seberapa besar kepercayaan dan
St. Kepercayaan dan b. Santa Theresia, orang kudus dari Pasrah Indrakusuma, O.Carm 2 kepasrahan anda kepadaAllah dalam
Theresia Pasrah hidup anda?
kepasrahan
Lisieux III (oleh Romo Dr. 2. Hal-hal apa yang akan anda lakukan
c. kepasrahan cinta kasih
Yohanes untuk meneladani Santa Theresia
d hidup pada saat ini Lisieux dalam hal kepercayaan dan
Indmkuswna,
e. jalanku semata-mata kepercayaan kepasrahan kepada Allah?
O.Carm)
dan cinta kasih

10
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

14. Spiritualitas, Makalah 12 : a. kebajikan-kebajikan religius : Kasih, Kepercayaan dan Romo Dr. Yohanes 1. Sudahkah anda melakukan tugas-
St. 1. kemiskinan tugas harian anda dengan penuh
Kesetiaan dalam Pasrah Indrakusuma, O.Cann 2
Theresia 2. kemumian kesadaran dan cinta kasih?
Perkara Kecil
Lisieux IV 3. ketaatan
(oleh Romo Dr. Bila belum, apa hambatan-
b. kasih persaudaraan :
Yohanes hambatannya?
1. hukumyangbaru
Indrakusuma, 2. kepekaan cinta kasih 2. Sejauh mana anda sudah menghayati
O.Cann) 3. malaikat perdamaian dan cinta peraturan- peraturan KTM sebagai
kasih ungkapan pelaksanaan
c. kesimpulan : kekudusan dalam kehendakAllah dalam hidup anda?
perkara kecil

15. Karunia- Buku : a. pembagian A Key to Charismatic Rev. Msgr. Vincent M. 1. Bagaimana anda bertumbuh dalam
karunia Bertumbuh dalam b. cara bertumbuh Renewal in the Catholic Walsh 2 menggunakan karunia-karunia Roh
Roh Karunia- Kudus?
c. bahaya-bahayanya Church
Kudus karunia Roh 2. Bagaimana seharusnya anda
Kudus Bab 11 bertingkahlaku bila anda memperoleh
karunia-karunia Roh Kudus?
16. Pelayanan Makalah13 a.pelayananYesusdalamkuasaRohKudus Kaset pengarahan Romo Dr. Yohanes 1. Hal-hal apa yang seharusnya
dalamKuasa b.mengembangkanpelayanandalamkuasaRoh Indrakusuma, O.Carm 2 menjiwai anda bila anda
RohKudus melakukan pelayanan dalam kuasa
Kudus
Roh Kudus?
c.modelpelayananyangbenar
2. Bentuk pelayanan apa yang paling
d.melayanidalamkesatuan anda sukai? Mengapa?

11
JML
NO BAHAN PEDOMAN POKOK BAHASAN SUMBER PENGARANG SESI
TOPIK SHARING

17. Karunia Buku: a. pengertiannubuatpadaumumnya a. A Key to Charismatic a.Rev. Msgr. Vincent 1. Apa manfaat karunia nubuat bagi
Nubuat* Bertumbuhdalam b. dasarKitabSuci Renewal in the Catholic M. Walsh 2 sel/ wilayah anda?
Karunia- Church 2. Apa hambatan-hambatan anda
c. nubuatmenurutRasulPaulus
karuniaRohKudusBab b. The Gift of Prophecy untuk berkembang dalam karunia
d. fungsi b.Rev. Robert de
IVA nubuat dan bagaimana anda
e. proses Grandis, SSJ mengatasi hambatan-hambatan im?
c. Makalah : Karunia
f. caraberkembang c.Romo L. Sugiri, &J
Nubuat
g. membeda-bedakannubuat
h. nubuatpribadidandirektif
18. Karunia Buku: a. definisi a. A Key to Charismatic a. Rev. Msgr. Vincent 1. Maukah anda dipakai Tuhan dalam
Penyembuhan Bertumbuhdalam b. dasarKitabSuci Renewal in the Catholic M. Walsh 2 pelayanan penyembuhan?
Karunia- Church Mengapa?
c. sikapimandasar
karuniaRohKudusBab b. Penyembuhan b. Francis Mac Nutt 2. Apa hambatan-hambatan anda
V c. Buklet : Doa dalam berdoa penyembuhan dan
c. Romo Dr. Yohanes
Penyembuhan bagaimana anda mengatasi
Indrakusuma,
hambatan-hambatan ini?
O.Carm

12
E. PEDOMAN WORKSHOP

I. KARUNIA NUBUAT
1. Kelompok membentuk sebuah lingkaran.
2. Nyanyikan 1 lagu penyembahan yang kemudian diikuti senandung dalam bahasa roh atau
langsung bersenandung dalam bahasa roh.
Tumpangkan tangan ke orang di sebelah kanan dan berdoalah dalam bahasa roh. Lakukan hal
yang sama dengan orang yang di sebelah kiri.
Hening dan di dalam hati mohonlah karunia nubuat.
Dengarkanlah bagaimana Tuhan berbicara dan ungkapkanlah pesan Tuhan dalam bentuk
nubuat.

II. KARUNIA PENYEMBUHAN


Kelompok dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 orang.
Dalam masing-masing kelompok, 1 orang memimpin doa penyembuhan dengan suara yang bisa
didengar yang lainnya, yang ikut mendukung doa penyembuhan dengan berdoa dalam bahasa
roh. Pemimpin bisa berdoa dengan kata-kata :
‘Tuhan, sembuhkanlah X.’
‘Tuhan, jamahlah dan salurkanlah kasihMu kepada X.’
‘Yesus, biarlah kasihMu mengalir kepada X.’
Doa Penyembuhan dilakukan dengan menumpangkan tangan khususnya pada bagian-bagian
yang sakit sejauh ini memungkinkan. Hendaknya etika antara pria dan wanita digunakan
sebagaimana mestinya.
Satu per satu anggota kelompok diberi kesempatan memimpin doa penyembuhan.

13
F. PEDOMAN SHARING

I. Tujuan Sharing :
1. Untuk memuliakan Allah.
Tujuan utama sharing adalah untuk memuliakan Allahh, dan bukannya untuk memuliakan
diri sendiri. Sharing hendaklah menunnjukkan bahwa Allahlah yang membuat segalanya
mungkin, dan bukannyadiri kita.
2. Untuk membangun komunitas.
Karya Allah yang diungkapkan lewat sharing adalah untuk membangun komunitas. Lewat
sharing, iman anggota dibangkitkan dan dengan demikian membangun komunitas.

II. Untuk mencapai kedua tujuan tersebut, suatu sharing haruslah efektif. Maka di sini
diperlukan seorang pemimpin sharing, bisa Pelayan Sel atau wakil atau anggota yang
kompeten, yang berperan sebagai seorang moderator, dengan tugas-tugas sebagi berikut:
1. Mengusahakan agar sebanyak mungkin anggota bisa mendapatkan giliran sharing,
2. Mengarahkan pembicaraan yang melantur kembali ke topik sharing.
3. Menenangkan suasana bila sharing berubah menjadi suatu perdebatan.
4. Mencatat hal-hal yang perlu dikomentari dari sharing anggota, baik secara pribadi maupun
dalam pertemuan sel, setelah sharing itu selesai.
Mengingat pentingnya peran seorang pemimpin sharing, dalam suatu pertemuan sel diperlukan
ketaatan anggota kepada pemimpin sharing, agar suatu sharing bisa berjalan dengan tertib dan
lancar.

III. Cara-cara sharing yang baik :


1. Sharing harus singkat, padat dan jelas.
Hindarilah penyampaian sharing yang bertele-tele, terlalu mendetail dan terlalu banyak
menggambarkan keadaan pribadi.
2. Sharing harus obyektif dan benar.
3. Sharing bukan suatu cara berdiskusi atau bahkan suatu penyelesaian masalah.

14
Sharing merupakan suatu ungkapan pengalaman. Sharing tidak mengajukan pertanyaan yang
perlu dijawab atau dikomentari pada saat itu juga. Sharing juga tidak mencarikan jalan keluar
bagi suatu masalah. Maka bila ada hal-hal yang perlu dikomentari, pemimpin sharing,
Pelayan Sel, wakil bisa mencatatnya dan membahasnya dengan anggota tersebut secara
pribadi, atau bila hal tersebut bersifat umum, bisa dikomentari setelah semua anggota
mendapat giliran sharing.
4. Sharing bukan suatu cara berdiskusi atau bahkan suatu penyelesaian masalah.
Hindarilah membicarakan kekurangan atau kesalahan orang lain.

G. PEDOMAN MENGAJAR

Makalah-makalah yang digunakan dalam buku ini sudah disusun sedemikian rupa sehingga siap
untuk diajarkan. Tenaga pengajar tidak lagi perlu mencari dan menyusun bahan sendiri. Namun
itu tidak berarti bahwa tenaga pengajar tidak perlu mempersiapkan diri. Bahan pembinaan ini
justru menuntut penguasaan dan penghayatan tenaga pengajar sehingga apa yang diajarkan
mengesan bagi pendengar serta membangkitkan iman mereka. Berikut ini pedoman yang bisa
dipakai tenaga pengajar untuk suatu pengajaran yang efektif :
1. Tenaga pengajar diharapkan mempersiapkan diri dalam jangka waktu yang cukup lama
sebelum mengajar dalam 2 hal :
1.1 mendalami dan menghayati bahan
1.2 memperluas wawasannya tentang bahan dengan membaca buku-buku sumber yang
berkaitan dengan bahan tersebut (lihat D. Rincian Pengajaran hal. 3, 5, 7, 9, 11, 13 –
kolom ‘Sumber’)
2. Beberapa waktu sebelum mengajar tenaga pengajar diharapkan mempersiapkan diri dalam
doa serta membawakan bahan tersebut dalam doa.

15
3. Mengajar berarti :
3.1.Menerangkan kalimat/ alinea/ gagasan yang ada dalam pedoman/ makalah dengan cara
yang bisa dimengerti pendengar sesuai dengan apa yang dihayati pengajar. (Mengajar
bukanlah membacakan semua kalimat yang ada dengan keterangan yang tidak memadai)
3.2.Memberi contoh/ ilustrasi/ pengalaman hidup yang berkaitan dengan bahan sehingga
mudah dimengerti. (Mengajar bukanlah memberi contoh pada setiap kalimat/ alinea/
gagasan sehingga inti pokok pengajaran menjadi kabur.)
3.3.Mendasarkan apa yang diterangkan pada bahan yang sudah tersedia. (Mengajar bukanlah
membuat bahan sendiri.)
3.4.Menambahkan apa yang perlu dari apa yang diketahui pengajar dari bahan yang sudah
tersedia. (Mengajar bukanlah menambah bahan dari luar terlalu banyak sehingga inti
pokok pengajaran menjadi kabur.)
3.5.Menghidupkan kalimat/ alinea/ gagasan yag tersedia dalam pedoman/ makalah sehingga
membangkitkan iman pendengar. (Mengajar bukanlah sekedar menyampaikan isi bahan
sebagai suatu pengetahuan.)

Catatan :
Beberapa makalah dalam buku ini cukup panjang dan tidak mungkin bisa diajarkan dalam
waktu 1 atau 2 sesi saja. Maka tenaga pengajar diharapkan bisa memilih bagian mana dari
makalah yang bersangkutan untuk diajarkan dan anggota bisa membaca sisanya di rumah.

16
H. MAKALAH - MAKALAH

PERSATUAN DENGAN ALLAH


1.a. TUJUAN HIDUP KRISTIANI

I. PANGGILAN UNIVERSAL KEPADA KEKUDUSAN


Dalam Konstitusi Lumen Gentium Konsili Vatikan II menegaskan, bahwa setiap orang Kristen
dipanggil untuk menjadi kudus. Panggilan ini bukan hanya berlaku untuk para uskup dan imam
saja, melainkan bagi setiap orang Kristen. Setiap orang Kristen harus berkembang menuju
kekudusan yang sebenarnya bukan lain daripada kesempurnaan cintakasih.

Seluruh Kitab Suci menggema dengan panggilan kepada kekudusan atau kesempurnaan ini,
sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, karena memang itulah rencana Tuhan bagi kita.

Ketika Tuhan menampakkan diri di gunung Sinai kepada Musa, Ia menyatakan rencanaNya
terhadap bangsa Israel, yaitu supaya mereka menjadi kudus bagi Dia: "Kamu akan menjadi
bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus" (Kel 19:6). Kemudian dalam Kitab Imamat
berkali-kali Tuhan menegaskan tuntutan-Nya supaya bangsa Israel menjadi umat yang kudus:
"... haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus..." (Im 11:44). Kemudian perintah ini masih
diulang-ulang beberapa kali dalam Kitab yang sama itu, seperti: "Berbicaralah kepada segenap
jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu,
kudus." (Im 19:2). Setiap kali Tuhan memberikan perintahNya diingatkanNya umat, agar
mereka menjadi kudus sebab Tuhan itu kudus: "Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan
kuduslah kamu, sebab Akulah Tuhan, Allahmu." (Im 20:7). Kemudian pada ayat 26 hal itu
masih ditekankan kembali: "Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku
telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milikKu." Juga dalam
Kitab Ulangan 7:6 ditegaskan, bahwa orang Israel harus menjadi bangsa yang kudus bagi
Tuhan: "Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh
Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya."

Israel dipilih Allah untuk menjadi umatNya dan karena itu ia harus kudus. Maka di seluruh
Perjanjian Lama menggema ungkapan ini sebagai suatu refren: kamu adalah umatKu dan Aku
Allahmu. Karena itu Israel tidak boleh menjalani jalan para bangsa yang tidak mengindahkan
perintah Allah.

Dalam Perjanjian Baru pun seluruh pengajaran Tuhan Yesus mengarah kepada kekudusan hidup
ini dan kesempurnaan dalam cinta kasih. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti
Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:48). St. Petrus pun mengajak umat supaya
menjadi kudus, karena Allah adalah kudus: "tetapi hendaklah kamu kudus di dalam seluruh
hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu" (1Ptr 1:15). Bila Israel

17
lama dituntut untuk menjadi kudus, lebih-lebih Israel baru yang telah ditebus dengan darah
Kristus sendiri, sebab mereka itu adalah "kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri..." (1 Ptr 2:9). Himbauan yang sama dapat
kita jumpai dalam surat-surat Santo Paulus yang berkali-kali menekankan bahwa kita harus
menjadi kudus, supaya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus
kepada Allah (Rm 12:1), supaya kita menjadi kudus dan tak bercacat dihadapan Allah (Ef 1:4)
dan kita menjadi baitNya yang kudus (Ef 2:21).

Kemudian dalam Lumen Gentium nomor 40 kita jumpai yang berikut ini:
Tuhan Yesus, Guru ilahi dan model segala kesempurnaan, mewartakan kekudusan hidup
(Dialah sumber dan penyebabnya) kepada semua dan setiap muridNya tanpa kecuali: "Karena
itu hendaklah kamu sempurna, seperti Bapamu yang di surga sempurna adanya" (Mat 5:48).
...
Para pengikut Kristus yang dipanggil oleh Allah bukan karena jasa mereka, tetapi menurut
rencana dan rahmatNya, dan dibenarkan dalam Tuhan Yesus, telah dijadikan anak-anak Allah
dalam pembaptisan iman dan mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan karenanya sungguh-
sungguh dikuduskan. Karena itu mereka harus mengejar kesempurnaan dan menyempurnakan
dalam hidup mereka pengudusan yang telah mereka terima dari Allah ....
Karena itu jelaslah pula, bahwa semua orang kristen dalam setiap keadaan atau status hidup,
dipanggil kepada kepenuhan hidup kristiani dan kepada kesempurnaan kasih.

II. HAKEKAT KESEMPURNAAN KRISTIANI


Kesempurnaan kristiani secara hakiki terdapat dalam rahmat pengudus, karena rahmat pengudus
merupakan inti hidup supernatural kita. Secara operatif kesempurnaan itu terdapat dalam kasih,
baik sebagai faal tersendiri, maupun sebagai penjiwa tindakan-tindakan lainnya. Kesempurnaan
tertinggi terdapat dalam persatuan cintakasih dengan Allah, persatuan yang menjadikan jiwa
sungguh-sungguh satu dengan Allah. Persatuan ini biasanya disebut dengan istilah persatuan
transforman.

II.1. Cinta kasih : Unsur Utama dalam Kesempurnaan


Cinta kasih merupakan unsur utama dan hakiki serta yang khas dalam kesempurnaan Kristiani.
Karena itu semakin orang berkembang dalam kasih kepada Allah dan sesama, semakin
sempurnalah ia. Ketika Tuhan Yesus ditanyai orang, manakah hukum yang terbesar, Ia
menjawab: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang pertama dan terutama. Dan hukum yang
kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat
22:37-39). Kemudian Tuhan menambahkan: "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh
hukum Taurat dan kitab para nabi". Maka bila orang memiliki kasih, orang menjadi sempurna.
Kasih ini pertama-tama adalah kasih kepada Allah, tetapi setiap kasih yang otentik harus juga
mengarah kepada sesama. Sebenarnya hanya ada satu kasih saja, maka kalau ada kasih kepada
Allah, ada pula kasih kepada sesama, karena kasih tidak boleh hanya merupakan perasaan atau
kata-kata belaka.

St. Paulus banyak sekali menyinggung hal ini: "Di atas semuanya itu: kenakanlah kasih,
sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (Kol 3:14). Dan dalam suratnya

18
kepada umat di Roma dia mengatakan, bahwa "kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Rm
13:10). St.Paulus juga mengungkapkan nilai lebih kasih di atas iman dan harapan: "Sekarang
tinggal yang tiga ini, tetapi yang terbesar ialah kasih" (1 Kor 13:13). Bahkan iman menerima
nilainya dari kasih (Gal 5:6). Bahkan karisma-karisma dan mujizatpun tidak ada artinya tanpa
kasih ini (bdk. 1 Kor 13:1-3).

Kesempurnaan suatu mahluk terdapat dalam pencapaian tujuan akhirnya, yaitu Allah. Dan
justru kasihlah yang mempersatukan kita dengan Allah. Hanya kasih yang menyatukan kita
secara sempurna dengan Allah, sedangkan segala kebajikan yang lain mempersiapkannya.
Kebajikan moral membawa kita kepada Allah hanya secara tidak langsung, yaitu dengan
menimbulkan harmoni dalam sarana yang menuju kepada Allah. Iman dan pengharapan
mempersatukan kita dengan Allah, karena merupakan kebajikan teologal, namun tidak
mempersatukan kita dengan Dia sebagai tujuan akhir atau sebagai kebaikan tertinggi yang patut
dicintai, yang justru menjadi tujuan kasih.

Kesempurnaan kristiani bertambah sejauh orang berkembang dalam kasih. Karena itu tingkat
kekudusan seseorang diukur justru menurut tingginya tingkat cinta kasih itu. Semakin besar
cinta kasih kepada Allah dan sesama yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tingkat
kekudusannya.

II.2. Cinta Kasih kepada Allah dan Sesama.


Kesempurnaan Kristiani terdapat dalam tindakan cinta kasih ganda: pertama-tama kepada Allah
dan kemudian kepada manusia. Hanya ada satu kebajikan cinta kasih saja. Dengan itu kita
mengasihi Allah demi diriNya sendiri, dan mengasihi diri kita sendiri serta orang lain demi
Allah. Semua tindakan yang keluar dari cinta kasih, ditandai oleh obyek yang sama, yaitu
kebaikan Allah yang tidak terbatas.

Baik kalau kita mencintai Allah secara langsung dalam diriNya sendiri, ataupun secara tidak
langsung bila kita mencintai sesama kita, motivasi kasih ini selalu sama, yaitu kebaikan Allah.
Tak mungkin ada tindakan cinta kasih sejati terhadap sesama, yang tidak keluar dari cinta kasih
kepada Allah. Karena itu bila cinta kepada Allah berkembang, cinta kepada sesama juga ikut
berkembang pula. Itulah sebabnya Santo Yohanes menulis, bahwa bila kita mengasihi Allah,
kita juga harus mengasihi sesama. Dan bahwa bila ada orang yang berkata, bahwa dia
mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, dia itu seorang pendusta (1 Yoh 4:11.20).

Namun biarpun demikian, dalam pelaksanaan kasih ada prioritas yang memang dituntut karena
sifat kasih itu sendiri. Kesempurnaan cinta kasih pertama-tama terdapat dalam kasih kepada
Allah, yang memang patut dicintai demi diriNya sendiri. Baru kemudian terdapat dalam kasih
kepada sesama dan diri sendiri demi Allah. Dan bahkan dalam kasih kepada sesamapun perlu
ada prioritas. Mengapa? Karena dasar semua kasih adalah Allah Sang Cinta Kasih. Maka dari
itu semakin banyak orang mengambil bagian dalam kasih Allah, semakin patut ia dicintai.
Karena itu kita harus pertama-tama mencintai Allah sumber segala kebaikan. Kedua, diri sendiri
yang secara langsung mengambil bagian dalam kebaikan Allah itu dan akhirnya sesama kita,
yang bersama-sama kita ambil bagian dalam kasih Allah itu.

19
II.3. Cinta Kasih Afektif dan Efektif.
Menurut St.Fransiskus dari Sales, ada 2 cara kita melaksanakan cinta kasih kita kepada Allah:
yang satu afektif dan yang lain efektif. Dengan kasih yang afektif kita berpaut pada Allah dan
pada segala sesuatu yang berkenan kepadaNya. Dengan yang kedua kita melayani Tuhan dan
melakukan apa yang diperintahkanNya. Kasih afektif mempersatukan kita dengan kebaikan
Allah, sedangkan kasih efektif membuat kita menjalankan kehendak Allah. Yang satu
memenuhi kita dengan kesenangan, kebaikan, aspirasi, keinginan, kerinduan dan semangat
rohani, sehingga roh kita tenggelam dalam Allah dan menjadi satu denganNya. Yang lain
melahirkan dalam diri kita niat yang teguh, tekad yang bulat dan ketaatan yang kokoh untuk
melaksanakan perintah-perintahNya dan dengan mana kita menderita, menerima, menyetujui
dan memeluk segala sesuatu yang datang dari kehendak ilahiNya. Kasih afektif membuat kita
senang kepada Allah, sedangkan kasih efektif menjadikan Allah senang pada kita.

Kiranya jelas pula, bahwa kesempurnaan pertama-tama terdapat dalam cinta kasih afektif, dan
hanya secara sekunder dalam cinta kasih efektif. Dari semuanya ini dapat disimpulkan yang
berikut:
1. Kalau orang tidak dijiwai cinta kasih, tindakan lahir atau batin suatu kebajikan natural,
betapapun sempurnanya dalam dirinya sendiri, tidak memiliki nilai supernatural dan tidak
berguna untuk hidup kekal.
2. Tindakan suatu kebajikan ilahi yang dijiwai oleh cinta kasih yang lemah dan tidak sempurna,
nilai supernaturalnya pun lemah dan tidak sempurna. Sukarnya suatu perbuatan tidak dengan
sendirinya menambah jasanya. Jasa itu ditentukan oleh tingkat cinta kasih yang
menjiwainya. Bila sukarnya perkara itu menambah jasa, itu hanya karena dalam hal itu
dibutuhkan dorongan cinta kasih yang lebih besar untuk melakukannya.
3. Sebaliknya tindakan suatu kebajikan supernatural, betapapun kecil dan mudahnya, memiliki
jasa lebih besar, bila dilakukan dengan gerakan cinta kasih yang lebih besar. Seperti yang
dikatakan Santa Teresa Avila: "Yang diperhatikan Tuhan bukanlah besarnya perkara itu,
melainkan cinta kasih yang menjiwainya"

Tetapi dari pihak lain cinta kasih afektif harus dinyatakan dalam pelaksanaan cinta kasih efektif,
yaitu pelaksanaan kebajikan Kristiani demi cinta kepada Tuhan.

Cinta kasih afektif, biarpun dari dirinya lebih luhur, bisa jatuh dalam khayalan. Mudah sekali
berkata kepada Tuhan, bahwa kita mencintai Dia dengan segenap hati kita, bahwa kita ingin
menjadi suci, tetapi tidak melaksanakan perintah-perintahNya. Maka cinta kita kepada Allah
harus selalu diuji dengan pelaksanaan perintah-perintahNya. Karena itu Tuhan Yesus pun
bersabda: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu" (Yoh.14:15).

III. PERSATUAN TRANSFORMAN


Puncak terindah dari kesempurnaan ini ialah apa yang disebut persatuan cinta kasih
transforman, yaitu persatuan dengan Allah yang mengubah segala-galanya. Sebagaimana api
membakar kayu dan menjadikannya api, demikian pula kasih illahi membakar jiwa kita dan
menjadikannya seluruhnya illahi, sehingga memiliki sifat-sifat Allah sendiri. Dalam keadaan ini

20
jiwa sudah seluruhnya lebur menjadi satu dengan Allah, namun tanpa kehilangan
kepribadiannya. Dalam segala sesuatu ia menjadi satu dengan Allah. Ia hanya menghendaki apa
yang dikehendaki Allah, memikirkan apa yang dipikirkan Allah, menginginkan apa yang
diinginkan Allah, merasa seperti Allah sendiri. Pendek kata, seperti kata rasul Paulus: “Aku
hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”
(Gal 2:20).

Dalam hal ini khususnya ada dua tokoh besar yang telah mengungkapkannya dengan indah, dan
kemudian diikuti oleh para teolog lainnya. Kedua tokoh itu ialah St.Yohanes dari Salib dan
St.Teresa dari Avila. Keduanya dijadikan Doktor Mistik Gereja.

III.1. Persatuan Transforman menurut Santo Yohanes dari Salib.


Cita-cita yang dikemukakan St.Yohanes dari Salib amat luhurnya, dan sekaligus menunjukkan
dengan cara yang amat jelas, apa yang dapat dicapai manusia dalam hidup ini, atau lebih tepat
digambarkan dengan jelas apa yang disediakan Allah bagi manusia yang sungguh-sungguh
merindukannya. Persatuan ini digambarkan sebagai berikut:
Dilahirkan dalam Roh Kudus selama hidup ini berarti menjadi begitu serupa
dengan Allah dalam kemurnian, tanpa suatu campuran ketidaksempurnaan apapun
juga. Karenanya transformasi murni dapat terjadi (biarpun tidak menurut
hakekatnya) melalui partisipasi dalam persatuan (Mendaki II,5).

Kemudian persatuan itu digambarkan lebih lanjut sebagai berikut:


Bila hal itu terjadi (yaitu pengosongan diri), jiwa akan diterangi oleh Allah dan
diubah ke dalam Allah. Dan Allah akan memberikan adaNya yang adikodrati
sedemikian rupa kepadanya, sehingga ia tampaknya seperti Allah sendiri dan akan
memiliki segala sesuatu yang dimiliki Allah sendiri. Bila Allah memberikan karunia
adikodrati ini kepada jiwa suatu persatuan yang demikian besarnya akan terjadi,
sehingga segala sesuatu yang ada pada Allah dan jiwa menjadi satu dalam
transformasi partisipatif, dan jiwa sendiri tampaknya lebih Allah daripada jiwa.
Sungguh, ia benar-benar Allah, karena partisipasi (Mendaki II,7).

Dalam persatuan seperti ini, jiwa diangkat kepada suatu pengertian yang mengatasi segala
pengertian:
"Ia melihat dirinya diangkat diatas segala pengertian kodrati kepada cahaya ilahi.
Pengalaman seperti ini dapat dibandingkan dengan keadaan seseorang yang
sesudah tidur panjang membuka matanya dan melihat cahaya yang luar biasa yang
tidak diduganya sama sekali" (Madah Rohani 15,24).

Dalam keadaan seperti ini, jiwa dibawa kepada suatu pengenalan Allah yang begitu mendalam
dan mesra, menghasilkan suatu sukacita dan kebahagiaan yang begitu mendalam, yang tidak
terperikan, sehingga tidak ada kata-kata yang dapat melukiskannya, karena sungguh merupakan
sesuatu yang tak terungkapkan, yang tak terkatakan. Dalam keadaan inilah Allah sering
mengkomunikasikan diri secara mendalam, sehingga orang boleh mengalami sifat Allah secara
luhur sekali. Setiap kali diberikan, pengenalan ini tetap tinggal dalam jiwa. Ini merupakan suatu
"kontemplasi murni" dan pada waktu itu jiwa mengerti dengan jelas, bahwa hal itu sungguh

21
tidak terperikan. Hal itu hanya bisa diungkapkan secara umum, karena kelimpahan dan
kenikmatan yang terlalu besar dari pengalaman ini (Mendaki II,26,5).

Pengenalan luhur ini hanya dapat diterima oleh orang yang telah sampai pada persatuan dengan
Allah itu sendiri, karena pada hakekatnya ini adalah persatuan itu sendiri. Pengenalan ini
merupakan suatu sentuhan ilahi di dalam jiwa. Allah sendiri yang dialami dan pengalaman itu
begitu luhur dan mulia, melampaui segala pengertian. Dibandingkan dengan ini semua, apa
yang biasanya dialami orang dalam pencurahan Roh Kudus dan sentuhan Allah yang lain,
hanyalah bayang-bayang saja.

Buah pengalaman ini begitu kayanya, sehingga langsung menghapuskan semua kekurangan
yang tidak bisa diatasi seumur hidup, betapapun orang berusaha mati-matian untuk
mengatasinya. Namun sentuhan ini sekaligus juga mengisi jiwa dengan kebajikan dan berkat
Allah, sehingga menjadikannya indah di hadapan Allah (Mendaki II,6). Sentuhan-sentuhan ini
menghasilkan kemanisan dan sukacita yang mendalam, sehingga satu sentuhan sudah cukup
untuk menghapuskan segala penderitaan dan karenanya memberikan kepada jiwa itu keberanian
untuk menderita bagi dan demi Kristus.

Kiranya perlu dicatat, bahwa pengenalan semacam ini tidak mungkin dicapai manusia,
bagaimanapun ia berusaha untuk itu. Namun biasanya hal itu diberikan kepada jiwa yang siap,
yaitu yang lepas dan kosong dari segala makhluk dan ikatan dan diberikan pada saat-saat yang
tidak disangka-sangka. Seperti dikatakan St.Teresa dari Avila, biarpun orang belajar seribu
tahun lamanya, ia tidak akan pernah sampai ke situ.

Dalam persatuan ini jiwa diubah seluruhnya menjadi ilahi, sehingga segala tindakannya
bersifat ilahi pula, yaitu dalam segala pengenalan dan cintanya. Dalam keadaan ini seluruh
aktivitas orang itu menjadi ilahi. Segala gerak-gerik jiwanya dibimbing oleh Allah sendiri.
Bahkan gerak pertama dari jiwanya bersifat ilahi, karena dia telah diubah seluruhnya menjadi
ilahi.

III.2. Persatuan Transforman menurut Santa Teresa dari Avila.


St.Teresa pun dengan pelbagai macam cara mengungkapkan persatuan cinta kasih tersebut
dengan gambaran-gambaran yang hidup sekali. Karya-karyanya merupakan pujian atas segala
kebesaran Tuhan yang menganugerahkan rahmat sedemikian besarnya kepada manusia yang
lemah itu.

St.Teresa antara lain menggambarkan persatuan yang amat mendalam dengan Allah ini sebagai
suatu pertunangan dan perkawinan rohani. Kemudian dalam Puri Batin, ruang V bab 2 (salah
satu karyanya), dia menggambarkan sentuhan Allah dalam suatu tingkat doa yang mendalam,
yang menjadikan manusia berubah menjadi manusia baru. Perubahan itu dibandingkan dengan
proses perubahan seekor ulat sutra menjadi kupu-kupu yang indah. Ulat itu sendiri jelek
tampaknya dan bisanya hanya merayap. Seekor kupu-kupu adalah jauh lebih indah dan juga
bisa terbang. Sebagaimana seekor ulat bila tiba waktunya akan menenun kepompongnya,
masuk ke dalamnya dan mati, kemudian muncul kembali dalam rupa makhluk yang baru:
seekor kupu-kupu indah yang lain sekali bentuknya dengan ulat yang sebelumnya, demikian

22
pula halnya dengan suatu jiwa yang diperbaharui dalam Kristus. Kristus merupakan kepompong
bagi jiwa itu, dimana dia diproses oleh sentuhan-sentuhan ilahi menjadi kupu-kupu. Bila jiwa
itu telah benar-benar mati bagi semangat duniawi dan dirinya sendiri maka melalui suatu
sentuhan ilahi yang diberikan dalam doa yang mendalam itu, jiwa diubah menjadi baru, dengan
sifat-sifat baru, laksana seekor ulat jelek diubah menjadi kupu-kupu yang indah. Maka waktu itu
dalam dirinya timbul suatu kerinduan yang besar untuk memuji dan memuliakan Tuhan dan
rasanya dia ingin lebur dan mati bagi Dia. Timbul pula keinginan-keinginan yang kuat untuk
laku tapa, dan kerinduan agar supaya semua orang mengenal Tuhan. Ia sangat menderita, bila
melihat Tuhan dihina orang. Memang menurut rencana Tuhan, rahmat persatuan yang demikian
luhurnya itu tidak diberikan untuk kepentingan orang itu sendiri saja, melainkan bagi kebaikan
orang lain. Semangatnya untuk keselamatan jiwa-jiwapun menjadi semakin berkobar.

Dalam Puri Batin ruang VI, diuraikan, bagaimana Tuhan dalam suatu tahap yang sudah amat
luhur, walaupun belum yang tertinggi, yang disebut pertunangan rohani, Tuhan memberikan
rahmat luar biasa kepada jiwa yang telah siap. Pada tahap ini seringkali kita jumpai gejala-
gejala tertentu seperti ekstase (= keluar dari diri sendiri dan terserap dalam Allah sehingga
seringkali panca indra tak berfungsi), penglihatan tentang Allah, para kudus, yang membawa
kebahagiaan besar dan kekuatan, sabda-sabda dan lain-lain. Anugerah-anugerah istimewa itu
sekaligus merupakan persiapan untuk pertunangan rohani. Jiwa harus dimurnikan lebih dahulu
sampai ia benar-benar layak untuk peristiwa besar itu. Pada saat itu penderitaan jiwa memang
amat besar, sehingga walaupun Sang Kekasih selalu berada dalam lubuk jiwanya yang terdalam,
ia tidak melihatnya, karena kegelapan pemurnian itu.

Sang Mempelai llahi juga dapat membakar jiwa melalui suatu kobaran cinta, yaitu suatu ‘rasa’
yang timbul dari kedalaman jiwa, dengan disertai suatu "keharuman" yang menyenangkan
seluruh pribadinya dan mengungkapkan kehadiran Sang Kekasih. "Jiwa digerakkan dengan
kerinduan besar untuk menikmatiNya dan dengan itu dipersiapkan untuk memuji Tuhan dan
mencintaiNya secara mendalam". Pada saat itu banyak sekali anugerah ilahi yang diberikan
kepada jiwa. Semuanya itu diberikan sebagai persiapan terakhir.

Dalam Puri Batin ruang VII St.Teresa menguraikan tahap terakhir dari persatuan ilahi itu, yaitu
yang disebut dengan istilah perkawinan rohani. Sebelum mewujudkan perkawinan rohani,
Allah membawa jiwa kepada tempat kediamanNya sendiri melalui suatu visiun intelektual
dimana jiwa melihat ketiga Pribadi Tritunggal Mahakudus yang mengkomunikasikan diri pada
jiwa itu. "Mula-mula roh diterangi dengan awan yang amat cemerlang". Jiwa melihat ketiga
Pribadi itu dengan jelas sekali dan dalam suatu pengenalan yang luar biasa, jiwa mengerti,
bahwa ketiga Pribadi itu sesungguhnya adalah satu, satu kuasa, satu Allah. Apa yang dahulu
dikenal lewat iman, kini dapat dikenalnya secara eksperiensial lewat visiun intelektual. Lewat
visiun itu Sabda Tuhan dalam Injil menjadi jelas, yaitu bahwa "Dia dan Bapa akan datang
kepadanya dan tinggal di dalam dia". Setiap hari jiwa ini akan semakin terpesona, karena
kehadiran ketiga Pribadi boleh dialaminya secara hampir terus-menerus. ‘Jiwapun tahu dengan
lebih jelas, bahwa Allah Tritunggal ada dalam dirinya, pada kedalaman lubuk hatinya yang
terdalam’.

23
Pengalaman akan Tritunggal dan kemesraan Allah pada tahap ini tidak menghalangi jiwa untuk
kegiatan-kegiatan lain atau mengganggu perhatiannya akan pekerjaan lahiriah, seperti pada
tahap-tahap sebelumnya. Jiwa tidak sepenuhnya terserap dan kenyataannya jiwa juga lebih
sibuk daripada sebelumnya dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengabdian pada Allah.
Tetapi begitu tugas-tugasnya selesai, jiwa kembali tinggal dalam kehadiran yang
membahagiakan dari sahabat- sahabat ilahinya. Bila jiwa tidak mengecewakan Allah, Dia tidak
akan pernah menarik kehadiranNya; dengan ini Dia ingin mempersiapkan jiwa untuk anugerah-
anugerah yang lebih besar.

Di sini Tuhan ingin menunjukkan, betapa besar kerinduanNya untuk bersatu dengan jiwa dan
sebagaimana mereka yang telah menikah tidak dapat diceraikan, demikian pula Dia tidak ingin
dipisahkan dari jiwa itu. Dia selalu menyertai jiwa itu.

IV. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapatlah kita rasakan kebesaran dan keagungan misteri cinta kasih Allah
yang melampaui segala pengertian itu. Seperti yang dikatakan Yesaya dan yang kemudian
dikutip Santo Paulus:
Tak ada mata yang pernah melihat,
tak ada telinga yang pernah mendengar,
dan tidak pernah timbul dalam hati manusia,
semua yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia” (1 Kor 2:9)

Kecuali itu satu orang yang mencapai persatuan transforman seperti itu jauh lebih tinggi
nilainya daripada banyak orang lain yang tidak mencapai tingkatan tersebut. Satu faal cinta
kasih yang dilakukan orang dalam tingkat persatuan transforman itu, jauh lebih bernilai
daripada segala perbuatan dan kebajikan yang dilakukannya seumur hidup sebelum mencapai
persatuan tersebut. Karena itu orang seperti itu sangat berharga bagi Gereja dan dunia.
Karenanya Gereja sangat menghargainya. Itulah pula sebabnya, mengapa seorang seperti Santa
Theresia dari Lisieux, yang selama hidupnya belum pernah berkotbah, diangkat oleh Gereja
menjadi pelindung Misi.

24
1.b. KEBAJIKAN TEOLOGAL

I. KEBAJIKAN TEOLOGAL PADA UMUMNYA


Pembahasan kita tentang kebajikan dan karunia Roh Kudus akan dipusatkan pada unsur-unsur
yang bersifat konstitutif (hakiki) bagi kesempurnaan Kristiani. Perlu diperhatikan, bahwa
walaupun semua kebajikan membantu kesempurnaan, namun pola tiap kebajikan yang aktif
dalam diri tiap pribadi ditentukan oleh panggilan atau status hidup mereka, dan juga oleh
karisma masing-masing pribadi. Maka kita jumpai adanya para kudus yang mempraktekkan
kebajikan-kebajikan heroik dan didorong oleh Roh Kudus yang sama, namun yang satu berbeda
dengan yang lain dalam pola kekudusannya.

Kebajikan-kebajikan itu disebut teologal, karena memampukan suatu pribadi untuk


berhubungan secara langsung dengan Tuhan. Ketiga kebajikan ini merupakan kebajikan
kristiani "par excellence". Tak ada yang lebih penting daripada iman, harapan, dan kasih,
karena ada atau tidaknya berarti surga atau neraka, hidup kekal atau kematian kekal, dan tak ada
perbedaan yang lebih penting daripada itu.

Iman, harapan dan kasih merupakan ketiga kaki sebuah tripod (penyanggah kamera yang
berkaki tiga) yang menopang seluruh hidup Kristiani kita. Setiap kaki tergantung dan
membutuhkan yang lain. Iman tanpa karya kasih adalah mati. Kasih yang tidak dibimbing iman
bukanlah kasih, agape, melainkan hanya perasaan dan sentimentalisme belaka, mudah berubah-
ubah menurut selera pribadi. Harapan tanpa iman hanyalah optimisme kosong. Optimisme tidak
sama dengan harapan, sehingga orang yang bertemperamen pesimis bisa memiliki harapan yang
kuat. Ketiga kebajikan ini merupakan dasar untuk semua kebajikan Kristiani. Kejujuran,
kebenaran, kesabaran, kemurnian, penguasaan diri, bahkan kasih kepada sesama, semuanya itu
adalah efek dari kehadiran Allah yang hadir lebih dahulu dalam diri kita, dan kehadiran ini
datangnya hanya bisa lewat iman, harapan dan kasih. Kita tidak melaksanakan kebajikan untuk
mencapai surga, tetapi kita melakukannya karena surga sudah sampai pada kita.

Penting sekali bagi kita untuk kembali pada yang dasar ini, karena masyarakat modern ini tidak
mengertinya. Kita hidup dalam suatu masa pasca Kristiani, suatu kekafiran modern, dan banyak
yang tidak sadar akan hal itu. Dunia dewasa ini merupakan kebalikan dari ketiga kebajikan
teologal itu. Keraguan, keputusasaan, dan egoisme merupakan tiang penopang hidup manusia
dewasa ini, bukan iman, harapan dan kasih. Dunia ini melihat iman sebagai sesuatu yang naif,
harapan sebagai impian di siang bolong, dan kasih sebagai kelemahan. Di sekitar kita tampak
materialisme yang semakin tumbuh subur, yang sebenarnya bukan lain daripada
ketidakpercayaan; kita lihat pula angka bunuh diri dan depresi yang bertambah, ungkapan
keputusasaan. Juga berkembangnya filsafat "pokoknya aku senang, pokoknya aku untung"
menjadikan kasih suatu kebodohan total.

Tanpa rahmat Allah tak seorangpun bisa menjadi baik. Tanpa kasih keadilan menjadi
kekejaman. Tanpa harapan keberanian berubah menjadi kenekadan murka. Tanpa iman segala
kebijaksanaan dunia ini hanyalah kebodohan belaka dalam pandangan Allah.

25
II. Iman
Ibarat sebuah tanaman, iman merupakan akarnya, harapan batangnya dan kasih bunganya.
Bunga itu yang paling indah, batangnya membuat tanaman tumbuh, tetapi akar harus ada lebih
dahulu. Apakah iman itu?

Iman dalam arti biblis sebagai iman yang menyelamatkan, adalah faal dengan mana kita
menerima hidup kekal. “Demikian besar kasih Allah…. Supaya barangsiapa yang percaya
kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Iman adalah jawaban ‘ya’ dasariah
kepada Allah dengan segenap hati, kehendak dan pusat ada kita. Percaya dalam arti ini berarti
menerima Allah sendiri. Maka iman kita pertama-tama tertuju kepada Allah, kepada pribadi
Allah. Dengan jawaban iman ini saya percaya dan menyerahkan diri kepada Allah. Inilah yang
disebut iman primer. Maka iman ini pertama-tama membawa kita masuk dalam hubungan
pribadi dengan Allah.

Karena saya percaya kepada Allah, maka saya juga percaya kepada segala sesuatu yang
dikatakan atau diperintahkan Allah. Inilah iman sekunder. Iman sekunder harus berdasar pada
iman primer, tetapi iman primer harus diungkapkan dalam iman sekunder, supaya tidak tinggal
suatu pengertian intelektual belaka.

Iman adalah dasar ketaatan. Abraham taat kepada Allah, karena ia punya iman, maka iapun
disebut bapak orang beriman. Sebaliknya kejatuhan pertama di Firdaus adalah dosa melawan
iman. Hawa pada dasarnya lebih percaya kepada ular yang membohongi dia, daripada percaya
kepada Allah. Karena itu ia lalu tidak taat.

St.Paulus berkata, bahwa "apa yang tidak dilakukan dengan iman adalah dosa" (Rm.14:23).
Iman adalah jawaban ‘ya’ kepada Allah, sedangkan dosa sesungguhnya merupakan jawaban
‘tidak’ kepada Allah. Iman berlawanan dengan dosa.

Iman juga dimengerti dalam arti yang lebih sempit, yaitu sebagai persetujuan budi, didorong
oleh kehendak, terhadap segala kebenaran yang diwahyukan Allah. Inilah iman sekunder,
seperti yang diajarkan dalam katekismus dahulu dan untuk waktu yang lama sekali mewarnai
teologi katolik. Pengertian ini berdasarkan ajaran St.Yakobus (Yak 2:14-25), bahwa iman tanpa
pekerjaan adalah mati.

Di samping itu ada sejenis iman yang oleh St.Paulus disebut sebagai salah satu karunia Roh
Kudus. Ini merupakan iman yang khusus, yang menghasilkan mujizat-mujizat, yang disebut
karunia iman. (lihat : buku Bertumbuh dalam Karnia-karunia Roh Kudus Bab VI Karunia
Iman).

Kesalahan terbesar dewasa ini dan yang sudah menjangkiti banyak orang kristen ialah
menjadikan iman sebagai suatu perkara subyektif dan psikologis. Kebenaran menjadi hanya
"kebenaranku". Baik Kitab Suci dan budi yang sehat mengatakan sebaliknya. Kita harus
menyesuaikan diri dengan kebenaran, bukan sebaliknya. Kita harus jujur. Hanya ada satu alasan
jujur mengapa kita harus percaya, yaitu karena hal itu benar. Allah telah berbicara dan

26
bertindak. Kini Ia menunggu jawabanku. Apa jawabanku? Ya atau tidak? Kalau ya, aku hidup,
kalau tidak, aku mati. Sesungguhnya iman itu sederhana sekali: katakan saja ya kepada Tuhan.

III. Harapan
Tak seorangpun dapat hidup tanpa harapan. Menjadi manusia berarti terus tumbuh. Kita semua
ini adalah bayi-bayi rohani. Dan yang paling dewasa di antara kita, merekalah yang pertama
mengakuinya. Harapan adalah kehidupan jiwa. Jiwa yang tidak punya harapan adalah jiwa yang
mati. Sebagaimana tubuh mati bila jiwanya pergi, demikian pula jiwa itu mati bila sumber
hidupnya hilang. Sumber hidup itu ialah rohnya, yang memberikan kepadanya motivasi untuk
hidup dan untuk mati, yaitu harapan. Tanpa harapan jiwa tidak bisa hidup.

Dalam zaman pengharapan orang menengadah ke langit dan melihat ‘surga’. Dalam zaman
keputusasaan orang menyebutnya ‘ruang’. Kekosongan telah menggantikan kepenuhan. Kalau
nenek moyang kita bisa ‘mendengar musik surgawi’, kini orang hanya mendengar ‘kesunyian
ruang angkasa yang menakutkan’.

Dewasa ini orang sering menyamakan harapan dengan keinginan samar-samar: ‘alangkah
indahnya bila ...’. Tetapi pengharapan kristiani, bukan suatu keinginan atau perasaan,
melainkan suatu keyakinan yang pasti, suatu jaminan yang kokoh. Kita mengubur saudara kita
yang meninggal dalam harapan kokoh akan kebangkitan. Pengharapan kristiani adalah rumah
yang dibangun di atas batu karang, yaitu Kristus sendiri. Pengharapan datangnya bukan dari diri
kita sendiri, bukan yang diciptakan sendiri. Pengharapan adalah jawaban ya terhadap janji-janji
Allah, karena kita tahu, bahwa Allah itu benar dan setia dan pasti akan menepati janjiNya.
“Pengharapan tidak mengecewakan, karena cinta kasih telah dicurahkan ke dalam hati kita”
(Rom 5:5).

Obyek harapan kita ialah Allah sendiri. Juga dalam hal ini kita harus sadar, bahwa inisiatif
datangnya selalu dari Allah. Kalau kita mencari Allah, sebabnya ialah "karena Dia lebih dahulu
telah mencari kita". Seperti dikatakan Santo Yohanes: “Kita mengasihi, karena Allah telah
lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19). Karena itu harapan merupakan jawaban kita
terhadap janji-janjiNya. Oleh sebab itu harapan bersifat jelas dan khusus, bukan sesuatu yang
samar-samar, karena janji-janji Allah bersifat jelas dan khusus, walaupun harus selalu diterima
dalam iman. Harapan ini bersandar pada Sabda Allah sendiri, yang mengungkapkan janji-
janjiNya.

Allah kita adalah Allah pemberi janji-janji dan Dia menepati semua janjiNya secara harafiah,
sehingga janji-janji itu terlaksana. Kebenaran menurut Kitab Suci adalah suatu realitas sejarah.
Mesias bukanlah suatu pengertian, melainkan seorang Pribadi. Penciptaan, kejatuhan, inkarnasi,
wafat, kebangkitan, kenaikan ke surga, Pentekosta, kedatangan kedua, bukan hanya mitos atau
lambang-lambang belaka, melainkan peristiwa-peristiwa aktual. Kebenaran adalah sesuatu yang
dramatik, sesuatu yang terjadi, kita dapat melihatnya. Maka St.Yohanes memulai suratnya yang
pertama dengan kata-kata yang mengandung kekaguman penuh hormat akan misteri inkarnasi:
"Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata
kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman
hidup itulah yang kami wartakan" (1 Yoh.1:1).

27
Pengharapan berarti, bahwa kerinduanku yang implisit akan Allah, betapapun gelapnya ataupun
biarpun tak kusadari, adalah jejak Allah sendiri dalam diriku, karena pada dasarnya aku
“diciptakan menurut gambar dan kesamaan Allah sendiri” (Kej 1:26). Pengharapan berarti,
bahwa dorongan dari kerinduan akan suatu kebahagiaan yang tidak bisa diberikan dunia ini,
merupakan suatu tanda yang pasti, bahwa aku diciptakan untuk Pribadi yang adalah Sang
Kebahagiaan itu sendiri, dan hanya Dia saja. Kita takkan pernah melebih-lebihkan arti
pengharapan, karena alternatifnya hanyalah keputusasaan.

IV. Kasih
Kasih adalah realitas terbesar yang ada dalam alam semesta ini (bdk. 1 Kor 13:13). Kitab Suci
tidak pernah mengatakan, bahwa Allah adalah kebenaran, keadilan atau keindahan, biarpun
Allah memang sungguh-sungguh benar, adil dan indah. Tetapi “Allah adalah kasih” (1 Yoh.4:
8.16). Kasih adalah hakekat Allah, seluruh AdaNya adalah Kasih. Segala sesuatu dalam Dia
adalah kasih, bahkan keadilan-Nyapun adalah kasih.

Kasih, atau agape dalam bahasa Yunaninya, bukanlah soal perasaan. Perasaan bersifat dangkal
dan labil, tetapi agape datangnya dari hati, menurut istilah Kitab Suci, yaitu pusat ada kita yang
terdalam.

Kasih ini merupakan persahabatan antara Allah dan manusia, dan karenanya mengadakan
komunikasi timbal balik. Karena itu kasih mengandaikan adanya rahmat pengudus yang
menjadikan kita anak-anak Allah.

Kasih adalah kemampuan yang tetap yang dicurahkan Allah ke dalam kehendak kita, dengan
mana kita mencintai Allah di atas segala sesuatu dan yang lainnya demi Dia. Kasih pertama-
tama mengarah kepada Allah dan baru kemudian terarah kepada diri sendiri dan orang lain.
Allah kita kasihi, karena Dia adalah kebaikan tertinggi dan tujuan akhir hidup kita.

Kasih adalah kebajikan yang paling luhur, bukan saja karena menyatukan kita dengan Allah,
tetapi juga karena kasih adalah pengikat yang menyempurnakan semua kebajikan. Kasih jauh
melampaui 2 kebajikan teologal lainnya, yaitu iman dan pengharapan, walaupun di dunia ini
kasih selalu disertai iman dan harapan. Kasih terdapat dalam kehendak. Memang dari dirinya
sendiri, budi lebih luhur dari kehendak, karena tak mungkin orang dapat mengenal apa yang
tidak diketahui. Tetapi faal budi itu berbeda dengan faal kehendak. Budi menarik segala sesuatu
kepada dirinya sendiri, atau meleburnya ke dalam cetakan intelektualnya. Akibatnya, kalau
yang dikenal itu makhluk lebih rendah, seperti benda-benda, ia meninggikannya ke jenjang
intelektual. Tetapi bila ia mengenal hal-hal yang lebih tinggi seperti kebenaran ilahi atau Allah,
ia menariknya ke dalam cetakan intelektualnya yang terbatas itu.

Sebaliknyalah yang terjadi dengan kehendak. Karena faal kasih kehendak beristirahat dalam
Allah. Sesuai dengan sifatnya, yaitu untuk mencintai, kehendak beristirahat dalam yang
dicintai. Karena itu bila kehendak mencintai barang-barang yang lebih rendah, yaitu barang-
barang duniawi, dia merendahkan martabatnya. Tetapi sebaliknya kalau dia mencintai apa yang
lebih tinggi, seperti misalnya Allah, maka kehendak dinaikkan martabatnya ke tingkat yang
dicintai, dimana ia beristirahat dalam cinta. Oleh sebab itu Santo Augustinus dapat berkata:

28
‘Kalau kamu mencintai dunia, kamu menjadi duniawi; tetapi bila kamu mencintai Allah, apa
yang harus dikatakan, kecuali bahwa kamu adalah ilahi?’
Oleh sebab itu di dunia ini mencintai Allah lebih luhur daripada mengenal Allah. Seorang
teolog dapat belajar banyak dan mengetahui banyak tentang Allah, namun hanya secara
intelektual, sedangkan seorang yang sederhana yang hampir tak tahu apa-apa tentang teologi,
dapat mengasihi Allah secara mendalam, dan yang terakhir ini jauh lebih baik.

Suatu kesimpulan praktis lainnya dapat ditarik dari ajaran luhur ini. Satu-satunya jalan supaya
tidak merendahkan diri kita karena cinta makhluk rendahan, ialah mencintainya dalam Allah,
lewat Allah dan demi Allah. Dengan kata lain kita harus memilikinya karena kasih. Kasih dapat
mengubah segala sesuatu yang disentuhnya, bahkan barang-barang yang lebih rendah daripada
kita, tetapi yang diarahkan lewat cinta kasih demi kemuliaan Allah. Kasih memberikan nilai
illahi kepada segala sesuatu yang disentuhnya.

Dalam hidup ini kasih dapat berkembang, karena kasih merupakan gerak kepada Allah, tujuan
akhir kita. Selama kita masih dalam perjalanan, kita dapat selalu semakin mendekati tujuan
kita. Mendekatnya kepada tujuan ini justru terlaksana oleh kasih. Kecuali itu kasih dapat
tumbuh terus tanpa batas di dunia ini. Ini tidak berarti, bahwa kasih tidak dapat mencapai suatu
kesempurnaan relatif, seperti yang sudah kita lihat.

Kasih dapat berkembang bukan karena pertambahan, melainkan karena pengakaran yang lebih
mendalam di dalam subyeknya. Jadi supaya kualitas kasih bisa berkembang, dibutuhkan faal
kasih yang lebih besar, atau lebih dalam daripada habitus (=kemampuan tetap untuk bertindak)
yang sudah ada.

Suatu kesimpulan praktis dapat kita tarik dari hal ini. Orang-orang yang hidup dalam kesuaman
dan kelalaian dapat melumpuhkan hidup kristen mereka seluruhnya, juga bila mereka hidup
dalam rahmat dan melakukan banyak perbuatan baik. Banyak sekali orang yang hidup dalam
rahmat Allah, tanpa melakukan kesalahan-kesalahan besar, bahkan melakukan banyak
perbuatan baik, namun mereka itu masih jauh dari kudus. Bila mereka mengalami perlawanan
atau kesukaran, mereka menjadi marah; bila mereka kekurangan sesuatu, keluhannya
membubung ke langit. Bila atasannya memerintahkan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka
mengeluh dan menggerutu. Bila orang mengkritik atau menghina mereka, mereka tidak dapat
mengampuni atau melupakannya. Semuanya itu menunjukkan bahwa mereka itu masih jauh
sekali dari kesempurnaan.

Bagaimana hal itu dapat diterangkan, padahal orang-orang itu melakukan sedemikian
banyaknya perbuatan baik dan sudah mengabdi Tuhan sekian lamanya? Penjelasannya
sederhana sekali: mereka telah melakukan banyak pekerjaan baik, memang benar, tetapi mereka
telah melakukannya dalam keadaan suam. Dan mereka tidak melakukannya sedemikian rupa,
sehingga setiap tindakan baru tidak disertai semangat yang lebih besar. Sebaliknya semakin hari
semangat yang menyertai tiap tindakan semakin merosot dan semakin kurang sempurna.
Mereka itu tetap suam seperti semula. Cinta kasih tidak hanya terarah kepada Allah saja,
melainkan juga kepada sesama. Kasih Allah menyebabkan kita mengasihi segala sesuatu yang
menjadi milik Allah, atau yang mengungkapkan kebaikan Allah. Padahal jelaslah, bahwa

29
sesama kita adalah milik Allah dan mengambil bagian dalam kebaikan Allah. Kita mengasihi
sesama kita dengan kasih yang sama dengan mana kita mengasihi Allah. Tidak ada dua kasih,
melainkan hanya satu kasih saja yang berarah dua.

30
2. MENCARI DAN MENGENALI KEHENDAK ALLAH

I. RENCANA ALLAH
Selama hidupNya Yesus selalu berpegang kepada kehendak Allah BapaNya. Kehendak Bapa,
itulah pedoman hidupNya. Segala sesuatu dilakukanNya sesuai dan selaras dengan kehendak
Bapa. "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yoh 4:34).
KedatanganNya di dunia justru hanya punya satu tujuan, yaitu melakukan kehendak Bapa:
"Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki ...Lalu Aku berkata: Sungguh Aku datang
...untuk melakukan kehendakMu, ya AllahKu" (Ibr 10:5-7). Ia telah turun dari surga hanya
dengan tujuan satu itu: kehendak Bapa. "Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan
kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku " (Yoh 6:38).
Karena itu Ia dapat melakukan segala pekerjaan besar yang dipercayakan Bapa kepadaNya.
Bapa sendiripun amat berkenan kepadaNya: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia"
(Mrk 9:7). Dan sebelum itu, ketika Ia dibaptis di sungai Yordan, Bapa memberi kesaksian
ini:"Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan" (Mrk 1:11).

Karena itu bagi kitapun kehendak Allah adalah norma tertinggi hidup kita. Tak ada sesuatu
yang lebih suci, tak ada sesuatu yang lebih luhur dan lebih benar daripada kehendak Allah.
Kehendak Allah adalah pangkal keselamatan kita, pangkal kebahagiaan kita. Kehendak Allah
adalah juga pangkal keberhasilan kita. Kehendak Allah adalah kebijaksanaan dan hikmat
tertinggi.

Apa yang dikehendaki Allah adalah yang terbaik bagi kita karena Allah hanya menghendaki
yang terbaik saja bagi kita. Sejak semula Allah telah mempunyai rencana yang indah bagi kita.
Karena Ia mengasihi kita, segala sesuatu yang direncanakanNya bagi kita adalah baik. Seperti
dikatakanNya dalam Yeremia, Ia hanya mempunyai rancangan yang indah bagi kita: "Aku ini
mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman
Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan
kepadamu hari depan penuh harapan" (Yer 29:11).

Itulah sebabnya ketika Allah menciptakan alam semesta ini, semuanya diciptakan dalam
keadaan baik. Setiap kali setelah selesai menciptakan satu bagian, Allah memandang karya
ciptaanNya dan melihat bahwa "semuanya baik" (Kej 1:10). Dan ketika Ia selesai menciptakan
manusia, Kitab Suci bahkan mengatakan "bahwa semuanya amat baik" (Kej 1:31). Karena itu
sejak semula rencana Allah bagi kita semuanya indah dan baik. Ia menciptakan firdaus untuk
manusia, supaya manusia hidup di dalamnya dengan bahagia (Kej 2:8-15). Hubungan antara
Allah dan manusiapun amat mesra waktu itu. Hal itu digambarkan dengan lukisan ini: "Sore
hari Allah berjalan-jalan di taman itu." (Kej 3:8). Itulah rencana Tuhan bagi kita, yaitu supaya
kita bahagia: baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.

II. MENGENALI KEHENDAK ALLAH


Karena itu supaya hidup kita penuh kebahagiaan, kita harus hidup sesuai dengan kehendak
Allah. Bila hidup kita serasi dengan kehendakNya, kita akan bahagia. Bila bertentangan dengan
kehendak itu hidup kita akana merana. Karena itu betapa pentingnya hidup menurut kehendak
Allah.

31
Kehendak Allah ini dapat dikenal melalui beberapa sumber:
II.1. Firman Tuhan
Sumber pertama dan terutama untuk mengenali kehendak Allah ialah firman Tuhan
sendiri. Melalui firmanNya itu Allah menyatakan apa yang menjadi rencana, apa yang
menjadi kehendakNya, sehingga dengan mengikuti firman Tuhan, kita akan sampai pada
pengenalan yang sempurna akan kehendak Allah. Misalnya bila Tuhan bersabda: “Aku
mengasihi engkau dengan kasih abadi”, kita harus sungguh-sungguh percaya, bahwa itu
benar, bahwa Tuhan mengasihi kita. Bila Ia menyuruh menyerahkan segala kekuatiran kita
kepadaNya, itu berarti bahwa bila demikian Ia sendiri akan melindungi kita dan
membebaskan kita. Firman Tuhan menyatakan kepada kita segala kehendak dan
rencanaNya serta pikiranNya sendiri. Jadi dengan mempelajari firman Tuhan kita akan
mengetahui kehendak Allah sendiri. Firman Tuhan itu kita jumpai dalam Kitab Suci.
Karena manusia sering mengabaikan firman Tuhan, hidupnya juga dipenuhi segala macam
kekacauan.

II.2. Ajaran Gereja


Ajaran Gereja juga menyatakan kehendak Allah, karena Gereja didirikan oleh Tuhan
Yesus sendiri dan dijiwai oleh Roh Kudus. Ia didirikan justru untuk mengajar dan
membimbing para murid serta untuk menafsirkan firman Tuhan secara otentik, artinya
secara tepat dan benar. Karena itu dengan menerima ajaran Gereja kita menerima ajaran
Tuhan sendiri. Dengan mengikuti petunjuknya, kita mengikuti petunjuk Allah sendiri:
"Siapa yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu,
ia menolak Aku" (Lk 10:16).

II.3. Status hidup


Status hidup Anda serta kewajiban yang mengalir daripadanya merupakan pancaran
kehendak Allah. Allah menghendaki agar supaya suami dan isteri saling mengasihi dengan
segenap hati dan dengan setia. Ia menghendaki agar supaya anak-anak mencintai dan
menghormati orang tuanya dan agar supaya orang tua mendidik anak- anaknya secara
Kristiani. Allah menghendaki, agar supaya seorang kepala keluarga bertanggung jawab
terhadap kesejahteraan keluarganya dan hidup sebagai seorang kepala keluarga dan bukan
sebagai seorang biarawan. Misalnya ia tidak dapat melalaikan keluarganya dengan dalih
melayani Tuhan, atau seorang istri tidak mau melayani suami dan anak-anaknya karena
mau melayani Tuhan. Kalau begitu apakah mereka tidak boleh melayani Tuhan ? Boleh,
dan bahkan wajib, namun caranya sesuai dengan status dan situasi hidupnya.
Karena itu bila Anda punya tanggung jawab yang macam-macam, semuanya itu bisa saling
bertabrakan. Misalnya bila Anda ikut pelbagai macam kegiatan sekaligus, sehingga
akhirnya bingung sendiri bagaimana caranya mengatur waktu. Karena itu Anda harus
berani mengadakan prioritas dalam hidup Anda. Anda harus mendahulukan apa yang harus
didahulukan dan dengan demikian Anda sendiri tidak akan bingung. Jangan mencari jam
yang ke 25, melainkan adakanlah prioritas dalam hidup Anda.

II.4. Tanda-tanda Lahiriah


Peristiwa atau kejadian yang Anda hadapi dan alami dapat menjadi petunjuk akan
kehendak Allah bagi Anda. Perhatikan apa yang terjadi di sekitar Anda dan berdoalah, agar

32
supaya diberi hikmat untuk mengerti apa pesan Tuhan lewat segala peristiwa itu. Kita tahu,
bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa diketahui oleh Allah. Kita juga yakin, bahwa
Allah dapat mengatur segala peristiwa atau kejadian sedemikian rupa, sehingga dari situ
tampak jelas kehendakNya. Misalnya di tempat Anda atau di paroki Anda ada persekutuan
doa atau komunitas, atau kegiatan rohani lainnya yang dapat membangun iman umat, itu
berarti bahwa Anda dipanggil Tuhan untuk ikut mendukung dan bukannya untuk melawan
inisiatif serupa itu. Bila tetangga Anda dalam kesukaran besar, bila sahabat Anda dalam
krisis, itu berarti bahwa Allah meminta Anda melakukan sesuatu bagi mereka. Bila Anda
merasa terkuras tenaga Anda, bingung dan mudah jengkel dalam kegiatan yang baru Anda
masuki, mungkin itu tanda, bahwa Anda harus harus memikirkan kembali pendekatan
Anda atau meninjau kembali keputusan Anda.

Itulah tanda-tanda lahiriah yang dapat dipakai Allah untuk berbicara kepada Anda.
Kadang-kadang kehendak Allah begitu jelasnya, baik lewat tanda dan peristiwa lahiriah
yang disertai pengertian batin sehingga tidak ada keragu-raguan lagi. Namun seringkali
tidak jelas, sehingga hanya dapat Anda ketahui bila Anda mengikuti bimbingan batin Allah
sendiri yang dilakukanNya lewat dorongan dan gerak batin Anda.

II.5. Tanda-tanda batin


Tanda-tanda batin ini tertulis dalam batin kita sendiri oleh Roh Kudus. Tanda-tanda itu
dapat berupa sabda batin, penglihatan, rasa batin, kecenderungan hati atau pengertian batin
yang datang dari Roh Kudus yang hadir dalam diri kita. Melalui semua itu Roh mau
menunjukkan kepada kita arah mana yang harus kita ambil dalam perjalanan hidup kita ini.

Sabda batin dan penglihatan memang merupakan suatu bimbingan yang khusus, jarang
terjadi. Untuk uraian lebih lanjut silahkan membaca buku saya: Cita-cita Rohani Yohanes
dari Salib.

Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas bimbingan yang lebih umum lewat rasa
batin, kecenderungan hati atau pengertian batin. Mengenali tanda-tanda batin tersebut serta
sekaligus menafsirkan tanda-tanda lahiriah adalah proses yang lebih lazim dan yang
memang seringkali harus kita lakukan. Hal itu khususnya akan kita perlukan bila kita
menghadapi situasi-situasi tertentu seperti:
1. Bila Anda menghadapi suatu pilihan antara dua hal yang baik atau lebih, seperti
umpamanya: apakah aku harus mengikuti kegiatan rutin tertentu ataukah harus tinggal di
rumah bersama keluarga; apakah aku harus menerima tawaran untuk ikut seminar atau
pelayanan tertentu; apakah aku harus berkeluarga ataukah masuk seminari atau biara,
ataukah harus tinggal single untuk Tuhan di tengah dunia ?
2. Bila Anda menghadapi suatu situasi baru, kesempatan baru, atau pilihan, seperti
misalnya ada tawaran pekerjaan baru, diminta untuk menikah, diminta untuk pelayanan
di tempat tertentu, dll.

33
III. PROSES UNTUK MENGENALI KEHENDAK ALLAH
Proses untuk mengenal kehendak Allah ini kadang-kadang juga disebut dengan istilah
‘penegasan rohani’. Supaya dapat mengenali kehendak Allah lewat tanda-tanda batin tersebut,
di bawah ini dapat Anda jumpai beberapa pedoman praktis:

1. Pertama-tama siapkanlah batin Anda dalam doa, sehingga Anda mencapai suatu kerelaan
untuk mengikuti kehendak Allah, apapun itu, karena yakin bahwa itulah yang terbaik bagi
Anda. Bila Anda telah rela dan siap mengambil keputusan sesuai dengan kehendak Allah,
maka Anda dapat mengambil langkah berikutnya.

2. Carilah informasi yang memadai tentang situasi, peristiwa, perkara dan orang-orang yang
terlibat dalam pilihan Anda. Pelajari dan pertimbangkan segala pro dan kontranya. Carilah
juga tanda-tanda lahiriah bimbingan Allah. Waktu mempelajari semua itu perhatikan pula
ketiga sumber bimbingan Allah yang telah disebutkan di atas. Segala sesuatu yang
berlawanan dengan Kitab Suci, ajaran Gereja dan status hidup Anda haruslah dianggap
sebagai suatu godaan.

3. Bawa persoalan Anda dengan segala pro dan kontranya kepada Yesus dalam doa.
Berbicaralah kepada Yesus sebagai kepada seorang sahabat yang mengasihi Anda.
Ceriterakanlah kepadaNya segala aspirasi dan kekuatiran Anda. Bertanyalah kepadaNya
bagaimana pandanganNya tentang hal itu dan mohonlah kepadaNya, agar membantu Anda
mengambil keputusan yang tepat. Setelah berdoa sejenak kepada Tuhan secara itu, cobalah
tinggal tenang di hadiratNya. Anda dapat memuji Dia, atau berdoa dalam bahasa roh atau
hanya tinggal diam saja di hadapanNya.

4. Bacalah tanda-tanda batinnya. Ketika Anda berbicara dengan Tuhan dan lebih-lebih lagi
ketika Anda diam di hadapanNya, Roh Allah berkarya di dalam diri Anda. Bila keputusan
atau tindakan yang akan Anda ambil itu sesuai dengan kehendak Allah, maka Roh Kudus
akan menimbulkan damai, terang, kasih, ketertarikan batin dan hiburan. Melalui tanda-tanda
positif itu Roh berkata: "Ya, itulah yang saya kehendaki".

Bila keputusan atau tindakan yang akan Anda ambil itu tidak sesuai dengan rencana Allah,
maka Anda akan mengalami tanda-tanda yang negatif seperti ketidaktenangan, ketakutan,
kegelapan, keseganan dan rasa kehadiran Allah melenyap. Melalui tanda-tanda itu Roh mau
berkata: ‘Bukan, itu bukan yang Kukehendaki.’

Dalam mengambil keputusan penting, seperti misalnya menentukan panggilan hidup,


perubahan besar dalam hidup, Anda dapat melihat dari kedua sisinya secara bergantian.
Misalnya untuk menentukan panggilan hidup, doakan lebih dahulu seandainya Anda masuk
biara, reaksinya bagaimana. Kemudian doakan seandainya Anda mau berkeluarga, reaksinya
bagaimana. Kedua hal itu akan memperkuat kesimpulannya. Misalnya bila waktu Anda
mendoakan masuk biara Anda mengalami tanda-tanda yang positif, sedangkan waktu
mendoakan berkeluarga Anda mengalami tanda-tanda negatif, jelaslah kiranya bahwa Tuhan
memanggil Anda untuk hidup membiara. Kalau sebaliknya waktu mendoakan masuk biara
Anda gelisah dan mengalami tanda-tanda negatif, sedangkan waktu berdoa tentang hal

34
berkeluarga Anda mengalami tanda-tanda positif, jelaslah bahwa Anda dipanggil untuk
berkeluarga. Dengan cara yang sama Anda dapat berdoa dan mohon bimbingan Tuhan,
apakah misalnya Anda harus pindah ke kota lain atau tidak, serta keputusan-keputusan
lainnya.

5. Seringkali tanda-tanda batin itu digelapkan dan dikaburkan oleh perasaan-perasaan senang
dan tidak senang, prasangka, ketakutan, ambisi, keinginan yang belum terpenuhi, tekanan
sosial dan godaan-godaan. Karena itu di atas saya katakan, bahwa Anda harus lebih dahulu
berdoa untuk menyerah kepada kehendak Allah, sehingga mampu mengenali tanda-tanda
tersebut. Lagipula kita harus bertekun dalam doa, supaya tanda-tanda tadi menjadi semakin
jelas. Roh Kudus akan berkarya secara konsisten, sedangkan pikiran dan perasaan kita akan
berubah, sesuai dengan situasi. Semakin Anda bertekun dalam doa, Roh Kudus akan
membantu Anda melihat semuanya dengan jelas.

6. Dalam menghadapi keputusan-keputusan penting, misalnya waktu harus menentukan


panggilan hidup, ulangilah doa itu berkali-kali selama beberapa hari, bahkan selama
beberapa minggu kalau perlu. Dalam hal itu penting sekali menuliskan dan mencatat apa
yang Anda alami dan rasakan waktu itu, baik yang positif maupun yang negatif, supaya
sesudah itu Anda dapat memakainya untuk mengenali petunjuk Allah. Kalau pengalaman
Anda terlihat menuju suatu arah secara konsisten, Anda dapat menarik kesimpulan dengan
hati penuh damai ke mana arah yang dikehendaki Allah bagi Anda. Sebaliknya kalau
pengalaman Anda agak kacau, tidak konsisten, itu tandanya Anda belum siap melakukan
penegasan rohani tersebut, karena barangkali hati Anda belum siap melakukan apa yang
dikehendaki Allah. Kalau demikian, berdoalah terus sampai Anda menemukan kesiapan dan
kerelaan melakukan kehendak Allah, apapun itu.

7. Sebelum mengambil keputusan penting baiklah Anda berkonsultasi dengan pimpinan Anda,
dengan pembimbing atau orang lain yang lebih berpengalaman. Dalam kasus-kasus tertentu,
bila ada dorong- an batin, Anda dapat berdoa minta tanda sebagai penguat dari tanda-tanda
batin tersebut, dan bukannya untuk menggantikan proses penegasan tersebut, misalnya Anda
dapat berdoa: "Tuhan, bila memang kehendakMu saya pindah pekerjaan, singkirkanlah ha-
langan yang menghadang itu".

Mengenali kehendak Allah secara komuniter

Ini adalah usaha bersama sebagai anak-anak Allah untuk mengenali kehendak dan rencana
Allah bagi mereka sebagai pribadi atau sebagai komunitas. Komunitas berkumpul dalam nama
Tuhan dan dalam Roh Tuhan, dalam semangat cintakasih timbal balik dan keserasian, dalam
kerendahan hati dan kerelaan hati untuk melakukan kehendak Tuhan, apapun itu, karena yakin,
bahwa Allah hanya dapat menghendaki yang terbaik bagi kita yang percaya kepadaNya.

Dalam proses penegasan komuniter ini perlu disadari adanya bahaya-bahaya tertentu, yaitu:
1. memihak kelompoknya atau gengnya, perpecahan, persaingan, kecurigaan

35
2. keterpusatan pada diri sendiri, sehingga menjadikan kelompok itu buta terhadap kepentingan
Gereja atau kepentingan umum yaang lebih besar
3. ambisi manusiawi, rekayasa dan rencana sendiri, yang menjadikan orang tidak peka terhadap
bisikan Roh.

Supaya dapat mengadakan penegasan rohani yang obyektif dan baik, masing-masing harus
menyingkirkan halangan-halangan di atas. Mereka harus sungguh-sungguh jujur dan rela
mencari kehendak Allah. Kehendak Allah harus sungguh menjadi prioritas masing- masing.
Karena itu penegasan komuniter seperti itu hanya mungkin bila ada persaudaraan sejati dan
sikap saling menghargai dan saling mempercayai dalam komunitas tersebut.

Langkah-langkah yang harus diikuti kelompok/komunitas itu pada dasarnya sama seperti di
atas, yaitu:
1. Berdoalah sampai masing-masing benar-benar rela menerima kehendak Allah, apapun itu.
2. Cari informasi yang penting dan tepat tentang persoalan tersebut. Uraikan dan diskusikan
semuanya dan kalau perlu tanya pendapat seorang ahli dalam bidang tersebut.
3. Dengarkan Allah dalam doa yang hening dan kenalilah tanda- tanda batin yang menunjukkan
kehendak Allah.
4. Sesudah itu berkumpullah kembali dan berbicaralah secara bergiliran, masing-masing
mengungkapkan apa yang menurut pendapatnya adalah kehendak Allah. Bila semua anggota
atau sebagian besar dari kelompok itu sudah cukup dewasa rohaninya, maka akan terdapat
kesepakatan atau kuasi kesepakatan.

Bila tidak terdapat kesepakatan, itu dapat berarti bahwa ke- lompok memerlukan informasi
lebih lengkap serta diskusi lebih matang, karena mungkin sekali ada unsur penting yang
dilupakan. Mungkin juga bahwa kelompok membutuhkan pertobatan yang lebih mendalam,
atau butuh waktu lebih banyak untuk doa dan mendengarkan Roh. Proses tersebut dapat
diulangi sampai terdapat kesepakatan.

Rm Yohanes Indrakusuma O.carm.

36
3. KARISMA DI DALAM HIDUP GEREJA

1. KARISMA DALAM GEREJA


Sepanjang sejarahnya Gereja selalu dijiwai oleh Roh Kudus. Dengan sebenar-benarnya Roh
Kudus tidak pernah absen dari Gereja, sebab tanpa Roh Kudus Gereja menjadi tidak berdaya
dan akan mati. Bahwa hingga hari ini Gereja mampu memperbaharui diri dan selalu mempunyai
vitalitas untuk memperbaharui diri, merupakan bukti, bahwa Roh Kudus sungguh-sungguh
berkarya di dalamnya. Memang benar, bahwa masa-masa tertentu kehadiran-Nya lebih tampak
dan terasa daripada masa-masa lain, namun Dia selalu hadir. Kehadiran itu sangat nyata sekali
dalam abad-abad pertama Gereja. Kehadiran Roh Kudus yang disertai dengan berkembangnya
pelbagai macam karunia Roh yang biasanya disebut dengan istilah karisma memang
mengagumkan sekali dalam masa-masa itu.

Dewasa ini Gereja menemukan kembali karunia-karunia Roh Kudus yang dahulu disebut
sebagai sesuatu yang luar biasa, yang hanya diperuntukkan bagi Gereja Awali, atau orang-orang
kudus tertentu. Sekarang ini karunia-kaarunia tersebut terbuka bagi umat biasa, sebagaimana
halnya pada zaman Gereja Awali. Pada dasarnya Gereja memang amat memerlukan karunia-
karunia tersebut, sebab tanpa karunia-karunia itu Gereja tidak dapat hidup, tumbuh dan
memberi kesaksian tentang Yesus Kristus dengan baik. Lebih-lebih dalam masa elektronik ini,
di mana tantangan kuasa kegelapan dan kejahatan semakin merebak, mutlak diperlukan kuasa
Allah yang lebih besar lewat karunia-karunia tersebut. Kalau tidak, jangankah berkembang,
bertahanpun Gereja tidak akan mampu, khususnya dalam era elektronika ini, di mana kuasa
kejahatan merajalela. Justru dalam situasi yang demikian itu, Tuhan menganugerahkan rahmat-
Nya secara berlimpah-limpah.

II. APAKAH YANG DISEBUT KARISMA ITU?


Pertama-tama tentang jumlahnya. Jumlah karisma tidak terbatas hanya pada 1 Kor 12:7-11
saja, melainkan lebih dari itu. Teks-teks utama tentang karunia Roh Kudus itu ialah 1 Kor 12:7-
11.28; Rm 12:4-8; Ef 4:11-12. Karunia-karunia itu antara lain ialah nubuat, beerbicara dalam
bahasa roh, tafsiran, iman, penyembuhan, mujizat, sabda pengetahuan, sabda kebijaksanaan,
membeda-bedakan roh, rasul, penolong, penginjil, pastor.

Karisma merupakan karunia Roh Kudus yang diberikan secara cuma-cuma, artinya tanpa jasa
dari seorangpun juga. Roh Kudus membantu roh kita, tidak menggantikan aktivitas roh kita
melainkan supaya bekerja sama dengan Dia. Karunia Roh tersebut diberikan demi pelayanan.
"Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama" (1 Kor
12:7). Roh Kudus membangkitkan dalam Tubuh Gereja panggilan, pelayanan dan karisma yang
berlimpah-limpah dan masing-masing menerimanya untuk membantu hidup serta
perkembangan seluruh Gereja.

Karunia-karunia rohani bersifat gratuit, cuma-cuma, artinya diberikan tidak tergantung dari
kesucian seseorang dan tidak secara mutlak merupakan tanda kesucian seseorang. Namun benar
pula, bahwa karunia-karunia sering menunjukkan kesucian seseorang dan dapat membantunya
tumbuh dalam kesucian. Karisma merupakan kelimpahan rahmat dan dengan itu Allah ingin
menjadikan manusia-manusia pembantu-pembantuNya yang handal dalam karya keselamatan.

37
Dalam hal ini kiranya perlu dibedakan antara rahmat pengudus dan karisma. Rahmat pengudus
menjadikan manusia anak-anak Allah dan mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri,
sedangkan karisma dimaksudkan untuk membantu orang lain berpaling atau kembali kepada
Allah serta diselamatkan. Namun si penerima karuniapun, kalau ia mempergunakannya dengan
baik, dapat dibantu untuk tumbuh dan berkembang dalam kesucian.

III. Tujuan karisma


Karisma bertujuan membantu orang untuk rahmat pengudus serta tumbuh dalam iman dan cinta
kasih. Misalnya, mendengar sebuah nubuat atau pengajaran yang diurapi, membawa orang
kepada pertobatan serta pertumbuhan dalam iman dan kasih. Melihat penyembuhan
menyadarkan orang akan kasih Allah yang besar yang tidak meninggalkan umat-Nya. Karena
itu arti karisma yang terdalam tidak terdapat dalam manifestasi lahiriahnya, melainkan dalam
kemampuannya menyentuh hati orang dan membukanya bagi Allah.

Karisma diarahkan pada cinta kasih serta membantu perkembangannya. Karena itu harus
dihargai semestinya. Sikap meremehkan karisma dari pihak-pihak tertentu seringkali
disebabkan karena menyamakannya dengan rahmat pengudus, sehingga manifestasi karismatik
disamakan dengan manifestasi kesucian. Pada hakekatnya karisma adalah gerakan atau
dorongan Roh yang tidak tetap, selalu baru, selalu gratuit, cuma-cuma. Sebaliknya rahmat
pengudus menjadikan manusia suatu makhluk baru, anak Allah, serta memungkinkan hidup
illahi terus berkembang dalam dirinya. Namun kedua aspek tersebut tidak asing yang satu
terhadap yang lain dan harus disadari, bahwa keduanya adalah pemberian Roh Kudus.

Dalam pelaksanaan karisma tersebut hidup cinta kasih penting sekali, sebab karisma-karisma itu
merupakan pancaran lahiriahnya, merupakan manifestasinya yang dapat diraba. Itulah sebabnya
mengapa para kudus merupakan tokoh-tokoh karismatik yang besar, karena keterbukaannya
yang total terhadap Allah, serta karena hidup iman dan cinta kasihnya yang mendalam. Karena
itu ada hubungan yang erat antara apa yang disebut ketujuh karunia Roh Kudus (=the gifts of
the Holy Spirit) dan karisma (=charism). Itulah pula mengapa karunia-karunia itu, supaya dapat
dinyatakan secara tetap, mengandaikan dalam hidup orang beriman suatu batas rohani tertentu
yang harus dilampaui, suatu perkembangan rahmat yang merupakan suatu tugas perutusan.
Karena itu karisma-karisma yang diberikan itu dimaksudkan sebagai pelayanan kepada umat.

Jadi dalam hidup orang kristen yang terutama ialah iman, harapan dan cinta kasih. Namun
karisma-karisma merupakan pelayan dari ketiga kebajikan tersebut dan merupakan sarana
pertumbuhannya. Maka berkurangnya karisma dalam Gereja berarti berkurangnya sarana
pertumbuhan Tubuh Kristus. Karisma-karisma itu memainkan peranan penting dalam rencana
cinta kasih Allah. Karenanya karisma-karisma itu juga harus dihayati dalam cinta kasih, sebab
tanpa cinta kasih semuanya menjadi sia-sia, tidak ada artinya (1 Kor 13:1-3).

IV. MANIFESTASI ROH KUDUS


Seperti yang sudah kita lihat, karisma adalah manifestasi Roh Kudus. Dengan perantaraan
karisma-karisma, Roh Kudus menyatakan suatu rahmat dan sekaligus juga menyatakan diri
sendiri. Roh Kudus menyatakan diri sendiri dalam apa yang diterangi dan dikerjakan. Namun

38
Roh Kudus pertama-tama memberikan kesaksian tentang Kristus dan memuliakanNya. Karena
itu karisma-karisma itu mengungkapkan kemuliaan Kristus. Manifestasi Roh Kudus ini adalah
manifestasi rahmat dan pada dasarnya adalah manifestasi Kristus. Roh Kudus menyatakan dan
memuliakan Kristus. "Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh
Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Ia akan memuliakan Aku,
sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaKu" (Yoh 15:26;
16:14).

Misteri yang tersembunyi dalam Allah sejak semula, sekarang dinyatakan, yaitu misteri
keselamatan dalam Kristus dan itu dilakukan oleh Roh Kudus. Manifestasi rahmat ini terjadi
lewat pewartaan, yang pada dasarnya adalah pernyataan Roh dan kuasa-Nya (1 Tes 1:5; 1 Kor
2:4). Para Rasul dan murid dipenuhi Roh Kudus supaya dapat memberi kesaksian tentang
Tuhan Yesus Kristus (Kis 1:8; 3:15-16; 1 Kor 14:25). Karisma-karisma diberikan justru untuk
memperkuat kesaksian Injil ini.

V. KARISMA DALAM EVANGELISASI BARU


Mengingat situasi zaman yang jahat ini, pewartaan menjadi urgen sekali. Khususnya Paus
Yohanes Paulus II menyerukan, supaya Gereja seluruhnya mengadakan Evangelisasi Baru.
Disebut Evangelisasi Baru karena Paus menghendaki, agar supaya orang-orang katolik benar-
benar mewartakan Kristus secara langsung. Dekade terakhir abad 20 oleh Paus Yohanes Paulus
II dijadikan dekade evangelisasi dan semangat evangelisasi dilanjutkan Millenium 3.

Dari apa yang telah diuraikan kiranya jelas, betapa pentingnya peranan karisma dalam
evangelisasi ini. Kalau kita membaca Perjanjian Baru dengan teliti, akan jelas, bahwa mulai dari
Tuhan Yesus sendiri dan kemudian para Rasul serta para murid lain, pewartaan Injil selalu
disertai manifestasi karisma-karisma Roh Kudus, khususnya penyembuhan dan pengusiran roh-
roh jahat, tetapi juga pewartaan yang penuh kuasa. Karena penyembuhan- penyembuhan yang
dilakukan Tuhan Yesus, orang datang berduyun- duyun kepadaNya: "Apa ini? Suatu ajaran
baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintahNya dan mereka taat
kepadaNya. Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh
Galilea... Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan
banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan" (Mrk
1:27-28.33-34). Secara eksplisit Injil Lukas menyatakan, bahwa Yesus berkarya dalam kuasa
Roh serta akibatnya: "Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar
tentang Dia di seluruh daerah itu" (Luk 4:14). Kehadiran Roh Kudus tidak hanya
memungkinkan Dia melakukan penyembuhan- penyembuhan, tetapi juga memberikan
kewibawaan dan kuasa dalam pengajaran-Nya: "Mereka takjub mendengar pengajaranNya,
sebab perkataanNya penuh kuasa" (Luk 4:32).

Rasul Paulus penginjil dan misionaris besar itu dalam pewartaannya selalu memakai kuasa dan
tanda, sehingga banyak orang dibawa kepada pertobatan dan iman akan Tuhan Yesus Kristus.
Kepada orang-orang di Roma dikatakannya, bahwa ia "tidak akan berani berkata-kata tentang
sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk
memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa
tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh" (Rm 15:18-19). Demikian pula kepada

39
umat di Korintus Paulus mengatakan, bahwa ia tidak mengajar dengan hikmat manusia,
melainkan dengan keyakinan akan kekuatan Roh (1 Kor 2:4), oleh tanda-tanda, mujizat dan
kuasa-kuasa (2 Kor 12:12).

Suatu contoh jelas kita jumpai dalam pertobatan umat di Samaria setelah mendengar pewartaan
Filipus yang disertai dengan banyak tanda dan mujizat: "Ketika orang banyak itu mendengar
pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat
hati menerima apa yang diberitakannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat
keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan
orang timpang yang disembuhkan" (Kis 8:6-7).

Dari contoh-contoh itu menjadi jelas, bahwa karisma-karisma itu membuka hati orang untuk
melihat kehadiran Allah serta percaya kepada pewartaan Injil. Dewasa ini hal itupun banyak
terjadi di pelbagai tempat di dunia ini.

40
4. PENYANGKALAN DIRI

I. PENTINGNYA PENYANGKALAN DIRI


Dari pengalaman nyata, mengikuti Yesus tidaklah semudah yang dibayangkan. Tekad dan
keputusan saja tidaklah memadai. Motivasi kuat lebih merupakan permulaan dari suatu
perjalanan yang masih amat panjang daripada menjadi akhir dan tujuan.

Perjalanan menuju Tuhan menuntut penyangkalan diri, artinya berani berkata: ‘Tidak!’ kepada
kecenderungan untuk memeluk keinginan diri sendiri, yang bertentangan dengan kehendak
Allah. Untuk ini kita perlu mengetahui Sabda Tuhan dalam Injil dan apa yang diteladankan oleh
para kudus pendahulu kita. Para kuduslah yang dapat dikatakan sebagai penafsir-penafsir ulung
atas Sabda Tuhan.

Yesus datang bukan untuk karya kemanusiaan (filantropi) belaka, melainkan terlebih-lebih
untuk karya cinta kasih ilahi dan keselamatan jiwa-jiwa. Karena itu, Yesus lebih menekankan
kewajiban-kewajiban menyangkal diri, mati terhadap dosa untuk memperoleh hidup yang
berlimpah-limpah.

Yesus telah memilih jalan salib. Di sisi lain, tekanan paling dominan dari ajaran-ajaran-Nya
adalah cinta kasih kepada Bapa. Berdasarkan dua unsur ini, sangat perlu dan pentinglah
penyangkalan diri. Tidak mungkin kita dapat sampai pada Bapa kalau tidak melalui Yesus (bdk.
Yoh 14:6-7), dan jalan ynag dipilih Yesus tidak lain adalah jalan penyangkalan diri dan salib
(bdk. Luk 9:23; 14:27).

Hidup rahmat dalam Allah sebenarnya lebih luhur daripada kodrat hidup para malaikat.
Tujuannya adalah supaya Allah boleh menuntun manusia kepada persatuan cinta kasih dengan
diri-Nya. Manusia dipanggil untuk mengenal dan mencintai Allah seperti Dia telah mengenal
dan mencintai diri-Nya sendiri. Hal ini menuntut penyangkalan diri dari segala sesuatu yang
tidak teratur dari diri kita: keinginan, kemarahan, kebencian, kesmbongan, kemunafikan, dan
sebagainya. Gerakan-gerakan yang menggambarkan ketidakteraturan ini perlu sedikit demi
sedikit dilenyapkan dalam proses perjalanan hidup rohani ke arah kesempurnaan.

Menurut Santo Paulus, penyangkalan diri itu di satu pihak perlu sebagai konsekuensi dosa asal
dan akibat dosa-dosa pribadi. Di lain pihak, ia juga diperlukan karena luhurnya tujuan Kristiani
yang hanya dapat dicapai dengan mengikuti Yesus Kristus.

II. CONCUPISCENTIA
Apabila Adam merupakan sumber kehancuran, Kristuslah sumber keselamatan (bdk. Rm 5:12).
Kejatuhan Adam membawa konsekuensi-konsekuensi yang berat bagi keturunan-keturunannya:
penyakit, kelemahan, dan kematian. Semuanya itu masih ditambah dengan concupiscentia
(=keinginan-keinginan yang tidak teratur). Inilah kondisi manusia lama sejauh lahir dari Adam
dengan kodrat yang sudah jatuh dan terluka (bdk. Ef 4:21-24; Kol 3:9 dst.; Rm 7:22-24). Jika
sebelumnya semua nafsu manusia tunduk pada hukum kodrat yang mengalir dari hukum ilahi,

41
sekarang manusia kehilangan keseimbangan untuk menundukkan secara total nafsu-nafsu dalam
dirinya. Kodrat manusia terluka sehinggga ia lebih cenderung untuk menjauhi Allah dan
merangkul ciptaan (aversio a Deo conversio ad creaturas). Pikirannya cenderung kepada
kesesatan dan panca indranya cenderung kepada kesenangan-kesenangan dan kenikmatan-
kenikmatan yang tidak teratur. Segala cacat cela, seperti kesombongan, melupakan Allah,
egoisme dalam segala bentuknya, mengakar dan bersumber pada cinta diri yang tidak teratur.
Benarlah kata Santo Thomas dari Aquinas bahwa ‘cinta diri yang tidak teratur adalah akar dan
sumber dari segala dosa’. Dan menurut Santo Yohanes, segala kecenderungan yang tidak
teratur itu timbul dari “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup” (1 Yoh
2:16).

Hanya karena cinta kasih Allah dan rahmat-Nya,manusia dapat disembuhkan dan
disempurnakan. Melalui kebajikan iman oleh pembaptisan manusia diterangi oleh pengertian
adikodrati. Kemudian melalui cinta kasih dan pengharapan kita dan pengharapan kita diarahkan
kepada Allah. Namun, meskipun dosa asal telah dihapus melalui pembaptisan, akibatnya, yakni
concupiscentia, tidak lenyap begitu saja, tetapi hanya dilemahkan. Untuk itu, kita juga
memperoleh kebajikan-kebajikan yang dicurahkan sebagai sarana untuk melawan dan
mengatasi kelemahan-kelemahan atau kecenderungan-kecenderungan yang tidak teratur
tersebut. Dengan kebajikan-kebajikan ini, manusia memperoleh kesempatan untuk terus
berkembang dalam keterbukaan terhadap rahmat serta untuk bertumbuh dalam iman, harapan,
dan cinta kasih. Apabila seseorang tidak menemukan perjuangan ini lagi dalam dirinya, ia tidak
hidup dalam rahmat lagi.

Dari dirinya sendiri kenikmatan tidaklah keliru, bahkan baik apabila ia ditundukkan kepada
tujuan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Misalnya, kenikmatan dalam makan, minum, dan
sebagainya. Kepuasan yang diperoleh dari suatu keberhasilan juga baik untuk meringankan
beban serta memberikan motivasi lebih lanjut dalam karya manusia. Namun, menjadi tidak baik
apabila keduanya dijadikan tujuan dan bukan sarana. Tujuan manusia haruslah diarahkan
kepada Allah. Upaya mencari kenikmatan tanpa memperhatikan tujuan sebenarnya dari
kenikmatan tersebut merupakan penyimpangan dari rencana Allah sendiri. Karena itu, ia
merupakan dosa.

Mortifikasi merupakan usaha untuk meninggalkan kenikmatan. Pertama-tama kenikmatan disini


harus diartikan sebagai kenikmatan sebagai tujuan, padahal Allahlah yang harus menjadi satu-
satunya tujuan. Kedua, mortifikasi juga berarti menanggalkan kesenangan-kesenangan yang
berbahaya, yang mudah sekali membawa kepada dosa. Ketiga, mortifikasi bahkan juga perlu
atas kenikmatan-kenikmatan yang halal, yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa dan perasaan
dalam kadar yang besar. Semuanya inipun belumlah cukup. Perlu pula dilakukan tindakan-
tindakan positif dalam mortifikasi: kecenderungan mencari kenikmatan dikalahkan dengan
melakukan sesuatu yang sukar dan menuntut pengorbanan. Penyangkalan diri dalam keempat
arti ini merupakan sarana efektif untuk mengalahkan kecenderungan-kecenderungan yang tidak
sehat.

Tidak semua mortifikasi bernilai sama. Mortifikasi batiniah jelas lebih berharga daripada yang
lahiriah karena ia secara langsung mencabut akar dari kejahatan itu. Namun, di lain pihak, tidak

42
boleh dilupakan pula bahwa manusia merupakan kesatuan antara badan dan jiwa. Penyangkalan
diri lahiriah, dengan demikian, membantu penyangkalan diri batiniah. Sebaliknya, tidak
mungkin misalnya, seseorang dapat mengarahkan hatinya kepada Tuhan dengan terus
mengumbar matanya.

III. BAGAIMANA MELAKUKAN PENYANGKALAN DIRI


Khotbah di Bukit sebagai inti moral Kristiani (Mat 5-7) menyodorkan penyangkalan diri
lahiriah dan batiniah yang harus dilakukan orang Kristen untuk mencapai tujuan mereka.
Misalnya, membuang segala bentuk permusuhan dan kebencian (Mat 5:23-24) dan juga
penyangkalan terhadap keinginan-keinginan tidak teratur yang ditimbulkan oleh panca indra
(Mat 5:29-30). Dengan mengekang dan menyangkal segala ‘kecenderungan yang tidak teratur’,
manusia dihindarkan dari keterikatan badaniah menuju kebebasan rohani (bdk. Mat 5:38-42).
Lebih daripada itu, orang Kristen harus menjauhkan diri dari segala sumber godaan serta
menanggung segala ketidakadilan dengan sabar dan rendah hati.

Ada beberapa petunjuk praktis dalam penyangkalan diri:


1. Jagalah keseimbangan dalam makan dan minum.
Menurut Santo Fransiskus dari Sales, kita menjadi terbuka terhadap godaan dalam dua
keadaan: kalau tubuh terlalu dimanjakan dan kalau tubuh kurang diperhatikan sehingga
menjadi lemah. Puasa yang terlalu keras sehingga melemahkan tubuh jelas bukanlah suatu
tindakan matiraga yang bijaksana. ‘Keseimbangan’ menjadi kata kunci di sini.
2. Jagalah kekuatan jiwa kita secara seimbang pula.
Pada orang-orang yang baru bertobat seringkali dijumpai keinginan matiraga yang
menggebu-gebu. Namun, perlahan-lahan keinginan ini melemah sampai akhirnya padam
sama sekali. Pentinglah di sini untuk ‘mengontrol’ keinginan untuk matiraga. Lebih baik kita
berupaya melakukan matiraga wajar yang rutin sehingga menjadi kebajikan daripada
matiraga berlebih-lebihan yang tidak tahan lama.
3. Jangan melakukan matiraga yang tidak sesuai dengan status hidup.
Kewajiban-kewajiban harus didahulukan daripada segala ‘kebaikan’ yang lain. Misalnya:
tindakan puasa tidak membebaskan seseorang dari tugas hariannya.
4. Matiraga harus selalu ditundukkan di bawah ketaatan.
Carilah nasihat kepada mereka yang lebih berpengalaman. Bodohlah orang yang percaya
pada dirinya sendiri (bdk. Ams 28:26).

IV. MATIRAGA JASMANI DAN PANCA INDRA


Kita perlu melakukan matiraga jasmaniah karena Kristus sendiri berpuasa dan mengajar murid-
murid-Nya untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, apabila sungguh-sungguh dapat
dikekang, tubuh akan menjadi hamba yang sangat berguna bagi jiwa. Sebenarnya, akibat dosa,
tubuh telah terpisah dari jiwa dan mencari kepuasan sendiri. Dalam arti ini, tubuh menjadi
musuh jiwa yang perlu ditundukkan sebelum mengakibatkan kehancuran jiwa.

43
4.1Kesopanan Badan
Berkaitan dengan ini, pertama-tama pentinglah untuk menjaga kesopanan tubuh / badan.
Dengan memperlihatkan norma-norma kesopanan sikap badan, kita akan memiliki banyak
kesempatan untuk matiraga dan penyangkalan diri.

Badan kita memang harus dihormati sebagai Kenisah Allah (1 Kor 6:19) dan anggota dari
Tubuh Kristus (1 Kor 6:15). Karena itu, kita harus menghormati badan kita dengan pakaian
yang sopan dan pantas. Keadaan jiwa seseorang seringkali dapat dilihat dari pakaiannya;
kumal atau bersih, rapi atau berantakan, sopan atau tidak sopan, sederhana atau suka pamer.
Mengenai ini, Santo Fransiskus dari Sales menasihatkan, ‘Hendaklah berpakaian selalu
rapi, bersih, dan tidak sembarangan. Jauhkan segala kesia-siaan yang dibuat-buat,
berlebih-lebihan. Dan sejauh mungkin, tetaplah bersahaja dan sopan. Di sinilah letak
kebesaran dan keindahan sejati.’ Sikap baik dan sopan sekaligus merupakan penyangkalan
diri dan sesuatu yang bisa dilakukan oleh setiap orang.

4.2Pengekangan Mata, Telinga, dan Lidah (bdk. Rm 6:1-14)


Mata adalah ungkapan jiwa yang bisa melukai atau menggoda, terutama dalam hal-hal yang
berhubungan dengan kemurnian. Bersama telinga dan lidah, ia membentuk trio yang
mengerikan apabila disalahgunakan. Dari penggunaan trio ini secara tidak teratur
mengalirlah kuriositas (keinginan tahu yang tidak teratur), tindakan menjelek-jelekkan
orang lain, membicarakan orang lain di belakang, gosip yang jahat, lelucon-lelucon yang
tidak senonoh, dan sebagainya. Semuanya ini merupakan tindakan melawan cinta kasih
sekaligus sangat melemahkan jiwa.

Untuk pengekangan trio indra ini, tidak cukup hanya tidak cukup hanya dengan cara yang
negatif (tidak melakukan). Ketiganya perlu digunakan secara positif sebagai sarana
penyangkalan diri, misalnya: dengan membicarakan hal-hal yang positif tentang seseorang
atau sesuatu, sharing, khotbah, nasihat, pengajaran, kata-kata penghiburan, pujian yang tulus
(bukan dibuat-buat), dan sebagainya, yang berguna untuk membangun orang lain.

V. PENGEKANGAN INDRA BATIN


Indra batin yang dimaksudkan di sini adalah imajinasi, fantasi, dan ingatan. Biasanya, ketiga
indra ini bekerja sama. Pertama-tama harus dikatakan bahwa imajinasi, fantasi, dan ingatan
adalah kemampuan-kemampuan yang sangat berharga. Dengan ketiganya kita dapat
mengungkapkan kebenaran melalui gambaran atau ilustrasi yang menjadikan kebenaran itu
sendiri menjadi lebih menarik. Tanpa gambaran, biasanya suatu pembicaraan menjadi kurang
menarik.

Mortifikasi indra batin di sini bukan berarti menghilangkan atau mengurangi kemampuan indra-
indra batin tersebut, melainkan berarti menundukkan mereka di bawah akal budi dan kehendak
kita serta mengarahkan mereka kepada kebaikan. Caranya:
a. dengan mencari kesibukan, khususnya yang memang menjadi tugas kita. Sebaliknya, dengan
menganggur kita menjadi ‘bantal’nya setan.

44
b. dengan memakai ketiga kemampuan tersebut untuk membangkitkan cinta dan kerelaan
kepada Tuhan, misalnya saat membaca Kitab Suci, buku rohani, dan sebagainya.

VI. PENGEKANGAN AKAL BUDI, INGATAN, DAN KEHENDAK


Akal budi kita cenderung memikirkan hal-hal duniawi yang berlangsung sesaat namun merasa
malas mencari hal-hal ilahi yang abadi. Akibatnya, akal budi kita dengan mudah bisa ‘buta
rohani’. Bahkan bila kita sudah mencari hal-hal rohani, akal budi kita tidak diarahkan kepada
Tuhan, dengan mudah kita menjadi ‘sombong rohani’, di mana kita tidak mau menerima
pendapat orang lain dalam hal-hal rohani.

Ingatan kita cenderung menyimpan kesalahan dan kekurangan sesama kita dan bukannya
kebaikannya; terlebih lagi kita cenderung melupakan Tuhan dan segala kebaikan-Nya.

Kita dilahirkan dengan kehendak yang dijiwai oleh egoisme, cinta diri yang berlebihan.
Egoisme ini menjiwai segala perbuatan kita. Kita melupakan cinta kepada Allah dan kepada
sesama kita. Egoisme menjadi sumber dosa-dosa kita. Dari egoisme, lahirlah keinginan daging,
keinginan mata, dan kesombongan.

Kita bisa mengekang akal budi, ingatan, dan kehendak kita lewat cara-cara sebagai berikut:
1. hidup berdasarkan iman. Iman menerangi akal budi kita dan iman menjiwai apa yang kita
pikirkan, katakan, dan lakukan.
2. mengarahkan ingatan kita kepada Tuhan dengan mengingat-ingat kebaikan-Nya dan janji-
janji-Nya.
3. mencintai Tuhan dan sesama. Bila kita mencintai Tuhan dan sesama, kita mentaati firman
Tuhan dan tidak bertindak berdasarkan kehendak sendiri. Sebagai anggota KTM, kita belajar
mentaati peraturan-peraturan KTM dan kebijakan para pemimpinnya.

VII. PENUTUP
Gejala materialisme dan hedonisme yang merebak dalam zaman ini menciptakan suatu
gelombang cinta-diri yang seringkali ekstrim. Dengan demikian, penyangkalan diri menjadi
sangat tidak populer. Arus zaman ini adalah arus mencari kesenangan dan kenikmatan secepat
dan sebanyak mungkin. Penyangkalan diri adalah gerakan melawan arus yang sangat deras ini.

Menjadi pilihan dan keputusan pribadi bagi kita masing-masing untuk tunduk pada hawa nafsu
atau membuka diri kepada kebenaran Tuhan yang memerdekakan (bdk. Rm. 6:20-23; Gal 5:1-
13).

45
5.SAKRAMEN EKARISTI

1.PENGANTAR
Semua sakramen terarah pada Sakramen Ekaristi. Sakramen Baptis memberikan
kehidupan yang adikodrati dan ilahi sementara Sakramen Ekaristi merupakan makanan
hariannya, di mana Yesus sendiri adalah rotinya. Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma
merupakan persiapan yang memampukan kita untuk ikut ambil bagian dalam Sakramen
Ekaristi. Seandainya kita kehilangan hidup adikodrati ini karena dosa berat. Sakramen tobat
akan memulihkan kehidupan dalam rahmat ini sebelum kita dapat menerima komuni dengan
pantas. Sakramen Imamat memberi kuasa kepada imam untuk menghadirkan Yesus Kristus di
altar sementara Sakramen Perkawinan merupakan simbol kesatuan cinta antara Kristus –
Mempelai Pria – dan jiwa kita dalam komuni. Sedangkan sakramen Perminyakan
mempersiapkan orang sakit untuk perjamuan Ekaristi surgawi.

Sakramen Ekaristi merupakan sakramen dari sakramen-sakramen (the sacrament of


sacraments),artinya perwujudan paling istimewa/unggul dari sakramen-sakramen lainnya,
dimana kita disatukan dengan seluruh Kristus. Bila sakramen-sakramen lain mengandung
karunia-karunia Allah, Sakramen Ekaristi mengandung Allah itu sendiri. Sakramen-sakramen
lain telah ditetapkan oleh Yesus Kristus untuk mempersiapkan orang kepada Sakramen Ekaristi.
Sakramen Ekaristi sesungguhnya merupakan makanan bagi hidup rohani sebab dari sakramen
inilah mengalir segenap kesempurnaan jiwa. Karena semua kesempurnaan berisikan suatu
persatuan dengan Allah,dari semua sarana yang bisa dipakai untuk persatuan dengan Allah,
tiada yang lebih baik selain sakramen Ekaristi. Oleh Sakramen Ekaristilah orang benar-benar
disatukan dengan kristus,seperti yang dikatakanNya sendiri, “Barang siapa makan dagingku
dan minum darahku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh6:56). Yesus telah
memberikan tubuhNya bagi kita dalam rupa roti supaya kita bisa menjadi satu tubuh dengan
Dia.

Maka dari itu, semakin intim hubungan kita dengan Yesus Kristus dalam Ekaristi, semakin
besar dan semakin sejati imam kita. Sakramen Ekaristi merupakan sumber kehidupan rahmat
kita: Yesus Kristus,sebagai Allah dan sebagai manusia. Ia hadir dalam Sakramen Ekaristi
dengan karya penebusanNya yang utuh: Yesus bersama kita (lewat kehadiranNya dalam
tabernakel), untuk kita (mempersembahkan diriNya sebagai kurban dalam Ekaristi), di dalam
kita (dalam komuni).

II DASAR BIBLIS EKARISTI


Secara historis dan teologis Ekaristi dan ajaran-ajaran pokoknya bersumber dari apa yang
dikatakan dan dilakukan Yesus pada perjamuan malam terakhir bersama para muridnya.
Penafsiran khusus yang dikatakan oleh Yesus pada makan malam tersebut membedakan
perjamuan malam itu dengan makan malam lainnya.

II.1. KONTEKS PERJAMUAN MALAM TERAKHIR


Ekaristi sebenarnya berasal dari doa sebelum dan sesudah makan pada perjamuan Yahudi.
Bapa keluarga mengucapkan doa ini atas roti bulat pipih besar, yang kemudian dipecahkan dan
dibagikan kepada semua hadirin sebagai tanda bahwa perjamuan telah dimulai. Sesudah itu

46
diadakan perjamuan biasa. Bapa keluarga mengambil piala anggur , mengucapkan doa syukur
atas cawan itu dan membagikan piala itu kepada semua yang hadir atau masing-masing minum
dari pialanya sendiri. Dengan demikian dengan doa syukur ini dinyatakan kesatuan para hadirin
,yang dijawab dengan ‘Amin’. Roti dan anggur mempersatukan para hadirin dengan pemimpin
dan lewat doa pemimpin mereka dipersatukan dengan Allah dan mendapat berkat.Yesus
merayakan perjamuan dengan cara tersebut.
Menurut ketiga Injil Sinoptik, perjamuan malam terakhir terjadi dalam konteks Paskah Yahudi
atau Hari Raya Roti Tak Beragi (Mat 26:17; Mrk 14:12; Luk 22:7). Hari raya Paskah Yahudi
memperingati perjanjian Yahweh dengan Musa dan orang Yahudi yang mewarisi Israel. Paskah
diperingati setiap tahun untuk mengingatkan setiap generasi akan perbuatan besar yang telah
dilakukan Allah bagi orang Yahudi (bdk. Kel 12).Perjanjian itu berarti bahwa Allah akan selalu
menjadi Allah yang mengasihi dan selalu setia kepada umatNya. Paskah Yahudi ini merayakan
secara baru keluaran orang Yahudi dari Mesir dan juga berkat tak terbilang dari Allah yang
dilimpahkan kepada bangsa Yahudi yang diselamatkan dari perbudakan . Ikut merayakan pesta
ini berarti menghadirkan kembali kasih Allah yang amat besar kepada orang Yahudi.

II.2 Kisah Perjamuan Malam Terakhir


Dalam Perjanjian Baru ditemukan 4 kisah tentang perjamuan malam terakhir, yaitu:
 Mat 26:20-21.26-29
 Mrk 14:17-18.22-25
 Luk 22:14-20
 1Kor 11:23-26
Dari kisah-kisah tersebut muncul 3 saat penting, yaitu :
1. Tindakan profetis Yesus dan kata-kata penafsiran
Beberapa jam sebelum pengorbanan diriNya d Kalvari. Yesus melakukan beberapa tindakan
dan mengucapkan kata-kata, yaitu mengambil roti, mengucap syukur, memecah roti dan
membagikannya, kemudian mengambil cawan anggur dan dituangkanNya cawan itu untuk
diminum. Tindakan-tindakan serupa, menurut tradisi biblis, bermaksud mengantisipasi dan
menghadirkan sebuah peristiwa yang masih akan terjadi, serta membangun suatu kaitan
antara tindakan simbolis ini dengan kenyataan atau peristiwa yg dirujuk tersebut, yaitu
pemberian diriNya secara sukarela pada kematian di salib di Kalvari. Dengan kata lain,
karena sadar akan kenyataan yang akan terjadi.Yesus melakukan tindakan profetis,
mengantisipasi dan mengungkapkan diri dengan tindakan dan kata dalam kenyataan
(sengsara dan wafat) yang akan dihadapiNya.
Kata-kata penafsiran yang diucapkan Yesus atas roti dan anggur menyatakan kehadiran
Yesus dalam roti dan anggur yang diberikan kepada para rasul. Maka, roti yang dipecah
berarti tubuhNya yang dikurbankan, dan cawan, di mana ditumpahkan anggur, adalah
penumpahan darahNya. Inilah penyerahan diri Yesus. Kematian ini mempunyai arti tertentu
yang pasti, yaitu Dia secara sukarela akan mati untuk murd-muridNya dan untuk semua
manusia. Maka jika peristiwa itu dihadirkan kembali, roti akan berarti dan adalah tubuhNya
(“Inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu” – Luk 22:19) dan cawan adalah Perjanjian

47
Baru dan abadi dalam darahNya (“Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu” – Luk
22:20).
2. Undangan untuk mengambil bagian dalam perjamuan
Undangan ini terungkap dalm kata-kata “ambillah dan makanlah” dan “ambillah dan
minumlah”. Undangan untuk makan tubuhNya dan minum darahNya berarti undangan
kepada peserta perjamuan itu untuk menyatukan diri dengan kematianNya dan membuat
mereka masuk dalam Perjanjian Baru. Dengan menghubungkan para murid dengan tindakan
profetis yang menghadirkan kematianNya dan mendasari perjanjian. Yesus mengawali
sebuah komunitas persekutuan. Dengan mengambil bagian dalam perjamuan itu, orang-orang
Kristiani menyatukan diri dengan Kristus secara pribadi dan diselamatkan, dibebaskan dari
perbudakan dosa dan membangun perjanjian dengan Allah. Persatuan dengan Yesus ini tidak
lepas dari iman. Hanya dengan menghayati Ekaristi dalam semangat iman, maka menyantap
tubuh dan darah Kristus mempunyai arti. Kesatuan fisik dengan Kristus dalam rupa roti dan
anggur tidak menjamin keselamatan. Hanya sebagai ungkapan iman,Ekaristi mempunyai arti.

3. Perintah untuk mengulangi


Perintah ini diungkapkan sekali dalam Lukas dan dua kali dalam Korintus, yaitu
“Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Kata-kata Yesus ini merupakan
pelembagaan (artinya, ritus tertentu menghasilkan rahmat yang ditandakan), suatu
penyembahan kepada Allah yang dihadirkan kembali di masa mendatang oleh para Rasul dan
oleh Gereja. Penghadiran kembali ini harus dilakukan sebagai ‘kenangan akan dia’ atau
merupakan cara terbaik untuk menghadirkan kembali Yesus. Kenangan di sini bukanlah
dalam arti psikologis, tetapi lebih dalam arti menghadirkan kembali secara riil. Jika para
murid melakukan apa yang telah dilakukan Yesus di dunia ini , yaitu saling mencintai sampai
saling memberikan diri satu sama lain , maka Yesus hadir kembali secara konkrit, riil,
sungguh-sungguh. Semua yang dilakukan Yesus itu dihadirkan kembali dalam tindakan
liturgis supaya semua bisa mengambil bagian dalam kepenuhan di masa mendatang , dalam
penantian akan kedatanganNya kembali.

II.3. Perayaan Ekaristi dalam Komunitas Kristiani Pertama


Kisah Para Rasul beberapa kali mencatat suatu tindakan, yang dilakukan komunitas awali sejak
saat paling awali dan yang dianggap sebagai pusat hidup Gereja itu sendiri ,yaitu ‘pemecahan
roti’. Tindakan ini pada mulanya adalah perjamuan Yahudi yang diawali dengan doa ucapan
syukur dan diikuti oleh pembagian potongan roti kepada masing-masing peserta perjamuan .
Perbuatan ini secara mendasar berarti ‘persekutuan meja’ dan partisipasi pada berkat Allah,
sang Pemberi, yang hadir dalam perjamuan bersama. Pemecahan roti itu juga ditandai oleh
kesederhanaan, suasana gembira dan persaudaran (Kis 2:42-46).

III. APA ITU SAKRAMEN EKARISTI


Konsili Vatikan II mengatakan bahwa Ekaristi adalah ‘sumber dan puncak seluruh hidup
Kristiani’ (Lumen Gentium 11). ‘Sakramen-sakramen lainnya, begitu juga semua pelayanan
gerejani serta karya kerasulan, berhubungan erat dengan Ekaristi suci dan terarahkan

48
kepadanya. Sebab dalam Ekaristi tercakuplah seluruh kekayaan Gereja ,yakni Kristus
sendiri....’ (Presbyterorum Ordinis 5)
Catatan:
Konsili Vatikan II tidak membuat suatu pernyataan dogmatis baru tentang Ekaristi. Dogma
tentang Ekaristi yang terakhir ialah ajaran Konsili Trente (1545-1563).

III.1. Berbagai nama


Perayaan Ekaristi dikenal dengan berbagai nama. Masing-masing nama menekankan salah satu
kekayaan Ekaristi, misalnya:
*Perjamuan Tuhan (1 Kor 11:20)
*Pemecahan Roti (Mat 26:26; Mat14:19;15:36; Mrk 8:6.19)
*Perhimpunan Ekaristi (1 Kor 11:17-34)
*Kurban Syukur (lbr 13:15)
*Misa Kudus
Berikut ini dijelaskan arti dua nama yang paling banyak digunakan :
1.Arti kata ‘Ekaristi’
Ekaristi berarti ucapan syukur (=thanksgiving). Kata ini berasal dari kata-kata Yesus sendiri
pada Perjamuan terakhir ketika Ia mengucap syukur kepada Bapa sebelum membagi-bagikan
cawan kepada para rasul (Mat 26:27).
2.Arti kata Misa”
Dalam abad pertama sebagian dari pengajaran untuk katekumen diberikan pada saat perayaan
Ekaristi . Karena katekumen belum dibaptis, mereka tidak diperkenankan tinggal untuk
kurban Ekaristi. Maka mereka dipersilahkan keluar dari jemaat. Kata Latin untuk
‘dipersilahkan keluar’ adalah ‘missa’. Di kemudian hari dalam sejarah Misa. Liturgi berakhir
dengan perintah ‘Ite missa est’, yang berarti ‘Pergilah, engkau diutus’ (ke dunia untuk
mencintai dan melayani sesamamu).

III.2. Unsur-unsur Sakramen Ekaristi


Menurut Konsili Trente, unsur-unsurnya adalah :
1. materia (=sarana yang digunakan): roti dan anggur
2. forma (=rumusan doa yang diucapkan): doa konsekrasi (‘Terimalah dan makanlah...’ )
3. pelayan (=pelaksana sakramen): uskup dan imam
4. penerima (=orang yang menerima) : setiap orang yang sudah dibaptis

III.3. Roti dan Anggur


Tanda roti dan anggur digunakan Melkisedek, raja dan imam , yang membawa “roti dan
anggur” (Kej 14:18) sebagai tanda persembahannya sendiri. Dalam PL, roti dan anggur
termasuk persembahan sulung. Roti mengingatkan pada pembebasan dari Mesir ketika Israel
hidup dari roti Sabda Allah (bdk, UI 8:3). Pesta anggur mempunyai arti eskatologis, yaitu
penantian mesianis akan pembangunan kembali Yerusalem. Mujizat penggandaan roti
menunjukkan kelimpahan roti istimewa Ekaristi. Mujizat di Kana juga menandakan
penyempurnaan perjamuan nikah dalam Kerajaan Bapa, dimana umat beriman akan minum
anggur baru (bdk. Mrk 14;25)

49
Identifikasi roti dengan tubuhNya dan anggur dengan darahNya menunjukkan kehendak Yesus
untuk hadir secara nyata dalam roti dan anggur . Oleh Konsili trente , perubahan dalam
perayaan Ekaristi ini dijelaskan dengan istilah transubstansiasi, artinya oleh konsekrasi,
substansi roti (substansi=sesuatu yang mendasari ) diubah kedalam substansi tubuh Kristus dan
substansi anggur diubah ke dalam substansi darahNya. Perubahan ini terjadi karena kekuatan
Sabdanya dan karena kekuatan Roh Kudus. Yang tidak berubah ialah accidentia dari roti dan
anggur tersebut (rupa,warna.berat,rasa,bentuk,dll). Kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi ini
mulai dari saat konsekrasi (“Inilah tubuhKu,Inilah darahKu”) dan berlangsung selama rupa
Ekaristi ada. Dalam setiap rupa (roti dan anggur) dan dalam setiap bagiannya tercakup seluruh
Kristus , sehingga pemecahan roti tidak membagi Kristus. Barangsiapa menerima roti atau
anggur berarti menerima Kristus yang utuh.

III.4. Arti Perayaan Ekaristi


1. Ekaristi menunjukkan cinta Allah yang tak berkesudahan bagi kita.
Dari semua sakramen, Ekaristi melambangkan peristiwa cinta antara Allah dan umatNya
secara paling dramatis. Melalui Sakramen Ekaristi, PuteranNya Yesus Kristus diberikan
kepada kita dalam rupa roti dan anggur yang dikonsakrir. Ekaristi mengingatkan kita terus
menerus bahwa Allah mencintai kita, mempedulikan kita dan datang kepada kita secara
intim. Ia menyatukan diriNya dengan kita agar supaya kita bisa menjalani kehidupan dalam
kasih.
2. Ekaristi mengingat dan menghadirkan kembali kurban Kristus yang berpuncak di salib.
Kurban Kristus dan kurban Ekaristi hanyalah satu kurban, yang dilakukan Kristus sekali
untuk semuanya (once for all). Pengertian kurban ini tidak dibatasi pada sengsara dan wafat
Yesus di salib. Tetapi menyangkut seluruh proses hidup Yesus, yaitu penyerahan hidupnya
kepada Bapa yang berpuncak di salib. Karena itu, kurban Kristus itu merupakan ungkapan
kasih Allah.Dalam perayaan Ekaristi, Gereja (seluruh umat) diundang untuk ikut serta dalam
kurban Kristus, yaitu dengan mempersembahkan kurban rohani (bdk.LG 34). Karena itu,
Ekaristi adalah juga kurban Gereja. Inilah salah satu bentuk partisipasi aktif umat yang
diminta dalam perayaan Ekaristi. Dengan mempersatukan diri dengan kurban Kristus, maka
Gereja disucikan sebagai TubuhNya.
3. Ekaristi menciptakan dan merayakan kesatuan di antara umat Katolik.
Kita makan dari roti yang sama dan minum anggur yang sama pula. Karena kita ambil bagian
dalam Tuhan yang sama, kita dipersatukan sebagai satu jemaat. Ekaristi merupakan simbol
kesatuan kita. Ekaristi menciptakan kesatuan itu dan Ekaristi adalah perayaan kesatuan itu.
Doa Yesus untuk kesatuan umatNya dalam Yoh 15:5 tercapai dalam sakramen ini.
4. Ekaristi mengingatkan kita akan perjanjian cinta kasih antara Allah dan manusia serta
perintahNya untuk mencintai dan melayani sesama.
Yesus memecah roti sebagai simbol kehidupdn abadi yang akan Dia berikan kepada kita dan
Ia menuangkan anggur sebagai simbol penyelamatan kita oleh darahNya yang tercurah. Suatu
perjanjian meminta tanggapan. Maka Ekaristi mengingatkan kita agar kita ‘memecah-mecah
diri kita’ dan ‘mencurahkan hidup kita’, artinya kita harus mengatasi egoisme kita dan
melayani sesama sebagaimana Yesus melayani kita. Pada akhir Misa kita diutus sebagaimana
Yesus diutus Bapa untuk mewartakan kabar gembira.

50
III.5. Manfaat Ekaristi
1. Ekaristi memelihara hidup kita di dalam rahmat Allah.
Tuhan Yesus telah menetapkan sakramen ini dalam rupa makanan untuk memperlihatkan,
bahwa sebagaimana makanan jasmani diubah ke dalam tubuh kita, begitu juga roti surgawi
menyatu dengan tubuh kita. Bila makanan duniawi diubah menjadi zat-zat bagi tubuh kita,
roti ilahi mengubah siapapun yang memakanNya menjadi serupa dengan Yesus Kristus.
Seperti halnya roti duniawi menopang hidup jasmani, roti surgawipun memelihara hidup bagi
jiwa, yakni kehidupan dalam rahmat Allah.
2. Ekaristi adalah obat ilahi yang menyembuhkan dan melindungi kita.
Menurut Konsili Trente, Ekaristi merupakan obat ilahi yang menyucikan jiwa dari dosa
ringan dan sekaligus melindunginya dari dosa berat. Seperti aliran air. Sakramen ini
mematikan api hawa nafsu yang menguasai kita . Bila kita memiliki nyala hawa nafsu seperti
itu, hendaknya kita menyambut ekaristi, agar kita bisa mengalami suatu gelora yang sama,
yang menghancurkan nafsu-nafsu itu. Ekaristi memberikan kekuatan kepada kita untuk
menolak semua serangan iblis. Pada saat kita menerima ekaristi, iblis menyingkir dari kita
dan para malaikat segera datang membantu kita. Terlebih lagi, ekaristi mengalirkan ke dalam
jiwa kita kedamaian batin yang luar biasa dan dorongan kuat untuk berbuat kebajikan serta
kerelaan besar untuk melakukannya. Akibatnya, kitapun menjadi lebih mudah melangkah
pada jalan kesempurnaan.
3. Ekaristi mengalirkan cinta kasih ilahi ke dalam hati kita.
Ekaristi merupakan sumber cinta kasih ilahi. Tidak ada misteri penebusan yang lebih tepat
untuk menyalakan hati kita dengan cinta Kristus, selain daripada Sakramen Ekaristi, di mana
di dalamnya Dia memberikan diri sepenuhnya bagi kita dan mencurahkan seluruh cintaNya
dengan berlimpah. Konsili Trente menyatakan bahwa dalam sakramean ini Yesus telah
‘mencurahkan dengan berlimpah segenap kekayaan cinta ilahiNya untuk manusia’

lV. BAGAIMANA MENGHAYATI MISA


Bila kita tidak menyadari apa yang seharusnya kita doakan dalam Misa, kita akan kehilangan
banyak rahmat. Kita seharusnya bisa berdoa untuk diri kita sendiri sesuai dengan unsur-unsur
perayaan Ekaristi dan memiliki sikap yang benar selama liturgi berlangsung. Berikut ini
beberapa petunjuk praktis yang bisa kita lakukan;
*Ketika memasuki gereja, kita membuat tanda salib dengan air suci dan berdoa; “Bersihkan
aku, ya Allahku,dari dosa-dosaku.”
*Kemudian kita berlutut di depan tabernakel dengan penuh rasa hormat sambil berdoa:
“Terpujilah Sakramen Mahakudus di altar”.
*Selama misa, bila kita tidak sakit, kita berusaha berlutut dan berdiri bersama dengan jemaat
lainnya sebagai suatu kurban.
*Ketika Imam hadir di altar kita kemukakan niat kita dalam doa: “Bapa di surga, aku ingin
ambil bagian dalam Misa untuk menghormatimu, untuk berkat yang akan kuterima dan untuk
penghiburan jiwa-jiwa yang menderita. Bantulah aku agar mampu ikut ambil bagian dengan
khidmat”.
*Pada ‘Doa Tobat’ kita memeriksa hati nurani kita, menyesali dosa-dosa kita dan berniat untuk
mengakukannya secepat mungkin bila kita berdosa berat.

51
*Pada ‘Tuhan Kasihanilah Kami’ kita berdoa kepada Allah tritunggal untuk mohon belas
kasihanNya dengan segenap jiwa kita.
*Pada ‘Kemuliaan kepada Allah’ kita berdoa: ‘Kemuliaan kepada Allah; kami memujiMu, kami
menyembahMu, kami memuliakan Engkau. KepadaMu, Bapa, Putera dan Roh Kudus, aku
membaktikan hidupku”.
*Ketika Sabda Tuhan dibacakan, kita mendengarkan dengan penuh perhatian karena hanya
orang yang mendengarkan sabdaNya serta melakukannya akan selamat.
*Ketika imam menyiapkan kurban Ekaristi, kita harus menyadari bahwa roti dan anggur akan
segera berubah menjadi tubuh dan darah Yesus.
*Setelah prefasi, bersama dengan para malaikat di altar kita berdoa : ‘Kudus, kudus, kuduslah
Tuhan....’
*Ketika imam menaikkan hosti suci, kita melihat pada hosti itu dan menyembahnya. Sambil
menundukkan kepala, kita berdoa : ‘Kami memuja Engkau, Tubuh Kristus’. Ketika piala
dinaikkan, kita melihat pada piala itu dan menyembahnya. Sambil menundukkan kepala, kita
berdoa: ‘Kami menyembah Engkau, Darah Yesus’.
*Setelah konsekrasi, bersama-sama dengan para imam, kita berdoa untuk jiwa-jiwa yang
menderita di api penyucian, khususnya keluarga dan teman-teman kita dalam Kristus.
*Pada ‘Anak Domba Allah’ kita memohon belas kasihan Tuhan untuk menghapus dosa-dosa
kita serta memberikan damai di hati kita.
*Pada ‘Ya Tuhan, saya tidak pantas...’, dengan penuh kerendahan hati, walaupun merasa tak
pantas menyambut tubuh dan darah Yesus, kita memohon kehadiran Yesus untuk
menyembuhkan tubuh, jiwa dan roh kita. Dalam hati kita bisa mengulang dan meresapkan ‘Ya
Tuhan, saya tidak pantas...’
*Setelah komuni, dalam imam kita menerima berkat Tuhan untuk sepanjang hari itu.

V. PENUTUP
Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita bisa menyembah Tuhan lewat alam atau secara
pribadi, tetapi Yesus meminta agar kita datang kepada Bapa dalam jemaat untuk memujiNya
dan berterima kasih kepadaNya. Kadang-kadang kita tidak suka pada kemunafikan orang-orang
yang menghadiri Misa, tetapi kita tak pernah boleh lupa bahwa Yesus Kristus datang untuk
menyelamatkan para pendosa dan kitapun sering munafik, tidak menjalankan apa yang telah
kita tetapkan. Mungkin pula kita merasa tidak mendapatkan apa-apa dalam Misa, tetapi kita
harus sadar bahwa kita pergi ke Misa tidak untuk dihibur tetapi untuk memuji dan menyembah
Tuhan dan pahala yang akan kita terima adalah Yesus Kristus sendiri. Alangkah indahnya bila
kita merayakan Ekaristi bersama-sama dengan saudara-saudari kita yang lain bahkan bila kita
tidak menginginkannya! Mengikuti Yesus berarti mengikuti Dia bersama-sama dengan yang
lain. Kekristenan kita bukanlah hal yang pribadi, melainkan hal saling berbagi dan saling
mencintai.

52
6. SAKRAMEN TOBAT

I. SEJARAH
Yesus menggegerkan banyak orang dengan mengatakan bahwa ia mempunyai kuasa untuk
mengampuni dosa. “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat
mengampuni dosa selain daripda Allah sendiri?” (Mrk 2:7; Luk 7:49). Sebagai purta Allah,
Yesus mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa-dosa dan Ia memberikan kuasa yang sama
kepada para rasul. Kepada Petrus Ia berkata: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini
Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan
Kuberikan kunci kerajaan surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa
yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:18-19). Secara lebih nyata
yesus menampakan diriNya kepada para rasul pada Hari Paskah dan mengatakan: “Terimalah
Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikaulau kamu
menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. ” (Yoh 20:22-23).

Yesus mendapatkan kuasa dari Allah Bapa untuk endirkan kerajaan Allah di bumi dan yesus
memberikan kuasa ini kepada para rasul agar, setelah kenaikanNya ke surge, mereka dengan
Alah dan dengan sesame. Dia memberikan Roh Kudus sebagai sumber kuasa mereka untuk
mengampuni dosa-dosa dalam nama Yesus. Memang benar bahwa Yesus memerintahkan
semua pengikutnNya ntuk saling mengampuni bila berdosa yang seorang kepada yang lain (Mat
6:16; 18:21-23; Luk 17:3-4), tetap ia juga memberikan kepada para rasul kuasa untuk mengikat
dan melepaskan, atau untuk mengampuni dosa-dosa dalam nama Yesus.

Pada Gereja purba, orang Kristen diharapkan menghayati kehidupan Kristen yang kuat dan
menjadi saksi hidup Kristus, sekaligus menghindari dosa-dosa berat. Pengampunan dosa yang
resmi (=absolusi) diberikan kepada orang yang telah melakukan dosa-dosa yang sangat berat,
seperti pembunuhan, perzinahan, dan kemurtadan. Denda dosa yang berat dan ditebus di depan
umum dilakukan setelah upacara rekosiliasi (=pendamaian). Absolusi diberikan hanya sekali
dalam seumur hidup dan bila orang itu berdosa berat lagi, dia bisa diterima kembali oleh Gereja
sebagai pendosa yang mengakukan dan menebus dosanya di depan umum.

Karena pengampunan resmi untuk dosa-dosa berat dibatasi dan denda dosa dirasakan berat,
banyak orang yang ingin menjadi Kristen tetapi tidak mau dibatasi sampai lanjut usia. Mereka
takut jatuh ke dalam dosa setelah dibaptis dan merasa ngeri dengan denda dosa yang berat itu.
Mulai abad ke 5, Sakramen Pengakuan Dosa bisa diterima lebih dari satu kali. Kemudian
pengakuan dosa-dosa yag tidak begitu serius dilakukan. Baru seitar tahun 1000, absolusi
diberikan sebelum denda dosa dilakukan. Pada tahun 1215, pengakuan tahunan diwajibkan
hanya untuk meraka yang ingin diperdamaikan kembali dengan jemaat sehingga mereka bisa
menyambut komuni. Konsili Trente (1551) menyajikan ajaran agama Katolik dasar, bahwa
pengakuan dosa (pemeriksaan suara hati, penyesalan, pengakuan, perubahan sikap), dan bapa
pengakuan (pemberi ampun/absolusi). Selama puluhan tahun terakhir ini, pengakuan dosa
diupayakan agar menjadi pertemuan pribadi dengan kristus, sehingga dengan demikian lebih
bermanfaat.

53
II. DOSA
II.1 Arti Dosa
Biasanya dosa diartikan pikiran, perkataan, atau perbuatan yang berlawanan dengan hukum
Allah sehigga yang berdosa bisa ditangkap dan dihukum. Dosa sebenarnya harus dipandang
dalam hubungannya dengan Tuhan. Dengan demikian berdosa berarti berpaling dari Allah dan
tidak mengarah kepadaNya.

Bagi orang Kristen, dosa merupakan suatu penolakan tawaran cinta Tuhan, sekaligus suatu
penolakan untuk mengikuti jejak Kristus. Selain itu dosa merupakan suatu perusakan cinta kasih
terhadap sesama. Aspek sosial dosa ini terjadi karena cinta kepada Tuhan dan sesama tidak
dapat dipisahkan. Dosa juga merupakan perusakan keselamatan dan kebahagian bagi diri
sendiri.

Aspek sosial dosa mempunyai arti yang dalam bagi orang Kristen. Seorang Kristen, karena
pemandiannya, adalah anggota umat Allah (Gereja). Sebagai warga umat Allah, ia telah berjanji
ikut serta melaksanakan rencana penyelamatan Allah bersama dengan Kristus dan orang-orang
Kristen lainnya. Santo Paulus mengandaikan kesatuan umat Allah sebagai Tubuh Kristus. Jadi
dosa seorang Kristen merupakan perlawanan dan ketidaksetiaan terhadap Gereja, Tubuh Mistik
Kristus, umat Allah, dengan tidak mau mengusahakan kelanjutan karya penyelamatan Kristus,
bahkan menghalanginya (aspek eklesiologis/gerejani).

Sangat penting untuk memperhatikan aspek gerejani ini, supaya kita dapat mengerti dengan
baik alasan Kirstus menyerahkan kuasa mengampuni dosa kepada GerejaNya. Dengan berbuat
dosa, seorang Kristen tidak saja memisahkan diri dari Tuhan, tetapi juga dari Gereja, dan
apabila ia bertobat, ia perlu diterima kembai ke dalam Gereja oleh wakil Geraja yang resmi,
yaitu imam.

II.2 Macam-macam Dosa


Sejarah permulaan sejarah Gereja, telah ada kesadaran bahwa tidak semua dosa sama bobotnya.
Dosa yang harus diampuni melalui Sakramen Pengampuan Dosa ialah dosa berat (mortal sin).
Yaitu dosa yang karenanya orang dikeluarkan dari kerajaan Allah, misalnya: perzinahan,
pembunuhan, kemurtadan, penghujatan, perlawanan kepada Allah secara sadar dan serius. Dosa
yang tidak sampai membuat orang dikeluarkan dari kerajaan Allah disebut dosa ringan (venial
sin).

Menurut Santo Yohanes dalam 1 Yoh 5:16-17, ada dua macam dosa berat: yang tidak sampai
mematikan, artinya yang masih dapat ditolong dengan doa-doa kita; dan yang membawa maut
(dosa maut), artinya yang tidak dapat ditolong dengan doa-doa kita. Tidak semua dosa berat
sama bobotnya. Dengan dosa berat, manusia berpaling dari tuhan, tetapi ia tidak kehilangan
seluruh imannya. Malahan imannya itu yang menjadi dasar baginya menyesali dosaya dan
kembali kepada Tuhan. Dalam dosa maut, manusia dipisahkan sedemikian jauhnya dari Tuhan
sehingga hampir tidak ada harapan lagi untuk dipersatukan kembali. Contoh: melawan Tuhan
pada saat kematian.

54
Yang termasuk dosa ringan adalah tujuh cacat rohani atau tujuh dosa yang ‘mematikan’:
kesombongan (pride), ketamakan (greed), hawa nafsu (lust), kemarahan (anger), kerakusan
(gluttony), kemalasan (sloth) iri hati (envy). Ketujuh dosa ini disebut ‘mematikan’ karena
merupakan akar banyak dosa lainnya dan karena dosa-dosa ini dengan cepat mematikan hati
nurani kita.

Jadi, menurut intensitas dosa, diberikan tiga macam dosa: dosa ringan, dosa berat, dan dosa
maut. Untuk menerangkan perbedaan itu, kita dapat memakai perumpamaan pohon anggur
(Yoh 15:1-8). Dalam dosa ringan, ranting tetap hijau warnanya, akan tetapi tidak dapat
berkembang sepenuhnya; hidup ilahi tetap mengalir tetapi tidak membuahkan hasil seperti yang
diharapkan. Dalam dosa berat, ranting itu menjadi kering, tetapi masih bersatu dengan pokok
anggur (masih ada iman), walaupun hidup ilahi tidak mengalir di dalamya lagi. Dalam dosa
maut, ranting itu diputuskan sama sekali dari pokok anggur dan dilempakan kedalam api dan
dibakar.

Ada hubungan kausal (=sebab-akibat) yang erat antara ketiga golongan dosa itu. Dosa ringan
benar-benar melemahkan cinta kasih kita kepada Tuhan dan kalau dibiarkan lambat laun dapat
membawa kita kepada dosa maut. Sepanjang hidupnya, perbuatan-perbuatan manusia (baik dan
jahat) secara bertingkat menyiapkan manusia untuk mengambil keputusan terakhir pada saat
kematian. Suatu dosa berat tak pernah terjadi tiba-tiba, tetapi memerlukan suatu proses
persiapan, sama dengan persiapan seseorang menjadi suci. Setiap dosa berat merupakan suatu
loncatan dan ancang-ancangnya adalah dosa-dosa ringan.

II.3. Peranan Suara Hati dalam Menimbang Dosa


Yang menentukan dosa berat atau ringan atau tiadanya dosa ialah suara hati. Suara hati ialah
kesadaran manusia mengenai baik tidaknya perbuatan yang telah atau akan dilakukan. Suara
hati merupakan suatu keputusan, bukan perasaan, mengenai perbuatan seseorang. Putusan
menurut suara hati selalu konkrit.

Suara hati bisa kurang tepat, bimbang, bahkan sesat karena pendidikan dan anggaran yang
keliru, lingkungan dan situasi hidup tertentu dan lain-lain. Oleh karena itu, suara hati harus
dibina supaya semakin sempurna dan tepat, dengan cara mempelajari ajaran agama, minta
nasihat kepada pembimbing rohani, membaca buku-buku rohani dan pengetahuan moral serta
majalah-majalah Katolik.

Walaupun bisa keliru, suara hati bersifat mutlak. Artinya orang harus selalu menuruti suara
hatinya. Dalam Rm 14:22-23, Santo Paulus mengatakan: “Berpeganglah pada keyakinan yang
engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak
menghukum dirinya sendiri, dalam apa yang dianggapya baik untuk dilakukan… Dan segala
sesuatu yang tak berdasarkan iman adalah dosa.” Konsili Vatikan II menyatakan dalam Dekrit
tentang kebebasan agama no.3: ‘Dalam semua aktivitas, manusia harus mengikuti suara
hatinya dengan setia.’

Suatu perbuatan yang tidak diketahui pasti sebagai perbuatan dosa berat karena suara hati
bimbang, tidaklah wajib diakukan, tetapi amat dianjurkan agar perbuatan itu diterangkan kepada

55
pembimbing rohani atau bapa pengakuan. Ini merupakan jalan terbaik untuk mencapai
ketentraman hati dan untuk mendapat pengertian tepat tentang perbuatan serupa di kemudian
hari. Kalau hal ini tidak dibicarakan, orang akan terus-menerus bimbang. Dengan cara itu suara
hati kita dididik.

III. SESAL HATI / TOBAT


Sesal hati merupakan syarat mutlak untuk memperoleh pengampunan dosa. Sesal hati bukanlah
rasa sesal. Sesal hati tidak mutlak terdiri dari perasaan-perasaan (kapok, putus-asa, bosan, tidak
enak) maupun air mata. Sesal atas dosa selalu ada hubungannya dengan Tuhan.

Sesal tak sempurna terjadi apabila manusia menyesali dosa-dosanya karena takut kepada Tuhan
yang manjatuhkan hukuman. Sedangkan sesal sempurna timbul bila manusia sadar telah
mengecewakan cinta kasih Allah atau karena cintanya kepada Allah.

Sesal tak sempurna sudah cukup untuk pengakuan dosa. Dalam pengakuan dosa, sesal tak
sempurna itu menjadi sempurna karena dengan diberi absolusi manusia menerima kembali cinta
Tuhan. Sedangkan sesal sempurna bagitu kuat sehingga dalam pengakuan dosa segala dosa
diampuni termasuk dosa berat.

Kedua macam sesal itu disebut dalam doa tobat: ‘Tuhan yang Maharahim, aku menyesal atas
dosa-dosaku, sebab patut aku engkau hukum (=sesal tak sempurna), terutama sebab aku telah
menghina engkau, yang Mahamurah dan Mahabaik bagiku (=sesal sempurna).’

Sesal yang sungguh-sungguh selalu harus disertai tobat yang benar. Artinya si pendosa harus
berpaling dari perbuatannya yang jahat dan mempunyai niat teguh untuk menjauhi dosa. Ini
disebut metanoia (bahasa Yunani), yang artinya memutar-balikkan diri, yaitu kembali kepada
Allah. Metanoia lebih daripada tobat karena mengungkapkan suatu perubahan menyeluruh,
suatu perubahan yang mengarahkan manusia secara total kepada Tuhan. Metanoia menuntut
suatu perbaikan mentalitas, suatu perubahan pemikiran dan kehendak. Oleh karena itu, niat
teguh untuk tidak berbuat dosa lagi menjadi ujian nyata (testing point) terhadap kesugguhan
tobat kita.

Penting sekali bagi kita untuk menggunakan sarana-sarana untuk menghindari dosa, yaitu
dengan berdoa, dengan bersikap menjauhi kesempatan-kesempatan yang merupakan bahaya
besar untuk jatuh ke dalam dosa. Bila kita tidak mau menggunakan sarana-sarana itu, maka
sebetulnya tobat tidak ada artinya sama sekali. Yesus dengan jelas mengatakan: “Jika tangan
kanan atau kakimu menggoda engkau untuk berbuat dosa, potonglah dan buaglah dia, karena
lebih baik bagimu… daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” (Mat 5:30). Maksudnya
kita harus berani mangambil tindakan tegas untuk menyelamatkan jiwa kita, walaupun itu
mungkin bararti memutuskan hubungan dengan atau meninggalkan kenikmatan.

Tobat Kristiani tidak pernah dapat dilepaskan dari Kristus. Manusia tidak mampu kembali
kepada Tuhan dengan kekuatannya sendiri. Ini merupakan hasil amal penebusan Kristus.
“Anak-anakku, aku menulis hal ini kepadamu supaya kamu tidak beruat dosa. Tetapi andaikata

56
seorang berbuat dosa, maka kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, ialah Yesus
yang adil. Dialah silih bagi dosa-dosa kita.” (1 Yoh 2:1).

IV. PENGAKUAN DOSA


IV.1. Pemeriksaan Batin
Sakramen Pengakuan Dosa bukan saja diadakan Kristus supaya dosa kita diampuni, melaikan
juga supaya kita memperbaiki hidup kita sebagai orang Kristen. Maka kita perlu mengadakan
pemeriksaan batin yang mendalam untuk mengetahui dosa apa yang telah kita lakukan dan
perlu diperbaiki. Bila kita berulang-ulang malakukan dosa yang sama, kita harus mancari
akarnya dengan mancari sikap hati yang melahirkan dosa-dosa itu, misalnya kesombongan,
kelalaian, sikap acuh tak acuh, keras hati, terlalu ingat diri, materialisme, dan lain-lain. Bila kita
sudah mangetahui salah satu akar dari kesalahan-kesalahan tadi, dengan pertolongan rahmat
Tuhan, kita akan dengan lebih mudah memperbaikinya.

Pemeriksaan batin seperti ini penting untuk lebih mengenal diri kita sendiri. Sebaliknya,
mengenal diri mempermudah pemeriksaan batin dan mempersiapkan kita untuk dengan tulus
ikhlas dan rendah hati menghadap Kristus dalam Sakramen Tobat. Baik sekali bila kita melatih
memeriksa batin kita secara tetap setiap hari.

Dalam pemeriksaan batin untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa, kita dapat mengikuti
suatu skema seperti:
 Bagaimana tingkah laku saya terhadap Tuhan (perintah Alllah 1,2,3) ?
 Bagaimana tingkah laku saya terhadap orang tua dan orang-orang yang mewakili Tuhan
(perintah 4) ?
 Bagaimana tingkah laku saya terhadap sesama manusia (perintah 5,6,7,8) ?
 Bagaimana tingkah laku saya terhadap diri sendiri dengan keinginan yang tak teratur
(perintah 9,10) ?

Pada dasarnya kesepuluh perintah Allah ini berlaku bagi setiap orang Kristen. Kita melihat
tingkah laku kita sebagai murid Yesus yang dipanggil pada kesempurnaan hidup. Sebagai
anggota umat Katolik, kita wajib memenuhi hukum- hukum Gereja.

IV.2. Pengakuan Dosa-dosa Berat dan Ringan


Semua dosa berat yang dilakukan setelah permandian harus diakukan dengan terang dan
lengkap. Dosa berat yang terlupakan tanpa disengaja sungguh-sungguh diampuni, namun jika
kemudian teringat kembali pada kesempatan lain perlu dilakukan lagi. Sedangkan dosa berat
yang sengaja disembunyikan menyebabkan seluruh pegakuan tidak sah, malahan ditambah
dengan dosa sakrilegi (=penghinaan terhadap sakramen, dalam hal ini Sakramen Tobat), yang
membuat pengakuan itu harus diulang.

Dosa-dosa ringan pada umumnya tidak wajib dilakukan (Dalam hal ini perlu sekali
diperhatikan bahwa kita tidak pernah bisa tahu secara pasti apakah dosa yang telah kita
lakukan tergolong dosa berat atau ringan. Sebagai perbandingan: para kudus secara
paradoksal dalam tingkat kesucian yang tinggi sering mengalmi keadaan dirinya sebagai orang
yang paling berdosa.) Akan tetapi akan sangat berguna bagi si pendosa untuk mengakukan

57
dosa-dosa ringan ini. Walaupun dosa-dosa ini dapat diampuni melalui doa-doa, derma,
matiraga, permintaan maaf tehadap sesama. “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan
saling mendoakan supaya kamu sembuh.” (Yak 5:16), atau bisa juga lewat perayaan Ekaristi
dan sakramentali (berkat imam, air suci, salib abu di dahi), namun dosa-dosa ringan baik juga
dilakukan dalam Sakramen Pengampunan Dosa agar kita bisa memperoleh belas kasih dan
rahmatNya sebagai sarana untuk menghindari dosa. Kebiasaan mengakukan dosa-dosa ringan
secara teratur merupakan dorongan Roh Kudus dan sangat penting bagi orang yang mau
menjalani kehidupan kudus.

IV.3. Absolusi
Absolusi adalah pengmpunan resmi Gereja, yang biasanya di berikan setelah pengakuan pribadi
dosa-dosa seseorang kepada imam atau Uskup. Dalam keadaan khusus, misalnya jumlah besar
umat yang mau bertobat menjelang Natal dan Paskah, absolusi untuk kelompok bisa diberikan
oleh Uskup kepada sekelompok orang yang menerima Sakramen Pengakuan Dosa bersama-
sama.

IV.4. Penitensi
Penitensi berarti hukuman atau denda. Setelah berbuat dosa, kita patut dihukum atau
menanggung denda. Bapa pangakuan diwajibkan memberikan penitensi. Penitensi bisa berupa
doa-doa (misal: 5 kali Bapa Kami, dan lain-lain), atau semacam mati raga, atau bisa juga
dirundingkan dengan orang yang bertobat atas usulannya.

IV.5. Kapan Mengakukan Dosa


Kita dianjurkan untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa sebelum perayaan-perayaan besar,
seperti Paskah dan Natal, sebelum menerima Sakramen Perkawinan, sebelum memulai suatu
tugas penting dan berat. Juga pada saat kita mengalami pencobaan atau kelemahan, Sakramen
Pengakuan Dosa merupakan sarana istimewa untuk memperoleh kekuatan khusus dari Tuhan.
Bagi mereka yang bersungguh-sungguh mau menghayati kehidupan kudus, Sakramen
Pengakuan Dosa sangat baik dilakukan secara teratur dengan lebih sering lagi (misalnya sebulan
sampai tiga bulan sekali tergantung kebutuhan) dengan seorang bapa pengakuan, sekaligus
seorang pembimbing rohani yang tetap.

IV.6. Imam sebagai Wakil Kristus dalam Sakramen Pengakuan Dosa


Sakramen Pengakuan Dosa merupakan tanda nyata cinta kasih Penyelamatan kita, Yesus
Kristus. Sakramen ini merupakan suatu pertemuan pribadi dengan Yesus. Ia mendengar
pengakuan dan keluh-kesah kita. Dialah yang dengan perantaraan para imam mengampuni
dosa-dosa kita. Yesuslah yang mengampuni dan memberikan kepada kita kepastian bahwa
hubungan kita dengan Tuhan dieratkan kembali. Imam bertindak sebagai wakil Kristus lewat
pentahbisan dan menggunakan kuasa kristus untuk mengampuni dosa dan memperdamaikan
pendosa dengan Tuhan.
Ada beberapa alasan mengapa Yesus melimpahkan kuasa mengampuni kepada para imam:
1. Memakai manusia untuk melanjutkan karyaNya di dunia merupakan cara Tuhan bekerja. Bila
dosa kita diampuni oleh seorang wakil Kristus, kita dapat mengalami belas-kasihan Yesus
sendiri melalui orang itu.

58
2. Karena dosa memiliki dimensi sosial, imam tidak hanya mewakili Yesus Kristus, tetapi juga
Gereja atau komunitas Kristen seluruhnya.
3. Kuasa pengampunan tidak hanya sampai pada para rasul, tetapi diteruskan pada para imam
karena pengampunan dosa terus berlangsung selama dosa ada di dunia. Selama dosa selalu
ada di dunia, obat untuk dosa selalu juga ditemukan di Gereja.
4. Kuasa pengampunan hanya diberikan kepada para rasul dan imam, sama halnya dengan
pembaptisan diberikan kepada manusia lewat mereka (kecuali baptis darurat).
5. Imam diberi kuasa memberikan pengampunan kepada mereka yang benar-benar bertobat dan
menolak mereka yang tidak sungguh-sungguh menyesali dosa. Imam tidak tahu dosa-dosa
mana bisa di ampuni dan mana yang tidak apabila dosa itu tidak diakukan kepada mereka.
6. Imam bisa menghibur dan menyemangati mereka yang menyesali dosa-dosa, atau bahkan
berdosa bersama mereka untuk penyembuhan daerah-daerah dosa tertentu atau kegagalan-
kegagalan dalam hidup mereka.

59
7. SPIRITUAL KARMEL I
Latar Belakang

I. SEJARAH KARMEL
Dalam kitab suci nama Karmel dikaitkan dengan beberapa peristiwa besar yang terjadi dalam
sejarah keselamatan, khususnya dengan pribadi nabi besar Elia dan Elisa. Sejak dahulu kala
Gunung Karmel di Palestina merupakan tanah yang suci, bukan hanya bagi para Karmelit,
melainkan juga bagai banyak orang lain, kata ‘Karmel’ adalah singkatan dari Karem El, artinya
Kebun Anggur Allah, merupakan lambang kesuburan dan rupanya dulu memang tempat yang
sangat subur dan indah.

Bagi para Karmelit, nama Gunung Karmel khususnya dikaitkan dengan nabi Elia, yang dalam
kuasa Allah seorang diri menghadapi para nabi palsu yang menyesatkan umat Allah (1 Raj
18:19-39). Di sana itu pula, menurut tradisi, nabi Elia, dan juga muridnya, nabi Elisa, hidup di
hadirat Tuhan. Di kemudian hari, karena kenangan itu, banyak orang Kristen memilih Gunung
Karmel menjadi tempat kediaman mereka untuk bertapa. Gunung Karmel merupakan tempat
yang disenangi para petapa, karena kesuniannya yang penuh damai dan pemandangan alamnya
yang indah merupakan tempat ideal bagi mereka yang merindukan perjumpaan yang mesra
dengan Allah dalam keheningan dn kesunyian.

Pada akhir abad ke 12 dan permulaan abad ke 13 di suatu bagian Gunung Karmel hiduplah
sekelompok pertapa, yang kemudian hari dikenal dengan nama para Saudara Santa Perawan
Maria dari Gunung Karmel. Antara tahun 1206 dan1214 mereka menerima suatu Pedoman
Hidup, suatu Regula, dari Santo Albertus, Patriarka Yeusalem (Patriarka=gelar untuk uskup
agung dalam Gereja Timur). Pedoman hidup itu mengungkapkan cita-cita mereka (yang telah
lama mereka hayati dalam hidup sehari-hari sebelum dituliskan) dan kemudian menjadi
pegangan mereka dalam menghayati cita-citannya. Mereka inilah yang menjadi pendahulu para
Karmelit dewasa ini. Karena semua serikat yang ada memiliki pendiri, mereka menjadikan Elia
pendirinya. Walaupun ia memang memberikan inspirasi khusus bagi para Karmelit,
sesungguhnya Elia merupakan teladan dan model para pertapa secara umum.

Umumnya para Karmelit awali hidup dalam keheningan dan kesunyian, mengalami kehadiran
Allah yang mesra dan melampaui segala pengertian. Para rahib ini juga kadang-kadang turun
gunung untuk mewartakan sabda. Mereka merasakan dahaga yang besar akan kontemplasi dan
hidup menurut semangat Elia, yaitu berdiri di hadirat Allah yang hidup, atau dalam bahasa
latinnya Vivit Dominus in Cuius Conspectu Sto. Sebagaimana Elia, para karmelit merasakan
sukacita dengan hidup dalam ketersembunyian di hadirat Allah.

Tujuan hidup bertapa yang diungkapkan dalam Regula ialah pengenalan dan persatuan dengan
Allah dalam Yesus Kristus yang diungkapkan degan istilah ‘Mengikuti Yesus Kristus’. Untuk
persatuan dengan Allah itu dibutuhkan kemurnian hati serta kebersihan suara hati yang besar.
Sebaliknya kemurnian hati bukanlah tujuan melainkan syarat untuk terarah kepada keterbukaan
akan Allah. Keterbukaan ini mengundang Allah untuk berkarya dalam dirinya, mengubahnya,
serta mempersatukan dia dengan diriNya sendiri. Untuk memperoleh kemurnian hati ini, Regula

60
memberi sarana yang efektif sekali: hidup di hadirat Allah. ‘Hendaknya masing-masing tinggal
dalam pondoknya, siang malam merenung hukum Tuhan dan berjaga-jaga dalam doa.’

Dalam Kitab Suci diceritakan bagaimana Elia dituntun oleh Allah ke Gunung Horeb (sinai),
gunung yang bersejarah karena beberapa abad sebelumnya telah terjadi peristiwa penting di
sana, yaitu Allah menyatakan diri keada Musa lewat semak duri yang menyala tanpa membakar
(bdk. Kel 3:2). Dalam kesunyian dan keheningan yang besar di Gunung Horeb, Elia berjumpa
degan Allah lewat angin sepoi-sepoi basa (1 Raj 19:12).

Demikianlah para Karmelit dipanggil untuk dapat menciptakan dalam jiwa mereka suasana
padang gurun lewat keheningan dan kesunyian rohani. Dan pada saatnya mereka didorong
untuk terus bertekun menuju Gunung Allah tempat api menyala tanpa membakar. Untuk itu
para Karmelit hidup dalam suasana silentium (=keheningan, bebas dari keributan, hiruk pikuk,
dan suara-suara yang mengganggu) yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Mereka hidup dalam
pondo-pondok yang terpisah, yang dapat memudahkan mereka untuk menghayati silentium,
keheningan, dan kesunyian, yang sangat membantu untuk mengarahkan hati kepada Allah
dalam doa dan kontemplasi, serta pergaulan yang mesra dengan Allah yang hadir dalam jiwanya
yang terdalam. Dari persatuan yang mendalam ini akan mengalir keluar semangat kerasulan
serta kesuburan rohani yang besar bagi Gereja dan dunia.

Tak dapat disangkal lagi bahwa kerinduan para Karmelit yang terutama adalah persatuan
dengan Allah. Bagi para Karmelit, kerinduan ini adalah hal yang mendesak dan sekaligus juga
menjadi sebab keberadaan karmel. Para Karmelit hidup dengan kesadaran akan kehadiran Allah
baik pada alam semesta, sesamanya, dan di dalam hatinya.

Semua ini dihayati dalam suatu hidup persaudaraan dengan orang lain yang secita-cita.
Hubungan yang satu dengan yang lain ditandai dengan kasih persaudaraan : saling membantu,
meneguhkan, dan juga saling memperbaiki dalam mencapai cita-cita bersama.

Para karmelit menemukan panggilannya dengan tak henti-hentinya kembali ke dalam


keheningan dan mendengarkan suara Allah yang merindukannya, “Aku akan membujuk dia, dan
membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.” (Hos 2:13) Untuk itu
mereka berusaha untuk selalu menyadari suasana padang gurun hatinya, dan sesudah menarik
diri dalam keheningan batin ini, menepatkan diri di hadirat Allah yang hidup. Maka cahaya
kebenaran akan menerangi dan memurnikan jiwa yang setia tinggal di padang gurun hatinya.

II. KEKHASAN SPIRITUAL KARMEL


Dasar spiritualitas Karmel adalah pengalaman akan Allah yang langsung dan mendalam. Oleh
karena itu, mereka yang ingin menghayati kehidupan karmel membutuhkan kerinduan yang
besar akan kontemplasi. Kerinduan akan kontemplasi tidak diperoleh lewat usaha manusia
semata, tetapi Allah sendirilah yang menanamkan kerinduan itu dalam lubuk terdalam jiwa
manusia dan memeliharanya dengan rahmat Roh Kudus.

Didorong oleh kerinduan yang besar maka para Karmelit mencari Allah dan mendambakan
kelepasan dari segala sesuatu yang dapat menghalanginya untuk bersatu dengan Allah; semakin

61
hari semakin dibebaskan dari kedagingan, dan menjadi semakin rohani dengan dibawa pada
kehidupan dalam roh. Hal ini menghantarkan jiwanya kepada kesederhanaan dan kemiskinan
rohani, sebagaimana yang diungkapkan seorang kudus karmel, St. Yohanes dari Samson, ‘cita-
cita karmel adalah hidup dalam tingkat kemurnian yang besar, dan untuk masuk kedalam Allah
dengan segala kekuatannya.’ Dengan bantuan rahmat Allah, para Karmelit mempunyai tujuan
untuk mempersembahkan kepada Allah hati yang suci murni noda dosa aktual (=dosa yang
berasal dari diri kita sendiri, bukan dosa asal).

Tujuan ini hanya dapat dicapai jika kita sempurna dalam cinta kasih, ‘sebab cinta kasih
menutupi banyak dosa’, lagi pula cinta kasih adalah ‘pengikat segala kesempurnaan’ serta
‘tujuan segala perintah Allah’. Semua ini hanya bisa kita peroleh dengan bantuan Roh Kudus.
“Dan pengharapan ini mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita
oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rm 5:5).

Tujuan kedua para Karmelit ialah mengenyam dalam hati dan mengalami dalam roh, kekuatan
kehadiran Allah serta kemanisan kemuliaan yang dari atas, bukan hanya dalam hidup yang akan
datang, melainkan sudah dalam hidup ini, sehingga walau masih di dalam hidup ini sudah dapat
menikmati prarasa surgawi, mereguk kebahagiaan kemuliaan Allah.

Sesungguhnya inilah surga di dunia, permulaan hidup abadi yang sudah boleh kita alami sejak
sekarang ini, yang bukan lain daripada mengenal Bapa dan PuteraNya dalam kuasa Roh Kudus
dengan cara yang melampaui segala pengertian.

Mengenal Allah berarti dibawa masuk ke dalam aliran hidup yang keluar dari Bapa menuju ke
Putera di dalam Roh Kudus dan kembali lagi kepada Bapa. Inilah pengenalan yang hidup, yang
berasal dari persatuan cinta kasih yang amat mesra dengan Allah segala sesuatu yang ada dalam
diri kita akan diubah oleh api kasih, sehingga sgalanya menjadi ilahi, laksana kayu yang telah
membara oleh api yang membakarnya.

III. MARIA BUNDA KARMEL


Bagi para Karmelit, Maria adalah tokoh yang sangat istimewa dan menjadi kencintaan semua
karmelit. Bahkan sejak zaman dahulu, para Karmelit di gunung Karmel telah mengangkat
Bunda Maria sebagai pelindung dan saudari mereka, sehingga mereka dikenal dengan sebutan
‘Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.’ Sejak semula dalam tradisi
karmel tiada henti-hentinya dilambungkan madah pujian sebagai tanda cinta dan hormat kepada
Sang Perawan.

Menurut tradisi, pada tahun 1251 Bunda Maria menampakan diri kepada Simon Stock, seorang
tokoh karmel. Dalam penampakanya itu, Bunda Maria memberikan skapulir sebagai tanda
kasihnya yang istimewa dan ikrar perlindungan keibuannya. Kepada Simon Stock Bunda Maria
mengatakan, ‘Benda ini akan menjadi bagianmu dan semua karmelit suatu hak istimewa, yaitu
tidak akan menderita api abdi dan akan diselamatkan, bagi mereka yang mengenakannya saat
meninggal.’

62
Skapulir bukanlah sakramen Gereja melainka tanda lahiriah dari komitmen batin untuk
berusaha dalam kebajikan dan kesucian di bawah perlindungan Bunda Maria. Paus Pius XII
dengan gembira mengakui, ‘Aku belajar mencintai skaulir Maria dalam pelukan ibuku.’

Di antaranya kami harus mengingat dengan baik Rosario Maria dan Skapulir Gunung Karmel
yang merupakan suatu bentuk kesalehan yang dijalankan dengan keserhanaan dalam semangat
yang setiap orang diharapkan memiliki dan telah disebarluaskan di kalangan umat beriman
demi makin banyaknya buah-buah rohaniahnya. (Paus Paulus VI)

Menurut kebaikan dan kebijaksanaaNya yang tidak terperikan, Allah telah mengikutsertakan
Santa Perawan Maria secara istimewa dalam rencana keselamatanNya. Oleh sebab itu, patutlah
dia kita hormati dan cintai secara istimewa pula.

Maria telah diselamatkan secara istimewa dan dipersatukan dalam ikatan yang sangat dalam dan
mesra dengan Putranya. Dia telah menjadi Bunda Putera Allah dan karenanya juga menjadi
puteri yang paling dikasihi Allah Bapa, serta kenisah istimewa Roh Kudus. Oleh karunia Roh
Kudus yang luar biasa, ia telah diangkat jauh mengatasi segala mahluk di surga dan di dunia.
Oleh iman dan cintannya ia telah ikut serta melahirkan di dalam Gereja orang-orang beriman
yang merupakan anggota Tubuh Kristus. Maria adalah Bunda Gereja dan tentunya juga Bunda
para karmelit. Oleh sebab itu, patutlah kita bersama seluruh Gereja Katolik, yang diterangi oleh
Roh Kudus, meghormatinya dengan cinta kebaktian yang mendalam, sebagaimana patutnya
bagi seorang ibu yang patut dicintai.

Sejak semula Maria telah dikandung tanpa noda dosa. Dalam dirinya segala sesuatu secara
murni dan utuh terarah kepada Allah. Karena sejak semula diangkat dalam suatu tingkat
persatuan dan kontemplasi yang amat luhur, tak pernah ada pengaruh makhluk dalam dirinya,
serta tidak pernah pula segala sesuatu digerakkan sendiri oleh keinginan pribadinya, tetapi
seluruhnya digerakkan oleh Roh Kudus. Dialah yang penuh rahmat sejak semula.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa Allah dalam rencanaNya sejak semula
menghendaki agar kitapun mempunyai hubungan yang mesra dengan dia, bahwa dia juga —
karena Yesus Kristus — menjadi saluran rahmat Allah bagi kita. Dialah ibu yang diberikan
Tuhan kepada kita, dialah teladan kita, dialah kepenuhan keselamatan yang dapat diperoleh
manusia. Itulah sebabnya dia menjadi lambang pengharapan kita.

Dibentuk oleh Roh Kudus sendiri, Maria merupakan teladan iman yang mendalam, kerendahan
hati yang besar, dalam roh dan hatinya ia seluruhnya terarah kepada kehendak Allah, “Aku ini
hamba Tuhan, teradilah padaku menurut perkataanmu.” (Luk 1:38)

Maria Perawan termulia itu, dengan segenap hatinya mengiyakan kehendak Allah yang
menyelamatkan, membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi dan
karya PuteraNya. Dengan demikian ia membantu pelaksanaan karya penyelamatan Allah dan
dalam semangat keibuannya mengambil bagian dalam kurban salib Puteranya.

Bunda Maria juga merupakan teladan bagi para pertapa. Secara istimewa Maria adalah teladan
orang yang hidup dari Sabda Tuhan, yang selalu meresapkan Sabda Tuhan dalam hatinya.

63
Segala sesuatu dihayatinya berdasarkan sabda tersebut, juga bila kadang-kadang semua
tampak gelap dan tidak dimengertinya. Namun, seluruh hidupnya dibimbing oleh Sabda
Allah dengan terang Roh Kudus yang senantiasa menjiwainya. Karenanya kita pun patut
meneladaninya serta memasuki hubungan yang lebih dalam dengannya.

Hubungan yang mendalam dan mesra dengan Maria bukanlah pertama-tama soal perasaan
melainkan buah dari suatu kontemplasi iman yang penuh cinta. Semakin dalam hidup doa
kita, semakin terbukalah bagi jiwa peranan Maria Perawan termulia dalam karya keselamatan
Allah: kepenuhannya dalam rahmat dan kesucian, dan misteri yang mendalam dalam hidupnya.
Karena peresapan terus menerus dari Sabda Allah, karena kemurnian tubuh dan jiwanya,
serta kepekaannya terhadap dorongan Roh Kudus, Maria menjadi teladan dan cita-cita dari
semua orang yang mencari kemesraan Allah.

Dengan setia dalam doa dan kontemplasi, sedikit demi sedikit, akan timbul dan
berkembanglah dalam diri kita suatu hubungan yang mesra dengan Maria, yang
akhirnya membawa kita masuk lebih jauh lagi ke dalam misteri persatuan dengan
Kristus dan BapaNya.

Biarpun Maria melampaui semua rasul, ia membiarkan mereka tampil dan memimpin. la hanya
mendampingi mereka dari belakang dengan doa dan berkatnya. Bersama mereka ia
berdoa menantikan kedatangan Roh Kudus. Sesudah itu ia tersembunyi dalam tubuh
Gereja yang barn lahir itu dan tak akan pernah tampil lagi. Namun kemudian, Allah
meninggikannya di atas segala makhluk.

Singkatnya, Bunda Maria menjadi prototipe/ model para Karmelit karena ia tipe orang beriman,
pelaksana kehendak Allah, tipe orang kontemplatif dan orang yang peka dan tanggap terhadap
bimbingan Roh Kudus.

IV. ELIA, BAPA DAN PEMIMPIN KITA


Di balik tebing yang tinggi dan berselimutkan hutan lebat Pegunungan Efraim,
mengalirlah mata air yang menjadi sumber Sungai Kerit. Dalam keheningan dan
kesunyian yang besar itulah, Elia tinggal untuk sementara waktu, sesuai dengan yang
diperintahkan Tuhan kepadanya. Dengan meminum air Sungai Kerit untuk melepaskan
dahaganya, di sanalah Eliapun mereguk air kehidupan ilahi dalam kontemplasi. Hariharinya
diisi dengan doa, menjalin persatuan yang mesra dengan Allah, dan hidup di hadirat Allah siang
dan malam.

Dalam tradisi para Bapa Gereja, nabi Elia selalu dipandang sebagai tokoh dan teladan para
pertapa. Demikian pula dalam tradisi Karmel sejak semula, nabi Elia dipandang sebagai
penggerak dan penjiwanya dan karenanya dia dipandang sebagai ‘bapa dan pemimpin’ para
Karmelit.

Elia pertama-tama adalah insan Allah. Hidupnya diresapi oleh Allah dan segala kegiatannya
didorong oleh kehendak Allah serta kemuliaanNya. Elia adalah tokoh pertapa yang
melewatkan hampir seluruh hidupnya dalam kesunyian di hadirat Allah. Ini dilakukannya

64
karena dorongan Allah sendiri, yang menariknya ke dalam kesunyian. Di situ ia mengalami
kemesraan cinta Allah dan di situ pula ia tumbuh dalam hubungannya dengan Tuhan.
Hidupnya seluruhnya tergantung dari Tuhan dan tiada henti-hentinya ia mengalami
penyelenggaraan ilahi yang mengagumkan, yang tidak membiarkannya seorang diri.

Oleh karena persatuannya yang mesra dengan Allah, segala doanya dikabulkan Tuhan, sehingga
ia membangkitkan anak janda yang memberi tumpangan kepadanya. Hatinya selalu siap sedia
melakukan kehendak Tuhan serta menjalankan perintahNya. Karena perintah Tuhan, ia
menghadapi raja yang murtad serta nabi-nabi Baal yang menyesatkan umat, serta mengembalikan
umat kepada Allah yang benar.

Khususnya Elia adalah insan Allah yang senantiasa hidup dalam hadirat Allah di tempat yang
sunyi. Di dalam kesunyian itulah Tuhan mengajarkan kepadanya rahasia hidupNya dan membawa
dia kepada pengenalan yang sangat dalam dan mesra tentang diriNya sendiri. Allah menyatakan
rahasiaNya yang terdalam bukan dalam keributan angin, gempa, atau api, melainkan dalam
keheningan yang mendalam.

Kehidupan Elia yang eremitik (=tapa) namun juga sekaligus kenabian (=pewartaan) menjadi
sumber inspirasi dan mengungkapkan cita-cita Karmel yang terdalam. Elia menjadi teladan kita
para Karmelit, yang senantiasa hidup di hadirat Allah dan bila Tuhan menghendaki tak segan-
segan turun gunung melaksanakan kehendakNya. Semangat kerasulannya yang murni ini timbul
dari persatuannya yang mesra dengan Allah.

65
8.a. SPIRITUALITAS KARMEL II
Menggapai Kekudusan di Jalan Karmel

I. HIDUP DI HADIRAT ALLAH


Hidup di hadirat Allah merupakan salah satu sarana untuk mencapai persatuan cinta kasih
dengan Tuhan. Dan inilah yang ingin selalu diusahakan oleh para Karmelit, termasuk para
anggota KTM, yang setiap hari memohonkannya dalam Doa Penyerahan: ‘Bimbinglah kami
agar kami senantiasa sadar untuk hidup di hadiratMu, siang malam beqagajaga dalam doa dan
merenungkan hukumMu.’

Hidup di hadirat Allah berarti senantiasa menyadari kehadiran Allah, dengan berusaha
mengarahkan hati dan pikiran selalu kepada Tuhan. Sebagaimana yang dikatakan oleh
Beata Elisabeth dari Trinitas, hati kita adalah tempat kediaman Allah Tritunggal Mahakudus,
Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Kapanpun dan di manapun, Ia tidak pernah meninggalkan kita.
Elisabeth dari Trinitas ini mencapai kekudusannya dengan jalan senantiasa menyadari kehadiran
Allah yang bersemayam di hatinya. ‘Hidup di hadirat Allah berarti hidup dalam kesucian yang
besar,’ demikian ungkap Br. Lawrence dari Kebangkitan, seorang Karmelit yang hidup di
sekitar abad ke 16.

Untuk bisa tinggal di hadirat Allah, kita perlu melatih diri. Doa Yesus sepanjang hari adalah
salah satu cara untuk dapat selalu hidup di hadirat Allah. Selain itu kita juga bisa
membiasakan diri bercakap-cakap dengan rendah hati namun penuh cinta kasih kepada Dia di
segala waktu, terlebih saat dalam godaan, penderitaan, kekeringan, kecemasan, bahkan ketika
kita sedang tidak setia dan berdosa. Dengan hati dan pikiran yang selalu terarah kepada
Tuhan, kita membuat seluruh keberadaan kita menjadi sebuah percakapan kecil dengan
Allah, suatu komunikasi yang lahir dari hati yang murni dan sederhana. Hati kitapun akan
menjadi lebih lepas bebas dan damai, tidak lagi terbeban dengan berbagai masalah duniawi.

Latihan ini perlu dilakukan dengan setia, agar akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Apabila
kita setia melakukan latihan ini, maka hati akan terangkat kepada Allah, dan jiwa mengalami
damai dan sukacita di dalam Allah, bahkan sekalipun kita tidak sedang berdoa. Segala
pekerjaan dilakukan dengan tenang, lembut, dan penuh cinta kasih, sebagai persembahan
kepada Allah sebagaimana yang diteladankan oleh St. Theresia dari Lisieux. Perhatian
yang terus menerus kepada Tuhan ini juga akan dapat memenggal kepala si jahat yang
selalu mengintai dan menanti kelemahan kita.

Setiap kali ada kesempatan, Allah akan senang sekali jika kita menyempatkan diri
untuk menyembah Dia yang hadir di kedalaman hati kita. Ini menunjukkan bahwa kita
menyadari la hadir di sepanjang aktivitas kita. Walaupun sebentar saja, kita dapat masuk ke
dalam hati kita, menjumpai Dia yang bersemayam di sana. Di sanalah jiwa berbicara dari hati
ke hati dengan Allah dan menikmati kemuliaan Allah di lubuk hati yang terdalam.
Memang, latihan ini bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi, kita tidak usah berkecil hati
jika mengalami kegagalan. Bila jatuh, kita bangkit lagi dan mencoba lagi, sebab kebiasaan ini
akan lahir dari adanya usaha. Apabila sudah berhasil kelak, kita akan mendapatkan kepuasan
ilahi, karena dapat mencintai Allah di atas segalanya, dapat menyadari kehadiranNya dan

66
limpahan kasihNya terus menerus, sebagaimana yang dikatakan oleh Elisabeth dari
Trinitas, ‘Jiwa Karmelit adalah jiwa yang senantiasa menyadari kehadiran Allah di
lubuk jiwanya, dan yang matanya selalu menatap ke surga.’

II. PEMURNIAN
Orang-orang yang merindukan persatuan dengan Allah, biasanya mengalami banyak
pemurnian, yang oleh St. Yohanes dari Salib disebut dengan Malam Gelap. Malam
Gelap ini dibagi menjadi Malam Gelap Indrawi (pemurnian indrawi) dan Malam Gelap
Rohani (pemurnian rohani) dan juga menjadi Malam Gelap aktif atau pasif. Malam
Gelap disebut aktif sejauh orang secara aktif mengusahakan pemurnian lewat pantang, puasa,
penyangkalan diri; disebut pasif bila orang tersebut mengalami pemurnian lewat
peristiwa-peristiwa atau campur tangan Allah demi kebaikannya sendiri. Dalam
Malam Gelap Indrawi, jiwa dimurnikan dari 7 dosa pokok, yaitu kesombongan,
keserakahan, percabulan, kemarahan, kerakusan, iri hati, dan kemalasan. Berikut akan
diuraikan secara singkat mengenai pemurnian indrawi seturut ajaran St. Yohanes dari Salib.

II.1. Dosa Pokok

II.1.1 kesombongan
Para pemula dalam kehidupan rohani biasanya sangat rajin dan bersemangat sehingga tanpa
disadari timbullah kesombongan dalam diri mereka. Mereka akan heran melihat orang lain
tidak rajin berdoa seperti mereka; mereka senang membicarakan soal-soal rohani di depan
banyak orang, dan seringkali mereka bagaikan orang Farisi masa kini yang bangga terhadap
dirinya dibandingkan dengan pemungut cukai. Setan yang senang jika manusia jatuh dalam
kesombongan akan terus membujuk dia untuk melakukan berbagai kegiatan rohani yang sangat
banyak sehingga ia merasa diri begitu kudus dan orang lain tidak. Apabila orang yang lebih
berpengalaman hidup rohaninya (misalnya imam, biarawan/wati, dsb.) memperingatkan, dia akan
menolak dan menganggap yang menegur itu tidak mengerti dan kurang suci.

Kadang-kadang mereka ingin orang lain mengakui semangat dan devosi mereka. Oleh karena itu,
seringkali mereka di depan umum menunjukkan kesalehannya dan mereka merasa puas sekali
jika ada orang melihatnya. Lebih parah lagi, mereka malu mengaku dosa apa adanya. Mereka
cenderung untuk mengaku dosa dengan cara sedemikian rupa sehingga tampak suci di mata
bapa pengakuannya. Mereka ini tidak suka memuji siapa pun, tetapi senang mencari pujian.

Umumnya gejala kesombongan ini muncul pada kebanyakan para pemula. Ada yang
kadarnya besar, ada yang kecil, namun hampir tidak ada pemula yang tidak jatuh dalam
jurang kesombongan ini.

Jiwa yang rendah hati melakukan yang sebaliknya: semakin mereka melakukan kebajikan,
bukannya semakin bangga tetapi justru semakin menyadari akan besarnya hutang budi
mereka kepada Allah. Cinta kasih di hati mereka membuat mereka ingin melakukan
segala sesuatu bagi Allah. Mereka tidak senang menggurui dan dengan rendah hati rela
dituntun oleh orang lain yang lebih berpengalaman. Mereka senang jika orang lain dipuji,
sebaliknya mereka sendiri tidak pernah mengejar pujian dan malu memamerkan

67
perbuatan-perbuatan baik mereka yang menurut mereka tidak berarti.
Kepada jiwa-jiwa y ang rendah hati inilah Allah sangat berkenan, dan
bersemayam di sana dengan seluruh kebijaksanaanNya.

II.1.2 keserakahan
Banyak pemula bersungut-sungut jika kurang mendapatkan penghiburan rohani.
Mereka tidak pernah puas walau sudah mendapat banyak nasihat, ajaran, dan berbagai
santapan rohani. Bahkan lebih daripada itu, mereka juga tidak pernah puas dengan barang-
barang rohani yang dimilikinya. Jiwa mereka terikat berlebihan pada keindahan benda tertentu.

Semua kelekatan ini akan memberhalakan barang-barang duniawi sekalipun bentuknya rohani,
dan menghambat jiwa untuk mengalami persatuan dengan Allah. Perhatian yang seharusnya
terarah sepenuhnya kepada Allah menjadi terpecah-pecah dengan hal-hal lain yang bukan Allah,
baik itu penghiburan rohani, gagasan-gagasan, barang-barang, dan sebagainya.

Jiwa y ang benar dan berkenan pada Allah adalah mereka y ang tidak
membebankan diri pada benda-benda tersebut, tidak berusaha untuk mengetahui
lebih dari apa yang dibutuhkannya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik demi Allah.
Dengan murah hati mereka memberikan segala yang dimilikinya, dan kesukaannya adalah
mencari jalan bagaimana caranya agar dapat mengasihi Allah dan sesama tanpa terikat pada
segala benda yang fana.

II.1.3 percabulan
Seringkali para pemula dalam melakukan latihan rohani mengalami kenikmatan yang tidak suci
di bagian indrawi jiwanya, bahkan bagi beberapa orang ada yang sangat mudah terhanvut
dalam perasaan-perasaan yang tidak suci, atau juga pikirannya terkontaminasi dengan
perkara-perkara yang tidak luhur. Setelah mendapat kepuasan rohani dalam doa, mereka
langsung mengalami kenikmatan yang memabukkan dan membelai-belai indra mereka,
seolah mereka ditelan oleh kenikmatan dan kepuasan dosa itu.

Biasanya orang-orang yang mudah jatuh dalam kelemahan ini adalah mereka yang sensitif,
sehingga perangai dan darahnya mudah terangsang setiap kali ada perubahan dalam
tubuhnya. Mereka juga bisa menyukai orang lain dengan nafsunya, bukan karena roh. Untuk
membedakannya, cinta itu bisa dikenali berasal dari nafsu jika kita mengenangkan kembali
perasaan itu, kita bukannya semakin dekat dan mengasihi Allah, sebaliknya hati nurani
jadi merasa bersalah. Cinta itu murni rohani hanya jika cinta itu tumbuh seiring dengan
semakin besarnya cinta kita kepada Allah.

Ada tiga sumber penyebab jatuhnya jiwa dalam kelemahan ini. Yang pertama adalah kodrat
manusiawinya. Roh, bagian yang lebih luhur dari jiwa, mengalami kepuasan dari Allah. Akan
tetapi indra, bagian yang lebih rendah, karena tidak tahu bagaimana mengalami kenikmatan ini,
akhirnya mengambil kepuasan indrawi yang tidak suci. Sebagaimana seorang filsuf
mengatakan, setiap bagian menerima segala sesuatu menurut caranya sendiri. Akan tetapi,
apabila orang tersebut setia dan berserah kepada Allah, maka lewat Malam Gelap Allah akan
memurnikan bagian ini sehingga seluruh keberadaan kita dapat menerima segala sesuatu

68
dari Allah dengan cara ilahi.

Sumber yang kedua adalah setan. Biasanya roh jahat merangsang dengan pemikiran-pemikiran
yang tidak suci sehingga jiwa gelisah dan berhenti berdoa. Jiwa yang memberikan perhatian
sedikit saja kepada ulah setan ini akan sangat dirugikan karenanya, karena godaan akan semakin
besar, hingga sampai titik tertentu jiwa bisa merasa bahwa setan sudah betul-betul
menguasainya tanpa ia mampu mencegahnya sama sekali.

Sumber yang ketiga adalah ketakutan dari dalam diri mereka sendiri. Ada orang yang takut
terhadap hal ini sehingga akhirnya ia malah sangat terganggu karena dihantui oleh perkara-
perkara yang tidak suci ini.

Semua ini akan hilang lenyap secara perlahan-lahan, jika Malam Gelap melanda jiwa, dan
memurnikan semua kelemahan ini. Yang penting adalah tetap setia dan berserah kepada
karya Roh Kudus yang bekerja di dalam jiwa kita masing-masing.

II.1.4 kemarahan
Kebanyakan pemula biasanya mengalami banyak kemanisan dan penghiburan di awal hidup
rohaninya. Akan tetapi, jika suatu saat Tuhan menarik segala penghiburan rohani itu sehingga
hidup doa mereka menjadi hambar, mereka menjadi kesal dan bersungut-sungut. Ada juga
pemula yang bahkan cepat marah bila melihat kesalahan dan kelemahan orang lain. Dengan
hati marah mereka mencela orang lain baik secara kasar maupun halus, dan menampilkan diri
sebagai orang yang baik. Sikap ini sangat bertentangan dengan pribadi Roh Kudus yang lemah
lembut.

Ada pula pemula yang ketika menyadari kelemahan diri, menjadi marah-marah dan jengkel
terhadap dirinya sendiri. Dengan tidak sabar mereka seolah ingin menjadi kudus dalam waktu
sehari.

Jiwa yang berkenan di hati Allah adalah mereka yang dengan rela dan rendah hati mau
menerima kekurangan diri, dan dengan sabar menantikan saat-saat Allah akan mencurahkan
rahmatNya seturut kehendakNya.

II.1.5 kerakusan
Hampir semua pemula jatuh dalam kerakusan rohani, karena mereka begitu terikat kepada
kenikmatan dan kepuasan yang mereka peroleh dari hidup doa dan latihan-latihan rohani.
Mereka lebih mementingkan dan bahkan mengejar penghiburan-penghiburan rohani itu,
bukannya mengupayakan kesucian jiwa dan mencari Allah. Karena kerakusannya mereka
melakukan matiraga atau puasa yang berlebihan, ataupun latihan-latihan rohani lainnya secara
ekstrim. Apabila dilarang oleh pimpinanny a mereka tidak mau taat dan tetap
melakukannya secara diam-diam.

Sesungguhnya Allah lebih berkenan kepada jiwa yang taat, karena ketaatan merupakan matiraga
akal budi dan perasaan. Matiraga jenis ini lebih berharga daripada ribuan matiraga badani.
Orang yang melakukan matiraga dan latihan rohani secara ekstrim lebih didorong oleh nafsunya

69
untuk mendapatkan kenikmatan rohani sehingga mereka semakin bertumbuh dalam
dosa kerakusan dan kesombongan.

Lebih parah lagi, orang yang jatuh dalam kerakusan ini akhimya tidak menyadari akan kehinaan
dan kepapaan dirinya. Segala pengalaman rohani yang diterimanya membuat dirinya
merasa begitu hebat dan lain daripada yang lain. Dalam doa maupun sesudah menerima
komuni mereka cenderung untuk mencoba mendapatkan perasaan tertentu yang
memberikan kepuasan dan bukannya dengan rendah hati memuji dan menyembah Allah.
Jika mereka tidak merasakan apa-apa mereka mengira belum mendapat apa-apa sekalipun
sudah menelan Hosti Kudus. Selain itu, jiwa yang kekanak-kanakan ini memiliki kelemahan lain,
yaitu mereka tidak tertarik pada salib dan penyangkalan diri. Mereka cenderung mencari
kenikmatan rohani.

Oleh karena itulah, Allah seringkali menarik segala penghiburan dan kenikmatan
rohani, agar jiwa dapat memandang Allah semata-mata melalui p e r a n t a r a a n i m a n y a n g
m u r n i . M e l a l u i M a l a m G e l a p , T u h a n a k a n menyembuhkan mereka lewat
kekeringan, godaan, dan pencobaan lainnya hingga akhirnya jiwa sadar, bahwa kemajuan
hidup rohaninya tidak tergantung kepada berapa banyak ia mengalami penghiburan dan
kenikmatan rohani, tetapi seberapa tulus ia melakukan penyangkalan diri demi cinta kepada
Allah.

II.1.6 iri hati


Ada pula para pemula yang jatuh dalam dosa iri hati. Mereka tidak senang melihat
keberhasilan dan kemajuan orang lain. terlebih bila mendengar orang lain dipuji. Semua ini
bertentangan dengan cinta kasih. Kecemburuan yang suci adalah apabila jiwa bersedih hati
karena tidak memiliki kebajikan seperti orang lain, tetapi ikut bersukacita karena orang lain
memilikinya. Semakin banyak orang yang dilihatnya maju hidup rohaninya, semakin ia bahagia
karena ada banyak orang yang mengabdi Allah yang dicintainya dan ia sendiri terdorong untuk
mengikuti teladan orang lain.

II.1.7 kemalasan
Para pemula yang jatuh dalam kemalasan rohani ditandai dengan rasa bosan untuk terus
melakukan latihan-latihan rohani, apabila mereka sudah tidak menemukan kenikmatan dan
penghiburan rohani lagi di dalamnya karena kehambaran yang harus mereka hadapi itu
berlawanan dengan kenikmatan indrawi.

Para ‘pernalas’ ini lebih suka menuruti kehendak pribadi daripada mengikuti kehendak Allah,
bahkan terkadang mereka merasa bahwa apa yang memuaskan mereka, itulah yang dikehendaki
Allah. Allah diukur menurut ukuran mereka sendiri. Dalam hal ini pendapat mereka
bertentangan sekali dengan nasihat I n j i l , “ . . . b a r a n g s i a p a k e h i l a n g a n
n y a w a n y a k a r e n a A k u , i a a k a n memperolehnya.” (Mat 16:25)

Jiwa yang malas ini seringkali menjadi pengecut untuk berani memenuhi t u nt u t a n
y a n g di b u t u hk a n u nt u k m e n c a pa i ke s e m p u r n a a n . Me r e k a menghindari salib ─
yang sebetulnya dapat memberikan kepada mereka kekuatan rohani — dan enggan

70
masuk jalan yang sempit yang telah disediakan Kristus bagi mereka yang ingin ke surga.

II.2. Pengertian Malam Gelap


Demikianlah ketujuh dosa pokok yang umumnya melanda para pemula yang ingin
memulai hidup rohani. Dengan kekuatan sendiri, betapapun kerasnya usahanya, manusia sulit
sekali untuk dapat keluar dari segala kelemahannya. Akan tetapi, kepada jiwa yang bersungguh-
sungguh merindukan kekudusan, Allah akan memurnikannya lewat Malam Gelap. Di sanalah
akan ditemukan kekeringan dan kegelapan batin, yang melenyapkan segala kenikmatan dan
penghiburan rohani yang sepele dan kekanak-kanakan. Jiwa tidak lagi diberi makanan bayi
bubur dan susu, tetapi nasi yang lebih keras, yang lebih memberikan kekuatan dan
mendewasakan.

Ada dua bagian jiwa, yaitu yang indrawi dan rohani. Oleh karena itu, ada juga dua
tahapan Malam Gelap, diawali dengan Malam Gelap Indrawi, kemudian Malam Gelap
Rohani. Pada tahap pertama pemurnian dilakukan terhadap indraindra dari jiwa. Sedangkan
Malam Gelap Rohani adalah pemurnian roh, yang membuat roh suci murni siap bersatu
dengan Allah dalam cinta. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas Malam Gelap Indrawi, karena
umumnya dialami oleh kebanyakan orang yang serius ingin maju dalam hidup rohani.
Sedangkan Malam Gelap Rohani merupakan rahmat istimewa yang dianugerahkan kepada
orang-orang tertentu saja.

Pada awalnya memang Tuhan memberikan banyak penghiburan dan kenikmatan rohani bagi
para pemula, agar mereka rela melepaskan segala kenikmatan dan penghiburan yang ditawarkan
dunia ini. Namun, seringkali mereka akhirnya lekat dengan penghiburan dan kenikmatan rohani
ini, sehingga cinta mereka kepada Allah lebih diwarnai dengan cinta diri. Oleh sebab itulah,
dalam Malam Gelap Indrawi Allah ingin mengangkat mereka dari cinta yang rendah ini, ke
taraf cinta yang lebih luhur. Allah ingin membebaskan mereka dari latihan-latihan rohani
indrawi seperti meditasi diskursif (=meditasi yang memakai proses penalaran dan imajinasi),
dan membimbing mereka ke latihan rohani dalam roh yang membuat mereka lepas bebas dapat
langsung menjalin hubungan dengan Allah.

Pada saat jiwa dihantar ke Malam Gelap, ia tidak dapat lagi merasakan
penghiburan dan kenikmatan rohani seperti dahulu karena dalam tahap Malam Gelap ini, Allah
memindahkan segala harta rohaniNya dari indra ke dalam roh. Indra tidak dapat menikmati apa-
apa lagi sehingga segalanya menjadi kering dan gelap, seolah-olah matahari yang dahulu selalu
bersinar kini tertutup awan-awan pekat. Allah meninggalkan mereka dalam gelap sehingga
mereka tidak dapat maju selangkahpun dalam khayalan diskursif mereka karena Allah
melumpuhkan daya-daya batin indrawi dari jiwa. Malam Gelap menghantar jiwa dari
tahap meditasi kepada kontemplasi. Allah mengikat segala daya indra jiwa, sehingga
tidak memberikan bantuan kepada akal budi, tidak memberikan kepuasan kepada
kehendak, dan tidak memberikan kenangan kepada daya ingat. Dalam tahap ini, usaha manusia
hanyalah sia-sia dan bahkan merintangi karya Allah yang bekerja di dalam roh melalui
kekeringan indrawi ini.

Pada saat inilah Allah yang tadinya memanjakan jiwa dengan kasih keibuan kini telah

71
menyapih mereka. Kain lampin dibuka, jiwa diturunkan dari gendongan dan diajarkan
untuk bisa berjalan sendiri. Perubahan ini memang mengejutkan bagi jiwa karena segala
sesuatunya menjadi terbalik, tidak seperti dulu lagi. Namun, inilah yang terbaik bagi jiwa,
dan yang dibutuhkan jiwa untuk dapat semakin bertumbuh dalam kesucian.

II.3. Tanda-tanda Malam Gelap


Jiwa yang dilanda kekeringan belum tentu karena Malam Gelap, tetapi bisa juga karena sebab-
sebab lain, misalnya badan yang kurang sehat, dosa, kelalaian, dan sebagainya. Oleh karena
itu sekarang akan diuraikan apakah tanda-tandanya bila kekeringan yang dialami suatu jiwa itu
sungguh karena Malam Gelap.

Tanda pertama adalah adanya ketakberdayaan. Kendatipun ia sudah berusaha untuk


bermeditasi, menggunakan segala imajinasi, namun tetap tak mampu lagi mendapatkan
kepuasan seperti biasanya. Dahulu memang Allah menyatakan diriNya lewat indra-indra batin,
yang bisa ditangkap lewat imajinasi, meditasi diskursif, analisis ide-ide, dan semacamnya. Akan
tetapi, kini Allah mulai berkomunikasi dengan roh murni dalam kontemplasi.

Tanda yang kedua ialah bila jiwa tidak saja kehilangan penghiburan dari hal-hal yang rohani
tetapi juga dari hal-hal yang duniawi dan mahkluk ciptaan lainnya. Karena Allah ingin
memurnikan nafsu-nafsu indrawi dari jiwa, maka Ia tidak akan mengizinkan jiwa mengalami
kemanisan dalam hal apapun. Apabila seseorang mengatakan hidup rohaninya kering, namun
ia mengalami penghiburan lewat hal lain misalnya dari kenikmatan duniawi, maka itu berarti
kekeringannya bukan karena Malam Gelap.

Tanda yang ketiga adalah kekeringan ini disertai kekuatiran jiwa bahwa ia telah mengalami
kemunduran dan kurang mengabdi Allah. Walau indra-indra batinnya lemas dan terpukul
akibat Malam Gelap, tetapi semangatnya tetap tinggi dan kuat; ingatan dan pikirannya
biasanya terarah kepada Allah. Ia begitu prihatin jangan-jangan ia telah mengecewakan Allah.
Hal ini tidak akan terjadi pada mereka yang kering akibat lalai. Mereka akan acuh tak acuh saja,
sama sekali tidak ada kerinduan untuk mencintai dan mengabdi Allah.

Malam Gelap ini melanda tiap orang dengan kurun waktu yang berbeda-beda, ada yang
lama, ada yang sebentar, dan bisa juga terjadi beberapa kali pada sebuah jiwa. Allah yang
Mahabijaksana tahu apa yang terbaik untuk setiap jiwa. Ia akan memurnikan jiwa-jiwa yang
rindu untuk bersatu denganNya pada waktu yang sesuai dengan keadaan masing-masing
jiwa.

II.4. Sikap yang Tepat dalam Malam Gelap


Dalam Malam Gelap Allah menarik jiwa dari kehidupan indra-indra ke kehidupan roh, atau
kontemplasi. Oleh karena itu, jiwa tidak mampu lagi untuk bermeditasi dan melakukan usaha-
usaha lain yang membuat mereka dapat merasakan kemanisan ilahi. Dalam Malam Gelap ini
jiwa sangat menderita bukan saja karena kekeringan yang dialaminya, tetapi karena mereka
merasa prihatin takut sudah tersesat dan mendukakan Allah. Karena mereka sudah tidak
merasakan apaapa lagi, mereka menyangka karunia Allah bagi mereka sudah tertutup, dan
Allah sudah meninggalkan mereka.

72
Jika dalam kondisi ini jiwa tetap berusaha untuk bermeditasi ataupun melakukan usaha-usaha
lainnya sebagaimana yang dahulu biasa ia lakukan, ia akan dapat merusak karya Allah. Semua
itu akan sia-sia, dalam mencari roh mereka malah kehilangan roh. Mereka itu seperti orang yang
telah selesai mengerjakan suatu pekerjaan, kemudian mencoba untuk memulai lagi pekerjaan
itu.

Sikap yang tepat dari jiwa adalah tinggal tenang, diam di hadirat Allah tanpa usaha apapun.
Meditasi sudah tidak berguna lagi bagi mereka karena Allah sedang membimbing mereka di
jalan kontemplasi. Jalan ini berbeda sekali dengan jalan pertama yang biasa mereka lalui,
karena jalan ini melampaui imajinasi, gagasan, dan refleksi diskursif.

Jiwa yang masuk dalam Malam Gelap seharusnya merasa terhibur, tetap sabar dan tenang.
Gantungkanlah segala harapan kepada iman. Justru pada saat inilah iman sangat dibutuhkan,
karena iman akan menjadi pelita yang mengantar kita melangkah memasuki kegelapan.
Allah tidak akan pernah mengabaikan seorangpun, terlebih mereka yang mencari Dia
dengan hati sederhana dan murni. Ia akan terus membimbing sampai kepada terang cinta
yang jelas dan murni. Dan bagi mereka yang layak, Allah bahkan akan membimbing
juga ke Malam Gelap Rohani, jadi tidak hanya sampai di Malam Gelap Indrawi.

Penting sekali bagi jiwa dalam tahap ini untuk tidak memperhatikan lagi segala bentuk meditasi
diskursif. Biarkanlah jiwa beristirahat dengan tenang walaupun seolah mereka duduk
memboroskan waktu dengan sia-sia dalam kehambaran. Namun, sesungguhnya tidak ada yang
sia-sia di hadirat Allah. Dalam keheningan yang tampaknya memboroskan waktu itu, Roh
Kudus tetap bekerja di dalam jiwa, memurnikan, memulihkan, membentuk seturut dengan
kehendakNya.

Demikianlah kekudusan bukan monopoli milik para biarawan/wati saja, tetapi menjadi cita-cita
bagi semua orang. Tuhan memanggil setiap manusia kepada kekudusan karena Ia sendiri adalah
kudus adanya. Dan sungguh kita patut bersyukur, karena Tuhan telah menganugerahkan
spiritualitas Karmel bagi kita semua, suatu spiritualitas yang akan menghantar jiwa-jiwa yang
setia kepada kekudusan lewat jalan yang manis.

73
PARA KUDUS KARMEL

I. ST. TERESA DARI AVILA


St. Teresa Avila telah dipanggil Tuhan untuk memperbaharui Karmel dengan cara yang
mengagumkan. Ia seorang biarawati Karmel dari Spanyol yang lahir di kota Avila tahun 1515.
Kecuali diberi karunia kepemimpinan yang besar sehingga ia mampu mendirikan banyak biara
baru semasa hidupnya, St. Teresa juga diberi karunia mistik yang berlimpah.

Tulisan-tulisannya termasuk salah satu karya mistik yang sangat indah dan luhur dan yang
sampai hari ini belum terlampaui. Dengan cara yang menyakinkan sekali dan dalam uraian yang
sangat indah, St. Teresa menekankan luhurnya cita-cita yang harus dikejar, yaitu persatuan
dengan Allah sampai pada apa yang disebut dengan istilah ‘perkawinan rohani’, suatu persatuan
transforman yang amat luhur.

Dalam bukunya ‘Puri Batin’ St. Teresa melukiskan perjalanan rohani suatu jiwa dengan sangat
indah. Digambarkan bahwa puri itu terdiri dari banyak ruang yang mencerminkan tahap-tahap
perjalanan rohani kita. Di tengah puri itu ada sebuah ruangan khusus yang indah. Di sanalah
bersemayam Sri Baginda, yang tak lain adalah Allah sendiri yang bertahta di pusat hati kita.

Suasana di sekitar puri gelap, kotor, dan dingin. Penuh dengan ular dan berbagai makhluk
berbahaya, singkatnya tidak menyenangkan sama sekali. Akan tetapi, setelah jiwa memasuki
puri mulai dilihatnyalah terang dan kehangatan, yang terpancar dari pusat puri tersebut. Untuk
dapat sampai ke bagian inti puri itu, jiwa harus melalui beberapa ruang terlebih dahulu, yang
semuanya berjumlah tujuh.

Setiap ruang merupakan suatu dunia tersendiri, yang terdiri dari kebun, air mancur, dan
sebagainya. Semuanya itu mempesona jiwa dan mempunyai daya tariknya tersendiri bagi jiwa
yang mengembara. Namun, daya tarik terkuat datang dari pusat, tempat Sri Baginda
bersemayam.

St. Teresa menggambarkan bahwa doalah yang menjadi gerbang untuk bisa memasuki puri itu.
Dan hanya lewat doa jiwa bisa melewati ruang demi ruang hingga akhirnya sampai ke bagian
terdalam dari puri batin tersebut. Ketiga tempat pertama dalam puri itu melambangkan usaha
manusia yang sedang berusaha membina hubungan dengan Allah dalam doa. Akan tetapi, saat
orang ini hendak mulai memasuki puri, segala kegelapan dan binatang-binantang liar di luar
juga ingin ikut masuk bersamanya. Hal ini menunjukkan banyaknya godaan yang harus
dihadapi bagi seseorang yang hendak mulai menjalin relasi mesra dengan Allah. Kebanyakan
orang terbelah perhatiannya dan jatuh dalam godaan-godaan ini.
Biarpun mereka tidak berada dalam keadaan yang buruk, mereka terlibat dalam
hal-hal duniawi dan begitu terserap oleh harta-benda, kehormatan, dan urusan-
urusan bisnis, sehingga meskipun mereka ingin melihat dan menikmati keindahan
puri ini, mereka terhalang melihatnya dan rupanya mereka juga tidak dapat
menghindarkan diri dari hambatan sebanyak itu. (St. Teresa Avila, Puri Batin)

74
Dalam lapisan yang kedua manusia mulai mendengarkan panggilan Allah secara pribadi.
Seringkali panggilan Allah ini mengguncangkan jiwa dan membuat manusia bingung untuk
menentukan prioritas.

Setelah berhasil melalui tahap kedua, jiwa akan dibimbing memasuki lapisan ketiga. Doa
menjadi suatu kebutuhan yang tetap dari hari ke hari. Hati lebih diliputi dengan damai dan
sukacita, dan doa serta Sakramen menjadi yang terpenting dalam hidup mereka. Hati mereka
pun mulai diliputi dengan kasih kepada sesama yang mengalir lewat pelayanan-pelayanan.

Akan tetapi, Tuhan masih ingin menarik jiwa lebih dalam lagi, memasuki tahap keempat. Doa
yang aktif kini diganti doa yang pasif atau seringkali disebut dengan doa hening. Jiwa ditarik
masuk dalam keheningan tempat Allah bersemayam.

Dalam ruang yang kelima jiwa semakin kuat ditarik masuk dalam keheningan. Di sanalah
terjadi persatuan yang mesra antara jiwa dengan Allah. Kehidupan yang lama disalibkan
bersama Kristus, dan jiwa ikut bangkit bersama Kristus.

Setelah melalui jalan yang cukup panjang, saatnyalah kini jiwa dipertunangkan dengan Sang
Mempelai. Dalam ruangan keenam ini, jiwa yang sudah dilukai oleh cinta Sang Mempelai lebih
suka mencari kesunyian dan menghindarkan segala sesuatu yang dapat menariknya keluar dari
kesunyian itu. Masa ini adalah masa yang berat, karena jiwa diombang-ambingkan oleh banyak
cobaan dan tantangan. Jiwa dipersiapkan untuk sebuah perkawinan rohani dengan berbagai
pemurnian sehingga ada banyak penderitaan.
Aku sungguh tahu, bahwa rasa sakit ini telah mencapai bagian jiwa yang paling
dalam dan bila Dia yang telah melukainya, menarik anak panahnya, ini betul-betul
sepadan dengan kasih mendalam yang dirasakan jiwa dan yang ditanamkan oleh
Tuhan. (St. Teresa Avila: Puri Batin)
Akhirnya tibalah saat perkawinan rohani itu. Jiwa memasuki ruang ketujuh yang tak lain adalah
pusat dari puri tersebut, tempat Sang Raja bersemayam. Di tahap inilah terjadi persatuan yang
indah antara jiwa dengan Allah, bagaikan hujan yang jatuh sampai ke sungai, tak terpisahkan
selamanya. Dan orang yang sudah sampai ke pusat puri ini justru semakin peka dan terlibat
dengan kebutuhan dan penderitaan sesama.

Ajaran St. Teresa ini ditandai dengan kekayaan pengalaman dan kedalaman psikologis yang
tidak ada duanya. Dan dengan kerendahan hati yang dalam ia selalu menekankan bahwa
kontemplasi yang ditanamkan semata adalah anugerah ilahi yang cuma-cuma. ‘Yang penting
dalam doa bukanlah banyak berpikir melainkan banyak mencinta,’ demikian ungkap St. Teresa.
Mencinta adalah menyerahkan diri tanpa syarat. Ini berarti menyerahkan kehendak
sendiri sedemikian rupa kepada kehendak ilahi, betapa pun beratnya, sampai orang
merasa gembira dalam penderitaan kalau ini berkenan kepada Sang Kekasih. Dan
kasih yang mendalam ini adalah suatu panggilan untuk kehadiran Allah.

II. ST. YOHANES DARI SALIB


Yohanes lahir di Fontiveros, Spanyol tahun 1542, hidup sezaman dengan St. Teresa dari Avila.
Ia mempunyai kecintaan yang besar kepada Bunda Maria. Diakuinya Bunda Marialah yang

75
menolongnya ketika jatuh di sungai waktu kecil, dan menolongnya keluar dari penjara setelah ia
dewasa. Namun tentu saja, lebih lagi Bunda Maria berperan banyak dalam perjalanan hidup
rohaninya.

Dengan gayanya yang khas ia menghimbau para saudaranya untuk meninggalkan dan
menanggalkan segala sesuatu demi tercapainya persatuan yang amat luhur dengan Allah. Untuk
itu orang harus melewati malam gelap, baik yang inderawi maupun yang rohani, supaya
akhirnya dapat sampai kepada persatuan transforman yang mengubah segala-galanya dan
menjadikan manusia satu dengan Allah, sehingga ia tampaknya lebih Allah daripada manusia.

Dalam bukunya Mendaki Gunung Karmel dengan tegas dan jelas St. Yohanes melukiskan
keadaan jiwa yang telah bersatu dengan Allahnya dalam cinta kasih. Di situ dilukiskannya
betapa indah dan agung keadaan jiwa yang telah bersatu dengan Allah itu. Ia menyadarkan kita
akan nilai tak terkatakan dari persatuan transforman dengan Allah itu yang juga disebut dengan
istilah perkawinan rohani. Nilainya sungguh jauh melampaui segala sesuatu sehingga
dibandingkan dengan persatuan itu segala yang lain tampak sebagai sampah. Karenanya ia
sangat radikal dalam tuntutannya, karena menyadari luhurnya tujuan yang ditawarkan Allah
kepada manusia.

St. Yohanes melukiskan bagaimana jiwa yang dibakar oleh api ilahi akhirnya menjadi api,
bahkan lautan api.

Di situ jiwa merasakan bagaimana nyala api itu bertambah besar dan kuat dan
bagaimana dalam nyala ini cintanya naik begitu tinggi, sehingga ia mendapat kesan
bahwa dalam lubuk batinnya ada sebuah lautan api, yang seperti pasang surut turun
naik dan dengan demikian memenuhi dirinya seluruhnya dengan cinta. Seluruh alam
semesta tampak baginya sebagai sebuah lautan api, di mana ia tenggelam. Ia tidak
melihat tepinya lagi dan juga tidak tampak lagi cakrawala di mana cintanya berhenti.
Dalam dirinya ia mengalami pusat cinta yang hidup. (St. Yohanes dari Salib: Nyala
Cinta)
Dalam keadaan seperti itu seluruh aktivitas orang itu menjadi ilahi. Segala gerak-gerik jiwanya
dibimbing oleh Allah sendiri, bahkan gerak pertama dari jiwanya bersifat ilahi, karena dia telah
diubah seluruhnya menjadi ilahi.

Kiranya jelas pula bahwa menghadapi cita-cita yang demikian luhurnya, cita-cita yang telah
dialaminya sendiri, St. Yohanes mengajak kita untuk mendaki puncak itu tanpa ayal dan dengan
hati yang mantap, sambil dengan jelas melihat jalannya. Ia adalah seorang pembimbing yang
telah mencapai puncak itu sendiri dan ingin membawa kita ke sana, ke tempat yang banyak
sekali tersedia karunia luar biasa, keindahan, dan kebahagiaan yang tak terperikan. Setelah
melihat sendiri segala keindahan itu dan kekayaan yang tersedia untuk kita dan tahu bahwa
dibandingkan dengan harta kekayaan itu, semua yang kita miliki dan ketahui bukan lain dari
sampah belaka, maka dapat dimengerti bahwa dia dengan sangat tegas dan radikal mendesak
kita untuk menelusuri jalan yang ditunjukkannya.

76
Secara singkat dapat dikatakan bahwa jalan yang menuju ke puncak itu sesungguhnya hanya
satu, yaitu kekosongan. Ia menggambarkan ada satu jalan yang menuju ke puncak, dan dua
cabang jalan yang ujungnya buntu. Jalan buntu pertama ialah roh yang tidak sempurna, yang
masih menginginkan barang-barang yang bersifat duniawi, seperti harta benda, kenikmatan,
kekuasaan, pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan sebagainya. Jalan buntu yang kedua ialah
keinginan untuk memiliki barang-barang surgawi dan tampaknya rohani, yang sama tidak
sempurnanya karena mengejarnya dengan semangat untuk memiliki. Barang-barang rohani itu
antara lain kemuliaan, kesenangan, hiburan rohani, dan sebagainya.

Sebaliknya jalan yang menuju puncak ialah jalan kekosongan: nada… nada… nada… yang
artinya kosong… kosong… kosong… Mengenai barang-barang duniawi itu ia mengatakan,
‘Semakin orang mencarinya semakin tidak memperoleh.’ Mengenai barang-barang surgawi ia
mengatakan, ‘Semakin ingin aku memilikinya, semakin tidak kudapat.’ Tentang keduanya itu
sebaliknya dikatakan, ‘Karena aku tidak menginginkannya, aku memiliki semuanya tanpa
keinginan.’

Bila engkau berpaling pada sesuatu


engkau berhenti mengarah kepada Yang Segala
Sebab supaya dapat pergi dari segala ke Segala,
harus kautinggalkan dirimu seluruhnya dalam segala
Dan bila engkau sampai memiliki segala,
engkau harus memilikinya tanpa menginginkan apa-apa
Sebab, bila engkau masih ingin sesuatu di dalam segala,
hartamu tidak semata-mata ada dalam Allah
Dalam kelepasan ini roh menemukan istirahat dan damai
Sebab, oleh karena ia tidak menginginkan apa-apa
Ia tidak menjadi sombong bila menerima pujian
Dan tidak tertekan bila ia direndahkan
Sebab dia berada di pusat kerendahan hatinya
Tetapi bila ia menginginkan sesuatu,
Pada saat itu juga ia menjadi letih dan kuatir.

(St. Yohanes dari Salib: Mendaki Gunung Karmel)

III. ST. THERESIA DARI LISIEUX


St. Theresia dari Lisieux mendapat nama biara St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari
Wajah Kudus. Dikenal juga dengan nama St. Theresia Kecil karena mengajarkan Jalan Kecil
untuk sampai kepada Tuhan. Jalan ini bertolak dari realitas hidup sehari-hari yang dihayati
dalam iman dan cinta kasih tak terbagi kepada Allah, Bapa kita. Hubungan dengan Allah ini
dilihatnya sebagai hubungan antara Bapa dengan anaknya yang kecil. Yakin akan kasih Bapa
yang Maharahim Theresia menyerahkan diri secara total kepada Allah seperti seorang anak
kecil. Dalam segala sesuatu ia mau bergantung secara mutlak pada Allah dan mengharapkan
segalanya dari Dia, tanpa syarat. Dari pihaknya Theresia hanya mau mencintai Yesus serta

77
menyenangkan hatiNya dalam segala hal serta mempersembahkan bunga-bunga cinta dan
kurban kecil-kecil kepadaNya.
Ah! Tidak pernah ada kata-kata yang lebih lembut dan lebih merdu yang
memberikan sukacita pada jiwaku. Tangga berjalan yang membawaku ke surga
adalah lengan-lengan-Mu, O Yesus! Dan karena itulah aku tidak perlu menjadi
besar, tetapi kecil dan makin lama makin kecil seperti ini… (Otobiografi)

St. Theresia juga menghimbau kita untuk mencapai kesucian, yaitu persatuan cinta kasih dengan
Allah sampai pada pengurbanan diri tanpa pamrih. Titik tolaknya ialah keyakinan akan
kerahiman Allah yang Mahakasih atau kasih Allah yang Maharahim. Karena itu, kasih dan
kerahiman Allah tidak dapat dipisahkan. St. Theresia mengajak semua orang untuk datang
kepada Allah dan menyerahkan diri kepada kasihNya yang Maharahim sebagai seorang anak
kecil. Dalam kepercayaan mutlak akan kasih Allah yang Maharahim ia menyerahkan diri secara
total tanpa syarat kepadaNya. Untuk mencapai persatuan itu ia tidak menolak satu kurban pun
yang diminta Allah kepadanya. Ia mempersembahkan kurban-kurban kecil kepada Allah dalam
kehidupan sehari-hari, tanpa mencolok, didorong oleh cinta kasih. Pada dasarnya inilah jalan
cinta kasih dalam perkara-perkara kecil, yang tidak mencolok dan tersembunyi, dan karenanya
juga lebih aman.

St. Theresia juga mempunyai kecintaan yang besar pada Bunda Maria, yang menunjukkan
Kristus, puncak dari Gunung Karmel.
O Ratu Surga, gembalaku yang terkasih,
tanganmu yang tak nampak tahu bagaimana menyelamatkan aku.
Bahkan kala aku bermain di pinggir lembah curam,
Kautunjukkan puncak Karmel.
Aku lalu mengerti dengan sukacita yang besar
Bahwa aku harus mengasihi kalau aku ingin terbang ke surga.
Dengan jalan kecil namun radikal ini, ia telah mencapai persatuan cinta kasih yang amat dalam
dengan Allah, setelah mengalami pemurnian yang mendalam. Oleh karena itu, Paus Pius XI
menyebutnya sebagai Santa terbesar abad ini. Walaupun tidak pernah meninggalkan biaranya,
ia diangkat menjadi pelindung Misi sejajar dengan St. Fransiskus Xaverius, misionaris besar itu.
Secara implisit ini merupakan pengakuan, bahwa hidup kontemplatif yang dihayati dengan iman
dan cinta kasih yang murni, memiliki nilai yang besar untuk seluruh Gereja, bahkan dunia.
Seperti yang dikatakan St. Yohanes Salib, bahwa satu faal cinta kasih yang dilakukan orang
dalam tingkat persatuan itu lebih berharga dari segala perbuatannya seumur hidup sebelum
mencapainya, dan bahwa satu orang dalam tingkat itu lebih berharga bagi Allah dan lebih
berguna bagi Gereja dan dunia daripada beribu-ribu orang lainnya. Dengan cara itu Theresia
mengajarkan, bahwa jalan kekudusan terbuka bagi setiap orang. Untuk jadi kudus orang tak
perlu melakukan perbuatan-perbuatan yang luar biasa, namun cukup melakukan tugas-tugas
hariannya dengan setia demi dan dengan cinta kepada Tuhan.

IV. ST. TERESA BENEDICTA


Dia adalah seorang biarawati Karmel berdarah Yahudi, dilahirkan dengan nama Edith Stein
tahun 1891 di kota Wroclaw, Polandia. Edith Stein seorang gadis yang sangat menonjol, Doktor
filsafat, dosen, penceramah tersohor, pejuang hak-hak wanita, dan masih ada sederet lagi

78
predikat bergengsi yang disandangnya. Namun, semuanya itu ditanggalkannya dengan
melangkahnya ia masuk ke biara Karmel dan menjadi biarawati di sana, dengan nama biara Sr.
Teresa Benedicta. Ia sangat mencintai salib, dan karena cinta Tuhan yang besar kepadanya, ia
diperkenankan ikut ambil bagian dalam salib Kristus. Ia mati dibunuh dengan gas beracun
sebagai martir pada tahun 1942.

Edith menyebut Bunda Maria sebagai teladan kaum wanita di zaman modern. Maria merupakan
perpaduan kelembutan dan kekuatan, yang tampak sekali terlihat di sepanjang hidupnya, lebih-
lebih di kaki salib Puteranya. Edith berpendapat bahwa semua wanita dipanggil untuk melatih
mistik keibuan itu seturut teladan Maria, baik yang menikah maupun selibat.

Ada banyak orang mengeluh dan tidak mengerti mengapa ada begitu banyak penderitaan di
dunia ini. Namun, bagi Edith semua itu adalah rahmat. Salib adalah tanda cinta Tuhan kepada
manusia. Baginya salib berarti kesetiaan dalam iman, harapan, dan cinta. Edith menunjukkan
kesetiaannya kepada Tuhan secara total, ketika dia dipisahkan dari keluarganya, hingga sampai
terbunuhnya ia secara hina. Dia mengosongkan diri dan menyerahkan diri kepada Tuhan, dan
dengan demikian ia memenangkan mahkota kesetiaan dan cinta kepada Tuhan dan salib.

Salib berarti cinta. Demi cinta yang tiada terukur Yesus rela menjadi manusia, solider bersama
ciptaanNya, dan akhirnya menderita dan wafat demi cinta pula. Inilah yang diteladan oleh
Edith. Sepanjang hidupnya ia solider dengan sesamanya dan menyerahkan cinta yang tanpa
syarat kepada Tuhan. Dan ia rela menyerahkan dirinya demi cinta kepada Tuhan, agar dapat
menjadi berkat bagi dunia, bangsa Yahudi khususnya.
Saya percaya bahwa Tuhan menerima hidup saya untuk semua orang (Yahudi).
Saya selalu memikirkan Ratu Ester yang dipilih dari antara bangsa Israel dengan
tujuan untuk berdiri di hadapan raja demi keselamatan rakyatnya. Saya ini lemah,
kecil, miskin, seperti Ester, tetapi Raja yang telah memilih saya adalah Agung dan
Murah Hati. (St. Teresa Benedicta)

Pada bulan Mei 1987 Paus Yohanes Paulus II mengatakan tentang Edith Stein, ‘Dia melihat
pendekatan yang jelas tentang salib. Dia tidak melarikan diri karena ketakutan. Dia bahkan
mendekati salib dengan harapan Kristen, dengan cinta dan pengurbanan serta dalam misteri
Paska ia juga menyambut salib dengan salam: Ave crux, spes unica.’ (Salam ini berarti: ‘Salam
o Salib, pengharapan yang tunggal.’)

Salib adalah cinta! Demikianlah Edith Stein meninggal sebagai putri Israel demi kemuliaan
Allah yang mahaagung. Dengan segenap cinta ia mengikuti jejak Gurunya yang wafat di kayu
salib demi keselamatan orang lain.

V. BEATA ELISABETH DARI TRITUNGGAL


Elisabeth yang hidup sezaman dengan Theresia dari Lisieux mendapat suatu panggilan yang
berbeda. Kalau pesan Theresia mendapatkan tanggapan di seluruh dunia dari segala lapisan
umat, sebaliknya ajaran dan pesan hidup Elisabeth lebih ditujukan kepada jiwa-jiwa
kontemplatif yang haus dan rindu akan Tuhan. Elisabeth sangat menghayati hidupnya
sebagaimana nama yang disandangnya, yaitu Elisabeth yang berarti “tempat kediaman Allah.”

79
Elisabeth mengajak semua orang yang haus dan rindu akan Tuhan untuk menyelam ke dalam
lubuk jiwanya yang terdalam untuk berjumpa dengan Allah Tritunggal yang sudah menantinya
di situ. Elisabeth adalah tipe jiwa batiniah, jiwa interior, yang membiarkan diri diserap oleh
kehadiran Allah yang dahsyat dan membahagiakan itu. Ia dipanggil untuk terus tenggelam
dalam misteri Allah yang tidak terselami serta menyembah Dia dalam keheningan besar. Ia
dipanggil untuk memberikan kesaksian, bahwa Allah patut dicari dan dicintai demi DiriNya
sendiri.

Kalau Theresia dipanggil untuk mewartakan kasih Allah yang maharahim, sebaliknya Elisabeth
dipanggil untuk tenggelam dalam kasih itu sendiri, sudah sejak dalam hidup di dunia ini. Ia
menjadi penunjuk jalan bagi jiwa-jiwa yang haus dan rindu akan Tuhan untuk mencari Dia di
kedalaman lubuk jiwanya sendiri, karena Allah sudah selalu hadir di situ. Karenanya Elisabeth
menjadi rasul untuk “inhabitatio divina”, kediaman Allah dalam lubuk jiwa terdalam manusia.

Akan tetapi, dari persatuannya yang mesra dengan Allah Tritunggal yang bersemayam di
hatinya, berkobarlah pula semangat kerasulan dalam diri Elisabeth. Ia rindu jiwa-jiwa
mengalami pertobatan dan mengenal Allah. Oleh karena itu, Elisabeth senantiasa berusaha
untuk bersatu dengan Allah, karena ia menyadari persatuannya dengan Tuhan dapat menjadi
berkat bagi sesamanya.

VI. BEATO TITUS BRANDSMA


Beato ini dilahirkan di Belanda tahun 1881 dengan nama Anno Brandsma. Pada usia 17 tahun ia
masuk biara Karmel dengan nama biara Fr. Titus. Ia punya bakat yang hebat di bidang menulis
dan jurnalistik. Hidupnya penuh dengan doa walau jadwalnya sangat dipadati dengan
kesibukannya sebagai dosen, pemimpin retret, penulis, pengkhotbah, dan sebagainya. Ia
terkenal dengan antusiasmenya terhadap Spiritualitas Karmel dan devosinya yang besar kepada
Bunda Maria.

Titus banyak berperan atas nama Gereja dalam perlawanan terhadap Gestapo di zaman Nazi.
Hingga akhirnya tahun 1942 ia ditangkap dan ditempatkan di salah satu kamp konsentrasi Nazi
yang paling buruk di Dachau. Saat-saat menjelang kematiannya banyak saksi melihat
kekudusan Titus justru semakin menonjol, ia tidak pernah mempedulikan dirinya sendiri namun
selalu menunjukkan rasa kasih yang besar kepada sesama. Ia juga menulis beberapa karyanya
yang paling indah di penjara, dan devosinya kepada Bunda Maria semakin kuat. Tentang Titus
ini Uskup Agung de Jong menulis, ‘Ia adalah imam yang suci dan saleh, tokoh yang berjasa
besar, pribadi bermutu tinggi, pencetus banyak karya. Ia selalu siap membantu saya dan saya
sangat berhutang budi kepadanya. Ia mempersembahkan hidupnya untuk Gereja Katolik.’
Beato ini mempersembahkan hidupnya bagi dunia pendidikan dan kebebasan pers.

Beato Titus menulis bahwa segenap anggota Karmel dipanggil khusus untuk hidup mistik.
Hidup ini mempunyai tujuan ganda; kita dapat mencapai tujuan yang pertama
dengan bekerja dan berusaha dengan pertolongan Tuhan. Ini berarti kita
mempersembahkan hati yang suci kepada Allah, yang bebas dari segala noda dosa.
Kita dapat mencapainya, kalau kita sempurna dan terbenam dalam sungai Kerit,
yang berarti tersembunyi dalam kasih. Tujuan kedua dalam hidup ini diberikan

80
kepada kita oleh Tuhan sebagai hadiah semata-mata. Yang saya maksudkan adalah
bukan hanya sesudah kematian, tetapi bahkan dalam hidup ini melalui beberapa
cara merasakan dalam hati dan mengalami dalam batin kehadiran ilahi dan
manisnya kemuliaan surgawi. Ini dikatakan minum dari saluran kekayaan Tuhan.

Ia menegaskan bahwa salah satu unsur tetap dalam Spiritualitas Karmel adalah hidup
bersemuka di hadapan Tuhan, atau dengan kata lain hidup di hadirat Allah. Di dalam sel
penjaranya ia menulis

Kesunyian yang membahagiakan. Aku sangat merasa kerasan di sel kecil ini. Aku
tidak pernah merasa bosan di sini, bahkan sebaliknya. Aku memang sendirian,
tetapi Tuhan tidak pernah lebih dekat padaku daripada saat ini. Aku dapat saja
berteriak gembira karena saat ini –ketika aku tidak dapat mengunjungi orang-orang
dan juga orang-orang itu tidak dapat mengunjungi aku – Ia menyatakan DiriNya
begitu sering kepadaku. Kini Dialah satu-satunya tempatku berlindung, dan aku
merasa sangat aman dan bahagia. Kalau Ia memerintahkan aku untuk tinggal di
sini selamanya, aku pun mau. Jarang aku merasa bahagia dan puas seperti ini.

Hari-hari Titus dipenuhi dengan kesibukan dan segala kegiatan. Namun demikian, ia tetap dapat
menjaga keheningan hatinya dan hidup di hadirat Allah di tengah segala keributan di sekitarnya.
Di dalam penjara yang mengerikan di Dachau, ia menemukan Yesus di tengah-tengah segala
penghinaan dan kekejaman; itulah yang menjadi harta karun dan sukacitanya. Menjadi Gereja
kaum miskin berarti menghadapi penolakan, salah pengertian, rintangan dalam misi,
pelanggaran kebebasan pribadi, dan akhirnya ia mati sebagai martir.

Titus Brandsma tidak menunjukkan sikap seorang yang pendiam dan alim. Ia sangat berani dan
selalu bicara terang-terangan menyampaikan kebenaran. Gigih membela hak asasi manusia dan
bekerja keras di sepanjang hidupnya. Meskipun demikian, ia adalah seorang pendoa yang
kontemplatif. Ia mampu menempatkan dengan seimbang antara doa dan karya seperti nabi Elia,
seorang pertapa yang tidak segan-segan turun gunung bekerja giat untuk kemuliaan Allah.
Itulah sebabnya di tengah segala kesengsaraannya dalam sel penjara ia masih dapat menulis:
Satu kesadaran baru tentang kasih-Mu meliputi hatiku
Yesus yang manis, aku di dalam Engkau dan Engkau di dalamku, takkan berpisah.
Tiada dukacita akan menghalangi jalanku,
Namun, aku menatap mata-Mu yang penuh dukacita;
Jalan sepi yang pernah Kaujalani,
Telah membuatku berduka.
Semua kesulitan adalah sukacita…..
Yang menyinari hariku yang paling gelap
Kasih-Mu telah mengubah jalan gelap ini
Menjadi terang paling cerah
Jika memiliki Engkau sendirian,
Waktu akan memberkati
Dengan tangan-tangan kasih nan dingin dan diam
Kesepianku yang lahiriah

81
Tinggallah denganku, Yesus, tinggallah
Aku tidak akan takut lagi
Jikalau kuulurkan tanganku,
aku merasakan Engkau dekat.

82
RIWAYAT SINGKAT SANTA THERESIA LISIEUX

I. LATAR BELAKANG KELUARGA


Santa Theresia dari Lisieux, juga disebut Theresia dari Kanak- kanak Yesus, lahir sebagai
Theresia Martin, adalah anak ke 9 dari pasutri Louis Martin dan Zelie Guerin. Tuhan telah
mempersiapkan Theresia kecil untuk menjadi pengajar dunia melalui sebuah keluarga saleh.
Mereka itu adalah sebuah keluarga yang biasa, namun sungguh beriman dan tergolong saleh.
Baik Louis Martin maupun Zelie Guerin mempunyai latar belakang yang menarik yang rupanya
memang dipilih Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan dia yang akan membawa suatu misi
besar dalam Gereja dan dunia.

Louis Martin berasal dari suatu keluarga tentara, lahir pada tanggal 22 Agustus 1823 di
Bordeaux, Perancis. Kemudian pada tahun 1830 keluarganya pindah ke Alencon. Louis Martin
mempunyai sifat pendiam dan meditatif dan ia belajar menjadi tukang arloji yang memang
menuntut banyak kesabaran dan ketelitian. Martin bercita-cita menjadi seorang biarawan di
tempat yang sunyi. Pada usia 22 tahun ia melamar ke sebuah biara kontemplatif, namun tidak
diterima. Selanjutnya ia hidup bersama dengan orang tuanya dan bekerja sebagai pengusaha
arloji yang berhasil. Ia adalah seorang kristen yang saleh.

Zelie Guerin dilahirkan dari keluarga petani. Masa kecilnya penuh penderitaan, karena kurang
mendapat cinta dari ibunya. Biarpun demikian ia akhirnya berkembang menjadi seorang Kristen
yang sungguh beriman. Ia bercita-cita menjadi religius, namun ketika ia melamar pada suatu
biara, ia ditolak, karena rupanya Tuhan mempersiapkan dia untuk suatu tugas lain. Setelah
penolakan itu ia berdoa kepada Tuhan: ‘Tuhan, saya mau menikah dan melahirkan banyak
anak bagiMu’. Doanya didengarkan Tuhan. Kemudian ia membuka usaha sendiri dan dalam
usahanya itu ia berhasil baik.

Kedua orang yang bercita-cita hidup membiara dan ditolak itu akhirnya dipertemukan oleh
Tuhan. Setelah masa pertunangan yang pendek, mereka menikah pada tanggal 13 Juli 1858 dan
menetap di Alencon. Mereka dikarunia 9 orang anak. Dari ke 9 anak ini 4 orang meninggal
dunia pada masa bayi atau anak-anak dan yang tinggal hidup semuanya perempuan, yaitu
Marie, Pauline, Leonie, Celine dan Therese si bungsu. Dari 5 putri yang hidup itu akhirnya satu
per satu semuanya masuk biara. Secara berturutan Pauline, Marie, Therese dan yang terakhir
Celine, semuanya masuk biara Karmel di Lisieux, Perancis, sedangkan Leonie masuk biara
Visitasi yang didirikan Santo Franciscus dari Sales.

Keluarga ini sungguh-sungguh sebuah keluarga katolik yang saleh. Sejak dari kecil anak-anak
dididik dan diajar dalam suasana iman Katolik yang benar, dalam cinta kasih dan pengurbanan
kepada Allah. Walaupun mereka semua dicintai, namun tidak dimanja dan akhirnya mereka
semua menjadi orang-orang Kristen yang beriman, bahkan menjadi biarawati-biarawati yang
baik dan salah seorang di antaranya menjadi seorang santa besar zaman kita ini.

Pada tahun 1877 ibunya meninggal dan fakta itu meninggalkan luka yang dalam sekali di hati
Theresia. Akhir tahun 1877 juga keluarga Martin pindah ke Lisieux, di mana saudara dari
ibunya tinggal, dan pada tahun 1881 Theresia masuk sekolah suster-suster Benediktin di

83
Lisieux. Di sekolah itu Theresia merasa diri asing terhadap teman-temannya. Hanya dalam
lingkungan keluarganya dia merasa aman dan hangat.

Pada tahun 1882 Pauline, kakaknya yang nomor dua dan sekaligus pengganti ibunya,
meninggalkan rumah untuk masuk biara Karmel di Lisieux. Kepergian Pauline ini merupakan
suatu pukulan besar bagi Theresia kecil. Luka yang ditinggalkan oleh kematian ibunya belum
lagi pulih benar, kini ia terpukul lagi oleh kepergian Pauline dan hal itu menjadi terlalu berat
bagi si kecil itu. Maka pada Paskah 1883 Therese kecil jatuh sakit keras, yang lebih disebabkan
oleh tekanan batinnya yang tidak tahan menanggung kepergian kakaknya. Namun Allah tidak
tinggal diam. Ia mengutus Bunda Maria kepadanya yang menampakkan diri dan tersenyum
kepadanya. Melalui penampakan itu Theresia disembuhkan dengan segera, namun ia tetap
menjadi seorang yang perasa sekali. Hal itu baru dapat diatasinya setelah rahmat Natal 1886.

Tahun berikutnya, tahun 1884, Theresia yang berumur 11 tahun menyambut komuni yang
pertama, yang sungguh merupakan suatu perjumpaan mendalam dengan Tuhan, yang olehnya
sendiri disebut dengan istilah ‘ciuman Yesus yang pertama’.

Theresia tumbuh bahagia dalam keluarga itu, namun ia menjadi seorang yang amat perasa dan
sensitif dan mudah sekali menangis. Pada tanggal 15 Oktober 1886 kakaknya yang pertama,
Marie, menyusul adiknya masuk biara Karmel. Kembali Theresia menerima pukulan lagi,
namun kali ini harus diatasinya sendiri, yang dilakukannya melalui doa-doanya. Pada hari Natal
1886 Theresia menerima rahmat kekuatan yang besar, yang membuatnya menjadi kuat dan
tabah. Pada tahun ini pula Tuhan menganugerahkan kepadanya suatu kehausan yang besar akan
jiwa-jiwa, untuk berdoa dan berkurban bagi keselamatan jiwa-jiwa.

Pada hari Pentekosta tahun 1887, pada usia 14 tahun, Theresia menyatakan niatnya untuk
masuk biara Karmel kepada ayahnya yang amat dicintai dan dipujanya itu. Dengan sangat
terharu dan dengan kebesaran hati yang luar biasa ayah itu memberikan restunya, bahkan
kemudian dengan segenap hati mendukung niat putrinya untuk masuk biara pada usia 15 tahun.
Niat itu mengalami banyak pertentangan dari pihak pimpinan Gereja, karena dia dianggap
masih terlalu muda. Theresia dengan didukung ayahnya berusaha memperoleh izin itu dan
bersama-sama menghadap bapak uskup. Namun Uskup tidak segera mengizinkan. Kemudian
mereka ikut ziarah ke Roma dan waktu audiensi dengan Paus Theresia mengungkapkan
keinginannya untuk masuk dan supaya diberi izin untuk masuk biara Karmel dalam usia 15
tahun. Paus hanya mengatakan, supaya ia mengikuti petunjuk dari atasannya. Namun akhirnya
ia mendapat izin dan pada tanggal 9 April 1888 Louis Martin menyerahkan putri
kesayangannya kepada Allah dalam biara Karmel di Lisieux.

II. THERESIA DALAM BIARA


Sejak permulaan hidupnya di Karmel Therese sudah mengalami penderitaan. Di sana ia
dianggap sebagai anak kecil dan sejak semula pimpinannya memperlakukan dia dengan keras.
Kemudian hari Therese mengatakan, bahwa ia bersyukur, bahwasanya sejak permulaan dia
diperlakukan dengan keras. Walaupun dalam biara itu ada dua orang kakaknya, yaitu Pauline
(Sr. Agnes) dan Marie (Sr. Marie), namun dia tidak dapat mengungkapkan isi hatinya seperti
ketika ia masih ada di rumah. Dalam kenyataannya Theresia memang jarang sekali

84
berkesempatan untuk biacara dengan kakak-kakaknya itu dan dia memang tidak mau mencari
kesempatan untuk itu, karena ia ingin mengikuti Yesus secara radikal.

Pada tanggal 10 Januari 1889 Theresia menerima pakaian biara Karmel dan pada tanggal 8
September 1890 Theresia mengucapkan kaulnya di Karmel. Pada tanggal 20 Pebruari 1893
Suster Agnes, kakak Theresia, yaitu Pauline, terpilih menjadi priorin (=pemimpin biara
wanita). Tahun berikutnya ayahnya meninggal dunia dan tak lama sesudah itu, kakaknya
Celine, menyusulnya masuk ke dalam biara.

Pada tahun-tahun pertama hidupnya Therese tidak menemukan pembimbing rohani yang cocok
dan seringkali ia tidak dimengerti oleh para bapa pengakuan atau pembimbing retret. Tuhan
sendirilah yang mengajar dia. Pada tahun-tahun pertama hidupnya dalam biara ia sangat dibantu
oleh karya-karya Santo Yohanes Salib, bahkan selama dua tahun lebih yang dibacanya hanya
karya-karya Yohanes Salib saja dan itulah yang didalaminya, lebih-lebih bukunya yang
berjudul: Madah Rohani. Kary Yohanes Salib: Mendaki Gunung Karmel dan Malam Gelap
dibacanya cepat-cepat, tetapi dengan tekun mendalami karya-karyanya yang lain, yaitu Madah
Rohani dan Nyala Cinta. Dari doktor cintakasih itulah Theresia menemukan banyak makanan
rohani dan yang mempersiapkan dia untuk menemukan Jalan Kecilnya kemudian hari. Bagi dia
Santo Yohanes Salib pertama-tama adalah Doktor Cinta Kasih, bukan Doktor Malam Gelap.
Ucapan Santo Yohanes Salib yang paling dipegangnya ialah, bahwa pada senja hidup kita, kita
akan diadili menurut cinta kasih. Cinta kasih Allah yang Maharahimlah yang paling
menariknya.

Bila dalam masa postulan Theresia masih mengalami penghiburan-penghiburan rohani, hal itu
tidak berlangsung lama, sebab segera kekeringan menyusulnya. Masa novisiatnya sebagian
besar dilewatinya dalam kekeringan. Hal itu pada umumnya berlangsung terus sampai akhir
hidupnya. Hanya saja dalam kekeringan itu ada tahap-tahapnya. Bila pada permulaan
kekeringan itu untuk memurnikan dia, kemudian hari kekeringan dan bahkan kegelapan yang
dialaminya, memiliki nilai redemtif, nilai penebusan bagi orang lain. Ia menjalani semuanya itu
sebagai ganti orang lain. Oleh bimbingan Allah dan rahmat khusus Theresia telah menemukan
Jalan Cinta Kasih yang selanjutnya akan menandai seluruh hidupnya dan menjadi ciri khas
spiritualitasnya yang kemudian hari menjadi pegangan bagi banyak orang.

Pada hari Raya Tritunggal Mahakudus tahun 1895 Theresia mempersembahkan diri sebagai
kurban kepada Cinta Kasih Yang Maharahim. Sejak penyerahan diri itu Cinta Kasih menguasai
hidupnya secara total. Beberapa hari kemudian ‘sewaktu mendoakan jalan salib tiba- tiba ia
ditembusi pancaran cinta kasih yang menyala, yang begitu hebatnya, sehingga ia mendapat
kesan, bahwa ia akan segera mati". Sejak saat itu api cinta kasih illahi menyala dengan lebih
hebat dalam hatinya.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Theresia berada dalam suatu percobaan iman yang amat
berat, yaitu godaan melawan iman dan pengharapan yang dahsyat, yang ditanggungnya sambil
tersenyum, sehingga tidak seorangpun tahu. Apa yang dialaminya itu bukan hanya kekeringan,
tetapi gelap, bahkan gelap gulita. Bila sebelum itu dengan imannya ia mendambakan surga,
yang menjadi kekuatan baginya, namun sejak godaan itu, semuanya gelap. Hal itu

85
digambarkannya sebagai sebuah terowongan yang gelap sekali dan orang tidak tahu, kapan
keluar dari situ. Ia juga mengungkapkan, bahwa yang menyelubungi surga daripadanya bukan
hanya sebuah tirai, melainkan sebuah dinding yang tebal. Dari situ ia mengerti makna
panggilannya, yaitu untuk mengajarkan ‘Jalan Kecil’, Jalan Cinta Kasih dalam kepercayaan
dan pasrah kepada Cinta Kasih Allah yang Maharahim.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Theresia menyadari, bahwa bila para martir mati dengan
sukacita besar, karena cinta kasih Allah yang menopang mereka, namun Yesus, Raja para
martir, wafat dalam kegelapan dan ketakutan, tetapi penuh penyerahan iman. Theresia ingin
wafat seperti Yesus dan keinginannya dikabulkan Tuhan, sehingga sampai saat akhirnya, dia
masih berada dalam kegelapan iman, sehingga orang-orang sekitarnya menjadi bingung.
Kakaknya sendiri, Sr. Agnes, menjadi bingung, karena dari satu pihak ia yakin, adiknya adalah
seorang kudus, tetapi dari pihak lain ia melihat sakrat mautnya seperti seorang pendosa besar.
Pada saat itu Sr. Agnes berlari dan berdoa di bawah salib mohon pertolongan dan bantuan Allah
untuk adiknya.

Akhirnya pada tanggal 30 September 1897 Suster Theresia dari Kanak-kanak Yesus
menyerahkan jiwanya kepada Tuhan dalam suatu ekstase cinta kasih sambil berkata: ‘Allahku,
aku ... mengasihi Engkau’, lalu menyerahkan jiwanya. Dengan demikian Allah meneguhkan,
bahwa Theresia memang sangat berkenan kepadaNya, sebagaimana dahulu Putera TunggalNya
juga wafat seperti itu. Seperti yang dikatakan Kitab Kebijaksanaan, kematian orang benar amat
berharga bagi Allah. Santo Yohanes Salib juga mengatakan, bahwa kematian orang yang
demikian itu sangat berharga di mata Allah, karena pada terakhir ia melambungkan lagu cinta
kasih yang paling merdu.

Sebelum wafat Santa Theresia menyatakan, bahwa ia akan melewatkan surganya dengan
berbuat baik di bumi. Ia berjanji akan menghujankan mawar ke atas bumi. Dengan keyakinan
yang besar dikatakannya, bahwa karena di dunia ini dia hanya mencari kehendak Allah, maka di
surga Allah akan melakukan kehendaknya. Karena itu ia akan mengajarkan Jalan Kecilnya dan
akan menghujankan mawar ke atas bumi.

Tak lama sesudah wafatnya, riwayat hidupnya dengan cepat telah memenangkan hati banyak
orang. Dalam waktu singkat buku itu telah mengalami cetak ulang beberapa kali, serta
diterjemahkan ke dalam pelbagai macam bahasa. Tak lama sesudah itu banyak doa-doa yang
ditujukan kepada Theresia dikabulkan Tuhan dan mulailah mawar demi mawar dan mujizat
demi mujizat dikerjakan Tuhan untuk memuliakan hambaNya itu, baik itu berupa rahmat
pertobatan besar, maupun penyembuhan-penyembuhan besar yang diterima dengan perantaraan
Theresia.

Paus Pius X menyatakan, bahwa Santa Theresia adalah orang kudus terbesar zaman ini. Dan
Paus Pius XI mengatakan, bahwa Theresia adalah bintang cemerlang dari pontifikatnya.(=masa
jabatan kepausan).

Pada tanggal 29 April 1923 ia digelarkan beata oleh Paus Pius XI dan dua tahun kemudian
digelarkan kudus pada tanggal 17 Mei 1925. Ini merupakan suatu fakta yang amat istimewa,

86
karena biasanya orang digelarkan kudus setelah cukup lama setelah digelarkan sebagai beata.
Kemudian pada tanggal 14 Desember 1927 Santa Theresia dijadikan Pelindung Misi sejajar
dengan Santo Fransiskus Xaverius, karena banyak sekali misionaris yang mengalami
bantuannya dalam karya dan kerasulan mereka. Banyak sekali gereja dan kapela dibangun
orang dan berlindung padanya. Theresia telah menjadi seorang santa yang sangat populer di
seluruh dunia dan banyak jiwa-jiwa kecil dikobarkan semangatnya untuk menikuti dia dalam
jalan kesucian, yang tidak lain adalah Jalan Cinta Kasih, karna kesucian bukan lain daripada
cinta kasih. Pada tanggal 3 Mai 1944 Paus Pius XII memaklumkan dia menjadi Pelindung
Kedua negara Perancis di samping Santa Jeanne d’Arc.

Pada hari Minggu Misi 19 Oktober 1997, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Santa
Theresia diangkat menjadi Pujangga Gereja oleh Paus Yohanes Paulus II dan dinyatakan
sebagai Doktor Cinta kasih. Dengan pengangkatannya menjadi Pujangga Gereja itu Gereja mau
mengatakan, bahwa ajarannya berlaku secara universal untuk semua orang Kristen.

Demikianlah Theresia yang semasa hidupnya ingin hidup tersembunyi dan tidak dikenal,
akhirnya sesudah wafatnya menjadi tokoh dunia, bukan hanya dalam Gereja Katolik, tetapi juga
di luarnya.

87
9.b. KERENDAHAN HATI

I. KERENDAHAN HATI : DASAR DARI SEGALA KESUCIAN DAN CIRI


SPIRITUALITAS THERESIA
Dalam kehidupan rohani, kerendahan hati mempunyai tugas ganda. Tugasnya yang pertama-
tama adalah menyingkirkan hambatan terbesar untuk mencapai kesucian, yaitu
kesombongan. Karena kelekatan akan kehebatannya sendiri, orang yang sombong menjadikan
dirinya pusat segala sesuatu. Karena orang yang sombong berputar-putar pada dirinya sendiri,
dia tidak dapat mencapai apa-apa. Ini adalah suatu sikap yang menggelikan. Orang yang
sombong biasanya tidak sadar, bahwa ia ingin dihargai, ingin dipuji, ingin dihormati, dan
sebagainya. Padahal, kesombongannya justru menjadi hambatan untuk dapat menuju kepada
Allah. Orang yang sombong biasanya meninggikan diri di atas kemampuannya dan melupakan
keterbatasannya sendiri. Mereka bahkan seringkali ditandai oleh dosa-dosa, penuh
kecenderungan yang salah, terbatas dalam banyak hal; disadari atau tidak, dia sebenarnya
tergantung sepenuhnya pada Allah. Akan tetapi, orang yang sombong tidak mau mengakui
ketergantungannya! Sebaliknya, orang yang rendah hati mengatakan bahwa segala-galanya
adalah karunia Allah.

Kerendahan hati mempunyai peranan besar dalam perjalanan menuju kesucian, karena
menyingkirkan kesombongan; ia juga memainkan peranan yang aktif dalam memperoleh
kebajikan-kebajikan. Kerendahan hati menduduki tempat nomor satu dalam diri seseorang,
karena membuat Allah menjadi bebas untuk menyatakan diri kepadanya. Theresia sendiri
mengungkapkan, ‘Kalau seorang sungguh-sungguh menjadi kecil maka Tuhan akan melimpahi
dia dengan rahmat-rahmatNya.’ Karena Allah tidak akan kuatir dan takut orang itu akan
mencuri kemuliaanNya dan merampasnya sebagai miliknya. Sedangkan orang yang sombong
mengira dirinya begitu mulia sehingga lupa, bahwa dia adalah ciptaan belaka. Sebaliknya
orang yang rendah hati akan dilimpahi Tuhan dengan rahmat, karena di dalam tangan orang yang
rendah hati, semuanya aman, rahmat itu tidak akan disalahgunakan, tetapi justru akan dipakai
untuk kepentingan orang lain.

Namun, perlu diwaspadai, karena kerendahan hati kadang-kadang bisa bersifat palsu; merasa
rendah hati dengan pura-pura atau tidak mengakui segala karunia yang telah diterima. Dalam
tulisannya ‘Mendaki Gunung Karmel’, Santo Yohanes Salib berkata, bahwa pujian sama sekali
tidak ada artinya bagi dia, begitu pula dengan penghinaan juga tidak menekan dia. Orang yang
rendah hati tidak akan mengakui sesuatu sebagai miliknya, tetapi mengakuinya sebagai karunia
Tuhan semata-mata. Seperti kita lihat pada Bunda Maria, ia menyadari rahmat besar yang
diterimanya clan dia tidak berpura-pura. Ia mengakui bahwa ia telah dipilih menjadi Bunda
Allah, tetapi itu semata-mata karena kebaikan Tuhan. Lalu kata Maria: ”Jiwaku memuliakan
Tuhan, ... karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar
kepadaku dan namaNya adalah kudus.” (Luk 1: 46.49). Demikian pula Theresia
mengakui semua yang diterimanya dengan rendah hati. Bila mengalami pencelaan ataupun
penghinaan, dia tidak merasa tertekan, namun sebaliknya segala pujian juga tidak membuatnya
menjadi sombong. Ia mengakui bahwa ia telah menerima perkara-perkara besar dari
Tuhan. Oleh sebab itu Jalan Kecilnya, Jalan Kanak-kanak Rohani, didasarkan pada kerendahan
hati. Dengan kata lain, untuk dapat berjalan dalam Jalan Kecil ini orang harus rendah hati clan

88
bersemangat miskin.

Dalam pelajaran kepada para novisnya, Theresia selalu kembali kepada kerendahan hati
dan kemiskinan. Inti pengajarannya ialah agar kita jangan berduka cita jika melihat diri lemah,
tetapi sebaliknya, kita justru harus berbangga pada kelemahan kita, seperti yang dikatakan
Paulus (bdk 2 Kor 11:30). Karena itu ia berkata: ‘Jangan berduka cita dan menutupi
kelemahan-kelemahanmu, tetapi berbanggalah. Dan bila mendapat teguran, terimalah dengan
rendah hati karena kita memang layak menerimanya, bahkan yang lebih besar daripada
itu.’ Theresia selalu mengatakan, ‘Marilah kita tetap menjadi kecil sesuai dengan keinginan
Tuhan Yesus sendiri. Bukankah dalam Injil Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah menjadi
milik anak-anak dan mereka yang menyerupai anak-anak?’ Mereka yang diberi hak
istimewa oleh Yesus adalah mereka yang paling kecil. Oleh karena itu, Theresia terus
berbicara dengan tidak bosan-bosannya mengenai kepercayaan, penyerahan,
kesederhanaan, kejujuran, dan kerendahan hati seorang anak yang kecil dan
mengemukakannya sebagai teladan bagi kita.

Maka Theresia dari Lisieux yang kecil tetapi besar ini telah menciptakan suatu jalan baru
pada spiritualitas di dalam Gereja. Ia merupakan seorang yang setia kepada tradisi Gereja, yang
meletakkan kerendahan hati sebagai dasar dari ajarannya.

II. PANDANGAN THERESIA MENGENAI KERENDAHAN HATI


Setiap sistem pemikiran yang besar memiliki sudut pandang yang jelas sekali, dan segala
sesuatu yang lain dipandang dari sudut itu. Bagi Santo Paulus: Segala sesuatu dipandang
sampah, kecuali Kristus! Theresia dari Lisieux menemukan Jalan Kanak-kanak Rohaninya yang
merupakan penemuan genius dari Theresia. Dia melihat segala sesuatu dari terang ini.
Walaupun sudah kita lihat bahwa Theresia sangat dipengaruhi Yohanes Salib, tetapi yang
menariknya dalam Yohanes Salib adalah cinta kasih. Theresia tidak begitu tertarik kepada
ungkapan Yohanes Salib, ‘Todo - nada - semuanya atau tidak sama sekali - everything or
nothing; Allah adalah segala-galanya dan ciptaan itu bukan apa-apa.’

Theresia mencari di dalam Injil teks-teks yang menguatkan jalannya itu dan dia menemukan
teks kutipan dari Amsal, “Siapa yang menjadi kecil, hendaknya datang kepadaKu.” Kemudian
dia juga menemukan dalam Injil Matins 18:4, “Barangsiapa tidak menjadi seperti anak kecil ini
tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Siapa yang merendahkan diri seperti anak kecil
ini, dia akan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Maka Theresia akan selalu
kembali pada pemikiran ini, yaitu tetap menjadi anak keeil sampai akhir hidupnya, bahkan
menjadi semakin kecil dan mau mengikuti anak yang sangat kecil. Di hadapan Allah, ia mau
tampil sebagai seorang anak kecil yang tidak berarti, tidak melekat pada apapun dan selalu
berpegang pada Allah.

III. TETAP MENJADI ANAK KECIL


Jalan Theresia tertuju langsung kepada inti persoalan manusia. Penghambat terbesar bagi
manusia adalah kesombongan dan kelekatan. Menjadi seperti seorang anak kecil berarti
menjadi rendah hati dan tidak terikat pada apapun. Setelah mencapai puncak
kesempurnaan, dia menerangkan apa artinya tetap seperti anak kecil. Dan kata-kata ini

89
yang kemudian diungkapkan dan ditulis oleh Muder Agnes :

Menjadi seorang anak kecil itu berarti mengakui kepapaannya, mengakui


ketiadaannya, mengharapkan segalanya dari Allah yang baik, bagaikan seorang anak kecil
yang selalu mengharapkan segala sesuatu dari ayahnya. Menjadi seorang anak kecil juga
berarti tidak kuatir tentang apapun juga. Juga apabila kebetulan tampaknya tidak maju.

Bahkan orang-orang miskin memberikan kepada anaknya apa yang


dibutuhkannya. Akan tetapi segera setelah anak itu menjadi besar, ayahnya akan berkata,
‘Sekarang silahkan bekerja, engkau bisa mencari nafkah sendiri.'

Selanjutnya Theresia menambahkan :


Supaya aku tidak usah mendengar hal itu dari Bapa Surgawi, maka aku tidak mau menjadi
besar. Sebab aku merasa tidak mampu untuk mencari nafkahku sendiri, yaitu mencari hidup
surgawi. Karena itu aku tetap mau menjadi seorang anak kecil dan aku tidak mau mempunyai
kesibukan lain daripada memetik bunga. B u n g a - b u n g a c i n t a k a s i h d a n b u n g a -
b u n g a p e n g u r b a n a n u n t u k mempersembahkannya kepada Allah demi menyenangkan
hatiNya.

Theresia seringkali digambarkan dengan membawa salib dan bunga mawar. Nampaknya sangat
romantis seolah kehidupan Theresia hanya memetik bunga-bunga. Akan tetapi, kalau kita tahu
apa artinya bunga-bunga ini yaitu sebagai penyangkalan diri setiap saat, maka
romantismenya hilang. Namun, di lain segi, mempersembahkan kurban-kurban kepada Allah
memberikan kebahagiaan. Menjadi kecil juga berarti menyadari bahwa kebajikan-kebajikan
yang dilakukan itu bukan miliknya dan mengakui bahwa dari diri sendiri tidak mampu
melakukan sesuatu, sebaliknya mengakui bahwa Allah-lah yang memberikan kebajikan itu ke
dalam tangannya. Jadi itulah gambaran Theresia, dia menerima dari Allah kebajikan-kebajikan
yang diibaratkan sebagai bunga-bunga dan ia membagi-bagikannya serta
mempersembahkannya kembali kepada Allah.

Akhirnya menjadi kecil berarti tidak putus asa karena kesalahan-kesalahan yang telah
dilakukan, sebab anak-anak kecil itu seringkali jatuh, tetapi karena kecil umumnya tidak
melukai dirinya terlalu berat, hanya gores-gores. Oleh karena itu dalam teks-teks ini kita
jumpai beberapa ciri khas dari kerendahan hati Theresia, yaitu mengakui kepapaannya,
kekecilanny a dan ketidakberdayaannya, serta menerima atau mengharapkan segala
sesuatu dari Allah; artinya menerima segala-galanya dari Allah tanpa berusaha untuk
menyangkalnya. Dia tidak menjadi kecil hati karena kelemahan-kelemahannya tetapi sebaliknya
bersukacita karena dengan menyadari kelemahan, ia semakin menyadari kebesaran dari
kebaikan dan kerahiman Allah yang tidak terbatas.

Oleh karena kerendahan hatinya, Theresia memiliki suatu kerinduan untuk tetap menjadi
tidak dikenal dan dilupakan. Dan dalam biara kerinduannya juga terpenuhi, sehingga ada yang
berkomentar, ‘Theresia memang anak yang manis, tetapi tidak ada yang istimewa.’
Begitu rupa dia pandai menyembunyikan semuanya. Yang mengerti hanya kakak-kakaknya
dan para novisnya. Dalam kehidupannya Theresia biasa sekali, tetapi di sinilah letak

90
kebesarannya. Dalam dirinya kita jumpai suatu jiwa yang sungguh menyadari dan menerima
kekecilannya, sehingga ia menerima rahmat yang berlimpah-limpah dari Allah.

IV. MENGAKUI KEKECILAN ATAU KEKOSONGANNYA


Dewasa ini kita melihat kecenderungan manusia menjadi semakin sombong. Mereka mengira
bisa mengetahui segala sesuatu dan menganggap kerendahan hati sebagai kelemahan atau suatu
karakter yang lemah. Banyak orang menganggap orang yang berlutut dengan rendah hati di
hadapan orang lain adalah orang yang penakut, sakit jiwa, dan sebagainya. Kerendahan hati
sering disamakan dengan rasa minder, tetapi sebenarnya sama sekali berbeda, bahkan bertolak
belakang. Perasaan minder bukanlah suatu tanda kerendahan hati. Orang yang rendah hati
mengakui keterbatasannya dan menerimanya, tetapi orang yang minder berusaha untuk menutupi
kelemahannya. Rasa minder bukanlah tanda kebajikan! Maka Santo Agustinus berdoa, ‘Tuhan,
semoga aku, mengenal Engkau dan semoga aku mengenal diriku sendiri.’ Dan
Teresa Avila mengatakan, ‘Mengenal Allah dengan sungguh-sungguh akan membuat kita
mengenal diri sendiri.’ Jalan pengenalan Allah menghantar kita mencapai kerendahan hati,
bukan terus merenungkan kekurangan-kekurangan dan berputar-putar pada diri sendiri. Sesuatu
yang kotor akan tampak lebih kotor apabila diletakkan pada latar belakang yang putih.
Maka dengan melihat Allah, kita akan melihat kelemahan diri sendiri. Di sinilah letak
perbedaan antara orang yang rendah hati dan orang yang sombong: Orang yang rendah hati
melihat, mengakui dan menerima; sedangkan orang yang sombong, kalau melihatnya, cepat-
cepat menutupi dan tidak mau melihat dan mengakuinya, atau malahan menjadi putus asa.

Pada Santa Theresia Lisieux, kita jumpai juga gagasan klasik tentang kerendahan hati. Pada
dirinya tidak kita jumpai ungkapan-ungkapan ataupun kata-kata yang berlebih-lebihan dalam
mengakui kelemahannya. Dia tidak pernah mengatakan, bahwa dia itu orang jelek atau dia
orang jahat. Namun, apabila orang mengatakan sesuatu mengenai dirinya, dia menunduk dan
menerimanya. ‘Tetapi menjadi anak kecil ialah mengakui kekecilannya dan mengharapkan
segala sesuatu dari Allah, ibarat seorang anak mengharapkan segalanya dari ayahnya.’ Dan
Tuhan telah meneguhkan pengenalan diri ini, sehingga tidak ada apapun yang dapat
menyilaukannya :
Sejak beberapa bulan, Guru Ilahi telah mengubah caraNya memperlakukan aku supaya bunga
yang kecil itu bisa berkembang. Seandainyapun semua ciptaan mencintai dia dan memenuhi
dia dengan pujian-pujian, tidak akan pernah semua itu meninggalkan kebanggaan yang sia-sia
dalam dirinya. Sebab di dalam pandangannya sendiri, dia melihat dirinya di hodapan Allah
sebagai yang kecil, miskin, dan tidak berarti apa-apa.
Oleh sebab itu, ketika dia diberi tugas menjadi pembimbing novis, dia mengakui
keterbatasannya dan ketidakmampuannya. Theresia tidak menginginkan pujian, tidak juga
menginginkan penghargaan bahkan dari para novis yang dibimbingnya. Akan tetapi, dia
melakukan itu semuanya demi Tuhan. Theresia tidak pernah berusaha untuk menarik
orang pada dirinya. Theresia mencintai dengan tulus ikhlas, sehingga dia hanya mau
memberikan yang terbaik pada mereka supaya mereka berkembang dalam
pengenalan akan Tuhan, dalam kasih pada Tuhan. Dalam usaha itu dia semata-mata bersandar
pada Tuhan dan mengharapkan segalanya dari Dia. la melihat, bahwa untuk berbuat baik
tanpa bantuan ilahi adalah hal yang mustahil, sama mustahilnya seperti mau membuat
matahari bersinar pada waktu tengah malam.

91
Jika orang memberi selamat kepadanya karena hasil-hasil baik yang telah dicapainya, Theresia
mengatakan : ‘Allah yang baik memberikan kepadaku apa yang kubutuhkan. Aku tidak
pernah melakukannya seorang diri.’ Seperti para kudus, Theresia merasakan perkaranya itu
secara naluriah. Kepekaan atau karunia Roh Kudus membuat dia tahu dan sadar, bahwa tanpa
rahmat Allah dan pertolongan Allah yang khusus, dia tidak akan mencapai keselamatan
kekalnya. Dia merasa bahwa karena Tuhan telah mengampuni dia banyak sekali,
menjauhkan dia dari dosa-dosa, maka dia semakin mencintai Allah. Menjauhkan orang dari dosa
adalah tanda kerahiman yang lebih besar daripada mengampuni dosa. Oleh karena itu, dari sini
bisa kita simpulkan, betapa dalamnya pengertian Theresia mengenai kerendahan hati.

V. KERENDAHAN HATI ADALAH KEBENARAN


Dalam mistik Karmel, kerendahan hati menduduki tempat yang istimewa. Santa Teresa Avila
menekankan hal itu sebagai berikut :
Kerendahan hati harus menduduki tempat yang pertama supaya kita menyadari
bahwa kemampuan dan kekuatan kita datangnya bukan dari diri sendiri. Kita
juga harus memiliki pengertian yang tepat tentang kebajikan ini, sebab iblis
seringkali membawakan kerugian yang besar kepada jiwa-jiwa pendoa dan
menghalangi mereka supaya tidak mengadakan kemajuan, yaitu dengan
memberikan suatu pandangan yang keliru tentang kerendahan hati. Setan
menyatakan dan menipu dengan mengatakan, bahwa bila orang mau mengikuti para
kudus dan bahkan ingin mati sampai pada kemartiran, itu adalah
kesombongan. Sebenarnya itu justru tipu muslihat si setan. Oleh sebab itu,
sesungguhnya kerendahan hati serasi dan sesuai bila disatukan dengan
kerinduan untuk hal-hal yang besar, dengan kerinduan untuk bekerja bagi
kemuliaan Allah sampai pada kemartiran.

Dalam hidup orang-orang kudus kita jumpai adanya suatu paradoks: paradoks antara kesadaran
akan kelemahan sendiri dan keberanian untuk merindukan hal-hal yang besar. Ada orang-
orang yang mengira rendah hati dengan tidak mengakui karunia-karunia Allah, tetapi ada
pula orang yang sombong dengan membangga-banggakan karunia Allah yang sebenarnya tidak
ada. Orang yang rendah hati mengakuinya, tetapi tidak berbangga-bangga secara kosong. Kita
harus benar-benar menyadari, bahwa karunia-karunia yang diberikan Tuhan kepada kita diberikan
tanpa jasa kita sedikitpun. Namun, tanpa kesadaran akan kemurahan Allah, tidak ada
sesuatupun dalam diri kita yang dapat mendorong kita untuk mengasihi Dia. Sebaliknya,
semakin kita sadar bahwa kita diperkaya oleh Allah, semakin besar rahmat yang diberikan
Tuhan kepada kita. Walaupun kita mengakui kelemahan sendiri dan merasa bahwa
sesungguhnya tidak pantas, semakin kita didorong untuk hidup dalam jalan kesempurnaan
melalui suatu penghayatan kerendahan hati yang sejati. Jika kita tidak mengakui karunia Allah,
justru akan membuat kita menjadi cepat putus asa.

Semakin kita sadar, betapa kita dilimpahi kasih karunia Allah, semakin kita akan mencintai.
Oleh karena itu, Santa Theresa Avila juga mendorong anak-anaknya untuk selalu merenungkan
kebaikan-kebaikan Tuhan. Dia menyebutkan beberapa hal yang harus direnungkan, yaitu
kebaikan Allah yang tampak dalam karya penciptaan, yang setiap saat dilangsungkan oleh
Penyelenggaraan IlahiNya, rahmat besar yang terungkap dalam inkarnasi dan karya

92
penebusan, segala karunia yang diberikan kepada jiwa-jiwa kita secara berlimpah-
limpah. ‘Rasa syukur akan kemurahan yang demikian besarnya, akan memberikan
keberanian lebih besar kepada kita untuk melayani Dia dan menunjukkan rasa terima kasih
yang lebih besar pula’, demikian kesimpulan Santa Teresa Avila.

Kerendahan hati yang sejati memberikan kekuatan yang luar biasa untuk berkarya dan
berkurban bagi Allah. Orang yang rendah hati dan yang lepas justru tidak kenal putus asa
karena dia tahu, bahwa dalam semuanya Allahlah yang berkarya. Apabila menemui jalan buntu,
dia percaya bahwa pada suatu saat Tuhan akan membukanya; dan jika mengalami kegagalan,
dia menyadari bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana terhadapnya. Namun sebaliknya, apabila
menghadapi tantangan, orang yang sombong cepat patah semangat. Paulus mengatakan,
‘Aku lemah tetapi aku kuat di dalam Dia yang berkarya dalam aku.’ Santa Theresia
mengatakan, ‘Kelemahanku justru menjadi seluruh kekuatanku.’ Theresia tidak terus-menerus
mengeluh tentang kelemahannya. Theresia menemukan di dalam segala sesuatu yang ada dalam
dirinya, suatu alasan untuk memuliakan kerahiman Allah, entah itu kebajikan atau pun
kelemahan pribadi.

Jika Theresia melakukan suatu kebajikan, dia sadar bahwa itu semua adalah rahmat Allah:
‘Karena rahmat Allah, aku dapat melakukannya.’ Dan saat jatuh dalam
kelemahannya, diapun mengakui dengan mengatakan: ‘Tuhan, aku lemah dan tidak berdaya,
makes aku berharap akan kerahimanMu.’ Dalam segala hal Theresia selalu memuliakan Allah;
baik di dalam kelemahan maupun dalam kebajikannya. Hanya pada kerahiman Allah dia
selalu berpaut. Theresia menyadari hal ini dan seringkali mengulangi kata-kata Santa
Teresia Avila: ‘Kerendahan hati adalah kebenaran’

VI. SAYA BERSUKA CITA KARENA SAYA TIDAK SEMPURNA


Pengertian Theresia tentang kerendahan hati telah menonjolkan suatu aspek dari Injil, yaitu
menemukan dalam kekecilan dan kepapaan suatu prinsip kebesaran. Sebenarnya ini bukan
sesuatu yang baru dalam spiritualitas. Dengan suatu keberanian yang luar biasa, keberanian
yang diilhami oleh kegeniusannya, Theresia mengerti dengan baik, bahwa ada kesalahan-
kesalahan yang tidak melukai hati Allah, yaitu kesalahan yang tidak menghina Allah. Justru
kesalahan-kesalahan itu bertujuan untuk merendahkan, menguatkan cinta kasih dan semakin
menyadarkan ketergantungan kita kepada Allah. Ini merupakan suatu penemuan yang sangat
penting bagi Theresia. Hal ini mendekati apa yang dikatakan Santo Agustinus ketika memberi
komentar tentang kata-kata Santo Paulus dalam Roma 8:28: “Segala sesuatu bekerja sama
untuk kebaikan mereka yang mencintai Allah.” ‘Semuanya, bahkan juga dosa-dosa kita,’
tambah Santo Agustinus. Ajaran Theresia mengungkapkan psikologinya yang sangat realistis.
Seringkali kita jumpai orang-orang yang terus-menerus mengeluhkan dosa-dosanya yang
sudah lampau, sehingga mereka tidak pernah bisa terbang naik menuju Allah. Sebaliknya
pengakuan kelemahan dan kesalahan dengan jujur akan membawa kebebasan.
Theresia mengatakan bila orang mengakui kelemahan dan dosanya dengan rendah hati dan
jujur, maka dia akan bebas. Tetapi bila tidak mau mengakuinya, bahkan menutup-nutupinya
supaya terlihat bagus dan indah, maka orang itu menipu diri sendiri. Orang-orang
demikian tidak segan-segan berdusta, dan dengan demikian semakin menampakkan
kesalahannya. Bila orang mau mengakui kesalahannya dengan rendah hati, maka segera

93
semuanya hilang. Spiritualitas Santa Theresia atau Jalan Kecil Kanak-kanak
Rohaninya mengingatkan kita akan realitas kelemahan dan kerapuhan manusia yang
seringkali tersandung.

Seperti yang kita lihat pada Theresia, bahkan pada saat terakhir hidupnya is masih
menunjukkan sikap ketidaksabaran; namun di pihak lain, dia mempunyai kesabaran yang luar
biasa. Untuk menjadikan seseorang tetap rendah hati, seringkali Tuhan memberi
seseorang rahmat pada hal-hal tertentu, tetapi tidak pada hal yang lain. Bila kita melihat
Theresia dalam penderitaannya, khususnya pada tahun-tahun terakhir, pada kegelapan iman
yang luar biasa, nampak suatu kesabaran dan iman yang luar biasa. Tetapi dalam hal
yang kecil, Tuhan seolah-olah tidak memberikan rahmat, sehingga dia direndahkan di
hadapan orang lain. Theresia mengatakan bahwa manusia tanpa rahmat Allah tidak dapat
berbuat apa-apa kecuali berbuat dosa.

Di sini kita sampai pada suatu pokok yang sangat penting dalam spiritualitas Kristen. Orang
harus mengakui dan menerima kepapaannya sendiri, bahkan menemukan sukacita di dalamnya.
Kesedihan yang menekan, datangnya dari cinta diri. Semakin orang dengan bantuan Roh Kudus
mengakui, bahwa dia lemah dan tidak berdaya, semakin Allah akan membungkuk kepadanya
untuk memenuhi dia dengan rahmatNya, dengan karunia-karuniaNya yang besar. Dalam
suratnya kepada seorang misionaris Theresia menyadarkan dia akan kebenaran tersebut
yang menjadi salah satu pokok dari ajarannya tentang Kanak-Kanak Rohani, yaitu bahwa
dosa-dosa kecil dan kelemahan-kelemahan sahabat-sahabatNya akan lebih
menyedihkan hati Yesus daripada dosa-dosa besar yang dilakukan musuh-musuhNya, bila
sahabatNya itu tidak bertobat dan berbuat dosa seperti makanan sehari-hari. Tetapi Yesus akan
menyambut gembira sahabatNya yang setelah melakukan kesalahan melemparkan dirinya pada
pelukanNya serta minta maaf kepadaNya.

Salah satu keyakinan Gereja ialah, bahwa tidak ada seorang manusiapun yang bebas dari dosa,
selain Maria Bunda Allah yang dilahirkan tanpa noda dosa asal dan bebas dari dosa-dosa
kecil. Tetapi manusia lainnya masih terikat pada dosa-dosa. Bahkan dalam diri para kudus
yang besar, masih kita jumpai kelemahan-kelemahan yang oleh Tuhan memang sengaja tidak
diambil seluruhnya, supaya mereka selalu menyadari ketergantungannya yang mutlak pada
Allah. Jadi tak seorangpun, bahkan yang paling heroik sekalipun, bebas dari kelemahan-
kelemahan manusiawi. Berkat suatu rahmat yang khusus, yaitu lewat karunia Roh
kebijaksanaan dan pengertian, Santa Theresia dari Lisieux mengerti hal ini dengan baik,
sehingga ia dapat menjadikan kepapaannya sebagai dasar dari spiritualitasnya: ‘Kita ingin agar
kita tidak pernah tersandung, tidak pernah jatuh, tetapi itu hanya suatu khayalan belaka.’
Bukankah Sang Kebijaksanaan sendiri berkata: “Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia
bangun kembali” (Ams 24:16). Kemudian ditambahkan Theresia ungkapan berikut ini :
‘Peduli amat kalau saya tersandung setiap saat. Dengan demikian saya akan merasakan
kelemahanku dan saya menemukan keuntungan yang besar daripadanya.’

Ini yang menjadi ciri spiritualitasnya. Daripada terus-menerus mengeluh, menangisi


ketidaksempurnaannya dan akibatnya menimbulkan reaksi berlawanan dari kodrat kita dan
akhirnya membawa keputusasaan, Santa Theresia memilih jalan sederhana melalui pengakuan

94
terhadap kelemahannya dan memberi kesempatan kepada Allah untuk memuliakan diri di dalam
kekecilannya. la mengatakan betapa manisnya merasa diri dan menerima diri sebagai kecil dan
begitu lemah.

Jalan Kecil Theresia mengajarkan kepada kita, bahwa untuk menjadi suci, orang tidak harus
bebas dari segala kesalahan, tetapi untuk menjadi suci orang harus banyak mencintai, banyak
percaya dan banyak pasrah. Ketika Gereja menggelarkan Theresia sebagai orang kudus,
terutama ketika Gereja menggelarinya sebagai Pujangga Gereja, Gereja meneguhkan
pengajaran Theresia. Theresia mengajarkan kepada kita untuk tidak bersedih hati
terhadap kelemahan dan kesalahan sehari-hari, bahkan ia mengajarkan supaya kita
menggunakannya sebagai jalan untuk naik lebih tinggi dalam jalan kesucian.

Jelas bahwa kita tidak akan pernah bebas seluruhnya dari kelemahan dan hal ini tidak
dituntut untuk menjadi suci, tetapi hal itu dapat dijadikan pendorong bagi kita untuk semakin
bersyukur dan semakin mencintai Tuhan. Justru yang paling penting di sini yaitu bertumbuh,
berusaha dalam cinta kasih, memakai segala kesempatan untuk semakin berkembang. Bila
hal itu adalah kebajikan maka kita akan tumbuh dalam cinta atas rahmat yang telah
diberikanNya dan akhirnya walaupun jatuh dalam kelemahan, tetap bersukacita karena
menyadarkan kita akan kerahiman Tuhan yang maha besar. Kita melihat Theresia bisa
mempergunakan segala sesuatu untuk berkembang terus dalam kasih kepada Allah.
Kasihnya yang luar biasa, kepercayaannya kepada Allah, bahkan pada saat-saat yang sangat
gelap, dia tetap percaya akan kasih Allah. Inilah kebesara Theresia: Pasrahnya dan
kepercayaanya terhadap Allah.

VII. SAYA RINDU UNTUK TIDAK DIKENAL


Satu ciri khas dari pandangan Theresia mengenai kerendahan hati ialah, bahwa Theresia ‘lebih
memilih tidak dikenal dan dilupakan, daripada dihina dan direndahkan.’ Dilupakan dan tidak
dianggap apa-apa lebih cepat mematikan egoisme dibandingkan yang lainnya. Suster Theresia
ingin selalu tidak dikenal seperti Santa Perawan Maria. Dia menyimpan segala sesuatu di dalam
hati dan tidak seorangpun, bahkan dalam biara Karmel, yang menyadari harta terpendam ini.

Dilupakan orang, tidak diperhatikan merupakan suatu penyangkalan diri yang sangat besar dan
lebih cepat mematikan egoisme. Theresia tidak mencari penghargaan orang, tidak mencari
pujian, tidak ingin dihormati. Baginya Allah saja sudah cukup. Maka sebagai semboyan dia
memilih : ‘Ama nesciri et pro nihilo reputari' ─ 'suka untuk tidak dikenal dan dianggap
bukan apa-apa'. Inilah yang oleh Santa Theresia disebut perjuangan para perwira.
Hanya orang yang sungguh-sungguh dan banyak mencintai akan mampu melakukannya.
Theresia bisa melakukannya karena sungguh menyadari akan kasih Allah yang begitu besar.

Pada waktu ayahnya masuk Rumah Sakit Jiwa karena terganggu jiwanya, ia mengerti misteri
penderitaan Kristus. la juga mendapat pengertian tentang wajah Kristus yang suci, yang
kemudian ditambahkan pada namanya : Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah
Suci. Oleh karena itu hidup Theresia mengalami suatu perubahan yang mendasar,
perubahan yang mendalam. Dia mau bersama-sama Kristus tenggelam di dalam kegelapan yang
besar, seperti kata-kata dari Yesaya: Tidak ada rupa padaNya, tidak ada keelokan pada

95
wajahNya yang menjadi rusak dan tidak ada seorangpun yang mengenal Dia. Theresia
mengatakan :

Ini merupakan dasar yang mendalam dari devosi saya kepada wajah yang suci. Saya juga
ingin tanpa kemuliaan, tanpa keindahan dan memasuki tempat pengirikan anggur
sendirian, tidak dikenal orang sedikitpun juga. Sampai saat ini saya belum menyadari kekayaan
yang terkandung dalam Wajah Suci Yesus.

Yang disebut Wajah Suci Kristus ialah wajah Yesus yang rusak oleh penderitaan akibat
pukulan, wajah yang ditampar, penuh luka dan berdarah; bukannya wajah Kristus sewaktu di
Gunung Tabor. Theresia merasa bahwa Pauline, Muder kecilnya, yang telah menguraikan hal
itu kepadanya :

Lebih daripada sebelumnya, saya mengerti apa itu kemasyuran dan kemuliaan yang sejati. Dia
yang kerajaanNya bukan dari dunia ini mengatakan kepadaku, bahwa tahta kerajaan yang
sungguh patut diinginkan adalah untuk menjadi tidak dikenal dan dianggap bukan apa-
apa. Bersukacita dengan menganggap diri bukan apa-apa. Oh, saya ingin supaya
wajahku seperti wajah Yesus: tersembunyi, sehingga tidak seorangpun di dunia ini yang
mengenal saya. Saya rindu, saya haus untuk menderita dan dilupakan.

Pada saat profesinya, Theresia membawa kata-kata di dalam dirinya (ia menulis tulisan yang
disimpan dalam sakunya): ‘Janganlah seorangpun menyibukkan diri dengan saya dan biarlah
saya menjadi seperti sebutir pasir hitam yang diinjak-injak orang, yaitu pasir hitam yang
diinjak-injak orang tanpa menyadarinya. Artinya ia menghendaki eksistensinya
dianggap tidak ada, diibaratkan seperti pasir hitam. Inilah cita-cita hidup Theresia. Pada
retret tahun 1892, ia mengatakan cita-cita ini kepada Muder Agnes yang menjadi priorin
saat itu :

Inilah cita-cita dari butir pasir kecil itu. Yesus saja, tidak lain daripada Dia saja. Betapa
bahagianya tersembunyi begitu rupa, sehingga tidak seorangpun yang memikirkan saya.
Menjadi tidak dikenal, bahkan bagi orang-orang yang hidup bersama denganku. Betapa saya
rindu untuk menjadi tidak dikenal bagi setiap mahluk. Saya tidak pernah menginginkan
kemuliaan manusia. Penghinaan memang sesuatu yang menarik bagi hatiku. Tetapi saya
melihat, bahwa hal ini masih terlalu mulia bagiku, maka saya rindu untuk dilupakan.

Dilupakan sama sekali merupakan kematian total terhadap egoisme kita. Tentu saja hal ini
menuntut penyangkalan diri dan perkembangan yang besar dalam cinta kasih dan iman.

Demikianlah Theresia belajar dalam sekolah Sang Guru yang lemah lembut dan rendah hati,
yang nampak dalam bahasa yang dipakai dalam tulisan-tulisannya. Theresia tidak akan
berbicara tentang ‘dihancurkan atau dihina’ seperti seorang Yohanes dari Salib. Kata-kata itu
bukan untuk jiwa-jiwa yang kecil. Semboyan cita-cita Theresia dalam kesucian ialah :
dilupakan, sehingga banyak jiwa kecil yang dapat mengikutinya dalam jalan kecil ini, yaitu
orang-orang keeil yang tidak dikenal, yang seluruh usahanya dipakai untuk mempertahankan
nafkahnya dan tidak menyadari, bahwa dengan cara itu mereka memiliki kebesaran jiwa. Ajaran

96
Theresia sangat injili, sangat menyerupai hidup Yesus: tidak pernah menonjol, tidak pernah
menyolok. Theresia memuji orang-orang yang mempunyai semangat ini. Theresia mengatakan
bahwa untuk mendekati Yesus orang harus menjadi kecil: ‘Oh, betapa sedikitnya jiwa-jiwa
yang ingin menjadi kecil dan tidak dikenal.’

97
10. PRIMAT CINTA KASIH

I. DUA ALIRAN SPIRITUALITAS DALAM GEREJA


Di dalam Gereja ada dua aliran yang cukup kuat. Yang pertama disebut aliran asketis, yaitu
aliran yang berpendapat, bahwa untuk mencapai kesempurnaan cinta kasih orang harus berjalan
lewat penghayatan kebajikan-kebajikan dengan teliti. Dan yang kedua disebut aliran mistik,
yaitu suatu aliran yang lebih mengarahkan segala sesuatu kepada cinta kasih yang menjiwai
segala perbuatan yang dilakukan, bahkan yang paling kecil sekalipun. Dua aliran ini kadang-
kadang dipertentangkan, seolah-olah saling berlawanan. Tetapi sebenarnya kita harus dapat
melihatnya sebagai suatu komplemen yang saling melengkapi. Dalam prakteknya, orang harus
memperhitungkan keadaan, watak dan sifat tiap-tiap jiwa yang mau mengarahkan diri kepada
kesempurnaan Kristiani.

Aliran asketis menekankan pentingnya kebajikan-kebajikan dalam perkembangan cinta kasih.


Dasar pemikiran mereka adalah ‘Siapa yang mau mencapai tujuan harus mempergunakan
sarana-sarananya’. Pandangan ini memang bisa dibenarkan karena kebajikan-kebajikan ilahi
memang dibutuhkan, juga kebajikan-kebajikan moral. Pengalaman sehari-hari menunjukkan,
bahwa cukup banyak orang harus sungguh-sungguh meletakan dasar-dasar kebajikan di dalam
kehidupan mereka. Melalui latihan-latihan kebajikan yang bijaksana, orang akhirnya
menunjukkan tuntutan-tuntutan cinta kasih dan secara perlahan-lahan dapat mengembangkan
kesalehan, menjadikan Allah dihargai di atas segala-galanya. Bila jiwa berkembang dalam
kekuatannya, maka kesetiaan kepada cinta kasih akan membawa kepada penghayatan cinta
kasih yang besar, bahkan sampai pada kemartiran. Semakin murni seseorang, semakin ia dekat
kepada Allah.

Metode ini memiliki keuntungan yaitu meletakan dasar kesucian yang sejati melalui
penyangkalan diri sendiri. De facto banyak pemula yang ingin mencapai kesucian dan
merindukan pengalaman-pengalaman mistik harus melewati jalan ini terlebih dahulu. Juga
banyak orang berkhayal seolah-olah sudah sampai ruangan terdalam (ke VI atau ke VII) dalam
Puri Batin karangan Teresia Avila, tetapi sebenarnya belum mencapai apa-apa. Malahan dia
hanya berputar-putar pada diri sendiri. Sebenarnya seluruh aliran ini bersandar pada
penyangkalan diri, kerendahan hati, kesadaran dan kesabaran di dalam menjalani tugas-tugas
yang rutin setiap hari.

Sebaliknya, aliran mistik dengan suatu dorongan yang kuat menjadikan cinta kasih sebagai
pusat segala-galanya. Karena semakin dibentuk menyerupai Tuhan dalam cinta kasih, orang-
orang itu selanjutnya hanya berusaha untuk hidup melulu bagi Allah karena cinta kasih
kepadaNya. Cinta kasih menjadi segala-galanya. Cinta kasih menjadi tujuan dan sekaligus jalan,
serta sarana yang utama, sarana yang paling pokok, yang paling kuat, untuk melaksanakan
kerajaan cinta kasih, baik di dalam diri sendri maupun di dunia. Metode ini bersandar pada
kenyataan, bahwa cinta kasih merupakan pengikat segala kesempurnaan. Cinta kasih merupakan
mahkota dan menjiwai setiap perbuatan, bahkan yang paling kecil sekalipun. Dalam jalan ini,
cinta kasih merupakan titik pusat jiwa. Tidak ada sesuatupun, baik dalam hidup batin atau
dalam segala aktivitas lahirnya, luput dari cinta kasih. Maka hidup rohani bukan lagi merupakan
usaha untuk mencapai kesempurnaan sendiri, melainkan suatu kerinduan untuk dibentuk di

98
dalam Allah dan menjadi pujian bagi kemuliaanNya (Ef 1:14). Jadi segala usaha yang dilakukan
orang itu bukanlah untuk mencapai kesempurnaan diri sendiri, tetapi untuk sungguh
dihanyutkan, dibakar habis dalam cinta kasih. Jiwa itu, yang setia dan mengatasi diri sendiri,
mengarahkan pandangannya bukan kepada kebajikan-kebajikan yang harus diperolehnya,
melainkan semata-mata kepada persatuan cinta kasih dengan Allah, yaitu bagaimana supaya ia
benar-benar dapat disempurnakan dalam cinta kasih. Seluruh kesibukannya, seluruh
pelayanannya, hanya untuk mencintai. Spiritualitas-spiritualitas besar dalam Gereja, pada
puncaknya, semuanya ditandai oleh roh cinta kasih. Hal itu kita temukan pada Santo Ignatius
Loyola, Santo Fransiskus dari Sales, seperti juga pada Santo Bernardus dan Santo Agustinus.
Dalam buku ‘Mengikuti Jejak Kristus’ diungkapkan buah-buah cinta kasih yang mengagumkan:
Cinta kasih adalah sesuatu yang besar dan lebih berharga daripada segala sesuatu.
Cinta kasih menanggung beban tanpa merasakan beratnya dan menjadikan segala
yang pahit menjadi manis. Tidak ada yang lebih manis, tidak ada yang lebih kuat,
tidak ada yang lebih luhur, tidak ada yang lebih melapangkan dada, tidak ada yang
lebih menarik daripada cinta kasih. Tidak ada yang lebih sempurna daripada cinta
kasih baik di surga maupun di dunia, sebab cinta kasih lahir dari Allah dan segala
ciptaan hanya dapat beristirahat di dalam Allah saja.

Siapa mencintai, dia berjalan cepat, bahkan terbang. Dia bebas, dia dalam
sukacita, serta tidak ada yang dapat menahannya. Cinta kasih tidak
memperhitungkan apa yang harus dibayar. Tidak ada sesuatupun yang mustahil
baginya. Oleh karena itu dia melakukan banyak perkara besar. Tidak ada kelelahan
yang melemahkan dia. Tidak ada sesuatu apapun yang menahannya, tidak ada
kekuatiran yang menggoyahkan dia. Dan sebagai suatu nyala yang hidup dia selalu
menuju ke surga (Buku III, Bab 5).

Dibebaskan dari diri sendiri dan dari kekuatiran akan diri sendiri, yang seringkali begitu
menyiksa dalam hidup rohani karena perhatian terlalu besar pada diri sendiri, jiwa justru
melupakan diri sendiri degan mengasihi.

Dua metode ini tentu saja mempunyai kekuatan dan kelemahannya sendiri. Dalam praktek
seringkali harus diperhitungkan keadaan pribadi masing-masing dan orang harus tahu membaca
situasi serta mengenali keadaan masing-masing. Bagi orang-orang tertentu, metode yang asketis
ini mungkin lebih aman, khususnya bagi mereka yang cenderung untuk malas dan karenanya
perlu sungguh-sungguh dibentuk dan dilatih dalam kebajikan sebelum mereka itu memasuki
jalan mistik. Namun tidak dapat disangkal, bahwa metode yang kedua, yang melaksanakan
hukum-hukum psikologi terdalam, lebih berharga dibandingkan dengan yang pertama. Cinta
kasih yang sejati merupakan sumber dari ekstase (ex-stare = keluar dari diri sendiri), sumber
dari semangat yang berkobar-kobar kebaktian sejati, perhatian yang tidak ada jemu-jemunya
dan semangat berkorban yang tidak kenal menyerah. Mencintai berarti memberikan diri sendiri.
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan melaksanakan segala perintahKu” (Yoh 14:15).
Santo Yohanes Salib mengatakan: ‘Semakin orang berkembang dalam cinta kasih, semakin dia
menjadi praktis. ‘Kita lihat contohnya pada Santa Theresia Avila. Ia adalah seorang wanita
yang sangat praktis. Walaupun dia adalah seorang mistika yang sangat besar, dia masih
memiliki banyak kesibukan dalam mendirikan biara-biara dan dapat mengatur semuanya

99
dengan baik. Bila orang mengashi, ia tidak menolak apa-apa. Maka cinta kasih bisa disebut
sebagai tongkat pengungkit atau dongkrak kehidupan.

Pemikiran-pemikiran ini diperlukan agar kita bisa mengerti spiritualitas Santa Theresia dengan
tepat. Bisa saja kita salah menafsirkan dirinya yang sering digambarkan dengan bunga
mawarnya, seolah-olah tidak ada penderitaan, tidak ada penyangkalan diri. Padahal itu tidak
benar. Di dalam gereja ada 2 cara yang berbeda untuk sampai kepada Allah. Salah satu
peristiwa dalam hidup Santo Fransiskus menunjukkan 2 cara yang berbeda itu. Suatu hari
sorang suster berkata kepada Santo Fransiskus: ‘Saya mau mencapai cinta kasih melalui
kerendahan hati.’ Lalu Santo Fransiskus menjawab: ‘Dan aku mau memperoleh kerendahan
hati lewat cinta kasih.’ Rupanya Santa Theresia menganut cara berpikir yang kedua itu.
Berbeda dengan orang-orang lain yang mengejar kesempurnaan untuk sampai kepada cinta
kasih, Santa Theresia justru mengambil jalan cinta kasih sebagai jalan kesempurnaan itu sendiri.
Bagi dia cinta kasih merupakan jalan yang paling pendek menuju kepada kesucian. Kepada
saudarinya Thersia mengatakan: ‘Engkau meminta kepadaku untuk menunjukkan suatu cara
supaya sampai kepada kesempurnaan. Saya hanya mengenal satu saja, yaitu cinta kasih.’ Oleh
sebab itu dasar spiritualitas Theresia adalah kerendahan hati, menyadari kekecilan diri sendiri
dan kemudian menyerahkan jiwanya kepada Sang Cinta kasih tanpa syarat.

II. PRIMAT CINTA KASIH


Para kudus dari segala masa secara inuitif merasa, bahwa cinta kasih merupakan hakekat dari
agama Kristen. Sudah sejak di Gunung Sinai, pada permulaan adanya Hukum Allah, hukum
cinta kasih dijadikan yang paling utama dan Tuhan Yesus sendiri mengulanginya di dalam injil:
“Dengarlah hai Israel, engkau harus mengasihi TUhan Allahmu dengan segenap hatimu,
dengan seluruh jiwamu, dengan segenap kekuatanmu. Inilah hukum yang yang pertama dan
terutama… Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”
(Mat 22: 37-40; Mark 12:2-31). Sabda Kistus ini telah menyebabkan suatu revolusi besar dalam
sejarah manusia. Seluruh spiritulitas Kristen diilhami oleh perintah utama Allah ini dan
kehidupan Gereja sebenarnya bukan lain daripada pelaksanaan hukum cinta kasih itu. Theresia
sendiri, melalui kutipan-kutipan Kitab Suci yang diterimanya, telah menemukan pesan Allah
yang satu dan pokok itu. Ketika membaca ayat-ayat dari Mzm 50:9-14, Theresia berkata:
Lihatlah! Itulah apa yang diminta Yesus dari kita. Ia tidak memerlukan pekerjaan-
pekerjaan kita, tetapi hanya cinta kasih. Allah mengatakan tidak membutuhkan
makanan kalau Dia lapar, tetapi, Allah yang sama, tidak segan-segan mengemis air
dari seorang wanita Samaria. Ia haus. Dan ketika Dia berkata “Berilah Aku
minum”, sesungguhnya yang dimintaNya ialah cinta dari makhluk ciptaanNya. Ia
tidak minta air dari sumber. Ia haus akan cinta, yaitu cinta kasih manusia. Ia
mengharapkan supaya manusia membalas cinta kasihNya.

Dengan cara yang mengagumkan Theresia telah mengerti hukum yang diberikan Tuhan Yesus
sendiri. Dia mengungkapkan idealismenya itu dalam puisi yang berjudul Hidup dari Cinta
Kasih. Seperti di dalam injil, bagi Theresia cinta kasih adalah segala-galanya. Begitu banyak
kesaksian dalam proses kanonisasinya meneguhkan spiritualitas Theresia yang terdalam yakni
‘Cinta kepada Allahlah yang sungguh-sungguh menjiwai segala perbuatan Theresia. Ia hanya
berpikir tentang Dia, bernafas bagi Dia, mau melakukan segala ssuatu demi cinta kepada Yesus

100
dan untuk menyenangkan hati Yesus.’ Cinta kepada Allah merupakan ciri yang paling menyolok
dalam hidup, ajaran dan kesuciannya. Kerinduan dan usaha Theresia hanyalah untuk mencintai
Allah, seperti Dia belum pernah dicintai. Maka cinta kasih menjadi pusat seluruh hidup
rohaninya dan dia menemukan kunci panggilannya dalam cinta kasih, sehingga Theresia
mengatakan: Panggilanku adalah cinta kasih. Dalam proses kanonisasi, seorang theolog yang
ditugaskan untuk menyelidiki karya-karya Santa Theresia, khususnya untuk melihat sifat heroik
dari kebajikan-kebajikannya megatakan:
Dalam penyelidikan kebajikan-kebajikan dari hamba Tuhan ini seringkali dijumpai
suatu ciri khas yang menonjol dari hidup rohaninya, yaitu cinta kepada Allah. Oleh
karena itu Santa Theresia dari Lisieux bisa disbut sebagai orang kudus dari cinta
kasih yang murni. Dia mau mencintai Allah sedemikian rupa, sehingga sama sekali
melupakan diri sendiri.

Sejak kecil orang telah mengajar dan mendidik Theresia untuk mengalahkan diri sendiri, tetapi
semuanya selalu dilakukan demi cinta kasih. Riwayat hidupnya telah menyatu dengan hidup
cinta kasihnya. Dalam kehidupan Theresia, cinta kasih menerangkan segala-galanya.
Perkembangan hidup mistik yang sangat cepat, sebenarnya sudah dimulai sejak ia berumur 3
tahun. Dia bersaksi bahwa sejak itu tidak pernah menolak sesuatupun kepada Allah dan
peleburan jiwanya dengan jiwa Kristus terjadi pada saat komuninya yang pertama, juga ekstase
yang dialami ketika ia berumur 14 tahun. Setelah menjadi seorang Karmelites, dia berjalan
cepat, bahkan seolah-olah terbang, menuju puncak kesempurnaan dengan semangat
pengurbanan yang besar. Dia menerima serta menghayati hidup religius ini untuk menunjukkan
kepada Allah cinta kasihnya yang besar.

Dia mau menanggung segala sesuatu agar jiwa-jiwa mencintai Yesus. Segala kegiatannya dalam
biara:saat di ruang tamu, waktu rekreasi, dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, saat-saat
keheningan di dalam doa dan semua kesibukan lainnya, bahkan hal yang paling biasa, oleh
Santa Theresia diubah menjadi suatu latihan cinta kasih yang tidak pernah berkeputusan.
Bahkan dia mengatakan bahwa bila kita memungut sebatang jarum saja dengan cinta kasih, itu
mempunyai nilai.

Dalam lambang karmel yang dilukisnya, dia menempatkan semboyan Santo Yohanes Salib:
‘Cinta hanya bisa dibayar dengan cinta.’ Dalam Karmel melalui penyelenggaraan ilahi
Theresia menemukan seorang pembimbing yang mendorongnya kepada jalan cinta kasih yang
sangat luhur. Sejak masuk Karmel, Theresia mendapatkan makanan rohaninya dari karya-karya
Santo Yohanes Salib. Mendaki Gunung Karmel dan Malam Gelap dibacanya dengan cepat saja,
namun dia meresap-resapkan, merenungkan dan mengulang-ulangi Madah Rohani dan Nyala
Cinta. Oleh karena itu perkembangan Theresia yang begitu cepat menuju kesucian, merupakan
bukti nyata dari kebenaran prinsip-prinsip mistik dari Yohanes dari Salib. Bagi Theresia,
Yohanes dari Salib bukanlah pertama-tama Doktor dari Malam Gelap, melainkan Doktor dari
Cinta Kasih.

Yang istimewa pada Theresia adalah api cinta kasih yang begitu membara dalam dirinya,
namun sama sekali tidak tampak secara lahiriah, hanya biasa saja. Walaupun demikian orang
merasa bahwa dia selalu hidup dalam hadirat Allah dan cinta kasih merupakan prinsip dari

101
segala aktivitasnya. Di manapun dia berada, entah itu di kamar setrika, di sakristi atau di refter,
dia melakukan tugasnya dengan semangat iman yang besar dan dalam kesadaran akan kehadiran
Allah. Bahkan dalam segala kesibukannya dia tidak pernah memalingkan diri dari kehadiran
Allah. Theresia hanya berpikir untuk hidup dari cinta kasih saja.

Dalam masa novisiatnya, dia pernah mengalami selama satu minggu semacam ekstase, yaitu
terpukau oleh Sang Kasih, sehingga seolah-olah dia hidup bukan di dunia ini tetapi di dunia
lain. Walaupun demikian dia tetap melakukan tugasnya dengan baik. Dia merasa perkara-
perkara duniawi ditutupi oleh suara tirai dan keadaan adikodrati ini hanya bisa dilakukan oleh
Allah saja untuk menunjukkan kekosongan dunia yang dilihat dari pandangan Allah.

Kemudian hari sentuhan-sentuhan kasih semacam ini akan terulang lagi bagi Theresia, bahkan
secara lebih kuat. Pada saat lain, Theresia meresa bahwa jiwanya dikuasai oleh cinta kasih.
Theresia juga bicara tentang pengalaman kasih yang ekstatis. Secara perlahan-lahan Tuhan
merintis jalan dalam dirinya untuk sampai kepada rahmat utama yang memberikan arah secara
definitif dalam hidupnya. Rahmat yang menjadikannya perintis suatu jalan baru di dalam
Gereja, yaitu ‘persembahan dirinya yang total kepada Cinta Kasih yang Maharahim.’

III. PANDANGAN THERESIA TENTANG CINTA KASIH DAN CIRI-CIRI


KEKANAKANNYA
Kita bisa bertanya tentang pandangan Theresia mengenai cinta kasih. Perlu disadari bahwa tiap-
tiap orang kudus mempunyai ciri sendiri untuk mencapai persahabatan dengan Allah. Untuk
mengungkapkan misteri persatuan ilahi ini dengan kata-kata manusiawi, Kitab Suci memakai
banyak sekali metafora atau perumpamaan, perbandingan. Walaupun demikian semua itu tidak
mampu mengungkapkan seluruh realitas misteri ini. Dalam Kitab Suci sering kita jumpai
gambaran pertunangan atau perkawinan untuk menggambarkan hubungan manusia dengan
Allah – hubungan yang sangat mendalam antara Allah dan manusia. Kitab para nabi, Mazmur-
mazmur dan khususnya Kidung Agung seringkali memakai gambaran ini. Banyak mistisi (=para
mistikus) besar di dalam Gereja memakai gambaran ini, misalnya: Santo Paulus yang
menggambarkan hubungan Kristus dengan Gereja sebagai hubungan suami istri, dan secara
istimewa Yohanes Salib dalam Madah Rohani yang menggambarkan hubungan manusia dengan
Allah sebagai hubungan antara mempelai laki-laki dengan mempelai wanita.

Santa Theresia yang biasanya sangat berani menggunakan kata-kata tertentu, praktis tidak
dipengaruhi oleh gambaran ini. Sikapnya yang paling utama, yang merupakan sikap
kesayangannya dalam melakukan cinta kasih ataupun dalam hal lain ialah tetap bersikap seperti
seorang anak kecil. Sikap ini merupakan sikap Theresia yang paling mendalam dan paling
otentik. Sikap ini menunjukkan transendensi Allah, maksudnya ialah Allah berada di atas
segalanya. Selain itu sikap ini juga menunjukkan rahmat-rahmat istimewa yang kita miliki
sebagai anak Allah. Theresia mempersatukan sikap keadilan dengan cinta kasih, seperti yang
dikatakannya, bahwa dia tidak menyangkal keadilan tetapi dia merasa banyak orang kurang
mengenal cinta Allah yag Maharahim.

102
Sikap Theresia dan gambarannya mengenai cinta kasih, merupakan ajarannya yang sentral
mengenai sikap kanak-kanak rohani. Theresiapun mengungkapkan bahwa di hadapan Allah,
kita harus menjadi seperti seorang kanak-kanak. Oleh karena itu ajaran Theresia disebut Jalan
Kanak-kanak Rohani. Di sinilah letak kekhasan Theresia yang begitu bertolak belakang
dibandingkan dengan spiritualitas-spiritualitas lain yang mengungkapkan kebesaran dan
kemegahan. Akan tetapi Theresia sesuai dengan rahmat khusus yang diterimanya, memberikan
sumbangan yang sangat besar pada Gereja, yaitu mengingatkan dunia bahwa seluruh hidup
rohani, sesunguhnya terdapat dalam hal mengasihi Allah dengan jiwa seorang anak kecil.
Inilah inti seluruh hidup rohani.

IV. FAAL-FAAL YANG HAKIKI


Untuk mengerti dorongan utama yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu, kita harus
membedakan antara faal utama dan faal sampingan yang mengatur urut-urutan kebajikan secara
tepat. Setiap kebajikan mencapai idealnya melalui faal yang paling luhur. Dalam hal kebajikan
iman, faal yang paling luhur ialah dengan sukacita berpaut kepada misteri Allah Tritunggal
Yang Mahakudus, dalam suatu kontemplasi yang diterangi oleh karunia-karunia Roh Kudus,
khususnya karunia kebijaksanaan. Bila bersandar pada cahaya terang ini.segala sesuatu menjadi
terang dalam mata seorang yang beriman. Kebajikan kekuatan mengungkapkan faalnya yang
paling tinggi dalam situasi bahaya maut. Hukum psikologi ini bisa diterapkan pada semua
kebajikan, tetapi secara istimewa perbedaan ini menjadi lebih terang di dalam kebajikan ilahi
yang paling utama yaitu cinta kasih. Cinta kasih yang disebut ‘Ratu dari segala kebajikan –
pengikat segala kesempurnaan’, menguasai suatu rentetan sikap jiwa terhadap Allah dan
sesama, di bawah pengaruh faal cinta kasih yang paling sempurna, yaitu mengasihi Allah demi
Allah sendiri, demi kemuliaanNya yang lebih besar. Memang mengasihi Allah demi diri kita
sendiri mengungkapkan juga suatu faal cinta kasih yang walaupun indah, namun masih bersifat
sekunder. Tetapi mengasihi Allah demi Allah sendiri dan bahkan menundukkan
keselamatannya sendiri di bawah kemuliaan Allah, itulah kesempurnaan yang paling tinggi.

“Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan
Allah, supaya dapat menceritakan segala perbuatanNya”, kata Pemazmur (Mzm 73:28).
Kerinduan untuk dapat menikmati Allah Tritunggal Mahakudus, untuk merindukan
kehadiranNya dan dengan senang tinggal di dalam hadirat Allah sambil memandang
keindahanNya, sungguh merupakan cinta kasih ilahi. Kesukaan rohani dan kedamaian jiwa
yang kedua-duanya merpakan prarasa dari kehidupan surgawi, merupakan jenis-jenis faal cinta
kasih ilahi yang sekunder, seperti halnya kedukaan para orang kudus yang melihat dosa-dosa,
dapat dikelompokkan dalam faal-faal cinta kepada Allah yang sekunder.

Akan tetapi masih ada suatu faal yang lebih luhur dan lebih sempurna lagi, yaitu suatu faal,
yang tanpa mengecualikan kerinduan untuk keselamatan, semata-mata hanya berpaut kepada
Allah, untuk melihat Dia saja, untuk bekerja melulu bagi kepentingan dan kemuliaan Allah saja.
Itulah yang disebut dengan istilah ‘cinta kasih yang murni’. Inilah cinta kasih yang paling
tinggi, paling luhur, paling bebas, paling berjasa dan paling ilahi dari semua faal-faal hidup
rohani kita, bila seseorang semakin berkembang dalam persatuan dengan Allah, semakin dia
tinggal tetap dalam cinta yang murni. Sebab sesungguhnya kesucian itu terletak pada

103
‘melupakan diri sendiri’. Semakin seseorang melupakan dirinya sendiri dan hanya memberi
tempat kepada Allah, maka semakin sucilah orang itu.

Faal utama dan faal sekunder biasanya berada secara berdampingan dalam suatu jiwa dan saling
membantu di dalam perkembangannya. Yesus sendiri dalam hatiNya sebagai manusia tidak
pernah memisahkan antara kasihNya kepada Bapa dan kasihNya kepada manusia, yang nampak
pada kerinduanNya untuk menyelamatkan mereka. Kecuali itu ungkapan utama dari suatu
kebajikan dapat beraneka ragam, sesuai dengan temperamen seseorang, latar belakang
pendidikan, hidup keluarga, dan rahmat pribadi yang diterima oleh setiap orang kudus. Ketika
Yesus mengatakan “MakananKu adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh
4:34), maka kita mengerti bahwa Dia bekerja untuk kemuliaan bapaNya serta melakukan faal
cinta kasih yang paling luhur terhadap Allah. Demikian pula Yesus telah melakukan faal yang
sangat luhur ketika Dia dengan tekad bulat memberi tanda kepada para murid untuk pergi,
untuk memulai karya-karya penyelamatanNya, di saat Dia berkata: “Tetapi supaya dunia tahu,
bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang
diperintahkan Bapa kepadaKu, bangunlah, marilah kita pergi.” (Yoh. 14:31)

IV.1. Menyenangkan Hati Yesus


Faal-faal utama cinta kasih dari Theresia Lisieux akan mewarnai dan mempengaruhi seluruh
spiritualitasnya. Bentuk yang paling disenangi dari cintanya sebagai kanak-kanak ialah
menyenangkan hati Yesus. Theresia juga mengenal semboyan orang-orang kudus besar seperti
Santo Ignatius – Ad Mayorem de Gloriam (=Semua untuk kemuliaan Allah), semboyan Teresa
Avila dan para kudus lainnya yang terarah kepada kara-karya besar. Tetapi sebaliknya, Theresia
justru tidak mengarahkan pandangannya untuk melakukan karya-karya yang besar, melainkan
berusaha dengan suatu kepekaan yang besar untuk menyenangkan hati Yesus, dia sangat peka
dalam melihat kesempatan-kesempatan yang terjadi di sekelilingnya untuk menyenangkan hati
Yesus. Theresia berkata: ‘Orang-orang kudus yang besar telah bekerja demi kemuliaan Allah,
tetapi saya jiwa yang kecil ini, hanya bekerja semata-mata untuk menyenangkan Dia dan saya
rela dengan sungguh-sungguh menanggung, bahkan kedukaan yang paling besar sekalipun,
supaya Dia bisa tersenyum satu kali saja.’ Dalam gambaran ini Yesus tampak sedih dan
menderita sekali karena dosa-dosa umat manusia dan Theresia mau menghibur dan
menyenangkan hatiNya dengan menanggung segala penderitaan dengan sukacita, hanya untuk
melihat Yesus tersenyum, walaupun hanya satu kali saja. Hendaknya kita jangan salah persepsi,
seolah-olah di bawah kata-kata ‘Yesus tersenyum’ terdapat sesuatu yang sentimental.
Sesungguhnya melalui ungkapan ini Theresia telah mempersatukan keluhuran yang paling
tinggi dari spiritualitas Kristiani dengan semboyan Kristus sendiri: “Aku senantiasa berbuat
apa yang berkenan kepada bapaKu.” (Yoh 8:29).

IV.2. Cinta Kasih yang Murni


Suatu saat Theresia bertanya pada dirinya sendiri, ‘Apakah cinta yang murni itu ada dalam
hatiku?’ Pertanyaan ini diungkapkan dengan perasaan sedikit takut dan kuatir, pertanyan yang
diungkapkan sesuai debar hatinya yang terdalam. Jiwanya yang murah hati itu tidak senang
dengan cinta kasih yang penuh pamrih. Diungkapkan beberapa kesaksian mengenai hal ini dan
ungkapan yang paling kuat dijumpai pada komentar Theresia menceritakan demikian :

104
Di dalam ibadat tengah hari ada satu ayat yang selalu kudoakan dengan segan, yaitu: “Aku
mencondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapanMu, demi upah.” (bdk Mzm
119:112). Dan dengan segera saya menambahkan dalam hati: O, Yesus, Engkau tahu, bahwa
saya tidak melayani Engkau demi upah, tetapi semata-mata karena saya mengasihi Engkau
dan saya ingin menyelamatkan jiwa-jiwa.

Sungguh jauh sekali dari pikiran Theresia untuk melayani Tuhan demi upah. Ketika retret
persiapan profesi, Theresia mengalami suatu kekeringan yang besar. Dia tidak mengeluhkan apa
yang dialaminya itu, sebaliknya dia mengatakan, bahwa dia bergembira karena bisa
memberikan kepada Allah suatu bukti dari cintanya yang murni, sebab sesungguhnya ia
merindukan Allah sendiri. Dia hanya meghendaki Allah saja. Theresia berharap akan surga dan
merindukan surga. Oleh karena itu pada diri Theresia kita menjumpai ungkapan-ungkapan yang
menyatakan cinta murninya kepada Allah. Tetapi di pihak lain Theresia tidak dapat mengerti
theolog-theolog tertentu yang sibuk dengan membeda-bedakan, berspekulasi secara teoritis
mengenai cinta yang murni. Theresia berbicara dari hati dan dibimbing oleh pengenalan
adikodrati yang diberikan kepadanya secara langsung oleh Roh Kudus. Theresia mengingatkan
kita dengan kata-kata yang sederhana dan dorongan yang paling aman untuk mengenal hukum
cinta kasih, yaitu mengasihi berarti melupakan diri sendiri. Bila kita mengasihi, kita tidak
pernah memperhitungkan untung ruginya. Kita mengasihi karena terdorong oleh cinta yang
murni. Maka terlebih lagi bila sahabat besar itu ialah Allah sendiri. Bagi Theresia segala-
galanya memang sederhana sekali. Dia ingin mencintai Allah demi Allah sendiri.

Gambaran yang paling murni dari cintanya kepada Allah yang tanpa pamrih nampak ketika
Theresia menggambarkan dirinya sebagai sebuah bola kecil untuk mainan kanak-kanak Yesus.
Dia ditendang, dilempar, digenggam dan kalau kanak-kanak Yesus sudah lelah, bola itu
diletakkan begitu saja, disimpan di sudut, bahkan dilupakan. Walaupun dilupakan, dia tidak
keberatan. Inilah bukti cintanya yang paling murni. Dia akan melakukan segalanya, bahkan
kalau seandainya Yesus tidak mengetahui, hal mana pasti mustahil, bahwa dia melakukan itu
semua. Dia akan tetap melakukannya bagi Allah, walaupun Yesus tidak mengetahuinya. Jadi
yang dirindukan Theresia bukan lain daripada mengasihi Allah demi Allah sendiri, tanpa
memikirkan diri sendiri. Orang akan sulit menemukan cinta kasih yang begitu murni, tanpa
pamrih, bahkan tidak pada orang-orang kudus sendiri. Seperti dikatakannya :
Seandainya hal itu mungkin, bahwa Allah tidak melihat perbuatan-pebuatan baik saya, saya
tidak akan berduka karenanya. Saya begitu mengasihi Dia, sehingga melalui cinta kasihku
dan kurban-kurbanku, saya mau menyenangkan hatiNya. Bahkan kalau mungkin, tanpa
diketahui olehNya, bahwa itu berasal dari saya.

Theresia mau menyenangkan Yesus dengan persembahan-persembahan yang indah, melalui


perbuatan-perbuatan cinta dan kurban-kurban, kemudian meletakannya di hadapan Yesus,
sehingga Dia bisa menikmatinya. Tetapi seandainyapun Dia tidak tahu bahwa itu dari dia, dia
tidak kecewa. Sikap seperti ini jarang sekali kita jumpai, bahkan tidak pada orang-orang kudus
sendiri. Salah seorang susternya menceritakan :
Suatu saat ketika saya melihat dia di gunung Kalvari sedang menaburkan bunga, saya
bertanya kepadanya: Apakah engkau melakukan ini untuk memperoleh salah satu rahmat?
Maka Theresia menjawab: Tidak, saya melakukan semata-mata untuk menyenangkan Dia.

105
Saya tidak mau memberi untuk menerima. Saya tidak memikirkan diri sendiri. Saya mencintai
Allah bukan demi diriku sendiri.

Kesaksian lain, yaitu pada saat mengalami penderitaan yang besar sekali, ada suster yang
berkomentar: ‘Bila engkau banyak menderita, Allah akan memberi upah yang berlimpah-
limpah kepadamu.’ Maka Theresia menjawab: ‘Tidak! Saya mau menderita semuanya ini tidak
demi upah, tetapi semata-mata untuk menyenangkan Allah.’ Ini merupakan ungkapan cinta
yang begitu murni dan luhur. Santo Yohanes Salib mengatakan : ‘Faal-faal cinta seperti itu
jauh lebih berharga di hadapan Allah dan berguna bagi keselamatan manusia, daripada
banyak faal yang dilakukan oleh orang lain seumur hidupnya, sebelum mencapai tingkat seperti
itu.’ Dari situ dapat kita mengerti, mengapa Yesus yang hanya satu kali wafat, semata-mata
untuk melaksanakan kehendak Allah, dapat membawa keselamatan yang begitu besar kepada
setiap manusia yang ada di dunia ini.

Bila cinta kasih merupakan tolok ukur dari jasa-jasa, maka kita dapat mengerti bahwa
disebabkan oleh faal cinta kasih yang demikian besarnya itu. Theresia mempunyai pengaruh
begitu besar terhadap Allah yang menjadikan dunia terkagum-kagum terhadapnya. Allah
melimpahkan karunia yang begitu besarnya, sehingga Ia menurunkan hujan mawar ke atas bumi
demi Santa Theresia.

IV.3. Melakukan Segala-galanya karena Cinta


Pada hidup Santa Theresia, seluruh dorongan untuk menjadi suci terdapat dalam cinta kasih.
Dalam semua perbuatan, bahkan yang paling heroik sekalipun, apa yang bernilai di hadapan
Allah ialah cinta yang mendorong perbuatan itu. Maka dengan spiritualitas Theresia kita
menjadi jauh dari segala kesibukan yang seringkali banyak menyita waktu, namun sebenarnya
kita tidak melakukan apa-apa. Santo Paulus mengingatkan kita: ‘Kalaupun aku memberikan
diriku untuk dibakar, tetapi jikalau tidak ada cinta kasih, semua tidak ada artinya.’Theresia
mengatakan: ‘Tuhan tidak memperhatikan kebesaran pekerjaan kita, tidak pula melihat
kesukarannya, melainkan hanya melihat cinta kasih yang mendorong kita untuk melakukannya.’

Di dunia ini kita menjumpai banyak jiwa kecil yang kehidupannya, mau tidak mau, terpaksa
tidak dikenal, atau memang tidak mau dikenal, tidak memiliki pekerjaan-pekerjaan menyolok,
tetapi sesungguhnya mau menjadi suci. Bagi mereka yang berjiwa ini, satu-satunya jalan untuk
menjadi suci ialah melalui jalan cinta kasih. Cinta kasih memberi arti dan nilai kepada
pekerjaan-pekerjaan sederhana. Santa Theresia Lisieux sesungguhnya diresapi oleh karya
Yohanes Salib dan ajaran mistik Karmel, sehingga di tengah-tengah segala kesibukannya, dia
tetap memberi tempat yang utama kepada cinta kasih. Theresia sadar bahwa cinta kasihlah
sumber satu-satunya kesuburan rohani dan apostoliknya. Semua pekerjaan yang dilakukan tanpa
cinta kasih, atau dengan cinta yang sedikit, yang penuh pamrih, walaupun besar dalam
pandangan manusia, nilainya sedikit saja di hadapan Allah. Karena inspirasi cinta kasih,
cakrawala Theresia tiba-tiba terbuka lebar dan meluas sampai kepada dimensi karya
Penyelamatan itu sendiri.

Dengan suatu kepiawaian yang besar seperti yang dilakukan oleh orang-orang kudus besar
lainnya, suster muda ini mengajarkan kepada novis-novisnya melalui nasehat-nasehat dan

106
contoh-contoh hdupnya suatu jalan kecil, jalan cinta kasih dengan kepercayaan kepada Allah.
Suster Theresia mengubah semua perbuatannya, bahkan yang paling sederhana sekalipun,
menjadi faal-faal cinta kasih. Dan dia mendorong para novisnya untuk melakukan hal yang
sama. Pada tanggal 29 Juli 1894, di dalam komunitasnya ada suatu lotre berisi Sabda Sabda
Kebijaksanaan. Setiap suster mengambil satu dan Theresia mendapatkan tulisan yang berisi
suatu pertanyaan sebagai berikut: ‘Kalau setiap saat orang bertanya kepadamu: “Apa yang
sedang kau lakukan?”, maka jawabmu hendaklah: “Aku sedang mencintai”. Di refter: “Aku
mencintai”. Di pekerjaan “Aku mencintai”, dstnya.’ Tulisan kecil itu terus disimpan oleh
Theresia sampai kepada wafatnya. Theresia sangat menyenangi kata-kata ini. Dan dia
mengatakan: ‘Sebenarnya ini adalah gema dari jiwaku sendiri. Sejak lama saya mengerti cinta
itu dan saya melatih diri untuk melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.’

Mengenai hal ini, ada seorang suster memberi kesaksian :


Suatu saat ketika saya melihat Theresia begitu sempurna dan setia dalam tugasnya, sehingga
melalui segala sesuatu dia memuliakan Allah, saya berkata kepadanya: ‘Saya iri terhadap
pekerjaan-pekerjaanmu, saya juga ingin bisa berbuat seperti Anda, bisa melakukan banyak
hal yang indah: menulis, melukis, dan main drama dan sebagainya yang menyebabkan Allah
dicintai melalui diri Anda.’ Tetapi Theresia menjawab: ‘Oh, janganlah melekatkan hati pada
perkara-perkara itu. Tidak! Janganlah kita menyebabkan diri kita tersiksa karena
ketidakmampuan kita, tetapi hendaklah kita hanya berusaha untuk mencintai.’

Ini merupakan suatu ajaran yang membebaskan, yang membawa kesucian pada intinya, yang
menyebabkan kesucian ini terbuka bagi semua orang. Kesucian tidak terdapat dalam mati raga
yang luar biasa, dalam penyiksaan diri yang besar, juga tidak terdapat dalam ekstase, dalam
penerangan yang besar atau dalam mujizat-mujizat, tetapi semata-mata dalam kesetiaan yang
terus-menerus terhadap tugas harian yang dilakuan ‘hanya untuk menyenangkan hati Allah dan
untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Dia.’ Maka kesucian adalah cinta kasih.

V. MENJADIKAN ‘CINTA’ DICINTAI


Mencintai berarti hidup melulu bagi dia yang dicintai dan hanya memikirkan kebaikannya.
Cinta kasih telah mndorong para kudus untuk menggunakan seluruh kekuatannya bagi
perkembangan Kerajaan Allah. Nabi Elia mengatakan: ‘Saya bekerja segiat-giatnya untuk Allah
Bala Tentara.’ Jiwa Santa Theresia juga dipenuhi dengan kerinduan yang menyala-nyala untuk
memuliakan Allah dengan melupakan diri sendiri secara total, seperti dikatakannya: ‘Saya tidak
mau mengumpulkan jasa-jasa bagi surga. Saya hanya bekerja demi cinta kepadaMu dengan
tujuan satu-satunya untuk menyenangkan Engkau dan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa, supaya
mereka kemudian dapat mencintaiMu untuk selama-lamanya.‘ Spiritualitas Santa Theresia
sungguh-sungguh dijiwai oleh semangat misioner yang besar sekali, namun melalui jiwa-jiwa
ini, pandangan Theresia selalu terarah kepada Allah.

Bagi Theresia dorongan untuk menjadi suci terdapat dalam mengasihi. Semangat kerasulannya
yang mau memberikan diri sebaik-baiknya untuk melayani Allah dan saudara-saudaranya, sejak
dari awal dunia sampai akhir dunia dan di semua bagian dunia, hanya menemukan istirahatnya
dalam kasih. Dengan demikian semua panggilan dalam Gereja dapat direalisir, yaitu melalui
cinta kasih. Nampaknya Theresia pernah tertarik sejenak kepada kahidupan membiara yang

107
aktif karena kerinduannya yang berapi-api untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Tetapi dengan
segera ia melihat, bahwa cita-citanya sebagai seorang Karmelites memiliki cita-cita kerasulan
yang lebih tinggi. Di dalam iman Theresia telah mengerti misteri persekutuan para kudus,
bahwa cinta kasih kontemplatif, yang secara diam-diam mempersembahkan dirinya sebagai
korban, merupakan suatu sarana yang paling kuat untuk menjadikan Sang Cinta Kasih dicintai
dan mencurahkan hidup ilahi di dalam seluruh Tubuh Mistik Kritus.

VI. PANGGILANKU IALAH CINTA KASIH


Dalam hidup para kudus sering kita jumpai adanya satu kata, satu kalimat yang
mengungkapkan kedalaman hidup mereka. Santo Paulus mengungkapkan seluruh hidupnya
dengan rumusan: ‘Bagiku hidup ialah Kristus.’ Kegeniusan Santo Agustinus dari Anthiokia
terpancar dari kata-kata terakhirnya ketika menghadapi kemartirannya: ‘Satu hal saja yang
menarik bagiku, yaitu menikmati Kristus. Apa artinya kerajaan-kerajaan dan batas-batas
dunia ini? Saya lebih suka mati bagi Kristus daripada memerintah seluruh dunia. Dia saja
yang kucari, Dia yang telah wafat untukku.’

Demikian pula dalam Riwayat Suatu Jiwa, otobiografi Santa Theresia, kita menemukan
halaman-halaman yang sangat indah, sama indahnya seperti tulisan Santo Paulus, yang bisa
digolongkan dalam lembaran-lembaran terindah agama Kristen. Santa Theresia Lisieux yang
didorong dan diilhami menyerahkan seluruh hidupnya kepada Sang Cinta Kasih dan setelah
disempurnakan dalam kesucian, serta telah merealisir suatu kesuburan rohani yang sangat
besar bagi seluruh Gereja. Theresia meninggalkannya sebagai suatu testamen atau warisan
terakhir. Di dalamnya kita menjumpai ungkapan tertinggi dalam ajarannya tentang cinta
kasih, yaitu bahwa cinta kasihlah satu-satunya jalan yang paling luhur dan aman untuk sampai
pada Allah. Pada akhirnya ia menemukan paggilannya : ‘Panggilanku ialah cinta kasih’. Ia
akan menjadi cinta kasih dan ia menjadi segalanya.

108
11. KEPERCAYAAN DAN PASRAH

I. PASRAH PADA SANTA THERESIA


Menurut para ahli hidup rohani, sikap pasrah bukan merupakan suatu kebajikan tersendiri, tetapi
suatu gabungan dari kebajikan-kebajikan. Bossuet, seorang ahli hidup rohani Perancis,
mengatakan bahwa pasrah ini merupakan suatu gabungan, satu sintese dari faal-faal iman dan
pengharapan yang paling sempurna, dan cinta kasih yang paling murni serta kesetiaan. De
Cussade, dalam bukunya ‘Penyerahan Diri pada Penyelenggaraan Ilahi’ mengatakan, bahwa
penyerahan diri merupakan campuran dari iman, harapan dan cinta kasih, dalam satu faal yang
mempersatukan hati manusia dengan Allh dan karyaNya. Santo Fransiskus dari Sales melihat
pasrah sebagai suatu kebajikan dari segala kebajikan. Pasrah merupakan pucuk dari cinta kasih,
bau harum dari kerendahan hati, jasa-jasa dari kesabaran dan kesetiaan dari ketekunan. Bila
mereka diminta untuk menunjukkan unsur yang paling dominan dari sikap kepasrahan ini, maka
para pengarang rohani menjadi ragu-ragu. Kadang-kadang orang melihat yang paling menonjol
adalah pengharapan, sedang yang lain melihat unsur cinta kasih yang dominan. Mereka
berbicara tentang penyerahan atau pasrah kepada kehendak Allah.

Nampaknya dalam ajaran Santa Theresia, pasrah ini lebih terdapat pada garis pengharapan,
namun di bawah dorongan cinta kasih, sehingga pasrah pada Theresia berakar pada iman akan
Allah sebagai Bapa, cinta kasihNya begitu maha rahim, yang memelihara dan mengatur segala
sesuatu demi kebaikan anak-anakNya. Tetapi secara formal, pasrah merupakan faal tertinggi
dari kebajikan pengharapan, yang menemukan mahkotanya dalam cinta kasih. Pada Santa
Theresia, hidup kepasrahan ini merupakan sintesis dari hidup teologalnya dan merupakan poros
dari spiritualitasnya.

II. SANTA THERESIA, ORANG KUDUS DARI KEPASRAHAN


Kepasrahan adalah suatu sikap hidup yang sangat penting di jaman modern sekarang ini, karena
begitu banyak orang mengalami keputusasaan. Dengan caranya sendiri, yaitu memberikan
senyuman, Theresia menunjukkan kepada kita arti pengharapan Kristiani, mewartakan secara
baru tentang hidup kita sebagai manusia dalam rencana Allah. Manusia modern yang terikat dan
terpancang oleh mesin-mesinnya, yang begitu terikat oleh bumi ini tidak bisa lagi menengadah
ke atas, sehingga tidak bisa lagi merasakan perkara-perkara surgawi. Sejak semula Gereja tidak
henti-hentinya mewartakan pengharapan Kristiani – Aku menantikan kehidupan yang kekal –
dalam Credo Panjang. Di tengah-tengah perjuangannya sehari-hari Gereja merindukan perkara-
perkara pribadi, merindukan sukacita dan kebahagiaan abadi. Jasa Theresia yang paling besar
ialah menonjolkan suatu kebajikan yang paling dinamis, namun justru yang paling dilupakan
oleh para pengarang rohani kita, yaitu pengharapan dan pasrah.

Banyak pengarang rohani menekankan aspek kerendahan hati, mati raga, kebaktian pada Allah,
pemeriksaan batin, dsb, tetapi mereka melewatkan pengharapan begitu saja. Padahal
pengharapan adalah kebajikan tertinggi dari manusia yang sedang berziarah menuju tanah air
surgawinya. Seperti apa yang dikatakan oleh Santo Petrus: ‘Kita ini sedang dalam perjalanan
menuju tanah air surgawi.’ Pengharapan mendorong manusia untuk mencapai kesucian dengan
setiap saat memberikan kepastian akan bantuan ilahi yang tidak terbatas. Allah akan senantiasa
membantunya. Orang sering melupakan bahwa pengharapan tempatnya berada di atas iman dan

109
secara mendalam dipersatukan dalam cinta kasih. Kebajikan ini terdapat di dalam daya jiwa
yang paling dominan, di mana manusia didorong menuju kepada Allah, yaitu: kehendak.

Seperti Gereja, Santa Theresia juga hidup melulu bagi surga yang baginya bukan lain daripada
Allah sendiri. Pandangan dan kerinduannya selalu terarah pada surga, yang membuatnya selalu
rindu untuk menemukan kebaikan tertinggi. Seluruh hidupnya dikuasai oleh tujuan akhir yaitu
perkara-perkara abadi dan memperoleh kesucian, tanpa membiarkan diri dihalangi oleh
rintangan apapun juga. Dengan bersandar kepada Allah, dia tidak pernah mundur, tetapi sambil
tersenyum dia menerima segala pencobaan yang bertubi-tubi, hambatan dalam panggilan dan
hidup religiusnya, khususnya pencobaan batin terbesar yang dialami pada akhir hidupnya untuk
memurnikan iman dan harapannya. Para saksi dalam proses kanonisasinya terus menerus
mengungkapkan hal yang sama, bahwa dalam kesukaran-kesukaran hidup nampaklah
pengharapan Theresia yang tidak terkalahkan. ‘Kepercayaan kepada Allah merupakan meterai
jiwanya.’ Dia tidak pernah putus asa. Dalam tiap keadaan, Theresia menunjukkan suatu
kepercayaan yang tidak tergoyahkan, suatu kepercayaan kanak-kanak yang tidak pernah ragu-
ragu akan kuasa doa. Dalam hal biasa pun ia selalu meminta suatu rahmat dari Allah dan
dengan kepercayaan teguh mengharapkannya sebab dia yakin bahwa ia berpaling kepada
seorang Bapa yang maha baik dan maha kuasa.

Cita-cita Theresia ialah kerinduan menjadi suci dan untuk mencapai tujuan ini dia berharap
pada Kristus. Dia tidak pernah ragu-ragu sediktpun bahwa dia akan sampai pada kesucian.
Memang Santa Theresia merindukan kesucian yang tinggi dan dalam hal ini dia tidak selalu
dapat dimengerti. Beberapa bapa pengakuan dan pemberi retret justru melumpuhkan
dorongannya untuk maju. Suatu hari Theresia mengatakan kepada seorang pembimbing retret:
‘Romo, saya ingin menjadi seorang kudus, ingin mencintai Allah sama seperti Santa Teresia.’
Namun pemimpin retret itu mengomentari bahwa dia itu amat sombong dan tidak usah
berkhayal.

Suster Thersia harus menunggu, sampai pada suatu saat dia bertemu dengan Romo Alexis dari
Cannes, seorang Romo Fransiskan. Theresia merasa dirinya dimengerti ketika dia berbicara
dengan imam itu. Dan Romo itu seolah-olah mengatakan pada Theresia: ‘Kembangkanlah
layarmu dan berlayarlah ke lautan bebas.’ Theresia mengatakan, bahwa sejak saat itu, romo
Alexis mengembalikan damai dalam hatinya. Dalam Riwayat Suatu Jiwa dikatakan bahwa
perjumpaan dengan romo Fransiskan ini merupakan suatu saat yang menentukan dalam hidup
Theresia, dimana ia akhirnya menemukan kebebasan dan keberanian untuk berjalan terus.

Sejak saat itu Theresia bisa dengan aman dan penuh kepercayaan menyerahkan diri pada rahmat
Allah, menghayati hak-haknya yang istimewa sebagai anak Allah dan mengembangkan
kepercayaannya kepada kebaikan Allah sebagai Bapa, bahkan sampai pada tingkat yang sangat
tinggi, yaitu sampai pada suatu kepercayaan yang tak tergoyahkan, yang bagi orang lain yang
tidak menyelami jiwanya dapat tampak sebagai suatu kecandangan. Setelah Theresia
diteguhkan mengenai jalan rohaninya, ia menyerahkan diri tanpa hambatan pada dorongan
batinnya sendiri dan mulai saat itu kepercayaannya pada Tuhan terus berkembang dan mencapai
perkembangan yang tinggi sampai kepada pasrah yang sempurna.

110
Suster Theresia kemudian diserahi tugas membimbing para novis. Pada saat itu dia mempunyai
suatu kepercayaan yang tak terbatas kepada kerahiman Allah dan mau membawakan
kepercayaan ini kepada mereka yang dibimbingnya; dia mau memberi keyakinan ini ke dalam
diri para novisnya. Salah satu dari mereka memberi kesaksian, bahwa mustahil rasanya untuk
menemukan kepercayaan yang lebih tinggi kepada Allah. Dan menurut kesaksian ini pula Santa
Theresia sering menyatakan kepada mereka, apa yang dikatakan oleh Santo Yohanes dari Salib:
‘Setiap orang memperoleh dari Tuhan sebanyak yang diharapkannya dari Dia’, artinya
semakin orang mengharapkan banyak, semakin banyak ia akan menerima. Suster Theresia
berkata bahwa dia merasakan keinginan yang tidak terbatas dalam dirinya untuk mengasihi
Allah, untuk memuliakan Dia dan untuk menjadikan Dia dicintai. Dengan suatu kepercayaan
pasti, bahwa semuanya itu akan direalisir, kecuali bila kita menempatkan batas-batas kepada
kerinduan ini dan itu berarti meremehkan kebaikan Allah yang tidak terbatas. Karena Allah itu
tidak terbatas, maka keinginan-keinginan kitapun bisa tidak terbatas. Maka Theresia juga
mengatakan:
Keinginanku yang tidak terbatas itulah kekayaanku – keinginan untuk
menyelamatkan jiwa-jiwa. Maka bagi saya kata-kata Yesus merupakan suatu
realitas “Kepada mereka yang memiliki, akan diberi secara berlimpah-limpah.”

Dalam pelajaran-pelajarannya kepada para novis, ia secara khusus menekankan kepercayaan


kepada Allah. Semua nasehat dan teguran kepada para novisnya yang diberikan pada saat-saat
sulit, juga surat-surat yang ditulisnya kepada para misionaris, semuanya merupakan khotbah
dan pewartaan tentang kepercayaan kepada Allah.

Saat mengalami pencobaan yang besar, yaitu penyakit ayahnya yang mengakibatkan ia harus
masuk rumah sakit jiwa, secara manusiawi hal ini akan menghancurkan kepercayaan Theresia
kepada penyelenggaraan Allah. Tetapi sebaliknya hal itu merupakan suatu kesempatan bagi
Theresia untuk memelihara kepercayaannya dengan diam dalam keheningan dan dalam
heroisme yang besar. Selama masa pencoban ini, Theresialah yang selalu menjadi topangan
saudara-saudarinya melalui kepasrahan yang tidak terkalahkan. Teristimewa kepercayaannya
diuji pada akhir hidupnya, sehingga pencobaan-pencobaan ini merupakan pemurnian yang
dahsyat dalam pengharapan. Dan pencobaan itu membawa Theresia semakin serupa dengan
Kristus sendiri. Santa Theresia sendiri dalam riwayat hidupnya melukiskan secara sederhana,
sekaligus sangat dramatis, mengenai Malam Gelap yang harus dialaminya.

Pada akhir hidupnya, dia justru mengalami penderitaan seperti Tuhan Yesus sendiri. Theresia
menulis dalam otobiografinya: ‘Para martir pergi ke tempat hukuman dengan bernyanyi, tetapi
Raja para martir menjalani hukumanNya dalam ketakutan, mengalami ditinggalkan Allah.’ Di
sini kita melihat penderitaan Theresia yang sangat besar, namun kepercayaannya kepada Allah
tidak pernah goyah. Kita melihat bagaimana kepercayaan Theresia yang tidak terbatas pada
Allah, sehingga pada saat-saat yang paling mengerikan dia masih bisa berkata: ‘Kalau Engkau
menghendaki, saya masih siap untuk menanggungnya’. Dengan demikian dia menyempurnakan
kebajikan pengharapannya. Saat-saat terakhir hidupnya bukan hanya merupakan pemurnian
bagi diri sendiri, tetapi memiliki nilai redemtif, penderitaan yang membawa keselamatan bagi
orang lain. Santa Theresia sendiri mengakui bahwa selama bertahun-tahun dia harus berjuang
dalam batinnya untuk bisa sampai pada kepercayaan yang begitu tinggi.

111
Kepercayaan yang demikian itu jelas datangnya dari Allah. Segala usaha manusia itu tidak ada
artinya dalam hal ini. Bagaimana Theresia dapat melupakan hal ini? Dia memang tidak pernah
melupakannya, sebab Theresia menyadari kelemahannya sebagai seorang anak kecil untuk tidak
bersandar pada kekuatanya sendiri. Theresia semata-mata mengharapkan dan bersandar pada
rahmat dan bantuan Allah. Ini yang dikatakan olehnya :
Saya merasakan diri saya sangat lemah tetapi kepecayaan saya tidak berkurang
karenanya, sebaliknya kepercayaan itu semakin meningkat, dengan bertambah
kelemahanku.

Inilah ciri kerendahan hati yang sangat mendalam. Kerendahan hati yang dari satu pihak
menyadari ketidakberdayaannya yang mutlak, tetapi di pihak lain kepercayaan yang tidak
terbatas pada Allah. Theresia mengatakan: ‘Oleh karena rahmat-rahmat Allah, saya menjadi
kaya.’ Pengharapannya pada Allah tidak pernah berkurang, bahkan saat jiwanya tenggelam
dalam kegelapan yang paling pekat, yaitu bila doa-doanya seolah-olah tidak didengarkan, bila
segala sesuatu yang diinginkannya mendapat tantangan. Dia mengatakan:
Mungkin Allah akan menjadi cepat jemu dalam mencobai saya, daripada saya bisa
meragukan kebaikanNya. Bahkan seandainya, bila Dia membunuh saya, sayapun
masih akan tetap berharap kepadaNya.

Bila setelah Theresia berdoa dengan sungguh-sungguh pada Allah atau pada orang-orang kudus
dan merasa bahwa doa-doanya tidak didengarkan, dia masih bisa mengucap syukur dan berkata:
Mereka mau melihat sampai sejauh mana saya bisa berharap. Saya bisa merendam
diri dalam pengharapan akan Allah yang baik, yang menghendaki saya
menyerahkan diri sebagai seorang anak kecil yang tidak kuatir akan apapun,
tentang apa yang mau dilakukan terhadapnya.

Allah mengukur karunia-karunia yang diberikanNya sesuai dengan kepercayaan kita. Seperti
yang dikutip oleh Santo Yohanes Salib: ‘Kita memperoleh dari Allah sebanding dengan
kepercayaan dan pengharapan kita.’ Injil tentang perumpamaan para pekerja di kebun anggur
sangat mempesonakannya. Inilah komentar Theresia :
Lihatlah, bila kita sungguh-sungguh pasrah dan meletakan seluruh pengharapan
dan kepercayaan kita kepada Allah, sambil kita berusaha menjalankan tugas
dengan usaha-usaha kita yang lemah dan mengharapkan segala-galanya dari
kerahimanNya, maka kita akan diberi upah dan diperkaya sama seperti para kudus
yang paling besar.

Dalam diri Theresia akhirnya pengharapan dan kepercayaan yang tidak pernah goyah menjadi
nyata dan mencapai kepenuhannya yang besar, yang tidak bersandar pada jasa-jasanya sendiri,
tetapi bersandar semata-mata kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada penyelenggaraanNya
yang besar, seperti yang dikatakannya: ‘Saya tidak bersandar pada pikiran dan kekuatan saya,
tetapi semata-mata pada Allah. Saya sungguh sadar betapa lemahnya saya ini.’ Di sini kita
jumpai paradoks Santa Theresia. Di satu pihak dia sadar akan kelemahannya, tetapi di pihak lain
dia menganjurkan untuk tidak takut mengharapkan banyak dari Allah dan memohon banyak
dariNya. Dia mengajarkan supaya kita berdoa pada Allah secara demikian:

112
Saya tahu bahwa saya tidak akan pernah layak untuk menerima apa yang saya
harapkan, tetapi sebagai seorang pengemis yang kecil saya mengulurkan tangan
saya kepadaMu. Saya yakin Engkau akan mendengarkan saya sepenuhnya karena
Engkau maha baik.

Pada akhir hidupnya, pandangan Theresia sudah berubah mengenai akhir penderitaan. Ketika
masih kecil Theresia memiliki kerinduan besar untuk menderita, tetapi pada akhir hidupnya, dia
tidak minta penderitaan. Dia berkata :
Saya tidak lagi meminta penderitaan, karena saya tahu, bila saya minta
penderitaan, saya harus menanggungnya sendiri. Tetapi saya pasrah kepada Allah.
Kalau Tuhan memberikan penderitaan, saya terima dengan segenap hati dan saya
tidak takut menerimanya. Karena bila terdapat penderitaan, maka Tuhan akan
memberikan rahmat untuk menanggungnya.

III. KEPASRAHAN CINTA KASIH


Egois dan pasrah adalah dua sikap yang saling bertentangan. Santo Fransiskus dari Sales,
Uskup Geneva, yang disebut ‘guru dari pasrah’ berbicara mengenai penyangkalan diri satu jiwa
yang bersatu dengan Allah. Ini adalah inti pengajaran Santo Fransiskus yaitu pasrah dalam cinta
kasih dan persamaan atau keserasian kehendak dengan kehendak Allah, artinya kita hanya
menghendaki apa yang dikehendaki Allah dan menginginkan apa yang diinginkan oleh Allah,
mencintai apa yang dicintai Allah. Selanjutnya dikatakan, bahwa hidup kita harus ditandai oleh
kelepasan yang sempurna, yang disebutnya sebagai ketidakpedulian suci (holy indifference),
maksudnya dengan terbuka mau menerima segala sesuatu yang datang dari tangan Allah
sebagai kehendakNya. Jadi bila Allah menghendaki suatu penderitaan, maka terimalah salib itu
dengan sukacita; begitu pula bila Allah memberi hiburan, terimalah dengan hati terbuka. Santo
Fransiskus sungguh-sungguh sempurna di dalam kepasrahan pada Tuhan dengan sikap
ketidakpedulian suci ini dan keterbukaan pada kehendak Allah. Pasrah di sini tidak sama
dengan nasib, tapi keyakinan akan penyelenggaraan Allah, kebaikan Allah, bahwa Tuhanlah
yang secara aktif memelihara dan membimbing kita.

Santo Fransiskus mengajarkan suatu sikap pasrah pada Tuhan, supaya kita tidak meminta
sesuatupun, namun juga tidak menolak apa yang diberikan. Kita tidak mau meminta sesuatu
bukan karena sombong, tetapi percaya karena Tuhan maha baik. Ia memelihara hidup dan
memberikan yang terbaik bagi kita. Demikian juga sikap yang sama kita jumpai pada ajaran
Theresia dalam pasrah. Bukan berarti Santa Theresia tergantung sepenuhnya dari Santo
Fransiskus (meskipun semangat Fransiskus sangat menjiwai keluarganya), walaupun memang
ada pengaruh secara tidak langsung. Kedua-duanya dijiwai oleh kerinduan dan semangat cinta
kasih yang murni terhadap Allah. Cinta kasih membuat dua orang ini memiliki satu kehendak
saja, yaitu: ‘Bila saya mengasihi Allah, saya hanya menginginkan apa yang dikehendaki Allah.’
Sikap pasrah yang penuh kepercayaan akan dengan segera mempersatukan kehendak kita
dengan Allah.

Kita analisa sedikit bagaimana seseorang dapat belajar pasrah. Pertama, karena saa percaya
pada Allah. Dia mengasihi, mencintai, mengetahui segala sesuatu dan menghendaki yang
terbaik pada diri saya. Dari keyakinan ini timbul suatu kepasrahan, timbul suatu penyerahan

113
sampai akhirnya mengalir kepada keinginan akan apa yang dikehendaki Allah, yaitu persatuan
kehendak denganNya. Kita melihat hidup Yesus sendiri: “Aku datang ya Allah, untuk
melakukan kehendakMu. makananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.
Putera tidak melakukan sesuatupun kecuali yang dilihatNya pada Bapa” (Ibr 10:9; Yoh 4:34,
5:19). Yesus juga memberi kesaksian, bahwa Allah mengasihi Putera, karena Dia tidak mencari
lain kecuali kehendak Bapa. Sebenarnya inilah kebahagiaan yang tertinggi di surga kelak, yaitu
hanya ada satu kehendak, di mana kita akan mengamini kehendak Allah secara sempurna. Saya
akan melihat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, sehingga saya tidak akan mencari dan
menginginkan apapun kecuali kehendak Allah. Di dunia ini kehendak saya bertolak belakang
dengan kehendak Allah dan saya tidak dapat melihat kehendak Allah yang suci karena
seringkali saya dikuasai hawa nafsu.

Dalam diri Santa Theresia kita melihat sikap pasrah yang penuh kepercayaan bermuara dalam
kesatuan kehendak dengan Allah. Apa yang disebut jalan kecil ini tentang pasrah dan cinta
kasih, pada dasarnya sama dengan ajaran injil yang paling dalam, yaitu kehendak Allah sendiri.
Di atas salib Yesus mengungkapkan kepasrahanNya yang total pada Bapa: “Bapa ke dalam
tanganMu, Kuserahkan RohKu.” Selama hidupNya Yesus tidak mencari hal lain, kecuali
melakukan kehendak BapaNya. Oleh sebab itu jalan pasrah ini membawa kita kepada
penyerahan diri yang total kepada Allah. Masa lampau, masa sekarang, masa yang akan datang
kita serahkan kepada Allah.

Ada yang memberi kesaksian pada proses kanonisasi mengatakan, bahwa suster Theresia tidak
pernah meminta hiburan sedikitpun untuk dirinya sendiri. Segala sesuatu diterimanya dari
tangan Allah dengan penuh sukacita. Keserasian kehendak dengan kehendak Allah ini bahkan
dijumpai pada wajahnya. Di tengah-tengah segala kesukaran dan godaan-godaan yang dahsyat,
ia selalu menampakkan wajah ceria dan ramah. Bahkan pada puncak kesuciannya, Santa
Theresia tidak berani meminta penderitaan. Dia hanya mau menjalani jalan penyerahan dan
pasrah. Theresia yang sebelumnya rindu untuk mati sebagai martir, sekarang memilih kehendak
Allah di atas segala-galanya. Ia mengatakan :
Sekarang saya tidak memiliki keinginan apa-apa lagi, kecuali keinginan untuk
mencintai Yesus sampai sehabis-habisnya (to love Jesus unto folly). Ya, pasrah itu
saja yang menarik saya, saya tidak menginginkan baik penderitaan ataupun
kematian. Hanya pasrah saja yang menjadi pembimbingku, saya tidak mempunyai
kompas yang lain, kecuali kehendak Allah. Saya tidak bisa meminta sesuatu lagi
dengan penuh gairah; kecuali pelaksanaan yang sempurna dari kehendak Allah
terhadap jiwaku.

IV. HIDUP PADA SAAT INI


Salah satu buah terindah dari sikap pasrah adalah pengudusan saat ini atau hidup saat ini. Jiwa
yang telah memiliki kebebasan, hidup berdamai dengan Allah dalam suatu kepercayaan yang
total terhadap penyelenggaraaNnya, tanpa memikirkan diri sendiri dan tidak menguatirkan masa
mendatang. Betapa banyaknya manusia yang berada dalam perjalanan menuju Allah
dilumpuhkan oleh kenangan masa lampau ataupun kekuatiran masa depan. Banyak orang
diganggu oleh kenangan masa lampaunya dan kekuatiran akan masa depan. Masa lampau itu

114
sudah berlalu, sudah tidak ada lagi dan masa depan itu belum nyata. Begitu banyak kekuatiran
yang sia-sia.

Santa Theresia hidup semata-mata pada saat ini dan tidak mau menengok masa lampau atau
melihat masa depan. Tetapi dia mau hidup pada saat ini saja. Maka dalam hidupnya Theresia
sungguh-sungguh hidup pada saat ini. Dikatakannya :
Kita yang menempuh jalan cinta kasih, tidak boleh kuatir akan apapun juga. Seandainya saya
tidak menderita dari saat ke saat, maka saya tidak akan mampu tetap bersabar. Saya hanya
melihat masa sekarang ini. Saya melupakan masa lampau dan saya juga tidak mau melihat
masa depan dengan segala kekuatiran.

Oleh karena itu Santa Theresia juga hanya mau hidup sekarang ini dalam penderitaannya karena
ia yakin bahwa pada saat inilah Allah memenuhi kehendakNya. Dalam hal ini Theresia
berpegang pada sabda Yesus : “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari
besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat 6:34).
Theresia mengungkapkan pandangannya ini dalam suatu puisi yang indah :

Hanya untuk hari ini

Hidupku adalah satu saat, satu jam yang berlalu.


Hidupku adalah satu saat yang tak terpegang dan tak kukuasai.
Engkau tahu, ya Tuhan,
Untuk mencintaiMu di dunia ini,
Aku hanya punya hari ini.

Peduli amat Tuhan, bila masa depan tampak kelabu.


Berdoa untuk esok, tidak! Aku tak mampu….
Jagalah hatiku murni.
Tudungi aku dengan bayang-bayangMu,
Hanya untuk hari ini.

Jika aku berpikir tentang hari esok,


Aku takut goyah.
Dalam hati kurasakan munculnya kesedihan dan kebosanan,
Tapi saya rela menerimanya, Tuhan, penderitaan, pencobaan,
Hanya untuk hari ini.

Segera ku kan terbang untuk memujiNya,


Bila hari tanpa malam,
Akan bersinar atas jiwaku.
Maka kan kunyanyikan dengan kecapi para malaikat,
Hari ini yang abadi.

Puisi ini ditulis Theresia pada saat-saat terakhir hidupnya. Dia mengungkapkan kepercayannya
kepada Allah hanya untuk hidup hari ini saja.

115
V. JALANKU SEMATA-MATA KEPERCAYAAN DAN CINTA KASIH
Melalui pengajaran tentang pasrah, Santa Theresia Lisieux telah menyadarkan dan memulihkan
kembali tempat bagi suatu kebajikan Kristiani, yaitu pengharapan. Kebajikan ini merupakan
suatu dorongan yang sangat kuat untuk hidup rohani kita. Theresia mengatakan bahwa hanya
kepercayaan saja yang harus membimbing kita sampai pada cinta kasih.

Santa Theresia tanpa jemu-jemu mengajarkan injil tentang kerahiman dan pengampunan kepada
jiwa-jiwa yang dalam perjalanannya menuju kepada Allah dilumpuhkan oleh ingatan akan dosa-
dosanya. Tuhan tidak pernah memperhitungkan kelemahan-kelemahan kita; Dia mengerti
sedalam-dalamnya kerapuhan kodrati kita. Tuhan memberikan karunia khusus kepada Theresia
untuk mengungkapkan kepecayaan kepada cinta kasih Allah yang tiada batasnya itu dengan
kata-kata yang diilhami, yang dapat digolongkan pada bagian terindah literatur Kristen tentang
kebajikan, yaitu kebajikan pengharapan. Pada halaman-halaman yang ditulisnya terungkaplah
motivasi termurni dari kebajikan pengharapan. Dalam kehidupannya, Theresia tidak pernah
bersandar pada jasa-jasanya, tidak juga pada kesetiaannya, melainkan semata-mata hanya
kepada kemahakuasaan dan cinta kasih Allah yang Maharahim.

Kita melihat bagaimana Theresia telah mengembalikan suatu gagasan yang benar tenatang
kerahiman Allah. Santa Theresia sungguh seorang revolusioner dalam hal ini, karena dia
mengungkapkan suatu jalan yang sangat injili. Walaupun dia telah melakukan banyak hal,
motivasinya melulu untuk menyenangkan hati Allah, bukan untuk meminta balas jasaNya. Ia
merasa, bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar dibandingkan dengan perbuatan-perbuatan yang
dilakukannya. Maka Theresia tidak pernah mengingat-ingat jasa-jasanya, tetapi
mempersembahkan segalanya demi cinta kepada Allah. Salah satu ungkapan Theresia adalah :
Saya mau tetap jadi miskin. Apa yang saya kerjakan, saya persembahkan pada Tuhan demi
pertobatan orang-orang berdosa, sehingga tidak ada jasa apapun untuk diriku. Saya mau
tampil di hadapan Tuhan dengan tangan kosong sebagai seorang yang miskin, tetapi dengan
pengharapan yang tak terbatas akan kerahimanNya.

Bila kita mempunyai sikap seperti itu, maka banyak hal yang tampaknya mustahil, akan
menjadi mungkin. Kekuatan cinta kasih dan kepercayaan sesungguhnya lebih dahsyat bila
dibandingkan dengan segala kekuatan karena ketakutan atau ingin mendapat balas jasa.
Semakin murni hidup seseorang, serta semakin murni motivasinya untuk berkarya semata-mata
hanya untuk Tuhan, maka akan semakin besar pula keberaniannya dalam karya-karya untuk
Allah. Jika kita berkarya bukan untuk mencari jasa atau nama, maka tidak perlu takut
kehilangan apa-apa, karena menyadari bahwa kita tidak mempunyai apa-apa. Sebaliknya orang-
orang yang mencari nama, akan menjadi seperti Pilatus, artinya mengikuti apa yang lebih
menguntungkan; lebih mempertimbangkan apa kata orang daripada mengikuti kebenaran dan
kebenaran itu sendiri menjadi relatif. Sebaliknya seorang seperti Paulus, dapat mewartakan injil
dengan berani dan tidak takut kehilangan apa-apa, bahkan tidak takut mati, karena dia hanya
didorong oleh kasih Kristus, sehingga ia dapat melakukan perkara-pekara besar. Mengapa?
Karena motivasinya semata-mata ialah demi cinta kepada Kristus (bdk 2 Kor 5:14).

116
Ketika Theresia mengalami kegairahan yang menggebu-gebu, yaitu saat ia mulai tersentuh oleh
kasih Allah, dia merasa Tuhan telah memberikan banyak sekali, maka ia ingin membalasnya
dengan menderita bagi Allah. Tetapi setelah mencapai kesempurnaan dalam kasih, dia melihat
bahwa keinginan menderita masih memiliki ‘ego’. Akhirnya dia menyadari, bahwa Tuhan
mengetahui yang paling baik dan mengubah pandangannya ke dalam penyerahan diri pada
kehendak Allah. Meskipun dalam kenyataan menunjukkan bahwa di akhir hidupnya Theresia
menderita, tetapi dia tidak melekat pada penderitaan itu, apa yang dikehendaki Tuhan, itulah
yang diinginkan Theresia dan ini merupakan kebahagiaannya.

Dalam riwayat hidupnya Theresia mengatakan, bahwa para martir menuju tempat hukuman
dengan sukacita, tetapi Raja para martir menjalani hukumanNya dalam ketakutan. Theresia
merindukan untuk mati seperti Yesus. Pada saat terakhir hidupnya ia berada dalam ketakutan
yang luar biasa sampai kakaknya, muder Agnes, mengalami shock besar sekali. Di satu pihak
dia tahu, bahwa adiknya ini orang suci, tetapi di lain pihak dia melihatnya dalam sakrat maut
seperti seorang pendosa besar. Dengan hati yang amat sedih, muder Agnes berlari menuju
patung salib yang ada di kebun dan ia berdoa sungguh-sungguh untuk adiknya. Dan melalui
kata-kata terakhir yang diucapkan Theresia ‘Yesus, aku mencintaiMu’, mereka baru menyadari
persatuannya dengan Allah yang amat mendalam – tanda bahwa ia menyerahkan hidupnya pada
Allah. Bedanya dengan orang berdosa, ialah bahwa mereka itu mati dengan memaki dan
menghujat Allah. Theresia memang mengalami ketakutan yang besar, tetapi tidak pernah
terucapkan satu kata hujatanpun dari mulutnya, bahkan sebaliknya dia mengatakan ‘Yesus, aku
mencintaiMu’. Dalam situasi seperti yang dialami Theresia, perkataan semacam itu hanya
mungkin keluar dari hati yang sangat suci.

117
12. KESETIAAN DALAM PERKARA KECIL

I. PENDAHULUAN
Bila kita membaca kisah riwayat orang-orang kudus pada masa-masa yang lampau, kita melihat
bentuk penulisan yang begitu menekankan, bahkan melebih-lebihkan, perbuatan luar biasa yang
mereka lakukan seperti mujizat, mati raga, puasa, penyiksaan diri, dll. Pandangan Santa
Theresia mengenai kesucian memulihkan kembali kuasa pengudusan dari kewajiban status kita,
artinya bahwa penghayatan hidup sehari-hari mempunyai kuasa pengudusan. Tugas yang paling
kecil, hal yang paling biasa, dapat menjadi bahan kesempurnaan yang paling tinggi. Kesucian
terdapat dalam kemampuan untuk mengilahikan kehidupan sehari-hari. Kita dapat menjadi suci
melalui kehidupan sehari-hari, dan bukan dalam hal-hal yang luar biasa. Jalan yang ditempuh
Santa Theresia menunjukkan dan mewartakan bahwa kehidupan sehari-hari bisa menguduskan
seseorang. Ia tidak dipanggil untuk berkotbah tentang jalan dan ajarannya, tetapi justru
melewatkan hidupnya secara tersembunyi di dalam biara yang tidak dikenal, di suatu kota kecil,
Lisieux.

Selama hidupnya dalam biara, kedudukan dan perbuatannya biasa saja. Dia tidak melakukan
hal-hal yang luar biasa, bahkan hidupnya tersembunyi, sehingga orang-orang sebiaranya tidak
tahu rahasianya. Sesudah meninggalnya, beberapa suster yang tidak begitu mengenalnya
berbicara tentang Theresia demikian: ‘‘Yah, Theresia, dia memang suster yang baik, anak yang
manis, tapi tak ada yang istimewa.’ Kita melihat bahwa Theresia hidup tersembunyi sampai
akhir hidupnya. Dia begitu pandai menyembunyikan semuanya. Sebenarnya bukan dengan
sengaja dia menyembunyikan, tetapi memang hidupnya begitu sederhana. Ia merasa tidak perlu
untuk menonjolkan diri. Ia menjalankan tugas dengan baik dan hidup biasa saja. Ketika
Theresia meninggal dunia, dia dimakamkan di luar biara. Iring-iringan yang membawanya ke
kubur sedikit sekali: beberapa orang dari keluarganya dan mereka yang mengenal Karmel.
Namun sesudah penguburannya, perhatian orang banyak kepadanya sungguh luar biasa. Orang-
orang dan surat-menyurat mulai berdatangan ke biara Karmel.

Hidup Santa Theresia merupakan contoh konkrit suatu kehidupan biasa yang dihayati dengan
setia dan akhirnya membawa kepada kesucian yang sangat tinggi. Di dalam hidupnya tidak ada
hal-hal yang menyolok, semuanya biasa. Hidup yang nampaknya biasa-biasa saja bisa
membawa kesucian yang tinggi. Tidak ada stigmata, tidak ada gejala-gejala yang ajaib, tidak
pernah ekstase (=keluar dari diri sendiri dan terserap dalam Allah sehingga seringkali panca
indra tak berfungsi), tidak ada levitasi (=terangkat dari tanah), tidak mengalami visiun-visiun
(=penglihatan-penglihatan), tetapi dalam kesahajaan dan keseharian dia setia
mempersembahkan hidupnya, menyangkal dirinya tiap hari dan mempersembahkan hidupnya
sebagai kurban kepada Allah. Yang menguduskannya ialah kesetiaan kepada Allah dalam
kehidupan sehari-hari, tanpa semarak dan seringkali tanpa hiburan. Tetapi dalam hal-hal kecil
sungguh mewujudkan kebesaran hati dan kepahlawanan; dalam pandangan manusia nilainya
memang sangat kecil, namun dalam pandangan Allah sama besarnya dengan kehidupan para
kudus yang paling besar, bahkan mungkin lebih besar lagi.

118
Inti pewartaan Santa Theresia sangat besar, yaitu membuka dunia baru bagi semua orang
dengan menyucikan kehidupan yang biasa. Untuk lebih mengerti apa yang dikatakan oleh Santa
Theresia dan nilai kehidupan sehari-hari, kita akan mencoba mengikutinya dalam penghayatan
kebajikan-kebajikannya.

II. KEBAJIKAN-KEBAJIKAN RELIGIUS


Kasih persaudaraan adalah suatu hal yang paling penting dalam kehidupan berkomunitas.
Melalui sikap keteguhan hati yang besar dan kekuatan yang sungguh-sungguh heroik, Theresia
berusaha mengejar cita-cita hidupnya. Sebagai seorang gadis berumur 14 tahun ia sungguh-
sungguh berusaha supaya bisa diterima di biara Karmel. Bahkan dia pergi ke Roma memohon
kepada bapa suci untuk diijinkan masuk dalam biara. Theresia dengan mantap berusaha supaya
jalannya ke Karmel bisa terbuka dan terlaksana. Dia melihat panggilannya secara sadar dan
menyeluruh, tidak berkhayal tentang hidup dalam Karmel. Theresia sadar, bahwa panggilannya
ialah berkurban bagi Allah. Dia menyadari bahwa dalam hidup membiara merupakan sekolah
pengudusan pribadinya, memang demikianlah jiwa-jiwa yang setia dan direncanakan Allah
dalam rencana keselamatan.

Theresia begitu sadar akan panggilannya, rahmatnya yang khusus di dalam biara sebagai
seorang Karmelites. Dia sadar bahwa sebagai seorang kontemplatif harus menjadi pengungkit
dunia untuk sampai kepada Allah. Baginya hidup membiara selalu nampak sebagai suatu
sekolah kesempurnaan pribadi dan memang sebenarnya itulah realitas bagi jiwa-jiwa yang setia.
Seorang reigius berusaha mencapai kesempurnaan cinta kasih melalui kurban-kurban yang
disempurnakan. Theresia hanya ingin memberikan cinta kasihnya semata-mata kepada Allah.
Cinta yang tidak hanya diberikan melalui kata-kata, tetapi juga dihayati dalam perbuatan dan
tindakan sehari-hari, yaitu dengan melakukan tugas harian dan rutinitas yang biasa-biasa saja,
namun dilakukan dengan penuh kesadaran dan cinta kasih.

Kesetiaan terhadap perkara-perkara kecil dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk
mengerti kepribadian dan jiwa Theresia, untuk memahami jalan kecilnya. Bila kita
memperhatikan penghayatan, kita akan mengerti dan mengetahui heroisitas kehidupan sehari-
hari.

II.1. Kemiskinan
Penghayatan kemiskinan Santa Theresia tidak menyolok seperti dilakukan Santo Fransiskus
Asisi, yang dipanggil untuk menyadarkan Gereja yang waktu itu saling bersaing untuk mencari
kekayaan. Orang-orang Kristen bersaing mengejar kekayaan, sehingga lama kelamaan bisa
menggantikan Kerajaan Allah dan melupakan tuntutan-tuntutan Injil. Maka Fransiskus diberi
rahmat khusus untuk menghayati kemiskinan secara radikal dan menyolok. Theresia tidak
memiliki ciri-ciri ini, tapi di pihak lain, penghayatan kelepasan dan kemiskinannya tidak kalah
radikal daripada Santo Fransiskus. Ia sungguh mengikuti Yesus dalam jalan kelepasan dan
kekosongan. Beberapa orang saksi mengatakan, bahwa dia menghayati kemiskinan secara
mendalam, bahkan sangat radikal. Untuk keperluan pribadinya, dia memilih pakaian dan
barang-barang yang paling buruk. Semakin buruk barang itu, semakin puaslah dia.

119
Theresia mengatakan, bahwa setelah menerimaa pakaian biara, yaitu saat masuk novisiat, dia
menerima terang berlimpah-limpah sehubungan dengan kesempurnaan religius; khususnya
dalam hal penghayatan kaul kemiskinan. Dia mengatakan: ‘Saya benar-benar terdorong untuk
memilih hal-hal dan barang-barang yang paling jelek dan paling buruk.’ Kemudian Theresia
memberikan gagasannya tentang kemiskinan:
Kemiskinan adalah kerelaan untuk kehilangan bukan hanya barang-barang yang
menyenangkan, tetapi bahkan yang sangat diperlukan. Sungguh tidak ada damai
yang dapat dibandingkan dengan damai yang dimiliki oleh orang yang bersemangat
miskin. Bila seorang yang bersemangat miskin meminta sesuatu dan apa yang
dimintanya tidak hanya ditolak, bahkan orang berusaha merampas apa yang
dimilikinya, maka ia mengikuti nasihat Tuhan Yesus: “Berikanlah juga mantolmu,
kepada orang yang mengingini jubahmu” (Mat 5:40), artinya tidak hanya
memberikan apa yang diminta, tetapi memberikan apa yang sangat diperlukan.

Memberikan mantol berarti melepaskan hak yang terakhir dan menganggap diri sebagai budak
atau hamba dari orang lain. Theresia menambahkan :
Bila orang melepaskan mantolnya, maka bebannya menjadi lebih ringan dan ia bisa
berjalan lebih cepat. “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,
berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”, sabda Tuhan (Mat 5:41). Bagiku tidak
cukup hanya memberikan kepada mereka apa yang diminta, saya mencoba
mengenali keinginan-keinginannya; merasa diri berwajib dan mendapat
kehormatan untuk bisa melayaninya. Bila orang merampas apa yang saya pakai,
saya akan menunjukkan sikap sukacita karena dilepaskan dari barang itu.

Theresia mempunyai hobi melukis. Dia seringkali kehilangan kuas-kuas yang diperlukannya
untuk melukis, kadang yang tersisa hanya yang jelek. Saat mau melukis, dia menemukan tempat
yang berantakan. Dia menjadikan kesempatan ini sebagai penyangkalan diri.

Theresia membedakan antara kemiskinan, kerapihan dan kebersihan. Bagi Theresia kemiskinan
tidak sama dengan kecerobohan. Santa Teresia Avila berdoa: ‘Ya Tuhan, jauhkanlah kami dari
orang kudus yang kumuh.’ Kekumuhan bukan kebajikan tetapi cacat cela. Semangat Teresa
Avila dan Theresia Lisieux adalah menjaga kebersihan. Kebersihan adalah bagian dari
penghayatan kemiskinan. Dalam penghayatannya, Theresia mendalami kemiskinan dengan
menghemat barang-barang yang dipakainya.

II.2. Kemurnian
Santa Theresia sungguh-sungguh merupakan seorang yang sangat murni, seorang malaikat
kemurnian. Dia memiliki rahmat khusus di mana sejak usia 4 tahun sudah terpikir untuk
menjadi milik Kristus, hanya ingin mencintai Kristus, rindu untuk menjadi satu dengan Kristus.
Kadang-kadang dia mengatakan begitu rindu untuk menjadi murni seperti para seraphim.
Seluruh hatinya selalu terarah kepada Tuhan Yesus dan tidak pernah terarah pada satu makhluk
apapun juga. Kemurnian hati adalah suatu sikap keterarahan hati yang sepenuhnya kepada
Tuhan. Dalam hal ini Theresia mengagumi Santa Sisilia, yang walaupun berada di tengah-
tengah pencobaan dan godaan, hatinya tetap teguh percaya kepada Kristus. Oleh karena itu
Theresia telah memelihara seluruh tenaganya untuk mencintai Allah. Pada dirinya terpenuhilah

120
seluruh sabda Tuhan: “Kasihanilah Tuhan, Allahmu, dengan degenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.’ (Mrk
12:30). Dia itu orang yang murni hatinya, begitu murninya, sehingga setan tidak berani
menggoda dia dalam bidang ini.

II.1. Ketaatan
Bagi seorag religius, setelah kelepasan dari barang-barang jasmani dan ikatan-ikatan daging,
masih ada satu hal yang paling penting yaitu melawan diri sendiri dan melepaskan diri dari
tirani egoisme. Theresia dengan peka dan rela, tanpa perlawanan sedikitpun juga, menyesuaikan
diri dengan kehendak Allah, bahkan yang terkecil sekalipun, misalnya menghayati peraturan-
peraturan biara sebagai ungkapan pelaksanaan kehendak Allah sendiri. Bagi Theresia salah satu
pengungkaan kesucian adalah dalam penhayatan tata tertib dengan baik. Realitas rutinitas dalam
kehidupan biara yang dihayatinya secara sederhana dan rendah hati menjadikan dia besar karena
benar-benar dijalankan dalam iman.

Theresia membiarkan diri dibentuk oleh semangat Karmel, yang akhirnya menandai seluruh
hdupnya. Dalam hal ini Theresia benar-benar menjadi teladan bagi sesama susternya. Theresia
menjadi teladan ketaatan dan kecermatan dalam menghayati segala peraturan biara. Ia begitu
rupa menghayati ketaatan, sehingga tidak hanya melakukan perintah-perintah yang diberikan
secara nyata oleh pemimpinnya, bahkan berusaha menghayati apa yang mereka inginkan dan
akan melakukannya.

Theresia menghayati ketaatan dengan setia. Di dalam diri pimpinannya dia selalu melihat Allah,
seperti yang dikatakan oleh Yesus sendiri: “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia
mendengarkan Aku.” (Luk 10:16). Dalam ketaatan Theresia menemukan suatu sarana yang
paling aman dan efektif untuk melaksanakan kehendak Allah dan berkenan kepadaNya dalam
segala sesuatu. Melalui ketaatan Theresia melihat kehendak pimpinannya dalam peraturan-
peraturan biara sebagai suatu sarana yang pasti untuk mengenal Tuhan. Sedangkan kalau orang
mulai menyimpang dari kebijaksanaan pimpinan, maka dia akan mudah tersesat dan memasuki
jalan yang kering sampai akhirnya tak bisa menemukan jalan yang baik lagi. Hal ini
membutuhkan suatu keyakinan iman yang mendalam. Para religius sederhana yang dalam
semangat iman mau melakukan kehendak pimpinan sebagai manifestasi kehendak Allah,
mereka itulah yang bahagia.

Kebajikan ketaatan mempunyai jangkauan lebih besar daripada kaul ketaatan. Kebajikan ini
tidak hanya berhubungan dengan perintah-perintah dari regula dan konstitusi atau perintah-
perintah yag syah dari pimpinan, tetapi dengan kebajikan. Karena itu ia akan melakukan segala
yang diinginkan pimpinannya (kecuali yang berbau dosa) dibandingkan kehendaknya sendiri.
Dengan sikap ini seseorang menyadari bahwa pimpinan dan peraturan-peraturan hanyalah
merupakan ungkapan lahiriah dari kehendak dan rencana Allah. Allah sendiri yang mau
melaksanakan rencanaNya melalui para pimpinan. Bahkan para kudus bertindak lebih jauh lagi,
sehingga mereka tidak hanya mau taat kepada pimpinan, tetapi juga kepada sesamanya tanpa
merasa tersinggung atau perasaan apapun juga. Tentu saja bila hal itu tidak bertentangan dengan
perintah Allah, regula, kostitusi dan perintah pimpinannya sendiri. Demikian mereka menyadari

121
bahwa Tuhanlah yang berkarya melalui sesamanya, Tuhan membentuk seseorang melalui
sesama yang lain.

Semangat ketaatan membawa dia untuk melihat dalam diri setiap orang sebagai yang diutus
Allah sendiri. Theresia seorang yang bijaksana. Dia tak pernah melanggar perintah atasannya
untuk menyenangkan sesamanya. Sejauh bersifat netral dia akan taat pada orang lain. Semua
yang diperintahkan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian.

Di dalam lingkungan hidup yang tidak sempurna dan dengan segala keterbatasannya, Theresia
tetap setia kepada cita-cita religiusnya, bahkan sampai menghabiskan tenaganya. Demikian pula
para novis dibentuknya dalam semangat heroik ini. Kepada para novisnya, ia memberi pedoman
:
Biarpun semua orang tidak menghayati atau melanggar regula, itu bukan alasan untuk
membenarkan diri. Setiap orang harus bertindak seolah-olah kesempurnaan serikat tergantung
dari dia sendiri.

III. KASIH PERSAUDARAAN


Salah satu ciri spiritualitas Theresia adalah menyingkirkan hal-hal tambahan, yaitu yang tidak
hakiki, kemudian memusatkan dan mengarahkan seluruh tenaganya kepada hal-hal yang hakiki.
Theresia sangat menampilkan primat cinta kasih dalam hubungan kita dengan Allah, artinya
segala sesuatu yang tidak hakiki disingkirkannya untuk mengarahkan diri pada yang paling
hakiki yaitu cinta kasih. Demikian pula dalam hubungan dengan sesama, Theresia memberikan
penekanan istimewa kepada nilai kasih persaudaraan. Juga di sini kejeniusan Santa Theresia
telah menemunan kembali perintah besar Tuhan tentang kasih persaudaraan, yang sama dengan
perintah yang pertama dan tak dapat dilepaskan dari padanya, yaitu “Hendaklah kamu saling
mengasihi….”. Dalam hidup Theresia kita jumpai harmoni yang mengagumkan dalam
pengintegrasian kedua hukum itu: “Bila seseorang mengasihi Allah, dia juga pasti mengasihi
sesamanya seperti ditegaskan oleh Tuhan Yesus sendiri: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu
akan menuruti segala perintahKu” (Yoh 14:15).

III.1. Hukum yang baru


Santa Theresia membutuhkan waktu cukup lama untuk melihat dengan jelas bahwa tempat
paling istimewa yang harus diduduki dalam kehidupan bersama adalah cinta kasih. Hal itu tidak
usah megherankan kita. Para kudus juga mengalami perkembangan sebagaimana halnya tiap
manusia. Theresia berusaha mengarahkan seluruh hati dan tenaganya untuk mencintai Allah.
Melalui cinta kepada Allah dia menemukan rahasia cinta kepada sesama dan pada tahun-tahun
terakhir hidupnya Theresia dibawa masuk secara mendalam ke dalam pikiran Sang Guru sendiri
tentang kasih persaudaraan.

Apa yang ditemukan Theresia dalam kata-kata injil “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada
kasih seorang yang menyerahkan hidupnya bagi para sahabatnya” adalah: kebesaran kasih
Yesus terhadap murid-muridnya. Sang guru tidak memperhatikan kemampuan atau sifat-sifat
alami dan manusiawi dari para rasul. Mereka termasuk kalangan bawah, yaitu nelayan-nelayan
yang pada umumnya tidak berpendidikan. Tetapi Yesus mencintai mereka sebagaimana
layaknya seorang Penyelamat yang datang untuk membawa mereka masuk ke dalam Kerajaan

122
Bapanya. Bahkan ia mau membagikan hidup ilahi dan mencintai mereka secara sempurna
sampai mengurbankan hidupNya bagi mereka. hidupNya sendiri tidak diperhatikan.

Cinta inilah yang kemudian disadari oleh Theresia secara mendalam, bahwa dia, bukan hanya
dia, tetapi semua manusia dicintai Allah dengan cinta ilahi. Theresia membaca dalam injil
Yohanes ungkapan isi hati Sang Guru. Wasiat dari Sang Guru dan Sabda Yesus sebagai imam
Agung ini terus bergema, dibaca dan diresap-resapkan kembali oleh Theresia. Selanjutnya, teks-
teks injil dari Yoh 15:9.12-14.17 membuat Theresia melihat dengan jelas betapa cintanya
terhadap sesama suster sangat tidak sempurna. Ia menyadari bahwa cinta kasih yang sejati
terdapat dalam hal menanggung segala kekurangan sesamanya, dengan tidak menjadi heran
akan kelemahan-kelemahan mereka, tetapi sebaliknya merasa didorong oleh kebajikan-
kebajikan mereka, bahkan yang paling kecil sekalipun. Ia mengerti bahwa cinta kasih tidak
hanya harus dipendam di dalam hati saja, tetapi cinta kasih harus menerangi dan
menggembirakan sesama susternya yang serumah.

Theresia juga menyadari, bahwa sebagai manusia ada perasaan simpati dan antipati. Kita harus
membedakan arti dari ‘mencintai dan menyukai’ seseorang. ‘Menyukai seseorang’ lebih bersifat
alami. Orang lebih tertarik pada yang satu dan tidak pada yang lain. Tetapi ‘mengasihi
seseorang’ melampaui sifat-sifat alami. Theresia tersentuh oleh satu aspek dari cinta kasih, yaitu
sifatnya yang umum. Cinta kasih tidak mengecualikan seorangpun, seperti yang dikatakan
Santo Paulus dalam 1 Kor 13:4-7 bahwa kasih itu sabar, kasih itu murah hati, dst.

Dengan kata lain, cinta kasih itu melupakan diri sendiri, tidak mengingat diri sendiri. Orang
bisa saja memiliki pengetahuan yang luas, menjadi ahli hukum Gereja, ahli moral, memiliki
gelar-gelar yang hebat, bahkan gelar sebagai doktor theologi atau bahkan ahli Kitab Suci dan
lulus dengan sebutan summa cum laude, orang bisa saja menyelami segala rahasia-rahasia
manusia, namun tanpa kasih dia tidak berarti sama sekali. Orang bisa saja menjadi pekerja
sosial yang termasyur, pejuang keadilan yang gigih, orang juga bisa dikenal sebagai penderma
besar, bahkan membagi-bagikan seluruh hartanya untuk karya sosial, bahkan mati demi
keadilan atau seperti dikatakan Santo Paulus, membiarkan tubuhnya dibakar, namun tanpa
kasih, semuanya itu sia-sia belaka. (bdk 1 Kor 13:1-3). Tulisan Santo Paulus dalam Kor 13:1-3
sangat mempengaruhi Theresia. Tanpa cinta kasih semuanya itu tidak ada nilainya. Maka cinta
kasih adalah jiwa dari seluruh hidup rohani, sumber dari segala jasa, kebajikan yang
menjadikan kita sungguh-sungguh berkenan kepada Allah.

Karena Theresia dengan tekun bersumber pada Sabda Tuhan sendiri serta menimba air yang
murni dari pemikiran Kristiani, maka spiritualitasnya memperoleh nilai pembaharuan yang tak
terkatakan. Surat-surat Santo Paulus menyadarkan dia akan arti panggilannya dalam Gereja,
khususnya dalam 1 Kor 12. Dari surat Paulus itu pula ia menemukan primat cinta kasih,
khususnya dalam 1 Kor 13:1-3. Dan dari Injil Yohanes, Theresia menerima terang yang besar
tentang misteri kasih persaudaraan.

III.2. Kepekaan Cinta Kasih


Pikiran Santa Theresia yang besifat intuitif dan realistis itu selalu mengarah pada perbuatan.
Kasih Theresia bersifat praktis. Dalam tulisan yang ditujukannya kepada Muder Maria

123
Gonzaga, Theresia menyimpan beberapa kenangan tentang praktek cinta kasih, sehingga kita
dapat melihat bagaimana cara Santa Theresia melaksanakan cinta kasih, dalam kehidupannya
sehari-hari. Dia mengatakan :
Bila iblis mencoba menampilkan kekurangan-kekurangan seorang suster kepadaku,
saya segera mencoba menelusuri kebajikan dan keinginan-keinginan baiknya. Saya
berkata pada diriku sendiri, bahwa bila saya melihat dia jatuh satu kali, mungkin
sekali dia sudah kerap kali menang, tetapi karena kerendahan hati hal itu
disembunyikannya. Bahkan apa yang bagiku tampaknya sebagai kekurangan,
namun bila intensi atau maksudnya baik, bisa menjadi suatu kebajikan.

Secara manusiawi orang tetap memiliki perasaan simpati dan antipati. Orang merasa tertarik
pada yang satu, sedangkan terhadap yang lain sikapnya berbeda. Yesus mengatakan kepadanya
bahwa ia harus mencintai suster tertentu dan berdoa untuknya, bahkan bila sikap dan tingkah
lakunya memberi kesan, bahwa suster itu tidak senang kepadanya. Tidak cukup baginya hanya
dengan mencintai, tetapi ia juga harus memberikan bukti-buktinya.

Bila egoisme tersinggung, maka akan timbul pemberontakan. Dalam kehidupan sehari-hari,
peristiwa seperti ini seringkali terjadi. Theresia mengatakan :
Saya tidak selalu dapat melaksanakan perintah Injil secara harafiah. Ada situasi-
situasi tertentu di mana saya terpaksa harus menolak permintaan sesama susterku.
Namun bila cinta kasih telah berakar secara mendalam di dalam jiwa, maka ia akan
terpancar ke luar. Ada suatu cara menolak yang begitu baik, sehingga walaupun
kita menolak, orang yang minta bantuan akan merasa sama puasnya dibandingkan
bila kita memberi apa yang dimintanya.

Suatu kenyataan yang seringkali terjadi ialah, bila seseorang selalu rela menolong, ia akan
sering sekali dimintai tolong oleh yang lain. Theresia menanggapinya dengan berkata bahwa
kita hendaknya tidak menjauhkan diri karena takut disuruh melakukan berbagai macam
pekerjaan. Bila kita menolong seseorang, janganlah dengan bersikap pura-pura atau dengan
harapan bahwa orang yang kita tolong itu juga akan menolong kita. Ia dijiwai oleh Sabda Tuhan
yang menyuruh kita untuk meminjamkan tanpa mengharapkan kembali, karena upah kita besar
di surga.

Uraian Theresia tentang cinta kasih menunjukkan pengamatan yang tajam dan penuh dengan
pernyataan-pernyataan psikologis yang mendalam, yang sangat berguna untuk kehidupan dalam
komunitas. Kalau komunitas-komunitas religius itu mau menjadi firdaus di dunia, maka kasih
persaudaraan, yang merupakan ratu segala kebajikan dan dasar segala kesatuan, harus benar-
benar menjiwai kehidupannya. Dengan demikian akan terwujudlah cita-cita komunitas Kristiani
awali: “mereka itu sehati sejiwa dalam Tuhan” (Kis 4:32) dan kesaksian dari orang-orang yang
mengenal mereka: “Lihatlah, betapa mereka itu saling mengasihi.”

III.3. Malaikat Perdamaian dan Cinta Kasih


Dalam hidup Theresia cinta kasih telah berkembang begitu sempurna, halus dan sangat peka.
Cinta telah menyebabkannya melupakan diri sendiri dalam setiap situasi. Dia selalu berusaha
untuk menciptakan suasana gembira untuk menyenangkan orang-orang di sekitarnya melalui

124
pergaulan penuh cinta kasih dengan semua suster, bahkan dia lebih senang bergaul dengan
orang-orang yang dicap ‘sulit’ dan tidak menyenangkan. Para suster yang sebenarnya tidak
disenangi bisa merasa paling dicintai oleh Theresia. Khususnya ada seorang suster yang
memunyai karunia ‘untuk menjengkelkan’ Theresia dalam segala hal. Tetapi karena motivasi
cinta kasih ilahi dan kepribadiannya yang menarik, ia memberikan kepada suster itu perhatian
khusus dan berhasil menyembunyikan antipatinya. Bila bertemu dengannya, Theresia selalu
menyapanya dengan senyuman manis. Bila ada acara rekreasi tidak ada yang mau
mendekatinya, Theresia berusaha menemani dan berbicara dengannya. Theresia begitu berhasil
mengatasi antipatinya, sampai-sampai suster itu berkata kepadanya: Suster Theresia, mengapa
anda begitu tertarik kepada saya? Apa yang ada dalam diriku yang membuat anda begitu
tertarik kepadaku?’ Lalu Theresia menjawab: ‘Yesus yang ada dalam dirimu.’ Inilah
kemenangan indah rahmat atas kodrat.

Sejak saat itu Tuhan memberikan rahmat khusus kepadanya dan mengambil rasa antipati dari
dalam dirinya, sehingga Theresia tidak lagi mengalami perjuangan bila bergaul dengan suster
itu. Hal-hal kecil seperti inilah yang sebenarnya dapat menguduskan kita. Kita melihat contoh
dari cinta kasih Theresia yang sangat heroik, tetapi hal-hal yang biasa, tidak menyolok, tidak
diketahui orang, namun hanya diketahui oleh Tuhan saja. Itulah suatu bidang yang luas untuk
benar-benar berkembang dalam cinta kasih sejati.

Theresiapun selalu terarah kepada orang lain. Dalam biara Karmel ada waktu-waktu tertentu
untuk acara rekreasi, yaitu waktu untuk rileks. Theresia mengatakan kepada salah seorang
novisnya :
Bila engkau mau pergi rekreasi, pertama-tama janganlah mempunyai niat untuk
kepentingan diri sendiri tetapi pergilah ke sana untuk membuat orang lain lebih
rileks. Di situlah, lebih daripada di tempat lain, ada kesempatan untuk melatih cinta
kasih serta menyangkal diri sendiri. Buatlah dirimu menyenangkan bagi semua
orang. Engkau tidak akan berhasil dalam hal itu tanpa penyangkalan diri.

Para suster member kesaksian dengan mengatakan: ‘Acara rekreasi lebih menyenangkan bila
Theresia hadir bersama kami.’ Mereka melihat bagaimana Theresia begitu lemah lembut dan
tidak pernah mengeluh, sehingga beberapa suster menyalahgunakan kebaikannya. Mereka
sering meminta tolong Theresia, sehingga ia mempunya beban pekerjaan yang cukup banyak.
Tapi Theresia mengatakan :
Janganlah menolak siapapun, walaupun itu berarti engkau harus berkurban banyak
bila orang meminta sesuatu kepadamu. Ingatlah bahwa Yesus sendiri yang
memintanya daripadamu. Bila engkau sadar bahwa Yesuslah yang memintanya
kepadamu, bukankah engkau akan melakukannya dengan senang hati, dengan rajin
dan dengan wajah yang ramah.

Pada akhir hidupnya dan dalam keadaan sangat sakit, pada saat menulis tentang kasih
persaudaraan, Theresia mengalami begitu banyak gangguan. Ketika mau memulai menulis,
datang seorang suster yang bermaksud menghiburnyaa, sehingga Theresia menghentikan
tulisannya. Setelah suster itu pergi, datang suster lain yang megajak berbincang-bincang tentang

125
hal lain. Suster-suster datang bergantian mengunjunginya, sehingga hampir-hampir tidak ada
waktu untuk menulis. Muder Agnes memberikan kesaksian seperti ini:
Pada akhir hidupnya, ketika sudah sangat sakit, ia sedang menulis naskahnya di
kebun dan saya melihat, bahwa setiap saat dia diganggu oleh para suster. Dia tidak
menjadi kurang sabar, atau minta, agar supaya jangan diganggu, melainkan tiap
kali meletakkan penanya dan menutup buku tulisnya sambil tersenyum. Saya
bertanya kepadanya, bagaimana mungkin dalam keadaan seperti itu dia dapat
menulis dengan baik. Dia menjawab, katanya: ‘Saya menulis tentang kasih
persaudaraan, maka sekarang ini waktunya untuk melatihnya… O Muder, kasih
persaudaraan adalah segala-galanya di dunia ini. Kita mengasihi Allah, sejauh kita
melaksanakan kasih persaudaraan yang sejati. Dengan melatih kasih persaudaraan,
kita mengasihi Allah.’

Memang, Theresia telah megatakan kebenaran, ketika ia menulis dalam riwayat hidunya :
Allah telah memberikan kepadaku rahmat untuk menyelami kedalaman yang penuh
rahasia dan cinta kasih. Dan seandainya saya mampu mengungkapkan apa yang
saya mengerti, maka anda akan mendengar suatu melodi surgawi.

IV. KESIMPULAN : KEKUDUSAN DALAM PERKARA KECIL


Bagi Gereja Theresia telah mewujudkan suatu kekudusan besar melalui hal-hal yang biasa, ia
telah mewujudkan cinta kasih yang besar. Bisa juga dikatakan: Dia melakukan hal-hal biasa
dengan cara yang luar biasa. Segala perbuatannya dijiwai dengan cinta kasih yang sangat besar.
Santa Theresia termasuk dalam kategori orang kudus yang patut dikagumi sekaligus juga bisa
diteladani oleh semua orang. Tentu saja hal ini bukan soal mudah, tetapi bisa dilakukan oleh
setiap orang yang sungguh mau mencobanya. Rahmat selalu tersedia bagi orang yang mau
berusaha. Dengan demikian setiap orang dapat mencapai kekudusan dan itulah sebabnya Gereja
telah mengangkat Theresia menjadi Pujangga Gereja.

Melalui Theresia, Allah menunjukkan kebasarannya dalam hal-hal yang sangat biasa. Theresia
telah menemukan pula dalam diri Bunda Maria teladan kesucian dalam kehidupannya sehari-
hari yang biasa. Bunda Maria yang paling besar, paling mulia dan paling kudus di antara semua
ciptaan. Ia melebihi semua rasul, bahkan juga melebihi semua malaikat, tetapi kehidupannya
semasa di dunia ini sangat biasa sekali, demikian biasanya, sehingga orang-orang sekitarnya
tidak menyangka bahwa wanita sederhana itu adalah Bunda Allah sendiri.

Melihat latar belakang ini, kita bisa mengatakan, bahwa jalan kecil Theresia benar-benar
merupakan jalan injili yang sangat mendalam, jalan injili seperti yang diajarkan oleh Tuhan
Yesus sendiri. Dalam kesederhanaan dan hal-hal kecil, dia menunjukkan kebesaran Allah. Santa
Theresia mendapat pengertian melalui suatu intuisi dan karunia Roh Kudus, sehingga dapat
memahami kebesaran dan keluhuran dari perkara-perkara kecil. Theresia tetap ingin tinggal
dalam bilangan orang-orang yang kecil. Panggilannya ialah untuk membangkitkan dalam dunia
dan Gereja, suatu laskar jiwa-jiwa kecil yang benar-benar merindukan kesucian. Melalui
karisma yang diterimanya, Theresia mampu menyajikan jalan kesempurnaan dengan cara yang
sangat simpatik, sederhana dan pengudusan dalam perkara-perkara yang kecil, sehingga
terjangkau oleh semua orang.

126
Dengan menggelarkan dia sebagai orang kudus dan lebih-lebih dengan mengangkatnya menjadi
Pujangga Greja, berarti Gereja memberikan suatu peneguhan dan dukungan resmi kepada jalan
kecilnya sebagai suatu jalan yang betul-betul injili, yang oleh Gereja ditampilkan sebagai jalan
teladan bagi semua orang yang merindukan Allah. Tuhan yang menciptakan alam semesta yang
tak terbatas, yang menciptakan binatang dan tanaman dengan keaneka-ragaman yang indah,
juga telah menciptakan keindahan yang luar biasa dalam hal-hal yang kecil.

Kesetiaan kepada perkara-perkara kecil, dalam rutinitas hidup sehari-hari, itulah kesetiaan yang
membawa kita sampai pada suatu heroisme, merupakan jalan kepada kesucian. Inilah model
baru kesucian yang ditawarkan Gereja kepada kita, khususnya ketika menggelarkan Santa
Theresia sebagai Pujangga Gereja. Hal ini juga menuntut penyangkalan diri yang besar.
Heroisme dalam perkara-perkara kecil ini pada dasarnya bukan lain daripada kembali kepada
semangat Injil seperti yang diajarkan oleh Than Yesus sendiri, yaitu “kesetiaan dalam perkara-
perkara yang kecil” (Luk 16:10; 19:17; Mat 25:21.23) serta “menerima Kerajaan Allah sebagai
seorang anak kecil” (Mat 18: 3-4; 19:14; Mrk 9:35; 10: 14-15; Luk 18:17).

127
13. PELAYANAN DALAM KUASA ROH KUDUS

I.PENDAHULUAN
Yesus telah memberi kita suatu tugas perutusan sebagaimana terdapat dalam Yoh 20:21: “Maka
kata Yesus sekali lagi: ‘Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku,
demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’” (Yoh 20:21). Tugas perutusan ini juga terdapat
dalam Mat 28:18-20: “Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘KepadaKu telah diberikan segala
kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.’

Apabila Yesus memberi suatu tugas kepada kita, Ia juga memberi kita kuasa dan wewenang
untuk melakukannya. Ia memberikan kita Penolong yaitu Roh Kudus-Nya sendiri yang
memampukan kita menjalankan tugas perutusan ini. Pelayanan kita ada di dalam kuasa Roh
Kudus (bdk. 1 Tes 1:5). Yesus sendiri berjanji bahwa kuasa Roh Kudus dicurahkan bagi semua
orang yang percaya (Mrk 16:17).

Dalam menjalankan perutusan ini, Yesus sendiri telah memberi kita teladan yaitu dengan
menjadi seorang pelayan sebagaimana ucapan Yesus sendiri dalam Mrk 10:45: “Karena Anak
Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Ini berarti sebagai pengikut Kristus, kita juga
dipanggil untuk melayani Allah dan sesama. Model pelayanan kita adalah pelayanan Yesus
sendiri.

II. PELAYANAN YESUS DALAM KUASA ROH KUDUS


Seluruh pelayanan yang dilakukan oleh Yesus dimaksudkan juga untuk dilakukan oleh kita
pengikutNya (Yoh 14:12). Yesus datang ke dunia untuk membawakan apa saja yang ada pada
Allah: kekuatan, kebaikan, kemurahan Allah, sehingga kita dapat melihat Allah dalam diri
Yesus. Demikian juga, seluruh pelayanan Yesus dilakukan-Nya dalam persatuan dengan Bapa
(Yoh 8:28-29: “… dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku
berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu. Dan, Ia, yang telah
mengutus Aku, Ia menyertai Aku, Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa
berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”) Yesus melakukan segala karya-Nya dalam kuasa
Allah. Karya-Nya dan mujizat-mujizat-Nya adalah tanda kehadiran Allah. Sejak dikandung dan
saat kelahiran-Nya, Yesus telah mendapat tanda-tanda istimewa. Namun sebagai Mesias, Ia
diurapi secara resmi yaitu pada saat dibaptis (Luk 3:21-22). Setelah itu, dikatakan dalam Luk
4:1 “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus kembali dari Sungai Yordan.” Sesudah dipenuhi Roh
Kudus, Yesus didorong ke padang gurun selama 40 hari, di situ Yesus membiarkan diri
dibimbing oleh Roh Kudus. Yesus menyerahkan diri kepada Bapa sehingga kuasa Roh Kudus
dapat bekerja secara sempurna. Tanpa penyerahan tidak ada bimbingan Roh Kudus. Selanjutnya
dalam kuasa Roh Kudus, Yesus kembali ke Galilea untuk memulai karya-Nya. Roh Kudus

128
membimbing Yesus untuk melaksanakan kehendak Bapa. Seluruh karya Yesus ada dalam kuasa
Roh Kudus.

III. MENGEMBANGKAN PELAYANAN DALAM KUASA ROH KUDUS


Untuk dapat mengembangkan pelayanan dalam kuasa Roh Kudus, kita harus memperhatikan
beberapa hal penting yaitu:
1. Tujuan pelayanan.
2. Macam-macam bentuk pelayanan.
3. Citra seorang pelayan yang baik.
4. Dasar pelayanan.

III.1. Tujuan Pelayanan


Dalam Komunitas Tritunggal Mahakudus, sangatlah penting pelayanan ke dalam: untuk
membentuk anggota-anggota KTM yang komit. Di samping itu, anggota KTM juga melakukan
pelayanan ke luar: melayani umat sambil menunjukkan keindahan hidup KTM.

Secara singkat tujuan pelayanan adalah sebagai berikut:


1. Membawa orang-orang pada pertobatan yang sungguh-sungguh sehingga Tuhan betul-betul
menjadi pusat hidup.
2. Membawa orang-orang yang telah bertobat pada pertumbuhan hidup rohani yang lebih
dewasa.
3. Membawa suatu pembaharuan umat Allah, melalui pembaharuan pribadi demi pribadi.

Tujuan pelayanan ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Tujuan jangka pendek.
Membuat pribadi-pribadi menjadi murid Kristus yang sejati, yang semakin lama semakin
menyerupai Kristus. Dengan demikian, Yesus sendiri semakin tampil dan tampak melalui
pikiran, ucapan, tindakan, pekerjaan, dan segala segi kehidupan.
2. Tujuan jangka panjang.
1. Melalui pembaharuan pribadi-pribadi, akhirnya seluruh Gereja dapat diperbaharui.
2. Masuknya pemerintahan Allah (Kerajaan Allah).
Kedua tujuan ini tidak dapat tercapai begitu saja. Justru dengan melayani, kita perlahan-lahan
mencapai tujuan ini.

III.2. Macam-Macam Bentuk Pelayanan


Banyak bentuk pelayanan yang dapat kita lakukan sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan
kepada kita, antara lain:
1. evangelisasi / perwartaan.
2. puji-pujian.
3. pengajaran.
4. doa syafaat.
5. konseling.
pelayanan yang berhubungan dengan bermacam-macam karunia Roh Kudus. Karunia-karunia
Roh Kudus ini diaktifkan melalui persekutuan doa atau pertemuan komunitas.

129
Citra Seorang Pelayan yang Baik
Jika kita mengerti citra seorang pelayan yang baik, diharapkan kita dapat menghindarkan
banyak kesalahan dan kita dapat berbuat banyak serta berkembang lebih maju dalam pelayanan
yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Citra seorang pelayan yang baik dapat kita sebutkan sebagai berikut:

1. Seorang pelayan yang baik haruslah seorang yang beriman.


Seorang pelayan yang baik harus mendasarkan hidupnya atas iman. Iman di sini mencakup
ketiga tingkatan iman yaitu: iman, kepercayaan, iman penyerahan, dan iman penuh harapan.
Iman kepercayaan merupakan iman yang kita perlukan untuk menerima kebenaran-kebenaran
doktrinal dasar Kristiani. Iman ini tercakup dalam Kredo Para Rasul. Iman penyerahan ialah
iman untuk mempercayai bahwa Allah itu baik, mencintai, dan selalu memelihara umat-Nya.
Sedangkan iman penuh harapan merupakan iman yang sampai kepada Yesus dan
mengharapkan-Nya untuk bertindak dalam situasi-situasi khusus. Bila iman penuh harapan
sifatnya aktif dan dinamis, kedua macam iman lainnya sifatnya pasif (lihat buku: Menuju
Kedewasaan Rohani Bab III Iman No. 4 Tingkatan Iman).

Iman timbul dari pendengaran akan Kitab Suci. Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan
bagi seorang pelayan untuk senantiasa mendalami firman Tuhan. Dengan semakin
bertumbuhnya iman kita, maka pelayanan kita pun akan semakin berkembang. Kita akan
melihat keajaiban karya Tuhan dalam hal-hal yang sebelumnya kita anggap mustahil.

2. Seorang pelayan yang baik harus memiliki hati yang dipenuhi cinta dan belas kasih.
Iman tanpa cinta kasih bisa menjadi sangat keras dan menuntut secara keliru. Seseorang yang
terlalu menekankan iman saja, bisa secara keliru menuntut orang lain. Amat dibutuhkan cinta
dan belas kasihan Allah sendiri yang mengalir di dalam diri kita agar kita dapat melayani
sesama.

Agar kasih Allah senantiasa mengalir dalam diri kita, dibutuhkan suatu hubungan yang intim
dengan Tuhan. Seorang yang mau melayani tapi tidak mempunyai hubungan yang intim
dengan Allah sama saja dengan pendusta. Orang yang sungguh dekat pada Tuhan mempunyai
suatu keberanian untuk percaya yang luar biasa, karena dia tahu Tuhan mencintainya bukan
karena jasa-jasanya tapi melulu karena kebaikanNya.

Yesus dalam seluruh pelayananNya mengalirkan kasih Bapa. Kita mungkin tidak dapat
menjadi sempurna namun kita harus menuju kepada kesempurnaan kasih. Orang yang
sempurna adalah orang yang merasa dirinya sendiri paling tidak sempurna. Jika kita merasa
suci, ini berarti kita masih jauh sekali dari sempurna. Tapi semakin seseorang itu dekat pada
Tuhan, semakin ia menyadari kerapuhannya dan kekecilannya di hadapan Tuhan.
3. Seorang pelayan yang baik haruslah dapat mendengarkan.
Seorang pelayan yang baik haruslah dapat mendengarkan. Terlalu banyak orang suka
memberi nasihat tanpa mau mendengarkan, padahal kebanyakan orang itu amat butuh

130
didengarkan. Kalau kita dapat mendengarkan dengan baik, kita dapat menolong banyak
orang.
4. Seorang pelayan yang baik haruslah seorang pendoa
Sebagai pelayan Allah kita harus mengenal Allah yang kita layani. Bagaimana mungkin kita
dapat menyampaikan sesuatu tentang Allah kalau kita tidak mengenalNya? Supaya kita dapat
mengenal Allah kita perlu banyak membaca surat cintaNya yaitu Kitab Suci dan banyak
berdoa. Tanpa doa kita tidak dapat berbuat apa-apa. Bila kita mempunyai sikap doa dan
hubungan pribadi dengan Allah, kita akan merasa bahwa tidak ada apapun juga yang
dapat menekan kita, karena kita yakin bahwa kita sepenuhnya berada dalam Allah (lihat
perumpamaan tentang pokok anggur dan carang-carangnya dalam Yoh 15: 4-5).
5. Seorang pelayan yang baik haruslah selalu berusaha mencari kehendak Allah
Seorang pelayan harus selalu memurnikan motivasinya, agar motivasi
pelayanannya adalah melulu untuk menuruti kehendak Allah. Banyak contoh kejatuhan
pelayan Tuhan karena motivasi yang bergeser dari pelaksanaan kehendak Allah. Motivasi
yang tidak benar misalnya: uang, gengsi, nama baik, d1s. Banyak juga orang yang pada
awalnya mulai melakukan pelayanan dengan baik dan tulus namun berakhir dengan
kehancuran karena motivasinya lama-kelamaan diselewengkan oleh si jahat. Untuk
menghindarkan penyelewengan-penyelewengan sebaiknya pelayan melayani dalam suatu
tim/ kelompok secara bersama-sama.
6. Seorang pelayan yang baik haruslah mempunyai kelepasan pada buah-buah karyanya
Kita tidak boleh mengikat atau membuat orang-orang yang kita layani tergantung pada kita. Kita
tidak perlu sakit hati apabila orang yang kita layani suatu saat berkonsultasi pada orang lain.
Jika kita tidak mengikat orang lain pada kita, justru kita akan mempunyai banyak
sahabat. Kita harus meneladan sikap Yohanes Pembaptis ketika banyak pengikutnya
meninggalkannya dan datang kepada Yesus. Yohanes berkata: "Yang empunya mempelai
perempuan ialah mempelai laki-laki... ." (Yoh 3:29). Juga apabila kita telah selesai
melakukan suatu pelayanan, sebaiknya kita berkata: 'Aku ini hanyalah hamba yang tidak
berguna; yang melakukan apa yang harus aku lakukan." (bdk. Luk 17:10). Jika kita
tidak mengikat orang lain pada kita, justru kita akan mempunyai banyak sahabat.
7. Seorang pelayan yang baik haruslah rendah hati
Sikap dasar yang harus dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan adalah kerendahan hati. Orang
yang rendah hati menyadari bahwa ia tergantung sepenuhnya pada Allah. Oleh karena itulah
kerendahan hati memberi suatu kekuatan yang besar karena orang menyadari bahwa segala-
galanya berasal dari Allah, sebagaimana Paulus berkata: "Segala perkara dapat kutanggung
di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Flp 4:13). Orang yang rendah hati merasa
tidak memiliki apa-apa, sehingga dia berani melangkah tanpa khawatir kehilangan sesuatu.
Sebaliknya orang yang sombong mengkhawatirkan gengsinya, takut kehilangan harga diri,
takut salah/ gagal, takut disepelekan orang lain, dls.

III.4. Dasar Pelayanan


Kita perlu meletakkan dasar yang benar dan kokoh dalam pelayanan kita. Seandainya kita ini
dipanggil untuk menyirami tanam-tanaman di ladang Tuhan, m a k a k i t a h a r u s m e n g g a l i
s u m u r y a n g a i r n y a t i d a k h a b i s . J i k a k i t a hanya mengandalkan cadangan/ simpanan
air kita saja, maka dengan segera kita akan kehabisan air dan tidak dapat lagi menyiram.

131
Demikianlah dalam pelayanan, kita harus menggali dari sumber utama kita, yaitu Kristus.
Semakin kita dipanggil dalam pelayanan, semakin kita harus menggali dan memperdalam
hubungan kita dengan Kristus. Pelayanan kita menjadi kering apabila tidak bersumber pada
Kristus. Kalau kita tidak menggali dan memperdalam hubungan pribadi kita dengan
Kristus, maka kita tidak dapat melayani orang lain untuk dapat bertemu dengan Yesus. Kasih
kepada Kristus, yang mendasari pelayanan kita, juga harus makin mendalam. Kalau
pertama-tama kita mau melayani karena takut, kemudian berkembang karena terdorong oleh
rasa syukur, maka selanjutnya hubungan kasih kita dengan Kristus haruslah menjadi seperti
suatu hubungan kasih antara laki-laki dan wanita yang saling membutuhkan sehingga Kristus
betul-betul menguasai hidup kita dan kita tidak bisa hidup tanpa Kristus. Bagi pria hubungan
kasih ini dapat menjadi hubungan antara sahabat dengan sahabat atau raja dengan
bawahannya, atau Bapa dengan anakNya, ataupun seorang Guru dengan muridNya. Hubungan
yang mendalam inilah yang menjiwai segala-galanya dan inilah dasar yang kuat dan benar
dalam pelayanan kita.

IV. MODEL PELAYANAN YANG BENAR


Model pelayanan kita adalah pelayanan Yesus sendiri karena kita adalah murid-murid Kristus.
Kita harus merasa seperti Yesus, berpikir seperti Yesus, mencintai dan melayani seperti Yesus.
Oleh karena itu Paulus berkata dalam Flp 2:5-8: "Hendaklah kamu dalam hidupmu
bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang
walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai
milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan
sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di
kayu salib".

Beberapa sikap Yesus dalam melayani, yang harus juga menjadi sikap dasar para pengikutNya
dalam melayani, adalah sebagai berikut
1. Yesus selalu hanya mencari kehendak Allah.
2. Yesus melayani bukan demi kemuliaanNya sendiri, melainkan demi kemuhaan Allah.
3. Yesus selalu menampilkan wajah Allah, BapaNya dalam pelayananNya.
4. Yesus berani taat dan rela menderita.

IV.1. Yesus Seialu Hanya Mencari Kehendak Allah


Sebagaimana Yesus hanya mencari kehendak Allah dalam melayani, demikianlah juga
seharusnya kita para pengikutNya. Yesus berkata dalam Yoh 4:34: "MakananKu ialah
melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya".
Mencari kehendak Allah tidak mudah karena tidak selalu jelas, namun kita harus terus-menerus
berusaha mencari apa yang menjadi kehendakNya agar pelayanan kita dapat selalu
berdasarkan kehendakNya. Kita bisa mengetahui kehendak Allah melalui Kitab Suci,
pembimbing rohani, peristiwa-peristiwa tertentu, atau dorongan tertentu. Agar bisa lebih peka
mengenali kehendak Allah, diperlukan pembaharuan dalam cara berpikir, tindakan dan seluruh
kepribadian kita, yang hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus.

132
IV.2. Yesus Melayani Bukan demi KemuliaanNya Sendiri, Melainkan demi Kemuliaan Bapa
Pekerjaan yang harus kita lakukan adalah pekerjaan Allah sendiri, yang dari hakikatnya
melampaui segala kekuatan kita. Untuk itu Kristus telah membekali kita dengan kuasaNya yang
telah diterimaNya dari Bapa (bdk. Yoh 14:12). Kuasa Allah itu, yang dari dirinya sendiri adalah
baik, mudah diselewengkan. Orang mudah tergoda untuk menjadi sombong,
berbangga-bangga secara sia-sia, mencari kemuliaan diri sendiri. Yesus,
walaupun mahakuasa, telah m e r e n d a h k a n d i r i N y a s e b a g a i m a n u s i a l e m a h .
W a l a u p u n b a n y a k sekali mukjizat yang telah dilakukanNya, Dia tidak pernah
membanggakan diri atas, semuanya itu. Sebaliknya, dalam segala hal Ia hanya memuliakan
Bapa dan bukan diriNya sendiri.

Mengapa Yesus tidak mencari kemuliaanNya sendiri? Pertama, karena Ia


menyadari bahwa Bapa sungguh-sungguh mengasihi Dia. Itulah segala-galanya b a g i D i a .
Kedua, karena Ia menyadari dan menerima sepenuhnya
ketergantunganNya yang mutlak kepada Bapa. Terakhir, karena Ia sadar
sepenuhnya bahwa Ia berharga di mata Bapa dan dikasihi Bapa sehingga Ia tidak membutuhkan
pengukuhan dari pihak lain. Kasih Bapa sudah lebih dari cukup bagiNya.

Bila Allah melakukan pekerjaanNya melalui kita, hendaklah kita tidak terbuai karena
sesungguhnya kita hanyalah keledai yang ditunggangi Yesus. Orang tidak menghormati keledai
melainkan Yesus yang menunggangi keledai itu. Janganlah berbangga atas diri sendiri apabila
kita telah melayani karena itu sudah sepatutnya bagi pengikut Kristus. Hal ini diajarkan oleh
Yesus dalam Luk 17:10: "Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala
sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-
hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

IV.3. Yesus Selalu Menampilkan Wajah BapaNya


Apa yang dilakukan Kristus adalah ungkapan dari apa yang dilakukan oleh Bapa sehingga kita
bisa melihat Allah dalam diri Yesus. Yesus datang ke dunia untuk membawa apa saja y ang
ada pada Allah (Yes 61:1-2). Setiap kali Yesus menyembuhkan, memberi makan,
mengampuni, menghibur, membuat tanda-tanda, sebenarnya Allah Bapa sendirilah yang
melakukan semua itu di dalam Kristus (Yoh 8:28). Oleh karena itu Rasul Petrus meringkas
hidup dan pelayanan Kristus seperti tertulis dalam Kis 10:38 : "yaitu tentang Yesus dari
Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang
berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang
dikuasai iblis, sebab Allah menyertai Dia".

Segala sesuatu yang dilakukan Yesus sungguh berkenan kepada Allah. Hal ini jelas
tertulis dalam Yoh 8:29: "Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak
membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya".
Sebagaimana Yesus sepanjang hidup dan pelayananNya di depan publik selalu menampilkan
wajah Allah BapaNya, demikian jugalah seharusnya kita para pengikut Kristus.

V. MELAYANI DALAM KESATUAN


Kerinduan hati Yesus yang terdalam sebagaimana kita ketahui dari doa Yesus bagi semua

133
orang yang percaya dalam Yoh 17:21-23 : "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti
Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam
Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku
telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaKu, supaya
mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam
Aku supaya mereka sempurna menjadi satu... . "

Yesus berdoa secara khusus bagi para murid-muridNya, bagi semua orang yang percaya dan bagi
semua orang yang melayaniNya secara khusus. Doa Yesus ini disertai dengan kebijaksanaan
dan cinta yang tidak terbatas.

V.1. Perpecahan dalam Tubuh Gereja dan dalam Pembaharuan Karismatik Katolik
Mereka yang mau sungguh-sungguh melayani Tuhan dengan hati murni dan tulus akan senantiasa
mengalami hambatan. Si iblis berusaha sekuat tenaga untuk menggagalkan karya Allah
dengan menggoda orang-orang yang dipakai Tuhan. Bila tidak bisa membawa orang-
orang yang melayani Tuhan jatuh dalam dosa, iblis akan berusaha menentang dan
memusuhi mereka melalui tangan-tangan orang lain yang terbuka terhadap bisikan
iblisnya. Pertentangan atau permusuhan ini bisa saja timbul dari kalangan biasa maupun
penguasa, dari umat beriman maupun pimpinan. Tak jarang terjadi bahwa perlawanan
yang paling hebat justru datangnya dari orang-orang yang menurut jabatannya
seharusnya melindungi karya Allah.

Perlawanan dan penganiayaan semacam itu dialami oleh setiap


pembaharuan yang otentik. Pembaharuan besar dalam gereja yang
ditimbulkan oleh para Fransiskan dan Dominikan pada abad XIII mendapat
reaksi negatif yang hebat dari kalangan hirarki, para imam dan uskupuskup tertentu.
Pada abad XVII reformasi St. Teresa Avila yang mempunyai dampak besar sekali bagi
gereja mendapat tantangan hebat sehingga Teresa dan Yohanes Salib harus menanggung
banyak sekali aniaya dan kesengsaraan. Sejarah membuktikan bahwa motivasi utama
dari perlawanan itu adalah iri hati dan kepentingan/ ambisi pribadi.

Dewasa ini Pembaharuan Karismatik mengalami hambatan dan pertentangan di mana-


mana, di samping dukungan dari pimpinan Gereja yaitu Sri Paus dan konperensi para uskup.
Situasi ini memang berbeda dari jaman para Fransiskan d a n T e r e s a , n a m u n a d a j u g a
p e r s a m a a n n y a . K a l i i n i p e m b a h a r u a n i t u m e ny a n g ku t s e l u r u h l a p i s a n u m a t
d a l a m Ge r e ja d a n t e r se ba r l ua s di kalangan umat. Demikian pula KTM telah dan akan
mengalami tantangan. Ironisnya, tantangan terbesar justru datang dari Pembaharuan Karismatik
Katolik sendiri dan pimpinannya, juga karena iri hati dan kepentingan pribadi.
Tantangannya sama, yaitu iblis yang tidak senang dengan semua itu juga membangkitkan
perlawanan di mana-mana. Meneladani pendahulu kita dan belajar dari sejarah, dalam
situasi yang sukar kita harus tetap setia dan taat. Kesetiaan dan ketaatan membutuhkan
kedewasaan iman. Orang yang sungguh beriman taat kepada Yesus sendiri, yang adalah Kepala
GerejaNya di dalam diri para wakil-wakilnya, yaitu para pimpinan Gereja. Semangat untuk
selalu setia dan taat telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri dalam ketaatanNya kepada Bapa
sampai wafat di kayu salib. Jadi bila kita mau mengikuti Kristus kita juga harus meneladani

134
ketaatan Kristus. Bila kita tetap setia dan taat, Tuhan akan memberkati kesetiaan itu
dengan rahmat yang berlimpah-limpah.

Cara iblis yang paling ampuh untuk memecah belah Pembaharuan Karismatik adalah dengan
berusaha merongrong pembaharuan itu dari dalam. Iblis selalu berusaha menimbulkan
perpecahan, permusuhan, iri hati dan persaingan tidak sehat di antara para pemimpin
Karismatik sendiri. Inilah senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan
pembaharuan itu sendiri.

Perpecahan dalam Pembaharuan Karismatik paling sering diakibatkan oleh godaan


kekuasaan. Orang-orang yang terlibat dalam Pembaharuan Karismatik rawan sekali terhadap hal
ini karena setelah mengalami pencurahan dan m e n e r i m a k u a s a R o h K u d u s , o r a n g
b i s a s a j a , k a l a u t i d a k w a s p a d a , menggunakan kuasa itu untuk kepentingan diri sendiri.

V.2. Sebab-sebab Timbulnya Perpecahan


Kita perlu melihat hal-hal yang biasanya menimbulkan perpecahan agar kita bisa lebih
waspada dan dapat menjaga kesatuan dalam komunitas kita, dalam lingkungan yang
lebih luas dan akhirnya dalam tubuh Kristus sendiri yaitu Gereja KudusNya.
Hal-hal yang seringkali menimbulkan perpecahan umat Allah adalah :
1. Iri hati, dengki dan rasa superioritas
Seringkali kita melihat penyakit ini pada diri para senior yang tidak dapat menerima
keunggulan orang yang masih lebih muda atau masih baru. Ada ketakutan dalam diri orang-
orang tertentu kalau orang lain lebih daripada dirinya sendiri.
2. Dendam dan tidak saling mengampuni
Permasalahan dalam kelompok pasti selalu ada namun yang penting, setiap kali ada
perselisihan, ketidakcocokan pendapat, perasaan negatif terhadap s a t u s a m a l a i n ,
h a r u s s e g e r a d i s e l e s a i k a n d e n g a n b e r d a m a i . Perdamaian dapat terjadi jika
salah satu pihak meminta maaf dan yang lain memaafkan. Cara meminta maaf harus benar
yaitu secara langsung, tanpa suatu upaya pembenaran diri dan tanpa menyalahkan pihak
lain. Pihak yang menerima permintaan maaf harus menerima dan memaafkan dengan
sungguh-sungguh. Jika ada kesulitan menentukan pihak mana yang harus meminta maaf
dulu, maka hendaklah diingat bahwa pihak yang memulai meminta maaf adalah mereka
yang merasa diri Kristen.
3. Lidah yang tajam
seringkali kita saling menyakiti dengan lidah, antara lain apabila kita
menceritakan keburukan keluarga, sahabat, kenalan kita, entah hal itu benar atau tidak,
hanya karena kita menuruti keinginan kita yang tidak teratur ataupun karena suatu
tujuan untuk menjatuhkan orang tersebut. Firman Tuhan dalam Yak 1:26 mengajarkan
kita untuk mengekang lidah: "Jikalau a d a s e o r a n g m e n g a n g g a p d i r i n y a
b e r i b a d a h , t e t a p i t i d a k m e n g e kang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri,
maka sia-sialah ibadahnya." Kita harus mengekang lidah supaya jangan sampai kita
menjadi alat iblis untuk memecah belah umat Allah melalui segala perkataan yang
menyakitkan, fitnah, dusta, dll.

135
V.3. Kuasa Melayani dalam Kesatuan
Perpecahan dalam Gereja dan dalam Pembaharuan Karismatik dan Komunitas Tritunggal
Mahakudus akan menimbulkan kelemahan. Sebaliknya kalau umat A l l a h b e r s a t u p a d u
m e n y a t u k a n s e g a l a k e m a m p u a n , h a l i n i a k a n merupakan suatu laskar yang
sangat besar dan kuat untuk menyikat habis kuasa neraka. Kesatuan umat Allah inilah yang
paling ditakuti iblis sehingga iblis terus-menerus berusaha memecah belah GerejaNya melalui
berbagai macam cara.

Tuhan selalu merupakan kesatuan antara Bapa, Putera dan Roh Kudus yang saling
menyerahkan diri yang satu kepada yang lain. Yesus tergantung dari BapaNya dan Bapa
menyerahkan segala sesuatu kepada Putera dalam Roh Kudus. M u r i d - m u r i d t e r g a n t u n g
k e p a d a Y e s u s d a n s a l i n g t e r g a n t u n g satu sama lain. Gereja didirikan oleh Yesus
sebagai suatu struktur di mana ada Bapa Paus sebagai wakil Kristus menjadi kepada sehingga
setiap anggota Gereja mempunyai keterikatan satu sama lain di bawah satu pimpinan.

Gereja yang bersatu dengan sungguh-sungguh mempunyai kuasa karena :


1. Kesatuan para pengikut Kristus adalah tanda bagi dunia bahwa Yesus benar-benar diutus
Allah. Tidak mungkin ada kuasa untuk mempersatukan umat yang sedemikian
besar kalau bukan dari Allah sendiri.
2. Kesatuan para pengikut Kristus menghasilkan kekuatan besar. Kita tidak dapat
bertahan kalau tidak bersatu karena perjuangan kita bukanlah melawan d a r a h d a n
daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan
p e n g u a s a - p e n g u a s a , m e l a w a n p e n g h u l u - p e n g h u l u dunia yang gelap,
melawan roh-roh jahat di udara sebagaimana dituliskan St. Paulus dalam Ef 6:12. Tepatlah
pepatah ‘Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh’.

Kita menyadari memang tidak mudah menciptakan suatu. umat Allah yang betulbetul bersatu
secara utuh, namun doa Yesus bagi semua orang yang percaya dalam namaNya, yaitu
supaya kita semua menjadi satu sama seperti Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah satu,
merupakan suatu jaminan bahwa kesatuan para pengikut Kristus, umat Allah, dapat
benar-benar terwujud. Sebagai anggota KTM kita wajib menghayati kesatuan itu dalam tubuh
KTM dengan ketaatan kita kepada Gembala dan pimpinan KTM.

VI. PENUTUP
Janji Yesus kepada kita: 'Jikalau kamu tinggat di dalam Aku dan firmanKu tinggal di
dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya"
(Yoh 15:7). Jika kita selalu menuruti kehendak Allah dan selalu berada dalam
kehendakNya, maka kita dapat meminta apa saja dengan penuh keyakinan dan kita akan
menerimanya. Jika kita semakin bersatu dengan Kristus dan satu sama lain, kita juga semakin
dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan. Inilah rahasia keberhasilan
pelayanan kita dalam kuasa Roh KudusNya.

136
DATA PEMBINAAN ANGGOTA

No Bahan pengajaran Tanggal* TT. Pengajar**

1. Persatuan Dengan Allah

2. Mencari dan Mengenali Kehendak Allah

3. Karisma di Dalam Hidup Gereja

4. Penyangkalan Diri

5. Sakramen Ekaristi

6. Sakramen Tobat

7. Spiritualitas Karmel I

8. Spiritualitas Karmel II

Riwayat Singkat St. Theresia Lisieux dan


9.
Kerendahan Hati

Primat Cinta Kasih menurut St. Theresia


10.
Lisieux

Kepercayaan dan Pasrah menurut St.


11.
Theresia Lisieux

Kesetiaan Dalam Perkara Kecil menurut St.


12.
Theresia Lisieux
Pelayanan Dalam Kuasa Roh Kudus
13.
menurut St. Theresia Lisieux

Keterangan:
* Isilah dengan tanggal anggota menempuh bahan pengajaran atau retret
** Isilah dengan tanda tangan pengajar setelah anggota menempuh bahan pengajaran atau
dengan tanda tangan Pelayan Sel setelah anggota menempuh retret