Anda di halaman 1dari 9

Obat pada sistem muskuloskeletal

Setiadi

A. Latar Belakang
Sistem muskuloskeletal manusia merupakan jalinan berbagai jaringan, baik itu jaringan
pengikat, tulang maupun otot yang saling berhubungan, sangat khusus, dan kompleks. Fungsi utama
sistem ini adalah sebagai penyusun bentuk tubuh dan alat untuk bergerak. Oleh karena itu, jika
terdapat kelainan pada sistem ini maka kedua fungsi tersebut juga akan terganggu.
Gangguan muskuloskeletal adalah suatu kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen,
otot, saraf dan tendon, serta tulang belakang. Gangguan muskuloskeletal seringnya merupakan
penyakit degeneratif, penyakit yang menyebabkan jaringan tubuh Anda rusak secara lambat
laun. Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit dan mengurangi kemampuan Anda untuk bergerak,
yang dapat mencegah Anda dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Gangguan muskuloskeletal dapat
mempengaruhi setiap area dalam tubuh. Bagian utama termasuk leher, bahu, pergelangan tangan,
punggung, pinggul, lutut, dan kaki. Beberapa gangguan umum termasuk nyeri pada punggung bagian
bawah, fibromyalgia, encok, osteoarthritis, radang sendi, tendinitis.
Gangguan muskuloskeletal juga menyebabkan peradangan di banyak bagian tubuh
yang berbeda. Orang dengan gangguan muskuloskeletal mungkin merasa sakit di seluruh tubuh
mereka. Otot-otot mungkin terasa panas atau berkedut seolah-olah mereka seperti ditarik. Gejala
akan bervariasi pada setiap orang, tetapi tanda-tanda dan gejala umum termasuk Nyeri/ngilu,
Kelelahan, Gangguan tidur, Peradangan, pembengkakan, kemerahan, Penurunan rentang gerak,
Hilangnya fungsi, Kesemutan, Mati rasa atau kekakuan dan Kelemahan otot atau kekuatan
cengkeraman menurun.
Muskuloskeletal meliputi banyak bagian dari tubuh kita, dengan penyebab nyeri
muskuloskeletal yang bervariasi. Penyebab pasti dari nyeri dapat tergantung pada (1) Usia: Lanjut
usia cenderung mengalami nyeri muskuloskeletal dari sel-sel tubuh yang rusak; (2)
Pekerjaan: Beberapa pekerjaan membutuhkan tugas yang berulang atau menyebabkan sikap tubuh
yang buruk, membuat Anda berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal; (3)
Tingkat aktivitas: Menggunakan otot terlalu berlebihan, maupun terlalu lama tidak aktif seperti
duduk sepanjang hari, dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal; (4) Gaya hidup: Atlet lebih
sering berisiko untuk gangguan muskuloskeletal.
Gangguan muskuloskeletal terjadi ketika kita terlalu sering menggunakan atau
menyalahgunakan sekelompok otot atau tulang untuk waktu yang lama tanpa istirahat. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi risiko gangguan muskuloskeletal, antara lain:
o Paksaan: Menggunakan kekuatan untuk melakukan suatu kegiatan seperti mengangkat,
mendorong, menarik, atau membawa benda-benda berat.
o Pengulangan: Melakukan tindakan berulang menggunakan kelompok yang sama dari otot atau
sendi.
o Postur: Membungkuk atau memutar tubuh Anda untuk waktu yang lama.
o Getaran: Mengoperasikan mesin, peralatan, dan peralatan yang bergetar.
Kegiatan dan olahraga mengharuskan kita untuk mengerahkan kekuatan tertentu. Ketika
kekuatan yang diperlukan melebihi jumlah yang disanggupi tubuh, itu akan menyebabkan kerusakan
yang terjadi dari gerakan tunggal atau gerakan berulang dari waktu ke waktu. Ketika bagian tubuh
digunakan berulang-ulang, dengan sedikit istirahat tanpa memberikan waktu pemulihan untuk
tubuh, maka nyeri sering terjadi pada bagian tersebut. Bahkan jika paksaan kekuatan bersifat rendah
dan dengan postur yang baik, tindakan berulang seperti mengetik, dapat menyebabkan kelelahan,
kerusakan jaringan, dan, akhirnya, rasa sakit dan ketidaknyamanan. Risiko terkena gangguan
muskuloskeletal meningkat ketika kecepatan aktivitas meningkat, atau ketika tubuh dalam posisi
canggung.
Postur tubuh yang buruk adalah ketika bagian tubuh jauh dari “sikap netral.” Postur netral
adalah postur di mana tubuh Anda menerima sedikit tekanan dari kegiatan Anda, yaitu:
o leher dan punggung yang selaras dan tidak memutar
o lengan dekat dengan sisi tubuh
o pergelangan tangan lurus sejalan dengan lengan
o jari secara alami menekuk
Dengan memaksa sendi berada dalam posisi canggung atau tidak wajar, maka semakin tegang
otot, tendon, dan ligamen di sekitar sendi. Sebagai contoh, ketika Anda mengangkat beban, lengan
Anda sepenuhnya terentang, siku dan bahu sendi berada pada akhir rentang gerak mereka. Beban
yang berat, ditambah tarikan berulang pada posisi ini, dapat menyebabkan risiko cedera lebih tinggi.
Beberapa pekerjaan membutuhkan seseorang untuk menangani kekuatan besar. Misalnya,
mengangkat beban dapat menempatkan tekanan pada punggung bawah dan berpotensi merusak
baik cakram tulang belakang dan tulang belakang.
Kadang-kadang secara tidak sengaja menempatkan tekanan pada sendi saat bekerja, seperti
mengistirahatkan siku atau tangan di atas meja, yang dapat berpotensi menyebabkan kerusakan
tendon, otot, pembuluh darah, dan saraf di bawah kulit. Hal ini sering disebut sebagai stres kontak.
Bekerja dengan alat berat yang bergetar dapat juga menyebabkan gangguan muskuloskeletal. Alat
seperti pisau cukur, penggiling, atau traktor dan peralatan konstruksi dapat mempengaruhi
pembuluh darah dan saraf di tangan-lengan atau seluruh tubuh. Ini dapat berkembang menjadi
masalah muskuloskeletal.

B. Diagnosa
Pemeriksaan fisik dan riwayat medis secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti
dari rasa sakit akan dilakukan pengujian otot dan sendi untuk kelemahan atau degenerasi, setiap
kedutan yang dapat menunjukkan kerusakan saraf dan pembengkakan atau kemerahan. Selain itu
mungkin dilakukan tes pencitraan untuk mengonfirmasi diagnosis. Mereka mungkin melakukan
rontgen untuk melihat tulang, atau tes darah untuk penyakit rematik.

C. Pengobatan
Melihat penyebab dan tingkat keparahan dari rasa sakit, ada berbagai pengobatan untuk
gangguan muskuloskeletal. Untuk nyeri ringan bisa mendapatkan obat pereda nyeri yang dijual
bebas, seperti ibuprofen atau paracetamol. Obat-obatan seperti obat anti-inflamasi (NSAID) dapat
digunakan untuk mengobati peradangan dan nyeri. Untuk sakit yang lebih parah, mungkin perlu
penghilang rasa sakit yang lebih kuat yang akan memerlukan resep dari dokter. Untuk nyeri yang
berhubungan dengan pekerjaan, terapi fisik dapat membantu menghindari kerusakan lebih lanjut
dan mengontrol rasa sakit. Terapi manual, atau mobilisasi, dapat digunakan untuk mengobati
masalah dengan keselarasan tulang belakang.
Pengobatan lain mungkin termasuk:
o teknik relaksasi
o suntikan dengan obat anestesi atau anti-inflamasi
o penguatan otot dan latihan peregangan
o perawatan chiropractic
o terapi pijat

Bagaimana cara mengontrol gangguan muskuloskeletal, yaitu dengan mengontrol gangguan


muskuloskeletal dengan mengelola faktor risiko Anda dan mencegah cedera.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu:
o Letakkan benda yang sering digunakan dekat dengan Anda dan mudah diraih untuk menghindari
peregangan berlebih pada lengan Anda.
o Gunakan mesin pembantu sebisa mungkin, seperti menggunakan troli dan bukan menjinjing tas
belanja jika memang belanjaan Anda banyak, atau menggunakan alat-alat listrik bukan alat-
alat tangan.
o Menggunakan desain alat yang berbeda yang menurunkan kekuatan dan mudah digenggam.
o Beristirahat singkat saat melakukan kegiatan yang berulang, atau dalam jangka panjang.
o Jika Anda perlu duduk untuk waktu yang lama, gunakan kursi yang empuk.
o Mengatur meja kerja Anda secara efektif, seperti menempatkan pulpen dan telepon di sebelah
kiri atau kanan tergantung pada posisi tangan.
o Pertimbangkan menggunakan head set untuk ponsel jika Anda sering membuat panggilan
telepon.
o Batasi mengangkat beban yang berat.

Sistem muscuskeletal penting terkait fungsi lokomotorik / gerak anggota badan. Secara fisiologis,
sistem musculoskeletal membutuhkan zat / nutrisi untuk menjalankan metabolismenya dan
mengalami proses metabolisme dan melakukan adaptasi sel / jaringan terhadap apapun aksi
yang mempengaruhinya. Ada kalanya akibat aksi-reaksi tersebut sistem musculoskeletal
membutuhkan terapi menggunakan obat-obatan.

Tujuan utama dari program pengobatan adalah sebagai berikut:

o Untuk menghilangkan nyeri dan peradangan


o Untuk mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal dari pasien
o Untuk mencegah dan memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi

Obat (yang biasa digunakan) pada sistem muskuloskeletal antara lain Vitamin, Mineral, Analgetik,
Antiinflamasi, Antibiotik, Antineoplastik (sitostatika).
1. Penguat tulang
a. Vitamin
Vitamin adalah zat organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk berbagai reaksi
metabolisme dan mempertahankan kesehatan. Sumber bahan makanan dan obat. Vitamin
yang dibutuhkan adalah vitamin A, D, E, K.
Vitamin D
o Sumber : minyak ikan, ragi, jamurdan provitamin D yang disintesa kulit oleh sinar
ultraviolet sinar matahari (terutama pagi hari) diubah menjadi Vit D
o Fungsi : pengatur kalsium dan fosfat plasma serta mempertahankan fungsi neuromuskular
o Jika defisiensi dapat terjadi gangguan pertumbuhan tulang : penyakit Rakhitis (pada anak
/ bayi) dan osteomalasia (pada dewasa)

b. Mineral
o Tubuh membutuhkan 13 unsur penyusun dan pendukung metabolisme berupa : 7 dalam
jumlah banyak dan 6 “trace elements” ( Fe, Cu, Mn, I, Co, Zn )
o Ca (kalsium) dan P (fosfor) merupakan mineral terbanyak pada tulang , Sumber : susu, telur
Dipengaruhi oleh vitamin D. Penyimpanan : tulang . Pengaturan metabolismenya oleh
hormon paratiroid
o Kalsium dan suplemen vitamin D bermanfaat mengurangi risiko patah tulang pangkal paha.
Usahakan mengonsumsi kalsium sebagai berikut:
Komsumsi kalsium:
 600 IU atau 15 mikrogram untuk orang dewasa di atas 20 tahun.
 800 IU atau 20 mikrogram untuk manula di atas 70 tahun.
 Untuk mencegah keretakan tulang atau pengobatan osteoporosis, Anda memerlukan
dosis kalsium sebanyak 1,2 gram per hari dan vitamin D sebanyak 20 mikrogram
o Bisphosphonate
Obat yang menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko keretakan ini biasa diberikan
dalam bentuk tablet atau suntikan. Bisphosphonate bekerja dengan memperlambat laju
sel-sel yang meluruhkan tulang (osteoclast). Ada beberapa bisphosphonate berbeda
seperti alendronate, etidronate, ibandronate, risedronate, dan asam zolendronic.
o Strontium ranelate
Strontium ranelate dikonsumsi dalam bentuk bubuk yang dilarutkan dalam air. Obat ini
bisa menjadi alternatif jika penggunaan bisphosphonate dirasa tidak cocok. Strontium
ranelate memicu sel-sel yang membentuk jaringan tulang yang baru (osteoblasts) dan
menekan kinerja sel-sel peluruh tulang.

c. Obat-obatan yang Bersifat Hormon


o Selective estrogen receptor modulators (SERMs)
SERMs adalah obat yang menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko retak, terutama
pada tulang punggung. Satu-satunya bentuk SERMs yang tersedia untuk pengobatan
osteoporosis adalah raloxifene, garam hidroklorida. Raloxifene dikonsumsi tiap hari dalam
bentuk tablet.

2. Penetral zat
o Obat urikosonik
 Probenesid Obat yang membantu pengeluaran asam urat lewat urine
 alopurinol, menurunkan hiperurisemia dan membantu menghambat produksi asam
urat. obat ini hanya untuk diminum pada saat serangan nyeri sudah mereda. Jika
diminum pada saat serangan asam urat terjadi, dikhawatirkan akan menyebabkan
kristal asam urat justru akan menyebar ke jaringan tubuh lainnya.
o Obat anti-rematik modifikasi-penyakit (DMARDs)
DMARDs (diseas-modifying anti-rheumatic drugs) adalah perawatan tahap awal yang
diberikan untuk menghambat dan meredakan gejala rheumatoid arthritis, serta mencegah
kerusakan permanen pada persendian dan jaringan lainnya. Kerusakan pada ligamen, tulang,
dan tendon akibat efek sistem kekebalan tubuh saat menyerang persendian dapat dihambat
oleh DMARDs.
Beberapa DMARDs yang bisa digunakan adalah :
 hydroxychloroquine,
 methotrexate,
 sulfasalazine,
 leflunomide.

3. Analgetik
Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri
tanpa meghalangi kesadaran. Antipiretik adalah zat-zat yg dapat mengurangi suhu tubuh. Obat
analgetik antipiretik serta Obat Anti Inflamasi non Steroid (OAINS) merupakan suatu kelompok
obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Obat-obat ini ternyata
memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.
Untuk mengatasi rasa nyeri, pasien memerlukan obat antinyeri yang cukup kuat. Pereda nyeri
sekelas parasetamol biasanya tidak cukup kuat untuk melawan nyeri akibat asam urat. Karena
cara kerjanya hanya meredakan nyeri dan radang, obat kelompok ini sama sekali tidak berurusan
dengan kristal asam uratnya. Dan karena khasiatnya meredakan nyeri, obat-obat ini biasa juga
diresepkan untuk rematik jenis lain.
Beberapa obat yang sering diberikan untuk mengurangi nyeri :
o Diklofenak
o Piroksikam
o Meloksikam
o Ketoprofen
o Tinoridin
o ibuprofen,
o naproxen,
o diclofenac,

4. Antiinflamasi
Antiinflamasi adalah obat atau zat-zat yang dapat mengobati peradangan atau pembengkakan.
Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
o Kolkisin, untuk menghentikan serangan akut yang diberikan setiap jam pada awal
serangan nyeri hebat hilang. Obat ini bukan golongan pereda nyeri melainkan
antiradang. Termasuk obat “sangat keras” karena punya banyak efek buruk misalnya
muntah dan diare. Batas keamanannya juga sangat sempit, kelebihan dosis sedikit saja
bisa berefek fatal. Karena itu, gunakan hanya sesuai petunjuk dokter. Contoh merek
dagang: Recolfar®.
o Turunan asam salisilat : Aspirin, salisilamid,diflunisal.
o Turunan 5-pirazolidin : Fenilbutazon, Oksifenbutazon.
o Turunan asam N-antranilat : Asam mefenamat, Asam flufenamat
o Turunan asam arilasetat : Natrium diklofenak, Ibuprofen, Ketoprofen.
o Turunan heteroarilasetat : Indometasin.
o Turunan oksikam : Peroksikam, Tenoksikam.
Obat anti inflmasi steroid contohnya adalah Kortikosteroid. Untuk menghilangkan radang, dokter
mungkin akan meresepkan kortikosteroid seperti prednisolon, deksametason, dsb. Obat ini
memiliki banyak efek samping. Karena itu pastikan Anda mengonsumsinya sesuai dengan
petunjuk dokter. Baca juga Bab Kortikosteroid.

5. Antibiotika
segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau
menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh
bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi.
Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai
metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. Berbeda dengan desinfektan, desifektan
membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.
Klasifikasi Antibiotik berdasarkan mekanisme kerjanya :
o Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan
Cephalosporin, misalnya ampicillin, penicillin G;
o Inhibitor transkripsi & replikasi, mencakup golongan Quinolone, misal: rifampicin, actinomycin
D, nalidixic acid;
o Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan
Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline, misalnya gentamycin, chloramphenicol,
kanamycin, streptomycin, tetracycline, oxytetracycline;
o Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;
o Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya oligomycin,
tunicamycin; dan
o Antimetabolit, misalnya passerine.
Pemberian AB :
o Dosis : kadar obat di tempat infeksi harus melampaui MIC kuman. Untuk mencapai kadar
puncak obat dalam darah, kalau perlu dengan loading dose (ganda) dan dimulai dengan injeksi
kemudian diteruskan obat oral.
o Frekuensi pemberian : tergantung waktu paruh (t½) obat. Bila t½ pendek, maka frekuensi
pemberiannya sering.
o Lama terapi : harus cukup panjang untuk menjamin semua kuman telah mati & menghindari
kekambuhan. Lazimnya terapi diteruskan 2-3 hari setelah gejala penyakit lenyap.

6. Antineoplastik (sitostatika /kemoterapi)


Kemoterapi (Eng: chemotherapy) adalah penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit. Dalam
penggunaan modern, istilah ini hampir merujuk secara khusus kepada obat sitostatik yang
digunakan untuk melawan kanker (antineoplastik).
Kemoterapi untuk kanker
o Biasanya kemoterapi berupa kombinasi dari obat yang bekerja bersama khususnya untuk
membunuh sel kanker. Mengkombinasikan obat yang memiliki mekanisme aksi yang berbeda
saat di dalam sel dapat meningkatkan pengrusakan dari sel kanker & mungkin dapat
menurunkan resiko perkembangan kanker yang resisten terhadap salah satu jenis obat.
o Prinsip antikanker : Membunuh sel yang sedang dalam proses membelah diri

Klasifikasi Obat Antikanker


o Alkilasi polifungsional, contoh : busulfan, cyclophosphamide, mecchlorethamine, melphalan,
thiotepa
o Antimetabolit, contoh : azazitidine, cytarabine, fluorouracil, mercaptopurine, methotrexate,
thioguanine
o Alkaloid tanaman, contoh : vincristine, vinblastine, paclitaxel
o Antibiotik, contoh : dactinomycin, daunorubicin, doxorubicin, licamycin, mitomycin
o Agen hormonal
o Lain-lain: asparaginase, hydroxyurea, mitoxantrone

D. Penyakit khusus pada muskuloskeletal


Artritis Adalah gabungan nama untuk lebih dari seratus penyakit, yg semua berciri rasa
nyeri dan bengkak, serta kekakuan otot dgn terganggunya alat gerak (sendi dan otot). Kasus
yang paling banyak ditemukan adalah (1) Artrose; (2) Reumatik (arthritis rheumatic); (3)
Systemic lupus erythematosus (SLE); (4) Artritis Urica, gout (Encok); (5) Spondyolitis; (6)
Osteoartritis; (7) Osteomielitis; (8) Osteoporosis
1. Artrose (Artritis deformans) Osteoartrose atau osteoarthritis
o berciri degenerasi tulang rawan yg menipis sepanjang proges penyakit, dengan
pembentukan tulang baru, hingga ruang diantara sendi menyempit Sering terjadi pada
lutut dan pinggul berciri penonjolan keras (tulang) Penyebab sendi yg dibebani terlalu
berat seperti pada orang yang gemuk
o Terapi :
 Analgesik Antiradang NSAID berupa Symtomatis utk melawan rasa nyeri
Diklofenak, Indometacin, Piroxicam, Ketoprofen, Fenilbutazon
 Glucosamin dan Condroitin Bermanfaat menstimulasi pembentukan tulang rawan
baru
 Selain pengobatan juga fisioterapi dgn latihan gerak untuk memelihara tenaga otot
dan kondisi tulang rawan
2. Reumatic (Arthritis Rheumatic)
o Penyakit inflamasi kronis yg menyebabkan degenerasi jaringan penyambung. Jaringan
penyambung tsb adalah membran sinovial yg melapisi sendi, inflamasi menyebar ke
struktur sekitarnya, termasuk kartilago artikular dan kapsul sendi fibrosa
o Gejala : nyeri dan bengkak Sendi menjadi kaku sewaktu bangun pagi (morning stiffnes)
sukar digerakkan setelah bangun
3. Reumatik Artritis
o Reumatik artritis Terjadi tonjolan dan bengkak Sel normal Sel dgn artritis reumatoid
o Penyebab Auto imun yg terjadi pd individu rentan respon imun thd agen pemicu yg
tidak diketahui Agen pemicu adalah bakteri, mikoplasma atau virus yg menginfeksi
sendi Respon awal antibodi thd mikro organisma oleh IgG, individu yg mengalami AR
membentuk antibodi lain IgM dan IgG Ada bukti kuat sitokin terutama TNF-ά
menyebabkan siklus inflamasi dan kerusakan sendi
o Terapi :
 NSAID (Non Steroid Anti inflamasi) Sebagai analgetik antiradang sangat berguna
bagi gejala rema Iburofen (4 dd 600 mg) Naproksen (2 dd 500 mg) Diklofenac (3 dd
50 mg) Celecoxib, meloxicam
 DMARDs (Desease Modfying Antirheumatic Drugs) Dahulu disebut slow acting
atirheumatic drug berdaya anti-erosif, artinya dapat menghentikan atau
memperlambat progess kerusakan tulang rawan, selain itu memiliki anti radang kuat
Karena tidak mempunyai sifat analgesik shg dikombinasi dg NSAID ES : Dmards
toksik bagi darah dan ginjal. Beberapa pilihan Dmards (Dease modifying
antirheumatic drugs) A. Sulfalazin atau hidroksiklorokuin Sebagai pilihan pertama
pd RA yg progesif hebat B. Emas (auranofin) dan Pensilamin C. Imunosupresiva :
metroteksat, azatriopin dan siklofosfamid D. TNF ά-blocker digunakan bila obat-
obat tidak ampuh
 Kortikosteroid :Prednison, Dexametason, Hidrokortison
 Fosfolipda (memban sel) fosfolipase Kortikosteroid Asam arachidonat
cyclooxigenase lipooxigenase NSAID endoperoksidase Asam hidroperoksida
Leukotrien LTA Cox-1 Cox-2 Prostaglandin TXA2 Prostacyclin peradangan
Proteksi lambung LBT4 LTC4-LTD4-LTE5 Vaso bronco
4. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
o sejenis rema jaringan ikat yg bercirikan nyeri sendi (artralgia), demam, malaise umum
dan erythema dgn pola berbentuk kupu-kupu khas di pipi muka.
o Darah mengandung antibodies beredar terhadap IgG dan imunokompleks, yakni
kompleks antigen-antibodi-komplemen yg mengendap dan mengakibatkan radang
pembuluh darah (Vasculitis) dan radang ginjal. Only three drugs are FDA-approved for
the treatment of lupus: Prednison Aspirin Hidroxichloroquine Atau secara alternatif
dengan sediaan enzim (papain 200 mg + bromelin 110 mg + pankreatin 100 mg +
vitamin E 10 mg) 2 dd 1 kapsul
5. Arthritis urica, gout (Encok).
o Gangguan pada metabolisme asam urat, yg berakibat mengendapnya kristal-kristal
natriumurat di sendi-sendi, jaringan lembut (tophi) dan ginjal (batu ginjal)
o Fisiologi urat Pada perombakan protein inti (DNA/RNA) terbentuk basa-basa purin
adenin dan guanin. Guanin menjadi xantin Adenin hypoxantin xantin XO Alopurinol
Oxypurinol Asam urat Xo = xanthinoxydase
o Pengobatan Terapi serangan akut dengan Kolkisin NSAID JUGA mempunyai
kemampuan yg sama dgn kolkisin tetapi kerjanya lebih cepat Terapi Prevensi : A.
Alopurinol B. Urikosurika (benzbromaron, probenesid) C. Obat-obat alternatif : Vit. C,
Ca-pantotenat dan EPA)
6. Spondylotis Spondyolitis ankylopoetica (penyakit Bechterew)
o adalah artrose dari tulang punggung Peradangan dari urat-urat dan jaringan yg
dibutuhkan utk pergerakan punggung, akibatnya ruas-ruas (disc) melengkung, akhirnya
penderita menjadi bungkuk. Darah dari kebanyakan penderita spondiolosis
mengandung antigen lekosit tertentu yaitu HLA-B27 (Human Leucocyte Antigen) yang
berperan melawan peradangan
o Terapi Ditujukan untuk mengurangi rasa nyeri dan peradangan dengan NSAID Yang
penting gerak badan dan perbaikan sikap tubuh guna meningkatkan kekuatan dan
kelenturan Penderita dianjurkan tidur tengkurap untuk menghindari tulang punggung
membengkok kedepan
7. Osteoartritis
o Penyakit tulang degeneratif yang ditandai oleh pengeroposan kartilago artikular (sendi).
Tanpa adanya kartilago sebagai penyangga, tulang dibawahnya mengalami iritasi yg
menyebabkan degenerasi sendi
o Dapat terjadi secara idiopatik atau trauma dengan stres berulang seperti yang dialami
pelari jarak jauh atau balerina atau berkaitan dgn deformitas kongenital
o Terapi Analgesik dan anti inflamasi untuk mengatasi nyeri dan pembengkaan
Pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki deformitas atau mengganti sendi
8. Osteomielitis
o Infeksi akut tulang yg dapat terjadi karena penyebaran infeksi dari darah (osteomielitis
hematogen). Lebih sering, setelah kontaminasi fraktur terbuka atau reduksi bedah
o Penyebab Bakteri merupakan penyebab utama osteomielitis Jamur, virus dan
mikroorganisme lain juga dapat berperan
o Terapi Antibiotik dapat diberikan pada individu yg mengalami patah tulang atau luka
tusuk pada jaringan lunak yg mengelilingi suatu tulang sebelum tanda infeksi timbul
Amoxicillin, Ampicillin, Asam klavulanat
9. Osteoporosis
o disease in which loss of bone exceeds rate of bone formation; usually increase in older
women, white race, nulliparity. Clinical Manifestations – bone pain, decrease
movement. Pathologic fracture-safety.
o Perawatan osteoporosis berfokus pada pencegahan terjadinya keretakan, serta pemberian
obat untuk menguatkan tulang
o Pencegahan osteoporosis akan memberikan Anda infomasi tentang olahraga-olahraga sederhana
yang dapat Anda lakukan.
o Terapi:
 Kalsium dan suplemen vitamin D
 Bisphosphonate
 Strontium ranelate
 Obat-obatan yang Bersifat Hormon
 Terapi penggantian hormon
DAFTAR PUSTAKA

Purnawan Junadi, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ke 2. Media Aeskulapius, FKUI 1982
Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990
Doenges E Marilynn, 2000., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
Kalim, Handono, 1996., Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculaapius FKUI, Jakarta.
Prince, Sylvia Anderson, 1999., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit., Ed. 4, EGC,
Jakarta.
Anderson RJ., 1993, Rheumatoid Arthritis. Clinical features and laboratory. Dalam : Schumacher Jr.
HR, Klippel JH. Koopman WJ, eds. Primer on the Rheumatic Diseases. The Arthritis Foundation,
Atlanta: 90-95.
Anonim, 2004, Arthritis, http://www.arthritis.org/.
Anonim, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Ed.III, hal. 536-539. Jakarta: Media Aeculapius.
Anonim, 2004, Rheumatoid Arthritis, http://mayoclinic.com/.
Purnawan Junadi, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ke 2. Media Aeskulapius, FKUI 1982.
Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990.
Doenges E Marilynn, 2000., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
Kalim, Handono, 1996., Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculaapius FKUI, Jakarta.
Prince, Sylvia Anderson, 1999., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit., Ed. 4, EGC,
Jakarta.