Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH PRODUKSI TERNAK PERAH

MANAJEMEN PEMELIHARAAN PEDET-DARA-JANTAN-PEJANTAN

Oleh :
Kelas : F
Kelompok : 4
Inggit Fitira Adi Tantika 200110160033
Tanial Kembang Asyifa 200110160135
Dian Novianti 200110160136
Novia Handayani 200110160146
Haifa Farras Idztihar 200110160155
Jenny Marselina Simanjuntak 200110160236
Fitria Nurmala Dewi 200110160303
Muhammad Dzaki Fatturahman 200110160310
Muhammad Rofi Alaudin 200110160313

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK PERAH


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-

Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat

menyelesaikan laporan praktikum mata kuliah “Produksi Ternak Perah” tentang

manajemen pemeliharaan pedet-dara-jantan-pejantan. Kemudian shalawat beserta

salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah

memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat

di dunia.

Laporan praktikum ini merupakan salah satu tugas mata kuliah “Produksi

Ternak Perah” di program studi Ilmu Peternakan Universitas Padjadjaran. Penulis

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada s dosen mata kuliah

Produksi Domba dan Kambing kelas F.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan kepada segenap pihak yang telah

memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan laporan ini. Akhirnya

penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam

penulisan dan pembuatan laporan praktikum ini, maka dari itu penulis

mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi

kesempurnaan makalah ini.

Jatinangor, April 2018

Penulis
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha peternakan sapi perah akan berlangsung dengan baik apabila

breeding, feeding dan manajemen berjalan dengan baik. Manajemen Pemeliharaan

untuk sapi perah perlu diperhatikan dari mulai pedet, dara, jantan dan pejantan.

Tidak mudah untuk melaksanakan manajemen pemeliharaan pada sapi perah

banyak hal yang perlu diperhatiakan.

Pemelihaan pada pedet memerlukan perhatian dan ketelitian yang tinggi

dibanding dengan pemeliharaan sapi dewasa. Hal ini disebabkan karena kondisi

pedet yang masih lemah sehingga bisa menimbulkan angka kematian ( mortalitas )

yang tinggi. Lalu pemeliharaan pada dara diperlukan untuk hidup pokoknya,

reproduksi dan masa laktasi. Ketiga hal tersebut perlu diperhatikan pada

pemeliharaan sapi perah dara. Pemeliharaan jantan dan pejantan tidak begitu berat

dibandingkan dengan pedet dan dara, dan biasanya jantan dalam usaha peternakan

sapi perah populasinya sedikit.

Pelaksanaan manajemen pemeliharaan harus disusun sedemikian rupa.

Pemeliharaan terdiri dari handling, pakan, kesehatan, pertumbuhan, pengeringan,

seleksi dan pengafkiran. Penting sekali mengetahui dasar dari manajemen

pemeliharaan sapi perah, agar usaha peternakan sapi perah yang akan dilakukan

berjalan dengan baik dan memperoleh keuntungan yang maksimal.


1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana pemeliharaan pada pedet sapi perah.

2. Bagaimana pemeliharaan pada sapi perah dara.

3. Bagaimana pemeliharaan pada sapi perah jantan.

4. Bagaimana pemeliharaan pada sapi perah pejantan.

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui proses pemeliharaan pada pedet sapi perah.

2. Untuk mengetahui proses pemeliharaan pada sapi perah dara.

3. Untuk mengetahui proses pemeliharaan pada sapi perah jantan.

4. Untuk mengetahui proses pemeliharaan pada sapi perah pejantan.


II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Manajemen Pemeliharaan Pedet

Menurut Atmadilaga (1976), pedet betina sebagai pengganti induk harus

berasal dari pedet yang mempunyai berat lahir 30 kg keatas karena pedet yang

mempunyai berat lahir yang tinggi akan lebih mudah pemeliharaannya. Pedet untuk

pengganti induk harus berasal dari induk yang menghasilkan susu yang tinggi, dan

mempunyai sifat eksterior tidak terdapat kelainan-kelainan anatomi, misalnya

memiliki empat puting dan berbentuk simetris.

Menurut Makin (2011), langkah pertama dalam membesarkan pedet adalah

bagaimana mendapatkan pedet yang sehat, kuat dan mempunyai berat lahir yang

normal, untuk selanjutnya diharapkan dapat berproduksi secara optimum. Perlu

diketahui bahwa tingkat mortalitas anak sapi di bawah umur 3 bulan dapat

mencapai sekitar 20-35%. Pedet yang dilahirkan dalam keadaan lemah,

pemeliharaannya kurang ekonomis karena pertumbuhannya akan terhambat

sehingga memerlukan waktu yang lama sampai bereproduksi.

Makanan anak sapi berbeda dengan yang dewasa, karena disesuaikan

dengan pertumbuhan alat pencernaannya yang belum berfungsi sebagai hewan

ruminansia (Makin, 2011). Minggu pertama pedet dilahirkan hanya boleh

menerima susu sebagai pakannya, terutama kolostrum yang diperlukan untuk

memperoleh antibodi sebagai unsur kekebalan tubuhnya (Santoso, 1999). Pedet

berumur 2 minggu sudah harus diajari memakan hijauan muda dan segar, dan

konsentrat harus mulai diberikan pada umur 3-4 minggu dengan jumlah awal 0,25

kg, kemudian jumlahnya ditingkatkan seiring dengan pertambahan berat badan


pedet (Firman, 2010). Pemberian ransum untuk pembesaran pedet harus

diperhatikan kualitas maupun kuantitasnya, yakni yang dapat memberikan

pertumbuhan cepat namun bukan untuk penggemukan (Subandriyo, dkk., 2009).

2.2 Manajemen Pemeliharaan Dara

Menurut Atmadilaga (1976), pertumbuhan sapi-sapi dara sebelum

melahirkan anak pertama tergantung sekali pada cara pemeliharaan makannya.

Kerapkali pemeliharaan pedet lepas sapih diabaikan, sehingga pertumbuhan sapi-

sapi dara akan terhambat, maka pada waktu sapi-sapi betina beranak untuk pertama

kali besar badannya tidak normal (kecil), selain itu sapi akan beranak pertama

terlambat sampai 3 tahun atau lebih, dengan demikian halnya juga dengan produksi

susu tidak akan sesuai sebagaimana yang diharapkan, karena itu, pertumbuhan sapi-

sapi dara harus diperhatikan dengan selalu memperhatikan kuantitas dan kualitas

pakan yang diberikan pada pedet supaya tetap mempertahankan kecepatan

tumbuhnya.

Menurut Toharmat (1997), pemberian ransum untuk dara pengganti terdiri

dari 3 tahap, yaitu :

1. Penyapihan (usia 12 minggu) sampai usia satu tahun Pemberian konsentrat

umumnya sebanyak 2 kg, agar pertumbuhan dan kondisi badan pedet baik,

namun pemberian konsentrat dapat dibatasi pada umur 10 bulan. Pada

periode ini sapi dara diberi hijauan dengan cara bebas pilih, kualitas

konsentrat yang di berikan tergantung pada kualitas hijauan.

2. Usia satu tahun sampai 2 bulan menjelang melahirkan Menjelang umur satu

tahun sapi tidak oleh terlalu gemuk dan diberi makan berlebihan, sebab akan

mengganggu/menghambat perkembangan kelenjar sekretoris ambing. Pada

periode ini sangat diperlukan banyak konsentrat, jika rumput dibrikan legih
banyak, maka zat makanan akan lebih rendah dari yang diperlukan oleh sapi

dan pertumbuhan akan lebih rendah dari yang diharapkan.

3. Dua bulan masa kebuntingan pertama Keberhasilan pemberian makan pada

periode ini akan mempengaruhi tingkat produksi air susu setelah

melahirkan. Menjelang melahirkan, sapi perlu diberi konsentrat sebanyak

1% dari bobot badan. Pemberian pakan berlebihan akan mengakibatkan

distokia (kesulitan melahirkan).

2.3 Handling

Handling adalah membuat gerakan hewan dibatasi sehingga tidak sulit

penanganannya ttetapi hewan masih bisa bergerak. Restrain adalah memperlakukan

hewan agar tidak bisa bergerak dalam keadaan sadar.Pada dasarnya ternak

merupakan hewan liar yang telah didomestikasikan untuk keperluan menghasilkan

produk sesusai kebutuhan manusia. Dapat dipastikan bahwa semua jenis ternak

yang telah didomestikasikan itu masih mempunyai sifat-sifat dasar, disamping itu

ternak-ternak besar (seperti kerbau, sapi) mempunyai tenaga extra yang sangat kuat

jika dibandingkan dengan kekuatan manusia, sehingga untuk keperluan

pengelolaan sehari-hari kita dituntut untuk menguasai teknik-teknik pengusaan

ternak. Dalam menangani sapi, peternak perlu memiliki pengetahuan mengenali tali

temali terlebih dahulu agar bisa merestrain dengan baik (Santosa, 2010)

2.4 Pemeliharaan Pedet

Pemeliharaan pedet memerlukan perhatian dan ketelitian yang tinggi

dibanding dengan pemeliharaan sapi dewasa. Hal ini disebabkan karena kondisi

pedet yang masih lemah sehingga bisa menimbulkan angka kematian yang tinggi.

Kesalahan dalam pemeliharaan pedet bisa menyebabkan pertumbuhan pedet

terhambat dan tidak maksimal (Siregar,2003).


2.5 Pakan Pedet

Pakan utama pedet ialah susu. Pemberian susu biasanya berlangsung sampai

dengan pedet berumur 3 sampai dengan 4 bulan. Pakan pengganti dapat diberikan

namun harus memperhatikan kondisi atau perkembangan alat pencernaan pedet.

Cara pemberian pakan dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari

peternak itu sendiri, kondisi pedet dan jenis pakan yang diberikan (Anonimus,

1995).

2.6 Pakan Sapi Dara

Sapi dara yang sudah dikawinkan mempunyai kebutuhan untuk tumbuh dan

perkembangan janin untuk sembilan bulan. Sapi yang bunting harus diberikan

pakan yang lebih bagus dari sapi yang lainnya, terutama menjelang dua bulan

kelahiran. Pemberian pakan untuk sapi dara yang bunting sama dengan sapi yang

sedang berproduksi dan mendapatkan tambahan konsentrat didalam kandang

pemerahan. Pemberian konsentrat tambahan selama periode kebuntingan dikenal

dengan pemanasan. Hal yang harus diperhatikan dan dijaga adalah sapi yang sedang

bunting memerlukan mineral yang lebih tinggi di dalam ransum yang diberikan.

Pakan yang diberikan harus disesuaikan dengan bobot sapi tersebut. Sapi yang

menjelang kelahiran harus mempunyai bobot badan yang tidak kurus dan tidak

gemuk agar mempermudah dalam kelahiran (Williamson dan Payne, 1993).

2.7 Pakan Sapi Laktasi

Induk laktasi merupakan arus utama pendapatan dari usaha sapi perah.

Induk laktasi menghasilkan susu setiap harinya yang bernilai ekonomis tinggi.

Induk laktasi akan mampu menghasilkan susu yang baik ketika diberikan makanan

yang cukup dan nutrisi yang baik. Hal ini harus diperhatikan oleh peternak, karena

induk laktasi akan mencapai puncak laktasi lebih cepat jika kekurangan nutrien
untuk mencukupi kebutuhannya. Setelah puncak laktasi maka produksi susu akan

berangsur-angsur turun. Kejadian ini mengakibatkan usaha ternak sapi perah

kurang efisien (Williamson dan Payne, 1993).

2.8 Pakan Sapi Betina Kering

Pengaturan untuk usaha sapi perah seharusnya dibuat secara minimum. Sapi

betina laktasi dapat memanfaatkan energi secara efisien. Sapi betina kering

dianggap sebagai sapi tidak produktif dalam jangka waktu dua bulan. Sapi yang

sedang masuk periode kering diharapkan dapat meningkatkan bobot badannya agar

lebih siap untuk periode laktasi berikutnya. Sapi dikeringkan bertujuan untuk

memelihara sapi dalam kondisi baik dan mengoptimalkan pertumbuhan janin di

dalam induk sapi. Sapi kering biasanya diberikan konsentrat yang cukup dan diberi

tambahan mineral. Kebutuhan sapi kering yaitu 2-3 kg zat makanan setara dengan

tepung, protein kasar yang dicerna 0,27 kg, kalsium 17 g dan fospor 9 g (McDonald

dkk, 1973).

2.9 Kesehatan

Pemberian kekebalan tubuh dengan vaksin adalah bentuk perlindungan

yang sebaik-baiknya bagi ternak. Munculnya gejala penyakit pada perpeternakan

segera dilaporkan kepada petugas Dinas Peternakan untuk mengetahui penyakitnya

bersifat menular atau tidak. Tindakan yang cepat sangat penting artinya dapat

segera membasmi suatu penyakit menular (Tatal, 1982).

Diare adalah penyakit yang sering menyerang pedet Penyakit ini datangnya

mendadak dengan tanda-tanda anak sapi tampak lesu, tidak ingin menyusu pada

induknya, suhu tubuhnya meninggi, mengeluarkan kotoran cair berwarna kuning

keputih-putihan dan berbau busuk. Maka kebersihan kandang harus diperhatikan,

selain itu kembersihan ambing susu induk sapi harus diperhatikan supaya dalam
pemberian kolostrum tidak tercampur bakteri yang menyebabkan diare ( Abidin,

2002).

Program pencegahan penyakit dalam peternakan sapi perah harus dilakukan

secara teratur (Sudono dkk., 2003). Organisme pengganggu harus diberantas

sehingga keberadaanya dapat dihilangkan atau populasinya dapat ditekan.

Keberadaan penyakit menjadi masalah serius dalam usaha peternakan. Penyakit

adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ternak baik secara

langsung maupun tidak langsung. Penyakit dapat berupa infeksi virus, bakteri,

jamur dan parasit atau bukan infeksi seperti cacat genetik, cedera fisik dan 7

ketidakseimbangan nutrisi. Oleh karena itu pencegahan penyakit seharusnya

dimulai sejak awal. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menciptakan

kondisi ideal bagi ternak agar penyakit tidak dapat menyerang yakni sterilisasi

ternak, kandang dan peralatan (Yulianto dan Saparinto, 2010). Penyakit yang sering

dijumpai pada peternakan sapi perah adalah mastitis. Mastitis merupakan

peradangan kalenjar ambing disertai dengan perubahan sifat fisik, kimia dan

mikrobiologi pada susu. Pengobatan penyakit mastitis dengan memberikan

antibiotik (Syarif dan Harianto, 2011).

2.10 Seleksi Sapi Perah

Seleksi dari segi genetik diartikan sebagai suatu tindakan untuk membiarkan

ternak-ternak tertentu berproduksi, sedangkan ternak lainnya tidak diberi

kesempatan berproduksi. Ternak-ternak pada generasi tertentu bisa menjadi tetua

pada generasi selanjutnya jika terdapat dua kekuatan. Kedua kekuatan itu adalah

seleksi alam dan seleksi buatan (Noor, 2004).

Memilih ternak berdasarkan visual berarti kita memilih ternak berdasarkan

sifat-sifat yang tampak. Memilih bibit hampir sama dengan seleksi untuk tujuan
produksi. Seleksi berdasarkan visual ini biasa disebut

dengan judging. Judging pada ternak dalam arti yang luas adalah usaha yang

dilakukan untuk menilai tingkatan ternak yang memiliki karakteristik penting untuk

tujuan-tujuan tertentu. Judging dalam arti sempit adalah referensi untuk pemberian

penghargaan tertentu dalam suatu kontes (Santoso, 2004).

Judging maupun seleksi sapi perah dalam pengamatan berguna untuk

menghubungkan antara tipenya sebagai sapi perah yang baik dengan fungsi

produksi susunya. Pemberian deskripsi dalam penampilan sapi perah yang ideal

biasanya menggunakan semacam kartu skor yang disebut The Dairy Cow Unified

Score Card. Kartu skor tersebut dibagi menjadi 4 bagian utama yaitu: penampilan

umum (30 nilai), sifat sapi perah (20 nilai), kapasitas badan (20 nilai), sistem

mammae (30 nilai) (Blakely dan Blade, 1995).

Sapi perah yang berkualitas merupakan salah satu aspek utama penentu

keberhasilan usaha peternakan sapi perah. Membeli sapi perah yang berkualitas

sebaiknyapilih sapi perah yang memiliki keturunan sapi perah jenis sapi dengan

produktifitas susu tinggi 9 misalnya, keturunan asli sapi FH. Sapi berkualitas juga

harus memiliki tampilan ciri fisik khas sapi perah yang baik, sehat (terutama sistem

reproduksinya), dan bebas penyakit yang menular. Berikut ini ciri fisik sapi perah

yang sehat:

1. Tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular.

2. Dada lebar serta tulang rusuk panjang dan luas.

3. Ambing besar, memanjang kea rah perut, dan melebar sampai di antara paha

4. Kondisi ambing lunak, elastik, dan diantara keempat kuartir terdapat jeda

yang cukup besar. Setelah diperah, ambing akan berlipat dan kempis,

sedangkan sebelum diperah mengembung dan besar.


5. Kaki kuat, tidak pincang dan jarak antara paha lebar.

6. Produksi susu, dengan laktasi pertama produksi susu minimum 20 liter.

7. Sapi perah yang berkualitas juga dapat melahirkan setiap tahun sehingga

dapat menghasilkan susu secara rutin setiap tahun (Kemal dan Harianto,

2011).
III

PEMBAHASAN

3.1 Pedet

3.1.1 Pengertian Pemeliharaan Pedet

Pedet adalah anak sapi yang baru lahir hingga umur 8 bulan. Pedet yang

baru lahir membutuhkan perawatan khusus, ketelitian, kecermatan dan ketekunan

dibandingkan dengan pemeliharaan sapi dewasa. Pemeliharaan pedet mulai dari

lahir hingga disapih merupakan bagian penting dalam kelangsungan suatu usaha

peternakan sapi perah. Kesalahan dalam penanganan dan pemeliharaan pada pedet

muda dengan umur 0-3 minggu dapat menyebabkan pedet mati lemas saat lahir,

lemah, infeksi dan sulit dibesarkan.

Manajemen pemeliharaan pedet yang optimal sejak lahir sangat diperlukan

untuk memperoleh sapi yang mempunyai produksi dan produktifitas yang tinggi

yang siap menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi, baik sebagai induk

maupun pemacek. Pemeliharaan pedet mulai dari penanganan kelahiran, pemberian

identitas, pola pemberian pakan, pemantauan terhadap pertumbuhan dan

pertambahan bobot badan, pencegahan dan penanganan terhadap penyakit, serta

kebersihan dan fasilitas kandang hingga pedet berumur 8 bulan, sangat

mempengaruhi keberhasilan tercapainya pedet sebagai calon bibit unggul pada

usaha ternak perah.

Dengan penanganan dan perawatan yang tepat akan dapat mengoptimalakan

performan pedet yang nantinya benar-benar siap menjadi replacement stock

menggantikan sapi yang sudah tidak berproduksi lagi. Menurut Mulyana (1982),
pedet yang harus dipelihara terus setiap tahunnya untuk peremajaan adalah 30%

dari jumlah populasi induk.

3.1.2 Perawatan Pedet

Untuk menghasilkan anak sapi yang cukup kuat salah satu caranya induk sapi

yang bunting sekurang-kurangnya 6 minggu sebelum beranak sudah dikeringkan

dan induk sapi tersebut diberi pakan istimewa dan cukup baik kualitas dan

kuantitasnya. Setelah pedet dilahirkan, merupakan periode yang sangat kritis. Oleh

karena itu anak sapi perlu mendapat perhatian yang sebaik-baiknya (Mulyana,

1982). Manajemen pemeliharaan pedet merupakan salah satu bagian dari proses

penciptaan bibit sapi yang bermutu. Untuk itu maka sangat diperlukan penanganan

yang benar mulai dari sapi itu dilahirkan sampai mencapai usia sapi dara. Ada

beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya :

1. Penanganan Pedet Pada Saat Lahir.

Segera setelah dilahirkan, anak sapi yang baru lahir biasanya dijilati oleh

induknya. Hal ini akan membantu mengeringkan tubuh anaknya dan membantu

sirkulasi darah serta pernafasannya. Bila tidak dijilat, maka pedet harus dibersihkan

bagian hidungnya dari lendir dan mengeringkanya dengan lap bersih dan kering,

sedangkan tubuhnya dapat dikeringkan jejabah (jerami kering). Apabila

pernafasanya terganggu, maka perlu dibantu dengan pernafasan buatan yaitu

dengan cara mengangkat dan menurunkan kedua kaki belakang atau dengan

melakukan penekanan dan pengenduran bagian dada yang kemudian diulang

berkali-kali sampai pernafasan lancar. (Makin, 2011).

Penanganan Pedet pada saat lahir dilakukan apabila induk tidak bisa

berperan secara optimal. Hal ini menjaga agar sifat alami atau tingkahlaku ternak
tidak terusak. Bantuan dapat diberikan dengan langkah-langkah sesuai tingkah laku

ternak tersebut. Pertama membersihkan semua lendir yang ada dimulut dan hidung

demikian pula yang ada dalam tubuhnya, menggunakan handuk (kain) yang bersih.

Buat pernapasan buatan bila pedet tidak bisa bernapas. Kemudian potong tali

pusarnya sepanjang 10 cm dan diolesi dengan iodin untuk mencegah infeksi lalu

diikat. Berikan jerami kering sebagai alas. Dan jangan lupa beri colostrum

secepatnya paling lambat 30 menit setelah lahir (Santosa, 1995).

2. Pemisahan Pedet Dari Induk

Pedet tinggal bersama induknya selama 2-3 hari setelah di lahirkan, dengan

maksud agar pedet mendapat kolostrum dan menggertak induk sapi untuk

mengeluarkan air susu dengan mudah dan lancar. Pemisahan ini sangat penting

artinya karena apabila dibiarkan lebih lama bersama induknya akan mengakibatkan

salah cerna (indigesti) sebab terlalu banya minum air susu, bahkan bisa mati karena

kekenyangan. Ini juga dimaksudkan untuk mencegah naluri menyusui dari induk

agar tidak menyulitkan dalam pemerahan selanjutnya. Setelah dipisahkan dari

induknya, kemudian pedet diberi minum sendiri dari ember, diperlukan ketekunan

dalm mendidik pedet tersebut. Pedet yang baru dipisahkan dari induknya, kemudian

ditempatkan dalam kandang khusus (individual pen) agar memudahkan dalam

pemeliharaanya.

3. Handling Pedet

Cara menunutun sapi yang lebih muda dan juga jinak (pedet atau heifer

muda) cukup mudah. Tangan kanan mencengkram dagu (bagian bawah mulut) sapi,

sedangkan tangan kiri memegang erat tanduk atau telinga sapi.

4. Pemberian Pakan Pada Pedet


Pemberian Pakan Anak Sapi / Pedet diharapkan semaksimal mungkin

mendapatkan asupan nutrisi yang optimal. Nutrisi yang baik pada saat masih pedet

akan memberikan nilai positif saat lepas sapih, dara dan siap jadi bibit yang prima.

Sehingga produktivitas yang optimal dapat dicapai.

a) Proses Pencernaan Pada Sapi Pedet.

Menurut Santosa 1995 untuk dapat melaksanakan program pemberian

pakan pada pedet, ada baiknya kita harus memahami dulu susunan dan

perkembangan alat pencernaan anak sapi. Perkembangan alat pencernaan ini yang

akan menuntun bagaimana langkah-langkah pemberian pakan yang benar. Sejak

lahir anak sapi telah mempunyai 4 bagian perut, yaitu : Rumen (perut handuk),

Retikulum (perut jala), Omasum (perut buku) dan Abomasum (perut sejati). Pada

awalnya saat sapi itu lahir hanya abomasum yang telah berfungsi, kapasitas

abomasum sekitar 60 % dan menjadi 8 % bila nantinya telah dewasa.

Sebaliknya untuk rumen semula 25 % berubah menjadi 80 % saat dewasa.

Waktu kecil pedet hanya akan mengkonsumsi air susu sedikit demi sedikit dan

secara bertahap anak sapi akan mengkonsumsi calf starter (konsentrat untuk awal

pertumbuhan yang padat akan gizi, rendah serat kasar dan bertekstur lembut) dan

selanjutnya belajar menkonsumsi rumput.

b) Jenis-jenis Bahan Pakan Anak Sapi / Pedet

Jenis bahan pakan untuk anak sapi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:

1. Pakan cair/likuid : kolostrum, air susu normal, milk replacer

Kolostrum adalah air susu yang dikeluarkan dari ambing sapi yang baru

melahirkan, berwarna kekunig-kuningan dan lebih kental dari air susu normal.

Komposisi kolostrum :
- Kolostrum lebih banyak mengandung energi, 6X lebih banyak kandungan

proteinnya, 100X untuk vitamin A dan 3X lebih kaya akan mineral dibanding air

susu normal.

- Mengandung enzym yang mampu menggertak sel-sel dalam alat pencernaan pedet

supaya secepatnya dapat berfungsi (mengeluarkan enzim pencernaan).

- Kolostrum mengandung sedikit laktosa sehingga mengurangi resiko diare.

Mengandung inhibitor trypsin, sehingga antibodi dapat diserap dalam bentuk

protein. Kolostrum kaya akan zat antibodi yang berfungsi melindungi pedet yang

baru lahir dari penyakit infeksi.

- Kolostrum dapat juga menghambat perkembangan bakteri E. coli dalam usus pedet

(karena mengandung laktoferin) dalam waktu 24 jam pertama.

Mutu Kolostrum : Warna dan kekentalannya menunjukan kualitasnya (kental

dan lebih kekuning-kuningan akan lebih baik, karena kaya akan imonoglobulin).

Kualitas kolostrum akan rendah apabila : Lama kering induk bunting, kurang dari

3-4 minggu, sapi terus diperah sampai saat melahirkan. Sapi induk terlalu muda,

ambing dan puting susu tidak segera dibersihkan saat melahirkan maupun saat akan

diperah (Soetarno, 2003).

Milk Replacer atau Pengganti Air Susu (PAS) Pada fase pemberian susu untuk

pedet, air susu sapi asli dapat diganti menggunakan Milk Replacer/PAS. Milk

Replacer yang baik kualitasnya dapat memberikan pertambahan bobot badan yang

sama dengan kalau diberi air susu sampai umur 4 minggu. Namun kadang-kadang

pemberian milk replacer mengakibatkan sapi lambat dewasa kelamin dan sering

mengakibatkan pedet kegemukan. Milk replacer yang baik dibuat dari bahan baku

yang berasal dari produk air susu yang baik seperti ; susu skim, whey, lemak susu

dan serealia dalam jumlah terbatas. Milk replacer sebaiknya diberikan pada saat
pedet berusia antara 3-5 minggu dan jangan diberikan kepada pedet yang berusia

kurang dari 2 minggu. Pedet yang berusia kurang dari 2 minggu belum bisa

mencerna pati-patian dan protein selain casein (protein susu).

2. Pakan padat/kering : konsentrat pemula (calf starter) dan hijauan.

Manajemen Pemberian Pakan Awal/Pemula (Calf Starter) Pemberian calf

starter dapat dimulai sejak pedet 2-3 minggu (fase pengenalan). Pemberian calf

starter ditujukan untuk membiasakan pedet dapat mengkonsumsi pakan padat dan

dapat mempercepat proses penyapihan hingga usia 4 minggu. Tetapi untuk sapi

– sapi calon bibit dan donor penyapihan dini kurang diharapkan. Penyapihan

(penghentian pemberian air susu) dapat dilakukan apabila pedet telah mampu

mengkonsumsi konsetrat calf starter 0.5-0.7 kg kg/ekor/hari atau pada bobot pedet

60 kg atau sekitar umur 1-2 bulan.

Tolak ukur kualitas calf starter yang baik adalah dapat memberikan

pertambahan bobot badan 0.5 kg/hari dalam kurun waktu 8 minggu. Kualitas calf

starter yang dipersyaratkan : Protein Kasar 18 – 20%, TDN 75 –

80%, Ca dan P, 2 banding 1, kondisi segar, palatable, craked (Imron, 2009).

Manajemen Pemberian Pakan Hijauan Pemberian hijauan kepada pedet

yang masih menyusu, hanya untuk diperkenalkan saja guna merangsang

pertumbuhan rumen. Hijauan tersebut sebenarnya belum dapat dicerna secara

sempurna dan belum memberi andil dalam memasok zat makanan. Perkenalkan

pemberian hay/rumput sejak pedet berumur 2-3 minggu.Berikan rumput yang

berkualitas baik yang bertekstur halus, jangan memberikan silase pada pedet (sering

berjamur), selain itu pedet belum bisa memanfaatkan asam dan NPN yang banyak

terdapat dalam silase, konsumsi hijauan harus mulai banyak setelah memasuki fase

penyapihan.
5. Identifikasi Pedet

Pemberian tanda secara individu penting sekali untuk membedakan satu

sapi dengan yang lain, terutama pada sapi-sapi yang akan dijadikan bibit. Hal ini

akan memudahkan dalam pencatatan produksi dan reproduksinya. Dilakukan

sewaktu pedet berumur 2-3 hari. Adapun pembuatan tanda pengenal tersebut

dengan beberapa cara yaitu dengan besi panas, ear tags, tatto, ear notches necks

straps and chains dan lain-lain.

6. Sistem Perkandangan

Pedet yang lahir dalam kondisi sehat serta induk sehat di satukan dalam

kandang bersama dengan induk, diberi sekat agar pergerakan pedet terbatas.

Diharapkan pedet mendapat susu secara ad libitum, sehingga nutrisinya terpenuhi.

Selain itu pedet dapat mulai mengenal pakan yang dikonsumsi induk yang kelak

akan menjadi pakan hariannya pedet tersebut setelah lepas sapih. Perlakuan ini

haruslah dalam pengawasan yang baik sehingga dapat mengurangi kecelakaan baik

pada pedet atau induk. Bagi pedet yang sakit, pedet dipisah dari induk dan dalam

perawatan sampai sembuh sehingga pedet siap kembali di satukan dengan induk

atau induk lain yang masih menyusui. Selama pedet dalam perawatan susu

diberikan oleh peternak sesuai dengan umur dan berat badan (Imron, 2009).

Menurut Soetarno 2003, selama 3-4 hari setelah lahir pedet biasaanya

belumdipisahkan dari induknya, agar dapar memperoleh kolostrum sepenuhnya.

Setelah itu, pedet di tempatkan di dalam kandang pembesaran, baik berupa kandang

observasi (observation pens), kandang individu (individual pens), maupun kandang

kelompok (group pens). Kandang pedet lazimnya dibuat dari bahan bambu atau

kayu berukuran 95 x 150 x 130 cm.


7. Kesehatan Pedet

Kesehatan ternak merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan

dalam manajemen pemeliharaan sapi perah, karena ternak yang sehat akan memiliki

produktivitas (memberikan hasil) yang optimal. Upaya penanganan kesehatan pada

ternak meliputi pencegahan, pengendalian, pengobatan dan rehabilitative

(pemulihan). Manajemen kesehatan mempunyai arti penting karena meningkatkan

hasil usaha (baik bibit maupun susu) sehingga dengan optimalisasi produktivitas

akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak.Walaupun demikian

factor kesehatan sangat terkait erat dengan manajemen pakan dan pola
pemeliharaan.

Terjadinya penyakit pada ternak (dalam hal ini sapi perah) sangat

merugikan pemilik/peternak, karena akan mengakibatkan penurunan produksi,

mengurangi kesempatan berreproduksi, menambah medical cost, resiko kematian

ternak, bahkan penyakit-penyakit tertentu yang dapat menular pada ternak lain dan

manusia. Pemilik ternak harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan yang

terjadi pada sapi yang dipelihara, dan segera melaporkan pada petugas kesehatan

hewan terdekat. Di samping itu peternak juga harus memperhatikan kebersihan dan

sanitasi, baik ternak, kandang maupun lingkungannya, karena kebersihan erat

kaitannya dalam usaha pencegahan timbulnya penyakit pada sapi. Penyediaan

pakan, air minum dan kolostrum (pedet) juga harus diperhatikan agar ternak
tercukupi kebutuhan nutrisinya.

Adanya catatan baik data reproduksi maupun kesehatannya sangat

membantu petugas untuk melakukan kontrol dan mendiagnosa apabila terjadi

gangguan kesehatan pada ternak/kelompok ternak. Untuk dapat mengetahui


perubahan-perubahan yang terjadi pada sapi perah, terlebih dahulu kita harus tahu

keadaan yang normal dari sapi yang sehat. Adapun tanda-tanda dari sapi perah yang
sehat adalah sebagai berikut :

a. Mata agak basah dan bersinar

b. Cuping hidung selalu basah

c. Bulu halus mengkilat, kulit tidak terdapat luka-luka

d. Sapi berdiri tegak pada keempat kakinya.

e. Nafsu makan dan minum baik.

f. Tenang (tidak gelisah)


g. Kotoran agak lunak

Untuk memelihara kesehatan dan mencegah timbulnya penyakit pada pedet,

maka sanitasi kandang harus benar-benar diperhatikan. Disamping harus diperiksa

kesehatanya, dimandikan dan disikat secara rutin. Pedet-pedet yang menunjukan

tanda-tanda penyakit terutama menular harus segera di isolir. Adapun penyakit-

penyakit yang sering menyerang pedet adalah :

1) Cacingan

Menurut Tuimin, dkk 2009,Toxocara vitulorum, merupakan cacing askarid.

Stadium dewasanya banyak dijumpai pada anak sapi (pedet). Akibat dari penyakit

cacingan (toxocariasis), sangat menekan produktivitas ternak, berarti menjadi

beban ekonomi bagi peternak secara berkepanjangan jika tidak dilakukan

pengendalian.

Upaya pengendaliannya menurut mereka sampai saat ini belum jelas, hal ini

disebabkan belum adanya informasi tentang keadaan toxocariasis pada pedet.

Tersedianya obat cacing, umumnya hanya berkhasiat terhadap stadium dewasa,


kurang berkhasiat untuk stadium larva dan telur.Hal ini karena ternak sapi sewaktu-

waktu dapat dijual bila diperlukan. Kepemilikan ternak sapi selain menghasilkan

daging juga pupuk, serta kulit dan tulangnya mempunyai potensi untuk

dikembangkan dalam bidang industri dan kerajinan.

Walaupun demikian penyakit parasit cacing khususnya cacing saluran

pencernaan pernah dilaporkan Disnak Jatim. Menurut Simon dan Syahrial serta

Gunawan dan Putra penyakit yang sering dijumpai pada pedet adalah gangguan

parasit usus.Salah satu jenis parasit usus yang sering dilaporkan menyerang pedet

muda adalah toxocariasis. Parasit cacing ini menimbulkan kerugian yang cukup

besar, bahkan dapat mengakibatkan kematian pada pedet. Toxocariasis merupakan

penyakit yang banyak ditemukan di negara tropik dengan kelembaban tinggi.

2) Diare (Mencret/ Scourst)

Penyakit yang sering ditemui pada pedet adalah diare. Diare pedet masih

cukup menakutkan karena seringkali berakibat kematian. Menurut Kurniawan

2009, jika pedet kehilangan lebih dari 15% cairan tubuhnya, dia akan mengalami

stress yang luar biasa dan mengakibatkan kematian. Dari sekian banyak sebab diare

pada pedet, penanganan saat lahir, tidak adanya desinfeksi pusar dan sanitasi

kandang pedet yang buruk, adalah penyebab utamanya. Pedet adalah investasi

karena keuntungan para peternak kebanyakan hanya berasal dari penjualan pedet.

Ada beberapa langkah untuk mengatasi diare pada pedet yaitu dengan

langkah-langkah sebagai berikut :

a. Memperbaiki cairan tubuh pedet. Yaitu dengan memberikan cairan

elektrolit/oralit dan susu secara bergantian. Dan juga mengurangi konsumsi

susu karena susu bisa menstimulasi banteri ikutan.


b. Memberikan antibiotik karena 80% diare disebabkan karena infeksi bakteri,

kemudian menambahkan Vitamin C sebagai antistress. Jika pedet tidak mau

makan, maka harus ditambah multivitamin dan antipiretik jika suhu

badannya lebih dari 39,5 celsius.

c. Memperbaiki kondisi kandang menjadi bersih dan kering karena kandang

yang buruk sanitasi berpeluang memperparah infeksi.

d. Segera pisahkan pedet yang terjangkit dengan pedet yang lain untuk

mencegah penularan.

e. Mengamati setiap saat kondisinya untuk memastikan pedet tetap aktif.

8. Pencegahan Penyakit

1) Gerak Jalan (exercise)

Gerak jalan ini diperlukan untuk sapi minimal dua kali seminggu, dilakukan

(1-2) jam (pagi hari). Bagi peternak yang memiliki padang penggembalaan ternak

dapat dilepaskan di padang rumput, sedangkan bila tidak punya padang

penggembalaan dapat dilakukan dengan cara yang lain misalnya dibuatkan tempat

exercise dimana ternak dapat dengan bebas berjalan. Manfaat dari gerak jalan ini

antara lain :

a. Sapi tetap bugar, sehat dan otot menjadi kuat

b. Sapi mendapatkan sinar matahari

c. Kuku sapi bisa terpelihara dengan baik. Dengan gerak jalan maka peredaran

darah pada kuku sapi menjadi lancar, sehingga kwalitas daripada kuku

meningkat baik bentuknya maupun kesehatannya.


d. Memperlancar waktu melahirkan. Untuk sapi-sapi yang digembalakan pada

umumnya tidak banyak mengalami kesulitan di dalam melahirkan, hal ini

dibandingkan dengan ternak sapi perah yang dikandangkan terus menerus.

2) Memotong Kuku Sapi

Kuku sapi merupakan bagian tubuh yang sangat penting, karena

dipergunakan untuk menopang tubuhnya yang berat, untuk berjalan,

mempertahankan diri dari serangan lawan, untuk mencari makan dan sebagainya.

Apabila kuku dalam keadaan sakit, maka akan mengganggu pergerakan daripada

sapi yang bersangkutan. Besar kecilnya gangguan bergantung derajat penyakit

kukunya. Untuk menjaga agar kuku tetap baik diperlukan tatalaksana yang baik

antara lain, ternak dan kandangnya dibersihkan. Usahakan lantai kandang dalam

keadaan kering, pemberian makan dan minum yang baik, digembalakan dan

diadakan pemeriksaan kuku secara rutin dan selan jutnya dengan pemotongan kuku.

Pemotongan kuku biasanya dilakukan 6 (enam) bulan sekali. Pemotongan kuku

dapat dilakukan dengan mudah dan aman, Caranya :

a. Sapi yang kukunya sudah panjang difiksir lebih dahulu pada kandang

penjepit,

b. Kuku sapi dibersihkan dahulu dengan air yang bersih atau dicampur dengan

desinfektan, Bagian-bagian kuku yang telah mati dibersihkan dahulu

dengan pisau kuku.

c. Kuku yang panjang dipotong dulu sesuai yang diperlukan mula-mula bagian

depan dan samping kuku kemu dian bagian bawah (sol) usahakan jangan

sampai ter jadi pendarahan.

d. Setelah dipotong, dikikir agar lebih halus dan indah.Kemudian diolesi

dengan yodium tinctur,


e. Untuk sapi yang menderita penyakit kuku dan sudah di obati harus

ditempatkan pada lantai yang kering. Jika ada penyakit atau luka-luka kuku

yang berat pada tapak kaki, segera lapor pada petugas.


3) Potong Tanduk / Dehorning

Potong tanduk sebaiknya dilakukan pada ternak muda menggunakan


electric dehorner atau caustic soda untuk mencegah tumbuhnya tanduk. Caranya :

a) Persiapan bahan dan peralatan untuk proses dehorning (caustic soda jika

dehorning menggunakan bahan kimia, gunting, vaselin)


b) Bulu disekitar calon tanduk harus terlebiha dahulu digunting dan

dibersihkan

c) Kemudian bagian yang sudah dibersihkan diolesi vaselin, agar caustic soda

yang dioleskan tidak mengalir ke bagian lain yang berbahaya (mata),

Selanjutnya pada dasar calon tanduk itu digosok dengan caustic soda hingga

muncul bintik bintik darah

d) Petugas yang melaksanakan dehorning di wajibkan memakai sarung tangan

karet agar supaya tidak terkena bahan kimia yang merusak kulit
4) Perawatan Kebersihan Ternak dan sanitasi lingkungan

Untuk menjaga penyakit dan air susu yang dihasilkan bersih, maka sapi
perah hendaknya disikat dan dimandikan setiap hari.

a. Rambut-rambut yang panjang pada sekitar ambing dan belakang harus

digunting untuk mengurangi penempelan kotoran-kotoran yang dapat

masuk kedalam air susu selama pemerahan.


b. Alat kandang harus sering dibersihkan juga peralatan-harus selalu bersih.

Bagian-bagian kandang yang dibuat dari kayu/bambu harus dibersihkan dan

dicuci dengan menggunakan alat serta bahan pencuci.

c. Sisa makanan dalam tempat makanan harus dibuang setiap hari dan tempat

makananpun harus selalu dibersihkan,

d. Saluran pembuangan kotoran, airnya harus selalu lancar dan bersih, kalau

bisa usahakan air saluran itu selalu mengalir.

e. Lingkungan untuk selalu bersih dan dilakukan desinfeksi

9. Pengecekan Kesehatan

1) Denyut nadi dapat dirasakan dengan meraba pembuluh nadi pada bagian

bawah ekor secara perlahan-lahan dengan menggunakan tiga buah ujung

jari. Denyut nadi normal adalah antara 40 – 60 denyut setiap menit.

Denyutan lebih dari 90 itu berarti bahaya.

2) Suhu Badan sapi dikontrol oleh peternak sendiri atau oleh pihak petugas

hewan dengan menggunakan thermometer yang diletakkan di bagian pantat,

dibawah ekor sapi. Ujung atau akhir termometer 2,5 cm menjolor keluar.

Untuk mengetahui suhu, waktu minimal 3 menit. Suhu badan sapi yang

normal adalah 57,8 sampai 38,9°C.

Mata menjorok ke dalam atau buram atau merah, telinga dingin, kotoran

atau kencing berdarah, kotoran atau air kencing agak berbau aneh atau bau amis,

setelah makan tidak mengunyah dalam waktu 45 menit, semua ini merupakan

tanda-tanda tidak normalnya organ (bagian tubuh sapi).


10. Pertumbuhan

Berat pedet pada waktu lahir sangat bervariasi. Hal ini tergantung kepada

jenis dan bangsa sapi yang bersangkutan. Salah satu tolak ukur produktivitas ternak

sapi adalah pertumbuhan. Kurva pertumbuhan merupakan pencerminan

kemampuan suatu individu untuk menampilkan potensi genetic dan perkembangan

bagian-bagian tubuh sampai mencapai dewasa. Pertumbuhan dan produksi sapi

potong merupakan hasil interaksi antara factor hereditas dan lingkungan. Factor

lingkungan yang mempegaruhi produksi diantaranya yaitu pakan dan tata laksana,

sedangkan hereditas yaitu sifat genetic itu sendiri. Ternak sapi seperti halnya

makhluk hidup lainnya, mengalami pertumbuhan dan perkembangan terus

menerus. Proses pertumbuhan yang dialami ternak sapi dimulai sejak awal sampai

terjadi pembuahan hingga pedet lahir dan dilanjutkan hingga mencapai dewasa.

Dalam kondisi lingkungan yang dikontrol, kurva pertumbuhan sapi membentuk

kurva sigmoid atau berbentuk huruf S. Laju pertumbuhan mula-mula terjadi sangat

lambat, kemudian cepat selanjutnya berangsur-angsur menurun atau melambat dan

berhenti setelah mencapai dewasa (Suparno, 1992).

11. Seleksi

Suatu proses dimana individu individu tertentu dalam suatu populasi di pilih

dan di ternakkan untuk tujuan produksi yg lebih baik (segi kuantitas dan kualitas)

pada generasi selanjutnya. Seleksi merupakan dasar utama dalam pemuliaan ternak.

Akibat seleksi dalam populasi adalah meningkatnya rataan dalam suatu sifat kea

rah yang lebih baik dan diikuti dengan peningkatankeseragama. Masa depan suatu

peternakan sapi perah tergantung dari keberhasilan pada saat pemilihan calon

bakalan (pedet dan dara) serta pembesarannya yang akan digunakan sebagai ternak-
ternak pengganti bagi induk yang telah tua. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan

dalam pemilihan calon bakalan sebagai berikut.

1. Bangsa sapi (breed), dipilih sapi FH murni atau peranakan FH, atau bangsa yang

lain.

2. Silsilah (pedigree), harus dipastikan berasal dari tetua (induk dan pejantan) yang

mempunyai keturunan produksi susu yang tinggi.

3. Keadaan eksterior, bentuk badan harus cukup dan menarik. Untuk sapi dara,

pemilihan bakalan didasarkan pada bangsa, keturunan, dan keadaan eksterior—

dapat dinilai berdasarkan body condition score (BCS). BCS adalah penilaian

kondisi tubuh yang didasarkan pada estimasi visual timbunan lemak tubuh di bawah

kulit, sekitar pangkal ekor, tulang punggung, dan pinggul mengunakan skor. BCS

dapat digunakan untuk menentukan potensi produksi susu dari seekor ternak. Pada

sapi perah, nilai BCS berkisar 1—5 Penilaian ini berdasarkan timbunan lemak yang

dirasakan pada saat perabaan. Nilai 1 adalah sapi-sapi yang sangat kurus dan nilai

5 untuk sapi-sapi yang sangat gemuk. Cara melakukan penilaian dengan menekan

perlemakan pada pangkal ekor dan di bawah kulit. Nilai BCS untuk masing-masing

status ternak berbeda. Sapi dara sebaiknya memiliki nilai BSC 2,5.

12. Pengafkiran

Pengafkiran pada pedet biasanya dilakukan jika pedet sakit , dan sudah tidak

bisa untuk disembuhkan. Dan jika pedet itu jantan biasanya akn dijual karena yang

diharapkan pada peternakan sapi perah adalah betina untuk memproduksi susu.
3.2 Sapi Dara

3.2.1 Pertumbuhan Sapi Dara

Deskripsi rataan, koefisien keragaman, minimum dan maksimum sapi FH

dara pada umur 9 – 24 bulan di wilayah kerja bagian barat KPSBU Lembang

disajikan pada Tabel 4. Secara umum, rataan dan koefisien keragaman ukuran-

ukuran tubuh dan bobot mengalami pertumbuhan lebih lambat dibandingkan

periode pertumbuhan sebelumnya, pada periode prepubertas. Hal ini dimungkinkan


karena sapi dara telah mencapai dan melewat masa pubertas.

Sejrsen dan Purup (1997) menyatakan terdapat variasi yang besar dari umur

dan bobot hidup pubertas baik antara bangsa maupun dalam bangsa sapi perah.

Dinyatakan pada bangsa sapi perah besar biasanya mencapai pubertas dicapai

sekitar umur 9 – 11 bulan dengan bobot hidup sekitar 250 – 280 kg. Salisbury dan

Vandemark (1985) melalui pemberian pakan normal pada sapi FH di New York

mencatat pubertas sapi dara tercapai pada umur 9 bulan, dengan kisaran umur 5 –

15 bulan; sedangkan rataan bobot hidup, lingkar dada dan panjang badan saat

pubertas diperoleh berurutan 279,42 ± 34,93 kg, 149,10 ± 7,37 cm dan 116,59 ±
5,33 cm.

Umur pubertas sapi FH pengamatan diduga pada kisaran umur 9 – 10 bulan,

yang diperkirakan saat laju kecepatan pertumbuhan mulai menurun atau dicapai

titik infleksi. Dinyatakan BRODY (1945) titik infleksi merupakan konstanta

penting yang mencerminkan umur pubertas makhluk hidup. Pada perkiraan umur

pubertas 9 – 10 bulan, sapi FH dara penelitian memiliki rataan bobot hidup, lingkar

dada dan panjang badan berurutan sebesar 200,5 ± 37,7 kg, 140,3 ± 7,0 cm dan

112,1 ± 12,7 cm. Baik bobot hidup maupun ukuran tubuh sapi FH penelitian lebih
rendah dibandingkan hasil pengamatan di daerah iklim sedang oleh SALISBURY

dan VANDEMARK (1985) dan SEJRSEN dan PURUP (1997). Pengamatan

ANGGRAENI (2006) pada sapi FH domestik di BPTU Baturraden mencatat rataan

bobot hidup dan lingkar dada sapi FH dara masing-masing 170,7 ± 25,7 kg dan

127,5 ± 5,0 cm. Ini bermakna sapi FH betina penelitian ini baik selama periode pre

maupun post pubertas memiliki performa pertumbuhan lebih baik dibandingkan


sapi FH di BPTU Baturraden.

Menurut SUDONO et al. (2003) sapi FH dara domestik dapat dikawinkan

pertama apabila sudah memiliki bobot hidup minimal 275 kg yang dicapai sekitar

umur 15 bulan. Rataan bobot hidup sapi FH pengamatan pada umur 11 – 12 bulan

telah mencapai 295,5 ± 49,3 kg (220,0 – 356,0 kg), sedangkan pada umur 13 – 14

bulan mencapai 301,2 ± 25,1 kg (272,0 – 335,0). Bila diambil pedoman

mengawinkan sapi dara FH dapat dilakukan setelah tercapai bobot hidup 275 kg

(SUDONO et al., 2003), maka kawin pertama sapi FH penelitian sudah bisa

dilakukan lebih awal sekitar umur 11 – 12 bulan. Meskipun demikian penundaan

sampai umur 13 – 14 bulan akan lebih baik karena semua bobot hidup minimal

sudah memenuhi bobot rekomendasi. Pemberian pakan yang baik diperkirakan

menjadi faktor penentu masak kelamin dan kawin pertama dapat dicapai lebih awal

karena tubuh sudah dapat menerima kebuntingan akibat dari pertumbuhan tubuh

dan reproduksi yang baik. Mengingat informasi beranak pertama berkisar antara

24,4 – 30,36 bulan maka perlu dilakukan sosialisasi informasi umur kawin yang

diperbolehkan pada kisaran umur 11 – 14 bulan, sehingga beranak pertama


diperoleh sekitar umur dua tahun.
3.2.2 Seleksi Sapi Dara

Pemilihan bibit dara dianggap penting karena akan menentukan hasil

produksi susu di masa yang akan datang. Seekor sapi perah dara yang akan dijadian

bibit unggul calon induk sebaiknya berasal dari induk dan pejantan yang

menghasilkan produksi susu tinggi. Selain itu, performa atau penampilan sapi perah

dara harus baik, misalnya memiliki kepala dan leher yang sedikit panjang, pundak

tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul

lebar, jarak antara kaki depan dan kaki belakang cukup lebar. Pertumbuhan ambing

dan puting baik, jumlah puting tidak lebih dari 4 buah yang letaknya simetris. Calon

induk unggul ini tentunya memiliki tubuh yang sehat dan tidak cacat.

Memilih sapi perah betina dewasa sebagai bibit, performanya tidak jauh

berbeda dengan pemilihan bibit dara. Sebaiknya, bibit sapi perah betina dewasa ini

sudah pernah beranak, umur sekitar 3,5-4,5 tahun, produksi susu tinggi dan berasal

dari induk dan pejantan yang memiliki kemampuan produksi susu tinggi. Bentuk

tubuhnya seperti baji, mata bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak

kaki depan dan kaki belakang cukup lebar dan kuat. Bentuk ambing pun

mendapatkan perhatian besar. Sebaiknya ambing yang dimiliki cukup besar,

pertautan pada tubuh pun cukup baik. Ambing apabila diraba lunak, kulit halus,

vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari empat

dan simetris, namun tidak telalu pendek. Sebagai bibit unggul, sapi ini harus sehat

dan tidak membawa penyakit menular.


3.2.3 Pengafkiran pada Sapi Perah

Keputusan tentang pengafkiran sapi secara signifikan dapat mempengaruhi

produktivitas susu. Tingkat pemusnahan bervariasi antara kelompok ternak dan

mungkin terkait dengan tingkat penyakit atau program pengendalian penyakit.

Kesuburan, mastitis, dan cedera adalah alasan umum untuk mengafkir sapi.

Pemusnahan merupakan aspek penting dalam mengendalikan penyakit lain seperti

tuberkulosis sapi, brucellosis, paratuberculosis, dan mastitis kronis yang

disebabkan oleh beberapa patogen mastitis menular. Cara untuk memilih sapi untuk
di afkir (Kenyon, 2003):

 Pemotongan sapi dan sapi merupakan strategi yang juga bisa

dipertimbangkan. Tapi pastikan untuk mempertimbangkan implikasi jangka

panjang untuk mengurangi jumlah penggantinya (replacement stock)

pengganti masa yang akan datang. Di satu sisi, pengafkiran sapi laktasi dan

sapi dara sangat mengurangi pakan yang dibutuhkan untuk populasi sapi

tersebut dan memberikan pakan yang tersisa untuk diberikan ke sapi perah

yang akan menghasilkan pendapatan.

 Pertimbangkan risiko bahwa sapi dengan kondisi penyakit yang akan di

afkir. Risiko ini bervariasi dengan kondisinya. Sapi dengan kondisi risiko

tinggi atau sedang adalah calon afkir

Penyebab dilakukan Pengafkiran pada Sapi Perah

Penyebab dilakukannya penafkiran karena disebabkan beberapa faktor diantaranya:

1) Masalah reproduksi

2) Cedera
3) Masalah mastitis

4) Agesif, terkena penyakit dan lainnya

Pada pengafkiran mastitis menjadi masalah besar karena mastitis

menyebabkan susu hasil produksi ternak tersebut tidak bisa di tampung untuk di

jual, mastitis juga bisa berbagai macam yang lebih berbahaya adalah mastitis kronis

yang menyebabkan kerugian besar. Penanganan ternak yang terkena mastitis bisa

dilakukan pengafkiran dengan penggemukan ataupun dengan cara pemotongan


ternak tersebut.

3.2.4 Manajemen Pakan

Antara disapih dan beranak (12 minggu sampai umur 2 tahun) nutrisi sapi

dara sering tidak diperhatikan. Sebaiknya program manajemen pemberian pakan

pada periode ini meliputi 3 fase yang berbeda, yaitu:

1. Sejak disapih (12 minggu) hingga umur 1 tahun.

Selama periode ini, sapi dara diberi makan hijauan free choice dan

butiran/kon-sentrat terbatas. Jumlah dan kandungan protein

dari konsentrat ditentukan oleh kualitas hijauan. Pastura dapat digunakan dengan

baik dalam program pemberian pakan, sepanjang disuplementasi dengan grain

mix, hijauan kering,dan mineral yang mencukupi (dapat diberikan dalam grain

mix atau free choice). Perlu disediakan air bersih dan segar.

Selama periode ini sapi dara jangan overfeeding dan terlalu gemuk. Kondisi yang

berlebihan akan meng-hambat perkembangan jaringan sekretori ambing selama

periode kritis (per-kembangan yang maksimal) antara umur 3-9 bulan dan

menyebabkan produksi susu rendah. Overconditioning setelah umur 15

bulan tidak mempengaruhi jaringan sekretori ambing.


2. Sapi dara, umur 1 tahun – 2 bulan sebelum beranak pada umur 2 tahun.

Bila tersedia hijauan kualitas tinggi, dapat menjadi satu-satunya

bahan pakan untuk sapi dara umur 1 tahun (tanpa konsentrat), dilengkapi

dengan mineral mix yang disediakan free choice (adlibitum). Sapi dara dapat

tumbuh 0,8-0,9 kg/hari. Bila pertumbuhan tidak memuaskan dapat ditambahkan

konsentrat.

3. Dua bulan sebelum beranak – beranak.

Pemberian pakan periode ini dapat mempengaruhi produksi susu selama la

ktasi pertama. Selama 2bulanterakhir kebuntingan sapi dara akan bertambah bobot

badannya sekitar 0,9 kg /hari, sedangkan pada awal kebuntingan 0,8 kg/hari. Sapi

dara yang tumbuh dengan cepat pada waktu beranak, dan secara kontinyu

tumbuh selama laktasi pertama akan menjadi penghasil susu yang lebih

persisten dibandingkan dengan sapi dara yang full-size pada saat beranak.

Jumlah konsentrat yang diberikan sebelum beranak akan dipengarui oleh:

kualitas hijauan, ukuran dan kondisi sapi dara. Sebagai patokan beri konsentrat 1%

dari bobot badan mulai 6 minggu sebelum beranak. Ransum perlu cukup protein,

mineral, dan vitamin. Kelebihan konsumsi garam akan menyebabkan

bengkak ambing, perlu dicegah pada 2 minggu terakhir sebelum beranak.

Sapi dara yang tumbuh dengan baik tidak akan menghadapi problem yang

serius pada waktu beranak.

Namun manajemen nutrisi dapat memudahkan saat beranak dalam 2 hal, yaitu: (1)

ukuran pedet, dan (2) tingkat kegemukan induk. Sapi dara yang gemuk aka

menghadapi insiden distokia yang lebih tinggi karena pembukaan pelvic yang

kecil dan biasanya ukuran pedet yang

lebih besar. Underfeeding atau sapi dara yang


tumbuh jelek membutuhkan lebih banyak asisten saat beranak dan
resiko kematian lebih tinggi.

3.2.5 Manajemen Kesehatan

Manajemen kesehatan pada sapi perah dara sama seperti pemeliharaan

kesehatan pada sapi perah lainnya. Menjaga kebersihan dan sanitasi menjadi hal

yang utama dalam pemeliharaan kesehatan sapi perah dara. Tujuan dari menjaga

kebersihan dan sanitasi ini adalah untuk mencegah lingkungan dari sumber

penyakit agar hewan ternak tidak terserang penyakit. Pencegahan dan pengendalian
penyakit juga harus diperhatikan dengan cara memisahkan hewan ternak yang

sudah terserang penyakit agar penyakit tidak tersebar ke sapi perah dara lainnya.

Pemeliharaan kuku sapi juga dapat mempengaruhi kesehatan sapi perah dara. Jika

kuku sapi perah dara tidak terawatt tentunya dapat menimbulkan beberapa penyakit

kuku seperti penyakit kuku busuk yang sering terjadi pada sapi perah dikarenakan

kuku jarang di bersihkan.

3.3 Sapi Jantan

3.3.1 Pertumbuhan Sapi Jantan

Pertumbuhan merupakan proses pertambahan volume dan jumlah sel yang

mengakibatkan bertambah besarnya organisme. Pertambahan jumlah sel terjadi

karena adanya pembelahan mitosis, dan bersifat irreversiabel artinya organisme

yang tumbuh tidak akan kembali ke bentuk semula. Pertambahan jumlah sel terjadi

karena adanya pembelahan mitosis (Istamar, 2003). Faktor-faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah faktor dari dalam maupun

faktor dari luar. (Salisbury dan Cleon, 2002). Sapi jantan akan tumbuh dan dewasa
kelamin lebih cepat daripada sapi dara. Akibatnya sapi jantan membutuhkan zat

makanan yang lebih banyak, terutama energi dalam bentuk makanan penguat.

Kebutuhan akan zat gizi maskanan per ekor sapi setiap harinya dapat dilihat pada

table kebutuhan sapi yang sedang tumbuh. Jumlah rumput yang dikonsumsi stiap

hari bervarias tergantung dari ukuran berat badan dan umur. Jantan dewasa

sebaiknya diberikan makanan yang sama dengan betina laktasi. Makanan penguat

terus diberikan dalam jumlah yang tergantung dari kualitas hijauan yang

dimakannya agar kondisi tubuh tetap baik dan tidak membentuk lemak tubuh.

Campuran makanan penguat dengan 12 persen protein kasar adalah cukup untuk

sapi jantan apabila diberikan bersama hijauan berkualitas baik.

Sapi jantan yang kegemukan dapat menurunkan nafsu seks, stress, serta

kesalahan urat pada kaki dan pahanya. Kalsium yang berlebihan dalam ransum juga

menyebabkan masalah pada sapi jantan tua. Bila legume diberikan, maka makanan

penguat tidak boleh mengandung suplemen Ca. Sapi jantan tidak mengalami

kehilangan Ca dari tubuhnya seperti sapi betina. Kelebihan Ca mengakibatkan

tulang punggung dan tulang-tulang lainnya bersatu. Karena itu, pejantan harus

diberikan campuran makanan penguat yang berbeda dengan sapi laktasi. Biasanya

bobot hidup sapi jantan lebih besar daripada sapi dara, maka dari itu sapi jantan

butuh asupan makanan dua kali lipat dari sapi dara. Umumnya jantan yang lambat

dewasa atau bahkan steril penyebabnya adalah aktivitas. Jantan memerlukan gerak

latih agar tubuh sehat serta memiliki kaki dan kuku yang baik. Cara terbaik untuk

gerak latih yaitu dengan menyediakan lapangan yang cukup luas sekitar 4 kali 4,5

m setiap pejantan di halaman kandang. Di halaman tersebut berjalan dan

beristirahat pada radius palang berputar tersebut.


3.3.2 Seleksi Sapi Jantan

Seleksi adalah suatu tindakan untuk memilih ternak yang dianggap

mempunyai mutu genetic baik untuk dikembang biakan lebih lanjut serta memilih

ternak yang dianggap kurang baik untuk disingkirkan dan tidak di kembang biakan

lebih lanjut. Yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak melalui

perkawinan mutu genetic ternak. Sapi jantan adalah sapi yang belum dewasa

kelamin dan sapi yang tidak diambil semennya untuk dijadikan bibit unggul

sehingga sapi jantan ini bisa menjadi ternak pengganti (replacement stock) atau bisa

juga di kastrasi yang bertujuan untuk penggemukan dan nantinya sapi jantan ini

akan diperuntukkan untuk dipotong atau di afkir. Seleksi pada sapi jantan ini

dilakukan dengan memilih dilihat dari kondisi fisik, kesehatan, dewasa kelamin,

dewasa tubuh, bobot badan, pertambuhan bobot badan, serta kualitas semen. Jika

kualitas semen kurang baik, maka sapi jantan ini tidak akan dijadikan sapi pejantan

dan akan di kastrasi karena dikhususkan untuk penggemukan dan dipotong.

3.3.3 Pengafkiran Sapi Jantan

Pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi persyaratan

bibit (afkir/culling), dengan ketentuan keturunan jantan yang tidak terpilih sebagai

calon bibit (tidak lolos seleksi) dikeluarkan, dapat dikastrasi dan dijadikan sapi

potong. Tidak semua sapi jantan yang dipelihara dapat menjadi jantan pemacek

sehingga beberapa sapi jantan umur 1 sampai 2 tahun terpaksa dikebiri untuk

dijadikan sapi potong yang disebut dengan steer. Bila sapi jantan dewasa (lebih dari

dua tahun) dikebiri untuk dijadikan sapi potong yang disebut stag. Dua istilah lain

yang perlu diketahui adalah bull dan sire. Bull yaitu sapi jantan dewasa sedangkan

sire adalah jantan pemacek. Setengah dari pedet yang dilahirkan diperkirakan

jantan. Hanya sejumlah kecil saja dari pedet jantan ini digunakan sebagai pejantan.
Beberapa peternak memelihara sapi perah untuk menghasilkan veal. Untuk

memproduksi veal ini pedet FH pertumbuhannya lebih cepat dan memberikan

keuntungan. Pedet yang tidak terpilih sebagai pemacek ditangani beberapa cara.

Ada yang dijual untuk disembelih pada umur beberapa hari yang disebut deacon

calves atau bob veal atau veal calves. Selain itu ada juga yang tetap dipelihara untuk

kemudian dijual sebagai feeder calves atau ditingkatkan menjadi dairy beef. Bull

tumbuh lebih cepat dan efisien disbanding steers atau dara. Namun, dengan

bertambahnya umur makin sukar menanganinya bahkan dapat menyerang

pemeliharanya. Karena itu kebanyakan pedet jantan dikastrasi bila vase veal telah

dilalui.
3.4 Sapi Pejantan

3.4.1 Manajemen Sapi Perah Pejantan

Sapi jantan yang digunakan sebagai pemacek harus memiliki libido dan

kualitas semen yang baik serta karakteristik morfologis yng unggul dibanding sapi

jantan di lingkungan sekitarnya. Untuk dapat memperoleh bibit perlu dilakukan


seleksi atau pemilihan sapi-sapi jantan dengan kriteria sebagai berikut :

a. Kriteria Umum

1. Kepala panjang, dahi lebar

2. Moncong pendek

3. Badan tinggi

4. Dada dalam

5. Kulit tipis

6. Kaki & kuku kuat

7. Punggung lurus
8. Pinggul tidak terlalu turun

9. Kondisi tubuh tidak terlalu kurus

b. Kriteria Khusus

1. Sapi jantan berasal dari luar wilayah pelayanan pejantan alami

2. Umur pejantan minimal 2,5 tahun (bergigi seri tetap 1-2 pasang/I1-I3)

3. Memiliki bobot badan awal > 300 kg dan tinggi gumba > 140 cm

4. Ternak sehat dan bebas penyakit reproduksi (Brucellosis, Leptospirosis,

Enzootic Bovine Leucosis dan Infectious Bovine Rhinotracheitis)

5. Warna bulu sesuai dengan bangsa sapi (PO/Brahman warna putih, Bali

merah dengan garis hitam dipunggung dan putih di mata kaki dan pantat,

Madura kecoklatan, Simmental merah dengan warna putih di kepala,

Limousin warna merah dan Angus warna hitam)

c. Ciri-Ciri Sapi Sehat

1. Aktif dan respon terhadap perubahan situasi di sekitarnya.

2. Kondisi tubuhnya seimbang, tidak sempoyongan/pincang, langkah kaki

mantap dan teratur, dapat bertumpu dengan empat kaki serta punggung rata.

3. Mata bersinar, sudut mata bersih, tidak kotor dan tidak ada perubahan pada

selaput lendir/kornea mata.

4. Kulit/bulu halus mengkilat, tidak kusam dan pertumbuhannya rata.

5. Frekuensi nafas teratur (20-30 kali/menit), halus dan tidak tersengal-sengal.

6. Denyut nadi frekuensinya 50-60 kali/menit, irama teratur dan nada tetap.
7. Hasil pemeriksaan umum yang meliputi : postur tubuh, mata, alat

reproduksi dan kualitas serta kuantitas sperma menunjukkan hasil yang

baik.

8. Telah dilakukan vaksinasi sesuai rekomendasi dinas peternakan : IBR, PI3,

BVD, Leptospirosis, Vibriosis, Clostridium (Blackleg), dan lain-lain.

9. Telah dilakukan pemberian vitamin dan obat cacing serta kontrol terhadap

parasit luar.

10. Kontrol terhadap parasit luar

Dalam pemeliharaan sapi pejantan (pemacek) faktor pakan menjadi kunci

utama untuk menghasilkan performans yang optimal disamping kebutuhan

terhadap kenyamanan lingkungan hidup. Penggunaan pakan (ransum) seimbang

akan memberikan pertumbuhan yang baik dan kesehatan ternak terjamin. Dengan

demikian, pemberian pakan sesuai kebutuhan ternak bertujuan untuk memenuhi


kebutuhan hidup pokok (maintenance) dan berproduksi (meningkatkan libido).

3.4.2 Handling

a. Pengertian Handling

Handling adalah suatu cara atau teknik menangani ternak. Handling

diperlukan untuk mempermudah penanganan ternak, baik di lapangan maupun di

dalam kandang, menghindarkan kerugian yang disebabkan oleh ternak, menjamin

keamanan ternak itu sendiri, mempermudah penanganan sehari – hari, seperti

pemotongan kuku, ekor, tanduk, dan lain - lain. Pengetahuan yang berkaitan denga

penanganan ternak (handling) yaitu menggunakan tali atau tambang, cara mengikat

juga perlu diketahui dengan baik. Hal – hal yang perlu diperhatikan saat

melakukan handling ternak adalah mengusahakan datang dari arah depan ternak
secara perlahan –lahan sehingga ternak mengetahui kedatangan kita dan tidak
terkejut, memperlakukan ternak secara halus agar ternak tidak merasa terkejut.

Jenis – jenis Handling :

1. Pemotongan Kuku (Hooves Trimming)

Kuku tidak terpelihara akan sangat mengganggu karena dapat

mengakibatkan kedudukan tulang teracak menjadi salah, sehingga titik berat badan

jatuh pada teracak bagian belakang, bentuk punggung menjadi seperti busur, mudah
terjangkit penyakit kuku, dan mengakibatkan kepincangan pada ternak

Kuku yang tumbuh panjang dapat menghambat aktivitas ternak, seperti naik

turun kandang, berjalan untuk mendapatkan makanan dan minum, atau berdiri

dengan baik sewaktu melakukan perkawinan. Di samping itu menyebabkan ternak

sulit berjalan dan timpang, sehingga mudah terjatuh dan mengalami cedera. Kalau

ternak itu sedang mengalami kebuntingan, maka dapat mengakibatkan keguguran.

Upaya untuk menjaga agar kedudukan kuku tetap serasi, maka setiap 3-4 bulan

sekali dianjurkan untuk melakukan pemotongan kuku secara teratur, terutama kuku

kaki bagian belakang. Sebab kuku kaki depan lebih keras dibandingkan bagian

belakang yang selalu basah terkena air kencing dan kotoran. Tetapi dari segi

kecepatan pertumbuhan, kuku kaki belakang maupun kaki depan memiliki

kecepatan tumbuh yang sama, sehingga baik kuku belakang maupun kuku kaki
depan perlu dilakukan pemotongan secara teratur.

Tujuan pemotongan kuku adalah untuk menanggulangi masalah penyakit

kuku dan menjaga keseimbangan gerak ternak pada saat berdiri, istirahat, efisiensi

penggunaan ransum, dan produktivitas ternak. Pemotongan kuku dapat dilakukan


dengan cara merebahkan ternak terlebih dahulu atau dapat pula tanpa merebahkan.

Pemotongan kuku tanpa merebahkan ternak biasanya kurang memuaskan. Sebab

tidak semua bagian kuku yang hendak dipotong dapat terpotong dengan baik dan
akan sulit mengerjakannya jika kurang terampil.

2. Pemotongan Tanduk ( Dehorning )

Dehorning adalah penghilangan atau pemotongan tanduk. Bangsa sapi

perah kebanyakan dipotong tanduknya Karena tanda tidak menguntungkan

peternak sapi perah, meskipun peternak ingin mempertahankan pada anak sapi
jantan yang dipelihara untuk kerja atau untuk sapi dara atau dua atau tiga kegunaan.

Pemotongan tanduk paling baik dilaksanakan dengan membakar pucuk tanduk

ketika anak sapi berumur satu atau dua minggu, bisa juga dengan menggosok pucuk

tanduk dengan tongkat soda api (cautik) sampai hampir berdarah dengan

menggunakan collodion atau dengan menggunakan silinder yang panas ditekankan


untuk satu atau dua menit disekitar cincin kuncup tanduk (Williamson,1993).

Dalam penggunaan tongkat soda api, perawatan harus dilakukan

sedemikian rupa supaya anak sapi tidak membawa soda api kepada induk sapi pada

waktu menyusu sehingga soda api tersebut tidak menyebar dari tempat pelaksanaan

terutama kedalam mata. Ini mungkin terjadi bila anak sapi terkena air hujan setelah

penggunaan tongkat soda api (Williamson,1993). Pemotongan tanduk dengan arus

listrik dapat juga digunakan pada sapi muda. Suatu cincin baja yang dipanaskan

dengan listrik ditekankan pada dasar tanduk sehingga membakar jaringan

disekitarnya dan menahan pertumbuhan tanduk. Mereka yang berpengalaman

apabila melakukan cara ini hanya mematikan sebagian saja dari dasar tanduk itu
dan kemudian tanduk masih tumbuh dalam wujud deformasi yang disebut scur
(Blakely,1991).

Sapi yang lebih tua pemotongan tanduknya harus dengan gergaji atau

dengan alat pemotongan Barnes. Cara ini akan menyebabkan timbulnya pendarahan

(Blakely,1991).Sebenarnya banyak cara yang dipraktekkan untuk pemotongan

tanduk sapi. Suatu cara yang akan dipakai sangat tergantung pada umur sapi yang

akan dihilangkan tanduknya serta pengalaman yang dipunyai oleh mereka yang

akan melaksanakan pekerjaan itu. Sapi muda sering dihilangkan tanduknya dengan

menggunakan pasta kimia yang keras (Kalium atau Hidrokside), pasta kimia

tersebut dioleskan diseputar pangkal tanduk ketika anak sapi berumur kurang dari

satu minggu, sehingga mematikan pertumbuhan dan perkembangan tanduk tersebut


(Blakely,1991).

3.4.3 Pemberian Pakan

Sapi jantan akan tumbuh dan dewasa kelamin lebih cepat daripada sapi dara.

Akibatnya sapi jantan membutuhkan zat makanan yang lebih banyak, terutama

energi dalam bentuk makanan penguat. Kebutuhan akan zat gizi maskanan per ekor

sapi setiap harinya dapat dilihat pada table kebutuhan sapi yang sedang tumbuh.

Jumlah rumput yang dikonsumsi stiap hari bervarias tergantung dari ukuranberat

badan dan umur. Pejantan dewasa sebaiknya diberikan makanan yang sama dengan

betina laktasi. Makanan penguat terus diberikan dalam jumlah yang tergantung dari

kualitas hiajauan yang dimakannya agar kondisi tubuh tetap baik dantidak

membentuk lemak tubuh. Campuran makanan penguat dengan 12 persen protein

kasar adalah cukup untuk sapi pejantan apabila diberikan bersama hijauan

berkualitas baik.
Sapi jantan yang kegemukan dapat menurunkan nafsu seks, stress, serta

kesalahan urat pada kaki dan pahanya. Kalsium yang berlebihan dalam ransom juga

menyebabkan masalah pada sapi jantan tua. Bila legume diberikan, maka makanan

penguat tidak boleh mengandung suplemen Ca. Sapi jantan tidak mengalami

kehilangan Ca dari tubuhnya seperti sapi betina. Kelebihan Ca mengakibatkan

tulang punggung dan tulang-tulang lainnya bersatu. Karena itu, pejantan harus

diberikan campuran makanan penguat yang berbeda dengan sapi laktasi.

a. Formulasi Pakan

Ransum yang baik untuk sapi pejantan agar mencapai performans yang

maksimal haruslah terdiri atas sejumlah hijauan dan konsentrat.Hijauan diberikan

minimal 10% dari berat badan ternak, sedangkan konsentrat 1-2% dari berat badan

ternak. Untuk pejantan pemacek di peternakan rakyat, pemberian konsentrat

sebanyak 1% dari berat badan ternak. Sebagai contoh, untuk pejantan yang

mempunyai bobot badan 400 kg diberi rumput segar sebanyak 40 kg dan konsentrat

sebanyak 4-8 kg.

Hijauan dapat berupa :

 Rumput unggul atau rumput kultur, seperti : rumput gajah, rumput raja,

rumput setaria, Brachiaria brizantha, Pannicum maximum, dan lain-lain.

 Rumput lapangan, contohnya : rumput hutan atau rumput alam.

 Leguminosa, antara lain berupa lamtoro, gamal, kaliandra, siratro, dan lain-

lain

 Limbah pertanian, antara lain seperti jerami padi, daun jagung, daun ubi kayu,

daun ubi jalar, pucuk tebu, dan lain-lain (Siregar, 2002).

Pakan konsentrat (pakan penguat) adalah pakan tambahan yang

berkonsentrasi tinggi dengan kadar serat kasar yang relatif rendah dan mudah
dicerna. Konsentrat dapat berupa pakan komersil atau pakan yang disusun dari

bahan pakan yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, bulgur, hasil

ikutan pertanian atau pabrik (seperti : dedak, bekatul, bungkil kelapa, tetes dan

berbagai umbi-umbian).

Sebelum memformulasikan ransum, kemampuan sapi untuk mengonsumsi

ransum perlu diketahui terlebih dahulu. Hal ini karena ternak sapi memiliki

keterbatasan dalam mengonsumsi ransum yang dipengaruhi oleh banyak faktor,

diantaranya : faktor ternak itu sendiri, keadaan ransum dan faktor luar (seperti suhu
udara yang tinggi dan kelembaban yang rendah).

b. Komposisi Pakan

Komposisi pakan adalah persentase dari beberapa jenis bahan pakan

penyusun ransum yang diberikan pada seekor ternak sapi guna memenuhi

kebutuhannya baik untuk hidup pokok maupun produksi. Pemberian pakan dibatasi

berdasarkan konsumsi bahan kering (BK) ransum yaitu sebanyak 3% dari bobot

badan. Perlu diketahui bahwa hijauan atau rumput-rumputan yang tumbuh di daerah

tropis seperti Indonesia relatif cepat tumbuh tetapi kandungan gizinya relatif

rendah. Oleh karena itu, sapi pejantan yang hanya diberi pakan berupa hijauan saja

tanpa adanya penambahan pakan lain berupa konsentrat tidak mungkin memiliki

performans reproduksi yang tinggi.

Apabila hijauan yang diberikan berkualitas rendah; seperti jerami padi, daun

pucuk tebu dan limbah pertanian lainnya maka perbandingan antara hijauan dan

konsentrat (dalam bentuk bahan kering) adalah 45 : 55. Sedangkan apabila hijauan

yang diberikan berkualitas menengah sampai tinggi; seperti rumput gajah, rumput
raja, rumput setaria dan leguminosa, maka perbandingan hijauan dan konsentrat
(dalam bentuk bahan kering) adalah 60 : 40 (Sugeng, 2002).

c. Kandungan Nutrisi Pakan

1. Bahan kering (BK)

Setiap bahan pakan ternak terdiri dari dua bagian utama penyusunnya yaitu

air dan bahan kering. BK terdiri atas beberapa bahan organik seperti karbohidrat,

lipida, protein, vitamin dan abu. Oleh karena itu, pemberian bahan pakan pada

ternak sapi pada umumnya diperhitungkan berdasarkan kandungan bahan kering

dari bahan pakan tersebut.

2. Protein kasar (PK)

Sapi membutuhkan protein untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang

rusak serta untuk produksi. Apabila di dalam pakan tidak terdapat cukup protein,

maka sapi tidak dapat membuat dan memelihara jaringan tubuh, akibatnya

pertumbuhan terganggu. Protein bisa diperoleh dari bahan-bahan pakan yang

berasal dari tumbuh-tumbuhan berupa hijauan legum seperti daun turi (Sesbania

grandiflora), dan daun lamtoro (Leucaena glauca). Disamping itu, bahan pakan

sumber protein lainnya dapat berupa biji-bijian seperti bungkil kedelai dan bungkil

kacang tanah.

3. Serat kasar (SK)

Serat kasar merupakan hidrat arang yang tidak dapat larut. Bahan ini hanya

berfungsi sebagai bulk (pengenyang) yang bisa merangsang proses pencernaan agar

dapat berlangsung dengan baik. Beberapa bahan pakan sumber serat dapat berupa

hijauan (rumput) baik dalam bentuk segar maupun kering maupun limbah

pertanian; seperti rumput alam, rumput kumpai, jerami padi, dan lain-lain.

4. Lemak kasar (LK)


Lemak di dalam tubuh ternak diperlukan sebagai sumber energi dan pembawa

vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak (seperti vitamin A, D, E dan K). Lemak

tubuh dibentuk dari karbohidrat, lemak pakan dan protein yang tidak langsung

digunakan oleh tubuh ternak. Sapi bisa memperoleh lemak dari tiga sumber; yakni

lemak itu sendiri, protein dan hidrat arang dari bahan pakan.

5. Air

Tubuh ternak terdiri dari 70-80% air, oleh karena itu air merupakan bahan

utama yang tidak dapat diabaikan. Apabila ternak sapi mengalami kekurangan air

sampai 20% di dalam tubuhnya, maka akan menimbulkan kematian. Di dalam

tubuh ternak, air memiliki banyak fungsi; diantaranya mengatur suhu tubuh,

membantu proses pencernaan, mengangkut zat-zat pakan dan mengeluarkan bahan-

bahan yang tidak berguna. Kebutuhan air pada ternak sapi dapat terpenuhi melalui

tiga sumber; yaitu air minum, air yang terkandung di dalam pakan dan air yang

berasal dari proses metabolisme zat pakan dalam tubuh. Sebagai pedoman, sapi

membutuhkan air 3-6 liter per 1 kg pakan kering. Dengan demikian untuk menjaga

agar kebutuhan air dalam tubuh ternak tetap terpenuhi sepanjang waktu, maka air

diberikan secara ad-libitum.

6. Mineral

Sapi memerlukan mineral untuk membentuk jaringan tulang dan urat,

memproduksi dan mengganti mineral dalam tubuh yang hilang dan memelihara

kesehatan. Mineral banyak terdapat dalam tulang dan hanya sedikit di dalam

jaringan tubuh. Akan tetapi mineral yang sedikit jumlahnya ini sangat penting

artinya bagi daya hidup ternak karena akan mempermudah proses pencernaan,

penyerapan zat-zat makanan, proses metabolisme dan pembuangan zat-zat yang

tidak dibutuhkan tubuh sapi.


Beberapa unsur penting mineral yang diperlukan tubuh ternak adalah Na,

Cl, Ca, P, S, Fe, K, Mg, I, Cu, Co, Zn dan Se. Pada umumnya unsur-unsur ini

banyak terdapat di dalam ransum pakan. Namun seringkali perlu ditambahkan

unsur mineral terutama garam dapur (NaCl), Ca dan P. Bahan pakan yang berasal

dari padi-padian banyak mengandung unsur P, sedangkan pakan kasar banyak

mengandung Ca. Bahan hijauan banyak mengandung mineral. Sebagai tanda bahwa

seekor ternak sapi kekurangan mineral adalah ternak suka memakan tanah.

7. Vitamin

Beberapa jenis vitamin dibutuhkan oleh seekor ternak sapi untuk mempertahankan

kekuatan tubuh dan kesehatan. Meskipun demikian, terjadinya kekurangan vitamin

pada tubuh sapi tidak perlu dikhawatirkan karena biasanya cukup tersedia di dalam

pakan. Beberapa vitamin penting bagi ternak sapi diantaranya adalah vitamin A, B

dan D.

d. Pakan Suplemen ( Jamu )

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya efisiensi reproduksi

adalah penurunan kualitas pejantan. Pada beberapa kasus sapi pejantan yang

digunakan untuk sumber bibit semen beku, cair maupun pejantan kawin alami

mengalami permasalahan seperti memiliki kualitas semen dan libido rendah. Oleh

karena itu diupayakan cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya

yaitu dengan melakukan suplementasi. Suplementasi dapat berasal dari bahan-

bahan tradisional yang mudah diperoleh dan dapat berkhasiat meningkatkan libido

dan kualitas semen baik berupa jamu maupun bahan lainnya. Bahan-bahan tersebut

diantaranya temu kunci (Boesenbergia pandurata). Temu kunci termasuk golongan

zingebereceae yang berguna sebagai berbagai obat, bahkan merupakan bahan baku

obat alami yang dapat dikemas dalam bentuk jamu dan diolah sebagai obat
moderen alami fito farmasi (Raharjo, 2001). Temu kunci mengandung minyak atsiri

(borneol, kamfer, sineol, ethil-alkohol), pati, saponin dan favonoid (Anonimus,

2007a). Temu kunci biasanya digunakan sebagai obat untuk melancarkan perjalanan

darah dan untuk stamina. Selain itu temu kunci juga mengandung pinostrobin dan

pinocembrin sebagai isolate anti kanker, berfungsi sebagai anti oksidan.

Selain temu kunci, terdapat juga kapulaga (Amomum cardamomum) yang

digunakan sebagai afrodisiaka yaitu berguna untuk merangsang libido. Kapulaga

mengandung senyawa turunan saponin, alkaloid, tanin dan senyawa lain.

Berdasarkan penelitian, tumbuhan afrosidiak mengandung senyawa turunan

saponin, alkaloid, tanin dan senyawa lainnya yang secara fisiologis dapat

melancarkan peredaran darah pada sistem darah pusat atau sirkulasi darah tepi.

Efeknya dapat meningkatkan sirkulasi darah pada alat kelamin . Bahan-bahan obat

tradisional tersebut biasanya tumbuh liar atau terdapat di pekarangan (Sudiarto et

al., 2001). Beberapa pakan suplemen yang dapat diberikan pada sapi pejantan

berdasarkan khasiatnya disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa Pakan Suplemen pada Sapi Jantan

Dosis
No Kegunaan/Khasiat Nama Bahan
Pemberian

 Temu kunci (Boesenbergia 100 gr

pandurata) 35 gr
1 Jamu/obat
 Kapulaga (Amomum cardamomum) 250 ml

 Madu

 Madu 250 ml
2 Penambah Stamina
 Telur ayam kampung 15 butir
Meningkatkan

kesuburan
3  Vitamin E 2.000 IU
dan mempertahankan

kesehatan tubuh

3.4.4 Xersise dan Pengaturan Perkawinan

Pejantan di kandang individu, perlu dilakukan exercise minimal 1-2 kali

dalam seminggu dengan cara dilepas secara terikat di luar kandang terbuka sekitar

3-4 jam. Pemeliharaan pejantan secara intensif, satu pejantan dapat mengawini
sebanyak 30-50 ekor betina. Pejantan yang dipelihara dalam kandang kelompok

kawin , pola perkawinannya dirotasi setiap 6 bulan. Untuk menghindari perkawinan


keluarga (inbreeding), setelah 2 tahun pejantan dirotasi ke wilayah lain.

3.4.5 Perkandangan

Kandang merupakan salah satu sarana yang penting dalam pemeliharaan

pejantan sapi potong. Kandang diupayakan untuk melindungi sapi terhadap

gangguan luar yang merugikan; baik terhadap sengatan matahari, kedinginan,

kehujanan dan tiupan angin yang kencang. Disamping itu, fungsi kandang juga

dapat memudahkan system pengelolaan seperti perawatan kesehatan, pemberian

pakan dan penanganan kotoran (feses dan urine). Kandang yang digunakan adalah

kandang individu yang dilengkapi dengan palungan (pada sisi depan) dan saluran

pembuangan kotoran pada sisi belakang. Konstruksi kandang pejantan harus kuat

serta mampu menahan benturan dan dorongan juga memberikan kenyamanan dan

keleluasaan bagi ternak. Ukuran kandang pejantan adalah panjang (sisi samping)

275 cm dan lebar (sisi depan) 200 cm.


Disamping kandang individu, seekor sapi pejantan juga membutuhkan

kandang paksa atau kandang jepit (Gambar 6) yang digunakan untuk melakukan

perkawinan (IB + kawin alam) dan menampung sperma serta perawatan kesehatan

(seperti potong kuku dan lain sebagainya). Bangunan kandang biasanya terbuat dari

bahan pipa besi agar konstruksinya kuat dan mampu menahan gerakan sapi. Ukuran

kandang paksa yaitu panjang 110 cm dan lebar 70 cm dan tinggi 110 cm. Pada

bagian sisi depan kandang dibuat palang untuk menjepit leher ternak (Rasyid dan
Hartati, 2007).

3.4.6 Perawatan Rutin dan Kesehatan

Kesehatan ternak merupakan aspek yang sangat penting dalam keberhasilan

budidaya sapi perah karena ternak mampu berproduksi dengan optimal jika dalam

kondisi sehat (Mekonnen et al., 2006). Aspek kesehatan hewan terdiri atas 3

komponen utama yaitu pengetahuan mengenai penyakit, pencegahan penyakit dan

pengobatan penyakit.

 Memandikan/menggosok dan memotong kuku pejantan secara rutin

 Pencegahan obat cacing secara periodik minimal 3 bulan sekali

 Melakukan sterilisasi kandang setiap pergantian sapi

 Pemeriksaan sampel darah secara rutin setiap tahun untuk kontrol penyakit

 Melakukan karantina minimal dua minggu untuk sapi baru

 Pemberian vitamin dan mineral untuk mempertahankan kondisi tubuh


IV

KESIMPULAN

1. Manajemen pemeliharaan pada pedet yaitu termasuk manajemen pakan,

perkandangan, dan juga manajemen kesehatan, dimana pada pedet harus

sangat diperhatikan pada manajemen pakan agar terpenuhi kebutuhan

nutrisinya

2. Manajemen pemeliharaan pada sapi dara harus diperhatikan pada seleksi,

pakan yang diberikan, dan juga pengafkirannya.

3. Manajemen pemeliharaan pada sapi jantan yaitu harus diiperhatikan pada

manajemen pakan agar pertumbuhan sapi jantan baik untu sebagai penerus.

4. Manajemen pemeliharaan pada sapi pejantan sama dengan sapi sapi lainnya,

yaitu manajemen pakan harus baik, lalu proses seleksi dilakukan dengan

baik agar menjadi bibit dalam menurunkan genetik yang sangat berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z., 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Yogyakarta.

Achmad Firman, (2010) Agribisnis Sapi perah. Bandung : Penerbit Widya


Padjadjaran

Aksi Agraris kanisius. 1985. beternak sapi perah. Cetakan keenam. Penerbit
kanisius. Yogyakarta. 49 – 50.

Anggina Sari Almi. 2011. PPKH Jenis dan Tata Cara Pemeliharaan Sapi Perah.
Semarang: Dina Utama

ANGGRAENI, A. 2006. Productivity of HolsteinFriesian dairy cattle maintained


under two system in Central Java, Indonesia. Desertasi. University of
Newcastle, United Kingdom.

Atmadilaga, D. 1976. Politik Peternakan Indonesia. Biro Penelitian dan Afiliasi,


Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran. Bandung.

Blakely, J and D.H.Bade. 1991. Ilmu peternakan(terjemahan). Edisi ke -4. Gadjah


Mada University Press; Yogyakarta

Blakely, J dan Bade, D. H. 1995. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University


Press. Yogyakarta.

Istamar. 2003.Biologi. Jakarta. Erlangga.

Kemal, S. E. dan Harianto, B. 2011. Beternak dan Bisnis Sapi Perah. PT


AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Kenyon S. 2003. Culling Dairy Cows: An Opportunity for Improvement When Feed
Supplies Are Tight.Animal science and veterinary clinical science

Makin, M. 2011. Tatalaksana Peternakan Sapi Perah. Graha Ilmu, Yogyakarta.

McDonald, P., R.A. Edwards, & J.F.D. Greenhalgh. 1973. Animal Nutrition. 2rd
Ed. Longman, London

Mekonnen, M.H., Asmamaw, K., Courreau, J.F., 2006. Husbandry practices and
health in smallholder dairy farms near Addis Ababa, Ethiopia. Prev Vet
Med. 74(2):99-107.
Muliayana, W. 1982. Pemeliharaan dan Kegunaan Ternak Sapi Perah. Aneka Ilmu,
Semarang

Noor, R. 2004. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.

Prihatno, A. 2006. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. PT. Agromedia Pustaka,
Jakarta.

Rasyid, A dan Hartati. 2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Loka Penelitian Sapi Potong,
Grati, Pasuruan.

Risman Ismail. 2011. Manajemen Pemberian Pakan Sapi Perah. Makasar: Jurusan
Biologi FMIPA UNM

SALISBURY, G.W. dan N.L. VANDEMARK. 1985. Fisiologi Reproduksi dan


Inseminasi Buatan pada Sapi. Diterjemahkan R. Djanuar. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Salisbury, Frank B, dan Cleon. 2002. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Institut Teknologi
Bandung, Bandung.

Santosa, B. A. 2004. Buku Petunjuk Praktikum Produksi Ternak


Perah. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.

Santosa, U. 2010. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Cetakan I. Penebar


Swadaya, Jakarta.

Santoso, 1999. Kesehatan dan Gizi. Jakarta: PT.Rineka Cipta

Santosa, U. 1995. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

SEJRSEN, K. and S. PURUP. 1997. Influence of prepubertal feeding level on milk


yield potential of dairy heifers: A Review. J. Dairy Sci. 75: 828 – 835.

Siregar, S. B. 2003. Sapi Perah, Jenis, Teknik, Pemeliharaan dan Analisis Usaha.
PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, S. B. 2002. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta

Sudiarto, Hobir, M. Rahardjo, S.M.D. Rosita dan H. Nurhayati. 2001. Dukungan


teknologi budi daya untuk mendukung pengembangan industri obat
tradisional. Lokakarya Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Hayati
Mendukung Agribisnis Tanaman Obat. Deptan, 13-14 Nopember 2001. 21
hlm

Sudono, A., F. Rosdiana dan S. Budi 2003. Beternak Sapi Perah. PT. Agromedia
Pustaka, Jakarta.

Sudono, A. 1983. pedoman Beternak Sapi Perah. Direktorat Bina Produksi


Peternak, Departemen Pertanian. Jakarta. 33 – 34.

Sugeng, Y.B. 2002. Sapi Potong ±Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek


Bisnis dan Analisis Penggemukan ± Cetakan ke-X. Penerbit Penebar
Swadaya. Jakarta.

Syarif, E. K dan Harianto, B. 2011. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah.
Agromedia Pustaka, Jakarta.

Tatal. 1982. Peternakan di Daerah Tropis Arti Ekonomi dan Kemampuannya.


Gramedia. Jakarta.

Williamson G., dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.


Edisi 3. Terjemahan: SGN D. Darmadja, dan I. B. Djagra. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.

Yulianto, P dan C. Saparinto. 2010. Pembesaran Sapi Potong Secara Intensif.


Penebar Swadaya. Jakarta