Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Bismallahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullah hiwabarakatuh.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT.atas segala limpahan rahmat, nikmat
dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Kebidanan Komunitas
ini. Makalah ini kami buat untuk mendapatkan nilai mata kuliah Asuhan Kebidanan Komunitas.

Dalam hal ini tak luput kami ucapkan terima kasih kepada Dosen bidang studi Asuhan
Kebidanan Komunitas yang telah membimbing kami, sehingga dapat menyelesaikan makalah
ini dengan sebaik mungkin, dan kami juga mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam makalah
ini. Demikianlah, makalah ini semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Terima
kasih.Wassalam mu’alaikum warahmatullah hiwabarakatuh.

Tasikmalaya, Maret 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1

A. Latar belakang..................................................................................... 1

B. Rumusan masalah.............................................................................. 1

C. Tujuan................................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………....… 2

A. Pengertian kanker serviks................................................................. 2

B. Gejala kanker serviks.......................................................................... 2

C. Penyebab kanker serviks................................................................... 2

D. Faktor resiko.................................................................................... 3

E. Doagnosis ....................................................................................... 4

F. Pengobatan .................................................................................... 4

G. Pemeriksaan penunjang............................................................... 6

BAB III PENUTUP...................................................................................................... 12

A. Kesimpulan.......................................................................................... 12

B. Saran..................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7%
disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim.Di
Indonesia hanya 5 persen yang melakukan Penapisan Kanker Leher Rahim, sehingga 76,6 persen
pasien ketika terdeteksi sudah memasuki Stadium Lanjut (IIIB ke atas), karena Kanker Leher
Rahim biasanya tanpa gejala apapun pada stadium awalnya. Penapisan dapat dilakukan dengan
melakukan tes Pap smear dan juga Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA).
Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi
insiden kanker leher rahim yang invasif sebesar 50% atau lebih.Kebanyakan penelitian
menemukan bahwa infeksi human papillomavirus (HPV) bertanggung jawab untuk semua kasus
kanker leher rahim. Perawatan termasuk operasi pada stadium awal, dan kemoterapi dan/atau
radioterapi pada stadium akhir penyakit.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu kanker serviks?
2. Bagaimana gejala kanker serviks?
3. Apa saja penyebab kanker serviks?
4. Bagaimana factor resiko dan diagnosis kanker serviks ?
5. Bagaimana pengobatan kanker serviks?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang kanker serviks?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada pasien Kanker serviks?
C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:
1. Untuk mengetahui kanker serviks.
2. Untuk mengetahui gejala dan penyebab kanker serviks.
3. Untuk mengetahui factor resiko dan diagnosis kanker serviks .
4. Untuk mengetahui pengobatan kanker serviks.
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang kanker serviks.
6. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Pasien Kanker serviks.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Kanker serviks merupakan kanker ganas yang terbentuk dalam jaringan serviks (organ yang
menghubungkan uterus dengan vagina).Ada beberapa tipe kanker serviks. Tipe yang paling
umum dikenal adalah squamous cell carcinoma (SCC), yang merupakan 80 hingga 85 persen
dari seluruh jenis kanker serviks. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) merupakan salah satu
faktor utama tumbuhnya kanker jenis ini.
Tipe-tipe lain kanker serviks seperti adenocarcinoma, small cell carcinoma, adenosquamous,
adenosarcoma, melanoma dan lymphoma, merupakan tipe kanker serviks yang langka yang tidak
terkait dengan HPV.Beberapa tipe kanker yang telah disebutkan, tidak dapat ditanggulangi
seperti SCC.
B. GEJALA
Kanker serviks tahap dini tidak menunjukkan gejala.Segera temui dokter bila Anda
mengalami gejala-gejala kanker serviks sebagai berikut:
1. Pendarahan vagina
2. Sakit punggung
3. Sakit saat buang air kecil dan air seni keruh
4. Konstipasi kronis dan perasaan kembung walaupun perut dalam keadaan kosong.
5. Rasa nyeri saat berhubungan seks dan keputihan
6. Salah satu kaki membengkak
7. Kebocoran urin atau feses dari vagina

C. PENYEBAB
Terinfeksi Human Papilloma Virus (HPV) merupakan sebab paling umum atau faktor utama
terjadinya kanker serviks.Virus-virus ini ditularkan melalui hubungan seksual, baik oral maupun
anal.Setiap wanita yang aktif secara seksual memiliki resiko terkena kanker serviks.Akan tetapi
wanita dengan partner seks lebih dari satu memiliki resiko yang lebih besar.Wanita yang
melakukan hubungan seks tanpa pelindung sebelum umur 16 tahun memiliki tingkat resiko
tertinggi. Beberapa vaksinasi telah dikembangkan dan secara efektif membunuh HPV yang
menjadi penyebab dari 70 hingga 85 persen kanker serviks. Vaksin HPV ditujukan untuk anak
perempuan dan wanita dewasa dari usia 9 hingga 26 tahun karena vaksin hanya dapat bekerja
sebelum infeksi terjadi. Akan tetapi, vaksinasi masih dapat dilakukan pada wanita yang belum
aktif secara seksual pada usia dewasa. Mahalnya harga vaksin ini menjadi penyebab
kekhawatiran. Akan tetapi, karena vaksin in hanya ditujukan untuk beberapa tipe kanker beresiko
tinggi, wanita tetap harus melakukan Pap Smear, bahkan setelah vaksinasi.
D. FAKTOR RESIKO

1. Faktor Alamiah
Faktor alamiah adalah faktor-faktor yang secara alami terjadi pada seseorang dan memang kita
tidak berdaya untuk mencegahnya. Yang termasuk dalam faktor alamiah pencetus kanker serviks
adalah usia diatas 40 tahun. Semakin tua seorang wanita maka makin tinggi risikonya terkena
kanker serviks.Tetapi hal ini tidak hanya sekedar orang yang sudah berumur saja, yang berusia
muda pun bisa terkena kanker serviks. Tentu kita tidak bisa mencegah terjadinya proses penuaan.
Akan tetapi kita bisa melakukan upaya-upaya lainnya untuk mencegah meningkatnya risiko
kanker serviks.Tidak seperti kanker pada umumnya, faktor genetik tidak terlalu berperan dalam
terjadinya kanker serviks.Ini tidak berarti Anda yang memiliki keluarga bebas kanker serviks
dapat merasa aman dari ancaman kanker serviks.Anda dianjurkan tetap melindungi diri Anda
terhadap kanker serviks.
2. Faktor Kebersihan
Keputihan yang dibiarkan terus menerus tanpa diobati. Ada 2 macam keputihan, yaitu yang
normal dan yang tidak normal. Keputihan normal bila lendir berwarna bening, tidak berbau, dan
tidak gatal. Bila salah satu saja dari ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi berarti keputihan
tersebut dikatakan tidak normal. Segeralah berkonsultasi dengan dokter Anda bila Anda
mengalami keputihan yang tidak normal.
Penyakit Menular Seksual (PMS). PMS merupakan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui
hubungan seksual. PMS yang cukup sering dijumpai antara lainsifilis, gonore, herpes simpleks,
HIV-AIDS, kutil kelamin, dan virus HPV.
Pemakaian pembalut yang mengandung bahan dioksin. Dioksin merupakan bahan pemutih yang
digunakan untuk memutihkan pembalut hasil daur ulang dari barang bekas, misalnya krayon,
kardus, dan lain-lain.
Membasuh kemaluan dengan air yang tidak bersih, misalnya di toilet-toilet umum yang tidak
terawat. Air yang tidak bersih banyak dihuni oleh kuman-kuman.
3. Faktor Pilihan
Faktor ketiga adalah faktor pilihan, mencakup hal-hal yang bisa Anda tentukan sendiri,
diantaranya berhubungan seksual pertama kali di usia terlalu muda. Berganti-ganti partner seks.
Lebih dari satu partner seks akan meningkatkan risiko penularan penyakit kelamin, termasuk
virus HPV. Memiliki banyak anak (lebih dari 5 orang). Saat dilahirkan, janin akan melewati
serviks dan menimbulkan trauma pada serviks. Bila Anda memutuskan untuk memiliki banyak
anak, makin sering pula terjadi trauma pada serviks. Pap Smear merupakan pemeriksaan
sederhana yang dapat mengenali kelainan pada serviks. Dengan rutin melakukan papsmear,
kelainan pada serviks akan semakin cepat diketahui sehingga memberikan hasil pengobatan
semakin baik. Dokter yang tepat dalam melakukan pap smear adalah Dokter kandungan, tetapi
beberapa Laboratorium Klinikpun dapat melakukannya.
E. DIAGNOSIS
Pap Smear merupakan cara efektif sebagai tes skrining kanker serviks, kepastian diagnosa
kanker serviks atau diagnosa pra-kanker memerlukan biopsi dari serviks. Biopsi umumnya
dilakukan melalui colposcopy, inspeksi serviks melalui pencitraan yang diperbesar dengan
melarutkan cairan asam untuk memperjelas sel-sel abnormal pada permukaan serviks. Proses ini
memerlukan waktu 15 menit dan tanpa menimbulkan rasa sakit.
Prosedur diagnosa lanjutan meliputi prosedur Loop Electrical Excision Procedure (LEEP),
cone biopsies dan punch biposies. Pap Smear merupakan cara efektif sebagai tes skrining kanker
serviks, kepastian diagnosa kanker serviks atau diagnosa pra-kanker memerlukan biopsi dari
serviks. Biopsi umumnya dilakukan melalui colposcopy, inspeksi serviks melalui pencitraan
yang diperbesar dengan melarutkan cairan asam untuk memperjelas sel-sel abnormal pada
permukaan serviks. Proses ini memerlukan waktu 15 menit dan tanpa menimbulkan rasa sakit.
Prosedur diagnosa lanjutan meliputi prosedur Loop Electrical Excision Procedure (LEEP), cone
biopsies dan punch biposies.
F. PENGOBATAN
Pada tahap stadium 1, pasien dapat diberi pengobatan melalui prosedur bedah konservatif
untuk wanita yang ingin mempertahankan kesuburan mereka, sementara yang lain dianjurkan
untuk mengangkat seluruh organ uterus dan serviks (trachelectomy). Setelah prosedur
pembedahan, umumnya direkomendasikan untuk menunggu sekurang-kurangnya satu tahun
sebelum melakukan program kehamilan.
Karena terdapat kemungkinan penyebaran kanker pada kelenjar getah bening disaat tahap akhir
stadium 1, spesialis bedah mungkin akan mengangkat beberapa kelenjar getah bening dari sekitar
uterus untuk bahan evaluasi patologi.
Tumbuh kembalinya kanker pada sisa serviks sangatlah langka bila kanker telah sepenuhnya
diangkat melalui trachelectomy.Akan tetapi, pasien dianjurkan untuk tetap melakukan
pencegahan secara aktif dan melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk melakukan skrining Pap
smear.
Tumor pada tahap awal dapat diobati melalui prosedur histerektomi radikal (pengangkatan
seluruh uterus) dengan pengangkatan kelenjar getah bening.Terapi radiasi dengan atau tanpa
kemoterapi dapat diberikan setelah prosedur pembedahan guna mengurangi resiko kembalinya
kanker. Tumor usia dini berukuran besar dapat diobati dengan terapi radiasi dan kemoterapi
dahulu. Histerektomi dapat dilakukan kemudian untuk mengendalikan kanker secara lokal
dengan lebih baik.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. PEMERIKSAAN DENGAN PAP SMEAR

a. PENGERTIAN
Test atau Pemeriksaan Pap Smear adalah metode (screening) ginekologi, merupakan
pemeriksaan leher rahim (serviks) menggunakan alat yang dinamakan speculum, dan bisa
dilakukan oleh dokter kandungan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya HPV
ataupun sel karsinoma penyebab Kanker Leher Rahim, sejak dini.Pemeriksaan ini lebih
diutamakan pada perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Bahkan
Perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual selama tiga tahun dari kontak seksual
pertama kali WAJIB melakukan pap smear. Namun saat ini apabila anda menginginkan hasil
pemeriksaan yang lebih akurat ada metode lain untuk mendeteksi adalah kanker Leher Rahim
(Kanker Serviks), yaitu dengan Pemeriksaan Thin Prep.
Test Deteksi Dini Kanker Serviks
Pap smear atau Pap Test adalah tes spesifik yang digunakan untuk mendeteksi dini kanker leher
rahim / kanker serviks. Aktivitas seksual merupakan salah satu predisposisi kanker serviks,
Sehingga Pap Smear menjadi salah satu pemeriksaan yang penting dilakukan oleh perempuan
yang telah aktif secara seksual. Meski Pap smear hanya metoda skrining yang fungsinya untuk
pencegahan Kanker Serviks, namun metode ini mampu mendeteksi lebih dari 90 % kanker leher
rahim tahap awal yang masih mungkin untuk disembuhkan.

b. CARA KERJA PAP SMEAR


Pap smear sebaiknya dilakukan minimal satu kali dalam satu tahun. Pap Smear dilakukan di
atas meja ginekologi oleh seorang dokter kandungan, dengan langkah pemeriksaan Pap Smear
adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan dalam ini menggunakan spekulum yang berfungsi untuk membuka liang vagina.
Sesudah terbuka pemeriksa dilakukan dan cairan leher rahim diambil menggunakan s spatula dan
suatu sikat kecil yang halus. Cairan dari serviks tersebut kemudian dioles pada object glass dan
dibawa ke laboratorium untuk proses dan membutuhkan waktu sekitar 3–7 hari untuk didapatkan
hasilnya. Dari hasil pemeriksaan diketahui apakah sel-sel leher rahim normal atau sudah
menunjukkan tanda-tanda tidak normal (gejala awal kanker serviks). Dari 80 persen sel yang
tidak normal belum tentu merupakan Gejala kanker Serviks, karena hanya bisa disebabkan oleh
virus yang terinfeksi atau karena peradangan sebab lain pada Vagina. jika dilihat dari
perbandingan, mungkin hanya sekitar 10 % hasil pap smear yang bermasalah. Dan dari seluruh
hasil papsmear yang menunjukkan masalah, hanya sekitar satu persen saja yang berpotensi untuk
berkembang menjadi kanker serviks.
c. PERSIAPAN SEBELUM PEMERIKSAAN PAP SMEAR
Apabila anda berencana melakukan Pemeriksaan Pap Smear sehingga hasil yang dihasilkan
akurat, sebaiknya anda menghindari beberapa hal sebagai berikut:

 Lakukan Pemeriksaan Pap Smear ketika anda Tidak sedang haid atau ada perdarahan.
 Lakukan Pemeriksaan Jika tiga hari sesudah haid selesai.
 Tidak boleh berhubungan seksual, minimal tiga hari (3x24 jam).
 Tidak boleh memakai douch, cairan pembersih vagin atau antiseptik sejenisnya yang
dimasukkan ke dalam vagina (Namun untuk membersihkan daerah bagian luar vagina
masih diperbolehkan).
 Tidak sedang hamil. Lakukan Pemeriksaan papsmear sebaiknya dilakukan dua atau tiga
bulan setelah melahirkan, atau ketika darah nifas sudah bersih.

d. TEMPAT DAN BIAYA PEMERIKSAAN PAP SMEAR


Pap smear bisa dilakukan oleh dokter kandungan dan bidan terlatih, baik di puskesmas sampai
rumah sakit besar. Mengenai harga sangat bervariasi, jika dilakukan di puskesmas atau rumah
sakit yang mendapatkan subsidi dari pemerintah biaya berkisar Rp 50.000 – Rp75.000, namun
apabila dilakukan di tempat praktek Dokter Kandungan (S.Pog) Biaya Pap Smear mencapai Rp
300.000 - Rp 350.000
1. PEMERIKSAAN DENGAN METODE IVA TEST

a. PENGERTIAN
IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker
leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009) IVA merupakan pemeriksaan leher rahim
(serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas
leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5% (Wijaya Delia, 2010).
Laporan hasil konsultasi WHO menyebutkan bahwa IVA dapat mendeteksi lesi tingkat pra
kanker (high-Grade Precanceraus Lesions) dengan sensitivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-
98%. Sedangkan nilai prediksi positif (positive predective value) dan nilai prediksi negatif
(negative predective value) masing-masing antara 10-20% dan 92-97% (Wijaya Delia, 2010).
Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya
murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi.
Pada pemeriksaan ini, pemeriksaan dilakukan dengan cara melihat serviks yantelah diberi asam
asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan
warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau
abnormal. Dibutuhkan waktu satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan
pada jaringan epitel.
Serviks yang diberi larutan asam asetat 5% akan merespon lebih cepat daripada larutan 3%. Efek
akan menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapat hasil
gambaran serviks yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia) (Novel S
Sinta,dkk,2010).
b. TUJUAN
Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap
kasus-kasus yang ditemukan. Untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim.
c. SYARAT IVA TEST
 Sudah pernah melakukan hubungan seksual
 Tidak sedang datang bulan/haid
 Tidak sedang hamil
 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual
d. PELAKSAAN SKRINNING IVA
Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA, dibutuhkan tempat dan alat sebagai
berikut:

 Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.


 Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
 Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
 Spekulum vagina
 Asam asetat (3-5%)
 Swab-lidi berkapas
 Sarung tangan

e. CARA KERJA
Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien akan mendapat penjelasan mengenai prosedur yang
akan dijalankan. Privasi dan kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini.
Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi (berbaring dengan dengkul ditekuk dan kaki
melebar).Vagina akan dilihat secara visual apakah ada kelainan dengan bantuan pencahayaan
yang cukup.Spekulum (alat pelebar) akan dibasuh dengan air hangat dan dimasukkan ke vagina
pasien secara tertutup, lalu dibuka untuk melihat leher rahim.
Bila terdapat banyak cairan di leher rahim, dipakai kapas steril basah untuk
menyerapnya.Dengan menggunakan pipet atau kapas, larutan asam asetat 3-5% diteteskan ke
leher rahim. Dalam waktu kurang lebih satu menit, reaksinya pada leher rahim sudah dapat
dilihat.Bila warna leher rahim berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan positif terdapat
kanker. Asam asetat berfungsi menimbulkan dehidrasi sel yang membuat penggumpalan protein,
sehingga sel kanker yang berkepadatan protein tinggi berubah warna menjadi putih. Bila tidak
didapatkan gambaran epitel putih pada daerah transformasi bearti hasilnya negative
f. PENATALAKSANAAN IVA
Pemeriksaan IVA dilakukan dengan spekulum melihat langsung leher rahim yang telah
dipulas dengan larutan asam asetat 3-5%, jika ada perubahan warna atau tidak muncul plak putih,
maka hasil pemeriksaan dinyatakan negative. Sebaliknya jika leher rahim berubah warna
menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatakan positif lesi atau kelainan pra kanker.
Namun jika masih tahap lesi, pengobatan cukup mudah, bisa langsung diobati dengan metode
Krioterapi atau gas dingin yang menyemprotkan gas CO2 atau N2 ke leher rahim. Sensivitasnya
lebih dari 90% dan spesifitasinya sekitar 40% dengan metode diagnosis yang hanya
membutuhkan waktu sekitar dua menit tersebut, lesi prakanker bisa dideteksi sejak dini. Dengan
demikian, bisa segera ditangani dan tidak berkembang menjadi kanker stadium lanjut.
Metode krioterapi adalah membekukan serviks yang terdapat lesi prakanker pada suhu yang
amat dingin (dengan gas CO2) sehingga sel-sel pada area tersebut mati dan luruh, dan
selanjutnya akan tumbuh sel-sel baru yang sehat (Samadi Priyanto. H, 2010)
Kalau hasil dari test IVA dideteksi adanya lesi prakanker, yang terlihat dari adanya perubahan
dinding leher rahim dari merah muda menjadi putih, artinya perubahan sel akibat infeksi tersebut
baru terjadi di sekitar epitel. Itu bisa dimatikan atau dihilangkan dengan dibakar atau dibekukan.
Dengan demikian, penyakit kanker yang disebabkan human papillomavirus (HPV) itu tidak jadi
berkembang dan merusak organ tubuh yang lain.
g. TEMPAT PELAYANAN
IVA bisa dilakukan di tempat-tempat pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pemeriksaan dan yang bisa melakukan pemeriksaan IVA diantaranya oleh :

 Perawat terlatih
 Bidan
 Dokter Umum
 Dokter Spesialis Obgyn.

H. CONTOH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KANKER SERVIKS


1. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahn intraservikal
b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan
c. Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal
d. Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca.
Serviks dan pengobatannya.
e. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan terhadap
pemberian sitostatika.

2. Perencanaan
a. Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra cervikal
Tujuan :
Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik :
Kriteria hasil :
 Perdarahan intra servikal sudah berkurang
 Konjunctiva tidak pucat
 Mukosa bibir basah dan kemerahan
 Ektremitas hangat
 Hb 11-15 gr %
 Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 Derajat C, RR : 18
- 24 X/mnt.

Intervensi :
- Observasi tanda-tanda vital
- Observasi perdarahan ( jumlah, warna, lama )
- Cek Hb
- Cek golongan darah
- Beri O2 jika diperlukan
- Pemasangan vaginal tampon.
- Therapi IV

b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan.
Tujuan :
Setelah dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi

Kriteria hasil :
 Tidak terjadi penurunan berat badan
 Porsi makan yang disediakan habis.
 Keluhan mual dan muntah kurang

Intervensi :
- Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan
- Berika makan TKTP
- Anjurkan makan sedikit tapi sering
- Jaga lingkungan pada saat makan
- Pasang NGT jika perlu
- Beri Nutrisi parenteral jika perlu.

c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal

Tujuan
Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri
yang timbul akibat kanker yang dialami

Kriteria hasil :
 Klien dapat menyebutkan cara-cara menguangi nyeri yang dirasakan
 Intensitas nyeri berkurangnya
 Ekpresi muka dan tubuh rileks
Intervensi :
- Tanyakan lokasi nyeri yang dirasakan klien
- Tanyakan derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri.
- Ajarkan teknik relasasi dan distraksi
- Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien
- Kolaborasi dengan tim paliatif nyeri

d. Cemas yang b.d terdiagnose kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang kanker
serviks, penanganan dan prognosenya.

Tujuan :
Setelah diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang
penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya.

Kriteria hasil :
 Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita
 Klien mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien.
 Klien tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi.
 Sumber-sumber koping teridentifikasi
 Ansietas berkurang
 Klien mengutarakan cara mengantisipasi ansietas.

Tindakan :
- Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya.
- Dorong diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara mengentrol
dirinya.
- Identifikasi mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. ( Ego yang
buruk, kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem
pendukung yang positif).
- Tunjukkan adanya harapan
- Tingkatkan aktivitas dan latihan fisik

e. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder
terhadap pemberian sitostatika.

Tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil

Kriteria hasil :
 Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya
 Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.
 Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.
 Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.
Intervensi :
- Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif.
- Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikanbperasaan dan pikian tentang kondisi,
kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan.
- Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang
penyakitnya.
- Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup
dengan kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan
pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
- Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan
kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan.
- Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara
profesional
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kanker serviks merupakan kanker ganas yang terbentuk dalam jaringan serviks (organ
yang menghubungkan uterus dengan vagina).Ada beberapa tipe kanker serviks. Tipe yang
paling umum dikenal adalah squamous cell carcinoma (SCC), yang merupakan 80 hingga 85
persen dari seluruh jenis kanker serviks. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV).

IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan
mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5%
(Wijaya Delia, 2010).

B. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.Dalam pembuatan
makalah ini kami tidak luput dari kesalahan.Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.Amin.
DAFTAR PUSTAKA

Robbins, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Prawiharjo, sarwono. 1998. Ilmu Kebidanan. Jakarta; Yayasan Bina Pustaka