Anda di halaman 1dari 20

ii

TUGAS :

KEKUASAAN VS POLITIK ORGANISASI

NAMA-NAMA KELOMPOK VIII :

 WA ODE ANA RESTIANA (14-320-002)


 INDAH NOFIARTI (14-320-015)
 FARADIA (14-320-042)
 HESTI (14-320-060)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN
BAUBAU 2016
ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

PujidansyukursenantiasakamiucapkankehadiratTuhan Yang Maha


Esakarenaatasberkatdanrahmat-Nya kamidiberikemudahandalammenyusunan makalahini
yang berjudul “KEKUASAAN VS POLITIK ORGANISASI”. Tidak lupa juga shalawat serta
salam kita panjatkan atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. serta kepada keluarga,
saudara, sahabat dan kerabatnya.
Selainsebagaitugas,
kamimembuatmakalahiniuntukmemberikanpengetahuantambahankepadapembacatentang
kekuasaan dalam politik organisasi.
Dalampenyusunanmakalahinikamiselaku penulisbanyakmendapatkanbantuan,
dorongan, danbimbingandariberbagaipihak. Untukitudalamkesempatan kali
inikamimengucapkanterimakasihkepadasemuapihak yang
telahmembantupenyelesaianmakalahini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari masih banyak kesalahan yang
dilakukan. Oleh karena itu, kami meminta saran dan kritik yang membangun sehingga
kedepannya penulis akan lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
menambah pengetahuan pembaca dan kita semua.

Wasalamualaikumwr.wb

BAUBAU, Maret 2016

Penulis
ii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL.............................................................................

KATA PENGANTAR............................................................................

DAFTAR ISI..........................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...................................................................
B. Rumusan Masalah..............................................................
C. Tujuan Penulisan................................................................
D. Manfaat Penulisan..............................................................
BAB II. PEMBAHASAN

A. Definisi Kekuasaan dan Politik Organisasi........................


B. Sumber Kekuasaan Organisasi...........................................
C. Kekuasaan dan Pemegang Wewenang...............................
D. Kekuasaan Antar Pribadi……………................................
E. Kekuasaan dan Taktik Politik Organisasi………...............
BAB III. PENUTUP

A. Kesimpulan........................................................................
B. Saran...................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
ii

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Studi tentang Kekuasaan dan Politik dalam organisasi hanya sedikit. Beberapa studi justru
menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Kekuasaan dan Politik adalah sesuatu yang
ada dan dialami dalam kehidupan setiap organisasi tetapi agak sulit untuk mengukurnya akan
tetapi penting untuk dipelajari dalam perilaku keorganisasian, karena keberadaannya dapat
mempengaruhi perilaku orang-orang yang ada dalam organisasi.
Pada saat setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain,
maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan. Kekuasaan adalah
kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu.
Politik tidak hanya terjadi pada sistem pemerintahan, namun politik juga terjadi pada
organisasi formal, badan usaha, organisasi keagamaan, kelompok, bahkan pada unit keluarga.
Politik adalah suatu jaringan interaksi antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh, ditransfer,
dan digunakan.
Politik dijalankan untuk menyeimbangkan kepentingan individu karyawan dan kepentingan
manajer, serta kepentingan organisasi. Ketika keseimbangan tersebut tercapai, kepentingan
individu akan mendorong pencapaian kepentingan organisasi.
Adapun asumsi dasar organisasi yaitu:
1. (organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan
berbagai kepentingan,
2. dalam organisasi selalu ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian, keyakinan,
kepentingan, sikap, persepsi, dan minat dari para anggotanya,
3. kekuasaan memainkan peranan penting dalam memperebutkan sumberdaya,
4. tujuan organisasi, pengambilan keputusan dan proses manajemen lainnya,
5. karena keterbatasan sumber daya dan setiap aktor berebut kepentingan, maka konflik
adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi.
ii

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana pengertian kekuasaan dan politik dalam organisasi?


2. Bagaimana sumber kekuasaan organisasi?
3. Bagaimana kekuasaan dan pemegang wewenang?
4. Bagaimana kekuasaan antar pribadi?
5. Bagaimana kekuasaan dan taktik politik organisasi?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Penulisan untuk mengetahui dan memahami arti kekuasaan dan arti politik dalam
organisasi.
2. Untuk mengetahui sumber-sumber kekuasaan dalam organisasi.
3. Untuk mengetahui kekuasaan dan pemegang wewenang.
4. Untuk mengetahui kekuasaan antar pribadi.
5. Untuk mengetahui kekuasaan dan taktik politik dalam organisasi.

D. MANFAAT PENULISAN

Manfaat yang dapat diambil dari pembuatan tugas ini adalah memperkaya pemahaman
tentang pengaruh kekuasaan dan politik dalam organisasi.
ii

BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI KEKUASAAN DAN POLITIK ORGANISASI

2.1 Pengertian Kekuasaan

Dahl (1957) menyatakan bahwa ”A memiliki kekuasaan atas B sehingga A dapat meminta B
melakukan sesuatu yang tanpa kekuasaan A tersebut tidak akan dilakukan B”. Definisi ini
menyempitkan konsep kekuasaan, juga menuntut seseorang untuk mengenali jenis-jenis
perilaku khusus.

Riker (1964) berpendapat bahwa perbedaan dalam kekuasaan benar-benar didasarkan pada
perbedaan kausalitas (sebab-akibat). Kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan
pengaruh, sedangkan alasan adalah penggunaan pengaruh yang sebenarnya.

Sedangkan Russel (1983) menyatakan bahwa power (kekuasaan) adalah konsep dasar dalam
ilmu sosial. Kekuasaan penting dalam kehidupan organisasi, dan bahwa kekuasaan dalam
organisasi terikat dengan status seseorang.

Boulding (1989) mengemukakan gagasan kekuasaan dalam arti luas, sampai tingkat mana
dan bagaimana kita memperoleh yang kita inginkan. Bila hal ini diterapkan pada lingkungan
organisasi, ini adalah masalah penentuan di seputar bagaimana organisasi memperoleh apa
yang dinginkan dan bagaimana para pemberi andil dalam organisasi itu memperoleh apa yang
mereka inginkan. Kita memandang kekuasaan sebagai kemampuan perorangan atau
kelompok untuk mempengaruhi, memberi perintah dan mengendalikan hasil-hasil organisasi.

2.2 Pengertia Politik Organisasi

Politik tidak sama dengan kekuasaan dan pengaruh (influence). Ketiganya adalah konsep
berbeda dan berdiri sendiri. Power atau kekuasaan mengekspresikan kapasitas individu untuk
secara sengaja menimbulkan dampak pada orang lain. Pengaruh (influence) adalah
kemampuan membuat orang menuruti kehendak pemberi pengaruh. Politik mendasarkan diri
pada kekuasaan (kekuasaan), dan kekuasaan ini tidak terdistribusi secara merata di dalam
organisasi.
ii

Sebab itu, siapa pun yang menggenggam kekuasaan di dalam organisasi akan
menggunakannya guna mempengaruhi (to influence) orang lain. Dengan kata lain, kekuasaan
adalah sumber daya sosial yang ditujukan demi melancarkan pengaruh, yaitu proses sosial,
dan keduanya merupakan sokoguru politik.

Politik dapat didefinisikan sebagai kegiatan dimana individu atau kelompok terlibat
sedemikian rupa guna memperoleh dan menggunakan kekuasaan untuk mencapai
kepentingannya sendiri. Kendati politik punya kans merusak, politik sesungguhnya tidaklah
buruk. Faktanya, kendatipun para manajer dan pekerja kerap menolak bahwa politik
mempengaruhi kegiatan organisasi, sebuah riset mengindikasikan bahwa politik kantor
muncul dan ia punya dampak terukur dalam perilaku organisasi.

Definisi lain politik diajukan oleh Richard L. Daft, yang menurutnya adalah “... penggunaan
kekuasaan guna mempengaruhi keputusan dalam rangka memperoleh hasil yang diharapkan."
Penggunaan kekuasaan dan pengaruh membawa pada 2 cara mendefinisikan politik. Pertama,
selaku perilaku melayani diri sendiri. Kedua, sebagai proses pembuatan keputusan organisasi
yang sifatnya alamiah.

Dalam definisi pertama, politik melibatkan kecurangan dan ketidakjujuran yang ditujukan
demi kepentingan diri sendiri dan memicu konflik dan ketidakharmonisan di dalam
lingkungan kerja. Pandangan suram atas politik ini umum dianut masyarakat awam. Suatu
riset yang pernah diadakan dalam masalah ini menyuguhkan fakta bahwa pekerja yang
menganggap kegiatan politik dalam jenis ini di perusahaan kerap dihubungkan dengan
perasaan gelisah dan ketidakpuasan kerja.

Riset juga mendukung keyakinan tidak proporsionalnya penggunaan politik berhubungan


dengan rendahnya moral pekerja, kinerja organisasi yang rendah, dan pembuatan keputusan
yang buruk. Politik dalam cara pandang ini menjelaskan kenapa manajer tidak menyetujui
perilaku politik.

Dalam definisi kedua, politik dilihat sebagai proses organisasi yang alamiah demi
menyelesaikan perbedaan di antara kelompok kepentingan di dalam organisasi. Politik adalah
proses tawar-menawar dan negosiasi yang digunakan untuk mengatasi konflik dan perbedaan
pendapat. Dalam cara pandang ini, politik sama dengan pembangunan koalisi dalam proses-
proses pembuatan keputusan. Politik bersifat netral dan tidak perlu membahayakan
organisasi.
ii

Setelah definisi politik per se dijabarkan, tibalah kita merujuk pada konteks pembicaraan
politik dalam buku ini, yaitu dalam konteks keorganisasian. Sebelumnya masuk lebih jauh,
ada baiknya dikemukakan beberapa definisi Politik Organisasi.

Richard L. Daft mendefinisikan politik organisasi sebagai “ [kegiatan yang] melibatkan


kegiatan memperoleh, mengembangkan dan menggunakan kekuasaan (power) dan sumber
daya lainnya guna mempengaruhi pihak lain serta menambah hasil yang diharapkan tatkala
terdapat ketidakmenentuan ataupun ketidaksetujuan seputar pilihan-pilihan yang tersedia.”
Dengan definisi ini, perilaku politik dapat menjadi kekuatan positif ataupun negatif.

Politik adalah penggunaan power (kekuasaan) agar sesuatu tercapai. Ketidakmenentuan dan
konflik adalah alamiah dan tidak terelakkan. Politik adalah mekanisme guna mencapai
persetujuan. Politik melibatkan diskusi-diskusi informal yang memungkinkan orang
mencapai kesepakatan dan membuat keputusan yang mungkin bisa menyelesaikan masalah
ataupun tidak.

B. SUMBER KEKUASAAN ORGANISASI

Kekuasaan Berdasarkan Kedudukan memiliki pengaruh potensial yang berasal dari


kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi terdiri dari: Kewenangan
Formal dan Kekuasaan Pribadi.

Kewenangan Formal, yaitu kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif, kewajiban dan
tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem
sosial.

Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan, merupakan kontrol dan penguasaan terhadap
sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal. Makin tinggi posisi seseorang
dalam hirarki organisasi, makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap
sumber daya yang terbatas. Kontrol terhadap hukuman merupakan kapasitas untuk mencegah
seseorang memperoleh imbalan.. Kontrol terhadap informasi menyangkut kontrol terhadap
akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain.
Kontrol ekologis menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik, teknologi dan metode
pengorganisasian pekerjaan.

Kekuasaan pribadi menjelaskan bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan


akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarki mempunyai kedudukan dalam
ii

organisasi. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu terdiri dari:
Kekuasaan keahlian (expert power), Kekuasaan kesetiaan (referent power), dan Kekuasaan
karisma.

Kekuasaan keahlian (expert power) merupakan kekuasaan yang bersumber dari keahlian
dalam memecahkan masalah tugas-tugas penting. Semakin tergantung pihak lain terhadap
keahlian seseorang, semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut.

Kekuasaan kesetiaan (referent power) merupakan potensi seseorang yang menyebabkan


orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Referent power terkait
dengan keterampilan interaksi antar pribadi, seperti pesona, kebijaksanaan, diplomasi dan
empati.

Kekuasaan karisma merupakan sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan,
karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu.

C. KEKUASAAN DAN PEMEGANG WEWENANG

Kekuasaan meliputi hubungan antara dua atau lebih orang. RobertDahl, seorang pakar politik
menangkap fokus yang hubungan yang penting iniketika ia mendefinisikan kekuasaan
sebagai “ A memiliki kekuasaan atas Bberarti bahwa ia dapat memerintah B untuk melakukan
sesuatu yang harusdilakukan B”. kekuasaan harus diterapkan atau mempunyai potensi
untukditerapkan dalam hubungannya dengan orang atau kelompok yang lain.Perilaku
Organisasi : “ Kekuasaan dan politik ” 4Literatur membedakan antara kekuasaan dan
wewenang. Max Webermenaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan di antara dua konsep
ini(Theory of Social Economic ; 1947). Dia percaya bahwa kekuasaan meliputikekuatan dan
paksaan. Sedangkan wewenang adalah kekuasaan resmi yangdimiliki seseorang karena
kedudukannya dalam organisasi. Wewenangmempunyai sifat sebagai berikut :

1) Terdapat pada posisi seseorang. Individu mempunyai wewenang karena posisi yang ia
pegang, bukan karena sifat pribadi yang khusus.
2) Diterima oleh bawahan. Individu dalam posisi wewenang yang sah, menerapkan
wewenang dan dapat melaksanakannya karena ia mempunyai hak yang sah.
3) Kekuasaan digunakan secara vertical dan mengalir dari atas ke bawah dalam susunan
sebuah organisasi.

D. KEKUASAAN ANTAR PRIBADI


ii

Kekuasaan dalam hubungan diklasifikasikan ke dalam enam jenis. masing-masing jenis


kekuasaan menawarkan cara memperoleh kepatuhan. Yaitu:

a. Kekuasaan Rujukan

Anda memiliki kekuasaan rujukan atas orang lain ketika orang lain berkeinginan untuk
menjadi seperti Anda atau ingin diidentifikasikan dengan Anda. Misalnya, kakak mungkin
memiliki kekuasaan atas adik karena adik ingin menjadi seperti yang lebih tua.Asumsi yang
dibuat oleh adik adalah bahwa ia akan hebat seperti kakaknya jika ia berbuat dan berperilaku
seperti kakaknya.

b. Kekuasaan Yang Sah

Anda memiliki kekuatan yang sah atas orang lain ketika mereka percaya bahwa Anda
memiliki hak, berdasarkan posisi Anda untuk mempengaruhi atau mengendalikan perilaku
mereka.Kekuasaan yang sah berasal dari keyakinan bahwa orang-orang tertentu harus
memiliki kekuasaan atas kita, bahwa mereka memiliki hak untuk mempengaruhi kita karena
posisi mereka. Sebagai contoh : Orang tua dipandang memiliki kekuasaan yang sah atas
anak-anak mereka.

c. Kekuasaan Ahli

Anda memiliki kekuasaan ahli atas orang lain ketika mereka melihat Anda memiliki keahlian
atau pengetahuan. Pengetahuan Anda seperti yang terlihat oleh orang lain memberi Anda
kekuasaan ahli.Biasanya kekuasaan ahli bersifat subjek spesifik. Sebagai contoh: Ketika
Anda sakit, Anda dipengaruhi oleh rekomendasi dari seseorang dengan kuasa ahli terkait
dengan penyakit Anda, katakanlah dokter. Tapi anda tidak akan dipengaruhi oleh
rekomendasi dari seorang pembawa surat atau tukang ledeng. Anda memberikan kekuasaan
ahli kepada seorang pengacara di bidang hukum atau kepada seorang psikiater dalam hal
pikiran, tetapi idealnya Anda tidak merubah posisi mereka.

d. Kekuasaan Informasi dan Persuasi

Kekuasaan informasi atau persuasi memiliki informasi secara logis dan persuasif. Jika orang
lain percaya bahwa Anda memiliki kemampuan persuasif, maka Anda memiliki kekuasaan
persuasi yang bisa digunakan sebagai kekuatan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku
orang lain.
ii

e. Kekuasaan Penghargaan dan Paksaan/ancaman

Kekuasaan Penghargaan memiliki kekuatan imbalan atas orang lain jika Anda memiliki
kemampuan untuk menghargai mereka. Hadiah dapat berbentuk materi seperti uang, jabatan,
perhiasan. Bisa juga berbentuk sosial seperti cinta, persahabatan, dan rasa hormat.Maka jika
Anda dapat memberikan orang lain semacam imbalan, Anda memiliki kontrol atas mereka
untuk memperluas kekuasaan terhadap mereka dengan apa yang dapat Anda berikan kepada
mereka.Pemaksa atas orang lain bila Anda memiliki kemampuan untuk mengelola hukuman
atau menghapus imbalan jika orang lain gagal menghasilkan sesuatu yang dapat
mempengaruhi Anda.Biasanya, jika Anda memiliki kekuasaan imbalan, Anda juga memiliki
kekuasaan memaksa. Guru tidak hanya dapat memberikan hadiah dengan nilai yang tinggi
kepada siswanya, tetapi juga dapat menghukum dengan nilai rendah.Kekuasaan
paksaan/ancaman tergantung pada dua faktor:

1) Besarnya hukuman yang dapat diberikan


2) Kemungkinan bahwa hukuman akan diberikan sebagai akibat dari ketidakpatuhan

Kekuasaan penghargaan dan paksaan bagaikan sisi berlawanan dari koin, dan cara
menggunakan dual hal tersebut sangat berbeda:

1) Daya tarik. Seseorang yang menggunakan kekuasaan perhargaan lebih disukai oleh
banyak orang daripada orang yang menggunakan kekuasaanya dengan paksaan atau
ancaman, karena orang lebih senang untuk dihargai daripada diancam atau dipaksa.
2) Harga/Hasil yang didapat. ketika Anda menggunakan penghargaan dalam mengerahkan
kekuasaan, akan ada hasil yang berbeda ketika Anda menggunakan kekuasaan dengan
paksaan/hukuman. Ketika Anda mengerahkan kekuasaan dengan penghargaan, anda akan
berhadapan dengan individu yang puas dan bahagia. Tapi bila Anda menggunakan
kekuasaan dengan paksaan dan hukuman, Anda harus siap untuk menanggung kemarahan
dan permusuhan, yang mungkin suatu saat akan berbalik melawan Anda.
3) Efektivitas. ketika Anda memberikan penghargaan, itu merupakan tanda bahwa Anda
secara efektif memegang kekuasaan dan memperoleh kepatuhan dari orang lain. Anda
memberikan penghargaan karena orang tersebut melakukan apa yang Anda inginkan.
Dalam menjalankan kekuasaan dengan paksaan/ancaman dapat dianggap benar sebagai
alternatif saja. Karena ketika Anda menggunakan kekuasaan dengan hukuman/ancaman
dan bahwa belum ada kepatuhan, itu menunjukkan bahwa Anda telah tidak efektif dalam
menggunakan kekuasaan Anda.
ii

4) Dampak terhadap kekuasaan lainnya. ketika Anda menggunakan kekuasaan dengan


paksaan/ancaman, maka kekuasaan lain dalam diri Anda akan berkurang. Tampaknya hal
ini terjadi dikarenakan ada efek bumerang dalam pelaksanaannya. Orang-orang yang
menjalankan kekuasaan dengan paksaan/ancaman, terkadang dilihat sebagai orang yang
kurang ahli, kurang logik, dan kurang berpengalaman. Namun, apabila Anda
menggunakan kekuasaan dengan perhargaan, maka akan berdampak terhadap
peningkatan potensi diri Anda.

Terdapat banyak sekali kekuasaan/potensi yang bersemayam sebagai pribadi dalam diri
seseorang, yang tergantung pada kredibilitas yang ia miliki sehingga dapat dipercayai dan
pantas untuk diikuti oleh orang lain. Jika orang lain melihat bahwa ia berkompeten dan
berpengetahuan, berkelakuan baik, dan karismatik atau dinamis, mereka akan menemukannya
sebagai orang yang kredibel. Sebagai hasilnya, seseorang akan lebih efektif dalam
mempengaruhi sikap, keyakinan, nilai-nilai dan perilaku orang lain. kredibilitas bukanlah
sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang dalam arti obyektif, melainkan itu adalah
fungsi dari apa yang orang lain pikirkan tentang Anda. Kredibilitas adalah kualitas,
kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan

Istilah kredibilitas belajar dari bahasa Inggris credibility yang menurut Oxford Dictionary
bermakna “the quality of being believable or trustworthy” (kualitas pribadi yang dapat
dipercaya).

Suatu kepribadian baru dapat dipercaya atau memiliki kredibilitas apabila ia secara konstan
dan konsisten selalu menjaga ucapannya selaras dengan perilaku kesehariannya. Kita percaya
dengan ajakan pola hidup sederhana dari Baharuddin Lopa, karena dia melakukan hal yang
dia serukan, walaupun dia punya akses untuk hidup mewah.

Kita percaya pada ajakan Nurcholis Madjid untuk hidup toleran antar-umat beragama, karena
dia memang selama puluhan tahun secara konsisten (tidak plin-plan) telah dengan gigih
mengkampanyekan hal itu.

Kita percaya pada seruan Martin Luther King akan perlunya persamaan hak antar sesama
manusia tanpa memandang warna kulit dan agama karena ia telah dengan gigih
memperjuangkan sikapnya itu dengan penuh dedikasi dan pengorbanan, termasuk nyawanya
sendiri. Ia telah memiliki kredibilitas di bidang itu.
ii

Sebaliknya, tidak sedikit dari kalangan guru, ustadz, kyai dan tokoh-tokoh agama lain yang
dipandang sebelah mata oleh masing-masing umatnya karena kurangnya memiliki
kredibilitas. Kurangnya konsistensi antara ucapan dan perilaku kesehariannya.

Jadi, kredibilitas itu tidak gratis. It gotta be earned. Harus dicapai melalui usaha terus
menerus yang konsisten sepanjang hidup. Dan semakin tinggi tingkat konsistensi antara
ucapan dan perilaku, maka akan semakin tinggi kredibilitas orang tersebut. Rasulullah sampai
mendapat gelar al amin (yang dapat dipercaya atau orang yang kredibel) saat beliau masih
muda dan belum menjadi Nabi dan Rasul sebab utamanya karena ucapan Rasul selalu
konsisten dengan perilakunya. Sikap yang kredibel merupakan salah satu kunci pokok
menuju kesuksesan cita-cita apapun yang menjadi tujuan kita.

a) Kemampuan. Yang dimaksud dengan kemampuan di sini adalah pengetahuan dan


keahlian seseorang yang dimana orang lain melihatnya. Hal ini agak mirip dengan
kekuasaan informasi dan keahlian. Semakin banyak pengetahuan dan keahlian yang
dilihat orang lain pada diri seseorang, semakin besar kecenderungan mereka akan
mempercayainya. Sama halnya, Anda cenderung untuk percaya kepada seorang guru atau
dokter jika Anda berpikir dia memiliki pengetahuan pada persoalan yang dikuasainya.
b) Karakter. Orang akan melihat Anda sebagai seseorang yang kredibel, jika mereka melihat
Anda sebagai seseorang yang berkarakter dengan moral yang tinggi, seseorang yang jujur,
dan seseorang yang bisa mereka percayai. Jika orang lain merasa bahwa niat Anda baik
bagi mereka (bukan untuk keuntungan pribadi Anda sendiri), mereka akan berpikir bahwa
Anda adalah seseorang yang kredibel dan dapat dipercaya.
c) Karisma. Karisma adalah gabungan dari kepribadian atau bawaan dan kelebihan yang
dikembangkan yang dilihat orang lain dalam diri seseorang. Ada beberapa definisi yang
bisa ditemukan:
 Kemampuan untuk mengembangkan atau memberi inspirasi komitmen ideologis
pada orang lain.
 Daya tarik pribadi yang memungkinkan untuk mempengaruhi orang lain.
 Kata karisma (dari kata Yunani kharisma atau artinya hadiah), sering digunakan
dalam bentuk ini untuk menggambarkan kemampuan untuk pesona atau
mempengaruhi orang.

Tentu saja menginspirasi orang lain untuk bertindak positif merupakan faktor penting dalam
keberhasilan dalam kepemimpinan, seperti halnya kemampuan untuk membantu orang lain
berkomitmen untuk mengembangkan ide. Bahkan dengan memiliki “daya tarik pribadi”,
terlihat baik, fasih berbicara dengan orang lain, dan keterampilan interpersonal yang baik
ii

selalu berguna bagi seorang pemimpin. Tapi ketika karisma menjadi pertimbangan utama
dalam menentukan baik tidaknya seorang pemimpin maka bisa terjadi kekecewaan bagi
pengikutnya. Pernahkah Anda sadari dari sudut pandang ini seorang Mahatma Gandhi dan
Adolf Hitler sama karismatiknya?

Istilah karisma adalah nilai yang netral: ia tidak membedakan antara baik/bermoral dan
jahat/tak bermoral. Karisma dapat mengakibatkan fanatisme buta dan megalomaniacs yang
berbahaya, atau untuk menjadi pengorbanan diri heroik dalam pelayanan yang
menguntungkan organisasinya.

Beberapa cara untuk menambah kredibilitas:

a. Ekspresikan keahlian Anda jika diperlukan. tapi jangan berlebihan


b. Tekankan keadilan/kejujuran. Setiap orang menyukai seseorang yang bertindak adil/jujur
dan selalu berpikir baik kepada orang lain
c. Tunjukkan perhatian kepada orang lain. Hal ini akan menunjukkan bahwa kemulian Anda
dan mengungkapkan bagian dari diri Anda yang mengatakan bahwa Anda punya karakter.
d. Tekankan perhatian Anda untuk mempertahankan nilai-nilai. ini akan menunjukkan
konsistensi dan karakter moral yang baik
e. Tunjukkan pandangan positif. orang positif lebih mungkin dapat dipercaya dan dianggap
tinggi daripada orang-orang negatif.
f. Jadilah antusias (bersemangat). Hal ini akan membantu menunjukkan karisma Anda.

f. Kekuasaan dalam pesan

a. Strategi umum dalam pesan verbal:

1) Permintaan langsung, adalah strategi untuk mendapatkan kepatuhan yang paling


umum digunakan oleh laki-laki dan perempuan dan merupakan strategi yang banyak
dilakukan dalam berkuasa. Contoh: “Dapatkah anda membuatkan saya secangkir
kopi?”.
2) Tawar-menawar atau menjanjikan sesuatu. Dua hal ini melibatkan kesepakatan untuk
melakukan sesuatu jika orang lain melakukan sesuatu. Contoh, “Saya akan
membersihkan rumah jika kamu memasak”.
3) Menjilat (mengambil hati orang lain). Mengharuskan Anda untuk bertindak ramah;
Anda mencoba untuk mengambil hati orang lain dan bersikap ramah sehingga akan
mendapatkan apa yang Anda inginkan. Contoh, “Kamu menulis sangat baik” dengan
maksud semoga kamu akan mengedit makalahku.
ii

4) Manipulasi/curang. Membuat orang lain merasa bersalah atau cukup cemburu untuk
memberikan apa yang Anda inginkan. Contoh, Pat menelepon dan bertanya “Apakah
aku akan pergi keluar akhir minggu ini?”. kecuali jika Anda akhirnya ingin
menghabiskan waktu bersama-sama.
5) Mengancam. Memperingatkan orang lain bahwa hal-hal yang tidak menyenangkan
yang akan terjadi jika Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan. Contoh,
“Aku akan meninggalkanmu jika tidak berhenti merokok”.

b. Pemilihan Bahasa/kata tertentu:

1) Keraguan/kebimbangan. Contoh, “saya eh… ingin mengatakan bahwa orang ini


adalah eh.. baik”. ragu-ragu membuat Anda terdengar tidak siap dan tidak pasti.
2) Terlalu banyak menggunakan kata intensifier (kata keterangan yang digunakan untuk
menguatkan atau menegaskan arti). Contoh, “Sungguh, ini sangat dahsyat, ini benar-
benar sangat fenomenal.”. terlalu banyak intensifiers membuat semuanya terdengar
sama dan tidak memungkinkan Anda untuk mengintensifkan apa yang harus
ditekankan.
3) Disqualifiers. Contoh, “Saya tidak membaca keseluruhan artikel ini, tapi…”.
Disqualifiers menandakan kurangnya kompetensi/pengetahuan dan perasaan tidak
pasti.
4) Tag Question. Contoh, “Ini merupakan film yang hebat, bukankah begitu?”. Tag
question meminta persetujuan orang lain dan karena itu mungkin menandakan
kebutuhan Anda untuk persetujuan dan ketidakpastian anda sendiri.
5) Pernyataan kritis terhadap diri sendiri. Contoh, “Saya bukan orang yang tepat
untukmu”. Pernyataan ini menandakan kurangnya rasa percaya diri dan dapat
membuat orang lain merasakan kekurangan Anda.
6) Penggunaan ekspresi Bahasa gaul dan vulgar. Hal ini dapat menandakan kelas sosial
dan kekuasaan yang rendah.

c. Pesan Nonverbal:

1) Merespon dengan mengangkat alis sebagai cara untuk mengakui orang lain
2) Menghindari perilaku diri yang dapat mengganggu orang lain dalam objek
pembicara. Seperti sering memainkan rambut atau pensil. Terutama ketika Anda
ingin berkomunikasi dengan kepercayaan diri dan mengendalikannya
3) Menggunakan penampilan yang konsisten, berhati-hati bahwa antara pesan verbal
dan nonverbal Anda tidak bertentangan satu sama lain.
ii

4) Ketika duduk, pilihlah kursi yang mudah masuk dan keluar, hindari kursi mewah
yang mendalam, sehingga Anda akan terlihat tenggelam ke dalam dan akan kesulitan
untuk keluar.
5) Agar meyakinkan ketika berjabat tangan, berikanlah tekanan lebih dari biasanya dan
tahan pegangan sedikit lebih lama dari biasanya.
6) Pakailah busana yang relatif konservatif jika Anda ingin mempengaruhi orang lain;
pakaian konservatif biasanya berhubungan dengan kekuasaan dan status. Pakaian
trendi dan iseng biasanya mengkomunikasikan kurangnya kekuasaan dan status
seseorang. Cara berpakaian bisa mencerminkan kepribadian Anda.
7) Menggunakan ekspresi wajah dan gerak tubuh yang sesuai; ini membantu Anda
mengekspresikan kepedulian kepada orang lain, serta kenyamanan dan
mengendalikan situasi komunikasi.
8) Berjalan perlahan dan tenang. Tergesa-gesa sama halnya dengan tanpa kekuasaan,
seolah-olah Anda sedang terburu-buru untuk memenuhi harapan orang lain yang
memiliki kekuasaan atas Anda.
9) Pertahankan kontak mata
10) Hindari jeda suara.
11) Jaga jarak cukup dekat dan dengan siapa Anda berinteraksi. Jika jarak terlalu jauh,
Anda mungkin akan dilihat sebagai dinilai tertutup, penakut atau tidak terlibat. Jika
jarak terlalu dekat, Anda mungkin akan dipandang sebagai orang terlalu agresif.

d. Mendengarkan:

Semakin banyak kita dapat menyampaikan pesan dengan kekuasaan dan otoritas melalui
kata-kata dan ekspresi nonverbal, sebenarnya Anda juga telah berkomunikasi melalui
mendengarkan. Seluruh perhatian Anda merupakan pesan kepada orang lain.

1) Mendengarkan dengan kekuasaan


2) Mendengarkan dengan tanpa kekuasaan.
3) Mendengarkan secara aktif; fokus dan konsentrasi pada apa yang dikatakan
seseorang, terutama pada apa yang mereka inginkan atau butuhkan
4) Mendengarkan secara pasif; mereka mungkin tampak memikirkan sesuatu yang lain
dan hanya berpura-pura mendengarkan, dan mereka jarang mengacu pada apa yang
orang lain telah katakan ketika mereka merespon
5) Menampakkan respon sederhana; mengangguk sebagai tanda setuju atau ekspresi
wajah yang mengatakan, "hal ini cukup menarik "
6) merespon dengan terlalu sedikit atau terlalu banyak reaksi- yang kemungkinan akan
dianggap sebagai bukti tidak sunguh-sungguh. Terlalu sedikit respon menunjukkan
ii

Anda tidak mendengarkan, dan terlalu banyak respon menunjukkan Anda tidak
mendengarkan secara kritis.
7) membalas-dengan penyaluran isyarat-melalui anggukan kepala dan tanggapan lisan
singkat yang mengatakan "saya mendengarkan, saya mengikuti”- pada saat yang tepat
8) Tidak membalas-dengan penyaluran isyarat; sehingga pembicara selalu bertanya-
tanya apakah orang lain benar-benar mendengarkannya.
9) mempertahankan lebih fokus pada kontak mata
10) melakukan sedikit kontak mata; mata berkeliaran di sekitar ruangan
11) Sedikit memainkan perangkat/alat; sehingga menampilkan bahwa ia merasa nyaman
dalam mendengarkan.
12) Menggunakan/memainkan sesuatu/alat; bermain dengan rambut atau pensil; ini
memberikan tampilan ketidaknyamanan.
13) Mempertahankan sikap terbuka; mereka tidak menutupi perut atau wajah mereka
dengan tangan mereka
14) Mempertahankan sikap tertutup. Seperti, menyilangkan lengan.
15) Menghindari menganggu orang yang berbicara di dalam percakapan atau dalam
situasi kelompok kecil, yang sesuai dengan aturan-aturan kesopanan
16) menyelesaikan pikiran pembicara (atau apa yang pendengar pikirkan adalah pikiran
pembicara), yang melanggar kesopanan percakapan.

E. KEKUASAAN DAN TAKTIK POLITIK ORGANISASI

Untuk memahami komponen politik dari organisasi, mengkaji taktik dan strategi yang
digunakan oleh seseorang atau subunit untuk meningkatkan peluangnya dalam memenangkan
permainan politik, individu atau subunit dapat menggunakan beberapa taktik poltik untuk
memperoleh kekuasaan dalam mencapai tujuan. Taktik memainkan politik dalam organisasi
adalah sebagai berikut:
Meningkatkan ketidakmampuan mengganti. Jika dalam suatu organisasi hanya ada satu-
satunya orang atau subunit yang mampu melakukan tugas yang dibutuhkan oleh subunit atau
organisasi, maka ia atau subunit tersebut dikatakan sebagai memiliki ketidakmampuan
mengganti.
Dekat dengan manajer yang berkuasa. Cara lain untuk memperoleh kekuasaan adalah dengan
mengadakan pendekatan dengan manajer yang sedang berkuasa.
Membangun koalisi. Melakukan koalisi dengan individu atau subunit lain yang memiliki
kepentingan yang berbeda merupakan taktik politik yang dipakai oleh manajer untuk
memperoleh kekuasaan untuk mengatasi konflik sesuai dengan keinginanya.
Mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Dua taktik untuk mengendalikan proses
pengambilan keputusan agar penggunaan kekuasaan nampaknya memiliki legitimasi dan
ii

sesuai dengan kepentingan organisasi yaitu mengendalikan agenda dan menghadirkan ahli
dari luar.
Menyalahkan atau menyerang pihak lain. Manajer biasanya melakukan ini jika ada sesuatu
yang tidak beres atau mereka tidak dapat menerima kegagalannya dengan cara menyalahkan
pihak lain yang mereka anggap sebagai pesaingnya.
Memanipulasi informasi. Taktik lain yang sering dilakukan adalah manipulasi informasi.
Manajer menahan informasi, menyampaikan informasi kepada pihak lain secara selektif,
mengubah informasi untuk melindungi dirinya
Menciptakan dan menjaga image yang baik. Taktik positif yang sering dilakukan adalah
menjaga citra yang baik dalam organisasi tersebut. Hal ini meliputi penampilan yang baik,
sopan, berinteraksi dan menjaga hubungan baik dengan semua orang, menciptakan kesan
bahwa mereka dekat dengan orang-orang penting dan hal yang sejenisnya.
ii

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Bahwa studi tentang Kekuasaan dan Politik dalam organisasi hanya sedikit.
Beberapa studi justru menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Pada saat
setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama
lain, maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan.
Kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih
individu.

Kekusaan dan Politik dijalankan untuk menyeimbangkan kepentingan individu


karyawan dan kepentingan manajer, serta kepentingan organisasi. Ketika
keseimbangan tersebut tercapai, kepentingan individu akan mendorong
pencapaian kepentingan organisasi.

B. SARAN
Studi selanjutya yang dapat dilakukan antara lain berkaitan dengan elemen-
elemen iklim politik organisasi diatas. Elemen-elemen tersebut dapat dianalisis
sejauh mana mempengaruhi pengambilan keputusan. Pada dasarnya ada organisasi
yang akan dipengaruhi secara positif dengan adanya berbagai faktor diatas, atau
bahkan akan timbul efek negatif bila faktor-faktor politis organisasi diatas
terlaksana.
ii

DAFTAR PUSTAKA

Michael Beer. Organizational Behavior and Development. Harvard Business Review. 115.
1998.
Carolyn Bourdeaux and Grace Chikoto. Legislative Influence on Perfiormance Management
Reform. Public Administration review. Mar/Apr 2008. p53.
Nigel Nicholson and Rod White. Darwinism—A new paradigm for organizational
behavior? Journal of Organizational Behavior, 27, 2006, 111–119.
Perilaku Organisasional. DR. Sopiah, MM, MPd. Penerbit Andi. 2008
Joyce S Osland, David A Kolb, Irwin M Rubin. Organizational Behavior, an Experiential
Approach. Seventh Edition. Prentice Hall. 1995.
Karl Albrecht. Organizational Development: A Total System Approach to positive Change in
Any Business Organization; Englewood Cliffs, NJ; Prentice Hall Inc; 1983.