Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan terhadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
”Pengaruh Defisiensi Protein terhadap Resiko Penurunan Kepadatan Tulang” ini
tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk menambah wawasan penulis dan pembaca.
Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak oleh karena itu
kami mengucapkan terima kasih semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, terkhusus Bu Yth. dosen Ilmu Gizi yang telah
memberikan bekal materi pengetahuan dan moral untuk kami. Kami menyadari
bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mohon maaf
atas keterbatasann kami, sera kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun guna kesempurnaan makalah ini. Terimakasih.

Sumedang, 29 April 2018

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................................1
1.1. Latar Belakang ..............................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah .........................................................................................2
1.3. Tujuan ............................................................................................................2
BAB II. PEMBAHASAN ......................................... Error! Bookmark not defined.
2.1 Pengertian Protein ..........................................................................................3
2.2 Tulang .............................................................................................................3
2.3 Faktor Penyebab Kerapuhan Tulang ..............................................................5
2.4 Korelasi Defisiensi Protein Terhadap Resiko Kerapuhan Tulang ..................6
2.5. Solusi Pencegahan Kerapuhan Tulang ..........................................................9
BAB III. KESIMPULAN ....................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Protein merupakan salah satu makromolekul penting yang dibutuhkan oleh
tubuh untuk pertumbuhan. Protein dalam tubuh akan mengalami proses
metabolisme sehingga dari proses metabolisme inilah protein dapat dimanfaatkan
dalam tubuh. Tubuh dapat memperoleh protein berbagai macam sumber makanan
seperti ikan, telur, kacang- kacangan, susu dan lain sebagainya. Makan makanan
bergizi termasuk protein sangat dianjurkan agar kebutuhan gizi dalam tubuh
terpenuhi.
Asupan protein yang rendah berisiko terhadap kepadatan tulang yang rendah
karena protein sebagai penyusun struktur tulang rawan (kolagen) dan
sebagaipengangkut zat gizi, termasuk kalsium. Apabila jumlah protein dalam
tubuh tidak mencukupi, maka kalsium tidak dapat ditransportasikan dengan baik
dan struktur tulang tidak terbentuk dengan maksimal sehingga nilai kepadatan
tulang rendah. 9 Penelitian yang dilakukan pada 1077 wanita berusia ≥75 tahun
menunjukkan hasil bahwa asupan protein yang rendah berhubungan dengan Bone
Mass Density (BMD) tulang panggul yang rendah (Winarno,2004). Sebaliknya,
asupan protein yang berlebihan, terutama protein hewani, juga berisiko terhadap
kepadatan tulang yang rendah apabila tidak diimbangi dengan asupan kalsium
yang cukup (Devine A, dkk.,2005)Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang
mengonsumsi protein hewani lebih banyak daripada protein nabati mengalami
bone loss yang lebih cepat dan mempunyai risiko patah tulang panggul yang lebih
besar. Namun, beberapa penelitian tidak mendukung efek protektif protein pada
bone loss maupun fraktur osteoporosis hanya pada protein nabati
(Sahni,dkk.,2010). Hal ini menunjukkan efek positif dari protein nabati pada
kesehatan tulang belum konsisten.

1
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana struktur pada tulang manusia?
2. Apa pengaruh defisiensi protein terhadap kepadatan tulang ?
3. Bagaimana mekanisme penurunan kepadatan tulang yang disebabkan oleh
defisiensi protein?
4. Bagaimana solusi pencegahan kerapuhan tulang ?

1.3.Tujuan
1.Mengetahui pengertian protein
2. Mengetahui struktur tulang manusia
3. Mengetahui faktor penyebab kerapuhan tulang
4. Mengetahui hubungan defisiensi protein terhadap resiko kerapuhan tulang
5. Mengetahui pencegahan kerapuhan tulang

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Protein


Protein merupakan zat gizi yang sangat penting, karena yang paling erat
hubungannya dengan proses-proses kehidupan. Nama protein berasal dari bahasa
Yunani (Greek) proteus yang berarti “yang pertama” atau “yang terpenting”.
Seorang ahli kimia Belanda yang bernama Mulder, mengisolasi susunan tubuh
yang mengandung nitrogen dan menamakannya protein, terdiri dari satuan
dasarnya yaitu asam amino (biasa disebut juga unit pembangun protein) (Suhardjo
dan Clara, 1992). Protein dibuat dari satu atau lebih rantai polipeptida yang terdiri
dari banyak asam amino yang dihubungkan oleh rantai peptida. Berat molekul
protein bervariasi mulai dari 5000 hingga satu juta atau lebih. Semua protein,
tanpa memperhatikan fungsi atau jenis dari sumbernya dibuat dari dua puluh asam
amino, yang disusun dari rangkaian yang bervariasi (Lehninger, 1976).
Sumber protein di dalam makanan dapat dibedakan atas dua sumber yaitu
protein hewani dan nabati. Oleh karena struktur fisik dan kimia protein hewani
sama dengan yang dijumpai pada tubuh manusia, maka protein yang berasal dari
hewan mengandung semua asam amino dalam jumlah yang cukup membentuk
dan memperbaiki jaringan tubuh manusia. Kecuali pada kedelai, semua pangan
nabati mempunyai protein dengan mutu yang lebih rendah dibandingkan hewani
(Agus Krisno Budianto, 2009). Beberapa makanan sumber protein ialah daging,
telur, susu, ikan, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan.
Beberapa makanan yang mengandung protein serta kadar proteinnya dapat dilihat
pada tabel (Anna poedjiadi, 1994).

2.2 Tulang
Tulang merupakan salah satu organ penting tubuh manusia. Tubuh manusia
terdiri dari sekitar 206 tulang. Berdasarkan bentuknya tulang-tulang ini dapat
dibagi menjadi tulang panjang (femur, tibia, dll), tulang pendek (karpalia, jari, dll)
dan tulang pipih (tengkorak, wajah). Secara histologi tulang dibagi menjadi tulang
imatur (non-lamelar) dan tulang matur (lamelar). Tulang imatur adalah tulang

3
pada anak sedangkan tulang matur adalah tulang pada orang dewasa. Tulang
matur dibagi lagi menjadi tulang kortikal dan tulang kanselous. Tulang kortikal
terdapat pada diaphysis tulang panjang sedangkan tulang kanselous terdapat pada
metaphisis tulang panjang (Miller, 2012). Tulang mempunyai banyak fungsi.
Fungsi tulang dibagi menjadi sebagai struktur anatomik dan sebagai organ.
Sebagai struktur anatomik fungsi tulang antara lain menunjang tubuh manusia,
sebagai anggota gerak dan melindungi organ dalam. Sebagai organ tulang
memproduksi sel darah dan berperan dalam metabolisme kalsium dan fosfat
(Salter, 1999).

Gambar 1. Struktur dan Sel-sel Tulang


(Sumber: Auteursrecht © 2000-2018 Dreamstime)
Secara histologi tulang terdiri dari sel dan matriks ekstraseluler. Sel tulang
terdiri dari osteoblas, osteoklas dan osteosit. Osteoblas adalah sel yang
bertanggung jawab pada pembentukan tulang. Osteoklas adalah sel yang
bertanggung jawab pada penyerapan tulang. Osteosit adalah osteoblas yang
terkubur dalam lakuna dan termineralisasi dalam matriks tulang. Osteosit
berfungsi sebagai mekanosensori untuk deteksi kebutuhan tulang, menambah atau
mengurangi masa tulang. Matriks tulang terdiri dari komponen organik dan
inorganik. Komponen organik meliputi kolagen, proteoglikan dan protein lainnya.
Komponen inorganik terutama terdiri dari kalsium dan fosfor yang saling
berikatan dalam bentuk hydroxyapatite (Salter, 1999).

4
2.3 Faktor Penyebab Kerapuhan Tulang
Salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis adalah faktor usia. Semakin
bertambah usia maka akan terjadi peningkatan bone loss (pengeroposan tulang
karena kehilangan mineral tulang), terutama pada lansia (Martono, 2009). Wanita
pascamenopause memiliki risiko terjadinya osteoporosis yang lebih besar
dibandingkan pria atau usia yang lebih muda. Hal ini terjadi karena berkurangnya
hormon estrogen setelah menopause sehingga terjadi peningkatan resorpsi tulang
yang menyebabkan osteoporosis pascamenopause. Hormon estrogen pada wanita
berfungsi melindungi tulang dari kehilangan massa tulang (Harvey and Cooper,
2009).
Penelitian menyebutkan kekurangan protein juga dapat memicu
osteoporosis. Asupan protein yang rendah berisiko terhadap kepadatan tulang
yang rendah karena protein sebagai penyusun struktur tulang rawan (kolagen) dan
sebagai pengangkut zat gizi, termasuk kalsium. Apabila jumlah protein dalam
tubuh tidak mencukupi, maka kalsium tidak dapat ditransportasikan dengan baik
dan struktur tulang tidak terbentuk dengan maksimal sehingga nilai kepadatan
tulang rendah (Winarno, 2004). Sebaliknya, asupan protein yang berlebihan,
terutama protein hewani, juga berisiko terhadap kepadatan tulang yang rendah
apabila tidak diimbangi dengan asupan kalsium yang cukup (Sahni et al., 2010).
Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang mengonsumsi protein hewani
lebih banyak daripada protein nabati mengalami bone loss yang lebih cepat dan
mempunyai risiko patah tulang panggul yang lebih besar. Namun, beberapa
penelitian tidak mendukung efek protektif protein pada bone loss maupun fraktur
osteoporosis hanya pada protein nabati (Bonjour JP, 2005). Hal ini menunjukkan
efek positif dari protein nabati pada kesehatan tulang belum konsisten.
Variasi individual dalam tumbuh kembang anak disebabkan oleh karena
tumbuh kembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, hormonal, diantaranya
hormon pertumbuhan dan genetik. Nutrisi termasuk salah satu faktor lingkungan
yang berpengaruh pada tumbuh kembang tulang sejak prenatal. Pembentukan
tulang terjadi secara berkesinambungan. Nutrien, diantaranya protein dapat
mempengaruhi pertumbuhan tulang dengan jalan menghambat diferensiasi seluler,
merubah kecepatan sintesis unsur pokok matriks tulang yaitu protein kolagen dan

5
non-kolagen yang masing-masing mempunyai peranan spesifik pada
pembentukan tulang (Arvytas, 1974).
Terdapat dua metabolisme utama dalam pembentukan tulang yang rentan
terhadap kekurangan nutrien, diantaranya adalah protein, yaitu: proses sintesis
protein untuk membentuk matriks organik tulang yang terdiri dari jaringan
kolagen dan non kolagen protein. Sintesis protein yang normal diperlukan untuk
perkembangan jaringan lunak dan keras diantaranya tulang. Kekurangan protein
akan menyebabkan perubahan pada timbunan asam amino, hal tersebut
mengakibatkan hambatan reaksi sintesis protein sehingga menimbulkan hambatan
juga dalam pembentukan matriks organik tulang (Roughead and Kunkel, 1991).
Proses berikutnya adalah kalsifikasi tulang, pada tahap ini mineral diantaranya
kalsium dan fosfor diendapkan dalam matriks tulang (Roth and Calmes, 1981).
Jika terdapat hambatan dalam pembentukan matriks organik, maka akan ada
hambatan juga dalam proses kalsifikasi tulang sehingga terjadi penurunan kadar
mineral tulang, diantaranya kalsium dan fosfor tulang (Kimura et al., 2004).
Selain faktor asupan, gaya hidup (life style) seseorang juga mempengaruhi
rendahnya kepadatan tulang dan menyebabkan terjadinya osteoporosis. Kebiasaan
merokok mengurangi densitas tulang karena kandungan nikotin dan kadmium
dalam tembakau rokok bersifat racun terhadap osteoblas (Lee, 2010). Konsumsi
alkohol juga berhubungan dengan rendahnya kepadatan tulang. Seseorang yang
mengonsumsi alkohol secara berlebihan mempunyai massa tulang yang rendah
dan berkurangnya aktivitas osteoblas sehingga meningkatkan risiko fraktur
(Gropper et al., 2009) Kebiasaan olahraga weight-bearing (berjalan, berlari,
senam, menari, dll) secara teratur dapat meningkatkan kepadatan tulang. Pada
wanita pascamenopause, berjalan dan menari berkaitan dengan lambatnya
kehilangan tulang dan mengurangi risiko fraktur tulang panggul (Lee, 2010).

2.4 Korelasi Defisiensi Protein Terhadap Resiko Kerapuhan Tulang


Nutrisi termasuk salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh pada
tumbuh kembang tulang sejak prenatal. Pembentukan tulang terjadi secara
berkesinambungan. Nutrien, diantaranya protein dapat mempengaruhi
pertumbuhan tulang dengan jalan menghambat diferensiasi seluler, merubah

6
kecepatan sintesis unsur pokok matriks tulang yaitu protein kolagen dan non
kolagen yang masing-masing mempunyai peranan spesifik pada pembentukan
tulang.Menurut (Arvytas, 1974) terdapat dua metabolisme utama dalam
pembentukan tulang yang rentan terhadap kekurangan nutrien, diantaranya adalah
protein, yaitu: proses sintesis protein untuk membentuk matriks organik tulang
yang terdiri dari jaringan kolagen dan non kolagen protein. Sintesis protein yang
normal diperlukan untuk perkembangan jaringan lunak dan keras diantaranya
tulang.
Kekurangan protein akan menyebabkan perubahan pada timbunan asam
amino, hal tersebut mengakibatkan hambatan reaksi sintesis protein sehingga
menimbulkan hambatan juga dalam pembentukan matriks organik tulang
(Roughead, 1991), menurut Roth dan Calmes (1981) proses berikutnya adalah
kalsifikasi tulang, pada tahap ini mineral diantaranya kalsium dan fosfor
diendapkan dalam matriks tulang. Jika terdapat hambatan dalam pembentukan
matriks organik, maka akan ada hambatan juga dalam proses kalsifikasi tulang
sehingga terjadi penurunan kadar mineral tulang, diantaranya kalsium dan fosfor
tulang (Mac, 1985).Beberapa penelitian telah dilakukan untuk meneliti pengaruh
kekurangan protein terhadap metabolisme mineral dan kepadatan tulang pada
anak tikus masa pertumbuhan (Kimura dkk, 2004). Kelompok perlakukan
diberikan diet protein 5% selama 4, 6 dan 8 minggu, pada kelompok kontrol
diberikan protein 18%. Hasil penelitian menunjukkan meskipun didapatkan
pengurangan dimensi skeletal pada ketiga kelompok perlakuan, tetapi tidak
terdapat perbedaan pada kepadatan tulang. Disimpulkan bahwa pengurangan diet
protein menyebabkan kelambatan pertumbuhan
Likimani dkk (1992) meneliti tentang pengaruh kekurangan protein dalam
makanan terhadap metabolisme mineral dan kepadatan tulang. Hasilnya ialah diet
protein 10 mg/kg berat badan/hari menyebabkan pengurangan kandungan mineral
tulang terutama pada ujung proksimal yang terutama terdiri dari tulang trabekula.
kekurangan protein pre dan post natal, yang diukur dengan membandingkan lebar
lempeng epifisis, kadar kalsium dan fosfor tulang pada tikus dengan kekurangan
protein pre dan post natal dengan tikus yang mendapat tambahan pakan cukup
protein dari umur sapih sampai dewasa.

7
Asupan protein yang rendah berisiko terhadap kepadatan tulang yang rendah
karena protein sebagai penyusun struktur tulang rawan (kolagen) dan sebagai
pengangkut zat gizi, termasuk kalsium. Apabila jumlah protein dalam tubuh tidak
mencukupi, maka kalsium tidak dapat ditransportasikan dengan baik dan struktur
tulang tidak terbentuk dengan maksimal sehingga nilai kepadatan tulang rendah.
Narsito (1992) melakukan penelitian yang dilakukan pada 1077 wanita berusia
≥75 tahun menunjukkan hasil bahwa asupan protein yang rendah berhubungan
dengan Bone Mass Density (BMD) tulang panggul yang rendah. Sebaliknya,
asupan protein yang berlebihan, terutama protein hewani, juga berisiko terhadap
kepadatan tulang yang rendah apabila tidak diimbangi dengan asupan kalsium
yang cukup (Arvytas, 1974).
Menurut Penelitian Carraza dkk (1985) menunjukkan bahwa seseorang yang
mengonsumsi protein hewani lebih banyak daripada protein nabati mengalami
bone loss yang lebih cepat dan mempunyai risiko patah tulang panggul yang lebih
besar. Namun, beberapa penelitian tidak mendukung efek protektif protein pada
bone loss maupun fraktur osteoporosis hanya pada protein nabati.Hal ini
menunjukkan efek positif dari protein nabati pada kesehatan tulang belum
konsisten. Selain itu asupan kalsium yang rendah dapat menyebabkan
osteomalasia, yaitu tulang menjadi lunak karena matriksnya kekurangan kalsium,
namun, asupan kalsium yang berlebihan juga tidak memberikan manfaat untuk
kesehatan tulang (Rabie, 1981).
The Food and Drug Administration (FDA) menyebutkan bahwa asupan
kalsium yang penting untuk menjaga kesehatan tulang tetapi asupan lebih dari
2000 mg/hari tidak memberikan manfaat tambahan. Asupan fosfor juga dapat
mempengaruhi kepadatan tulang. Asupan fosfor yang berlebihan dalam bentuk
fosfat dapat mengganggu rasio kalsium : fosfat, terutama jika asupan kalsium
rendah. Hal ini mengakibatkan menurunnya konsentrasi ion kalsium dalam serum
sehingga menstimulasi hormon paratiroid untuk meningkatkan aktivitas osteoklas.
Jika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan bone
loss.Selain itu, kalsium dan fosfor yang membentuk kalsium fosfat dalam keadaan
basa juga dapat menghambat absorpsi kalsium.

8
2.5. Solusi Pencegahan Kerapuhan Tulang
1. Olahraga secara teratur
Olahraga secara teratur, terutama olahraga pembebanan (weight-bearing)
seperti berjalan, berlari, senam, dan menari dapat meningkatkan massa tulang
dengan meningkatkan massa otot yang memberikan pembebanan pada tulang
sehingga kepadatan tulang meningkat. Kebiasaan olahraga yang kurang dapat
meningkatkan risiko osteoporosis. Hal ini seperti penelitian yang dilakukan pada
wanita lansia di Bogor menunjukkan bahwa sebagian besar subjek jarang
melakukan kegiatan olahraga sehingga aktivitas fisiknya tergolong ringan atau
kurang, dan berisiko mengalami osteoporosis 8 kali lebih besar. Studi kohort pada
lebih dari 61.000 wanita pascamenopause menunjukkan bahwa mereka yang
berjalan sedikitnya empat jam setiap minggu mempunyai 41% risiko fraktur yang
lebih rendah daripada mereka yang berjalan kurang dari satu jam setiap minggu
(Marjan dan Narliyati, 2013).
Menurut Lee (2010) Olahraga memberikan beban mekanis pada tulang.
Adanya pembebanan mekanik pada tulang (skeletal load) menimbulkan stress
mekanik dan strain (resultant tissue deformation). Hal ini mengakibatkan
terjadinya pembentukan tulang pada permukaan periostal dan berkurangnya
penyerapan tulang sehingga memperkuat tulang.Menurut Karwiyana (2009)
olahraga (tegangan) dapat meningkatkan jumlah sel osteoblas dan menurunkan
jumlah sel osteoklas melalui mekanisme mekanotransduksi. Tegangan yang
dihasilkan olahraga akan menginduksi produksi nitrit oksida (NO), yang menekan
aktivitas osteoklas dan meningkatkan aktivitas osteoblas. Tegangan ini juga
menginduksi sintesis prostaglandin dengan cara meningkatkan aktivitas
siklooksigenase. Prostaglandin kemudian akan menstimulasi aktivitas osteoblas
melalui insulin growth factor, yang meningkat pada awal stimulasi mekanis
(olahraga). Olahraga yang paling sederhana adalah berjalan kaki selama 30-60
menit sehari.
2. Asupan makanan yang cukup
Hubungan Status Gizi Dengan Kepadatan Tulang Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan
kepadatan tulang. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Aan

9
Nurwenda (2004) bahwa indeks massa tubuh yang rendah dan kekuatan tulang
yang menurun semuanya berkaitan dengan berkurangnya massa tulang pada
semua bagian tubuh. Osteoporosis lebih banyak diderita oleh orang yang bertubuh
kurus dan berkerangka kecil, namun pada penelitian ini sebagian besar subjek
mempunyai postur tubuh yang normal dan gemuk dengan IMT >18 kg/m2 . Hal
ini disebabkan oleh asupan makanan subjek sudah cukup, namun karena faktor
usia penyerapan kalsium mengalami penurunan. Kelebihan berat badan dapat
mempengaruhi massa tulang terutama melalui efeknya terhadap rangka tubuh.
Wanita yang kelebihan berat badan memberikan tekanan yang lebih besar pada
tulangnya, sehingga merangsang terbentuknya tulang baru sehingga penurunan
kepadatan tulang dapat dikurangi (Ardiansyah, 2004) .
3. Mengkonsumsi Makanan yang Tinggi Kalsium
Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengkonsumsi
makanan berkalsium tinggi dengan kejadian osteoporosis pada wanita
postmenopause. Hal ini sejalan dengan pendapat Shinya (2008) yang
mengemukakan bahwa terlalu banyak mengkonsumsi susu akan mengakibatkan
osteoporosis. Kadar kalsium dalam darah sebanyak 9-10 mg. Namun pada saat
minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Pada saat
konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat, tubuh berusaha untuk
mengembalikan keadaan abnormal menjadi normal kembali dengan membuang
kalsium dari ginjal melalui urine. Penyerapan kalsium membutuhkan peran sel
osteoblas yang juga berfungsi membentuk matriks tulang sedangkan pembuangan
kalsium dari tulang membutuhkan aktivitas osteoklas. Kalsium diserap secara
normal sesuai kebutuhan tubuh. Jumlah kalsium yang diserap ke dalam darah
hanya 200 mg. Selain disebablan karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan
berkalsium, penyebab osteoporosis juga dapat disebabkan karena terlalu banyak
mengkonsumsi acid yang berasal dari daging, gula dan bahan-bahan yang
mengandung kimia. Untuk menetralisir acid tersebut, tubuh mengambil kalsium
dari tulang. Dengan demikian, mengkonsumsi banyak kalsium bukan pencegahan
osteoporosis jika tetap mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung acid.

10
Solusi yang utama adalah menghindari makanan pembentuk acid dan lebih
banyak mengkonsumsi sayuran.
Pada pengumpulan data kebiasaan mengkonsumsi makanan berkalsium
tinggi dengan menggunakan Food Frequency Questionare (FFQ). Metode ini
dapat menimbulkan terjadinya bias karena sangat tergantung pada daya ingat
subjek. Berdasarkan FFQ yang dikumpulkan, sebagian besar subjek (74,35%)
mengkonsumsi susu walaupun bukan susu yang berkalsium. Susu dan hasil olahan
susu seperti keju, yogurt merupakan sumber kalsium utama yang penting untuk
pencegahan penurunan kepadatan tulang pada wanita postmenopause. Ikan
dimakan dengan tulang seperti ikan kering atau ikan presto merupakan sumber
kalsium yang baik. Sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu dan tempe merupakan
sumber kalsium yang baik.

11
BAB III
KESIMPULAN

Protein merupakan salah satu asupan gizi yang penting bagi tubuh manusia
dimana protein berperan penting dalam pembaharuan sel. Sel dalam tubuh perlu
diperbaharui secara berkala karena memiliki umur tertentu yang dapat rusak.
Selain sel, tulang juga perlu diperbaharui agar semakin baik dan semakin cepat
pertumbuhannya. Kekurangan protein akan menyebabkan perubahan pada
timbunan asam amino, hal tersebut mengakibatkan hambatan reaksi sintesis
protein sehingga menimbulkan hambatan juga dalam pembentukan matriks
organik tulang. Selain itu, asupan protein yang rendah berisiko terhadap
kepadatan tulang yang rendah karena protein sebagai penyusun struktur tulang
rawan (kolagen) dan sebagai pengangkut zat gizi, termasuk kalsium. Apabila
jumlah protein dalam tubuh tidak mencukupi, maka kalsium tidak dapat
ditransportasikan dengan baik dan struktur tulang tidak terbentuk dengan
maksimal sehingga nilai kepadatan tulang rendah.
Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa konsumsi protein sangat penting
bagi tubuh manusia sehingga tidak dapat dianggap remeh. Perlu adanya perhatian
lebih dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari agar tercapainya kecukupan gizi
yang baik sehingga tubuh dapat bermetabolisme dengan baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Agus Krisno Budiyanto, 2009. Gizi dan Kesehatan. Bayu Media dan UMM Press,
Malang.
Anderson, JJB. 2008. Nutrition and Bone Health. In: Mahan LK, Escott-Stump S.
Krause’s Food and Nutrition Therapy. 12 ed. p. 614-635.
Ardiansyah. Keseimbangan kalsium penting untuk cegah osteoporosis.
http://ardiansyah.multiply.com/journal. (Diakses tanggal 29 april 2018)
Arvytas, MG. 1974 Early eruption of deciduous and permanent teeth: A case
report. Am J Orthod; 66:189–96.
Arvytas, MG. 1974. Early eruption of deciduous and permanent teeth: A case
report. Am J Orthod; 66:189–96.
Bonjour JP. 2005. Dietary Protein : An Essential Nutrient for Bone Health.
Journal of the American College of Nutrition 2005: 24 (6); 526S-536S.
Bonjour JP. 2005. Dietary Protein : An Essential Nutrient for Bone Health.
Journal of the American College of Nutrition 24 (6); 526S-536S.
Carraza F, Marcoudes E, Sperroto O. 1985. Commentary of growth and body
compotition in childhood. In: Bruner O, Carraza F, Gracey M, Nichols B,
Senterre J, editors. Clinical nutrition of the young child, New York: Raven
Press; p. 85–9.
Devine A, Dick IM, Islam AFM, Dhaliwal SS, Prince RL. 2005. Protein
Consumption is An Important Predictor of Lower Limb Bone Mass in
Elderly Women. Am J Clin Nutr. 81:1423-8.
Gropper SS, Smith JL, Groff JL. 2009. Advanced Nutrition and Human
Metabolism. 5th ed. p.429-467. Wadsworth, Australia.
Gropper SS, Smith JL, Groff JL. 2009. Advanced Nutrition and Human
Metabolism. 5th ed. Wadsworth, Australia.
Harvey N, Cooper C. 2009. Pencegahan Penyakit : Osteoporosis dan Fraktur
Panggul. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kawiyana IKS. 2009. Osteoporosis Patogenesis Diagnosis dan Penanganan
Terkini. Jurnal Penyakit Dalam. 10(2):157-170.
Kimura M, Nishudo I, Tofani I, Kojima Y. 2004. Effect of calcium and zink on
endochondral ossification in mandibular condyle of growing rats. Dent in
Japan, 40:106–14.

13
Kimura M, Nishudo I, Tofani I, Kojima Y. 2004. Effect of Calcium and Zink on
Endochondral Ossification in Mandibular Condyle of Growing Rats. Dent in
Japan. 40:106–14.
Lee RD. 2010. Diseases of the Musculoskeletal System. In: Nutrition Therapy and
Pathophysiology. 2nd edition. p.771-787.
Lee RD. 2010. Diseases of the Musculoskeletal System. In: Nutrition Therapy and
Pathophysiology. 2nd edition. p.771-787.
Lehninger, A.L. 1997. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid I. Erlangga, Jakarta.
Likimani S, Whitford GM, Kunkel NE. The effect of protein deficiency and
fluoride on bone mineral content of rat fibia. Calcief Tissue Int 1992;
50(2):157-64.
Mac Gillivary NH. 1985. Disorders of growth and development. In: Felig P,
Baxter JD, Broadus AE, Frohman L, editors. Endocrinology and
metabolism. Philadelphia: Mc Graw Hill Book Company. p. 105–10.
Marjan AQ, Narliyati SA. 2013. Hubungan antara Pola Konsumsi Pangan dan
Aktivitas Fisik dengan Kejadian Osteoporosis pada Lansia di Panti Werdha
Bogor. Jurnal Gizi dan Pangan. 2013; 8(2):123-128.
Martono H. 2009. Penyakit Tulang dan Patah Tulang. Dalam : Buku Ajar Boedhi
Darmojo Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Balai Penerbit FK UI,
Jakarta.
Narsito. 1992. Metode pengukuran spektroskopi serapan atom dan
spektrofotometri ultra light visible. Laboratorium kimia dan fisika pusat
Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.
Nieves JW. 2005. Osteoporosis : the role of micronutrients. Am J Clin Nutr 81
(suppl):1232S-9S.
Nurwenda A. 2004. Hubungan Tingkat Konsumsi Kalsium, Protein dan Status
Gizi dengan Derajat Osteoporosis Pada lansia.
Rabie ABM, Hagg U. 2003. Factors regulating mandibular condylar growth. Am J
Orthod Dentofac Orthop. 122(4):401–9.
Roth G, Calmes R. Oral biology. 1981. 1st ed. St. Louis, Toronto: The CV Mosby
Company; 1981. p. 173–96.
Roughead ZK, Kunkel ME. Effect of diet on bone matrix constituents. J Am Nutr
1991; 10(3):242–6.

14
Sahni S, Cupples LA, Mclean RR, Tucker KL, Broe KE, Kiel DP, et al. 2010.
Protective Effect of High Protein and Calcium Intake on the Risk of Hip
Fracture in the Framingham Offspring Cohort. Journal of Bone and Mineral
Research. Vol.25(12): 2770-2776.
Shinya Hiromi. 2008. The Miracle of Enzyme. hal.99-102. Bandung.
Winarno FG. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. hlm.150-170. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Winarno FG. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. hlm.50-83. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

15