Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia
yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
yang disebabkan oleh penurunan sensitivitas insulin atau keduanya dan menyebabkan
komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular, dan neuropati (yuuliana elin,2009)

Diabetes Melllitusadalahsuatukumpulangejala yang timbulpadaseseorang yang


disebabkanolehkarenaadanyapeningkatankadargula (glukosa) darahakibatkekurangan
insulin baikabsolutmaupunrelatif (Arjatmo, 2002).
Diabetic foot ulcer (DFU) didefinisikan sebagai erosi pada kulit yang meluas mulai
dari lapisan dermis sampai ke jaringan yang lebih dalam, akibat dari yang bermacam-
macam faktor yang ditandai dengan ketidakmampuan jaringan yang luka untuk
memperbaiki diri tepat pada waktunya, DFU disebabkan oleh neuropati, iskemik, dan
infeksi, kombinasi ketiganya berdampak besar terhadap terjadinya amputasi, peningkatan
resiko infeksi dan penyembuhan luka yang buruk pada pasien DM terjadi karena
penurunan respons sel dan faktor pertumbuhan penurunan aliran darah perifer, serta
penurunan angiogenesis lokal, dengan demikian, kaki cenderung akan mengalami
kerusakan vaskular perifer, kerusakan saraf perifer, deformitas, ulserasi dan ganggren
(Edmonds, M.E, dan Foster Aletha V.M,. 2005; Singh,.S,.dkk, 2013).

B. Etiologi
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu
predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I.
Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen
HLA.

b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi
terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan
tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi
terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.

c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan
destruksi selbeta.

2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang
peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.

Faktor-faktor resiko :

A. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)


B. Obesitas
C. Riwayat keluarga
D. Patofisiologi
Diabetec Foot Ulcer (DFU) ditandai dengan trias klasik, yaitu neuropati,iskemia dan
infeksi, oleh karena ada mekanisme gangguan metabolisme pada DM, maka terjadi
peningkatan resiko infeksi dan penyembuhan luka yang buruk akibat raspon sel dan
faktor pertumbuhan menurun, berkurang nya aliran darah perifer, dan penurunan
angiogenesis loka, dengan demikian kaki cenderung mengalami penyakit vaskular perifer,
ulserasi, dan ganggren terjadi DFU adalah multifaktoral, dapat dijelaskan sebagai berikut
(fryberg, R,. Sigh, dkk,.2013)
1. Neuropati
DFU sebagian besar (60%) disebabkan oleh neuropati, neuropatik diabetic
cenderung terjadi setelah waktu itu kenaikan kadar glukosa darah menyebabkan
peningkatan produksi enzim seperti reduktase aldosa dan sorbitol dehidrogenase,
enzim ini mengubah glukosa menjadi surbitol dan fruktosa, peningkatan produk
gula mengakibatkan sistesis sel saraf menurun dan mempengaruhui konduksi saraf
selanjutnya, hiperglikemia yang diinduksi mikroorganisme menyebabkan
metabolisme reversible, cedera imunologi serta iskemik saraf otonom, motorik
dan sensorik, semua kondisi tersebut menyebabkan penurunan sensasi perifer dan
kerusakan inervasi saraf pada otot kaki dan kontrol vasomotor kaki, ketika saraf
terluka.
2. Vaskulopati
Hiperglikemia menyebabkan disfungsi endotel, dan kelainan pada sel-sel halus
dalam arteri perifer, sel endotel berfungsi menyintesis nitrat oksida yang
menyebabkan vasodilatasi dan melindungi pembuluh darah dari cedera endogen.
Dengan adanya hiperglikemia, maka akan ada gangguan sifat fisiologis nitrat
oksida yang biasanya mengatur homeostastis endotel, antikoagulan, adhesi
leukosit, proliferasi sel otot, dan kapasitas antioksidan oleh karena itu, kerusakan
sel endotel akan memicu terjadinya konstriksi pembuluh darah dan aterosklerosis
dan akhirnya menyebabkan iskemik, iskemik dapat terjadi , walaupun pulpasi
arteri (denyut nadi) daerah kaki dapat teraba dengan palpasi. Hiperglikemia pada
DM juga berhubungan dengan peningkatan tromboksan A, yang mengarah ke
hiperkoagulabilitas.
3. Imunopati.
Sistem imun pasien diabetes lebih lemah daripada orang sehat. Oleh karena itu,
infeksi pada kaki pasien diabetes merupakan kondisi yang mengancam
mikroorganisme dominan pada diabetic foot adalah S. Aureus dan b-hemolitik
steptokokus, kondisi hiperglikemia menyebabkan peningkatan sitokin pro-
inflamasi dan kerusakan sel polimorfonuklear seperti kemoktasis, fagositosis dan
intracellular killing, selain itu, tingginya glukosa darah juga merupakan media
yang baik bagi pertumbuhan bakteri, jaringan lunak kaki seperti plantar
apnoneurosis, tendon, otot dan fasia tidak menahan infeksi, selain itu beberapa
kompartemen di kaki saling berhubungan dan tidak bisa membatasi penyebaraan
infeksi dari satu ke yang lain, infeksi pada jaaringan lunak dengan cepat dan dapat
menyebar ke tulang, jadi ulkus sederhana pada kaki dapat dengan mudah
mengakibatkan komplikasi seperti osteitis atau osteomielitis dan ganggren jika
tidak dilakukan dengan perawatan yang baik
4. Stres mekanik
Kerusakan invasi pada otot kaki akan mempengaruhui gerakan pleksi dan
ekstensi, secara bertahap, ini akan menyebabkan perubahan deformitas kaki,
deformitas kaki menyebabkan pembentukan tonjolan tulang abnormal dan tidak
titik-titik tekanan yang merupakan predisposisi terbentuknya ulkus, biasanya
ulkus terjadi pada ibu jari dan tumit, namun ukuran sepatu yang tidak sesuai
merupakan faktor tersering timbulnya ulkus.
5. Neuroartropati
Charcof Neuroarthopathy (CN) adalah kondisi muskuloskeletal progresif yang
ditandai dengan dislokasi sendi, fraktur patologis, dan deformitas, ini berdampak
pada kerusakan tulang dan jaringan lunak, CN dapat terjadi pada semua sendi,
terutama ekstermitas bawah, kaki dan pergelangan kaki, CN disebabkan oleh
trauma yang tidak di sadari atau luka pada kaki yang mati rasa. Adanya neuropati
sensori membuat pasien tidak menyadari bahwa terjadi kerusakan tulang ketika
pasien bergerak. Trauma tulang ini menyebabkan kerusakan dan cedera progresif
pada tulang dan sendi .

E. Komplikasi
Diabetes Mellitus bila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi
pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, saraf, dan
lain-lain (corwin,2000)

F. Tes Diagnostik
a. Adanya glukosa dalam urine. Dapat diperiksa dengan cara benedict (reduksi) yang
tidak khasuntuk glukosa, karena dapat positif pada diabetes.
b. Diagnostik lebih pasti adalah dengan memeriksa kadar glukosa dalam darah dengan
cara Hegedroton Jensen (reduksi).
1) Gula darah puasa tinggi < 140 mg/dl.
2) Test toleransi glukosa (TTG) 2 jam pertama < 200 mg/dl.
3) Osmolitas serum 300 m osm/kg.
4) Urine = glukosa positif, keton positif, aseton positif atau negative (Bare
&suzanne,2002)

G. Penatalaksanaan Medik
Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akamn menimbulkan berbagai
penyakit dan diperlukan kerjasama semua pihak ditingkat pelayanan kesehatan. Untuk
mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai usaha dan akan diuraikan sebagai berikut :
a. Perencanaan Makanan.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal
karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai dengan kecukupan gizi baik yaitu :
1) Karbohidrat sebanyak 60 – 70 %
2) Protein sebanyak 10 – 15 %
3) Lemak sebanyak 20 – 25 %
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut
dan kegiatan jasmani. Untuk kepentingan klinik praktis, penentuan jumlah kalori
dipakai rumus Broca yaitu Barat Badan Ideal = (TB-100)-10%, sehingga didapatkan =
1) Berat badan kurang = < 90% dari BB Ideal
2) Berat badan normal = 90-110% dari BB Ideal
3) Berat badan lebih = 110-120% dari BB Ideal
4) Gemuk = > 120% dari BB Ideal.
Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari BB Ideal dikali kelebihan kalori basal
yaitu untuk laki-laki 30 kkal/kg BB, dan wanita 25 kkal/kg BB, kemudian ditambah
untuk kebutuhan kalori aktivitas (10-30% untuk pekerja berat). Koreksi status gizi
(gemuk dikurangi, kurus ditambah) dan kalori untuk menghadapi stress akut sesuai
dengan kebutuhan. Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut
diatas dibagi dalam beberapa porsi yaitu :
1) Makanan pagi sebanyak 20%
2) Makanan siang sebanyak 30%
3) Makanan sore sebanyak 25%
4) 2-3 porsi makanan ringan sebanyak 10-15 % diantaranya.
b. Latihan Jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30
menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. Sebagai contoh
olah raga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit, olehraga sedang berjalan
cepat selama 20 menit dan olah raga berat jogging.
c. Obat Hipoglikemik
1) Sulfonilurea
Obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :
1) Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan.
2) Menurunkan ambang sekresi insulin.
3) Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.
Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien dengan BB normal dan masih bisa
dipakai pada pasien yang beratnya sedikit lebih. Klorpropamid kurang dianjurkan pada
keadaan insufisiensi renal dan orangtua karena resiko hipoglikema yang
berkepanjangan, demikian juga gibenklamid. Glukuidon juga dipakai untuk pasien
dengan gangguan fungsi hati atau ginjal.
2) Biguanid
Preparat yang ada dan aman dipakai yaitu metformin. Sebagai obat tunggal dianjurkan
pada pasien gemuk (imt 30) untuk pasien yang berat lebih (imt 27-30) dapat juga
dikombinasikan dengan golongan sulfonylurea
3) Insulin
Indikasi pengobatan dengan insulin adalah :
a) Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM maupun NIDDM) dalam
keadaan ketoasidosis atau pernah masuk kedalam ketoasidosis.
b) DM dengan kehamilan/ DM gestasional yang tidak terkendali dengan diet
(perencanaan makanan).
c) DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik
oral dosif maksimal. Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan dosis rendah dan
dinaikkan perlahan – lahan sesuai dengan hasil glukosa darah pasien. Bila
sulfonylurea atau metformin telah diterima sampai dosis maksimal tetapi tidak
tercapai sasaran glukosa darah maka dianjurkan penggunaan kombinasi sulfonylurea
dan insulin.
d) Penyuluhan untuk merancanakan pengelolaan sangat
penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Edukator bagi pasien diabetes yaitu
pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan
menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan pemahaman pasien akan
penyakitnya, yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat yang optimal.
Penyesuaian keadaan psikologik kualifas hidupyang lebih baik. Edukasi merupakan
bagian integral dari asuhan keperawatan diabetes (Bare & Suzanne, 2002)
A. Pathway
Faktor genetik
Kerusakan sel beta Ketidakseimbangan produksi Gula dalam darah
Inveksi virus insulin tidak dapat dibawa
masuk dalam sel
Pengrusakan imunologi

Glukosuria Batas melebihi ambang ginjal hiperglikemia Anabolisme protein


menurun

Dieresis osmotik
vikositas darah meningkat Syok hiperglikemik Kerusakan pada
antibodi
Poliuria- Retensi urine Aliran darah Koma dibetik
Kekebalan tubuh menurun
lambat
Kehilangan elektrolit dalam Iskemik jaringan
sel Resiko infeksi Neuropati sensori perifer

Dehidrasi Ketidakefektifan
Nekrosis luka Klien tidak merasa sakit
perfusi jaringan perifer

Resiko syok
Kehilangan kalori Gahgrene
Kerusakan integritas luka

Merasang hipotalamus Sel kekurangan bahan untuk


Protein dan lemak dibakar 88 menurun
metabolisme