Anda di halaman 1dari 6

Farmakologi Penyakit Tuberculosis

A. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


1. Isoniazid (H)
 Sifat : bakterisidal
 Cara kerja : belum diketahui pasti bagaimana mekanisme kerja isoniazid.
Penambahan isoniazid pada lingkungan basil, menyebabkan sifat tahan
asam hilang dan sintesis lipid berkurang. Pada pemberian oral atau
parenteral isoniazid segera mengalami penyerapan. Kadar puncak dalam
darah terlihat 1 atau 2 jam. Isoniazid cepat didistribusikan ke semua
cairan tubuh dan ke dalam sel. Obat ini dapat ditemui dalam jumlah
cukup dalam cairan pleura dan peritoneum. Efek utamanya ialah
menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan
unsur terpenting dinding sel mikobakterium. Obat ini menghilangkan
sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh
methanol dari mikobakterium.
 Efek samping : neuropati perifer, psikosis toksik, gangguan fungsi hati,
kejang, mulut kering, nyeri epigastrium.
2. Rifampisin ( R)
 Sifat : bakterisidal
 Cara kerja : menghambat kerja enzim polymerase RNA yang DNA-
dependent dan menyebabkan sintesis RNA terhambat. Obat ini bekerja
spesifik pada subunit β dari enzim polymerase. Pemberian rifampisin per
oral menghasilkan kadar puncak dalam plasma setelah 2-4 jam. Sesudah
penyerapan dari saluran cerna, rifampisin dieksresi dengan cepat ke
dalam cairan empedu, untuk selanjutnya mengalami siklus
enterohepatik.
 Efek samping : flu syndrome, gangguan gastrointestinal, urine berwarna
merah, gangguan fungsi hati, trombositopeni, demam, skin rash, sesak
napas, anemia hemolitik.
3. Pirazinamid (Z)
 Sifat : bakterisidal
 Cara kerja : pirazinamid diserap dengan baik melalui saluran cerna.
Distribusi meluas dalam cairan tubuh dan ekskresi berlangsung melalui
ginjal. Tersedia dalam bentuk tablet. Pirazinamid merupakan obat
antituberkulosis yang digunakan sebagai terapi kombinasi dengan obat
TB lainnya. Obat ini aktif terhadap suasana asam terhadap
mikobakterium, bersifat bakterisid terutama pada basil tuberculosis
intraseluler.
 Efek samping : gangguan gastrointestinal, gangguan fungsi hati, gout
arthritis, anoreksia, mual, muntah, malaise, dan demam.
4. Streptomisin (S)
 Sifat : bakterisidal
 Cara kerja : streptomisin yang pemberiannya melalui intramuscular
yaitu, absorpsi dari tempat suntikan, hampir semua berada dalam plasma,
hanya sedikit yang masuk ke eritrosit terdistribusi ke seluruh cairan
ekstrasel, sukar berdifusi ke cairan intrasel. Streptomisin ini bekerja
dengan cara mematikan bakteri sensitive, dengan menghentikan produksi
protein esensial yang dibutuhkan bakteri untuk bertahan hidup.
 Efek samping : nyeri ditempat suntikan, gangguan keseimbangan dan
pendengaran, renjatan anafilaktik, anemia, agranulositosis,
trombositopeni.
5. Etambutol (E)
 Sifat : bakteriostatik
 Cara kerja : sebanyak 75-80% dari dosis oral diserap melalui saluran
cerna. Kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 2-4 jam. Menghambat
sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati,
dapat timbul resistensi bila digunakan tunggal, bersifat tuberkulostatik
(hanya aktif terhadap sel yang sedang tumbuh) dan menekan
pertumbuhan kuman TB yang resisten terhadap isoniazid dan
streptomisin serta menghambat sintesis RNA.
 Efek samping : gangguan penglihatan, buta warna, neuritis perifer.
B. Panduan Pengobatan Tuberculosis
Kisaran dosis OAT lini pertama bagi pasien dewasa
OAT Dosis
Harian 3x/minggu
Kisaran Maksimum Kisaran Maksimum/hari(mg)
dosis (mg) (mg/KgBB)
(mg/KgBB)
Isoniazid 5(4-6) 300 10(8-12) 900
Rifampisin 10(8-12) 600 10(8-12) 600
Pirazinamid 25(20-30) - 35(30-40) -
Etambutol 15(15-20) - 30(25-35) -
Streptomisin 15(12-18) - 15(12-18) 1000

Panduan OAT KDT (Kombinasi Dosis Tetap) yang digunakan di Indonesia


(sesuai rekomendasi WHO dan ISTC)
- OAT KDT = terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet.
Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Dikemas dalam satu
paket untuk satu pasien.
- Kombipak = digunakan dalam pengobatan pasien yang terbukti mengalami
efek samping pada pengobatan dengan OAT KDT sebelumnya.
1. Tuberculosis kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Panduan OAT ini diberikan untuk pasien baru :
- Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis
- Pasien TB paru terdiagnosis klinis
- Pasien TB ekstra paru
OAT KDT kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Berat Badan Tahap Intensif tiap hari Tahap lanjutan 3 kali
selama 56 hari seminggu selama 16 minggu
RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)
30-37 Kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
38-54 Kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
55-70 Kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
≥71 Kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT
OAT Kombipak kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Tahap Lama Dosis per hari/kali Jumlah
Pengobatan Pengobatan Tablet Kaplet Tablet Tablet hari/kali
Isoniasid Rifampisin Pirazinamid Etambutol menelan
@300mgr @450 mgr @500 mgr @250mgr obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 3 56
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 48

2. Tuberculosis kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.


Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati
sebelumnya (pengobatan ulang) :
- Pasien kambuh
- Pasien gagal pada pengobatan dengan panduan OAT kategori 1
sebelumnya
- Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up)
OAT KDT kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Berat Tahap intensif Tahap lanjutan
badan tiap hari 3 kali seminggu
RHZE (150/75/400/275) + S RH
(150/150)+E(400)
Selama 56 hari Selama 28 Selama 20 minggu
hari
30-37 2 tab 4KDT + 500 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 2 tab
Kg mg streptomisin inj etambutol
38-54 3 tab 4KDT + 750 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 3 tab
Kg mg streptomisin inj etambutol
55-70 4 tab 4KDT + 1000 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 4 tab
Kg mg streptomisin inj etambutol
≥71 Kg 5 tab 4KDT + 1000 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 5 tab
mg streptomisin inj (> do maks) etambutol

OAT Kombipak kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.


Tahap Lama Tablet Tablet Tablet Etambutol Strepto Jumlah
pengobatan pengobatan Isoniasid Rifampisin Pirazinami Tablet Tablet misin hari/kali
@300mgr @450mgr d @500mgr @250 @400 injeksi menelan
mgr mgr obat
Tahap awal 2 bulan 1 1 3 3 - 0,75gr 56
(dosis 1 bulan 1 1 3 3 - - 28
harian)
Tahap 5 bulan 2 1 - 1 2 - 60
lanjutan
(dosis 3x
seminggu)

3. Tuberculosis kategori anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZA(S)/4-10HR


Dosis OAT untuk anak
Nama obat Dosis harian Dosis Efek samping
(mg/KgBB/Hari) maksimal
(mg/hari)
Isoniazid 10(7-15) 300 Hepatitis, neuritis perifer,
hipersensitivitas
Rifampisin 15(10-20) 600 Gastrointestinal, reaksi
kulit, hepatitis,
trombositipenia,
peningkatan enzim hati,
Pirazinamid 35(30-40) - Toksisitas hepar,
artralgia, gastrointestinal
Etambutol 20(15-25) - Neuritis optic, ketajaman
mata berkurang, buta
warna merah, hijau,
hipersensitivitas,
gastrointestinal

Panduan OAT dan lama pengobatan Tb pada anak


Kategori diagnostik Fase Fase
intensif lanjutan
TB klinis 2HRZ 4 HR
TB kelenjar
Efusi pleura TB
TB terkonfirmasi bakteriologis 2HRZE 4HR
TB paru dengan kerusakan luas
TB ekstraparu (selain TB meningitis dan TB
tulang/sendi)
TB tulang/sendi) 2HRZE 10HR
TB millier
TB meningitis

OAT KDT pada TB Anak


Berat badan (Kg) Fase intensif (2 bulan) Fase lanjutan (4 bulan)
RHZ (75/50/150) (RH (75/50))
5-7 1 tablet 1 tablet
8-11 2 tablet 2 tablet
12-16 3 tablet 3 tablet
17-22 4 tablet 4 tablet
23-30 5 tablet 5 tablet
>30 OAT dewasa

Keterangan :

1. Bayi di bawah 5 Kg pemberian OAT secara terpisah, tidak dalam bentuk


KDT dan sebaiknya dirujuk ke RS.
2. Apabila ada kenaikkan BB maka dosis atau jumlah tablet yang diberikan
disesuaikan dengan berat badan saat itu.
3. Untuk anak dengan obesitas, dosis KDT berdasarkan berat badan ideal
(sesuai umur).
4. OAT KDT harus diberikan secara utuh (tidak boleh dibelah, dan tidak boleh
digerus).
5. Obat dapat diberikan dengan cara ditelan utuh, dikunyah/dikulum
(chewable), atau dimasukkan air dalam sendok.
6. Obat diberikan pada saat perut kosong, atau paling cepat 1 jam setelah
makan.
7. Bila INH dikombinasi dengan Rifampisin, dosis INH tidak boleh melebihi
10 mg/KgBB/hari.
8. Apabila OAT lepas diberikan dalam bentuk puyer, maka semua obat tidak
boleh digerus bersama dan dicampur dalam satu puyer.