Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN LENGKAP HASIL OBSERVASI DAN

WAWANCARA BUDIDAYA UNGGAS PETELUR

Kelompok 3
Muh.Qadri (20)
A.M Firzan Surianto (01)
Dika Mareza Putri (10)
Nursalim Nurulhuda
Sri Resky Amalia (36)
Trisna Gamayanti (37)
A. Latar Belakang

Pengembangan usaha ternak layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki prospek yang
bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Sesuai standar nasional, konsumsi
protein per hari per kapita ditetapkan 55 g yang terdiri dari 80% protein nabati dan 20% protein
hewani (www.litbang.deptan.co.id). Hal itu berarti target konsumsi protein hewani sekitar 11
g/hari/perkapita. Namun yang terjadi, konsumsi protein hewani penduduk Indonesia baru
memenuhi 4,7 g/hari/perkapita, jauh lebih rendah dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina.

Dalam dunia peternakan, kita tidak asing lagi dengan ayam yang sengaja diternakan untuk
dihasilkan daging atau telurnya, karena sudah banyak peternakan ayam yang menyebar diseluruh
Indonesia bahkan sampai diluar negeri, baik peternkan pabrik ataupun peternakan individu.
Seperti pada peternakan ayam petelur yang kami kunjungi, yang dimana peternakan tersebut
dimiliki individu. Adapun nama pemiliknya yaitu Rochman Hadi, peternakan ini terletak di
daerah Jalan Klogeng Gribig No 22.

Ayam itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis yaitu ayam jenis pedaging dan ayam jenis
petelur. Ayam jenis pedaging, pastinya dibudidayakan karena untuk dihasilkan daging dalam
jumlah yang banyak dengan kualitas yang baik, sedangkan ayam petelur dibudidayakan untuk
dihasilkan telur dengan jumlah yang banyak dan kualitas yang baik. Dalam beternak, kita perlu
memperhatikan mulai dari pakan, kandang, penyakit serta pengobatannya, sifat genetikanya, asal
usulnya, vaksinasi dan sebagainya.

Perkembangan ayam ras petelur juga semakin maju dari hasil silang genetic berbagai ras
ayam unggulan seluruh dunia. Salah satunya adalah ISA Brown, yang merupakan hasil penelitian
dari perusahaan Institut de Sélection Animale (ISA). Ayam ISA Brown memiliki beberapa
kelebihan dibandingkan ayam petelur lokal, di antaranya adalah tingginya produktivitas telur
yakni mencapai 409 butir pada setiap periode pemeliharaan, dan berat telur rata-rata 62.9 gram
(ISA Brown General Management Guide, 2011:1). Meskipun memiliki banyak keunggulan, pada
dasarnya ayam ISA Brown bukan berasal dari Indonesia. Oleh karena itu, ISA merilis standar
dalam ISA Brown Commercial Management Guide sebagai panduan bagi para peternak untuk
memantau dan mengevaluasi pemeliharaan ayam.

Menilik peluang usaha serta kebermanfaatan, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin


membuat suatu usaha budidaya unggas petelur dengan pengawasan langsung dari badan
pemerintah serta bekerja sama dengan beberapa badan usaha.

B. Tujuan
A. Untuk mengetahui tahapan perencanaan atau persiapan usaha budidaya unggas petelur.
B. Untuk mengetahui tahapan pelaksanaan usaha budidaya unggas petelur.
C. Untuk mengetahui stretegi promosi dan pemasaran dalam usaha budidaya unggas petelur.
C. Waktu dan Tempat

Observasi ini dilakukan pada hari Sabtu, 13 Agustus 2016 pukul 11.00 di Peternakan Ayam
Petelur dari Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin Makassar.

D. Biodata Responden
Nama : Jafar
Tempat/Tanggal Lahir : Polewali Mandar, 10 maret 1986
Jabatan/Peran : Sebagai Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin
dan
anggota pengelola peternakan Fakultas Peternakan Universitas
Hasanuddin.

E. Hasil Observasi dan Wawancara

1. Tahap Perencanaan/Persiapan Usaha Budidaya Unggas Petelur

a. Peluang dan Tantangan

Untuk melakukan suatu kegiatan usaha budidaya unggas petelur diperlukan analisis
terhadap peluang usaha yang dimiliki serta tantangan – tantangan yang akan dihadapi
dalam melakukan kegiatan usaha budidaya unggas petelur. Untuk peluang dari kegiatan
usaha budidaya unggas petelur terutama di daerah Sulawesi Selatan memiliki potensi yang
sangat besar karena produk yang dihasilkan merupakan salah satu produk yang sangat
dibutuhkan oleh masyarakat. Disamping menjadi keperluan masyarakat, proses ataupun
teknik pelaksanaannya tidak begitu sulit dan tidak membutuhkan biaya yang sangat besar.
Adapun untuk tantangan, tantangan terbesar yaitu kematian.

b. Analisis Biaya

Analisis Biaya sangat diperlukan untuk merencanakan suatu usaha tetapi pada observasi
kali ini analisis biaya hanya berupa pendekatan – pendekatan nomina disebabakan
peternakan ini dibiayai oleh Fakultas Peternakan itu sendiri dan kurangnya pengetahuan
lebih lanjut dari responden mengenai modal awal yang diperlukan dalam membentuk
peternakan ini. Berdasarkan beberapa pendekatan – pendekatan hitungan mengenai
keseluruhan biaya tetap, biaya tidak tetap, dan perhitungan laba rugi. Maka dibutuhkan
modal awal kurang lebih 200jt per 1000 ekor ayam, sedangkan untuk penghasilan laba
sekitar 2500/kilogram.

c. Penentuan Lokasi Kandang

Mengenai penentuan lokasi kandang untuk peternakan ini, lokasinya telah dipetakan
sejak awal. Tetapi responden memberikan kriteria - kriteria untuk penentuan lokasi
kandang yang baik diantaranya ; lokasi cukup luas minimal 20m x 8m untuk peternakan
skala sedang ke atas, jauh dari kebisingan, dan mudah diakses.

d. Pemilihan Jenis Unggas Petelur yang Dibudidayakan

Jenis unggas petelur yang dibudidayakan di peternakan ini ialah ayam petelur. Ayam
petelur dipilih karena produknya sangat dibutuhkan masayrakat serta biaya yang digunakan
dalam pemeliharaan mudah dijangkau.

2. Tahap Pelaksanaan Budidaya Unggas Petelur

a. Sarana dan Peralatan Budidaya Unggas Petelur

Untuk sarana dan peralatan yang digunakan dalam budidaya ungga petelur pada
peternakan ini antara lain; kandang yang kokoh (campuran besi dan cor) dengan ukuran
20m x 8m, peralatan kandang berupa peralatan kebersihan serta peralatan makanan, bibit
ayam yang berasal dari perusahaan Java daerah Maros, pakan berupa campuran konsentrat,
jagung, dan dedak serta pemberian vitamin berupa vita strees.

b. Teknik Budidaya Unggas Petelur

i. Penyediaan Kandang

Kandang merupakan bagian vital yang mempengaruhi kondisi unggas petelur.


Kandang pada peternakan ini dibuat kokoh dengan menggunakan campuran besi dan
cor untuk melindungi hewan ternak dari kondisi/cuaca yang buruk.

ii. Penyediaan Bibit

Bibit ayam yang digunakan pada peternakan ini merupakan bibit yang berasal dari
perusahaan Java daerah Maros yang telah lama melakukan kerjasama dengan pihak dari
Fakultas Peteranakan Universitas Hasanuddin.

iii. Penyediaan Pakan

Untuk pakan yang digunakan berupa campuran konsentrat, jagung, dan dedak.

iv. Pemeliharaan

Pemeliharaan unggas petelur meliputi pemberian makan dan minum yang dilakukan
secara rutin tiap pagi dan sore dengan menggunakan suatu wadah yang bersih serta
memperhatikan fase-fase (meliputi; starter, growther, dan finisher) dari unggas petelur .
Sementara untuk pengendalian penyakit dilakukan dengan memberikan vaksin serta
dipisahkan dari unggas lainnya untuk mencegah timbulnya penularan. Vaksin yang
digunakan ialah VaksinND
v. Panen

Ayam petelur akan memulai produksinya dalam 16 minggu, tetapi hanya 20% dari
total ayam tersebut yang dapat bertelur, puncak dari produksinya itu sekitar 20 minggu
keatas. Masa pengambilan telur akan dilakukan secara bertahap untuk menjaga kualitas
dari telur. Ketika umur ayam sudah berusia 50 minggu keatas, maka produksi telurnya
akan menurun (afkir), sehingga ayam tersebut akan dijual karena kalau dipaksakan
untuk dipelihara maka perawatannya meningkat tetapi produksinya menurun sehingga
hasilnya akan rugi.

vi. Pasca Panen

Setelah dilakukan pengambilan secara berkala selanjutnya telur akan disortir dan
dibersihkan. Hasil telur tersebut akan disimpan pada 2 tempat; yang pertama itu rak
telur plastik, digunakan ketika saat panen dan awal pascapanen berlangsung untuk
menghindari pecahnya telur dan rak telur kardus ketika akan dimasukkan ke gudang.

vii. Pemeliharaan Kandang

Pemeliharaan Kandang pada peternakan ini dilakukan secara berkala setiap sebulan
sekali selain untuk menjaga kebersihan kandang juga untuk menjaga unggas dari
kondisi stress jika dilakukan dalam jeda waktu yang singkat.

viii. Sanitasi

Sanitasi pada peternakan ini berjalan dengan sangat baik selain untuk menunjang
pemeliharaan unggas petelur.

3. Promosi dan Pemasaran

Produk yang dihasilkan dalam peternakan ini berupa telur. Jenis telur yang paling laku di pasaran
ialah telur ayam yang memiliki penampilan yang cukup bulat dengan berat sekitar 55g – 60g.
Harga telur itu sendiri dijual sekitar Rp.2000,00. Untuk jumlah telur yang dipasarkan bergantung
pada hasil panen telur dan telur yang layak pada tahap pasca panen. Untuk promosi dan
pemasarannya itu tidak terlalu diterapkan karena informasi tentang telur di Fakultas Peternakan
ini sudah diketahui oleh banyak masyarakat jadi masyarakat akan datang dengan sendirinya.
Selain itu peternakan ini tidak mampu menyediakan telurnya dalam jumlah yang besar.
Lampiran